Anda di halaman 1dari 83

MENGENAL JATI DIRI DALAM ISLAM

Sejauh mana kita mengenal diri kita. Apakah selama ini kita menjalani
kehidupan tanpa mengenal diri kita, tidak tahu apa tugas kita, dan tidak
tahu kemana tujuan kita. Betapa penting mengenal diri sendiri sebelum kita
mengenal arti kehidupan yang lain. Sulit bagi orang yang tidak memahami
dirinya untuk menggapai hidup dalam ketenangan dan kesejahteraan.

Bagaimana konsep jati diri kita, apakah sudah benar ataukah salah? Jika
salah maka itu sangat berbahaya bagi diri kita. Maka dari itu penting dalam
penulisan pada lembaran pertama saya ini mengenai Jati Diri. Sejauhmana
kita mengenal diri ini. Begitu banyak konsep-konsep jati diri menurut para
pakar pengembangan diri. Namun sebagai muslim yang baik kita kembalikan
pertanyaan, dan persoalan hidup ini kepada Al-Qur’an karena di sanalah kita
akan menemukan konsep jati diri yang sebenarnya menurut Islam.

1. Apa Itu Jati Diri.


Secara umum dalam mengenal jati diri selalu dikaitkan oleh 3 pertanyaan
seperti ini :
A. Siapa aku ?
B. Dari mana aku ?
C. Dan aku mau kemana ?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang simple namun, tidak semua


orang mampu menjawabnya. Karena membutuhkan pemikiran yang sangat
mendalam agar tidak salah dalam memahami dan mengenal diri ini.

2. Apakah kita boleh mengabaikan Jati Diri.


Tidak, kita tidak boleh mengabaikan siapa diri kita sebenarnya. Karena
sesungguhnya setelah kita mengenal diri kita maka kita akan mengetahui
makna dan tujuan hidup kita di dunia. Mereka yang mengabaikan masalah
jati diri adalah orang-orang yang tidak memiliki keberanian untuk
memahami hidupnya. Maka jadilah mereka orang-orang yang labil, ikut-
ikutan, dan berjalan tanpa arah.
Mereka berkata “Jalani saja hidup ini”. Maukah kalian menjalani kehidupan
ini tanpa arah dan tujuan? Yang nantinya berakhir dengan kesedihan. Saya
pribadi tidak mau. Saya ingin hidup saya ini bisa sejahtera, dan berakhir
dengan senyuman indah. Maka kita harus tahu dan harus menemukan jati
diri kita agar kita tahu arah tujuan hidup kita.

3. Dimana kita bisa menemukan Jati Diri.


Jati diri selalu di identikkan dengan bakat, potensi dan keunikan yang ada
dalam diri kita. Tidak ada yang salah dalam opini tersebut, karena opini
tersebut berguna untuk mengetahui potensi kerja kita di mata masyarakat.

1
Pengenalan diri kita kepada masyarakat. Karena notabene manusia
diciptakan dengan keunikan, bakat dan potensi masing-masing. Namun ada
hal yang lebih utama dari keotentikan diri seperti bakat, potensi dan
keunikan. Dan mereka yang telah menemukan bakat, potensi dan keunikan
itu bahkan belum menemukan jati diri mereka sesungguhnya. Tak jarang
banyak mereka yang sukses dalam hidup namun masih merasa tak puas
dalam menjalani hidup, tak tenang, tak tenram dan tak bahagia.
Hanya Allah yang tahu siapa kita, untuk apa kita ada, dan mau kemana kita.
Karena Allah yang menciptakan kita. Dan kita sering tak sadar dalam
mencari konsep jati diri sesungguhnya sebagai manusia, selain hanya
mengejar kesuksesan di dunia ini. Mari kita mulai mengenal jati diri yang
sesungguhnya.

A. Siapa aku ?

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah dari saripati tanah yang di
beri potensi hati, akal dan jasad. Sehingga Allah menetapkan manusia
sebagai makhluk tertinggi kedudukannya di antara makhluk lainnya, karena
kita memiliki potesi tersebut. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

As-Sajdah Ayat :7
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang
memulai penciptaan manusia dari tanah.

As-Sajdah Ayat : 8
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.

As-Sajdah Ayat : 9
Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-
Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Jadi terjawab sudah pertanyaan pertama, Aku adalah manusia yang


diciptakan Allah dari sebaik-baiknya ciptaan melaui permulaannya dari
saripati tanah, yang kemudian menjadikan keturunan ku dari saripati air
hina, kemudian ditiupkan roh kedalam jasad, dibuatnya kita mendengar,
melihat dan merasakan melalui hati.

Jika kita mengenal siapa kita, maka kita akan bersyukur atas penciptaan kita
kepada Allah. Namun sayang kebanyakan kita lupa hingga sedikit sekali kita
bersyukur atas perlakuan Allah kepada kita. Kita adalah Manusia yang di
ciptakan Allah dari air hina dan di beri potensi yang sangat luar biasa hingga
kita derajatnya lebih tinggi di bandingkan makhluk ciptaan Allah lainnya.
Alhamdulillah.

2
B. Untuk apa aku ada ?

Manusia diciptakan memiliki dua tujuan dari Allah yaitu Sebagai Khalifah di
muka bumi dan Beribadah kepada Allah SWT. Tak ada tujuan lain, semua
aktifitas kehidupan kita sebagai manusia harus berlandaskan 2 tujuan yang
di berikan Allah tersebut. Dalam segala hal, baik dari segi pekerjaan,
bergaul, dan segala macamnya harus berlandaskan 2 tujuan tersebut. Maka
dari itu kita diberikan Allah Akal, Hati dan Jasad agar mampu memikul
beban dari ke 2 tujuan tersebut agar berjalan dengan baik.
Seperti Firman Allah SWT :
Adz-Dzaariyat Ayat : 56
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.
Al-Baqarah Ayat : 30
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang
akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"
Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui."

Jadi aku ada sebagai khalifah dan beribadah kepada Allah SWT.

C. Dan mau kemana aku ?

Bukan hanya sebagai orang yang tak sukses menjadi orang yang sukses,
bukan hanya dari miskin menjadi kaya. tetapi tujuan kita sebagai makhluk
ciptaan Allah adalah Kampung Akhirat, yang hanya ada 2 pilihan Syurga
atau Neraka.

Kesuksesan, kekayaan, banyak anak, dan mempunyai istri/suami yang


cantik/ganteng hanyalah hiasan-hisan dunia yang semu dan akan kita
tinggalkan. Karena sesungguhnya kita ini adalah makhluk kampung akhirat.
Disanalah rumah kita sesungguhnya, di syurga atau neraka. Sekarang
pilihan berada di tangan kita, kita mau memilih yang mana ? dan pasti
sebagian banyak manusia memilih Syurga toh ?. untuk menggapai syurga
itulah Allah memberika hukum-hukumnya di dalam Al-Quran. Mau kita taati
atau malah kita ingkari. Bila kita taati maka syurga adalah rumah kita. Bila
kita ingkari maka nerakalah rumah kita (Tujuan kita).

Adapun Firman Allah dalam meluruskan tujuan perjalanan kita di bumi


adalah sebagai berikut :
As-Sajdah Ayat : 19

3
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi
mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka
kerjakan.

As-Sajdah Ayat : 20
Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah
jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka
dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah siksa
neraka yang dahulu kamu mendustakannya."

Akhirnya kita pun tahu Siapa kita ? Dari mana kita ? dan Mau kemana Kita ?
yang sesungguhnya. Bahwa kita adalah manusia yang berasal dari saripati
air hina, di ciptakan sebagai khalifah dimuka bumi untuk beribadah kepada
Allah, agar mendapatkan kesenangan yang abadi di Syurga nan Indah di
kampung akhirat.
Bila kita mengetahui konsep Jatidiri menurut islam ini maka kita akan
menjalani kehidupan ini dengan tenang dan tawakal kepada Allah. Bahwa
apa yang telah kita dapat, apa yang telah kita lakukan adalah untuk
membantu sesama dan beribadah kepada Allah demi mencapi tujuan
syurga. Dan bila kita mengenali dari apa kita di ciptakan maka kita akan
menjadi manusia yang tak berjalan dengan kesombongan di muka bumi dan
senantiasa kita menjadi hambanya yang benar2 bersyukur karena telah
menjadi salah satu makhluk yang sempurna di bandingkan makhluk Allah
lainnya. Jazzakallah

4
MENGENAL DIRI SENDIRI -
SYARIAT, TAREKAT, HAKEKAT,
MAKRIFAT

CARA MENGENAL ALLAH

Syeikh Ahmad Arifin berpendapat bahwa setiap yang ada pasti dapat
dikenal dan hanya yang tidak ada yang tidak dapat dikenal. Karena
Allah adalah zat yang wajib al-wujud yaitu zat yang wajib adanya,
tentulah Allah dapat dikenal, dan kewajiban pertama bagi setiap
muslim adalah terlebih dahulu mengenal kepada yang disembahnya,
barulah ia berbuat ibadah sebagimana sabda Nabi :

ِ ُ‫أ َ َو ُل ال ِ ِّدي ِْن َم ْع ِرفَة‬


‫للا‬

Artinya: “Pertama sekali di dalam agama ialah mengenal Allah

Kenallah dirimu, sebagaimana sabda Nabi SAW

‫س َد ُه‬ َ َ‫ف َربَّهُ ف‬


َ ‫س َد َج‬ َ ‫سهُ فَقَ ْد ع ََر‬
َ ‫ف َربَّهُ َو َم ْن ع ََر‬ َ ‫ف نَ ْف‬
َ ‫َم ْن ع ََر‬

Artinya: “Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal


Tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya maka binasalah
(fana) dirinya.

Lalu diri mana yang wajib kita kenal? Sungguhnya diri kita
terbagi dua sebagaimana firman Allah dalam surat Luqman ayat 20 :

ً‫اطنَة‬ ْ َ ‫َوأ‬
َ ُ‫سبَ َغ عَل ْي ُك ْم نِعَ َمه‬
ِ َ‫ظ ِه َرةً َوب‬
5
Artinya : Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan
nikmat batin.

Jadi berdasarkan ayat di atas, diri kita sesungguhnya terbagi dua:

1. Diri Zahir yaitu diri yang dapat dilihat oleh mata dan dapat
diraba oleh tangan.

2. Diri batin yaitu yang tidak dapat dipandang oleh mata dan
tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan oleh mata
hati. Adapun dalil mengenai terbaginya diri manusia

Karena sedemikian pentingnya peran diri yang batin ini di dalam upaya
untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa
kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri) sebagimana firman
Allah dalam surat az-Zariat ayat 21:

‫س ُك ْم اَفَالَ تُب ِْص ُر ْو َن‬


ِ ُ‫َوفِى ا َ ْنف‬

Artinya : Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak


memperhatikannya.

Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam


dirinya disebabkan karena di dalam diri manusia itu Allah telah
menciptakan sebuah mahligai yang mana di dalamnya Allah telah
menanamkan rahasia-Nya sebagaimana sabda Nabi di dalam Hadis
Qudsi :

6
ِ ‫صد ِْر قَ ْلبًا َوفِى ا ْلقَ ْل‬
‫ب‬ َّ ‫صد ًْر َوفِى ال‬ َ ‫ف اِب ِْن آ َد َم قَص ًْرا َوفِى ا ْلقَص ِْر‬
ِ ‫بَنَيْتُ فِى َج ْو‬
‫س ِ ِّر أَنَا (الحديث‬ ِّ ِ ‫س ًّرا َو ِفى ال‬
ِ ‫ب‬ ِِّ َ‫اف لَبًّا َوفِى ل‬
ِ َ‫شغ‬ َ ‫فُ َؤا ًد َو ِفى ا ْلفُ َؤا ِد‬
َّ ‫ش ْغافًا َو ِفى ال‬
)‫القدسى‬

Artinya: “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan
dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (qalbu)
namanya dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad) dan dalam
mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf) dan dibalik
penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di
dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr) dan di dalam rahasia
(sirr) itulah Aku kata Allah”. (Hadis Qudsi)

Bagaimanakah maksud hadis ini? Tanyalah kepada ahlinya, yaitu ahli


zikir, sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahal ayat 43 :

‫سئَلُ ْوا أ َ ْه َل ال ِذِّ ْك ِر ا ِْن ُك ْنت ُ ْم الَت َ ْعلَ ُم ْو َن‬


َ ‫فَا‬

Artinya: “Tanyalah kepada ahli zikrullah (Ahlus Shufi) kalau kamu


benar-benar tidak tahu.”

Karena Allah itu ghaib, maka perkara ini termasuk perkara


yang dilarang untuk menyampaikannya dan haram pula dipaparkan
kepada yang bukan ahlinya (orang awam), seabagimana dikatakan
para sufi:

‫َلِل َم َح ِار ٌم فَالَ ت َ ْهتَك ُْو َها‬


ِ َّ ِ ‫َو‬

Artinya: “Bagi Allah itu ada beberapa rahasia yang diharamkan


membukakannya kepada yang bukan ahlinyah”.

7
Nabi juga ada bersabda :

َ ُ‫شتْتُهُ لَ ُك ْم َوا َ َّمااْأل َ ِخ ُر فَلَ ْوبَثَتْت‬


‫ش ْيئ ًا ِم ْنهُ قَ َط َع‬ َ َ‫َوعَائِي ِْن ِم َن ا ْل ِع ْل ِم ا َ َّما ا َ َح ُد ُه َما فَب‬
‫شي ُْر اِلَى َح ْل ِق ِه‬ ِ ‫َه َذا ْلعُلُ ْو َم َي‬

Artinya: “Telah memberikan kepadaku oleh Rasulullah SAW dua


cangkir yang berisikan ilmu pengetahuan, satu daripadanya akan saya
tebarkan kepada kamu. Akan tetapi yang lainnya bila saya tebarkan
akan terputuslah sekalian ilmu pengetahuan dengan memberikan
isyarat kepada lehernya.

َ ‫َّث ِب ِه‬
‫غي ِْر ا َ ْه ِل ِه‬ ْ ‫عتُهُ ا َ ْن ت َ َحد‬ ْ ِّ‫اَفَاتُ ا ْل ِع ْل ِم ال ِن‬
َ ِ‫س َيا ُن َوا‬
َ ‫ضا‬

Artinya : “Kerusakan dari ilmu pengetahuan ialah dengan lupa, dan


menyebabkan hilangnya ialah bila anda ajarkan kepada yang bukan
ahlinya.”

Adapun tentang Ilmu Fiqih atau Syariat Nabi bersabda:

ً‫عنِِّى َولَ ْو اَيَة‬


َ ‫بَ ِلِّغُ ْوا‬

Artinya: “Sampaikanlah oleh kamu walau satu ayat saja”.

Adapun Ilmu Fiqih tidak boleh disembunyikan, sebagaimana


sabda Nabi SAW:

ِ ‫َم ْن َكت َ َم ِع ْل ًما ِل َج ِ ِّم ِه‬


‫للا ِب ِل َج ٍام ِم َن النَّ ِار‬

Artinya: “Barangsiapa yang telah menyembunyikan suatu ilmu


pengetahuan (ilmu syariat) akan dikekang oleh Allah ia kelak dengan
api neraka”.

8
Adapun ilmu hakikat atau ilmu batin memang tidak boleh
disiar-siarkan kecuali kepada orang yang menginginkannya.
Memberikan dan mengajarkan ilmu hakikat kepada yang bukan
ahlinya ditakuti jadi fitnah disebabkan pemikiran otak sebahagian
manusia ini tidak sampai mendalami ke lubuk dasarnya yaitu ilmu
Allah Ta’ala. Ibarat kayu di hutan tidak sama tingginya, air di laut
tidak sama dalamnya, dan tanah di bumi tidak sama ratanya,
demikian halnya dengan manusia. Maka ahli Zikir (ahlus Shufi) inilah
yang mendekati maqam wali-wali Allah yang berada di bawah
martabat para nabi dan rasul. Inilah makna tujuan Allah
memerintahkan supaya bertanya kepada ahli Zikir, karena ahli Zikir
adalah orang-orang yang senantiasa hati dan pikirannya selalu ingat
kepada Allah serta senantiasa mendapat bimbingan ilham dari Allah
SWT.

Oleh karena itu, agar kita dapat mengenal Allah, maka kita
harus mempunyai pembimbing rohani atau mursyid. Tentang hal ini
Abu Ali ats-Tsaqafi bertaka, “seandainya seseorang mempelajari
semua jenis ilmu dan berguru kepada banyak ulama, maka dia tidak
sampai ke tingkat para sufi kecuali dengan melakukan latihan-latihan
spiritual bersama seorang syeikh yang memiliki akhlak luhur dan
dapat memberinya nasehat-nasehat. Dan barang siapa yang tidak
mengambil akhlaknya dari seorang syeikh yang melarangnya, serta
memperlihatkan cacat-cacat dalam amalnya dan penyakit-penyakit
dalam jiwanya, maka dia tidak boleh diikuti dalam memperbaiki
muamalah”.

Namun tidaklah ilmu pengenalah kepada Allah ini diperoleh


dengan mudah begitu saja seperti mempelajari ilmu syari’at, karena
ada satu syarat yang paling utama yang harus dilakukan terlebih

9
dahulu yaitu mengambil ilmu ini dengan dibai’at oleh seorang mursyid
yang kamil mukamil yang masuk dalam rantai silsilah para syeikh
tarekat sufi yang bersambung-sambung sampai kepada Rasulullah
SAW. Oleh karena itu jalan satu-satunya bagi kita untuk dapat
mengenal Allah adalah dengan mempelajari ilmu tarekat di bawah
bimbingan seorang mursyid.

Tanya : Mengapa hati memegang peran penting di dalam


mengenal Allah?

Jawab : Bila kita sebut nama hati, maka hati yang dimaksud di sini
bukanlah hati yang merah tua seperti hati ayam yang ada di sebelah
kiri yang dekat jantung kita itu. Tetapi hati ini adalah alam ghaib yang
tak dapat dilihat oleh mata dan alat panca indra karena ia termasuk
alam ghaib (bersifat rohani). Tiap-tiap diri manusia memiliki hati
sanubari, baik manusia awam maupun manusia wali, begituja para
nabi dan rasul. Pada hati sanubari ini terdapat sifat-sifat jahat
(penyakit hati), seperti : hasad, dengki, loba, tamak, rakus, pemarah,
bengis, takbur, ria, ujub, sombong, dan lain-lain. Tetapi bilamana ia
bersungguh-sungguh di dalam tarekatnya di bawah bimbingan
mursyidnya, maka lambat laun hati yang kotor dan berpenyakit tadi
akan bertukar bentuknya dari rupa yang hitam gelap pekat menjadi
bersih putih dengan mengikuti kegiatan suluk atau khalwat secara
kontinyu. Manakala hati yang hitam tadi telah berubah menjadi putih
bersih, barulah ia memberikan sinar. Hati yang putih bersih bersinar
itulah yang dinamakan hati Rohani (Qalbu) atau disebut juga
dengan diri yang batin.

10
Seumpama kita bercermin di depan kaca, maka kita tidak
akan dapat melihat apa yang ada dibalik cermin selain muka kita,
karena terhalang oleh cat merah yang melekat disebaliknya. Tetapi
bila cat merah itu kita kikis habis, maka akan tampaklah di sebaliknya
bermacam-macam dan berlapis-lapis cermin hingga sampai
menembus ke alam Nur, alam Jabarut, alam Lahut, hingga alam
Hadrat Hak Allah Ta’ala.

Itulah sebabnya bila kita hanya baru sebatas mengenal hati


sanubari saja, maka yang kita lihat hanya diri kita saja, sebab ditahan
oleh cat merah tadi, yaitu sifat-sifat jahat seperti: takabbur, ria, ujub,
dengki, hasad, pemarah, loba, tamak, rakus, cinta dunia, dan berbagai
penyakit hati lainnya. Tetapi bila mana cat merah itu telah terkikis
habis, barulah ia akan menyaksikan alam yang lebih tinggi dan
mengetahuilah ia segala rahasia termasuk dirinya dan hakikatnya dan
juga alam seluruhnya dan akhirnya mengenallah ia akan Tuhannya.
Itulah sebabnya para wali-wali Allah itu lahir dari para sufi yaitu
orang-orang yang telah berhasil membersihkan hatinya dengan
bantuan mursyidnya pada zahir sedang pada hakikatnya dengan
qudrat dan iradat Allah Ta’ala. Di sinilah terletak wajibnya mengenal
diri untuk jalan mengenal Allah.

11
ILMU HATI (ILMU TAREKAT)

Hati memegang peranan penting bagi manusia. Baik dan buruknya seseorang
ditentukan oleh hati sebagaimana Hadis Nabi:

ُ ‫ي ا ْلقَ ْل‬
‫ب‬ َ ُ‫س ُد ُكلُّه‬
َ ‫آآلو ِه‬ َ َ‫سدَتْ ف‬
َ ‫س َد ا ْل َج‬ َ َ‫س ُد ُكلُّهُ َواِذَاف‬
َ ‫صلَ َح ا ْل َج‬ َ ‫غةً اِذَا‬
َ ْ‫صلُ َحت‬ َ ‫س ِد ُم ْد‬
َ ‫اَالَ َواِنَّ فِى ا ْل َج‬...

“Ingatlah bahwa di dalam tubuh itu ada segumpal darah, bila ia telah baik maka
baiklah sekalian badan.Dan bila ia rusak, maka rusaklah sekalian badan. Dan
bila ia rusak maka binasalah sekalian badan, itulah yang dikatakan hati”.

Demikianlah pentingnya peranan hati bagi manusia, oleh sebab itu manusia
wajib menjaga kesucian hatinya. Adapun yang menjadi penyebab kotornya hati
manusia itu adalah disebabkan berbagai penyakit yang terdapat padanya
sebagaimana dijelaskan oleh firman Allah:

ٌ‫ِفى قُلُ ْو ِب ِه ْم َم َرض‬

“Di dalam hati mereka ada penyakit”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)

Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin terdapat 6666 ayat Al-Qur’an dan 6666 urat
di dalam tubuh manusia, demikian halnya dengan hati manusia, ada 6666
penyakit di dalam hati manusia. Dari sekian banyak penyakit yang ada di dalam
hati manusia, ada beberapa penyakit hati yang paling berbahaya, di antaranya:
hawa nafsu, cinta dunia, loba, tamak, rakus, pemarah, pengiri, dendam, hasad,
munafiq, ria, ujub, takabbur. Jadi bila tidak diobati, maka sambungan ayat
mengatakan:

‫فَ َزا َد ُه ُم للاُ َم َرضًا‬

“Lalu ditambah Allah penyakitnya”. (Q.S. 2 Al-Baqarah: 10)

Demikianlah bahayanya apabila manusia itu tidak segera membersihkan


hatinya, maka Allah akan terus menambah penyakitnya. Oleh sebab itu
kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu ia harus mensucikan
hatinya sebagaimana firman Allah:

ْ ‫قَ ْد أ َ ْفلَ َح َم ْن ت َ َزكَّى َوذَك ََر ا‬


َ َ‫س َم َربِِّ ِه ف‬
‫ص َّل‬

“Beruntunglah orang yang mensucikan hatinya dan mengingat Tuhan-Nya, maka


didirikannya sembanhyang”. (Q.S. 87 Al-A’la: 14-15)

12
Dari penjelasan surah Al-A’la di ayat 14 dan 15 di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa ada tiga kewajiban yang dibebankan oleh Allah kepada
manusia:

1. Kewajiban Mensucikan Hati

Di dalam surah Al-A’la ayat 14 Allah menyatakan bahwa orang-orang


yang telah mensucikan hatinya sesungguhnya telah memperoleh
keberuntungan. Lalu dibenak kita timbul beberapa pertanyaan:

- Apa yang dimaksud dengan hati yang bersih?

- Bagaimana cara membersihkan hati?

- Mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang


beruntung?

- Apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah mensucikan


hatinya?

Pertama, apa yang dimaksud dengan hati yang bersih? Menurut Syekh
Muda ahmad Arifin yang dimaksud dengan hati yang bersih yaitu tidak ada di
dalam hati itu selain Allah. Artinya seseorang yang disebut hatinya bersih adalah
orang yang senantiasa selalu mengingat Allah. Itulah sebabnya para sufi
berkata:

ُ ‫قَ ْل‬
ُ‫ب ا ْل ُم ْؤ ِم ِن ْينَ َبيْتُ للا‬

“Hati orang mukmin itu adalah rumah Allah”.

Kedua, bagaimana cara membersihkan hati? Menurut Syekh Muda


Ahmad Arifin satu-satunya cara membersihkan hati yaitu dengan mempelajari
ilmu hati. Ilmu hati ini lazim disebut dengan beberapa nama di antaranya: ilmu
batin, ilmu hakikat, ilmu tarekat. Menurutnya tujuan mempelajari ilmu hati adalah
untuk mengenal Allah, sebab hati merupakan sarana yang telah ditetapkan oleh
Allah untuk dapat menyaksikan-Nya sebagaimana firman Allah:

َ َ‫َما َكذ‬
َ ‫ب ا ْلفُؤَا ُد َم‬
‫ارآى‬

“Tidak dusta apa yang telah dilihat oleh mata hati”. (Q.S. An-Najm: 11)

Jadi hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita baru dapat mengenal
Allah. Apabila kita telah dapat mengenal Allah, barulah kita dapat mengingat-
Nya. Dan mengingat Allah merupakan satu-satunya cara untuk membersihkan
hati sebagaimana Hadis Nabi:

13
ُ‫ب ِذك ُْرللا‬ َ ‫صقَلَةٌ َو‬
ُ ‫صقَلَةُ ا ْلقَ ْل‬ َ ‫ِل ُك ِ ِّل‬
َ ٍ‫ش ْيء‬

“Segala sesuatu ada alat pembersihnya dan alat pembersih hati yaitu mengingat
Allah”.

Ketiga, mengapa orang yang mensucikan hatinya disebut orang yang


beruntung? Menurut Syekh Ahmad Arifin penyebab Allah menyebut orang-orang
yang telah mensucikan hatinya sebagai orang-orang yang beruntung adalah
disebabkan karena sesungguhnya hanya orang-orang yang telah mensucikan
hatinyalah yang dapat mengenal Allah. Menurut al-Ghazali hati manusia
berfungsi sebagai cermin yang hanya bisa menangkap cahaya ghaib (Allah)
apabila tida tertutup oleh kotoran-kotoran keduniaan. Sesungguhnya hanya
orang-orang yang telah mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan
merekalah yang disebut sebagai orang-orang yang beruntung.

Keempat, apa keuntungan yang diperoleh oleh orang yang telah


mensucikan hatinya? Menurut Syekh Muda Ahmad Arifin keuntungan yang
diperoleh oleh orang yang telah mensucikan hatinya adalah dapat mengenal
Tuhannya. Itulah sebabnya Allah berfirman:

َ ‫قَ ْد أ َ ْفلَ َح َم ْن َز َّكهَا َو َق ْد َخ‬


َّ ‫اب َم ْن َد‬
‫سهَا‬

“Beruntunglah orang yang telah mensucikan hatinya dan merugilah orang yang
telah mengotorinya”. (Q.S. 91 As-Syamsi: 9-10)

Itulah sebabnya pada ayat di atas Allah memuji orang-orang yang telah
mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang telah mensucikan hatinya
yang dapat mengenal Allah. Adapun orang-orang yang mengotorinya adalah
orang-orang yang merugi, karena sesungguhnya orang-orang yang hatinya kotor
tidak akan pernah dapat mengenal Tuhannya.

2. Kewajiban Mengingat Allah

Kewajiban yang kedua adalah mengingat Allah, sebab mustahil kita


dapat mengingat Allah kalau kita belum mengenal-Nya dan mustahil kita dapat
mengenal-Nya kalau kita belum pernah berjumpa. Dan mustahil kita dapat
berjumpa dengan Allah tanpa terlebih dahulu menyertakan diri dan belajar
kepada orang yang telah dapat beserta Allah. Itulah sebabnya Nabi
memerinthakan kepada kita agar menyertakan diri kepada orang yang telah
serta Allah sebagaimana sabda Nabi:

ِ ‫للا فَ ِإنَّهُ يُ ْو ِصلُكَ اِلَى‬


‫للا‬ ِ ‫للا فَك ُْن َم َع َم ْن كَانَ َم َع‬
ِ ‫ك ُْن َم َع للاُ َوا ِْن لَ ْم تَك ُْن َم َع‬

“Sertakanlah kepada Allah, apabila kamu tidak dapat beserta Allah maka
sertakanlah dirimu kepada orang yang telah serta Allah, maka ia akan
mengenalkan kamu kepada Allah”.

14
Berdasarkan Hadis di atas, maka kewajiban pertama bagi manusia
adalah mencari guru (wasilah) agar ia dapat memperoleh pengenalan kepada
Tuhannya. Setelah manusia itu dapat mengenal Allah maka kewajiban kedua
baginya adalah mengingat Tuhan-Nya.

3. Kewajiban Mengerjakan Shalat

Shalat merupakan tiang agama yang dilaksanakan apabila kita telah


melaksanakan kewajiban pertama dan kedua, sebab tujuan shalat adalah untuk
mengingat-Nya sebagaimana firman Allah:

َّ ‫اِنَّ ِنى أَنَاللاُ الَ ِإلَهَ اِالَّ أَنَا فَا ْعبُ ْد ِنى َوأ َ ِق ِم ال‬
‫صلَوةَ َل ِذك ِْرى‬

“Sesungguhnya Aku inilah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah
Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. 20 Thaha: 14)

Firman Allah di atas senada dengan firman Allah pada surat Al-A’la ayat
14 dan 15 yang telah diuraikan sebelumnya. Untuk mengetahui secara jelas
persamaan makna yang terdapat pada kedua ayat tersebut penulis akan
menguraikan kalimat perkalimat pada surat Thaha ayat 14 serta
membandingkannya dengan surat Al-A’la ayat 14.

Pertama, pada bagian awal surat Thaha ayat 14 Allah berfirman:


“Sesungguhnya Aku ini Allah”. Bila kita menganalisis firman Allah tersebut maka
dapatlah kita ketahui bahwa sesungguhnya Allah itu ingin dikenal. Firman Allah
pada surat Thaha tersebut senada dengan firman Allah pada surat Al-A’la ayat
14: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan hatinya”. Makna beruntung
pada ayat ini adalah bahwa keuntungan yang diperoleh oleh orang-orang yang
mensucikan hatinya adalah dapat mengenal Allah. Bahkan bila kita analisis lebih
jauh selain memiliki persamaan makna, kedua ayat tersebut juga memiliki kaitan
di mana ayat yang satu berfungsi sebagai penjelas bagi yang lain. Pada surah
Thaha Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Allah”. Ayat tersebut
mengintruksikan kepada manusia kewajiban untuk mengenal Allah. Pada surah
al-A’la ayat 14 Allah berfirman: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan
hatinya”. Pada ayat ini Allah memuji orang-orang yang mensucikan hatinya,
sebab hanya orang-orang yang mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal
Allah dan merekalah yang dinyatakan Allah sebagai orang-orang yang
beruntung. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa firman Allah
pada surat Thaha ayat 14 keduanya mengindikasikan bahwa kewajiban pertama
bagi manusia adalah terlebih dahulu mensucikan hatinya agar ia dapat mengenal
Tuhannya.

Kedua, pada bagian tengah surat Thaha Allah berfirman: “Tiada Tuhan
selain Aku”. Bila kita analisis firman Allah di atas, maka dapat kita ketahui bahwa
maksud yang terkandung di dalamnya adalah perintah untuk mengingat-Nya,
sebab kalimat “Tiada Tuhan selain Allah”, bermakna tidak ada yang boleh

15
diingat selain Allah. Firman Allah pada surat al-A’la ayat 15: “Dan mengingat
Tuhannya”. Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban yang
kedua bagi manusia adalah mengingat Tuhannya.

Ketiga, pada bagian akhir surat Thaha Allah berfirman: “Sembahlah Aku
dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. Bila kita analisis pada ayat di atas
bahwa printah sembah datang setelah terlebih dahulu Allah memerintahkan
untuk mengenal dan mengingatnya. Perintah sembah tersebut diwujudkan
dengan mendirikan shalat yang tujuannya adalah untuk mengingat-Nya. Firman
Allah tersebut senada dengan firman Allah pada surat al-A’la ayat 15: “Maka
dirikanlah shlalat”. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kedua ayat tersebut
sama-sama mengindikasikan bahwa shalat merupakan kewajiban ketiga.

Dari penjelasan di atas dapatlah kita ketahui mengapa para sufi menaruh
perhatian besar terhadap hati (qalb) dan menempatkan shalat sebagai kewajiban
ketiga. Karena sesungguhnya perintah shalat itu diterima setelah terlebih dahulu
Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad sebelum ia menghadap Allah. Sebab
Allah itu tidak dapat dilihat oleh mata kepala Nabi Muhammad tetapi hanya dapat
dilihat oleh mata hati Nabi Muhammad. Oleh sebab itu sebelum Nabi
Muhammad berjumpa dengan Allah, terlebih dahulu Jibril mensucikan hatinya,
agar nur yang ada di dalam mata hatinya itu dapat memancar, sebab dengan nur
itulah Nabi Muhammad dapat menyaksikan Allah. Itulah sebabnya di dalam
surah al-Isra’ ayat 1 Allah menggunakan kalimat Maha Suci, sebab Allah itu
Maha Suci dan hanya dapat dilihat oleh hamba-hamba-Nya apabila mereka telah
mensucikan hati mereka.

Adapun makna Jibril mensucikan hati Nabi Muhammad menurut Syekh


Muda Ahmad Arifin pada hakikatnya adalah sesungguhnya Malaikat Jibril
menyampaikan pengenalan kepada Allah dalam istilah ilmu tarekat lazim disebut
dengan bai’at. Praktik bai’at yang diterima oleh Nabi dari gurunya Malaikat Jibril
diteruskan kepada Ali ibn Abi Thalib dan praktik seperti ini terus berlanjut dari
guru ke murid dalam rangkaian silsilah hingga saat ini. Praktik bai’at yang
diterapkan di kalangan ahli tarekat sesungguhnya mengacu pada pola yang
dilaksanakan oleh Nabi. Jadi berdasarkan tradisi bai’at inilah muncul istilah
bahwa “Barangsiapa yang tidak mempunyai syekh maka gurunya adalah setan”
sebab Nabi sendiri tidak dapat mengenal Allah tanpa berguru kepada Malaikat
Jibril, apalagi kita sebagai manusia biasa yang hina dan dhaif yang tidak
mempunyai kedudukan apa-apa di sisi Allah maka mustahil dapat mengenal
Allah tanpa guru. Oleh sebab itu Nabi bersabda:

‫ان فَ ِع ْل ُم َب ِط ِن ِفى قَ ْل ِبى فَذَا ِلكَ ه َُو نَ ِف ِعى‬


ِ ‫اََ ْل ِع ْل ُم ِع ْل َم‬

“ilmu itu ada dua macam, adapun ilmu batin yang di dalam hati itu jauh lebih
bermanfaat”.

16
Dari penjelasan Hadis di atas dapatlah kita ketahui bahwa tidak hanya
para sufi yang menaruh perhatian besar terhadap hati, bahkan Nabi sendiri lewat
Hadisnya secara tegas menyatakan keutamaan ilmu hatilah manusia dapat
mengenal Allah.

Menurut Syekh Ahmad Arifin kekeliruan umat Islam saat ini adalah tidak
mau mempelajari ilmu hati dan lebih mengutamakan ilmu syari’at. Oleh sebab itu
menurutnya mayoritas umat Islam saat ini tidak mengenal yang mereka sembah
dan sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata sebagaimana
firman Allah:

َ ‫للا أُلَئِكَ فِى‬


‫ضلَ ٍل ُّم ِبي ٍْن‬ ِ َ‫فَ َو ْي ٌل ِل ْلق‬
ِ ‫سيَ ِة قُلُ ْوبُ ُه ْم ِم ْن ِذك ِْر‬

“Maka celakalah bagi orang yang hatinya tidak dapat mengingat Allah, mereka
itu dalam kesesatan yang nyata”. (Q.S. 39 az-Zumar: 22)

Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat


mengingat-Nya, yang kesemuanya itu disebabkan karena mereka tidak
mempelajari soal hati. Namun kebanyakan umat Islam saat ini tidak tahu kalau
mereka itu tidak tahu. Mereka menganggap bahwa amal ibadah mereka dapat
diterima oleh Allah SWT, karena merasa bahwa tauhid mereka telah sempurna,
padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata.
Sesungguhnya orang-orang yang bertauhid si sisi Allah adalah orang-orang yang
telah mempelajari ilmu hati. Sebab hanya dengan mempelajari ilmu hatilah kita
baru dapat mengenal Allah. Jadi sesungguhnya orang-orang yang tidak
mempelajari ilmu hati adalah orang-orang yang bertauhid di sisi manusia tetapi
sesungguhnya kafir di sisi Allah, sebab tauhid mereka hanya di lidah, namun
hatinya tidak pernah menyaksikan Allah. Mereka menganggap bahwa dengan
mengucap dua kalimah syahadat dan percaya dalam hati berarti telah Islam dan
beriman di sisi Allah. Padahal keislaman dan keimanan mereka itu barulah
sebatas percaya kepada Allah. Oleh sebab itu orang-orang yang mengabaikan
atau tidak mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat) sesungguhnya adalah orang-orang
yang mengabaikan tauhid.

Dari uraian di atas dapatlah kita ketahui betapa pentingnya mempelajari


ilmu hati (ilmu tarekat). Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu tauhid yang
sesungguhnya adalah dengan mempelajari ilmu hati (ilmu tarekat).

TUNTUNAN BERZIKIR

1. Dzikir Syariat : “La Ilaha Illallah” diucapkan berulang2 dgn lisan sampai
masuk kedalam hati sehingga lisan/mulut tak berucap lagi, rahasia dzikir
ini terdiri dari 12 huruf yg sama maknanya dengan Waktu 12 jam, dzikir ini

17
selalu dikumandangkan oleh para malaikat bumi (Malaikatul Ahyar) ketika
ALLAH SWT menciptakan setiap makhlukNYA di muka bumi.
2. Dzikir Tarekat : “ALLAH”ALLAH”ALLAH” diucapkan berulang2 di dalam
hati saja dengan pengosongan pikiran fana (hampa) lalu fokus pada nama
tadi sehingga nama ALLAH tadi membuat & menciptakan alam bayangan
hidup didepan mata anda sendiri, jangan kaget & takut oleh fenomena
tersebut karena para jin syetan selalu mengintai anda tetapi berlindunglah
Kepada ALLAH SWT yang Maha Menjaga Orang Beriman dgn ayat & doa
: audzu billahi minas syathanir rajim…………… La ilaha illallah anta
subhanaka inni kuntu minaz zhalimin……….lalu lafazkan… ALLAHU
SALAMUN HAFIZHUN WALIYYUN WA MUHAIMIN ( Allah Yang Maha
sejahtera, Maha Memelihara, Maha Melindungi lagi Maha Menjaga
Hambanya yg beriman).
3. Dzikir Hakikat : “HU”HU”HU (DIA ALLAH) diucapkan dalam hati saja
dengan keadaan fana (hampa) melalui perantaraan tarikan Nafas ke
dalam sampai ke perut, usahakan perut tetap keras biarpun nafas telah
keluar, dalam bahasa ilmu tenaga dalam ini adalah metode pemusatan
power lahiriah dari perut, dalam istilah cina yin & yang ini adalah
penyembuhan/pengobatan pada diri secara bathiniah dan kesemuanya itu
benar adanya karena pusat perut adalah sumber daya energi kekuatan
manusia secara lahiriah & bathiniah serta secara hakikat dzikir”HU”
sebenarnaya tempatnya pada pusat perut dengan perantaraan cahaya
nafas yg sangat berharga pada manusia.
4. Dzikir Ma’rifat : ” HU”AH”-”HU”AH”-HU”AH” atau HU-WAH” (Dia ALLAH
Bersamaku”) sebenarnya bunyi dzikir ini sudah perpaduan antara hakikat
& ma’rifat, dzikir tersebut dilantunkan dalam hati saja dengan gerakan
nafas “HU” masuk kedalam “AH” keluar nafas, pada para sufi (wali Allah)
ini adalah dzikir kenikmatan, kecintaan ( Mahabbatullah) yang sangat luas
faedah hidayahnya & karomahnya sehinngga dapat menyingkap tabir
rahasia2 Allah Swt pada gerakan kehidupan ini.

KENALI JASAD, JIWA, RUH DAN HATI ANDA

Pada umumnya orang hanya mengetahui manusia itu hanya terdiri dari
jasad dan ruh. Mereka tidak memahami sesungguhnya manusia terdiri dari
tiga unsur , iaitu:

Jasad, Jiwa dan Ruh.

Ini dapat dibuktikan dalam firman Allah Taala surah Shaad (38:71-73) yang
bermaksud:

Ingatlah ketika Tuhan MU berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku


akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Ku sempurnakan

18
kejadiannya, maka Ku tiupkan kepadanya Ruh Ku. Maka hendaklah kamu
tunduk bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud
semuannya.

Pada ayat yang lain pula, Allah menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs).
Surah Asy Syams (91:7-10) . Firmanya yang bermaksud:

Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan


kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah
orang yang mengotorinya.

Selain itu, Allah juga berfirman dalam Al Quran tentang proses kejadian
jasad (jisim). Surah Al Mukminun (23:12-14):

Dan sesungguhnya Kami telah menciptkan manusia dari saripati dari


tanah, Kemudian jadilahlah saripati itu air mani yang disimpan dalam
tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal
darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini Kami
bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk
lain, maka maha suci Allah. Pencipta yang paling baik.

Jasad

Jasad atau jisim adalah angggota tubuh manusia terdiri dari mata, mulut,
telinga, tangan, kaki dan lain-lain. Ia dijadikan dari tanah liat yang termasuk
dalam derejat paling rendah. Keadaannya dan sifatnya dapat mecium,
meraba, melihat. Dari jasad ini timbullah kecenderungan dan keinginan
yang disebut Syahwat. Ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang
bermaksud:

Dijadikan indah pada pandangan manusia , merasa kecintaan apa-apa yang


dingininya (syahwat) iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertimbun
dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatan ternakan dan sawah
ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat sebaik-
baik kembali.

Jiwa (Nafs)

Kebanyakan orang mengaitkannya dengan diri manusia atau jiwa. Padahal


ianya berkaitan dengan derejat atau kedudukan manusia yang paling
rendah dan yang paling tinggi. Jiwa ini memiliki dua jalan iaitu:

19
a. Menuju hawa nafsu (nafs sebagai hawa nafsu)
b. Menuju hakikat manusia (nafs sebagai diri manusia)

Hawa nafsu. Hawa nafsu lebih cenderung kepada sifat-sifat tercela, yang
menyesatkan dan menjauhkan dari Allah. Sebagaimana Allah Taala
berfirman surah (Shaad :26) yang bermaksud:

..... dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan


menyesatkan kamu dari jalan Allah

Kaitan hati dan hawa nafsu.

Hati memainkan peranan yang sangat penting dalam diri manusia ia


menjadi sasaran utama kepada Syaitan. Syaitan sedaya upaya menutupi
hati manusia dari menerima Nur llahi. Sebagaimana sabda Rasulullah yang
bermaksud:

Jikalau tidak kerana syaitan-syaitan itu menutupi hati anak Adam, pasti
mereka boleh milihat kerajaan langit Allah

Cara syaitan menutupi hati manusia itu dengan cara –cara tertentu iaitu
dengan menghidupkan hawa nafsu tercela dan yang membawa ke arah
maksiat. Semuanya sudah tersedia berada adalam diri manusia, ianya
dikenali dengan nafsu ammarah bissu, nafsu sawiyah dan nafsu
lawammah..

Para ahli tasawwuf mengatakan bahawa syaitan (anak iblis) memasuki hati
manusia melalui sembilan lubang anggota manusia iaitu dua lubang mata,
dua lubang hidung, kedua lubang kemaluan dan lubang mulut. Buta
manusia bukan buta biji matanya tetapi buta hatinya sebagaimana bukti
yang dijelaskan dalam Firman Allah dalam surah (Al Hajj :46) bermaksud:

Kerana sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati di
dalam dada.

Mereka juga mengatakan yang membutakan hati ialah kejahilan atau tidak
memahami tentang hakikat perintah Allah SWT. Kejahilan yang tidak
segera diubati akan menjadi semakin bertimbun. Allah SWT berfirman
dalam surah (Al Baqarah:2-9) yang bermaksud:

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal


mereka yang menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak menyedarinya.

Demikian bahayanya penyakit hati yang dihembuskan syaitan melalui hawa


nafsu manusia. Sehingga Rasulullah pernah berpesan setelah kembali dari
perang Badar. Beliau bersabda :

20
Musuhmu yangterbesar adalah nafsymu yang berada di antara kedua
lambungmu (Riwayat Al-Baihaki)

Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa
nafsunya.(Riwayat Abnu An-Najari)

Diri Manusia

Nafs atau jiwa sebagai diri manusia adalah suatu yang paling berharga
kerana ia berkaitan dengan nilai hidup manusia dan nafs yang diberi
rahmat dan redha oleh Allah. Sebagaimana firmannya dalam surah (Al-Fajr
: 27-30 ) yang bermaksud:

Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu


dengan hati yang tenang lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam
golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam syurgaKu.

Dan lagi dalam surah (Yusuf: 53) yang bermaksud:

Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, kerana sesungguhnya


nafsu itu selalu menyuruh ke arah kejahatan, kecuali nafsu yang beri
rahmat oleh Tuhanku.

Berkaitan dengan sabda Rasulullah yang berbunyi:

Barang siapa yang mengenal dirinya , maka ia mengenal Tuhannya.

Hadis ini menyatakan syarat untuk mengenal Allah adalah mengenal diri.
Diri atau nafs di sini adalah nafs mutmainnah iaitu nafsu yang tidak
terpengaruh oleh goncangan hawa nafsu dan syahwat.

Setiap manusia mempunyai nafs yang berbeza. Ada nafs yang menuju jalan
cahaya ada nafs yang menuju jalan kegelapan.

Bagi nafs yang menuju kegelapan atau nafs tercela yang tidak sempurna
ketenangannya terutama ketika lupa kepada Allah disebut nafsu
lawammah. Firman Allah Taala dalam surah

(Al Qiyammah:2) yang bermaksud:

Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat tercela (nafsu lawammah)

Nafsu ini hanya dapat dikenali dan disaksikan dengan kemampuan tertentu
manusia iaitu dengan pancaran batin. Sebagaimana firman Allah dalam
surah (Al-Araaf:26) yang bermaksud:

21
Pakaian taqwa yang menjaga mu dari kejahatan itu adalah yang paling baik.

Ruh

Ruh mempunyai dua arah pengertian iaitu :

a. Sebagai nyawa

b. Sebagai suatu yang halus dari menusia (pemberi cahaya kepada jiwa)

Ruh sebagai nyawa kepada jasad atau tubuh . Ia ibarat sebuah lampu yang
menerangi ruang. Ruh adalah lampu, ruang adalah sebagai tubuh. Jika
lampu menyala maka ruangan menajdi terang. Jadi tubuh kita ini boleh
hidup kerana ada ruh (nyawa)

Manakala dalam pengertian yang kedua, Ruh sebagai sesuatu yang


merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini sangat berhubung dengan hati
yang halus atau hati ruhaniyyah yang disebut sebagai Latifah Rabaniyyah
(hati erti kedua)

Dalam Al-Quran kata ruh disebut dengan sebutan Ruhul Amin, Ruhul
Awwal dan Ruhul Qudsiyah.

Ruhul Amin yang bermaksud adalah malaikat Jibrail. Firman Allah dalam
surah (Asy-Syu’ araa:192-193) yang bermaksud:

Dan sesungguhnya Al- Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan


semesta alam, Dia dibawa oleh Ar Ruh Al –Amin (Jibrail)

Ruhul Awwal yang bermaksud nyawa atau sukma bagi tubuh manusia.
Sebagaimana firman Allah dalam surah (As-Sajdah:9) yang bermaksud:

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuhnya ruh


Nya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati ,
tetapi kamu sedikit sekali bersyukur

Ruh Qudsiyah yang bermaksud ruh yang datang dari Allah (bukan Jibrail),
tetapi yang menjdi penunjuk dan pengkhabar gembira bagi orang-orang
beriman. Ini adalah ruh yang disucikan dihadirat Allah. Ia bercahaya
apabila nafsu mutmainnah telah sempurna.

Hati

Hati merupakan raja bagi seluruh diri manusia dan tubuh. Perilaku dan
perangai seseorang merupakan cerminan hatinya. Dari hati inilah pintu dan

22
jalan yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah. Dengan demikian
untuk mengenal diri harus dimulai dengan mengenal hati sendiri.

Hati mempunyai dua pengertian:

a. Hati jasmani iaitu sepotong daging yang terl;etak di dada sebelsah


kiri, hati jenis ini haiwan pun memilinya.
b. Hati Ruhaniyyah iaitu sesuatu yang halus. Hati yang merasa,
mengerti, mengetahui, dierpinta dituntut. Dinalai juga dengan Latifah
Rabaniyyah.

Hati Ruhaniyyah inilah merupakan tempat iman dan tempat mengenal diri .
Sebagaimana firma Allah dalam surah (Ar-Ra’d:28) yang bermaksud:

Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tanang dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi
tenang.

Hadis qudsi yang bermaksud:

Tidak akan cukup menaggung untuk Ku bumi dan langitKU tetapi cukup
bagiKu hanyalah hati (qalb) hambaKu yang nukamin (Riwayat Ad Darimi)

Nafsu Mutmainnah

Bila hati manusia jauh dari goncangan yang disebabkan bisikan syaitan,
hawa nafsu dan syahwat , maka ia disebut nafs Mutmainnah, Apabila ia
tunduk dan redha kepada Allah sepenuhnya, maka ia disebut nafs
mardhiyyah (nafs yang redha)

Namun jika manusia membiarkan hatinya berada dalam pengaruh hawa


nafsu dan syahwat, maka ia akan menjadi orang yang tersesat, lama
kelamaan tergelicir dan dimurkai Allah, Sebagaimana Firman Allah dalam
surah (Jaastsiyah:23) yang bermaksud:

Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya


sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu Nya dan
Allah telah mengunci mata pendengaran dan hatinya dan meletakkan
tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya
petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak
mengambil iktibarnya.

Ingat hawa nafsu dan syahwat bukan dibunuh atau dihilangkan, tetapi
dikawal oleh nafsu mutmainnah. Di mana ada saatnya hawa nafsu ini perlu
dikeluarkan. Sebagaimana firma Allah dalam surah (An Nazi’at:40-41) yang
bermaksud:

23
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan
manahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya
syurgalah tempat tinggalnya.

Nah, jika hati kita telah diselubungi oleh nafsu mutmainnah, maka nafsu
mutmainnah inmi menajdfi imam (penunjuk) bagi selruh tubuh dan dirinya,
sseeunggunya nafsu mutmainnah inilah disebit-sebut sebagai jati diri
manusia (hakikat dari manusia). Allah berfirma dalam surah (Al Araaf:172)
yang bermaksud:

Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam


dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
seraya berfirman : ”Bukakankan Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab
:”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. Kami lakukan
demikaian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesunggunya
kami adalah oran-orang lalai terhadap keesaaaan Mu.

Jika hati yang sakit, maka lupa terhadap perjanjian kita dengan Allah yang
pernah diucapkan seperti dalam surah Al Araaf ayat 172 di atas.

Tapi di antara sekian banyak manusia, ada yang yang berjaya menyihatkan
kembali jiwanya (nafsu mutmainnah). Apabila jiwa kita telah hidup,
bercahaya, sihat kembali, maka jiwa ini akan dapat melihat kerajaan langit
Allah. Dalam hal ini bila Ruhul Qudsiyah telah menyala dan bersinar , maka
jadilah hatinya rumah Allah , orang-orang yang berjaya ini disebut Ahli Al-
Bait. Sebagiamana firman Allah dalam surah (Ali Imran:164) yang
bermaksud:

Sesunggunya Allah telah memeberi kurnia kepada orang-orang yang


beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari
kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat
Allah, membersihakan jiwa mereka dan mengajarakan mereka al kitab dan
al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalagh benar-benar
dalam kesesatan yang nyata.

Lagi, sabda Rasulullah yang bermaksud:

Hati oarmg-orang beriman adalah Baitullah (Rumah Allah)

Jadi, Ruhul qudsiyah adalah kenyataan Allah dalam diri manusia. Allah
Taala adalah sumber cahaya langit dan bumi dan ruhul qudsiyah adalah
sunber cahaya yang ada dalam hati yang digambarkan sebagai pelita,
Sebagaimana firmanNya dalam surah (An Nuur:35) yang bermaksud:

...Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti


sebuah lubang yang tak tertimbus, yang di dalamnya ada pelita besar.

24
Pelita ini di dalam kaca dan kaca ini seakan-akan bintang yang
memantulkan cahaya seperti mutiara.

RAHASIA MAKRIFAT : MAKRIFAT TAUHIDUL IMAN

Makrifat adalah nikmat yang teramat besar, bahkan kenikmatan syurga


tiada sebanding dengan nikmat menatap wajah Allah secara langsung. Itulah
puncak dari segala puncak kenikmatan dan kebahagiaan.
Rasulullah SAW sendiri menjanjikan hal ini dan baginda pernah menyebut
bahawa umatnya dapat melihat Allah SWT di saat fana maupun jaga
(sadar). KezahiraNya sangat nampak pada hamba. Hadis qudsi Al insanu
syirri wa ana syirrohu (Adapun insan itu Rahasiaku Dan Aku pun
Rahasianya).
Firman Allah: Kuciptakan Adam dan anak cucunya seperti rupaku (Khalakal
insanu ala surati Rahman). Kesimpulannya insan itu terdiri daripada tiga
unsur, iaitu Jasad, Ruh/Nyawa dan Allah. Maka dengan itu hiduplah hamba.
Adapun Jasad, Nyawa, dan Allah taala, bagaikan sesuatu yang tidak dapat
dipisahkan antara satu dengan yang lain. Umpama langit, bumi, dan
makhluk yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.
Bagaimanapun pandangan insan terhadap Tuhannya adalah berbeza-beza,
mengikut tahap pencapaian ilmu masing-masing.
Pada pandangan amnya, Allah Taala itu satu, dan hamba
menyembahNya bersama-sama dan beramai-ramai, tetapi sebenarnya
(hakikatnya) bukan begitu. Itu hanya sangkaan umum saja. Dari segi
makrifat Allah SWT itu Esa pada wujud hamba. Dalilinya, QS Al Qaf
50:16: Aku lebih dekat dari urat lehernya. QS Az Zariyat51 :21: Dalam diri
kamu mengapa tidak kamu perhatikan.
Masing-masing hamba sudah mutkak (esa dengan Tuhannya), satu persatu
(esa) diberi sesembahan (Allah di dalam diri), kenapa berpaling mencari
Tuhan yang jauh, ini sungguh melampaui batas (tidak makrifat).
25
Dalilnya, QS Al Hadid 57:4: Aku beserta hambaku di mana saja dia berada.
Oleh itu, janganlah risau dan takut Allah sentiasa bersama kita ke mana
sahaja kita pergi.
Sekarang, mari kita lihat pula bagaimana Nabi Musa melihat Tuhannya,
seperti mana yang diceritakan di dalam Al Quran. Allah SWT berfirman
mengisahkan permintaan Musa untuk melihatNya QS Al A’raaf 7:143:
Dan tatkala Nabi Musa datang pada waktu yang kami telah tentukan itu, dan
Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan)
berkata:” Wahai Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku (Dzat-Mu Yang Maha
Suci) supaya aku dapat melihat-Mu.” Allah berfirman: ”Kamu sekali-kali
tidak dapat melihat-Ku,
(rahasianya: tidak ada siapa yang dapat melihat Allah, hanya Allah dapat
melihat Allah. Hamba terdinding daripada Allah, kerana selain wujud Allah,
masih ada Rasa wujud Hamba).
tetapi pandanglah ke gunung itu,
(Pada ketika Nabi Musa memandang gunung itu, begitu juga Allah Taala
berpisah sementara daripada jiwa Nabi Musa, maka Nabi Musa pengsan,
bukannya mendengar akan letusan gunung tersebut)
jika ia tetap berada di tempatnya (sebagaimana sediakala) nescaya kamu
dapat melihat-Ku.
(” Engkau adalah aku, aku adalah engkau “, apa yang disaksikan Nabi Musa
adalah menyaksikan dirinya di luar dirinya untuk sementara waktu, setelah
Allah bertajalli (menzahirkan kebesaran-Nya) kepada gunung itu, (maka)
tajalinya itu menjadikan gunung itu hancur lebur dan nabi Musa pun jatuh
pengsan.)
Setelah Nabi Musa sedar, dan berkata: ” Maha Suci Engkau (wahai
Tuhanku), aku bertaubat kepada Engkau dan akulah orang yang pertama
beriman (pada zamanku)”
Demikian sedikit paparan tentang Nabi Musa melihat Tuhannya. Dan jelaslah

26
Allah dapat dilihat tetapi bukannya dengan mata kasar, yang dilihat dengan
mata kasar itu adalah hijab, oleh itu jangan tersalah, hati-hati, kalau
tersalah boleh menjadi syirik dan kufur.
Maha Suci Allah Yang Maha Berkuasa, tiada daya sekalian makhluk
melainkan Allah.

RAHASIA MAKRIFAT: RAHASIANYA MENGENAL ZAT ALLAH DAN ZAT


RASULULLAH

Ada pun makrifat itu rahsianya ialah mengenal Zat Allah dan Zat
Rasulullah,oleh kerana itulah makrifat dimulakan:-
1. Makrifat diri yang zahir.
2. Makrifat diri yang bathin.
3. Makrifat Tuhan.

APA GUNA MAKRIFAT?


Ada pun guna makrifat kerana mencari HAKIKAT iaitu mengenal yang Qadim
dan mengenal yang baharu sebagaimana kata:

"AWALUDDIN MAKRIFATULLAH"

Ertinya: Awal ugama mengenal Allah.


Maksudnya mengenal yang mana Qadim dan yang mana baharu serta dapat
mengenal yang Qadim dan yang baharu,maka dapatlah membezakan
diantara Tuhan dengan hamba.

BAITULLAH KALBU MUKMININ

Sesungguhnya hati ini sewaktu bayi sehingga aqil baliq diibaratkan bunga
yang sedang menguntum,tidak ada seekor ulat atau kumbang yang dapat
menjelajahnya! apabila dewasa (aqil baliq) maka hati itu ibaratkan bunga
yang sedang mengembang,maka masuklah ulat dan kumbang menjelajah
bunga itu!
Sesungguhnya amalan makrifat dan zikir yang dibaiah itu adalah untuk
membersihkan hati agar dapat menguntum semula seperti hati kanak-kanak
yang suci-bersih!
Hati ini juga seperti satu bekas menyimpan gula yang tertutup rapat dan

27
dijaga dengan baik! sekiranya tutup itu tidak jaga dengan baik atau
tutupnya sudah rosak,maka masuklah semut hitam yang sememangnya gula
itu makanannya!

PEPERANGAN
Peperangan yang lebih besar dari perang UHUD, KHANDAK dan lain-lain
peperangan ialah "Peperangan dalam diri sendiri (Hati)", setiap saat denyut
jantung ku ini, aku akan terus berperang.Sesungguhnya iblis itu menanti
saat dan ketika untuk merosakkan anak Adam !Sekiranya aku tidak ada
bersenjata (zikir), nescaya aku pasti kecundang!Keluar masuk nafas anak
Adam adalah zikir! 6,666 sehari semalam nafas keluar dan masuk, sekiranya
anak Adam tidak bersenjata, pasti ia kecundang!

ASAL USUL MAKRIFAT

Rasulullah SAW mengajar kepada sahabatnya Saidina Ali Karamullah.Saidina


Ali Karamullah mengajar kepada Imam Abu Hassan Basri.Imam Abu Hassan
Basri mengajar kepada Habib An Najmi.Habib An Najmi mengajar kepada
Daud Attaie.Daud Attaie mengajar kepada Maaruf Al Karhi.Maaruf Al Karhi
mengajar kepada Sirris Sakatari.Sirris Sakatari mengajar kepada Daud
Assakatar.Daud Assakatar mengajar kepada Al Junidi. Maka Al Junidi yang
terkenal sebagai pengasas MAKRIFAT.Maka pancaran makrifat itu dari empat
sumber iaitu:

1. Pancaran daripada sumber SULUK yang dinamakan


Makrifat Musyahadah.
2. Pancaran daripada sumber KHALUAT yang dinamakan
Makrifat Insaniah.
3. Pancaran daripada Inayah yang dinamakan ROHANI.
4. Pancaran daripada Pertapaan yang dinamakan JIRIM.

Maka dari sumber amalan itulah terbit makrifat yang tinggi dan mempunyai
rahsia yang sulit.

API MA'RIFATULLAH

Dengan berlindung kepada Allah Swt, Pencetusan Api Ma’rifattullah dalam


kalimah “ALLAH” saya awali.

Syahdan, nama Allah itu tidak akan pernah dapat dihilangkan, sebab nama

28
Allah itu akan menjadikan Zikir bagi para Malaikat, Zikir para burung, Zikir
para binatang melata, Zikir tumbuh-tumbuhan dan Zikir dari Nasar yang 4
(tanah, air, angin dan api) serta zikir segala makhluk yang ada pada 7 lapis
langit dan 7 lapis bumi, juga zikir makhluk yang berdiam diantara langit dan
bumi. (buka…..Al-Qur’an, Surah At-thalaq, ayat 1).

Adapun zikir para makhluk Allah yang kami sebutkan tadi tidaklah sama
logatnya, dan tidak sama pula bunyi dan bacaannya. Tidak sedikit para akhli
Sufi dan para wali-wali Allah yang telah mendengar akan bunyi zikir para
makhluk itu, sungguh sangat beraneka ragam bunyinya.

Dalam Kitab Taurat, nama Zat yang maha Esa itu ada 300 banyaknya yang
ditulis menurut bahasa Taurat, dalam Kitab Zabur juga ada 300 banyaknya
nama Zat yang maha esa itu yang ditulis dengan bahasa Zabur.

Dalam Kitab Injil juga ada 300 banyaknya nama Zat yang Esa itu yang
ditulis dengan bahasa Injil, dan dalam Kitab Al-Qur’an juga ada 99 nama Zat
yang esa itu ditulis dalam bahasa Arab. Jika kita berhitung maka dari
keempat kitab itu yang ditulis berdasarkan versinya, maka akan ada 999
nama bagi zat yang maha esa itu, dari jumlah tersebut maka yang 998
nama itu, adalah nama dari Sifat Zat yang maha Esa, sedangkan nama dari
pada Zat yang maha esa itu hanya satu saja, yaitu “ ALLAH ”.

Diterangkan didalam Kitab Fathurrahman, berbahasa Arab, yaitu pada


halaman 523. disebutkan bahwa nama Allah itu tertulis didalam Al-Qur’an
sebanyak 2.696 tempat.

Apa kiranya hikmah yang dapat kita ambil mengapa begitu banyak nama
Allah, Zat yang maha Esa itu bagi kita…?

Allah, Zat yang maha esa, berpesan :

“ Wahai Hambaku janganlah kamu sekalian lupa kepada namaku “

Maksudnya : Allah itu namaku dan Zatku, dan tidak akan pernah bercerai,
Namaku dan Zatku itu satu.

Allah Swt juga telah menurunkan 100 kitab kepada para nabi-nabinya,
kemudian ditambah 4 kitab lagi sehingga jumlah keseluruhan kitab yang
telah diturunkan-Nya berjumlah 104 buah kitab, dan yang 103 buah kitab
itu rahasianya terhimpun didalam Al-Qur’annul karim, dan rahasia Al-
Qur’annul karim itu pun rahasianya terletak pada kalimah “ALLAH”.

Begitu pula dengan kalimah La Ilaha Ilallah, jika ditulis dalam bahasa arab

29
ada 12 huruf, dan jika digugurkan 8 huruf pada awal kalimah La Ilaha
Ilallah, maka akan tertinggal 4 huruf saja, yaitu Allah.

Ma’na kalimah ALLAH itu adalah sebuah nama saja, sekalipun digugurkan
satu persatu nilainya tidak akan pernah berkurang, bahkan akan
mengandung ma’na dan arti yang mendalam, dan mengandung rahasia
penting bagi kehidupan kita selaku umat manusia yang telah diciptakan oleh
Allah Swt dalam bentuk yang paling sempurna.

ALLAH jika diarabkan maka Ia akan berhuruf dasar Alif, Lam diawal, Lam
diakhir dan Ha. Seandai kata ingin kita melihat kesempurnaannya maka
gugurkanlah satu persatu atau huruf demi hurufnya.

• Gugurkan huruf pertamanya, yaitu huruf Alif (‫) ا‬, maka akan tersisa 3
huruf saja dan bunyinya tidak Allah lagi tetapi akan berbunyi Lillah, artinya
bagi Allah, dari Allah, kepada Allahlah kembalinya segala makhluk.
• Gugurkan huruf keduanya, yaitu huruf Lam awal (‫) ل‬, maka akan tersisa 2
huruf saja dan bunyinya tidak lillah lagi tetapi akan berbunyi Lahu.
Lahu Mafissamawati wal Ardi, artinya Bagi Allah segala apa saja yang ada
pada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi.
• Gugurkan huruf ketiganya, yaitu huruf Lam akhir ( ‫)ل‬, maka akan tersisa 1
huruf saja dan bunyinya tidak lahu lagi tetapi Hu, Huwal haiyul qayum,
artinya Zat Allah yang hidup dan berdiri sendirinya.

Kalimah HU ringkasnya dari kalimah Huwa, sebenarnya setiap kalimah


Huwa, artinya Zat, misalnya :

Qul Huwallahu Ahad., artinya Zat yang bersifat kesempurnaan yang dinamai
Allah. Yang dimaksud kalimah HU itu menjadi berbunyi AH, artinya Zat.

Bagi sufi, napas kita yang keluar masuk semasa kita masih hidup ini berisi
amal bathin, yaitu HU, kembali napas turun di isi dengan kalimah ALLAH,
kebawah tiada berbatas dan keatas tiada terhingga.

Perhatikan beberapa pengguguran – pengguguran dibawah ini :

Ketahui pula olehmu, jika pada kalimah ALLAH itu kita gugurkan Lam (‫) ل‬
pertama dan Lam (‫ ) ل‬keduanya, maka tinggallah dua huruf yang awal dan
huruf yang akhir (dipangkal dan diakhir), yaitu huruf Alif dan huruf Ha
(dibaca AH).

Kalimah ini (AH) tidak dibaca lagi dengan nafas yang keluar masuk dan tidak
dibaca lagi dengan nafas keatas atau kebawah tetapi hanya dibaca dengan
titik.

30
Kalimah AH, jika dituliskan dengan huruf Arab, terdiri 2 huruf, artinya dalam
bahasa disebutkan INTAHA (Kesudahan dan keakhiran), seandai saja kita
berjalan mencari Allah tentu akan ada permulaannya dan tentunya juga
akan ada kesudahannya, akan tetapi kalau sudah sampai lafald Zikir AH,
maka sampailah perjalanan itu ketujuan yang dimaksudkan. (Silahkan
bertanya kepada akhlinya)

Selanjutnya gugurkan Huruf Awalnya, yaitu huruf ALIF dan gugurkan huruf
akhirnya, yaitu huruf HA, maka akan tersisa 2 buah huruf ditengahnya yaitu
huruf LAM pertama (Lam Alif) dan huruf LAM kedua ( La Nafiah). Qaidah
para sufi menyatakan tujuannya adalah Jika berkata LA (Tidak ada Tuhan),
ILLA (Ada Tuhan), Nafi mengandung Isbat, Isbat mengandung Nafi tiada
bercerai atau terpisah Nafi dan Isbat itu.

Selanjutnya gugurkan huruf LAM kedua dan huruf HU, maka yang tertinggal
juga dua huruf, yaitu huruf Alif dan huruf Lam yang pertama, kedua huruf
yang tertinggal itu dinamai Alif Lam La’tif dan kedua huruf itu menunjukkan
Zat Allah, maksudnya Ma’rifat yang sema’rifatnya dalam artian yang
mendalam, bahwa kalimah Allah bukan NAKIRAH, kalimah Allah adalah
Ma’rifat, yakni Isyarat dari huruf Alif dan Lam yang pertama pada awal
kalimah ALLAH.

Gugurkan tiga huruf sekaligus, yaitu huruf LAM pertama, LAM kedua, dan
HU maka tinggallah huruf yang paling tunggal dari segala yang tunggal,
yaitu huruf Alif (Alif tunggal yang berdiri sendirinya).

Berilah tanda pada huruf Alif yang tunggal itu dengan tanda Atas, Bawah
dan depan, maka akan berbunyi : A.I.U dan setiap berbunyi A maka
dipahamhan Ada Zat Allah, begitu pula dengan bunyi I dan U, dipahamkan
Ada Zat Allah dan jika semua bunyi itu (A.I.U) dipahamkan Ada Zat Allah,
berarti segala bunyi/suara didalam alam, baik itu yang terbit atau datangnya
dari alam Nasar yang empat (Tanah, Air, Angin dan Api) maupun yang
datangnya dan keluar dari mulut makhluk Ada Zat Allah.

Penegasannya bunyi atau suara yang datang dan terbit dari apa saja
kesemuanya itu berbunyi ALLAH, nama dari Zat yang maha Esa sedangkan
huruf Alif itulah dasar (asal) dari huruf Arab yang banyaknya ada 28 huruf.

Dengan demikian maka jika kita melihat huruf Alif maka seakan-akan kita
telah melihat 28 huruf yang ada. Lihat dan perhatikan sebuah biji pada
tumbuh-tumbuhan, dari biji itulah asal usul segala urat, batang, daun,
ranting, dahan dan buahnya.

31
Syuhudul Wahdah Fil Kasrah, Syuhudul Kasrah Fil Wahdah.

Pandang yang satu kepada yang banyak dan pandang yang banyak kepada
yang satu maka yang ada hanya satu saja yaitu satu Zat dan dari Zat itulah
datangnya Alam beserta isinya.

Al-Qur’an yang jumlah ayatnya 6666 ayat akan terhimpun kedalam Suratul
Fatekha, dan Suratul Fatekha itu akan terhimpun pada Basmallah, dan
Basmallah itupun akan terhimpun pada huruf BA, dan huruf BA akan
terhimpun pada titiknya (Nuktah). Jika kita tilik dengan jeli maka titik itulah
yang akan menjadi segala huruf, terlihat banyak padahal ia satu dan terlihat
satu padahal ia banyak.
Selanjutnya Huruf-huruf lafald Allah yang telah digugurkan maka tinggallah
empat huruf yang ada diatas lafald Allah tadi, yaitu huruf TASYDID (bergigi
tiga, terdiri dari tiga huruf Alif) diatas Tasydid adalagi satu huruf Alif.

Keempat huruf Tasydid itu adalah isyarat bahwa Tuhan itu Ada, maka wajib
bagi kita untuk mentauhidkan Asma Allah, Af’al Allah, Sifat Allah dan Zat
Allah.
Langkah terakhir gugurkan keseluruhannya, maka yang akan tinggal adalah
kosong.
LA SAUTUN WALA HARFUN, artinya tidak ada huruf dan tiada suara, inilah
kalam Allah yang Qadim, tidak bercerai dan terpisah sifat dengan Zat.

Tarku Mayiwallah (meninggalkan selain Allah) Zat Allah saja yang ada.
La Maujuda Illallah (tidak ada yang ada hanya Allah).

Sembilan kali sudah kita menggugurkan kalimah Allah, seandainya juga


belum dapat dipahami maka tanyakanlah kepada akhlinya.

32
10 Kunci Cara Menemukan Jati Diri Anda Sebagai MAnusia

Ketergesaan dalam kehidupan modern, yang bergerak serba cepat, seringkali


membuat kita melupakan diri sendiri dan kehilangan kendali. Ada banyak cara yang
dapat dilakukan untuk membawa kita kembali ke diri sejati. Berikut 10 kekuatan
yang dapat mengarahkan kita kembali ke diri sendiri dan menemukan sebuah
kedamaian.

1. Hadir
Hiduplah untuk saat ini. Masa lalu telah berlalu. Anda tak akan pernah dapat
kembali dan mengulang masa-masa itu lagi, pun Anda tak akan dapat
menghidupkan kembali apa yang ada di masa lalu.

Kehidupan ini adalah apa yang sedang Anda jalani saat ini, tak peduli apapun yang
telah terjadi. Itu semua nyata dan sempurna. Jangan menengok ke belakang
ataupun terlalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Pikiran kita
selalu menciptakan berbagai percakapan yang mengembangkan rasa takut dan
membuat kita berusaha menyelamatkan diri. Katakan pada pikiran Anda yang sibuk
berbicara itu: ‘Terima kasih telah bersedia berbagi’ dan yakinkan ‘Aku di sini, aku
ada untukmu.’ Setiap hari, kita semua harus selalu membuat pilihan dan Andalah
yang paling tahu bagaimana membuat hari yang Anda jalani jadi indah.

2. Bersatu Dengan Alam


Duduklah di rerumputan atau di bawah sebuah pohon. Rasakan putaran bumi,
keagungan angkasa raya, dinginnya udara yang menerpa wajah Anda, atau

33
kehangatan sinar matahari pagi. Tersenyumlah pada langit yang luas, ucapkan
salam pada lebah yang beterbangan dan semua binatang yang Anda jumpai.
Berjalan-jalanlah di taman atau mendaki perbukitan. Kedekatan dengan alam dapat
membawa kesadaran betapa Anda bagian dari jagat raya yang maha luas ini.

3. Berolahrga
Berolahraga secara teratur memberi jeda pada pikiran Anda yang terus
berkecamuk, membantu memperlancar peredaran darah, membersihkan racun dari
tubuh, dan memberi Anda energi serta banyak keuntungan lain. Pilihlah aktivitas
yang memberi Anda kesenangan dan buat perpaduan. Lakukan jalan sehat di satu
hari dan latihan Yoga di hari berikutnya. Ikuti latihan erobic dan bertemu banyak
orang. Banyak sekali daftar kegiatan yang dapat Anda pilih.

4. Spiritual
Kenali dan sadari Anda adalah pribadi yang penting dan unik. Lakukan meditasi,
atau duduk tenang di kesunyian, dan nikmati saat-saat itu. Baca buku-buku
keagamaan atau panduan kepribadian yang membawa pesan positif dan membuat
Anda merasa kuat. Jangan lupa bersyukur atas kesehatan yang Anda miliki, rumah,
orang-orang yang mencintai dan Anda cintai, teman-teman yang mengelilingi Anda,
serta kebahagiaan dan kegembiraan yang melingkupi hidup Anda.

5. Memaafkan
Saatnya untuk melepaskan. Maafkan seluruh bagian diri Anda, atas segala
kekurangan dan ketidaksempurnaan. Maafkan diri Anda untuk semua kesalahan
yang pernah Anda buat di masa lalu, maafkan ketakutan masa kecil Anda, maafkan
emosi dan kemarahan masa remaja Anda, maafkan masa dewasa awal Anda yang
tak mau mengambil resiko. Maafkan kesalahan orang tua Anda, saudara kandung,
kerabat dan orang-orang di masa lalu. Lepaskan semua uneg-uneg. Memaafkan
membawa kedamaian dalam jiwa.

6. Bersenang-Senang
Beri kesempatan pada diri Anda untuk merasa rileks dan memanjakan diri. Baca
buku yang menyenangkan. Keluarkan uang sekali-kali untuk membeli hal yang
paling Anda inginkan. Lakukan kesenangan hanya untuk diri Anda sendiri.

7. Nutrisi
Dengarkan kebutuhan tubuh Anda. Penuhi kebutuhan tubuh akan makanan
bernutrisi. Konsumsi vitamin yang bermanfaat untuk tubuh. Dengan tubuh sehat
dan bugar membuat Anda selalu menghargai hidup.

34
8. Buang Penilaian
Berhentilah menilai dan menyalahkan. Jangan melontarkan kritikan pada orang lain
ataupun diri sendiri. Ucapkan kata-kata yang memberi dorongan pada diri dan
semua orang yang Anda jumpai. Terima orang lain apa adanya, lengkap dengan
segala perbedaan yang mereka miliki.

9. Bantu Orang Lain


Hubungi dan ulurkan tangan pada teman yang membutuhkan. Tawarkan bantuan
tanpa syarat pada orang lain. Jadilah pendengar yang baik dan benar-benar
mendengarkan apa yang dikatakan orang lain. Temukan cara untuk membantu
orang lain mengangkat beban hidup dengan mendengarkan keluh kesah mereka.

10. Cinta
Cintai diri Anda dan gunakan kata-kata positif untuk memberi dorongan. Puji orang
lain dengan tulus dan buat mereka tersenyum. Bicaralah dengan penuh kasih dan
ketulusan dari dasar hati.
Kesepuluh kunci kekuatan yang disebutkan di atas bukanlah hal yang sulit untuk
dilakukan siapapun. Pelankan sejenak laju hidup Anda yang serba cepat, dan
luangkan waktu untuk melakukan kesepuluh hal tersebut. Niscaya Anda akan
menemukan keindahan hidup serta kelengkapan diri sejati Anda.

Semoga kita bisa menemukan jati diri kita yang sebenarnya.......

35
Kesalahan Sejarah tentang Syeikh Siti Jenar yg menjadi
Fitnah

1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini
bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti
referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah
sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat
jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm.1,
cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene
kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun
inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.”
[Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari
cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat
jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]
2. Ajaran “Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti
Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak
berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa.
Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’
wal Baqa’”. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan
Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran

36
tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa
Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat
Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’
wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan
Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam
Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru
kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala
saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat
sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada
manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah”
dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-
Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan
sholat Jum’at”.
4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar,
dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan
saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu
Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh
Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis
menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori
Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun. Manusia lahir dari manusia dan
akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan
riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya
kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam
kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah
sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan
melaksanakan sholat shubuh.
5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong.
Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang
ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau
sinetron. Bantahan saya: Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah
Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu

37
memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh
seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah.
Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad
akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama.” Tidak bisa diterima
akal sehat. Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia
(Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat
Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at
dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan
umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah]
dengan 3 kelas:
1. Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2. Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3. Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]

Pengenalan Hakikat Diri Menurut Al Quran


PENDAHULUAN

Pengenalan Hakikat Diri Menurut Al Quran yang menjadi judul buku ini cukup beralasan
untuk dipilih, karena sering kita mendengar istilah yang menyatakan bahwa kenalilah
dirimu, kamu akan kenal Tuhanmu. Pertanyaannya adalah bagaimana cara mengenal diri
itu? Apakah kita harus mempelajari dulu ilmu kedokteran sehingga akhirnya tahu struktur
fisik manusia, dan ilmu kejiwaan sehingga kemudian kenal akan tingkah laku jiwa? Setelah
itu mungkin kita akan kagum bahwa ciptaan Allah yang rumit baik fisik maupun kejiwaan
tersebut membuat kita sadar bahwa di balik itu semua ada Sang Pencipta sehingga
keluarlah pengakuan akan kemahahebatan Allah. Itulah yang disuruh oleh Allah dalam Al
Quran seperti dalam ayat [3.190 – 191]. Pertanyaannya lagi, apakah semua orang harus
menjadi dokter dan ahli jiwa supaya bisa kepemahaman seperti itu? Semua bidang ilmu
disuruh oleh Allah untuk digali, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, kata Rasulullah SAW
yang mengartikan bahwa ilmu itu tidak terbatas dan harus dicari kemanapun.

Kajian yang akan dibahas dalam buku ini adalah kajian yang membahas mulai dari titik awal
kejadian manusia berdasarkan firman Allah dalam ayat [7.172], yaitu ketika jiwa bersaksi di
hadapan Tuhannya waktu ditanya "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul

38
(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi," sampai kepada kemana nanti tujuan akhir
perjalanan hidup ini berdasarkan firman Allah dalam ayat [18.48], yaitu ketika “mereka
akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris.” Hampir semua kita yang gemar
mendalami pengajian-pengajian keagamaan mengetahui dari mana kita berasal dan
kemana tujuan akhir hidup ini, tetapi kebanyakan tidak mengetahui secara detail
bagaimana cara kembali kepada Allah tersebut. Cara kembali atau alat untuk kembali
kepada Allah tersebut adalah shalat, tetapi shalat yang betul-betul sesuai baik secara
syariat maupun secara hakikat.

Banyak orang yang terkecoh memaknai hadits Nabi SAW tentang shalat yang mengatakan
bahwa “shalatlah engkau sebagaimana engkau melihat aku shalat.” Pertanyaannya adalah
apa yang diketahui oleh para sahabat Rasul ketika Beliau shalat? Yang diketahui oleh
mereka adalah gerakan anggota badan dan bacaan-bacaan shalat ketika Rasulullah shalat,
atau dengan kata lain adalah shalat syariat Rasulullah SAW. Padahal Rasulullah SAW juga
menyuruh kita untuk tuma’ninah dalam shalat, yaitu diam untuk menyempurnakan. Kalau
diam, berarti gerakan anggota badan sudah tidak ada dan bacaan shalat juga sudah tidak
ada. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika Beliau tuma’ninah? Tidak ada
seorangpun yang tahu. Hadits-hadits Nabi boleh dikatakan tidak menyinggung apa yang
Beliau lakukan ketika tuma’ninah. Sekarang kalau kita telaah, apakah tuma’ninah itu
sekadar diam tidak melakukan apa-apa? Padahal tuma’ninah tersebut diharuskan oleh
Rasulullah untuk menyempurnakan shalat. Kalau tidak ada tuma’ninah berarti shalat tidak
sempurna. Berarti tuma’ninah adalah suatu yang sangat penting dalam shalat, sesuatu yang
tidak boleh diabaikan begitu saja. Tetapi apa patokan kita untuk mengetahui apa yang
dilakukan selama tuma’ninah? Kalau hanya berpedoman pada berbagai hadits tentang
shalat seperti yang banyak kita dapati pada buku-buku pedoman shalat, maka apa yang
kita dapat adalah syarat syariat dari shalat. Itulah yang dilakukan oleh hampir seluruh umat
Islam di dunia, yaitu mereka hanya shalat syariat saja.

Sebenarnya Al Quran telah memberikan keterangan awal tentang hal ini. Mari kita telurusi
surat Al ‘Ankabuut (29) ayat 45 yang menyatakan bahwa “Bacalah apa yang telah
diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an) dan dirikanlah salat.” Artinya apa? Firman
tersebut menyuruh kita untuk mempelajari Al Quran terlebih dulu baru melaksanakan
shalat. Pelajari Al Quran dahulu karena dalam Al Quran ada rahasia-rahasia pelaksanaan
shalat secara lengkap. Hadits Nabi SAW mengatakan bahwa shalat adalah mi’rajnya orang-
orang mukmim. Rahasia-rahasia mi’rajnya shalat secara lengkap disebarkan oleh Allah

39
dalam Al Quran yang terpendam dalam sejarah nabi-nabi yang banyak bertebaran dalam Al
Quran. Itulah yang akan kita pelajari dalam kumpulan kuliah ini.

Kajian ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu pertama adalah pengetahuan dasar Al Quran
mengenai kewajiban menggunakan akal yang dipergunakan untuk menganalisa ayat-
ayatNya; peristiwa perjanjian jiwa dengan Tuhannya; hubungan makro alam semesta
dengan mikro manusia; Al Quran adalah cahaya; metoda jihad; dan isra’ dan mi’raj. Bagian
pertama ini akan memberikan kepada kita dasar-dasar pengetahuan yang akan
dipergunakan dalam kajian berikutnya. Bagian kedua adalah bagian yang menceritakan
kisah-kisah para nabi. Tetapi jangan terkecoh dengan menganggap bahwa di bagian ini
hanya akan diceritakan sejarah-sejarah masa lalu, yaitu kisah-kisah para nabi yang
dianggap kisah sejarah masa lalu yang sebahagiannya mungkin tidak begitu cocok lagi pada
zaman sekarang atau mungkin hanya sebagai penambah pengetahuan tentang perilaku apa
yang bisa diteladani dari kisah-kisah tersebut. Selama ini apa yang dapat kita raih
maknanya dari peristiwa-peristiwa nabi-nabi dapat dicontohkan dari, misalnya, kisah Nabi
Nuh tentang banjir besarnya dianggap adalah kejadian ribuan tahun lalu dan biasanya yang
diambil hikmahnya adalah bagaimana umat Nabi Nuh yang sangat keras kepala tidak mau
mengesakan Allah dan anaknya yang lari ke gunung tidak mau mengikutinya dan akhirnya
tenggelam. Atau kisah Nabi Yusuf dengan kegantengannya membuat Zulaikha terpikat dan
bagaimana ketika kecil dibuang saudara-saudaranya ke sumur sehingga akhirnya dia bisa
menjadi raja Mesir. Kisah Nabi Yunus yang dimakan ikan. Itu saja yang dapat diambil
hikmahnya dari kisah-kisah tersebut yang bisa direnungkan dan diterapkan pada masa
sekarang. Apakah itu saja gunanya Al Quran? Padahal kisah-kisah yang kita anggap terjadi
ribuan tahun lalu sebenarnya terjadi setiap saat sampai sekarang dan akan terus terjadi
sampai akhir zaman. Banjir besar itu sedang dan akan terus terjadi sampai akhir zaman.
Dan yang lebih penting lagi adalah peristiwa itu adalah bagian dari diri kita sendiri. Setelah
kita mempelajari kajian ini akhirnya kita yakin bahwa para nabi itu mempunyai peranan
penting dalam shalat dan juga mempunyai peran super penting dalam fungsi anggota tubuh
kita. Yang perlu kita tanamkan adalah bahwa yang menjadi dasar kisah-kisah para nabi ini
adalah Al Quran, yang kita yakini bahwa tidak satupun kalimat, kata bahkan hurufnya yang
berubah sejak diturunkan dulu kepada Rasulullah SAW. Allah menjamin keotentikan Al
Quran. Kita juga harus super yakin bahwa Al Quran yang otentik ini juga tidak hanya
berlaku dahulu tetapi juga sekarang dan sampai akhir zaman. Betul, kajian yang akan kita
pelajari ini berdasarkan kisah-kisah para nabi yang erat sekali hubungannya tidak hanya
dengan rahasia-rahasia Allah tentang hakikat shalat tetapi juga dengan diri kita sendiri.

40
Bagian ke tiga adalah beberapa catatan yang perlu diperhatikan, yaitu tentang kesaksian
seluruh anggota tubuh. Kesaksian anggota tubuh seperti mata, telinga, mulut dan kulit,
dimana mereka nanti akan menjadi saksi yang meringankan dan memberatkan. Berhati-
hatilah dengan mereka. Catatan lain adalah tentang doa. Bagian ini diakhiri dengan
penutup.

Sebelum diakhiri, perlu diinformasikan bahwa kajian ini sebenarnya mempelajari dua arah
hakikat diri, yaitu arah pergi dan arah kembali. Artinya adalah kajian hakikat diri adalah
mempelajari bagaimana penciptaan manusia, yaitu ketika Sang Ruh dipisahkan atau
ditiupkan oleh Allah, dan kajian ini juga mempelajari bagaimana kembali kepada Allah, yaitu
ketika Sang Jiwa atau Sang Kesadaran kembali bertemu dengan Tuhannya dan kembali
kepadaNya. Tetapi apa yang kita pelajari dalam buku ini hanya pengenalan hakikat diri
dengan mempelajari bagaimana caranya kembali kepada Allah, yaitu melalui shalat.
Sedangkan kajian hakikat diri dengan mempelajari penciptaan manusia tidak dibahas.
Penulis menyarankan untuk kajian yang satu ini lebih baik menghadiri langsung kajian yang
diadakan oleh Bapak Amir Johan.

CARA PRAKTIS MENGENAL DIRI

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Proses pengenalan terhadap diri merupakan suatu langkah yang utama


untuk tahapan lebih merasakan ketiada berdayaan seorang makhluk kepada

41
Sang Penciptanya.Pengenalan diri merupakan hal yang sangat penting dan
mendasari setiap orang dalam mengenal Agama yang diyakininya.

Agama adalah suatu nasehat dari Allah SWT yang diwahyukan kepada para
Nabi/Rasul untuk mengatur hidup manusia dalam kehidupan agar
teratur/tidak rusak dan tidak berada dalam kekacauan.
Agama memberikan banyak pengajaran kebaikan agar manusia berperilaku
baik sehingga tidak melupakan dirinya,dari mana ia datang dan kemana ia
akan kembali kelak.

Apabila seorang sedang dalam kondisi emosi sering disebut dalam pribahasa
sebagai orang yang "lupa diri".Kalimat yang terdiri dari dua kata tersebut
(Lupa Diri) memiliki makna yang mendalam.

Orang yang lupa diri sama dengan orang yang lupa asal
usulnya(Purwadaksinya),dan orang yang sudah lupa terhadap asal-usulnya
tentu akan lupa terhadap tempat kembalinya kelak(akhirat). Dan orang yang
sudah lupa pada tempat kembalinya akan lupa pula kepada Tuhan yang
menciptakannya.

"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah,


lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.
Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS.Al-Hasyr :19)
Dalam dunia Tasawuf/Sufi dikenal dalil yang sangat populer yang menjadi
dasar ma'rifatullah melalui pengenalan diri :

" MAN AROFA NAFSAHU,FAQOD AROFA RABBAHU "

(Barangsiapa yang mengenal dirinya,maka akan mengenal Tuhan yang


menciptakannya.)

Orang yang mengenal dirinya sama dengan orang yang selalu mengingat
Allah SWT (Eling) ,dan orang yang lupa kepada dirinya sama dengan orang
yang tidak mengenal Tuhan yang menciptakannya.

42
Kata kunci pengenalan diri adalah INGAT dan LUPA, namun dalam hal ini
jangan diartikan secara kontektualnya,tetapi lebih diprioritaskan pada Af'al /
Perilaku dalam kehidupan nyata. Apabila seorang yang selalu mengingat
Allah SWT, maka setiap perilakunya akan selaras dengan kehendak-NYA,dan
menjauhi perilaku yang dilarang-NYA. Ia akan menghiasi dirinya dengan
busana ketaqwa'an

Dalam hati saya berkeyakinan ,bahwa pada dasarnya semua orang telah
mengenal dirinya, sebab mereka telah beragama dan setiap orang yang
beragama, minimal juga mengenal Tuhannya ,namun terkadang kita sendiri
tidak menyadari sehingga lupa. Didalam lupa itulah merasuk pemikiran
syetan yang memberikan berbagai teori yang rumit dan mengaburkan
pemahaman tentang diri dan berakibat manusia seperti "katak dalam
tempurung" (mencari sesuatu, padahal sesuatu itu sudah ada bersamanya).

Bagaimanakah cara untuk mengenal diri yang efektif?

1.BERCERMIN
Cara termudah bagi setiap orang untuk mengenal dirinya yaitu dengan
bercermin, mengapa?...sebab setiap orang suka bercermin ,bahkan
terkadang betah berlama-lama didepan cermin hanya untuk menyakinkan
dirinya dalam berpenampilan,sudah cantikkah/tampankah aku?
Dan ketika bercermin, merasa kurang sesuai dengan dandanannya maka ia
merubah penampilannya kembali hingga merasakan sesuai yang diharapkan
dan yakin ,"aku sudah tampan/cantik" dan aku siap menemui kekasihku
untuk apel dimalam minggu...hehee
Kira-kira pernahkah anda berpikir kenapa manusia dengan ilham-NYA bisa
menciptakan/memproduksi sebuah cermin ?

Coba anda bayangkan bila tidak ada cermin,apakah manusia bisa mengenali
wajahnya sendiri,bagaimana bentuk atau rupa wajahnya?...untuk mengenal
wajahnya saja tidak bisa terus bagaimana mungkin bisa mengenali drinya

43
secara keseluruhan?
Bila mau mengkaji lebih dalam pada hakekatnya kehidupan ini adalah
CERMIN..Dan Cermin ini berfungsi untuk membiaskan Cahaya sehingga
terbentuk suatu wujud bayangan nyata yang ada diseluruh alam semesta
ini.
Manusia dengan manusia yang lainnya merupakan hasil dari bias cermin.
Manusia dengan hewan adalah hasil bias cermin
Manusia dengan alam juga merupakan hasil bias cermin.
Dan hubungan antara manusia,hewan dan alam saling berinteraksi dalam
membentuk karakter perilaku,karna sama-sama bagian dari bias cahaya
yang terdiri dari berbagai warna hasil dari bias cahaya dari cermin yang
membentuk wujud beraneka ragam terlihat oleh penglihatan .
Manusia bisa melihat hasil bias cermin karna memiliki mata,dan mata bisa
melihat sesuatu wujud karna adanya CAHAYA.
Karna itulah kehidupan manusia yang nyata dan sedang dialami didunia
meliputi dua alam yaitu alam gelap ( Malam ) dan alam terang (Siang).
Alam gelap disebut sebagai alam lupa ,sebab manusia kebanyakan
tidur/istirahat
Alam siang disebut sebagai alam ingat ,sebab manusia kebanyakan dalam
keadaan terjaga/beraktifitas.

"Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu


beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang
(supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-
orang yang mendengar(mengambil pelajaran darinya)." (QS.Yunus :
67)

Namun ketika manusia dalam keadaan tidur,apakah dirinya tidur secara


total ?...tentunya tidak!

44
Tidur hanya berlaku bagi jasad,namun jiwa manusia tetap terjaga dan
berkelana menciptakan suatu bias-bias cermin dan bisa hadir dalam mimpi.
Dan mimpi ini bisa terbentuk dari alam pikiran maupun perilaku jasad ketika
terjaga/beraktifitas.

Jadi ketika jasad tidur,maka hati sebagai pusat pergolakan jiwa/nafs


,hendaknya tetap terjaga/tidak tidur,yaitu tetap INGAT.

Sebagai contoh jiwa yang INGAT ketika tidur,yaitu pada saat anda bermimpi
suatu kejadian yang buruk,misalnya bertemu/berperang dengan JIN,secara
tidak sadar didalam mimpi tersebut anda tiba-tiba membacakan ayat suci Al-
Qur'an,sehingga jin tersebut kabur/musnah/tak berkutik.Hal ini menandakan
bahwa anda ingat kepada Sang Pencipta walaupun jasad dalam keadaan
tidur (Hati tetap terjaga walaupun sedang tidur) .

"Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan


siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati."
(QS.Al-Hadiid : 6)

Bercermin diri memiliki makna yang luas dan mendalam. Sebagai


contoh,ketika seseorang jatuh cinta kepada lawan jenisnya,apakah yang
dirasakan ? bisa saja dia akan buta ,dalam artian tidak perduli pada keadaan
dirinya maupun lingkungan orang disekitarnya,yang penting cinta didapat
tak perduli kotoran,tetap saja dianggap coklat ,dijilat terus dechhh.

Dalam kondisi demikian,terkadang dari saudara atau kerabatnya


mengingatkan ,"Ngaca donk kamu!"
Atau dalam perkara lain sering kali kita dinasehati untuk bercermin kepada
air,bercermin kepada tumbuhan,bercermin kepada
batu,gunung,angin,api,dll.

45
Jadi semua wujud yang ada dialam semesta ini adalah cermin/perwujudan
dari Dzat Sang Pencipta (Maujuda Ilallah).
Bila seseorang tersebut menyadari ketika disuruh Ngaca/Bercermin,sama
halnya menasehati untuk melihat kedalam diri/instropeksi diri dengan
tujuan agar tidak lupa diri.
Instropeksi diri secara bersungguh-sungguh akan melibatkan
akal/pikiran,hati (Ruh dan Jiwa) serta jasad/raga :

1.Akal/Pikiran akan membisikkan sesuatu kebaikan atau keburukan berdasar


ilmu ,pengalaman dan pertimbangan pada kenyataan hidup

2.Ruh akan membisikkan kebaikan pada kebenaran dan ketaatan kepada


Allah SWT sehingga menyebabkan keselamatan dan kemuliaan manusia,
baik di dunia maupun di akherat.

3.Jiwa akan membisikkan pada pemuasan hawa nafsu,ketika hawa nafsu


memuncak maka jiwa akan labil/bergejolak seperti air mendidih.
4.Jasad/Raga digunakan sebagai sarana penggerak dari Akal,Ruh dan Jiwa .
Jadi jasad itu ibarat perahunya untuk berlabuh dilautan kehidupan dunia
,sedangkan nahkodanya adalah Akal, Ruh dan Jiwa/Nafs. Kemudian
diantara ketiga nahkoda tersebut,manakah yang lebih berperan
mengendalikan perahu dalam berlabuh,yaitu yang mengendalikan jasad kita.
2.NAMA

Secara lahir pengenalan diri selaras dengan indentitas yang tercatat dalam
catatan sipil pemerintahan dalam bentuk KTP(Kartu Tanda Penduduk) atau
Akte Kelahiran sebagai bukti siapa diri anda.

Nama yang tertulis dalam KTP adalah pengenal terhadap diri anda,dan nama
inilah yang akan melekat selamanya sampai anda memasuki alam
akhirat,karna itu kita harus bersyukur bahwa orangtua telah memberikan
nama sebagai pengenal diri kita.

46
Dalam hadist Rasulullah menganjurkan untuk membaguskan nama-nama
panggilan untuk diri.

Dari Abu Dardaa’, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu


‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari
kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka
baguskanlah nama-nama kalian” [ HR. Abu Dawud , Ad-Daarimiy,
Al-Baihaqi ].

Mengapa Nama merupakan salah satu cara untuk mengenal diri?

Sebab didalam nama itu mengandung sifat dan Af'al yang menunjukkan
karakter perilaku diri.
Dan dengan nama itulah kita bisa dikenali oleh orang lain,dan dengan nama
itu pula bisa membuat seseorang menjadi wangi/harum pada sifat dan
perilakunya,yang bisa dikenang sepanjang masa,walaupun dia sudah
meninggal beribu-ribu tahun yang lalu.

Peribahasa mengatakan,"Harimau mati meninggalkan belang,sedangkan


manusia mati meninggalkan NAMA".

Didalam nama juga melahirkan sifat dan menghidupkan rasa cinta terhadap
diri sendiri dan sesama,oleh karena itu apabila "tak kenal maka tak akan
sayang, apabila tak sayang maka tak akan cinta, dan apabila tak cinta maka
tak akan mau saling mengasihi."

Dan mungkinkah kita bisa mengenal diri apabila tidak mencintai diri sendiri?
Mungkinkah kita bisa mencintai orang lain apabila tidak diawali dengan
mencintai diri sendiri?

47
3.KESADARAN
Setelah kita memahami cermin dan nama,langkah selanjutnya adalah
kesadaran (Sadar diri). Didalam kesadaran akan menumbuhkan berbagai
macam ilmu pengetahuan secara lahir dan bathin,serta perilaku pada
kebaikan untuk menuju kesempurnaan dan pengenalan diri yang sejati.
Kesadaran diri meliputi pemahaman wilayah bathin dan bersifat kasyaf yang
akan muncul seiring perjalanannya dalam ketaqwa'an.

“Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Allah akan mengajari kalian ILMU
dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. “ (QS. Al- Baqarah : 282).

"Orang yang sadar diri adalah orang yang Taqwa dan tidak terlalu
jauh mencari keindahan diluar dirinya,sebab keindahan itu ada di
dalam diri,bahkan seluruh dunia adalah cermin/refleksi yang ada di
dalam diri. Maka ia akan selalu memusatkan pikiran,mengheningkan
cipta siang dan malam untuk berjaga ,dan memandang bahwa
segala yang ada di sekelilingnya adalah buah dari amal
perbuatannya"
Semoga penjelasan yang singkat ini dapat membuka cakrawala pengenalan
diri secara mudah serta tidak membingungkan dengan segala macam teori
yang rumit.

48
9 (Sembilan) UNSUR ROH YANG
TERDAPAT DALAM DIRI MANUSIA
JANGAN MENYANGKA JIKA DIRI MANUSIA HANYA BERUNSUR SATU JENIS
ROH SAJA

-MENGENAL HAKEKAT DIRI MANUSIA DAN SIFATNYA


-MENGAPA MANUSIA DISEBUT TUHAN SEBAGAI MAKHLUK YANG PALING
SEMPURNA?
-MENGAPA MANUSIA DICIPTAKAN DARI BAHAN TANAH?

‫يم‬
ِ ‫الر ِح‬
َّ ‫من‬
ِ ْ‫الرح‬
َّ ِ‫س ِم هللا‬
ْ ‫ِب‬

Salam sejahtera sahabat,semoga kita semua selalu dalam kebaikan dan selalu dalam limpahan
kasih sayang-Nya.

*Sebuah rahasia dahsyat tentang Roh yang selama ini sulit dianalogikan,namun kini
berhasil terungkap secara ringkas*

MOHON DIBACA SECARA PERLAHAN UNTUK KEPADATAN PEMAHAMAN,Ambil


manfaatnya,dan sangat mengharap saran dan kritik untuk menyempurnakan sedikit hal-hal yang
masih belum tepat.

Pendahuluan.

Dari seluruh karya tulis yang saya hadirkan buat para sahabat selama ini,maka mengintisarikan
tulisan yang berkaitan dengan keberadaan “ROH” yang tengah anda baca saat ini sungguh
merupakan sebuah pekerjaan menyusun tulisan yang terberat dan ter-rumit dibanding dengan
tulisan-tulisan yang saya persembahkan sebelumnya,Sedangkan telah jelas didalam Al-
Qur’an,Allah Ta’ala menyatakan,bila ilmu tentang keberadaan ROH ini yang dapat diungkap
pengetahuannya kepada para hamba-Nya,hanyalah sedikit saja.

“Dan mereka bertanya padamu tentang al-ruh. Katakan, ‘al-ruh itu urusan Tuhanku. Dan
tidaklah kamu diberi al-i’lm kecuali sedikit.’ (QS. 17:85).

49
Namun demikian semoga pengetahuan tentang “ROH” yang sedikit ini cukuplah menjadikan kita
mampu memetik hikmahnya dan menjadikannya sebagai wahana menuju kesadaran penuh
memahami akan tanda-tanda Kebesaran dan Kekuasaan-Nya.Maka dengan dilandasi niat hati
yang tulus memohon hidayah serta petunjuk kepada Allah Ta’ala semata dan kemudian menggali
lebih banyak hikmah lagi dari buah karya tulisan para ulama alim,dan menyusunnya dengan
seksama,maka tulisan ini berhasil saya intisarikan dalam metode bahasa yang mengarah pada
pendekatan yang rasional serta mudah untuk dipahami oleh kita yang awam ini.Amin.

KENALI UNSUR ROH UTAMA DALAM DIRI MANUSIA YANG MENJADIKAN


KEBERADAANNYA ADA :
Aku,engkau,kalian atau kita manusia,dikatakan ada atau exist keberadaannya jika memenuhi
unsur-unsur zat kehidupan yang terpadu di dalam diri.Maka,ternyata unsur yang terdapat dalam
diri manusia itu tidak hanya terdiri dari satu jenis ROH saja dengan Jasad.Tetapi ternyata
manusia memlilki berbagai unsur Roh.

PENJABARAN TENTANG RUH (ROH) :

Dalam bahasa Arab Kata ruh berasal dari bahasa Al-Qur’an “Al-Ruh” dengan akar kata “RA-
WAU-HA” (R-W-H),yang bermakna pancaran zat kehidupan yang menggerakkan suatu
makhluk ciptaan-Nya menjadi hidup, yang berasal dari zat Kemaha Hidup-Nya, (Al-
Hayyi),Rabb,Tuhan semesta alam, atau dalam perbendaharaan bahasa Indonesia kata “RUH”
hanya dapat diterjemahkan dengan “ROH”,atau yang dikenal dengan sebutan “NYAWA”

Ini satu-satunya karakter bahasa yang tidak dimiliki oleh tata bahasa manapun di dunia, kata Al-
Ruh berasal dari kalimat Al-Qur’an,yang kemudian hanya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia dengan terjemahan,“ROH”,dalam bahasa Ibrani adalah “RU’ACH”, dalam bahasa
Yunani diterjemahkan sebagai “Pneu’ma”,dan dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai
“SPIRIT”,

Maka terjemahan secara umum bahwa roh adalah :

“Daya /pancaran kehidupan yang tidak kelihatan,yang memberikan kehidupan kepada semua
makhluk hidup”.
Dalam versi Al-Kitab Nasrani,Ruh adalah daya kehidupan yang akan kembali ke asalnya, yaitu
Allah.(Ayub 34:14, 15; Mazmur 36:9),

Maka dalam Al-Qur’an diberitakan bahwa seluruh unsur jati diri manusia pada akhirnya bakal
kembali kepada Tuhannya.

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke sorga-Ku.” (QS. 89.Al-
Fajr:27-30).

Kemudian dalam bahasa sehari-hari kita,juga mengenal adanya sebutan, “Jiwa,sukma,Ruh


kudus”, Roh Jahat,roh gentayangan,dll.Apakah semua itu?

50
Maka,tiap manusia itu memiliki 4 elemen / unsur utama zat kehidupan yang “menempel” atau
berpadu di dalam dirinya,bahkan beberapa ulama meyakini bahwa 4 elemen ruh itu sebagai
tergolong “makhluk” yang ditiupkan (dijadikan unsur) oleh Allah SWT,pada diri manusia
tersebut ketika tercipta atau terlahir,sedangkan pada nafs-nafs lain yang terdapat dalam diri
manusia,maka disebut sebagai unsur yang “dibekalkan”,karena merupakan jenis sifat :

BERIKUT BERBAGAI UNSUR DAN JENIS-JENIS ROH UTAMA YANG


BERSEMAYAM DALAM DIRI MANUSIA :
Unsur manusia terdiri dari :

1. AR-RUH AL-IDHOFI atau RUH AL-HAYAT / RUH SEGALA SUMBER KEHIDUPAN


(bentuk halus/gaib/tidak kasat mata)
2. AL-JASAD / FISIK (Ruh bentuk MATERI / BENDA yang dipengaruhi oleh ruang dan
waktu)
3.AR-RUH AL-‘AQL atau ruh intelektual manusia (bentuk halus/gaib/tidak kasat mata)
4.AR-RUH AN-NAFSIY (Ruh kepribadian/Ego) atau Ruh angan/kesadaran (bentuk
halus/gaib/tidak kasat mata),

“Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: “Sesungguhnya kamu
sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, (QS.21. Al Anbiyaa’:64)

I.AR-RUH AL-IDHOFI :

-Ruh Al-Idhafi atau Ruh Al-Hayat atau bahasa kita menyebutnya “Nyawa” :

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur”.
(QS.32. As Sajdah:9)

-Adalah roh utama manusia,karena roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar
dari raga, maka manusia yang bersangkutan akan mati jasadnya. Roh ini sering disebut
“NYAWA”.

51
-Roh Al-Idhofi merupakan sumber kehidupan dan keberadaan adanya manusia,Dan roh Al-
Idhofi ini mempengaruhi roh-roh lainnya.Maka ketika manusia masih dalam keadaan belum
mengalami kematian namun salah satu jenis roh yang lain keluar dari raga, maka roh Al-Idhofi
ini tetap akan tinggal didalam jasad,sehingga manusia tetap hidup/bernyawa.
-Bagi hamba Tuhan yang telah sampai pada tingkat kedekatan Irodat Ilahi atau telah mencapai
maqam “MAKRIFAT,maka dapat mengenali roh nya sendiri ini dengan penglihatan
kebatinannya(Al-Bashirah). Ia berujud mirip diri sendiri, baik rupa maupun suara serta segala
sesuatunya. Bagai berdiri di depan cermin. Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita
dapat membedakannya dengan roh yang satu ini.Alamnya Ruh Al-Idhofi berupa nur terang
benderang dan rasanya sejuk tenteram (bukan dingin).Inilah Ruh yg dikatakan akan kembali
kepada Tuhannya saat manusia mati atau dicabut nyawanya.

(Menurut Syeikh Naem As-Saufi dalam kitab Mengenal Ruh : Bermula dari Ruh Idhafi itu maka
daripadanya asalnya Jawahir(perwujudan). Ada pun Ruh Idhafi itu ialah Nuktah. Yang
mengadakan Nuktah itu Zat Allah yang Maha Suci,Maka Roh Idafi itulah izin Allah(tiupan
sebagian Ruh Al-Quds-Nya) didalam diri kita. Maka Ruh Idhafi itulah dinamakan Ujud Idhafi.
Maka Ruh Idhafi itulah dinamakan Nyawa Muhammad, Nyawa Adam, Nyawa orang-orang
Mukmin dan Nyawa kepada Ruhani. Maka kenyataan Ruh Idhafi itulah bersumber dari Ruhul
Quddus. Maka kenyataan Ruhul Quddus itu ialah Ruhani. Kenyataan Ruhani itu ialah Nafas
kita. Maka ada pun Ruh Idhafi itu didalam diri. Maka Hakeqat itu diri, dan diri itu didalam
Idhafi).

Ruh Al-Idhofi ini terdiri dari :

1. Roh Al-Qudus (Roh Kudus /Roh Suci) dan Roh Al-Hayat (Nyawa):
-Roh Al-Qudus adalah merupakan manisfestasi difusi Ruh suci yang bersumber dari Ruh-Nya
yang Maha Al-Hayyu Al-Qayyum,yang ditiupkan langsung oleh Tuhan kepada makhluk-Nya
yang tertentu,yang adalah dikhususkan untuk makhluk pilihan-Nya.

-Sedangkan Roh Al-Hayat yang sering disebut “NYAWA” ini,adalah roh nyawa kehidupan yang
bersumber (baca:bagian) dari Roh Kudus-Nya tersebut yang “ditiupkan” kepada seluruh
makhluk ciptaan Allah baik Malaikat,Jin,Manusia umum yang lahir/tercipta dan merasakan
hidup baik di alam dunia maupun alam ghaib lainnya (termasuk tumbuhan dan hewan).

Maka perbedaan Roh Qudus dengan Roh Al-Hayat adalah bahwa :

-Roh Qudus tidak ditiupkan kepada makhluk/manusia umum tapi hanya ditiupkan Roh Al-
Hayat,sedangkan yang ditiupkan langsung Roh Qudus-Nya ini diantaranya adalah :

HAMBA-HAMBA TUHAN YANG DITIUPKAN DENGAN RUH AL-QUDUS :

a.Jibril (Malaikat),

“Katakanlah: “Ruhul Qudud,(Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar,
untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar

52
gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”(QS. 16. An Nahl:102)
b.Adam,yaitu pada penciptaan langsung dahulu,

“Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya Ruh -Ku; maka
hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.”
(QS.38. Shaad:72)

c.Nabi Isa,yaitu tatkala Ibundanya tanpa suami namun dapat mengandung dan melahirkan Nabi
Isa AS:

“(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu
dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan Ruhul Qudus…..”.(QS. 5. Al
Maa’idah:110),
Ayat senada silahkan renungi : (QS.Al-Baqarah :87 dan 253)

d.Nabi Muhammad SAW.yang disebut Ruh Al-Amin,adalah esensi dari Nur Muhammad yg
merupakan cikal bakal penciptaan segala sesuatu kehidupan makhluk-Nya,maka justru Roh
Qudus yang paling tertinggi derajatnya justru yang ditiupkan pada jiwa Muhammad SAW.
Dari sabda Rasulullah Saw :

(Aku dari Allah dan sekalian mukmin dariku.)

-Firman Allah Swt. dalam hadis qudsiy:


“Innallaaha khalaqa ruuhi nabiyyika shalallaahu `alaihi wasallam min dzaatihi”
(Sesungguh-Nya Allah menciptakan ruh/Nur Muhammad Saw. itu dari Zat-Nya/Nurillah.)

Selengkapnya silahkan renungi dalam-dalam riwayat Nur Muhammad ini pada link berikut :

-https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/12/the-effulgence-of-mohammed-
nur-muhammad/

(Jadi tiupan ruh Al-Qudus tidak hanya disematkan/ditiupkan pada Isa anak maria saja tapi juga
pada Jibril,Adam dan Muhammad SAW).

2.Roh Rabani ,

-Adalah Ruh Jiwa yang selalu menangisi diri teringat akan Tuhannya,yang selalu meratap
memanggil-manggil Rabb nya.
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (nafsy dirinya sendiri)”.(QS.75. Al
Qiyaamah:2)

(Bila kita berhasil menguasainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa. Hatipun terasa
tenteram).

3. Roh Nurani :

53
-Roh ini dibawah pengaruh roh-roh Al-Idhofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang.
Karena adanya roh ini menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau Roh
Nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjaid gelap dan gelap pikirannya.
-Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutmainah saja. Maka bila manusia ditunggui Roh
Nurani maka nafsu Mutmainahnya akan menonjol, mengalahkan nafsu-nafsu lainnya.
Hati orang itu jadi tenteram, perilakunyapun baik dan terpuji. Air mukanya bercahaya, tidak
banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam menghadapi segala sesuatu, tidak protes bila ditimpa
kesusahan.Senyum tangis suka duka,bahagia maupun menderita dipandang sama.

4. Roh Rahmani (Roh Cinta Kasih):

-Roh dibawah kekuasaan Roh Al-Idhofi pula. Roh ini juga disebut Roh Pemurah,yang
merupakan manifestasi dari Zat-Nya yang Ar-Rahman dan Ar-Rahim.Roh ini mempengaruhi
manusia bersifat sosial,dan berkasih sayang(roh cinta).

Oleh karena adanya unsur Roh cinta inilah maka manusia dapat saling merasakan timbulnya rasa
cinta dan sayang,yaitu pada suami sitri,sahabat,keluarga dan antar sesama orang-orang yang
bernurani.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya
diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.(QS.30. Ar Ruum:21)

Darimana datang ruh cinta ini?


Maka ayat berikut yang mengisahkan riwayat Nabi Musa dengan Fir’aun adalah menyiratkan
asal datangnya ruh cinta ini.

“…..Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku, …”(QS.20.
Thaahaa:39)

Jelas sekali bahwa manusia terdapat unsur Ruh Cinta yang berasal dari Dzat Ar-Rahman Ar-
Rahim-Nya.

II.AL-JASAD :

Terdiri dari :

1. Jasmani / Jasad / Tubuh /daging :

Bahwa salah satu elemen manusia itu adalah Jasad/jasmani yang terdiri dari “cangkang” atau
prototype tulang yang diselubungi daging beserta seluruh komponen system
metabolismenya,yang asal usulnya berasal dari tanah.

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah,…….’. “(QS.40.Al Mu’min:67)


‫ون‬ ْ ‫ص ْلصَا ٍل ِم ْن َح َم ٍإ َّم‬
ٍ ُ‫سن‬ َ ‫سانَ ِمن‬ ِ ‫َولَقَ ْد َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اإلن‬

54
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS.15.Al-Hijr:26)

-Maka seluruh aktifitas dan mekanisme perkembangan tubuh manusia ini tetap di bawah
kekuasaan Roh Al-Idhofi. yang menguasai seluruh peredaran darah dan urat syaraf serta
memberi energi listrik pada pergerakan/kerja paru-paru dan jantung.

-Karena adanya roh yang menguasai jasad/jasmani ini maka manusia dapat merasakan adanya
rasa sakit, lesu, lelah, segar dan lain-lainnya. Bila Roh Al-Idhofi yang menguasai badan ini
keluar dari raganya, maka ditusuk jarumpun tubuh tidak terasa sakit atau tubuh dalam keadaan
mati rasa.
-Roh jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani. Nafsu hewani ini memiliki sifat dan
kegemaran seperti binatang, misalnya: malas, suka setubuh, serakah, mau menang sendiri dan
lain sebagainya.

2. Al-Nabati An-Nafsiy (Gen , Cikal Bakal) .

Unsur Al-Nabati dalam diri manusia jika menurut bahasa ilmiahnya adalah Gen atau
DNA,seperti yang disiratkan dalam ayat-Nya :

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.
Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
(QS.41. Fushshilat:53)

Pada kalimat “Sanurihim ayatina…” yg bermakna “Tuhan menghadirkan tanda-


tanda…”,kemudian sambungannya,”Fi Anfusihim…” yang bermakna ,”Sesuatu unsur inti yang
tanda-tandanya terdapat dalam diri manusia…”,maka pesan penjabarannya dari ayat tersebut
adalah :

“Bahwa didalam unsur manusia terdapat suatu “tanda-tanda” inti zat manusia (lebih kecil dari
atom),yang tak akan hilang yang dengan inti itu maka sesuatu yang diam,yang mati dapat
tumbuh/dihidupkan kembali,yang semua itu sebagai memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-
Nya”.
Dengan apa zat itu dapat diperlihatkan?maka tentu dengan ilmu pengetahuan.Dan jelas sekali
ilmu pengetahuan modern telah menemukan adanya unsur Gen,ya DNA itulah yang dimaksud
dalam Al-Qur’an.

55
APA ITU DNA ?

-DNA, kepanjangan dari Deoxyribo Nucleic Acid, merupakan asam nukleat yang menyimpan
semua informasi tentang genetika. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan
sifat-sifat khusus dari manusia. DNA umumnya terletak di dalam inti sel.

Secara garis besar, peran DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetic, artinya DNA
menyimpan cetak biru bagi segala aktivitas sel. Ia mengandung perintah-perintah yang
memberitahu sel bagaimana harus bertindak. Ia juga menentukan bagaimana sifat organisme
diturunkan dari suatu generasi ke generasi berikutnya.
Selebihnya silahkan kunjungi link tentang DNA :
– http://kesehatan707.blogspot.com/2012/05/apa-itu-dna.html
-http://www.arrahmah.com/news/2013/02/17/subhanallah-ayat-suci-dalam-kromosom-
manusia.html

Ketika manusia mati,adalah terjadinya suatu peristiwa dimana terjadi pelepasan unsur-unsur atas
satu kesatuan pada diri manusia,yakni terpisahnya roh-roh kehidupan seperti yang dijelaskan
diatas dengan jasad/badannya,maka yang terjadi pada jasad/fisik adalah kembali melebur
menjadi tanah yang memang asal usul bahannya dari sana.

“Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya
pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya”.
(QS. 71. Nuh:18)

Namun ada satu unsur yang tak akan hilang pada diri manusia ketika lainnya melebur menjadi
tanah,yaitu unsur An-Nafsiy atau Gen/DNA.

56
“Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami aka mengembalikan
kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain”.(QS. 20.
Thaahaa:55)

“Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan
hanyalah seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS.31. Luqman:28)

-Maka hakekat manusia mengapa berasal dari tanah ini yang ternyata adalah bahwa ada
keterkaitan sejarah riwayat masa lalu ketika Tuhan menciptakan Makhluk dari bangsa Jin yang
bukan berasal dari tanah namun menjadi khalifah dimuka bumi yang kemudian malah membuat
kerusakan tanah/bumi sehingga bumi menangis bahwa zatnya hanya dikotori oleh bangsa Jin
dahulu.
Maka kemudian Tuhan menjanjikan pada tanah ketika mencipta manusia bahwa nanti akan
dikembalikan lagi dan bahkan mendapat kemuliaan tinggal disyorga sebagai penghargaan pada
unsur tanah.Hingga bahkan tanah/bumi menjadi bangga karena telah dihadirkannya manusia
mulia yang juga dibangga-banggakan oleh penduduk langit termasuk Malaikat dan Bouraq.
Siapa manusia mulia itu,Beliau adalah Muhammad SAW yang hadir memuliakan bumi pertiwi.
Lihat selengkapnya pada riwayat “MAKHLUK-MAKHLUK SEBELUM MANUSIA”,pada link
berikut :

https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/06/makhluk-makhluk-sebelum-
manusia/?fb_source=pubv1

IV.Ruh Al-‘AQL (Ruh Intelektual):

-Adalah Ruh kesadaran dan akal pikir yang terdapat dalam unsur (dalam jiwa diri) manusia yang
disematkan oleh Sang Pencipta.

“Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-
orang yang mempunyai aqal, (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah
menurunkan peringatan kepadamu”.
(QS.65. Ath-Thalaaq:10)
(QS.26. Asy-Syu’araa’:28)

Elemen Ruh Al-Aql inilah yang membedakan antara makhluk manusia dengan tumbuhan dan
binatang.Artinya tumbuhan dan binatang tidak dibekali Ruh ini,hanya dibekali Ruh Al-Hayat
dan Nafs-nafs sifat ego.
Namun ternyata justru Ruh Aql ini yang jarang di pergunakan oleh kebanyakan manusia.

“Atau apakah kamu mengira bahwa KEBANYAKAN mereka itu mendengar atau memahami.
Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya
(dari binatang ternak itu)”. (QS.25.Al Furqaan:44)

Ayat senada :
(QS.40. Al Mu’min:57)

57
“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka
menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-
benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”.
(QS.5. Al Maa’idah:58),

Ancaman bagi yang tidak mem-fungsikan aqal yang telah dianugerahkan Tuhan pada manusia :
“Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan
kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya”.(QS.10. Yunus:100)

V.Ruh An-NAFSIY (Roh REWANI atau SUKMA):

Ruh ini terdiri dari :

1-Roh Rewani (Sukma):

-Ialah roh yang menjaga raga manusia.Ketika manusia hidup dan dalam keadaan sadar serta
sehat atau terjaga,maka ruh Rewani /sukma ini komplit nempel ( menyatu) pada diri manusia,
-Bila roh Rewani ini keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan menjadi tidak sadar atau
tidur.Maka orang akan terjaga kembali ketika roh Rewaninya ini merasuk kembali ke tubuhnya.
-Juga ketika orang dalam keadaan tidur kemudian bermimpi berjumpa dengan arwah seseorang
dialam mimpinya, maka roh Rewani dari orang yang bermimpi itulah yang
menjumpainya,bahkan dapat melakukan komunikasi dialamnya tersebut. Jadi mimpi itu hasil
kerja roh Rewani yang mengendalikan alam bawah sadar manusia. Roh Rewani ini juga di
bawah kekuasaan Roh Idofi. Jadi kepergian Roh Rewani dan kehadirannya kembali diatur oleh
Ruh Al-Idhofi.

َ ‫س ُل ْاْلُ ْخ َرى ِإ َلى أ َ َج ٍل ُم‬


‫س ًّمى‬ َ ‫امهَا فَيُ ْمسِكُ الَّ ِتي قَضَى‬
ِ ‫علَ ْيهَا ا ْل َم ْوتَ َويُ ْر‬ َ ُ‫َّللاُ يَت َ َو َّفى ْاْلَنف‬
ِ َ‫س ِحينَ َم ْوتِهَا َوا َّلتِي لَ ْم ت َ ُمتْ فِي َمن‬ َّ
َ َ َ
ٍ ‫إِنَّ فِي ذ ِلكَ ََل َيا‬
َ‫ت ِلق ْو ٍم يَتَفك َُّرون‬
“Allah memegang jiwa (nafs) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di
waktu tidurnya. Maka Dia, tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia
melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian
itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS.39.Az-Zumar:42)

-Oleh karena itu makanya kita sering dengar orang bilang bahwa kalau orang sedang tidur seperti
kaya mati saja ,namun bagi yang tertidur kadang merasa angan dirinya dapat menari-nari terbang
bebas kealam luas.

58
-Maka Ruh Rewani ini merupakan pokoknya Ruh Angan,alam bawah sadar,Roh Rewani adalah
duplikat jasad dalam bentuk halus atau SUKMA dalam bahasa kebatinan Jawa.

(Itulah mengapa pada komunitas ahli supranatural dapat memiliki ilmu yang disebut,”Ngerogoh
Sukma” alias mampu melakukan perjalanan kebatinan dan mampu berkomunikasi dengan
arwah orang-orang yang sudah meninggal,dengan makhluk astral lain atau bahkan mampu
melakukan komunikasi jarak jauh/telepati dialam kebatinan).

-Maka ketika manusia mati yg terjadi adalah :


Ia hanya kehilangan fisik,dan Ruh Al-Idhafinya,sedangkan Jiwa,aqal dan angannya masih hidup
dialam sana,maka oleh karena itulah di kehidupan sehari-hari,kita dapat mengenal adanya desas
desus hal-hal gaib,hantu,roh gentayangan,penampakan,mati suri,masuk ke alam
astral,dll,sungguh semua itu sebenarnya dapat dijelaskan.

2. Roh Rohani /Ruh Ego:

Pada Ruh Ar-Ruhani inilah yang merupakan sarana Tuhan dalam mengilhamkan qalbu manusia
untuk menggunakan insting memilih jalan negatif atau jalan positif.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”.
(QS.91. Asy Syams:8)

-Roh inipun juga dikuasai oleh roh Al-Idhofi. Karena adanya roh Rohani ini, maka manusia
memiliki kehendak dua rupa. Kadang-kadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tak
menyukainya. Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh inilah yang
menempati pada sifat-sifat/nafsy bakat manusia,sebagai berikut :

Kenali unsur diri Manusia yang pada penciptaan manusia telah disematkan 2 (dua) Nafs/Sifat
utama :

I. Unsur Nafs Kiri (Cenderung Negatif) / Nafs Fujurah:

Yang dapat menimbulkan / mengarahkan perilaku manusia pada nafs-nafs keburukan/kefasikan


sbb :
1.An-Nafs Al-Hayawaniyyah.
2.An-Nafs Al-Musawwillah
3.An-Nafs Al-Ammarah
4. Nafsu Al-Lawwamah (Nafs ganda yang dapat menghantar ke negatife dan positif)
5. Nafsu Supiyah (Nafs ganda yang dapat menghantar ke negatife dan positif)

II. Unsur Nafs Kanan (Nafsyu positive / At-Taqwa :

Yang dapat menimbulkan / mengarahkan perilaku manusia pada nafs-nafs kebajikan/ketaqwaan


sbb :
1.An-Nafs An-Nafsyaniyyah

59
2.An-Nafs Al-Mulhammah
3.An-Nafs Al-Muthmainnah

Baca selengkapnya tentang Nafsy-nafsy yg terdapat dalam diri manusia di link berikut :

– https://kelanadelapanpenjuruangin.wordpress.com/2013/07/25/anasir-anasir-manusia-yang-
disematkan-saat-diciptakan-tuhan/

Kalau manusia ditinggalkan oleh roh rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi,
sebab semua nafsu manusia itu roh rohani yang mengendalikannya. Maka, kalau manusia sudah
bisa mengendalikan roh rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan. Roh rohani ini
sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat. Dimana pandangan kita tempatkan, disitu
roh rohani berada,namun sebaliknya jika manusia cenderung mengumbar nafsyu negatifnya saja
maka keadaan manusia tersebut akan jatuh ke dalam derajat rendah (bahkan lebih rendah dari
binatang).

Dengan demikian telah kita pahami bahwa diri manusia itu terdapat unsur 9 (Sembilan) “ROH”
yakni :
1.Ruh Al-Hayat
2.Ruh Rabbani
3.Ruh Nurani
4.Ruh Rahmani
5.Ruh Al-Jasad
6.Ruh An-Nabati
7.Ruh Al-Aql
8.Ruh Rewani / Sukma
9.Ruh Rohani / Ego.

LANTAS APAKAH YANG DIMAKSUD DENGAN JIWA ?

Maka dari keseluruh unsur Ruh berikut jasad yang melekat pada diri manusia,itulah satu
kesatuan unsur/wujud yang disebut “JIWA”,yang mengejawantahkan akan adanya keberadaan
jatidiri manusia tersebut baik dalam keadaan hidup atau sesudah matinya.
Dan jiwa pada masing-masing diri seseorang itu,diwakili oleh sebutan namanya masing-masing
yang bersifat abadi atau yang disebut,“Ism”

60
Maka Jiwa mewakili nama dan nama mewakili karakter serta spirit ruh dari orang yang
bersangkutan,oleh karena itu demikianlah mengapa nama seseorang itu tak akan pernah musnah
biarpun meninggal,tetap saja namanya tak akan hilang,contoh si Badrun meninggal,maka tak
akan ganti panggilan menjadi si Bolang,maka tetap saja akan di panggil namanya dengan
Badrun,hanya saja ada tambahan gelar Almarhum didepan namanya.maka dengan demikian
nama adalah sebutan/gelar “JIWA” seseorang.
Dari semua ayat yang menyebutkan tentang jiwa dalam Al-Qur’an,maka sekaligus merupakan
definisi tegas tentang jiwa itu sendiri.

-Berikut ayat yang mendefinisikan tentang jiwa,yang mengejawantahkan keseluruhan unsur zat
manusia secara utuh ketika hidup :

“Berjihadlah dengan harta dan jiwamu…. “(QS.49. Al Hujuraat:15)


Artinya:”Berjuanglah dijalan-Nya dengan segenap kemampuan yg dimiliki dari seluruh unsur
jasmani dan ruhaninya”.
Juga pada : (QS.40. Al Mu’min:17) , (QS.31. Luqman:28)

Pada contoh bait lagu,coba ingat-ingat akan sebuah lagu nasional,yang berbunyi :
“Bagimu negeri,jiwa raga kami….”,
Atau pada sebuah pelaksanaan program pemerintah ketika diadakan Sensus Penduduk,maka
dikatakan “Cacah Jiwa”,satuannya adalah jiwa.(bukan cacah orang atau cacah manusia,kan?)
Maka demikianlah semua itu mengejawantahkan sebagai bentuk utuh manusia itu sendiri yang
terdiri dari unsur ruh -ruh seperti tersebut diatas,atau keseluruhan jasmani dan ruhaninya.

-Berikut ayat yang mendefinisikan tentang jiwa,yang mengejawantahkan jatidiri manusia


ketika setelah matinya :

“Hai jiwa yang tenang”.(QS. 89. Al-Fajr:27)


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa firman Allah ini turun berkenaan dengan Hamzah
yang gugur (mati) sebagai syahid.
(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Buraidah.)

-Berikut ayat yang mendefinisikan tentang jiwa,yang mengejawantahkan jatidiri manusia ketika
di alam akherat (Setelah alam kubur):
“Dan disempurnakan bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih
mengetahui apa yang mereka kerjakan”.(QS. 39. Az Zumar:70)

KEADAAN UNSUR JIWA MANUSIA MENURUT ALAM KEHIDUPANNYA :

1.KETIKA MANUSIA MASIH HIDUP DIALAM DUNIA :

-Maka keseluruh unsur zat manusia yang terdiri dari Ruh-ruh Al-Idhofi,Jasad,Aql dan An-nafsiy
beserta seluruh sifat Nafs-nafs nya,semua melekat atau komplit bersemayam dalam jati diri jiwa
manusia.

2.KETIKA MANUSIA SEDANG DI CABUT NYAWANYA (meninggal) :

61
-Adalah saat proses dilepasnya seluruh unsur Ruh halus ,ruh-ruh kehidupan pada diri manusia
dari jasadnya.

-Pada peristiwa ini maka keadaan manusia ybs seolah mengalami mati rasa,ketidak
sadaran,diam,ditusuk benda tajampun akan diam,disiksa orangpun tak akan lari……karena apa?
karena ruhnya sedang dilepas…karena nafs-nafsnya sedang mengalami pelepasan dari jasadnya.

-Kemudian dalam riwayat ketika manusia sudah sampai ajalnya dan sedang dicabut
nyawanya,(sakarotul maut) diriwayatkan,dalam alam jiwanya mengalami sakit sangat luar
biasa,karena adanya suatu proses pelepasan unsur-unsur ruh kehidupan dengan badannya.

“Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya
memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang
membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri)”.(QS. 8.Al-Anfaal:50)
2.KETIKA MANUSIA MENJALANI KEHIDUPAN DIALAM KUBUR/BARZAH :

-Ketika manusia telah berada hidup dialam kubur/Barzah,maka Unsur yang lepas atau
meninggalkan jiwanya adalah hanya jasadnya,karena jasad/fisiknya melebur menjadi
tanah,sedangkan unsur ruh-ruh lainnya seperti :

Ruh Al-Idhofi, Al-Aql dan Ruh An-Nafsiy nya dikembalikan lagi oleh Allah setelah manusia
dibenamkan ke dalam liang lahat dan menjalani kehidupan baru dialam dikubur.
Maka dengan demikian kala manusia berada dialam kubur,Gen atau DNA nya
mengalami/merasakan hidup kembali dalam dimensi alam halus dengan Ruh-ruh yang
dikembalikan lagi yakni Ruh Al-Idhofi,Ruh Al-Aql dan Ruh An-Nafsiy nya (Sukma)

-Oleh karena itulah ada istilah Merasakan siksa kubur,menangis,menyesali diri,dan ingin
kembali ke dunia,dll

Berikut informasi dari ayat Al-Qur’an tentang adanya siksa kubur :

“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang,dan pada hari terjadinya Kiamat.
(Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat
keras.”(QS.40. Al Mu’min:46)
Riwayat tentang adanya siksa kubur silahkan renungi pada link berikut :

-http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/siksaalamkubur.htm
-
http://www.sabah.org.my/mns/allPDF/nov06/TAZKIRAH%2070%20311006%20Kebenaran%2
0Azab%20Kubur.pdf

3.KETIKA MANUSIA DI ALAM AKHERAT SETELAH KIAMAT DAN


DIBANGKITKAN :

-Maka diri manusia akan dikembalikan lengkap dengan jiwa raganya,utuh sediakala seperti
bentuk ketika hidup dialam dunia,karena Allah menyatukan kembali seluruh unsur ruh dengan

62
jasadnya.
Silahkan perhatikan ayat berikut :

“Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan
sempurna”.
(QS. 75.Al-Qiyaamah:4)

4.KETIKA MANUSIA BERADA DI ALAM TEMPAT KEMBALI AKHIR :

-MANUSIA YANG BERADA DIALAM SYORGA :


Juga diri manusia akan dikembalikan dengan jiwa yang utuh sediakala seperti bentuk ketika
hidup dialam dunia,karena Allah menyatukan kembali seluruh unsur ruh Al-Idhofi,Jasad,Aql dan
An-nafsiy dengan jasadnya.
Silahkan perhatikan ayat berikut :

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke sorga-Ku.” (QS.89.Al-Fajr:27-
30).

“Di dalam Syorga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu
makan”.
(QS. 43. Az Zukhruf:70 s/d 73)

Ayat diatas menggambarkan keadaan manusia di dalam syorga lengkap dengan unsur ruhani dan
jasmani,karena ada aktifitas jasadiyah seperti makan,minum,merasakan,dll sama seperti ketika di
alam dunia,hanya Nafs-nafs keburukan saja yang telah dilepaskan seluruhnya,karena dalam
syorga tidak ada dendam dan sakit hati dan tidak ada sifat-sifat kesia-siaan.

-MANUSIA YANG BERADA DI ALAM NERAKA :


Di alam Neraka,maka diri manusia juga akan dikembalikan lengkap dengan jiwa raganya,utuh
sediakala seperti bentuk ketika hidup dialam dunia,karena Allah menyatukan kembali seluruh
unsur ruh Al-Idhofi,Jasad,Aql dan An-nafsiy dengan jasadnya.

Silahkan perhatikan ayat berikut :

“Dan tahukan kamu apa huthamah itu? (Yaitu) api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan,
yang (membakar) sampai ke hati.” (Q.S. al-Humazah: 5-7)

“Di hadapannya ada jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air
nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari
segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan dihadapannya masih ada azab yang berat.”
(Q.S. Ibrahim: 16-17)

Ayat diatas menggambarkan keadaan manusia di siksa dalam Neraka lengkap dengan unsur
ruhani dan jasmaninya,karena ada aktifitas jasadiyah seperti makan,minum,merasakan,dll,hanya
saja semuanya berbentuk api dan kesengsaraan,sama seperti ketika di alam dunia,hanya Nafs-

63
nafs Muthmainnah,Al-Mardiyyah dan Ar-Radhiyahnya saja yang tidak ikut ke neraka,karena
didalam neraka tidak ada sifat kedamaian,ketenteraman dan kesenangan.

MANUSIA

MENGENAL HAKEKAT DIRI MANUSIA DAN UNSURNYA :

Kita selama ini memahami keberadaan manusia hanya sebatas makhluk yang diciptakan Tuhan
dari bahan tanah kemudian cukup melakukan penghambaan dan beribadah hanya kepada-Nya
saja,kemudian bagi yang taat akan masuk syorga dan bagi yang ingkar akan berakhir dineraka.
Padahal ternyata setelah dilakukan pendalaman dari berbagai sumber ulama alim dan menginti
sarikannya lebih dalam lagi,maka bahwa hakekat keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan yang lebih mulia dibanding dengan makhluk ciptaan lainnya ini sungguh memuat makna
lain yang lebih luas,yang akan menuntun kepada kita (bagi yang mau merenunginya) ini,menuju
pada sebuah kesadaran yang lebih dahsyat akan makna sebuah rasa syukur yang teramat sangat
kepada Tuhannya dengan sebenar-benar runduk sujud syukur yang dalam lagi dan akan membuat
kita lebih khidmat lagi menyadari siapa diri kita yang sungguh tak ada sebutir-butirnya tepung
diri kita dibanding dengan karunia Tuhan yang telah diberikan kepada manusia.
(pada kesadaran lain akan timbul rasa malu teramat sangat kita kepada Tuhan,jika kita hanya
menjadi makhluk sampah yang tak pernah mempersembahkan sesuatu bakti kepada-Nya).
Mari kita telusuri siapa sesungguhnya diri kita.

MENGAPA MANUSIA DISEBUT TUHAN SEBAGAI MAKHLUK YANG PALING


SEMPURNA?

Manusia makhluk paling sempurna dan mulia?


Ah,sepertinya omong kosong.Realitasnya dalam kehidupan dunia saat ini begitu memprihatinkan
menyaksikan ulah sepak terjang dan tabiat manusia.Jahat,egois,sadis dan penuh
kesombongan,saling injak menginjak,saling hancur menghancurkan,tipu menipu dan saling iri
dengki.
Lihat yg jadi penjahat,betapa sadisnya mereka merampok,menjambret,menodong kadang tanpa
belas kasihan langsung membacok,membunuh korbannya.Lihat yang saling bunuh-bunuhan

64
antar sesama umat karena dalih membenarkan kelompok/sektenya sendiri.Lihatlah realitas di
Suriah,Irak,Mesir,Myanmar,dan dibelahan lain dunia.
Lihat yang saling tawuran ,pertikaian SARA,mereka bunuh-bunuhan dan mati bagai
binatang,yang mati dibakar,yang dimutilasi,yang di ambil paksa organ dalam tubuhnya,dll.Lihat
para pecandu narkoba,lihat dan lihat realitas dikehidupan kita sehari-hari,maka manusia kelasnya
tak lebih baik dari nasib binatang yang mati.
Mau disebut mulia darimana? Padahal Tuhan telah menyiratkan bahwa manusia adalah makhluk
yang dilebihkan kemuliaan dan derajatnya dibanding makhluk lainnya :

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan
di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan
kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”.(QS. 17. Al
Israa’:70)

Maka jawaban makhluk manusia dapat digolongkan sebagai makhluk mulia jika memenuhi hal-
hal sebagai berikut dibawah ini :

Jawaban yang paling mendasar adalah bahwa,ternyata derajat mulia itu,berpasangan dengan
kerendahan.Maknanya bahwa manusia jika mau termasuk ke dalam makhluk yang disebut
mulia,maka itu harus dengan niat dan berusaha,berupaya mencapainya atau meraihnya.
Maka,

Manusia dapat digolongkan sebagai makhluk mulia terbagi dalam dua katagory:

1.Menurut aspek filsafat global :


*Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia
adalah binatang yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya
berdasarkan pikirannya. Sebagai binatang yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau
pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan Hewan, namun hewan
lebih mengandalkan fungsi-fungsi kebinatangannya, yaitu naluri, pola-pola tingkah laku yang
khas, yang pada gilirannya fungsi kebinatangan juga ditentukan oleh struktur susunan syaraf
bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola-pola
tindakannya dan semakin kurang lengkap penyesuaian struktural yang harus dilakukan pada saat
lahirnya.
Pertanyaan tentang jati diri manusia itu mulai timbul atau baru terlacak pada masa Para pemikir
kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).

Maka,keberadaan manusia berbeda dengan binatang yang tak diberi beban penugasan sebagai
khalifah (penguasa bumi),sehingga tak dibekalinya dengan aqal.

Sedangkan manusia yang diberi aqal memungkinkan dapat menerima signal-signal petunjuk atau
hidayah dalam menjalani kehidupan sebagai koridor yang mesti diaplikasikannya.

TENTANG SIGNAL HIDAYAH YANG TERTANAM DALAM DIRI MANUSIA

65
As-Syaikh Musthafa al-Maraghi ketika menafsirkan makna hidayah dalam surat al-Fatihah
menerangkan bahwa ada lima macam dan tingkatan hidayah yang dianugerahkan Allah s.w.t.
kepada manusia, yaitu:
1. Hidayahal-Ilham gharizah atau (insting).
2. Hidayah al-Hawasy, (indra).
3.Hidayah al- ‘Aql, (akal budi).
4. Hidayah al-Adyan, (agama).
5.Hidayah at-Taufik.

Hidayah al- ‘Aql ,lebih tinggi tingkatannya dari hidayah terdahulu (insting dan indra yang
dianugerahkan Tuhan kepada hewan). Dan pada hidayah aql pula yang membedakan antara
manusia dan binatang. Di samping itu, di atas akal budi terdapat hidayah agama dan hidayah at-
taufiq.

Manusia menurut aspek Ilmu Pengetahuan:


Pada zaman modern pendefinisian manusia banyak dilakukan oleh mereka yang menekuni
bidang psikologi.Para penganut teori psikoanalisis menyebut manusia sebagai homo volens
(manusia berkeinginan). Menurut aliran ini manusia adalah makhluk yang memiliki perilaku
hasil interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego) dan sosial (superego), Di dalam
diri manusia terdapat unsur animal (hewani), rasional (akali), dan moral (nilai).
Maka kesimpulannya,kemakhlukan bahwa manusia lebih mulia entah apapun agamanya dan
latar belakangnya.
Yakni :

a.Telah diberinya ruh yang berasal dari Ruh Kemuliaan-Nya,bukan dari ruh Iblis atau syetan atau
binatang.(Silahkan renungi kembali tulisan diatas tentang unsur ruh dalam diri manusia).

b.Telah diberinya Akal dan nafs pilihan,yang berbeda dengan hewan,yang dengan akal tersebut
manusia diberi ilham untuk berpikir,berbudi daya dan ber nurani.Dengan akal pikir itu manusia
mampu mempertahankan hidup dan mampu mengembangkan teknologi,mampu berkomunikasi
dan berinteraksi dengan alam semesta.

2.BERDASAR NILAI-NILAI ISLAM :

*Manusia adalah salah satu makhluk ciptaan Allah,Tuhan Pencipta Alam Semesta. Walaupun
telah berusaha memahami dirinya selama beribu-ribu tahun, namun gambaran yang pasti dan
meyakinkan tak mampu mereka peroleh hanya dengan mengandalkan daya nalarnya yang
subyektif. Oleh karena itu manusia memerlukan pengetahuan dari pihak lain yang dapat
memandang dirinya secara lebih utuh.Allah Sang Pencipta Alam telah menurunkan Kitab Suci
Alquran yang di antara ayat-ayat-Nya menggambarkan keadaan konkret tentang kejadian
manusia.

Manusia Makluk Terbaik dan Termulia*


Allah Ta’ala menciptakan manusia itu melalui dua model proses,yakni :

66
a.Penciptaan langsung (penciptaan Adam) dengan prototype.
b.Penciptaan tidak langsung (proses reproduksi manusia).

-Dalam penciptaan Adam :

Allah Ta’ala langsung membentuknya dengan model / Protoype dari unsur-unsur tanah yang
dibentuk dan dengan air, lalu ditiupkan ruh Allah secara langsung (ROH Al-Qudus),sehingga
terciptalah Nabi Adam sebagai manusia pertama.
PROSES SEBAGAI BERIKUT :

1) Menggunakan “ Tiin”, yaitu tanah lempung:

‫ين‬
ٍ ‫ان ِمن ِط‬
ِ ‫س‬ ِ ْ َ‫سنَ ُك َّل ش َْيءٍ َخ َل َقهُ َوبَ َدأ َ َخ ْلق‬
َ ‫اإلن‬ َ ْ‫الَّذِي أَح‬
(Tuhan) memulai penciptaan manusia dari tanah lempung. (QS.32.As-Sajadah:7)

Dalam ayat ini, Alquran menyebut kata badaa yang berarti memulai. Ini menunjukkan adanya
awal suatu penciptaan dari tiin. Hal ini jelas bermakna tahap yang lain akan segera mengikuti.

2)Menggunakan “ Turaab”, yaitu tanah gemuk sebagaimana disebut dalam ayat:

ٍ ‫َاحبُهُ َوه َُو يُحَا ِو ُرهُ أ َ َك َف ْرتَ بِالَّذِي َخلَقَكَ ِمن ت َُرا‬
‫ب‬ ِ ‫قَا َل لَهُ ص‬
َ ‫ث ُ َّم ِمن نُّ ْطفَة ث ُ َّم‬
‫س َّواكَ َر ُجلا‬

“Kawanmu (yang mukmin) berkata kepadanya, sedang dia bercakap-cakap dengannya:


“Apakah kamu kafir kepada Tuhan Yang Menciptakan kamu dari tanah (turaab), kemudian dari
setetes air mani lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” (QS.18.Al-
Kahfi:37)

3) .Menggunakan “Tiinul laazib”, yaitu tanah lempung yang pekat (tanah liat):

ٍ ‫ش ُّد َخ ْلقا ا أَم َّم ْن َخ َل ْقنَا ِإنَّا َخ َل ْقنَاهُم ِمن ِط‬


ٍ ‫ين ََّّل ِز‬
‫ب‬ َ َ ‫ست َ ْف ِت ِه ْم أ َ ُه ْم أ‬
ْ ‫فَا‬

“Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): “Apakah mereka yang lebih kukuh
kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?” Sesungguhnya Kami menciptakan
mereka dari tanah liat (tiinul laazib). (QS.37.As-Saffaat: 11)

4).Diprototype kan dengan” Salsalun”, yaitu lempung yang dikatakan” Kalfakhkhar”, (seperti
tembikar). Citra ayat ini menunjukkan bahwa manusia “dimodelkan”.

5) .Dan dengan, “ Salsalun min hamain masnuun”, (lempung dari Lumpur yang dicetak/diberi
bentuk):

‫ون‬ ْ ‫ص ْلصَا ٍل ِم ْن َح َم ٍإ َّم‬


ٍ ُ‫سن‬ َ ‫سانَ ِمن‬ ِ ‫َولَقَ ْد َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اإلن‬

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang
berasal) dari Lumpur hitam yang diberi bentuk”. (Q.S. Al-Hijr, 15: 26)

67
6)Disarikan dengan,” Sulaalatin min tiin”, yaitu dari sari pati tanah.( Sulaalat berarti sesuatu
yang disarikan dari sesuatu yang lain):

ٍ ‫س َللَ ٍة ِمن ِط‬


‫ين‬ ُ ‫سانَ ِمن‬ ِ ْ ‫َولَقَ ْد َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اإلن‬
‫ا‬
ٍ ‫ث ُ َّم َجعَ ْل َناهُ نُ ْطفَة فِي قَ َر ٍار َّم ِك‬
‫ين‬
ُ‫َّللا‬
َّ ‫ار‬َ‫ك‬ َ َ َ ‫ا‬ ْ َ َ ْ َ ُ ‫ا‬ َ َ ْ َ ‫ضغَةَ ِع َظاما ا َف َك‬
َ ‫س ْونَا ال ِعظا َم لحْ ما ث َّم أنشَأناهُ خلقا آخ َر فت َب‬ ْ ‫ع َلقَةا فَ َخ َل ْقنَا ا ْل َعلَ َقةَ ُم‬
ْ ‫ضغَةا فَ َخلَ ْقنَا ا ْل ُم‬ َ َ‫ث ُ َّم َخلَ ْقنَا ال ُّن ْطفَة‬
َ‫سنُ ا ْل َخا ِل ِقين‬َ ْ‫أح‬ َ

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah
(sulaalatin min tiin). Kemudian Kami jadikan saripati air mani (yang disimpan) dalam tempat
yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang
itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain.
Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik”. (QS.23. Al-Mukminun: 12-14)

7)Dicampur dengan Air sebagai unsur penting asal usul seluruh kehidupan:

َ َ‫ق ِمنَ ا ْل َماء بَشَرا ا َف َجعَلَهُ ن‬


‫سبا ا َو ِصهْرا ا َوكَانَ َربُّكَ قَدِيرا ا‬ َ َ‫َوه َُو الَّذِي َخل‬

Dan Dia (Allah) pula yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia (Allah) jadikan manusia itu
punya keturunan dan musaharah adalah Tuhanmu Mahakuasa. (QS.25.Al-Furqaan: 54)

8). Peniupan Ruh Al-Qudus,Al-Hayat-Nya:

َ‫اج ِدين‬
ِ ‫س‬َ ُ‫وحي فَقَعُواْ لَه‬ َ ‫فَ ِإذَا‬
ِ ‫س َّو ْيتُهُ َونَ َف ْختُ فِي ِه ِمن ُّر‬

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh
(ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al-Hijr, 15: 29)

ْ َ‫َار َو ْاْل َ ْفئِ َدةَ قَ ِليلا َّما ت‬


َ‫شك ُُرون‬ َ ‫س ْم َع َو ْاْل َ ْبص‬
َّ ‫وح ِه َو َج َع َل لَ ُك ُم ال‬ َ ‫ث ُ َّم‬
ِ ‫س َّوا ُه َونَفَ َخ فِي ِه ِمن ُّر‬

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan) Nya dan
Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali
bersyukur”. (Q.S. As-Sajdah, 32: 9)

Demikian model penciptaan langsung nabi Adam yang difirmankan Allah dalam Alquran.
Manusia menurut Islam berbeda sama sekali dengan makhluk-makhluk lain, manusia adalah
makhluk yang paling terbaik dan sempurna dihadapan Allah. Manusia di samping mempunyai
jasad, nyawa, nafsu naluri, dan insting, manusia dilengkapi dengan Ruh Al-Qudus,Al-Hayat-
Nya.
Karena kelebihannya itulah manusia memperoleh predikat sebagai makhluk terbaik dan termulia,
baik bentuk kejadiannya maupun kedudukannya di alam semesta ini.

َ ْ‫سانَ فِي أَح‬


‫س ِن تَ ْق ِويم‬ ِ ْ ‫لَقَ ْد َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اإلن‬

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (Q.S. At-
Tin, 95: 4)

68
‫ير ِم َّم ْن َخ َل ْقنَا ت َ ْف ِضيلا‬ َّ َ‫ت َوف‬
َ ‫ض ْل َنا ُه ْم‬
ٍ ِ‫ع َلى َكث‬ ِ ‫َولَقَ ْد ك ََّر ْمنَا بَنِي آ َد َم َو َح َم ْل َنا ُه ْم فِي ا ْلبَ ِر َوا ْلبَحْ ِر َو َر َز ْقنَاهُم ِمنَ ال َّط ِيبَا‬

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka ke daratan dan
lautan, Kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan
yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”. (Q.S. Al-Isra, 17: 70)

-Penciptaan melalui proses reproduksi manusia :

PROSES SEBAGAI BERIKUT :


*Kandungan ayat-ayat Al-Quran telah membuka mata pakar dunia di bidang ilmu kedokteran
dan embriologi. Mereka terpana akan kesuaian ilmu ilmiah modern yang telah dihasilkan dengan
riset-riset mahal dengan wahyu Al-quran yang notabene telah ada sejak 1400 tahunan yang lalu.
Hal ini telah membuktikan kebenaran wahyu Alquran dan agama Islam sebagai pedoman hidup
manusia.

َ‫ور ٍة َّما شَاء َر َّكبَك‬


َ ‫ص‬ُ ِ ‫س َّواكَ فَ َع َدلَكَ فِي أَي‬
َ َ‫يم الَّذِي َخ َلقَكَ ف‬
ِ ‫غ َّركَ ِب َر ِبكَ ا ْلك َِر‬
َ ‫سانُ َما‬ ِ ْ ‫يَا أَيُّهَا‬
َ ‫اإلن‬

“Hai manusia apakah yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang
Maha Pemurah, yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan
menjadikan (susunan tubuhmu) seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia
menyusun tubuhmu.” (Q.S. Al- Infithar, 82: 6-8)

Proses terjadinya manusia merupakan fenomena yang baru saja diketahui setelah
diketemukannya alat-alat modern yang serba canggih diperbagai segi. Para pakar sains di bidang
kedokteran terkejut tatkala mereka menemukan teori-teori proses terjadinya manusia di dalam
Al-quran yang sangat sesuai dengan hasil yang mereka peroleh setelah melakukan penyelidikan
berabad-abad lamanya hingga saat ini.
Ilmu tentang proses kejadian manusia dalam Al-Qur’an yang sangat ilmiah:

Proses Kejadian dalam Kandungan (belum ada)

‫اَّللِ َوكُنت ُ ْم أ َ ْم َواتا ا َفأَحْ يَا ُك ْم ث ُ َّم يُ ِميت ُ ُك ْم ث ُ َّم يُحْ يِي ُك ْم‬
َّ ‫ْف تَ ْكفُ ُرونَ ِب‬
َ ‫َكي‬
َ‫ث ُ َّم إِلَ ْي ِه ت ُْر َجعُون‬
“Mengapa kamu kafir terhadap Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan
kamu.”(QS.2. Al-Baqarah: 28)

Al-Qur’an bilang bahwa kita tadinya “mati” alias belum ada.Lho,di manakah kita?Maka ilmu
modern telah memberi definisi, bahwa pada waktu itu kita masih berupa unsur-unsur zat-zat
anorganis dalam tanah,sedangkan unsur kehidupan (roh-red) berada dalam sumber kekuatan
semesta (Allah-red.).
Berikut penjelasan ilmiahnya :

(Unsur-unsur zat asli yang terdapat di dalam tanah akan diserap, baik itu oleh hewan maupun
tumbuhan, dan tak terkecuali akan sampai juga kepada manusia, termasuk ayah dan ibu kita.
Dalam tubuh ayah, zat-zat tersebut akan terbentuk menjadi sperma, sedang pada ibu akan

69
terwujud ovum (sel telur). Dari kedua benda (sperma dan ovum) inilah nanti akan terwujud
sosok manusia yang menakjubkan di dalam rahim ibu).

‫ُخلِقَ ِمن َّماء دَافِق‬


ِ ‫ص ْل‬
ِ ِ‫ب َوالتَّ َرائ‬
‫ب‬ ُ ‫يَ ْخ ُر‬
ُّ ‫ج ِمن بَي ِْن ال‬

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dan apa ia diciptakan. Dia diciptakan dari air yang
terpancar, yang keluar dari antara bagian seksuil daripada lelaki dan perempuan.”(Q.S. Ath
Thariq, 86: 6-7)

ْ ُ‫أَلَ ْم يَكُ ن‬
‫طفَةً ِّمن َّمنِّي ي ُْمنَى‬

“Bukankah ia dahulu berupa setetes mani yang ditumpahkan.”(Q.S. Al Qiyamah, 75: 37)

Mani atau sperma yang terbentuk di dalam tubuh setelah terjadinya persenyawaan antara zat-zat
yang terbawa dari makanan dengan unsur-unsur lain di dalam tubuh inilah yang merupakan salah
satu bahan terpenting bagi terwujudnya sosok manusia.

Sebelum lebih jauh tentang reproduksi manusia di dalam Alquran,maka perlu mengetahui dulu
bagaimana proses reproduksi manusia menurut ilmu embriologi modern yang telah diperoleh .
Para ahli Embriologi begitu takjub dengan susunan ayat Al-Qur’an yang begitu sistematik
mengenai soal-soal reproduksi manusia,yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a. Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan (facondation).


b. Watak dari zat cair yang membuahi.
c. Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim.
d. Perkembangan embrio di dalam rahim.
Setetes cairan yang menyebabkan pembuahan.
Alquran mengetengahkan soal ini sebelas kali dalam berbagai surah,silahkan perhatikan ayat-
ayat ini;

ٌ‫سانَ ِمن نُّ ْطفَ ٍة َف ِإذَا ه َُو َخ ِصي ٌم ُّمبِين‬ ِ َ‫َخلَق‬


َ ‫اإلن‬
“Dia telah menciptakan manusia dari nutfah, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata.”(Q.S.
An Nahl, 16: 4)

Kata nutfah dalam ayat ini berasal dari akar kata yang artinya “mengalir”. Kata ini dipakai untuk
menunjukkan air yang ingin tetap dalam wadahnya, sehingga sesudah wadah itu dikosongkan.
Jadi kata tersebut menunjukkan setetes kecil yang dalam hal ini berarti setetes air sperma (mani),
karena dalam ayat lain diterangkan bahwa setetes itu adalah setetes sperma.

‫أَلَ ْم يَكُ نُ ْطفَةا ِمن َّمنِي ٍ يُ ْمنَى‬

“Bukankah ia dahulu dari setetes mani (sperma) yang ditumpahkan.”(Q.S. Al Qiyamah, 75:37)

Dalam ayat lain setetes itu ditempatkan dalam tempat yang tetap atau kokoh yang dinamai rahim.

70
ٍ ‫ث ُ َّم َجعَ ْل َناهُ نُ ْطفَةا فِي قَ َر ٍار َّم ِك‬
‫ين‬

“Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (sperma) (yang disimpan) dalam tempat yang
kokoh (rahim).” (Q.S. Al Mu’minun, 23:13)

Inilah ayat-ayat Quran yang menunjukkan ide tentang setitik cairan yang diperlukan untuk
pembuahan, hal ini sesuai tepat dengan sains modern yang telah diketahui sekarang.
Watak dari zat cair yang membuahi,
Alquran menunjukkan cairan yang memungkinkan terjadinya pembuahan dengan watak-watak
atau sifat yang perlu dicermati,

– Sperma (seperti yang baru dibicarakan)


– Cairan yang terpancar (Q.S. Ath Thariq, 86:6)
– Cairan yang hina (Q.S. Al Mursalaat, 77: 20)
– Cairan yang bercampur/amsyaj (Q.S. Al Insan, 76:2)
Watak cairan yang terakhir perlu digaris bawahi, karena mengandung suatu hal yang
menakjubkan yang perlu kita ketahui dan mengerti.

َ ُ‫سانَ ِمن نُّ ْطفَ ٍة أ َ ْمشَاجٍ نَّ ْبت َ ِلي ِه فَ َج َع ْلنَاه‬


‫س ِميعا ا بَ ِصيراا‬ ِ ْ ‫إِنَّا َخلَ ْقنَا‬
َ ‫اإلن‬
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes nutfah yang bercampur.., (QS Al
Insan, 76:2)

Banyak ahli tafsir seperti Hamidullah dan juga ahli-ahli tafsir kuno yang mereka itu belum
memiliki ide sedikit pun tentang fisiologi pembuahan, mereka mengira bahwa kata “campuran”
itu hanya menunjukkan bertemunya unsur lelaki dan wanita.
Tetapi ahli tafsir modern seperti penulis Muntakhab yang diterbitkan Majelis Tinggi soal-soal
Islam di Kairo mengoreksi cara para ahli tafsir kuno dan menerangkan bahwa setetes sperma itu
banyak mengandung unsur-unsur. Suatu keterangan yang sangat tepat, walaupun mereka tidak
memberikan perinciannya. Apakah unsur-unsur sperma yang bermacam-macam itu? Cairan
sperma mengandung unsur-unsur yang bermacam-macam yang berasal dari kelenjar-kelenjar
sbb;

– Tetis, buah pelir yang mengeluarkan spermatozoa yaitu sel panjang berekor dan berenang
dalam cairan serolife.
– Kantong-kantong benih (besicules seminutes). Organ ini merupakan tempat menyimpan
spermatozoa, juga mengeluarkan cairan, tapi tak bersifat membuahi.
– Prostat, mengeluarkan cairan yang memberikan sifat krem serta bau khusus kepada sperma.
– Kelenjar Cooper/mery, mengeluarkan cairan yang lekat.
– Kelenjar letre, yang mengeluarkan semacam lendir.

Inilah unsur-unsur campuran yang dimaksud dalam Alquran.


Betapa menakjubkan, Alquran memberikan hal-hal yang harus diketahui dengan alat-alat modern
pada saat ini, yang tidak mungkin diketahui orang-orang pada waktu Alquran diturunkan 15 abad
silam. Ini membuktikan bahwa Tuhan yang menguasai jagat inilah yang menurunkan kitabNya
kepada manusia sebagai petunjuk dan bukti akan kebenaran yang Mutlak.

71
Satu lagi para sarjana yang mencoba mempelajari Alquran dibuat kagum dan dengan tulus
mereka menyatakan beriman Islam, yaitu bunyi suatu ayat dalam QS.32. As-Sajadah: 8;

ٍ ‫س َللَ ٍة ِمن َّماء َّم ِه‬


‫ين‬ ْ َ‫ث ُ َّم َجعَ َل ن‬
ُ ‫سلَهُ ِمن‬

“Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.”

Yang dimaksud saripati di ayat ini adalah suatu bahan yang dikeluarkan atau keluar dari bahan
yang lain dan merupakan bagian yang terbaik (terpilih) daripada bahan itu (sperma). lebih
jelasnya adalah; yang menyebabkan terjadinya pembuahan (sehingga tercipta manusia) pada sel
telur (ovum) pada pihak wanita, adalah satu bagian yang berupa sebuah sel panjang yang
besarnya kurang lebih 1/10.000 mm. Satu dari beberapa juta sel yang serupa di dalam setetes
sperma yang dihasilkan seorang lelaki.
Sejumlah yang sangat besar tetap di jalan dan tidak sampai ke trayek yang menuntun dari
kelamin wanita sampai ke sel telur di dalam rongga rahim (uterus dan trompe).
Bagaimana kita tidak terpukau oleh persesuaian antara teks Alquran dengan ilmu pengetahuan
ilmiah yang kita miliki sekarang ini (abad modern)!
Menetapnya telur yang sudah dibuahi dalam rahim
Telur yang telah dibuahi dalam “trompe” turun bersarang di dalam rongga rahim (cavum uteri).
Inilah yang dinamakan “bersarangnya telur”. Quran menamakan uterus tempat telur dibuahkan
itu rahim (kata jamaknya arham).

َ ‫َام َما نَشَاء ِإلَى أَجَ ٍل ُّم‬


‫س ًّمى‬ ِ ‫َونُ ِق ُّر ِفي ْاْل َ ْرح‬

“Dan kami tetapkan dalam rahim apa yang kami hendaki sampai waktu yang sudah ditentukan.”
(Q.S. Al Hajj, 22: 5)

Menetapnya telur dalam rahim terjadi karena tumbuhnya jonjot (villi), yakni perpanjangan telur
yang akan mengisap dari dinding rahim zat yang perlu bagi membesamya telur, seperti akar
tumbuh-tumbuhan yang masuk dalam tanah. Pertumbuhan semacam ini mengokohkan telur di
dalam rahim. Pengetahuan hal ini baru diperoleh manusia pada jaman modem saat ini.
Pelekatan ini disebutkan dalam Alquran 5 kali, salah satunya ada dalam :

ٍ َ‫عل‬
‫ق‬ َ ‫سانَ ِم ْن‬ ِ ْ َ‫َخلَق‬
َ ‫اإلن‬

“Yang menciptakan manusia dari sesuatu yang melekat.” Q.S. Al Alaq, 96: 2

“Sesuatu yang melekat” adalah terjemahan kata bahasa arab ‘alaq. Ini adalah arti yang pokok.
Arti lainnya adalah gumpalan darah yang sering disebutkan dalam terjemahan Alquran. Ini
adalah suatu kekeliruan yang harus kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap gumpalan
darah. Ada lagi terjemahan ‘alaq yaitu lekatan (adherence) yang juga merupakan kata yang tidak
tepat. Arti pokok yaitu “suatu yang melekat” sesuai sekali dengan temuan sains modern. Secara
lebih jelasnya adalah sebagai berikut;

Setelah pembuahan antara sperma dengan ovum, kedua sel tersebut akan membelah dari
1,2,4,8,16 dan seterusnya secara cepat sekali. Enam atau tujuh hari setelah pembuahan sel yang

72
banyak menyerupai gelembung kecambah ini menetap dan bersarang pada dinding dalam uterus,
yang rupanya seperti bunga karang atau selapis karet busa. Kejadian yang sangat penting ini
disebut “nidasi” atau implantasi, maksudnya penyarangan atau penanaman. Selama proses nidasi
ini, beberapa pembuluh yang sangat halus dalam jaringan sel sang ibu dibuka. Sisa jaringan yang
rusak dan tetes darah kecil yang keluar merupakan makanan untuk sel-sel yang sedang
berkembang. Sel-sel ini mengisap makanan dengan cara sama seperti tumbuh-tumbuhan
mengisap makanan dari tanah lembab.

Memang, “alaq atau sesuatu yang melekat ini akan dengan segera mengeluarkan semacam
jaringan akar-akar yang halus sekali, yang disebut “villi”. Guna akar-akar ini selain untuk
menerima zat makanan, juga supaya ‘alaq ini dapat mengikatkan diri dengan kokoh di dalam
rahim. Di dalam dinding-dinding inilah ‘alaq akan berkembang mengalami metamorfbrse yang
amat dasyat. Tak lama lagi ‘alaq ini makin lama makin berkembang dan besar. Dan berubah
setiap jam menjadi apa yang jelas-jelas sebagai makhluk manusia yang mempunyai kepala,
tubuh, tangan, kaki, jari-jari, mata, telingan dan hidung.
Ide tentang sesuatu yang melekat (‘alaq), disebutkan di beberapa ayat yang lainnya. Misalnya
sebagai berikut;

َ َ‫ث ُ َّم َخلَ ْقنَا ال ُّن ْطفَة‬


‫ع َلقَةا‬

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (sesuatu yang melekat).”(Q.S. Al
Mu’minun 23:14)

َ ‫ب ث ُ َّم ِمن نُّ ْطفَ ٍة ث ُ َّم ِم ْن‬


‫علَقَ ٍة‬ ٍ ‫ه َُو الَّ ِذي َخلَقَكُم ِمن ت َُرا‬

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, sesudah itu dari
‘sesuatu yang melekat’. “(Q.S. Al Mu’min 40:67)

‫أ َ َل ْم يَكُ نُ ْطفَةا ِمن َّمنِي ٍ يُ ْم َنى‬


‫س َّوى‬ َ َ‫ق ف‬ َ َ‫ع َلقَةا فَ َخل‬
َ َ‫ث ُ َّم كَان‬

“Bukankah ia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim). Kemudian mani itu
menjadi ‘sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempumakannya.”(Q.S. al
Qiyaamah 75: 37-38)

Persesuaian ini sungguh mempertebal iman Islam,kepada Allah dan kitab-Nya yang diturunkan
kepada Muhammad SAW.
Perkembangan embrio dalam rahim.
Semua hal yang telah disebutkan oleh Alquran di atas telah diketahui oleh manusia saat ini, dan
tidak mengandung sedikitpun hal-hal yang dapat dikritik oleh sains. Sekarang kita mulai
membicarakan mengenai tahap-tahap perkembangan embrio di dalam rahim.
Setelah kata “sesuatu yang melekat” (‘alaq) yang telah kita lihat kebenarannya, Alquran
menyatakan bahwa embrio melalui tahap; secuil daging (seperti daging yang dikunyah),
kemudian nampaklah tulang yang diselubungi oleh daging (diterangkan dengan kata lain berarti
daging segar).

73
َ ‫ضغَةَ ِع َظاما ا َف َك‬
َ ‫س ْونَا ا ْل ِع َظا َم لَحْ ما ا ث ُ َّم أَنشَأْنَاهُ َخ ْلقا ا آ َخ َر فَتَ َب‬
َّ َ‫ارك‬
ُ‫َّللا‬ ْ ‫ع َلقَةا فَ َخ َل ْقنَا ا ْل َعلَ َقةَ ُم‬
ْ ‫ضغَةا فَ َخلَ ْقنَا ا ْل ُم‬ َ َ‫ث ُ َّم َخلَ ْقنَا ال ُّن ْطفَة‬
َ ْ
َ‫سنُ الخا ِل ِقين‬
َ ْ‫أح‬ َ

“Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu Kami jadikan sesuatu yang
melekat itu secuil daging dan secuil daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami bungkus dengan daging, kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk
lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”(Q.S. Al Mu’minun 23:14)

Daging (seperti yang dikunyah) adalah terjemahan kata bahasa arab “mudlghah“, daging
(seperti daging segar) adalah terjemahan kata “lahm“. Perbedaannya perlu digarisbawahi,
embrio pada permulaannya merupakan benda yang nampak kepada mata biasa, dalam tahap
tertentu daripada perkembangan sebagai daging yang dikunyah. Sistem tulang berkembang pada
benda tersebut di dalamnya, yang dinamakan “mesenbyme“. Tulang yang sudah terbentuk
dibungkus dengan otot-otot, inilah yang dimaksud kata “lahm“
Dalam perkembangan embrio, ada beberapa bagian yang muncul yang tidak seimbang
proporsinya dengan yang akan menjadi manusia nanti, sedang bagian-bagian lain tetap
seimbang. Bukankah arti bahasa arab “mukhallaq” adalah dibentuk dengan proporsi seimbang?,
yang dipakai dalam ayat 5 surat Al Maaidah disebutkan untuk menunjukkan fenomena ini?
Alquran juga menyebutkan munculnya panca indera dan hati (perasaan, afidah)

َ ‫س ْم َع َو ْاْل َ ْبص‬
‫َار‬ َّ ‫وح ِه َو َج َع َل لَ ُك ُم ال‬ َ ‫ث ُ َّم‬
ِ ‫س َّوا ُه َونَفَ َخ ِفي ِه ِمن ُّر‬
َ‫شك ُُرون‬ َ َ ْ َ
ْ َ ‫َو ْاْلفئِ َدة ق ِليلا َّما ت‬

“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalam tubuhnya roh-Nya, dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati.” (Q.S. As-Sajadah 32: 9)

Terbentuknya seks juga disebutkan dalam Quran surah Faathir ayat 11 dan surah Al Qiyamah 39
juga surah An Najm 45-46 sebagai berikut;

‫َوأَنَّهُ َخلَقَ ال َّز ْو َجي ِْن الذَّك ََر َو ْاْلُنثَى‬


‫ِمن نُّ ْطفَ ٍة إِذَا ت ُْمنَى‬

“Dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan,


dari mani yang dipancarkan.”(Q.S. An Najm 53: 45-46)

Maka kesimpulannya :
-Bahwa manusia dapat digolongkan sebagai makhluk mulia,jika manusia tersebut mengenali asal
usul dirinya darimana berasal dan menyadari hakekat untuk apa manusia itu
dilahirkan/diciptakan.

a.Menyadari bahwa manusia diciptakan hanya untuk mengabdi,menyembah kepada Tuhannya


b.Maka pertamakali haruslah beriman
c.Kemudian ber-Islam,dengan mengaplikasikan nilai-nilai Islam,manusia akan diberi petunjuk
jalan pintas untuk menemukan dan mencapai derajat kesempurnaa/kemuliaan dirnya.
d.Mengaplikasikan nilai-nilai Muhammad sebagai utusan Tuhan yang terakhir yang laku
perbuatannya merupakan cermin yang baik untuk pedoman hidup dan mengabdi pada

74
Tuhan.Nilai-nilai Muhammad SAW adalah rahmatan lil ‘alamin,yakni berbuat manfaat pada diri
dan umat serta sekelilingnya.

e.Ketika manusia itu telah mampu memahami hakekat keberadaan dirinya kemudian
menenggelami seluruh aspek keber-imanannya,keber-Islamannya dan berlaku perbuatan mensuri
tauladani nilai-nilai Muhammad dalam setiap nafas kehidupannya di dunia,maka manusia
tersebut akan mencapai posisi derajat / maqam yang tinggi hingga mencapai derajat AL-
MUQARRABIN (Yang didekatkan pada Allah Ta’ala),yang posisi ini dapat melebihi derajat
Malaikat.

JIKA KITA TELAH MEMAHAMI HAKEKAT BAHWA MANUSIA ITU MAKHLUK


YANG PALING MULIA,MAKA KITA AKAN MEMAHAMI PULA MENGAPA TUHAN
MENYEBUT MANUSIA ITU DENGAN BERBAGAI ISTILAH,SBB :

ANALOGY SEBUTAN-SEBUTAN LAIN SPECIES MANUSIA :

1. Al-INSAN : Di tinjau dari habitat/group


-Disebut INSAN (QS.76.Al-Insan:1-2)
-Sebagai aspek dari sisi kecerdasan yakni makhluk terbaik selain hewan,Jin,Malaikat,yang diberi
akal sehingga mampu menyerap pengetahuan :

“Dia menciptakan manusia…..Mengajarnya pandai berbicara”. (QS.55.Ar-Rahmaan: 3-4).


“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan”, (QS.96.Al ‘Alaq:1-4)
-Ditinjau dari Existensi (QS.114.An-Nas:1-6)

2.Al-BASYAR : Ditinjau dari Individu


-Disebut BASYAR (QS.15.Al-Hijr:28, Al-Isra’:93, Maria:26)

75
-Sebagai aspek biologis manusia yang mencerminkan sifat-sifat fisik-kimia dan biologisnya
(QS.23.Al-Mukminun: 33).

3. BANI ADAM :
Ditinjau dari aspek historis manusia yang menunjukkan darimana asal usulnya :
-Disebut BANI ADAM (QS.17.Al-Isra’: 70) , (QS.7.Al-A’raaf:31).
-Nenek Moyang Manusia,bukan dari kera (QS.7. Al- A’raaf:172) , (QS.39.Az-Zumar:06)

4.AN-NAAS :
– Ditinjau dari aspek sosiologisnya yang menunjukkan sifat manusia yang suka berkelompok
sesama komunitasnya (QS.2.Al-Baqarah: 21).

5.AL-ABDUN :
-Sebagai aspek dari kedudukannya yang menunjukkan bahwa manusia sebagai hamba Tuhan
yang harus tunduk dan patuh kepadanya-Nya (QS.34.Saba’:9).

KEFITRAHAN MANUSIA

Potensi Hanif , Akal, Qalb dan Nafsy

*Kata fithrah (fitrah) merupakan derivasi dari kata fatara, artinya ciptaan, suci, dan seimbang.
Louis Ma’ruf dalam kamus Al-Munjid (1980:120) menyebutkan bahwa fitrah adalah sifat yang
ada pada setiap yang ada pada awal penciptaannya, sifat alami manusia,pada agama,pada
sunnah-Nya.

Menurut imam Al-Maraghi (1974: 200) fitrah adalah kondisi di mana Allah menciptakan
manusia yang menghadapkan dirinya kepada kebenaran dan kesiapan untuk menggunakan
pikirannya.
Dengan demikian arti fitrah dari segi bahasa dapat diartikan sebagai kondisi awal suatu ciptaan
atau kondisi awal manusia yang memiliki potensi untuk mengetahui dan cenderung kepada
kebenaran (hanif). Fitrah dalam arti hanif ini sejalan dengan isyarat Alquran:

ِ َّ‫الدينُ ا ْلقَ ِي ُم َولَ ِكنَّ أَ ْكث َ َر الن‬


َ‫اس ََّل يَ ْعلَ ُمون‬ ِ َ‫َّللاِ ذَ ِلك‬
َّ ‫ق‬ ِ ‫علَ ْيهَا ََّل تَ ْبدِي َل ِل َخ ْل‬ َ ‫َّللا الَّتِي فَ َط َر ال َّن‬
َ ‫اس‬ ِ ‫فَأَقِ ْم َوجْ َهكَ ِللد‬
ِ َّ َ‫ِين َحنِيفا ا فِ ْط َرة‬

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah
yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah
(itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Q.S. Ar-Ruum, 30:
30)

Fitrah dalam arti penciptaan tidak hanya dikaitkan dengan arti penciptaan fisik, melainkan juga
dalam arti rohaniah, yaitu sifat-sifat dasar manusia yang baik. Karena itu fitrah disebutkan dalam
konotasi nilai. Lahirnya fitrah sebagai nilai dasar kebaikan manusia itu dapat dirujukkan kepada
ayat:

‫ستَ بِ َربِ ُك ْم قَالُواْ بَ َلى ش َِه ْدنَا أَن تَقُولُواْ يَ ْو َم‬


ْ َ‫علَى أَنفُس ِِه ْم أَل‬ ْ َ ‫ور ِه ْم ذُ ِريَّت َ ُه ْم َوأ‬
َ ‫ش َه َد ُه ْم‬ ُ ‫َوإِ ْذ أ َ َخذَ َربُّكَ ِمن بَنِي آ َد َم ِمن‬
ِ ‫ظ ُه‬
َ ‫ا ْل ِقيَا َم ِة إِنَّا ُكنَّا ع َْن َهذَا‬
َ‫غا ِف ِلين‬

76
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka
dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini
Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan
yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (Bani
Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Q.S. Al-A’raaf, 7:
172)

Ayat di atas merupakan penjelasan dari fitrah yang berarti hanif (kecenderungan kepada
kebaikan) yang dimiliki manusia karena terjadinya proses persaksian sebelum digelar ke muka
bumi. Persaksian ini merupakan proses fitrah manusia yang selalu memiliki kebutuhan terhadap
agama (institusi yang menjelaskan tentang Tuhan), karena itu dalam pandangan ini manusia
dianggap sebagai makhluk religius. Ayat di atas juga menjadi dasar bahwa manusia memiliki
potensi baik sejak awal kelahirannya. la bukan makhluk amoral, tetapi memiliki potensi moral.
Juga bukan makhluk yang kosong seperti kertas putih sebagaimana yang dianut para pengikut
teori tabula rasa.
Fitrah dalam arti potensi, yaitu kelengkapan yang diberikan pada saat dilahirkan ke dunia.
Potensi yang dimiliki manusia tersebut dapat dikelompokkan kepada dua hal, yaitu potensi fisik
dan potensi rohaniah.
Potensi fisik manusia telah dijelaskan pada bagian yang lalu, sedangkan potensi rohaniah adalah
akal, qalb dan nafsu. Akal dalam pengertian bahasa Indonesia berarti pikiran, atau rasio. Harun
Nasution (1986) menyebut akal dalam arti asalnya (bahasa Arab), yaitu menahan, dan orang ‘aqil
di zaman jahiliah yang dikenal dengan darah panasnya adalah orang yang dapat menahan
amarahnya dan oleh karenanya dapat mengambil sikap dan tindakan yang berisi kebijaksanaan
dalam mengatasi masalah yang dihadapinya. Senada dengan itu akal dalam Alquran diartikan
dengan kebijaksanaan (wisdom), intelegensia (intelligent) dan pengertian (understanding).
Dengan demikian di dalam Alquran akal diletakkan bukan hanya pada ranah rasio tetapi juga
rasa, bahkan lebih jauh dari itu jika akal diartikan dengan hilunah atau bijaksana.

Al-qalb berasal dari kata qalaba yang berarti berubah, berpindah atau berbalik dan menurut Ibn
Sayyidah (Ibn Manzur: 179) berarti hati. Musa Asyari (1992) menyebutkan arti al-qalb dengan
dua pengertian, yang pertama pengertian kasar atau fisik, yaitu segumpal daging yang berbentuk
bulat panjang, terletak di dada sebelah kiri, yang sering disebut jantung. Sedangkan arti yang
kedua adalah pengertian yang halus yang bersifat ketuhanan dan rohaniah yaitu hakikat manusia
yang dapat menangkap segala pengertian, berpengetahuan dan arif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa akal digunakan manusia dalam rangka memikirkan
alam sedangkan mengingat Tuhan adalah kegiatan yang berpusat pada qalbu. Keduanya
merupakan kesatuan daya rohani untuk dapat memahami kebenaran sehingga manusia dapat
memasuki suatu kesadaran tertinggi yang bersatu dengan kebenaran Ilahi.
Adapun nafsu (bahasa Arab: al-hawa, dalam bahasa Indonesia sering disehat hawa nafsu) adalah
suatu kekuatan yang mendorong manusia untuk mencapai keinginannya. Dorongan-dorongan ini
sering disebut dengan dorongan primitif, karena sifatnya yang bebas tanpa mengenal baik dan
buruk. Oleh karena itu nafsu sering disebut sebagai dorongan kehendak bebas. Dengan nafsu
manusia dapat bergerak dinamis dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Kecenderungan nafsu
yang bebas tersebut jika tidak terkendali dapat menyebabkan manusia memasuki kondisi yang
membahayakan dirinya. Untuk mengendalikan nafsu manusia menggunakan akalnya sehingga
dorongan-dorongan tersebut dapat menjadi kekuatan positif yang menggerakkan manusia ke arah

77
tujuan yang jelas dan baik. Agar manusia dapat bergerak ke arah yang jelas, maka agama
berperan untuk menunjukkan jalan yang akan harus ditempuhnya. Nafsu yang terkendali oleh
akal dan berada padajalur yang ditunjukkan agama inilah yang disebut an-nafs al-mutmainnah
yang diungkapkan Alquran :

ُ‫س ا ْل ُم ْط َمئِنَّة‬ُ ‫يَا أَيَّتُهَا ال َّن ْف‬


‫اضيَةا َّم ْر ِضيَّةا‬ ِ ‫ار ِج ِعي إِلَى َر ِب ِك َر‬ ْ
‫فَا ْد ُخ ِلي ِفي ِع َبادِي‬
‫َوا ْد ُخ ِلي َجنَّتِي‬

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hambaKu dan masuklah ke dalam surgaKu.” (Q.S. Al-
Fajr, 89:27-30)

Dengan demikian manusia ideal adalah manusia yang mampu menjaga fitrah (hanif)-nya dan
mampu mengelola dan memadukan potensi akal, qalbu, dan nafsunya secara harmonis.

HAK PREROGATIF MANUSIA

Mempunyai Hak Pilih dan Kebebasan


Pada setiap ciptaan-Nya, Allah telah menentukan qadamya. Qadar sendiri berarti “memberikan
ukuran/keterhinggaan/ketetapan). Arti ini dapat diketahui dari ayat-ayat berikut ini:

‫ق ُك َّل ش َْيءٍ فَقَد ََّرهُ ت َ ْقدِيراا‬ ِ ‫ت َو ْاْل َ ْر‬


َ ‫ض َولَ ْم يَت َّ ِخ ْذ َولَدا ا َولَ ْم يَكُن لَّهُ ش َِريكٌ فِي ا ْل ُم ْل ِك َو َخ َل‬ ِ ‫اوا‬ َّ ‫الَّذِي لَهُ ُم ْلكُ ال‬
َ ‫س َم‬

“…yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan
tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan
Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (Q.S. al-Furqan, 25: 2)

ِ ‫يز ا ْل َع ِل‬
‫يم‬ ُ ‫ستَقَ ٍر لَّهَا ذَ ِلكَ ت َ ْقد‬
ِ ‫ِير ا ْل َع ِز‬ ْ ‫س تَجْ ِري ِل ُم‬
ُ ‫ش ْم‬
َّ ‫َوال‬

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Yasin, 36: 38)

َ‫اء َما اء ِبقَد ٍَر فَأ َنش َْر َنا ِب ِه بَ ْل َدةا َّميْتا ا َكذَ ِلكَ ت ُْخ َر ُجون‬ َّ ‫َوالَّذِي نَ َّز َل ِمنَ ال‬
ِ ‫س َم‬

“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan
dengan air itu negeri yang mati,…” [Q.S. az-Zukhruf, 43: 11)

‫ِإنَّا ُك َّل ش َْيءٍ َخلَ ْق َنا ُه ِبقَد ٍَر‬

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (Q.S. al-Qamar, 54: 49)

‫َّللاُ ِلك ُِل ش َْيءٍ قَدْراا‬


َّ ‫قَ ْد َج َع َل‬

78
“… Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (Q.S. ath-Thalaq,
65: 3)

‫َّللاِ ه َُو َخيْراا َوأ َ ْع َظ َم أَجْ را‬ ِ ُ‫… َو َما تُقَ ِد ُموا ِْلَنف‬
َّ ‫سكُم ِم ْن َخي ٍْر ت َ ِجدُوهُ ِعن َد‬

“… Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu, memperoleh
(balasannya) di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar
pahalanya,…” [Q.S. al-Muzamil 73: 20].

ٍ ُ‫َو ِإن ِمن ش َْيءٍ إَِّلَّ ِعن َدنَا َخ َزا ِئنُهُ َو َما نُنَ ِزلُهُ ِإَّلَّ ِبقَد ٍَر َّم ْعل‬
‫وم‬

“Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya, dan Kami tidak
menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.” (Q.S. al-Hijr 15: 21)

Ide yang terkandung dalam doktrin qadar ini adalah bahwa Allah saja yang tak terhingga secara
mutlak, sedang segala sesuatu selain Allah sebagai ciptaanNya memiliki “ukuran/keterhinggaan”
atau memilih kapasitas yang terbatas. Menurut al-Qur’an, setiap Allah menciptakan sesuatu hal
(khalq), Allah memberikan sifat-sitat, potensi-potensi dan hukum-hukum tingkah laku (amr,
“perintah” atau hidayah “petunjuk”) tertentu kepadanya, sehingga ia menuruti sebuah pola
tertentu dan menjadi sebuah laktor didalam “kosmos”.

Oleh karena itu segala sesuatu di dalam alam semesta ini bertingkah laku sesuai dengan hukum-
hukum yang telah ditentukan padanya secara otomatis mentaati “perintah” Allah-maka
keseluruhan alam semesta ini adalah muslim atau tunduk kepada kehendak Allah.
Manusia adalah satu-satunya kekecualian didalam hukum universal ini karena diantara
scmuanya, manusialah satu-satunya ciptaan Allah yang diberi kebebasan untuk mentaati atau
mengingkari perintah Allah.
Sebagaimana ciptaan yang lain, pada manusia juga telah ditetapkan sifat-sifat, potensi-potensi
dan hukum-hukum tingkah laku, yaitu bahwa manusia diciptakan telah dilengkapi dengan
perbekalan-perbekalan yang berupa kodrat, pembawaan jiwa (watak) dan perlengkapan-
perlengkapan lainnya. Semua ini dapat diarahkan pemakaiannya kearah yang baik maupun ke
arah yang buruk. Jadi tidak semata-mata untuk kebaikan atau untuk keburukan saja. Walaupun
sebagian orang lebih kuat iradah kebaikannya dan sebagian lain lebih kuat iradah kejahatannya.
Semua itu hanya Allah yang tahu ukurannya secara pasti, sebagaimana firman Allah:

‫سا َها‬ َ ‫ َوقَ ْد َخ‬#‫ قَ ْد أ َ ْفلَ َح َمن َزكَّا َها‬#‫ور َها َوت َ ْق َوا َها‬
َّ ‫اب َمن َد‬ َ ‫ َفأ َ ْل َه َمهَا فُ ُج‬#‫س َّوا َها‬
َ ‫ونَ ْف ٍس َو َما‬#
َ

“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketaqwaan. Sesungguh-nya beruntunglah orang yang mensucikanjiwa itu.
Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Q.S. asy-Syams, 91: 7-10)

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah menjadikan manusia dengan sempurna lagi berimbangan
dan mengisinya dengan kodrat-kodrat (sarana) yang dapat menerima kebaikan atau kejahatan.
Di samping itu Allah juga telah membekali manusia dengan akal yang dapat membedakan mana
yang benar dan mana yang salah. Dan juga Allah memberikan kepada manusia tenaga dan
kemampuan untuk membenarkan yang haq dan menyalahkan yang bathil, sanggup mengerjakan

79
yang baik dan meninggalkan yang buruk.
Tidak hanya itu saja, Allah masih mengutus para rasul untuk mewujudkan jalan-jalan kebenaran
dan memberikan bimbingan. Allah juga telah merumuskan dalil-dalil (pokok-pokok pedoman)
tentang kebenaran dengan diturunkan kitab suci (al-Qur’an) kepada manusia.

Dengan demikian manusia dipandang mukhtar dalam segala perbuatannya, dengan ikhtiar yang
hakiki, bukan majazi, karena ia menyukai perbuatan itu dan mempunyai pengaruh dalam
meninggalkan perbuatan.
Melihat kelengkapan perbekalan yang diberikan Allah kepada manusia, maka manusia harus
mengerahkan kodrat dan kemampuannya untuk memilih jalan kebenaran atau jalan sesat.
Sebagaimana firman Allah:

‫َو َه َد ْينَاهُ النَّجْ َدي ِْن‬

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Q.S. al-Balad, 90: 10)

‫سبِي َل إِ َّما شَا ِكرا ا َوإِ َّما َكفُوراا‬


َّ ‫إِنَّا َه َد ْينَاهُ ال‬

“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula
yang kafir.” (Q.S. al-Insan, 76: 3)

Dengan demikian segala hasil dan akibat dari perbuatan manusia adalah karena ulah manusia
sendiri, sebagaimana firman Allah:

ٌ‫س َبتْ َر ِهينَة‬


َ ‫ُك ُّل نَ ْف ٍس ِب َما َك‬

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.” (Q.S. al-Muddatstsir, 74:
38)

َ َ ‫س ِه َو َم ْن أ‬
‫ساء فَعَلَ ْيهَا َو َما َر ُّبكَ بِ َظ َّل ٍم ِل ْلعَبِي ِد‬ ِ ‫َم ْن ع َِم َل صَا ِلحا ا فَ ِل َن ْف‬

“Barang siapa mengerjakan amal sholeh maka (pahalanya) untuk dirinva sendiri dan barang
siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu
menganiaya hamba-hamba(Nya).” (Q.S. Fushshilat, 41: 46)

‫إِنَّ َّللاَ َّلَ يُغَيِ ُر َما بِقَ ْو ٍم َحتَّى يُغَيِ ُرواْ َما بِأ َ ْنفُس ِِه ْم‬

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka merubah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. ar-Ra’du, 13: 11)

Makna senada dapat dilihat pada beberapa ayat berikut ini:

‫وقُ ِل ا ْلحَقُّ ِمن َّربِ ُك ْم فَ َمن شَاء َف ْليُؤْ ِمن َو َمن شَاء فَ ْليَ ْكفُ ْر‬..
َ

80
“Dan katakanlah, Kebenaran itu datangnya dan Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin
(beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin, (kafir) biarlah ia kafir,…” (Q.S. al-
Kahfi, 18: 29)

َ َ‫علَ ْيهَا َما ا ْكت‬


ْ‫سبَت‬ َ ‫سعَهَا َلهَا َما َك‬
َ ‫سبَتْ َو‬ ْ ‫ف َّللاُ نَ ْفسا ا إَِّلَّ ُو‬
ُ ‫َّلَ يُك َِل‬

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesangggupannya. la mendapat


pahala (dari kebajikan) yang ia usahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang
dikerjakannya…” (Q.S. al-Baqarah, 2: 286)

َ‫س َّما أ ُ ْخ ِف َي لَ ُهم ِمن قُ َّر ِة أ َ ْعيُ ٍن ج ََزاء بِ َما كَانُوا يَ ْع َملُون‬
ٌ ‫فَ َل تَ ْعلَ ُم َن ْف‬

“Seorangpun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam
nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang mereka
kerjakan.” (Q.S. as-Sajadah, 32: 17)

ٍ ِ‫سبَتْ أ َ ْيدِي ُك ْم َويَ ْعفُو عَن َكث‬


‫ير‬ َ ‫َو َما أَصَابَكُم ِمن ُّم ِصيبَ ٍة فَبِ َما َك‬

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. asy-
Syuura, 42: 30)

َ‫ض الَّذِي ع َِملُوا لَ َعلَّ ُه ْم يَ ْر ِجعُون‬ ِ َّ‫سبَتْ أ َ ْيدِي الن‬


َ ‫اس ِليُذِيقَ ُهم بَ ْع‬ َ َ‫َظه ََر ا ْلف‬
َ ‫سا ُد فِي ا ْل َب ِر َوا ْلبَحْ ِر بِ َما َك‬

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merusakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (kejalan yang benar).” (Q.S. ar-Rum, 30: 41)

َ ‫ان ِإ ََّّل َما‬


‫س َعى‬ ِ ‫س‬َ ‫ْلن‬ َ ‫َوأَن لَّي‬
ِ ْ ‫ْس ِل‬

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(Q.S. an-Najm, 53: 39)

Keterangan di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan kebebasnya kepada manusia untuk
menggunakan potensi-potensi yang telah diberikan Allah kepada manusia. Dengan demikian
perbuatan manusia adalah hasil dari kehendak dan kemampuan manusia sendiri, yaitu kehendak
dan kemampuan yang telah diberikan Allah kepada manusia. ,
Dengan potensi dan kemampuan diatas, manusia dibebani taklif, yaitu untuk berbuat baik dan
meninggalkan yang buruk; menunaikan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-
larangan.
Sebagai konsekwensinya, manusia diminta untuk memperianggungjawabkan atas segala
penggunaan potensi-potensi dan kemampuan yang telah diberikan Allah padanya untuk
melakukan kebaikan atau keburukan. Jika ia menggunakan potensi-potensi dan kemampuan itu
untuk kebaikan, maka Allah akan membalas dengan kebaikan danjika ia menggunakannya untuk
melakukan keburukan, maka Allah akan membalas dengan keburukan pula. Demikian itulah
keadilan Allah kepada hamba Nya.

81
Akhimya dapat diketahui bahwa dengan dibekali potensi-potensi, kemampuan dan akal; diberi
petunjuk tentang kebaikan dan kejahatan (dengan diutusnya rasul dan diturunkannya kitab suci);
dibebani kewajiban dan dimintai tanggung-jawab, maka manusia diberi kebebasan
berkehendak/ikhtiar untuk menentukan apa yang dikerjakan sebatas kemampuan yang telah
diberikan oleh Allah. Dengan demi-ldan manusia bukanlah makhluk yang terpaksa.
Namun demikian kehendak dan kemampuan manusia bukanlah kehendak dan kemampuan yang
bebas tanpa batas. Melainkan semua itu dibatasi oleh sunnatullah, yaitu ketetapan Allah yang
telah diberikan Allah kepada makhluk Nya.

Peran Ganda Manusia:

Sebagai Hamba dan Khalifah

Allah menciptakan manusia tidak sekadar untuk permainan, tetapi untuk melaksanakan tugas
yang berat (Q.S. al-Mu’minun, 23: 115)

Menunaikan amanah yang manusia memang telah bersedia untuk menerimanya (Q.S. al-Ahzab,
33: 72),

Yaitu melaksanakan fungsinya sebagai khalifah dimuka bumi dan misinya untuk menciptakan
kemakmuran di muka bumi. Fungsi sebagi khalifah ditunjukkan oleh ayat:

ُ ‫س ِب ُح ِبح َْم ِدكَ َونُقَد‬


‫ِس‬ َ ُ‫الد َماء َونَحْ نُ ن‬
ِ ُ‫س ِفك‬ ِ ‫ض َخ ِليفَةا َقالُواْ أَتَجْ َع ُل ِفيهَا َمن يُ ْف‬
ْ ‫س ُد ِفيهَا َو َي‬ ِ ‫َو ِإ ْذ قَا َل َر ُّبكَ ِل ْل َملَ ِئ َك ِة ِإ ِني جَا ِع ٌل ِفي اْل َ ْر‬
َ
‫لَكَ قا َل‬
َ‫ِإ ِني أ َ ْعلَ ُم َما َّلَ ت َ ْعلَ ُمون‬

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.” (Q.S. al-Baqarah, 2: 30)

‫ور‬ ِ ‫س ِري ُع ا ْل ِعقَا‬


ٌ ُ‫ب َوإِنَّهُ لَغَف‬ َ َ‫ت ِليَ ْبلُ َو ُك ْم فِي َما آتَا ُك ْم إِنَّ َربَّك‬
ٍ ‫ض د ََرجَا‬ َ ‫ض ُك ْم فَ ْو‬
ٍ ‫ق بَ ْع‬ ِ ‫ف اْل َ ْر‬
َ ‫ض َو َرفَ َع بَ ْع‬ َ ِ‫َوه َُو الَّذِي َج َعلَ ُك ْم َخلَئ‬
‫َّر ِحي ٌم‬

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa (khalifah) di bumi dan Dia
meninggikan sebagian kamu atas sehagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu
tentang apa yang diberikan Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksanya dan
sesungguhnya Dia M aha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-An’am, 6: 165)

Misi manusia adalah membuat kemakmuran di muka bumi dengan jalan menegakkan sebuah tata
sosial yang bermoral untuk terwujudnya masyarakat yang beradab, adil dan makmur untuk
menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini bisa ditelusuri dalam firman Allah:

َ‫س ْلنَاكَ إِ ََّّل َرحْ َمةا ِل ْلعَالَ ِمين‬


َ ‫َو َما أ َ ْر‬

82
“Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”
(Q.S. al-Anbiya’, 21: 107)

Di samping kewajiban untuk menunaikan amanah sebagai khalifah, maka kewajiban yang lain
yang langsung kepada Allah adalah “Ibadah”. Allah bahkan telah menegaskan bahwa manusia
diciptakan memang untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah sebagai berikut:

ِ ‫نس إِ ََّّل ِليَ ْعبُد‬


‫ُون‬ ِ ْ ‫َو َما َخلَ ْقتُ ا ْل ِجنَّ َو‬
َ ‫اإل‬

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah KU.” (Q.S.
adz-Dzariyat, 51: 56)

Oleh karena itu manusia hams mengabdikan diri sepenuhnya untuk menghambakan diri semata-
mata karena Allah.
َ ْ
َ‫ب العَال ِّمين‬
ِّ ‫اي َو َم َماتِّي ِّلِلِّ َر‬ َ
ُ ُ‫صالتِّي َون‬
َ َ‫س ِّكي َو َمحْ ي‬ ُ
َ ‫ق ْل إِّ َّن‬

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk


Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. al-An’am, 6: 162)

Maka demikianlah yang disebut bahwa seluruh aktivitas manusia sesungguhnya mempunyai nilai
ibadah apabila dilakukan dalam rangka penunaian amanah sebagai khalifah untuk menuju
tercapainya nilai-nilai Islam yang rahmatan lil’alamin dan mengorientasikan segala laku
perbuatannya dipersembahkan hanya kepada Allah Ta’ala saja.

Semoga bermanfaat,

Salam ilmu pengetahuan

Kelana Delapan Penjuru Angin,

83