Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas
kehidupan, sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan judul “Hak dan
Kewajiban Warga Negara” berdasarkan UUD 1945”.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Dalam makalah ini membahas tentang pengertian hak, pengetian kewajiban, pengertian warga
negara, asas kewarganegaraan dan hak kewajiban warga Negara berdasarkan UUD 1945. Akhirnya
saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi diri saya sendiri dan khususnya pembaca pada umumnya. Tak ada
gading yang tak retak, begitulah adanya makalah ini.

Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang konstruktif sangat saya harapkan
dari para pembaca guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu
mendatang.

Sidoarjo 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................................1

DAFTAR ISI....................................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................................3

Latar belakang.................................................................................................................................3
Rumusan masalah............................................................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................................................4

Pancasila sebagai solusi problem bangsa seperti korupsi................................................................4

Pancasila sebagai solusi problem bangsa seperti kerusakan lingkungan........................................7

Pancasila sebagai solusi problem bangsa seperti dekadensi moral................................................11

BAB III PENUTUP .................................................................................................................13

DAFTAR ISI .................................................................................................................13

2
BAB I

PENDAHULUAN
Latar belakang

Indonesia adalah Negara kepulauan dan memiliki berbagai suku, agama, ras, budaya, bahasa
daerah, dan golongan serta beberapa agama yang diperbolehkan berkembang di Indonesia.
Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa. Dimana setiap suku bangsa memiliki kebudayaan
yang berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Selain itu masing-masing suku bangsa juga
memiliki norma sosial yang mengikat masyarakat di dalamnya agar taat dan melakukan segala
yang tertera didalamnya. Dalam hal cara pandang terhadap suatu masalah atau tingkah laku
memiliki perbedaan. Ketika terjadi pertentangan antar individu atau masyarakat yang berlatar
belakang suku bangsa yang berbeda, mereka akan mengelompok menurut asal-usul daerah dan
suku bangsanya (primodialisme). Itu menyebabkan pertentangan\ketidakseimbangan dalam suatu
negara(disintegrasi). Secara umum, kompleksitas masyarakat majemuk tidak hanya ditandai oleh
perbedaan-perbedaan horizontal, seperti yang lazim kita jumpai pada perbedaan suku, ras,
bahasa, adat-istiadat, dan agama. Namun, juga terdapat perbedaan vertikal, berupa capaian yang
diperoleh melalui prestasi (achievement). Indikasi perbedaan-perbedaan tersebut tampak dalam
strata sosial, sosial ekonomi, posisi politik, tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan dan kondisi
permukiman.

Rumusan masalah

a) Problem bangsa seperti korupsi


b) Problem bangsa seperti kerusakan lingkungan
c) Problem bangsa seperti dekadensi moral

3
BAB II
PEMBAHASAN

A) PANCASILA SEBAGAI SOLUSI PROBLEM BANGSA SEPERTI KORUPSI

Situasi negara Indonesia saat ini begitu memprihatinkan.Begitu banyak masalah menimpa bangsa
ini dalam bentuk krisis yang multidimensional.Krisis ekonomi, politik, budaya, sosial, hankam,
pendidikan dan lain-lain, yang sebenarnya berhulu pada krisis moral.Tragisnya, sumber krisis justru
berasal dari badanbadan yang ada di negara ini, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, yang
notabene badan-badan inilah yang seharusnya mengemban amanat rakyat.Setiap hari kita disuguhi
beritaberita mal-amanah yang dilakukan oleh orang-orang yang dipercaya rakyat untuk menjalankan
mesin pembangunan ini.
Sebagaimana telah dikatakan bahwa moralitas memegang kunci sangat penting dalam mengatasi
krisis. Kalau krisis moral sebagai hulu dari semua masalah, maka melalui moralitas pula krisis dapat
diatasi.Indikator kemajuan bangsa tidak cukup diukur hanya dari kepandaian warganegaranya, tidak juga
dari kekayaan alam yang dimiliki, namun hal yang lebih mendasar adalah sejauh mana bangsa tersebut
memegang teguh moralitas.Moralitas memberi dasar, warna sekaligus penentu arah tindakan suatu
bangsa.Moralitas dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu moralitas individu, moralitas sosial dan moralitas
mondial.
Moralitas individu lebih merupakan kesadaran tentang prinsip baik yang bersifat ke dalam,
tertanam dalam diri manusia yang akan mempengaruhi cara berpikir dan bertindak. Seorang yang
memiliki moralitas individu yang baik akan muncul dalam sikap dan perilaku seperti sopan, rendah hati,
tidak suka menyakiti orang lain, toleran, suka menolong, bekerja keras, rajin belajar, rajin ibadah dan
lain-lain. Moralitas ini muncul dari dalam, bukan karena dipaksa dari luar. Bahkan, dalam situasi amoral
yang terjadi di luar dirinya, seseorang yang memiliki moralitas individu kuat akan tidak terpengaruh.
Moralitas individu ini terakumulasi menjadi moralitas sosial, sehingga akan tampak perbedaan antara
masyarakat yang bermoral tinggi dan rendah. Adapun moralitas mondial adalah moralitas yang bersifat
universal yang berlaku di manapun dan kapanpun, moralitas yang terkait dengan keadilan, kemanusiaan,
kemerdekaan, dan sebagainya.
Moralitas sosial juga tercermin dari moralitas individu dalam melihat kenyataan sosial.Bisa jadi
seorang yang moral individunya baik tapi moral sosialnya kurang, hal ini terutama terlihat pada
bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat yang majemuk. Sikap toleran, suka membantu
seringkali hanya ditujukan kepada orang lain yang menjadi bagian kelompoknya, namun tidak toleran
kepada orang di luar kelompoknya. Sehingga bisa dikatakan bahwa moral sosial tidak cukup sebagai
kumpulan dari moralitas individu, namun sesungguhnya lebih pada bagaimana individu melihat orang
lain sebagai manusia yang memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang sama. Moralitas individu dan
sosial memiliki hubungan sangat erat bahkan saling tarik-menarik dan mempengaruhi.Moralitas individu
dapat dipengaruhi moralitas social, demikian pula sebaliknya.Seseorang yang moralitas individunya baik
ketika hidup di lingkungan masyarakat yang bermoral buruk dapat terpengaruh menjadi
amoral.Kenyataan seperti ini seringkali terjadi pada lingkungan pekerjaan. Ketika lingkungan pekerjaan
berisi orang orang yang bermoral buruk, maka orang yang bermoral baik akan dikucilkan atau
diperlakukan tidak adil. Seorang yang moralitas individunya lemah akan terpengaruh untuk
4
menyesuaikan diri dan mengikuti. Namun sebaliknya, seseorang yang memiliki moralitas individu baik
akan tidak terpengaruh bahkan dapat mempengaruhi lingkungan yang bermoral buruk tersebut.
Moralitas dapat dianalogikan dengan seorang kusir kereta kuda yang mampu mengarahkan ke
mana kereta akan berjalan. Arah perjalanan kereta tentu tidak lepas dari ke mana tujuan hendak dituju.
Orang yang bermoral tentu mengerti mana arah yang akan dituju, sehingga pikiran dan langkahnya akan
diarahkan kepada tujuan tersebut, apakah tujuannya hanya untuk kesenangan duniawi diri sendiri saja
atau untuk kesenangan orang lain atau lebih jauh untuk kebahagiaan ruhaniah yang lebih abadi, yaitu
pengabdian pada Tuhan.
Pelajaran yang sangat berharga dapat diteladani dari para pendahulu kita yang berjuang demi
meraih kemerdekaan.Moralitas individu dan sosial yang begitu kuat dengan dipayungi moralitas mondial
telah membuahkan hasil dari cita-cita mereka, meskipun mereka banyak yang tidak sempat merasakan
buah perjuangannya sendiri.Dasar moral yang melandasi perjuangan mereka terabadikan dalam
Pembukaan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang termuat dalam alinea-
alineanya.
Alinea pertama, “bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa, oleh karena itu penjajahan di
atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.Alinea ini
menjadi payung moral para pejuang kita bahwa telah terjadi pelanggaran hak atas kemerdekaan pada
bangsa kita. Pelanggaran atas hak kemerdekaan itu sendiri merupakan pelanggaran atas moral mondial,
yaitu perikemanusiaan dan perikeadilan. Apapun bentuknya penjajahan telah meruntuhkan nilai-nilai
hakiki manusia.Apabila ditilik dari Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 tampak
jelas bahwa moralitas sangat mendasari perjuangan merebut kemerdekaan dan bagaimana
mengisinya.Alasan dasar mengapa bangsa ini harus merebut kemerdekaan karena penjajahan
bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan (alinea I).Secara eksplisit founding fathers
menyatakan bahwa kemerdekaan dapat diraih karena rahmat Allah dan adanya keinginan luhur bangsa
(alinea III).Ada perpaduan antara nilai ilahiah dan nilai humanitas yang saling berkelindan. Selanjutnya,
di dalam membangun negara ke depan diperlukan dasar-dasar nilai yang bersifat universal, yaitu nilai
ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan.
Moralitas, saat ini menjadi barang yang sangat mahal karena semakin langka orang yang masih
betul-betul memegang moralitas tersebut.Namun dapat juga dikatakan sebagai barang murah karena
banyak orang menggadaikan moralitas hanya dengan beberapa lembar uang.Ada keterputusan (missing
link) antara alinea I, II, III dengan alinea IV.Nilai-nilai yang seharusnya menjadi dasar sekaligus tujuan
negara ini telah digadaikan dengan nafsu berkuasa dan kemewahan harta.
Egoisme telah mengalahkan solidaritas dan kepedulian pada sesama.Lalu bagaimana membangun
kesadaran moral anti korupsi berdasarkan Pancasila?Korupsi secara harafiah diartikan sebagai
kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari
kesucian (Tim Penulis Buku Pendidikan anti korupsi, 2011: 23).Kasus korupsi yang terjadi di Indonesia
semakin menunjukkan ekskalasi yang begitu tinggi.Oleh karenanya, penyelesaian korupsi harus
diselesaikan melalui beragam cara/pendekatan, yang dalam hal ini saya menggunakan istilah pendekatan
eksternal maupun internal.
Pendekatan eksternal yang dimaksud adalah adanya unsur dari luar diri manusia yang memiliki
kekuatan ‘memaksa’ orang untuk tidak korupsi. Kekuatan eksternal tersebut misalnya hukum, budaya
dan watak masyarakat. Dengan penegakan hukum yang kuat, baik dari aspek peraturan maupun aparat
penegak hokum, akan mengeliminir terjadinya korupsi. Demikian pula terciptanya budaya dan watak
5
masyarakat yang anti korupsi juga menjadikan seseorang enggan untuk melakukan korupsi.Adapun
kekuatan internal adalah kekuatan yang muncul dari dalam diri individu dan mendapat penguatan melalui
pendidikan dan pembiasaan.Pendidikan yang kuat terutama dari keluarga sangat penting untuk
menanamkan jiwa anti korupsi, diperkuat dengan pendidikan formal di sekolah maupun non-formal di
luar sekolah.
Maksud dari membangun kesadaran moral anti korupsi berdasar Pancasila adalah membangun
mentalitas melalui penguatan eksternal dan internal tersebut dalam diri masyarakat.Di perguruan tinggi
penguatan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan kepribadian termasuk di dalamnya pendidikan
Pancasila.Melihat realitas di kelas bahwa mata kuliah Pendidikan Pancasila sering dikenal sebagai mata
kuliah yang membosankan, maka dua hal pokok yang harus dibenahi adalah materi dan metode
pembelajaran.Materi harus selalu up to date dan metode pembelajaran juga harus inovatif menggunakan
metode-metode pembelajaran yang dikembangkan.Pembelajaran tidak hanya kognitif, namun harus
menyentuh aspek afektif dan konatif.

Nilai-nilai Pancasila apabila betul-betul dipahami, dihayati dan diamalkan tentu mampu
menurunkan angka korupsi. Penanaman satu sila saja, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, apabila bangsa
Indonesia menyadari jati dirinya sebagai makhluk Tuhan, tentu tidak akan mudah menjatuhkan martabat
dirinya ke dalam kehinaan dengan melakukan korupsi. Perbuatan korupsi terjadi karena hilangnya
kontrol diri dan ketidakmampuan untuk menahan diri melakukan kejahatan.Kebahagiaan material
dianggap segala-galanya disbanding kebahagiaan spiritual yang lebih agung, mendalam dan jangka
panjang.Keinginan mendapatkan kekayaan dan kedudukan secara cepat menjadikannya nilai-nilai agama
dikesampingkan. Kesadaran manusia akan nilai ketuhanan ini, secara eksistensial akan menempatkan
manusia pada posisi yang sangat tinggi. Hal ini dapat dijelaskan melalui hirarki eksistensial manusia,
yaitu dari tingkatan yang paling rendah, penghambaan terhadap harta (hal yang bersifat material), lebih
tinggi lagi adalah penghambaan terhadap manusia, dan yang paling tinggi adalah penghambaan pada
Tuhan. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna tentu tidak akan merendahkan
dirinya diperhamba oleh harta, namun akan menyerahkan diri sebagai hamba Tuhan. Buah dari
pemahaman dan penghayatan nilai ketuhanan ini adalah kerelaan untuk diatur Tuhan, melakukan yang
diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang-Nya.
Penanaman satu nilai tentunya tidak cukup dan memang tidak bisa dalam konteks Pancasila, karena
nilai-nilai Pancasila merupakan kesatuan organis yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Dengan demikian, akan menjadi kekuatan moral besar manakala keseluruhan nilai Pancasila yang
meliputi nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan dijadikan landasan moril dan
diejawantahkan dalam seluruh kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam pemberantasan
korupsi. Penanaman nilai sebagaimana tersebut di atas paling efektif adalah melalui pendidikan dan
media.Pendidikan informal di keluarga harus menjadi landasan utama dan kemudian didukung oleh
pendidikan formal di sekolah dan nonformal di masyarakat.Peran media juga sangat penting karena
memiliki daya jangkau dan daya pengaruh yang sangat kuat bagi masyarakat.Media harus memiliki visi
dan misi mendidik bangsa dan membangun karakter masyarakat yang maju namun tetap berkepribadian
Indonesia

6
B) PANCASILA SEBAGAI SOLUSI PROBLEM BANGSA SEPERTI KERUSAKAN
LINGKUNGAN
a) Pemeliharaan Lingkungan Hidup
Dalam Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup dikatakan, bahwa pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi
lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan,
pemulihan, pengawasan dan pengendalian ingkungan hidup.

Dalam Pasal 3 undang-undang di atas dijelaskan lebih jauh, bahwa pengelolaan lingkungan hidup
yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan dan asas manfaat bertujuan
untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam Pasal 4 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 ditegaskan lebih lanjut, bahwa sasaran
pengelolaan lingkungan hidup adalah:

a) Tercapainya keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan


hidup;
b) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan
tindak melindungi dan membina lingkungan hidup;
c) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;
d) Tercapainya kelesatarian fungsi lingkungan hidup;
e) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana;
f) Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/ atau
kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup.

Tujuan pembangunan yang dilakukan bangsa Indonesia adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
dan meningkatkan mutu hidup rakyat. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi
permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi dan di lain pihak
sumber daya alam yang dipunyai sangat terbatas.

Kegiatan pembangunan yang dilakukan dan pertambahan jumlah penduduk yang semakin banyak
mau tidak mau dapat mengakibatkan tekanan terhadap sumber daya alam. Pendayagunaan sumber daya
alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat harus disertai dengan upaya untuk
melestarikan kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang guna menunjang pembangunan
yang berkesinambungan dan dilaksanakan dengan kebijaksanaan yang terpadu dan menyeluruh serta
memperhitungkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang. Oleh karena itu, pembangunan untuk
meningkatkan kesejahteraan dan mutu kehidupan rakyat itu, baik generasi sekarang dan mendatang,
adalah pembangunan berwawasan lingkungan.

Mengacu pada pengertian yang disebutkan dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup yang dimaksud pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk
sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.

7
Sebagai konsekwensi pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup ini, maka
banyak hal-hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah maupun masyarakat, antara lain yang diatur
dalam Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 yang mengatur Pengelolaan Lingkungan
Hidup. Dalam Pasal 3 dijelaskan, bahwa pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan
asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan
pembangunann berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia
Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam Pasal 4 diatur mengenai sasaran pengelolaan lingkungan hidup yang pengaturannya adalah
sebagai beirkut :

a) Tercapainya keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan


hidup;
b) Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan
tindak melindungi dan membina lingkungan hidup;
c) Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;
d) Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup;
e) Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana;
f) Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan atau
kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan atau perusakan
lingkungan hidup.

b) Aplikasi Nilai-Nilai Pancasila


Penjabaran, pengamalan atau aplikasi nilai-nilai Pancasila dalam aspek pembangunan berwawasan
lingkungan tidak bisa dipisahkan, sebab Pancasila , seperti dijelaskan dalam Penjelasan Umum Undang-
Undang No. 23 Tahun 1997 di atas, merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan
keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia, bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan
atas keselarasan, keserasian dan keseimbangan, baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha
Esa maupun manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia sebagai pribadi, dalam rangka
mencapai kemajuan lahir dan kemajuan batin. Antara manusia, masyarakat dan lingkungan hidup
terdapat hubungan timbal balik, yang harus selalu dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam
keselarasan, keserasian dan keseimbangan yang dinamis (Koesnadi Hardjasoemantri, 2000 : 575).

Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dari Sila ke I sampai Sila ke V yang harus
diaplikasikan atau dijabarkan dalam setiap kegiatan pengelolaan lingkungan hidup adalah sebagai berikut
( Soejadi, 1999 : 88- 90) :

Dalam Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terkandung nilai religius, antara lain :

Kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta segala sesuatu dengan sifat-
sifat yang sempurna dan suci seperti Maha Kuasa, Maha Pengasih, Maha Adil, Maha Bijaksana dan
sebagainya;

Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yakni menjalankan semua perintah- NYA dan
menjauhi larangan-larangannya. Dalam memanfaatkan semua potensi yang diberikan oleh Tuhan Yang
Maha Pemurah manusia harus menyadari, bahwa setiap benda dan makhluk yang ada di sekeliling
manusia merupakan amanat Tuhan yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya; harus dirawat agar tidak
rusak dan harus memperhatikan kepentingan orang lain dan makhluk-makhluk Tuhan yang lain.
8
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengaplikasikan Sila ini dalam kehidupan sehari-hari,
misalnya menyayangi binatang; menyayangi tumbuhtumbuhan dan merawatnya; selalu menjaga
kebersihan dan sebagainya. Dalam Islam bahkan ditekankan, bahwa Allah tidak suka pada orang-orang
yang membuat kerusakan di muka bumi, tetapi Allah senang terhadap orang-orang yang selalu bertakwa
dan selalu berbuat baik.

Lingkungan hidup Indonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa
Indonesia merupakan karunia dan rahmat-NYA yang wajib dilestarikan dan dikembangkan
kemampuannya agar tetap dapat menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa Indonesia
serta makhluk hidup lainya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri.

Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab terkandung nilai-nilai perikemanusiaan yang harus
diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini antara lain sebagai berikut :

a) Pengakuan adanya harkat dan martabat manusia dengan sehala hak dan kewajiban asasinya;
b) Perlakuan yang adil terhdap sesama manusia, terhadap diri sendiri, alam sekitar dan
terhadap Tuhan;
c) Manusia sebagai makhluk beradab atau berbudaya yang memiliki daya cipta, rasa, karsa
dan keyakinan.

Penerapan, pengamalan/ aplikasi sila ini dalam kehidupan sehari hari dapat diwujudkan dalam
bentuk kepedulian akan hak setiap orang untuk memperoleh lingkungan hidup yang baik dan sehat; hak
setiap orang untuk mendapatkan informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam
pengelolaan lingkungan hidup; hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan
hidup yang sesuai dengan ketentuanketentuan hukum yang berlaku dan sebagainya (Koesnadi
Hardjasoemantri, 2000 : 558).

Dalam hal ini banyak yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengamalkan Sila ini, misalnya
mengadakan pengendalian tingkat polusi udara agar udara yang dihirup bisa tetap nyaman; menjaga
kelestarian tumbuh-tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar; mengadakan gerakan penghijauan dan
sebagainya.

Nilai-nilai Sila Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab ini ternyata mendapat penjabaran dalam
Undang-Undang No.23 Tahun 1997 di atas, antara lain dalam Pasal 5 ayat (1) sampai ayat (3); Pasal 6
ayat (1) sampai ayat (2) dan Pasal 7 ayat (1) sampai ayat (2).

Dalam Pasal 5 ayat (1) dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan
hidup yang baik dan sehat; dalam ayat (2) dikatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak atas informasi
lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (3)
dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan
hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam Pasal 6 ayat (1) dikatakan, bahwa setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi
lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup dan
dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa setiap orang yang melakukan usaha dan/ atau kegiatan berkewajiban
memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup.

9
Dalam Pasal 7 ayat (1) ditegaskan, bahwa masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan
seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup; dalam ayat (2) ditegaskan, bahwa
ketentuan pada ayat (1) di atas dilakukan dengan cara :

a) Meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat dan kemitraan;


b) Menumbuhkembangkan kemampauan dan kepeloporan masyarakat;
c) Menumbuhkan ketanggapsegeraan masya-rakat untuk melakukan pengwasan sosial;
d) Memberikan saran pendapat;
e) Menyampaikan informasi dan/atau menyam-paikan laporan.

Dalam Sila Persatuan Indonesia terkandung nilai persatuan bangsa, dalam arti dalam hal-hal yang
menyangkut persatuan bangsa patut diperhatikan aspek-aspek sebagai berikut :

Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia serta wajib
membela dan menjunjung tinggi (patriotisme);

Pengakuan terhadap kebhinekatunggalikaan suku bangsa (etnis) dan kebudayaan bangsa (berbeda-
beda namun satu jiwa) yang memberikan arah dalam pembinaan kesatuan bangsa;

Cinta dan bangga akan bangsa dan Negara Indonesia (nasionalisme).

Aplikasi atau pengamalan sila ini bisa dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan
melakukan inventarisasi tata nilai tradisional yang harus selalu diperhitungkan dalam pengambilan
kebijaksanaan dan pengendalian pembangunan lingkungan di daerah dan mengembangkannya melalui
pendidikan dan latihan serta penerangan dan penyuluhan dalam pengenalan tata nilai tradisional dan tata
nilai agama yang mendorong perilaku manusia untuk melindungi sumber daya dan lingkungan (Salladien
dalam Burhan Bungin dan Laely Widjajati , 1992 : 156-158).

Di beberapa daerah tidak sedikit yang mempunyai ajaran turun temurun mewarisi nilai-nilai leluhur
agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh ketentuan-ketentuan adat di daerah yang
bersangkutan, misalnya ada larangan untuk menebang pohon-pohon tertentu tanpa ijin sesepuh adat; ada
juga yang dilarang memakan binatang-bintang tertentu yang sangat dihormati pada kehidupan
masyarakat yang bersangkutan dan sebagainya. Secara tidak langsung sebenarnya ajaran-ajaran nenek
leluhur ini ikut secara aktif melindungi kelestarian alam dan kelestarian lingkungan di daerah itu.

Dalam Sila Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan
Perwakilan terkandung nilainilai kerakyatan. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus dicermati, yakni:

Kedaulatan negara adalah di tangan rakyat;

Pimpinan kerakyatan adalah hikmat kebijaksanaan yang dilandasi akal sehat;

Manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga masyarakat mempunyai kedudukan, hak dan
kewajiban yang sama;

Keputusan diambil berdasarkan musyawarah untuk mufakat oleh wakilwakil rakyat.

Penerapan sila ini bisa dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain (Koesnadi
Hardjasoemantri, 2000 : 560) :

Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab


para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup;

10
Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan
tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup;

Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan masyarakat, dunia


usaha dan pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Dalam Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia terkandung nilai keadilan sosial. Dalam
hal ini harus diperhatikan beberapa aspek berikut, antara lain:

Perlakuan yang adil di segala bidang kehidupan terutama di bidang politik, ekonomi dan sosial
budaya;

Perwujudan keadilan sosial itu meliputi seluruh rakyat Indonesia;

Keseimbangan antara hak dan kewajiban;

Menghormati hak milik orang lain;

Cita-cita masyarakat yang adil dan makmur yang merata material spiritual bagi seluruh rakyat
Indonesia;

Cinta akan kemajuan dan pembangunan.

Pengamalan sila ini tampak dalam ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur masalah lingkungan
hidup. Sebagai contoh, dalam Ketetapan MPR RI Nomor IV/MPR/1999 tentang Garis-Garis Besar
Haluan Negara (GBHN), Bagian H yang mengatur aspekaspek pengelolaan lingkungan hidup dan
pemanfaatan sumber daya alam.

C) PANCASILA SEBAGAI SOLUSI PROBLEM BANGSA SEPERTI DEKADENSI


MORAL
Pancasila adalah dasar negara kita atau juga dikenal sebagai ideologi bangsa merupakan pedoman
pokok dalam mengatur kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara dalam segi politik, ekonomi dan
sosial. Konstitusi di Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila sejak Negara Indonesia berdiri
hingga sekarang telah banyak mengalami pasang surut. Tapi hingga kini tetap dapat berdiri dengan
kokoh. Adapun dicanangkannya Pancasila sebagai dasar negara, karena isinya dianggap sesuai dengan
situasi kondisi manusia atau masyarakat yang memiliki latar belakang kehidupan yang beraneka ragam.
Apabila kita sebagai makhluk ciptaanNya dan menjadi masyarakat Indonesia khususnya wajib bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menjalankan semua perintahNya, itu sesuai dengan sila pertama. Tapi
dari masa ke masa semakin banyak manusia-manusia yang tidak memiliki jiwa Pancasila. Mereka
membaca Pancasila hanya sebatas di bibir saja, tapi tidak mengamalkan atau mengaplikasikan dalam
kehidupannya sehingga disana sini marak dengan perkelahian pelajar, penggunaan obat-obatan terlarang/
narkoba bahkan penyakit yang paling parah yang tidak dapat disembuhkan dikalangan pejabat yaitu
korupsi. Semua ini adalah tanda-tanda dari kemerosotan akhlak bangsa yang sulit untuk diobati karena
sila pertama untuk manusia-manusia seperti itu hanyalah tulisan belaka. Kita tahu benar bahwa manusia
itu terdiri dari jiwa dan raga, diberikan akal oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, tapi seringkali akal itu
dikalahkan oleh nafsu sehingga terciptalah kebobrokan dalam mental dan moral. Sebenarnya manusia
11
diberikan dua pilihan, baik atau buruk. Karena pribadi-pribadi semacam ini tidak menjiwai Pancasila
sehingga akal menjadi nomor yang kesekian. Sedangkan nafsulah yang menjadi nomor satu. Persatuan
Indonesia dalam sila ketiga adalah sesuatu yang bulat, tidak dapat dipisah-pisah. Oleh karena itu dalam
pergaulan kita harus saling menunjukkan rasa persatuan walaupun berbeda-beda agama, suku, adat dan
latar belakang. Yang ada sekarang malah bukannya bersatu tapi perbedaan pandangan sedikit saja bisa
memicu pertentangan atau perkelahian bahkan yang lebih mengenaskan lagi bisa terjadi pembunuhan.
Saya sebagai mahasiswa atau yang lebih dikenal dengan kaum intelektual merasa prihatin dan miris
dengan kondisi sosial sekarang. Karena dengan mereka berkelakuan seperti itu, sama saja mereka tidak
memahami atau tidak mengerti bahkan boleh dibilang tidak menjunjung nilai-nilai yang ada dalam
Pancasila. Tapi sebaliknya saya sebagai generasi penerus berkewajiban menjunjung tinggi dan mencintai
Pancasila sebagai pandangan hidup saya karena kelima sila dalam Pancasila itu sendiri sesuai dengan apa
yang diajarkan oleh agama dan seyogyanya kita harus menjadi sarjana yang berakhlak karena maju
tidaknya suatu bangsa ditentukan oleh moral masyarakat bangsa itu sendiri.

12
BAB III

PEBUTUP

Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi yang menjadi bahasan dalam
makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya pengetahuan
kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh hubungannya dengan makalah ini Penulis
banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan kritik saran yang membangun
kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis
para pembaca khusus pada penulis. Aamiin

DAFTAR PUSTAKA

https://harrbiyyani.wordpress.com/2013/03/21/pancasila-sebagai-solusi-kerusakan-lingkungan/

http://anislestarihasim.blogspot.com/2014/01/pancasila-dalam-berbangsa-dan-bernegara.html

http://www.kompasiana.com/ferranikasma/pancasila-sebagai-benteng-dekadensi-
moral_55186adfa333113107b665e5

13

Anda mungkin juga menyukai