Anda di halaman 1dari 13

TUGAS 1 MANAJEMEN OPERASI

PERENCANAAN PROSES UNTUK SEBUAH PERUSAHAAN ROKOK


TERKAIT DENGAN PENENTUAN JUMLAH PRODUKSI MINIMAL

OLEH

WAODE TIMMY TRI INSTANTHY YAMIN

019455506
A. PENDAHULUAN

Perencanaan produksi sebagai suatu perencanaan taktis yang bertujuan untuk


memberikan keputusan berdasarkan sumber daya yang dimiliki perusahaan dalam memenuhi
permintaan produk yang akan diproduksi menjadi kunci bagi perencanaan produksi yang tepat.
Perencanaan produksi dilakukan dengan maksud memenuhi permintaan pada tingkat biaya yang
minimum. Kegiatan produkasi sangat ditentukan oleh ketersedian bahan baku dan jumlah
permintaan. Bahan baku merupakan salah satu masukan yang akan diproses untuk menghasilkan
produk. Perencanaan dan dan pengendalian produksi memiliki peranan yang penting dalam
pengolhan persediaan, kapasitas dan penjadwalan. Pengelolahaan persedian bertujuan unutk
minimasi biaya dan kerusakan produk atau bahan, perencanaan kapasitas dimaksudkan untuk
menjamin kelancaran proses produksi dan penjadwalan ditujukan untuk menjaga kualitas dan
tingkat persediaan yang minimum.

Dengan adanya banyak sumber daya yang tersedia dapat membantu secara langsung
perencanaan suatu manufaktur dalam hal produksi sehingga dapat memenuhi permintaan
konsumen dalam waktu tertentu. Perencanaan produksi bertujuan untuk menyesuaikan produksi
dengan sumber keputusan untuk memenuhi permintaan konsumen yang akan datang. Seperti
kapasitas produksi, pembatasan tenaga kerja dan pembatasan waktu lembur yang mana
permasalahan tersebut merupakan masalah optimisasi. Tujuan lain dari perncanaan produksi
untuk meminimalkan biaya total atau memaksimalkan keuntungan

Era globalisasi membawa dampak positif pada perubahan di bidang ekonomi, sosial,
politik dan budaya, serta pada sistem perekonomian dunia yang telah berubah secara signifikan.
Dampak tersebut diakibatkan karena telah ditemukannya alat produksi dengan berbagai inovasi
di setiap bidang. Selain membawa dampak positif, terdapat juga dampak negatifnya yang
ditandai dengan berbagai kendala. Kendala-kendala tersebut datang seiring dengan
berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknonologi (IPTEK), seperti terbatasnya sumber daya
alam karena terus menerus di eksploitasi, keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki
potensi unggul, persaingan yang semakin ketat, dan penghasilan demand yang lebih besar dari
supply.
Menghadapi masalah seperti ini, tidak hanya diperlukan sistem modal dan tidak hanya
fokus pada biaya pengendalian terhadap investasi masa depan, tetapi lebih dari itu dibutuhkan
strategi serta inovasi. Suatu dunia kerja, khususnya suatu organisasi diperlukan suatu sistem
manajemen yang kritis dalam membaca perubahan zaman. Dalam hal ini Inovasi merupakan
kunci penting sebab inovasi dalam produk, layanan, sistem manajemen, proses produksi, nilai –
nilai perusahaan dan aspek lain dari organisasi merupakan faktor yang membuat perusahaan
dapat tumbuh, berubah dan berhasil.
B. RUMUSAN MASALAH

Masalah yang akan muncul pada suatu perusahaan rokok adalah adanya ketidakpastian
permintaan, ketidakpastian produksi dan ketidakpastian banyaknya tenaga kerja sehingga
menghambat perkembangan perusahaan itu sendiri, sehingga perlu diberikan perencanaan
produksi yang dapat memberikan solusi yang optimal.
C. PEMBAHASAN

Kretek adalah rokok yang terbuat dari campuran tembakau dan cengkeh. Kata "kretek"
sendiri berasal dari bunyi gemeretak cengkeh yang timbul ketika rokok dibakar. Tembakau telah
hadir di Indonesia sejak 1600-an ketika tembakau dibawa ke pulau Jawa oleh pedagang dari
Portugis. Tembakau (tembako dalam bahasa Jawa) secara fonologis lebih dekat dengan kata
“tumbaco” dalam bahasa Portugis. Tembakau telah hadir di Indonesia sejak 1600-an ketika
tembakau dibawa ke pulau Jawa oleh pedagang dari Portugis. Tembakau (tembako dalam bahasa
Jawa) secara fonologis lebih dekat dengan kata “tumbaco” dalam bahasa Portugis. Pada awalnya,
rokok di Indonesia hanya dibuat di rumah, dilinting dan dibungkus dengan kulit jagung.

Tidak sampai akhir abad ke-19 orang-orang mulai menambahkan cengkeh untuk rokok
mereka. Tren ini berlangsung cepat dalam beberapa tahun kemudian dimana rokok kretek mulai
diproduksi secara komersial. Orang yang diyakini pertama kali mencampurkan cengkeh ke
dalam rokok adalah Haji Jamhari, seorang warga Kudus. Ia mulai memproduksi dan memasarkan
penemuannya. Dengan meningkatnya popularitas kretek, berbagai industri rumahan turut
menjamur memproduksi rokok kretek.

Haji Jamhari wafat sebelum era produksi massal dari rokok kretek. Hal ini justru
diteruskan oleh seorang warga Kudus yang lain, yaitu Nitisemito. Ia mengubah industri rumahan
tersebut menjadi produksi massal melalui dua cara. Pertama, ia menciptakan mereknya sendiri,
yaitu Bal Tiga, dan membangun citra merek tersebut. Pengembangan label-label produknya
dicetaknya di Jepang dan berbagai hadiah diberikan secara cuma-cuma kepada perokok setianya
bila mereka menyerahkan bungkus kosong produknya. Kedua, ia mulai mengerjakan berbagai
tugas melalui subkontrak. Misalnya ada pihak yang menangani para pekerja, sedangkan
Nitisemito menyediakan tembakau, cengkeh dan sausnya. Praktik bisnis seperti ini cepat
diadopsi oleh pabrik rokok kretek yang lain dan berlanjut hingga pertengahan abad ke-20, ketika
perusahaan-perusahaan mulai merekrut para karyawan sendiri untuk menjamin kualitas dan
loyalitas.

Pada era 1960-an, konsumsi kretek mandek dibandingkan rokok putih, karena dianggap
memberikan para perokoknya citra yang lebih prestisius. Namun pada era 70-an, industri kretek
mengalami revolusi, sehingga kretek dapat berjaya hingga hari ini. Pada pertengahan 70-an,
kondisi ekonomi yang meningkat menarik investasi luar negeri ke Indonesia. Pemerintah
menginvestasikan arus masuk uang ini untuk mengembangkan industri pribumi, dan
menawarkan pinjaman berbunga rendah kepada produsen rokok kretek.

Rokok kretek buatan mesin juga pertama kali muncul pada era ini, sehingga pembuatan
kretek dapat diotomatisasi. Bentuk dan ukuran rokok kretek jenis baru yang seragam ini menjadi
kesukaan kalangan atas, dan pada akhir 70-an, rokok kretek telah bersaing langsung dengan
merek luar negeri.Akhirnya, kebijakan transmigrasi pemerintah pada era 70-an turut memastikan
bahwa rokok kretek tersebar ke seluruh penjuru nusantara. Transmigrasi yang bertujuan untuk
mengurangi kepadatan penduduk di Pulau Jawa dengan memindahkan masyarakat ke pulau-
pulau lain ini mendorong perusahaan kretek untuk memperluas distribusinya secara nasional.

C.1 PROSES PRODUKSI

Proses produksi rokok pertama dengan memanem tembakau dan cengkeh sebagi bahan
baku utama. Setelah dipanen dan dikeringkan, tembakau dan cengkeh dibawa ke lokasi pabrik.
Tembakau biasanya disimpan hingga selama tiga tahun dalam lingkungan terkontrol untuk
membantu meningkatkan cita rasanya. Cengkeh juga melewati proses penyimpanan serupa
hingga selama satu tahun sebelum diproses menjadi “cengkeh rajang” (cut clove).

Tembakau yang telah disimpan akan diproses terlebih dahulu sebelum dicampur dengan
cengkeh rajangan yang telah kering, kemudian dijadikan racikan rokok yang akan dilinting
menjadi rokok. Racikan yang telah selesai, yang biasa disebut “cut filler,” disimpan dalam
lumbung berukuran besar sebelum memasuki proses produksi rokok.

Rokok kretek dapat berupa sigaret kretek tangan (SKT) atau sigaret kretek mesin (SKM).
Salah satu keunikan industri kretek Indonesia ialah masih digunakannya metode pelintingan
secara manual dengan tangan, dimana para pekerja melinting produk rokok kretek dengan sangat
cepat, bahkan hingga dapat mencapai 350 batang per jam.

Fasilitas Linting-tangan dan Buatan mesin Produksi sigaret kretek tangan dan sigaret
kretek mesin terdiri dari tiga tahapan:

1. Pemrosesan daun tembakau;


2. Produksi rokok;
3. Dan pengemasan serta persiapan distribusi.

Dalam tiap tahapan produksi, pengendalian mutu yang sangat cermat memegang peranan
penting untuk memastikan bahwa setiap batang rokok dibuat dengan standar tertinggi. Setelah
siap, rokok kemudian dikemas dan dikirimkan untuk proses distribusi

C.2 PROSES PERENCANAAN PERUSAHAAN

Pengenalan manajemen operasi perlu dilakukan dengan benar sebelum membahas


masalah-masalah yang lain di dalam manajemen operasi. Demikian pula dengan produksi dan
produktivitas, jenis operasional bisnis, dan strategi operasi, perlu diketahui dengan baik dan
benar. Pengertian dan pemahaman yang tidak benar akan mengundang berbagai macam
kekeliruan tentang manajemen operasi dan pada ujungnya akan menimbulkan kerancuan tentang
pemahaman hal tersebut. Apalagi apabila kerancuan pemahaman ini terdapat pada seseorang
yang bertanggung jawab dalam penyusunan kebijakan manajemen operasi atau yang terkait
dengan hal tersebut, kerancuan ini dapat berbuah terdapatnya kesalahan penyusunan kebijakan
manajemen operasi di dalam perusahaan.

Pp Proses produksi perlu direncanakan dengan baik. Jika tidak, besar kemungkinan
perusahaan tidak dapat memperoleh keuntungan namun justru menuai kerugian. Ada beberapa
hal terkait dengan perencanaan proses ini. Di samping berbagai masalah teknikal maka beberapa
hal berikut perlu diperhitungkan dan dipertimbangkan dengan baik. Hal pertama adalah batas
produksi minimal. Hal yang kedua adalah persoalan beli atau buat komponen produk. Ketiga,
jika ada produk yang terus-menerus rugi maka perlu diputuskan apakah produk tersebut akan
dihentikan produksinya atau tetap diproduksi walaupun rugi. Hal yang lain lagi adalah apabila
terdapat teknologi baru, apakah perusahaan perlu segera menggantikan teknologi yang lama
dengan teknologi baru atau tidak. Masih terdapat berbagai hal lain lagi.

Jumlah produksi minimal sangat perlu diperhatikan di dalam penyusunan perencanaan


proses produksi. Walaupun secara teknikal memungkinkan untuk membuat produk berapa saja,
namun secara manajerial perlu dipertimbangkan agar perusahaan tidak menuai kerugian. Alat
yang digunakan untuk mengetahui jumlah produksi yang dikehendaki ini disebut dengan analisis
impas. Analisis impas adalah analisis hubungan antara volume, biaya, dan keuntungan. Untuk
dapat melakukan analisis impas maka harus diketahui berapa besamya harga jual per unit produk
perusahaan. Di samping itu, seluruh biaya yang ada di dalam perusahaan harus dapat
dikelompokkan menjadi biaya tetap dan biaya variabel.

Adapun yang dimaksud dengan biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap, tidak
tergantung kepada tingkat kegiatan, di dalam batas kapasitas dan waktu tertentu. Ada beberapa
pengertian pokok di sini, yaitu yang pertama yang bersifat tetap adalah jumlah biaya dan bukan
biaya per unit. Jumlah biaya yang tidak berubah ini dalam batas kapasitas tertentu, yang lazim
disebut sebagai kisar relevan. Jika kegiatan melampaui kisar relevan maka jumlah biaya dapat
saja berubah. Di samping kapasitas, waktu juga mempunyai batas tertentu. Jika batas waktu
dilampaui maka jumlah biaya juga akan berubah. Sedangkan yang dimaksud dengan biaya
variabel adalah biaya yang jumlahnya berubah sesuai dengan perubahan aktivitas. Jika aktivitas
bertambah, jumlah biaya variabel akan bertambah besar. Demikian sebaliknya apabila aktivitas
berkurang, jumlah biaya ini juga menjadi semakin kecil. Sebenamya terdapat tiga macam biaya
variabel yaitu biaya variabel progresif, biaya variabel proporsional, dan biaya variabel degresif.
Biaya variabel progresif adalah biaya variabel yang pertambahan jumlahnya lebih besar dari
pada pertambahan jumlah unit kegiatan. Biaya variable proporsional adalah biaya variabel yang
jumlahnya tetap sebanding dengan pertambahan besar kegiatan. Sedangkan biaya variabel
degresif adalah biaya yang pertambahan biayanya lebih kecil dari pada pertambahan kegiatan.
Untuk perhitungan dalam pembahasan di sini biaya variabel yang digunakan adalah biaya
variabel proporsional.

Contoh dari biaya tetap misalnya biaya sewa sebuah gudang. Jika disepakati sewa gudang
misalnya satu juta rupiah per bulan, maka jumlah biaya sewa ini tidak akan berubah apakah
gudang dipakai seluruhnya atau hanya sebagian saja. Apakah gudang terpakai seratus persen atau
hanya dua puluh lima persen. Namun demikian, apabila sebuah gudang temyata tidak mampu
menampung kebutuhan perusahaan dan kemudian menyewa gudang yang lain lagi maka jumlah
biaya sewa akan berubah juga walaupun merupakan biaya tetap. Hal ini disebabkan karena kisar
kapasitas telah terlampaui. Demikian pula apabila kita berhitung untuk waktu yang berbeda,
jumlah juga akan berubah. Sewa satu juta rupiah adalah untuk satu bulan. Kalau kita pakai dua
bulan jumlahnya menjadi dua juta rupiah, dan demikian seterusnya. Biaya tetap per unit justru
dapat berubah tergantung kepada jumlah unit kegiatan yang didukung oleh biaya tetap tersebut.
Adapun contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku. Apabila harga bahan baku per
unit seribu rupiah maka jumlah biaya bahan baku akan tergantung kepada berapa bahan baku
yang digunakan perusahaan. Jika perusahaan menggunakan seribu unit maka biaya bahan baku
menjadi sebesar satu juta rupiah. Bila bahan baku yang digunakan sejumlah lima ribu unit maka
jumlah biaya bahan baku adalah lima juta rupiah. Demikian seterusnya, jumlah biaya akan
berubah tergantung kepada berapa besar pemakaian atau tingkat aktivitas yang ada di dalam
perusahaan tersebut. Besarnya biaya bahan baku per unit justru tidak berubah, dalam contoh ini
adalah seribu rupiah.

Di samping biaya tetap dan biaya variabel, pada kenyataannya terdapat biaya yang bukan
merupakan biaya tetap dan bukan pula biaya variabel. Tidak dapat dikategorikan sebagai biaya
tetap karena jumlah biaya ini berubah pada aktivitas yang berbeda. Namun demikian, biaya ini
juga tidak dapat dikategorikan sebagai biaya variabel karena perubahan yang ada tidak sesuai
dengan perubahan tingkat aktivitas. Biaya semacam ini disebut sebagai biaya semi variabel.
Untuk kepentingan analisis impas, biaya semi variable harus dianalisis terlebih dahulu sehingga
dapat dipisahkan unsur biaya tetap dan unsur biaya variabel di dalamnya. Salah satu cara yang
paling popular untuk menganalisis, karena sederhana namun cukup dapat
dipertanggungjawabkan, adalah dengan menggunakan metode titik terendah dan titik tertinggi
sehingga dapat diketahui porsi biaya tetap dan biaya variabel yang ada di dalam biaya semi
variabel tersebut. Rumus untuk mencari biaya variabel per unit adalah selisih biaya dibagi
dengan selisih kapasitas.

Sebagai contoh misalnya, diketahui apabila kapasitas yang digunakan sebesar lima ribu
unit besamya biaya adalah tiga belas juta rupiah. Apabila kapasitas yang digunakan ditingkatkan
menjadi sembilan ribu unit, besamya biaya adalah tujuh belas juta rupiah. Biaya ini bukan biaya
tetap karena jumlah biaya berubah seiring dengan perubahan kapasitas yang digunakan. Namun
demikian, perubahan yang ada tidak sejalan dengan perubahan tingkat kapasitas tersebut
sehingga juga tidak dapat disebut sebagai biaya variabel. Kita perlu memisahkan berapa unsur
biaya tetap dan biaya variable yang terkandung di dalamnya. Langkah pertama adalah melihat
selisih biaya dan selisih kapasitas dari data yang tersedia.

Selisih biaya adalah tujuh belas juta rupiah dikurangi dengan tiga belas juta rupiah atau
sama dengan empat juta rupiah. Selisih kapasitas adalah sembilan ribu unit dikurangi dengan
lima ribu unit atau sama dengan empat ribu unit. Dengan demikian, biaya variabel per unit
adalah empat juta rupiah dibagi dengan empat ribu unit atau sama dengan seribu per unit. Untuk
mencari besamya biaya tetap dapat kita lihat jumlah biaya pada satu tingkat kapasitas. Misalnya
pada kapasitas lima ribu unit besamya biaya adalah tiga belas juta rupiah. Sedangkan dalam
biaya tersebut terdapat biaya variable sebesar lima juta rupiah, yang dapat diketahui dari
kapasitas lima ribu unit dikalikan dengan biaya variabel per unit sebesar seribu rupiah. Dengan
demikian, biaya tetap yang ada adalah tiga belas juta rupiah dikurangi dengan lima juta rupiah
atau sama dengan delapan juta rupiah.

Jika kita sudah mengetahui porsi biaya tetap dan biaya variabel serta harga jual per unit
dari produk kita, maka analisis impas dapat kita lakukan untuk berbagai kepentingan. Berikut ini
adalah contoh rangkaian analisis impas untuk beberapa keputusan yang diperlukan untuk
perencanaan proses produksi di dalam sebuah perusahaan. Untuk analisis ini akan digunakan
data sebagai berikut. Harga jual produk per unit adalah Rp2.500,00. Biaya tetap per periode
sebesar seratus juta rupiah. Biaya variabel per unit Rpl.700,00. Dari data tersebut kita dapat
menyusun analisis impas untuk kepentingan perencanaan proses, yaitu produksi minimal, target
keuntungan, marjin pengaman, dan titik tutup usaha. Produksi minimal akan diketahui melalui
titik impas. Titik impas dapat dihitung dari biaya tetap dibagi dengan kontribusi marjin atau
sering disebut dengan marginal income atau MI. Kontribusi marjin adalah selisih antara harga
jual per unit dan biaya variabel per unit. Dalam contoh ini, besamya MI adalah sama dengan dua
ribu lima ratus rupiah dikurangi dengan seribu tujuh ratus rupiah, atau sama dengan delapan
ratus rupiah per unit. Besamya biaya tetap per periode adalah seratus juta rupiah. Dengan
demikian, titik impas adalah seratus juta rupiah dibagi dengan delapan ratus rupiah per unit atau
sama dengan seratus dua puluh lima ribu unit untuk setiap periode. Dengan mengetahui titik
impas sebesar 125.000 unit per periode maka jika perusahaan tidak ingin menanggung kerugian,
proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan minimal sebesar seratus dua puluh lima ribu
unit per periode. Secara teknikal perusahaan ini bisa saja memproduksi produk dalam posisi
kurang dari jumlah itu, namun jika hal tersebut dilakukan maka perusahaan tersebut pasti
mengalami kerugian. Produksi pada jumlah unit tepat pada titik impas perusahaan tidak
mengalami kerugian dan juga tidak memperoleh keuntungan. Produksi dengan jumlah unit
kurang dari titik impas akan mengakibatkan kerugian perusahaan. Jika ingin memperoleh
keuntungan, produksi harus dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari titik impas. Dengan
demikian, pengetahuan tentang titik impas ini akan dapat memandu manajemen perusahaan
untuk menentukan keputusan proses di dalam perusahaan agar tidak menimbulkan kerugian bagi
perusahaan tersebut. Apabila manajemen perusahaan tersebut semata-mata hanya
mempertimbangkan masalah teknikal, boleh jadi akan terjebak kepada keputusan yang
merugikan perusahaan.

Untuk merancang suatu program perbaikan efektivitas keorganisasian, perusahaan


pertama kali harus menentukan sesuatu yang terjadi secara faktual apakah dalam hal
produktivitas atau mutu produk. Misalnya mungkin saja perusahaan pertanian sedang mengalami
penurunan keuntungan karena sedang menghadapi resesi ekonomi atau mungkin juga karena
perubahan musim. Ukuran dari kriteria kunci suatu mutu adalah syarat pokok untuk menilai
suatu proses perbaikan. Intervensi produktivitas atau mutu seharusnya tidak diinisiasi
tanpa adanya kriteria kunci ukuran yang handal dan absah.

Banyak faktor yang menentukan produktivitas dan mutu produk yang rendah. Faktor-
faktor tersebut antara lain peralatan yang kuno, beban kerja yang tidak dapat diprediksi, arus
kerja yang tidak efisien, rancangan pekerjaan tidak tepat, dan jarangnya kegiatan pelatihan dan
pengembangan. Disamping itu adalah faktor-faktor intrinsik karyawan itu sendiri seperti tingkat
pengetahuan, sikap,ketrampilan dan kemampuan serta motivasi. Semuanya dapat menyebabkan
biaya produksi menjadi mahal.

Kebanyakan strategi intervensi program perbaikan mengasumsikan bahwa faktor-faktor


penyebab utama produktivitas dan mutu adalah kemampuan dan motivasi karyawan. Namun dari
pengamatan di berbagai perusahaan besar, sekitar 80-85% dari masalah produktivitas dan mutu
dalam perusahaan adalah lebih karena faktor-faktor sistem daripada faktor manusia. Misalnya,
ketidakberhasilan penerapan gugus kendali manajemen sangat ditentukan oleh bahan baku yang
rusak, rancangan produksi yang salah, kesalahan manajemen, dan pemeliharaan perlatan
produksi yang kurang. Implikasinya adalah perbaikan produktivitas dan mutu lebih banyak
didasarkan pada sistemnya itu sendiri; tidak selalu dari unsur manusianya.

Namun demikian bukan berarti pula bahwa unsur manusia tidak menentukan
produktivitas dan mutu produk. Sebagai pelaku produksi tentunya langsung dan tidak langsung
dapat mempengaruhi produktivitas dan mutu. Perdebatan masih tetap berlangsung tentang faktor
mana yang paling dominan, apakah sistem atau manusia. Karena itu kalau akan melakukan
perbaikan produktivitas dan mutu, manajer harus melakukan analisis dan pendekatan masalah
yang spesifik di perusahaan.
D. SIMPULAN DAN SARAN

Perencanaan adalah fungsi manajemen yang paling pokok dan sangat luas meliputi
perkiraan dan perhitungan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu yang akan
datang mengikuti suatu urutan tertentu. Proses perencanaan produk dilakukan sebelum suatu
proyek pengembangan produk secara formal disetujui, sumber daya yang penting dipakai dan
sebelum tim pengembang yang lebih besar dibentuk. Perencanaan produksi (Production
Planning) adalah salah satu dari berbagai macam bentuk perencanaan yaitu suatu kegiatan
pendahuluan atas proses produksi yang akan dilaksanakan dalam usaha mencapai tujuan yang
diinginkan perusahaan.

Jika suatu perusahaan ingin menciptakan sebuah produk baru atau mengembangkan
sebuah produk yang sudah ada, buatlah perencanaan produk terlebih dahulu. Tujuan perencanaan
harus tegas, jelas dan mudah dimengerti.
E. DAFTAR PUSTAKA

Achyari, Agus. Modul Manajemen Operasi. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.

Iswahyudi, Christian. 2012. Tujuan dan Tahapan Dalam Pembuatan Perencanaan Pada
Sebuah Perusahaan atau Organisasi. Bali: Academia.edu.

Jo, Harjo, 2014. Makalah Perencanaan Produksi Pasti, (http://harjo820.blogspot.co.id


diakses tanggal 19 September 2015)

Rson, 2009. Proses Perencanaan Perusahaan, (http://son-r-son.blogspot.co.id diakses


tanggal 20 September 2015)

Sampoerna, 2011-2013. PT HM Sampoerna Tbk, (http://www.sampoerna.com diakses


tanggal 20 September 2015)