Anda di halaman 1dari 8

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi

No. 67/12/72/Th.XX, 04 Desember 2017

BERITA
RESMI
STATISTIK PROVINSI SULAWESI TENGAH

Perkembangan
Indeks Harga Konsumen/
Inflasi
• Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 68 kota
mengalami inflasi sementara 14 kota lainnya mengalami

Bulan deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Singaraja sebesar 1,80


persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Bekasi
November sebesar 0,02 persen. Sementara deflasi tertinggi terjadi di
2017, Kota Kota Tual sebesar 2,74 persen dan terendah terjadi di Kota
Manokwari sebesar 0,02 persen.
PaluMengalami • Penurunan indeks harga terjadi pada kelompok bahan
Deflasi Sebesar makanan sebesar 1,06 persen, kelompok pendidikan,
0,14 Persen rekreasi dan olahraga sebesar 0,14 persen serta kelompok
transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,12 persen.
Sedangkan kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok
kesehatan (0,73 persen), makanan jadi, minuman, rokok
dan tembakau (0,16 persen), sandang (0,14 persen), serta
perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,10 persen).
• Laju inflasi tahun kalender sampai dengan November
2017 sebesar 2,41 persen, sedangkan inflasi year on year
(November 2017 terhadap November 2016) di Kota Palu
adalah sebesar 3,58 persen.

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi 1


Selama November 2017, Kota Palu mengalami deflasi sebesar 0,14 persen yang dipengaruhi
oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan sebesar 1,06 persen, kelompok
pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,14 persen serta kelompok transpor, komunikasi dan
jasa keuangan sebesar 0,12 persen. Sedangkan kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok
kesehatan (0,73 persen), makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,16 persen), sandang
(0,14 persen), serta perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,10 persen).
Pada bulan yang sama, inflasi year on year Kota Palu mencapai 3,58 persen. Kenaikan
indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, gas
dan bahan bakar sebesar 8,45 persen, sedangkan kelompok pengeluaran pendidikan, rekreasi
dan olahraga mengalami penurunan indeks sebesar 2,01 persen. Deflasi Kota Palu sebesar
0,14 persen berasal dari andil negatif kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 0,209
persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,023 persen serta kelompok
pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,009 persen. Sementara andil inflasi berasal dari
kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (0,035 persen), kelompok kesehatan
(0,029 persen), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (0,025 persen) serta
kelompok sandang (0,008 persen).

Tabel 1
Perkembangan Inflasi/Deflasi Kota Palu Menurut Kelompok Pengeluaran (2012=100)
November 2017

Indeks Harga Konsumen Laju


Inflasi Inflasi Inflasi
Andil
Kelompok Pengeluaran Nov Tahun Year on
Nov Des Okt Nov Inflasi
2017* Kalender Year ***
2016 2016 2017 2017 2017**

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

U m u m 125,65 127,09 130,33 130,15 -0,14 2,41 3,58 -0,144

1. Bahan Makanan 127,42 131,65 128,61 127,25 -1,06 -3,34 -0,13 -0,209

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan


140,34 140,68 144,30 144,53 0,16 2,74 2,99 0,035
Tembakau

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan


118,37 118,53 128,24 128,37 0,10 8,30 8,45 0,025
Bahan bakar

4. Sandang 109,34 109,56 111,80 111,96 0,14 2,19 2,40 0,008

5. Kesehatan 118,19 118,34 121,75 122,64 0,73 3,63 3,77 0,029

6. Pendidikan, Rekreasi, dan Olahraga 127,87 127,25 125,47 125,30 -0,14 -1,53 -2,01 -0,009

7. Transportasi, Komunikasi, dan Jasa


123,71 126,48 129,62 129,46 -0,12 2,36 4,65 -0,023
Keuangan

*) Perubahan IHK bulan November 2017 terhadap IHK bulan sebelumnya


**) Perubahan IHK bulan November 2017 terhadap IHK bulan Desember 2016
***) Perubahan IHK bulan November 2017 terhadap IHK bulan November 2016

2 Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi


Gambar 1
Inflasi/Deflasi Bulanan dan Andil Inflasi Kota Palu
November 2017

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain ikan selar (0,05
persen), tahu mentah (0,04 persen), jagung manis (0,02 persen), gado-gado (0,02 persen), semen
(0,02 persen), telur ayam ras (0,02 persen), tarif gunting rambut pria (0,01 persen), upah pembantu
rumah tangga (0,01 persen), ikan teri (0,01 persen) dan ikan mujair (0,01 persen).

Tabel 2
Andil Inflasi/Deflasi Sepuluh Komoditas Utama Kota Palu, November 2017

Inflasi Deflasi
Komoditas Komoditas
(%) (%)
(1) (2) (3) (4)

01. Ikan Selar 0,05 01. Tomat Buah 0,06

02. Tahu Mentah 0,04 02. Ikan Ekor Kuning 0,04

03. Jagung Manis 0,02 03. Ikan Kakap Merah 0,04

04. Gado-Gado 0,02 04. Kangkung 0,03

05. Semen 0,02 05. Ikan Cakalang 0,03

06. Telur Ayam Ras 0,02 06. Daging Ayam Ras 0,03

07. Tarif Gunting Rambut Pria 0,01 07. Tarif Angkutan Udara 0,02

08. Upah Pembantu Rumah Tangga 0,01 08. Cumi-Cumi 0,02

09. Ikan Teri 0,01 09. Jeruk Nipis 0,02

10. Ikan Mujair 0,01 10. Ayam Hidup 0,02

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi 3


Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain
tomat buah (0,06 persen), ikan ekor kuning (0,04 persen), ikan kakap merah (0,04 persen),
kangkung (0,03 persen), ikan cakalang (0,03 persen), daging ayam ras (0,03 persen), angkutan
udara (0,02 persen), cumi-cumi (0,02 persen), jeruk nipis (0,02 persen), ayam hidup (0,02 persen).

I. Perkembangan Inflasi/Deflasi Menurut Kelompok Pengeluaran


Selama November 2017, hasil pantauan terhadap perkembangan harga barang dan jasa
yang dikonsumsi oleh masyarakat Kota Palu dirinci menurut tujuh kelompok pengeluaran sebagai
berikut :

1. Bahan Makanan
Kelompok bahan makanan selama November 2017 mengalami penurunan indeks harga
sebesar 1,06 persen yakni dari 128,61 pada Oktober 2017 menjadi 127,25 pada November 2017.
Secara keseluruhan kelompok bahan makanan memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,209
persen. Penurunan indeks harga terjadi pada subkelompok buah-buahan (7,07 persen), bumbu-
bumbuan (2,97 persen), daging dan hasil-hasilnya (2,15 persen), sayur-sayuran (1,88 persen),
ikan segar (1,49 persen) serta padi-padian, umbi-umbian dan hasilnya (0,06 persen). Kenaikan
indeks harga terjadi pada subkelompok kacang-kacangan sebesar 4,70 persen, ikan diawetkan
sebesar 3,55 persen, telur, susu, dan hasil-hasilnya sebesar 0,96 persen, bahan makanan lainnya
sebesar 0,65 persen serta lemak dan minyak sebesar 0,11 persen.

2. Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau


Dibandingkan bulan sebelumnya, kelompok ini mengalami kenaikan indeks harga sebesar
0,16 persen dari 144,30 pada Oktober 2017 menjadi 144,53 pada November 2017. Andil kelompok
ini secara keseluruhan terhadap inflasi sebesar 0,035 persen. Kenaikan indeks harga terjadi
pada subkelompok tembakau dan minuman beralkohol sebesar 0,25 persen serta makanan jadi
sebesar 0,17 persen. Penurunan indeks harga terjadi pada subkelompok minuman yang tidak
beralkohol sebesar 0,04 persen.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar


Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami kenaikan indeks harga
sebesar 0,10 persen, yakni dari 128,24 pada Oktober 2017 menjadi 128,37 pada November
2017. Secara keseluruhan, kelompok ini memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,025 persen.
Selama November 2017, subkelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks harga yakni
penyelenggaraan rumah tangga sebesar 0,54 persen serta biaya tempat tinggal sebesar 0,11
persen. Subkelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks harga yaitu perlengkapan
rumah tangga sebesar 0,09 persen. Sementara subkelompok bahan bakar, penerangan dan air
relatif tidak mengalami perubahan.

4. Sandang
Kelompok sandang mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,14 persen, yakni dari
111,80 pada Oktober 2017 menjadi 111,96 pada November 2017. Secara keseluruhan, andil

4 Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi


kelompok sandang terhadap inflasi adalah sebesar 0,008 persen. Subkelompok pengeluaran
yang mengalami kenaikan indeks harga yakni barang pribadi dan sandang lain sebesar 0,61
persen. Sementara untuk subkelompok sandang laki-laki, sandang wanita dan sandang anak-
anak terpantau relatif stabil.

5. Kesehatan
Kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks harga sebesar 0,73 persen dari 121,75
pada Oktober 2017 menjadi 122,64 pada November 2017. Andil kelompok kesehatan terhadap
inflasi secara keseluruhan sebesar 0,029 persen. Subkelompok yang mengalami kenaikan
indeks harga selama November 2017 yakni subkelompok jasa perawatan jasmani sebesar 12,83
persen serta perawatan jasmani dan kosmetika sebesar 0,05 persen. Pada periode yang sama,
subkelompok jasa kesehatan dan obat-obatan relatif tidak mengalami perubahan.

6. Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga


Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami penurunan indeks harga sebesar
0,14 persen dari 125,47 pada Oktober 2017 menjadi 125,30 pada November 2017, sehingga andil
kelompok ini terhadap deflasi secara keseluruhan adalah sebesar 0,009 persen. Subkelompok
perlengkapan/peralatan pendidikan dan rekreasi mengalami penurunan indeks harga masing-
masing sebesar 0,66 persen dan 0,32 persen, sementara tiga subkelompok lainnya yaitu
pendidikan, kursus-kursus/pelatihan dan olahraga relatif stabil selama periode November 2017.

7. Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan


Kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan selama Oktober 2017 mengalami
penurunan indeks harga sebesar 0,12 persen dari 129,62 pada Oktober 2017 menjadi 129,46
pada November 2017, sehingga andil kelompok ini terhadap deflasi secara keseluruhan sebesar
0,023 persen. Untuk tiga subkelompok pengeluaran lainnya dalam kelompok ini yaitu komunikasi
dan pengiriman, sarana dan penunjang transpor serta jasa keuangan semuanya relatif tidak
mengalami perubahan indeks harga.

II. Perkembangan Inflasi/Deflasi Selama Tiga Tahun Terakhir


Dalam tiga tahun terakhir, Kota Palu pada periode November 2017 mengalami deflasi
sebesar 0,14 persen. Sedangkan periode November 2016 mengalami inflasi sebesar 0,49
persen, dimana angka ini lebih tinggi dari periode yang sama di tahun 2015 sebesar 0,47 persen.
Sementara laju inflasi tahun kalender hingga November 2017 sebesar 2,41 persen menjadi yang
tertinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2015 sebesar 2,16 persen dan tahun 2016
sebesar 0,34 persen. Inflasi year on year pada November 2017 sebesar 3,58 persen, lebih rendah
dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 sebesar 5,08 persen, namun masih lebih
tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar 2,31 persen.

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi 5


Gambar 2
Perkembangan Inflasi/Deflasi Bulanan Kota Palu
Tahun 2015 -2017

III. Perbandingan Inflasi/Deflasi Nasional dan Kawasan Sulampua


Dari 82 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 68 kota mengalami inflasi sementara 14
kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Singaraja sebesar 1,80 persen,
sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Bekasi sebesar 0,02 persen. Sementara deflasi tertinggi
terjadi di Kota Tual sebesar 2,74 persen dan terendah terjadi di Kota Manokwari sebesar 0,02
persen.
Gambar 3
Inflasi Kawasan Sulampua, November 2017

6 Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi


Tabel 3
Perbandingan Indeks Harga dan Tingkat Inflasi/Deflasi
Beberapa Kota di Kawasan Sulampua
November 2017

Kota IHK Inflasi (%) Laju Inflasi (%) YoY

[1] [2] [3] [4] [5]

1. Mamuju 129.51 0.45 3.18 4.19

2. Bau-Bau 131.76 0.41 2.24 2.84

3. Makassar 130.67 0.33 3.35 3.65

4. Merauke 132.49 0.27 0.28 0.52

5. Bulukumba 135.90 0.19 4.35 4.66

6. Gorontalo 126.08 0.17 3.53 4.02

7. Pare-Pare 124.89 0.16 2.29 2.83

8. Watampone 126.14 0.04 4.88 5.13

9. Palopo 127.49 0.02 3.00 3.27

10. Manokwari 124.20 -0.02 1.51 2.71

11. Jayapura 128.81 -0.09 0.12 1.88

12. Manado 128.06 -0.09 1.93 0.38

13. Palu 130.15 -0.14 2.41 3.58

14. Sorong 128.30 -0.19 1.15 1.61

15. Kendari 124.44 -0.34 2.27 2.40

16. Ambon 125.37 -0.59 -0.38 0.14

17. Ternate 131.15 -1.06 0.68 1.00

18. Tual 150.99 -2.74 7.75 9.58

Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi 7


Di tingkat nasional, beberapa kota yang mengalami inflasi selama November 2017 yakni
Singaraja (1,80 persen), Sibolga (1,11 persen), Meulaboh (0,88 persen), Jambi (0,83 persen),
Kupang (0,82 persen), Bima (0,81 persen), Lubuk Linggau (0,70 persen), Padang Sidimpuan (0,64
persen), Dumai (0,62 persen), Sumenep (0,57 persen), Tembilahan (0,51 persen) dan kota-kota
lainnya di bawah 0,50 persen. Sementara itu, beberapa kota yang mengalami deflasi yakni Tual
(2,74 persen), Ternate (1,06 persen), Ambon (0,59 persen), Singkawang (0,36 persen), Kendari
(0,34 persen), Pontianak (0,25 persen) dan kota-kota lainnya di bawah 0,25 persen.
Dari 18 kota di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua), selama bulan November
2017 tercatat 9 kota mengalami inflasi yakni Mamuju (0,45 persen), Bau-Bau (0,41 persen),
Makassar (0,33 persen), Merauke (0,27 persen) dan kota-kota lainnya di bawah 0,25 persen.
Sementara 9 kota lainnya tercatat mengalami deflasi, yakni Kota Tual (2,74 persen), Ternate (1,06
persen), Ambon (0,59 persen), Kendari (0,34 persen) dan kota-kota lainnya di bawah 0,25 persen.
.

Diterbitkan oleh:

Badan Pusat Statistik Konten Berita Resmi Statistik dilindungi oleh


Provinsi Sulawesi Tengah
Jl. Prof. Moh. Yamin no. 48, Palu 94114 Undang-Undang, hak cipta melekat pada
Badan Pusat Statistik. Dilarang mengumumkan,
Moh Wahyu Yulianto, S.Si., S.ST., M.Si. mendistribusikan, mengomunikasik, dan/atau
Kepala Bidang Statistik Distribusi menggandakan sebagian atau seluruh isi tulisan ini
Telepon: (62-451) 483610 untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan
E-mail: wahyu_meme@bps.go.id
Website: http://sulteng.bps.go.id Pusat Statistik.

8 Perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi