Anda di halaman 1dari 25

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat-Nya kami
bisa menyelesaikan makalah yang berjudul Hisprung Pada Anak Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini
dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu,
kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Denpasar,14 Maret 2017

Penyusun
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul
sejak kehidupan hasiI konsepsi sel telur. Kelainan kongenital dapat merupakan sebab
penting terjadinya abortus, lahir mati atau kematian segera setelah lahir. Kematian bayi
dalam bulan-bulan pertama kehidupannya sering diakibatkan oleh kelainan kongenital yang
cukup berat, hal ini seakan-akan merupakan suatu seleksi alam terhadap kelangsungan
hidup bayi yang dilahirkan. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital besar,
umumnya akan dilahirkan sebagai bayi berat lahir rendah bahkan sering pula sebagai bayi
kecil untuk masa kehamilannya. Bayi berat lahir rendah dengan kelainan kongenital berat,
kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya. Disamping pemeriksaan
fisik, radiologik dan laboratorik untuk menegakkan diagnose kelainan kongenital setelah
bayi lahir, dikenal pula adanya diagnosisi pre - ante natal kelainan kongenital dengan
beberapa cara pemeriksaan tertentu misalnya pemeriksaan ultrasonografi, pemeriksaan air
ketuban dan darah janin. Penyebab langsung kelainan kongenital sering kali sukar diketahui.
Pertumbuhan embrional dan fetaI dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti faktor genetik,
faktor lingkungan atau kedua faktor secara bersamaan.
Banyak kelainan kongenital yang tidak diketahui penyebabnya. Faktor janinnya sendiri dan
faktor lingkungan hidup janin diduga dapat menjadi faktor penyebabnya. Masalah sosial,
hipoksia, hipotermia, atau hipertermia diduga dapat menjadi faktor penyebabnya.
Seringkali penyebab kelainan kongenitai tidak diketahui.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Apa definisi dari Labiopalatoskiziz?
2. Bagaimana etiologi labiopalatoskizis?

3. manifestasi klinik labiopalatoskizi

4. Bagaimana patofisiologi labiopalatoskizis?

5. Bagaimana penatalaksanaan labiopalatoskizis?

6. Bagaimana Pathway tumor abiopalatoskizis

7. Bagaimana cara memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan abiopalatoskizis?

1.3. Tujuan Penulisan

1.3.1. Tujuan Umum :


Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
pembuatan makalah mata kuliah Sistem Neurobehaviour serta mempresentasikannya.
1.3.2. Tujuan Khusus :
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk memahami definisi dari labiopalatoskizis


2. Mengetahui etiologi labiopalatoskizis

3. Dapat mengetahui manifestasi klinik labiopalatoskizis

4. Memahami patofisiologi labiopalatoskizis

5. Mengetahui penatalaksanaan labiopalatoskizis

6. Mengetahui dan mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan


labiopalatoskizis

1.4 Metode Penulisan

Makalah ini disusun dengan melakukan studi pustaka dari berbagai buku referensi dan
internet.
1.4. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari makalah ini adalah BAB I PENDAHULUAN, terdiri dari : latar
belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan dan
manfaat penulisan. BAB II PEMBAHASAN, dan BAB III ASUHAN KEPERAWATAN,
BAB IV PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan saran.

1.5. Manfaat Penulisan

1. Mengetahui penyebab dan proses perjalanan penyakit labiopalatoskizis

2. Mampu membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan labiopalatoskizis


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 definisi

Labioschisis adalah adanya gangguan fusi maxillary swelling dengan medial


nasal swelling pada satu sisi akan menimbulkan kelaianan berupa labioschisis unilateral. Bila
kegagalan fusi ini menimbulkan celah di daerah prealveolaris, maka celah tersebut dikatakan
inkomplet, sedang selebihnya dikatakan labioschisis komplet.
Celah bibir adalah kelainan kongenital pada bibir yang disebabkan oleh kegagalan
struktur fasial embrionik yang tidak komplet, kelainan ini dapat diasosiasikan dengan anomali
lain juga. Insidensi kalainan ini adalah 1 di antara 750 kelahiran hidup. Celah bibir, lebih sering
terjadi pada anak laki-laki, dapat muncul berupa indentasi ringan hingga celah terbuka. (Kathleen
Morgan Speer. 2007).

2.2 Etiologi
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing. faktor tersebut
antara lain, yaitu :
a. Faktor Genetik atau keturunan
Dimana material genetik dalam kromosom yang mempengaruhi. Dimana dapat terjadi karena
adanya mutasi gen ataupun kelainan kromosom. Pada setiap sel yang normal mempunyai 46
kromosom yang terdiri dari 22 pasang kromosom non-sex (kromosom 1 s/d 22) dan 1 pasang
kromosom sex (kromosom X dan Y) yang menentukan jenis kelamin. Pada penderita bibir
sumbing terjadi Trisomi 13 atau Sindroma Patau dimana ada 3 untai kromosom 13 pada setiap
sel penderita, sehingga jumlah total kromosom pada tiap selnya adalah 47. Jika terjadi hal seperti
ini selain menyebabkan bibir sumbing akan menyebabkan gangguan berat pada perkembangan
otak, jantung, dan ginjal. Namun kelainan ini sangat jarang terjadi dengan frekuensi 1 dari 8000-
10000 bayi yang lahir.
b. Kurang Nutrisi, contohnya defisiensi Zn dan B6, vitamin C pada waktu hamil, kekurangan
asam folat.
c. Radiasi.
d. Terjadi trauma pada kehamilan trimester pertama.
e. Infeksi pada ibu yang dapat mempengaruhi janin contohnya seperti infeksi rubella dan sifilis,
toxoplasmosis dan klamidia.
f. Pengaruh obat teratogenik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal, akibat toksisitas
selama kehamilan, misalnya kecanduan alkohol, terapi penitonin.
g. Multifaktoral dan mutasi genetik.
h. Diplasia ektodermal.

2.3 Patofisiologi
Secara umum, labioschisis bisa terjadi karena :
a. Kegagalan penyatuan atau perkembangan jaringan lunak dan atau tulang selama fase embrio
pada trimester I.
b. Terbelahnya bibir dan atau hidung karena kegagalan proses nosal medial dan maksilaris
untuk menyatu terjadi selama kehamilan 6-8 minggu.
c. Palatoskisis adalah adanya celah pada garis tengah palato yang disebabkan oleh kegagalan
penyatuan susunan palato pada masa kehamilan 7-12 minggu.
d. Penggabungan komplit garis tengah atas bibir antara 7-8 minggu masa kehamilan.

2.4 Klasifikasi
. Berdasarkan organ yang terlibat
a. Celah di bibir (labioskizis)
b. Celah di gusi (gnatoskizis)
c. Celah di langit (palatoskizis)
d. Celah dapat terjadi lebih dari satu organ misalnya terjdi di bibir dan langit-langit
(labiopalatoskizis)
2. Berdasarkan lengkap/tidaknya celah terbentuk
Tingkat kelainan bibr sumbing bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang berat. Beberapa
jenis bibir sumbing yang diketahui adalah :
a. Unilateral Incomplete. Jika celah sumbing terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan tidak
memanjang hingga ke hidung.
b. Unilateral Complete. Jika celah sumbing yang terjadi hanya disalah satu sisi bibir dan
memanjang hingga ke hidung.
c. Bilateral Complete. Jika celah sumbing terjadi di kedua sisi bibir dan memanjang hingga ke
hidung.

Penyebab terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan


berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan factor-
faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti melaporkan bahwa
40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan mengalami labioschisis.
Kemungkinan seorang bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis
pertama (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi
alcohol dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama
kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan
labioschisis.
Menurut Mansjoer dan kawan-kawan, hipotesis yang diajukan antara lain:
a. Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal kuantitas
(pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat, vitamin C, dan Zn)
b. Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal
c. Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia.
d. Faktor genetic

Kelainan ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak
terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus
nasalis dan maksilaris) pecah kembali.
Pada hewan percobaan vitamin A dikenal sebagai "teratogen universal". Namun
kemungkinan teratogenitas pada manusia yang mengkonsumsi suplemen vitamin A masih
kontroversi.
Vitamin B-6 memiliki peran vital dalam metabolisme asam amino. Defisiensi vitamin B-
6 tunggal telah terbukti dapat menyebabkan langit-langit mulut sumbing dan kelainan defek
lahior lainnya pada tikus percobaan. Dan Miller (1972) menunjukkan bahwa pemberian vitamin
B-6 dapat mencegah terjadinya celah orofasial. Salah satu penyebab terjadinya celah orofasial
ialah heterogenitas, sebanyak sekitar 20% menyertai sindrom yang disebabkan mutasi yang
spesifik. Namun juga terjadinya celah orofasil juga berhubungan dengan asam folat dan
multivitamin lainnya. Beberapa mungkin memiliki etiologi karena asam folat namun sebagian
lagi tidak, sehingga menyulitkan untuk mencari efeknya.
2.5 manifestasi klinis

Ada beberapa gejala dari bibir sumbing / labioschisis yaitu :


a. Terjadi pemisahan bibir.
b. Berat badan tidak bertambah.
c. Pada bayi terjadi regurgitasi nasal ketika menyusui yaitu keluarnya air susu dari hidung.
d. Kesukaran dalam menghisap/makan
e. Distorsi pada hidung
f. Tampak sebagian atau keduanya
g. Adanya celah pada bibir

2.6 Komplikasi
Keadaan kelainan pada wajah seperti bibir sumbing ada beberapa komplikasi karenannya,
yaitu :
a. Masalah asupan makanan
Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya labioschisis
memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu atau dot. Tekanan
lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan kemampuan hisapan
oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan pada bayi
dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap lebih banyak udara pada
saat menyusu. Memegang bayi dengan posisi tegak lurus mungkin dapat membantu proses
menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala juga dapat membantu. Bayi yang
hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada palatum biasanya dapat menyusui,
namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot
khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi
dengan labio-palatoschisis dan bayi dengan masalah pemberian makan/ asupan makanan
tertentu.
b. Masalah Dental
Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang berhubungan
dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari celah bibir yang
terbentuk.
c. Infeksi telinga
Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena terdapatnya
abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan dan penutupan tuba
eustachius.
d. Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada perkembangan
otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat menutup ruang/ rongga
nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi (hypernasal
quality of 6 speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum, kemampuan otot-otot tersebut
diatas untuk menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara mungkin tidak dapat kembali
sepenuhnya normal. Penderita celah palatum memiliki kesulitan bicara, sebagian karena palatum
lunak cenderung pendek dan kurang dapat bergerak sehingga selama berbicara udara keluar dari
hidung. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s,
sh, dan ch", dan terapi bicara (speech therapy) biasanya sangat membantu.

2.7 pemeriksaan penunjang


1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan prabedah rutin (misalnya hitung darah lengkap
2. Pemeriksaan Diagnosis
a. Foto Rontgen
b. Pemeriksaan fisik
c. MRI(Magnetic resonance imaging) untuk evaluasi abnormal

2.8 Penatalaksana
Penanganan untuk bibir sumbing adalah dengan cara operasi. Operasi ini dilakukan
setelah bayi berusia 2 bulan, dengan berat badan yang meningkat, dan bebas dari infeksi oral
pada saluran napas dan sistemik. Dalam beberapa buku dikatakan juga untuk melakukan operasi
bibir sumbing dilakukan hukum Sepuluh (rules of Ten)yaitu, Berat badan bayi minimal 10 pon,
Kadar Hb 10 g%, dan usianya minimal 10 minggu dan kadar leukosit minimal 10.000/ui.

Perawatan
a. Menyusu ibu
Menyusu adalah metode pemberian makan terbaik untuk seorang bayi dengan bibir sumbing
tidak menghambat penghisapan susu ibu. Ibu dapat mencoba sedikit menekan payudara untuk
mengeluarkan susu. Dapat juga menggunakan pompa payudara untuk mengeluarkan susu dan
memberikannya kepada bayi dengan menggunakan botol setelah dioperasi, karena bayi tidak
menyusu sampai 6 mgg.

b. Menggunakan alat khusus :


- Dot domba
Karena udara bocor disekitar sumbing dan makanan dimuntahkan melalui hidung, bayi tersebut
lebih baik diberi makan dengan dot yang diberi pegangan yang menutupi sumbing, suatu dot
domba (dot yang besar, ujung halus dengan lubang besar), atau hanya dot biasa dengan lubang
besar.
- Botol peras
Dengan memeras botol, maka susu dapat didorong jatuh di bagian belakang mulut hingga dapat
dihisap bayi.
- Ortodonsi
Pemberian plat/ dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum agar memudahkan
pemberian minum dan sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum dapat dilakukan
tindakan bedah definitive.
c. Posisi mendekati duduk dengan aliran yang langsung menuju bagian sisi atau belakang lidah
bayi.
d. Tepuk-tepuk punggung bayi berkali-kali karena cenderung untuk menelan banyak udara.
e. Periksalah bagian bawah hidung dengan teratur, kadang-kadang luka terbentuk pada bagian
pemisah lobang hidung.
f. Suatu kondisi yang sangat sakit dapat membuat bayi menolak menyusu. Jika hal ini terjadi
arahkan dot ke bagian sisi mulut untuk memberikan kesempatan pada kulit yang lembut tersebut
untuk sembuh.
g. Setelah siap menyusu, perlahan-lahan bersihkan daerah sumbing dengan alat berujung kapas
yang dicelupkan dala hydrogen peroksida setengah kuat atau air.

Pengobatan
a. Dilakukan bedah elektif yang melibatkan beberapa disiplin ilmu untuk penanganan
selanjutnya. Bayi akan memperoleh operasi untuk memperbaiki kelainan, tetapi waktu yang tepat
untuk operasi tersebut bervariasi.
b. Tindakan pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule often yaitu
umur > 10 mgg, BB > 10 pon/ 5 Kg, Hb > 10 gr/dl, leukosit > 10.000/ui.
c. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan/palatoplasti dikerjakan sedini
mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mampu bicara lengkap seingga pusat bicara otak belum
membentuk cara bicara. Pada umur 8-9 tahun dilaksanakan tindakan operasi penambahan tulang
pada celah alveolus/maxilla untuk memungkinkan ahli ortodensi mengatur pertumbuhan gigi
dikanan dan kiri celah supaya normal.
d. Operasi terakhir pada usia 15-17 tahun dikerjakan setelah pertumbuhan tulang-tulang muka
mendeteksi selesai.
e. Operasi mungkin tidak dapat dilakukan jika anak memiliki “kerusakan horseshoe” yang
lebar. Dalam hal ini, suatu kontur seperti balon bicara ditempl pada bagian belakang gigi geligi
menutupi nasofaring dan membantu anak bicara yang lebih baik.
f. Anak tersebut juga membutuhkan terapi bicara, karena langit-langit sangat penting untuk
pembentukan bicara, perubahan struktur, juga pada sumbing yang telah diperbaiki, dapat
mempengaruhi pola bicara secara permanen.

2.9 Askep teoritis

A.Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber, untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001).

. B.Riwayat Kesehatan
Riwayat kehamilan, riwayat keturunan, labiotalatos kisis dari keluarga, berat/panjang bayi saat
lahir, pola pertumbuhan, pertambahan/penurunan berat badan, riwayat otitis media dan infeksi
saluran pernafasan atas.

C. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi kecacatan pada saat lahir untuk mengidentifikasi karakteristik sumbing.
b. Kaji asupan cairan dan nutrisi bayi
c. Kaji kemampuan hisap, menelan, bernafas.
d. Kaji tanda-tanda infeksi
e. Palpasi dengan menggunakan jari
f. Kaji tingkat nyeri pada bayi
D. Pengkajian Keluarga
a. Observasi infeksi bayi dan keluarga
b. Kaji harga diri / mekanisme kuping dari anak/orangtua
c. Kaji reaksi orangtua terhadap operasi yang akan dilakukan
d. Kaji kesiapan orangtua terhadap pemulangan dan kesanggupan
e. Kaji tingkat pengetahuan keluarga

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dan individu
atau kelompok dimana perawatan secara akuntabilitas dapat mengidentifikasikan dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, membatasi, mencegah dan
merubah ( Carpenito, 2000 ).

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh atau tidak efektif dalam meneteki Asi
berhubungan dengan ketidakmampuan menelan atau kesukaran dalam makan sekunder dari
kecacatan dan pembedahan
2. Resiko aspiarasi berhubungan dengan ketidakmampuan mengeluarkan sekresi sekunder dari
palatoskisis
3. Resiko infeksi berhubaungan dengan kecacatan (sebelum operasi) dan atau insisi pembedahan
4. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan teknik pemberian makan dan perwatan
dirumah
5. Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
6. Tidak efektif bersihan jalan atas berhubungan dengan efek anestesi, edema setelah pembedahan,
sekresi yang meningkat.
7. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan

3.3 PERENCANAAN
Perencanaan adalah langkah ketiga dalam proses keperawatan (Doenges,2000).
A. Diagnosa 1
1) Kaji kemampuan menelan dan menghisap
2) Gunakan dot botol yang lunak dan besar atau dot khusus dengan lobang yang sesuai untuk
pemberian minum
3) Tempatkan dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah mendorong makan dan
minuman kedalam.
4) Berikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan.
5) Tepuk punggung bayi setiap 15ml sampai 30 ml minimum yang diminum tetapi jangan
diangkat dot selama bayi masih menghisap.
6) Berikan makan pada anak sesuai jadwal dan kebutuhan.
7) Jelaskan pada orang tua tentang prosedur operasi : kuasa 6 jam, pemberian infuse dan lainnya.
8) Prosedur perawatan setelah operasi : rangsang untuk menelan atau menghisap: dapat
menggunkan jari dengan cuci tangan yang bersih atau dot sekitar 7-10 hari, bila sudah toleran
berikan minuman pada bayi, dan minuman pada anak sesuai dengan diitnya
B. Diagnosa 2
1) Kaji status pernapasan selama pemberian makanan.
2) Gunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada bibir.
3) Perhatikan posisi bayi saat memberi makan : tegak atau setangah duduk.
4) Beri makan secara perlahan.
5) Lakukan penepukan punggung setelah pemberian minum

C. Diagnosa 3
1) Berikan posisi tepet setelah makan : miring kekanan kepal agak sedikit tinggi supaya makanan
tertelan dan mencegah aspirasi.
2) Kaji tanda-tanda infeksi.
3) Perawatan luka dengan teknik steril.
4) Perhatikan posisi jahitan, hindari kontak dengan benda non steril.
5) Monitor keutuhan jahitan kulit.
6) Hindari gosok gigi pada anak kira-kira 1-2 minggu
D. Diagnosa 4
1) Jelaskan prosedur operasi sebelum dan sesudah operasi.
2) Ajarkan pada orang tua perawatan anak : cara pemberian makan, mencegah infeksi, mencegah
aspirasi, menentukan porsi, menepuk punggung, bersihkan mulut setelah makan
E. Diagnosa 5
1) Kaji pola istirahat bayi dan kegelisahan.
2) Tenangkan bayi.
3) Berikan aktivitas bermain sesuai tumbuh kembangnya.
4) Suport emosional anak: belaian, sentuhan, dengan mainan.
5) Berikan analgetik sesuai program
F. Diagnosa 6
1) Kaji status pernapasan.
2) Ubah posisi sesuai kebutuhan, minimal 2 jam sekali, untuk mempermudah drainage.
3) Posisi yang tepat selama makan: tegak atau setengah duduk.
4) Isap lender bila perlu.
5) Bersihkan mulut setelah makan atau minum
G. Diagnosa 7
1) Bersihkan area insisi makan atau minum dengan normal saline atau air steril.
2) Monitor tanda-tanda infeksi.
3) Antisipasi posisi yang dapat merusak jahita.
4) Hindari anak menangis, karena dapat meregangkan jahitan

PERENCANAAN PEMULANGAN

1. Ajarkan dalam pemberian makan atau minum


2. Ajarkan dalam mencegah infeksi
3. Ajarkan cara mencegah aspirasi saat pemberian formula
4. Ajarkan cara melakukan rangsangan bicara pada anak yang sudah bias bicara
5. Ajarkan cara merawat gigi dan mulut

3.4 Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang
spesifik (Nursalam 2001) tahap ini merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan
oleh karena itu pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan dirumuskan sesuai skala
urgent dan non urgent.

A. Mempertahankan nutrisi adekuat.


1. Kaji kemampuan menelan dan mengisap.
2. Gunakan dot botol yang lunak yang besar, atau dot khusus dengan lubang yang sesuai untuk
pemberian minum.
3. Tempatkan dot pada samping bibir mulut bayi dan usahakan lidah mendorong makan/minuman
kedalam.
4. Berikan posisi tegak lurus atau semi duduk selama makan.
5. Tepuk punggung bayi setiap 15ml 30ml minuman yang diminum, tetapi jangan diangkat dot
selama bayi menghisap.
6. Berikan makan pada anak sesuai dengan jadwal dan kebutuhan.
7. Jelaskan pada orang tua tentang prosedur operasi, puasa 6 jam dan pemberian infus lainnya.
8. Prosedur perawatan setelah operasi, ranngsangan untuk menelan ata menghisap, dapat
menggunakan jari-jari dengan cuci tangan yang bersih atau dot sekitar mulut 7-10 hari, bila
sudah toleran berikan minuman pada bayi, dan minuman atau makanan lunak untuk anak sesuai
dengan diitnya.
B. Mencegah aspirasi dan obstruksi jalan napas
1. Kaji status pernafasan selama pemberian makan.
2. Gunakan dot agak besar, rangsang hisap dengan sentuhan dot pada bibir.
3. Perhatikan posisi bayi saat memberi makan, tegak atau setengah duduk.
4. Beri makan secara perlahan.
5. Lakukan penepukan punggung setelah pemberian minum
C. Mencegah infeksi
1. Berikan posisi yang tepat setelah makan, miring kekanan kepala agak sedikit tinggi supaya
makanan tertelan dan mencegah aspirasi yang dapat berakibat pnemoni.
2. Kaji tanda-tanda infeksi, termasuk drainage, bau dan demam.
3. Lakukan perawatan luka dengan hati-hat dengan menggunakan teknik steril.
4. Perhatikan posisi jahitan, hindari jangan kontak dengan alat-alat yang tidak steril, misalnya alat
tenun dan lainnya.
5. Perhatikan perdarahan, edema, dan drainage.
6. Hindari gosok gigi pada anak kira-kira 1-2 minggu
D. Mempersiapkan orang tua untuk menerima keadaan bayi/anak dan perawatan dirumah
1. Jelaskan prosedur operasi sebelum dan sesudah operasi.
2. Ajarkan pada ornag tua dalam perawatan anak ; cara pemberian makan/minum dengan alat,
mencegah infeksi, dan mencegah aspirasi, posisi pada saat pemberian makan/minum,
lakukanpenepukan punggung, bersihkan mulut setelah makan
E. Meningkatkan rasa nyaman
1. Kaji pola istirahat bayi dan kegelisahan.
2. Tenangkan bayi.
3. Bila klien anak, berikan aktivitas bermain yang sesuai dengan usia dan kondisinya.
4. Berikan analgetik sesuai program

BAB IV
A
1. Pengkajian

Kasus:
Ny. A datang ke rumah sakit dengan anaknya bernama An. B yang berumur 2 bulan dengan
berat badan 3,5 kg , keluhan terdapat belahan pada bibir yang menyebabkan bayi susah untuk
menelan dan menyusu. Pasien terlihat kurus karena berkurang nafsu makan.
Data Subjektif :
- Terdapat belahan pada bibir
- Klien susah menelan dan menyusu
- Nafsu makan klien berkurang
Data Objektif :
- Diagnosa ditegakkan yaitu Labioskizis
- Klien tampak kurus karena kurang nafsu makan
- Konjungtiva Anemis
2. DIAGNOSA KEPERWATAN
a. Prabedah
1) Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan gangguan dalam
pemberian makan
2) Risiko perubahan klien yang berhubungan dengan stres akibat hospitalisasi
3) Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan pembedahan

b. Post-bedah
1) Ketidakefektifan jalan napas yang berhubungan dengan efek anestesia, edema pascaoperasi,
serta produksi lendir yang berlebihan
2) Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan teknik pemberian
makan yang baru dan perubahan diet pascaoperasi
3) Nyeri yang berhubungan dengan pembedahan
4) Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan perawatan di rumah

Analisa Data
No. Data, Tanda dan Gejala Masalah Etiologi
1. DS : -keluarga kalien mengatakan bahwa nutrisi kurang
kesulitan
berat badan klien menurun dari kebutuhan
menelan
DO : - Klien tampak lemah tubuh
Klien terlihat kurang nafsu makan definisi : keadaan
sulit makan
Klien tampak kurus
individu yang
mengalami
kekurangan nutrisi kurang
dari kebutuhan
asupan nutrisi tubuh
untuk memenuhi
kebutuhan
metabolik.
2. DS : -keluarga klien mengatakan bahwa Resiko Infeksi Pertahanan
Definisi : suatu
seperti terjadi infeksi pada bagian belahan tubuh yang
kondisi individu
bibir. tidak adekuat
DO : - klien tampak menangis kesakitan yang mengalami
karena terjadi infeksi peningkatan
resiko terserang
organisme
patogenik.

DiagnosisKeperawatan
No DiagnosisKeperawatan Tgl masalah timbul Tgl masalah teratasi
1 Nutrisi kurang dari kebutuhan 15-09-2012 -
tubuh berhubungan dengan sulit
untuk makan/kurang nafsu
makan yang ditandai dengan :
DS : -keluarga kalien
mengatakan bahwa berat badan
klien menurun
DO : -klien tampak lemah
Klien terlihat kurang nafsu
makan.
2 Resiko infeksi berhubungan 15-09-2012 -
dengan pertahanan tubuh yang
tidak adekuat.

1. INTERVENSI
Pra-Bedah
No Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Dx

1 Setelah diberikan asuhan Tempatkan dot botol di dalam Meletakkan dot botol dengan cara
keperawatan selama 3x24 mulut bayi, pada sisi ini dapat menstimulasi tindakan ”
jam diharapkan berat berlawanan dari celah, ke arah stripping” bayi (menekan dot botol
badan seimbang dengan belakang lidah. melawan lidah dan atap mulut untuk
kriteria hasil : mengeluarkan susu).
Bayi mempertahankan Posisi ini mencegah tersedak dan
status nutrisi yang  Posisikan bayi tegak atau regurgitasi per nasal.
ditandai oleh kenaikan semi-Fowler, namun tetap rileks
berat badan bulanan (1/2 selama pemberian makan.
hingga 1 kg)  Sendawakan bayi setelah Bayi perlu disendawakan dengan
setiap pemberian 15 hingga 30 frekuansi yang sering karena
ml susu, tetapi jangan kelainan tersebut dapat menyebabkan
pindahkan dot botol terlalu menelan udara lebih banyak
sering selama pemberian makan.sehingga menimbulkan rasa tidak
nyaman. Melepas dot botol terlalu
sering dapat melelahkan, atau
membuat bayi frustasi sehingga
menyebabkan pemberian makan
tidak komplet.
Pemberian makan yang lebih lama
 Coba untuk memberi makan dapat melelahkan bayi sehingga
selama kira-kira 45 menit atau dapat menyebabkan pencapaian berat
kurang untuk setiap kali makan. badan yang sangat kurang.
Posisi tegak mengurangi risiko
aspirasi; menggunakan sebuah spuit
 Apabila bayi tidak makan dan slang karet lunak yang mampu
tanpa tersedak atau teraspirasi, menampung cairan di bagian
letakkan dalam posisi tegak, dan belakang mulut bayi dapat
beri makan dengan mengurangi aspirasi melalui celah.
menggunakan spuit serta slang
karet lunak.
2  Beri minum bayi sebanyak 5-
Setelah diberikan asuhan Air dapat membersihkan pasase
keperawatan selama 4x24 10 ml air, setelah setisp nasal dan palatu, serta dapat
jam diharapkan tidak pemberian makan. mencegah susu mengumpul di
terjadi infeksi dengan saluran eustasia, yang pada
kriteria hasil : gilirannya dapat mencegah
Bayi tidak pertumbuhan bakteri yang dapat
menunjukkan tanda-tanda mengarah pada terjadinya infeksi.
infeksi yang ditandai oleh Merontokkan dan melepaskan
suhu tubuh kurang dari  Buang formula atau susu yang matero yang berkerak dalam botol,
37,80 C dan tidak ada mengering dengan dapat menjaga agar celah tersebut
tanda-tanda draynase menggunakan aplikator yang bersih dan bebas dari bakteri
telinga, batuk, ronchi berujung kapas basah. sehingga mengurangi risiko infeksi.
kasar di lapangan paru, Mengatur posisi bayi dengan cara
atau iritabilitas ini dapat mencegah aspirasi yang
 Setelah setiap pemberian dapat menimbulkan pneumonia.
makan, letakkan bayi di ayunan
bayi atau baringkan bayi di
tempat tidurnya dengan posisi
miring kanan dengan kepala
tempat tidur ditinggikan 300. Kekambuhan otitis media yang
 Kaji bayi untuk menentukan terjadi akibat saluran eustasia yang
bila ada tanda infeksi, termasuk tidak normal dapat dikaitkan dengan
drainase telinga yang berbau celah bibir.
dan demam. Beri obat antibiotik
sesuai program.

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Tanggal No.Dx Implementasi Evaluasi Respon Paraf
Waktu Kep
Senin Dx.1 1. Menempatkan dot 1. S :
15 botol di dalam mulut - Ibu
Septemb bayi, pada sisi mengatakan
er 2012 berlawanan dari celah, bayi tidak
16.00 ke arah belakang tersedak saat
WITA lidah. diberi susu

2. Memberi posisi bayi O:


tegak atau semi- - Berat badan
Fowler, namun tetap pasien tetap
rileks selama 3,5 kg.
pemberian makan.
2. S :
- Ibu pasien
3. Menyendawakan bayi mengatakan
setelah setiap pasien bisa
pemberian 15 hingga makan dengan
30 ml susu, tetapi baik
jangan pindahkan dot O:
botol terlalu sering - Klien tampak
selama pemberian rileks pada
makan. saat makan

3. S :
- Ibu pasien
mengatakan
klien sudah
bersendawa

O:
Pasien
terlihat
nyaman
setelah
bersend
awa
6.

Tanggal No. Dx Kep Implementasi Evaluasi Respon Paraf


Waktu
Senin Dx. 2 1. Memberi minum bayi 1. S:
15 sebanyak 7 ml air, - Ibu klien
September setelah setisp mengatakan klien
2012 pemberian makan. sudah minum air
16.00
2. Membuang formula putih yang sudah
WITA
atau susu yang disediakan
mengering dengan O:
menggunakan - Pasase nasal dan
aplikator yang palatu klien
berujung kapas basah. tampak bersih.
3. Setelah setiap
pemberian makan, 2. S:
meletakkan bayi di - Ibu klien
ayunan bayi atau menyatakan
baringkan bayi di bahwa klien
tempat tidurnya lebih nyaman
dengan posisi miring setelah dilakukan
kanan dengan kepala tindakan
tempat tidur O:
ditinggikan 300. - Pasien tampak
4. Mengkaji bayi untuk lebih bersih setelah
menentukan bila ada dilakukan tindakan
tanda infeksi, 3. S:
termasuk drainase - Ibu klien
telinga yang berbau mengatakan bahwa
dan demam. klien sudah tidak
5. Memberi obat rewel lagi
antibiotik sesuai O:
program. -Pasien tampak
nyaman dan tampak
tidak gelisah
4. S:
-Ibu pasien
mengatakan anaknya
sudah tidak
menangis kesakitan
karena infeksi
O:
-Sudah tidak
Nampak tanda-tanda
infeksi pada telinga
S:37,00 C

3.5 Evaluasi
Evaluasi adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada status
kesehatan klien (Nursalam 2001) evaluasi terdiri dari dua jenis yaitu evalusi formatif atau
evaluasi jangka pendek dimana evaluasi ini dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan
dilakukan sampai tujuan akhir. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi akhir atau jangka
panjang, dimana evaluasi dilakukan pada akhir tindakan keperawatan. Sistem penulisan pada
tahap evaluasi ini umumnya menggunakan sistem SOAP (Nursalam 2001 hal 74)

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

Kasus:
Ny. A datang ke rumah sakit dengan anaknya bernama An. B yang berumur 2 bulan dengan
berat badan 3,5 kg , keluhan terdapat belahan pada bibir yang menyebabkan bayi susah untuk
menelan dan menyusu. Pasien terlihat kurus karena berkurang nafsu makan.
Data Subjektif :
- Terdapat belahan pada bibir
- Klien susah menelan dan menyusu
- Nafsu makan klien berkurang
Data Objektif :
- Diagnosa ditegakkan yaitu Labioskizis
- Klien tampak kurus karena kurang nafsu makan
- Konjungtiva Anemis
2. DIAGNOSA KEPERWATAN
a. Prabedah
1) Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan gangguan dalam
pemberian makan
2) Risiko perubahan klien yang berhubungan dengan stres akibat hospitalisasi
3) Ansietas (orang tua) yang berhubungan dengan pembedahan

b. Post-bedah
1) Ketidakefektifan jalan napas yang berhubungan dengan efek anestesia, edema pascaoperasi,
serta produksi lendir yang berlebihan
2) Gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan teknik pemberian
makan yang baru dan perubahan diet pascaoperasi
3) Nyeri yang berhubungan dengan pembedahan
4) Defisit pengetahuan yang berhubungan dengan perawatan di rumah

Analisa Data
No. Data, Tanda dan Gejala Masalah Etiologi
1. DS : -keluarga kalien mengatakan bahwa nutrisi kurang
kesulitan
berat badan klien menurun dari kebutuhan
menelan
DO : - Klien tampak lemah tubuh
Klien terlihat kurang nafsu makan definisi : keadaan
sulit makan
Klien tampak kurus
individu yang
mengalami
kekurangan nutrisi kurang
dari kebutuhan
asupan nutrisi tubuh
untuk memenuhi
kebutuhan
metabolik.
2. DS : -keluarga klien mengatakan bahwa Resiko Infeksi Pertahanan
Definisi : suatu
seperti terjadi infeksi pada bagian belahan tubuh yang
kondisi individu
bibir. tidak adekuat
yang mengalami
DO : - klien tampak menangis kesakitan
peningkatan
karena terjadi infeksi
resiko terserang
organisme
patogenik.
DiagnosisKeperawatan
No DiagnosisKeperawatan Tgl masalah timbul Tgl masalah teratasi
1 Nutrisi kurang dari kebutuhan 15-09-2012 -
tubuh berhubungan dengan sulit
untuk makan/kurang nafsu
makan yang ditandai dengan :
DS : -keluarga kalien
mengatakan bahwa berat badan
klien menurun
DO : -klien tampak lemah
Klien terlihat kurang nafsu
makan.
2 Resiko infeksi berhubungan 15-09-2012 -
dengan pertahanan tubuh yang
tidak adekuat.

1. INTERVENSI
Pra-Bedah
No Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Dx

1 Setelah diberikan asuhan Tempatkan dot botol di dalam Meletakkan dot botol dengan cara
keperawatan selama 3x24 mulut bayi, pada sisi ini dapat menstimulasi tindakan ”
jam diharapkan berat berlawanan dari celah, ke arah stripping” bayi (menekan dot botol
badan seimbang dengan belakang lidah. melawan lidah dan atap mulut untuk
kriteria hasil : mengeluarkan susu).
Bayi mempertahankan Posisi ini mencegah tersedak dan
status nutrisi yang  Posisikan bayi tegak atau regurgitasi per nasal.
ditandai oleh kenaikan semi-Fowler, namun tetap rileks
berat badan bulanan (1/2 selama pemberian makan.
hingga 1 kg)  Sendawakan bayi setelah Bayi perlu disendawakan dengan
setiap pemberian 15 hingga 30 frekuansi yang sering karena
ml susu, tetapi jangan kelainan tersebut dapat menyebabkan
pindahkan dot botol terlalu menelan udara lebih banyak
sering selama pemberian makan.sehingga menimbulkan rasa tidak
nyaman. Melepas dot botol terlalu
sering dapat melelahkan, atau
membuat bayi frustasi sehingga
menyebabkan pemberian makan
tidak komplet.
Pemberian makan yang lebih lama
 Coba untuk memberi makan dapat melelahkan bayi sehingga
selama kira-kira 45 menit atau dapat menyebabkan pencapaian berat
kurang untuk setiap kali makan. badan yang sangat kurang.
Posisi tegak mengurangi risiko
aspirasi; menggunakan sebuah spuit
 Apabila bayi tidak makan dan slang karet lunak yang mampu
tanpa tersedak atau teraspirasi, menampung cairan di bagian
letakkan dalam posisi tegak, dan belakang mulut bayi dapat
beri makan dengan mengurangi aspirasi melalui celah.
menggunakan spuit serta slang
karet lunak.
2  Beri minum bayi sebanyak 5-
Setelah diberikan asuhan Air dapat membersihkan pasase
keperawatan selama 4x24 10 ml air, setelah setisp nasal dan palatu, serta dapat
jam diharapkan tidak pemberian makan. mencegah susu mengumpul di
terjadi infeksi dengan saluran eustasia, yang pada
kriteria hasil : gilirannya dapat mencegah
Bayi tidak pertumbuhan bakteri yang dapat
menunjukkan tanda-tanda mengarah pada terjadinya infeksi.
infeksi yang ditandai oleh Merontokkan dan melepaskan
suhu tubuh kurang dari  Buang formula atau susu yang matero yang berkerak dalam botol,
37,80 C dan tidak ada mengering dengan dapat menjaga agar celah tersebut
tanda-tanda draynase menggunakan aplikator yang bersih dan bebas dari bakteri
telinga, batuk, ronchi berujung kapas basah. sehingga mengurangi risiko infeksi.
kasar di lapangan paru, Mengatur posisi bayi dengan cara
atau iritabilitas ini dapat mencegah aspirasi yang
 Setelah setiap pemberian dapat menimbulkan pneumonia.
makan, letakkan bayi di ayunan
bayi atau baringkan bayi di
tempat tidurnya dengan posisi
miring kanan dengan kepala
tempat tidur ditinggikan 300. Kekambuhan otitis media yang
 Kaji bayi untuk menentukan terjadi akibat saluran eustasia yang
bila ada tanda infeksi, termasuk tidak normal dapat dikaitkan dengan
drainase telinga yang berbau celah bibir.
dan demam. Beri obat antibiotik
sesuai program.

EVALUASI

1. Nutrisi adekuat
2. Anak bebas dari aspirasi
3. Tidak terdapat infeksi
4. Orang tua dapat memahami dan mendemonstrasikan dengan metode pemberian makan pada
anak, pemgobatan setelah pembedahan dan harapan perawat sebelum dan setelah operasi
5. Rasa nyaman anak dapat diertahankan dengan ditandai dengan anak tidak menangis, tidak
labil, tidak gelisah
6. Tidak ditemukan komplikasi sistem pernapasan
7. Tidak ditemukan kerusakan pada kulit yang ditandai insisi tetap utuh, tidak ada infeksi dan
tampak sembuh