Anda di halaman 1dari 23

Sustainable Development Goals (SDGs) Quality Education in Indonesia

17 MARET 2016Dikirimkan di SOSIALDitandai EDUCATION, EDUCATION INDONESIA, SDGS, SDGS


INDONESIA

Dari program yang disepakati di forum PBB maka SDGs memiliki 17 tujuan dan 165 sasaran
pembangunan berkelanjutan yang telah dideklasrasi oleh 193 anggota PBB pada siding umum ke-70.
Dari 17 tujuan maka salah satuanya tentang kualitas pendidikan yang bersifat pembangunan
berkelanjutan hingga 2030. Mengacu kepada program pembangunan nasional dalam agenda
Internasional yaitu pembangunan pada abad millennium yang diikuti oleh 189 negara, termasuk
bangsa Indonesia dan akan memasuki tahap akhir evaluasinya pada tahun 2015. Dalam MDGs lalu
mempunyai 8 program dengan masing-masing indikatornya.

Melihat perkembangan hasil pembangunan dibeberapa negara maka masih belum sesuai dengan
target maka Millenim Development Goals (MDGs), pun diganti dengan nama SDGs. Dalam era SDGs
atau tujuan pembangunan berkelanjutan yang telah dimulai saat negara-negara anggota PBB
termasuk Indonesia menyepakati outcome Document SDGs pada tanggal 2 agustus 2015. Periode
SDGs Tahun 2016-2030 merupakan program yang kegiatanya meneruskan agenda-agenda sekaligus
menindaklanjutin program yang belum selesai. Menjadi bahan sorotan tertinggi adalah sector
kesehatan yaitu sebaran balita kurang gizi di Indoesia, proporsi balita pendek, status gizi anak,
tingkat kematian ibu, pola konsumsi pangan pokok dan sebagainya.

Menjamin kualitas pendidikan inklusif dan adil dan mempromosikan kesempatan belajar seumur
hidup bagi semua. Sejak tahun 2000, telah ada kemajuan besar dalam pencapaian target pendidikan
dasar universal. Angka partisipasi total dalam daerah berkembang mencapai 91 persen pada tahun
2015, dan jumlah seluruh dunia dari anak-anak keluar dari sekolah telah menurun hampir setengah.
Ada juga telah terjadi peningkatan dramatis dalam tingkat melek huruf, dan lebih banyak anak
perempuan di sekolah daripada sebelumnya. Ini semua adalah keberhasilan yang luar biasa.
Kemajuan juga menghadapi tantangan berat di daerah berkembang karena tingkat kemiskinan yang
tinggi, konflik bersenjata dan keadaan darurat lainnya. Di Asia Barat dan Afrika Utara, konflik
bersenjata berlangsung telah melihat peningkatan proporsi anak-anak keluar dari sekolah. Ini adalah
tren yang mengkhawatirkan.
Sementara Afrika membuat kemajuan terbesar dalam pendaftaran sekolah dasar di antara semua
daerah berkembang – dari 52 persen pada tahun 1990, hingga 78 persen pada 2012 – kesenjangan
besar masih tetap. Anak-anak dari rumah tangga termiskin empat kali lebih mungkin untuk keluar
dari sekolah dibandingkan rumah tangga kaya. Kesenjangan antara daerah pedesaan dan perkotaan
juga tetap tinggi. Mencapai pendidikan inklusif dan berkualitas untuk semua menegaskan kembali
keyakinan bahwa pendidikan merupakan salah satu kendaraan yang paling kuat dan terbukti untuk
pembangunan berkelanjutan. Gol ini memastikan bahwa semua anak perempuan dan anak laki-laki
menyelesaikan sekolah dasar dan menengah gratis pada 2030. Hal ini juga bertujuan untuk
memberikan akses yang sama terhadap pelatihan kejuruan yang terjangkau, dan untuk
menghilangkan gender dan kekayaan kesenjangan dengan tujuan untuk mencapai akses universal
untuk pendidikan yang berkualitas tinggi. Pendidikan yang berkualitas merupakan salah satu dari 17
Sasaran Global yang membentuk 2.030 Agenda Pembangunan Berkelanjutan. Pendekatan terpadu
sangat penting untuk kemajuan seluruh beberapa tujuan.

Memperoleh pendidikan yang berkualitas adalah dasar untuk meningkatkan kehidupan masyarakat
dan pembangunan berkelanjutan. Kemajuan besar telah dibuat terhadap peningkatan akses
pendidikan di semua tingkatan dan meningkatkan angka partisipasi di sekolah terutama bagi
perempuan dan anak perempuan . Keterampilan keaksaraan dasar telah meningkat pesat , namun
upaya lebih berani dibutuhkan untuk membuat langkah yang lebih besar untuk mencapai tujuan
pendidikan universal . Misalnya , dunia telah mencapai kesetaraan dalam pendidikan dasar antara
anak perempuan dan anak laki-laki , namun beberapa negara telah mencapai target yang di semua
tingkat pendidikan .

A. Fakta Dan Angka Kualitas PendidikanAdapun yang termasuk dalam fakta dan angka Quality
Education yaitu :1. Pendaftaran di pendidikan dasar di negara-negara berkembang telah
mencapai 91 persen tapi 57 juta anak-anak tetap sekolah.2. Lebih dari separuh dari anak-anak
yang belum bersekolah hidup di sub – Sahara Afrika.3. Diperkirakan 50 persen dari out-of –
sekolah anak-anak usia sekolah dasar hidup di daerah yang terkena dampak konflik.4. 103 juta
pemuda di seluruh dunia tidak memiliki keterampilan keaksaraan dasar , dan lebih dari 60 persen
dari mereka adalah perempuan.

Tujuan Kualitas Pendidikan

Pada tahun 2030, memastikan bahwa semua anak perempuan dan anak laki-laki lengkap gratis, adil
dan kualitas primer dan pendidikan menengah yang mengarah ke hasil belajar yang efektif yang
relevan dan Goal-4 pada.
Pada tahun 2030, memastikan bahwa semua anak perempuan dan anak laki-laki memiliki akses ke
pengembangan anak usia dini yang berkualitas, peduli dan pra utama pendidikan sehingga mereka
siap untuk pendidikan dasar.

Tahun 2030, menjamin akses yang sama bagi semua perempuan dan laki-laki untuk pendidikan yang
terjangkau dan kualitas teknis, kejuruan dan pendidikan tinggi, termasuk perguruan tinggi.

Tahun 2030, secara substansial meningkatkan jumlah remaja dan orang dewasa yang memiliki
keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknis dan kejuruan, untuk pekerjaan, pekerjaan
yang layak dan kewirausahaan.

Tahun 2030, menghilangkan disparitas gender dalam pendidikan dan menjamin akses yang sama
untuk semua tingkat pendidikan dan pelatihan kejuruan untuk rentan, termasuk penyandang cacat,
masyarakat adat dan anak-anak dalam situasi rentan.

Tahun 2030 , memastikan bahwa semua pemuda dan sebagian besar orang dewasa, baik laki-laki
dan perempuan, mencapai membaca dan menghitung.

Tahun 2030, memastikan bahwa semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan
yang diperlukan untuk mempromosikan pembangunan berkelanjutan, termasuk antara lain, melalui
pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan, hak asasi
manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan non-kekerasan, kewarganegaraan global
dan apresiasi keanekaragaman budaya dan kontribusi budaya untuk Membangun pembangunan
berkelanjutan dan meningkatkan fasilitas pendidikan yang anak, penyandang cacat dan sensitif
gender dan memberikan aman , tanpa kekerasan, inklusif dan efektif lingkungan belajar untuk
semua.

Tahun 2020, secara substansial memperluas secara global jumlah beasiswa yang tersedia untuk
negara-negara berkembang, di negara-negara berkembang khususnya, pulau kecil yang sedang
bekembang dan negara-negara Afrika, untuk pendaftaran di pendidikan tinggi, termasuk pelatihan
kejuruan dan informasi dan teknologi komunikasi, teknis, teknik dan program ilmiah, di negara maju
dan negara berkembang lainnya.

Tahun 2030, secara substansial meningkatkan pasokan guru yang berkualitas, termasuk melalui
kerjasama internasional untuk pelatihan guru di negara-negara berkembang, terutama terbelakang
negara dan pulau berkembang kecil negara.

SDGs Quality Education di Indonesia


Tujuan pendidikan akan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan
dan sasaran pembangunan berkelanjutan hingga 2030 berdasarkan arahan dari Forum PBB.
Peningkatan pendidikan bagi masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan
sasaran lainnya dalam SDGs, terutama untuk menangkal peningkatan angka kemiskinan. Pendidikan
di Indonesia merupakan bagian dalam amanah konstitusional UU 1945. Untuk itu Pemerintah wajib
melaksanakan pendidikan dengan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pendidikan merupakan dasar untuk mencapai pertumbuhan yang berkualitas. Dalam pendidikan
memerlukan system pendidikan yang berkesinambungan, dari sector pemerataan akses pendidikan
bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Terlebih saat ini pendidikan di Indonesia semenjak
pemerintahan Jokowi-JK menerapkan birokrasi khusus dikementerian Pendidikan, yang mana system
pendidikan dasar hingga menengah dipisah dengan pendidikan perguruan tinggi. Saat ini telah
dilakukan keefektifan kerja sehingga berdampak kepada kualitas pendidikan.

Mekanisme system pendidikan di Indonesia justru menimbulkan kesenjangan dengan nilai-nilai


kreativitas. Berdasarkan realitas saat ini, menunjukkan orang Indonesia semakin berpendidikan
tinggi semakin independen. Banyak pengusaha di Indonesia berpendidikan rendah semakin berani
berusaha. Sebaliknya, semakin tinggi pendidikan ini semakin independen. Pendidikan bertumpu
kepada kreativitas kualitasnya semakin mudah untuk meningkatkan industrialisasi. Maka dari itu
nilai pendidikan dan kreativitas perlu ditanamkan pada setiap institusi pendidikan baik dasar
maupun perguruan tinggi. Sebab dengan Masyrakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini akan mendorong
industrialisasi yang semakin kompetetif. Berdasarkan sebuah studi di AS, 47 persen, pada tahun
2030 jenis pekerjaan yang ada hari ini akan hilang karena akan diganti oleh mesin. Maka akumulasi
pendapatan manusia tentu akan berubah.

Kelompok kecil maupun besar masyarakat kaya dengan pendidikan dan kreativitas tinggi akan
memiliki kesempatan yang lebih luas untuk sejahtera. Sementara kelompok masyarakat yang tidak
mendapat pendidikan dan tidak mendapat pendidikan yang berkualitas, terancam dengan berbagai
masalah social. Untuk melakukan perubahan social maka dibutuhkan pendidikan. Karena pendidikan
dapat menentukan social dalam bernegara, social dalam pembangunan dan social dalam
modernisasi.

Pemerintah Indonesia telah melaksanakan program pencapaian pendidikan dasar untuk semua,
pemerintah telah menyelenggarakan pendidikan dasar yang terjangkau dan berkualitas, yang
ditempuh antara lain melalui program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang dilaksanakan sejak
tahun 2005 dan cakupan pada tahun 2011 sebesar 42,1 juta orang. Namun, Dilihat dari dunia
pendidikan di Indonesia maka memiliki beberapa kendala yang berkaitan dengan mutu pendidikan
diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta
kualitas guru sendiri dinilai masih kurang. Terbatasnya akses pendidikan di Indonesia, terlebih lagi
didaerah berujung kemasalah meningkatnya arus urbanisasi untuk mendapatkan akses ilmu yang
lebih baik dari perkotaan. Keterbatasan akses pendidikan di daerah menjadi pusat arus urbanisasi,
yang menjadi problem saat ini yaitu di pusat negara anggap saja Jakarta jumlahnya sudah
proporsional, tapi diluar Jakarta khususnya luar jawa tidak mempunyai akses pendidikan. Secara
tidak sengaja, masyarakat Indonesia didorong untuk melakukan urbanisasi pendidikan karena
keterbatasa fasilitas di daerah. Didunia Internasional kualitas pendidikan di Indonesia berada
peringkat ke-64 dari 120 negara diseluruh dunia berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education
For All Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan
(Education Development Index, IDI) Indonesia berada pada peringkat ke-69 dari 127 negara pada
tahun 2011. Dalam laporan terbaru program pembangunan PBB tahun 2013, Indonesia menempati
posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan angka 0,629. Dengan
angka itu Indonesia tertinggal dari dua negara tetangga ASEAN yaitu Malaysia (peringkat 64) dan
Singapura (18), sedangkan IPM di kawasan Asia Pasifik berada 0,683.

Perspektif pembangunan social maka kualitas pendidikan SDGS di Indonesia menjamin pendidikan
berkualitas yang inklusif dan merata serta mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat
bagi manusia, diatur dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Dalam
Nawacita (Program Pemerintah Indonesia) maka masuk kedalam nawacita nomor 3 yaitu
membangun Indonesia dari penggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka
negara kesatuan, dan dalam RPJM termaktup dalam Bab 6.3 membangun Indonesia dari penggiran
dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan, meletakkan dasar-
dasar dimulainya desentralisasi asimetris, memeratakan pembangunan antar wilayah terutama
kawasan timur Indonesia dan menanggulangi kemiskinan.

Tahun 2016 merupakan titik awal untuk mencapai target pendidikan berkualitas yang dilaksanakan
oleh Kementerian Pendidikan Indonesia untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Kementerian
Pendidikan sebagai institusi berwenang tentang bidan pendidikan, melaksanakan program Pra-SD
atau PAUD bagi seluruh anak laki-laki dan perempuan dalam memperoleh akses terhadap
perkembangan, perawatan dan pendidikan pra-SD (PAUD) yang bermutu untuk menjamin kesiapan
memasuki pendidikan dasar. Sampai tahun 2016 tercatat 72,29 persen atau 58.174 desa diseluruh
Indonesia telah memiliki PAUD. Saat ini berdasarkan Dapodik PAUD 2016, jumlah PAUD diseluruh
Indonesia mencapai 190.225 sekolah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berupaya
mewujudkan SDGs dengan memulai memberika Dana Alokasi Khusus (DAK) BOP sevesar Rp. 600 ribu
pertahun untuk 190.225. bantuan ini diprioritaskan bagi peseta didik PAUD usia 4-6 tahun.

Untuk memastikan dilaksanakan SDGs dalam kerangka pembangunan Indonesia baik ditingkat
nasional maupun daerah maka diperlukan peran koalisi masyarakat sipil. Lembaga social tersebut
dapat mendesak pemerintah Indonesia untuk sesegara mungkin menyiapkan berbagai hal baik dari
sisi proses dan substansi. Pemerintah Indonesia harus pro-aktif dalam upaya pencapaian SDGs,
sebagai tindak lajut atas inisiatif proaktif Indonesia dalam proses penyiapan agenda SDGS dan
melaksanakan kesepakatan SGDs. Meskipun SDGs tidak bersifat mengikat secara hukum (legally
binding) namun SDGs merupakan hasil kesepakatan pimpinan negara yang mengikat secara moral
bagi tiap negara untuk bertanggung jawab dan berkewajiban memastikan tujuan dan target yang
ada di SDGs bisa dilaksanakan dan dicapai pada tahun 2030. Indonesia memerlukan persiapan yang
lebih matang terhadap upaya adopsi SDGs, terutama rencana aksi yang dibutuhkan terkait tujuan
prioritas dan strategis dalam RKP dan Pagu Indikatif 2016/2017, payung hukum yang diperlukan,
mobilisasi pembiayaan jangka menengah yang dibutuhkan, kelembagaan permanen yag
mencerminkan keterlibatan dari semua kepentingan (inklusif) serta kerangka kerja pengawasan yang
dibutuhkan termasuk perbaikan metode dan system pendataan.

Peran Pemerintah Daerah dalam Menyukseskan SDGs

Quality Education ialah salah satu program dari 17 program SDGs yang memiliki tujuan menjamin
pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata serta mempromosikan kesempatan belajar
sepanjang hayat bagi semua. Tujuan ini diperkuat dalam UU RI 20 tahun 2003 tentang system
pendidikan nasional, selanjutnya SDGs diformulasikan secara bersama pada tingkat global, dalam
beberapa aspek bisa saja disesuaikan dengan situasi dan kondisi Indonesia, baik di tingkat pusat
maupun daerah. Pencapaian tujuan SDGs sebagian besar berada di pundak pemerintah propinsi dan
kabupaten. Kabupaten dengan mantap mulai mengambil alih lebih banyak pengeluaran rutin
pemerintah. Jadi pemerintah daerah seharusnya dapat lebih berperan.

Penduduk sebuah desa bisa sepakat memilih apa saja dari tujuan SDGs yang menjadi prioritas
mereka, termasuk memantau dan mempercepat pencapaiannya. Misalnya ketika kekurangan gizi
menjadi persoalan yang dicemaskan, mungkin perlu memastikan bahwa puskesmas selalu
menimbang semua anak-anak. Siapa saja dapat menambahkan semua informasi yang dibutuhkan
untuk mencermati apakah angka kekurangan gizi meningkat atau menurun. Dan yang lebih penting,
bisa sepakat tentang apa yang harus dilakukan untuk menanggulanginya.

Misalnya, bagaimana anak-anak yang lambat pertumbuhannya, memperoleh makanan dan mungkin
dapat memberikan saran atau dukungan kepada para ibu. Apakah semua anak bersekolah? Hal ini
akan mudah diketahui dari buku pendaftaran di sekolah. Jika TBC menjadi masalah, mungkin anda
dapat mencoba untuk melakukan tes pada sebanyak mungkin orang dan kemudian memulai
pengobatan. Apakah perempuan meninggal karena persalinan? Bagaimana dengan pengawasan
tentang berapa banyak perempuan hamil yang mendatangi klinik-klinik pada masa prapersalinan.
Begitu juga apakah mereka telah memiliki persiapan untuk menghadapi keadaan darurat. Tidak
harus mencoba melakukan semuanya sekaligus. Dapat juga memulai dengan sejumlah prioritas,
kemudian melakukan aksi. Bagi SDGs, semangat lebih penting ketimbang rinciannya. Jika masing-
masing kabupaten atau komunitas mulai melakukan aksi, maka secepatnya akan terjadi perbaikan.
Tahun 2030 tinggal sepuluh tahun lagi, tetapi pemerintah bisa melakukan banyak hal dalam waktu
tersebut.

Pola Pembangunan Pemerintah Daerah

Arah Kebijakan Pokok Penanggulangan Kemiskinan di daerah dilaksanakan melalui program-program


pengurangan kemiskinan (pro-poor), perluasan lapangan kerja (pro-job) dan pertumbuhan ekonomi
(pro-growth) yang berorientasi pada pemerataan pendapatan antar kelompok masyarakat,
pengurangan beban pengeluaran penduduk miskin, pemenuhan kebutuhan dasar dan pemerataan
pembangunan antar wilayah.

Upaya penanggulangan kemiskinan telah dilakukan melalui berbagai strategi baik secara langsung
maupun tidak langsung. Secara langsung diwujudkan dalam bentuk pemberian bantuan dana
stimulan sebagai modal usaha kegiatan ekonomi produktif, bantuan sosial (antara lain melalui
program Bantuan Langsung Tunai, Beras Miskin, Sektoral Pusat/Daerah, program khusus, dll). Secara
tidak langsung melalui penyediaan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan sosial ekonomi,
Pemberdayaan masyarakat, Penguatan Kelembagaan dan Perlindungan sosial (antara lain melalui
program Bantuan Kepada Kabupaten/Kota, Sektoral Pusat/Daerah, dan program khusus lainnya).

Sedangkan upaya yang dilakukan dalam mengatasi kemiskinan di daerah ditempuh melalui :
Pengurangan pengeluaran, melalui :

Bidang Pendidikan, melalui Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Khusus Murid (BKM), dan
Bantuan Bea Siswa Keluarga Miskin.

Bidang Kesehatan dan Keluarga Berencana, melalui penanganan tindakan medis, operatif keluarga
miskin, penanggulangan gizi buruk dan gizi

Peningkatan Pendapatan, melalui :

Bidang Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, melalui pengembangan wirausaha, pengembangan


pendidikan dan pelatihan wirausaha serta pemberdayaan usaha skala mikro.

Bidang Sosial, melalui Bantuan Modal Usaha bagi Penduduk Miskin.

Bidang Ketenagakerjaan, melalui perluasan kesempatan kerja dan berusaha termasuk pengiriman
transmigrasn serta pelatihan ketrampilan tenaga kerja.

Bidang Perumahan dan Pemukiman diantaranya pemugaran rumah kumuh dan padat di perkotaan,
korban bencana alam dan penyediaan air bersih serta pembangunan sanitasi.

Sasaran penanganan kemiskinan di daerah dilaksanakan pada:

Prioritas utama : Penduduk Sangat Miskin

Prioritas kedua : Penduduk Miskin

Prioritas ketiga : Penduduk Hampir Miskin

Upaya penanggulangan kemiskinan dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan dengan
menggunakan berbagai sumber dana. Anggaran tersebut ada yang dilaksanakan melalui SKPD
maupun diberikan langsung kepada Kabupaten/Kota melalui Dana Bantuan kepada pemerintah
Kabupaten/Kota. Berdasarkan upaya penanganan yang telah dilaksanakan, terdapat penurunan
prosentase angka kemiskinan yang signifikan. Pemerintah Daerah (Propinsi) memberikan dukungan
sepenuhnya kepada Kabupaten/Kota sebagai daerah percontohan pelaksanaan SDG’s dengan
memberikan bantuan dana.

Bagi Pemerintah Daerah, kemiskinan merupakan issue strategis dan mendapatkan prioritas utama
untuk ditangani. Kemiskinan merupakan salah satu dari issue strategis yang mendapat prioritas
untuk penanganan pada setiap tahapan pelaksanaannya.
Terkait dengan target tujuan pembangunan yang harus tercapai pada tahun 2030, maka Pemerintah
Daerah masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai target tersebut, mengingat upaya
penanggulangan kemiskinan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan.

Peran Pemerintah Daerah

Tujuan Pembangunan yang ditargetkan untuk dapat dicapai pada tahun 2030 dapat dijadikan
sebagai salah satu pemacu dan semangat untuk dapat melakukan upaya yang lebih baik dalam
penanganan permasalahan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Kemiskinan
bukan hanya masalah daerah maupun Indonesia, tetapi juga merupakan masalah dunia. Dilihat dari
berbagai program dan kegiatan yang sudah dilaksanakan dan besarnya sumber dana yang telah
dikeluarkan, kemiskinan di daerah tetap masih menjadi permasalahan yang tidak mudah untuk
diatasi walaupun jumlah penduduk miskin sudah semakin berkurang. Hal tersebut terjadi antara lain
karena upaya penanggulangan kemiskinan merupakan upaya terpadu yang harus dilakukan oleh
semua pihak termasuk juga masyarakat miskin itu sendiri dengan komitmen yang kuat dari semua
unsur pimpinan baik pemerintah, organisasi masyarakat dan kelompok masyarakat.

Pemerintah Daerah ikut mendukung dan melaksanakan upaya penanggulangan kemiskinan.


Komitmen tersebut telah tertuang di dalam dokumen-dokumen perencanaan baik jangka panjang,
menengah maupun tahunan, dengan melaksanakan berbagai program dan kegiatan serta berbagai
sumber dana melalui strategi penanganan langsung maupun tidak langsung. Terkait dengan sosio-
kultur masyarakat, upaya penanggulangan kemiskinan tidak akan berhasil apabila tidak diimbangi
dengan program penyadaran masyarakat (public awareness), yaitu sebuah upaya untuk mengurangi
bahkan menghapuskan mental dan budaya miskin dengan jalan mengingatkan, meyakinkan dan
memberikan semangat kepada masyarakat agar berusaha untuk bangkit dari kemiskinan dengan
melakukan kerja keras dan membiasakan diri untuk malu menerima bantuan sebagai orang miskin.
Koordinasi diantara stakeholders maupun instansi pengampu masih perlu dioptimalkan, terutama
dalam hal penentuan target dan sasaran program kegiatan penanggulangan kemiskinan (termasuk
kelengkapan data maupun alokasi anggaran), secara berjenjang dari tingkat Provinsi sampai dengan
Kabupaten/Kota untuk menghindari terjadinya tumpang-tindih maupun terlewatnya sasaran
penanggulangan kemiskinan. Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan millenium (SDG’s) yang
harus dapat tercapai pada tahun 2025 pada umumnya dan juga untuk mencapai tujuan
pembangunan daerah pada khususnya, penanganan kemiskinan memerlukan kerja keras semua
pihak, komitmen dari pemerintah dan partisipasi dari masyarakat miskin itu sendiri. Pada dasarnya,
kemiskinan tidak akan dapat dihilangkan dari muka bumi, tetapi meskipun begitu, harus dilakukan
upaya agar masyarakat yang masuk dalam kriteria miskin dapat memperoleh hak-hak dasar
kebutuhan hidupnya. Untuk itu prioritas penanganan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan
sumberdaya yang ada, tanpa ketergantungan dari pihak lain agar penanganannya dapat dilakukan
dengan cepat dan tuntas. Agar program dan kegiatan penangulangan kemiskinan dapat benar-benar
memperoleh hasil seperti yang diinginkan perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi serta penilaian
atas pelaksanaannya, agar dapat diketahui program dan kegiatan apa saja yang perlu untuk
dilanjutkan bahkan diakselerasikan maupun untuk diketahui program dan kegiatan apa saja yang
tidak diperlukan lagi.

Dalam pelaksanaan tidak harus mencoba melakukan semuanya sekaligus. Dapat memulai dengan
sejumlah prioritas, kemudian melakukan aksi. Bagi SDGs, semangat lebih penting ketimbang
rinciannya. Jika masing-masing kabupaten atau komunitas mulai melakukan aksi, maka secepatnya
akan terjadi perbaikan. Tahun 2025 tinggal sepuluh tahun lagi, tetapi banyak hal yang bisa dilakukan
selama lima tahun ini.

Peranan kualitas pendidikan dalam SDGs terhadap perubahan sosial

Pendidikan menjadi instrumen kekuatan sosial masyarakat untuk mengembangkan suatu sistem
pembinaan anggota masyarakat yang relevan dengan tuntutan perubahan zaman. Abad globalisasi
telah menyajikan nilai-nilai baru, pengertian-pengertian baru serta perubahan-perubahan di seluruh
ruang lingkup kehidupan manusia yang waktu kedatangannya tidak bisa diduga-duga. Sehingga
dunia pendidikan merasa perlu untuk membekali diri dengan perangkat pembelajaran yang dapat
memproduk manusia zaman sesuai dengan atmosfir tuntutan global. Penguasaan teknologi
informasi, penyediaan SDM yang profesional, terampil dan berdaya guna bagi masyarakat,
kemahiran menerapkan Iptek, perwujudan tatanan sosial masyarakat yang terbuka, demokratis,
humanis serta progresif dalam menghadapi kemajuan jaman merupakan beberapa bekal mutlak
yang harus dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini yang ingin tetap bertahan menghadapi tata
masyarakat baru berwujud globalisasi ini.

Pendidikan merupakan laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang
ada kehidupan manusia di dunia ini. Dikatakan demikian karena pendidikan merupakan bagian dari
kebudayaan dan peradaban manusia yang terus berkembang. Hal ini sejalan dengan pembawaan
manusia yang memiliki potensi kreatif dan inovatif. Pendidikan sangat berperan dalam kehidupan.
Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Demikian pentingnya peranan pendidikan, maka dalam
UUD 1945 diamanatkan bahwa tiap-tiap warga negara berhak untuk mendapat pendidikan,
pengajaran dan pemerintah mengusahakan untuk menyelenggarakan suatu sistem pendidikan
nasional yang pelaksanaannya diatur dalam undang-undang.

Pendidikan sangat menentukan arah perkembangan suatu masyarakat. Dengan pendidikan dapat
merubah bangsa menjadi lebih baik. Konsep ini juga tertuang pada program PBB yang terselenggara
dari berbagai Negara, kualitas pendidikan menjadi permasalahan yang krusial di dalam setiap
Negara. Oleh karenanya PBB memberikan program yang bernama SDGs sebagai langkah lanjutan
dari program sebelumnya yakni MDGs. Efek jangka panjang MDGs telah selesai pada 2015 kemarin,
namun untuk Negara Indonesia dan beberapa Negara lainnya masih belum memperlihatkan hasil
yang signifikan.

Maka dari itu PBB melanjutkannya pada program berikutnya yaitu SDGs, yang menargetkan efek
jangka panjang hingga tahun 2030. Salah satu program dari SDGs yang akan memberikan dampak
perubahan sosial pada bangsa Indonesia ialah sektor kualitas pendidikan. Perubahan-perubahan
sosial tersebut antara lain:

Peran Penting Pendidikan

Ditinjau dari Segi Anak dan Orang Tua

Anak adalah makhluk yang sedang tumbuh. Pendidikan sangat penting bagi anak, sebab sejak bayi
belum dapat berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya, melainkan dipenuhi oleh orang tua.
Dengan kata lain, anak atau bayi manusia memerlukan bantuan, tuntunan, dan dorongan dari orang
lain untuk mempertahankan hidup dengan pembelajaran bertahap. Pendidikan karena dorongan
orang tua yaitu nati nurani mempunyai sifat kodrati untuk mendidik anaknya. Sehingga tanggung
jawab moral hadir terhadap orang tua. Melalui pendidikan, anak dapat memperoleh kepandaian,
keterampilan, serta pembentukan sikap dan tingkah laku sehingga lambat laun dapat berdiri sendiri.

Ditinjau dari Segi Pembangunan

Pendidikan sangat penting untuk pembangunan bangsa. Maka dari itu berbagai usaha dan kegiatan
dilaksanakan untuk pengelolaan, peningkatan supervisi, serta tata laksana pendidikan. Misalnya,
meningkatkan profesionalisme tenaga pengajar.

Peranan dan Fungsi Pendidikan

Fungsi Pendidikan dalam arti mikro ialah membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan
rohani peserta didik. Sedangkan secara makro fungsi pendidikan ialah pengembangan pribadi, warga
negara, kebudayaan, dan pengembangan bangsa. Pada dasarnya mendidik adalah tuntunan,
bantuan, pertolongan kepada peserta didik. Dalam pengertian memberi tuntunan telah tersimpul
suatu dasar pengakuan bahwa pihak yang diberi tuntunan memiliki daya atau potensi untuk
berkembang. Potensi ini secara berangsur-ansur tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang
yang diberi tuntunan.

Pendidikan selalu diarahkan untuk pengembangan nilai-nilai kehidupan manusia. Dalam


pengembangan nilai ini, tersirat pengertian manfaat yang ingin dicapai oleh manusia dalam
hidupnya. Oleh karena itu, apa yang ingin dikembangkan merupakan apa yang dapat dimanfaatkan
dari arah pengembangan itu sendiri.
Adapun mengenai fungsi dan peranan pendidikan dalam masyarakat menurut Wuradji (1988),
bahwa pendidikan sebagai lembaga konservatif mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut:

Fungsi sosialisasi.

Fungsi kontrol sosial.

Fungsi pelestarian budaya masyarakat.

Fungsi latihan dan pengembangan tenaga kerja.

Fungsi seleksi dan alokasi.

Fungsi pendidikan dan perubahan sosial.

Fungsi reproduksi budaya.

Fungsi difusi cultural.

Fungsi peningkatan sosial.

Fungsi modifikasi sosial (Wuradji, 1988, p. 31-42).

Adapun penjelasan dari fungsi-fungsi tersebut, yaitu:

Fungsi Sosialisasi

Pendidikan berperan penting dalam proses sosialisasi, yaitu proses membantu perkembangan
individu menjadi makhluk sosial, makhluk yang dapat beradapatasi dengan baik di masyarakat.
Fungsi Kontrol Sosial

Pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai dan loyalitas terhadap tatanan tradisional masyarakat
harus juga berfungsi sebagai lembaga pelayanan pendidikan untuk melakukan mekanisme kontrol
sosial. Durheim menjelaskan bahwa pendidikan moral dapat dipergunakan untuk menahan atau
mengurangi sifat-sifat egoisme pada anak-anak menjadi pribadi yang merupakan bagian masyarakat
yang integral di mana anak harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial. (Jeane H. Bellatine,
1983, p.8).

Fungsi Pelestarian Budaya Masyarakat

Pendidikan di samping mempunyai tugas untuk mempersatu budaya-budaya etnik yang beraneka
ragam juga harus melestarikan nilai-nilai budaya daerah yang masih layak dipertahankan seperti
bahasa daerah, kesenian daerah, budi pekerti, dan suatu upaya mendayagunakan sumber daya lokal
bagi kepentingan masyarakat.

Fungsi Seleksi, Latihan dan Pengembangan Tenaga Kerja

Dalam rangka menyiapkan tenaga kerja untuk suatu jabatan tertentu, maka di sana akan terjadi tiga
kegiatan yaitu kegiatan, latihan untuk suatu jabatan dan pengembangan tenaga kerja tertentu.
Proses seleksi ini terjadi di segala bidang baik ketika masuk sekolah maupun ketika ingin masuk pada
jabatan tertentu. Untuk masuk sekolah tertentu harus mengikuti ujian tertentu, untuk masuk suatu
jabatan tertentu harus mengikuti testing kecakapan tertentu. Melalui hal ini, perkembangan
pendidikan dapat diketahui.

Fungsi Pendidikan dan Perubahan Sosial


Pendidikan mempunyai fungsi untuk mengadakan perubahan sosial mempunyai fungsi:

Melakukan reproduksi budaya.

Difusi budaya.

Mengembangkan analisis kultural terhadap kelembagaan-kelembagaan tradisional.

Melakukan perubahan-perubahan atau modifikasi tingkat ekonomi sosial tradisional.

Melakukan perubahan-perubahan yang lebih mendasar terhadap institusi-institusi tradisional yang


telah ketinggalan. Pendidikan berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai
pusat penelitian dan pengembangan. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi.
Pada sekolah-sekolah yang lebih rendah, fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi.

Pengaruh Pendidikan terhadap Perkembangan Masyarakat

Secara garis besar berikut pengaruh atau fungsi pendidikan terhadap perkembangan masyarakat:

Mencerdaskan Kehidupan Masyarakat

Kecerdasan masyarakat umumnya dapat dikembangkan melalui berbagai program pendidikan di


sekolah. Membaca, menulis, dan berhitung serta pengetahuan umum, merupakan pengetahuan
dasar dalam upaya mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa, yang sudah sejak awal
diberikan di sekolah, meskipun memerlukan pengembangan lebih lanjut. Peran yang dimainkan oleh
lembaga persekolahan terutama jalur pendidikan sekolah dalam peningkatan intelegensi atau
kecerdasan anak didiknya, secara langsung dapat dipandang sebagai konstribusi lembaga pendidikan
sekolah dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat dan bangsa. Karena bagaimanapun akhirnya
anak didik setelah keluar dari lembaga pendidikan akan kembali sebagai warga masyarakat.
Membawa Bibit Pembaruan bagi Perkembangan Masyarakat

Dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat sangat diperlukan adanya pengetahuan baru,
teknologi baru, dan pemikiran-pemikiran inovatif yang bersifat fungsional. Apa yang menjadi
program pendidikan di persekolahan, di samping menjamin upaya peningkatan kecerdasan, juga
mengupayakan transformasidari pengetahuan, pemikiran, dan praktik-praktik baru, terutama yang
dianggap fungsional dan relevan. Materi atau program pendidikan yang demikian bias disebut
sebagai transformasi bibit-bibit pembaharuanyang pada akhirnya akan berfungsi dalam masyarakat.

Menciptakan Warga Masyarakat yang Siap dan Terbekali bagi Kepentingan Kerja di Lingkungan
Masyarakat

Anak didik pada akhirnya kembali menjadi warga masyarakat. Maka dari itu, mereka memerlukan
pekerjaan untuk menopang kehidupannya. Untuk terjun ke dunia kerja, seseorang dituntut kesiapan
tertentu, seperti skill dan sikap. Dengan berfungsinya lembaga pendidikan jalur pendidikan sekolah
dalam memberikan bekal-bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap yang relevan bagi dunia
kerja. Hal tersebut langsung membawa efek terhadap lapangan kerja di masyarakat. Berkenaan
dengan itu, wajar jika kualifikasi pendidikan dijadikan salah satu pertimbangan dalam system seleksi
pada lembaga-lembaga pemberi kerja di masyarakat.

Memunculkan Sifat-Sifat Positif dan Konstruktif bagi Masyarakat, Sehingga Tercipta Integrasi Sosial
yang Harmonis di Tengah-tengah Masyarakat

Sejak sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi, sifat-sifat positif dan konstruktif yang
diperlukan dalam hidup bernegara atau bermasyarakat senantiasa menjadi perhatian. Hal ini
berkaitan dengan falsafah hidup dari suatu bangsa atau masyarakat yang mendambakan
keharmonisan dan keutuhan (intergrasi) sosial dari kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peranan dan Fungsi Lembaga Pendidikan

Peranan dan Fungsi Pendidikan Keluarga

Dalam keluarga anak didik mulai mengenal hidupnya. Keluarga adalah lingkungan pendidikan
pertama yang sangat penting untuk membentuk pola kepribadian anak. Keluarga merupakan
lembaga pendidikan yang bersifat kodrati, karena orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai
terdidik terdapat hubungan darah. Maka dari itu kewenangannya pun bersifat kodrati pula.

Beberapa fungsi lembaga pendidikan keluarga, antara lain:

Pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak.

Menjamin kehidupan emosional anak.

Menanamkan pendidikan dasar moral.

Memberikan dasar pendidikan sosial.

Peletakan dasar-dasar keagamaan.

Peranan dan Fungsi Sekolah

Tujuan utama dari sistem kegiatan pendidikan yang berlangsung dalam institusi persekolahan adalah
mengembangkan dan membentuk potensi intelektual atau pikiran, menjadi cerdas. Secara
terprogram dalam koordinatif, materi pendidikan dipersiapkan untuk dilaksanakan secara metodis,
sistematis, intensif, efektif, dan efisien menurut ruang dan waktu yang telah ditentukan.

Sekolah berperan sebagai lembaga pendidikan yang membantu lingkungan keluarga. Maka dari itu,
sekolah bertugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan memperhalus tingkah laku anak
didik yang dibawa dari keluarganya. Sementara itu, dalam perkembangan kepribadian anak didik,
peranan sekolah dengan melaui kurikulum, antara lain:

Anak didik belajar bergaul dengan sesama anak didik, antara guru dengan ank didik, dan antara anak
didik dan orang yang bukan guru (karyawan).

Anak didik belajar menaati peraturan-peraturan sekolah.

Mempersiapkan anak didik menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa, dan
negara.

Peranan dan Fungsi Lembaga Masyarakat

Masyarakat adalah sekumpulan orang yang menempati suatu daerah. Masyarakat juga dapat
diartikan sebagai suatu bentuk tata kehidupan sosial dengan tata nilai dan tata budaya sendiri.
Dalam konteks pendidikan, masyarakat merupakan lingkungan ketiga setelah keluarga dan
sekolah.Yang dimaksud lembaga masyarakat adalah semua lembaga sosial baik tertutup (formal)
maupun terbuka (nonformal); bidang sosial-ekonomi, sosial-politik, sosial-edukasi, sosial-religius,
dan sebagainya.

Pendidikan ini diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah, tidak mengenal jenjang, dan bersifat
khusus. Dalam lembaga masyarakat, keterampilan kerja sangat ditekankan sebagai jawaban
terhadap kebutuhan meningkatkan taraf hidup. Dengan demikian, pengaruh pendidikan ini tampak
lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2001. Ilmu Pendidikan. Semarang: Rineka Cipta.

Chaudhury et al, 2005. Missing in Action: Teacher and Health Worker Absence in Developing
Countries, Harvard, John F. Kennedy School of Government.
Chowdhury,A and I. Sugema, 2005.“How Significant and Effective has Foreign Aid to Indonesia
been?”, Discussion Paper No. 0505, University of Adelaide Centre for International Economic
Studies.

Depdiknas, 2005b. Educational Indicators in Indonesia, 2004/2005. Jakarta, Ministry of National


Education.

Depkes, 2007. Every Year 30,000 Die by Measles, http://www.depkes.go.id/en/2102ev.htm, diakses


6 Maret 2007.

Dephut, 2007. Extent of Land Cover Inside and Outside Forest Area. Diunduh dari www.dephut.go.id.

Hasbullah. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers.

Ihsan, Fuad. Dasar-Dasar Kendidikan. Rineka Cipta.

Hoek-Smit, M. 2005. The Housing Finance Sector in Indonesia, Jakarta, World Bank.

Hooijer, A et al., 2006. PEAT-CO2, Assessment of CO2 Emissions from Drained Peat Lands in SE Asia.
Delft, Netherlands. Delft Hydraulics report Q3943

http://www.fao.org/DOCREP/005/y4249e/y4249e06.html

IYARS, 2002-2003. Indonesia Young Adult Reproductive Health Survey, Jakarta, BPS

ICBWA, Global bottled water statistics, http://www.icbwa.org/2000-2003_Zenith_and_Beverage_


Marketing_Stats.pdf. Diakses 23 Maret, 2007.

Jakarta Post, 2007. “Informal workers to get health access”, dalam Jakarta Post, 7 Maret.
Jakarta Post, 2006. “Inadequate measures allowing HIV/AIDS to worse: WHO”, dalam Jakarta Post.,
29 November.

Jakarta Post, 2006. “Sanitation Target Remains Out of Reach”, dalam Jakarta Post.

KPA 2006. Country Report on the Follow-up to the Declaration of Commitment on HIV/AIDS
(UNGASS), Reporting period 2004-2005.

KPA, 2006. Rencana Aksi Nasional untuk HIV/AIDS 2007-2010, Komisi Penanggulangan AIDS.

Labour and Social trends in Indonesia 2008: Progress and Pathways to Job-rich Development, 2008,
Jakarta.

Lancet 2006, “Strategies for reducing maternal mortality: getting on with what works” the Lancet.

MOE, 2005. State of the Environment in Indonesia, Jakarta, Ministry of Environment.

MOE, 2004. State of the Environment in Indonesia, Jakarta, Ministry of Environment.

PU, 2007. RUU Penataan Ruang Harus Pilah Secarah Jelas Kawasan Peruamahan. Pusat Komunikasi
Publik 150606. Departemen Pekerjaan Umum.

http://www.kimpraswil.go.id/index.asp?link=Humas/news2003/ppw150606gt.htmDiakses 17 Maret
2007

Suhartono, Suparman. 2006. Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Survey di Papua terhadap perwakilan populasi penduduk tentang HIV/AIDS, 2007


UNESCO/PAPPITEK LIPI, 2006. The Achievement of Gender Parities in Basic Education in Indonesia:
Challenges and Strategies towards Basic Education for All. Jakarta

UNESCO/LIPI, 2006. The Achievement of Gender Parities in Basic Education in Indonesia: Challenges
and Strategies towards Education for All. Jakarta, UNESCO and PAPPITEK LIPI.

UNICEF, 2007. Plus 5-Review of the 2002 Special Session on Children and World Fit for Children Plan
of Action, Indonesia. Jakarta, UNICEF

UNFPA, 2007. UNFPA Indonesia Website, http://indonesia.unfpa.org/mmr.htm diakses 3/1/2007.

UNDP (segera terbit). Indonesia: Debt Strategies to Meet the Millennium Development Goals,
Jakarta, UNDP.

UNAIDS/NAC 2006. A Review of Vulnerable Populations to HIV and AIDS in Indonesia. Jakarta ,
UNAIDS and National AIDS Commission

Usman, S. Akhmadi, and D Surydarma, 2004. When Teachers are Absent: Where do They Go and
What is the Impact on Students? Jakarta, SMERU.

Vanzetti, D. McGuire, D. and Prabowo, 2005. Trade Policy at the Crossroads: the Indonesian Story,
Geneva, UNCTAD.

World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.
Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.

World Bank, Making the New Indonesia Work for the Poor, 2006, Jakarta

World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.
Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.
World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.
Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.

World Bank, 2007. Spending for Development: Making the Most of Indonesia’s New Opportunities.
Indonesia Public Expenditure Review 2007, Jakarta, World Bank.

WHO, 2004. The Millennium Development Goals for Health: A review of the indicators, Jakarta,
World Health Organization.

World Bank, 2007. Strategic Options for Forest Assistance in Indonesia. Jakarta, World Bank.