Anda di halaman 1dari 28

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Kunjungan pasien di rumah (home visit) dilaksanakan pada keluarga pasien
klinik OPINA. Tata cara kunjungan rumah yang kami lakukan yaitu sebagai
berikut:
1. Mengatur jadwal kunjungan yang disesuaikan oleh pihak Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang dan klinik OPINA.
2. Mempersiapkan macam data yang akan dikumpulkan.
3. Melakukan pengumpulan data.
4. Melakukan pencatatan data. Pencatatan data kami lakukan sesuai dengan
formulir kunjungan rumah (home visit).
5. Menyampaikan nasihat dan atau penyuluhan kesehatan.
Pada saat kami melakukan TPP, kami berkesempatan melakukan home visit
pada 2 orang pasien klinik OPINA. Berikut hasil home visit yang kami dapatkan.
a. Pasien 1
A. Karakteristik Demografi Keluarga
Nama kepala keluarga: Ny. EL
Alamat lengkap : Tangga Buntung
Pasien
No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Klinik
(Y/T)
1 EL Kepala keluarga P 38 th SMA Pedagang Y
2 AS Anak L 16 th SMA Siswa Y
3 RW Anak L 12 th SMP Siswa Y
4 MF Anak L 9 th SD Siswa Y
B. Identitas Penderita
1. Nama : EL
2. Umur : 38 tahun
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Pekerjaan : Pedagang

33
34

5. Pendidikan : SMA
6. Agama : Islam
7. Alamat : Tangga Buntung
8. Suku : Palembang
9. Tanggal periksa : 3 Desember 2016

C. Pekerjaan
Pekerjaan pasien yang juga merupakan kepala keluarga yaitu sebagai pedagang.
Anggota keluarga lain belum ada yang bekerja. Pasien dari dulu bekerja sebagai
pedagang.

D. Penetapan Masalah Pasien


1. Riwayat medis
Ny. EL menderita asma sejak kecil, alergi dingin dan debu, dan nyeri sendi.
2. Riwayat penyakit keluaga
Ibu dari Ny. EL menderita asma, dan anak yang pertama juga menderita asma.
3. Riwayat kebiasaan
Ny. EL kurang makan sayur, tapi sering mengikuti kegiatan senam seminggu
sekali.
4. Riwayat sosial ekonomi
Ny. EL bekerja sebagai pedagang, dengan penghasilan perbulan 1.000.000
rupiah. Dengan jumlah penghasilan tersebut, Ny. EL memenuhi kebutuhan
keluarga mereka sehari-hari dan juga menyekolahkan anak-anaknya.
5. Riwayat gizi
Frekuensi makan rata-rata tiap harinya untuk :
- Nasi 3 kali
- Lauk-pauk :
protein hewani 3 kali
protein nabati 3 kali
- Sayuran 1 kali
- Susu 1 gelas/hari (jarang)
35

Keluarga biasa mengkonsumsi makanan 3 kali sehari dengan gizi yang cukup,
hanya saja mereka kurang makan sayur.
6. Diagnosis holistik (biopsikososial)
a. Aspek Personal
Ny. EL mengeluh seringkali mengalami sesak napas terutama jika cuaca
hujan atau terkena debu. Namun, beliau tetap mempunyai keyakinan dan
kepercayaan diri untuk dapat beraktivitas seperti oranglain.
b. Aspek Klinis
Diagnosis klinis: Asthma
c. Aspek Internal
Dinilai dari kepribadiannya, pasien tidak memiliki risiko individual yang
dapat memperberat penyakit atau menghambat penyembuhannya.
d. Aspek eksternal
Kondisi ekonomi keluarga yang masih tercukupi dan hubungan yang baik
dengan orang-orang di sekitarnya membuat pasien memiliki aspek
eksternal yang baik untuk menunjang penyembuhannya.
e. Skala Fungsi Sosial
Skala 1, karena Ny. EL tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari dan dapat hidup mandiri.

E. Fungsi Keluarga
a. Fungsi biologis dan reproduksi
Keluarga terdiri dari penderita dan tiga orang anak laki-laki, mereka saling
membantu dan menasehati.
Riwayat penyakit herediter di keluarga yaitu keluarga menderita asma. Di
keluarga pasien tidak ada riwayat penyakit degeneratif seperti hipertensi dan
diabetes mellitus.
Selama 2 bulan terakhir, pasien dan keluarganya tidak ada yang menderita
penyakit menular dan penyakit kronis.
36

Fungsi reproduksi untuk wanita :


- Riwayat Haid : Teratur setiap bulan
- Riwayat Obstetri : G0 P1 A0
Anak Ny. EL
1. AS
2. RW
3. MF
- Riwayat KB : pasien tidak ikut KB
- Perencanaan kelahiran anak dilakukan oleh suami istri
b. Fungsi sosial
Dalam masyarakat, Ny. EL hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak
mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kesehariannya
penderita bergaul akrab dengan masyarakat di sekitamya seperti halnya
anggota masyarakat yang lain.
c. Fungsi psikologis
Hubungan antara pasien dengan anaknya baik. Pembentukan kepribadian anak
yaitu dengan cara pemenuhan kebutuhan psikologis anggota keluarga.
Jika ada masalah di dalam keluarga, yang membuat keputusan akhir adalah Ny.
EL, proses pengambilan keputusan yaitu dengan cara dibicarakan dengan anak-
anaknya. Keluarga Ny. EL menyediakan waktu untuk berkumpul bersama
keluarga 2 kali per minggu, yang biasanya mereka isi dengan makan bersama
dan berkumpul bersama. Komunikasi dalam keluarga Ny. EL terbilang cukup
baik. Suami Ny. EL sudah meninggal, namun setiap permasalahan diselesaikan
dengan baik. Permasalahan yang timbul dalam keluarga didiskusikan bersama,
dipecahkan secara musyawarah dan dicari jalan tengah, serta dibiasakan sikap
saling tolong menolong baik fisik, mental, maupun jika ada salah seorang di
antaranya yang menderita kesusahan.
d. Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Penghasilan Ny. EL dirasa cukup untuk mmenuhi kebutuhan sehari-hari.
Keluarga Ny. EL juga merupakan anggota penerima pelayanan kesehatan dari
BPJS, sehingga jika ada anggota keluarga yang sakit dapat segera diobati.
37

e. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi


Dalam penyelesaian masalah keluarga ini terbilang baik. Tidak pernah ada
pertengkaran yang besar.
f. Fungsi fisiologis (skor APGAR – Adaptation, Partnership, Growth, Affection,
Resolve)
APGAR Ny. EL Sering/ Kadang- Jarang
selalu kadang /tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga saya √


bila saya menghadapi masalah

P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas dan √


membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima dan √


mendukung keinginan saya untuk melakukan kegiatan
baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya √


mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya √


membagi waktu bersama-sama

Total poin : 9
Interpretasi : Baik, tidak ada disfungsi keluarga.

Setelah kami melakukan penilaian terhadap fungsi fisiologis Ny. EL, kami
dapatkan hasil bahwa fungsi fisiologis Ny. EL dengan keluarganya berjalan
dengan baik.
38

g. Fungsi patologis (SCREEM – Social, Cultural, Religion, Education, Economic,


Medical)
Sumber Patologi Ya Tidak

Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga √


dengan saudara partisipasi mereka dalam masyarakat
cukup meskipun banyak keterbatasan.

Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal √


ini dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam
keluarga maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya
yang masih diikuti. Sering mengikuti acara-acara yang
bersifat hajatan, sunatan, nyadran dll. Menggunakan
bahasa jawa, tata krama dan kesopanan

Religius Pemahaman agama cukup. Namun penerapan ajaran √


agama kurang, hal ini dapat dilihat dari penderita dan
Agama
orang tua hanya menjalankan sholat sesekali saja.
menawarkan
Sebelum sakit penderita rutin belajar mengaji di sore
pengalaman
hari di masjid dekat rumah.
spiritual yang baik
untuk ketenangan
individu yang tidak
didapatkan dari
yang lain

Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah ke bawah, √


untuk kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski
belum mampu mencukupi kebutuhan sekunder rencana
ekonomi tidak memadai, diperlukan skala prioritas
untuk pemenuhan kebutuhan hidup

Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang memadai. Tingkat √


pendidikan dan pengetahuan orang tua masih rendah.
Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas
pendidikan seperti buku-buku, koran terbatas.

Medical Tidak mampu membiayai pelayanan kesehatan yang √


lebih baik Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga
Pelayanan
39

kesehatan ini biasanya menggunakan Puskesmas dan hal ini


puskesmas mudah dijangkau karena letaknya dekat.
memberikan
perhatian khusus
terhadap kasus
penderita

Keterangan : Terdapat fungsi pathologis berupa sosial, kultural, dan religius.

h. Kesimpulan permasalahan fungsi keluarga


1. Ny. EL dan anaknya menderita asma.
2. Keluarga kurang makan sayur dan buah dan jarang berolahraga.
3. Saat musim hujan ada genangan air yang masuk ke dalam rumah (banjir).

F. Perilaku Kesehatan Keluarga


1. Pola pelayanan kesehatan keluarga
Bila ada anggota keluarga yang sakit yang pertama dilakukan yaitu membawa
anggota keluarga tersebut ke klinik OPINA. OPINA merupakan fasilitas
pelayanan kesehatan langganan keluarga Ny. EL. Untuk pendanaan kesehatan,
keluarga Ny. EL menggunakan BPJS.
2. Kartu sehat (KMS)
Tidak digunakan.
3. Keikutsertaan pada program kesehatan di lingkungan rumah
Tidak ada.
4. Pemanfaatan waktu luang (life syle)
Waktu luang yang ada di keluarga tidak dimanfaatkan untuk berolahraga
ataupun rekreasi. Aktivitas sosial di lingkungan pemukiman yang diikuti oleh
Ny. EL yaitu arisan.
40

G. Struktur Keluarga (Genogram)

Keterangan:
: Suami, meninggal

: Ny. EL

: Anak

H. Pola Interaksi Keluarga

Keterangan:
: Harmonis
: Kurang harmonis

Hubungan antar anggota keluarga termasuk harmonis. Jarang terjadi


permasalahan antar anggota keluarga. Perbedaan pendapat jarang terjadi dan
apabila terjadi masalah tersebut segera diselesaikan.
41

I. Keadaan Rumah dan Lingkungan (Indoor dan Outdoor)


1. Letak rumah : perumahan biasa
2. Bentuk bangunan rumah : bertingkat
Rumah milik sendiri.
3. Luas rumah : 6 x 8 m2
Jumlah orang dalam satu rumah : 4 org
Rata-rata : 2-3 m2 per orang
4. Lantai rumah dari : keramik
5. Dinding rumah dari : tembok
6. Atap rumah dari : genteng
7. Pembagian ruangan rumah :
ruang tamu : ada, ukuran : 2 x 4 m2
ruang makan : ada, ukuran : 2 x 2 m2
ruang keluarga : ada, ukuran : 2 x 2 m2
ruang tidur : ada, 2 buah, ukuran 2 x 3 m2
8. Jendela rumah :
ruang tamu : ada, ukuran ½ x 1 m2
Ruang makan : ada, ukuran ¼ x ¼ m2
Ruang keluarga : ada, ukuran ½ x 1 m2
Ruang tidur : ada, ukuran ½ x ½ m2
Perbandingan luas lantai dan jendela
a. di ruang tamu >25%
b. ruang makan <25%
c. ruang keluarga >25%
d. ruang tidur <25%
Di rumah Ny. EL, mereka dapat membaca tulis atau huruf dalam rumah tanpa
bantuan sinar lampu listrik pada siang hari. Kesan penerangan di dalam rumah
cukup.
9. Listrik di rumah : 1300 watt
10. Lubang ventilasi :
a. ruang tamu : ada, ukuran 50 x 20 cm2 letak satu sisi
42

b. ruang makan : ada, ukuran 50 x 20 cm2 letak satu sisi


c. ruang keluarga : ada, ukuran 50 x 20 cm2 letak satu sisi
d. ruang tidur : ada, ukuran 50 x 20 cm2 letak satu sisi
Bantuan untuk ventilasi di dalam rumah : kipas angin
Kelembaban dalam rumah : tidak terasa lembab
Kesan ventilasi di dalam rumah : kurang
11. Kebersihan dalam rumah : cukup
12. Tata letak barang-barang dalam rumah : cukup rapi
13. Sumber air minum dari : PAM
14. Kamar mandi : ada, bila ada : ukuran 1 x 1,5 m2
jumlah 1 buah
Jamban : ada
Jarak septic tank dengan sumber air minum 10 m

J. Denah Rumah

WC Tangga

Dapur Toko

Kamar

Ruang tamu dan ruang keluarga

Tangga

Kamar Halaman depan


sebagai tempat
menjemur pakaian
43

K. Kepemilikan Barang
1. Kendaraan : sepeda motor
2. Perlengkapan rumah tangga : kursi tamu, kursi makan, meja tamu, meja makan,
lemari/rak, lemari pakaian.
Alat-alat perlengkapan dapur : kompor, dandang, panci, wajan
3. Peralatan elektronik : lemari es, video cd, rice cooker, televisi 32 inch berwarna.

L. Keadaan Lingkungan
1. Limbah rumah tangga tidak dialirkan.
Saluran limbah di sekitar rumah : mengalir
2. Tempat sampah di luar rumah : tidak ada
3. Jalan di depan rumah lebarnya : 1,5. m
terbuat dari : aspal
kesan kebersihan permukiman : cukup

M. Daftar Masalah
a. Masalah medis
Ny. EL didiagnosis menderita asma sejak kecil.
AS juga menderita asma.

b. Masalah non medis


Saat musim hujan ada genangan air yang masuk ke dalam rumah (banjir).
Keluarga kurang makan sayur dan buah, dan jarang berolahraga.

c. Faktor risiko
Orangtua Ny. EL juga menderita asma.

N. Kesimpulan dan Saran


a. Kesimpulan.
Penegakan diagnosis secara holistik pada pasien ini menunjukkan adanya kelainan
44

dari aspek biologis berupa asma. Dari segi psikologis pasien tidak mengalami
masalah, hubungan yang baik antar anggota keluarga memberikan dukungan pada
pasien untuk dapat sembuh.

b. Saran
Preventif : untuk penderita asma, serangan asma dapat dicegah dengan
menghindari faktor pencetus. Berbagai alergen, baik yang di dalam rumah seperti
debu dan bulu binatang, atau diluar rumah seperti polusi udara, lingkungan kerja,
patut untuk diidentifikasi dan dihindari. Promotif : edukasi kepada pasien asma
untuk selalu mengontrol asma secara teratur untuk menilai dan memonitor berat
asma secara berkala. Kuratif : untuk penderita asma, langkah-langkah
penangaan dengan cara medikamentosa dan non medikamentosa. Non
medikamentosa bisa dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat dengan
memnuhi makanan gizi seimbang dan berolahraga secara teratur. Medikamentosa
yaitu untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri atas
pengontrol dan pelega. Yang termasuk obat pengontrol yaitu kortikosteroid
(contoh: Budesonide) dan yang termasuk pelega adalah aminofillin.
Rehabilitatif : Memberikan semangat kepada penderita, karena penyakit ini
merupakan suatu penyakit alergi imunologi yang dapat kambuh sewaktu-waktu,
yang terpenting adalah untuk selalu menjaga agar tidak timbul serangan asma.

b. Pasien 2
A. Karakteristik Demografi Keluarga
Nama kepala keluarga: Ny. H
Alamat lengkap : Gandus
Pasien
No Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Klinik
(Y/T)
1 H Kepala keluarga P 64 th SPG Pensiunan Y
guru SD
45

B. Identitas Penderita
1. Nama : H
2. Umur : 64 tahun
3. Jenis kelamin : Perempuan
4. Pekerjaan : Pesniunan guru SD
5. Pendidikan : SPG
6. Agama : Islam
7. Alamat : Gandus
8. Suku : Palembang
9. Tanggal periksa : 3 Desember 2016

C. Pekerjaan
Pekerjaan pasien yang juga merupakan kepala keluarga yaitu sebagai pensiunan
guru SD. Pasien tingga sendiri.

D. Penetapan Masalah Pasien


1. Riwayat medis
Ny. H menderita hipertensi, diabetes mellitus, asam urat tinggi, kolesterol
tinggi, penglihatan kabur.
2. Riwayat penyakit keluarga
Ayah dari Ny. H menderita hipertensi dan DM.
3. Riwayat kebiasaan
Ny. H jarang olahraga, hanya mengikuti senam dan kegiatan pramuka.
Ny. H sering ikut pengajian.
4. Riwayat sosial ekonomi
Ny. H tidak bekerja lagi. Ny. H merupakan pensiunan guru SD. Dengan jumlah
penghasilan dari pensiunan tersebut, Ny. H memenuhi kebutuhannya sehari-
hari.
5. Riwayat gizi
Frekuensi makan rata-rata tiap harinya untuk :
- Nasi 3 kali
46

- Lauk-pauk :
protein hewani 3 kali
protein nabati 3 kali
- Sayuran 3 kali
- Susu 1 gelas/hari (jarang)

Ny. H makan 3 kali sehari. Makanan yang sering dikonsumsi yaitu ikan, sayur,
tempe, tahu, dan sering makan makanan yang berlemak.
6. Diagnosis holistik (biopsikososial)
a. Aspek Personal
Ny. H mengeluh seringkali mengalami pusing apabila tekanan darahnya
tinggi.
b. Aspek Klinis
Diagnosis klinis: Hipertensi
c. Aspek Internal
Dinilai dari kepribadiannya, usia Ny. H 64 tahun merupakan risiko
individual yang dapat memperberat penyakit atau menghambat
penyembuhannya.
d. Aspek eksternal
Kondisi ekonomi yang masih tercukupi membuat pasien memiliki aspek
eksternal yang baik untuk menunjang penyembuhannya. Meskipun Ny. H
tinggal sendiri namun Ny. H menjalin hubungan baik dengan tetangga di
sekitar rumahnya sehingga aspek psikososialnya juga baik untuk menunjang
kesembuhannya.
e. Skala Fungsi Sosial
Skala 1, karena Ny. H tidak mengalami kesulitan dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari dan dapat hidup mandiri.

E. Fungsi Keluarga
a. Fungsi biologis dan reproduksi
Ny. H hanya tinggal sendiri di rumah tersebut.
47

Riwayat penyakit herediter di keluarga yaitu ayah dan kakek dari Ny. H
menderita hipertensi dan DM.
Selama 2 bulan terakhir, pasien tidak menderita penyakit menular dan penyakit
kronis.

Fungsi reproduksi untuk wanita :


- Riwayat Haid : Teratur setiap bulan, tetapi sudah tidak haid sejak usia 40
tahun.
- Riwayat Obstetri : G0 P0 A0
- Riwayat KB : pasien tidak ikut KB
b. Fungsi sosial
Dalam masyarakat, Ny. H hanya sebagai anggota masyarakat biasa, tidak
mempunyai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Dalam kesehariannya
penderita bergaul akrab dengan masyarakat di sekitamya seperti halnya
anggota masyarakat yang lain.
c. Fungsi psikologis
Ny. H tinggal sendirian di rumah tersebut. Jika ada permasalahan yang timbul,
dipecahkan sendiri.
d. Fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
Penghasilan Ny. H cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ny. H juga
memiliki simpanan khusus untuk jaminan kesehatan, yaitu BPJS.
e. Fungsi penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi
Dalam penyelesaian masalah, Ny. H menyelesaikan sendiri. Namun untuk
hubungan dengan tetangga, tebilang baik.
f. Fungsi fisiologis (skor APGAR – Adaptation, Partnership, Growth, Affection,
Resolve)
APGAR Ny. H Sering/ Kadang- Jarang
selalu kadang /tidak

A Saya puas bahwa saya dapat kembali ke keluarga √


saya bila saya menghadapi masalah
48

P Saya puas dengan cara keluarga saya membahas √


dan membagi masalah dengan saya

G Saya puas dengan cara keluarga saya menerima √


dan mendukung keinginan saya untuk melakukan
kegiatan baru atau arah hidup yang baru

A Saya puas dengan cara keluarga saya √


mengekspresikan kasih sayangnya dan merespon
emosi saya seperti kemarahan, perhatian dll

R Saya puas dengan cara keluarga saya dan saya √


membagi waktu bersama-sama

Total poin : 5
Interpretasi : Kurang baik, terdapat disfungsi keluarga.

Setelah kami melakukan penilaian terhadap fungsi fisiologis Ny. H, kami


dapatkan hasil bahwa dapat dilihat terdapat disfungsi keluarga pada Ny. H,
karena Ny. H tinggal sendiri sehingga fungsi keluarga tidak berjalan dengan
baik.

g. Fungsi patologis (SCREEM – Social, Cultural, Religion, Education, Economic,


Medical)
Sumber Patologi Ya Tidak

Sosial Interaksi sosial yang baik antar anggota keluarga juga dengan √
saudara partisipasi mereka dalam masyarakat cukup
meskipun banyak keterbatasan.

Cultural Kepuasan atau kebanggaan terhadap budaya baik, hal ini √


dapat dilihat dari pergaulan sehari-hari baik dalam keluarga
maupun di lingkungan, banyak tradisi budaya yang masih
diikuti. Sering mengikuti acara-acara yang bersifat hajatan,
sunatan, nyadran dll. Menggunakan bahasa jawa, tata krama
dan kesopanan
49

Religius Pemahaman agama cukup. Namun penerapan ajaran agama √


kurang, hal ini dapat dilihat dari penderita dan orang tua
Agama
hanya menjalankan sholat sesekali saja. Sebelum sakit
menawarkan
penderita rutin belajar mengaji di sore hari di masjid dekat
pengalaman
rumah.
spiritual yang
baik untuk
ketenangan
individu yang
tidak
didapatkan dari
yang lain

Ekonomi Ekonomi keluarga ini tergolong menengah ke bawah, untuk √


kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum mampu
mencukupi kebutuhan sekunder rencana ekonomi tidak
memadai, diperlukan skala prioritas untuk pemenuhan
kebutuhan hidup

Edukasi Pendidikan anggota keluarga kurang memadai. Tingkat √


pendidikan dan pengetahuan orang tua masih rendah.
Kemampuan untuk memperoleh dan memiliki fasilitas
pendidikan seperti buku-buku, koran terbatas.

Medical Tidak mampu membiayai pelayanan kesehatan yang lebih √


baik Dalam mencari pelayanan kesehatan keluarga ini
Pelayanan
biasanya menggunakan Puskesmas dan hal ini mudah
kesehatan
dijangkau karena letaknya dekat.
puskesmas
memberikan
perhatian
khusus terhadap
kasus penderita

Keterangan : Terdapat fungsi pathologis berupa sosial, kultural, ekonomi, dan


edukasi.
50

h. Kesimpulan permasalahan fungsi keluarga


1. Ny. H menderita hipertensi, DM, dan koleseterol yang tinggi.
2. Ny. H sering makan makanan yang berlemak.
3. Ny. H tinggal sendiri, jadi tidak terdapatnya peran keluarga terhadap
kesehatan Ny. H.
4. Ny. H jarang berolahraga.
5. Rumah seringkali terkena banjir.

F. Perilaku Kesehatan Keluarga


1. Pola pelayanan kesehatan keluarga
Bila ada pasien sakit, kadang pasien pergi sendiri ke klinik OPINA atau kadang
ada tetangga yang mengantar ke klinik. Ada kalanya dr. Trisnawarman yang
berperan sebagai dokter keluarga yang mengunjungi pasien ke rumah. OPINA
merupakan fasilitas pelayanan kesehatan langganan Ny. H. Untuk pendanaan
kesehatan, Ny. H menggunakan BPJS.
2. Kartu sehat (KMS)
Tidak digunakan.
3. Keikutsertaan pada program kesehatan di lingkungan rumah
Tidak ada.
4. Pemanfaatan waktu luang (life syle)
Waktu luang yang ada tidak dimanfaatkan untuk berolahraga ataupun rekreasi.
Aktivitas sosial di lingkungan pemukiman yang diikuti oleh Ny. H juga tidak
ada.

G. Struktur Keluarga (Genogram)


51

Keterangan:
: Ayah, meninggal

: Ibu, meninggal

: Ny. H

H. Pola Interaksi Keluarga

Keterangan:
: Harmonis
: Kurang harmonis

Keponakan Ny. H datang mengunjungi Ny. H setiap sebulan sekali.

I. Keadaan Rumah dan Lingkungan (Indoor dan Outdoor)


1. Letak rumah : perumahan biasa
2. Bentuk bangunan rumah : bertingkat
Rumah milik sendiri.
3. Luas rumah : 8 x 12 m2
Jumlah orang dalam satu rumah : 1 org
4. Lantai rumah dari : papan
5. Dinding rumah dari : tembok dan papan
6. Atap rumah dari : genteng
7. Pembagian ruangan rumah :
ruang tamu : ada, ukuran : 5 x 8 m2
ruang makan : ada, bergabung dengan dapur ukuran : 4 x 4 m2
ruang keluarga : bergabung dengan ruang tamu
ruang tidur : ada 3 buah, ukuran 2 x 3 m2, dan 3 x 8 m2
52

8. Jendela rumah :
ruang tamu : ada, ukuran ½ x 1 m2
Ruang makan : ada, ukuran ½ x 1 m2
Ruang tidur : ada, ukuran ½ x 1 m2
Perbandingan luas lantai dan jendela
e. di ruang tamu >25%
f. ruang makan >25%
g. ruang keluarga >25%
h. ruang tidur <25%
Di rumah, Ny. H dapat membaca tulis atau huruf dalam rumah tanpa bantuan sinar
lampu listrik pada siang hari. Kesan penerangan di dalam rumah cukup.
9. Listrik di rumah : 1300 watt
10. Lubang ventilasi :
Terdapat 8 ventilasi rumah yang letaknya 1 sisi.
Bantuan untuk ventilasi di dalam rumah : kipas angin
Kelembaban dalam rumah : tidak terasa lembab
Kesan ventilasi di dalam rumah : kurang
11. Kebersihan dalam rumah : cukup
12. Tata letak barang-barang dalam rumah : cukup rapi
13. Sumber air minum dari : PAM
14. Kamar mandi : ada, bila ada : ukuran 2 x 4 m2
jumlah 1 buah
Jamban : ada
Jarak septic tank dengan sumber air minum 15 m
53

J. Denah Rumah
Lantai 1

KAMAR MANDI

RUANG TAMU KAMAR

DAPUR

Lantai 2

KAMAR KAMAR RUANG TAMU

K. Kepemilikan Barang
1. Kendaraan : tidak ada
2. Perlengkapan rumah tangga : kursi tamu, kursi makan, meja tamu, meja makan,
54

lemari/rak, lemari pakaian.


Alat-alat perlengkapan dapur : kompor, dandang, panci, wajan
3. Peralatan elektronik : lemari es, rice cooker, televisi 21 inch berwarna.

L. Keadaan Lingkungan
1. Limbah rumah tangga dialirkan ke : got
Saluran limbah di sekitar rumah : tergenang
2. Tempat sampah di luar rumah : tidak ada
3. Jalan di depan rumah lebarnya 2,5 m terbuat dari semen
kesan kebersihan permukiman : kurang

M. Daftar Masalah
1. Masalah medis
Hipertensi, asam urat tinggi, kolesterol tinggi, dan penglihatan kabur.
2. Masalah nonmedis
Ny. H hanya tinggal sendiri dan seringkali rumah terkena banjir.
3. Faktor risiko
Genetik, kebiasaan, dan pola makan.

N. Kesimpulan dan Saran


1. Kesimpulan
Penegakan diagnosis secara holistik pada pasien ini menunjukkan adanya kelainan
dari aspek biologis berupa hipertensi. Dari segi psikologis pasien juga mengalami
masalah, karena pasien hanya tinggal sendiri di rumah tersebut sehingga
meskipun pasien memiliki hubungan yang baik dengan anggota keluarga yang
lain, namun di rumah tersebut tidak ada yang memberikan dukungan pada pasien
untuk dapat sembuh.

2. Saran
Preventif : untuk penderita penyakit hipertensi dapat dicegah dengan menjaga
55

jumlah makanan yang mengandung banyak garam. Serta memperbanyak gerak


aktifitas fisik, kemudian mengkontrol stres, meningkatkan asupan buah dan sayur.
Promotif : edukasi kepada pasien hipertensi adalah untuk selalu mengukur
tekanan darah secara berkala, sebab penyakit hipertensi adalah penyakit sistemik
yang memiliki resiko komplikasi pada banyak organ.
Kuratif : untuk penderita hipertensi, langkah-langkah penangaan dengan cara
medikamentosa dan non medikamentosa. Non medikamentosa bisa dilakukan
dengan mengubah gaya hidup, kemudian untuk medikamentosa dianjurkan untuk
meminum obat hipertensi agar tekanan darah dapat selalu dijaga pada tekanan
yang aman.
Rehabilitatif : Memberikan semangat kepada penderita, karena penyakit ini
merupakan suatu penyakit idiopatik dan bisa terkena pada banyak orang, yang
terpenting adalah untuk selalu menjaga agar tekanan darah dalam batas yang
aman.

4.2. Pembahasan
Menurut Murti (2011), jika tujuan dari kunjungan rumah adalah untuk
mengumpulkan data tentang pasien, tata cara yang ditempuh adalah
mempersiapkan daftar nama keluarga yang akan dikunjungi, mengatur jadwal
kunjungan, mempersiapkan macam data yang akan dikumpulkan, melakukan
pengumpulan data, melakukan pencatatan data, dan menyampaikan nasihat atau
penyuluhan kesehatan. Hal ini sesuai dengan yang kami lakukan pada
pelaksanaan TPP. Tatacara home visit yang kami lakukan antara lain mengatur
jadwal kunjungan, mempersiapkan macam data yang akan dikumpulkan,
melakukan pengumpulan data, melakukan pencatatan data. Pencatatan data kami
lakukan sesuai dengan formulir kunjungan rumah (home visit), menyampaikan
nasihat dan atau penyuluhan kesehatan. Kami tidak mempersiapkan daftar nama
keluarga yang akan dikunjungi, karena daftar nama keluarga tersebut disediakan
oleh klinik OPINA.
56

Menurut Murti (2011), dalam pelaksanaan home visit, sarana dan alat yang
dipersiapkan yaitu data pasien yang akan dikunjungi, formulir kunjungan rumah,
dan alat penunjang wawancara. Hal ini sesuai dengan yang kami lakukan saat
TPP, yaitu kami mempersiapkan formulir kunjungan rumah dan alat penunjang
wawancara seperti pena, kertas, dan kamera.
Menurut Prasetyawati (2014), dalam penilaian home visit, dilakukan
pengisian formulir home visit. Hal ini sesuai dengan yang kami lakukan saat
pelaksanaan TPP home visit, kami melakukan penilaian mengacu pada formulir
yang telah kami persiapkan sebelum pelaksanaan TPP.
Menurut PDPI (2013), risiko berkembangnya asma merupakan interaksi
antara faktor pejamu dan faktor lingkungan. Faktor pejamu disini termasuk
predisposisi genetik yang mempengaruhi untuk berkembangnya asma, yaitu
genetik asma, alergik (atopi), hipereaktiviti bronkus, jenis kelamin dan ras. Hal ini
sesuai dengan yang kami temui pada saat TPP, yaitu terdapat genetik asma pada
keluarga Ny. EL. Ibu dari Ny. EL menderita asma, dan anak pertama Ny. EL juga
menderita asma.
Faktor lingkungan mempengaruhi individu untuk berkembang menjadi asma,
menyebabkan terjadinya eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala-gejala asma
menetap. Termasuk dalam faktor lingkungan yaitu alergen (debu, asap rokok,
bulu binatang, tungau), sensitisasi lingkungan kerja, polusi udara, infeksi
pernapasan (virus), diet, status sosioekonomi dan besarnya keluarga (PDPI, 2003).
Menurut Sundaru (2011), gejala asma sering timbul pada musim tertentu (musim
hujan) dan disebabkan karena terpajan faktor pencetus tertentu, misalnya debu
rumah, tungau, bulu binatang, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan yang kami
temui saat TPP, yaitu Ny. EL yang merupakan pasien asma menuturkan bahwa
seringkali serangan asma atau gejala asma timbul jika terpajan alergen berupa
debu atau udara dingin saat musim hujan.
Kebiasaan keluarga Ny. EL yang kurang makan sayur tidak berhubungan
langsung dengan penyakit yang dialami Ny. EL. Namun, sebaiknya Ny. EL tetap
harus mengkonsumsi sayut karena sayuran mengandung berbagai jenis
antioksidan. Konsumsi makanan yang mengandung antioksidan dapat
57

meningkatkan status imunologi dan menghambat timbulnya penyakit degeneratif


akibat penuaan. Kecukupan antioksidan secara optimal dibutuhkan oleh semua
kelompok usia (Winarti, 2010).
Menurut Sundaru (2011), aktivitas fisik yang berat seperti lari dapat menjadi
salah satu faktor pencetus timbulnya gejala asma. Tetapi jika olahraga yang ringan
dilakukan terus menerus justru dapat membantu pasien asma untuk kompensasi
terhadap hiperreaktif saluran napas yang dialami. Jadi, sebaiknya Ny. EL dan
keluarga tetap rutin melakukan olahraga yang ringan.
Menurut Notoatmodjo (2011), kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi
atau keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap
terwujudnya status kesehatan yang optimal pula. Ruang lingkup kesehatan
lingkungan antara lain mencakup: perumahan, pembuangan kotoran manusia
(tinja), penyediaan air bersih, pembuangan sampah, pembuangan air limbah,
rumah hewan ternak, dan sebagainya. Dikaitkan juga dengan penyakit Ny. EL
yang dapat timbul akibat terpajan dengan debu, tungau, dan bulu hewan, maka
sudah seharusnya Ny. EL menjaga kebersihan rumah dan lingkungannya. Selain
untuk mencegah timbulnya gejala asma, juga agar terciptanya lingkungan yang
sehat. Sedangkan untuk Ny. H, kondisi lingkungan rumah dengan penyakitnya
tidak berkaitan secara langsung, namun sebaiknya kebersihan dan kesehatan
rumah juga harus tetap dijaga, agar tidak timbul penyakit menular ataupun
penyakit lainnya. Pada saat bencana banjir dan pasca banjir biasanya timbul
masalah kesehatan di berbagai tempat permukiman dan di tempat umum yang
terkena genangan. Masalah kesehatan yang timbul diantaranya penyakit yaitu
infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, penyakit kulit, gastritis,
leptospirosis, conjungtivitis, gigitan binatang berbisa, dan typhus abdominalis
(Ahmad, 2007).
Menurut Yogiantoro (2011), faktor risiko terjadinya hipertensi yaitu riwayat
hipertensi, hiperlipidemia, dan diabetes mellitus pada keluarga, pola makan,
kegemukan, aktivitas, dan kepribadian. Hal ini sesuai dengan yang kami dapati
saat pelaksanaan TPP, yaitu Ny. H yang menderita hipertensi, anggota
keluarganya juga ada yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus. Selain itu,
58

Ny. H juga menuturkan bahwa Ny. H sendiri jarang berolahraga. Hal ini diduga
menjadi salah satu faktor risiko hipertensi.
Faktor makanan yang merupakan penentu dari tingginya tekanan darah adalah
kelebihan lemak dalam tubuh dan intake garam yang tinggi, oleh karena itu,
sebaiknya Ny. H mulai mengurangi kebiasaan makan makanan yang berlemak
agar tidak memperberat keadaan penyakitnya.
Usia Ny. H 64 tahun merupakan risiko individual yang dapat memperberat
penyakit dan atau menghambat penyembuhannya. Menurut Suhardjono (2011),
penduduk usia lanjut membawa konsekuensi meningkatnya morbiditas dan
mortalitas berbagai penyakit kardiovaskuler. Hal ini disebabkan karena tekanan
darah sistolik meningkat sesuai dengan peningkatan usia yang juga dapat
diakibatkan karena kekakuan arteri akibat aterosklerosis.
Pada saat pelaksanaan TPP, kami juga berkesempatan mengamati keadaan
rumah dan lingkungan sekitar rumah Ny. EL dan Ny. H. Menurut Notoatmodjo
(2011), luas bangunan yang optimum apabila menyediakan 2,3 x 3 m untuk setiap
orang, dapat disimpulkan bahwa rumah Ny. EL dan Ny. H sudah memenuhi
kriteria tersebut. Lantai rumah Ny. EL terbuat dari keramik dan tidak berdebu.
Atap rumah terbuat dari genteng. Dinding rumah terbuat dari tembok.
Keadaannya semua baik dan tidak kotor ataupun berdebu. Lantai rumah Ny. H
terbuat dari papan yang tidak basah dan tidak berdebu. Atap rumah terbuat dari
genteng. Dinding rumah terbuat dari tembok dan papan. Keadaannya semua baik
dan tidak kotor ataupun berdebu. Dapat disimpulkan bahwa bahan bangunan
rumah Ny. EL dan Ny. H sudah memenuhi syarat rumah sehat yaitu bahan
bangunan yang ada tidak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada
musim hujan. Ventilasi rumah Ny. EL dan Ny. H masih kurang dan belum sesuai
dengan ventilasi yang seharusnya. Seharusnya ventilasi dibuat dengan sistem
silang agar udara tidak membalik lagi, sedangkan ventilasi yang ada hanya satu
sisi dan jumlahnya juga sedikit jika dibandingkan dengan luas ruangan. Rumah
yang sehat memerlukan cahaya yang cukup. Syarat ini sudah terpenuhi, karena di
dalam rumah Ny. EL dan Ny. H penerangannya cukup (Notoatmodjo, 2011).
59

Rumah Ny. EL dan Ny. H memiliki penyediaan air bersih yang cukup, tempat
pembuangan tinja (septic tank) yang jauh dari sumber air minum, pembuangan air
limbah, pembuangan sampah, fasilitas dapur, dan ruang berkumpul keluarga. Air
berasal dari PAM, dan pembuangan sampah langsung diangkut oleh petugas yang
bertugas mengangkut sampah. Dapat disimpulkan bahwa rumah Ny. EL dan Ny.
H sudah memenuhi syarat fasilitas dalam rumah sehat menurut Notoatmodjo
(2011) yang terdiri dari penyediaan air bersih yang cukup, pembuangan tinja,
pembuangan air limbah, pembuangan sampah, fasilitas dapur, dan ruang
berkumpul keluarga.
Di lingkungan Ny. EL dan Ny. H seringkali terjadi banjir, sehingga saat
musim hujan biasanya akan ada genangan air yang masuk ke dalam rumah. Hal
ini dapat jadi tempat bersarangnya penyakit, olehkarena itu, kami sarankan agar
masyarakat di lingkungan rumah melakukan gotong royong untuk membersihakan
saluran air kotor (got) disekitar rumah masing-masing dan juga menghimbau agar
masyarakat tidak membuang sampah di aliran got ataupun sungai. Diharapkan hal
tersebut dapat mencegah terjadinya banjir jika musim hujan.
Menurut Prasetyawati (2014), pemberian semangat di dalam keluarga akan
menimbulkan rasa aman jauh dari stres dan meningkatkan kesehatan lingkungan.
Hal ini sesuai dengan yang kami temui saat pelaksanaan TPP, yaitu dari dua
pasien yang kami kunjungi, salah satunya tidak mempunyai keluarga dan dari
hasil penilaian fungsi fisiologisnya kurang baik, terdapat disfungsi keluarga.
Berbeda dengan yang tinggal dengan keluarga, fungsi fisiologisnya baik. Tingkat
stres pada pasien yang tinggal dengan keluarga juga agak kurang jika
dibandingkan dengan pasien yang tidak tinggal dengan keluarganya. Meskipun
Ny. H seringkali dijenguk oleh keponakannya sebulan sekali, namun hal tersebut
belum mampu memenuhi fungsi keluarga yang dibutuhkan.
Untuk penderita asma, yaitu Ny. EL serangan asma dapat dicegah dengan
menghindari faktor pencetus. Berbagai alergen, baik yang di dalam rumah seperti
debu dan bulu binatang, atau diluar rumah seperti polusi udara, lingkungan kerja,
patut untuk diidentifikasi dan dihindari. Edukasi kepada pasien asma untuk selalu
mengontrol asma secara teratur untuk menilai dan memonitor berat asma secara
60

berkala. Untuk penderita asma, langkah-langkah penangaan dengan cara


medikamentosa dan non medikamentosa. Non medikamentosa bisa dilakukan
dengan menerapkan pola hidup sehat dengan memnuhi makanan gizi seimbang
dan berolahraga secara teratur. Medikamentosa yaitu untuk mengatasi dan
mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega. Yang
termasuk obat pengontrol yaitu kortikosteroid (contoh: Budesonide) dan yang
termasuk pelega adalah aminofillin. Yang terakhir yaitu memberikan semangat
kepada penderita, karena penyakit ini merupakan suatu penyakit alergi imunologi
yang dapat kambuh sewaktu-waktu, yang terpenting adalah untuk selalu menjaga
agar tidak timbul serangan asma (Sundaru, 2011).
Saran yang dapat diberikan utnuk Ny. H yang merupakan penderita hipertensi
berupa promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Untuk penderita penyakit
hipertensi dapat dicegah dengan menjaga jumlah makanan yang mengandung
banyak garam. Serta memperbanyak gerak aktifitas fisik, kemudian mengkontrol
stres, meningkatkan asupan buah dan sayur. Edukasi kepada pasien hipertensi
adalah untuk selalu mengukur tekanan darah secara berkala, sebab penyakit
hipertensi adalah penyakit sistemik yang memiliki resiko komplikasi pada banyak
organ. Untuk penderita hipertensi, langkah-langkah penangaan dengan cara
medikamentosa dan non medikamentosa. Non medikamentosa bisa dilakukan
dengan mengubah gaya hidup, kemudian untuk medikamentosa dianjurkan untuk
meminum obat hipertensi agar tekanan darah dapat selalu dijaga pada tekanan
yang aman. Selain itu, juga memberikan semangat kepada penderita, karena
penyakit ini merupakan suatu penyakit idiopatik dan bisa terkena pada banyak
orang, yang terpenting adalah untuk selalu menjaga agar tekanan darah dalam
batas yang aman (Sundaru, 2011 dan PDPI, 2003).