Anda di halaman 1dari 25

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

“SIR BANSER” Alat Pengusir Hama Babi Menggunakan Sirine


Berbasis Sensor PIR Sebagai Solusi Masalah Kerusakan Lahan
Petani Palawija

BIDANG KEGIATAN:
PKM-KC

Diusulkan oleh :

Alif Violeta Efrilla A1C015015 (2015)


Yulia Sonata A1C015013 (2015)
Mohammad Yoddi Dahsyat H1A016081 (2016)

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN


PURWOKERTO
2017

i
ii
DAFTAR ISI

Halaman judul................................................................................................. i
Lembar Pengesahan........................................................................................ ii
Daftar Isi......................................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang................................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah........................................................................... 2
1.3 Luaran yang diharapkan..................................................................... 2
1.4 Manfaat.............................................................................................. 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.................................................................... 3
2.1 Hama Babi Hutan............................................................................... 3
2.2 Rangkaian Sirine................................................................................ 4
2.3 Sensor PIR......................................................................................... 4
Alat Pengusir Hamba Menggunakan Sirine berbasis Sensor PIR................... 6
BAB III. METODA PELAKSANAAN.......................................................... 5
3.1 Tempat dan waktu.............................................................................. 6
3.2 Proses perancangan & pembuatan..................................................... 6
3.3 Tahap Pelaksanaan & uji coba........................................................... 6
BAB IV. BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN............................................ 9
4.1 Anggaran Biaya................................................................................. 9
4.2 Jadwal Kegiatan................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 10
LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................................. 11
Lampiran 1. Biodata Ketua dan Anggota........................................................ 12
Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan.................................................... 13
Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas........... 14
Lampiran 4. Surat Pernyataan Ketua Peneliti................................................. 15
Lampiran 5. Gambaran Teknologi yang Hendak Diterapkembangkan.......... 16

iii
1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertanian di Indonesia saat ini menempati status kritis dalam perkembangan


pertanian di dunia. Bukan hanya di bidang teknologi namun juga pada jumlah
produksi, salah satu faktor yang menyebabkan ini terjadi adalah kurangnya
pemahaman masyarakat yang bekerja di bidang pertanian tentang pengendalian
hama dan penyakit. Permasalahan hama pada lahan pertanian yang masih
menyebabkan tingkat kerusakan yang tinggi di Indonesia salah satunya adalah
hama babi hutan. Kasus hama babi inilah yang menyebabkan keresahan para
petani akan jumlah produksi yang akan dihasilkan serta faktor keamanan dalam
mengelola lahan pertanian. Puluhan kasus hama babi ini menyebabkan kecelakaan
bagi para petani yang di serang babi dan kerugian yang besar bagi petani. Hal ini
menyebabkan para petani di Indonesia khususnya di daerah hutan lebih memilih
mencari jalan lain dengan cara berhenti bertani sehingga produksi pertanian di
Indonesia dalam status rendah.
Food and Agriculture Organization (2013) menyebutkan bahwa ,jumlah
populasi babi di Indonesia mencapai 6.344.700 ekor. Jumlah ini mencakup sekitar
0,66% dari jumlah populasi babi dunia yang mencapai 956.017.000 ekor. Jumlah
populasi tersebut menyebabkan keberadaan populasinya di dunia berada dalam
status least concern (risiko rendah) atau tidak terancam punah, dengan kondisi
demikian pertumbuhan populasi babi meningkat tidak terkendali dan menjadi
ancaman hama bagi pertanian. Salah satu spesies babi yang membawa dampak
negatif terhadap pertanian adalah babi hutan. Hingga saat ini babi hutan masih
tersebar luas dengan jumlah populasi yang melimpah (IUCN, 2008).
Babi hutan seringkali menjadi hama yang dapat menimbulkan kerusakan
serius pada lahan pertanian. Salah satu faktor penyebabnya yaitu jumlah populasi
babi hutan yang melimpah semakin terdesak akibat adanya konversi lahan
menjadi lahan pertanian. Babi hutan ini mencari sumber pakan baru yang dekat
dengan daerah jelajahnya. Babi hutan menyukai daerah dataran rendah yang
daerah tersebut banyak areal pertaniannya sehingga sumber pakannya lebih
banyak (Harahap, Patana dan Afifuddin, 2012).
Kasus kerusakan kebun yang disebabkan oleh babi hutan ini sering dijumpai
didaerah pegunungan yang masih terdapat hutan sebagai habitat alaminya. Hingga
saat ini tingkat kasus kerusakan lahan yang disebabkan oleh hama babi ini masih
tinggi terutama di desa-desa yang berada di daerah kaki gunung Slamet yang
sebagian besar masih merupakan hutan negara yang dilindungi. Sejumlah petani
pajawija dan kelapa mendapatkan kesulitan dalam penanganan hama babi yang
mengancam lahan perkebunan mereka. Masalah ini berpengaruh pada ekonomi
2

masyarakat yang akhirnya menyerah dan berhenti untuk menanam palawija


kembali.

Gambar 1. Babi hutan merusak lahan

Peraturan pemerintah pada UU no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber


Daya Alam Hayati dan Ekosistem mengatur tentang pemburuan ataupun
penangkapan satwa liar yang berada pada habitatnya membuat status bahwa babi
hutan ini adalah satwa liar yang dilindungi oleh negara dan dilarang
pemburuannya tanpa perizinan. Kenyataannya selama ini pengusiran babi hutan
dari kebun petani dilakukan dengan cara memburu ataupun memasang perangkap
untuk menjerat babi hutan. Pembuatan perangkap oleh para petani untuk menjerat
babi hutan tidak memberikan hasil yang memuaskan karena kebanyakan yang
terkena perangkap adalah babi hutan yang masih kecil atau muda. Sementara babi
hutan yang sudah dewasa bisa mengantisipasi perangkap tersebut. Dengan
demikian pengusiran dengan menggunakan perangkap tidap memberikan hasil
yang efektif. Dampak negatif perangkap tersebut, babi hutan yang terkena jerat
bisa semakin ganas dan menyerang warga, selain itu banyak kasus hewan yang
dilindungi seperti harimau atau macan tutul ikut terjerat dalam perangkap yang
dibuat untuk babi hutan. Hal tersebut tentu saja menjadi masalah dalam
kelestarian hewan langka
Cara lain yang biasa dilakukan oleh petani agar tanamannya tidak dirusak
oleh babi hutan adalah dengan menjaga kebunnya di malam hari. Namun hal ini
akan memakan banyak waktu para petani. Cara-cara tradisional yang selama ini
dilakukan sangat memakan waktu,tenaga dan juga biaya sedangkan hasil yang di
dapatkan tidak sebanding dengan apa yang diharapkan, perlu adanya teknologi
baru yang akurat yang dapat menangani kasus hama babi ini.
Oleh karena itu berdasarkan latar belakang diatas, diperlukan teknologi untuk
menangani masalah hama babi yang meresahkan masyarakat selama ini dengan
efisien dan tepat guna.
3

1.2 Identifikasi Masalah

1. Bagaimana rancangan pembuatan alat pengusir hama babi sirine berbasis


sensor PIR (Passive Infra Red) yang mampu bekerja secara efektif dan
efisien?
2. Bagaimana sistem sirine sebagai alat pengusir hama babi menggunakan
sensor PIR (Passive Infra Red) agar dapat menghalau babi agar tidak
memasuki lahan pertanian?
3. Apakah kedepannya alat pengusir hama babi sirine berbasis PIR (Passive
Infra Red) mampu diterapkan sebagai kemajuan IPTEK ?

1.3 Luaran yang diharapkan

1. Prototype alat pengusir hama babi menggunakan sirine berbasis sensor


PIR
2. Artikel ilmiah yang di daftarkan pada jurnal nasional
3. Pembuatan alat HKI atau hak paten

1.4 Manfaat

1. Mengatasi kerusakan lahan yang disebabkan oleh babi hutan yang


mengancam produktivitas pertanian
2. Peningkatan efisiensi dalam penjagaan lahan pertanian untuk para petani
tanpa harus berjaga malam di sekitar lahan mereka
3. Meningkatkan kreativitas mahasiswa di bidang IPTEK
4. Penurunan kasus terjebaknya hewan yang dilindungi oleh negara seperti
harimau akibat jerat/perangkap yang dibuat untuk babi hutan
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hama babi hutan


Morfologi umum seluruh anggota dari famili Suidae yang terdiri dari
delapan spesies dan terkelompok dalam lima genus: Babyrousa; Phacochoerus;
Hylochoerus; Potamochoerus dan Sus, memiliki beberapa kesamaan ciri
morfologi, seperti tubuh yang besar, kepala yang panjang dengan moncong yang
dapat aktif bergerak dan digunakan untuk rooting di tanah, leher yang pendek dan
kuat, tubuh yang pendek dan gemuk dan lapisan kulit dengan rambut yang kasar
(Nowak and Paradiso, 2012).
Rata-rata babi hutan dan induk babi memiliki berat berkisar 130 pon (65
kg) dan 110 pon (55 kg), secara berturut-turut, sedangkan ukuran dewasa terbesar
bias mencapai berat 400 pon (200 kg) dengan tinggi 3 kaki (91,44 cm) dan
panjang tubuh 5 kaki (152,4 cm). Sus scrofa memiliki panjang kepala dan tubuh
berkisar antara 900-1,800 mm, panjang ekor berkisar 300 mm, tinggi tubuh
berkisar 550- 1,100 mm. Rata-rata ukuran tubuh jantan lebih besar dibandingkan
betina, dengan warna tubuh abu-abu gelap hingga hitam atau coklat (Nowak and
Paradiso, 2012).
Bentuk tubuh babi hutan yaitu membulat, memiliki kaki yang pendek dan
bentuk kuku yang meruncing (cloven-hoofs) dengan empat jarinya. Dimana dua
kuku diantaranya telah termodifikasi menjadi bentuk yang besar (Choquenot et al,
1986). Spesies ini memiliki kaki yang terdiri dari empat jari dimana jari
belakangnya berukururan lebih kecil, hal ini sangat membantunya ketika ia
berjalan di atas tanah lumpur (Carter, 2007).
Babi hutan termasuk hewan nocturnal yaitu aktif di malam hari. Menurut
Campbell dan Long (2010) bahwa babi hutan di kawasan Texas bagian selatan
(USA) memperlihatkan aktivitas yang aktif pada malam hari. Sementara
berdasarkan laporan Caley (2012) bahwa di daerah hutan tropis Australia spesies
ini juga beraktivitas pada siang hari meskipun lebih dominan pada malam hari
dengan puncak aktivitas yaitu sore menjelang malam dan fajar. Selain itu Giffin
(2009)juga menyebutkan, meskipun terkadang babi hutan ada terlihat sedang
mencari makan dan bergerak di siang hari, umumnya yang terlihat ketika siang
hari adalah hewan remaja, sedangkan babi dewasa akan beraktivitas ketika
menjelang malam dan menjelang fajar.
Berdasarkan penelitian Harahap et al (2012) melaporkan bahwa babi hutan
merusak tanaman jagung dengan cara menumbangkan batang jagung dengan
badannya lalu diambil buahnya sehingga tanaman jagung menjadi rusak dan
mengurangi hasil panen para petani. Ketersediaan sumber makanan yang beragam
dan tingginya tingkat kesukaan (palatability) satwaliar terhadap jenis tanaman
yang ditanam petani juga turut menjadi faktor kerusakan oleh spesies ini
(Sukumar, 2007).
5

Konflik antara manusia dan babi hutan paling tinggi terjadi pada tipe
penggunaan lahan ladang. Sehingga babi hutan ini dianggap sebagai hama yang
dapat menimbulkan kerusakan serius pada lahan pertanian, akibatnya banyak
diburu oleh masyarakat (Choquenot et al., 2011; Rizaldi et al., 2007).

2.2 Rangkaian Sirine


Rangkaian sirine adalah rangkaian elektronika yang dapat menandakan
suatu bencana, rangkaian ini juga sangat diperlukan bagi setiap orang. Sirine
sendiri merupakan alat yang dapat menghasilkan suara atau bunyi yang nyaring
dan hampir terdengar walaupun dalam keadaan jauh, sehingga setiap orang pasti
akan mengetahui bahwa ada bahaya atau pertanda khusus sebuah peristiwa.(
Tooley, 2007.)

Gambar 2. Rangkaian Sirine (digambar dengan perangkat lunak fritzing)

2.3 Sensor PIR

Sensor PIR (Passive Infra Red) adalah sensor yang digunakan untuk
mendeteksi adanya pancaran sinar infra merah dari suatu object. Sensor PIR
bersifat pasif, artinya sensor ini tidak memancarkan sinar infra merah tetapi hanya
menerima radiasi sinar infra merah dari luar. Sensor ini biasanya digunakan dalam
perancangan detektor gerakan berbasis PIR. Karena semua benda memancarkan
energi radiasi, sebuah gerakan akan terdeteksi ketika sumber infra merah dengan
suhu tertentu melewati sumber infra merah yang lain dengan suhu yang berbeda ,
maka sensor akan membandingkan pancaran infra merah yang diterima setiap
satuan waktu, sehingga jika ada pergerakan maka akan terjadi perubahan
pembacaan pada sensor.
6

Gambar 3. Rangkaian sensor PIR (digambar dengan perangkat lunak fritzing)


2.4 Alat pengusir hama babi menggunakan sirine berbasis sensor PIR

4 sensor PIR Kontroler Driver Sirine

Gambar 3. Diagram blok sistem alat pengusir hama babi

Sensor PIR (Passive Infra Red) berfungsi sebagai pendeteksi ketinggian objek
yang mendekat dengan radius yang telah di tentukan yaitu 5 m dari pemasangan
alat pengusir hama babi. Cara kerja sensor ini adalah dengan cara memancarkan
sinar infrared dan akan dipantulkan kembali untuk menangkap sinyal informasi
yang akan dibaca oleh controller. Dalam sistem controller akan diproses untuk
perintah selanjunya, jika sinyal yang diterima memenuhi syarat dari objek yang
dinginkan maka akan di teruskan ke driver sehingga menjalankan perintah untuk
menyalakan sirine. Masing-masing dari sensor pir adalah membaca ketinggian
sesuai morfologi babi yang telah diteliti pada penelitian sebelumnya. 2 sensor
ditempatkan pada ketinggian 0 m untuk mendeteksi jarak dari kaki depan serta
belakang objek, 1 sensor berfungsi untuk mendeteksi objek dengan ketinggian
maksimal tinggi babi sedangkan sensor yang lain berfungsi sebagai pendeteksi
batas minimal tinggi babi. Sehingga objek yang ketinggiannya serta jarak kaki
depan dan kaki belakangnya tidak sesuai tidak akan terdeteksi sebagai sesuatu
yang mengancam lahan.
7

BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat danWaktu
Program ini dilaksanakan di Universitas Jenderal Soedirman selama 5
bulan, yaitu dari bulan Februari 2018 sampai dengan bulan Juni 2018.

3.2 Proses Perancangan dan Pembuatan

Dalam tahap ini kegiatan yang dilakukan yaitu adalah menyiapkan alat dan
bahan yang dibutuhkan untuk menunjang pembuatan alat pengusir hama babi
berupa sirine berbasis sensor PIR dalam upaya menangani masalah kerusakan
lahan para petani oleh hama babi

3.3 Tahap Pelaksanaan dan Uji Coba


Dalam Pelaksanaanya program ini dibagi kedalam 6 tahap yaitu meliputi
tahap persiapan umum, pembuatan alat, pengujian alat, perancangan ulang alat,
penerapan alat, dan evaluasi.

a. Persiapan Umum
Bentuk persiapan yang dilakukan untuk menunjang program ini
yaitu meliputi persiapan administratif seperti pembuatan kerangka
laporan, pembuatan instrumen monitoring dan evaluasi program, dan juga
persiapan lain yang bertujuan untuk lebih menata pelaksanaan program
agar dapat terlaksana dengan baik.

b. Pembuatan
Pada tahap ini, pembuatan alat dilakukan dalam empat tahap yaitu
meliputi pembelian komponen (komponen elektronik maupun Unit
Trainer), pembuatan rangkaian alat sirine yaitu meliputi pembuatan
komponen - komponen elektrik seperti pembuatan sistem minimum
mikrokontroler, pembuatan program, perakitan inputan (berupa sensor)
dan output. Dari Modul / Control Unit yang telah dibuat kemudian
dilakukan instalasi/perakitan di Unit Trainer. Finishing yaitu merapikan
dan memperindah tampilan dari alat yang telah dibuat.

c. Pengujian
Pengujian dilakukan pada alat secara dua tahap. Pada tahap pertama
pengujian dilakukan terhadap komponn apakah sudah berfungsi sesuai
yang diharapkan. Tahap kedua pengujian lapangan, yaitu pengujian
langsung pada lahan yang beresiko terserang hama babi dan melihat
kinerja dari alat yang telah dibuat
8

d. Perancangan Ulang
Perancangan ulang dilakukan sebagai bentuk respon terhadap hasil
pengujian yang dilakukan. Tahap ini bertujuan untuk memberikan desain
alat yang lebih baik dari desain sebelumnya. Tahap ini juga dapat dilewati
jika pada pengujian pertama tidak didapat masalah yang berarti dari alat
yang dibuat.

e. Penerapan
Pada tahap ini alat pengusir hama babi berupa sirine berbasis sensor
PIR sudah berhasil dibuat secara keseluruhan dan siap untuk diterapkan
ke lahan pertanian yang beresiko terkena serangan babi untuk menjadi
salah satu solusi dalam pengendalian hama babi dalam melindungi lahan
para petani.

f. Evaluasi
Tujuan dilakukannya evaluasi adalah untuk mengetahui ketercapaian
tujuan dari program yang dilaksanakan, sehingga nantinya dapat
dilakukan perbaikan dan pengembangan menjadi lebih baik lagi. Evaluasi
dilakukan dengan cara diskusi satu kelompok dan juga dosen
pembimbing.

berikut ini adalah diagram alir pelaksanaan:

mulai A

Membeli alat dan bahan


Analisis
hasil desain
Mempersiapan proses permbuatan

Permbuatan prototype
uji
fungsional
Pengujian alat

Evaluasi dan modifikasi


Uji lapang

Sel esai
9

BAB IV
BIAYA DAN JADWAL KEGIATAN

4.1 Anggaran Biaya


No
Jenis Pengeluaran Biaya (Rp.)
.
1 Peralatan penunjang (15–25%) 1.680.000
2 Bahan habis pakai (30–40%) 6.432.000
3 Perjalana (15–25%) 2.260.000
Lain-lain
4 administrasi, publikasi, seminar, laporan, lainnya 1.250.000
sebutkan (Maks. 1%)
Jumlah 11.622.000,00

4.2 Jadwal Kegiatan (3 – 5 bulan)


Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan
ke-1 ke-2 ke-3 ke-4 ke-5
Tahap Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pembelian
peralatan
Persiap Persiapan
an proses
pembuatan
prototipe
Pembuatan
Prototipe q
Pelaksa Analisis
Prototipe
naan
Uji
Fungsional
Uji lapang
Evaluasi
Lapora Program
n Laporan
Hasil
10

DAFTAR PUSTAKA

Azhima, Fauzan. 2009. Pengendalian Babi Hutan, Hama Utama Bagi Kebun
Karet Di Jambi. Seri Wanatani Karet.

Caley, P. 2010. Movements, Activity Patterns and Habitat Use of Feral Pigs (Sus
scrofa) in Tropical Habitat.Wildlife Research24 : 77?87.

Campbell, T. A., and D.B. Long. 2010. Activity Patterns of Wild Boars (Sus
scrofa) in Southern Texas. The southwestern naturalist 55(4) :
564?568.

Carter, W. V. 2007. Mamalia Darat Indonesia. PT. Inter massa. Jakarta.

Choquenot, D., J. McIlroy and T. Korn. 2011. Managing Vertebrate Pests: Feral
Pigs. Australian Government Publishing Service, Canberra.

FAO RAP Bangkok. 2013. Selected indicators of Food and Agriculture


Development in Asia Pacific Region 2005-2013.
(www.fao.org/docrep/077/ad513eoo.HTM. 24 Februari 2015).

Giffin, J. 2009. Ecology of The Feral Pig on The Island of Hawaii. State of
Hawaii. Department of Land and Natural Resources.Division of Fish and
Game Hawaii.

Harahap, W.H. Patana, P. Afifuddin, Y. 2012. Mitigasi Konflik Satwaliar dengan


Masyarakat di Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser.

Nowak, R. M., and J. L. Paradiso. 2012. Walker’s Mammal’s of The World. 4 th


Edition, Volume II. The Johns Hopkins University Press.Baltimore and
London.

Rizaldi., K. Watanabe and A. Bakar. 2007. Communal Hunting of Wild Boars


(Sus scrofa) as a Common Practice in West Sumatra, Indonesia. Suiform
Soundings7 : 25-31.

Sukumar R. 2007. The Living Elephants: Evolutionary Ecology, Behavior, and


Conservation.Oxford University Press. Oxford.

Tooley, Mike. 2007. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi. Jakarta:


Erlangga
11
12
13
14

Biodata Dosen Pembimbing


A. Identitas Diri
1 Nama Lengkap (dengan gelar) Dr.Ardiansyah, S.TP., M.Si..
2 Jenis Kelamin Laki-laki
3 Program Studi Teknik Pertanian
4 NIDN 0022017902
5 Tempat dan Tanggal Lahir Palembang 22 Januari 1979
6 E-mail Ardi.Plj@gmail.com
7 Nomor Telepon/HP 085764379752

B. Riwayat Pendidikan
S1 S2 S3
Institut Pertanian Institut The University
Nama Institusi
Bogor Pertanian of Tokyo
Bogor
Ilmu Biological and
Jurusan Teknik Pertanian
Keteknikan Environmental
Tahun Masuk-Lulus 2000 2004
Pertanian 2008
Engineering

C. Pemakalah Seminar Ilmiah (Oral Presentation)


Nama Ilmiah /
No. Judul Artikel Ilmiah Waktu
Seminar
Pengembangan Sumber Daya
1 Nasional Pedesaan dan Kearifan Lokal 2013
Berkelanjutan III
Pengembangan Sumber Daya
2 Nasional Pedesaan dan Kearifan Lokal 2013
Berkelanjutan III
Sustainable Rural Development –
3 International 2013
Towards a Better World
Challenges of Water &
4 International Environmental Management in 2012
Monsoon Asia
5 Nasional Teknologi Berkelanjutan 2011

6 Nasional Teknologi Berkelanjutan 2011


Annual Meeting of Japan Society of
7 National Local Irrigation, Drainage and 2007
Reclamation Engineering
Advanced Agricultural Engineering
8 International 2004
and Farm Work Operation
15
16

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Kegiatan

1. Peralatan penunjang (15-25%)


Material Justifikasi Kuantitas Harga Keterangan
Pemakaian Satuan Satuan (Rp)
(Rp)
Rangkaian Penguat
2 unit 100.000,00 200.000,00
Driver sinyal
Meteran Pengukur 1 buah 100.000,00 100.000,00
Box Penutup Melindungi
6 unit 150.000,00 900.000,00
Rangkaian rangkaian
tang rivet alat
1 buah 50.000,00 50.000,00
penyambung
bor tangan melubangi
1 buah 300.000,00 300.000,00
bahan
pilok melinungi
tiang dari 3 buah 20.000,00 60.000,00
karat
Alat Solder Menyambung
1 unit 70.000,00 70.000,00
rangkaian
Sub Total 1.680.000,00

2. Bahan Habis Pakai (30-40%)


Material Justifikasi Kuantitas Harga Keterangan
Pemakaian Satuan Satuan (Rp)
(Rp)
Kabel Penyalur daya 15 meter 8.000,00 120.000,00
Mur dan Penyambung
40 buah 2.000,00 80.000,00
baut
Saklar Pemutus dan
penyambung 1 buah 2.000,00 2.000,00
daya
Rangkaian Penguat sinyal
6 unit 100.000,00 600.000,00
Driver
Sirine Pengusir hama
3 buah 500.000,00 1.500.000,00
babi
Sensor PIR Pendeteksi
15 buah 100.000,00 1.500.000,00
hama babi
Arduino Pengendali
3 unit 500.000,00 1.500.000,00
mikro
Aki Sumber tenaga
1 unit 500.000,00 500.000,00
listrik
Tiang besi Prottipe
penyangga pemasangan 2 batang 300.000,00 600.000,00
alat
paku rivet Penyambungan 1 pcs 30.000,00 30.000,00
17

Sub Total 6.432.000,00

3. Perjalanan (15-25%)
Material Justifikasi Kuantitas Harga Keterangan
Pemakaian Satuan Satuan (Rp)
(Rp)
Perjalanan Konsultasi
ke fakultas dan perakitan
6 kali 35.000,00 210.000,00
teknik
UNSOED
Perjalanan Pengambilan
ke data dan
peternakan pengujian
20 kali 45.000,00 900.000,00
babi dan alat
kebun raya
baturraden
Membeli alat
dan bahan
Perjalanan
baik
pembelian 20 kali 35.000,00 700.000,00
langsung
peralatan
maupun
online
Perjalanan
ke desa Mempelajari
terkena kondisi 10 kali 45.000,00 450.000,00
wabah hama lapangan
babi
Sub Total 2.260.000,00

4. Lain-lain (administrasi, publikasi, seminar, laporan, lainnya, maks 10%)


Harga
Material Justifikasi
Kuantitas Satuan Keterangan
Pemakaian
(Rp)
Dokumentasi Dokumentasi
1 paket 500.000 500.000
& publikasi kegiatan
Proposal dan
Admisitrasi 5 kali 100.000 500.000
surat menyurat
Inventarisir
ATK 1 paket 250.000 250.000
bahan
Sub Total (Rp) 1.250.000
Total (Keseluruhan) (Rp.) 11.622.000,00
18

Lampiran 3. Susunan Organisasi Tim Peneliti dan Pembagian Tugas

N Nama /NIM Program Bidang Alokasi Uraian Tugas


o Studi Ilmu Waktu
(jam/mingg
u)
1 Alif Violeta Teknik Teknologi 16 Ketua,mengawasi
Efrilla/ Pertanian Pertanian jam/minggu dan
A1C015015 Mengendalikan
keseluruhan
kegiatanserta
sebagai
Penghubung
komunikasi
kelompok.
2 Yulia Sonata/ Teknik Teknologi 16 Sekretaris dan
A1C015013 Pertanian Pertanian jam/minggu Bendahara,
mengatur
Keuangan
meliputi uang
keluar dan masuk
dengan terinci
serta mencatat
3 Muhammad Teknik Elektro 14 Pelayan Teknis,
Yodi Elektro dan jam/minggu bertanggung
Dahsyat/ Instrument jawab terhadap
H1A016081 asi kelancaran proses
pembuatan mesin
mulai dari
perancangan
desain hingga
menjadi hasil
akhir
19
20

Lampiran 5. Gambaran teknologi yang hendak diterapkembangkan

UNIVERSITAS JENDERAL Hal 1/3


SO EDIRMAN
Perancang: Alif Pemeriksa: Dr.
SUB.LAB. T eknik Pengelolaan Drafter: Yodi Ardiansyah STP,MSi
dan Pengendalian Bio-
Lingkungan Software:Solid work

Rancangan Alat Pengusir Hama Babi Berbasis Sensor PIR


21

Lampiran 5 (Lanjutan)

UNIVERSITAS JENDERAL Hal 2/3


SO EDIRMAN
Perancang: Alif Pemeriksa: Dr.
SUB.LAB. T eknik Pengelolaan Drafter: Yodi Ardiansyah STP,MSi
dan Pengendalian Bio-
Lingkungan Software:Solid work

Rancangan Tempat Arduino, Sumber Tegangan, Buzzer


22

Lampiran 5 ( Lanjutan)

UNIVERSITAS JENDERAL Hal 3/3


SO EDIRMAN
Perancang: Alif Pemeriksa:: Dr.
SUB.LAB. T eknik Pengelolaan Drafter: Yodi Ardiansyah STP,MSi
dan Pengendalian Bio-
Lingkungan Software :
Solidwork

Ukuran Penempatan Sensor PIR dan Sirine