Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

Radiokimia

“Penggabungan Inti”

Oleh :
Kelompok 3:

Dewi Julianti (1201473/2012)


Widya Astuti (1201474/2012)
Delvia Maulana (1201475/2012)
Rini Fath Marsya (1201476/2012)
Desri Liana putri (1201478/2012)
Hat Novita Sari (1201479/2012)

Dosen Pendamping :
Yerimadesi, S.Pd, M.Si.

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG

2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala limpahan
rahmat, hidayah, kesehatan , rezeki, kesabaran, ketekunan sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penggabungan Inti (Fusi)”.
Makalah ini penulis tujukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Radiokimia.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dosen pembimbing yang telah


memberikan arahan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini. Tidak lupa penulis menyampaikan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Apabila dalam makalah ini masih dijumpai kekurangan dan kesalahan


baik dalam isi maupun penulisannya karena kesempurnaan hanyalah milik
Allah SWT. Maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang positif dari
semua pihak demi perbaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan


pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga
tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

Padang, 23 April 2015

Penulis
BAB 2 PEMBAHASAN

A. Inti(Fusi)

Dua buah atau lebih inti ringan dapat bergabung membentuk sebuah inti
yang lebih berat. Dalam reaksi inti ini, massa inti baru lebih kecil dari pada
massa inti-inti pembentuknya. Selisih massa muncul sebagai energi. Reaksi
inti seperti ini disebut reaksi penggabungan inti atau reaksi fusi. Inti-inti
yang kecil mempunyai energi ikat per nuklein rata-rata (Eb rata-rata) lebih
kecil sehingga kurang stabil. Makin besar inti makin besar Eb rata-ratanya.
Oleh sebab itu dua inti dapat bergabung menjadi satu inti lebih besar
melalui reaksi penggabungan (Fusi).

A. Syarat Terjadinya Reaksi Fusi


1. Kedua energi harus diberi energi yang cukup agar dapat bergabung
melawan gaya tolak menolak. Keduanya yang bermuatan positif.

Jika dua inti H didekatkan maka gaya tolak Coulomb antara proton-
proton dalam inti H menghalangi penggabungan ini. Untuk mengatasi gaya
tolak Coulomb maka inti H harus digerakkan dengan kelajuan sangat
tinggi. Kelajuan sangat tinggi memerlukan energi kinetic sangat tinggi dan
energi sangat tinggi berarti suhu yang sangat tinggi (sesuai dengan
persamaan energi kinetic partikel EK = 3/2 kT)

Untuk menggabungkan dua inti H diperlukan suhu ribuan jutaan


Kelvin. Tentu saja sangat sukar untuk membayangkan keadaan dengan
suhu setinggi ini dapat diciptakan. Akan tetapi, keadaan suhu tinggi ini
hadir pada bagian dalam matahari dan bintang-bintang yang menghasilkan
energinya melalui reaksi-reaksi fusi. Dengan demikian reaksi fusi telah
mendukung seluruh kehidupan di bumi.

Banyak ilmuwan dan insinyur berupaya mengembangkan reaksi fusi


untuk pembangkitan energi listrik; mereka menghadapi tantangan dan
berpacu dengan waktu untuk meniru keadaan-keadaan yang terjadi dalam
matahari pada suatu skala yang jauh lebih kecil. Karena reaksi fusi
membutuhkan suhu yang sangat tinggi supaya dapat berlangsung, reaksi
fusi sering disebut Reaksi Termonuklir.

2. Inti harus dalam bentuk inti bebas dan tanpa e- kulit. Untuk itu diperlukan
juga energi yang besar untuk mengeksitasi (mengionkan) semua e-.
B. Proses Terjadinya Reaksi Fusi

Reaksi fusi dapat terjadi secara alami dan secara buatan. Reaksi fusi secara
alami dapat terjadi di matahari dan bintang. Sementara itu reaski fusi buatan
terjadi di dalam reactor. Namun hingga ssat ini reaksi fusi secara buatan masih
dalam proses penelitian (Syukri.2008).

1. Reaksi Fusi Alami

Reaksi fusi alami terjadi di matahari dan bintang-bintang lainnya. Di dalam


matahari terjadi penggabungan atom-atom hydrogen menjadi helium.

Matahari merupakan pusat dari peredaran


planet-planet dalam tata surya menurut teori
heliousentris yang dinyatakan oleh Capernicus
dan didukung oleh Galileo Galilei dan berlaku
sampai sekarang. Matahari merupakan bola
gas yang sangat besar dengan diameter 109
kali diameter bumi yang kita tempati ini,
sehingga perut matahari muat 1,3 juta bumi,
bayangkan alangkah besarnya matahari ini
jika dibandingkan dengan bumi.
Matahari berdiameter 1.390.000 km dan massanya sekitar 1,989 x 1030kg.
temperature di inti matahari sekitaf 15.000.000o Celsius. Sedangkan
dipermukaannya sekitar 6.000o Celsius. Suhu inti matahari yang jauh lebih panas
dari pada suhu dipermukaan matahari sempat menimbulkan pertanyaan yang
besar diantara para ahli astronomi gan astrofisika. Dan ternyata temperature
yang tinggi pada inti matahari ternyata dihasilkan dari reaksi fusi matahari yaitu
menggabungkan empat atom hidrogen menjadi satu atom helium. Reaksi fusi ini
berjalan terus menerus dengan mengubah 700 ton atom hidrogen menjadi 695
ton atom helium setiap detiknya,dan ada sekitar 4 juta ton massa yang hilang
menjadi energi, energi yang dihasilkan sekitar 3,86 x 10 33 watt.
Reaksi fusi yang terjadi di matahari memungkinkan terjadi karena sebagian
besar massa matahari terdiri atas gas hydrogen (80%) dan gas helium (19%).
Dimana reaksi yang terjadi adalah :

1. 11H  11 H  12H  01e    0,42 MeV


2. 12H  11H  23He    5,49 MeV

3. 23He  23He  24He  11H 12,86 MeV

Reaksi pertama dan kedua terjadi dua kali, kedua positron saling
menghilangkan dengan sebuah elektron dan menghasilkan radiasi elektromagnet
, reaksi di atas dapat ditulis:

412H  24He  2e   2  2  26,7MeV

Dengan adanya reaksi fusi yang terus menerus menyebabkan matahari


kehilangan massa sekitar 1,5768 x 1014 ton pertahunnya, bila usia matahari 4,5
milyart tahun maka ada sekitar 7,0956 x 10 23 ton yang telah lenyap menjadi
energy atau sekitar 0,036% dari massa total matahari. Matahari memiliki massa
yang sangat besar jika dibandingkan dengan bumi, sehingga gravitasi di
matahari jauh lebih besar jika dibandingkan dengan dibumi tempat kita ini
(berdasarkan hukum NEWTON gravitasi berbanding lurus dengan massanya).
Matahari mampu menarik benda dipermukaan 28 kali lebih kuat dari di bumi,
misalnya jika kita memiliki berat 50 Newton maka di permukaan matahari berat
kita akan menjadi 1.400 Newton. Karena besarnya gravitasi matahari maka
untuk melepaskan diri dari gravitasinya maka kita membutuhkan kecepatan
lepas sebesar 608,02 km/detik, padahal dibumi untuk lolos dari gravitasi bumi,
kita membutuhkan kecepatan lepas sebesar 11,2 km/detik.

Berdasarkan teori termonuklir, semakin tua matahari akan semakin miskin


pula persediaan hydrogen. Dengan demikian lambat laun matahari akan padam.
Sedangkan bahan bakar hydrogen sampai saat ini masih cukup dalam waktu 5
milyart tahun lagi (Wallaahua’lam).Jika seluruh atom hydrogen berubah
seluruhnya menjadi helium dan terjadi pembakaran helium dengan energy
radiasi yang dilepas jauh lebih besar dibandingkan hydrogen,tekanan radiasi
yang meningkat mengakibatkan matahari akan mengembang dan temperaturnya
akan menurun drastis sehingga cahaya yang dipancarkan berubah dari kuning
menjadi merah, temperature permukaan matahari yang telah berubah menjadi
sebuah bintang raksasa sekitar 3.500o Celsius, sementara itu terjadi kontraksi
gravitasi yang menarik teras helium. Proses kerutan gravitasi tersebut menambah
energy yang jauh lebih tinggi sehingga energy radiasi yang keluar semakinkuat,
karena massanya yang tidak cukup untuk meledak menjadi supernova dan
matahari terus mengembang (menjadi raksasa merah) yang besarnya akan
menelan merkurius dan venus. Bintang raksasa merah (red giant) merupakan
sebuah tahap yang harus dilalui oleh semua bintang di jagat raya dalam
evolusinya ini termasuk matahari ( http://kaisnet.wordpress.com ).

2. Reaksi Fusi Buatan

Reaksi fusi buatan terjadi di dalam reaktor yang sengaja dilakukan untuk
tujuan tertentu di dalam suatu reaktor. Di dalam reaktor ini dapat dibuat antara
dua isotop hidrogen, dengan dihasilkan energy. Energi ini bisa digunakan
sebagai bahan bakar masa depan yang murah karena bahan dasarnya bisa
diperoleh dari lautan yang bisa dianggap tak usah dibeli.

Salah satu contoh reaksi fusi buatan adalah pembuatan Bom Hidrogen yang
dinamakan juga sebagai bom termonuklir. Masalah teknis yang selalu ada dalam
perancangan reator fusi tidak mempengaruhi produksi Bom hydrogen. Bom
hydrogen tidak mengandung hydrogen, melainkan mengandug padatan Litium
Deuterida (LiD), yang dikemas sangat rapat (Chang.2003).

Peledakan bom hydrogen terjadi dalam dua tahap yaitu Bom hidrogen
bekerja melalui dua-tahap dimana bom fisi “primer” diledakkan menggunakan
metode ledakan konvensional, yang kemudian memicu reaksi bahan bakar fusi
“sekunder”. Reaksi bahan bakar bom hidrogen (reaksi fusi) hanya bisa terjadi
pada suhu yang amat tinggi. Untuk mencapai suhu tinggi yang diperlukan,
sebuah bom fisi diledakkan terlebih dahulu yang kemudian memicu reaksi fusi
berantai.

Sebagai hasil dari menggunakan reaksi fusi (bukan fisi), kekuatan bom
menjadi jauh lebih tinggi. Dalam bom fisi, sekitar 0,1% dari massa bahan bakar
akan diubah menjadi energi, sedangkan di bom fusi, persentase ini menjadi
0,3%. Prinsip bom hidrogen pertama kali diuji pada tanggal 9 Mei 1951 oleh
militer Amerika Serikat. Pada tes pertama ini didapat kesimpulan bahwa sebuah
bom fisi dapat digunakan sebagai batu loncatan untuk sesuatu yang lebih
merusak (bom fusi).

Reaksi yang terjadi adalah :


6 2 4
3𝐿𝑖 + 1𝐻 → 2 2𝛼
2 2 3 1
1𝐻 + 1𝐻 → 1𝐻 + 1𝐻

Gaya ledakan dari bom fusi ini terbatas pada reaktan yang ada. Bom
termonuklir digambarlan sebagai lebih bersih dibandingkan dengan bom atom,
sebab isotop radioaktif yang dihasilkan hanya tritium, yaitu pemancar partikel 
lemah (t1/2= 12,5 th) dan produk-produk starter fisi.

2. Siklus C – N

Proses daur karbon pertama kali diusulkan pada tahun 1938

oleh fisikawan Hans Bethe.Dominan atau tidaknya reaksi daur karbon

bergantung pada kelimpahan 12C dan temperatur. Reaksi tersebut

berlangsung sebagai berikut:


(1) 1H + 12C → 13
N+γ + 1,94 MeV

(2) 13N
→ C + e+ + νe
13
+ 1,51 MeV

(3) 1H + 13C → 14
N+γ + 7,55 MeV

(4) 1H + 14N → 15
O+γ + 7,29 MeV

(5) 15O
→ 15
N + e+ + νe + 1,76 MeV

(6) 1H + 15N → 12
C + 4He + 4,96 MeV

4 1H 4
He + 2 e+ + 2ѵ E = + 25,01 MeV

Dalam rangkaian reaksi ini, secara netto, empat proton diubah menjadi

satu partikel alfa, dua positron (yang segera musnah karena interaksi

dengan elektron dan menghasilkan energi dalam bentuk sinar gamma) dan

dua neutrino. Neutrino yang dihasilkan reaksi (2) membawa energi sekitar

0,71 MeV, sedangkan yang dihasilkan reaksi (5) membawa energi sekitar

1,00 MeV. Dari rangkaian reaksi di atas dapat dilihat bahwa inti karbon

hanya bertindak sebagai katalis dan pada akhir rangkaian dihasilkan kembali.

Inti-inti nitrogen dan oksigen memang terbentuk tetapi segera meluruh atau

bereaksi dengan proton yang ada. Rangkaian reaksi ini dominan pada suhu di

atas 15 juta Kelvin.


Pada suhu di atas 17 juta Kelvin, kadang-kadang reaksi (6) tidak

menghasilkan 12C dan 4He, tetapi malah 16O dan sebuah foton, dan terus

berlanjut dalam rangkaian reaksi sebagai berikut:

(6a) 1H + 15N → 16
O+γ + 12,13 MeV

(7a) 1H + 16O → 17
F +γ + 0,60 MeV

(8a) 17F
→ 17
O + e+ + νe + 0,80 MeV

(9a) 1H + 17O → 14
N + 4He + 1,19 MeV

Dari 2500 interaksi antara 1H dan 15N, hanya 1 reaksi (6a) yang terjadi.

Tidak seperti rangkaian reaksi pertama, di akhir rangkaian kedua 12C tidak

terbentuk kembali, tetapi menghasilkan 14N. Neutrino yang dilepaskan pada

reaksi (8a) membawa energi setidaknya 0,94 MeV. Seperti halnya inti

nitrogen dan oksigen pada rangkaian pertama, inti fluor pada rangkaian

kedua terbentuk tetapi segera meluruh. Rangkaian reaksi utama sering

disebut sebagai siklus C-N-I dan rangkaian reaksi kedua disebut sebagai

siklus C-N-II

Siklus C-N mempunyai barrier lebih besar dari siklus p-p, karena

muatan inti dan N lebih besar. Akibatnya siklus ini hanya terjadi pada

bintang yang lebih panas (besar), sedangkan siklus p-phanya pada bintang

yang lebih keil. Pada matahari rantai p-p lebih dominan dari siklus C–N,
karena matahari termasuk bintang yang keil. Sumber energy cahaya bintang

dan matahari adalah energy fusi.

Matahari memancarkan energy

= 3,8 x 1020 Mj tiap detik

= 4,2 x 106 ton massa tiap detik

Reaksi termonuklir di bumi yang mungkin adalah dengan 1H, 2D, dan 3T

Dalam air terdapat D dengan perbandingan:

D : H = 1 : 6000

T dapat dibuat dari rekasi:

7
Li(n,α)T

7
Li terdapat di alam ± 7,4%

Reaksi yang telah dilakukan:

H+H D + e- + v E = 1,40 MeV

4
H+D He E = 5,40 MeV

4
H+T He E = 19,83 MeV

D+D H+T E = 4,00 MeV

3
He + n E = 3,26 MeV

4
He E = 28,83 MeV

4
D+T He + n E = 17,8 MeV
4
T+T He + 2n E = 11,17

MeV

Reaksi D-D dan D-T sangat penting karena dapat terjadi pada suhu

relative rendah dibawah dari reaksi yang lain.

D-T pada 4 x 104 K

D-T pada 4,5 x 107 K

Reaksi termonuklir dapat dipakai untuk berbagai keperluan, seperti

reaksi nuklir. Tetapi sampai saat ini baru dapat untuk bom dan belum untuk

perdamaian. Hal ini karena energinya sangat besar dan suhunya juga sangat

besar. Kini belum dapat membuat reactor yang dapat menjinakan energi

yang besar itu.

Penelitian terhadap termonuklir adalah:

- Menciptakan suhu yang tinggi agar terjadi reaksi

- Mengontrol suhu (energi) yang dihasilkan yang jauh lebih besar lagi

- Mencari agar reaksi dapat terjadi pada suhu rendah yang disebut fusi

dingin
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa :


1. Reaksi fusi adalah reaksi penggabungan inti kecil menjadi inti yang lebih
besar dan stabil.
2. Syarat terjadinya reaksi fusi adalah energi yang dibutuhkan sangat
banyak dan inti bebas dari elektron.
3. Reaksi inti dapat terjadi dalam dua proses, yaitu secara alami dan buatan.

B. Saran

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari


kesempurnaan, oleh karena itu, diharapkan kepada pembaca mencari sumber
lain yang berkaitn dengan materi Penggabungan inti.
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond.2003. Kimi Dasar “Konsep-konsep inti” jilid 2, edisi


ketiga.Jakarta: Penerbit Erlangga.

S, Syukri. 2008. Radiokimia . Padang: Universitas Negeri Padang.

http://kaisnet.wordpress.com