Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

Seseorang tidak dapat hidup tanpa menghirup oksigen. Begitu


esensialnya unsur ini bagi kehidupan sehingga apabila 10 detik saja otak
manusia tidak mendapatkan oksigen, maka yang akan terjadi kemudian adalah
penurunan kesadaran dan apabila terus berlanjut, otak akan mengalami
kerusakan yang lebih berat dan irreversible. Tak hanya untuk bernafas dan
memepertahankan kehidupan, oksigen juga sangat dibutuhkan
untukmetaboloisme tubuh

Sel-sel tubuh terus menerus menggunakan oksigen untuk reaksi


metabolik yang melepaskan energi dari molekul nutrien dan menghasilkan
ATP. Pada waktu yang bersamaan, reaksi tersebut melepaskan karbondioksida.
Konsumsi oksigen dan produksi karbondioksida terjadi di dalam mitokondria
seiring dengan terjadinya proses respirasi seluler.

Respirasi merupakan suatu proses pertukaran oksigen dan karbon


dioksida antara udara dari atmosfer dan jaringan tubuh. Fungsi utama dari
respirasi adalah pengambilan O2 dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan
mengeluarkan CO2 yang diproduksi oleh metabolisme sel keluar dari tubuh.

Sistem respirasi melibatkan sejumlah organ seperti hidung, faring,


trakea, bronkus, dan paru. Proses pertukan gas terjadi dengan cara difusi dan
pasif, bergantung kepada selisih bagian gas yang ada di tiap kompartemen.

1
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sistem Respirasi

Respirasi adalah suatu proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida


antara udara dari atmosfer dan jaringan tubuh. Fungsi utama respirasi adalah
untuk mengambil O2 dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan mengeluarkan
CO2 yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh kembali ke atmosfer (Sloane, 2004)..

Secara anatomis, sistem respirasi dibagi menjadi bagian atas (upper)


terdiri dari hidung, sinus paranasalis dan faring yang berfungsi menyaring,
menghangatkan dan melembabkan udara yang masuk ke saluran pernapasan
dan bagian bawah (lower) terdiri dari laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan
alveoli.

Gambar 1. Anatomi system respirasi

Secara fisiologis, sistem respirasi dibagi menjadi bagian konduksi


terdiri dari rongga hidung sampai bronkiolus terminalis dan bagian respirasi
terdiri dari bronkiolus respiratorius sampai alveoli.

Sistem pernapasan yang kompleks terdiri dari dua komponen yang


berbeda yaitu pompa otot dan permukaan epitel pertukaran yang terletak di
dalam tubuh. Empat fungsi utama sisrem pernapasan adalah :

2
1. Pertukaran gas antara atmosfer dan darah
Tubuh memasukkan O2 untuk di distribusikan ke jaringan dan
mengeluarkan CO2 yang dihasilkan oleh metabolisme
2. Pengaturan homeostasis pH tubuh
Paru dapat mengubah pH tubuh dengan menahan atau membuang CO2
3. Perlindungan terhadap substansi patogen dan iritan yang terhirup
Seperti epitel lain yang berhubungan dengan lingkungan luar, epitel
respiratorik dilengkapi dengan mekanisme pertahanan untuk
menangkap dan menghancurkan substansi yang berpotensi berbahaya
sebelum substansi tersebut masuk ke dalam tubuh.
4. Vokalisasi
Udara yang bergerak melalui pita suara menghasilkan getaran yang
digunakan untuk berbicara, bernyanyi dan segala bentuk komunikasi
lainnya

Pada manusia dikenal dua macam respirasi yaitu respirasi eksternal


dan respirasi internal. Respirasi eksternal adalah pertukaran O2 dan CO2
antara paru dan kapiler darah paru, sedangkan respirasi internal berkaitan
dengan pertukaran O2 dan CO2 antara kapiler darah jaringan dan sel-sel
jaringan.

Respirasi eksternal membutuhkan kerjasama antara sistem respirasi


dan kardiovaskular yang terdiri dari, sistem konduksi yang berjalan dari
lingkungan eksernal sampai permukaan pertukaran paru, alveoli yang terdiri

3
dari serangkaian kantong yang saling berhubungan dengan kapiler pulmonalis
yang membentuk permukaan pertukaran (tempat oksigen bergerak dari udara
inspirasi ke darah dan karbon dioksida bergerak dari darah ke udara yang akan
di ekspirasikan), dan tulang serta otot toraks dan abdomen yang membantu
ventilasi.

2.1.1 Tahapan Respirasi

Respirasi melibatkan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Ventilasi Pulmonal
Merupakan proses pergerakan udara keluar masuk paru secara berkala
dari atmosfer ke dalam alveoli. Proses ventilasi terjadi akibat adanya
perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru. Pertukaran udara ini dibantu
dengan pergerakan otot yang berguna untuk melakukan proses inspirasi dan
ekspirasi. Proses ventilasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Adanya konsentrasi oksigen di atmosfer

b. Adanya kondisi jalan napas yang baik

c. Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru dalam


melaksanakan ekspansi atau kembang-kempis.

Tujuan utama terjadinya proses ventilasi pulmonal adalah untuk


menjaga konsentrasi O2 dan CO2 dalam keadaan sesuai di dalam lumen
alveoli. Ventilasi pulmonal melibatkan dua proses, yaitu inspirasi dan
ekspirasi. Sewaktu inspirasi dinding toraks secara aktif mengembang dan
diafragma berkontraksi, sehingga volume toraks meningkat dan tekanan
alveoli menurun. Selama ventilasi, udara mengalir akibat gradien tekanan.

Inspirasi terjadi ketika tekanan alveoli menurun agar udara dapat


mengalir masuk ke dalam alveoli. Menurut hukum boyle, peningkatan volume

4
menyebabkan penurunan tekanan. Selama inspirasi, volume thorax meningkat
ketika otot rangka dan diafragma berkontraksi. Sedangkan ekspirasi terjadi
ketika tekanan alveoli meningkat. Daya rekoil elastik paru dan dinding thorax
mengembalikan diafragma dan iga ke posisi relaksasinya

Menurunnya tekanan alveoli menyebabkan udara mengalir ke alveoli.


Sedangkan sewaktu ekspirasi diafragma relaksasi dan dinding toraks
mengempis, sehingga volume toraks menurun dan tekanan meningkat. Kedua
proses ini dapat dicapai apabila terjadi perbedaan tekanan udara.

Prinsip pada ventilasi ini adalah udara mengalir dari tekanan yang
lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Perbedaan tekanan ini dibantu oleh
kinerja otot-otot pernapasan dan dipengaruhi oleh volume dan kapasitas paru,
resistensi aliran udara dan daya kembang atau compliance paru.

2. Difusi

Sirkulasi pulmonalis diawali dari truncus pulmonalis yang menerima


darah beroksigen rendah dari ventrikel kanan. Truncus pulmonalis dibagi
menjadi dua arteri pulmonalis, satu arteri untuk setiap paru. Darah
teroksigenasi dari paru kembali ke atrium kiri melalui vena pulmonalis. Pada
setiap saat, sirkulasi pulmonalis mengandung sekitar 0,5 liter darah, atau 10%
volume darah total.

Sekitar 75 ml dari jumlah tersebut terdapat di dalam kapiler, tempat


terjadinya pertukaran gas, dan sisanya berada dalam arteri dan vena
pulmonalis. Meskipun kecepatan alirannya tinggi, tekanan darah pulmonalis
adalah rendah. Pada keadaan normal, tekanan hidrostatik yang memfiltrasi
cairan keluar dari kapiler pulmonalis ke ruang intersitial adalah rendah karena
rendahnya tekanan darah rata-rata. Soistem limfe secara efisien mengangkut
cairan yang difiltrasi sehingga volume cairan intersitial paru umumnya
minimal. Akibatnya, jarak antara ruang udara alveolar dan endotel kapiler
adalah dekat dan gas berdifusi dengan cepat di antara keduanya.

5
Setelah alveoli ditukar dengan udara segar, tahapan yang selanjutnya
terjadi dalam proses respirasi adalah difusi O2 dari alveoli ke pembuluh darah
paru dan difusi CO2 ke arah sebaliknya. Dinding alveoli sangat tipis dan di
dalamnya terdapat jaringan kapiler yang padat dan saling berhubungan.
Pertukaran gas antara udara alveolus dan pembuluh darah paru terjadi melalui
membran di seluruh bagian terminal paru, yaitu membran alveolus berkapiler
tipis. Yang mendorong terjadinya pertukaran ini adalah selisih tekanan parsial
antara daerah dan fase gas. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:

a. Ketebalan membran respirasi

b. Luas permukaan paru

c. Koefisien difusi

d. Perbedaan tekanan

Proses difusi ini terjadi melewati dinding alveoli, ruang intertitial,


endotel kapiler, plasma dan dinding eritrosit. O2 dari alveoli setelah melewati
jaringan tersebut akan berikatan dengan hemoglobin membentuk HbO2 (97%)
dan sisanya larut dalam plasma (3%). Setiap gangguan atau kerusakan pada
jaringan yang dilalui pada proses difusi dapat menurunkan difusi O2 ke dalam
darah.

3. Perfusi atau transportasi

Adalah proses pendistribusian O2 dari kapiler paru ke jaringan tubuh


dan CO2 jaringan tubuh ke kapiler paru. O2 yang telah berdifusi dan
bergabung dengan hemoglobin akan ditransport ke kapiler jaringan dan
dilepaskan untuk dipergunakan oleh sel. Kandungan O2 total adalah gabungan
antara oksigen yang larut dalam plasma dan oksigen yang berikatan dengan
Hb (HbO2). Oksigen yang dibawa oleh hemoglobin mencapai 98% dari
oksigen kita, karena oksigen hanya sedikit terlarut di dalam larutan berair.

6
Jumlah oksigen yang berikatan dengan Hb bergantung pada (1) O2 plasma
yang menentukan % saturasi Hb, dan (2) jumlah Hb yang menentukan jumlah
tempat ikatan Hb total dihitung dari kandungan Hb per SDM x jumlah SDM.

Reaksi pengikatan Hemoglobin Hb + O2 = HbO2, mengikuti hukum


kekekalan massa. Dengan meningkatnya konsentrasi O2 bebas, lebih banyak
oksigen yang berikatan dengan hemoglobin dan persamaan bergeser ke kanan,
menghasilkan lebih banyak HbO2. Bila konsentrasi O2 turun, persamaan
bergeser ke kiri. Hemoglobin melepas oksigen dan jumlah oksihemoglobin
menurun. Bentuk kurva saturasi HbO2 menggambarkan sifat molekul
hemoglobin dan afinitasnya untuk oksigen.

PO2 yang rendah menurunkan ambilan oksigen, hal ini karena


penurunan PO2 oksigen disebabkan oleh kandungan oksigen udara inspirasi
yang rendah, atau ventilasi alveolar yang tidak memadai. Syarat pertama agar
terjadi penyampaian oksigen ke jaringan yang memadai adalah ambilan
oksigen dari atmosfer yang memadai juga. Faktor utama yang mempengaruhi

7
kandungan oksigen udara atmosfer adalah ketinggian. Saat menuju daerah
yang lebih tinggi, tekanan parsial oksigen di udara akan turun sesuai dengan
penurunan tekanan atmosfer total. Tapi jika ketinggian selalu konstan,
komponen udara inspirasi adalah normal tetapi PO2 alveolar rendah, maka
masalahnya pasti terletak pada ventilasi alveolar.

Dalam sel jaringan O2 bereaksi dengan berbagai bahan makanan


membentuk sejumlah besar CO2. CO2 ini masuk ke dalam kapiler jaringan
dan ditransport kembali ke paru.Transpotasi gas/perfusi dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Cardiac output

b. Keadaan pembuluh darah

c. Exercise

d. Hematokrit darah

e. Jumlah eritrosit dan kadar Hb

Pembuangan CO2 dari tubuh merupakan hal yang penting, karena


peningkatan CO2 (hypercapnea) menimbulkan gangguan pH, yang dikenal
sebagai asidosis. pH yang ekstrem mengganggu ikatan hidrogen pada molekul
dan dapat menimbulkan denaturasi protein. Kadar pH yang terlalu tinggi juga
dapat menekan fungsi sistem saraf pusat, menyebabkan kebingungan, koma,
dan bahkan kematian. Oleh karena itu CO2 merupakan produk sisa yang
berpotensi toksik sehingga harus dikeluarkan melalui paru.
CO2 lebih mudah larut pada cairan tubuh dibandingkan dengan
oksigen, tetapi sel membentuk CO2 yang lebih banyak daripada jumlah yang
dapat larut dalam plasma. Hanya sekitar 7% CO2 yang diangkut dalam bentuk
terlarut dalam vena, sisanya berdifusi ke dalam sel darah merah. Dan hampir
70% dikonversi ke dalam ion bikarbonat dan 23% berikatan dengan
hemoglobin (HbCO2).

8
70% CO2 yang memasuki darah ditranspor dari paru sebagai ion
bikarbonat (HCO3-) yang terlarut dalam plasma. Konversi CO2 menjadi
bikarbonat memiliki dua tujuan yaitu, (1) merupakan cara transpor CO2
tambahan dari sel ke paru, dan (2) HCO3- tersedia untuk menstabilkan pH
darah. Konversi CO2 menjadi HCO3- tergantung enzim Karbonat anhidrase.

Saat vena mencapai paru, proses yang terjadi di kapiler sistemik


berbalikan dengan gambar diatas. PCO2 alveoli lebih rendah daripada darah
vena dalam kapiler pulmonal. Oleh sebab itu, CO2 berdifusi menuruni gradien
tekanan keluar dari plasma dan masuk ke dalam alveoli dan PCO2 plasma
mulai menurun, yang memungkinkan CO2 terlarut berdifusi keluar dari sel
darah merah. Dengan keluarnya CO2 dari sel darah merah, keseimbangan
reaksi CO2-HCO3- terganggu, bergeser ke arah pembentukan CO2 yang lebih
banyak lagi. Pengeluaran CO2 menyebabkan H+ meninggalkan molekul
hemoglobin dan perpindahan klorida berbalik (Cl- kembali ke plasma bertukar

9
dengan HCO3- kembali ke dalam sel darah merah). HCO3- dan H+ yang baru
saja dilepas membentuk kembali asam karbonat, yang akan dikonversi
menjadi air dan CO2. Selanjutnya CO2 ini bebas berdifusi ke dalam sel darah
merah dan masuk ke dalam alveoli.

2.1.2 Volume dan kapasitas paru

Udara yang bergerak selama bernapas dapat dibagi menjadi empat


volume paru : (1) volume tidal, (2) volume cadangan inspirasi, (3) volume
cadangan ekspirasi, (4) volume residu. Volume paru sangat bervariasi sesuai
usia, jenis kelamin, tinggi, dan berat badan.

10
Gambar 2. Grafik volume dan kapasitas paru

a. Tidal Volume (TV) adalah volume udara yang diinspirasi dan


diekspirasi setiap kali bernafas normal (+500mL)

b. Volume Cadangan inspirasi (IRV) adalah volume udara ekstra yang


diinspirasi melalui inspirasi kuat setelah volume tidal (+3000mL)

c. Volume Cadangan ekspirasi (ERV) adalah volume udara yang masih


bisa dikeluarkan dengan melakukan ekspirasi kuat pada akhir ekspirasi
normal (+1100mL)

d. Volume residu (RV) adalah volume udara yang masih tersisa dalam
paru setelah ekspirasi maksimal (+1200mL)

e. Kapasitas Inspirasi (IC) = TV + IRV

adalah jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi setelah akhir


ekspirasi normal ( +3500mL)

f. Kapasitas Residu Fungsional (FRC) = ERV + RV

adalah jumlah udara maksimal yang masih tersisa pada akhir ekspirasi
normal (+2300mL)

11
g. Kapasitas vital (VC) = IRV+TV+ERV

adalah jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dari paru


setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimal dan kemudian
mengeluarkannya sebanyak-banyaknya (+4600mL)

h. Kapasitas Paru Total (TLC) = VC+RV

adalah volume maksimal pengembangan paru dengan inspirasi paksa


(+5800mL)

12