Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

PEMBAHASAN

Asuhan keperawatan yang diberikan pada An. W dengan Meningitis


tuberkulosa, ditemukan beberapa kesenjangan maupun kesesuaian antara
teori dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. Untuk memudahkan
dalam memahami kesenjangan dan kesesuaian yang terjadi, maka penulis
membahas sebagai berikut :
1. Pengkajian
Berdasarkan hasil pengkajian karakteristik anak diperoleh data
bahwa, An. W berusia 4 tahun 5 bulan, dimana BB klien 13 kg dengan
tinggi 100 cm, status nutrisi SD dibawah -2 (kurus), BB/U : 76.47%,
TB/U : 95.23%, BB/TB : 81.25%, status gizi: gizi kurang. Hal ini
menurut format CDC, anak dengan usia 4 tahun 5 bulan seharusnya
memiliki tinggi ideal 105 cm, dengan bb ideal 17 kg, jikalau tinggi
badan An.W hanya 100 cm seharusnya BB ideal An. W dengan tinggi
100 cm adalah 15.5 kg.
Data lain diperoleh adalah bahwa An. W masuk rumah sakit pada
tanggal 7 Agustus 2017 01.16 WIB yang dirawat di ruangan IRNA
HCU Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang. An.W masuk rumah sakit
melalui IGD RSUP Dr. M. Djamil Padang atas rujukan dari RSUD
Hanafi Sungai Dareh Jambi pada tanggal 7 Agustus 2017 dengan
keluhan penurunan kesadaran dengan diagnosa susp. meningitis
tubercolosa.
Meningitis merupakan salah satu infeksi pada susunan saraf pusat
yang mengenai selaput otak dan selaput medulla spinalis serta
disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus,
jamur dan parasit. Meningitis tubercolosa tergolong meningitis yang
disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium Tuberclosa. Bakteri
tersebut menyebar ke otak dari bagian tubuh yang lain. Insiden
meningitis tubercolosis ini umumnya bergantung pada status sosio-
ekonomi, hygiene masyarakat, umur, status gizi, dan faktor genetik
yang menentukan respon imun seseorang. Faktor predisposisi infeksi

71
TB adalah malnutrisi, penggunaan kortikosteroid, keganasan, cedera
kepala, infeksi HIV, dan diabetes mellitus. Penyakit ini dapat
menyerang semua umur, anak-anak lebih sering dibanding dewasa
terutama pada 5 tahun pertama kehidupan. Jarang ditemukan pada usia
6 bulan dan hampir tidak pernah ditemukan pada usia dibawah 3 bulan
(CDC, 2012).
Hal tersebut sesuai dengan data yang diperoleh bahwa klien baru
berusia 4 tahun 5 bulan, imunisasi tidak lengkap tidak ada imunisasi
BCG sebagai imunitas pertahanan TB, keluarga juga mengatakan
tinggal di rumah semi permanen miliknya, dengan MCK di sungai.
Sumber air yang digunakan yaitu air sungai, namun untuk air minum
menggunakan air dari bukit. Pembuangan sampah dilakukan keluarga
dengan cara dibuang di sebelah rumah, kadang dibakar. Pekarangan
rumah klien tidak luas, jarak rumah dengan tetangga cukup berjauhan.
Klien juga terpapar oleh lingkungan dimana ada tetangganya yang
penyakit batuk lama dan meminum obat selama 6 bulan.
Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 7 Agustus 2017
didapatkan bahwa pasien pertama kalinya dirawat, dan sebelum masuk
RSUP Dr. M.Djamil ini pasien di rawat di RSUD Hanafi Sungai
Dareh selama 6 hari dengan alasan masuk demam dan muntah, saat itu
pasien masih dalam keadaan sadar setelah itu beberapa hari di rawat
pasien mengalami kejang-kejang, kedua tangan dan kaki kaku dan
mata melihat ke atas, frekuensi kejang > 10x, dengan durasi 15 menit
– 1 jam, dengan rentang waktu 5-30 menit berhenti setelah diberi obat
anti kejang.
Keluarga mengatakan An.W masih mengalami penurunan
kesadaran dengan GCS E2M5V2 : 9. Keluarga klien juga mengatakan
badan klien demam dan turun naik sewaktu diukur suhu pasien adalah
38oC, nadi 124x/menit, pernafasan 26x/menit, TD : 82/64 mmHg,
namun kejang saat ini tidak ada, sesak nafas tidak ada, warna urin
berawarna kuning pekat dan jumlah cukup.
Penelitian yang dilakukan oleh Rolentina. Simanullang, (2014)
proporsi penderita Meningitis anak berdasarkan keadaan sewaktu
datang tertinggi adalah yang tidak sadar diri yaitu (74,2%) dan yang

72
terendah adalah yang sadar (25,8%). Menurut Jay Turen (2006)
perubahan tingkat kesadaran lazim terjadi dan ditemukan pada hingga
90% pasien penderita Meningitis. Hal ini disebabkan infeksi yang
menyerang system saraf motorik (otak) sehingga penderita mengalami
penurunan kesadaran.
Menurut Ropper AH, dkk (2005), Clarke C, dkk (2009), Van De
Beek D, dkk (2006) (dalam Meisadona, dkk (2015)) meningitis
tubercolosa memiliki trias klinik, yaitu demam, nyeri kepala hebat,
dan kaku kuduk; tidak jarang disertai kejang umum dan gangguan
kesadaran. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Thwaites GE, dkk, (2011) gejala klinis meningitis tubercolosa saat
akut adalah defisit saraf kranial, nyeri kepala, meningismus, dan
perubahan status mental. Gejala prodromal yang dapat dijumpai
adalah nyeri kepala, muntah, fotofobia, dan demam.
Pada pemeriksaan darah yang dilakukan pada An.W ditemukan
peningkatan leukosit yaitu 24.850 / mm2 yang seharusnya berkisar
antara 5.000 -17.000 / mm2. Untuk nilai kalsium dan natrium pada
pasien sedikit meningkat. Kadar Kalsium An.W 8.5 mg/dl (N : 8.1 –
10.4 mg/dl), Natrium 146 Mmol/L (N : 136 – 145 Mmol/L).
Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Clarke
C, dkk (2009), Tunkel AR, dkk (2004) (dalam Meisadona, dkk (2015))
menyatakan bahwa pada pemeriksaan darah, meningitis tubercolosa
disertai dengan peningkatan leukosit dan penanda inflamasi, dan
kadang disertai hipokalsemia, hiponatremia, serta gangguan fungsi
ginjal dengan asidosis metabolik. Menurut Sunartini (2010) demam
tinggi sampai hiperpireksia, mual / muntah, kejang, sakit kepala,
penurunan kesadaran, adanya meningeal sign dan fotofobi.
Diagnosis ataupun suspek meningitis tuberculosa memerlukan
gejala dan tanda meningitis yang disertai klinis yang mengarahkan ke
infeksi tuberkulosa dan pada hasil foto rontgen toraks serta cairan
serebrospinalis menunjukkan infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis
(Thwaites GE, dkk, 2011).
Menurut Ropper AH, dkk, (2005) pemeriksaan penunjang yang
mendukung diagnosa meningitis tuberkulosa yaitu dari karakteristik

73
CSS. Dari tampilan makroskopik cairan nya jernih, tekanan
meningkat, sel 5-100/mm3, neutrophil <50%, glukosa rendah (<50%
glukosa darah), protein 1-5 g/L, Kultur Positif 50-80%. Pada
pemeriksaan cairan tubuh LCS kasus, didapatkan volume : 2 cc,
kekeruhan : negatif, warna: bening, jumlah sel : 48 /mm3, PNN : 3 %,
MN : 97 % Glukosa : 15 mg/dl.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon
individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan dan
proses kehidupan aktual atau potensial. Diagnosa keperawatan
memberikan dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai
hasil dimana perawat bertanggunggugat (Nanda, 2015). Tahapan
dalam penegakan diagnosa keperawatan ini adalah analisa data,
perumusan masalah dan prioritas masalah (Suprajitmo, 2004).
Dari hasil pengkajian didapatkan 3 diagnosa keperawatan terhadap
kasus yang dialami klien yaitu:
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan Serebral
Ketidakefektifan perfusi jaringan adalah penurunan
pemberian oksigen dalam kegagalan memberi makan jaringan pada
tingkat kapiler.
Batasan karakterisitik ketidakefektifan perfusi jaringan
cerebral adalah abnormalitas bicara, kelemahan ekstremitas atau
paralis , perubahan status mental, perubahan pada respon motorik,
perubahan reaksi pupil, kesulitan untuk menelan, perubahan
kebiasaan.
Berdasarkan pengkajian kasus didapatkan data subjektif dan
objektif yang telah memenuhi batasaan karakteristik dari diagnosa
ini yaitu perubahan status mental dan respon motorik dimana An.
W belum sadar, GCS 9 : E2M5V2, CT Scan Kepala : Infark Iskemik
di Nukleuscaudatur dan putamen kanan, hasil pemeriksaan lumbal
pungsi menunjukkan kesan meningitis tuberculosa, riwayat kejang,
hasil pemeriksaan Tanda rangsang meningeal : Brudzinski I (+),
Brudzinski II (+), Kernig sign’s (+), kaku kuduk (+), status
kesadaran : somnolen, TD : 82/64 mmHg, N : 124 x/menit, P :

74
26x/menit, S : 38oC, akral ekstremitas atas teraba hangat, dan
ekstremitas bawah teraba dingin, kelemahan ektremitas.
2. Hipertermi
Hipertermi adalah suhu tubuh meningkat melebihi batas
normal. Batasan karakteristik dari hipertermi adalah konvulsi, kulit
memerah, peningkatan suhu tubuh diatas normal, kejang, takikardi,
takipnea, diraba hangat.
Berdasarkan pengkajian kasus, data yang didapatkan sesuai
dengan batasan karakteristik hipertermi yaitu ekstremitas atas
teraba hangat, dan ekstremitas bawah teraba dingin, S : 38oC, N:
124x/menit, P : 26x/menit, wajah tampak memerah, kesadaran
menurun, ada riwayat demam tinggi dan kejang berulang.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan tubuh
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
adalah intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme
tubuh. Batasan karakteristik ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh adalah berat badan 20 % atau lebih di bawah
ideal, dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA
(Recomended Daily Allowance), membran mukosa dan
konjungtiva pucat, kelemahan otot yang digunakan untuk
menelan/mengunyah, luka, inflamasi pada rongga mulut, mudah
merasa kenyang, sesaat setelah mengunyah makanan, dilaporkan
atau fakta adanya kekurangan makanan, dilaporkan adanya
perubahan sensasi rasa, perasaan ketidakmampuan untuk
mengunyah makanan, miskonsepsi, kehilangan BB dengan
makanan cukup, keengganan untuk makan, kram pada abdomen,
tonus otot jelek, nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi,
kurang berminat terhadap makanan, pembuluh darah kapiler mulai
rapuh, diare dan atau steatorrhea, kehilangan rambut yang cukup
banyak (rontok), suara usus hiperaktif, kurangnya informasi.
Berdasarkan pengkajian kasus, data yang didapatkan sesuai
dengan batasan karakteristik ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh yaitu keenggaan An. W untuk makan SMRS, An.
W nampak kurus, BB sebelum sakit: ±16 kg, BB saat ini: 13 Kg,

75
TB : 100 cm, BB/U : 76.47 %, TB/U : 95.23 %, BB/TB : 81.25 %,
Status Nutrisi : Gizi kurang, konjungtiva : anemis, rambut rontok.

3. Intervensi Keperawatan
Rencana keperawatan adalah semua tindakan yang dilakukan oleh
perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ke
status kesehatan yang diuraikan dalam hasil yang diharapkan.
Kelompok membuat rencana keperawatan sesuai dengan teori
1. Ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral b/d peradangan dan
edema pada selaput otak

a. Memberikan oksigen 2L/menit


b. Memonitor tanda-tanda vital
c. Memberikan antibiotik
d. Mengatur posisi dengan kepala elevasi 30-40 dengan leher
dalam posisi netral
2. Hipertermi b/d penyakit (peradangan selaput otak)

a. Manajemen cairan
b. Memonitor suhu sesering mungkin
c. Memonitor warna dan suhu kulit
d. Memberikan cairan intravena D 12,5% 12 tetes per menit
makro
e. Menganjurkan keluarga untuk mengompres klien pada lipat
paha dan aksila
f. Memberikan anti piretik Paracetamol 150 mg (> 38.5o C)
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d faktor
biologis

a. Mengkaji adanya alergi makanan


b. Memberikan substansi gula melalui parenteral IVFD D 12,5%
12 tetes permenit makro
c. Melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan
jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan klien
d. Mengajarkan keluarga dalam pembuatan susu klien 8 × 75 cc
e. Memonitor adanya penurunan berat badan
f. Memonitor mual dan muntah
g. Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht

76
h. Memonitor pertumbuhan dan perkembangan
i. Memonitor kalori dan intake nutrisi

4. Implementasi
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Gordon, 1994, dalam
potter & perry, 1997).
Tahap ini merupakan lanjutan dari tahap perencanaan, dimana
dalam tahap ini pelaksanaan dilakukan aplikasi rencana tindakan
sesuai dengan kondisi klien, penulis menggunakan evaluasi formatif
dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif dicantumkan dalam catatan
keperawatan berupa respon klien dan evaluasi sumatif untuk menilai
apakah tujuan dapat tercapai atau tidak yaitu dalam bentuk SOAP
(Subjektif, Objektif, Analisa, dan Planning).
Pelaksanaan yang dilakukan pada An. W untuk diagnosa
keperawatan pertama yaitu ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral
dengan melakukan terapi oksigen yaitu membersihkan mulut dan
hidung dari sputum dengan pengeluaran yang tepat, mempertahankan
patensi jalan nafas, menyiapkan peralatan oksigen dan jalankan,
memberikan oksigen sesuai order, memonitor liter oksigen,
memonitor efektifitas terapi oksigen dengan tepat dan memonitor
kerusakan kulit dari pergesekan peralatan oksigen.
Pelaksanaan diagnosa keperawatan kedua pada An. W yaitu
Hipertermi dengan manjemen cairan dengan melakukan tindakan
mempertahankan intake yang akurat, memonitor status hidrasi (seperti
:kelebapan mukosa membrane, nadi), memonitor TTV, memonitor
status nutrisi, memberikan terapi cairan melalui IV, dan nasogastrik
untuk mengganti kehilangan cairan.
Pelasanaan diagnosa keperawatan ketiga pada An. W untuk
ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah
mengingatkan keluarga dalam pembuatan susu klien 8 × 75 cc,
memonitor adanya penurunan berat badan memonitor mual dan

77
muntah, monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar
Ht,, ,mengkaji adanya alergi makanan.

5. EVALUASI
Secara umum evaluasi diartikan sebagai proses yang disengaja dan
sistematik dimana penilaian dibuat mengenai kualitas, nilai atau
kelayakan dari sesuai dengan membandingkan pada kriteria yang
diidentifikasi atau standar sebelumnya. Dalam proses keperawatan,
evaluasi adalah suatu aktivitas yang direncanakan, terus menerus,
aktifitas yang disengaja dimana klien, keluarga, dan perawat seta tenaga
kesehatan professional lainnya menetukan kesembuhan klien.
Wilkinson (2007).
Evaluasi yang efektif tergantung pada langkah yang sebelumnya
dilakukan. Kegiatan evaluasi tumpang tindih dengan kegiatan
pengkajian. Tindakan untuk mengumpulkan data adalah sama tetapi
yang membedakan adalah kapan dikumpulkan dan bagaimana
dilakukan. Pada tahap pengkajian, perawat menggunakan data untuk
membuat diagnosa keperawatan sedangkan pada tahap evaluasi, data
digunakan untuk mengkaji efek dari asuhan keprawatan terhadap
diagnose keperawatan. Wilkinson (2007).
Berdasarkan intervensi dari asuhan keperawatan yang telah
diberikan kepada An. W dari tanggal 3 Agustus 2017 - 11 Agustus 2017
didapatkan hasil bahwa untuk diagnosa ketidakefektifan perfusi
jaringan cerebral, hipertermi dan ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh semua dapat teratasi sebagian dan intervensi masih
tetap dilanjutkan.
Pada diagnosa ketidakefektifan perfusi jaringan serebral setelah
diberikan intervensi selama seminggu didapatkan data subjektif dan
objektif yaitu An. W sudah bisa membuka matanya ketika dipanggil,
TD : 100/65 mmHg, N : 98 x/menit, P : 25x/menit, S : 37,8oC, GCS 10
yaitu dengan E3M5V2.
Pada diagnosa hipertermi setelah diberikan intervensi selama
seminggu didapatkan data subjektif dan objektif yaitu suhu 37,80C,
HR : 98x/i, demam masih turun naik, namun setelah diberikan obat
antipiretik paracetamol dan dikompres suhu klien turun.

78
Pada diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh setelah diberikan intervensi selama seminggu didapatkan data
subjektif dan objektif yaitu kebutuhan nutrisi klien terpenuhi karena
klien terpasang NGT, dan diit klien makanan cair berupa susu 8x75 cc.

79