Anda di halaman 1dari 8

Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah

No. 69/12/72/Th.XX, 04 Desember 2017

BERITA
RESMI
STATISTIK PROVINSI SULAWESI TENGAH

Perkembangan
Nilai Tukar Petani
Sulawesi Tengah
• Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sulawesi Tengah selama
November 2017 sebesar 96,42 persen, naik 1,36 persen
dibandingkan NTP bulan lalu. Hal ini disebabkan kenaikan NTP
pada seluruh subsektor kecuali subsektor peternakan.
• Indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,20
persen sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) turun
2017, Nilai Tukar sebesar 0,16 persen.

Petani (NTP) • NTP tertinggi terjadi pada subsektor hortikultura sebesar


112,77 persen, sedangkan NTP terendah terjadi pada
Sebesar 96,42 subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 85,33 persen.

Persen • Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) sebesar


106,17 persen atau mengalami kenaikan sebesar 0,79 persen
dibandingkan Oktober 2017.
• Di tingkat nasional, NTP bulan November 2017 mengalami
kenaikan sebesar 0,28 persen, demikian pula dengan NTUP
bulan November 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,42
persen.
• Nilai Tukar Petani dan Nilai Tukar Usaha Petani di tingkat
nasional pada bulan November 2017 masing-masing sebesar
103,07 dan 111,72.

Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah 1


1. Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) yang berperan sebagai indikator untuk melihat tingkat kemampuan
atau daya beli petani di pedesaan, merupakan persentase yang diperoleh dari perbandingan
antara indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).
NTP menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian terhadap barang dan jasa
baik yang dikonsumsi oleh rumahtangga maupun untuk keperluan produksi pertanian. Sehingga,
semakin tinggi NTP secara relatif semakin kuat tingkat kemampuan atau daya beli petani.
Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) diperoleh dari perbandingan antara
indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), tanpa
memperhitungkan pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga. Dengan demikian, NTUP
diharapkan lebih mencerminkan kemampuan daya tukar hasil produksi rumahtangga petani
terhadap pengeluaran biaya selama proses produksi.

Tabel 1
Nilai Tukar Petani (NTP) Menurut Subsektor dan Perkembangannya,
Oktober - November 2017
Perubahan
Subsektor Oktober November
(%)
(1) (2) (3) (4)
1. Tanaman Pangan
a. Nilai Tukar Petani (NTPP) 90,10 90,33 0,25
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 118,75 118,82 0,06
- Padi 109,95 110,10 0,14
- Palawija 146,00 145,85 -0,11
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 131,79 131,54 -0,19
- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 134,03 133,64 -0,29
- Indeks BPPBM 123,97 124,21 0,19

2. Hortikultura
a. Nilai Tukar Petani (NTPH) 112,14 112,77 0,56
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 145,93 146,20 0,19
- Sayur-sayuran 141,75 140,82 -0,66
- Buah-buahan 149,59 150,85 0,85
- Tanaman Obat 124,78 124,89 0,09
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 130,13 129,64 -0,38
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 134,46 133,73 -0,54
- Indeks BPPBM 116,73 116,97 0,20

3. Tanaman Perkebunan Rakyat


a. Nilai Tukar Petani (NTPR) 82,47 85,33 3,48
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 106,60 110,12 3,30
- Tanaman Perkebunan Rakyat 106,60 110,12 3,30
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 129,26 129,04 -0,17
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 133,23 132,78 -0,34
- Indeks BPPBM 114,71 115,35 0,56

4. Peternakan
a. Nilai Tukar Petani (NTPT) 108,17 108,01 -0,14
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 130,85 130,85 0,00
- Ternak Besar 126,62 126,50 -0,10
- Ternak Kecil 134,68 133,41 -0,94
- Unggas 130,81 131,52 0,54
- Hasil Ternak 150,77 153,14 1,58
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 120,97 121,14 0,14
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 133,67 133,21 -0,35
- Indeks BPPBM 109,42 110,18 0,69

2 Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah


Perubahan
Subsektor Oktober November
(%)
(1) (2) (3) (4)
5. Perikanan
a. Nilai Tukar Petani (NTNP) 107,15 108,68 1,43
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 135,98 137,51 1,13
- Penangkapan 145,47 147,52 1,40
- Budidaya 110,55 110,72 0,16
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 126,90 126,53 -0,30
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 136,57 135,93 -0,47
- Indeks BPPBM 110,79 110,85 0,05

5. 1. Perikanan Tangkap
a. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 115,28 117,24 1,70
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 145,47 147,52 1,40
- Penangkapan 145,47 147,52 1,40
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 126,19 125,82 -0,29
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 136,64 136,01 -0,47
- Indeks BPPBM 109,51 109,57 0,06

5. 2. Perikanan Budidaya
a. Nilai Tukar Petani Budidaya Ikan (NTPi) 85,82 86,22 0,47
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 110,55 110,72 0,16
- Budidaya Air Tawar 111,38 111,29 -0,09
- Budidaya Air Laut 106,30 106,31 0,01
- Budidaya Air Payau 132,64 134,04 1,05
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 128,80 128,41 -0,31
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 136,36 135,73 -0,46
- Indeks BPPBM 114,21 114,26 0,05

NTP Gabungan
a. Nilai Tukar Petani (NTP) 95,13 96,42 1,36
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 122,00 123,46 1,20
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 128,25 128,05 -0,16
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 133,90 133,40 -0,37
- Indeks BPPBM 115,81 116,29 0,41

NTP Gabungan tanpa Perikanan


a. Nilai Tukar Petani (NTP) 94,32 95,60 1,35
b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 121,05 122,51 1,20
c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 128,34 128,15 -0,15
- Indeks Konsumsi Rumahtangga 133,72 133,23 -0,36
- Indeks BPPBM 116,16 116,66 0,43

BPPBM = Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal

Dari hasil pemantauan harga penjualan komoditas hasil pertanian di tingkat produsen,
biaya produksi, dan konsumsi rumahtangga terhadap barang/jasa di wilayah perdesaan selama
November 2017 menunjukkan bahwa NTP Provinsi Sulawesi Tengah naik sebesar 1,36 persen,
yakni dari 95,13 pada Oktober menjadi 96,42 pada November 2017. Hal ini disebabkan oleh
indeks harga yang diterima petani mengalami kenaikan sebesar 1,20 persen sementara indeks
harga yang dibayarkan petani turun sebesar 0,16 persen.

2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)


Selama November 2017, indeks harga yang diterima petani tercatat 123,46 atau naik
sebesar 1,20 persen dibandingkan bulan sebelumnya yaitu sebesar 122,00. Kenaikan ini
disebabkan oleh naiknya It pada seluruh subsektor kecuali subsektor peternakan. Kenaikan
indeks harga yang diterima petani tertinggi terjadi pada subsektor tanaman perkebunan rakyat
yaitu sebesar 3,30 persen diikuti subsektor perikanan sebesar 1,13 persen.

Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah 3


3. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)
Indeks harga yang dibayar petani dipengaruhi oleh komponen pengeluaran baik untuk
konsumsi rumahtangga maupun fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk
memproduksi hasil pertanian. Indeks harga yang dibayar petani selama November 2017
mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dibandingkan bulan lalu, yaitu dari 128,25 pada
Oktober 2017 menjadi 128,05 pada November 2017. Hal ini dipengaruhi oleh penurunan Ib di
seluruh subsector kecuali subsektor peternakan. Penurunan Ib terendah terjadi pada subsektor
hortikultura yaitu sebesar 0,38 persen.
Gambar 1
Perkembangan NTP dan Indeks Harga yang Diterima/Dibayar Petani
Januari – November 2017

140,000

120,000

100,000

80,000

60,000

40,000

20,000

,000

NTP It Ib

4. NTP Menurut Subsektor


a. Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)
NTP subsektor tanaman pangan selama bulan November 2017 mengalami kenaikan
sebesar 0,25 persen yakni dari 90,10 pada Oktober 2017 menjadi 90,33 pada November 2017.
Kenaikan NTPP disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,06
persen sedangkan indeks yang dibayar petani (Ib) tanaman pangan turun sebesar 0,19 persen.
Kenaikan It pada bulan November dipengaruhi oleh naiknya indeks harga pada subkelompok
padi sebesar 0,14 persen.
Penurunan Ib pada subsektor tanaman pangan sebesar 0,19 persen atau berubah dari
131,79 pada Oktober 2017 menjadi 131,54 pada November 2017. Hal ini disebabkan oleh
turunnya indeks harga yang dibayar petani untuk konsumsi rumahtangga sebesar 0,29 persen,
sedangkan indeks harga yang dibayar petani untuk biaya produksi mengalami kenaikan sebesar
0,19 persen.
b. Subsektor Hortikultura (NTPH)
Selama bulan November 2017 subsektor hortikultura mengalami kenaikan NTP sebesar
0,56 persen atau berubah dari 112,14 pada Oktober 2017 menjadi 112,77 pada November 2017.
Kenaikan NTPH disebabkan oleh naiknya It sebesar 0,19 persen sedangkan Ib mengalami
penurunan sebesar 0,38 persen.

4 Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah


Peningkatan indeks harga yang diterima petani dipengaruhi oleh meningkatnya indeks
harga pada subkelompok buah-buahan dan tanaman obat masing-masing sebesar 0,85 persen
dan 0,09 persen. Sementara penurunan Ib disebabkan oleh turunnya indeks konsumsi
rumahtangga sebesar 0,54 persen.
c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR)
Subsektor tanaman perkebunan rakyat merupakan subsektor yang mengalami kenaikan
NTP tertinggi selama November 2017, yaitu sebesar 3,48 persen. Nilai NTPR yang semula 82,47
pada bulan Oktober berubah menjadi 85,33 pada November 2017. Kenaikan ini disebabkan oleh
kenaikan It sebesar 3,30 persen atau berubah dari 106,60 pada Oktober menjadi 110,12 pada
November 2017. Sedangkan Ib mengalami penurunan sebesar 0,17 persen.
Indeks Harga yang dibayar petani (Ib) pada subsektor tanaman perkebunan rakyat yang
semula 129,26 pada bulan Oktober 2017 berubah menjadi 129,04 pada Bulan November 2017.
Penurunan ini disebabkan oleh turunnya indeks harga konsumsi rumahtangga sebesar 0,34
persen sedangkan indeks harga biaya produksi naik sebesar 0,56 persen.
d. Subsektor Peternakan (NTPT)
Subsektor peternakan pada bulan November menjadi satu-satunya subsektor yang
mengalami penurunan NTP yaitu sebesar 0,14 persen. Penurunan NTPT yakni dari 108,17 pada
Oktober menjadi 108,01 pada November 2017. Kondisi ini disebabkan oleh kenaikan Ib sebesar
0,14 persen sedangkan It pada bulan November tidak mengalami perubahan.
Indeks harga yang diterima (It) petani pada subsektor peternakan pada bulan November
2017 tercatat sebesar 130,85 sedangkan Ib tercatat sebesar 121,14 pada bulan November
2017. Kenaikan Ib sebesar 0,14 persen disebabkan oleh naiknya indeks harga biaya produksi sebesar
0,69 persen sedangkan indeks indeks harga konsumsi rumahtangga turun sebesar 0,35 persen.
e. Subsektor Perikanan (NTNP)
Nilai tukar subsektor perikanan mengalami kenaikan indeks sebesar 1,43 persen, yakni
dari 107,15 pada Oktober menjadi 107,68 pada November 2017. Kondisi ini disebabkan oleh
kenaikan indeks harga diterima petani (It) sebesar 1,13 persen sedangkan indeks harga yang
dibayarkan (Ib) pada bulan November mengalami penurunan sebesar 0,30 persen. Kenaikan It
disebabkan oleh naiknya indeks harga subkelompok perikanan tangkap dan budidaya masing-
masing sebesar 1,40 persen dan 0,16 persen.
Pada kelompok perikanan tangkap (NTN), terjadi kenaikan nilai tukar petani sebesar 1,70
persen yakni dari 115,28 pada Oktober menjadi 117,24 pada November 2017. Naiknya nilai
tukar pada subkelompok perikanan tangkap disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani
(It) mengalami kenaikan sebesar 1,40 persen sedangkan Ib mengalami penurunan sebesar 0,29
persen.
Pada kelompok perikanan budidaya (NTPi), terjadi kenaikan indeks nilai tukar sebesar 0,47
persen yakni dari 85,82 pada Oktober menjadi 86,22 pada November 2017. Hal ini dipengaruhi
oleh kenaikan It sebesar 0,16 persen sedangkan Ib mengalami penurunan sebesar 0,31 persen.
Kenaikan It disebabkan oleh naiknya indeks harga pada kelompok budidaya air laut dan
budidaya air payau masing-masing sebesar 0,01 persen dan 1,05 persen sedangkan budidaya
air tawar mengalami penurunan sebesar 0,09 persen.

Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah 5


Secara keseluruhan, Ib subsektor perikanan turun sebesar 0,30 persen yang berasal dari
turunnya indeks harga konsumsi rumahtangga sebesar 0,47 persen sedangkan indeks harga
biaya produksi naik sebesar 0,05 persen. Pada kelompok perikanan tangkap (NTN), terjadi
penurunan Ib sebesar 0,29 persen yang disebabkan oleh turunnya indeks harga konsumsi
rumahtangga sebesar 0,47 persen sedangkan indeks biaya produksi naik sebesar 0,06 persen.
Pada kelompok perikanan budidaya (NTPi), Ib turun sebesar 0,31 persen yang disebabkan
turunnya indeks harga konsumsi rumahtangga sebesar 0,46 persen sedangkan indeks harga
biaya produksi naik sebesar 0,05 persen.

5. Indeks Harga yang Dibayar Petani Menurut Kelompok Pengeluaran


Berdasarkan hasil pemantauan terhadap pengeluaran petani selama November 2017
dapat dirinci menurut indeks harga yang dibayar petani baik untuk keperluan rumahtangga
maupun keperluan proses produksi di sektor pertanian.

Tabel 2
Indeks Harga yang Dibayar Petani Menurut Kelompok Pengeluaran Oktober – November 2017

Perubahan
Subsektor Oktober November
(%)
(1) (2) (3) (4)
Konsumsi rumahtangga 133,90 133,40 -0,37
1.Bahan makanan 140,22 138,66 -1,11

2. Makanan jadi 136,62 136,74 0,09

3. Perumahan 131,45 132,12 0,51

4. Sandang 130,50 130,43 -0,05

5. Kesehatan 130,76 131,11 0,27

6. Pendidikan, rekreasi, dan olahraga 113,85 113,75 -0,09

7. Transportasi dan komunikasi 120,89 121,27 0,31

Biaya Produksi dan Penanaman Barang Modal (BPPBM) 115,81 116,29 0,41

1. Bibit 114,30 114,66 0,31

2. Obat-obatan dan pupuk 111,57 112,23 0,59

3. Sewa lahan, pajak, dan lainnya 111,96 112,13 0,16

4. Transportasi 126,59 127,32 0,58

5. Penambahan barang modal 114,96 115,17 0,19

6. Upah buruh tani 115,99 116,37 0,33

Indeks yang Dibayar Petani (Ib) 128,25 128,05 -0,16

Penurunan indeks harga yang dibayar petani untuk konsumsi rumahtangga sebesar
0,37 persen disebabkan menurunnya indeks harga pada tiga subkelompok pengeluaran yaitu
subkelompok bahan makanan sebesar 1,11 persen, subkelompok sandang sebesar 0,05 persen,
dan subkelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,09 persen. Sedangkan keempat
subkelompok lainnya mengalami kenaikan yaitu subkelompok makanan jadi 0,09 persen,
subkelompok perumahan sebesar 0,51 persen, subkelompok kesehatan sebesar 0,27 persen,
dan subkelompok transportasi dan komunikasi sebesar 0,31 persen.

6 Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah


Peningkatan indeks harga yang dibayar petani untuk biaya produksi sebesar 0,41
persen, disebabkan oleh peningkatan yang terjadi pada seluruh subkelompok meliputi
subkelompok bibit sebesar 0,31 persen, subkelompok obat-obatan dan pupuk sebesar 0,59
persen, subkelompok sewa lahan, pajak dan lainnya sebesar 0,16 persen, subkelompok
transportasi 0,58 persen, subkelompok penambahan barang modal sebesar 0,19 persen, dan
subkelompok upah buruh tani sebesar 0,33 persen.

6. Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP)


Dibandingkan bulan Oktober, Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) pada
bulan November 2017 mengalami kenaikan indeks sebesar 0,79 persen yaitu dari 105,34 menjadi
106,17 pada bulan November 2017. Namun demikian, relatif lebih tingginya NTUP
dibandingkan Nilai Tukar Petani (NTP) yang sebesar 96,42 merefleksikan bahwa tingkat
pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga petani, termasuk peternak dan nelayan, berperan
cukup signifikan dalam menurunkan besaran nilai tukar. Kenaikan NTUP dipengaruhi oleh
kenaikan yang terjadi pada seluruh subsektor.
Pada bulan yang sama, NTUP tanpa perikanan sebesar 105,02 atau lebih rendah dari NTUP
secara keseluruhan. Hal ini mengindikasikan bahwa sektor perikanan tetap memiliki daya ungkit
terhadap capaian nilai tukar usaha rumahtangga.
Tabel 3
Nilai Tukar Usaha Rumahtangga Pertanian (NTUP) Menurut Subsektor dan Perkembangannya
Oktober - November 2017
Perubahan
Subsektor Oktober November
(%)
(1) (2) (3) (4)
1. Tanaman Pangan 95,79 95,67 -0,13
2. Hortikultura 125,01 124,99 -0,02
3. Tanaman Perkebunan Rakyat 92,93 95,46 2,73
4. Peternakan 119,58 118,76 -0,68
5. Perikanan 122,74 124,06 1,07
a. Tangkap 132,84 134,63 1,35
b. Budidaya 96,79 96,90 0,11
NTUP 105,34 106,17 0,79
NTUP Tanpa Perikanan 104,22 105,02 0,77

7. Perbandingan Nilai Tukar Petani antar Provinsi se-Sulawesi


Pada bulan November 2017, kenaikan NTP pada subsektor tanaman pangan tertinggi terjadi
di provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 0,47 persen, sedangkan penurunan terendah di provinsi
Sulawesi Barat sebesar 0,13 persen. Pada subsektor hortikultura kenaikan indeks tertinggi
terjadi di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 2,03 persen, sedangkan penurunan terendah terjadi
di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 0,27 persen. Pada subsektor perkebunan seluruh provinsi
mengalami kenaikan nilai tukar kecuali Provinsi Sulawesi Tenggara yang mengalami penurunan
sebesar 1,36 persen. Pada subsektor peternakan kenaikan indeks tertinggi pada Provinsi
Sulawesi Barat sebesar 0,84 persen, sedangkan penurunan indeks terendah terjadi di Provinsi
Gorontalo sebesar 1,78 persen. Pada subsektor perikanan Provinsi Sulawesi Utara merupakan
satu-satunya provinsi yang mengalami penurunan nilai tukar yaitu sebesar 0,69 persen.

Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah 7


Apabila diamati pada Bulan November, terdapat dua provinsi di Pulau Sulawesi yang
mengalami penurunan NTP gabungan yaitu Provinsi Sulawesi Utara dan Provinsi Sulawesi Tenggara
masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,04 persen. Sedangkan provinsi yang mengalami kenaikan
NTP gabungan tertinggi adalah Provinsi Sulawesi Barat sebesar 1,75 persen diikuti Provinsi Sulawesi
Tengah sebesar 1,36 persen.

Tabel 4
Perbandingan Nilai Tukar Pertanian antar Provinsi se- Pulau Sulawesi Menurut Subsektor dan
Perkembangannya Oktober - November 2017

NTP
NTP Bulan Pangan Hortikultura Perkebunan Ternak Perikanan
Gabungan
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)
Oktober 92,20 95,75 88,90 102,40 106,60 94,27
Sulawesi Utara November 92,21 95,49 89,17 102,23 105,87 94,24
0,01 -0,27 0,30 -0,17 -0,69 -0,03
Oktober 90,10 112,14 82,47 108,17 107,15 95,13
Sulawesi
November 90,33 112,77 85,33 108,01 108,68 96,42
Tengah
0,25 0,56 3,48 -0,14 1,43 1,36
Oktober 97,53 107,96 93,12 108,82 103,80 100,76
Sulawesi
November 98,57 107,93 94,01 109,26 104,67 101,48
Selatan
1,07 -0,03 0,95 0,41 0,84 0,72
Oktober 89,59 90,62 90,75 105,29 113,96 95,26
Sulawesi
Agustus 91,22 91,05 89,52 104,35 116,09 95,22
Tenggara
1,81 0,47 -1,36 -0,89 1,87 -0,04
Oktober 112,02 110,58 101,56 101,80 99,86 106,23
Gorontalo November 111,97 112,26 103,70 99,99 100,87 106,50
-0,05 1,52 2,11 -1,78 1,01 0,26
Oktober 110,66 104,91 119,01 105,81 105,65 109,05
Sulawesi Barat November 110,52 107,04 122,78 106,70 106,14 110,96
-0,13 2,03 3,17 0,84 0,46 1,75

Diterbitkan oleh:

Badan Pusat Statistik Konten Berita Resmi Statistik dilindungi oleh


Provinsi Sulawesi Tengah
Jl. Prof. Moh. Yamin no.48 Palu 94114 Undang-Undang, hak cipta melekat pada
Badan Pusat Statistik. Dilarang mengumumkan,
Moh Wahyu Yulianto, S.Si SST, M.Si mendistribusikan, mengomunikasik, dan/atau
Kepala Bidang Statistik Distribusi menggandakan sebagian atau seluruh isi tulisan ini
Telepon: (62-451) 483610 untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan
E-mail: wahyu_meme@bps.go.id
Website : http://sulteng.bps.go.id Pusat Statistik.

8 Perkembangan Nilai Tukar Petani Sulawesi Tengah