Anda di halaman 1dari 208

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Tinjauan Teori Klinis

2.1.1 Kehamilan

2.1.1.1 Pengertian Kehamilan

Definisi dari kehamilan adalah fertilisasi atau penyatuan dari

spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi.

Bila dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan

normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar

atau 9 bulan menurut kalender internasional. (Prawirohardjo, 2010)

Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin,

lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari)

dihitung dari hari pertama haid terakhir (Saifudin, 2010).

2.1.1.2 Fisiologi Kehamilan

1) Proses kehamilan

Proses kehamilan merupakan matarantai yang bersinambung dan

terdiri dari: ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan

pertumbuhan zigot, nidasi (implantasi) pada uterus, pembentukan

plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm.

(Manuaba, 2010)

10
2) Ovulasi

Ovulasi adalah proses pelepasan ovum yang dipengaruhi oleh

system hormonal yang kompleks.

Selama masa subur yang berlangsung 20 sampai 35 tahun,

hanya 420 buah ovum yang dapat mengikuti proses pematangan

dan terjadi ovulasi. Proses pertumbuhan ovum (oogenesis) asalnya

epitel germinal, oogonium, folikel primer, proses pematangan

pertama. Dengan pengaruh FSH, folikel primer mengalami

perubahan menjadi folikel de graf yang menuju ke permukaan

ovarium menyebabkan penipisan dan disertai devaskularisasi.

Selama menjadi folikel de graf, ovarium mengeluarkan hormon

esterogen yang dapat memengaruhi gerak dari tuba yang makin

mendekati ovarium, gerak sel rambut lumen tuba makin tinggi,

peristaltic tuba makin aktif. Ketiga faktor ini makin deras menuju

uterus. Dengan pengaruh LH yang semakin besar dan fluktuasi

yang mendadak, terjadi proses pelepasan ovum yang disebut

ovulasi. Dengan gerak aktif tuba yang mempunyai umbai

(fimbriae) maka ovum yang telah dilepaskan segera ditangkap oleh

fimbriae tuba. Proses penangkapan ini disebut ovum pick up

mechanism. Ovum yang tertangkap terus berjalan mengikuti tuba

menuju uterus, dalam bentuk pematangan pertama, artinya telah

siap untuk dibuahi.(Manuaba, 2010)

11
3) Spermatozoa

Proses pembentukan spermatozoa merupakan proses yang

kompleks. Spermartogonium berasal dari sel primitive tubulus,

menjadi spermatosit pertama, menjadi spermatosit kedua, menjadi

spermatid, akhirnya spermatozoa.

Pertumbuhan spermatozoa dipengaruhi matarantai hormonal

yang kompleks dari pancaindra, hipotalamus, hipofisis dan sel

interstitial leyding sehingga spermatogonium dapat mengalami

proses mitosis. Pada setiap hubungan seksual dikeluarkan sekitar 3

cc sperma yang mengandung 40 sampai 60 juta spermatozoa setiap

cc. bentuk spermatozoa seperti cebong yang terdiri atas kepala

(lonjong sedikit gepeng yang mengandung inti), leher (penghubung

antara kepala dan ekor), ekor (panjang sekitar 10 kali kepala,

mengandung energy sehingga dapat bergerak).

Sebagian besar spermatozoa mengalami kematian dan hanya

beberapa ratus yang dapatmencapai tuba falopii. Spermatozoa yang

masuk ke dalam alat genetalia wanita dapat hidup selama tiga hari,

sehingga cukup waktu untuk mengadakan konsepsi.

(Manuaba, 2010)

4) Konsepsi

Pertemuan inti ovum dengan inti spermatozoa disebut konsepsi

atau fertilisasi dan membentuk zigot. Prosep konsepsi dapat

12
berlangsung seperti uraian dibawah ini. Keseluruhan proses

tersebut merupakan matarantai fertilisasi atau konsepsi.

a) Ovum yang dilepaskan dalam proses ovulasi, diliputi oleh

korona radiata, yang mengandung persediaan nutrisi.

b) Pada ovum, dijumpai inti dalam bentuk metaphase ditengah

sitoplasma yang disebut vitelus.

c) Dalamperjalanan, korona radiate makin berkurang pada zona

pelusida. Nutrisi dialirkan kedalam vitelus, melalui saluran

pada zona pelusida.

d) Konsepsi terjadi pada pars ampularisasi tuba, tempat yang

paling luas yang dindingnya penuh jonjot dan tertutup sel yang

mempunyai silia. Ovum mempunyai waktu hidup terlama

didalam ampula tuba.

e) Ovum siap dibuahi setelah 12 jam dan hidup selama 48 jam.

Spermatozoa menyebar, masuk melalui kanalis servikalis

dengan kekuatan sendiri. Pada kavum uteri, terjadi proses

kapasitasi, yaitu pelepasan lipoprotein dari sperma sehingga

mampu mengadakan fertilisasi. Spermatozoa melanjutkan

perjalanan menuju tuba falopi. Spermatozoa hidup selama tiga

hari didalam genitalia interna. Spermatozoa akan mengelilingi

ovum yang telah siap dibuahi serta mengikis korona radiate dan

zona pelusida dengan proses enzimatik: hialuronidase. Melalui

stomata, spermatozoa memasuki ovum. Setelah kepala

13
spermatozoa masuk kedalam ovum dan inti spermatozoa

bertemu dengan membentuk zigot.

(Manuaba, 2010)

5) Proses nidasi atau implantasi

Dengan masuknya inti spermatozoa kedalam sitoplasma,

vitelus membangkitkan kembali pembelahan dalam inti ovum yang

dalam keadaan metaphase. Proses pemecahan dan pematangan

mengikuti bentuk anaphase dan telofase sehingga pronukleusnya

menjadi haploid. Pronukleus spermatozoa dalam keadaan haploid

saling mendekati dengan inti ovum yang kini haploid dan bertemu

dalam pasangan pembawa tanda dari pihak pria maupun wanita.

Pada manusia, terdapat 46 kromosom dengan rincian 44 dalam

bentuk autosom sedangkan 2 kromosom sisanya sebagai pembawa

tanda seks. Wanita selalu resesif dengan kromosom X. Laki-laki

memiliki dua bentuk kromosom seks yaitu kromosom X dan Y.

Bila spermatozoa kromosom X bertemu sel ovum, terjadi jenis

kelamin laki-laki. Oleh karena itu, pihak wanita tidak dapat

disalahkan dengan jenis kelamin bayinya yang lahir karena yang

menentukan jenis kelamin adalah pihak suami.

Setelah pertemuan kedua inti ovum dan spermatozoa, terbentuk

zigot yang dalam beberapa jam telah mampu membelah dirinya

menjadi dua dan seterusnya. Berbarengan dengan pembelahan inti,

hasil konsepsi terus berjalan menuju uterus. Hasil pembelahan sel

14
memenuhi seluruh ruangan dalam ovum yang besarnya 100 MU

atau 0,1 mm dan disebut stadium morula. Selama pembelahan sel

dibagian dalam, terjadi pembentukan sel dibagian luar morula yang

kemungkinan berasal dari korona radiate yang menjadi sel

trofoblas. Sel trofoblas dalam pembentukannya, mampu

mengeluarkan hormon korionik gonadotropin, yang

mempertahankan korpus luteum gravidarum.

Pembelahan berjalan terus dan didalam morula terbentuk

ruangan yang mengandung cairan yang disebut blastula.

Perkembangan dan pertumbuhan berlangsung, blastula dengan vili

korelasinya yang dilapisi sel trofoblas telah siap untuk mengadakan

nidasi. Sementara itu, pada fase sekresi, endometrium telah makin

tebal dan makin banyak mengandung glikogen yang disebut

desidua. Sel trofoblas yang meliputi primer vili korealis melakukan

destruksi enzimatik-proteulitik, sehingga dapat menanamkan atau

implantasi terjadi pada hari ke-6 sampai 7 setelah konsepsi. Pada

saat tertanamnya blastula ke dalam endometrium, mungkin terjadi

perdarahan yang disebut tanda Hartman.(Manuaba, 2010)

6) Pertumbuhan Dan Perkembangan Embrio

Embryogenesis (pertumbuhan mudigah): pertumbuhan embrio

bermula dari lempeng embrional (embrional plate) kemudian

berdiferensiasi menjadi 3 unsur lapisan: ektodermal, mesodermal,

dan entodermal, ruang amnion akan tumbuh pesat mendesak

15
exocoeloma, sehingga dinding ruang amnion mendekati korion,

mesoblas diruang amnion dan mudigah menjadi padat disebut body

stalk yang merupakan jembatan antara embrio dan dinding

trofoblas, yang kelak akan menjadi tali pusat.

Pada tali pusat terdapat (jelly whayrton) jaringan lembek untuk

melindungi pembuluh darah, 2 arteri umbilikalis, 1 vena

umbilikalis (Prawirohardjo, 1999 dalam buku Rukiyah, 2009)

Kedua arteri dan vena ini menghubungkan system

kardiovaskuler janin dengan plasenta system kardiovaskular akan

terbentuk pada kehamilan minggu ke sepuluh.

a) Minggu ke O: sperma membuahi ovum kemudian hasil

konsepsi membagi menjadi 2, 4, 8, setelah menjadi morulla

masuk untuk menempel ± 11 hari setelah konsepsi

b) Minggu ke-4/bulan ke-1: dari embrio, bagian tubuh pertama

muncul adalah: tulang belakang, otak dan syaraf, jantung

sirkulasi darah dan pencernaan terbentuk

c) Minggu ke-8/bulan ke-2: perkembangan embrio lebih cepat,

jantung mulai memompa darah

d) Minggu ke-12/bulan ke-3: embrio berubah menjadi janin.

denyut jantung janin dapat dilihat dengan pemeriksaan

USG, berbentuk manusia, gerakan pertama dimulai, jenis

kelamin sudah bisa ditentukan, ginjal sudah memproduksi

urine

16
e) Minggu ke-16/bulan ke-4: system musculoskeletal matang,

system saraf terkontrol, pembuluh darah berkembang cepat,

denyut jantung janin terdengar lewat Dopler, pancreas

memproduksi insulin.

f) Minggu ke-20/bulan ke-5: verniks melindungi tubuh,

lanugo menutupi tubuh, janin membuat jadwal untuktidur,

menelan dan menendang

g) Minggu ke-24/bulan ke-6: kerangka berkembang cepat,

perkembangan pernafasan dimulai

h) Minggu ke-28/bulan ke-7: janin bernafas, menelan dan

mengatur suhu, surfactant mulai terbentuk di paru-paru,

mata mulai buka dan menutup, bentuk janin 2/3 bentuk saat

lahir

i) Minggu ke-32/bulan ke-8: lemak coklat berkembang

dibawah kulit, mulai simpan zat besi, kalsium dan fosfor

j) Minggu ke-38/bulan ke-9: seluruh uterus digunakan bayi

sehingga tidak bisa bergerak banyak, antibody ibu di

transfer ke bayi untuk mencapai kekebalan untuk 6 bulan

pertama sampai kekebalan bekerja bayi bekerja sendiri

(Rukiyah, 2009)

17
7) Pembentukan plasenta

Implantasi atau Nidasi terjadi pada bagian fundus uteri di

dinding depan atau belakang. Pada blastula, penyebaran sel

trofoblas yang tumbuh tidak rata, sehingga bagian blastula dengan

inner cell mass akan tertanam ke dalam endometrium. Sel trofoblas

menghancurkan endometrium sampai terjadi pembentukan plasenta

yang berasal dari primer vili korealis.

Terjadinya nidasi (implantasi) mendorong sel blastula

mengadakan diferensiasi. Sel yang dekat dengan ruangan

eksoselom membentuk entoderm dan yolk sac (kantong kuning

telur) sedangkan sel lain membentuk ectoderm dan ruangan

amnion. Plat embrio (embryonal plate) terbentuk diantara dua

ruang yaitu ruang amnion dan kantong yolk sac. Plat embrio terdiri

dari unsure ectoderm, entoderm, dan mesoderm. Ruangan amnion

dengan cepat mendekati korion sehingga jaringan yang terdapat di

antara amnion dan embrio padat dan berkembang menjadi tali

pusat.

Awalnya yolk sac berfungsi sebagai pembentuk darah bersama

dengan hati, limpa, dan sumsum tulang. Pada minggu kedua

sampai ketiga, terbentuk bakal jantung dengan pembulih darahnya

yang menuju body stalk (bakal tai pusat). Jantung bayi mulai dapat

dideteksi pada minggu ke-6 sampai 8 dengan menggunakan

ultrasonografi atau system Doppler.

18
Pembuluh darah pada body stalk terdiri dari uteri umbikalis dan

vena umbilikalis. Cabang arteri dan vena umbilikalis masuk ke vili

korealis sehingga dapat melakukan pertukaran nutrisi dan sekaligus

membuang hasil metabolisme yang tidak diperlukan.

Dengan berbagai bentuk implantasi (nidasi) dimana posisi plat

embrio berada, akan dijumpai berbagai variasi dari insersio tali

pusat, yaitu insersio sentralis, para sentralis, marginalis atau

insersio vilamentosa.

Vili korealis menghancurkan desidua sampai pembuluh darah,

mulai dengan pembuluh darah vena pada hari ke-10 sampai 11

setelah konsepsi, sehingga sejak saat itu embrio mendapat

tambahan nutrisi dari darah arteri sehingga terjadilah aliran darah

pertama reptroplasenter pada hari ke-14 sampai 15 setelah

konsepsi. Bagian desidua yang tidak dihancurkan membagi

plasenta menjadi sekitar 15 sampai 20 kotiledon maternal. Pada

janin plasenta akan dibagi menjadi sekitar 200 kotiledon fetus.

Setiap kotiledon fetus terus bercabang dan mengambang ditengah

aliran darah untuk menunaikan fungsinya memberikan nutrisi,

pertumbuhan, dan perkembangan janin dalam rahim ibu. Darah ibu

dan darah janin tidak berhubungan langsung dan dipisahkan oleh

lapisan trofoblas, dinding pembuluh darah janin. Fungsinya

dilakukan berdasarkan system osmosis dan enzimatik serta

19
pinositosis. Situasi plasenta demikian disebutkan system plasenta-

hemokorial. (Manuaba, 2010)

Sebagian besar dari vili korealis tetap berhubungan langsung

dengan pars basalis desidua, tetapi tidak sampai menembusnya.

Hubungan vili korealis dengan lapisan desidua tersebut dibatasi

oleh jaringan fibrotic yang disebut lapisan nitabusch. Melalui

lapisan nitabusch plasenta dilepaskan pada saat persalinan kala

ketiga (kala uri). Dengan terjadinya nidasi maka desidua terbagi

menjadi desidua basalis yang berhadapan dengan korion

frondusum yang berkembang menjadi plasenta; desidua kapsularis

yang menutupi hasil konsepsi; desidua yang berlawanan dengan

desidua kapsularis disebut desidua parietalis; desidua yang

berlawanan dengan desidua kapsularis dan desidua parietalis

disebut desidua reflexa. Vili korealis yang tumbuhnya tidak subur

disebut korion leaf.

(Manuaba, 2010)

2.1.1.3 Tanda Dan Gejala Kehamilan

1) Tanda-Tanda Kehamilan Pasti, Tidak Pasti, Kemungkinan

a. Tanda Kehamilan Pasti

Tanda ibu yang diyakini sedang hamil maka dalam

pemeriksaan melalui USG (ultrasonografi) terlihat adanya

gambaran janin. Ultrasonografi memungkinkan untuk

20
mendeteksi jantung kehamilan (gestasional sac) pada minggu

ke-5 sampai ke-7, pergerakan jantung biasanya terlihat pada 42

hari setelah konsepsi yang normal atau sekitar minggu ke-8,

melalui pemeriksaan USG, dapat diketahui juga panjang,

kepala dan bokong (trown-sump lenghth/TRI) janin dengan

pemeriksaan radiology, terdengar adanya denyut jantung janin,

melalui pemeriksaan dengan ultrasonogrphi Doppler dapat

dideteksi dengan denyut jantung janin pada minggu ke-8

sampai minggu ke-12 setelah menstruasi terakhir dengan

stetoskop leanec denyut jantung terdeteksi pada minggu ke-18

sampai minggu ke-20.

Jantung janin mulai berdenyut sejak awal minggu keempat

setelah fertilisasi, tetapi baru pada usia kehamilan 20 minggu

bunyi jantung janin dapat dideteksi dengan fetoskop. Dengan

menggunakan tekhnik ultrasound atau system Doppler, bunyi

jantung janin dapat dikenali lebih awal (12 – 20 minggu usia

kehamilan). Gerakan janin juga bermula pada usia kehamilan

mencapai 12 minggu, tetapi baru dapat dirasakan oleh ibu pada

usia kehamilan 16 – 20 minggu karena di usia kehamilan

tersebut dinding uterus mulai menipis dan gerakan janin

menjadi lebih kuat (Prawirohardjo, 2010)

21
b. Tanda-tanda mungkin hamil

(1) Reaksi kehamilan positif : dasar dari tes kehamilan adalah

pemeriksaan hormon human chorionik gonadotropin sub unit

beta (beta heg) dalam urine. Jiuka terjadi kehamilan terjadi

reaksi antigen-antibodi dengan beta heg, sebagai anti gen beta

heg dapat dideteksi dalam darah dan urine mulai enam hari

setelah implantasi (penanaman embrio didalam rongga rahim).

Cara khas yang dipakai untuk menentukan adanya human

chorionik gonadotropin pada kehamilan muda adalah air

kencing pertama kali dipagi hari. Dengan tes kehamilan

tertentu air kencing pagi hari ini dapat membantu membuat

diagnosis sedini-dininya

(a) Uterus membesar perubahan bentuk, besar konsistensi

(b)Tanda Hegar yaitu segmen bawah rahim melunak. Tanda

hegar tanda ini terdapat pada dua pertiga kasus dan biasanya

muncul pada minggu keenam dan sepuluh serta terlihat

lebih awal pada perempuan yang hamilnya berulang. Pada

pemeriksaan bimanual segmen bawah uterus terasa lebih

lembek. Tanda ini sulit ditemui pada pasien yang gemuk

atau dinding abdomen yang tegang.(Prawirohardjo,2010)

(c) Tanda Chadwick

Biasanya muncul pada minggu kedelapan dan terlihat

lebih jelas pada wanita yang hamil berulang tanda ini

22
berupa perubahan warna. Warna pada vagina dan vulva

menjadi lebih merah dan agak kebiruan timbul Karen

adanya vaskularisasi pada daerah tersebut .(Prawirohardjo,

2010)

(d) Tanda Goodel

Biasanya muncul pada minggu keenam dan terlihat lebih

awal pada wanita yang hamilnya berulang tanda ini berupa

serviks menjadi lebih lunak dan jika dilakukan

pemeriksaan dengan menggunakan speculum, serviks

terlihat lebih kelabu kehitaman.(Prawirohardjo, 2010)

(e) Tanda Piscazek

Uterus membesar secara simetris menjauhi garis tengah

tubuh (setengah bagian terasa lebih keras dari yang

lainnya) bagian yang lebih besar tersebut terdapat pada

tempat melekatnya (implantasi) tempat kehamilan. Sejalan

dengan bertambahnya usia kehamilan, pembesaran uterus

menjadi semakin simetris. Tanda piscaseks, dimana uterus

membesar kesalah satu jurusan hingga menonjol ke

jurusan pembesaran tersebut. (Prawirohardjo, 2010)

(f) Tanda Braxton Hick

Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi. Tanda ini khas

untuk uterus dalam masa hamil. Pada keadaan uterus yang

23
membesar tetapi tidak ada kehamilan misalnya mioma

uteri, tanda ini tidak ditemukan.(Prawirohardjo, 2010)

c. Gejala kehamilan tidak pasti (keluhan pasien)

(1) Amenorea (tidak haid)

Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadi pembentukan

folikel degraf dan ovulasi, mengetahui tanggal haid terakhir

dengan perhitungan rumus nagle dapat ditentukan perkiraan

persalinan, amenorea (tidak haid) gejala ini sangat penting

karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi. Penting

diketahui tanggal hari pertama haid terakhir, supaya dapat

ditentukan tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan

ditentukan tuanya kehamilan dan bila persalinan diperkirakan

akan terjadi.(Rukiyah, 2009)

(2) Mual dan muntah

Pengaruh estrogen dan progesteron terjadi pengeluaran asam

lambung yang berlebihan, menimbulkan mual dan muntah

terutama dipagi hari yang disebut morning sickness, akibat

mual dan muntah nafsu makan berkurang. (Rukiyah, 2009)

(3) Nausea (enek) dan emesis (muntah), dimana enek pada

umumnya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai

kadang-kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari,

tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness,

24
dalam batas-batas tertentu keadaan ini masih fisiologik. Bila

melampaui sering, dapat mengakibatkan gangguan kesehatan

dan disebut hiperemesis gravidarum. (Rukiyah, 2009)

(4) Mengidam

Sering terjadi dibulan-bulan pertama akan tetapi menghilang

dengan tuanya kehailan. (Rukiyah, 2009)

(5) Mamae menjadi tegang dan membesar

Mamae menjadi tegang dan membesar, keadaan ini disebabkan

pengaruh estrogen dan progesterone yang merangsang duktuli

dan alveoli di mammae. Glandula montgomeri tampak lebih

jeas. (Rukiyah, 2009)

(6) Pingsan

Sering dijumpai bila berada ditempat-tempat yang ramai,

dianjurkan untuk tidak mengunjungi tempat-tempat yang rami

saat kehamilan. Dan akan hilang sesudah kehamilan 16

minggu. (Rukiyah, 2009)

(7) Anoreksia

Tidak nafsu makan pada bulan-bulan pertama tetapi setelah itu

nafsu makan timbul lagi. Hendaknya dijaga jangan sampai

salah pengertian makan untuk dua orang, sehingga kenaikan

tidak sesuai dengan tuanya kehamilan. (Rukiyah, 2009)

25
(8) Sering miksi

Sering kencing karena kandung kencing pada bulan-bulan

pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar.

Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang oleh karena

uterus yang membesar keluar dari rongga panggul. Pada akhir

triwulan gejala ini timbul lagi karena janin mulai masuk ke

rongga panggul dan menekan kembali kandung kencing. Yang

harus dilakukan adalah dengan menyingkirkan kemungkinan

infeksi. Berikan nasihat untuk mengurangi minum setelah

makan malam atau minimal dua jam sebelum tidur,

menghindari minum yang mengandung kafein, jangan

mengurangi kebutuhan air minum (minimal 8 gelas per hari)

perbanyak di siang hari, dan lakukan senam kegel. (Rukiyah,

2009)

(9) Konstipasi/obstipasi

Terjadi karena tonus otot menurun karena disebabkan oleh

pengaruh hormon steroid, selain itu juga dapat dipengaruhi

oleh hormon progesterone sehingga dapat menghambat

peristaltic usus yang menyebabkan kesulitan untuk buang air

besar. (Rukiyah, 2009)

(10) Hipertropi pada papilla gusi (epulis)

Tanda berupa pembengkakan pada gusi. Gusi tampak bengkak

karena peningkatan jumlah pembuluh darah disekitar gusi,

26
epulis adalah suatu hipertropi papilla ginggivae. Sering terjadi

pada trimester awal. (Rukiyah, 2009)

(11) Perubahan pada perut

Uterus tetap berada pada rongga panggul sampai minggu ke 12

setelah itu uterus mulai diraba diatas simfisis pubis. (Rukiyah,

2009)

(12) Leukore

Tanda berupa peningkatan cairan vagina pada pengaruh

hormon cairan tersebut tidak menimbulkan rasa gatal,

warnanya jernih dan jumlahnya tidak banyak. (Rukiyah, 2009)

(13) Pemeriksaan Diagnosa Kehamilan

Diagnosis dibuat untuk menentukan hal-hal sebagai berikut.

Kehamilan normal dengan gambaran ibu sehat, tidak ada

riwayat obstetric buruk, ukuran uterus sama/sesuai usia

kehamilan, pemeriksaan fisik dan laboratorium normal.

Kehamilan dengan masalah khusus, seperti masalah keluarga

atau psikososial, kekerasan dalam rumah tangga, kebutuhan

financial. Kehamilan dengan masalah kesehatan yang

membutuhkan rujukan untuk konsultasi dan atau kerjasama

penanganannya. Seperti hipertensi, anemia berat, pre

eklampsia, pertumbuhan janin terhambat, infeksi aluran kemih,

penyakit kelamin dan kondisi lain-lain yang dapat memburuk

selama kehamilan.

27
Kehamilan dengan kondisi kegawat daruratan yang

membutuhkan rujukan segera. Seperti perdarahan, eklampsia,

ketuban pecah dini dan atau kondisi-kondisi kegawatdaruratan

lain pada ibu dan bayi.

Cara melakukan diagnosis kehamilan antara lain, melakukan

anamnesis diantaranya: kapan ibu mulai tidak mendapat haid,

apakah ibu mengalami mual dan muntah, apakah terjadi

pembesaran payudara, pembesaran putting susu, sering buang

air kecil, lesu lelah/ cepat pingsan, pigmentasi kulit, folikel

Montgomery, mengidam, anoreksia, obtipasi, epulis, varises,

peningkatan suhu basal badan, peningkatan saliva, perubahan

warna payudara, keluarnya kolostrum.

Penilaian klinik merupakan proses berkelanjutan yang dimulai

pada kontak pertama antara petugas kesehatan dengan ibu

hamil dan secara optimal berakhir pada pemeriksaan 6 minggu

setelah persalinan. Pada setiap kunjungan antenatal, petugas

mengumpulkan dan menganalisa data mengenai kondisi ibu

melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, untuk mendapatkan

diagnosis kehamilan intrauterine, serta ada tidaknya masalah

dan komplikasi. (Saifudin, 2010)

Pemeriksaan fisik yang dilakukan maka akan ditemukan:

ditemukan kolostrum, perubahan warna payudara, payudara

28
teraba kencang, pembesaran perut, teraba bagian janin,

ballottement, gerak janin, denyut jantung janin.

Pemeriksaan pelvic: pembesaran uterus, perubahan bentuk

uterus, tanda piskacek, tanda hegar, tanda goodel, palpasi

kontraksi braxton hicks, tanda Chadwick.

Pemeriksaan palpasi leopold dilakukan dengan sistematika:

Leopold I : Menentukan tinggi fundus dan meraba bagian janin

yang difundus dengan kedua telapak tangan.

Leopold II : Kedua telapak tangan menekan uterus dari kiri

kanan, jari kearah kepala pasien, mencari sisi bagian besar

(biasanya punggung) janin, atau mungkin bagian keras bulat

(kepala) janin.

Leopold III : Satu tangan meraba bagian janin apa yang

terletak di bawah (diatas simfisis) sementara tangan lainnya

menahan fundus untuk di fiksasi

Leopold IV : Kedua tangan menekan bagian bawah uterus dari

kiri-kanan, jari kearah pasien, untuk konfirmasi bagian

terbawah janin dan menentukan apakah bagian tersebut sudah

masuk/melewati pintu panggul. Jika memungkinkan dalam

palpasi diperkirakan juga taksiran berat janin (meskipun

memungkinkan juga kesalahan masih cukup besar). Pada

kehamilan aterm, perkiraan berat janin dapat menggunakan

29
rumus cara Johnson-Tossec yaitu TFU (cm) – (11,12,13) x 155

gr.

Pelvimetri radiologic (akhir trimester tiga), jika diperlukan,

untuk perhitungan jalan lahir. Pada trimester 3 akhir,

pembentukan dan pematangan organ janin sudah hampir

selesai, sehingga kemungkinan mutasi/ karsinogen jauh lebih

kecil dibandingkan pada trimester pertama/kedua. Tetap harus

digunakan dosis radiasi sekecil-kecilnya. Ultrasonografi

(USG) tidak berbahaya karena menggunakan gelombang suara.

Frekuensi yang digunakan dari 3.5, 5.0, 6.5, atau 7.5 MHz.

makin tinggi frekuensi, resolusi yang dihasilkan makin baik

tetapi, penetrasi tidak dapat dalam, karena itu harus

disesuaikan dengan kebutuhan.

Pemeriksaan laboratorium: tes urin: cara khas yang dipakai

untuk menentukan adanya human chorionic gonadotropin pada

kehamilan muda adalah air kencing pertama pada pagi ahri.

Dengan tes kehamilan tertentu air kencing pada pagi hari ini

dapat membantu diagnosis kehamilan sedini-dininya

Berdasarkan produksi Hormon Corionic Gonadotropin (HCG)

oleh sel-sel sitiotrofoblas. HCG beredar dalam plasma darah

sehingga di sekresi di urin, HCG terdeteksi pertama kali pada

26 hari setelah konsepsi, meningkat cepat pada hari 30-60

30
kehamilan, kadar puncak pada 60-70 hari kehamilan, turun

kembali pada hari ke 100-130.

(Rukiyah, 2009)

2.1.1.4 Menentukan Usia Kehamilan

(1) Metode kalender

Metode kalender adalah metode yang sering kali dipergunakan

oleh tenaga kesehatan dilapangan perhitungannya sesuai

dengan rumus yang direkomendasikan dari Neagle yaitu

dihitung dari tanggal haid terakhir ditambah 7 (tujuh), bulan

ditambah 9 (Sembilan)/dikurang 3 (tiga) tahun ditambah 1

(satu)/tidak (Rukiyah, 2009).

Rumus naegle menggunakan usia keamilan yang berlangsung

288 hari, perkiraan kelahiran di hitung dengan menentukan

hari pertama haid terakhir yang kemudian di tambah 288.

(Manuaba, 2012 ).

Janin (bayi) aterem mempunyai tanda cukup bulan yaitu lahir

saat usia kehamilan 37 sampa 42 minggu dan memiliki berat

badan sekitar 2.500 sampai 3.000 gram dan panjang badan

sekitar 50 sampai 55 cm. Pertumbuhan organ sempurna,

rambut kepala tumbuh dengan baik, kulit licin dengan verniks

kaseosa atau basah, rambut lanugo tumbuh baik, testis sudah

31
turun ke dalam skrotum, pusat penulangan berkembang, labia

mayora menutup labia minora. (Manuaba, 2012).

(2) Quickening (goyang anak)

Kadang-kadang riwayat haid tidak pasti, terutama kalau wanita

hamil itu tidak ingat tanggalnya, baru saja menghentikan

pemakaiana kontrasepsi oral atau kemahilan terjadi

sebelumnya haidnya kembali setelah kehamilan sebelumnya.

Pada kasus-kasus semacam ini, kita harus menanyakan saat ia

merasakan Quickening (gerakan anak yang dirasakan pertama

kali) dan kemudian mencatat tanggalnya. Tanggal atau saat

quickening kemudian ditambah 5 bulan kalender agar kita

dapat memperoleh tanggal perkiraan persalinan (farrer, 2001

dalam buku Rukiyah, 2009). Atau ditambah 4,5 bulan dari ibu

merasakan gerakan janin hidup “feeling life“ (Quickening)

(Prawirohardjo 1999 dalam buku Rukiyah, 2009).

(3) Tinggi Fundus

Tinggi fundus uteri, dengan dibandingkan terhadap berbagai

titik patokan, diukur setiap kali kunjungan. Pertumbuhan

uterus akan terus terjadi dan dapat diperkirakan sehingga tinggi

fundus uteri merupakan pedoman yang baik untuk menentukan

usia kehamilan.

Mengukur tinggi fundus juga dapat dilakukan dengan metode

lain yaitu: menurut Spiegelberg: dengan jalan mengukur tinggi

32
fundus uteri dari simfisis, Menurut Mac Donald: adalah

modifikasi Spiegelberg, yaitu jarak fundus dalam cm dibagi

3,5 merupakan tuanya kehamilan dalam bulan: menurut

Ahfeld: ukuran kepala-bokong = 0,5 panjang sebenarnya bila

diukur jarak kepala bokong adalah 20 cm, maka tua kehamilan

adalah 8 bulan.

Rumus Johnson-Tausak: menentukan taksiran berat janin

adalah: BB = (Mac Donald-12) x 155

Menentukan umur kehamilan (Rukiya, 2009) dilihat dari

Tinggi Fundus Uteri (TFU) menurut Spiegelberg

22-28 minggu : 24-25 cm diatas simfisis

28 minggu : 26,7 cm diatas simfisis

30 minggu : 29,5-30 cm diatas simfisis

32 minggu : 29,5-30 cm diatas simfisis

34 minggu : 31 cm diatas simfisis

36 minggu : 32 cm diatas simfisis

38 minggu : 33 cm diatas simfisis

40 minggu : 37,7 cm diatas simfisis

(Prawirohardjo,1999 dalam buku Rukiyah, 2009)

(4) Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan sinar X akan memperlihatkan asifikasi berbagai

bagian skeleton janin sejak usia kehamilan 16 minggu. Namun

demikian pemeriksaan ini hampir tidak pernah dilakukan untuk

33
menilai usia kehamilan mengingat bahaya yang dapat

ditimbulkan. (Rukiyah, 2009)

(5) Pemeriksaan USG (Ultrasonografi)

Kantong janin dapat dilihat pada usia kehamilan 6-7

minggu dan kepala janin dapat diukur pada usia kehamilan 13

minggu dengan menggunakan USG (pemantauan gelombang

suara frekuensi tinggi dengan panjang gelombang yang

pendek). USG merupakan cara pemeriksaan non invasive.

Pada hakekatnya pemeriksaan USG kini sudah menggantikan

peranan sinar X dalam menilai maturasi janin (Rukiyah, 2009).

Di Indonesia pemeriksaan USG tidak dikerjakan secara

rutin pada setiap ibu hamil. Hal ini lebih disebabkan oleh biaya

pemeriksaan USG yang masih cukup mahal dan tidak

terjangkau oleh sebagian besar ibu hamil yang

memerlukannya. Sebagian besar ibu hamil tidak dilindungi

oleh program asuransi kesehatan.

Indikasi Pemeriksaan USG pada Trimester I

Beberapa indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan trimester

I, misalnya: penentuan adanya kehamilan intrauterine,

penentuan adanya denyut jantung mudigah atau janin,

penentuan usia kehamilan, penentuan kehamilan kembar,

perdarahan pervaginam, terduga kehailan ektopik, terdapat

nyeri pelvic, terduga kehamilan mola, terduga adanya tumor

34
pelvic atau kelainan uterus dan membantu tindakan invasive,

seperti pengambilan sampel jaringan vili korealis (chorionoc

villus smpling), pengangkatan IUD.

Indikasi Pemeriksaan USG Pada kehamilan Trimester II dan

III . Beberapa Indikasi pemeriksaan USG pada kehamilan

trimester II dan III, misalnya usia kehamilan, evaluasi

pertumbuhan janin, terduga kematian janin, terduga kehamilan

kembar, terduga kelainan volume cairan amnion, evaluasi

kesejahteraan janin, ketuban pecah dini atau persalinan

preterm, penentuan presentasi janin, membantu tindakan versi

luar, terduga inkompetensi serviks, terduga plasenta previa,

terduga solusio plasenta, terduga kehamilan mola, terdapat

nyeri pelvic atau nyeri abdomen, terduga kehamilan ektopik,

kecurigaan adanya kelainan kromosomal (usia ibu ≥ 35 tahun,

atau hasil tes biokimiawi kehamilan sebelumnya) terduga

adanya tumor pelvic atau kelainan uterus dan membantu

tindakan invasive, seperti amniosentesis, kordosentesis, atau

amnioinfusi.

Pemeriksaan USG diagnostic cara scanning bersifat aman dan

noninvasive. Sejauh ini tidak ada kontraindikasi untuk

pemeriksaan USG dalam kehamilan.

(Prawirohardjo, 2010)

35
2.1.1.5 Perubahan-Perubahan Fisiologi Kehamilan

Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genitalia

wanita mengalami perubahan yang mendasar sehingga dapat

menunjang perkembangan dan pertumbuhan janin dan rahim.

Plaseta dalam perkembangannya mengeluarkan hormon

somatomamotropin, estrogen, dan pregestron yang

menyebabkan perubahan pada bagian-bagian tubuh dibawah

ini.

1) Uterus

Rahim atau uterus yang semula besarnya sejempol atau

beratnya 30 gram akan mengalamihipertropi dan hiperplasia,

sehimgga menjadi seberat 1000 gram saat akhir kehamilan.

Otot rahim mengalami hiperplasia dan hipertrofi menjadi lebih

besar, lunak, dan dapat mengikuti pembesaran rahim karena

pertumbuhan janin.(Manuaba, 2012)

Perubahan pada isthmus uteri (rahim) menyebabkan isthmus

menjadi lebih panjang dan lunak sehingga pada pemeriksaan

dalam seolah-olah kedua jari dapat saling sentuh. Perlunakan

isthmus disebut tanda hegar. Hubungan antara besarnya

rahim dan usia kehamilan penting untuk diketahiu karena

kemungkinan penyimpangan kehamilan seperti hamil kembar,

hamil mola hidatidosa, hamil dengan hidramnion yang akan

teraba lebih besar.

36
Sebagai gambaran dapat dikemukakan sebagai berikut:

a) Pada usia kehamilan 16 minggu, kavum uteri selurunya diisi

oleh amnion, di mana desidua kapsularis dan desidua parietalis

telah menjadi satu. Tinggi rahim adalah setengah dari jarak

simfisis dan pusat. Plasenta telah terbentuk seluruhnya.

b) Pada usia kehamilan 20 minggu, fundus rahim terletak dua jari

di bawah pusat sedangkan pada usia 24 minggu tepat ditepi

atas pusat.

c) Pada usia kehamilan 28 minggu, tinggi fundus uteri sekitar tiga

jari di atas pusat atau sepertiga jarak antara pusat dan prosesus

xifodeus.

d) Pada usia kehamilan 32 minggu, tinggi fundus uteri adalah

setengah jarak prosesus xifodeus dan pusat.

e) Pada usia kehamilan 36 minggu tinggi fundus uteri sekitar satu

jari di bawah prosesus xifodeus, dan kepala bayi belum masuk

pintu atas panggul.

f) Pada usia kehamilan 40 minggu fundus uteri akan turun

setinggi tinggi jari di bawah prosesus xifoideus, oleh karena

saat ini kepala janin telah masuk pintu atas panggul.

Panjang fundus uteri dari fundus sampai dengan supra

sympisis pada usia 28 minggu adalah 25 cm, pada usia

kehamilan 32 minggu panjangnya adalah 27 cm, dan umur

hamil 36 minggu, panjangnya 30 cm. Regangan dinding janin

37
karena besarnya pertumbuhan dan perkembangan janin

menyebabkan isthmus uteri makin tertarik keatas dan menipis

di segmen bawah rahim (SBR).(Manuaba, 2012)

Pertumbuhan rahim ternyata tidak sama kesemua arah, tetapi

terjadi pertumbuhan yang cepat di daerah implantasi plasenta,

sehingga rahim bentuknya tidak sama. Bentuk rahim yang

tidak sama disebut tanda piskaseck.

Perubahan konsentrasi hormonal yang memengaruhi rahim

yaitu estrongen dan progoestron menyebabkan progestron

menbgalami penurunan dan menimbulkan kontraksi rahim

yang disebut Braxton Hick. Terjadinya kontraksi Braxton

Hicks. Tidak dirasakan nyeri dan terjadinya bersamaan seluruh

rahim. Kontraksi Braxton Hick akan menjadikontraksi untuk

persalinan.

Bersama dengan pertimbuhan dan perkmbangan janin dalan

rahim, diikuti oleh makin besarnya aliran darah menuju rahim

dari arteri uterin dan arteri ovarika. Otot rahim mempunyai

susunan istimwa yaitu longitudinal, sirkuler, dan oblika

sehingga seluruhnya membuat anyaman yang dapat menutup

pembuluh darah dengan sempurna. Meningkatkan pembuluh

darah menuju rahim memengaruhi serviks yang akan

mengalami perlunakan. Serviks hanya memiliki sekitar 10%

jaringan otot.

38
Pada saat persalinan, terjadi pembukaan serviks secara pasif,

karena kuatnya kontraksi otot rahim Segera setelah persalinan,

serviks yang sedikit mempunyai otot, akan melipat dan terjadi

pengecilan dengan pasif. Serviks yang sedikit mempunyai otot,

tetap tebuka, tampa mekanisme sfingter, sehingga memberikan

ksempatan untuk mengeluarkan lokia. Pada pemeriksaan

postpartum, serviks multiparaq mempunyai dua bibir, bibir

atan dan bibir bawah.(Manuaba, 2012)

2) Vagina

Vagina dan vulava mengalami peningkatan pembuluh darah

karena pengarus estrogen sehingga nampat semakin berwarna

merah dan kebiru-biruan(tanda Chadwicks).(Manuaba, 2012).

3) Serviks Uteri

Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan

karena hormone estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat

dan dengan adanya hipervaskularisasi serta meningkatnya

suplai darah maka konsistensi serviks menjadi lunak yang

disebut Tanda Goodell. Konsistensi serviks menjadi lunak dan

kelenjar-kelenjar di serviks akan berfungsi lebih dan akan

mengeluarkan sekresi lebih banyak (Prawirohardjo, 2010)

4) Ovarium

Dengan terjadi kehamilan, indung telor mengadung kompus

luteum grvidarum akan meneruskan fungsinya sampai

39
terbentuknya plasenta yang sempurna pada usia 16 minggu.

Kejadian ini tidak bisa lepas dari kemampua vilis korealis yang

mengeluarkan hormon korionik gonadotropin yang mirip

dengan hormon luteotropik hipofisis anterior. (Manuaba, 2012)

5) Payudara

Payudara mengalami pertumbuhan dan perkembangan sebagai

persiapan memberikan ASI pada saat laktasi. Pada awal

kehamilan perempuan akan merasakan payudara menjadi lebih

lunak. Setelah bulan kedua payudara akan berubah ukurannya

dan vena-vena di bawah kulit akan lebih terlihat. Puting

payudara akan lebih besar, kehitaman, dan tegak.

Perkembangan payudara tidak dapat di lepaskan dari

pengaruh hormon saat kehamilan. Yaitu estrogen, progestron,

dan somatomamotrofin. (Prawirohardjo, 2010)

Fungsi hormon mempersiapkan payudara untuk pemberian

ASI dijabarkan sebagai berikut.

Estrogen, berfungsi:

a. Menimbulkan hipertrofi sistem saluran payudara.

b. Menimbulkan penimbunan lemak dan air serta garam

sehimgga payudara tampak makin membesar.

c. Tekanan serat saraf akibat akibat penimbunan lemak, air

dan garam memyebabkan rasa sakit pada payudara.

40
Progesteron, berfungsi:

a. Mempersiapkan asinus sehingga dapat berfungsi.

b. Meningkatkan sel Asunus.

Somatomamotrofin, berfungsi:

a. Mempengaruhi sel asinus untuk membuat kasein,

laktalbumin, dan laktoglobulin.

b. Menimbulkan lemak di sekitar alveoolus payudara.

c. Mengeluarkan pengeluaran kolostrum pada kehamilan.

(Manuaba, 2012)

Sirkulasi Darah Kehamilan

Peredaran darah ibu dipengaruhi beberapa faktor, antara lain:

a. meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat

memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin

dalam rahir.

b. Terjadi hubungan langsung antara arteri dan vena pada

sirkulasi retro plasenta

c. Pengaruh hormon estrogen dan progesteron makin meningkat.

Volume darah, volume darah semakin meningkat dan

jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah,

sehingga terjadi pengenceran darah (hemoilaui), dengan puncaknya

pada usia kehamilan pada 32 minggu. Serum darah (Volume darah)

bertambah sebesar 25 sampai 30% sedangkan sel darah bertambah

41
sekitar 20%. Curah jantung akan bertambah sekitar 30%.

Bertambahnya hemodilusi darah mulai nampak sekitar kehamilan

sekitar 16 minggu, sehingga penderita penyakit jantung dapat jatuh

dalam dekopensasi kordis. Pada postpartum, terjadi

hemokonsentrasi dengan puncak hari ketiga sampai kelima.

Sel darah, sel darah merah makin meningkat jumlahnya

untuk dapat mengimbangi pertumbuhan janin dan rahim, tetapi

pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume

darah sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis.

Jumlah sel darah meningkat hingga mencapai 10.000/ml. Dengan

hemodilusi dan anemia fisiologis maka laju endap darah semakin

tinggi dan dapat mencapai 4 kali angka normal.

Protein darah dalam bentuk albumin dan gamaglobin dapat

menurun pada triwulan pertama, sedangkan fibrinogren meningkat.

Pada postpartum dengan terjadinya hemokonsentrasi dapat terjadi

troboflebitis.

Sistem respirasi. Pada kehamilan terjadi juga perubahan

siste respirasi untuk dapat memenuhi kebutuhan O2 Di samping

itu, terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang

membesar pada usia kehamilnan 32 minggu. Sebagai kompensasi

terjadinya desakan rahim dan kebutuhan O2 yang meningkat, ibu

hamil akan bernafas lebih dalam sekitar 20 sampai 25% dari pada

biasanya.

42
Sistem pencernaan. Oleh karena pengaruh estrogen,

pengeluaran asam lambung meningkat dan dapat menyebabkan:

(1) Pengeluaran air liur berlebihan (hipersalivasi)

(2) Daerah lambung terasa panas

(3) Terjadi mual dan sakit/pusing kepala terutama di pagi hari,

yang disebut morning sickness.

(4) Muntah, yang terjadi disebuat emesis gravidarum.

Muntah berlebihan sehingga menganggu kehidupan sehari-

hari, disebut hiperemesis gravidarum.

(5) Progoesteron menimbulkan gerak usus makin berkurang

dan dapat memyebabkan obstipasi.

Traktus Urinarius. Karena pengaruh desakan hamil muda

dan turunnya kepala bayi pada hamil tua, terjadi gangguan miksi

dalam bentuk sering berkemih. Desakan tersebut menyebabkan

kandung kemih cepat terasa penuh. Hemudilusi menyebabkan

metabolisme air makin lancar sehingga pembentukan urine akan

bertambah. Filtrasi pada glomerulus bertambah sekitar 69 sampai

70%. Pada kehamilan, uretra membesar untuk dapat menampung

banyaknya pembetukan urine. Terutama pada ureter kanan rahim

yang membesar dan terjadi perputaran ke kanan, dan terdapat

kolom dan sigmoid di sebelah kiri yang menyebabkan perputaran

rahim ke kanan. Tekanan rahim pada urite kanan dapat

menyebabkan infeksi pielonefritis ginjal kanan (Manuaba, 2012).

43
Yang harus dilakukan adalah dengan menyingkirkan kemungkinan

infeksi. Berikan nasihat untuk mengurangi minum setelah makan

malam atau minimal 2 jam sebelum tidur, menghindari minum

yang mengandung kafein, jangan mengurangi kebutuhan minum

(minimal 8 gelas per hari) perbanyak di siang hari, dan lakukan

senam kegel (farrer, 2001) dan (admin 2008). (Rukiyah, 2009).

Perubahan pada kulit. Pada kulit terjadi perubahan deposit

pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh menphore

stimulating hormone lobus hipofisis anterior karena pangaruh

kelenjar suprarenalis. Hiperpigmentasi initerjadi pada striae

gravidarum livide atau alba, areola mamea, papilla mamea, linea

nigra, pipi (khloasma gravidarum). Setalah persalinan

hiperpigmantasi ini akan manghilang. ).

Metabolisme. Dengan terjadinya kehamilan metabolisme

tubuh mengalami perubahan yang mendasar, dimana kebutuhan

nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan

pemberian ASI.

(Manuaba, 2010)

Berat Dan Indeks Masa Tubuh

WHO (1985) menyatakan batasan berat badan normal dewasa

ditentukan berdasarkan Indeks Masa Tubuh (IMT). IMT

didefinisikan sebagai berat badan yang dibagi tinggi badan

44
kemudian dikalikan 100. IMT merupakan alat sederhana untuk

memantau status gizi orang dewasa yang berusia >18 tahun,

kecuali bayi, anak-anak, ibu hamil, olahragawan, dan orang dengan

penyakit khusus seperti asitesis, diabetes mellitus, dan lain-lain.

IMT = berat badan (Kg)

Tinggi badan (m)²

IMT dapat diintepretasikan dalam kategori sebagai berikut:

a) Kurang dari 19,8 adalah berat kurang atau rendah

b) 19,8 sampai dengan 26,0 normal

c) 26,0 sampai dengan 29 adalah berat lebih atau tinggi

d) Lebih dari 29 obesitas

e) Dengan batasan laki-laki antara 20,1-25,0 dan bagi wanita

antara 18,7-23,8. ).(Rukiyah, 2009).

Pada ibu hamil, terdapat empat kategori IMT, yaitu berat badan

kurang, berat badan normal, berat badan lebih, dan obesitas.

Kisaran kenaikan berat badan selama kehamilan berdasarkan IMT

kehamilan.

Berat badan wanita hamil akan mengalami kenaikan sekitar 6,5-

16,5 kg. kenaikan berat badan terlalu banyak ditemukan pada kasus

preklampsia dan eklampsi. Kenaikan berat badan wanita hamil

disebabkan oleh janin, uri, air ketuban, uterus, payudara, kenaikan

volume darah, lemak, protein dan retensi air (Prawirohardjo, 1999

dalam Rukiyah, 2009).

45
Kenaikan berat badan ibu hamil secara tepat tidak diketahui. Hal

ini diketahui bahwa kenaikan berat badan ibu selama kehamilan

memberikan kontribusi yang sangat penting bagi proses dan output

persalinan. Peningkatan berat badan yang adekuat akan

memperkecil resiko terjadinya persalinan small gestational age

(SGA) atau preterm. Kebutuhan peningkatan berat badan untuk

setiap wanita berbeda-beda. Faktor yang mempengaruhi besarnya

kebutuhan berat badan ditentukan oleh tinggi badan dan berat

badan, apakah wanita tersebut memiliki berat badan norma, kurang

atau lebih sebelum kehamilan. Metode yang bisa digunakan dalam

menentukan kondisi berat badan dan tinggi badan adalah IMT.

Wanita dengan kategori rendah, peningkatan berat badan idealnya

saat hamil adalah 12,5 sampai dengan 18 kg. Sedangkan untuk

wanita dengan BMI normal, peningkatan berat badan idealnya

pada saat hamil adalah 11,5 sampai dengan 16 kg dan untuk wanita

dengan BMI yang lain, peningkatan berat badannya antara 7

sampai dengan 11,5 kg. Kenaikan berat badan ibu dianjurkan

sekitar 1-2,5 kg pada trimester pertama dan selanjutnya rata-rata

0,5 kg setiap minggu. Sampai akhir kehamilan, kenaikan berat

badan yang dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu BB

kurang 14-20 kg, ibu BB normal 12,5-17,5 kg dan ibu BB

lebih/obesitas 7,5-12,5 kg ).

(Rukiyah, 2009)

46
6) Plasenta dan air ketuban

Plasenta berbentuk bundar dengan ukuran 15 cm x 20 cm dengan

tebal 2,5 sampai 3 cm dan berat plasenta 60 cm. Tali pusat

terpendek yang pernah plasenta panjangnya 25 sampai 60 cm.

Talipusat terpendek yang pernah dilaporkan adalah 2,5 cm dan

panjangnya 200cm. Plasenta terbentuk sempurna pada minggu ke-

16 di mana desidua parientalis dan desidua kapsularis telah

menjadi satu. Sebelum plasenta terbentuknya sempurna dan

sanggup untuk memelihara janin, fungsinya dilakukan oleh

kompus luteum pradarum. Saat nidasi vili koroalis mengelusrkan

hormon korionik gonadotropin korpus letum dapat bertahan.

Implantasi plasenta terjadi pada fondus uteri depan atau belakang.

Fungsi plsenta dapat dilaksanakan melalui sirkulasi retroplasenter

dengan terbentukinya alteri spiralis dan vena di dasar desidua

basalis. Di bagian tepi plasenta, terdapat ruang agak lebar sebagai

penampung sementara darah sebelum masuk menuju sirkulasi

darah ibu. Sirkulasi retrolasma terjadi karena aliran darah arteri

spiralis dengan tekanan 70 mmHg sampai 80 mmHg sedangkan

tekana darah pada vena di dasar desidua basalis 20 mmHg sampai

30 mmHg. Aliran darah arteri seolah-olah tegak luruh untuk

mencapai mencapai plat korionik dibagian plasenta fetalis dengan

ruagan intervili. Dengan perbedaan tekanan tersebut terjadi aliran

darah yang memberikan kesempatan luas bagi vili koroalis untuk

47
melakukan pertukaran nutrisi. Di samping itu, vili kroalis bergerak-

gerak karena aliran darah ibu dan terjadinya kontrak ringan

memberikan peluang untuk mkain sempurnanya pertukaran nutrisi.

Sebagai gambaran, pertukaran nutrisi dapat dijelaskan: luas vili

korialis sebesar 11 meter persegi, volume intervili sebesar 150

sampai 250 ml, peredaran darah 300cc setiap menit pada usia

kehamilan 20 minggu, 600cc setiap menit pada usia kehamilan 40

minggu

Plasenta merupakan akar janin untuk mengisap nutrisi dari ibu

dalam bentuk O2 asam amino, vitamin mineral, dan zat lainnya

kejanin dan membuang metabolime janin dan O2.

Beberapa hormon yang dihasilkan plasenta:

a) Korionik Gonadotropin:

(1) Merangsang korpus luteum menjadi korpus luteum

gravidarum sehinggaa tetap mengeluarkan estrogen dan

progestron, dan korpus luteum berfungsi sampai plasenta

sempurna.

(2) Bersifat khas kehamilan sehingga dapat dipakai sebagai

hormon tes kehamilan.

(3) Puncaknya tercapai pada hari ke-60

(4) Setelah persalinan, dalam urine tidak dijumpai.

b) Korionik Somatomamotrofin:

(1) Hormon untuk metabolisme protein.

48
(2) Bersifat laktogenik dan luteotropik.

(3) Menimbulkan pertumbuhan janin.

(4) Mengatur metabolisme kardohidrat dan lemak.

c) Estrogen Plansenta. Estrogen plansenta dalm bnetuk estradiol,

estriol, dan estron. Estron plasenta mempunyai fungsi:

(1) Pertumbuhan dan perkembangan otot janin.

(2) Retansi air dan garam.

(3) Perkembangan tubulus payudara sebagai persiapan ASI.

(4) Melaksanakan sintensis protein.

d) Progestron. Awal kehamilan di produksi oleh korpus luteum

dan plasenta.

Progestron berfungsi untuk:

(1) Penenang ototo rahim selama kehamilan.

(2) Bersama etrogen mengaktifkan trombulus dan alveolus

payudara.

(3) Menghambat proses pematangan folikel de graaf sehingga

tidak terjadi ovulasi.

(4) Menghambat pengeluaran LH.

7) Likuor Amni

Jumlah likuor amni (air ketuban) sekitar 1000ml sampai 1500 ml

pada kehamilan aterm. Berat jenisnya antara 1,007 sampai 1,008

likour amnii terdiri dari 2,3 bahan organik(protein, vernik kaseosa,

rambut lanugo, zat lemak lesitin, dan spingomielin) dan 97%

49
sampai 98% bahan anorganik (air, garam yang larut dalam air).

Peredaran cairan kebutuhan sekitar 500 cc/jam atau sekitar 1%

yang di telan bayi dan dikeluarkan sebagai urine. Bila akan terjadi

gangguan peredaran air akan menimbulkan hidramnion yang

jumlah cairan ketuban melebihi 1.500 ml. hidramnion dijumpai

pada kasus anensefalus, spinabifida, agenesis ginjal, korioangeoma

plasenta.

Air ketuban dapat diperguanakan sebagai bahan penelitian untuk:

a) Menentukan jenis kelamin

b) Kematangan paru-paru janin

c) Golongan darah

d) Faktor Rhesus

e) Kelainan kongenital lainnya

Fungsi air ketuban

a) Saat kehamilan berlangsung

(1) Memberikan kesempatan berkembangnya janin dengan

bebas kesegala organ

(2) Menyebarkan tekanan bila terjadi trauma langsung

(3) Sebangai penyangga terhadap panas dan dinggin

(4) Menghindari trauma langsung terhadap janin

b) Saat in partu

(1) Menyebarkan kekuatan his sehingga serviks dapat

membuka.

50
(2) Membersihkan jalan lahir karena mempunyai kemampuan

sebagai desinfektan.

(3) Sebagai pelicin saat persalinan.

(Manuaba, 2010)

Air ketuban normal berwarna putih keruh, berbau amis dan

terasa manis. Sedangkan air ketuban berwarna keruh sampai

hijau pada proses persalinan mengindikasikan adanya kondisi

janin yang tidak sejahtera, sehingga membutuhkan tindakan

khusus untuk bayi yang di lahirkan.(Sulistiawati, 2012)

Ketidak nyamanan dalam kehamilan

1) Morning sickness ( mual dan muntah )

Biasanya dirasakan pada kehamilan dini. Disebabkan oleh

respons terhadap hormon dan merupakan pengaruh fisiologi.

Untuk penatalaksanaan khusus bisa dengan diet, namun jika

vomitus uterus terjadi maka obat-obat antimetik dapat

diberikan. Untuk usahannya berikan nasihat tentang gizi,

makan sedikit tapi sering, makan-makanan padat sebelum

bangkit dari berbaring, segera melaporkannya jika gejala

vomitus menetap atau bertambah parah, serta mengingatkan

pasien bahwa obat antivomitus dapat membuatnya mengantuk.

(Rukiyah, 2009)

51
2) mengidam

Terjadi setiap saat, disebabkan karena respons papilla

pengecap pada hormon sedagkan pada sebagian wanita,

mungkin untuk mendapatkan perhatian. Untuk

penatalaksanaan khusus yaitu dengan nasihat dan menentrakan

perasaan pasien. Berikan asuhan dengan meyakinkan bahwa

diet yang baik itu tidak akan terpengaruh oleh makanan yang

salah. (Rukiyah, 2009)

3) Nyeri ulu hati

Dirasakan pada bulan-bulan terakhir, disebabkan karena

adanya progesteron serta tekanan dari uterus. Untuk

penatalaksanaan khusus biasnya dengan diet dan kadang-

kadang pemberian antacid. Asuhan yang dapat dilakukan

dengan memberikan nasihat tentang gizi, makan sedikit tapi

sering, minum susu, hindari makanan yang pedas, gorengan

atau berminyak, tinggikan bagian kepala tempat tidur.

(Rukiyah, 2009)

4) Nyeri punggung

Umum dirasakan pada kehamilan lanjut. Disebabkan oleh

progesterone dan relaksin (yang melunakkan jaringan ikat) dan

postur tubuh yang berubah serta meningkatnya beban berat

yang dibawa dalam rahim. Yang harus dilakukan adalah

dengan menyingkirkan kemungkinan penyebab yang serius,

52
fisioterapi, pemanasan pada bagian yang sakit, analgesia dan

istirahat. Berikan nasihat untuk memperhatikan postur tubuh

jangan terlalu sering membungkuk dan berdiri serta berjalan

dengan punggung dan bahu yang tegak, menggunakan sepatu

tumit rendah, hindari mengangkat benda yang berat,

memberitahukan cara-cara untuk mengistirahatkan otot

punggung, menjelaskan keuntungan untuk mengenakan korset

khusus bagi ibu hamil, tidur pada kasur tipis yang dibawahnya

ditaruh papan jika diperlukan (atau yang nyaman). (Rukiyah,

2009).

5) Bengkak Pada Kaki

Dikarenakan adanya perubahan hormonal yang menyebabkan

retensi cairan. Yang harus dilakukan adalah dengan segera

berkonsultasi dengan dokter jika bengkak yang dialami pada

kelopak mata, wajah dan jari yang disertai tekanan darah

tinggi, sakit kepala, pandangan kabur (tanda pre ekalpsia).

Kurangi asupan makanan yang mengandung garam, hindari

duduk dengan kaki bersilang, gunakan bangku kecil untuk

menopang kaki ketika duduk, memutar pergelangan kaki juga

perlu dilakukan (Farrer, 2001) dan (Admin, 2008). (Rukiyah,

2009)

53
6) buang air kecil yang sering

keluhan dirasakan saat kehamilan dini, kemudian kehamian

lanjut. Disebabkan karena progesteron dan tekanan pada

kandungan kemih karenan pembesaran rahim atau kepala bayi

yang turun ke rongga panggul. Yang harus dilakukan adalah

dengan menyingkirkan kemungkinan infeksi. Berikan nasihat

untuk mengurangi minum setelah makan atau minimal 2 jam

sebelum tidur, menghindar minuman yang mengandung kafein,

jangan mengurangi kebutuhan air minum (minimal 8 gelas per

hari) perbanyak di siang hari, dan lakukan senam kagel.

(Rukiyah, 2009)

2.1.1.4 Tanda Bahaya Dalam Kehamilan

1) Trimester I

a) Hiperemesis Gravidarum

Adalah muntah yang terjadi pada awal kehamilan sampai umur

kehamilan 20 minggu. Mual dan muntah mempengaruhi hingga

> 50 % kehamilan. Kebanyakan perempuan mampu

mempertahankan kebutuhan nutrisi dan cairan dengan diet, dan

simotom akan teratasi hingga akhir trimester pertama.

Penyebab penyakit ini masih belum diketahui secara pasti,

tetapi diperkirakan erat hubungannya dengan endokrin,

biokimiawi, dan psikologis

54
b) Hamil ektopik

Merupakan kehamilan yang berbahaya karena tempat

implantasinya tidak memberikan kesempatan untuk tumbuh

kembang mencapai aterm. Kehamilan ektopik adalah

kehamilan yang berimplantasi diluar endometrium normal.

c) Abortus

Adalah pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22

minggu atau bayi dengan berat badan kurang dari 500 gr.

d) Kehamilan disertai dengan infeksi

Ibu hamil sangat peka terhadap terjadinya infeksi dari berbagai

mikroorganisme. Infeksi bisa disebabkan oleh bakteri, virus,

dan parasit, sedangkan penularan dapat terjadi intrauterine,

pada waktu persalinan atau pasca salin.transmisi bisa secara

transplasental ataupun melalui aliran darah atau cairan amnion.

2) Trimester II

a) Perdarahan antepartum

Perdarahan ante partum adalah perdarahan dari jalan lahir pada

wanita hamil dengan usia kehamilan 20 minggu atau lebih bisa

berupa solusio plasenta atau plasenta previa.

b) Plasenta Previa

Pendarahan pervaginam pada usia kehamilan 20 minggu atau

lebih yang berasal dari plasenta yang implantasinya abnormal

55
c) Abortus

Adalah pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22

minggu atau bayi dengan berat badan kurang dari 500 gr.

d) IUFD (intrauterine fetal dead)

Adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gr

atau lebih atau kematian janin ddalam rahim pada kehamilan

20 minggu atau lebih.

e) Persalinan preterm

Persalinan preterm atau kurang bulan adalah persalinan yang

berlangsung antara umur kehamilan 20-37 minggu dari hari

pertama haid atau antara hari ke 140 dan 259 dengan berat lahir

janin kurang dari 2500 gr.

f) Mola hidatidosa

Mola hidatidosa adalah perubahan abnormal dari villi

chorionic menjadi sejumlah kista yang menyerupai buah

anggur anggur yang dipenuhi dengan cairan.

g) Preeklampsia

Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu

kehamilan disertai dengan proteinuria.

3) Trimester III

a) Persalinan preterm

Persalinan preterm atau kurang bulan adalah persalinan yang

berlangsung antara umur kehamilan 20-37 minggu dari hari

56
pertama haid atau antara hari ke 140 dan 259 dengan berat lahir

janin kurang dari 2500 gr.

b) Ketuban pecah dini

Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban

sebelum persainan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum

usia kehamilan 37 minggu disebut ketuban pecah dini pada

kehamilan premature.

c) Solusio plasenta

Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta sebagian atau

seluruhnya pada plasenta yang implantasinya normal sebelum

janin lahir.

(Manuaba, 2010)

2.1.1.5 Penatalaksanaan Dalam Kehamilan

Secara khusus, pengawasan antenatal bertujuaan untuk:

1) Mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat

saat kehamilan, saat persalinan, dan kala nifas.

2) Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil,

persalinan, dank ala nifas.

3) Memberikan nasihat dan petunjuk yang berkaitan dengan

kehamilan, persalinan, kala nifas, laktasi, dan aspek keluarga

berencana.

4) Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.

57
Dengan memperhatikan batasan dan tujuan pengawasan antennal,

maka jadwal pemeriksaan adalah sebagai berikut:

a) Pemeriksaan pertama. Pemeriksaan pertama dilakukan segera

setelah diketahui terlambat haid

b) Pemeriksaan ulang

(a) Setiap bulan pada usia kehamilan 6 sampai 7 bulan

(b) Setiap 2 minggu sampai usia kehamilan 8 bulan

(c) Setiap satu minggu sejak usia kehamilan 8 bulan sampai

terjadi persalinan

(d) Pemeriksaan khusus bila terdapat keluhan tertentu.

(Manuaba, 2010)

c) Konsep pemeriksaan/pengawasan antenatal

Anamnesis

a) Data biologis

b) Keluhan hamil

c) Fisiologis

d) Patologis (abnormal)

Pemeriksaan fisik

a. Pemeriksaan fisik umum

b. Pemeriksaan fisik khusus

Obstetric

Pemeriksaan dalam/rectal

Pemeriksaan ultrasonografi

58
Pemeriksaan psikologis

Status kejiwaan dalam menghadapi kehamilan.

Pemeriksaan Laboratorium

a. Laboratorium rutin

Darah lengkap

Urine lengkap

Tes kehamilan

b. Laboratorium Khusus

(a) Pemeriksaan TORCH

(b) Pemeriksaan serologis

(c) Pemeriksaan fungsi hati dan ginjal

(d) Pemeriksaan protein darah

(e) Pemeriksaan golongan darah

(f) Pemeriksaan factor Rh

(g) Pemeriksaan air ketuban

(h) Pemeriksaan infeksi hepatitis B ibu/janin

(i) Pemeriksaan estriol dalam urine

(j) Pemeriksaan infeksi AIDS

Diagnosa Kehamilan

a. Kehamilan ibu normal

Tanpa keluhan

Hasil pemeriksaan labolaturium baik

59
b. Kehamilan dengan resiko

Resikio tinggi/sangat tinggi

Meragukan

Resiko rendah

c. Kehamilan yang disertai penyakit ibu yang mempengaruhi

janin

d. Kehamilan disertai komplikasi

e. Kehamilan dengan nilai nutrisi kurang

f. Diagnosa Diferensial

(a) Amenorea sekunder

(b) Psedosiesis

(c) Tumor ginekologis

Penatalaksanaaan Lebih Lanjut

(a) Pengobatan penyakit yang menyertai hamil

(b) Pengobatan penyulit kehamilan

(c) Menjadwalkan pemberian vaksin

(d) Memberikan preparat penunjang kesehatan: vitamin

(Obimin AF, prenavit, vika natal, barralat, berosambe

dan sebagainya) tambahan preparat fe

(e) Menjadwalkan pemeriksaan ulang Pemeriksaan

hamil.

Pemeriksaan pertama kehamilan diharapkan dapat

menetapkan data dasar yang mempengaruhi pertumbuhan

60
dan perkembangan janin dalam rahim dan kesehatan ibu

sampai persalianan. (Manuaba, 2010)

Kunjungan Berkala Asuhan Antenatal

Kunjungan antenatal seharusnya dilakukan secara berkali dan secara

teratur. Bila kehamilan normal, bila kehamilan normal jumlah kunjungan

cukup 4 kali. Satu kali pada trimester I, satu kali pada trimester II, dan dua

kali pada trimester III (Rukiyah, 2009). Hal ini dapat memberikan peluag

yang lebih bagi petugas kesehatan untuk mengenal secara dini berbagai

penyulit atau gangguan kesehatan yang terjadi pada ibu hamil. Beberapa

penyulit atau penyakit tidak segera timbul bersamaan dengan terjadinya

kehamilan (misalnya hipertensi dalam kehamilan) atau baru akan

menampakkan gejala pada kehamilan usia tertentu (misalnya perdarahan

antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa). Selain itu

memberdayakan keluarganya tentang proses kehamilan dan masalahnya

melalui penyuluhan atau konseling dapat berjalan efektif apabila tersedia

cukup waktu untuk melaksanakan pendidikan kesehatan yang diperlukan.

Dari satu kunjungan ke kunjungan berikutnya sebaiknya dilakukan

pecatatan.

1) Keluhan yang dirasakan ibu hamil

2) Hasil pemeriksaan setiap kunjungan

a. Pemeriksaan fisik umum : tinggi badan, berat badan, tanda-tanda vital (

tekanan darah, susu, pernafasan, dan nadi).

61
b. Kepala dan leher : edema di wajah, ikterus pada mata, bibir pucat, leher

meliputi pembengkakan saluran limfe atau pembengkakan kelenjar

tiroid.

c. Payudara : ukuran, simetris, puting payudara : menonjol / masuk,

keluarnya kolostrum atau cairan lain, retraksi, massa.

d. Abdoeman : luka bekas luka oprasi, tinggi fundus uterus (jika >12

minggu), letak, presentasi, posisi, dan penurunan kepala (kalau > 36

minggu), mendengar denyut jantung janin (bila kehamilan lebih dari 18

minggu)

e. Tanggan dan kaki : edema dijari tanggan, kuku jari pucat, varices vena,

refleks)

f. Genetalia luar (external) : varices, perdarahan, luka, cairan yang keluar,

kelenjar bartholin: bengkak (massa), cairan yang keluar.

g. Genetalia dalam (internal) : serviks meliputi cairan: yang keluar, luka

(lesi), kelunakan, posisi, mobilisasi, tertutup atau pembukaan: vagina

meliputi cairan yang keluar, luka, darah,ukuran adneksa, bentuk, posisi,

mobilitas, masa (pada trimester pertama). (Rukiah,2009)

Menilai kesejahteraan janin

Untuk menilai kesejahteraan janin pada kehamilan resiko tinggi dapat

dilakukan berbagai jenis pemeriksaan atau pengumpuan informasi, baik

yang diperoleh dari ibu hamil maupun pemeriksaan oleh petugas kesehatan.

Pemeriksaan yang memerlukan peralatan canggih umumnya dilakukan

62
dengan peralatan pencatatan denyut jantung janin (kardiotokografi) dan

peralatan ultrasonografi yang disebut dengan pemeriksaan profil biofisik

janin (biophysic profile). Berbagai jenis pemeriksaan tersebut adalah:

(1) Pengukuran tinggi fundus uteri terutama > 20 minggu yang akan

disesuaikan dengnan usia kehamilan saat pemeriksaan dilakukan. Tingi

fundus yang normal sama dengan usia kehamilan.

(2) Gerakan menendang atau tendangan janin (10 gerakan/12 jam)

(3) Gerakan janin

Gerakan janin yang menghilang dalam waktu 48 jam dikaitkan dengan

hipoksia berat atau janin meninggal

(4) Denyut Jantung Janin

(5) Ultrasonografi

Bila usia kehamilan memasuki 34 minggu, selain pemeriksaan diatas

juga dilakukan pemeriksaan tentang:

(1) Penilaian besar janin, letak dan presentasi

(2) Penilaian luas panggul

(Prawirohardjo, 2010)

Standar Asuhan Kehamilan

Asuhan standar minimal 7 T antara lain: timbang berat badan dan

pengukuran tinggi badan, ukur tekanan darah, ukur tinggi badan, fundus

uteri, pemberian imunisasi Tetanus Toxoid (TT) lengkap, pemberian tablet

besi minimal 90 tablet selama kehamilan, tes terhadap penyakit menular

63
seksual, temu wicara (konseling dan pemecahan masalah) (Saifudin, 2008

dalam buku Rukiyah, 2009)

Menurut Depkes RI (2002) Pelayanan antenatal dalam penerapan

operasionalnya dikenal dengan standar minimal “14 T” yang terdiri dari:

1. Timbang badan dan Tinggi badan dengan alat ukur yang terstandar.

Penimbangan dilakukan setiap kali ibu hamil memeriksakan diri, karena

hubungannya erat dengan pertambahan berat badab lahir bayi. Berat

badan ibu hamil yang sehat akan bertambah antara 10-12 kg sejak

sebelum hamil. Berat badan wanita hamil akan mengalami kenaikan

sekitar 6,5-16,5 kg, hal ini menunjukkan peningkatan berat badan.

(Prawirohardjo, 2010)

Tinggi badan hanya diukur pada kunjungan pertama. Ibu dengan

tinggi,145cm perlu diperhatikan kemungkinan panggul sempit sehingga

menyulitkan saat persalinan (Depkes RI, 1998)

2. Mengukur Tekanan Darah dengan prosedur yang benar.

Pengukuran tekanan darah harus dilakukan secara rutin dengan tujuan

untuk melakukan deteksi dini terhadap terjadinya tiga gejala

preeklamsi. Tekanan darah tinggi, protein urin positif, pandangan mata

kabur atau odema pada ekstremitas. Apabila tekanan darah mengalami

kenaikan 15 mmHg dalam dua kali pengukuran dengan jarak 1 jam atau

tekanan darah >140/90 mmHg, maka ibu hamil mengalami preeklamsi.

Apabila preeklamsi tidak dapat diatasi maka akan menjadi eklamsi.

(Rukiyah, 2009)

64
3. Mengukur Tinggi Fundus Uteri dengan prosedur yang benar.

Pengukuran tinggi fundus uteri dilakukan secara rutin untuk mendeteksi

secara dini terhadap berat badan janin. Indikator pertumbuhan janin

intrauterin, tinggi fundus uteri juga dapat digunakan untuk mendeteksi

terhadap terjadinya molahidatidosa, janin ganda atau hidramnion.

(Depkes RI, 2001 dalam buku Rukiyah, 2009)

4. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid (TT) lengakap (sesuai jadwal).

Pemberian imunisasi TT untuk mecegah terjadinya penyakit tetanus.

Tabel 2.1 Jadwal pemberian imunisasi TT

Antigen Interval Lama %

(selang waktu minimal) Perlindungan Perlindungan

TT1 Pada kunjungan ANC - -

pertama

TT2 4 mg setelah TT1 3 tahun* 80

TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun 95

TT4 1 tahun setelah TT3 10 tahun 99

TT5 1tahun setelah TT4 25 tahun 99

Keterangan artinya apabila dalam waktu 3 tahun WUS tersebut

melahirkan, maka bayi yang di lahirkan akan terlindungi dari TN

(Tetanus Neonatorum). (Saifuddin, 2006 dalam buku Rukiyah, 2009)

65
5. Pemberian Tablet Tambah Darah minimal 90 tablet selama kehamilan.

Pemberian tablet tambah darah dimulai setelah rasa mual hilang. Satu

tablet setiap hari, minimal 90 tablet. Tiap tablet mengandung FeSO4

320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500µg.tablet besi sebaiknya

tidak diminum bersama kopi, teh karena dapat mengganggu

penyerapan. (Wiknjosastro, 2006).

Pemberian tablet zat besi pada ibu hamil (Fe) adalah mencegah

defisiensi zat besi pada ibu hamil, bukan menaikkan kadar hemoglobin.

Wanita hamil perlu menyerap zat besi rata-rata 60 mg/hari,

kebutuhannya meningkat secara sigifikan selama trimester II karena

absorpsi usus yang tinggi. Fe diberikan 1 tablet sehari sesegera

mungkin setelah rasa mual hilang, diberikan sebanyak 90 tablet semasa

kehailan. Tablet zat besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau

kopi karena akan mengganggu penyerapan. Jika ditemukan atau diduga

anemia berikan 2-3 tablet zat besi per hari. Selain itu untuk

memastikannya dilakukan pemeriksaan darah hemoglobin untuk

mengetahui kadar Hb yang dilakukan 2 kali selama masa kehamilan

yaitu pada saat kunjungan awal dan pada usia kehamilan 28 minggu

atau lebih sering jika ada tanda-tanda anemia. (Depkes RI, 2001 dalam

buku Rukiyah, 2009)

6. Tes laboratorium (rutin dan khusus)

Pemeriksaan laboratorium rutin mencakup pemeriksaan hemoglobin,

protein urine, gula darah, dan hepatitis B. Pemeriksaan dilakukan

66
khusus di daerah prevelensi tinggi dan atu kelompok terhadap HIV,

sifilis, malaria,tubercolusis, cacingan dan thalasemia. (Meilani, 2009)

7. Temu wicara (konseling)

Memberikan penyuluhan sesuai dengan kebutuhan seperti perawatan

diri selama hamil, perawatan payudara, gizi ibu hamil, tanda-tanda

bahaya kehamilan dan janin sehingga ibu dan keluarga dapat segera

mengambil keputusan dalam perawatan selanjutnya dan mendengarkan

keluhan yang disampaikan. (Rukiyah, 2009)

8. Teknik Senam Hamil

Senam hamil prenatal merupakan terapi latihan gerak yang diberikan

pada ibu hamil untuk mempersiapkan dirinya, baik persiapan fisik

maupun mental untuk mengahadapi dan mempersiapkan persalinan

yang tepat, aman dan spontan.(Manuaba, 2012)

9. Teknik Perawatan Payudara

Perawatan payudara dilakukan sejak awal kehamilan untuk persiapan

kelancaran pemberian ASI (Depkes RI, 2002 dalam buku Rukiyah,

2009).

10. Test Urine Reduksi

Pemeriksaan ini merupakan cara efektif apabila ibu hamil mempunyai

indikasi penyakit diabetes militus, gestasional (Depkes RI, 2003 dalam

buku Rukiyah, 2009)

67
11. Tes Protein Urine

Merujuk bahwa persiapan rutin protein urine merupakan cara efektif

untuk mendeteksi pre eklamsi (Depkes RI, 2003 dalam buku Rukiyah,

2009).

12. Test Hb (Hemoglobin)

Memeriksa kadar Hb semua ibu hamil pada kunjungan pertama dan

pada minggu ke 28.

1) Hb 11 gr % : tidak anemia

2) Hb 9 gr % - 10 gr % : anemia ringan

3) Hb 7 gr % - 8 gr % : anemia sedang

4) Hb < 7 gr % : anemia berat

Bila pemeriksaan tidak tersedia, pemeriksaan fisik dengan kunjungtiva

pucat dan membran mukosa kuku dan telapak tangan pucat (Depkes RI,

2003). Umumnya ibu hamil dianggap Anemik jika kadar hemoglobin di

bawah 11 gr/dl atau hematokrit kurang dari 33 %. (Prawirohardjo,

2010)

13. Tes TPHA (Treponema Pallidium Him Aglutinasi)

Treponema Pallidium Him Aglutinasi Tes ini adalah tes darah yang

dilakukan untuk penyakit kelamin “sipilis” (Saifudin, 2008)

14. Tes Yodium

Tes ini dilakukan untuk mengetahui apabila ibu kekurangan yodium.

Sehingga nanti dapat di ketahui adanya penyakit gondok atau tidak

(Pusdiknakes, 2003)

68
Persiapan persalinan dan kelahiran bayi

Rencana persalinan adalah rencana tindakan yang dibuat oleh ibu,

anggota keluarga, dan bidan. Ada 5 komponen penting dalam rencana

persalinan.

a) Langkah 1 : membuat rencana persalinan

Hal - hal dibawah ini haruslah digali dan diputuskan dalam membuat

rencana persalinan tersebut :

(1) Tempat persalinan

(2) Memilih tenaga kesehatan terlatih

(3) Bagaimana menghubungi tenaga kesehatan tersebut

(4) Bagaimana transportasi ke tempat persalinan

(5) Berapa banyak biaya yang dibutuhkan

(6) Siapa yang akan menjaga keluarganya jika ibu tidak ada.

b) Membuat rencana untuk pengambilan keputusan jika terjadi

kegawatdaruratan pada saat pengambil keputusan tidak ada.

Penting bagi bidan dan keluarga untuk mendiskusikan:

(1) Siapa yang pembuat keputusan utama dalam keluarga

(2) Siapa yang membuat keputusan jika pembuat keputusan utama tidak

ada saat terjadi kegawatdaruratan.

69
c) Mempersiapkan system transportasi jika terjadi kegawatdaruratan

Setiap keluarga seharusnya mempunyai transportasi untuk ibu, jika ia

mengalami komplikasi dan perlu segera dirujuk ke tingkat asuhan yang

lebih tinggi.

d) Membuat rencana/pola menabung

Keluarga seharusnya dianjurkan untuk menabung sejumlah uang

sehingga dana akan tersedia untuk asuhan selama kehamilan dan jika

terjadi kegawatdaruratan.

e) Mempersiapkan langkah yang diperlukan untuk persalinan.

Seorang ibu dapat mempersiapkan segala sesuatunya untuk persalinan,

seperti pembalut wanita, kain, sabun, handuk, gurita, dan lain-lain.

(Rukiyah, 2009 )

f) Singkatan BAKSOKU dapat digunakan untuk mengingat hal-hal penting

dalam mempersiapkan rujukan untuk ibu dan bayi.

B: ( Bidan) Pastikan dalam ibu dan atau bayi baru lahir di dampingi oleh

penolong persalinan yang kompeten untuk menatalaksakan gawat

darurat obstertri dan bayi baru lahir untuk dia bawa ke fasilitas

rujukan.

A: ( Alat ) Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan

persalinan, masa nifas dan bayi baru lahir (tabung suntik, selang IV,

alat resusitasi, dll) bersama ibu ketempat rujukan. Perlengkapan dan

70
bahan-bahan tersebut mungkin di perlukan jika ibu melahirkan dalam

perjalanan menuju fasilitas keesehatan.

K : ( Keluarga) Beritahu ibu dan keluarga mengenai kondisi terakhir ibu

dan atau bayi dan mengapa ibu dan atau bayi perlu di rujuk. Jelaskan

pada mereka alasan dan tujuan merujuk ibu ke fasilitas rujukan

tersebut. Suami atau anggota keluarga yang lain harus menemani ibu

dan bayi beru lahir hingga ke fasilitas rujukan.

S : ( Surat ) Berikan surat ke tempat rujukan. Surat ini harus membrikan

idrntifikasi mengenai ibu dan atau bayi baru lahir, cantumkan alasan

rujukan dan uraikan hasil pemeriksaan, asuhan atau obat-obatan yang

di terima ibu dan atau bayi baru lahir. Sertakan juga patograf yang

dipakai untuk membuat keputusan klinik.

O : ( Obat ) Bawa obat-obatan esensial pada saat mengantar ibu ke

fasilitas rujukan. Obat-obatan tersebut mungkin di perlukan selama di

perjalanan.

K : (Kendaraan) Siapkan kendaraan yang paling memungkinkan untuk

merujuk ibu dalam kondisi cukup nyaman. Selain itu, pastikan kondisi

kendaraan cukup baik untuk mencapai tujuan pada waktu yang tepat.

U : (Uang) Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah

yang cukup untuk membeli obat-obatan yang diperlukan dan bahan-

bahan kesehatan lain yang diperlukan selama ibu dan atau bayi baru

lahir tinggal di fasilitasi rujukan. (JNPK-KR, 2008)


71
Pengukuran LILA (lingkar lengan atas)

LILA adalah lingkar lengan bagian atas pada bagian trisep. LILA

digunakan untuk mendapatkan perkiraan tebal lemak bawah kulit sehingga

dapat memperkirakan berat badan seseorang. Pengukuran LILA sangat

penting untuk menentukan apakah ibu hamil mengalami Kekurangan Energi

Kronis (KEK), LILA kurang dari 23,5 cm menandakan KEK, sedangkan

LILA 23,5 cm atau lebih menandakan bukan KEK. Selain ibu hamil,

pengukuran LIA juga dapat dilakukan pada anak balita dan wanita usia

subur (WUS). Melakukan pengukuran LILA sangat mudah, cepat dan sama

sekali tidak menimbulkan rasa sakit. Caranya adalah, lengan diistirahatkan

dengan telapak tangan menghadap ke paha (sikap tegap). Untuk mencari

pertengahan lengan atas, posisikan siku sehingga membentuk sudut 90°.

Kemudian, ujung skala caliper (pita ukuran) yang bertuliskan angka 0

diletakkan ditulang yang menonjol. Pertengahan lengan kemudian diberi

tanda dengan supidol, lengan kemudian diluruskan dengan posisi telapak

tangan menghadap ke paha. Caliper dilingkarkan (tidak terlalu erat dan

tidak terlalu longgar) pada bagian tengah dan bagian trisep lengan dengan

cara memasukan ujung pita kedalam ujung yang lain; angka yang tertera

pada caliper (beberapa pita ukur bertanda panah) menunjukan ukuran

lingkaran lengan atas (LILA). Pita untuk mengukur LILA memiliki

kapasitas 33 cm dengan ketelitian 0,1 cm. Pembacaan LILA harus dilakukan

pada skala yang diarahkan ke luar lengan dan sejajar dengan mata pembaca

skala.(Rukiah, 2009)

72
Kebijakan Program

Kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali dalam

kehamilan. (Rukiyah, 2009)

a) Satu kali pada trimester pertama (sebelum 12 minggu)

b) Satu kali pada trimester kedua (antara minggu 12-28 minggu).

c) Dua kali pada trimester ketiga (antara minggu 28-36 minggu dan

sesudah minggu ke 36)

Pemeriksaan pertama kali ideal adalah sedini mungkin ketika haid

terlambat satu bulan dianjurkan periksa khusus bila ada

keluhan.(Manuaba, 2012)

73
2.1.2 Persalinan

2.1.2.1 Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan

janin turun kedalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin

dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. (Prawirohardjo, 2010)

Persalinan adalah proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban

keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya

terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa

disertai adanya penyulit. Persalinan dimulai (inpartu) sejak uterus

berkontraksi dan menyebabkan perubahan pada serviks (membuka dan

menipis) dan berakhir dengan lahirnya plasenta secara lengkap. Ibu

belum inpartu jika kontraksi uterus tidak mengakibatkan perubahan

serviks. (JNPK-KR, 2008)

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan

plasenta) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan

melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa

bantuan (kekuatan sendiri), letak belakang kepala dan tenaga ibu

sendiri. (Manuaba, 2012).

Persalinan ada tiga jenis, yaitu:

1. Persalinan spontan

Jika persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui

jalan lahir ibu tersebut.

74
2. Persalinan Buatan

Jika persalinan dibantu tenaga dari luar, misalnya ekstrasi, forceps,

atau operasi section sesaria.

3. Persalinan Anjuran

Persalinan yang tidak dimulai dengan sendirinya, tetapi baru

berlangsung setelah pemecahan ketuban, pemberian pitocyn atau

prostatglandin.

Ada beberapa isitilah yang berkaitan dengan persalinan berdasarkan

usia kehamilan dan berat badan bayi, yaitu:

1. Abortus

Merupakan pengeluaran hasil kehamilan sebelum usia kehamilan

22 minggu atau bayi dengan berat badan kurang dari 500 gram.

2. Partus Imature

Pengeluaran hasil kehamilan antara usia kehamilan 22 minggu

sampai 28 minggu atau bayi dengan berat badan antara 500 gram

sampai 999 gram.

3. Partus Premature

Pengeluaran hasil kehamilan antara usia kehamilan 28 minggu

sampai 37 minggu atau bayi dengan berat badan 1000 gram

sampai 2499 gram.

75
4. Partus Mature atau Aterm

Pengeluaran hasil kehamilan antara usia kehamilan 37 minggu

sampai 42 minggu atau bayi dengan berat badan 2500 gram atau

lebih.

5. Partus Pascamature atau Serotinus

Pengeluaran hasil kehamilan setelah usia kehamilan 42 minggu.

Persalinan adalah suatu proses fisiologi yang memungkinkan

terjadinya serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk

dapat melahirkan janinnya melalui jalan lahir. Hal ini

didefinisikan sebagai pembukaan serviks yang progresif, dilatasi,

atau keduanya; akibat kontraksi rahim teratur yang sekurang-

kurangnya terjadi setiap 5 menit dan berlangsung sampai 60 detik

(Rohani, 2011).

Menurut cara persalinan, partus dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut :

1. Partus biasa (normal) atau disebut juga partus spontan adalah

proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala dengan tenaga

ibu sendiri tanpa bantuan alat-alat serta tidak melukai ibu dan

bayi, umumnya berlangsung kurang dari 24 jam. Persalinan

normal dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia

kehamilan cukup bulan (setelah 37 minggu) tanpa disertai

adanya penyulit.

76
2. Partus luar biasa (abnormal) adalah persalinan pervaginam

dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan

operasi section caesaria (SC).

2.1.2.2 Teori Penyebab Persalinan

Hal yang menjadi penyebab mulainya persalinan belum diketahui

benar, yang ada hanyalah merupakan teori-teori yang kompleks. Perlu

diketahui bahwa ada dua hormon yang dominan saat hamil. (Manuaba,

2012)

1. Estrogen

a. Meningkatkan sensitivitas otot rahim

b. Memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti

rangsangan oksitosin, rangsangan prostatglandin, serta

rangsangan mekanis.

2. Progesteron

a. Menurunkan sensitivitas otot rahim

b. Menyulitkan penerimaan dari luar seperti rangsangan oksitosin,

rangsangan prostatglandin, serta rangsangan mekanis.

c. Menyebabkan otot rahim dan otot polos relaksasi

Estrogen dan progesteron harus berada dalam kondisi keseimbangan

sehingga kehamilan dapat dipertahankan. Perubahan keseimbangan

kedua hormon tersebut menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh

hipofisis pars posterior dapat menimbulkan kontraksi Braxton Hicks.

Kontraksi Braxton Hicks akan menjadi kekuatan dominan saat

77
mulainya persalinan, oleh karena itu semakin tua kehamilan, frekuensi

kontraksi semakin sering.

Oksitosin diduga bekerja bersama atau bekerja melalui

prostatglandin yang nilainya akan meningkat mulai dari umur

kehamilan minggu ke-15.

Teori penyebab persalinan dibagi menjadi empat, antara lain.

1. Teori Keregangan

a. Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas

tertentu.

b. Setelah melewati batas tersebut, maka akan terjadi kontraksi

sehingga persalinan dapat dimulai.

2. Teori penurunan progesteron

a. Proses penuaan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28

minggu, dimana terjadi penimbunan jaringan ikat sehingga

pembuluh darah mengalami penyempitan dan buntu.

b. Produksi progesteron mengalami penurunan sehingga otot

rahim lebih sensitif terhadap oksitosin.

c. Akibatnya, otot rahim mulai berkontraksi setelah tercapai

tingkat penurunan progesteron tertentu.

3. Teori oksitosin internal

a. Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis pars posterior.

78
b. Perubahan keseimbangan estrogen dan progesteron dapat

mengubah sensitifitas otot rahim sehingga sering terjadi

kontraksi Braxton Hicks.

c. Menurunnya konsentrasi progesteron akibat tuanya usia

kehamilan menyebabkan oksitosin meningkatkan aktivitas

sehingga persalinan dimulai

4. Teori Prostatglandin

a. Konsentrasi prostatglandin meningkat sejak umur kehamilan

15 minggu, yang dikeluarkan oleh desidua.

b. Pemberian prostatglandin saat hamil dapat menimbulkan

kontraksi otot rahim sehingga hasil konsepsi dapat

dikeluarkan.

c. Prostatglandin dianggap sebagai pemicu terjadinya persalinan.

Keadaan Jalan Lahir

Jalan lahir mempunyai kedudukan penting dalam proses

persalinan untuk mencapai kelahiran well born baby. Dengan

demikian, evaluasi jalan lahir merupakan salah satu faktor yang

menentukan apakah persalinan dapat berlangsung pervaginam

atau dengan seksio sesaria.

Persalinan untuk mencapai well born baby dengan jalan

spontan belakang kepala, outlet vakum atau outlet forsep

ekstraksi, dan seksio cesaria. Pada ketiga bentuk persalinan

79
tersebut terdapat sedikit trauma minimal, sehingga sejak awal

diharapkan mampu mengembangkan fisik dan rohani bayi

secara optimal.

Perkiraan persalinan primigravida berlangsung aman,

apabila pada minggu ke-36 kepala janin telah masuk PAP.

Apabila pada minggu ke-36 kepala janin belum masuk PAP,

hal ini merupakan indikasi untuk melakukan pemeriksaan

dalam untuk melakukan evaluasi tentang jalan lahir tulang

maupun jalan lahir lunak. Pada multigravida dengan persalinan

spontan belakang kepala, aterm dan hidup, dugaan terdapat

kesempitan panggul sudah disingkirkan.

Dalam memimpin persalinan harus diwaspadai adanya

kemungkinan berhadapan dengan disproporsi sefalovelvik,

yaitu bayi yang bertambah besar (makrosomia), kelainan dalam

posisi kepala, dan terdapat kelainan letak janin dalam rahim.

Observasi dalam pertolongan persalinan dapat menetapkan

kemungkinan persalinan distosia, sehingga dengan segera me-

lakukan rujukan ke rumah sakit. Pada multipara dengan riwayat

kehamilan dan persalinan yang buruk, tidak perlu ragu

mengirimkan pasien sedini mungkin sehingga pertolongan

yang adekuat dan legeartis dapat dilak-sanakan.

(Manuaba, 2010)

80
Menentukan Penurunan Bagian Terbawah Janin

Pemeriksaan penurunan bagian terbawah janin ke dalam

rongga panggul melalui pengukuran pada dinding abdomen

akan memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi ibu

jika dibandingkan dengan melakukan periksa dalam (vaginal

toucher). Selain itu, cara penilaian diatas (bila dilakukan secara

benar) dapat memberikan informasi yang sama baiknya dengan

hasil periksa dalam tentang kemajuan persalinan (penurunan

bagian terbawah janin) dan dapat mencegah periksa dalam

yang tidak perlu atau berlebihan.

Penilaian penurunan kepala janin dilakukan dengan

menghitung proporsi bagian terbawah janin yang masih berada

di atas tepi atas simfisis dan dapat diukur dengan lima jari

tangan pemeriksa (perlimaan). Bagian diatas simfisis adalah

proporsi yang belum masuk pintu atas panggul dan sisanya

(tidak teraba) menunjukkan sejauh mana bagian terbawah janin

telah masuk ke dalam rongga panggul.

Penurunan bagian terbawah dengan metode lima jari

(perlimaan) adalah:

(1) 5/5 jika bagian terbawah janin seluruhnya teraba di atas

simfisis pubis

(2) 4/5 jika sebagian (1/5) bagian terbawah janin telah

memasuki pintu atas panggul

81
(3) 3/5 jika sebagian (2/5) bagian terbawah janin telah

memasuki rongga panggul

(4) 2/5 jika hanya sebagian dari bagian terbawah janin masih

berada diatas simfisi dan (3/5) bagian telah turun melewati

bidang tengah rongga panggul (tidak dapat digerakkan)

(5) 1/5 jika hanya 1 dari 5 jari masih dapat meraba bagian

terbawah janin yang berada diatas simfisis dan 4/5 bagian

telah masuk ke dalam rongga panggul

(6) 0/5 jika bagian terbawah janin sudah tidak dapat diraba dari

pemeriksaan luar dan seluruh bagian terbawah janin sudah

masuk ke dalam rongga panggul

(JNPK-KR, 2008)

Bidang Hodge

Bidang-bidang Hodge ini dipelajari untuk menentukan

sampai di manakah bagian Krendah janin turun dalam panggul

dalam persalinan.

(1) Biding Hodge I: ialah bidang datar yang melalui bagian atas

simfisis dan pro-motorium. Bidang ini dibentuk pada

lingkaran pintu atas panggul.

(2) Bidang Hodge II: ialah bidang yang sejajar dengan Bidang

Hodge I terletak setinggi bagian bawah simfisis.

82
(3) Bidang Hodge III: ialah bidang yang sejajar dengan Bidang

Hodge I dan II terletak setinggi spina iskiadika kanan dan

kiri. Pada rujukan lain, bidang Hodge III ini disebut juga

bidang O. Kepala yang berada di atas 1 cm disebut (-1) atau

sebaliknya.

(4) Bidang Hodge IV: ialah bidang yang sejajar dengan Bidang

Hodge I, II, dan III, terletak setinggi os koksigis.

2.1.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan

1) Tenaga (Power)

a) HIS/ Kontraksi

HIS/Kontraksi uterus adalah kontraksi otot-otot uterus dalam

persalinan. Kontraksi merupakan suatu sifat pokok otot polos

dan tentu saja hal ini terjadi pada otot polos yaitu miometrium.

b) Kekuatan mengedan ibu

Setelah serviks terbuka lengkap kekuatan yang sangat penting

pada ekspulsi janin adalah yang dihasilkan oleh peningkatan

tekanan intra-abdomen yang diciptakan oleh kontraksi otot-otot

abdomen. (Rukiah, 2009)

2) Janin dan placenta (passenger)

Bagian yang paling besar dank eras dari janin adalah kepala janin.

posisi dan besar kepala janin dapat mempengaruhi jalannya

83
persalinan sehingga dapat membahayakan hidup dan kehidupan

janin kelak.

3) Jalan lahir (passage)

Bentuk dan struktur dasar panggul memiliki peran penting dalam

mengarahkan kepala janin yang sedang menuruni bagian bawah

rongga panggul yang melengkung kedepan.

4) Psikis ibu bersalin

Psikis ibu bersalin sangat berpengaruh dari dukungan suami dan

anggota keluarga yang lain untuk mendampingi ibu selama bersalin

dan kelahiran anjurkan mereka berperan aktif dalam mendukung

dan mendampingi langkah-langkah yang mungkin akan membantu

kenyamanan ibu, hargai kenginan ibu untuk didampingi.

5) Penolong

Penolong persalinan adalah petugas kesehatan yang mempunyai

legalitas dalam menolong persalinan antara lain dokter, bidan serta

mempunyai kompetensi dalam menolong persalinan, menangani

kegawat daruratan serta melakukan rujukan jika diperlukan.

(Rukiyah, 2009)

2.1.2.4 Tanda-Tanda Persalinan

Dengan penurunan hormon progesterone menjelang persalinan

dapat terjadi kontraksi. Kontraksi otot rahim menyebabkan:

84
1) Turunnya kepala, masuk pintu atas panggul, terutama pada

primigravida minggu ke-36 dapat menimbulkan sesak dibagian

bawah, di atas simfisis pubis dan sering ingin kencing atau susah

kencing karena kandung kemih tertekan kepala.

2) Perut lebih melebar karena fundus uteri turun.

3) Terjadi perasaan sakit di daerah pinggang karena kontraksi ringan

otot rahim dan tertekannya pleksus Frankenhauser yang terletak

sekitar serviks (tanda persalinan palsu-false labour).

4) Terjadi perlunakan serviks karena terdapat kontraksi otot rahim

5) Terjadi pengeluaran lendir, dimana lender penutup serviks

dilepaskan (Manuaba, 2010).

Tanda dan gejala inpartu termasuk:

1) Penipisan dan pembukaan serviks

2) Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi

minimal 2 kali dalam 10 menit)

3) Cairan lendir bercampur darah (“show”) melalui vagina

(JNPK-KR, 2008)

2.1.2.5 Perubahan Dalam Proses Persalinan

Lamanya Persalinan

Lamanya persalinan tentu berlainan bagi pramigravida dan

multigravida, untuk primagravida Kala I: 12,5 jam, Kala II: 80 menit,

85
Kala III; 10 menit, kala IV : 14 jam sedangkan multigrvida Kala I : <7

jam 20 menit, Kala II; <30 menit, Kala III : <10 menit, Kala IV : 8 jam

(Rukiyah, 2009)

Perubahan yang terjadi pada setiap kala persalinan secara fisik dan

psikis yaitu:

1) Kala I

Kala satu persalinan dimulai sejak terjadinya kontraksi uterus yang

teratur dan teratur dan meningkat (frekuensi dan kekuatannya)

hingga serviks membuak lengkap (10 cm). Kala satu persalinan

terdiri atas dua fase, yaitu fase laten dan fase aktif. (JNPK-KR,

2008)

Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara pembukaan

nol sampai pembukaan lengkap. (Manuaba, 2012)

Fase laten pada kala satu persalinan :

a) Dimulai sejak awal berkontraksi yang menyebabkan penipisan

dan pembukaan serviks secara bertahap.

b) Berlangsung hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.

c) Pada umumnya, fase laten berlangsung hampir atau hingga 8

jam.

Fase aktif pada kala satu persalinan:

a) Frekuensi dan lama kontraksi uterus akan meningkat secara

bertahap (kontraksi dianggap adekuat/memadai jika terjadi 3

86
kali atau lebih dalam waktu 10 menit, dan berlangsung selama

40 detik atau lebih)

b) Dari pembukaan 4 cm hingga mencapai pembukaan lengkap

atau 10 cm, akan terjadi dengan kecepatan rata-rata 1 cm

perjam (nulipara atau primigravida) atau lebih dari 1 cm

hingga 2 cm (multipara).

c) Terjadi penurunan bagian terbawah janin.

Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu:

a) Fase akselerasi dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 4 cm.

b) Fase dilatasi maksimal (steady): selama 2 jam pembukaan

berlagsung cepat menjadi 9 cm.

c) Fase deselerasi pembukaan menjadi lambat kembali dalam 2

jam pembukaan dari 9 menjadi 10 cm lengkap.

Indikasi-indikasi untuk melakukan tindakan dan/atau rujukan

segera selama kala satu persalinan

a) Riwayat bedah sesar

b) Perdarahan pervaginam

c) Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37

minggu)

d) Ketuban pecah disertai dengan mekonium yang kental

e) Ketuban pecah lama (lebih dari 24 jam)

f) Ketuban pecah pada persalinan kurang bulan (usia kehamilan

kurang dari 37 minggu)

87
g) Ikterus

h) Anemia berat

i) Tanda/gejala infeksi

j) Pre-eklampsia/ hipertensi dalam kehamilan

k) Tinggi fundus 40 cm atau lebih

l) Gawat janin

m) Primipara dalam fase aktif kala satu persalinan dan kepala janin

masih 5/5

n) Presentasi bukan belakang kepala

o) Presentasi ganda (majemuk)

p) Kehamilan ganda atau gemeli

q) Tali pusat menumbung

r) Syok

Periksa Dalam

Periksa dalam sebaiknya dilakukan selama 4 jam selama kala 1

pada persalinan, dan setelah selaput ketuban pecah. Gambarkan

temuan-temuan yang ada pada patograf. Pada pemeriksaan dalam,

catatlah hal-hal sebagi berikut:

(a) Warna cairan amnion

(b) Dilatasi serviks

(c) Penurunan kepala ( yang dapat dicocokkan dengan periksa luar)

88
Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama,

mungkin diagnosis in partu belum dapat ditegakkan.

Jika terdapat kontrasi yang menetap, periksa ulang wanita tersebut

setelah 4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahapan ini,

jika seriks terasa tipis dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadaan

in partu, jika tidak terdapat perubahan, maka diagnosisnya adalah

persalinan palsu. Pada kala II persalinan lakukan pemeriksaan dalam

setap jam. (Manuaba,2012)

2) Kala Dua persalinan

Persalinan kala dua dimulai ketika pembukaan serviks sudah

lengkap (10 cm) dan berakhir dengan lahirnya bayi. Kala dua juga

disebut sebagai kala pengeluaran bayi. Persalinan dianggap normal jika

prosesnya terjadi pada usia kehamilan lebih dari 37 minggu tanpa

disertai adanya penyulit. ( Depkes RI 2007 dalam buku Rukiyah, 2009 )

Asuhan pada ibu bersalin yaitu asuhan yang dibutuhkan ibu saat proses

persalinan. (Azrul, 2007 dalam buku Rukiyah, 2009)

Kala dua persalinan adalah kala pengeluaran dimulai saat serviks telah

membuka lengkap dan berlanjut hingga bayi lahir. (Rukiyah, 2009)

Tanda Dan Gejala Kala Dua Persalinan (JNPK-KR, 2008)

a) Ibu merasa ingin meneran bersamaan dengan terjadinya kontraksi.

b) Ibu merasakan adannya peningkatan tekanan pada rectum dan/atau

vaginanya.

89
c) Perineum menonjol.

d) Vulva-vagina dan sfingter ani membuka.

e) Meningkatnya pengeluaran ledir bercampur darah.

Tanda pasti kala dua ditentukan melalui periksa dalam (informasi

obyektif) yang hasilnya adalah

a) Pembukaan serviks sudah lengkap, atau

b) Terlihatnya bagian kepala bayi melalui introitus vagina.

Posisi ibu saat meneran

a) Posisi duduk atau setengah duduk

Posisi duduk atau setengah duduk dapat memberikan rasa nyaman bagi ibu

dan memberikan kemudahan baginya untuk beristirahat diantara kontraksi.

Keuntungan dari kedua posisi ini adalah gaya grafitasi untuk membantu ibu

melahirkan bayinya.

b) Jongkok atau berdiri

Jongkok atau berdiri membantu mempercepat kemajuan kala dua persalinan

dan mengurangi rasa nyeri

c) Merangkak atau berbaring miring kekiri

Beberapa ibu merasa bahwa merangkak atau berbaring miring kekiri

membuat mereka lebih nyaman dan efektif untuk meneran. Kedua posisi

tersebut juga akan membantu perbaikan posisi oksiput yang melintang

untuk berputar menjadi posisi oksiput anterior. Posisi merangkak seringkali

membantu ibu mengurangi nyeri punggung saat persalinan. Posisi berbaring

90
miring kekiri memudahkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi jika ia

mengalami kelelahan dan juga dapat mengurangi resiko terjadinya laserasi

perineum.

(Rukiyah,2009)

2.1.2.6 Penatalaksanaan dalam proses persalinan

Menurut JNPK-KR 2008 langkah asuhan persalinan normal ada 58 yaitu:

I. Mengenali Gejala dan Tanda Kala II

1. Mendengar, melihat dan memeriksa gejala dan tanda Kala II Ibu

merasa ada dorongan kuat dan meneran

a) Ibu merasakan regangan yang semakin meningkat pada rektum

dan vagina

b) Perineum tampak menonjol

c) Vulva dan sfingter ani membuka

II. Menyiapkan Pertolongan Persalinan

1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial

untuk menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu

dan bayi baru lahir.

2. Pakai celemek plastic

3. Lepaskan dan simpan semua perhiasan yang dipakai, cuci tangan

dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian

91
keringkan tangan dengan tissue atau handuk pribadi yang bersih

dan kering.

4. Pakai sarung tangan DTT untuk melakukan periksa dalam.

5. Masukkan oksitosin ke dalam tabung suntik (gunakan tangan yang

memakai sarung tangan DTT dan steril (pastikan tidak terjadi

kontaminasi pada alat suntik) dengan cara one hand atau satu tangan.

III. Memastikan Pembukaan Lengkap dan Keadaan Janin Baik

1. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati

dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang

dibasahi air DTT.

a) Jika introitus vagina, perineum atau anus terkontaminasi tinja,

bersihkan dengan seksama dari arah depan ke belakang.

b) Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah

yang tersedia.

c) Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan

dan rendam dalam larutan klorin 0,5%  langkah 9)

2. Lakukan periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap

Bila selaput ketuban dalam pecah dan pembukaan sudah lengkap

maka lakukan amniotomi.

92
3. Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang

masih memakai sarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%

kemudian lepaskan dan rendam dalam keadaan terbalik dalam

larutan 0,5% selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung

tangan dilepakan.

4. Periksa denyut jantung janin (DJJ) setelah kontraksi/saat relaksasi

uterus untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal (120-

160x/menit)

a) Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.

b) Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan semua

hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada partograf.

IV. Menyiapkan Ibu dan Keluarga Untuk Membantu Proses

Bimbingan Meneran

1. Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin

baik dan bantu ibu dalam menemukan posisi yang nyaman dan

sesuai dengan keinginannya.

a. Tunggu hingga timbul rasa ingin meneran, lanjutkan pemantauan

kondisi dan kenyamanan ibu dan janin (ikuti pedoman

penatalaksanaan fase aktif) dan dokumentasikan semua temuan yang

ada.

93
b. Jelaskan pada anggota keluarga tentang bagaiman peran mereka

untuk mendukung dan memberi semangat pada ibu untuk meneran

secara benar.

2. Minta keluarga membantu menyiapkan posisi meneran. (Bila ada

rasa ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu ke

posisi setengah duduk atau posisi lain yang diinginkan dan pastikan

ibu merasa nyaman). Setelah di informasikan baik buruknya posisi

tersebut.

3. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan

kuat untuk meneran:

a) Bimbingan ibu agar dapat meneran secara benar dan efektif.

b) Dukung dan beri semangat pada saat meneran dan perbaiki cara

meneran apabila caranya tidak sesuai.

c) Bantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya

(kecuali posisi berbaring terlentang dalam waktu yang lama)

lebih dari 10 menit.

d) Anjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.

e) Anjurkan keluarga memberi dukungan dan semangat untuk ibu.

f) Berikan cukup asupan cairan per-oral (minum).

g) Menilai DJJ setiap kontraksi uterus selesai.

h) Segera rujuk jika bayi belum atau tidak akan segera lahir setelah

120 menit (2 jam) meneran (primigravida) atau 60 menit (1 jam)

meneran (multigravida).

94
4. Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi

yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran

dalam 60 menit pada primi dan 30 menit pada multi dan masih juga

belum ada dorongan meneran. Secara spontan pimpin pada waktu

puncak his rujuk bila belum berhasil.

V. Persiapan Pertolongan kelahiran bayi

5. Letakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika

kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm.

6. Letakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.

7. Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan

bahan.

8. Pakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

VI. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi Lahirnya Kepala

9. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5-6 cm membuka vulva

maka lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi dengan

kain bersih dan kering. Tangan yang lain menahan kepala bayi untuk

menahan kepala bayi untuk menahan posisi defleksi tidak terlalu

cepat dan membantu lahirnya kepala. Anjurkan ibu untuk meneran

perlahan sambil bernafas cepat dan dangkal.

10. Periksa kemungkinan adanya lilitan tali pusat dan ambil tindakan

yang sesuai jika hal itu terjadi, dan segera lanjutkan proses kelahiran

bayi.

95
a. Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat

bagian atas kepala bayi.

b. Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat di dua

tempat dan potong di antara dua klem tersebut.

11. Tunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan

Lahirnya Bahu

12. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara

biparietal. Anjurkan ibu untuk saat kontraksi. Dengan lembut

gerakkan kepala ke arah bawah dan distal hingga bahu depan muncul

di bawah arkus pubis dan kemudian gerakkan arah atas dan distal

untuk melahirkan bahu belakang.

Lahirnya Badan dan Tungkai

13. Setelah kedua bahu lahir, geser atau sanggah tangan bawah kearah

perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah

bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang

lengan dan siku sebelah atas.

14. Setelah tubuh dan lengan lahir, penelusuran tangan atas berlanjut ke

punggung, bokong, tungkai dan kaki. Pegang kedua mata kaki

(masukkan telunjuk diantara kaki dan pegang masing-masing mata

kaki dengan ibu jari dan jari-jari lainnya).

VII.Penanganan Bayi Baru Lahir

15. Lakukan penilaian (selintas)

96
a) Apakah bayi menangis kuat dan/atau bernafas tanpa kesulitan?

b) Apakah bayi bergerak dengan aktif?

Jika bayi tidak menangis, tidak bernafas atau megap-megap segera

lakukan tindakan resusitasi ( langkah 25 ini berlanjut ke langkah-

langkah prosedur resusitasi bayi baru lahir dengan asfiksia)

16. Keringkan dan posisikan tubuh bayi di atas perut ibu

a) Keringkan bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh

lainnya (tanpa membersihkan verniks) kecuali bagian tangan

b) Ganti handuk basah dengan handuk yang kering

c) Pastikan bayi dalam kondisi mantap di atas perut ibu

17. Periksa kembali perut ibu untuk memastikan tak ada bayi lain dalam

uterus (hamil tunggal)

18. Beritahukan pada ibu bahwa penolong akan menyuntikan oksitosin

(agar uterus berkontraksi baik).

19. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikkan oksitosin 10 unit

(intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan

aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin).

20. Dengan menggunakan klem, jepit tali pusat (dua menit setelah bayi

lahir) pada sekitar 3 cm dari pusar (umbilicus) bayi. Dari sisi luar

klem penjepit, dorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan lakukan

penjepitan kedua pada 2 cm distal dari klem pertama.

21. Pemotongan dan pengikatan tali pusat

97
a) Dengan satu tangan, angkat tali pusat yang telah dijepit

kemudian lakukan pengguntingan tali pusat (lindungi perut bayi)

di antara 2 klem tersebut.

b) Ikat tali pusat dengan benang DTT/steril pada satu sisi kemudian

lingkarkan kembali benang ke sisi berlawanan dan lakukan

ikatan kedua menggunakan dengan simpul kunci.

c) Lepaskan klem dan masukkan dalam wadah yang telah

disediakan.

22. Tempatkan bayi untuk melakukan kontak kulit ibu ke kulit bayi.

Letakkan bayi dengan posisi terungkap di dada ibu. Luruskan bahu

bayi sehingga bayi menempel dengan baik di dinding dada-perut ibu.

Usahakan kepala bayi berada di antara payudara ibu dengan posisi

lebih rendah dari putting payudara ibu.

23. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi di kepala

bayi.

VIII. Penatalaksanaan Aktif Kala III

24. Pindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10cm dari vulva.

25. Letakkan satu tangan di atas kain pada perut ibu, di tepi atas

simfisis,atau supra simpisis untuk mendeteksi. Tangan lain

menegangkan tali pusat.

26. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat kearah bawah

sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang – atas

(dorsokranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversion uteri).

98
Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan

tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi

prosedur di atas.

Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota

keluarga untuk melakukan stimulasi putting susu.

Mengeluarkan Plasenta

27. Lakukan penegangan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta

terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat

dengan arah sejajar lantai dan kemudian kea rah atas, mengikuti

poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).

a) Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak

sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.

b) Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat:

1. Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM.

2. Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh.

3. Minta kelurga untuk menyiapkan rujukan.

4. Ulangi penegangan tali pusat 15 menit berikutnya.

5. Segera rujuk jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi

lahir dan tidak keluar darah.

6. Bila terjadi perdarahan, lakukan plasenta manual.

28. Saat plasenta muncul di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan

kedua tangan. Pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban

99
terpilin kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang

telah disediakan.

a. Jika selaput ketuban robek, pakai sarung tangan DTT atau steril

untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-

jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan

bagian selaput yang tertinggal.

Rangsang Taktil (Masase) Uterus

29. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, lakukan masase

uterus, letakkan telapak tangan di fundus dan lakukan masase

dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi

(fundus teraba keras).

a. Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi

setelah 15 detik melakukan rangsangan taktil/masase.

IX. Menilai Perdarahan

30. Periksa kedua sisi plasenta baik bagian ibu maupun bayi dan

pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukkan plasenta ke

dalam kantung plastic atau tempat khusus.

31. Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Lakukan

penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. Bila ada robekan

yang menimbulkan perdarahan aktif, segera lakukan penjahitan.

X. Melakukan Asuhan Pasca Persalinan

100
32. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi

perdarahan pervaginam.

33. Beri cukup waktu untuk melakukan kontak kulit ibu-bayi (di dada

ibu paling sedikit 1 jam).

a. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu

dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya

berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup menyusu dari satu

payudara.

b. Biarkan bayi berada di dada ibu selama 1 jam walaupun bayi

sudah berhasil menyusu.

34. Lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik

profilaksis dan vitamin K1 1mg intramuscular dipaha kiri anterolateral

setelah satu jam kontak kulit ibu-bayi.

35. Berikan suntikan imunisasi Hepatitis B (setelah satu jam pemberian

Vitamin K1) dipaha kanan anterolateral.

a. Letakkan bayi di dalam jangkauan ibu agar sewaktu-waktu bisa

disusukan.

b. Letakkan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil

menyusu di dalam satu jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil

menyusu.

Evaluasi

46. Lanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam

a) 2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan

101
b) Setiap 15 menit pada 1 jam pertama pasca persalinan

c) Setiap 20-30 menit pada jam kedua pasca persalinan

d) Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang

sesuai untuk menatalaksana atonia uteri

47. Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai

kontraksi.

48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

49. Memeriksa nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit

selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam

kedua pasca persalinan.

a) Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam

pertama pasca persalinan.

b) Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

50. Periksa kembali kondisi bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas

dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5°C –

37,5°C)

Kebersihan dan Keamanan

51. Tempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5%

untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas dengan diterjen

peralatan setelah didekontaminasi di air bersih, mengalir.

52. Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang

sesuai.

102
53. Bersihkan badan ibu menggunakan air DTT. Bersihkan sisa cairan

ketuban, lender dan darah. Bantu ibu memakai pakaian yang bersih dan

kering.

54. Pastikan ibu merasa nyaman. Bantu ibu memberikan ASI. Anjurkan

keluarga untuk memberi ibu minuman dan makanan yang

diinginkannya.

55. Dekontaminasi tempat bersalin dengan larutan klorin 0,5%, bilas

dengan air DTT.

56. Celupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, balikkan

bagian dalam keluar dan rendam dalam larutan klorin 0,5% selama 10

menit.

57. Cuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih mengalir kemudian

keringkan dengan tissue atau handuk pribadi yang kering dan bersih.

Dokumentasi

58. Lengkapi partograf (halaman depan dan belakang), periksa tanda vital

dan asuhan kala IV (JNPK-KR, 2008).

3) Kala tiga persalinan

Persalinan kala tiga dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan

lahirnya plasenta dan selaput ketuban. (JPNK-KR, 2008)

Dimulai segera setelah bayi baru lahir sampai lahirnya plasenta yang

berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras

dengan fundus uteri agak diatas pusat beberapa menit kemudian uterus

103
berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanyna

plasenta lepas dalam 6 menit-15 menit. (Rukiyah,2009).

Fisiologi Kala Tiga Persalinan

Pada kala tiga persalinan, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti

penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran

ini menyebebkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan placenta. Karena

tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak

berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari

dinding uterus. Setelah lepas plasenta akan turun kebagian bawah uterus

atau kedalam vagina.

Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal-hal

dibawah ini:

a) Perubahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah bayi lahir dan

sebelum miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk

bulat penuh dan tinggi fundus biasanya dibawah pusat. Setelah

uterus berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah, uterus

berbentuk segitiga atau seperti buah pear atau alpukat dan

fundus berada diatas pusat (seringkali mengarah kesisi kanan)

b) Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat menjulur keluar

melalui vulva (tanda ahfeld)

c) Semburan darah mendadak dan singkat. Darah yang terkumpul

di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta

104
keluar dibantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah

(retroplacental pooling) dalam ruang diantara dinding uterus

dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya

maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas.

(JPNK-KR, 2008)

Manajemen Aktif Kala Tiga

Keuntungan-keuntungan manajemen aktif kala tiga:

(1) Persalinan kala tiga yang lebih singkat

(2) Mengurangi jumlah kehilangan darah

(3) Mengurangi kejadian retensio plasenta

Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama:

(1) Pemberian suntikan oksitosin 10 IU dalam 1 menit pertama

setelah bayi lahir penyuntikan secara IM di sepertiga bagian

atas paha bagian luar (aspektus lateralis). Oksitosin

merangsang fundus uteri untuk berkontraksi dengan kuat

dan efektif sehingga dapat membantu pelepasan pelasenta

dan mengurangi kehilangan darah.aspirasi sebelum

penyuntikan akan mencegah penyuntikan oksitosin ke

pembulu darah.(JNPK-KR, 2008)

(2) Melakukan penegangan Tali Pusat Terkendali

105
Jangan melakukan peregangan tali pusat tanpa diikuti

dengan tekanan dorso-kranial secara serentak pada bagian

bawah uterus (di atas simfisis pubis). (JNPK-KR, 2008)

(3) Massase fundus uteri

Segera lakukan setelah plasenta lahir 15 detik. Periksa

kontrakso uterus setiap 15 menit selama satu jam pertama

pascapersalinan dan setiap 30 menit selama satu jam kedua

pascapersalinan. (JNPK-KR, 2008)

4) Kala empat persalinan

Kala empat persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan

berakhir setelah dua jam itu. Komplikasi yang dapat timbul pada

kala IV adalah subinvolusi dikarenakan oleh uterus tidak

berkontraksi, perdarahan yang disebabkan oleh atonia uteri,

laserasi jalan lahir, sisa plasenta.

Asuhan Dan Pemantauan Pada Kala Empat

Setelah plasenta lahir:

a) Lakukan rangsangan taktil (massase) uterus untuk merangsang

uterus berkontraksi baik dan kuat

b) Evaluasi tinggi fundus dengan meletakan jari tangan anda

secara melintang dengan pusat sebagai patokan. Umumnya,

fundus uteri setinggi atau beberapa jari di bawah pusat.

c) Perkiraan kehilangan darah secara keseluruhan

106
d) Periksa kemungkinan perdarahan dari seluruh robekan (laserari

atau episiotomi) perineum

e) Evaluasi keadaan umum ibu

f) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama persalinan

kala empat dibagian belakang partograf, segera setelah asuhan

diberikan atau setelah penilaian dilakukan.

WHO/UNICEF/IVACG Task Force, 2006 merekomendasikan

pemberian 2 dosis vitamin A 200.000 IU dalam selang waktu 24

jam pada ibu pascabersalin untuk memperbaiki kadar vitamin A

pada ASI dan mencegah terjadinya lecet putting susu. Selain itu

suplementasi Vitamin A akan meningkatkan daya tahan tubuh ibu

terhadap infeksi perlukaan atau laserasi akibat proses persalinan.

(JNPK-KR, 2008)

Melakukan Pengecekan Plasenta

a. Ketebalan plasenta

Ukuran plasenta selama kehamilan pertumbuhan uterus

lebih cepat dari pada pertumbuhan plasenta, sampai kehamilan

20 minggu plasenta menempati seperempat luas permukaan

miometrium, dan ketebalannya tidak lebih 2 – 3 cm. Menjelang

kehamilan aterm plasenta menempati sekitar seperdelapan luas

permukaan miometrium, dan ketebalannya dapat mencapai 4 –

5 cm.

107
b. Ukuran tali pusat

Tali pusat bentuknya bergulung dan berada bebas di dalam

kantung amnion, sehingga panjang tali pusat tidak mungkin

dapat diukur melalui pemeriksaan USG. Selama kehamilan tali

pusat akan bertambah panjang, dan mencapai panjang finalnya

sekitar 50 – 60 cm.

Memperkirakan Kehilangan Darah

Sangat sulit untuk memperkirakan kehilangan darah secara

tepat karena darah seringkali bercampur dengan cairan ketuban

atau urin dan mugkin terserap handuk, kain atau sarung. Tak

mungkin menilai kehilangan darah secara akurat melalui

penghitungan jumlah sarung bermacam-macam dan mungkin telah

diganti jika terkena sedikit darah atau basah oleh darah. Meletakan

wadah atau pispot dibawah bokong ibu untuk mengumpulkan

darah., bukanlah cara efektif untuk mengukur kehilangan darah dan

cerminan asuhan sayang ibu karena berbaring diatas wadah atau

pispot sangat tidak nyaman dan menyulitkan ibu untuk memegang

dan menyusukan bayinya.

Satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan

melihat volume darah yang terkumpul dan memperkirakan berapa

banyak botol 500 ml dapat menampung semua darah tersebut. Jika

108
darah bisa mengisi 2 botol, ibu telah kehilangan 1 liter darah. Jika

darah bisa mengisi setengah botol, ibu kehilangan 250 ml darah.

Memperkirakan kehilangan darah hanyalah salah satu cara untuk

menilai kondisi ibu. Cara tak langsung untuk mengukur jumlah

kehilangan darah adalah melalui penampakan gejala dan tekanan

darah. Apabila perdarahan menyebabkan ibu lemas, pusing dan

kesadaran menurun serta tekanan darah sistolik turun lebih dari 10

mmHg dari kondisi sebelumnya maka telah terjadi perdarahan

lebih dari 500 ml. Bila ibu mengalami syok hipovolemik maka ibu

telah kehilangan darah 50 % dari total jumlah darah ibu (2000-

2500 ml). Penting untuk selalu memantau keadaan umum dan

menilai jumlah kehilangan darah ibu selama kala empat melalui

tanda vital, jumlah darah yang keluar dan kontraksi uterus.(JNPK-

KR, 2008)

Memeriksa Perdarahan Dari Perineum

Perhatikan dan temukan penyebab perdarahan dari laserasi atau

robekan perineum dan vagina. Laserasi diklasifikasikan

berdasarkan luasnya robekan. (JPNK-KR, 2008)

a) Derajat satu : mukosa vagina, komisura posterior, kulit

perineum. Tak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan

aposisi luka baik.

109
b) Derajat dua : mukosa vagina, komisura posterior, kulit

perineum, otot perineum.

c) Derajat tiga : mukosa vagina, komisura posterior, kulit

perineum, otot perineum, otot sfingter ani.

d) Derajat empat : mukosa vagina, komisura posterior, kulit

perineum, otot perineum, otot sfingter ani, dinding depan

rectum.

Penolong APN tidak dibekali keterampilan untuk reparasi laserasi

perineum derajat tiga atau empat. Segera rujuk ke fasilitas rujukan.

Pencegahan Infeksi

PI (Pencegahan Infeksi ) adalah bagian yang esensial dari

semua asuhan yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir

danharus dilakssanakan secara rutin pada saat menolong persalinan

dan kelahiran bayi, saat memberikan asuhan selama kunjungan

antenatal atau pascapersalinan/bayi baru lahir atau saat

menatalaksanakan penylit. (JNPK-KR, 2008)

Memakai sarung tangan, mengenakan perlengkapan

perlindungan pribadi (kaca mata, masker, celemek, dll) dapat

melindungi petugas terhadap percikan yang dapat

mengkontaminasi dan memyebabkan penyakit. (JNPK-KR, 2008)

Setelah persalinan, dekontaminasi alas plastic, tempat tidur

dan matras dengan larutan klorin 0,5 % kemudian cuci dengan

deterjen dan bilas dengan air bersih. Jika sudah bersih, keringkan

110
dengan air bersih supaya ibu tidak berbaring diatas matras yang

basah. Dekontaminasi linen yang digunakan selama persalinan

dalam larutan clorin 0,5 % dan kemudian cuci segera dengan air

dan deterjen.

Segera setelah peralatan di gunakan, masukan benda-benda

yang terkontaminasi ke dalam larutan klorin 0,5% selama 10

menit. Prosedur ini dengan cepat mamtikan virus Hepatitis B dan

HIV. (JNPK-KR, 2008)

Pemantauan Keadaan Umum Ibu

Sebagian besar kejadian kesakitan dan kematian ibu yang

disebebkan oleh perdarahan pascasalin terjadi selama empat jam

pertama setelah kelahiran bayi. Karena alasan ini sangatlah penting

untuk memantau ibu secara ketat segera setelah persalinan. Jika

tanda-tanda vital dan kontraksi uterus masih dalam batas normal

selama dua jam pertama pascapersalinan, mungkin ibu tidak akan

mengalami perdarahan pascapersalinan. Penting untuk berada

disamping ibu dan bayinya selama dua jam pertama pasca

persalinan.

Selama dua jam pertama pascapersalinan:

a) Pantau tekanan darah, nadi, tinggi fundus, kandung kemih dan

darah yang keluar setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan

setiap 30 menit selama satu jam kedua kala empat. Jika ada

111
temuan yang tidak normal, tingkatkan frekuensi observasi dan

penilaian kondisi ibu.

b) Masase uterus untuk membuat kontraksi uterus menjadi baik

setiap 15 menit selama satu jam pertama dan setiap 30 menit

selama jam kedua kala empat. Jika ada temuan yang tidak

normal, tingkatkan frekuensi observasi dan penilaian kondisi

ibu.

c) Pantau temperature tubuh setiap jam dalam dua jam pertama

pascapersalinan. Jika meningkat, pantau dan tatalaksana sesuai

dengan apa yang diperlukan.

d) Nilai perdarahan. Periksa perineum dan vagina setiap 15 menit

selama satu jam pertama dan setiap 30 menit selama jam kedua

pada kala empat.

e) Ajarkan ibu dan keluarganya bagaimana menilai kontraksi

uterus dan jumlah darah yang keluar dan bagaimana melakukan

massase jika uterus menjadi lembek.

f) Minta anggota keluarga untuk memeluk bayi. Bersihkan dan

bantu ibu mengenakan baju atau sarung yang bersih dan kering,

atau posisi ibu agar nyaman, duduk bersandarkan bantal atau

berbaring miring. Jaga agar bayi diselimuti dengan baik, bagian

kepala tertutup baik, kemudian berikan bayi ke ibu dan

anjurkan untuk dipeluk dan diberi ASI

g) Lakukan asuhan esensial bagi bayi baru lahir.

112
h) Jangan gunakan kain pembebat perut selama dua jam pertama

pasca persalinan atau hingga kondisi ibu sudah stabil. Kain

pembebat perut menyulitkan penolong untuk menilai kontraksi

uterus secara memadai. Jika kandung kemih penuh, bantu ibu

untuk mengosongkan kandung kemihnnya dan anjurkan untuk

mengosongkannya tiap kali diperlukan. Ingatkan ibu bahwa

keinginan untuk berkemih mungkin berbeda setelah dia

melahirkan bayinya. Jika ibu tak dapat berkemih, bantu ibu

dengan cara menyiramkan air bersih dan hangat ke

perineumnya. Berikan privasi atau masukkan jari-jari ibu

kedalam air hangat untuk merangsang keinginan berkemih

secara spontan.

Jika setelah berbagai upaya tersebut, ibu tetap tidak dapat berkemih

secara spontan, mungkin perlu dilakukan kateterisasi. Jika kandung

kemih penuh atau dapat dipalpasi, gunakan teknik aseptic saat

memasukan kateter nelaton DTT atau steril untuk mengosongkan

kandung kemih. Setelah kandung kemih dikosongkan, lakukan

masase pada fundus agar uterus berkontraksi baik. Ajarkan pada

mereka bagaimana mencari pertolongan jika ada tanda-tanda

bahaya seperti: demam, perdarahan aktif, keluar banyak bekuan

darah, bau busuk dari vagina, pusing, lemas luar biasa, penyulit

dalam menyusukan bayinya, nyeri panggul atau abdomen yang

lebih hebat dari nyeri kontraksi biasa. (JNPK-KR, 2008)

113
2.1.2.6 Partograf

1) Definisi

Partograf adalah alat bantu untuk memantau kemajuan

persalinan dan informasi untuk membuat keputusan klinik

(JNPK-KR, 2008)

2) Tujuan

Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah:

a) Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan

menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam.

b) Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara

normal. Dengan demikian dapat juga untuk mendeteksi

secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.

c) Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi

ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan proses persalinan, bahan

dan mendokumentaskan yang diberikan, pemeriksaan

laboratorium, membuat keputusan klinik dan asuhan atau

tindakan yang diberikan dimana semua itu dicatatkan secara

rinci pada status atau rekam medic ibu bersalin dan bayi baru

lahir. (JNPK-KR, 2008)

Jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan

membantu penolong persalinan untuk :

1. Mencatat kemajuan persalinan

114
2. Mencatat kondisi ibu dan janinnya

3. Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dan

kelahiran

4. Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi

dini peyulit persalinan

5. Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat

keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu

partograf harus digunakan:

a. Untuk semua ibu dimulai pada fase aktif kala satu persalinan dan

merupakan elemen penting dari asuhan persalinan. Partograf harus

digunakan untuk semua persalinan, baik normal maupun patologis .

partograf sangat membantu penolong persalinan dalam memantau,

mengevaluasi dan membuat keputusan klinik, baik persalinan

dengan penyulit maupun yang tidak disertai dengan penyulit.

b. Selama persalinan dan kelahiran bayi di semua tempat (rumah,

puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit, dll)

c. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan

asuhan persalinan kepada ibu dan proses kelahiran bayinya

(Spesialis Obstetri, Bidan, Dokter Umum, Residen, Dan Mahasiswa

Kedokteran ).

(JNPK-KR, 2008)

115
Pencatatan selama fase laten kala satu persalinan

Selama fase laten, semua asuhan, pengamatan dan pemeriksaan

harus dicatat. Hal ini dapat dicatat secara terpisah, baik dicatat

kemajuan persalinan di buku KIA atau Kartu Menuju Sehat (KMS) ibu

hamil. Tanggal dan waktu harus dituliskan setiap kali membuat catatan

selama fase laten persalinan. Semua suhan dan intervensi juga harus

dicatatkan.

Kondisi ibu dan bayi harus dicatat dengan seksama, yaitu:

1. Denyut jantung janin setiap ½ jam

2. Frekuensi dan lamanya kontraksi uterus setiap ½ jam

3. Nadi ½ jam

4. Pembukaan serviks setiap 4 jam

5. Penurunan bagian terbawah janin setiap 4 jam

6. Tekanan darah dan temperatur tubuh setiap 4 jam

7. Produksi urin, aseton, dan protein setiap 2 sampai 4 jam

(JNPK-KR, 2008)

Pencatatan selama fase aktif persalinan

Observasi dimulai pada fase aktif persalinan dan menyediakan lajur

dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase aktif

persalinan,yaitu:

Informasi ibu tentang :

116
1. Nama, umur

2. Gravida, para, abortus (keguguran)

3. Nomor catatan medik/nomor puskesmas

4. Tanggal dan waktu mulai dirawat

5. Waktu pecahnya selaput ketuban

Kondisi janin :

1. DJJ (Denyut Jantung Janin)

Setiap 30 menit (lebih sering jika ada gawat janin), harus waspada jika

DJJ mengarah hingga dibawah 120 atau diatas 160.

2. Warna dan adanya air ketuban

Nilai air kondisi air ketuban setiap kali melakukan pemeriksaan dan

nilai warna air ketuban jika selaput ketuban pecah dan

mempergunakan lambang-lambang berikut :

1) U : selaput ketuban belum pecah (utuh)

2) J : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih

3) M : selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur

mekonium

4) D : selaput ketuban sudah pecah dan bercampur darah

5) K : selaput ketuban sudah pecah tapi air ketuban tidak

mengalir lagi (“kering”) (JNPK-KR, 2008).

3. Penyusupan (molase) kepala janin.

Setiap kali melakukan periksa dalam, nilai penyusupan antara tulang

(molase) kepala janin. Dan mempergunakan lambang berikut ini:

117
1) 0 : tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah

dapat dipalpasi

2) 1 : tulang- tulang kepala janin hanya saling bersentuhan

3) 2 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi

masih dapat dipisahkan

4) 3 : tulang-tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak

dapat dipisahkan

(JNPK-KR, 2008)

Kemajuan persalinan :

1. Pembukaan serviks

2. Penurunan bagian terbawah atau presentasi

3. Garis waspada dan garis bertindak

Jam dan waktu:

1. Waktu mulainya fase aktifpersalinan

2. Waktu aktual saat pemeriksaan atau penilaian

Kontraksi uterus :

1. Frekuensi kontraksi dalam waktu 10 menit

2. Lama kontraksi (dalam detik)

Obat-obatan dan cairan yang diberikan :

1. Oksitosin

2. Obat-obatan lainnya dan cairan IV yang diberikan

Kondisi ibu :

1. Nadi, tekanan darah dan temperatur tubuh

118
2. Urin (volume, aseton atau protein)

(JNPK-KR, 2008)

2.1.2.7 Amniotomi

Amniotomi adalah tindakan untuk membuka selaput ketuban

(amniotomi) dengan jalan membuat robekan kecil yang kemudian akan

melebarkan secara spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan

di dalam rongga amnion. (Sulistyawati, 2012)

Amniotomi dilakukan apabila ketuban belum pecah dan

pembukaan sudah lengkap maka perlu di lakukan amniotomi.

Perhatikan warna air ketuban yang keluar saat dilakukan amniotomi.

Jika terjadi pewarnaan mekonium pada air ketuban maka lakukan

persiapan pertolongan bayi setelah lahir karena hal tersebut

menunjukan adanya hipoksia dalam rahim atau selama proses

persalinan. (JNPK-KR, 2008)

119
2.1.3 Nifas

2.1.3.1 Pengertian nifas

Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan

berakhir ketika alat-alat kandungan seperti keadaan sebelum hamil.

Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu. (Walyani, 2015)

Masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput

yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti

sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu.(Walyani, 2015)

Masa nifas, disebut juga masa postpartum atau puerperium adalah

masa sesudah persalinan, masa perubahan, pemulihan, penyembuhan,

dan pengembalian alat-alat kandungan/reproduksi, seperti sebelum

hamil yang lamanya 6 minggu atau 40 hari pascapersalinan (Jannah

Nurul, 2011).

2.1.3.2 Fisiologi Nifas

(Rukiyah, 2009)

1) Immediate postpartum atau postpartum dini

Dihitung 24 jam setelah plasenta lahir, dimana ibu memiliki

kepulihan kembali dan dibolehkan berdiri atau jalan- jalan.

2) Early postpartum atau puerpurium intermedial

Hari ke – 7 setelah partus sampai pulihnya kembali alat – alat

genitalia seluruhnya yang lamanya 6 – 8 minggu.

120
3) Late postpartum atau remote puerpurium

Minggu ke – 2 sampai ke – 6 setelah partus. Remote puerperium

adalah waktu yang dibutuhkan untuk pulih dan sehat sempurna bila

ibu selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu – minggu, bulanan

atau tahunan.

4) Fase adaptasi psikologis masa nifas

a) Fase Taking In

Terjadi pada hari ke 1 – 2 postpartum merupakan masa

ketergantungan ketika ibu mengharapkan segala kebutuhannya

b) Fase Taking Hold

Terjadi antara 3 – 10 hari setelah postpartum, secara

bergantian timbul kebutuhan ibu untuk mendapatkan perawatan

dan penerimaan dari orang lain dan keinginan untuk bisa

melakukan segala sesuatu secara mandiri.

c) Fase Letting Go

Fase ini merupakan fase menerima tanggung jawab akan

peran barunya yang berlangsung setelah 10 hari postpartum.

2.1.3.3 Perubahan-perubahan yang terjadi pada waktu nifas

1) Perubahan sistem reproduksi (Uterus, Vagina, dan Perineum)

(Jannah, 2011)

121
a) Uterus

Definisi involusi uteri adalah proses kembalinya uterus ke

ukuran semula sebelum hamil, sekitar kurang lebih 60 gram.

Proses ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi

otot – otot polos uterus.

b) Proses Involusi Uteri

Pada akhir kala III persalinan, uterus berada di garis tengah,

kira – kira 2 cm di bawah umbilicus dengan bagian fundus

bersandar pada promontorium sakrali. Pada saat ini, besar uterus

kira – kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16

minggu dengan berat 1000 gram.

Peningkatan kadar estrogen dan progesteron bertanggung

jawab untuk pertumbuhan masif uterus selama masa hamil.

Pertumbuhan uterus pada masa prenatal tergantung pada

hyperplasia, peningkatan jumlah sel – sel otot, dan hipertropi

yaitu pembesaran sel – sel yang sudah ada. Pada masa post

partum penurunan kadar hormon – hormon ini menyebabkan

terjadinya autolysis.

Proses involusi uterus adalah sebagai berikut.

(1) Autolysis

Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang

terjadi di dalam ototuterus. Enzim proteolitik akan

memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga

122
panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5

kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan.

Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan

progesteron.

(2) Atrofi jaringan

Jaringan yang berpoliferasi dengan adanya estrogen

dalam jumlah besar kemudian mengalami atrofi sebagai

reaksi terhadap penghentian produksi hormon esterogen saat

pelepasan plasenta.

(3) Efek Oksitosin ( Kontraksi )

Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan

retraksi otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah

yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus.

Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat

implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Luka

bekas pelekatan plasenta memerlukan waktu 8 minggu

untuk sembuh total.

c) Proses Involusi pada Bekas Implantasi Plasenta

(1) bekas implantasi plasenta segera setelah plasenta lahir seluas

12 x 5 cm, permukaan kasar, tempat pembuluh darah besar

bermuara.

123
(2) pada pembuluh darah terjadi pembentukan trombosis,

disamping pembuluh darah tertutup karena kontraksi otot

rahim.

(3) bekas luka implantasi dengan cepat mengecil, pada minggu

ke– 2 sebesar 6 – 8 cm pada akhir masa nifas sebesar 2 cm.

(4) lapisan endometrium dilepaskan dalam bentuk jaringan

nekrosis bersama dengan lochea

(5) luka bekas implantasi plasenta akan sembuh karena

pertumbuhan endometrium yang berasal dari tepi luka dan

lapisan basalis endometrium.

(6) luka sembuh sempurna pada 6 – 8 minggu postpartum

Laktasi

Perubahan yang terdapat pada kedua mammae sejak kehamilan

muda:

a) Proliferasi jaringan, terutama kelenjar-kelenjar & alveolus &

lemak.

b) Pada duktus laksiferus terdapat colostrum.

c) Hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada

bagian dalam mamma.

d) setelah partus, pengaruh menekan dari esterogen &

progresteron terhadap hipofisis hilang. Timbul pengaruh

hormon-hormon hipofisis kembali, antara lain lactogenic

124
hormone (prokeksin). Pengaruh oksitosin mengakibatkan

mioepitelium kelenjar-kelenjar susu berkontraksi, sehingga

pengeluaran ASI dilaksanakan. Umumnya produksi asli

berlangsung betul pada hari ke-2-3 post partum. Pada hari-hari

I ASI mengandung colostrum, mengandung protein albumin

dan globulin & benda-benda kolostrum dengan diameter 0,001-

0,025 mm dan mudah dicerna. Rangsangan terbaik untuk

mengeluarkan ASI adalah dengan menyusui bayi itu sendiri.

Kadar prolaktin meningkat dengan perangsangan fisik pada

puting mama.

Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke otak,

mengakibatkan oksitosin dhasilkan, sehingga ASI dapat

dikeluarkan dan sebagai efek sampingan, memperbaiki involusi

uterus.

Keuntungan lain menyusui : menjelma rasa kasih sayang antara

ibu dan anak. ASI dapat melindungi bayi terhadap infeksi

seperti:

a) Gastroenteris

b) Radang jalan nafas & paru-paru

c) Otitis media.

Sehubungan ASI mengandung lactoferin, lysozyme &

imunogbulin A.

125
Perubahan Lain Pada Nifas

a) After paru/ mules-mules akibat kontraksi uterus. Kadang-

kadang sangat menganggu selama 2-3 hari post partum.

Lebih terasa bila menyusui.

b) Sesudah partus, suhu tubuh wanita dapat naik 0,5 0C dari

keadaan normal, tapi tidak melebihi 380C. sesudah 12 jam

pertama post partum, umumnya suhu kembali normal. Bila

suhu > 380C, maka mungkin ada infeksi.

c) Segera setelah partus terjadi bradikardi. Bila terdapat

takikardi sedangkan badan tidak panas, mungkin ada

perdarahan berlebihan atau ada vitium kardis. Pada masa

nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibandingkan

dengan suhu badan.

d) Pada beberapa kasus ditemukan hipertensi post partum.

Biasanya akan hilang sendiri bila tidak ada penyakit-

penyakit lain yang menyertainya + 2 bulan tanpa

pengobatan.

Perawatan Post Partum

Dimulai sejak kala ini dengan menghindarkan kemungkinan

perdarahan & infeksi. Bila ada laserasi jalan lahir/luka bekas

episiotomi, lakukan penjahitan & perawatan luka sebaik-

baiknya 8 jam post partum wanita harus tidur telentang untuk

126
mencegah terjadinya perdarahan sesudah 8 jam, badan miring

kiri dan kanan untuk mencegah trombosis.

Ibu dan bayi bisa diletakkan dalam 1 kamar (rooming in) atau

terpisah. Pada hari ke-2 bila perlu dapat dilakukan latihan-

latihan senam. Hari ke-3 duduk, ke-4 berjalan, ke-5 dapat

dipulangkan. Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan

cukup kalori, cukup protein, cairan serta buah-buahan karena

wanita mengalami hemokosentrasi.

Miksi/berkemih harus cepat dapat dilakukan sendi. Bila

kandung kencing penuh & wanita tidak dapat berkemih sendiri,

sebaiknya dilakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan

sampai infeksi.

Umumnya partus lama, yang kemudian diakhiri dengan

ekstraksi valcum/cunan, dapat mengakibatkan hal-hal yang

demikian sampai terjadi retensio urin. Bila perlu, sebaiknya

dipasang dawer catheter/ indwelling catheter untuk memberi

istirahat pada otot-otot kandung kencing. Dengan demikian,

jika ada kerusakan-kerusakan pada otot-otot kandung kencing,

otot-otot cepat pulih kembali sehingga tugasnya cepat pula

kembali.

Defekasi harus ada 3 hari post partum. Bila ada obstirasi,

lakukan klisma/beri laksans per os supaya tidak terjadi infeksi.

Bila terdapat after panis/mules beranalgetika/sedativa supaya

127
dapat tidur. 8 jam post partum disuruh menyusui bayi untuk

merangsang laktasi.

Perubahan Lainnya Yang Terjadi Pada Waktu Nifas

1) Perubahan Sistem Reproduksi

Selama masa nifas alat alat eksterna maupun interna berangsur

angsur kembali seperti keadaan sebelum hamil. Perubahan

keseluruhan alat genitalia ini disebut involusi. Pada masa ini

terjadi juga perubahan penting lainnya, perubahan –perubahan

yang terjadi antara lain sebagai berikut.

2) Uterus

Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi

posisi fondus uteri berada kurang lebih pertengahan antara

umbilikus dan somfisis. Atau sedikit lebih tinggi. Dua hari

kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga

dalan dua minggu telah turun masuk kedalam rongga pelvis dan

tidak dapat diraba lagi dari luar. Involusi uterus melibatkan

pengreorganisasian dan penguguran desidua serta penglupas situs

plasenta, sebagai mana diperlihatkan dengan mengurangi dalam

ukuran dan berat serta oleh warna dan banyaknya lokia dan

kecepatan involusi tidak akan terpengaruh oleh pemberian

sejumlah preparat metergin dan lainnya dalam proses persalinan.

128
Involusi tersebut dapat dipercepat prosesnya bila ibu menyusui

bayinya.

Desidua tertinggal diuterus. Uterus pemisahan dan pengeluaran

plasenta dan membran terdiri atas lapisan zona spongiosa, basalis

desidua dan desi dua parietlis, desidua yang tertinngal ini akan

berubah menjadi dua lapis sebagai akibat invasi leukosit. Desuda

yang tertinggal ini akan berubah menjadi dua lapis sebagai akibat

invasi leukosit. Suatu lapisan yang lembat laun akan manual

neorco, suatu lapisan superfesial yang akan dibuang sebagai dari

lokia yang akan dikeluarkan melalui lapisan dalam ang sehat dan

berfungsional yang berada di sebelah mimetrium basilar di dalam

lapisan zona basalis. Pembetukan kembali sepenuhnya

endometrium pada situs plasenta akan memakan waktu kira-kira 6

minggu.

Penyebarluasan epitelium akan memanjang kedalam, dari sisi situs

menuju lapisan uterus disekelilingnya. Kemudian di bawah situs

plasenta. Selanjutnya menuju sisa kelenjar endiometrium masilar di

dalam desidua basilis, penumbuhan edometrium ini pada

hakikatnya akan merusak pembuluh darah trombosa pada situs

tersebut yang menyebabkan mengedap dan dibuang bersama

dengan cairan lokianya.

Dalam keadaan normal, uteri mencapai ukuran besar pada masa

sebelum hamil samapi dengan kurang 4 minggu, berat uterus

129
setelah kelahiran kurang dari 1 kg sebagai akibat involusi. Satu

minggu setelah melahirkan beranya menjadi kurang 500 gram.

Pada akhir minggu kedua setelah persalinan menjadi kurang 300

gram, setelah itu menjadi 100 gram atau kurang. Otot-otot uterus

segera berkontraksi setelah postpartum. Pembuluh-pembuluh darah

yang berada diantara anyaman otot uterus yang terjepit. Proses ini

akan menghentikan peredaran setelah plasenta di lahirkan. Setiap

kali bila ditimbulkan fondus uteri berada di atas umbilikus, makan

hal-hal yang perlu di pertimbangkan adalah pengisian uterus oleh

darah atau pembekuan darah saaat awal jam postpartum atau

pergeseran letak uterus karena kandung kemih yang penuh setiap

saat setelah kelahiran.

Pengurangan dalam ukuran uterus tidak akan mengutanggi jumlah

otot sel. Sebaliknya, masing-masing sel akan berkurang ukurannya

secara draktis saat sel-sel tersebut membesarkan dirinya dari

bahan-bahan seluler yang berlebihan. Bagaimana proses ini terjadi

belum diketahui sampai sekarang.

Pembuluh darah uterus yang besar pada saat kehamilan sudah tidak

diperlukan lagi. Hal ini karena uterus yang tidak pada saatnya

hamil tidak mempunyai permukaan yang luas dan besar yang

memerlukan banyak pasokan darah. Pebuluh dara ini akan menua

kemudian akan menjadi lenyap dengan penyerapan kembali

endapan-endapan hialim. Mereka telah dianggap telah digantikan

130
dengan pembuluh-pembuluh darah baru yang lebih kecil. (Tri

sunarsih, 2011).

Table 2.2

Tinggi fundus uterin dan berat uterus menurut masa involusi

Involusi TFU Berat uterus

Bayi lahir Setinggi pusat 2 jbpst* 1.000 gr

1 minggu Pertengahan pusat simifisis 750 gr

2 minguu Tidak berada diatas simifis 500 gr

6 minggu Normal 50 gr

8 minggu Normal seperti sebelum hamil 30 gr

3) Lochea

Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari vavum uteri dan

vagina semala mana nifas. Lochea terbagi menjadi tiga jenis yaitu :

lochea rubra, sangulenta dan lochea serosa atau alba.

Berikut ini adalah beberapa jenis lochea yang terdapat pada waktu

wanita berada pada masa nifas.

a) Lochea Rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah

segar dan sisa-sisa selaput kebutuhan, set-set disedua verniks

caseosa, lanugo, dan mekanium selama 2 hari pasca persalinan.

Inilah lokia yang akan keluar selama dua sampai tiga hari

postpartum.

131
b) Lochea Sanguilenta berwarna merah kuning bersih darah dan

lender yang keluar pada hari ke-3 sampai ke-7 pasca

persalinan.

c) Lochea Serosa adalah lokia berikutnya. Dimulai dengan versi

yang lebih pucat dari lochea rubra. Lochea ini berbentuk serum

dan berwarna merah jambu kemudian menjadi kuning. Cairan

tidak berdarah lagi pada hari ke-7 sampai ke-14

pascapersalinan. Lochea serosa mengandung terutama cairan

serum, jaringan desidua, leukosit, dan aritrosit.

d) Lochea Alba adalah lokia yang terkhir. Dimulai dari hari ke-14

kemudian makin lama makin sedikit hingga sama sekali

herhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya. Bentuknya

seperti cairan putih berbentuk krim serta terdiri atas leukosit

dan sel-sel desidua.

Lochea mempunyai bentuk yang khas, tidak seperti bau

menstrulasi, bau ibi terasa tercium pada lochea serosa, bau ini akan

semakin lebih keras jika tercampur dengan keringat dan harus

cermat membedakanya dengan bau busuk yang menandakan

adanya infeksi. Lochea dimulai sebagai suatu pelepsan cairan

dalam jumlah yang banyak pada jam-jam pertama setelah

melahirkan. Kemudia lochea ini kan berkurang jumlainya sebagai

lokia rubra, lalu berkurang sedikit menjadi sanguilenta, serosa,

dan akhirnya Lochea alba. (Saleha, Sitti, 2009)

132
4) Endometrium

Perubahan pada endometrium adalah tinbulnya thrombosis,

degrrenetasi, dan nekrosis di tempat inplantasi plasenta pada hari

pertama tebal endometrium 2,5 mm, mempunyai permukaan yang

kasar akibat pelepasan desidua, dan selaput janin. Setelah tiga hari

mulai rata, sehingga tidak ada pembetukan jaringan perut pada

bekas implantasi plasenta.

5) Serviks

Segera setelah berakhirnya kala TU, serviks menjadi sangat

lembek, kendur, dan terkulai. Serviks tersebut bias melepuh dan

lecet, terutama di bagian anterior. Serviks akan terlihat padat yang

mencerminkan vaskularitasnya yang tinggi, lubang serviks lambat

laun akan mengecil, beberapa hari setelah persalinan diri letak

karena robekan dari persalinan. Rongga rongga serviks bagian luar

akan membentuk seperti keadaan sebelum hamil pada saat empat

minggu postpartum.

6) Vagina

Vagina dan lubang vagina dalam permulaan puerpurium

merupakan suatu saluran yang luas berdnding tipis. Secara

berangsur-angsur luasnya berkurang, tetapi jarang sekali kembali

seperti ukuran seorang nulipara. Rugae timbul kembali pada

minggu ke-3. Himen tampak tamapk sebagai tonjolan jaringan

133
yang kecil, yang dalam pembetukan berubah menjadi karunkulae

mitiformis yang khas bagi wanita multipara.

7) Payudara (mamae)

Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi

secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanis fisiologis,

yaitu sebagai berikut.

a) Produk Susu

b) Sekresi Susu Let Down

Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan

menyiapkan funginya untuk menyediakan makanan untuk bayi

baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormaon yang dihasilkan

plasenta tidak ada lagi untuk menghambat kelenjat putiutari dan

mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga

setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa

dirasakan. Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi

darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa sakit sel-sel

acini yang menhasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi

menghisap putting. Refleks saraf merangsang lobus posterior

pituutari untuk menyekreksi hormone oksitosin. Oksitosin

merangsang Refleks Left Down (mengalirkan), sehingga

menyebabkan injeksi ASI melalui sinus laktiferus payudara ke

duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI dialirkan karena

isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk

134
menghasilkan ASI lebih banyak. Refleks ini dapat berlanjut sampai

waktu yang cukup lama.

8) Sistem Pencernaan

Seorang wanita dapat terasa lapar dan siap menyamp makanannya

dua jam setelah persalinan. Kalsium sangat penting untuk gigi pada

kehamilan dan masa nifas, dimana pada masa ini terjadi penurunan

konsentrasi ion kalsium karena meningkatnya kebetuhan kalsium

pada ibu, sehingga pada bayi yang di kandungnya untuk proses

pertumbuhan janin juga pada ibu dalam masa laktasi.

Mual dan muntah terjadi akhibat produksi saliva meningakat pada

kehamilan trimester I, gejala ini terjadi 6 minggu setelah HPHT

dan berlangsung kurang lebih 10 minggu juga terjadi pada ibu nifas

pada ibu nifas terutama yang yang partus lama dan terlantar mudah

terjadi ileus paraliktikus, yaitu adanya obstruksi usus akibat tidak

adanya peristaltic usus. Penyebabnya adalah penekanan buah dada

dalam kehamilan dan pertus lama, sehingga menbatasi gerak

paristaltik usus, bias juga karena pengaruh psikis takut BAB karena

ada luka jahitan perineum.

Secara khas penurunan tonus otot dan motalitas otot traktus cerna

menetap selama waktu singkat setelah bayi lahir. Kelebihan

analgetik dan anastesi bisa memperlambat pengembalian tonus dan

motalitas ke keadaan semula (Sundawati, 2011).

135
9) Sistem Perkemihan

pelvis ginjal dan ureter yang teregang dan berdilatasi selama

kehamilan kembali normal pada nkhirn minggu keempat setelah

melahirkan. Pemeriksaan sistokopik segera setelah melhirkan

menujkkan tidak saja sdema dan hyperemia dinding kandung

kemih, tetapi sering kali terdapat ekstravasasi darah pada

submukosa.

Kurang lebih 40% wanifa nifas mengalami proteinuria yang

nonpatologis sejak pascamelahirkan sampai dua hari postpartum

agar dapat dikendalikan. Oleh karena itu, contoh spesimen diambil

melalui katerisasi agak tidak terkontaminasi dengan lokia yang

nonpatologis. Hal ini dapat mewujudkan hanya bila ada tanda

gejala infeksi saluran kemih atau preeklampsi.

Diuresis yang normal dimulai setelah bersalin sampai hari kelima

setelah persalinan. Jumlah urine yang keluar dapat melebihi 3.000

ml per harinya. Hal ini diperkirakan merupakan salah satu cara

untuk menghilangkan peningkatancairan eksraseluler yang

merupakan bagia normal kehamilan. Selain itu juga didapati

adanya keringat yang banyak pada beberapa hari pertama setelah

persalinan.

Di samping itu, kandung kemih pada puerperium mempunyai

kapasitas yang menigkatkan secara relative. Oleh karena itu,

distensi yang berlebihan, urine residual yang berlebihan. Dan

136
pengosongan yang tidak sempurna, harus diwaspadai dengan

seksama. Ureter dan pelvis renalis yang mengalami distensi akan

kembali normal pada dua sampai delapan minggu setelah

persalinan.

10) Sistem Muskuloskeleta

Ligament-ligamen, fasia, dan diafragma pelvis yang meregang

sewaktu kehamilan dan persalinan berangsur-angsur kembali

seperti sediakala. Tidak jarang ligamen rotumdum mengendur,

sehingga uterus jatuh kebelakang. Faisa jaringan penunjang alat

genitia yang mengendur dapat diatasi dengan latihan-latihan

tertentu. Mobilitas sendi berkurang dan posisi kembali secara

perlahan-lahan.

Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah persalinan.

Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot –

otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan

setelah plasenta dilahirkan.

Ligamen-ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang

pada waktu persalinan secara berangsur-angsur menjadi ciut dsn

pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh kebelakang dan

menjadi retrofleksi karena ligementum rotundum menjadi kendor.

Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6 -8 minggu setelah

persalinan.

137
Untuk pemulihan kembali jaringan-jaringan penunjang alat

genitalia, serta otot – otot dinding perut dan dasar panggul, di

anjurkan untuk melakukan latihan – latihan tertentu. (Jannah,

2011)

11) Sistem Endokrin

Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan pada

system endokrin, terutama pada hormone-hormon yang berperan

dalam proses tesebut.

12) Oksitosin

Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang. Selama

tahap ketiga persalinan, hormone oksitosin berperan dalam

pelapisan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga

mencegah pendarahan. Isapan bayi dapat merangsang produksi

ASI dan sekresi oksitosin. Hal tersebut membantu uterus kembali

kebentuk normal.

13) Prolaktin

Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangnya kelenjar

pituitary bagia belakang untuk mengelurkan prolaktin. Hormone

ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang

produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar

prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel

dalan ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui

bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-21 hari

138
setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan

otak yang mengontrol ovarium kea arah permulaan pola produksi

estrogen dan progesterone yang normal, pertumbuhan folikel,

ovulasi, dan menstrulasi.

14) Estrogen dan Progesterone

Selam hamil volume darah normal meningkat walupun

mekanismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan

bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormone

antidiuretik yang meningkatkan volume darah. Di samping itu,

progesterone memengaruhi otot halus yang mengurangi

perangsangan dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat

mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar

panggul, perineum dan vulva, serta vagina.

15) Perubahan Tanda-Tanda Vital

Tanda-tanda vital yang harus dikaji pada masa nfas adalah sebagai

berikut.

a) Suhu

Suhu tubuh wanita inpartu tidak lebih dari 37,2 ºC Seudah

pertus dapat naik kurang lebih 0,5 ºC dari keadaan normal,

namun tidak akan melebihi 8 ºC. Sesudah dua jam pertama

melhirkan umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila

suhu lebih dari 38 ºC, mungkin terjadi infeksi pada klien.

139
b) Nadi dan Pernapasan

Nadi berkisar antara 60-80 deyutan per menit setelah partus,

dan dapat terjadi bradikardia. Bila terdapat takikardia dan suhu

tubuh tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada

vitium kordis pada penderita. Pada masa nifas umumnya

denyut nadi labil dibandinglkan dengan suhu tubuh, sedangkan

pernapasan akan sedikit meningkatkan setelah partus kemudian

kembali seperti keadaan semula.

c) Tekanan Darah

Pada beberapa kasus ditemukan keadaan hipertensi postpartum

akan menghilang dengan sendirinya apabila tidak terdapat

penyakit-penyakirt lainnya yang menyertai dalam ½ bulan

tanpa pengobatan.

16) Sistem Hematologi dan Karvaskular

Leukositosis adalah menigkatnya jumlah sel-sel darah putihsampai

sebanyak 15.000 selama masa persalinan. Leukosit akan tetap

tinggi jimlahnya selama beberapa hari masa postpartum. Jumlah

sel-sel darah putih tersebut masih bisa naik tinggi lagi hinggga

25.000-3.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut

mengalami persalinan lama. Akan tetapi, berbagai jenis

kemungkinan infeksi harus dikesampingkan pada penemuan

semacam itu. Jumlah hemoglobin dan hematokrit serta eritrosit

akan pada awal bervariasi pada awal-awal masa nifas sebagai

140
akibat dari volume darah, volume plasma, dan volume sel darah

yang berubah-ubah. Sering di katakana bahwa jika homotrokrit

pada hari pertama atau kedua lebih rendah pada titik 2% atau lebih

tinggi dari pada saat memasuki pesalinan awal, maka klien

dianggap telah kehilangan darah yang cukup banyak titik 2%

tersebut kurang lebih sama kehilangan 500 lm darah. Biasanya

terdapat suatu kekurangan besar kurang lebih 1.500 ml dalam

jumlah darah yag terbuang pada klien ini kra-kira 200-500 ml

hiaolng selama masa persalinan, 500-800 ml hingga selama

minggu pertama postpartum, dan terakhir 500 ml selama sisa masa

nifas. (Rukiyah, 2009)

2.1.3.4 Penatalaksanaan Masa Nifas

Asuhan ibu pada masa Nifas

Setelah melahirkan plasenta, tubuh ibu biasanya mulai sembuh

dipersalinan bayi mulai bernafas secara normal dan melai

mempertahankan dirinya agar tetap hangat.

Bidan sebaiknya tetap tinggal selama beberapa jam setelah melahirkan

untuk memantikan ibu dan bayi sehat dan membantu keluarga baru ini

makan dan beristirahat.

Dihari-hari pertama dan minggu-minggu pertama stelah melahirkan

tubuh ibu mulai akan sembuh . rahimnya akan mengecil lagi dan

berhenti berdarah. ASI akan terus keluar dari payudara. Bayi akan

141
meyusus secara normal dan mulai mendapatkan pertambahan berat

badan. Pada saat itu, ibu dan bayi masih memerlukan perawatan bidan.

Berikut ini akan dijelaskan beberapa hal-hal yang dilakukan dalam

memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas.

1) Memeriksa Tanda-Tanda Vital Ibu

Peringsalah suhu tubuh, denyut nadi, dan tekanan darah ibu secara

teratur minimal sekali dalam satu jam bila ibu memiliki masalah

kesehatan.

2) Membersihkan Alat Kelamin, Perut dan Kaki Ibu

Bantulah ibu membersihkan diri setelah melahirkan, gantilah alas

tidur yang sudah kotor dan bersikan darah pada tubuhnya. Cucilah

tangan dan kenakan sarung tangan sebelum menyentuh alat

kelamin ibu. Bersihkan kelamin ibu dengan lembut, gunakan air

yang bersih dan kain steril.

Cuci alat kelamin dari atas ke bawah menjahui vagina. Berhati-

hatilah agar tidak membawa apa pun naik ke atas anus menuju

vagina. Karena bahkan sepotong kecil fases yang kasat mata bias

menyebabkan infeksi serius.

3) Mencegah Perdarahan Hebat

Setelah melahirkan, normal bagi wanita untuk mengalami

perdarahan yang sama banyaknya ketika dia mengalami pendahan

bulanan. Darah yang keluar mestinya juga harus tampak seperti

darah mentrulasi yang berwarna merah tua dan gelap, Atau agak

142
merah muda. Darah rembesan kecil-kecil saat rahim berkontraksi,

atau ketika ibu batuk, bergerak atau berdiri.

Pendarahn yang terlalu banyak sangat membahayakan. Untuk

memeriksa muncul tidaknya pendarahan hebat beberapa jam

setelah melahirkan. Coba anda lakukakn hal-hal berikut ini:

a) Rasakan rahim untuk melihat apakah dia berkontraksi. Priksa

segera setelah plasentanya lahir. Kemudian periksalah setelah 5

atau 1 jam . untuk 1 atau 2 jam berikutnya. Periksalah setiap 15

menit sampai 30 menit jika rahimnya terasa keras, maka dia

berkontraksi sebagai mana mestinya.

b) Periksa popok ibu untuk melihat berapa sering mengeluarkan

darah, jika mencapai 500 ml (sekitar 2 cangkir) berarti

pendarahannya terlalu berlebihan.

c) Periksa deyut nadi ibu dan tekanan darahnya setiap jam.

Perhatikan adanya tanda-tanda syok.

4) Memeriksa Alat Kelamin Ibu dan Masalah-Masalah Lainnya

Kenakan sarung tangan untuk memeriksa dengan lembut robek

atau tidaknya alat kelamin ibu. Selain itu perlu diperiksa juga

apakah serviksnya sudah menutup (turun menuju bukaan vagina)

5) Jika Ibu Memiliki Robekan

Mintalah ibu untuk beristirahat di tempat tidur selama 2 minggu

dengan kaki disejajarkan bersamaan sepanjang waktu. Ibu boleh

mengerakkan kakinya secara teratur. Untuk sementara tidak

143
diperbolehkan bekerja keras dan disarankan agar memakan

makanan yang bergizi.

6) Jika Ibu Memiliki Hematoma dan Rasa Sakit di Vagina

Terkadang rahim rapat dan mengeras, sehingga tidak terliha

adanya pendarahan hebat, namun ibu masih merasakan pusing-

pusing dan lemah. Jika hal ini yang terjadi bisa jadi dia mengalami

pendarahan dibawah kulit dalam vaginanya yang di sebut

hematoma. Kulit diwilayah ini sering kali membengkak, berwarna

gelap, lembut dan lunak.

Meskipun hematoma menyakitkan, biasanya dia tidak serius,

kecuali lukanya sangat besar. Jika hematoma terus bertumbuh,

tekanlah wilayah itu dengan kain steril selama 30 menit atau

sampai dia berhenti tumbuh. Jika ibu memiliki tanda-tanada syok.

Segera minta bantuan medis agar luka bias terbuak dan darah yang

terjebak didalamnya bisa keluar.

7) Jika Seviks Bisa Dibuka Dari Bukaan Vagina

Jika bias terlihat serviks dibukaan vagina setelah melahirkan,

kemungkinan besar rahimnya turun ke vagina. Masalah ini tidak

begitu berbahaya, karena serviks biasanya akan masuk

ketempatnya semula dalam beberapa hari. Anda mungkin bias

mendorong rahin dengan tangan bersarung. Bantulah ibu

menaikkan beokongannya agar lebih tinggi dari keapalnya.

144
8) Bantu Buang Air

Hendaknya buang air kecil dapat dilakukan sendirinya secepatnya.

Kadang-kadang wanita mengalami kesulitan bunag air kecil,

Karena sfingter utetra di tekan oleh kepala janin dan spasme oleh

iritasi muskulus sphincter ani selama persalinan. Bila kandungan

kemih penuh dan wanita slulit BAK, selama dilakukan

penetralisasi.

Buang air besar harus dilakukan 3-4 hari pascapersalinan. Bila

masih sulit buang air besar dan terjadi obtipasi, apalagi fase keras

dapat diberikan obat laksatif per oral atau per rectal. Jika belum

bias dilakukan klisma.

9) Bantu Ibu Makan dan Minum

Sebagian besar ibu mau makan setelah melahirkan, dan bagus bagi

mereka untuk bias menyantap beragam makanan bergizi yang

diinginkan. Jus buah sangat baik karena akan memberikannya

energy. Anjuran ibu untuk segera makan dan banyak minum pada

jam-jam pertama. Makanan harus bermutu, bergizi dan cukuo

kalori. Sebaiknya ibu mengonsumsi makanan yang mengandung

protein, banyak cairan, dan bua-buahan.

10) Memperhatikan Perasaan Ibu dan Bayinya

Hal-hal yang harus dilakukan untuk membantu meningkatkan

perasaan ibu terhadap banyinya adalah sebagai berikut.

145
Berikan dukungan emosional

Sangat penting untuk memberikan ibu dukungan emosional.

Kebiasaan dan ritual menghormati ibu untuk merayakan kelahiran

adalah salah satu cara untuk mengakui kenerhasilan ibu dalam

persalinan.

Kebanyakan wanita merasakan emosi-emosi yang sangat kuat

setelah melahirkan. Ini adalah hal yang normal. Beberapa wanita

merasakan sedih dan khawatir selama beberapa hari, minggu atau

bulan. Ketika hal ini terjadi, bantulah dia dengan mendengarkan

keluh kesahnya tentang perasaan itu, dan jelaskan bahwa perasaan

seperti itu umumnya terjadi.

Jika perasaan sedih ini sangat kuat, hal ini seperti depresi. Dalam

kondisi seperti ini, bisa jadi sulit bagi wanita untuk merawat

dirinya dan bayinya. Wanita yang mengalami depresi pasca

melahirkan memerlukan bantuan untuk merawat rumah dan

keluarganya. Dan memerlukan untuk menghentikan perasaan-

perasaan gundahnya. Wanita yang memilikin perasaan yang seperti

ini setelah melahirkan akan rentan untuk mengalaminya lagi dalam

persalinan berikutnya.

Ibu tidak tertarik pada bayinya

Beberapa ibu tidak merasa nyaman dengan bayi baru mereka. Ada

beberapa alas an yang menyebabkannya. Biasanya ibu sangat lelah,

sakit dan mengalami pendarahan hebat. Bias juga dia tidak

146
mengiginkan bayi itu, atau khawatir tidak bias merawatnya,

sehingga mengalami depresi. Maka yang harus dilakukan adalah

sebagai berikut:

a) Periksa tanda-tada bagi kehilangan darajh atau infeksi

b) Membicarakan dengan ibu tentang perasaan-perasaannya atau

mungkin lebih baik meningalkannya sendiriian dan

mengamatinya dari jauh sambil menunggu.

c) Jika ibu merasa depresi. Atau dia pernah depresi setelah

persalinan dahulu. Bicarakan dengan keluarganya untuk

memberikan perhatian dan dukungan exstra pada minggu-

mnggu berikutnya.

d) Pastikan seorang dalam kelurganya membantu merawat bayi

tersebut

Perhatikan Gejala Infeksi Pada Ibu

Suhu tubuh ibu yang baru melahirkan biasanya sedikit lebih tinggi

dari pada suhu normal. Khususnya jika cuaca hari itu sangat panas.

Namu, jika ibu merasa sakit, merasa demam, atau denyut nadinya

cepat, atau dia merasa perih saat kandungannya disentuh. Bisa

terjadi dia terkena infeksi. Infeksi ini biasanya terjadi jika air

ketuban pecah lebih awal sebelum persalinan dimulai, atau jika

persalinan terlalu lama, atau dia merasa kelelahan.

147
11) Bantu Ibu Menyusui

Menyusui adalah yang terbaik bagi ibu dan bayinya. Jika merasa

kebingguan apakah dia ingin menyusui atau tidak, minta lah dia

untuk menyusui hanya untuk minggu-minggu atau bulan bulan

pertama. Bahkan sedikit waktu untuk menyusui lebih dari pada

tidak sam sekali. Pastikan ibu memahami jika dia menyusui

banyinya, maka:

a) Rahimnya akan lebih cepat pulih keukuran semula

b) Bayinya lebih than serangan diare atau penyakit lainnya

c) Ibu bias menghemat pengeluaran uang karena susu formula

jelas lebih mahal.

12) Perawatan Payudara (mamae)

Perawatan mamae di muali sejak wanita hamil supaya puting susu

lemah, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk menyusui

bayinya. Bila bayi meninggal, laktasi harus di hentikan dengan

cara berikut.

a) Balut mamae sampai tertekan

b) Pemberian obat estrogen unutk supresi LH seperti table lynoral

dan parlodel

13) Laktasi

Untuk menghadapi masa laktasi (menyusui) sejak dari kehamilan

telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mamae berupa

hal-hal berikut.

148
a) Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar alveoli dan jaringan

lemak bertambah

b) Keluaran cariran susu jolong dari duktus laktiferus disebut

kilostrum, berwarna kuning putih susu

c) Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagia dalam, dimana

vena-vena berdilaksi sehingga tampak jelas

d) Setelah persalinan, pengaruh supresu estrogen dan

progesterone hilang maka timbul pengaruh hormone laktpgenik

(LH) atau prolaktin yang merangsang air susu. Di samping itu

pengaruh oksitosin menyebabkan miopitel kelenjar susu

berkontrasi, sehingga air susu keluar. Produksi akan banyak

sesudah 2-3 hari pasca persalinan.

14) Berikan waktu berkumpul bagi keluarga

Jika ibu dan bayinya sehat, berikan merekan waktu sesaat untuk

berduaan saja. Orang baru memerlukan waktu satu sama lain

dengan bayi mereka. Mungkin mereka juga memerlukan sejumlah

pribadi sebentar untuk berbincang-bincang, tertawa, menaggis,

berdoa, atau merayakan dengan suatu cara tertentu.

(Rukiyah, 2009)

Tujuan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan kebidaanan pada masa nifas adalah

sebagai berikut:

1) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun spikologis.

149
2) Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi

komplikasi pada ibu maupun bayinya.

3) Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan

diri, nitrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, imunisasi, seta

perawatan bayi sehari hari.

4) Memberikan pelayanan KB

Peran Bidan Pada Masa Nifas

Peran bidan pada masa nifas adalah sebagai berikut:

1) Memberikan dukungan terus menerus selama masa nifas yang baik

dan sesuai dengan kebutuhan ibu agar mengurangi ketegangan fisik

dan spikologis selama persalinan dan nifas

2) Sebagai promoter hubungan yang erat antara ibu dan bayi secara

fisik dan spikologis

3) Mengondisikan ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan

rasa nyaman.

Tahap Masa Nifas

Tahapan yang terjadi pada masa nifas adalah sebagi berikut

1) Periode immediate posrpartum

Masa segera setelah plasenta lahir sampai 24 jam. Pada masa ini

sering terdapat banyak masalah, misalnya pendarahan karena

atonia uteri. Oleh Karena itu, bidan dengan teratur harus

melakukan pemeriksaan kontraksi unterus, pengeluaran lokia,

tekanan darah dan suhu.

150
2) Periode early postpartum (24 jam-1 minggu)

Pada fase ini bidan memastikan involusi uteri dalam keadan

normal, tidak ada pendarahan, lokia tiadak berbau busuk, tidak

demam, ibu cukup mendapatkan makanan dan cairan, serta ibu

dapat menyusui dengan baik.

3) Periode late postpartum(1 minggu – 5 minggu)

Pada periode ini bidan tetap melakukan perawatan dan

pemeriksaan sehari hari serta konseling KB.

2.1.3.5 Program dan kebijakan teknik masa nifas

Table 2.3

Kunjungan Waktu Tujuan

1 6-8 jam setelah 1. Mencegah terjadinya pendarahan pada

persalinan masa nifas

2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain

pendarahan dan membri rujukan

pendarahan berlanjut

3. Memberik konseling kepada ibu atau

salah satu onggota keluarga mengenai

bagaimana mencegah pendarahan masa

nifas karena atonia uteri.

4. Pemberian ASI pada masa awal menjadi

ibu

5. Mengajarkan car agar mempererat

151
hungan antar ibu dan bayi baru lahir

6. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan

cara mencegah hepotenia.

Jika bidan menolong persalinan, maka

bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2

jam pertama setelah kelahiran atau

sampai keadaan ibu dan bayi dalam

keadaan stabil.

2 Enam hari 1. Memastikan involusi unteri berjalan

setelah normal, terus berkontraksi, fundus di

persalinan bawah umblikus tidak ada pencadahan

abnormal, dan tidak ada bau

2. Menilai adanya tanda-tanda demam,

infeksi atau kelainan pasca melahirkan

3. Memastikan ibu mendapat cukup

makanan, cairan dan istirahat.

4. Memastika ibu menyusui dengan baik dan

tidak ada tanda tnda penyulit

5. Memberika konseling kepada ibu

mengenai pengasuhan kepada bayi, cara

merawat tali pusat, dan bagaiman mejaga

bayi agar tetap hangat.

152
3 Dua minggu Sama seperti diatas (enam ahri setelah

setelah persalinan persalinan)

4 Enam minggu 1. Menannyakan pada ibu tentang penyuli

setelah penyulit yang di alami atau bayinya

persalinan 2. Memberi konseling untuk KB secara dini

(Saleha Siti, 2009)

2.1.4 PELAYANAN KB

2.1.4.1 Kontrasepsi Pascapersalinan

Pada umumnya klien pascapersalinan ingin menunda kehamilan

berikutnya paling sedikit 2 tahun lagi, atau tidak ingin tambahan anak

lagi. Konseling tentang keluarga berencana atau metode kontrasepsi

sebaiknya diberikan sewaktu asuhan antenatal maupun pasca

persalinan.

2.1.4.2 Kontrasepsi Yanga Di Anjurkan

153
1) Memberi ASI eksklusif (hanya memberi ASI saja) kepada bayi

sejak lahir sampai berusia 6 bulan. Sesudah bayi berusia 6 bulan

diberikan makanan pendamping ASI, dengan pemberian ASI

diteruskan sampai anak berusia 2 tahun

2) Tidak menghentikan ASI untuk mulai suatu metode kontrasepsi.

3) Metode kontrasepsi pada klien menyusui dipilih agar tidak

menipengaruhi ASI atau kesehatan bayi.

METODE AMENOREA LAKTASI (MAL)

1) Menyusui secara eksklusif merupakan suatu metode kontrasepsi

sementara yang cukup efektif, selama klien belum mendapat haid,

dan waktunya kurang dari 6 bulan pascapersalinan. Efektivitas

dapat mencapai 98%.

2) Efektif bila menyusui lebih dari 8 kali sehari dan bayi mendapat

cukup asupan per laktasi.

SAAT MULAI MENGGUNAKAN KONTRASEPSI

1) Waktu mulai kontrasepsi pascapersalinan tergantung dari status

menyusui. Metode yang langsung dapat digunakan adalah:

a) Spermisida.

b) Kondom.

c) Koitus interuptus.

Klien Menyusui

154
1) Klien menyusui tidak memerlukan kontrasepsi pada 6 minggu

pascapersalinan, Pada klien yang menggunakan MAL waktu

tersebut dapat sampai 6 bulan.

2) Gambaran berikut menunjukkan waktu yang dianjurkan untuk

mulai suatu metode kontrasepsi. Jika klien menginginkan metode

selain MAL, perlu didiskusikan efek samping metode kontrasepsi

tersebut terhadap laktasi dan kesehatan bayi. Sebagai contoh pil

kombinasi dan suntikan kombinasi merupakan pilihan terakhir. Pil

kombinasi, meskipun dengan pil dosis rendah (30 - 35µg EE) akan

mengurangi produksi ASI, dan secara teoritis akan berpengaruh

terhadap pertumbuhan normal bayi pada 6-8 minggu

pascapersalinan. Tunggulah 8-12 minggu pascapersalinan sebelum

mulai pil kombinasi atau suntikan kombinasi.

(Prwirohardjo, 2010)

Kontrasepsi hormonal suntikan. Metode suntikan KB telah menjadi

bagian gerakan keluarga berencana nasional serta peminatnya makin

bertambah. Tingginya minat pemakai suntikan KB oleh karena aman,

sederhana, efektif, tidak menimbulkan gangguan yang dapat dipakai

pada pasca persalinan.

Dua perusahaan farmasi menemukan suntikan KB hampir

bersamaan yaitu Upjohn company (1958) yang menemukan Depo

provera yang mengandung medroxyprogesteron acetat 150 mg dan

Cyclofem yang mengandung medroxyprogesteron acetat 50 mg dan

155
komponen estrogen sedangkan Schering AG (1957) menemukan

Norigest 200 mg yang merupakan derivat testosteron.

Mekanisme kerja komponen progesteron atau derivat testosteron

adalah:

1) Menghalangi pengeluaran FSH dan LH sehingga tidak terjadi

pelepasan ovum.

2) Mengentalkan lendir serviks, sehingga sulit ditembus spermatozoa,

3) Mengganggu peristaltik tuba fallopii, sehingga konsepsi dihambat.

4) Mengubah suasana endometrium, sehingga tidak sempurna untuk

implantasi hasil konsepsi.

Keuntungan dan kerugian KB suntikan

Keuntungan

1) Pemberian sederhana setiap 8-12 minggu

2) Tingkat efektivitasnya tinggi

3) Hubungan seks dengan suntikan KB bebas

4) Pengawasan medis yang ringan

5) Dapat diberikan pasca persalinan, pasca keguguran atau pasca

menstruasi

6) Tidak mengganngu pengeluaran laktasi dan tumbuh kembang bayi

7) Suntikan KB Cylofem diberikan setiap bulan dan peserta KB akan

mendapatkan menstruasi

Kerugian

156
1) Pendarahan yang tidak menentu

2) Terjadi amenorea (tidak datang bulan) berkepanjangn

3) Masih terjadi kemungkinan hamil

4) Kerugian atau penyulit inilah yang menyebabkan peserta KB

menghentikan suntikan KB

Waktu pemberian KB suntikan adalah pasca persalinan (segera

ketika masih di rumah sakit, jadwal suntikan berikutnya), pasca

abortus (segera setelah perawatan, jadwal waktu suntikan

diperhitungkan), dan interval (hari kelima menstruasi, jadwal waktu

diperhitungkan). Jadwal waktu suntikan berikutnya diperhitungkan

dengan pedoman Depoprovera (interval 12 minggu), Norigest (interval

8 minggu), dan Cyclofem (interval 4 minggu).

Dengan pedoman tersebut, peserta KB dapat memperhitungkan

pemberian suntikan dengan tenggang waktu yang cukup jelas.

Suntikan KB Cyclofem merupakan suntikan KB masa depan, karena

mempunyai keuntungan tenggang waktu setiap 4 minggu, peserta

suntikan cyclofem dapat mengalami menstruasi, dan pemberian aman,

efektif dan relatif mudah.

(Manuaba, 2010)

2.1.4.3 INFERTILITAS PASCAPERSALINAN

1) Pada klien pascapersalinan yang tidak menyusui, masa infertilitas

rata-rata berlangsung sekitar 6 minggu.

157
2) Pada klien pascapersalinan yang menyusui, masa infertilitas lebih

lama. Namun, kembalinya kesuburan tidak dapat diperkirakan.

158
2.1.5 Bayi Baru Lahir

2.1.5.1 Pengertian Bayi baru Lahir

Bayi baru lahir normal (BBL) normal adalah bayi yang lahir dari

kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500

gram sampai dengan 4000 gram. (Wahyuni, 2012)

Bayi baru lahir adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 4

minggu. Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi

dilahirkan melalui pelayanan kesehatan yagn diberikan kepada ibu

pada saat hamil.

Pengawasan pada bayi baru lahir secara keseluruhan selama 2 jam

yaitu yang dinilai pada jam pertama setelah bayi lahir adalah

kemampuan menghisap kuat atau lemah, bayi tampak aktif atau

lunglai, bayi kemerahan atau biru. (Saiffudin, 2010)

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir pada usia

kehamilan 37-42 minggu dan berat badannya 2500-4000 gram (Dewi,

2010)

Bayi Baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37

minggu sampai 42 minggu dan berat badan lahir adalah 2500 – 4000

gram. Proses kelahiran, adaptasi dari kehidupan intrauterine ke

ekstrauterin yang dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu: maturitas, adaptasi,

toleransi. (Saifudin, 2010)

159
Asuhan segera pada bayi baru lahir adalah asuhan yang

diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran.

(Saifudin, 2010)

2.1.5.2 Tujuan Asuhan Bayi Baru lahir

Tujuan dari asuhan Bayi baru lahir normal yaitu untuk

pencegahan infeksi (PI), penilaian awal, pencegahan kehilangan panas,

pemotongan dan perawatan tali pusat, pemberian ASI, pencegahan

perdarahan, pencegahan infeksi mata, pemeriksaan, pemberian

imunisasi (JNPK-KR, 2008)

2.1.5.3 Perubahan Fisiologis Bayi Baru Lahir

Perubahan fisiologis bayi baru lahir normal terdiri dari System

Pernafasan, Suhu Tubuh, Metabolisme, Peredaran darah,

Keseimbangan Air dan Fungsi Ginjal, Immunoglobulin, Traktus

Digestivus, Hati, Keseimbangan Asam Basa:

a. Sistem Pernafasan

Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas

melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas hatus melalui

paru-paru bayi. Pernafsan pertama pada bayi normal terjadi dalam

waktu 30 menit pertama sesudah lahir.

b. Suhu Tubuh

Terdapat 4 mekanisme kmungkinan hilangnya panas tubuh dari

bayi baru kahir ke lingkungannya yaitu:

160
1) Konduksi

Panas dihantarkan dari tubuh bayi ke benda sekitarnya yang

kontak langsung dengan tubuh bayi (pemindahan panas dari

tuuh bayi ke objek lain melalui kontak langsung. Contohnya

adalah menimbang bayi tanpa alas timbangan, tangan penolong

yang dingin memegang bayi baru lahir, menggunakan

stetoskop dingin untuk pemeriksaan bayi baru lahir.

2) Konveksi

Panas hilang dari tubuh bayi ke udara sekitarnya yang sedang

bergerak (jumlah panas yang hilang tergantung kepada

kecepatan dan suhu udara). Contohnya ialah membiarkan atau

menempatkan bayi baru lahir dekat jendela, membiarkan bayi

baru lahir di ruang yang berpasang kipas angin.

3) Radiasi

Panas dipancarkan dari bayi baru lahir, keluar tubuhnya ke

lingkungan yang lebih dingin (pemindahan panas antara 2

objek yang mempunyai suhu berbeda). Contohnya ialah bayi

baru lahir dibiarkan dalam ruangan dengan air conditioner

(AC) tanpa diberikan pemanas (radiant warmer), bayi baru

lahir dibiarkan dalam keadaan telanjang, bayi baru lahir

ditidurkan berdekatan dengan ruang yang dingin, misalnya

dekat tembok.

161
4) Evaporasi

Panas hilang melalui proses penguapan tergantung kepada

kecepatan dan kelembaban udara (perpindahan panas dengan

cara merubah cairan menjadi uap). Evaporasi dipengaruhi oleh

jumlah panas yang dipakai, tingkat kelembaban udara, aliran

udara yang melewati.

Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir, antara

lain mengeringkan bayi secara seksama, menyelimuti bayi

dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat, menutup

bagian kepala bayi, menganjurkan ibu untuk memeluk dan

menyusukan bayinya bayinya, jangan segera menimbang atau

memandikan bayi baru lahir, menempatkan bayi di lingkungan

yang hangat.

c. Metabolisme

Pada jam-jam pertama energi didapatkan dari perubahan

karbohidrat. Pada hari kedua, energi berasal dari pembakaran

lemak. Setelah mendapat susu kurang lebih pada hari ke enam,

pemenuhan kebutuhan energi bayi 60% didapatkan dari lemak dan

40% dari karbohidrat.

d. Peredaran Darah

Fetus (janin) menerima oksigen dan makanan dari plasenta, maka

seluruh darah fetus harus harus melalui plasenta. Semua darah

tercampur, antara darah yang direoksigenisasi dari plasenta dan

162
darah yang telah direoksigenasi ketika meninggalkan fetus untuk

masuk kembali ke dalam plasenta.

Aliran darah paru pada hari pertama ialah 4-5 liter permenit/m2.

Aliran darah sistolik pada hari pertama rendah yaitu 1,96 liter

permenit/m2 dan bertambah pada hari kedua dan ketiga (3,54

liter/m2) karena penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah pada

waktu lahir dipengaruhi oleh jumlah darah yang melalui transfusi

plasenta dan jam-jam pertama sedikit menurun, untuk kemudian

naik lagi dan menjadi konstan kira-kira 85/40 mmHg.

e. Keseimbangan air dan Fungsi Ginjal

Tubuh bayi baru lahir mengandung relative banyak air dan kadar

natrium relatif lebih besar dari kalsium karena ruangan

ekstraseluler luas. Fungsi ginjal belum sebanyak orang dewasa,

ketidakseimbangan luas permukaan glomerulus dan volume tubulus

proksimal, serta renal blood flow relative kurang bilang

dibandingkan dengan orang dewasa.

f. Immunogloblin

Pada neonatus tidak terdapat sel plasma pada sumsum tulang,

lamina propia ilium serta apendiks. Pada bayi baruhanya terdapat

gama globulin G, sehingga imunologi dari ibu dapat melalui

plasenta karena berat molekulnya kecil. Tetapi bila ada infeksi

yang dapat melalui plasenta (lues, toksoplasma, herpes simpleks

163
dan lain-lain, reaksi imunologis dapat terjadi dengan pembentukan

sel plasma dan antibody gamma A, G dan M.

g. Traktus Digestivus

Traktus digestivus relatif lebih berat dan lebh panjang

dibandingkan dengan orang dewasa. Pada neonatus, traktus

digestivus mengandung zat yang berwarna hitam kehijauan yang

terdiri dari mukopolisakarida dan disebut mekonium. Pengeluaran

mekonium biasanya dalam 10 jam pertama dan dalam 4 hari

biasanya tinja sudah terbentuk dan berwarna biasa. Enzim dalam

traktus digestivus biasanya sudah terdapat pada neonatus kecuali

amylase pancreas.

h. Hati

Segera setelah lahir, hati menunjukkan perubahan kimia dan

morfologis yaitu kenaikan kadar protein serta penurunan kadar

lemak dan glikogen. Sel hemopoetik juga mulai berkurang,

walaupun memakan waktu agak lama. Enzim hati, daya

detoksifikasi hati pada neonatus juga belum sempurna, contohnya

pemberian obat kloramfenikol dengan dosis lebih dari 50

mg/kgBB/hari dapat menimbulkan grey baby syndrome.

i. Keseimbangan Asam dan Basa

Derajat keasaman (pH) darah pada waktu lahir rendah, karena

glikosis anaerobic. Dalam 24 jam neonatus telah mengkompensasi

asidosis ini.(Muslihatun, 2010)

164
2.1.5.4 Tanda-tanda Bayi Baru Lahir Normal

Ciri-ciri bayi baru lahir normal menurut Dewi antara lain:

1. Lahir aterm antara 37-42 minggu

2. Berat badan 2500-4000 gram

3. Panjang badan 48-52 cm

4. Lingkar dada 30-38 cm

5. Lingkar kepala 33-35 cm

6. Lingkar lengan 11-12 cm

7. Frekuensi denyut jantung 120-160x/menit

8. Pernapasan ± 40-60x/menit

9. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan

yang cukup

10. Rambut lanugo tidak terlihat dan rambut kepala biasanya

telah sempurna

11. Kuku agak panjang dan lemas

12. Nilai APGAR > 7

13. Gerak aktif

14. Bayi lahir langsung menangis kuat

15. Refleks rooting (mencari puting susu dengan rangsangan

taktil pada pipi dan daerah mulut) sudah terbentuk dengan

baik

16. Refleks sucking (isap dan menelan) sudah terbentuk dengan

baik

165
17. Refleks morro (gerakan memeluk bila dikagetkan) sudah

terbentuk dengan baik

18. Refleks grasping (menggenggam) sudah baik

19. Genetalia

a. Pada laki-laki kematangan ditandai dengan testis yang

berada pada skrotum dan penis yang berlubang

b. Pada perempuan kematangan ditandai dengan vagina

dan uretra yang berlubang, serta adanya labia minora

dan mayora.

c. Eliminasi baik yang ditandai dengan keluarnya

mekonium dalam 24 jam pertama dan berwarna hitam

kecoklatan.

Table 2.4 Nilai Apgar Score

Gejala 0 1 2

Warna kulit Pucat/biru seluruh Tubuh merah, Seluruh tubuh

tubuh Ekstremitas biru kemerahan

Denyut jantung Tidak ada < 100 >100

Tonus otot Tidak ada Ekstremitas sedikit Gerakan aktif

fleksi

Aktivitas Tidak ada Sedikit gerak Langsung menangis

Pernafasan Tidak ada Lemah/tidak teratur Menangis

166
Interpretasi:

Nilai 1-3 = asfiksia berat

Nilai 3-6 = asfiksia sedang

Nilai 7-10 = normal (Dewi, 2010)

2.1.5.5 Tanda-tanda Bayi Baru Lahir Tidak Normal

Tanda-tanda atau masalah pada bayi baru lahir antara lain:

1. Tidak bernafas atau sulit bernafas

2. Sianosis atau kebiruan dan sukar bernafas

3. Berat badan bayi lahir rendah < 2500 gram

4. Letargis

5. Hipotermi (< 36°C)

6. Kejang

7. Diare

8. Obstipasi

9. Infeksi

10. Sindrom kematian bayi mendadak (Sudden Infant Death

Syndrome/SIDS) .(Dewi, 2010)

Tanda – tanda bahaya pada bayi baru lahir :

a) Pernafasan sulit atau lebih dari 60x/menit

b) Kehangatan atau terlalu panas (>38°C atau terlalu

dingin < 36°C)

c) Warna kulit kuning (terutama pada 24 jam pertama)

167
d) Pada pemberian ASI hisapan bayi lemah,mengantuk

berlebihan,banyak muntah.

e) Tali pusat merah ,bengkak,keluar cairan,bau busuk

berdarah.

f) Infeksi pada bayi suhu tubuhnya meningkat,tali

pusat kemerahan,keluar cairan(nanah),bengkak,bau

busuk.

g) Tidak berkemih dalam 24 jam, tinja lembek, sering,

hijau tua. Ada lendir atau darah pada tinja.

h) Bayi menggigil, atau menangis tidak seperti

biasanya, sangat mudah tersinggung, lemas, terlalu

mengantuk, lunglai, kejang halu, tidak bisa tenang,

menangis terus menerus.

(Saifuddin, 2010)

2.1.5.6 Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir

Penatalaksanaan bayi baru lahir antara lain dengan

pemeriksaan fisik. Pada saat pemeriksaan harus mempunyai

pengetahuan dan keterampilan karena hal terpenting yang

menjadi perhatian adalah menjaga bayi agar tidak mengalami

hipotermi dan tidak mengalami trauma karena tindakan yang

dilakukan.

168
Tujuan dari pengkajian yang dilakukan pada bayi baru lahir

adalah:

1. Mendapatkan hasil yang valid

2. Mengetahui keadaan fisik secara umum

3. Mengetahui kondisi normal/abnormal

Pemeriksaan pada bayi baru lahir meliputi:

1. Menilai keadaan umum bayi

a. Nilailah secara keseluruhan apakah perbandingan

bagian

tubuh bayi proporsional atau tidak?

b. Periksa bagian kepala, badan dan ekstremitas akan

adanya kelainan

c. Periksa tonus otot dan tingkat aktivitas bayi, apakah

gerakan bayi aktif atau tidak?

d. Periksa warna kulit dan bibir, apakah warnanya

kemerahan/kebiruan?

e. Periksa tangisan bayi, apakah melengking, merintih

atau normal?

2. Tanda-tanda vital

a. Periksa laju napas dengan melihat tarikan napas pada

dada dan gunakan petunjuk waktu. Status pernapasan

yang baik adalah napas dengan laju normal 40-60 kali

per menit, tidak ada wheezing dan ronchi.

169
b. Periksa laju jantung dengan menggunakan stetoskop

dan petunjuk waktu. Denyut jantung normal adalah

100-120 kali permenit dan tidak terdengar bunyi

murmur.

c. Periksa suhu dengan menggunakan thermometer aksila.

Suhu normal adalah 36,5°C-37,2°C (Dewi, 2010).

Untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir

dengan cara keringkan tubuh bayi tanpa membersihkan

verniks, letakkan bayi di dada ibu agar ada kontak kulit

ibu ke kulit bayi, selimuti ibu dan bayi dan pasang topi

di kepala bayi, jangan segera menimbang atau

memandikan bayi baru lahir (JNPK-KR, 2008)

3. Periksa bagian kepala bayi

a. Ubun-ubun

b. Sutura dan molase

c. Penonjolan atau daerah mencekung. Periksa adanya

kelainan, baik karena trauma persalinan (caput

succadenum, cepal hematoma) atau adanya cacat

congenital (hydrocephalus)

d. Ukur lingkar kepala untuk mengetahui ukuran frontal

oksipitalis kepala bayi.

170
4. Lakukan pemeriksaan telinga karena akan dapat

memberikan gambaran letak telinga dengan mata dan

kepala serta diperiksa adanya kelainan lainnya.

5. Periksa mata akan adanya tanda-tanda infeksi (Dewi, 2010).

Pencegahan infeksi mata dengan memberikan salep mata

atau tetes mata yang diberikan setelah proses IMD dan bayi

selesai menyusui. Pencegahan infeksi mata tersebut

mengandung tetrasiklin 1% atau antibiotika lain. Upaya

pencegahan infeksi kurang efektif jika diberikan > 1 jam

setelah kelahiran

(JNPK-KR, 2008)

6. Periksa hidung dan mulut, langit-langit, bibir dan reflex isap

serta rooting. Perhatikan adanya kelainan congenital seperti

labio palato skizis.

7. Periksa leher bayi.

Perhatikan akan adanya pembesaran atau benjolan.

8. Periksa dada

Perhatikan bentuk dada dan putting susu bayi.

9. Periksa bahu, lengan dan tangan.

Perhatikan gerakan dan kelengkapan jari tangan.

10. Periksa bagian perut.

Perhatikan bagaimana bentuk perut apakah ada penonjolan

di sekitar tali pusat, perdarahan tali pusat, perut teraba lunak

171
(pada saat bayi menangis) dan benjolan. (Dewi, 2010).

Untuk merawat tali pusat jangan membungkus punting tali

pusat atau mengoleskan cairan atau bahan apapun ke

punting tali pusat (JNPK-KR, 2008)

11. Periksa alat kelamin. Hal yang perlu diperhatikan adalah:

a. Laki-laki: testis berada pada skrotum dan penis

berlubang.

b. Perempuan: vagina berlubang, uretra berlubang dan

terdapat labia minora serta labia mayora.

12. Periksa tungkai dan kaki.

Perhatikan gerakan dan kelengkapan alat gerak.

13. Periksa punggung dan anus.

Perhatikan akan adanya pembengkakan atau cekungan dan

juga adanya anus.

14. Periksa kulit.

Perhatikan adanya verniks, pembengkakan atau bercak

hitam, serta tanda lahir.

15. Lakukan penimbangan berat badan. Berat badan lahir

normal 2500-4000 gram.

(Dewi, 2010)

172
Ukuran tulang kepala bayi aterm

Menentukan ukuran kepala bayi ditetapkan dengan ukuran muka

belakang dan melintang.

1) Ukuran muka belakang.

a) Diameter suboksipito-bregmatika (Antara foramen magnum

dan ubun-ubun besar), jaraknya 9,5 cm. Lingkaran

(sirkumferensia) suboksipito bregmatika dengan ukuran 32 cm

melalui jalan lahir pada letak belakang kepala.

b) Diameter suboksipito-frontalis (Antara foramen magnum ke

pangkal hidung), jaraknya 11 cm. Lingkaran suboksipito

frontalis dengan kedudukan fleksi sedang, melalui jalan lahir

pada letakbelakang kepala.

c) Diameter fronto-oksipitalis (Antara titik pangkal hidung ke

jarak terjauh pada belakang kepala), jaraknya 12 cm. Lingkaran

oksipito-frontalis dengan ukuran 34 cm melalui jalan lahir pada

letak puncak kepala.

d) Diameter mento-oksipitalis (Antara dagu dan titik terjauh

belakang kepala), jaraknya 13,5 cm. Lingkaran mento-

oksipitalis sebesar 35 cm, melalui jalan lahir pada letak dahi.

e) Diameter submento-bregmatika (Antara os Moid dan ubun-

ubun besar), jaraknya 9,5 cm. Lingkaran submento-bregmatika,

panjang 32 cm, melalui jalan lahir pada letak muka.

173
2) Ukuran melintang.

a) Diameter biparietalis. Antara kedua tulang parietalis. Ukuran 9

cm.

b) Diameter bitemporalis. Antara kedua tulang temporalis. Ukuran

8 cm (Manuaba, 2010)

Asuhan yang diberikan pada bayi baru lahir adalah:

a) Pencegahan Infeksi

Dengan cara persiapan diri (sebelum dan sesudah

menangani bayi memakai sarung tangan bersih), persiapan

alat (klem, gunting, alat-alat resusitasi, benang tali pusat

yang telah di DTT), persiapan tempat (gunakan ruangan

yang hangat dan terang, siapkan tempat resusitasi yang

datar, rata, cukup keras, bersih, kering).

b) Penilaian Awal

Segera setelah bayi lahir, sambil meletakkan bayi di atas

kain bersih dan kering yang telah disiapkan pada perut

bawah ibu, segera lakukan penilaian berikut:

1) Apakah bayi menangis atau bernapas/ tidak megap-

megap?

2) Apakah tonus otot bayi/bayi bergerak aktif

174
c) Pencegahan kehilangan panas

Saat lahir, mekanisme pengaturan temperature tubuh pada

BBL, belum berfungsi sempurna. Oleh karena itu, jika tidak

segera dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas tubuh

maka BBL, dapat mengalami hipotermi. Mekanisme

kehilangan panas melalui cara antara lain evaporasi,

konduksi, konveksi, radiasi. Mencegah kehilangan panas

melalui upaya berikut: keringkan tubuh bayi tanpa

membersihkan verniks, letakkan bayi di dada ibu agar ada

kontak kulit ke kulit bayi, selimuti ibu dan bayi dan pasang

topi di kepala bayi, jangan segera menimbang atau

memandikan bayi baru lahir, tempatkan bayi dilingkungan

yang hangat. Catatan: jangan memandikan bayi sebelum

jam 6 setelah lahir dan sebelum kondisi stabil.

d) Pemotongan dan perawatan tali pusat

Nasihat untuk merawat tali pusat :

(1) Jangan membungkus punting tali pusat atau

mengoleskan cairan atau bahan apapun ke punting tali

pusat. Nasehatkan hal ini kepada ibu dan keluarga

(2) Mengoleskan alcohol atau povidon iodine masih

diperkenankan tetapi tidak dikompreskan karena

menyebabkan tali pusat basah dan lembab.

175
(3) Berikan nasihat pada ibu dan keluarga sebelum

meninggalkan bayi:

(a) Lipat popok di bawah punting tali pusat

(b) Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan (hati-hati)

dengan air DTT dan sabun dan segera keringkan secara

seksama dengan menggunakan kain bersih.

Jangan mengoleskan salep apa pun, atau zat lain ke tali

pusat. (Saifuddin, 2010 )

e) Pemberian ASI

Prinsip dari pemberian ASI adalah dimulai sedini mungkin

dan ekslusif dengan cara segera setalah bayi lahir, setelah

tali pusat dipotong, letakkan bayi tengkurap di perut ibu

dengan kulit bayi kontak ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit

ke kulit ini menetap selama setidaknya 1 jam lebih sampai

bayi dapat menyusu sendiri. Bayi diberi topi dan diselimuti.

Ayah atau keluarga dapat memberi dukungan dan memberi

dukugan dan membantu ibu selama proses ini. Ibu diberi

dukungan untuk mengenali saat bayi siap untuk menyusu,

menolong bayi jika diperlukan.

f) Pencegahan perdarahan

Semua BBL harus diberi vitamin K1 (Phytomenadione)

injeksi 1 mg intramuskuler setelah proses IMD bayi selesai

176
menyusu untuk mencegah perdarahan BBL akibat defisiensi

vitamin K yang dapat dialami oleh sebagian BBL.

Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi

vitamin K pada bayi baru lahir maka bayi diberikan vitamin

K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg I.M. (Saifuddin,

2010)

g) Pencegahan infeksi mata

Salep atau mata tetes mata untuk pencegahan infeksi mata

diberikan setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu.

Pencegahan infeksi mata tersebut mengandung Tetrasiklin

1% atau antibiotika lain. Upaya pencegahan infeksi mata

kurang efektif jika diberikan > 1 jam setelah kelahiran.

Obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% diberikan

untuk pencegahan mata karena klamidia (penyakit menular

seksual). Obat mata diberikan pada jam pertama setelah

persalinan. (Saifuddin, 2010)

h) Pemeriksaan

Hari pertama kelahiran bayi sangat penting. Banyak

perubahan yang terjadi pada bayi dalam menyesuaikan diri

dari kehidupan di dalam rahim ke kehidupan di luar rahim.

Pemeriksaan BBL bertujuan untuk mengetahui sedini

mungkin jika terdapat kelainan pada bayi. Resiko terbesar

kematian BBL terjadi pada 24 jam pertama kehidupan,

177
sehingga jika bayi lahir di fasilitas kesehatan sangat

duanjurkan untuk tetap tinggal di fasilitas kesehatan selama

24 jam pertama

Table 2.5

Waktu Pemeriksaan BBL

Bayi lahir di fasilitas kesehatan Bayi lahir di rumah

1. Bayi lahir, setelah IMD, 1. Baru lahir, stelah IMD,

pemberian vitamin K1, dan pemberian vitamin K1 dan salep/tetes

salep/tetes mata antibiotika mata antibiotika

2. Usia 6-12 jam 2.Sebelum bidan meninggalkan bayi

3. Dalam 1 minggu pasca lahir, 3.Dalam 1 minggu pasca lahir, dianjurkan

dianjurkan dalam 2-3 hari dalam 2-3 hari

Selanjutnya mengikuti Buku KIA

2.1.5.7 Inisiasi Menyusu Dini

Segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat, letakkan bayi

tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung

ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ini berlangsung setidaknya 1

jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu sendiri

apabila sebelumnya tidak berhasil. Bayi diberi topi dan

diselimuti. Ayah atau keluarga dapat memberi dukungan dan

membantu ibu selama proses ini. (JNPK-KR, 2008)

178
Langkah-langkah Inisiasi Menyusu Dini :

a. Bayi lahir, segera dikeringkan secepatnya terutama kepala,

kecuali tangannya tanpa vernix mulut dan hiudng bayi

dibersihkan, tali pusat diikat.

b. Bila bayi tidak memerlukan resusitasi, bayi ditengkurapkan

di dada-perut ibu dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu

dan mata bayi setinggi putting susu. Keduanya diselimuti

dan bayi dapat diberi topi.

c. Anjurkan ibu menyentuh bayi untuk merangsang bayi,

biarkan bayi mencari putting sendiri.

d. Ibu didukung dan dibantu mengenali perilaku bayi sebelum

menyusu. Biarkan kulit kedua bayi tersentuh dengan kulit

ibu selama paling tidak satu jam, bila menyusu awal terjadi

sebelum 1 jam tetapi biarkan kulit ibu bersentuhan sampai

setidaknya 1 jam.

e. Bila dalam 1 jam menyusu awal belum terjadi, bantu ibu

dengan mendekatkan bayi ke putting tapi jangan

memasukkan putting ke mulut bayi. Beri waktu untuk kulit

30 menit atau 1 jam lagi.

f. Setelah melekat kulit ibu dan bayi setidaknya 1 jam atau

selesai menyusu awal, bayi baru dipisahkan untuk

ditimbang, diukur, dicap, diberi vitamin K.

179
g. Rawat gabung bayi: ibu dan bayi dirawat dalam satu

kamar, dalam jangkauan ibu selama 24 jam.

h. Jangan tinggalkan tinggalkan ibu dan bayi seorang diri

kapanpun (Saifuddin, 2010)

Keuntungan Inisiasi Menyusu Dini Bagi Ibu dan Bayi

a. Manfaat Untuk Ibu:

1) Meningkatkan hubungan khusus ibu dan bayi

2) Merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi

resiko perdarahan sesudah melahirkan.

3) Memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan

melanjutkan kegiatan menyusui selama masa bayi.

4) Mengurangi stress ibu setelah melahirkan

5) Mencegah kehamilan

6) Menjaga kesehatan Ibu

b. Manfaat Untuk Bayi:

1) Mempertahankan suhu bayi tetap hangat

2) Menenangkan ibu dan bayi serta meregulasi pernafasan

dan detak jantung

3) Kolonisasi bacterial di kulit dan usus bayi dengan

bakteri badan ibu yang normal (bakteri yang berbahaya

dan menjadikan tempat yang baik bagi bakteri yang

180
menguntungkan dan mempercepat pengeluaran

kolostrum sebagai antibody bayi).

4) Mengurangi bayi menangis sehingga mengurangi stress

dan tenaga yang dipakai bayi.

5) Memungkinkan bayi untuk menemukan sendiri

payudara ibu untuk mulai menyusu.

6) Mengatur tingkat kadar gula dalam darah, dan

biokomia lain dalam tubuh bayi.

7) Mempercepat keluarnya mekonium (kotoran bayi

berwarna hijau agak kehitaman yang pertama keluar

dari bayi karena meminum air ketuban)

8) Bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu sehingga

mengurangi kesulitan menyusu.

9) Membantu perkembangan persarafan bayi (nervous

system).

10) Memperoleh kolostrum yang sangat bermanfaat bagi

system kekebalan bayi

11) Mencegah terlewatnya puncak “refleks hisap” pada

bayiyang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi

tidak disusui, refleks akan berkurang cepat, dan hanya

akan muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam

kemudian.

(Maryuni, 2012)

181
Berikan bayi pada ibunya secepat mungkin. Kontak

dini antara ibu dan bayi penting untuk :

a) Kehangatan

b) Mempertahankan panas yang benar pada bayi

baru lahir.

c) Ikatan batin dan pemberian ASI.

(Saifuddin, 2010)

Pada bayi terdapat 3 jenis refleks yang berhubungan

dengan proses menyusu yaitu:

1) Refleks menangkap (Rooting reflex)

2) Refleks menghisap (Sucking reflex)

3) Refleks menelan (Swallowing reflex)

2.1.5.8 Pemberian ASI

Prinsip dari pemberian ASI adalah dimulai sedini mungkin

dan ekslusif dengan cara segera setalah bayi lahir, setelah tali

pusat dipotong, letakkan bayi tengkurap di perut ibu dengan

kulit bayi kontak ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini

menetap selama setidaknya 1 jam lebih sampai bayi dapat

menyusu sendiri. Bayi diberi topi dan diselimuti. Ayah atau

keluarga dapat member dukungan dan memberi dukugan dan

membantu ibu selama proses ini. Ibu diberi dukungan untuk

182
mengenali saat bayi siap untuk menyusu, menolong bayi jika

diperlukan.

Tugas utama bidan terkait dengan manajemen laktasi adalah :

(a) Memberdayakan ibu untuk menyusui dengan benar dan

melakukan perawatan payudara.

(b) Mangatasi masalah laktasi.

(c) Memantau keadaan ibu dan bayi.

(d) Tidak memberikan cairan atau makanan kepada BBL,

kecuali ada intruksi dari dokter.

(e) Tidak memberikan dot kepada bayi karena akan membuat

bayi bingung antara putting dan dot

(Maryuni, 2012)

Tahapan Manajemen Laktasi

Periode Antenatal

(a) Meyakinkan diri sendiri akan keberhasilan menyusui dan

bahwa ASI adalah amanah illahi.

(b) Makan dengan teratur, penuh gizi dan seimbang.

(c) Mengikuti bimbingan persiapan menyusui yang terdapat di

setiap klinik laktasi di rumah sakit.

(d) Melaksanakan pemeriksaan kehamilan secara teratur.

(e) Menjaga kebersihan diri, kesehatan dan cukup istirahat.

(f) Mengikuti senam hamil. (Maryuni, 2012 )

183
Periode Perinatal

(a) Bersihkan putting susu sebelum anak lahir.

(b) Susuilah bayi sesegera mungkin, jangan lebih dari 30

menit pertama setelah lahir (inisiasi dini).

(c) Lakukan rawat gabung, yakni bayi selalu di samping ibu

selama 24 jam penuh setiap hari.

(d) Jangan berikan makanan atau minuman selain ASI.

(e) Jangan memberikan dot maupun empeng karena bayi akan

susah menyusui, selain itu dapat mengganggu

pertumbuhan gigi.

(f) Susuilah bayi kapan saja ia butuhkan, jangan dijadwal.

Susuilah juga bila payudara ibu terasa penuh. Ingatlah

bahwa makin sering menyusui, makin lancer produksi dan

pengeluaran ASI.

(g) Setiap kali menyusui, gunakanlah kedua payudara secara

bergantian. Yakinkan bahwa payudara telah kosong atau

bayi tidak lagi mau menghisap.

(h) Mintalah petunjuk kepada petugas rawat gabung,

bagaimana cara menyusui yang baik dan benar.

Periode Postnatal

(a) Berikan ASI saja sampai bayi berumur 6 bulan atau

penyusuan ekslusif dan teruskan pemberian ASI sampai

bayi berumur 2 tahun.

184
(b) Berikan makanan pendamping ASI saat bayi berumur 6

bulan.

(Maryuni, 2012)

2.1.5.9 Pemberian imunisasi

a. Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B bermanfaat untuk mencegah

infeksi Hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan

ibu-bayi.

b. Imunisasi BCG

Imunisasi BCG adalah prosedur memasukkan vaksin

BCG yang bertujuan memberi kekebalan tubuh terhadap

kuman mycobacterium tuberculosis dengan cara

menghambat penyebaran kuman.

c. Imunisasi Polio

Imunisasi polio adalah tindakan memberi vaksin polio

(dalam bentu oral) atau dikenal dengan nama oral polio

vaccine (OPV) yang bertujuan memberi kekebalan dari

penyakit poliomyelitis. Imunisasi polio dapat diberikan 4

kali dengan interval 4-6 minggu.

d. Imunisasi DPT

Imunisasi DPT/DT merupakan tindakan imunisasi

dengan memberikan vaksin DPT (Difteri Pertusis tetanus )/

185
DT (difteri Tetanus) pada anak yang bertujuan memberi

kekebalan dari kuman penyakit difteri, pertusis, dan

tetanus. Pemberian vaksin pertama pada usia 2 bulan dan

berikutnya dengan interval 4-6 minggu (kurang lebih 3 kali)

selanjutnya ulangan pertama satu tahun dan ulangan

berikutnya 3 tahun sekali sampai usia 8 tahun. Imunisasi ini

tidak dianjurkan untuk bayi kurang dari 2 bulan mengingat

imunogen pertusis yang sangat reaktogenik dan adanya

hambatan untuk imunogen difteri atau tetanus.

a. Imunisasi Campak

Imunisasi campak adalah tindakan imunisasi dengan

memberi vaksin campak pada anak yang bertujuan

memberi kekebalan dari penyakit campak. Imunisasi dapat

diberikan pada usia 9 bulan secara subkutan, kemudian

ulangan dapat diberikan diberikan dalam waktu interval 6

bulan atau lebih setelah suntikkan pertama. (Hidayat,

2009).

186
Tabel 2.6 Jadwal Imunisasi

Umur Jenis Imunisasi

0 - 7 hari Hepatitis B

0 – 2 bulan BCG, Polio 1

2 bulan DPT , Polio 2

3 bulan DPT , Polio 3

4 bulan DPT , Polio 4

9 bulan Campak

(Wahyuni, 2012)

Tabel 2.7

Bayi baru lahir mempunyai macam-macam refleks antara lain:

Pemeriksaan Cara Kondisi Kondisi

Reflex Pengukuran Normal Patologis

Merangkak Letakkan bayi Bayi membuat Jika gerakan tidak

tengkurap di atas gerkan merangkak simetris, adanya

permukaan yang dengan lengan dan tanda neurologi

datar kaki bila

diletakkan

telungkup

Menari/melangkah Pegang bayi Kaki akan Refleks menetap

sehingga kakinya bergerak ke atas lebih dari 4-8

sedikit menyentuh dan ke bawah jika minggu

187
sedikit permukaan disentuh, dijumpai merupakan

yang keras pada usia 4 bulan keadaan abnormal

Ekstrusi Sentuh idah Lidah menjulur Lidah menjulur

dengan ujung kea rah luar jika yang persisten

spatel lidah disentuh, dijumpai merupakan tanda

pada usia 4 bulan sindrom Down

Galant Gores punggung Punggung Tidak adanya

bayi sepanjang bergerak kearah refleks

sisi tulang samping jika menunjukkan lesi

belakang dari distimulasi, medulla spinalis

bahu sampai dijumpai pada 4 - transversa

bokong 6 minggu pertama

Moro Ubah posisi Lengan ekstensi, Refleks yang

dengan tiba-tiba jari-jari menetap lebih dari

atau pukul mengembang, 4 bulan

meja/tempat tidur kepala mendongak menunjukkan

ke belakang, kerusakan otak,

tungkai sedikit respons tidak

ekstensi. Lengan simetris adanya

kembali ke tengah hemiparesis,

dengan tangan fraktur klavikula

enggenggam atau cedera

tulang belakang pleksus brakialis ,

188
dan ekstremitas tidak ada respons

bawah ekstensi. ekstremitas bawah

Lebih kuat selama adanya dislokasi

2 bulan dan pinggul atau

menghilang pada cedera medulla

usia 3-4 bulan spinalis

Neck righting Letakkan bayi Jika bayi Tidak ada refleks

dalam posisi telentang, bahu atau refleks

telentang, coba dan badan menetap lebih dari

menarik perhatian kemudian pelvis 10 bulan

bayi dari datu sisi berotasi ke arah menunjukkan

bayi diputar dan adanya gangguan

dijumpai selama system saraf pusat

10 bulan pertama

Menggenggam Letakkan jari di Jari-jari bayi Fleksi yang tidak

telapak tangan melengkung simetris

bayi dari sisi melingkari jari menunjukkan

ulnar, jika refleks yang diletakkan di paralisis, refleks

lemah atau tidak telapak tangan menggenggam

ada beri bayi bayi dari sisi ulnar, yang menetap

botol atau dot refleks ini menunjukkan

karena mengisap menghilang pada gangguan serebral

akan usia 3-4 bulan

189
menstimulasi

reflex

Rooting Gores sudut mulut Bayi memutar ke Tidak adanya

bayi melewati arah pipi yang refleks

garis tengah bibir diusap, refleks ini menunjukkan

menghilang pada adanya gangguan

usia 3-4 bulan neurologi berat

tetapi bisa

menetap sampai

usia 12 bulan,

terutama selama

tidur

Kaget (starlie) Bertepuk tangan Bayi mengekstensi Tidak adanya

dengan keras dan memfleksi refleks

lengan dalam menunjukkan

berespon terhadap adanya gangguan

suara keras, tangan pendengaran

tetap rapat, refleks

ini akan

menghilang

setelah usia 4

bulan

Menghisap Beri bayi botol Bayi mengisap Refleks yang

190
dan dot dengan kuat dalam lemah atau tidak

berespon terhadap ada menunjukkan

stimulasi, refleks keterlambatan

ini menetap perkembangan

selama masa bayi atau keadaan

dan mungkin neurologi yang

terjadi selama abnormal

tidur tanpa

stimulasi

Tonic neck Menolehkan Beyi melakukan Tidak normal jika

kepala bayi perubahan posisi respon terjadi

dengan cepat ke jika kepala setiap kali kepala

satu sisi ditolehkan ke satu ditolehkan, jika

sisi, lengan dan menetap,

tungkai ekstensi ke menunjukkan ada

arah sisi putaran kerusakan serebral

kepala yang fleksi mayor.

pada sisi yang

berlawanan,

normalnya refleks

ini tidak terjadi

setiap kali kepala

ditolehkan.

191
Tampak kira-kira

pada usia 2 bulan

dan menghilang

pada usia 6 bulan

(Hidayat, 2009)

1. Alat Kontrasepsi

a. Metode Amenorea Laktasi

Profil :

Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang

mengandalkan Air Susu Ibu (ASI) secara ekskusif, artinyahanya

diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun

lainnya. MAL dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila :

 Menyusui secara pnuh (full breast feeding) lebih efektif bila

pemberian ≥ 8x sehari.

 Belum haid

 Efektif sampai 6 bulan

 Harus digunakan dengan pemakaian metode kontrasepsi

lainnya.

Cara kerja:

 Penundaan/ penekanan ovulasi

Keuntungan Kontrasepsi

1. Efektivitas tinggi (keberhasilan 98% pada 6 bulan pasca

persalinan)

192
2. Segera efektif

3. Tidak mengganggu senggama

4. Tidak ada efek samping secara sistematik

5. Tidak perlu pengawasan medik

6. Tidak perlu obat atau alat

7. Tanpa biaya

Keuntungan Nonkontrasepsi

Untuk bayi

1. Mendapat kekebalan pasif (mendapatkan antibodi

perlindungan lewat ASI)

2. Sumber asupan gizi yang terbaik dan sempurna untuk

tumbuh kembang bayi yang optimal

3. Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi dari air,

susu lain atau formula atau alat minum yang dipakai.

Untuk ibu

1. Mengurangi perdarahan pasca persalinan

2. Mengurangi resiko anemia

3. Meningkatkan hubungan psikologi ibu dan bayi

193
Keterbatasan

1. Perlu persiapan sejak perawatan kehamilan agar segera

menyusui pasca persalinan

2. Mungkin sulit dilaksanakan karena kondisi sosial

3. Efektivitas tinggi hanya sampai kembalinya haid atau

sampai dengan 6 bulan.

4. Tidak melindngi terhadap IMS termasuk virus hepatitis

B/HBV dan HIV/AIDS

Yang dapat menggunakan MAL

Ibu yang menyusui secara eksklusif, bayinya berumur

kurang dari 6 bulan dan belum mendapat haid setelah melahirkan.

Yang seharusnya tidak pakai MAL.

2.2 Tinjauan Teori Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Hellen

Varney 1997

2.2.1 Manajemen Askeb pada kehamilan

a. Pengertian

Manajemen Asuhan Kebidanan atau yang sering disebut

Manajemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak

secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar

menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan

(Varney, 2008).

194
Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu hamil merupakan bentuk

catatan dari hasil asuhan kebidanan yang dilaksanakan pada ibu hamil,

yakni mulai dari trimester I sampai dengan trimester III yang meliputi:

pengkajian, pembuatan diagnose kebidanan, pengidentifikasian

masalah terhadap tindakan segera dan melakukan kolaborasi dengan

dokter atau tenaga kesehatan lain serta menyusun rencana asuhan

kebidanan dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang

dibuat pada langkah sebelumnya. Lingkup dari masalah ini adalah

masalah kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin dengan

waktu kurang lebih 280 hari (kurang lebih 40 minggu) atau 9 bulan 7

hari yang terbagi atas tiga trimester, yakni trimester I (mulai awal

kehamilan sampai 14 minggu), trimester II (antara kehamilan 14

minggu sampai dengan 28 hari) dan trimester III (antara kehamilan 38

minggu sampai kehamilan 36 minggu atau sesudah 36 minggu)

(Rukiyah, 2009)

b. Tujuan

1) Memantau kemajuan kehamilan, untuk memastikan kesehatan ibu

dan tumbuh kembang janin, meningkatkan dan mempertahankan

kesehatan fisik, mental dan social ibu dan janin.

2) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi

yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit

secara umum, kebidanan dan pembedahan.

195
3) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjaan normal dan pemberian

ASI EKSKLUSIF.

4) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran

bayi agar tumbuh kembang secara normal.

(Rukiyah, 2009)

c. Langkah-langkah (7 langkah Varney)

Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan

pada ibu hamil (antenatal) antara lain sebagai berikut.

1) Mengumpulkan Data

Cara ini dilakukan pertama kali ketika akan memberikan asuhan

kebidanan, yaitu dengan cara melakukan anamnesis pada pasien

tentang identitas pasien, data demografi, riwayat kesehatan

termasuk faktor herediter, riwayat menstruasi, riwayat obstetri dan

ginekologi, riwayat nifas dan laktasi sebelumnya, serta biospiritual

dan pengetahuan pasien. Setelah itu dilakuakan pemeriksaan fisik

sesuai dengan kebutuhan serta tanda vital selanjutnya melakukan

pemeriksaan khusus kehamilan, inspeksi, palpasi, auskultasi,

perkusi, serta pemeriksaan penunjang seperti laboratorium,

diagnostic (USG dan lain-lain) bila diperlukan.

2) Melakukan Interpretasi Data Dasar

Setelah data dikumpulkan, teknik yang kedua adalah melakukan

interpretasi terhadap kemungkinan diagnosis dan masalah

kebutuhan pasien hamil. Interpretasi data tersebut sebatas lingkup

196
praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur atau tata

nama diagnosis kebidanan yang diakui oleh profesi dan

berhubungan langsung dengan praktik kebidanan, serta disukung

oleh pengambil keputusan klinis (clinical judgment) dalam praktik

kebidanan yang dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen

kebidanan.

Contoh:

Ny. A hamil 16 minggu, wasir berdarah, dia sedih karena suami

tidak menginginkan kehamian (G2P1A0 hamil 16 minggu)

Masalah:

a) Wasir berdarah

b) Sedih karena suami tidak menginginkan kehamilannya

3) Melakukan Identifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial dan

Mengantisipasi Penanganannya.

Cara ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah dan diagnosis

potensial berdasarkan diagnosis masalah yang sudah

teridentifikasi. Sebagai contoh, siang hari ada seorang wanita

datang ke poli KIA dengan wajah pucat, keringat dingin, tampak

kesakitan, mulas hilang timbul, cukup bulan pemuaian perut sesuai

hamil, maka bidan berpikir: wanita hamil tersebut inpartu,

kehamilan cukup bulan dan adanya anemia.

197
4) Menetapkan Kebutuhan terhadap Tindakan segera atau Masalah

Potensial.

Cara ini dilakukan setelah masalah dan diagnosis potensial

diidentifikasi. Penetapan kebutuhan ini dilakukan dengan cara

mengantisipasi dan menentukan kebutuhan ini dilakukan dengan

cara mengantisipasi dan menentukan kebutuhan apa saja yang akan

diberikan pada pasien dengan melakukan konsultasi dan kolaborasi

dengan tenaga kesehatan lainnya. Sebagai contoh, pada

pemeriksaan antenatal ditemukan kadar HB 9,5 gr% hamil 16

minggu, nafsu makan kurang, adanya flour albus banyak, warna

hijau muda, gatal, dan berbau. Data tersebut dapat menentukan

tindakan yang akan dilakukan seperti berkonsultasi atau

berkolaborasi dengan tim kesehatan lain dan persiapan untuk

menentukan tindakan yang tepat.

5) Menyusun Rencana Asuhan yang menyeluruh

Cara ini dilakukan dengan menentukan langkah selanjutnya

berdasarkan hasil kajian pada langkah sebelumya dan apabila

ditemukan ada data yang tidak lengkap maka dapat dilengkapi

pada tahap ini. Pembuatan perencanaan asuhan antenatalmemiliki

beberapa tujuan antara lain untuk memantau kemauan kehamilan,

pemantauan terhadap tumbuh kembang janin, mempertahankan

kesehatan fisik, mental, dan social, deteksi dini adanya

ketidaknormalan, mempersiapkan persalinan cukup bulan dan

198
selamat agar masa nifas normal dan dapat menggunakan ASI

eksklusif sehingga mampu mempersiapkan ibu dan keluarga

dengan kehadiran bayi baru lahir.

6) Melaksanakan Perencanaan

Merupakan tahap pelaksanaan dari semua bentuk rencana tindakan

sebelumnya. Tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan

berdasarkan standar asuhan kebidanan seperti menimbang berat

badan, mengukur tekanan darah, mengukur tinggi fundus uteri,

imunisasi TT, pemberian tablet zat besi, tes terhadap PMS dan

konseling untuk persiapan rujukan. Pelaksanaan pemeriksaan

antenatal dilakuakn selama kehamilan minimal empat kali

kunjungan yakni, satu kali pada trimester I, satu kali pada trimester

II, dua kali pad trimester III. Kegiatan yang dulakukan pad

trimester I antara lain menjalin hubungan saling percaya,

mendeteksi masalah, pencegahan tetanus, anemia persiapan

kelahiran, persiapan menghadapi komplikasi, dan memotivasi

hidup sehat. Pada trimester II kegiatannya hampir sama

sebagaimana trimester I dan perlu mewaspadai dengan adanya

preeclampsia. Sedangkan pada trimester III pelaksanaan kegiatan

seperti palpasi abdomen, deteksi letak janin, dan tanda abnormal.

7) Evaluasi

Tahap evaluasi pada antenatal dapat menggunakan bentuk SOAP,

sebagai beruikut.

199
S: Data subjektif

Berisi data dari pasien melalui anamnesis (wawancara) yang

merupakan ungkapan langsung.

O: Data objektif

Data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan

fisik.

A: Analisa dan Interpretasi

Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan

yang meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah

potensial, serta perlu tidaknya dilakukan tindakan segera.

P: Perencanaan

Merupakan rencana tadi tindakan yang akan diberikan termasuk

asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium,

serta konseling untuk tindakan. (Fitramaya ,2009)

2.2.2 Manajemen Askeb pada ibu bersalin (intranatal)

a. Pengertian

Dokumentasi asuhan kebidanan pada ibu bersalin (intranatal)

merupakan bentuk catatan dari asuhan kebidanan yang dilaksanakan

pada ibu pada masa intranatal, yakni pada kala I sampai dengan kala

IV meliputi pengkajian, pembuatan diagnosis kebidanan,

pengidentifikasian masalah terhadap tindakan segera dan melakukan

200
kolaborasi dengan tepat dan rasional berdasarkan keputusan yang

dibuat pada langkah sebelumnya. (Fitramaya,2009)

b. Tujuan

Memberikan asuhan kebidanan yang adekuat, komprehensif dan

terstandar pada ibu intra natal dengan memperhatikan riwayat ibu

selama kehamilan, kebutuhan dan respon ibu, serta mengantisipasi

resiko-resiko yang terjadi selama persalinan. (Fitramaya,2009)

c. Langkah-langkah (7 langkah varney)

Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan pada

ibu bersalin (intranatal) antara lain sebagai berikut.

1) Mengumpulkan Data

Data yang dikumpulkan pada ibu bersalin adalah sebagai berikut:

biodata, data demografi, riwayat kesehatan termasuk faktor

herediter, riwayat menstruasi, riwayat obstetric dan ginekologi,

termasuk masa nifas dan laktasi, riwayat biopsikososiospiritual,

pengetahuan, data pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus, dan

penunjang seperti laboratorium, radiologi, dan USG.

2) Melakukan Interpretasi Data Dasar

Tahap ini dilakukan dengan melakukan interpretasi data dasar

terhadap kemungkinan diagnosis yang akan ditegakkan dalam

batas diagnosis kebidanan intranatal

Contoh:

Diagnosis G2PIA0 hamil 39 minggu inpartu kala I fase aktif

201
Masalah: Wanita dengan kehamilan tidak diinginkan (KTD) atau

takut menghadapi persalinan

3) Melakukan Identifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial dan

Mengantisipasi Penanganannya

Langkah ini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah kemudian

merumuskan diagnosis potensial berdasarkan diagnosis masalah

yang sudah teridentifikasi pada masa intranatal.

Sebagai contoh: ibu A MRS di ruang bersalin dengan pemuaian

uterus yang berlebihan seperti adanya hidramnion, makrosomi,

kehamilan ganda, ibu diabetes atau lainnya, sehingga beberapa

diagnosis dan masalah potensial dapat teridentifikasi sekaligus

mempersiapkan penanganannya.

4) Menetapkan Kebutuhan terhadap Tindakan segera atau Masalah

Potensial

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan

konsultasi serta kolaborasi dengan tim kesehatan lain berdasarkan

kondisi pasien. Sebagai contoh: ditemukan adanya perdarahan

antepartum, adanya distosia bahu atau bayi dengan APGAR score

rendah. Maka tindakan segera yang dilakukan adalah tindakan

sesuai dengan standar profesi bidan dan apabila perlu tindakan

kolaboratif seperti adanya preeclampsia berat maka harus segera

dikolaborasi ke dokter spesialis obgin

202
5) Menyusun Rencana Asuhan yang menyeluruh

Rencana asuhan yang akan dilakukan secara menyeluruh adalah

berdasarkan hasil identifikasi masalah dan diagnosis serta dari

kebutuhan pasien. Secara umum, rencana asuhan yang menyeluruh

pada tahap intranatal adalah sebagai berikut

Kala I (dimulai dari his persalinan yang pertama sampai

pembukaan serviks menjadi lengkap):

a) Bantulah ibu dalam masa persalinan jika ia tampak gelisah,

ketakutan dan kesakitan. Caranya dengan memberikan

dukungan dan memberikan motivasi dan dengarkan keluhan-

keluhannya, kemudian cobalah untuk lebih sensitive terhadap

perasaannya

b) Jika si ibu tampak merasa kesakitan, dukungan atau asuhan

yang dapat diberikan adalah dengan melakukan perubahan

posisi, yaitu posisi yang sesuai dengan keinginan ibu. Namun,

jika ibu ingin beristirahat di tempat tidur, dianjurkan agar posisi

tidur miring ke kiri. Sarankan agar ibu berjalan, ajaklah

seseorang untuk menemaninya (suami atau ibunya) untuk

memijat atau menggosok punggungnya atau membasuh

wajahnya diantara kontraksi. Ibu diperbolehkan untuk

melakukan aktifitas sesuai dengan kesanggupan. Ajarkan

kepada ibu tekhnik bernapas dengan cara meminta ibu untuk

menarik napas panjang menahan napasnya sebentar, kemudian

203
dilepaskan dengan cara meniup udara keluar sewaktu terasa

kontraksi

c) Penolong tetap menjaga privasi ibu dalam persalinan dengan

cara menggunakan penutup atau tirai dan tidak menghadirkan

orang lain tanpa sepengetahuan atau seizing ibu

d) Menjelaskan kemajuan persalinan dan perubahan yang terjadi

secara procedural yang akan dilaksanakan dan hasil

pemeriksaan

e) Memperbolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar

kemaluannya setelah buang air besar atau buang air kecil

f) Ibu beralin biasanya merasa panas dan banyak mengeluarkan

keringat, maka gunakan kipas angina atau AC dalam kamar

atau menggunakan kipas biasa dan menganjurkan ibu untuk

mandi sebelumnya

g) Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh dan mencegah

dehidrasi, berikan cukup minum.

h) Sarankan ibu untuk buang air kecil sesering mungkin

i) Lakukan pemantauan tekanan darah, suhu, denyut jantung

janin, kontraksi, dan pembukaan serviks. Sedangkan

pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan selama empat jam

selama kala I pada persalinan, dan lain-lain. Kemudian

dokumentasi hasil temuan pada partograf.

204
Kala II (dimulai dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi):

a) Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu dengan

mendampingi ibu agar merasa nyaman dengan menawarkan

minum atau memijat ibu

b) Menjaga kebersihan ibu agar terhindar dari infeksi. Bila

terdapat darah lendir atau cairan ketuban segera dibersihkan

c) Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan

atau ketakutan ibu dengan cara menjaga privasi ibu,

menjelaskan proses dan kemajuan persalinan, menjelaskan

tentang prosedur yang akan dilakukan, dan keterlibatan ibu

d) Mengatur posisi ibu dan membimbing mengejan dengan posisi

berikut: jongkok, menungging, tidur miring, dan setengah

duduk.

e) Mengatur posisi agar rasa nyeri berkurang, mudah mengejan,

menjaga kandung kemih tetap kosong, menganjurkan berkemih

sesering mungkin, memberikan cukup minum untuk memberi

tenaga dan mencegah dehidrasi.

Kala III (dimulai dari lahirnya bayi sampai lahirnya plasenta)

a) Melaksanakan manajemen aktif kala III meliputi pemberian

oksitosin dengan segera, pengendalian tarikan pada tali pusat,

dan pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir

205
b) Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir

juga dalam waktu 15 menit, berikan oksitosin 10 unit

(intrmuskular)

c) Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum lahir

juga dalam waktu 30 menit, periksa kandung kemih dan

lakukan kateterisai, periksa adanya tanda pelepasan plasenta,

berikan oksitosin 10 unit (intramuscular) dosis ketiga, dan

perika si ibu dengan seksama dan jahit semua robekan pada

serviks dan vagina kemudian perbaiki episiotomy.

Kala IV (dimulai plasenta lahir sampai dua jam lahir)

a) Periksa fundud uteri setiap 15 menit pada jam pertama dan

sitiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat,

massase uterus sampai menjadi keras.

b) Periksa tekanan darah, nadi, kandung kemih, dan perdarahan,

setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit selama

jam kedua

c) Anjurkan ibu untuk minum agar mencegah dehidrasi.

Tawarkan si ibu makanan dan minuman yang di sukainya.

d) Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian yang bersih dan

kering

e) Biarkan ibu beristirahat, bantu ibu pada posisi nyaman

206
f) Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan

ibu dan bayi, sebagai permulaan dengan menyusui bayi karena

menyusui dapat membantu uterus berkontraksi

6) Melaksanakan perencanaan

Tahap ini dilakukan dengan melaksanakan rencana asuhan

kebidanan menyeluruh yang dibatasi oleh standar asuhan

kebidanan menyeluruh yang dibatasi oleh stanhdar asuhan

kebidanan pada masa intranatal

7) Evaluasi

Evaluasi pada masa intranatal dapat menggunakan bentuk SOAP

sebagai berikut:

S: Data subjektif

Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)

yang merupakan ungkapan langsung

O: Data objektif

Data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan

fisik selama masa intranatal

A: Analisa dan interpretasi

Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan

meliputi diagnosis, antisipasi diagnosis atau masalah potensial,

serta perlu tidaknya tindakan segera.

207
P: Perencanaan

Merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan termasuk

asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium,

serta konseling untuk tindak lanjut

(Fitramaya, 2009)

2.2.3 Manajemen asuhan kebidanan pada ibu nifas

a. Pengertian

Dokumentasi asuhan kebidana pada ibu nifas (postpartum) merupakan

bentuk catatan dari asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu nifas

post partum, yakni segera setelah kelahiran sampai enam minggu

setelah kelahiran yang meliputi pengkajian, pembuatan diagnosis

kebidanan, pengidentifikasian masalah terhadap tindakan segera dan

melakukan kolaborasi dengan dokter atau tenaga kesehatan lain, serta

menyusun asuhan kebidanan dengan tepat dan rasional berdasarkan

keputusan yang dibuat pada langkah sebelumnya.

(Fitramaya, 2009)

b. Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat terstandar pada ibu segera setelah

melahirkan dengan memperhatikan riwayat selama kehamilan, dalam

persalinan dan keadaan segera serta merencanakan asuhan.

(Fitramaya, 2009)

208
c. Langkah-langkah (Manajemen Varney 1997)

Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan kebidanan pada

ibu nifas (postpartum) antara lain sebagai berikut

1) Mengumpulkan Data

Data yang dikumpulkan pada masa postpartum adalah sebagai

berikut: catatan pasien sebelumnya seperti catatan perkembangan

ante dan intranatal, lama postpartum, catatan perkembangan, suhu,

denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, pemeriksaan laboratorium

dan laporan pemeriksaan tambahan, catatan obat-obatan, riwayat

kesehatan ibu seperti mobilisasi, buang air kecil, buang aur besar,

nafsu makan, ketidaknyamanan atau rasa sakit, kekhawatiran,

makanan bayi, reaksi bayi, reaksi proses melahirkan dan kelahiran,

kemudian pemeriksaan fisik bayi, tanda vital, kondisi payudara,

putting susu, pemeriksaan abdomen, kandung kemih, uterus,

lochea mulai warna, jumlah dan bau, pemeriksaan perineum,

seperti adanya edema, inflamasi, hematoma, pus, luka bekas

episiotomy, kondisi jahitan, ada tidaknya varises, refleks, dan lain-

lain

2) Melakukan Interpretasi Data Dasar

Iunterpretasi data dasar yang akan dilakukan adalah beberapa data

yang ditemukan pada saat pengkajian postpartum seperti:

Diagnosis : Postpartum hari pertama

Perdarahan nifas

209
Postsectio sesaria

Dan lain-lain

Masalah : Kurang informasi

Tidak pernah ANC

Dan lain-lain

3) Melakukan Identifikasi Diagnosis atau masalah potensial dan

mengantisipasi penanganannya

Beberapa hasil dari interpretai data dasar dapat digunakan dalam

identifiksai diagnosis atau masalah potensial kemungkinan

sehingga akan ditemukan beberapa diagnosis atau masalah

potensial pada masa postpartum, serta antisipasi terhadap masalah

yang timbul

4) Menetapkan Kebutuhan terhadap Tindakan Segera atau Masalah

Potensial pada masa postpartum

Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan

konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain

berdasarkan kondisi pasien

5) Menyusun Rencana Asuhan yang menyeluruh

Rencana asuhan menyeluruh pada masa postpartum yang dapat

dilakukan antara lain sebagai berikut.

a) Manajemen asuhan awal puerperium

(1) Kontak dini sesering mungkin dengan bayi

(2) Mobilisasi di tempat tidur

210
(3) Diet

(4) Perawatan perineum

(5) Buang Air Kecil spontan/kateter

(6) Obat penghilang rasa sakit kalau perlu

(7) Obat tidur kalau perlu

(8) Obat pencahar

(9) Dan lain-lain

b) Asuhan lanjutan

1) Tambahan vitamin atau zat besi jika diperlukan

2) Perawatan payudara

3) Rencana KB

4) Pemeriksaan laboratorium jika diperlukan

5) Dan lain-lain

6) Melaksanakan Perencanaan

Tahap ini dilakukan dengan melaksanakan rencana asuhan

kebidanan secara menyeluruh yang dibatasi oleh standar asuhan

kebidanan secara menyeluruh yang dibatasi oleh standar asuhan

kebidanan pada masa postpartum

7) Evaluasi

Evaluasi pada masa postpartum dapat menggunakan bentuk SOAP,

sebagai berikut

211
S : Data Subjektif

Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)

yang merupakan ungkapan langsung

O : Data Objektif

Data yang didapatkan dari hasil observasi melalui pemeriksaan

fisik pada postpartum

A : Analisis dan Interpretasi

Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan

meliputi yang akan diberikan termasuk asuhan mandiri,

kolaborasi, tes diagnosis atau laboratorium serta konseling

untuk tindak lanjut

(Fitramaya, 2009)

2.2.4 Manajemen Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir

a. Pengertian

Dokumentasi asuhan bayi baru lahir merupakan bentuk catatan dari

asuhan kebidanan yang dilaksanakan pada bayi baru lahir sampai 24

jam setelah kelahiran yang meliputi pengkajian, pembuatan diagnosis,

pengidentifikasian masalah terhadap tindakan segera dan kolaborasi

dengan dokter atau tenaga kesehatan lain, serta penyusunan asuhan

kebidanan dengan tepat dan rasiona berdasarkan keputusan yang

dibuat pada langkah sebelumnya

(Fitramaya, 2009)

212
b. Tujuan

Memberikan asuhan yang adekuat dan terstandar pada bayi baru lahir

dengan memperhatikan riwayat bayi selama kehamilan, dalam

persalinan dan keadaan bayi segera setelah melahirkan.

(Fitramaya, 2009)

c. Langkah-langkah (Manajemen Varney 1997)

Beberapa teknik penulisan dalam dokumentasi asuhan bayi baru lahir

antara lain sebagai berikut:

1) Mengumpulkan Data

Data yang dikumpulkan pada pengkajian asuhan bayi baru lahir

adalah sebagai berikut: adaptasi bayi baru lahir melalui penilaian

APGAR score, pengkajian keadaan fisik mulai kepala seperti

ubun-ubun, sutura, moulase, caput succedaneum atau cephal

haematoma, lingkar kepala, pemeriksaan telinga (untuk

menentukan hubungan letak mata dan kepala), tanda infeksi pada

mata, hidung dan mulut seperti pada bibir dan langitan ada

tidaknya sumbing, refleks isap, pembengkakan dan benjolan pada

leher, bentuk dada, putting susu, bunyi napas dan jantung, gerakan

bahu, lengan dan tangan, jumlah jari, refleks moro, bentuk

penonjolan sekitar tali pusat, jumlah pembuluh darah tali pusat,

adanya benjolan pada perut, testis (dalam skrotum), penis, ujung

penis, pemeriksaan kaki tunggal dan tungkai terhadap gerakan

213
normal, ada tidaknya spina bifisa, spingter ani, verniks pada kulit,

warna kulit, pembengkakan atau bercak hitam (tanda lahir),

pengkajian faktor genetic, riwayat ibu mulai antenatal, intranatal

sampai postpartum, dan lain-lain

2) Melakukan Interpretasi Data Dasar

Interpretasi data dasar yang akan dilakukan adalah beberapa data

yang ditemukan pada saat pengkajian bayi baru lahir seperti:

Diagnosis: bayi kurang bulan sesuai dengan masa kehamilan

Masalah : Ibu kurang informasi

Ibu tidak pernah ANC

3) Melakukan Identifikasi Diagnosis atau Masalah Potensial dan

mengantisipasi penanganannya

Beberapa hasil dari interpretasi data dasar dapat digunakan untuk

mengidentifikasi diagnosis atau masalah potensial kemungkinan

segera akan ditemukan beberapa diagnosis atau masalah potensial

pada bayi baru lahir serta antisipasi terhadap masalah yang timbul

4) Menetapkan Kebutuhan Terhadap Tindakan segera atau Masalah

Potensial pada Bayi Baru Lahir

langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi dan melakukan

konsultasi dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain berdasarkan

kondisi pasien

5) Menyusun Rencana Asuhan yang menyeluruh

214
Penyusunan rencana asuhan secara menyeluruh pada bayi baru

lahir umumnya adalah sebagai berikut:

a) Rencanakan asuhan untuk mempertahankan suhu tubuh bayi

agar tetap hangat dengan melaksanakan kontak antara kulit ibu

dan bayi, periksa setiap 15 menit telapak kaki dan pastikan

dengan periksa suhu aksila bayi

b) Rencanakan perawatan mata dengan menggunakan obat mata

eritromisin 0,5 % atau tetrasiklin 1% untuk pencegahan

penyakit menular seksual

c) Rencanakan untuk memberikan identitas bayi dengan

memberikan gelang yang tertulis nama bayi/ibunya, tanggal

lahir, nomor, jenis kelamin, ruang/unit

d) Tunjukkan bayi kepada orang tua

e) Segera kontak dengan ibu kemudian dorong untuk melakukan

melakukan pemberian ASI

f) Berikan vitamin K1 peroral 1 mg/hari selama tiga hari untuk

mencegah perdarahan pada bayi normal, bagi bayi beresiko

tinggi berikan melalui parenteral dengan dosis 0,5-1 mg

intramuscular

g) Lakukan perawatan tali pusat

h) Berikan konseling tentang menjaga kehangatan bayi,

pemberian ASI, perawatan tali pusat, dan tanda bahaya umum

i) Berikan imunisasi seperti BCG, polio, dan hepatitis B

215
j) Berikan perawatan rutin dan ajarkan pada ibu

6) Melaksanakan Perencanaan

Tahap ini dilakukan dengan melaksanakan rencana asuhan

kebidanan yang menyeluruh dan dibatasi oleh standar asuhan

kebidanan pada bayi baru lahir

7) Evaluasi

Evaluasi pada bayi baru lahir dapat menggunakan bentuk SOAP

sebagai berikut

S : Data Subjektif

Berisi tentang data dari pasien melalui anamnesis (wawancara)

yang merupakan ungkapan langsung seperti menangis atau

informasi dari ibu

O : Data Objektif

Data yang didapat dari hasil observasi melalui pemeriksaan

fisik pada bayi baru lahir

A : Analisis dan Interpretasi

Berdasarkan data yang terkumpul kemudian dibuat kesimpulan

meliputi diagnosis atau masalah potensial, serta perlu tidaknya

tindakan segera

P : Perencanaan

Merupakan rencana dari tindakan yang akan diberikan

termasuk asuhan mandiri, kolaborasi, tes diagnosis atau

216
laboratorium, serta konseling untuk tindak lanjut.

(Fitramaya,2009)

217