Anda di halaman 1dari 19

PROSEDUR PENGGUNAAN WARM BLANKET

DAN COOLER BLANKET


Digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II

DOSEN PEMBIMBING:
Ns. Ai Siti Sutilah, S.Kep., M.Kes

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 20

1. Diana Sri Nur Aisah (34403015146)


2. Niken Febriyana (34403015177)
3. Nur Alfiah Andani (34403015179)

TINGKAT
III A

AKADEMI KEPERAWATAN JAYAKARTA


PROVINSI DKI JAKARTA
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, akhirnya kami dapat
menyelesaikan tugas tepat pada waktunya. Tugas ini disusun sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Medah II. Kami mengucapkan
terima kasih kepada dosen yang telah memberikan kami kesempatan untuk membuat tugas
dengan judul “Prosedur Pemasangan Warmer Blanket dan Cooler Blanket”.

Dalam proses penyusunan makalah ini, kami mendapatkan banyak bantuan, petunjuk,
bimbingan, dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ns. Tri Endah Pangastuti, S.Kep., M. Kep selaku Koordinator mata kuliah KMB II
2. Ns. Ai Siti Sutilah, S.Kep., M.Kes selaku dosen mata kuliah KMB II
3. Dan juga untuk teman-teman yang selalu memberikan support kepada kami untuk dapat
menyelesaikan makalah ini.

Di dalam tugas ini terdapat konsep suhu tubuh, konsep warmer dan cooler blanket serta
prosedur pemasangan warmer dan cooler blanket. Kami menyadari bahwa tugas yang kami
buat ini masih belum baik, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan
untuk kebaikan kami dalam membuat makalah dikemudian hari. Kami berharap tugas ini
dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.

Jakarta, September 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ........................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Konsep Suhu Tubuh
1. Pengertian Suhu Tubuh.......................................................................... 3
2. Mekanisme Suhu Tubuh ....................................................................... 3
3. Gangguan Termoregulasi....................................................................... 4
4. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh ............................................. 4
B. Konsep Warmer dan Cooler Blanket
1. Pengertian ............................................................................................. 6
2. Tujuan .................................................................................................... 7
3. Indikasi .................................................................................................. 8
4. Kontraindikasi........................................................................................ 8
5. Prinsip dalam pemberian Tindakan ....................................................... 9
6. Hal yang perlu diperhatikan................................................................... 9
7. Prosedur Pemasangan ............................................................................ 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................................. 15
B. Saran ............................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Suhu tubuh adalah suatu keadaan kulit dimana dapat diukur dengan menggunakan
termometer yang dapat di bagi beberapa standar penilaian suhu yaitu normal, hipotermi,
hipertermi. Suhu tubuh seringkali berubah-ubah tanpa kita tahu sebabnya dan
mekanismenya, untuk itu perlu dilakukan penatalakasanaan yang tepat untuk dapat
mengembalikan suhu kembali ke keadaan normal.

Perawat dalam hal intervensi untuk penurunan atau peningkatan suhu sangat berperan
dapat berupa suatu tindakan kolaborasi atau mandiri. Saat pasien dalam keadaan suhu
tubuh yang tidak normal dapat dilakukan tindakan seperti pantau suhu tubuh, anjurkan
banyak minum serta kolaborasi pemberian antipiretik. Saat ini, ada suatu metode atau
cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu pemasangan warmer
dan cooler blanket.

Perawat perlu memahami dan mengetahui mengenai intervensi-intervensi tersebut, dalam


makalah ini kami akan menguraikan mengenai konsep suhu tubuh, konsep warmer dan
cooler blanket, dan prosedur pemasangannya agar kita dapat melakukan saat ada pasien
yang hipotermi atau hipertermi.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa mampu memahami konsep suhu tubuh
b. Mahasiswa mampu memahami konsep warmer/cooler blanket
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa memahami pengertian suhu tubuh
b. Mahasiswa memahami mekanisme suhu tubuh
c. Mahasiswa memahami gangguan suhu tubuh
d. Mahasiswa memahami faktor yang mempengaruhi suhu tubuh
e. Mahasiswa memahami pengertian cooler dan warmer blanket

1
f. Mahasiswa memahami tujuan pemberian cooler dan warmer blanket
g. Mahasiswa memahami indikasi cooler dan warmer blanket
h. Mahasiswa memahami kontraindikasi cooler dan warmer blanket
i. Mahasiswa memahami hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan cooler
dan warmer blanket
j. Mahasiswa mampu melakukan prosedur cooler/warmer blanket

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Konsep Suhu Tubuh


1. Pengertian Suhu Tubuh
Suhu tubuh yang dimaksud adalah panas atau dingin suatu substansi. Suhu tubuh
adalah perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses tubuh dan jumlah
panas yang hilang ke lingkungan luar. Meskipun dalam kondisi tubuh yang ekstrem
selama melakukan aktivitas fisik, mekanisme kontrol suhu manusia tetap menjaga
suhu inti atau suhu jaringan dalam relatif konstan). Hipotalamus dalam otak
mengatur suhu tubuh. Organ tersebut memiliki struktus yang kecil dibagian tengah
otak, dekat otak tengah. Secara konstan, orang tersebut memantau aliran darah di
sekitarnya, tulang belakang dan organ dalam abdomen melalui termoreseptor pusat
dan juga menerima informasi dari termoreseptor memantau suhu permukaan (kulit)
(Potter & Perry, 2006).

2. Mekanisme Suhu Tubuh


Hipotalamus umumnya mengandalikan mekanisme pemanasan dan pendinginan kita
dengan begitu efisien sehingga individu yang tak berpakaian mampu bertahan
sampai beberapa jam dalam suhu udara kering serendah 100C dan setinggi 650C.
Walau tubuh berkemampuan untuk mengatur suhunya sendiri sampai suatu nilai
yang relatif tinggi, akan muncul suatu keadaan yang tidak dapat diatasi oleh
mekanisme pengatur suhu kita. Hal tersebut akan mengakibatkan hipertermia atau
hipotermia (Cree, 2005).

Mekanisme control suhu pada manusia menjaga suhu inti (suhu jaringan dalam) tetap
konstan pada kondisi lingkungan dan aktivitas fisik yang ekstream. Namun, suhu
permukaan berubah sesuai aliran darah ke kulit dan jumlah panas yang hilang
kelingkungan luar. Karena perubahan tersebut, suhu normal pada manusia berkisar
dari 36 sampai 38oC (96,8 sampai 100,4 oC). Pada rentang ini, jaringan dan sel tubuh
akan berfungsi secara optimal (Cree, 2005).

3
3. Gangguan Termoregulasi
a. Hipotermi
Hipotermi adalah penurunan suhu inti tubuh dibawah 350C (950C). hipotermia
dihasilkan saat tubuh tidak dapat memproduksi panas yang cukup untuk
menggantikan panas yang hilang ke lingkungan. Ini dapat terjadi pada suhu
udara hingga 18,30C (650F) atau pada suhu air hingga 22,20C (720F) (Wald,
Peter H, 2002).

Hipotermia adalah gangguan medis yang terjadi di dalam tubuh, sehingga


mengakibatkan penurunan suhu karena tubuh tidak mampu memproduksi panas
untuk menggantikan panas tubuh yang hilang dengan cepat. Kehilangan panas
karena pengaruh dari luar seperti air, angin, dan pengaruh dari dalam seperti
kondisi fisik (Lestari, 2010).

Klasifikasi Hipotermi

Hipotermi ringan 350C-320C

Sedang 320C-360C

Berat dibawah 260C

b. Hipertermi
Hipertermi adalah peningkatan suhu tubuh lebih dari 37,50C yang berhubungan
dengan ketidakmampuan tubuh untuk menghilangkan panas ataupun
mengurangi produksi panas. Suhu tubuh lebih dari 400C dikatakan
hiperpireksia. Hipertermi terjadi karena adanya ketidakmampuan mekanisme
kehilangan panas untuk mengimbangi produksi panas yang berlebihan sehingga
terjadi peningkatan suhu tubuh. Hipertermi tidak berbahaya jika dibawah 390C.
Selain adanya tanda klinis, penentuan hipertermi juga didasarkan pada
pembacaan suhu pada waktu yang berbeda dalam satu hari dan dibandingkan
dengan nilai normal individu tersebut (Potter & Perry, 2010).

4
3. Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Banyak faktor yang memengaruhi suhu tubuh. Sadarilah faktor-faktor tersebut saat
mengkaji variasi suhu mengevaluasi penyimpangan dari nilai normal.
a. Usia
Pada bayi dan balita belum terjadi kematangan mekanisme pengaturan suhu
sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang drastis terhadap lingkungan.
Pastikan mereka mengenakan pakaian yang cukup dan hindari pajanan terhadap
suhu lingkungan. Seorang bayi baru lahir dapat kehilangan 30% panas tubuh
melalui kepala sehingga ia harus menggunakan tutup kepala untuk mencegah
kehilangan panas. Suhu tubuh bayi baru lahir berkisar antara 35,5-37,5oC.

Regulasi tubuh baru mencapai kestabilan saat pubertas. Suhu normal akan terus
menurun saat seseorang semakin tua. Para dewasa tua memiliki kisaran suhu
tubuh yang lebih kecil dibandingkan dewasa muda. Suhu oral senilai 35oC pada
lingkungan dingin cukup umum ditemukan pada dewasa tua. Namun, rata-rata
suhu tubuh dari dewasa tua adalah sekitar 36oC. Mereka lebih sensitif terhadap
suhu yang ekstrem karena perburukan mekanisme pengaturan, terutama
pengaturan vasomotor (vasokontriksi dan vasodilatasi) yang buruk,
berkurangnya jaringan subkutan,berkurangnya aktivitas kelenjar keringat, dan
metabolisme yang menurun.
b. Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan pemecahan
karbohidrat dan lemak. Berbagai bentuk olahraga meningkatkan metabolisme
dan dapat meningkatkan produksi panas sehingga terjadi peningkatan suhu
tubuh. Olahraga berat yang lama, seperti lari jarak jauh, dapat meningkatkan
suhu tubuh sampa 41oC.
c. Kadar hormon
Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh lebih besar. hal ini
dikarenakan adanya variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar progesteron
naik dan turun sesuai siklus menstruasi. Saat progesteron rendah, suhu tubuh
berada dibawah suhu dasar, yaitu sekitar 1/10 nya. Suhu ini bertahan sampai
terjadi ovulasi. Saat ovulasi, kadar progesteron yang memasuki sirkulasi akan
meningkat dan menaikkan suhu tubuh ke suhu dasar atau suhu lebih tinggi.
Variasi suhu ini dapat membantu mendeteksi masa subur seorang wanita.

5
d. Irama sirkandian
Suhu tubuh yang normal berubah 0,5 sampai 1oC selama periode 24 jam. Suhu
terendah berada diantara pukul 1 sampai 4 pagi. Pada siang hari, suhu tubuh
meningkat dan mencapai meksimum pada pukul 6 sore,lalu menurun kembali
sampai pagi hari. Pola suhu ini tidak mengalami perubahan pada individu yan
bekerja di malam hari dan tidur di siang hari. Dibutuhkan 1 sampai 3 minggu
untuk terjadinya pembalikan siklus. Secara umum, irama suhu sirkandian tidak
berubah seiring usia.
e. Stres
Stres fisik maupun emosional meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi
hormonal dan saraf. Perubahan fisiologis ini meningkatkan metabolisme, yang
akan meningkatkan produksi panas. Pasien yang gelisah akan memiliki suhu
normal yang lebih tinggi.
f. Lingkungan
Lingkungan memengaruhi suhu tubuh. Tanpa mekanisme kompensasi yang
tepat, suhu tubuh manusia akan berubah mengikuti suhu lingkungan. Suhu
lingkungan lebih berpengaruh terhadap anak-anak dan dewasa tua karena
mekanisme regulasi suhu mereka yang kurang efisien.
g. Perubahan suhu
Perubahan suhu tubuh di luar kisaran normal akan memengaruhi titik
pengaturan hipotalamus. Perubahan ini berhubungan dengan produksi panas
minimal, kehilangan panas minimal, atau kombinasi hal di atas. Sifat perubahan
akan memengaruhi jenis masalah klinis yang dialami pasien.

B. Konsep Warmer dan Cooler Blanket


1. Pengertian
Selimut termal adalah selimut yang bisa digunakan untuk memanaskan atau
mendinginkan pasien yang mengalami hipotermia atau hipertermi. Untuk
hipertermia, dokter atau tenaga kesehatan yang memahami dapat memasang selimut
pendingin. Jika pasien mengalami hipotermia, selimut panas dapat digunakan untuk
meningkatkan suhu inti pasien secara bertahap sampai kisaran normal. Beberapa
selimut termal memiliki probe dubur, yang dapat memantau suhu inti pasien dan
mengatur suhu selimut sesuai dengan parameter yang ditetapkan. Beberapa jenis
penghangat menggunakan udara hangat, bukan air hangat untuk meningkatkan suhu

6
inti pasien. Selimut pemanas konvektif plastik yang mengembang, menggunakan
sirkulasi udara hangat untuk menghangatkan pasien (Bouska, 2010).

Pemasangan cooler atau warmer blanket, kulit pasien tidak secara langsung
bersentuhan dengan matras melainkan dilapisi dengan selimut atau handuk untuk
mengurangi cedera yang kemungkinan dapat terjadi pada kulit (Hayashi, 2004).

a. Pemberian Cooler Blanket


Menurut Bouska, 2010 Pemberian tindakan keperawatan cooler blanket
digunakan untuk pasien yang mengalami hipertermi karena dapat menurunkan
suhu tubuh. Pemberian cooler blanket juga dapat digunakan untuk meredakan
perdarahan dengan cara mengkonstriksi pembuluh darah, meredakan inflamasi
dengan vasokontriksi, dan meredakan nyeri dengan memperlambat kecepatan
konduksi saraf, menyebabkan mati rasa, dan bekerja sebagai counterirritant.
b. Pemberian Warmer Blanket
Warmer blanket/selimut penghangat adalah alat yang digunakan untuk
menghangatkan tubuh pasien ketika mengalami hipotermi. Warmer Blanket
biasanya digunakan di ruang OK. Selimut hangat yang disengaja dihubungkan
dengan arus listrik ini mendistribusikan udara yang dipanaskan ke permukaan
tubuh yang tertutup, permukaan kontak pasien permeabel ke udara dan udara
yang dipanaskan keluar melalui selimut dan bergerak di atas kulit pasien,
sehingga mengalihkan panas dengan konveksi. Selain itu beberapa panas
ditransfer oleh konduksi dan radiasi (Brauer, 2017).

2. Tujuan
a. Pemberian Cooler Blanket
1) Membantu menurunkan suhu tubuh
2) Mengurangi rasa sakit atau nyeri
3) Membantu mengurangi perdarahan
4) Membatasi peradangan
b. Pemberian Warmer Blanket
1) Membantu mengembalikan suhu tubuh normal
2) Menghangatkan pasien

7
Sumber: http//www.google.com/cooler-blanket-warmer-blanket

3. Indikasi
a. Pemberian Cooler Blanket
1) Pasien yang suhunya tinggi
2) Pasien perdarahan hebat
3) Pasien yang kesakitan
b. Pemberian Warmer Blanket
1) Pada pasien yang mengalami penurunan suhu tubuh tubuh inti 28º C
2) Digunakan saat pasca operasi untuk menghangatkan tubuh
3) Kerentanan jantung untuk mengalami fibrilasi pada suhu

4. Kontraindikasi
a. Pemberian Cooler Blanket
1) Luka bakar karena dapat meningkatkan kerusakan jaringan
2) Gangguan sirkulasi dingin dapat mengganggu nutrisi jaringan lebih lanjut
dan menyebabkan kerusakan jaringan
3) Alergi atau hipersensivitas terhadap dingin, beberapa pasien memiliki alergi
terhadap dingin yang dimanifestasikan dengan repon inflamasi (misalnya:
eritema, bengkak, nyeri sendi, dan kadang–kadang spasme otot), yang dapat
membahayakan jika orang tersebut hipersensitif.

8
b. Pemberian Warmer Blanket
1) Pada pasien yang mengalami hipertermi
2) Pasien yang mengalami perdarahan
3) Pasien yang mengalami inflamasi/peradangan

Sumber: http//www.google.com/cooler-blanket-warmer-blanket

5. Prinsip Dalam Pemberian Cooler Blanket dan Warmer Blanket


a. Pastikan pasien tidak memakai perhiasan atau barang yang berbahan logam
karena prosedur ini menggunakan tegangan arus listrik
b. Gunakan lotion sebelum pemasangan Cooler Blanket atau Warmer Blanket

6. Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemberian Cooler Blanket dan Warmer Blanket
a. Aplikasi pemasangan selimut panas/dingin dapat didelegasikan kepada tenaga
kesehatan yang terlatih dengan baik
b. Jika pasien menggigil berlebihan selama pemakaian cooler blanket, hentikan
prosedur dan beritahu dokter segera
c. Jika ada kemungkinan kerusakan kulit akibat pemakaian pengontrol suhu, harus
dipantau secara ketat
d. Pantau adanya tanda–tanda klinis kerusakan kulit
e. Catat denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, tanda-tanda neurologis, asupan
pasien cairan dan output, kondisi kulit, dan perubahan posisi.
f. Catat suhu pasien dan selimut setiap 15 menit sementara selimut sedang
digunakan, juga mendokumentasikan jenis unit hipertermia-hipotermia
digunakan: pengaturan kontrol (manual atau otomatis dan pengaturan suhu);

9
tanggal, waktu, durasi, dan toleransi pasien pengobatan; dan menandatangani
komplikasi
g. Perubahan suhu yang terlalu cepat bisa menyebabkan pendarahan pada pasien
lansia karena pasien lansia memiliki kulit tipis dan kemudian bisa menerima
luka jaringan lebih cepat. Pasien lansia mungkin kurang peka terhadap panas
dan dingin dan mungkin tidak sadar akan perubahan suhu atau ekstrem.

10
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PEMBERIAN COOLER
BLANKET DAN WARMER BLANKET

KEGIATAN DILAKUKAN
KOMPETEN
No ASPEK YANG DINILAI
Ya Tidak
A. PENGKAJIAN
1 Cek catatan perawatan dan catatan medis pasien

2 Cek suhu tubuh pasien dan cek kondisi pasien mengenai


adanya gangguan thermoregulasi terkait hipertermia/
hipotermia

B. PERENCANAAN
3 Mengidentifikasi hasil yang diharapkan
4 Mempersiapkan alat:
1. Warmer/Cooler Blanket
Baki dan alas berisi:
2. Selimut alas (selimut mandi)
3. Krim kulit jika diperlukan
4. Sarung tangan didalam kom
5. Tensimeter
6. Bengkok
7. Alat tulis dan buku catatan
8. Ember
Bak instrumen kecil berisi:
9. Termometer
10. Pen light
11. Alcohol Swab dan tisu
C. IMPLEMENTASI
5 Mencuci tangan

6 Memberikan salam dan menyebut nama pasien

7 Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan kepada


pasien/keluarga

8 Memberikan kesempatan pasien/keluarga untuk bertanya

9 Meminta persetujuan pasien/keluarga

10 Menjaga privasi

11 Mendekatkan alat

11
KEGIATAN DILAKUKAN
KOMPETEN
No ASPEK YANG DINILAI
Ya Tidak
12 Cek tubuh pasien, pastikan tidak ada logam yang menempel
ditubuh pasien seperti perhiasan atau jam tangan

13 Mengukur suhu, denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah


pasien, tingkat kesadaran, reaksi pupil, kekuatan tungkai, dan
kondisi kulit pasien

14 Berikan lanolin atau campuran lanolin dan krim untuk kulit


pasien dimana bagian tubuh yang menyentuh selimut untuk
membantu melindungi kulit dari sensasi panas atau sensasi
dingin jika perlu

Matras Cooler/Warmer Blanket di bawah tubuh pasien


15 Atur posisi pasien, miring kanan/kiri atau sims

16 Letakkan dan rentangkan matras warmer/cooler blanket


disamping tubuh pasien, diikuti handuk/selimut diatas
warmer/cooler blanket

17 Kemudian tarik matras warmer/cooler blanket beserta


handuk/selimut. Posisikan supine kembali

Matras Cooler/warmer Blanket di atas tubuh pasien


18 Atur posisi pasien supine

19 Letakkan selimut di atas tubuh pasien lalu letakkan


cooler/warmer blanket diatas selimut dan pastikan selimut
menutupi bagian yang akan di pasang matras warmer blanket

20 Pastikan handuk/selimut menutupi matras warmer/cooler


blanket (dimana handuk/selimut berguna untuk isolator
antara pasien dengan matras warmer/cooler blanket)

21 Hubungkan stop kontak penghubung matras warmer/cooler


blanket

22 Hubungkan selang fan condenser pada warmer/cooler


blanket setelah terpasang

23 Tekan tombol ON pada warmer/cooler blanket

24 Atur suhu sesuai dengan kebutuhan pasien hipotermia/


hipertermia

25 Tanyakan respon pasien terhadap suhu warmer/cooler

12
KEGIATAN DILAKUKAN
KOMPETEN
No ASPEK YANG DINILAI
Ya Tidak
blanket setelah terpasang

26 Anjurkan pasien/keluarga melapor kepada perawat jika


terjadi menggigil untuk pemasangan cooler atau kemerahan
dan luka pada kulit pada pemasangan warmer

27 Monitor suhu tubuh pasien tiap 15–30 menit

28 Lepaskan warmer/cooler blanket (jika suhu pasien sudah


normal/ sesuai anjuran dokter dan perhatikan penurunan
suhu 5o F (2,8o C) setelah penggunaan warmer/cooler
blanket)

29 Monitor vital sign, intake output cairan dan keadaan umum


pasien tiap 30 menit selama 2 jam setelah penggunaan
warmer/cooler blanket

30 Rapikan alat dan kembalikan peralatan blanket ke tempat


penyimpanan

31 Mencuci tangan

32 Mendokumentasikan tindakan yang dilakukan

D. EVALUASI
33 Apa informasi yang anda butuhkan untuk memastikan bahwa
pasien sudah selesai menggunakan warmer/ cooler blanket?

34 Apa yang anda observasi setelah penggunaan warmer/ cooler


blanket pada pasien?

35 Bagaimana respon pasien terkait tindakan yang telah


dilakukan?

36 Apa rencana tindak lanjut anda sesudah selesai berkaitan


dengan tindakan sebelumnya?

37 Bagaimana anda mendokumentasikan tindakan dalam


catatan keperawatan?

S
1. Pasien mengatakan sudah tidak kedinginan
2. Pasien mengatakan nyaman setelah diberikan selimut
hangat

13
KEGIATAN DILAKUKAN
KOMPETEN
No ASPEK YANG DINILAI
Ya Tidak
O
1. Suhu tubuh pasien 36,80C
2. Pasien sudah tidak menggigil
3. Akral teraba hangat
4. Mukosa bibir tidak pucat dan tidak kebiruan
5. Tidak ada tanda iritasi (kemerahan) pada kulit pasien

A
Gangguan Termoregulasi Hipotermi

P
1. Observasi TTV
2. Observasi suhu pasien setiap 30 menit selama 2 jam
setelah pemberian warmer blanket
3. Kolaborasi pemberian infus Dextrose

JUMLAH SKOR

Nilai 1 = Kompeten : Dilakukan dengan sempurna


Nilai 0 = Tidak Kompeten : Tidak dilakukan/dilakukan kurang tepat/dilakukan salah

𝐉𝐔𝐌𝐋𝐀𝐇 𝐍𝐈𝐋𝐀𝐈 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐃𝐀𝐏𝐀𝐓


Penilaian : = x 100
𝐉𝐔𝐌𝐋𝐀𝐇 𝐈𝐓𝐄𝐌 𝐘𝐀𝐍𝐆 𝐃𝐈𝐍𝐈𝐋𝐀𝐈

Jakarta,.......................20...
Observer Praktikan

( ) ( )

Pembimbing

( )

14
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Suhu tubuh yang dimaksud adalah panas atau dingin suatu substansi. Suhu tubuh adalah
perbedaan antara jumlah panas yang diproduksi oleh proses tubuh dan jumlah panas yang
hilang ke lingkungan luar. Ada banyak intervensi yang dapat dilakukan untuk mencegah
gangguan suhu tubuh diantaranya dengan pemasangan warmer atau cooler blanket.

Pemasangan prosedur ini bertujuan untuk mencegah peningkatan atau penurunan suhu
tubuh yang diindikasikan tentunya untuk pasien yang mengalami hipotermi atau
hipertermia. Pemasangan prosedur ini dilakukan dengan memberikan selimut hangat atau
dingin kepada pasien terggantung kondisi yang dialami oleh pasien.
Perawat berperan penting dalam hal ini, untuk itu sangat diperlukan bagi perawat untuk
mengetahui dan memahami cara pemasangan prosedur warmer dan cooler blanket, serta
dapat menerapkannya.

B. Saran
Kami memiliki saran untuk pembaca agar perbanyak informasi dan pengetahuan
mengenai keperawatan, semoga perawat dapat menerapkan pemasangan warmer dan
cooler blanket dengan benar.

15
DAFTAR PUSTAKA

Brauer, Anselm. (2017). Periooperatif temperathur management.Australia:Cambridge


University Press
Bouska Altman, Gaylene. (2010). Fundamental and Advanced Nursing Skills Third Edition.
USA: Delmar
Brauer, Anselm. (2017). Perioperative Temperature Management. New York: Cambridge
University Press
Cree, Laurie. (2005). Sains dalam keperawatan: fisika, kimia, biologi. Jakarta: EGC
Hayashi, N. (2004). Brain Hypothermia threatment. Japan:Springer
Potter Dan Perry. (2010). Fundamental Keperawatan Buku 3. Edisi 7. Jakarta: Salemba
Medika
Prosedur Rumah Sakit RSUD KOJA Ruang Operasi
Williams, Lippincott & Wilkins. 2009. Nursing Procedures & Protocols. American : Wolters
Kluwer Compan

16