Anda di halaman 1dari 2

PVC atau kateter vena perifer adalah alat yang digunakan untuk

memberikan intervensi klinis, termasuk pemberian cairan melalui intravena,


obat-obatan, dan transfusi darah. hampir semua pasien rawat inap mendapat
terapi cairan intravena. PVC memiliki fungsi yang penting bagi sebagian besar
pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Namun penggunaan PVC
sendiri masih menimbulkan risiko terjadinya komplikasi sepertinya kejadian
phlebitis, infeksi terkait pemasangan infus, dan penyumbatan kateter (oklusi).
Komplikasi tersebut tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan waktu
perawataan menjadi lebih lama, peningkatan biaya perawatan, timbul rasa
ketidaknyamanan, dan bahkan memicu morbiditas bagi pasien.
Berdasarkan observasi yang dilakukan selama kurang lebih 4 minggu di
ruang Sulaiman 5, kami menjumpai ada beberapa perawat yang tidak
menggunakan handscoon saat melakukan tindakan pemasangan infus pada
pasien. Ketidakpatuhan perawat dalam menggunakan APD dapat menjadi salah
satu faktor penyebab terjadinya plebitis. Plebitis adalah peradangan yang
mengenai lapisan endothelia dalam vena yang disebabkan oleh chemical
maupun bacterial. Plebitis dapat merugikan pasien apabila tidak segera
mendapat perhatian. Rasa nyeri yang muncul dapat menjadi masalah baru bagi
pasien, bahkan nyeri bisa melebihi nyeri pada penyakit primer pasien saat
masuk. Selain itu akan menambah biaya pengobatan bagi pasien. Rekapitulasi
hasil observasi dari tim Pencegahan dan Pengenalian Infeksi (PPI) pada tahun
2015 didapatkan data angka kejadian, phlebitis 38 kejadian (0.84%). Data
Rekapitulasi pada tahun 2016 dalam didapatkan data angka kejadian phlebitis 9
kejadian (0.9%). Pada tahun 2017 bulan Maret –Juni angka kejadian infeksi
jarum infus phlebitis 0.75%. Dalam SPO Rumah Sakit Roemani menyebutkan
bahwa salah satu poin yang harus dijalankan dalam melakukan tindakan
pemasangan infus adalah menggunakan APD berupa sarung tangan
(handscoon), namun hasil laporan angka kepatuhan perawat dalam penggunaan
APD pada bulan April – Juni 2017 sebanyak 92 % perawat dari target 100%
perawat.
Analisa jurnal
Dalam menentukan masalah ini, tentunya kami merujuk pada penelitian yang
pernah dilakukan sebelumnya terkait kejadian phlebitis dan penggunaan APD saat
mealkukan tindakan pemasangan infus.
1. Webster dkk 2015 yang meneliti tentang perbandingan penggantian PVC
berdasarkan indikasi dengan penggantian PVC secara rutin. Hasilnya, tidak
ditemukan bukti yang mendukung penggantian kateter setiap 72 sampai 96 jam.
Oleh karena itu, rumah sakit dapat mempertimbangkan untuk mengganti kateter
hanya sesuai indikasi klinis, misalnya apabila plebitis. Kebijakan mengganti
kateter sesuai indikasi akan memperhemat biaya secara signifikan dan akan
mengurangi rasa sakit yang tidak perlu pada pasien karena penggantian PVC
secara rutin.
2. Bekti rahayu 2013 melaporkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada
kejadian phlebitis antara penutupan daerah insersi dengan kassa steril betadin
dan currapor iv dressing, sehingga dengan prinsip aseptic pada tehnik
pemasangan infus keefektifan kassa steril dan currapor iv dressing adalah sama.
3. Capdevila-Reniu & Capdevila 2017 dalam penelitiannya menyatakan bahwa
mencegah komplikasi pemasangan PVC dapat dilakukan dengan
memaksimalkan penerapan teknik aseptik misalnya dengan cara menggunakan
sarung tangan (handscoon) tiap memasang dan melepas infus.