Anda di halaman 1dari 8

Pendahuluan

Urban sprawl
Urban sprawl merupakan fenomena kota yang sering terjadi di kota-kota besar yang
tingkat kepadatan penduduknya semakin tinggi sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan
peningkatan aktivitas ekonomi. Urban sprawl pada awalnya terjadi setelah akhir perang dunia
kedua dan menjadi trend dalam masyarakat Amerika. Berkurangnya pelayanan kota selama perang
dunia kedua menyebabkan terjadinya permasalahan kemacetan, polusi, dan ketidakmampuan
sistem pembuangan limbah di pusat kota. Perubahan ini menyebabkan penduduk Amerika lebih
menyukai untuk tinggal di rumah yang semakin jauh dari pusa kota yang sering dinamakan sebagai
impian penduduk Amerika (Mattern, 2005).
Urban sprawl memiliki dampak lingkungan yang cukup besar. Dampak lingkungan yang
terjadi lebih dari sekedar penggunaan lahan untuk pemukiman. Perkembangan pemukiman yang
meluas menyebabkan semakin meluasnya polusi air. Perkembangan urban sprawl tidak hanya
mengurangi area hutan, tanah pertanian, dan ruang terbuka, tetapi juga menimbulkan aktivitas
yang mengganggu ekosistem dan habitat alami makhluk hidup. Sprawl ditetapkan sebagai faktor
dalam polusi udara sejak ketergantungan terhadap mobil/kendaraan bermotor menjadi gaya hidup
yang ditandai dengan meningkatnya konsumsi energi fosil dan gas emisi yang ditimbulkannya
(Wilson, 2002).
Sprawl juga berdampak pada isu sosial dan ekonomi terhadap masyarakat di pusat kota dan
kualitas hidup kawasan sub urban. Sprawl dianggap sebagai penyebab meluasnya perdagangan ke
arah luar kota dengan jangkauan konsumen yang lebih banyak, mall-mall regional dan restaurant.
Sprawl menciptakan perjalanan lebih panjang, meningkatkan kemacetan lalu lintas dan
mengurangi waktu yang tersedia untuk bekerja dan keluarga bagi masyarakat, karena orang
cenderung bertempat tinggal lebih menyebar dan bukannya di pusat kota, biaya pelayanan
masyarakat (pemadam kebakaran, polisi, sekolah) di daerah sub urban akan meningkat (Wilson,
2002).
Proses Urban sprawl (Concentric Development/Low Density Continuous Development)
Tabel 1 Proses Urban sprawl

1. Perembetan Concentric
Konsentris Development/Low Density
Continous Development

2. Perembetan Ribbon development/linear


memanjang development/axial
development

3. Perembetan yang leap frog


meloncat development/checkerboard
development

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketiganya dapat terjadi bersama-sama,


gabungan dari dua macam maupun sendiri-sendiri. Makin besar kotanya makin kompleks ekspresi
spasial yang ditampilkannya. Pengenalan sifat masing-masing bentuk ekspresi perkembangan
spasial sentrifugal adalah sangat penting karena berkaitan dengan penentuan dan pemilihan teknik
manajemen tertentu yang direkomendasikan dipakai dalam rangka manajemen spasial kota.
(Yunus, 2005).
Perembetan yang meloncat (leap frog development/checkerboard development)\
Tipe perkembangan ini oleh kebanyakan pakar lingkungan dianggap merugikan, tidak
efisien dalam arti ekonomi, tidak mempunyai nilai estetika dan tidak menarik. Perkembangan
lahan kekotaan terjadi perpencaran secara sporadic dan tumbuh di tengah-tengah lahan pertanian.
Keadaan ini sangat menyulitkan pemerintah kota untuk membangun prasarana-prasarana fasilitas
kebutuhan hidup sehari-hari. Pembiayaan pembangunan jaringan-jaringannya sangat tidak
sebanding dengan jumlah penduduk yang diberi fasilitas. Khususnya apabila dibandingkan dengan
penduduk yang tinggal di areal perkotaan yang kompak (Yunus, 1987).
Tipe ini sangat cepat menimbulkan dampak negatif terhadap kegiatan pertanian pada
wilayah yang luas sehingga penurunan produktivitas pertanian akan lebih cepat terjadi. Di samping
beberapa faktor-faktor pendorong yang telah dikemukakan di atas, kegiatan spekulasi pada daerah-
daerah yang belum terbangun sangat mencolok sekali adanya (Yunus, 1987).

Dampak Leapfrog Development


Leapfrog Development memberikan dampak dalam berbagai aspek, seperti berikut
1. Mengurangi area hutan, lahan pertanian dan ruang terbuka hijau sehingga Mengganggu
ekosistem dan habitat alami makhluk hidup (Wilson, 2002)
2. ketergantungan terhadap mobil/kendaraan bermotor menjadi gaya hidup yang ditandai
dengan meningkatnya konsumsi energi fosil dan gas emisi yang ditimbulkannya (Wilson,
2002)
3. Membuat perjalanan menjadi semakin panjang sehingga meningkatkan kemacetan lalu
lintas dan dan mengurangi waktu yang tersedia untuk bekerja dan keluarga bagi
masyarakat, karena orang cenderung bertempat tinggal lebih menyebar dan bukannya di
pusat kota, biaya pelayanan masyarakat (pemadam kebakaran, polisi, sekolah) di daerah
sub urban akan meningkat (Wilson, 2002)
4. Perkembangan pemukiman yang meluas menyebabkan semakin meluasnya polusi Air
(Wilson, 2002)
5. Perkembangan kota semakin meluas sehingga dapat menimbulkan kesulitan pengadaan
sarana dan prasarana kehidupan serta menyebabkan ketidakefisienan penyediaan
infrastruktur karena biaya pengadaannya cukup besar (Yunus, 2002)
6. menyulitkan pemerintah kota untuk membangun prasarana-prasarana fasilitas kebutuhan
hidup sehari-hari. Pembiayaan pembangunan jaringan-jaringannya sangat tidak sebanding
dengan jumlah penduduk yang diberi fasilitas (Yunus, 1987)

Studi Kasus
Perkembangan Urban sprawl Kota Semarang pada Wilayah Kabupaten Demak Tahun 2003-
2012 (Mujiandari, 2012)
Kota Semarang menyebabkan terjadinya perkembangan kota menjalar ke wilayah lain
disekitarnya, salah satunya ke arah Kabupaten Demak. Pada umumnya keberadaan urban sprawl
di suatu wilayah ditandai dengan munculnya permukiman di pinggiran kota, demikian pula yang
terjadi di wilayah Kabupaten Demak, permukiman baru berkembang di sebagian Kecamatan
Mranggen. Selain itu dapat dilihat juga perubahan penggunaan lahan pada sepanjang koridor jalan
yang menghubungan Kota Semarang dengan Kabupaten Demak yang semula lahan pertanian
menjadi area terbangun. Beberapa tahun terakhir ini, Kecamatan Mranggen di Kabupaten Demak
menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Di Kecamatan Mranggen muncul kecenderungan
tumbuh kawasan permukiman baru. Bedasarkan hal tersebut maka wilayah Kabupaten Demak
yang berbatasan dengan Kota Semarang dapat dikatakan sebagai daerah sprawling dari Kota
Semarang. Perkembangan urban sprawl Kota Semarang yang terjadi di wilayah Kabupaten Demak
terindikasi dalam perkembangan leapfrog Development (Mujiandari, 2012).
Pada penelitian ini urban sprawl ditinjau dari dua dimensi yaitu dimensi fisik spasial dan
dimensi non fisikal sebagaimana pendapat Smailes dalam Mujiandari (2012) Dimana karakteristik
lahan didefinisikan sebagai klasifikasi bentuk pemanfaatan lahan (Yunus, 2006; Torrens, 2008;
Feng, 2009 dalam Mujiandari, 2012). Karakteristik bangunan didefinisikan sebagai kepadatan
bangunan (Yunus, 2006; Torrens, 2008 dalam Mujiandari, 2012) dan fungsi bangunan (Yunus,
2006 dalam Mujiandari, 2012), sedangkan karakteristik sirkulasi didefinisikan sebagai tingkat
aksesibilitas (Torrens, 2008 dalam Mujiandari, 2012). Dimensi non fisikal didefinisikan sebagai
kepadatan penduduk (Torrens, 2008 dalam Mujiandari, 2012) dan mata pencaharian penduduk
(Yunus, 2006 dalam Mujiandari, 2012).
Analisis Perkembangan Urban sprawl
Berdasarkan dimensi fisikal dan non fisik, kawasan urban sprawl tahun 2003 pada wilayah
studi merupakan bentuk leap frog development dengan luas 1547.437 ha.. Kondisi jalan yang baik
dengan skala jalan nasional memberi kemudahan pada sektor industri dalam pengangkutan bahan
mentah dan hasil industrinya. Sprawl pada kawasan selatan Kabupaten Demak terjadi pada
Kecamatan Mranggen, terutama pada Desa Kembangarum, Batursari dan Kebonbatur di
Kecamatan Mranggen. Sprawl yang terjadi pada kawasan tersebut disebabkan karena adanya
intervensi pengembang perumahan. Mereka memilih daerah ini karena harga lahannya relatif lebih
murah sehingga memungkinkan untuk dikembangkan sebagai perumahan skala menengah ke
bawah. Penduduk yang memilih untuk bermukim di kawasan tersebut mendapatkan kemudahan
akses ke Kota Semarang karena pada daerah tersebut terdapa jalan kolektor Semarang-Purwodadi.
Kawasan urban sprawl pada tahun 2012 meningkat 32,23% dibandingkan tahun 2003
menjadi 2046.205 ha. Peningkatan luas kawasan urban sprawl terjadi pada Kecamatan Mranggen,
Sayung, Karangtengah dan Karangawen. Bentuk dari sprawl yang terjadi merupakan kombinasi
dari leap frog development. Pengembangan perumahan pada Kecamatan Mranggen merupakan
akibat dari adanya pengembangan industri pada koridor Jalan Raya Semarang-Purwodadi.
Pengembangan industri tentunya akan menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang besar, hal inilah
yang menjadi pertimbangan para pengembang perumahan membangun perumahan baru untuk
kalangan menengah kebawah. Perumahan yang dikembangkan pada Kecamatan Mranggen pada
umumnya adalah perumahan dengan unit kecil. Lokasi yang dipilih pengembang pun berada jauh
ke selatan dari jalan kolektor. Pertimbangan tersebut diambil untuk menekan harga jual sehingga
dapat menarik penduduk untuk tinggal disana. Hal inilah yang menyebabkan pembangunan pada
Kecamatan Mranggen membentuk pola leap frog development. Kondisi perumahan yang jauh dari
jalan utama dan tidak dilalui oleh angkutan umum menyebabkan adanya ketergantungan penduduk
pada kendaraan pribadi, sehingga berdampak pada peningkatan kepadatan jalan.
Pada Tahun 2012, industri pada koridor jalan Semarang-Demak terus mengalami
peningkatan. Penyerapan tenaga kerja pada sektor ini menyebabkan penduduk sekitar beralih mata
pencaharian dari sektor agraris ke industri. Berbeda dengan apa yang terjadi pada Kecamatan
Mranggen dimana pengembang perumahan beramai-ramai mengembangan perumahan dengan
skala kecil.
Gambar 1 Kawasan Terbangun 2003 (kiri) dan tahun 2012 (kanan)
Tahun 2003 desa dengan luas sprawl lebih dari 30% dari luas wilayahnya terdapat pada
Kecamatan Mranggen meliputi Desa Kembangarum (35%), Desa Bandungrejo (42,5%) dan Desa
Brumbung. Sedangkan pada tahun 2012 desa dengan luas sprawl lebih dari 30% dari luas
wilayahnya terdapat pada Kecamatan Mranggen meliputi Desa Batursari (44%), Brumbung
(42,6%), Kembangarum (42,2%), Ngemplak (39,5%), Wringinjajar (38,7%). Sprawl semakin
meluas dikarenakan adanya pengembangan kawasan perumahan pada beberapa desa tersebut.
Dalam kurun waktu 2003-2012 urban sprawl bertambah 498,685 ha. Apabila dilihat lebih
rinci dapat diketahui bahwa dalam kurun waktu tersebut terjadi perubahan status sprawl, beberapa
wilayah mengalami perubahan dari non urban sprawl menjadi urban sprawl maupun sebaliknya.
wilayah yang pada tahun 2003 merupakan kawasan urban sprawl namun pada tahun 2012 tidak
termasuk pada kawasan urban sprawl sebesar 488,278ha. Hal ini dikarenakan wilayah tersebut
telah mengalami pemadatan permukiman yang diikuti dengan penyediaan fasilitas umum untuk
melayani penduduk yang tinggal di sana. Begitu juga sebaliknya terdapat wilayah yang pada tahun
2001 tidak termasuk kedalam kawasan urban sprawl pada tahun 2012 justru terindikasi sprawl
yaitu seluas 986.963ha. Hal ini dikarenakan adanya perkembangan lahan terbangun terutama
permukiman yang tersebar sehingga menyebabkan tingkat kepadatan bangunan menjadi rendah
serta tidak diikuti dengan penyediaan fasilitas umum untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang
tinggal pada daerah tersebut.
Apabila dilihat dari dimensi non fisik, perkembangan urban sprawl pada Kecamatan
Mranggen terjadi pada desa dengan kepadatan penduduk sedang. Berdasarkan mata pencaharian
agraris, sprawl pada Kecamatan Mranggen pada desa dengan prosentase rendah.
Sedangkan jika dilihat berdasarkan dimensi fisik perkembangan sprawl pada Kecamatan
Mranggen dan Karangtengah terjadi pada lahan yang tidak terbangun. Hal ini membuktikan
adanya peralihan lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun yang memicu terjadinya sprawl.
Di Kecamatan Mranggen terjadi alih fungsi lahan tidak terbangun menjadi perumahan.
Berdasarkan jarak dari pusat kota Semarang, wilayah Kabupaten Demak yang berkembang
menjadi kawasan urban sprawl dalam kurun waktu 2001-2012 terbesar berada pada ring 1 yaitu
jarak 7,5-10 Km. Selain mengalami perubahan menjadi kawasan urban sprawl yang terbesar
(14,13%), ring pertama ini juga merupakan kawasan yang mengalami perubahan dari urban sprawl
menjadi kawasan yang lebih padat terbesar yaitu sebesar 4,87%. Perkembangan sprawl pada ring
1 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dikarenakan ring tersebut memiliki jarak paling
dekat dengan pusat kota Semarang. Penduduk cenderung memilih lokasi tempat tinggal dengan
jarak yang paling dekat dengan pusat kota namun dengan harga yang relatif masih rendah. Hal
tersebut merupakan peluang yang diambil oleh para pengembang perumahan untuk
mengembangan perumahan dengan tipe kecil pada daerah pinggiran. Permintaan pasar untuk
perumahan tipe kecil tersebut saat ini masih sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan makin
menjamurnya perumahan di kawasan pinggiran Kabupaten Demak yang berbatasan dengan Kota
Semarang terutama pada ring 1 (7,5-10 Km).
Perkembangan sprawl pada wilayah studi bagian utara mengikuti koridor jalan arteri
dengan penggunaan lahan sebagai kawasan industri. Pemilihan lokasi untuk industri
mempertimbangkan antara lain kemudahan aksesibilitas untuk mencapai pelabuhan barang, lahan
yang luas dengan relief datar dan bebas banjir. Wilayah studi bangian utara meliputi Kecamatan
Sayung dan Karangtengah merupakan daerah yang dilalui oleh jalan arteri Semarang-Demak dan
memiliki relief yang datar serta bebas banjir. Pelabuhan Tanjung Mas Semarang dapat dengan
mudah diakses dari kedua kecamatan tersebut, didukung harga lahan yang relatif lebih rendah
dibandingkan dengan lahan didalam Kota Semarang serta adanya peraturan daerah Kabupaten
Demak mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Demak Tahun 2011-2031 yenag
menyebutkan bahwa Kecamatan Sayung dan Karangtengah merupakan kawasan yang akan
dikembangkan sebagai kawasan industri, menyebabkan investor industri memilih lokasi pada
kedua kecamatan tersebut. Selain faktor internal sebagai pendukung perkembangan industri pada
kawasan tersebut, terdapat faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan industri yaitu pada
wilayah Kota Semarang yang berbatasan dengan Kabupaten Demak bagian utara merupakan
kawasan yang sudah dikembangkan sebagai kawasan industri. Secara tidak langsung akan
mempengaruhi perkembangan industri pada daerah sekitarnya.

Daftar Pustaka
Mattern, Lauren. 2005. “Examining “Smart Growth” as an Alternative to Urban Sprawl”.
Wilson, Emily Hoffhine etc. 2002. “ Development of Geospatial model to quantify, describe and
map urban growth”.
Yunus, Hadi Sabari . 2005. Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Yunus, Hadi Sabari. 1987. “Permasalahan Daerah Urban Fringe dan Alternatif
Pemecahannya”. Yogyakarta. Fakultas Geografi UGM
Mujiandri,Reni. 2014. Perkembangan Urban Sprawl Kota Semarang pada Wilayah Kabupaten
Demak Tahun 2003-2012. Jurnal Wilayah Dan Lingkungan Volume 2 No2, Agustus 2014,
129-142