Anda di halaman 1dari 20

BAB I

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pesatnya perkembangan pembangunan dengan menggunakan alat mekanik
semakin meningkat jumlah penggunaannya yang dapat menyebabkan
meningkatnya kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja, oleh karenanya
perusahaan wajib melindungi pekerja disekitar perusahaan agar tidak membawa
dampak buruk terhadap tenaga kerja baik yang merupakan kecelakaan kerja
maupun penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja dapat
diakibatkan karena pengusaha, pengurus dan atau tenaga kerja belum
memahami betul mengenai ketentuan dan syarat-syarat yang harus dipenuhi
untuk keselamatan kerja mekanik.
Sejak ditemukan bejana tekan baik industri, jasa maupun manufaktur makin
berkembang, baik secara kuantitas maupun jenis dari bejana tekan tersebut.
Pendatangan bejana tekan/botol baja pada waktu pengangkutan atau
memindahkan masih menggunakan cara yang tidak sesuai dengan ketentuan dan
syarat-syarat keselamatan kerja. Berdasarkan pasal 2 ayat (2) undang-undang
no.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja, terhadap beberapa kegiatan
sebagaimana di atas menggunakan bejana tekan. Sedangkan untuk bejana tekan
ketentuan teknis dan administratifnya ditentukan dalam Peraturan Mentri No.
38/MEN/2016, tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pesawat Tenaga dan
Produksi, Peraturan Mentri No. 5/MEN/1985, tentang Pesawat Angkat dan
Angkut, Peraturan Mentri No. 1/MEN/1982, tentang Bejana Tekan. Mengingat
bahwa bejana tekan dapat menjadi sumber dan mengakibatkan terjadinya
kecelakaan (peledakan) dan penyakit akibat, maka pencegahan harus dilakukan
pengendalian, pembinaan dan pengawasan atas pemenuhan ketentuan dan
syarat-syarat keselamatan kerja yang ditetapkan dalam peraturan perundang-
undangan.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) difilosofikan sebagai suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani
tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan
budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian
secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja
(Armanda, 2006).
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan
proses produksi baik jasa maupun industry. Perkembangan pembangunan
setelah Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas
kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan
kerja (Ramli 2010). Pengawasan merupakan fungsi yang penting dalam
manajemen kegiatan agar kegiatan yang dilakukan dapat berjalan sesuai harapan
sehingga tujuan kegiatan tersebut dapat tercapai secara efektif dan efesien.
Dalam upaya mewujudkan keselamatan dan kesehatan kerja, perlu dilakukan
pengawasan yang intensif dari berbagai pihak baik internal perusahaan maupun
eksternal perusahaan. Pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dilakukan
mulai dari skala perusahaan, skala pekerja, hingga seluruh peralatan dan alat
produksi dalam proses produksi.
Pesawat Tenaga dan Produksi ialah pesawat atau alat yang bergerak
berpindah-pindah atau tetap yang diapakai atau dipasang untuk membangkitkan
atau memindahkan daya atau tenaga, mengolah, membuat bahan, barang,
produk teknis dan aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan
bahaya kecelakaan. Secara terminologis, Pesawat Tenaga ialah pesawat atau
alat yang bergerak berpindah-pindah atau tetap yang dipakai atau dipasang untuk
membangkitkan atau memindahkan daya atau tenaga termasuk perlengkapan
transmisinya. Berbeda dengan Pesawat Tenaga, Pesawat Produksi ialah
pesawat atau alat yang bergerak berpindah-pindah atau tetap yang dipakai dalam
proses produksi atau dipasang untuk mengolah, membuat: bahan,barang, produk
teknis dan aparat produksi.
Lebih spesifik terhadap Pesawat Tenaga yaitu dapat berupa penggerak mula,
ialah suatu pesawat yang mengubah suatu bentuk energy menjadi tenaga
mekanik dan digunakan untuk menggerakkan pesawat atau mesin antara lain:
motor pembakaran luar, motor pembakaran dalam, turbin air dan kincir angin. Di
dalam penggerak mula terdapat perlengkapan Transmisi Tenaga Mekanik, yaitu
merupakan bagian peralatan mesin yang berfungsi untuk memindahkan daya
atau gerakan mekanik dari penggerak mula ke pesawat atau mesin lainnya antara
lain: puli dengan ban atau pita roda gigi dengan roda gigi, batang berulir dengan
roda gigi, rantai dengan roda, gigi roda-roda gesek, poros transmisi dan batang
silinder hidrolis. Tidak hanya penggerak mula yang tergabung dalam Pesawat
Tenaga dan Produksi, Mesin Perkakas Kerja juga termasuk didalamnya, pesawat
atau alat yang digunakan untuk membentuk suatu bahan, barang, produk tekni
dengan cara memotong, mengepres, menerik atau menumbuk antara lain: mesin
asah, poles dan pelican, alat tuang dan tempa, mesin pelubang, mesin pres,
mesin rol, mesin gergaji, mesin ayak dan mesin pemisah, mesin gunting, mesin
pengeping dan pembelah. Juga disebutkan pada pengertian Pesawat Tenaga
dan Produksi yaitu mesin Produksi ialah semua mesin perlatan kerja yang
digunakan untuk menyiapkan, membentuk atau membuat, merakit finishing,
barang atau produk teknis antara lain: mesin pak dan bungkus, mesin jahit dan
rajut, mesin pintal dan tenun.
Pesawat Angkat dan Angkut ialah suatu pesawat atau alat yang digunakan
untuk memindahkan, mengangkat muatan baik bahan atau arang atau orang
secara vertical dan atau hirozontal dalam jarak yang ditentukan.
1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan penulisan laporan ini adalah :
1. Untuk mempraktikkan teori yang telah diterima selama kegiatan pembinaan.
2. Untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman mengenai aplikasi di
lapangan khususnya dibidang mekanik, pesawat uap dan bejana tekan.
3. Salah satu syarat yang harus dipenuhi bagian peserta Calon Ahli K3 Umum

Sehingga Calon Ahli K3 Umum dapat mengidentifikasi, menganalisa dan


memberikan saran atau rekomendasi.
1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kerja praktek kerja lapangan ini adalah :
1. Pelaksanaan K3 dibidang Mekanik
2. Pelaksanaan K3 dibidang Pesawat Uap dan Bejana Tekan
3. Pelaksanaan K3 dibidang Pesawat Angkat dan Angkut
1.4. Dasar Hukum
Undang – Undang
o UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja

Peraturan Menteri Tenaga Kerja

o Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-37/MEN/2016 tentang K3


Bejana Tekan dan Tangki Timbun
o Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-38/MEN/2016 tentang K3
Pesawat Tenaga dan Produksi
o Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No. Per-8/MEN/VII/2010 tentang Alat
Pelindung Diri
BAB II

KONDISI PERUSAHAAN

2.1. Gambaran Umum Perusahaan

PT. Sport Glove Indonesia (SGI) adalah perusahaan Penanaman Modal


Asing (PMA) yang bergerak dibidang manufaktur yang memproduksi berbagai
macam sarung tangan (Golf Glove Basic 60% dan Working Glove 40%). Produksi
sarung tangan dari PT.SGI diekspor ke berbagai negara diantaranya Amerika,
Kanada, Belanda, Perancis dll.

PT.SGI berlokasi di Desa Plumbon, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.


Perusahaan ini memiliki luas bangunan 5.000 m². Perseroan Terbatas ini
merupakan pengembangan dari PT. SGI sebelumnya yang berada di Tangerang.
Jumlah karyawan yang bekerja di sektor Plumbon yaitu 944 orang dengan
ketentuan 500 pegawai tetap dan 444 pegawai kontrak terdiri dari 209 laki-laki
dan 735 wanita. Pabrik yang berada di sektor Plumbon ini murni digunakan untuk
proses produksi, sedangkan untuk proses pemasaran dan head office-nya
berada di Tangerang. Sistem produksi dari PT.SGI ini ialah make by order atau
memproduksi berdasarkan kebutuhan pemesanan dari konsumennya.

Inventarisasi alat produksi yang dimiliki oleh PT.SGI Plumbon diantaranya :

Tabel. 1. Fasilitas Produksi PT.SGI Sektor Plumbon

No Item Jumlah Unit


1 Mesin Jahit 288
2 Mesin Jahit Elektrik 7
3 Setrika Uap 4
4 Setrika Panas 4
5 Ironic robot hand (right) 15
6 Ironic robot hand (left) 15
7 Ironic robot hand (thumbs) 20
8 Emboss machine 3
9 Hot press machine 4
10 Ballmaker machine 1
11 Needle detector 1
12 CNC machines 4
13 Vacum machines 4
14 Area cutting -
15 Area sewing -
16 Area TPR -
17 Area Printing -

Tujuan Khusus

o Meningkatkan pendapatan perusahaan yang diharapkan dari hasil


penjualan produk-produknya, sehingga dapat menambah income dan
loyalitas perusahaan.

Tujuan Umum

o Membantu pemerintah dalam rangka peningkatan hasil devisa negara dari


sektor industri non migas.
o Bertujuan ikut serta dalam meningkatkan kehidupan perekonomian yang
ada di Indonesia.
o Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya, khususnya untuk
masyaratak Sleman, Yogyakarta.
Secara umum struktur organisasi PT.Sport Glove Indonesia

PRESIDEN DIREKTUR

FACTORY MANAGER

PPIC/ HRD
ACCOUNTING MARKETING
PEMBELIAN

KEPALA PRODUKSI

QUALITY PACKING &


CUTTING SEWING
CONTROL FINISHING

Gambar 2.1 Struktur umum organisasi PT. Sport Glove Indonesia


Sedangkan untuk struktur organisasi bidang HSE dapat PT. Sport Glove
Indonesia.

DIRECTOR
CHRISTOPHER C.
ROBBA

COMPLIANCE MANAGER
L
IRAWAN

HSE COORDINATOR
L
GUSNAINI
YUDHA

FACTORY FACTORY FACTORY


KRANDON L
GODEAN GODEAN

SAFETY SAFETY SAFETY


L L L
COMMITEE COMMITEE COMMITEE

2.2 TEMUAN
L L L
1. Temuan Positif
a. Tiap Wilayah Kerja Di Bejana Tekan Dan Mekanik Memiliki Secondary
Containment.
 Tiap bejana tekan dan mekanik telah memiliki secondary containment
untuk menampung tumpahan bahan yang keluar pada mesin.
b. Pemeriksaan Semua Alat Produksi Telah Dilakukan Dengan Rutin.
 Pemeriksaan semua alat produksi dilakukan secara internal dan eksternal.
Secara internal dilakukan setiap hari oleh operator dan secara eksternal
dilakukan oleh penyedia mesin yang pemeriksaanya dilakukan 6 bulan – 1 tahun
sekali atau mesin mengalami kerusakan.
c. Sebagian Besar Telah Memiliki Safety Guard Di Setiap Mesin.
 Pemasangan alat pengaman pada setiap alat dimaksudkan untuk
melindungi pekerja dari potensi bahaya yang ditimbulkan dari alat tersebut.
 adapun yang tidak memiliki safety guard di buatkan oleh perusahaan
walaupun hanya untuk melindungi kulit tenaga kerja dari mesin.
d. Setiap Bejana Tekan Dan Mekanik Telah Memiliki Tombol Emergency.
 Setiap mesin harus memiliki safety emergency untuk mencegah terjadinya
hal-hal yang membahayakan karyawan yang berkontak lansung dengan mesin
diatur pada permenaker no. 38 tahun 2016 pasal 41 ayat 1.
e. Komponen Mesin Terpampang Dengan Baik Dan Jelas
 Komponen yang terpampang dimaksudkan untuk memberikan gambaran
umum tentang mesin yang digunakan.
f. Peletakan Kompresor Telah Berada Diruangan Khusus
 kompresor di perusahaan tersebut sudah diletakkan diruangan khusus
yang hanya dapat dimasuki oleh operator atau pihak yang berwenang baik dalam
pengoperasian maupun perawatan. Penempatan di ruang khusus tersebut juga
dimaksudkan untuk membatasi orang-orang yang dapat mengakses alat
tersebut.
g. Dilakukan Safety Induction
 safety induction untuk menjelaskan kepada tamu atau tenaga kerja tentang
potensi bahaya pada perusahaan. Safety induction wajib dilakukan oleh setiap
perusahaan.

2. Temuan Negatif
Berdasarkan hasil pemeriksaaan yang dilakukan di PT. SGI bahwa terdapat
beberapa temuan negatif yang dapat menyebabkan kecelakan kerja maupun
penyakit akibat kerja, antara lain:
1. Operator Hanya 1 Orang Untuk 3 Genset.
 Operator adalah tenaga kerja berkeahlian khusus untuk melayani
pemakaian pesawat uap. sesuai yang diatur oleh permenaker 01/1988 tentang
klasifikasi dan syarat-syarat operator pesawat uap bahwa 1 genzet harus
memiliki 1 operator.
2. Indikator Pressure Gauge Tidak Berfungsi
 Pressure gauge yang tidak berfungsi akan menyebabkan potensi bahaya
ledakan. Setiap compressor harus memiliki pressure gauge yang berfungsi ini
diatur oleh permenaker no. 01 tahun 1982 pasal 43 ayat 1 dan 2 kemudian
petunjuk tekanan dari regulator penurun tekanan harus terpasang, mudah
dibaca ini di atur permenaker no. 37 tahun 2016 pasal 19 ayat 3.
3. Tidak Semua Mesin Jahit (Sewing) Tidak Memakai Penutup Jarum
 Tidak adanya penutup jarum pada mesin jahit akan menyebabkan potensi
kecelakaan pada pekerja. sesuai dengan permenaker 38 tahun 2016 pasal 01
ayat 10 bahwa alat perlindungan adalah alat perlengkapan yang dipasang pada
pesawat tenaga dan produksi yang berfungsi untuk melindungi tenaga kerja
terhadap kecelakaan yang ditimbulkan
4. Tidak Ada Name Plate
 Menurut Permenaker no 38 tahun 2016 pasal 15 bahwa setiap pesawat
tenaga dan produksi harus diberi plate nama yang memuat data pesawat tenaga
dan produksi.
5. Belum Adanya Jalur Aman Antara Operator Dengan Bejana Tekan.
 Tidak adanya jalur aman akan menyebabkan potensi bahaya pada
operator pada saat berdekatan dengan bejana tekan, sesuai dengan
permenaker 38 tahun 2016 pasal 01 ayat 10 bahwa alat perlindungan adalah
alat perlengkapan yang dipasang pada pesawat tenaga dan produksi yang
berfungsi untuk melindungi tenaga kerja terhadap kecelakaan yang ditimbulkan
6. Sebagian Besar Mesin Press Tidak Memiliki Sensor Untuk Safety Device.
Akan menimbulkan potensi bahaya mesin tidak akan berhenti operasi saat
keadaan emergency, diatur dalam permenaker no 38 tahun 2016 pasal 41 ayat
2 “ pengoperasian secara mekanik atau elektrik sebagaimana di masksud pada
yat 1 hanya dapat beroperasi ketika anggota badan tidak berada pada daerah
operasi”.
7. Managemen Kabel Yang Belum Terlalu Baik
Adanya kabel yang terbentang antara mesin dengan mesin lainnya dapat
menyebabkan potensi bahaya pada tenaga kerja, misalnya tersandung akibat
kabel. Menurut permenaker no. 38 tahun 2016 tentang k3 pesawat tenaga dan
produksi pasal 16 ayat 1 bahwa perlengkapan dan instalasi listrik pesawat
tenaga dan produksi harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan bidang listrik.
8. Tidak Tersedianya Stang Pada Mesin Mixer
Mesin mixer setidaknya memiliki stang agar ketika pemerikseran telah
dilakukan maka mesin mixer tidar berada di tempat mixer sehingga tidar
terjadinya tumpahan bahan yang telah di mixer. Permenaker no. 4 tahun 1985
tentang pesawat tenaga dan produksi pasal 42.
9. Hidraulik Lift Tidak Memiliki Operator Berlisensi
Menurut Permenaker no. 9 tahun 2010 tentang operator dan petugas angkat
dan angkut pasal 3 pengusaha atau pengurus dilarang memperkerjakan operator
dan atau petugas pesawat angkat dan angkut yang tidak memiliki lisensi k3 dan
buku kerja.
BAB III
ANALISA
(dibandingkan dengan peraturan perundang-undangan)
A. Analisa Temuan Positif

No Lokasi Temuan Manfaat Peraturan Perundang-


undangan
(termasuk pasal dan ayat)
Terdapat Dapat mengamankan UU no 1 tahun 1970 tentang
Secondary tambahan yang digunakan keselamatan kerja; pasal 2
Containment untuk mencegah terlepasnya ayat 2(b), pasal 3 ayat (C).
bahan-bahan berbahaya
1 langsung ke lingkungan.

Ruangan Genset
Keberadaan Ear Memudahkan operator untuk UU No 1 tahun 1970 tentang
2 Muff pada menemukan earmuff jika keselamatan kerja, pasal 3
ruangan Genset sewaktu waktu kebisingan ayat 1(f).
melewati NAB PERMENAKERTRANS No
08/MEN/VII/2010 tentang Alat
pelindung diri

Ruang Genset
Keberadaan Sebagai pelindung terjadinya UU no 1 tahun 1970 tentang
3 Safety Guard sentuhan langsung tali Van keselamatan kerja; pasal 3
pada compressor Belt dengan operator pada (a),(h).
saat compressor di PERMENAKER NO
operasikan. 38/MEN/2016 tentang
pesawat tenaga dan produksi;
pasal 8

Ruang kompresor
4 Terdapat Sebagai informasi dalam UU no 1 tahun 1970 tentang
Petunjuk Kerja mengoperasikan mesin keselamatan kerja; pasal 3
pada mesin press press. ayat 1 (a).

Ruang Produksi
5 Terdapat Sebagai informasi bagi PERMENAKER NO
Keterangan karyawan lain bahwa mesin 38/MEN/2016 tentang
sedang dalam sedang dalam perbaikan. pesawat tenaga dan produksi;
Perbaikan pasal 27 ayat (1)

Ruang Penyimpanan
Kompresor
6 Compressor Menghindari bahaya Permen No. 37 Tahun 2016,
sudah terletak kompresor dari orang-orang Pasal 14 ayat 1-6
dalam ruangan yang tidak berkepentingan Pasal 22
Khusus Karena yang diizinkan atau Pasal 17 ayat 1
yang boleh masuk hanya Pasal 54 ayat 1-4
operator Compressor
tersebut

Ruang Penyimpanan
Kompresor

7 Pengamanan Dengan adanya pengaman Permen No. 37 Tahun 2016,


kompresor sudah meminimalisir tejadinya Pasal 3 ;
dilengkapi kegagalan operasi dari Pasal 54 ayat 1-4
dengan bejana tekan tersebut yang
pengaman dapat menyebabkan
otomatis terjadinya kecelakaan kerja

Ruang Penyimpanan
Kompresor
B. Analisa Temuan Negatif

No Lokasi Potensi Probab Pemapara Konsekuen Rating Saran / Peraturan Perundang-


Bahaya ility/Pel n/Pemajan si/Akibat Risiko Rekomendasi undangan
uang an (termasuk pasal dan
ayat)
Ruang Rusaknya 5 3 15 2 Segera Permenaker No 1 Tahun
Kompresor Pressure melakukan 1982 tentang Bejana
Gauge dapat penggantian Tekan; Pasal 43 ayat 1
1 menyebabka alat pengukur dan 2.
n ledakan tekanan pada Permenaker No 37 tahun
bejana tekan 2016 2016 tentang bejana
tekan dan tangki timbun;
pasal 19 ayat 3
2 Ruang Rusaknya 4 2 8 2 Melakukan Permenaker No 38 tahun
Produksi Safety Guard perbaikan 2016 tentang K3 Pesawat
dapat pada safety tenaga dan produksi;
menyebabka guard nya Pasal 1 ayat 9, Pasal 8
n tangan dan Pasal 10
bersentuhan
langsung
dengan tali
van belt.

3 Mixing Area Tidak 3 5 15 2 Sebaiknya Permenaker no


tersedia dibuatkan 4/MEN/1985 tentang
stang mesin stang mixer Pesawat tenaga dan
mixer agar tidak di produksi; pasal 42,
sandarkan di
pinggir ember
mixer.
5 Ruangan instalasi 5 2 10 2 Sekiranya Permenaker No 38 Tahun
Produksi kabel yang instalasi 2016 tentang K3 Pesawat
belum terlalu kabel nya di tenaga dan produksi; pasal
baik perbaiki 16
dengan
membuat
jalur kabel
sendiri agar
karyawan
yang lewat
tidak
tersandung
kabel.
6 Ruangan Tidak 2 3 6 3 Dibuatkan Permenaker No 38 Tahun
produksi terdapat sensor pada 2016 Tentang K3 Pesawat
sensor pada mesin press tenaga dan operasi; pasal
setrika uap sehingga 4 (b),pasal 41 ayat 2 dan
mesin tidak 3,
melakukan
press saat
tangan
operator
sedang
berada
didalam
landasan
press.
7 Ruang Keropos 2 1 2 4 Sekiranya Permenaker No 38 tahun
Produksi pada mesin melakukan 2016 tentang K3 pesawat
produksi perbaikan tenaga dan produksi, pasal
oven manual dan 15, pasal 39
penanganan
yang cukup
sesusi
dengan
prosedur
yang ada
8 Ruang Kerusakan 4 2 8 3 Melakukan Permenaker no
Produksi pelekat pada perbaikan 04/men/1985 tentang
ukuran suhu panel control pesawat tenaga dan
pada mesin suhu sesuai produksi; pasal 6
oven manual dengan
prosedur
yang ada
bukan
dengan
menggunaka
n perekat
plastic biasa
9 Diluar Ruang forklift 2 2 4 3 Sekiranya Permenaker no
Kompresor manual operator 05/men/1985 tentang
tanpa SLO memiliki pesawat angkat dan
kekuatan angkut, pasal 10, pasal 4,
yang lebih pasal 26 (b).
untuk Permenanker no
09/MEN/2010 tentang
mendorong operator dan petugas
forklift angkat angkut; pasal 3,
pasal 5, pasal 6
10 Ruang Safety Guard 2 3 6 3 Sekiranya Permenaker 38 tahun
Operasi mengalami segera 2016 tentang K3 pesawat
kerusakan melakukan tenaga dan produksi, pasal
pada mesin pergantian 1 ayat 9, pasal 3(b)
sewing pada safety
guard yang
telah rusak
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
1. Tiap wilayah kerja di bejana tekan dan mekanik memiliki secondary
containment
2. Pemeriksaan semua alat produksi telah dilakukan dengan rutin
3. Sebagian besar telah memiliki safety guard disetiap mesin
4. Setiap bejana tekan dan mekanik telah memiliki tombol emergency
5. Komponen mesin terpampang dengan baik dan jelas
6. Letakkan kompresor telah berada diruangan khusus
7. Dilakukan safety induction
Negative
1. Operator hanya 1 orang untuk 3 genset
2. Indicator pressure gauge tidak berfungsi
3. Tidak semua mesin jahit atau sewing tidak memakai penutup jarum
4. Tidak ada name plate
5. Belum adanya jalur aman antara operator dengan bejana tekan
6. Sebagaian besar mesin press tidk memiliki safety device
7. Instalasi kabel yang belum terlalu baik
8. Tidak tersediaanya stang pada mesin mixer
9. Forklift tidak memiliki operator berlisensi
DAFTAR PUSTAKA

Armanda.D. 2006. Penerapan SMK3 Bidang Konstruksi Medan, Jakarta


Ramli, S. 2010. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
OHSAS 18001. Penerbit Dian Rakyat. Jakarta