Anda di halaman 1dari 9

Konsumsi Rumah Tangga Menopang Ekonomi Indonesia

Konsumsi adalah segala kegiatan atau tindakan menghabiskan atau mengurangi


kegunaan (daya guna) barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan. Pembelanjaan masyarakat
atas makanan, pakaian, dan barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan
pembelanjaan atau konsumsi. Barang-barang yang di produksi untuk digunakan oleh
masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi.
Faktor yang mempengaruhi konsumsi :
1. Pendapatan rumah tangga (Household income), semakin besar pendapatan, semakin
besar pula pengeluaran untuk konsumsi.
2. Kekayaan rumah tangga (Household wealth), semakin besar kekayaan, tingkat
konsumsi juga akan menjadi semakin tinggi. Kekayaan misalnya berupa saham,
deposito berjangka, dan kendaraan bermotor.
3. Prakiran masa depan (Household expectations), bila masyarakat memperkirakan harga
barang-barang akan mengalami kenaikan, maka mereka akan lebih banyak
membeli/belanja barang-barang.
4. Tingkat bunga (Interest rate), bila tingkat bunga tabungan tinggi/naik, maka
masyarakat merasa lebih untung jika uangnya ditabung daripada dibelanjakan. berarti
antara tingkat bunga dengan tingkat konsumsi memepunyai korelasi negatif.
5. Pajak (Taxation), pengenaan pajak akan menurunkan pendapatan disposable yang
diterima masyarakat, akibatnya akan menurunkan konsumsinya.
6. Jumlah dan Konsunsi penduduk, jumlah penduduk yang banyak akan memperbesar
pengeluaran konsumsi. Sedangkan komposisi penduduk yang didominasi penduduk
usia produktif/usia kerja (15-64 tahun) akan memperbesar tingkat konsumsi.
7. Faktor sosial budaya, misalnya, berubahnya pola kebiasaan makan, perubahan etika
dan tata nilai karena ingin meniru kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih
modern. Contohnya adalah berubahnya kebiasaan oranng Indonesia berbelanja dari
pasar tradisional ke pasar swalayan (super market).
Teori Konsumsi Berdasarkan Para Ahli
Teori ini muncul setelah terjadi great depression pada tahun 1929-1930. Teori konsumsi
dikenalkan oleh Jhon Maynard Keynes. Sedangkan kelompok klasik tidak pernah memikirkan
dan mengeluarkan teori konsumsi. Mereka hanya membahas teori produksi. Kaum klasik
percaya bahwa seperti yang dikatakan JB Say: “supply creates its own demand” atau penawaran
akan menciptakan permintaannya sendiri.
1. Teori Konsumsi Keynes
Keynes berpendapat bahwa pengeluaran konsumsi hampir secara penuh di pengaruhi oleh
kekuatan pendapatan. Hubungan antara kedua variabel tersebut dapat dijelaskan melalui fungsi
konsumsi. Fungsi konsumsi menggambarkan tingkat konsumsi pada berbagai tingkat
pendapatan.

Fungsi konsumsi Keynes:


C = a + b Yd

Keterangan:
C = konsumsi seluruh rumah tangga
a = konsumsi otonom, yaitu besarnya konsumsi ketika pendapatan nol
b = marginal propensity to consume (MPC)
Y = pendapatan disposable (pendapatan yang siap dikonsumsi)
Jadi secara umum ada tiga hal penting yang menjadi pemikiran keynes, yaitu:
a. Keynes menduga bahwa kecenderungan mengkonsumsi marginal (MPC) adalah antara
nol dan satu. Ketika pendapatan meningkat maka konsumsi juga akan naik, tapi tidak
sebesar kenaikan pendapatannya.
b. Rasio konsumsi terhadap pendapatan, yang disebut kecenderungan mengkonsumsi rata-
rata (APC), turun ketika pendapatan naik. Menabung merupakan hal yang mewah, jadi
orang kaya menabung dengan proporsi yang lebih tinggi dari pendapatan dibandingkan
dengan orang miskin.
c. Pendapatan merupakan determinan konsumsi yang penting dan tingkat bunga tidak
penting. Ini berbeda dengan ekonom klasik yang beranggapan semakin tinggi tingkat
suku bunga maka akan mendorong tingkat tabungan dan mengurangi konsumsi. Pengaruh
tingkat bunga terhadap konsumsi hanya sebatas teori saja. Karena periode pendek tingkat
bunga atas pengeluaran individu dari pendapatannya bersifat sekunder dan relatif tidak
penting
Fungsi konsumsi Keynes adalah fungsi ekonomi jangka pendek. Keynes tidak mengeluarkan
fungsi ekonomi jangka panjang karena menurutnya in the long run we’re all dead.
2. Teori Konsumsi Kuznet
Apabila Keynes hanya mengeluarkan fungsi konsumsi jangka pendek saja, maka ekonom lainnya
yakni Simon Kuznets menemukan fungsi konsumsi jangka panjang. Menurut kuznets, tidak ada
perubahan yang signifikan terhadap proporsi tabungan terhadap pendapatan ketika pendapatan
semakin meningkat, sehingga dalam jangka panjang, fungsi konsumsi cenderung berbentuk
stabil dan konstan
3. Teori Konsumsi berdasar hipotesis siklus hidup (life cycle hypothesis)
Pendekatan ini dikemukakan oleh Albert Ando, Brumberg, dan Modigliani (abad 18). Mereka
berpendapat bahwa pendapatan relatif lebih rendah pada usia muda dan usia lanjut.
Fungsi Konsumsi dari teori ini adalah:
C= a W

Dengan pola konsumsi manusia seperti huruf C, maka kan terjadi dissaving (mengurangi
tabungan) ketika usia muda dan usia lanjut. Sedangkan pada usia produksi, terjadi peningkatan
saving. Namun mereka berpendapat bahwa dalam jangka panjang rata-rata tabungan E(S) = 0.
4. Teori Konsumsi dengan hipotesis pendapatan permanen
M Friedman (1957) menjelaskan perilaku konsumsi dengan menggunakan hipotesis pendapatan
permanen. Dalam hipotesisnya, pendapatan masyarakat dapat dibedakan menjadi dua yaitu
pendapatan permanen dan pendapatan sementara. Pendapatan permanen adalah pendapatan yang
diharapkan orang untuk terus bertahan dimasa depan. Pendapatan sementara (pendapatan
transitoris) adalah bagian pendapatan yang tidak diharapkan terus bertahan. Nilai pendapatan ini
kadang positif dan kadang negatif.
Ukuran pendapatan sendiri merupakan penjumlahan dan pendapatan permanen dan pendapatan
sementara atau secara matematis ditulis: Y = Yp + Yt
Dimana Y adalah pendapatan yang terukur, Yp adalah pendapatan permanen, dan Yt adalah
pendapatan sementara.
Untuk itu, Friedman beralasan bahwa konsumsi seharusnya tergantung pada pendapatan
permanen karena konsumen menggunakan tabungan dan pinjaman untuk melancarkan konsumsi
dalam menanggapi perubahan pendapatan sementara.
fungsi konsumsi menurut Friedman adalah
C = αYP

Dimana α adalah konstanta yang mengukur bagian pendapatan permanen yang dikonsumsi.
5. Teori Konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif
James Duesenberry mengemukakan tentang teori konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif
dengan menggunakan dua asumsi, yaitu :
a. Selera sebuah rumah tangga atas barang konsumsi adalah interdependen. Artinya
pengeluaran konsumsi rumah tangga dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh
orang sekitarnya (tetangganya).
b. Pengeluaran konsumsi adalah irreversible. Artinya, pola pengeluaran seseorang pada saat
penghasilan naik berbeda dengan pola pengeluaran pada saat penghasilan mengalami
penurunan.
Kedua asumsi tersebut menjadi dasar Duesenberry dalam merumuskan teori konsumsi dalam
jangka panjang dan jangka pendek. Fungsi jangka panjang Deusenberry menggunakan asumsi
pertama, dimana konsumsi seseorang sangat dipengaruhi pola konsumsi masyarakat sekitar.
Akibatnya dalam jangka panjang, kenaikan penghasilan masyarakat secara keseluruhan tidak
akan mengubah distribusi penghasilan seluruh masyarakat. Deusenberry menggunakan asumsi
kedua dalam menurunkan fungsi konsumsi jangka pendek. Menurutnya, besarnya konsumsi
seseorang dipengaruhi oleh besarnya penghasilan tertinggi yang pernah diperoleh. Proporsi
kenaikan pengeluaran konsumsi pada saat penghasilan naik lebih besar nilainya dibandingkan
proporsi penurunan pengeluaran konsumsi pada saat penghasilan turun (Makalah Konsumsi dan
Investasi, Universitas Gunadarma 2013).
Konsumsi Pemerintah
Kewajiban negara dalam rangka menjaga kelangsungan kedaulatan negara (pemerintah)
dan meningkatkan kemakmuran masyarakat, mencakup: mempersiapkan, memelihara, dan
melaksanakan keamanan negara, menyediakan dan memelihara fasilitas untuk kesejahteraan
sosial dan perlindungan sosial, termasuk fakir miskin, jompo, yatim piatu, masyarakat miskin,
pengangguran, menyediakan dan memelihara fasilitas kesehatan, menyediakan dan memelihara
fasilitas pendidikan. Sebagai konsekuensi pelaksanaan kewajibannya, pemerintah perlu dana
yang memadai, dianggarkan melalui APBN/APBD, dan pada saatnya harus dikeluarkan melalui
Kas Negara/Kas Daerah.
Dalam APBN, pengeluaran Pemerintah Pusat dibedakan menjadi Pengeluaran untuk
Belanja dan Pengeluaran untuk Pembiayaan. Pengeluaran untuk belanja terdiri dari: Belanja
Pemerintah Pusat seperti Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Pembayaran Bunga
Utang, Subsidi, Belanja Hibah, Bantuan Sosial, Belanja Lain-lain, dan Dana yang dialokasikan
ke Daerah seperti Dana Perimbangan, Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian. Sedangkan
Pengeluaran untu Pembiayaan tediri dari Pengeluaran untuk Obligasi Pemerintah, Pembayaran
Pokok Pinjaman Luar Negeri, dan Pembiayaan lain-lain.
Adapun jenis-jenis Pengeluaran Negara menurut sifatnya terdiri dari Pengeluaran
Investasi, Pengeluaran Penciptaan Lapangan Kerja, Pengeluaran Kesejahteraan, Pengeluaran
untuk Penghematan Masa Depan, dan Pengularan Lainnya. Pengeluaran Investasi merupakan
pengeluaran yang ditujukan untuk menambah kekuatan dan ketahanan ekonomi di masa datang,
misalnya, pengeluaran untuk pembangunan jalan tol, pelabuhan, bandara, satelit, peningkatan
kapasitas SDM, dll. Pengeluaran Penciptaan Lapangan Kerja merupakan pengeluaran untuk
menciptakan lapangan kerja, serta memicu peningkatan kegiatan perekonomian masyarakat.
Pengeluaran Kesejahteraan Rakyat merupakan pengeluaran yang mempunyai pengaruh langsung
terhadap kesejahteraan masyarakat, atau pengeluaran yang dan membuat masyarakat menjadi
bergembira, misalnya pengeluaran untuk pembangunan tempat rekreasi, subsidi, bantuan
langsung tunai, bantuan korban bencana. Sedangkan Pengeluaran Untuk Masa Depan merupakan
pengeluaran yang tidak memberikan manfaat langsung bagi negara, namun bila dikeluarkan saat
ini akan mengurangi pengeluaran pemerintah yang lebih besar di masa yang akan datang,
pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan masyarakat, dan pengeluaran untuk anak-anak
yatim. Sedangkan Pengeluaran Lain-lain merupakan pengeluaran tidak produktif yang tidak
memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat, namun diperlukan oleh pemerintah,
misalnya pengeluaran untuk biaya perang.
Belanja Modal
Belanja modal merupakan suatu pengeluaran yang dapat dikatakan sebagai pengeluaran
rutin dalam rangka pembentukkan modal yang ada. Dalam hal ini pembelanjaan modal yang
dimaksud dapat berupa tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan , maupun
dalam bentuk fisik lainnya. Belanja modal adalah suatu pengeluaran yang dilakukan untuk
menambah aset tetap atau investasi yang ada sehingga akan memberikan manfaatnya tersendiri
pada periode tertentu.
Dalam hal ini aset yang tetap akan memiliki berbagai macam ciri-ciri yang dapat
berwujud dengan kata lain ciri-ciri yang ada dalam belanja modal sifatnya dapat terlihat. Adapun
ciri-ciri dari belanja modal meliputi:
1. Berwujud
2. Sifatnya menambah
3. Memiliki manfaat yang lebih dari satu periode
4. Nilainya relatif material
Selain itu dalam melakukan belanja modal ada juga aset-aset dari hasil belanja modal yang tidak
berwujud, akan tetapi masih memilki ciri yang sama dengan hasil dari belanja modal lainnya.
Dalam hal ini tentu saja benlanja modal memiliki kriteria tertentu agar dapat dikatakan sebagai
belanja modal. Adapun kriteria tersebut meliputi:
1. Pengeluaran bersifat tetap, menambah aset, menambah masa umur, dan masih dalam
kapasitas yang relatif tinggi
2. Pengeluaran tersebut melebihi batas minimum kapitalis atas aset tetap suatu
pemerintahan
3. Niat dari pembelanjaan tersebut tidak untuk dibagikan.
Bagi Negara seperti Indonesia, konsumsi masyarakat dapat menjadi sebuah kegiatan yang
menopang perekenomian Indonesia. Karena setidaknya ada empat sektor potensial yang akan
menopang laju perekonomian Indonesia pada masa mendatang yakni pelayanan konsumen atau
jasa, pertanian dan perikanan, sumber daya alam, serta pendidikan. Potensi pasar domestik pada
empat sektor tersebut akan meningkat dari USD 0,5 triliun menjadi USD 1,8 triliun (Koran
Sindo, 10 Juni 2015). Di samping itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh konsumsi
Lembaga Non-Publik yang melayani Rumah Tangga (LNPRT), sejalan dengan berlangsungnya
serangkaian kegiatan terkait dengan Pemilihan Kepala Daerah. Penghematan anggaran di tingkat
pemerintah pusat untuk mengurangi defisit APBN, berdampak pada kontraksi pertumbuhan
konsumsi pemerintah di DKI Jakarta pada akhir tahun. Hal ini berdampak pada melemahnya
pertumbuhan PDRB pada triwulan IV 2016 (5,51 persen; yoy) dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya yang mencapai 6,10 persen (yoy).
Penghematan anggaran juga berimplikasi pada penundaan pemberian Dana Bagi Hasil
(DBH) kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berimplikasi pada tertundanya beberapa
proyek di Jakarta sehingga menyebabkan investasi bangunan di Jakarta tumbuh melambat. Dari
sisi lapangan usaha, membaiknya konsumsi di ibukota turut mendorong peningkatan
pertumbuhan sektor perdagangan, informasi dan telekomunikasi, transportasi dan pergudangan,
serta jasa perusahaan. Sementara, sektor industri pengolahan pada tahun 2016 ini tumbuh
melemah sejalan dengan kinerja ekspor DKI Jakarta yang masih mengalami pertumbuhan
negatif.
Bank Indonesia memperkirakan perbaikan dan pertumbuhan ekonomi akan terus
berlanjut pada tahun 2017. Pertumbuhan ekonomi masih akan didukung oleh konsumsi rumah
tangga dan investasi pemerintah melalui kelanjutan pembangunan berbagai proyek infrastruktur
strategis dan proyek infrastruktur pendukung untuk penyelenggaraan Asian Games tahun 2018
(Liputan6, 7 Februari 2017).
Selain ditopang oleh konsumsi, pertumbuhan ekonomi domestik juga akan didongkrak
oleh investasi. Bahkan, investasi menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi tahun ini, tanda-
tanda yang cukup positif dapat dilihat dari data belakangan ini. Pertama, yaitu pemulihan pada
pertumbuhan ekspor. Sektor ekspor nasional tahun lalu tercatat tumbuh negatif 1,74 persen,
meski pada kuartal IV 2016 sempat ada perbaikan kinerja dengan peningkatan laju sebesar 4,24
persen. Adapun, ekspor barang dan jasa merupakan komponen terbesar ketiga dalam distribusi
PDB, setelah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto, dengan kontribusi
mencapai 19,08 persen. Selain itu, data investasi langsung menunjukkan bahwa adanya investasi
asing langsung (foreign direct investment/FDI) ke sektor manufaktur menyentuh rekor tertinggi
pada 2016 lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penguatan konsumsi rumah tangga masih
menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional 5,02 persen pada 2016.
Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 4,48 persen. Sektor investasi
tersebut sedikit melambat, namun ikut memberikan kontribusi kepada perekonomian nasional.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2018 mendatang mencapai 6
persen, jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu dan target
tahun ini 5,1 persen. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut, selain bertopang
pada konsumsi rumah tangga, kontribusi investasi juga ditargetkan tumbuh mencapai hingga 8
persen agar mampu mendukung pencapaian target pertumbuhan tersebut (CNN Indonesia, 28
Februari 2017).
Refrensi:
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170228144702-78-196776/konsumsi-diprediksi-
masih-jadi-penopang-perekonomian
https://idtesis.com/pengertian-belanja-modal-dan-ciri
http://bisnis.liputan6.com/read/2848763/konsumsi-rumah-tangga-dorong-pertumbuhan-ekonomi-
jakarta
https://nasional.sindonews.com/read/1010858/18/potensi-indonesia-menjadi-kekuatan-ekonomi-
global-1433899211
Makalah Konsumsi dan Investasi Universitas Gunadarma 2013
Sukirno, Sadono.2011. Makro Ekonomi Teori Pengantar edisi ketiga. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Prtahama Rahardja dan Mandala Manurung. Pengantar Ilmu Ekonomi. Edisi Ketiga. LP FEUI.
2008.