Anda di halaman 1dari 28

TEORI QUANTUM LEARNING DAN PEMBELAJARAN YANG

MEMUDAHKAN DAN MENYENANGKAN

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teori dan Model-model
Pembelajaran

Dosen :
Prof. Dr. H. Johar Permana, M.A
Dr. Diding Nurdin, M.Pd

Oleh

Herni Junita (1605120)

Sitha Nirmala Handarini (1605333)

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Teori Quantum Learning dan Pembelajaran yang Memudahkan
dan Menyenangkan ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai teori dan model pembelajatan. Kami
juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan
jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan
usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Bandung, November 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................... ............................................................................ i

DAFTAR ISI .................................. ............................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............... ............................................................................ 1


B. Rumusan Masalah.......... ............................................................................ 2
C. Tujuan Penulisan Makalah ......................................................................... 2
D. Manfaat Penulisan Makalah ....................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN

A. Teori Quantum Learning ............................................................................ 3


1. Pengertian Quantum Learning............................................................. 7
2. Prinsip-prinsip Quantum Learning ...................................................... 8
3. Penerapan Quantum Learning dalam Pembelajaran ........................... 9
4. Kelebihan dan Kelemahan Quantum Learning ................................... 10
B. Model PAIKEM ............ ........................................................................... 14
1. Pengertian PAIKEM .. ........................................................................... 14
2. Ciri - Ciri PAIKEM ... ........................................................................... 17
3. Hal - Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM ..... 19
4. Prinsip – Prinsip PAIKEM .................................................................... 22
C. Implementasi PAIKEM . ........................................................................... 23
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .................... ............................................................................ 26


DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 27
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi
sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman. Belajar melibatkan proses
mental dan emosional atau proses berpikir dan merasakan dimana peserta
didik dikatakan belajar jika pikiran dan perasaannya aktif, oleh karena itu
belajar merupakan suatu hal yang paling vital dalam setiap usaha
penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, sehingga tanpa proses belajar
takkan pernah ada pendidikan.
Proses belajar itu terjadi secara internal dan bersifat pribadi dalam diri
peserta didik. Belajar dan pembelajaran berhubungan sangat erat karena
pembelajaran merupakan suatu proses yang digunakan dalam belajar. Belajar
dan pembelajaran juga terjadi secara bersama-sama dan beriringan.
Pembelajaran merupakan suatu aktifitas yang dengan sengaja untuk
memodifikasi berbagai kondisi yang diarahkan pada tercapainya suatu tujuan
yaitu tercapainya tujuan pendidikan.
Sebagai calon pendidik kelak yang tidak hanya difungsikan sebagai
tenaga pengajar tetapi juga sebagai orang tua kedua dilingkungan sekolah,
diharapkan dapat memahami kondisi kejiwaan dan memahami karakteristik
dari peserta didiknya. Serta mengetahui model pembelajaran yang dikuasai
olah peserta didiknya. Beberapa teori belajar yang biasa digunakan ialah teori
Quantun Learning dan Pembelajaran yang Memudahkan dan Menyenangkan.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis mengajukan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apa yang dimaksud dengan Quantum Learning ?
2. Apa yang dimaksud dengan Model PAIKEM ?
3. Bagaimana implementasi PAIKEM ?
C. TUJUAN MASALAH
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun dengan
tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan :
1. Quantum Learning
2. Model PAIKEM
3. Implementasi PAIKEM

D. MANFAAT PENULISAN MAKALAH


Makalah ini disusun dengan harapan memberikan kegunaan baik
secara teoritis maupun secara praktis. Secara teoritis makalah ini berguna
sebagai penengembangan konsep penelitian tindakan kelas. Secara praktis
makalah diharapkan bermanfaat bagi :

1. Penulis, sebagai wahana penembahan pengetahuan dan konsep keilmuan


khususnya tentang Quantum Learning dan Model PAIKEM.
2. Pembaca atau guru, sebagai media informasi tentang penerapan Quantum
Learning dan Model PAIKEM.
BAB II

PEMBAHASAN

A. TEORI QUANTUM LEARNING


1. Pengertian Quantum Learning
Model pembelajaran ini pertama diterapkan di Amerika serikat ,
berakar dari upaya Dr. George Lozanov seorang pendidik berkebangsaan
Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya “suggestology”
atau “suggestopedia“. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detil apapun memberikan
sugesti positif atau negatif (De Porter dan Hernacki, 2000, hlm. 14).
Dr. George Lozanov mengemukakan istilah “suggestology” adalah
“pemercepatan belajar” (accelerated learning) yang memungkinkan siswa
untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang
normal, dan dengan adanya “kegembiraan” di dalam proses pembelajaran.
Dengan kegembiraan dapat terbangun emosi positif, seseorang yang dapat
membangun emosi positif di dalam dirinya, tentulah ia akan dapat
menghadirkan suasana gembira. Quantum Learning merupakan terjemahan
dari bahasa asing yaitu quantum learning. “Quantum Learning adalah kiat,
petunjuk, strategi dan seluruh proses belajar yang dapat mempertajam
pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu proses yang
menyenangkan dan bermanfaat” (DePorter & Mike Hernacki, 2011).
Quantum Learning adalah menggabungkan kegiatan yang secara
seimbang antara bekerja dan bermain, dengan kecepatan yang mengesankan
dan dibarengi dengan kegiatan yang menggembirakan, serta efektif digunakan
oleh semua umur. Dengan demikian, Quantum Learning dapat dikatakan
sebagai model pembelajaran yang menekankan untuk memberikan manfaat
yang bermakna dan juga menekankan pada tingkat kesenangan dari peserta
didik atau siswa. Teori ini memberikan kesan yang menyenangkan dalam
proses pembelajaran.
Quantum Learning ialah pengajaran yang dapat mengubah suasana
belajar yang menyenangkan serta mengubah kemampuan dan bakat alamiah
siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi mereka sendiri dan bagi
orang lain. Quantum Learning merupakan orkestrasi bermacam-macam
interaksi yang dilakukan saat belajar atau suatu pembelajaran yang
mempunyai misi utama untuk mendesain suatu proses belajar yang
menyenangkan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa.
Interaksi-interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang
mempengaruhi kesuksesan siswa (Ahmad dan Joko, 2009).
Frederickson (dalam Lusi Sukmawati, 2011) menyebutkan empat
keadaan emosi positif antara lain : “joy (kegembiraan),interest (ketertarikan),
contentment (kepuasaan atau kelegaan), dan love (cinta atau kasih sayang)”.
Apabila siswa gembira di dalam proses pembelajarannya, maka siswa akan
memiliki emosi yng positif, dan apabila siswa telah memiliki emosi positif p-
ada setian proses pembelajarannya maka siswa akan lebih mudah menerima
materi pembelajaran yang diberikan oleh pendidik.
Metode Quantum Learning merupakan metode yang berusaha untuk
mengubah belajar yang berbeda dibandingkan dengan belajar pada umunya.
Quantum Learning berfokus pada proses belajar yang menyenangkan dan
berhasil. Quantum Learning menguraikan cara-cara baru yang memudahkan
proses belajar lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapain yang
terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan. Quantum Lerning berusaha
menggabungkan peningkatan multisensori dan multi kecerdasan dengan otak
yang pada akhirnya akan meningkatkan kemampuan siswa untuk berprestasi
(Deporter, 2002).

2. Prinsip-prinsip Quantum Learning


Hakikatnya quantum learning adalah untuk siswa. Guru harus mampu
menciptakan interaksi dan keaktifan siswa, sehingga kemampuan, bakat, dan
potensi siswa dapat berkembang. Pembelajaran kuantum bersandar pada
konsep menurut Bobbi DePorter (2011, hlm. 34) yakni “Bawalah Dunia
Mereka ke Dunia Kita, dan Antarkan Dunia Kita ke Dunia Mereka.” Prosedur
umum yang harus dilakukan oleh guru dalam proses Quantum Teaching antara
lain adalah proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan.
Adapun prinsip-prinsip pembelajaran kuantum (quantum
learning) menurut Bobbi DePorter (2010, hlm. 36-37) adalah sebagai berikut.
a. Ketahuilah bahwa segalanya berbicara
Dalam pembelajaran kuantum, segala sesuatu mulai lingkungan
pembelajaran sampai dengan bahasa tubuh pengajar, penataan ruang
sampai guru, mulai kertas yang dibagikan oleh pengajar sampai dengan
rancangan pembelajaran, semuanya mengirim pesan tentang pembelajaran.
b. Ketahuilah bahwa segalanya bertujuan
Semua yang terjadi dalam proses pengubahan energy menjadi cahaya
mempunyai tujuan.
c. Sadarilah bahwa pengalaman mendahului penamaan
Poses pembelajaran paling baik terjadi ketika pembelajar telah mengalami
informasi sebelum mereka memperoleh makna untuk apa yang mereka
pelajari.
d. Akuilah setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran
Pembelajaran atau belajar selalu mengandung risiko besar.
e. Sadarilah bahwa sesuatu yang layak dipelajari layak pula dirayakan
Segala sesuatu dipelajari sudah pasti layak pula dirayakan
keberhasilannya.
Dalam pembelajaran kuantum juga berlaku prinsip bahwa
pembelajaran lurus berdampak bagi terbentuknya keunggulan (Bobbi
DePorter, et al., 2006). Dengan kata lain pembelajaran perlu diartikan sebagai
pembentukan keunggulan. Oleh karena itu, keunggulan ini bahkan telah
dipandang sebagai jantung fondasi pembelajaran kuantum.
Selain membahas mengenai prinsip model pembelajaran
kuantum (quantum learning), Bobbi DePorter & Mike Hernacki (2011) juga
berpendapat mengenai 7 (tujuh) kunci keunggulan yang diyakini dalam
pembelajaran kuantum yaitu sebagai berikut.
a. Teraplah Hidup dalam Integritas
Dalam pembelajaran, bersikaplah apa adanya, tulus, dan menyeluruh yang
lahir ketika nilai-nilai dan perilaku kita menyatu.
b. Akuilah Kegagalan Dapat Membawa Kesuksesan
Dalam pembelajaran, kita harus mengerti dan mengakui bahwa kesalahan
atau kegagalan dapat memberikan informasi kepada kita yang diperlukan
untuk belajar lebih lanjut sehingga kita dapat berhasil.
c. Berbicaralah dengan Niat Baik
Dalam pembelajan, perlu dikembangkan keterampilan berbicara dalam arti
positif dan bertanggung jawab atas komunikasi yang jujur dan langsung.
d. Tegaskanlah Komitmen
Dalam pembelajaran, baik pengajar maupun pembelajar harus mengikuti
visi-misi tanpa ragu-ragu, tetap pada rel yang telah ditetapkan.
e. Jadilah Pemilik
Dalam pembelajaran harus ada tanggung jawab. Tanpa tanggung jawab
tidak mungkin terjadi pembelajaran yang bermakna dan bermutu.
f. Tetaplah Lentur
Dalam pembelajaran, pertahanan kemampuan untuk mengubah yang
sedang dilakukan untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Pembelajar
lebih-lebih , harus pandai-pandai membaca lingkungan dan suasana, dan
harus pandai-pandai mengubah lingkungan dan suasana bilamana
diperlukan.
g. Pertahankanlah Keseimbangan
Dalam pembelajaran, pertahanan jiwa, tubuh, emosi, dan semangat dalam
satu kesatuan dan kesejajaran agar proses dan hasil pembelajaran efektif
dan optimal.

3. Penerapan Quantum Learning dalam Pembelajaran


Langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui
konsep Quantum Learning menurut De Potter dan Hernacky (2000) adalah
“adanya kekuatan ambak, penataan lingkungan belajar, memupuk sikap juara,
bebaskan gaya belajarnya, membiasakan mencatat, membiasakan membaca,
jadikan anak lebih kreatif, dan melatih kekuatan memori anak”.
a. Kekuatan AMBAK
Ambak atau apa manfaat bagiku adalah motivasi yang didapat dari
pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan
(De Potter dan Hernacky, 2000). Motivasi sangat diperlukan dalam
belajar, karena dengan adanya motivasi maka keinginan siswa untuk
belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh
guru dengan memberi penjelasan tentang manfaat apasaja setelah
mempelajari suatu materi.
b. Penataan Lingkungan belajar
Dalam proses belajar dan mengajar diperlukan penaatn lingkungan
yang dapat membuat siswa merasa betah dan nyaman pada saat
belajar.Dengan penataan lingkungan yang tepat dapat mencegah siswa dari
rasa kebosanan.Penataan lingkungan terdiri dari dua jenis, yaitu
lingkungan mikro dan lingkungan makro.
Lingkungan mikro adalah tempat siswa melakukan proses belajar,
bekerja dan berkreasi. Lebih khusus lagi perhatian pada penataan meja,
kursi dan penataan yang teratur. Lingkungan makro adalah dunia
luas.Artinya siswa diminta untuk menciptakan kondisi ruang belajar di
masyarakat. Mereka diminta berinteraksi social dengan masyarakat yang
diminatinya sehingga kelak akan dapat aktif berperan serta di mayarakat.
Selain itu Bobbi De Porter (2000) menyatakan mengenai lingkungan
dalam konteks panggung belajar, lingkungan yaitu cara guru dalam menata
ruang kelas, pencahayaan, pengaturan meja dan kursi, tanaman, music dan
semua hal yang mendukung proses pembelajaran.
c. Memupuk sikap juara
Memupuk sikap juara sangat diperlukan untuk lebih memacu siswa
dalam belajar.Seorang guru hendaknya jangan segan-segan memberi
pujian kepada siswa yang telah berhasil dalam belajarnya.Tetapi jangan
pula mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan
memmupuk sikap juara ini siswa akan merasa lebih dihargai.
d. Bebaskan gaya belajarnya
Ada berbagai macam gaya belajar yang dimiliki oleh siswa. Yaitu;
visual, auditorial dan kinestetik. Dalam Quantum Learning guru
hendaknya memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan
jangan terpaku pada satu gaya belajar saja.
e. Membiasakan mencatat
Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktivitas kreasi ketika
siswa tidak hanya menerima, melainkan bias mengungkapkan kembali apa
yang diungkapkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan
sesuai dengan gaya belajar siswa itu sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan cara siswa membuat mind map (peta pikiran) atau menulis dan
menyusun.
f. Membiasakan membaca
Salah satu aktivitas yang paling penting adalah membaca. Karena
dengan membaca kan menambah pembendaharaan kata, pemahaman,
menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah. Seorang guru
hendaknya membiasakan siswa untuk membaca.
g. Jadikan anak lebih kreatif
Siswa yang kreatif adalah siswa yang ingin tahu, suka mencoba
dan sengang bermain. Dengan adanya sikap krestif yang baik siswa akan
mampu mengahsilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
h. Melatih kekuatan Memori anak
Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar, sehingga anak
perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik. Selain itu
menurut Bobbi De Porter (2000) langkah pembelajaran model quantum
dapat dikenal dengan sebutan “TANDUR. Yaitu: Tumbuhkan minta,
alami, namai, demonstrasikan, ulangi, dan rayakan”. Penjabaran konsep
TANDUR dalam kaitanya dengan belajar mengajar di sekolah sebagai
berikut (Miftahul A’la 2011):
1) Tumbuhkan: memikat siswa dengan menyertakan mereka dalam proses
pembelajaran dan memuaskan proses. Yakni apakah manfaat yang
akan diperoleh bagi guru dan muridnya. Cobalah untuk menumbuhkan
suasana yang sangat menyenangkan dan menggembirakan di hati 21
setiap siswa, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam
pikiran mereka kealam pikiran anda. buatlah siswa merasa bahwa
belajar adalah kebutuhan bukanlah tuntutan.
2) Alami: memberikan pengalaman belajar untuk menumbuhkan
“kebutuhan untuk mengetahui”.Yakni ciptakan dan datangkan
pengalaman umum yang dapat dimengerti semua pelajar. Jangan
sampai anda menggunakan istilah yang asing dan sulit untuk
dimengerti, karena ini akan mebuat siswa merasa bosan dalam belajar
3) Namai: berikan apa yang mereka inginkan, tepat saat minat mereka
memuncak. Untuk ini harus disediakan kata kunci, konsep, model,
rumus, strategi yang kemudian menjadi sebuah masukan bagi siswa.
Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada kompetensi dasar
tertentu, mereka kita ajak untuk menulis di kertas, memberikan nama
apa saja yang mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran,
tempat dan sebagainya.
4) Demonstrasikan: hal ini berarti memberikan kesempatan mereka untuk
mengaitkan pengalaman dengan data baru. Sediakan kesempatan bagi
mereka untuk menunjukan bahwa merka tahu. Setelah siswa
mengalami belajar akan sesuatu, beri mereka kesempatan untuk
mendemonstrasikan kemampuanya karena siswa akan mampu
mengingat 90% jika siswa itu mendengar melihat dan melakukan.
5) Ulangi: rekatkan keseluruhan materi pembelajaran,tunjukan kepada
para siswa tentang cara-cara mengulangi materi dan menegaskan “aku
22 tahu bahwa aku memang tahu ini”.pengulangan memperkuat
koneksi syaraf dan menumbuhkan rasa “aku tahu bahwa aku tahu ini!”.
Pengulangan sebaiknya di lakukan dengan konsep multi kecerdasan
yang dimilki oleh siswa. Misalkan jika tadi dicontohkan dengan belajar
bersepeda dan kemudian jatuh, maka setelah anda bisa
menyeimbangkan diri maka anda akan mampu menggunakanya.Anda
benar-benar menguasai apa yang anda lakukan.
6) Rayakan: perayaan akan menandakan kesan rampung, menghormati
usaha, ketekunan dan kesuksesan.pengakuan untuk penyelesaian
partisipasi, dan perolehan keterampilan dan ilmun pengetahuan.
Perayaan adalah ekspresi dari kelompok seseorang yang telah berhasil
mengerjakan suatu tugas atau kewajiban dengan baik.

4. Kelebihan dan Kelemahan Quantum Learning


Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing, De
Potter dan Hernaki, (2000) memeparkan kelebihan dan kekurangan dari
Quantung Learning, antara lain :
a. Kelebihan Quantum Learning
 Memberikan sikap positif terhadap cara pandang siswa.
 Siswa lebih termotivasi untuk belajar.
 Memperoleh keterampilan seumur hidup.
 Memiliki kepercayaan diri.
 Menjadi orang yang sukses.
b. Kekurangan Quantum Learning
 Memerlukan dan menuntut keahlian dan keterampilan guru lebih
khusus.
 Memerlukan proses perancangan dan persiapan pembelajaran yang
cukup matang dan terencana dengan cara yang lebih baik.
 Adanya keterbatasan sumber belajar, alat belajar, dan menuntut
situasi dan kondisi serta waktu yang lebih banyak.
Kekurangan yang ada haruslah dapat diatasi oleh pendidik dalam
menerepkan teori Quantum Learning. Pendidik yang baik haruslah kreatif
dalam menerapkannya, pendidik haruslah memiliki kemampuan yang
lebih baik dengan cara terus menerus memperbaiki keterampilannya
menjadi lebih baik.
B. PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenagkan)
1. Pengertian Model PAIKEM
PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,
Efektif, dan Menyenangkan. Dikatakan demikian karena pembelajaran yang
dirancang hendaknya dapat mengaktifkan peserta didik, mengembangkan
kreativitas yang pada akhirnya efektif, akan tetapi tetap menyenangkan.
(Depdiknas, 2007)

a. Pembelajaran Aktif

Pembelajaran aktif merupakan pendekatan pembelajaran yang lebih


banyak melibatkan aktivitas siswa dalam mengakses berbagai informasi dan
pengetahuan untuk dibahas dan dikaji dalam proses pembelajaran di kelas,
sehingga mereka mendapatkan berbagai pengalaman yang dapat
meningkatkan pemahaman dan kompetensinya.

Dalam pembelajaran aktif, guru lebih banyak memposisikan dirinya


sebagai fasilitator, yang bertugas memberikan kemudahan belajar (to facilitate
of learning) kepada siswa. Dalam kegiatan ini siswa terlibat secara aktif dan
berperan dalam proses pembelajaran, sedangkan guru lebih banyak
memberikan arahan dan bimbingan, serta mengatur sirkulasi dan jalannya
proses pembelajaran. (Rusman, 2010, hlm. 322).

b. Pembelajaran Inovatif

Pembelajaran inovatif juga merupakan strategi pembelajaran yang


mendorong aktivitas belajar. Maksud inovatif disini adalah dalam kegiatan
pembelajaran itu terjadi hal-hal yang baru, bukan saja oleh guru sebagai
fasilitator belajar, tetapi juga oleh siswa yang sedang belajar. Dalam strategi
pembelajaran yang inovatif ini, guru tidak saja tergantung dari materi
pembelajaran yang ada pada buku, tetapi dapat mengimplementasikan hal-hal
baru yang menurut guru sangat cocok dan relevan dengan masalah yang
sedang dipelajari siswa. Demikian pula siswa, melalui aktivitas belajar yang
dibangun melalui strategi ini, siswa dapat menemukan caranya sendiri untuk
memperdalam hal-hal yang sedang dia pelajari.

Pembelajaran yang inovatif bagi guru dapat digunakan untuk


menerapkan temuan-temuan terbaru dalam pembelajaran, terlebih lagi jika
temuan itu merupakan temuan guru yang pernah ditemukan dalam penelitian
tindakan kelas atau sejumlah pengalaman yang telah ditemukan selama
menjadi guru. Melalui pembelajaran yang inovatif ini, siswa bisa mengikuti
perkembangan teknologi yang ada sekarang ini. Dengan demikian
pembelajaran diwarnai oleh hal-hal baru sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. (Uno, 2012, hlm. 11).

c. Pembelajaran Kreatif

Pembelajaran kreatif merupakan proses pembelajaran yang


mengharuskan guru untuk dapat memotivasi dan memunculkan kreativitas
siswa selama pembelajaran berlangsung, dengan menggunakan beberapa
metode dan strategi yang bervariasi, misalnya kerja kelompok, bermain peran,
dan pemecahan masalah.

Pembelajaran kreatif menuntut guru untuk merangsang kreativitas


siswa, baik dalam mengembangkan kecakapan berpikir maupun dalam
melakukan suatu tindakan. Berpikir kreatif selalu dimulai dengan berpikir
kritis, yakni menemukan dan melahirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada
atau memperbaiki sesuatu. Berpikir kritis harus dikembangkan dalam proses
pembelajaran agar siswa terbiasa mengembangkan kreativitasnya. (Hartono,
2008, hlm. 12)

Siswa dikatakan kreatif apabila mampu melakukan sesuatu yang


menghasilkan sebuah kegiatan baru yang diperoleh dari hasil berpikir kreatif
dengan mewujudkannya dalam bentuk sebuah hasil karya baru. (Mulyasa,
2006, hlm 192)
d. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran dapat dikatakan efektif jika mampu memberikan


pengalaman baru kepada siswa membentuk kompetensi siswa, serta
mengantarkan mereka ke tujuan yang ingin dicapai secara optimal. Hal ini
dapat dicapai dengan melibatkan serta mendidik mereka dalam perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian pembelajaran. Seluruh siswa harus dilibatkan
secara penuh agar bergairah dalam pembelajaran, sehingga suasana
pembelajaran betul-betul kondusif dan terarah pada tujuan dan pembentukan
kompetensi siswa.

Pembelajaran efektif menuntut keterlibatan siswa secara aktif, karena


mereka merupakan pusat kegiatan pembelajaran dan pembentukan
kompetensi. Siswa harus didorong untuk menafsirkan informasi yang
disajikan oleh guru sampai informasi tersebut dapat diterima oleh akal sehat.
Dalam pelaksanaannya perlu proses penukaran pikiran, diskusi, dan
perdebatan dalam rangka pencapaian pemahaman yang sama terhadap materi
standar yang harus dikuasai siswa.

Pembelajaran efektif perlu didukung oleh suasana dan lingkungan


belajar yang memadai/kondusif. Oleh karena itu guru harus mampu mengelola
siswa, mengelola kegiatan pembelajaran, mengelola isi/materi pembelajaran,
dan mengelola sumber-sumber belajar. Menciptakan kelas yang efektif dengan
peningkatan efektivitas proses pembelajaran tidak bisa dilakukan secara
parsial,melainkan harus menyeluruh mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.

Proses pelaksanaan pembelajaran efektif dilakukan melalui prosedur


sebagai berikut:(1) melakukan appersepsi, (2)melakukan eksplorasi,
yaitu memperkenalkan materi pokok dan kompetensi dasar yang akan
dicapai, serta menggunakan variasi metode, (3) melakukan konsolidasi
pembelajaran, yaitu mengaktifkan siswa dalam pembentukan
kompetensi siswa dan mengaitkannya dengan kehidupan siswa, (4)
melakukan penilaian, yaitu mengumpulkan fakta-fakta dan
data/dokumen belajar siswa yang valid untuk melakukan perbaikan
program pembelajaran. Untuk melakukan pembelajaran yang efektif ,
guru harus memerhatikan beberapa hal, sebagai berikut: (1) pengelolaan
tempat belajar, (2) pengelolaan siswa, (3) pengelolaan kegiatan
pembelajaran, (4) pengelolaan konten/materi pelajaran, dan (5)
pengelolaan media dan sumber belajar. (Rusman, 2010, hlm. 325).

e. Pembelajaran Menyenangkan

Pembelajaran menyenangkan (joyfull learning) merupakan suatu proses


pembelajaran yang di dalamnya terdapat suatu kohesi yang kuat antara guru
dan siswa, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan ( not under pressure)
(Mulyasa, 2006. hlm. 194). Dengan kata lain, pembelajaran menyenangkan
adalah adanya pola hubungan yang baik antara guru dengan siswa dalam
proses pembelajaran. Guru memposisikan diri sebagai mitra belajar siswa,
bahkan dalam hal tertentu tidak menutup kemungkinan guru belajar dari
siswanya. Dalam hal ini perlu diciptakan suasana yang demokratis dan tidak
ada beban, baik guru maupun siswa dalam melakukan proses pembelajaran.

Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang menyenangkan, guru


harus mampu merancang pembelajaran dengan baik, memilih materi yang
tepat, serta memilih dan mengembangkan strategi yang dapat melibatkan
siswa secara optimal.

2. Ciri - Ciri PAIKEM

Secara garis besar, ciri-ciri PAIKEM digambarkan dalam buku


pelatihan awal program MBS dalam Asmani (2013, hlm. 83) adalah sebagai
berikut:

a. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan


pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar
melalui berbuat (learning to do).
b. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan cara membangkitkan
semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi
siswa.
c. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar
yang lebih menarik dan menyediakan “pojok baca”.
d. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif,
termasuk cara belajar kelompok.
e. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam
pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan
melibatkam siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Sedangkan menurut Rose dan Nocholl dalam (Asmani, 2013, hlm.84)


mengatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran yang menyenangkan adalah sebagai
berikut :

a. Menciptakan lingkungan tanpa stres (rileks), yaitu lingkungan yang aman


untuk melakukan kesalahan, namun dengan harapan akan mendapatkan
kesuksesan yang lebih tinggi.
b. Menjamin bahwa bahan ajar itu relevan.
c. Menjamin bahwa belajar secara emosional adalah positif. Pada
umumnya, hal tersebut dapat terjadi ketika belajar dilakukan bersama
orang lain, ketika ada humor dan dorongan semangat, waktu rehat dan
jeda yang teratur, serta dukungan antusias.
d. Melibatkan secara sadar semua indra dan otak kiri maupun kanan.
e. Menentang peserta didik untuk dapat berpikir jauh ke depan dan
mengekspresikan apa yang sedang dipelajari, dan sebanyak mungkin
kecerdasan yang relevan untuk memahami bahan ajar.

3. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM

Dalam melaksanakan PAIKEM, ada beberapa hal yang harus


diperhatikan menurut Asmani (2013, hlm.99) yakni “ memahami sifat yang
dimiliki anak, mengenal anak secara perorangan, mengenal anak secara
perorangan, memanfaatkan perilaku anak dalam pengorganisasian belajar,
mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan
memecahkan masalah, mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan
belajar yang menarik, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar,
memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar, dan
membedakan aktif fisik dan aktif mental”.

Adapun penjelasannya seperti di bawah ini, antara lain :

a. Memahami Sifat yang Dimiliki Anak

Pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan berimajinasi.
Anak desa, anak kota, anak orang kaya, anak orang miskin, semua terlahir
memiliki kedua sifat itu. Kedua sifat tersebut merupakan modal dasar bagi
berkembangnya sikap/berpikir kritis dan kreatif. Kegiatan pembelajaran
merupakan salah satu lahan yang harus kita olah, sehingga kedua sifat tersebut
dapat berkembang dengan subur. Suasana pembelajaran dimana guru memuji
anak karena hasil karyanya, guru mengajukan pertanyaan yang menantang,
dan guru yang mendorong anak untuk melakukan percobaan, misalnya,
merupakan pembelajaran yang diharapkan mampu mengembangkan kedua
sifat di atas.

b. Mengenal Anak Secara Perorangan

Para siswa berasal dari lingkungan keluarga yang bervariasi dan


memiliki kemampuan yang berbeda. Dalam PAIKEM (Pembelajaran Aktif,
Inovatif, kreatif, Efektif dan Menyenangkan) perbedaan individual perlu
diperhatikan dan harus tercermin dalam kegiatan pembelajaran. Semua anak
dalam kelas tidak selalu mengerjakan kegiatan yang sama, melainkan berbeda
sesuai dengan kecepatan belajarnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan
lebih dapat dimanfaatkan untuk membantu temannya yang lemah (tutor
sebaya). Dengan mengenal kemampuan anak, kita dapat membantunya bila
mendapat kesulitan sehingga belajar anak tersebut menjadi optimal.
c. Memanfaatkan Perilaku Anak dalam Pengorganisasian Belajar

Sebagai makhluk sosial, anak sejak kecil secara alami bermain


berpasangan atau berkelompok dalam bermain. Perilaku ini dapat
dimanfaatkan dalam pengorganisasian belajar. Dalam melakukan tugas atau
membahas sesuatu, anak dapat bekerja berpasangan atau dalam kelompok.
Berdasarkan pengalaman, anak akan menyelesaikan tugas dengan baik bila
mereka duduk berkelompok. Duduk seperti ini memudahkan mereka untuk
berinteraksi dan bertukar pikiran. Namun demikian, anak perlu juga
menyelesaikan tugas secara perorangan agar bakat individunya berkembang.

d. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis, Kreatif, dan Kemampuan


Memecahkan Masalah.

Pada dasarnya hidup ini adalah memecahkan masalah. Hal ini


memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Kritis untuk menganalisis
masalah dan kreatif untuk melahirkan alternatif pemecahan masalah. Kedua
jenis berpikir tersebut, kritis dan kreatif, berasal dari rasa ingin tahu dan
imajinasi yang keduanya ada pada diri anak sejak lahir. Oleh karena itu, tugas
guru adalah mengembangkannya, antara lain dengan sering-sering
memberikan tugas atau mengajukan pertanyaan yang terbuka. Pertanyaan
yang dimulai dengan kata-kata “Apa yang terjadi jika …” lebih baik daripada
yang dimulai dengan kata-kata “Apa, berapa, kapan”, yang umumnya tertutup
(jawaban betul hanya satu).

e. Mengembangkan Ruang Kelas Sebagai Lingkungan Belajar yang Menarik

Ruang kelas yang menarik merupakan hal yang sangat disarankan


dalam PAIKEM. Hasil pekerjaan siswa sebaiknya dipajangkan untuk
memenuhi ruang kelas seperti itu. Selain itu, hasil pekerjaan yang dipajangkan
diharapkan memotivasi siswa untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan
inspirasi bagi siswa lain. Yang dipajangkan dapat berupa hasil kerja
perorangan, berpasangan, atau kelompok. Pajangan dapat berupa gambar,
peta, diagram, model, benda asli, puisi, karangan, dan sebagainya. Ruang
kelas yang penuh dengan pajangan hasil pekerjaan siswa, dan ditata dengan
baik, dapat membantu guru dalam pembelajaran karena dapat dijadikan
rujukan ketika membahas suatu masalah.

f. Memanfaatkan Lingkungan sebagai Sumber Belajar

Lingkungan (fisik, sosial, atau budaya) merupakan sumber yang sangat


kaya untuk bahan belajar anak. Lingkungan dapat berperan sebagai media
belajar, tetapi juga sebagai objek kajian (sumber belajar). Penggunaan
lingkungan sebagai sumber belajar sering membuat anak merasa senang dalam
belajar. Belajar dengan menggunakan lingkungan tidak selalu harus keluar
kelas. Bahan dari lingkungan dapat dibawa ke ruang kelas untuk menghemat
biaya dan waktu. Pemanfaatan lingkungan dapat mengembangkan sejumlah
keterampilan seperti mengamati (dengan seluruh indera), mencatat,
merumuskan pertanyaan, berhipotesis, mengklasifikasi, membuat tulisan, dan
membuat gambar/diagram.

g. Memberikan Umpan Balik yang Baik untuk Meningkatkan Kegiatan


Belajar

Mutu hasil belajar akan meningkat bila terjadi interaksi dalam belajar.
Pemberian umpan balik dari guru kepada siswa merupakan salah satu bentuk
interaksi antara guru dan siswa. Umpan balik hendaknya lebih mengungkap
kekuatan daripada kelemahan siswa. Selain itu, cara memberikan umpan balik
pun harus secara santun. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih percaya diri
dalam menghadapi tugas-tugas belajar selanjutnya. Guru harus konsisten
memeriksa hasil pekerjaan siswa dan memberikan komentar dan catatan demi
peningkatan kemampuan siswa. Catatan ini akan akan lebih bermakna bagi
pengembangan diri siswa daripada hanya sekedar nilai angka.

h. Membedakan Aktif Fisik dan Aktif Mental

Banyak guru yang sudah merasa puas bila menyaksikan para siswa
kelihatan sibuk bekerja dan bergerak. Apalagi bangku dan meja diatur
berkelompok serta siswa duduk saling berhadapan. Keadaan tersebut bukanlah
ciri yang sebenarnya dari PAIKEM. Aktif mental lebih diinginkan daripada
aktif fisik. Sering bertanya, mempertanyakan gagasan orang lain, dan
mengungkapkan gagasan merupakan tanda-tanda aktif mental. Syarat
berkembangnya aktif mental adalah tumbuhnya perasaan tidak takut
ditertawakan, takut disepelekan, atau takut dimarahi jika salah. Oleh karena
itu, guru hendaknya menghilangkan penyebab rasa takut tersebut, baik yang
datang dari guru itu sendiri maupun dari temannya. Berkembangnya rasa takut
sangat bertentangan dengan PAIKEM.

4. Prinsip-Prinsip PAIKEM

Pelaksanaan pembelajaran yang mengutamakan aspek keaktifan,


kreatifitas dan inovatif, sehingga membuat pembelajaran menjadi efektif dan
menyenangkan, menuntut guru untuk menguasai berbagai metode mengajar
serta keterampilan dasar mengajar. Penguasaan berbagai metode mengajar
tersebut akan memberi keleluasaan untuk memilih metode yang sesuai dengan
metode yang sesuai dengan tujuan, materi, peserta didik dan aspek-aspek
lainnya, sehingga prinsip-prinsip PAIKEM dapat diterapkan secara optimal.
Menurut Asmani (2013, hlm. 123) Prinsip-prinsip pembelajaran PAIKEM
antara lain:

a. Pengalaman

Aspek pengalaman ini siswa diajarkan dapat belajar mandiri. Di


dalamnya terdapat banyak cara untuk penerapannya antara lain seperti
eksperimen, pengamatan, penyelidikan , dan wawancara. Aspek pengalaman
ini siswa belajar banyak melalui berbuat dan dengan melalui pengalaman
langsung.

b. Komunikasi

Aspek komunikasi ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk,


misalnya mengemukakan pendapat, peresentasi laporan, dan memajangkan
hasil kerja. Kegiatan ini siswa dapat mengungkapakan gagasan, dapat
mengkonsolidasi pikirannya, mengeluarkan gagasannya, memancing gagasan
orang lain, dan membuat bangunan makna mereka dapat diketahui oleh guru.

c. Interaksi

Aspek interaksi ini dapat dilakukan dengan cara interaksi, Tanya jawab,
dan saling melempar pertanyaan. Dengan hal-hal seperti itulah kesalahan
makna yang diperbuat oleh siswa-siswa berpeluang untuk terkorelasi dan
makna yang terbangun semakin mantap, sehingga dapat menyebabkan hasil
belajar meningkat.

d. Refleksi

Aspek ini yang dilakukan adalah memikirkan kembali apa yang telah
diperbuat/dipikirkan oleh siswa selama mereka belajar. Hal ini dilakukan
supaya terdapatnya perbaikan gagasan/makna yang telah dikeluarkan oleh
siswa dan agar mereka tidak mengulangi kesalahan. Di sini siswa diharapkan
juga dapat menciptakan gagasan-gagasan baru. (Rusman, 2010: 325-329).

C. Implementasi PAIKEM
Berikut ini adalah contoh beberapa kegiatan yan dapat dilakukan oleh
guru dalam pelaksanaan PAIKEM:

Kemampuan Guru Pembelajaran


Guru menggunakan alat bantu dan Sesuai mata pelajaran, guru
sumber belajar yang beragam menggunakan, missal:
 Alat yang tersedia atau yang
dibuat sendiri
 Gambar
 Studi kasus
 Narasumber
 Lingkungan
Kemampuan Guru Pembelajaran
Guru memberi kesempatan kepada Siswa:
siswa untuk mengembangkan  Melakukan percobaan,
keterampilan pengamatan atau wawancara
 Mengumpulkan data/jawaban
dan mengolahnya sendiri
 Menarik kesimpulan
 Memecahkan masalah
 Mencari rumus sendiri
 Menulis laporan/hasil karya
dengan kata-kata sendiri
Guru memberi kesempatan kepada Melalui:
siswa untuk mengungkapkan  Diskusi
gagasannya sendiri secara lisan atau  Lebih banyak pertanyaan
tulisan terbuka
 Hasil karya yang merupakan
pemikiran anak sendiri
Guru menyesuaikan bahan dan kegiatan  Siswa dikelompokan sesuai
belajar dengan kemampuan siswa dengan kemampuan
 Bahan pelajaran disesuaikan
dengan kelompok tersebut
 Tugas perbaikan atau pengayaan
diberikan
Guru mengaitkan pembelajaran dengan  Siswa mencaritakan atau
pengalaman sehari-hari siswa memanfaatkan pengalamannya
sendiri
 Siswa menerapkan hal yang
dipelajari dalam kegiatan sehari-
hari
Menilai pemebelajaran dan kemampuan  Guru memantau kerja siswa
Kemampuan Guru Pembelajaran
belajar siswa secara terus-menerus  Guru memberikan umpan balik
(Sumber : Hartono, 2012. Hlm. 34)
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Metode Quantum Learning merupakan metode yang berusaha untuk
mengubah belajar yang berbeda dibandingkan dengan belajar pada umunya.
Quantum Learning berfokus pada proses belajar yang menyenangkan dan
berhasil. Quantum Learning menguraikan cara-cara baru yang memudahkan
proses belajar lewat pemaduan unsur seni dan pencapaian-pencapain yang
terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.
Sedangkan PAIKEM adalah pendekatan yang memungkinkan peserta
didik mengerjakan kegiatan beragam untuk mengembangkan keterampilan, sikap,
dan pemahamannya. Didalam proses belajar mengajar sangat diperlukan strategi
pembelajaran yang sangat baik dan cocok untuk situasi dan kondisi siswa.
Strategi yang sangat cocok dan menarik siswa dalam pembelajaran dikenal
dengan nama PAIKEM.
DAFTAR REFERENSI

Asmani, Jamal Ma’mur. 2013. 7 Tips Aplikasi PAKEM (Pembelajaran Aktif,


Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Yogyakarta: Diva Press.

Depdiknas. Direktorat Tenaga Kependidikan. (2010). Pembelajaran Berbasis


PAIKEM. Jakarta

DePorter, Bobby, Mark Reardon & Sarah Singar – Nourie.(2000).Ed. 1, cet. ke 1.


Quantum Teaching. Mempraktikan Quantum Learning di Ruang – Ruang
Kelas. Penerjemah: Ary Nilandari. Bandung: Kaifa.
De Porter, Bobbi, dan Hernacki, Mik.(2002). Quantum Learning. Diterjemahkan
oleh Alwiyah Adurrahman. Bandung: Kaifa PT Mizan Pustaka.
DePorter, Bobbi & Hernacki, Mike.(2006). Quantum Learning: Membiaasakan
Belajar Nyaman & Menyenangkan. Bandung: PT.Mizah Pustaka
Deporter. 2010. Quantum teaching (Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-
Ruang Kelas). Bandung : Penerbit Kaifa.
Depoter Bobbi dan Hernacki Mike.(2011). Quantum Learning. Jakarta : KAIFA.
Hartono. (2012). PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif dan
Menyenagkan. Jogjakarta: Zanafa.
Mulyasa. 2006. Manajemen berbasis Sekolah, Konsep Strategi dan Implementasi.
Bandung: Remaja Rosdakarya.

Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Raja GrafindoPersada.


Sukmawati,Lusi.(2011).Apa Sih Quantum Learning itu.Diakses tanggal 15
Nopember 2017 dari :
https://lusisukmawatiii.wordpress.com/2011/09/27/apa-sih-quantum-
learning-itu/
Uno, Hamzah. 2012. Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: PT. Bumi
Aksara.
GLOSARIUM
 Suggestopedia : berasal dari kata suggestology, yaitu ilmu tentang
pengaruh-pengaruh
 Efektif : berhasil guna (tentang usaha, tindakan)
 PAIKEM : Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif dan Menyeangkan
 Apersepsi : menyampaikan tujuan pembelajaran
 Eksplorasi : pemberian materi pembelajaran