Anda di halaman 1dari 12

PUSAT PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

UIN RADEN FATAH PALEMBANG

UJIAN AKHIR SEMESTER GENAP TAHUN 2016

Mata Kuliah : MANAGEMENT KONFLIK


Kelas / Semester : I ( Satu )
Hari / Waktu : Selasa, 13.50 WIB
Dosenpembimbing : Suskito, M. Pd.I.

Nama : Inggrid Kencanawati Tamara


Nim : 13290037
Kelas : MPI. A

1. Tuliskan konsep heterogenitas dan konflik social?


Jawab :
Heterogenitas (keanekaragaman) struktural perbedaan tingkat upah buruh di negara
yang sedang berkembang akan menimbulkan perbedaan pendapatan dalam masyarakat.
Ada dua macam Heterogenitas, yaitu:
a. Heterogenitas masyarakat berdasarkan profesi/pekerjaan; Setiap pekerjaan memerlukan
tuntutan profesionalisme agar dpat dikatakan berhasil. Setiap pekerjaan juga memiliki
fungsi di masyarakat karena merupakan bagian dari struktur masyarakat itu sendiri.
b. Heterogenitas atas dasar jenis kelamin; di Indonesia biarpun secara konstitusional tidak
terdapat diskriminasi sosial atas dasar jenis kelamin, namun pandangan “gender” masih
dianut sebagaian besar masyarakat Indonesia. Pandangan gender ini dikarenakan faktor
kebudayaan dan agama. Apabila kita melihat kemajuan Indoensia sekarang ini, banyak
perempuan yang berhasil mengusai Iptek dan memiliki posisi yang strategis dalam
masyarakat.
Sedangkan macam-macam Konflik Sosial dibagi menjadi, sebagai berikut:
a. Konflik antar inidividu; merupakan pertentangan atau konflik yang disebabkan oleh
sentimen satu individu dengan individu lain di dalam masyarakat. Contoh konflik individu
adalah perkelahian antar dua orang pelajar dikarenakan memperebutkan suatu hal yang
sama.
b. Konflik politik; suatu perselisihan yang terjadi antara dua pihak, ketika keduanya
menginginkan suatu kebutuhan yang sama dan ketika adanya hambatan dari kedua pihak,
baik secara potensial dan praktis. Contoh: Gerarakan 30 September adalah sebuah
peristiwa yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 dimana enam pejabat tinggi militer
Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan Kudeta
yang dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
c. Konflik Antarkelas Sosial; dipicu adanya perbedaan kepentingan antara kedua golongan
tersebut. Misalnya: antara karyawan pabrik dengan pemiliknya karena tuntutan kenaikan
gaji karyawan akibat minimnya tingkat kesejahteraan.
d. Konflik antar kelompok sosial; konflik antar kelompok adalah konflik yang terjadi ketika
ada dan kepentingan sama atau berbeda dengan tujuan berbeda dari masing-masing
kelompok atau dapat dikatakan bahwa dalam hubungan antar kelompok terdapat dua
tujuan berbeda terhadap sesuatu yang sama.
e. Konflik antar generasi; konflik yang terjadi antara generasi tua yang mempertahankan
nilai-nilai lama dan generasi mudah yang ingin mengadakan perubahan. Contoh: Pergaulan
bebas yang saat ini banyak dilakukan kaum muda di Indonesia sangat bertentangan
dengan nilai-nilai yang dianut generasi tua.
f. Konflik Internasional; pertentangan yang melibatkan antara dua negara atau lebih.
g. Konflik Agama; yang disebabkan sentimen kelompok dari kelompok agama satu dengan
kelompok agama lain. Contoh konflik agama yang pernah terjadi seperti kerusuhan antara
muslim dan Kristen di Poso Sulawasi
Masyarakat dan keanekaragamannya (heterogenitas) adalah permasalahan yang
memang selalu ada dalam klehidupan ini. Masyarakat terbentuk karena adanya perbedaan,
sementara perbedaan sendiri menjadikan kehidupan dalam bermasyarakat menjadi lebih hidup,
lebih menarik dan layak untuk diperbincangkan.
Indonesia dan bahkan Negara lain juga memiliki permasalahan sosial saat menuju
sebuah integrasi nasional diatas keragaman tersebut, yaitu berupa konflik. Konflik itu jika
tidak dikendalikan akan dengan mudah merusak persatuan dan kesatuan. Dalam
perkembanganya, bangsa Indonesia sekarang memiliki konflik yang sangat kompleks. Tak
hanya karena isu-isu etnis atau suku bangsa, agama, dan ras, sekarang beberapa faktor baru
seperti permasalahan politik, ketidakadilan hukum dapat memicu adanya konflik sosial, seiring
dengan perubahan zaman perkembangan teknologi telah memberikan arti penting pada
perubahan sosial dengan berbagai konsekuensinya. Implikasi positif dari pembangunan, adalah
terkondisinya masyarakat yang mandiri dengan semangat kerja yang tinggi dan menghargai
waktu serta prestasi di atas semua keragaman. Konsep heterogenitas di saat ini telah beperan
penting juga memberikan kedudukan bagi siapa saja dalam berpartisipasi menghadapi konflik
sosial di lingkungannya, Setiap pekerjaan juga memiliki fungsi di masyarakat karena
merupakan bagian dari struktur masyarakat itu sendiri. Hubungan antar profesi atau orang
yang memiliki profesi yang berbeda hendaknya merupakan hubungan horisontal dan hubungan
saling menghargai biarpun berbeda fungsi, tugas, bahkan berbeda penghasilan

2. Secara umum, apa yang menyebabkan terjadinya konflik, tuliskan ?


Jawab :
a. Terjadinya perubahan social dalam masyarakat
Salah satu faktor terjadinya konflik social adalah terjadinya perubahasan social pada
masyarakat. Perubahan sosial pada dasarnya merupakan perubahan dari suatu keadaan
kepada keadaan lain, yang dapat menimbulkan dampak yang berbentuk sebuah kemajuan
(progress) maupun berebnruk sebuah kemunduran (regress.

b. Perbedaan antar perorangan


Perbedaan ini dapat berupa perbedaan perasaan, Pendirian atau pendapat. Dan perbedaan-
perbedaan inilah yang dapat melahirkan sebuah konflik, karena memang sudah fitrahnya,
setiap individu itu dalam intraksinya dengan masyarakat tentunya tidak selamnya
mempunyai presfektif atau pendapat yang dalam menanggapi sesuatu.

c. Perbedaan Kultur Budaya dan Agama


Dalam morespon begitu maraknya terjadi kekerasan karena terjadi perbedaan dalam kultur
budaya dan juga mengatasnamakan agama, maka lahirnya banyak tokoh-tokoh moderat
dan libral sekuler di Indonesia yang meyumbangsikan pemikirannya, misalnya Nurcholis
Majid dengan Pluralismenya, Gusdur denga Pribumisasi Islam dan sebagainya.

d. Perbedaan Kepentingan
Bentrokan kepentingan dapat terjadi di bidang ekonomi, politik, dan sebagainya. Hal ini
dikarenakan setiap individu mempunyai kebutuhan dan kepentingan yang berbeda dalam
melihat atau mengerjakan sesuatu. Demikian halnya pula dengan suatu kelompok tentunya
akan memiliki kebutuhan dan kepentingan yang tidak sama dengan kelompok lain. jadi
terjadinya perbedaan terhadap kebutuhan dan kepentingan baik individu atau kelompok
inilah salah satu dari penyebab terjadinya konflikm social.

3. Apa yang dimaksud dengan strategi manajemen konflik ?


Jawab :
Siagaan. Strategi merupakan serangkaian keputusan dan tindakan yang mendasar yang
dibuat oleh menejemen puncak dan diterapkan seluruh jajaran dalam suatu organisasi demi
pencapaian tujuan organisasi tersebut
A.Halim. strategi merupakan suatu cara dimana sebuah lembaga atau organisasi akan
mencapai tujuannya sesuai peluang dan ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi serta
kemampuan internal dan sumber daya. Sedangkan manajemen ialah:
George R. Terry, mengatakan bahwa manajemen merupakan proses yang khas yang
terdiri dari tindakan-tindakan : perencanaan, pengorganisasian, menggerkan dan pengawasan
yang dialkukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan
melalui pemanfaatan sumber daya manusia serta sumber-sumber lain.
Mary Parker Follet, mendefinisikan manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan
melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan
mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Dan konflik
Konflik dapat berupa perselisihan (disagreement), adanya ketegangan (the presence of
tension), atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering
menimbulkan sikap oposisi antara kedua belah pihak, sampai kepada tahap di mana pihak-
pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai penghalang dan pengganggu tercapainya
kebutuhan dan tujuan masing-masing. (wiliam hendriks, 2001).
Menurut penulis UAS ini, Strategi manajemen konfilik merupakan suatu cara yang
dilakukan dengan tahapan-tahapan untuk memecahkan masalah yang ada dengan tindakan-
tindakan yang tepat sasaran, sesuai dengan memanfaatkan peluang, mengatasi ancaman,
mencegah dampak negative, mengurangi perselisihan yang ada dalam konflik tersebut.

4. Tuliskan macam-macam gaya manajemen konflik ?


Jawab :
Berikut ini adalah (5) lima gaya manajemen konflik:
a. Menghindar (the passive turtle)
Tidak ikutan konflik, tidak mau mengidentifikasi dengan salah satu pihak, netral. Orang
seperti ini membuat orang lain yang harus bertanggung jawb untuk menyelesaikan
konflik. “Itu bukan masalah saya; saya tidak mau ikut campur.
Orang seperti ini membebankan tanggung jawab kepada orang lain. Energi anggota habis
termakan konflik. Untuk jangka panjang, gaya ini dapat mengakibatkan perasaan tak
berdaya, frustrasi dan permusuhan yang semakin besar di pihak si penghindar ini.

b. Akomodatif (the lovable/teddy bear)


Mengalah untuk menjaga hubungan dalam kelompok atau antara pihak-pihak yang
berkonflik. Pesanyang dikembangkan adalah: “Kebersamaan kita lebih penting daripada
issu-issu yang dipertentangkan.” Mereka yang akomodatif ini akan melakukan apapun
yang mungkin dilakukan untuk mengurangi resiko rusaknya hubungan dengan mereka
yang terlibat. Bagi mereka, hubungan baik itu lebih penting daripada issu, tujuan, atau
progress dalam pekerjaan.
Orang yang akomodatif mencoba merangkul semua yang terlibat dalam konflik. Bila
konfrontasi tidak bisa dihindari, dia akan mengusulkan solusi yang paling dapat menjaga
hubungan baik. Dia asertif untuk mencari solusi yang bisa diterima orang lain, tetapi
sering tidak asertif untuk kepentingannya sendiri. Dia bersedia mengorbankan diri da
aspirasinya dan bahkan bersedia menerima kesalahan untuk konflik jika itu memang dapat
membawa perdamaian dan harmoni.

c. Kolaborasi (the wise owl)


Dengan bekerjasama untuk mencapai penyelesaian yang “win” untuk semua
pihak. Seseorang dengan gaya ini berorientasi pada issu dan juga hubungan baik. Dia
percaya bahwa orang dapat menyelesaikan masalahnya. Konflik tidak dihindari, tetapi
dialihkan menjadi suatu proses yang positif dan menyelesaikan masalah,
Dia yakin bahwa konflik dapat dikelola sedemikian rupa sehingga dapat mengarah
pada pertumbuhan positif bagi individu-individu yang terlibat dan bagi organisasi. Dia
memiliki komitmen untuk keputusan yang win-win dan mendorong orang saling
menghargai, komunikasi terbuka, dan partisipasi penuh dari semua orang dalam
penyelsaian konflik. Dengan tindakan ini seolah-olah dia ingin mengatakan bahwa, “Saya
peduli dan ingin menjaga hubungan baik,” tapi dia juga mengatakan, “Saya menghadapi
masalah dan akan menyampaikan dan membela ide dan tujuan saya serta ide dan tujuan
orang lain.”
d. Kompromi (the wily fox)
Memberi kepada tiap pihak sedikit kemenangan dan sedikit kekalahan. Gaya ini
dipakai karena pertimbangan tidak mungkin sepenuhnya memuaskan semua pihak; jadi
tujuannya agar semua pihak paling tidak merasa sedikit puas sementara hubungan tetap
terjaga.
e. Berkompetisi (the aggressive shark)
Gaya ini berangapan bahwa hanya ada dua pilihan: menang atau kalah; dan menang itu
lebih baik. Mereka tidak peduli apakah ini akan menyakiti pihak lain atau merusak
hubungan. Mereka merasa bahwa merekalah yang memiliki gagasan, nilai dan tujuan yang
paling penting dan mereka bersedia mengorbankan hubungan baik jika dianggap perlu.

5. Apa manfaat manajemen konflik dalam organisasi ?


Jawab :
Beberapa manfaat dari manajemen konflik, yaitu: 1) konflik membuat suatu organisasi
lebih mampu meningkatkan profesionalnya 2) Konflik membuat kita sadar, meningkatkan
kesadaran dan memahami diri, serta membangkitkan tenaga dan motivasi untuk mengatasi
masalah yang perlu diselesaikan. 3) Konflik mendorong perubahan dan membuat kehidupan
lebih menarik. 4) Keputusan yang lebih baik umumnya dibuat setelah adanya tanggapan-
tanggapan dan perbedaan pendapat, serta mengurangi kejengkelan karena konflik dibuka dan
diselesaikan. 5) Konflik memperdalam dan memperkaya suatu kehidupan. 6) konflik
mendewasakan pemikiran seseorang yang dapat mengambil hikmah atau niai positif dalam
mengelola konflik yang bisa berdampak negatif.

6. Tuliskan secara singkat satu contoh kasus konflik yang terjadi dalam organisasi
pendidikan ?
Jawab :
KASUS PRO DAN KONTRA TERHADAP IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
KOMPAS.com – Dalam beberapa bulan terakhir, harian Kompas memuat tulisan dari
mereka yang pro ataupun kontra terhadap rencana implementasi Kurikulum 2013. Saya
menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi atas berbagai pandangan
tersebut.
Saya berkesimpulan, mereka yang mempertanyakan Kurikulum 2013 adalah karena ada
perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh konsep kurikulum berbasis
kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013. Secara falsafati, pendidikan adalah proses
panjang dan berkelanjutan untuk mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang
sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam
semesta, beserta segenap isi dan peradabannya.
Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu dirumuskan dalam indikator strategis,
seperti beriman-bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan
kompetensi abad ke-21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas bahwa tujuan
pendidikan harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi.
Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yakni sikap,
pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia seutuhnya. Dengan
demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi himpunan kompetensi dalam
tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah
kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa,
berilmu, dan seterusnya. Isunya dalam melaksanakan kurikulum 2013 memerlukan biaya yang
tidak sedikit berikut yang harus dilakukan dalam impelemntasi kurikulum 2013:

a. Mahalnya Biaya pendidikan


Walaupun dibeberapa daerah sudah ada bantuan pendidikan bahkan sampai membebaskan
biaya pendidikan tapi program tersebut belum dapat dirasakan oleh seluruh warga negara
di Indonesia sehingga banyak anak atau calon siswa yang kurang beruntung dapat
menikmati pendidikan. masalah ini hanya dapat diselesaikan dengan memberikan
anggaran lebih dalam bidang pendidikan sehingga biaya pendidikan bisa murah atau
bahka gratis.
b. Rendahnya pemerataan pendidikan
Mungkin bagi saya yang hidup dikota besar merasa beruntung begitu banyaknya fasilitas
pendidikan dan tenaga pengajar untuk mendukung implemntasi kurikulum 2013, tapi bagi
warga lain yang hidup jauh dari pusat kemajuan seperti kita ambil contoh dipedalaman
papua, masih sedikit fasilitas dan tenaga pengajar sehingga pemerataan pendidikan tidak
bisa maksimal. untuk mengatasi masalah ini adalah sama dengan point pertama yaitu
menambah anggaran dibidang pendidikan sehingga dapat membangun fasilitas
pendidikan dan mengirimkan guru kedaerah yang masih sedikit atau bahkan belum
terjangkau fasilitas pendidikan.
c. Rendahnya Kualitas Guru
Dijaman yang akses Informasi dan Teknologi yang berkembang pesat ini Guru dituntut
untuk mengikuti perkembangan dan tren pendidikan, sekarang sumber informasi tidak
hanya bisa didapat dari buku, atau berita, tapi sumber lain seperti Internet dan Media
sosial mempunyai pengaruh besar dalam menyebarkan Informasi dan berita baru tentang
pendidikan sehingga sering terjadi seorang siswa lebih "pintar" daripada Gurunya. hal ini
dapat diselesaikan dengan memberikan pengenalan, pelatihan untuk dapat menggunakan
media-media Informasi dan teknologi yang sedang berkembang sekarang.
Peran untuk melakukan perbaikan dalam dunia pendidikan adalah Pemerintah sebagai
pembuat kebijakan, Guru / tenaga pengajar sebagai pengarah dan pendorong bakat dan minat
siswa dan orang tua yang berperan untuk mengenali bakat, minat dari seorang anak. Untuk
menyelesaikan masalah di atas kepala sekolah melakukan pelatihan dan pembinaan, serta
melakukan pengelolaan yang tepat secara efektif (tepat guna) dan efisien (berdaya guna)

7. Tuliskan peran aktif dunia pendidikan dalam mengatasi konflik agama, Sosial, budaya
dan etnis ?
Jawab :
Pendidikan pada hakikatnya akan mencakup 3 dasar pendidikan (tri dharma pendidikan)
yakni;
a) Kegiatan mendidik dan mengajar
Istilah mendidik dan mengajar menunjukkan usaha yang lebih ditujukan pada
pembentukan watak dalam mengembangkan budi pekerti hati nurani kecintaan, rasa
kesusilaan dan lain-lain serta memberi ilmu yang bermanfaat bagi perkembangan
kemampuan intelektual manusia.

b) Kegiatan penelitian
Kegiatan penelitian merupakan aplikasi dari pengetahuan yang didapat peserta didik untuk
menjawab permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitar lingkungannya sehingga
akan terjadi sesuatu pembiasaan dalam bertindak. Baik budaya yang dilakukan dilingungan
sekitar.

c) Pengabdian pada masyarakat.


Pengabdian dalam masyarakat adalah hal yang paling penting dalam transformasi nilai
pendidikan sehingga pendidikan bisa berfungsi untuk menyelesaikan persoalan hidup bagi
masyaraka yang lebih baik.

Pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasai suatu konflik social dalam kelas,
trutama peran seorang guru. Dalam masalah sosial, guru pembimbing sangat dibutuhkan dalam
menangani masalah ini. Dengan cara mendiagnosis masalah sosial siswa, diagnosis dilakukan
dalam rangka memberikan solusi terhadap siswa yang mengalami masalah sosial.

Untuk mendapatkan solusi secara tepat atas permasalahan sosialnya, guru harus terlebih
dahulu melakukan identifikasi dalam upaya mengenali gejala-gejala secara cermat terhadap
fenomena-fenomena yang menunjukkan kemungkinan adanya permasalahan sosial yang
melanda siswa. Diagnosis dilakukan untuk mengetahui dan menetapkan jenis masalah yang
dihadapi klien lalu menentukan jenis bimbingan yang akan diberikan. Dalam melakukan
diagnostik masalah sosial siswa perlu ditempuh langkah-langkah sebagai berikut:

a) Mengenal peserta didik yang mengalami masalah sosial


Dalam mengenali peserta didik yang mengalami masalah sosial, cara yang paling mudah
adalah dengan melaksanakan sosiometri. Sosiometri merupakan suatu metode untuk
mengumpulkan data terntang pola dan struktur hubungan antara individu-individu dalam
suatu kelompok. Sehingga, akan tergambar siswa yang mengalami masalah sosial.

b) Memahami sifat dan jenis masalah sosial


Langkah kedua dari diagnosis masalah sosial ini mencari dalam hubungan apa saja peserta
didik mengalami masalah sosial. Dalam hal ini guru pembimbing memperhatikan
bagaimana perilaku siswa dalam pergaulan, baik di sekolah, rumah dan masyarakat.

c) Menetapkan latar belakang masalah sosial


Langkah ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang latar belakang yang menjadi
sebab timbulnya masalah sosial yang dialami siswa. Cara ini dilakukan dengan mengamati
tingkah laku siswa yang bersangkutan, selanjutnya dilakukan wawancara dengan guru,
wali kelas, orang tua dan pihak-pihak lain yang dapat memberikan informasi yang luas dan
jelas.

d) Menetapkan usaha-usaha bantuan


Setelah diketahui sifat dan jenis masalah sosial serta latar belakangnya, maka langkah
selanjutnya ialah menetapkan beberapa kemungkinan tindakan-tindakan usaha bantuan
yang akan diberikan, berdasarkan data yang diperoleh.

e) Pelaksanaan bantuan
Langkah ini merupakan pelaksanaan dari langkah sebelumnya, yakni melaksanakan
kemungkinan usaha bantuan. Pemberian bantuan dilaksanakan secara terus menerus dan
terarah dengan disertai penilaian yang tepat sampai pada saat yang diperkirakan. Bantuan
untuk mengentaskan masalah sosial terutama menekankan akan penerimaan sosial dengan
mengurangi hambatan-hambatan yang menjadi latar belakangnya. Pemberian bantuan ini
bisa dilakukan melalui layanan konseling kelompok yang memanfaatkan dinamikan
kelompok.

f) Tindak lanjut
Tujuan langkah ini ialah untuk menilai sejauh manakah tindakan pemberian bantuan telah
mencapai bantuan telah mencapai hasil yang diharapkan. Tindak lanjut dilakukan secara
terus menerus, baik selama, maupun sesudah pemberian bantuan. Dengan langkah ini
dapat diketahui keberhasilannya.

Perbedaan di antara manusia dalam agama terjadi karena kehendak Allah Swt. dan
orang muslim meyakini kehendak Allah itu tidak ada yang dapat menolak dan mengubahnya,
sebagaimana dia tidak berkehendak kecuali didalamnya terdapat kebaikan dan hikmah.
Ungkapan Yusuf Qordhawi ini dalam bukanya yang membahas tentang orang-orang Muslim
telah membuka pintu pemahaman bagaimana sikap non muslim yang hidup di Negara Islam
maupun di luar negeri Islam.

Dalam Al-Qur’an telah di jelaskan juga tentang pernyataan bahwa Allah yang
menghendaki perbedaan pada diri manusia, oleh karena itu walaupun kita mengembor-
ngemborkan menolak perebedaan, maka berarti mereka tidak menyadari bahwa itu sudah
tradisi manusia dan sudah menjadi kehendak Allah. firman Allah yang artinya :

“Jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang dimuka bumi seluruhnya.
Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang
beriman sema?” (Qs. Yunus [10]:99).
Jadi perbedaan cara pandang, budaya, ras, suku, bangsa, agama dan sebagainya sudah
menjadi hukum alam manusia lebih terarah akan hidup yang akan dijalaninya. Dengan
pendididikan dan ilmu penegetahuan membuat . Untuk itu sebagi sebuah lembaga Pendidikan
tentunya harus mampu memberikan sumbangsi konkritnya untuk menjawab konflik-konflik
sosial yang akhir-akhir ini begitu kompelks, khususnya dalam agama. Multikulturalisme
beragama saat ini memang sedang mengalami disentergarasi, dimana terjadi banyaknya
konflik antar paham atau aliran, yang mayoritas dari semua kelompok aliran tersebut
memberikan stimulus bahwa agama merekalah yang benar.

8. Ada statement yang mengemukakan bahwa “di dalam diri manusia itupun ada konflik “
bagaimana cara seorang pemimpin menjadikan konflik sebagai nilai-nilai positif yang
akan membangun sebuah kekuatan kerja ?
Jawab :
Menyikapi tak terelakaanya konflik, maka kalau kemudian konflik ini di organisir
menjadi sebuah alat dalam mengkondisikan organisasi dalam proses adaptasi atas lingkungan
yang berubah. Sebagai otoritas hendaknya segera menyadari kalau hal ini tidak diatasi maka
akan menjadi sebuah kebuntuan dalam konteks pertumbuhan organisasi yang diharapkan. Dan
untuk menjadikan konflik sebagai nilai-nilai positif yang akan membangun sebuah kekuatan
kerja;

a. Konflik di jadikan pengembang daya dan semangat kerja (menghasilkan energi positif)
sebagai tauladan bagi bawahan.
b. Memiliki nilai diagnosis (merupakan alat deteksi dini, bagi masalah yang akan segera
muncul). Cepat, tanggap, luewes, strategic, dll
c. Pemacu kreativitas bagi individu dan berdampak ke bawahan (dalam pencarian solusi
yang baru dan kreatif terhadap permasalahan yang dihadapi).
d. Memfokuskan pelajaran apa yang dapat diambil dari konflik tersebut dengan nilai-nilai
e. Sebagai umpan balik (menyetel persepsi terhadap realitas), sebagai empowerment
(pendorong kelompok yang tadinya tidak aktif menjadi lebih aktif menyodorkan ide untuk
menyelesaikan masalah).
f. Sebagai katup pengaman (jika muncul konflik yang lebih intens)
g. Berfungsi sebagai pancing (untuk memancing wacana-wacana yang cemerlang dan
penting bagi organisasi).
h. Sebagai alat pembelajaran (dalam menyampaikan pandangan dengan jelas), dan
mendorong ke arah perubahan (katalis perubahan).
i.
9. Saat ini Negara kita darurat Narkoba, Darurat Teroris, Darurat Seksual. Apa yang akan
saudara lakukan untuk menangkal ke-daruratan tersebut ?
Jawab :
Dalam menangkal ke-daruratan adanya usaha sadar yang berupa sikap, perilaku atau
tindakan yang dilakukan seseorang melalui langkah-langkah tertentu untuk menghadapi
peristiwa yang kemungkinan terjadi dalam hidup baik dari perubahan, pemerintahan,
masyarakat, keluarga, pergaulan, dan individu masing-masing. Beberapa upaya untuk
menanggkalnya adalah :
a. Penanaman nilai dan norma yang kuat
b. Penanaman nilai dan norma yang kuat
c. Berkepribadian Kuat dan Teguh
Upaya-upaya Mengatasi Penyimpangan Sosial
a. Sanksi yang tegas
b. Giatkan gerakan-gerakan untuk melawan ke-daruratan tersebut dalam lembaga pendidikan
dan lingkungan masyarakat
c. Rehabilitasi sosial
Sikap Yang Cocok Dalam Menghadapi atau menangkalnya;
a. Tidak mudah terpengaruh
b. Berpikir positif (Positive Thinking)

10. Sebagai sarjana alumni UIN yang berorientasi pada nilai keislaman dan sebagai calon
pemimpin pendidikan. Apa yang akan saudara lakukan untuk mengembangkan
khasanah keislaman di tengah konflik social pendidikan yang ada?
Jawab :
Konflik disebabkan oleh lemahnya moralitas bangsa. Hal ini tidak cukup diselesaikan
hanya dengan pendidikan multikultural. Tetapi, harus diselesaikan melalui proses pendidikan
secara sitemik dan komprehensif yang salah satu dimensinya menanamkan moralitas
berbangsa, termasuk moralitas multikultural. Bukan diselesaikan oleh program pendidikan
bernama pendidikan multikultural, karena nama ini menunjuk pada entitas sosial, tidak
menunjuk pada subtansi. Nama yang lebih subtansial adalah Pendidikan Moral Bangsa. Istilah
ini bukan nama pelajaran, tetapi jiwa dan semangat yang dihidupkan pada semua mata
pelajaran dan keseluruhan kehidupan lingkungan pendidikan. Dengan demikian, maka bisa jadi
konsep pendidikan multikultural hanyalah merupakan kebijakan reaktif - emosional dan parsial
terhadap fenomena gejala konflik. Pada perkembangan terakhir mengenai pendidikan anti
korupsi, pendidikan karakter, dan pendidikan multikultural. Kebijakan reaktif pada bidang
pemerintahan, dibentuk komisi-komisi, satgas, tim lima, tim sembilan dan lain-lain untuk
mengatasi permasalahan. Ternyata, banyak kebijakan yang digagas hanya sesaat atas suatu
fenomana permasalahan yang muncul kemudian akan hilang begitu saja tanpa berita.
Solusi yang ditawarkan ialah pendidikan moral secara integral dalam sistem
pendidikan nasional. Tuntutan sifat integralistik pendidikan moral didasarkan alasan bahwa
prinsip dan norma multikultural dalam sistem pendidikan nasional harus diletakkan dalam satu
tarikan nafas dengan norma dan prinsip meningkatkan keimanan, ketaqwaan, akhlaq mulia dan
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan moral berbangsa, termasuk moral
bermultikultural, harus hidup dalam proses pembelajaran semua mata pelajaran, serta
keseluruhan kehidupan pendidikan. Dari segi prilaku, moral merupakan ekspresi positif yang
teridentifikasi dalam bersikap, berpikir, dan berbuat. Tindakan bermoral terekspresikan dalam
segala bentuk prilaku kebaikan pada segala bidang kehidupan, seperti kehidupan hukum,
kehidupan ekonomi, kehidupan budaya (multikultural), kehidupan beragama, kehidupan
politik, dan kehidupan lainnya. Berhubung saya jurusan manajemen saya untuk
mengembangkan khasanah keislaman di tengah konflik sosial harus disesuaikan dengan
perubahan zaman akan tetapi tidak menghilangkan nilai-nilai islam itu sendiri. Bagaimana
caranya dengan pengelolaan yang terartur, pasti, dan tentunya harus dilaksanakan dengan
optimis karena terkadang suatu program yang dilakukan sering berhenti di pertengahan
sehingga hasilnya tidak kelihatan. Selain itu sebuah komitmen yang telah dibuat untuk
pemecahan masalah dalam konflik sosial harus lah benar-benar berdasarkan filosofis, teoritis,
historis, dan sosiologis. Selain fator-fator yang saya uraikan di atas untuk khasanah keislaman
di tengah konflik pendidikan tak luput juga dari sikap, prilaku, gaya individu seorang
pemimpin yang bisa menjadi tauladan bagi bwahannya dapat mempengaruhi, mengajak, dan
mengarahkan dengan tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Sumber:
Ahmad Rohani, Bimbingan dan Konseling, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991). Winardi,
Manajemen Konflik (Konflik Perubahan dan Pengembangan), (Cet. I; Bandung: Mandar
Maju, 1994).
Djati Julitrisman dan John Suprihanto, Manajenen Umum Sebuah Pengantar, (Cet. III;
Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta).
Http://kbbi.web.id/heterogenitas.Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kamus versi
online/daring (dalam jaringan)/10/06/2015
https://asrikoe.wordpress.com/2011/11/30/heterogenitas-masyarakat-kota/09/06/2016
https://saveindo.wordpress.com/2010/01/14/mengelola-konflik-secara-efektif/10/06/2016
Winardi. 1994. Manajemen Konflik (Konflik Perubahan Dan Pengembangan). Bandung.
Penerbit: CV. Mandarmaju