Anda di halaman 1dari 22

PENERAPAN PENGGUNAAN METODE PEMBELAJARAN

KOOPERATIF UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN


KONSENTRASI BELAJAR SISWA KELAS X OTOMOTIF DI SMK
BHINNEKA KARYA SURAKARTA

Laporan Disusun Untuk Memenuhi Syarat Dilaksanakannya


Focus Group Discussion (FGD) Mata Kuliah Magang Kependidikan 3

Dosen Pembimbing : Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd.

Guru Pamong : Eny Indrawati, S.Pd.

Disusun oleh:

Woro Dyasti Prameswari

(K1214061)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan kritis ini telah disetujui dan disahkan guna melengkapi tugas dan syarat
untuk menempuh ujian FGD (Focus Group Discussion) dalam Magang
Kependidikan III mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Sebelas Maret Surakarta di SMK Bhinneka Karya Surakarta.

Hari : Selasa

Tanggal : 7 November 2017

Judul : Penerapan Penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif untuk


Meningkatkan Motivasi dan Konsentrasi Belajar Siswa Kelas X Otomotif di SMK
Bhinneka Karya Surakarta

Dosen Pembimbing Guru Pamong

Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd. Eny Indrawati, S.Pd.

Mengetahui,

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Bhinneka Karya Surakarta

Drs. Sarjiman, M.Si.

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa
melimpahkan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan kegiatan magang
kependidikan III di SMK Bhinneka Karya Surakarta. Magang Kependidikan III
terdiri dari beberapa tahap dalam praktiknya yaitu, observasi keadaan mengajar
guru Bahasa Indonesia di kelas, praktik mengajar terbimbing, dan kegiatan FGD
(Focus Group Discussion). Kegiatan magang kependidikan III ini bertujuan agar
mahasiswa calon guru mengenal dengan baik lapangan sekolah yang menjadi
tempat tugasnya.

Laporan kritis magang kependidikan III ini dibuat sebagai syarat untuk
mengikuti kegiatan FGD yang dilaksanakan pada Selasa, 7 November 2017 dengan
diikuti oleh dosen pembimbing, guru pamong, dan mahasiswa pendidikan Bahasa
Indonesia. Pembuatan laporan observasi ini terlaksana berkat bantuan berbagai
pihak, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Sarjiman, M.Si selaku Kepala Sekolah SMK Bhinneka Karya
Surakarta
2. Bapak Drs. Munajad selaku Koordinator Guru Pamong di SMK Bhinneka
Karya Surakarta
3. Bapak Drs. Yant Mujiyanto, M.Pd., selaku Dosen Pembimbing Magang
Kependidikan III di SMK Bhinneka Karya Surakarta
4. Ibu Eny Indrawati, S.Pd., selaku Guru Pamong Magang Kependidikan III di
SMK Bhinneka Karya Surakarta
5. Teman-teman Magang Kependidikan III di SMK Bhinneka Karya Surakarta
6. Semua pihak yang turut membantu dan terlibat pada penyusunan laporan kritis
ini.

iii
Demikian laporan kritis ini dibuat, penulis selalu terbuka terhadap saran dan
masukan yang membangun demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga
laporan kritis ini dapat bermanfaat baik bagi penulis sendiri maupun bagi pembaca.

Surakarta, 7 November 2017

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Judul Laporan
Lembar Pengesahan .......................................................................................
Kata Pengantar ...............................................................................................
Daftar Isi.........................................................................................................
Bab I Pendahuluan ..................................................................................
A. Latar Belakang........................................................................
B. Rumusan Masalah ..................................................................
C. Tujuan Penulisan ....................................................................
Bab II Permasalahan dan Upaya Pengatasannya ......................................
A. Permasalahan ..........................................................................
B. Upaya Pemecahannya .............................................................
Bab III Penutup ..........................................................................................
A. Simpulan .................................................................................
B. Saran .......................................................................................
Daftar Pustaka ................................................................................................

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret dalam


rangka mewujudkan “FKIP Berkarakter Kuat dan Cerdas” menempuh pelbagai cara
melalui kurikulum pendidikan yang diselenggarakan di kancah perkuliahan. Salah
satu upaya yang ditempuh adalah dengan diselenggarakannya kegiatan Magang
kependidikan yang dilaksanakan secara berkala dari tahap magang kependidikan I
sampai dengan magang kependidikan III.

Kegiatan magang kependidikan III merupakan lanjutan dari kegiatan


magang kependidikan I dan magang kependidikan II. Dimana pada magang
kependidikan I, mahasiswa hanya melakukan observasi terhadap guru ketika
mengajar. Observasi dilakukan dengan wawancara intensif dengan guru yang
bersangkutan. Sedangkan pada magang kependidikan II, mahasiswa melakukan
pengamatan terhadap suatu kelas. Dimana mahasiswa sebagai pengamat pasif yang
mengamati keberlangsungan kegiatan pembelajaran. Lain halnya dengan magang
kependidikan III terdiri dari 3 tahap yakni, (1) mengamati guru melakukan proses
pembelajaran di kelas, (2) mengajar terbimbing didampingi guru pamong, dan (3)
kegiatan FGD (Form Group Discussion) yang dihadiri oleh dosen pembimbing,
guru pamong, dan mahasiswa pendidikan Bahasa Indonesia.

Dengan diselenggarakannya kegiatan magang kependidikan terutama


magang kependidikan III, diharapkan akan tercapainya tujuan-tujuan yang
diantaranya (1) Menyiapkan Mahasiswa agar mampu dan terampil dalam menyusun
perangkat pembelajaran (2) Melatih Mahasiswa dalam kemampuan pedagogik dan
keterampilan pembelajaran (3) Melatih Mahasiswa beradaptasi dengan lingkungan
kelas dan sekolah secara nyata (4) Mengembangkan kemampuan sosial dan
interaksi terhadap pelaku akademik dan warga sekolah. Keempat tujuan di atas

1
merupakan bekal yang bersifat urgen bagi Mahasiswa yang kelak berkecimpung di
dunia akademik.

Selain itu, Peraturan Perundang-Undangan Nomor 74 Tahun 2008


mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama
mendidik, mengajar, membimbing, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik pada jalur pendidikan formal di tingkat sekolah menengah pertama dan
menengah atas. Maka dari itu, tujuan proses Magang Pendidikan III sejalan dengan
amanat yang dicanangkan pemerintah dalam Peraturan Perundang-Undangan
tersebut.

Adapun, dalam pelaksanaannya Magang Pendidikan III memiliki beberapa


dasar hukum yuridis yang memayungi diantaranya:

1. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional


2. UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosesn
3. PP Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional
4. Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi
Akademik dan Kompetensi guru

Lebih lanjut, dalam pengimplementasinya Magang III dilengkapi pelbagai


Standar Operasi Pelaksanaan (SOP) sehingga segala sesuatu yang dilakukan sesuai
dengan mekanisme yang berlaku. Beberapa hal pokok dari SOP tersebut meliputi :
Mengajar Terbimbing, Observasi Guru Mengajar, Penyusunan Laporan Kritis, dan
Forum Grup Diskusi (FGD). Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu
berkontribusi secara nyata terhadap aneka aktivitas akademik di lingkungan
sekolah.

Akan tetapi, dalam praktiknya pada tahapan Magang III yang dijalankan
terdapat beberapa persoalan dalam kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran
Bahasa Indonesia yang melibatkan pelaku pendidikan baik itu guru, siswa, dan
aparatus akademik di lingkungan sekolah.

2
Dalam melaksanakan kegiatan magang kependidikan III terutama mengajar
terbimbing, mahasiswa dihadapakan dengan bagaimana mengelola kelas dengan
pendampingan guru pamong, akhirnya ditemukan beberapa permasalah dalam
kegiatan pembelajaran. Masalah-masalah yang akan dibahas dalam laporan ini
terkhusus pada kelas X Otomotif.

Masalah yang terjadi dalam pembelajaran bahasa Indonesia antara lain; (1)
materi pada pelajaran bahasa Indonesia dianggap kurang menarik oleh siswa
sehingga menyebabkan siswa kehilangan motivasi belajar, (2) keterbatasan
penggunaan model dan media pembelajaran oleh guru, dan (3) pengelolaan kelas
yang kurang baik.

Persoalan-persolan yang dijumpai secara khusus terjadi dalam skema


pembelajaran. Pembelajaran dapat dimaknai sebagai proses membelajarkan siswa
(Anitah, 2009). Pembelajaran sendiri meliputi beberapa proses pokok: (1)
Perancangan, (2) Pendahuluan, (3) Penyampaian isi, (4) Penilaian, (5) Evaluasi,
(Suwandi, 2015). Kelima hal tersebut, adalah skema pokok dalam pembelajaran di
kelas.

Oleh karena itu, pada bagian latar belakang kali ini akan disusun beberapa
permasalahan yang dihadapi mahasiswa secara keseluruhan dalam kegiatan
Magang Pendidikan III. Selain itu, juga akan dipaparkan upaya-upaya yang
ditempuh untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut, secara ilmiah dan
menggunakan prosedur-prosedur pendidikan yang bersifat akademis. Dengan
demikian, penulisan laporan kali ini diharapkan memberi sumbangsih secara nyata
bagi para civitas akademica dalam rangka perbaikan ataupun resolusi masalah-
masalah pendidikan yang ada khusunya di SMK BHINNEKA KARYA
SURAKARTA.

3
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah cara agar siswa tertarik dalam proses pembelajaran Bahasa
Indonesia kelas X Otomotif SMK Bhinneka Karya Surakarta?
2. Bagaimanakah model dan media yang seahrusnya digunakan dalam proses
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas X Otomotif SMK Bhinneka Karya
Surakarta?
3. Bagaimanakah pengelolaan kelas yang baik dalam proses pembelajaran
Bahasa Indonesia kelas X Otomotif SMK Bhinneka Karya Surakarta?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui cara agar siswa tertarik dalam proses pembelajaran Bahasa
Indonesia kelas X Otomotif SMK Bhinneka Karya Surakarta.
2. Mengetahui model dan media yang seahrusnya digunakan dalam proses
pembelajaran Bahasa Indonesia kelas X Otomotif SMK Bhinneka Karya
Surakarta..
3. Mengetahui pengelolaan kelas yang baik dalam proses pembelajaran
Bahasa Indonesia kelas X Otomotif SMK Bhinneka Karya Surakarta.

4
BAB II
PERMASALAHAN DAN UPAYA PENGATASANNYA

Pembelajaran merupakan suatu hal yang paling urgen dalam dunia


pendidikan atau akademik. Pembelajaran didefinisikan sebagai suatu proses
interaksi anatara pendidik dan peserta didik dalam rangka mewujudkan visi utama
pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang yaitu menjadi manusia yang
berakhlak mulia, cerdas, dan berkarakter kuat sesuai dengan Pancasila sebagai
ideologi negara Indonesia, (Mulyasa, 2015). Kemudian, dalam pembelajaran
dikenal pelbagai istilah dan terminologi penting yang harus saling bersinergi
dengan baik demi terwujudnya suatu proses pembelajaran yang berkualitas.
Komponen-komponen pembelajaran tersebut meliputi: a) Metode, b)
Teknik, c) Taktik d) Strategi. Metode, merupakan upaya pengimplementasian
strategi yang telah direncanakan dalam pembelajaran. Selanjutnya, teknik adalah
cara seseorang menerapkan metode dalam pembelajaran. Taktik, dapat dimaknai
sebagai gaya seseorang dalam mengimplementasikan pembelajaran. Strategi
pembelajaran merupakan perencanaan dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Adapun, upaya untuk mewujudkan itu semua tentunya tidak mudah.
Beragam aral dan senarai problematika acapkali terjadi dalam proses pendidikan
khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pada pemaparan kali ini akan diuraikan
secara terperinci masalah yang terjadi selama kegiatan pembelajaran di kelas
beserta dengan upaya pengatasan secara komprehensif sehingga tujuan pendidikan
nasional yang tertuang dalam Undang-Undang dapat terselenggara dengan baik.
Sementara itu, senarai persoalan yang muncul adalah persoalan ihwal pelaksanaan
pembelajaran dan persoalan ihwal peserta didik. Hal tersebut, sesuai dengan temuan
jurnal yang disusun oleh Nurpitasari (2013) bahwa persoalan dalam pembelajaran
disebabkan oleh: (1) Proses pembelajaran, (2) Peserta didik.
Berikut ini akan dipaparkan permasalahan yang ada di dalam kegiatan
pembelajaran beserta upaya pengatasannya :

5
A. Masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran
1. Masalah pertama yaitu materi dalam pembelajaran bahasa Indonesia
dianggap kurang menarik sehingga menghilangkan motivasi belajar siswa.
Mulai hilangnya motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia
dapat disebabkan oleh banyak faktor. Menurut Karwati dan Priansa (2104:
181) faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa adalah:
a. Konsep diri
Konsep diri berkaitan dengan bagaimana peserta didik berpikir tentang
dirinya. Apalagi peserta didik percaya bahwa dirinya mampu untuk
melakukan sesuatu, maka peserta didik tersebut akan termotivasu untuk
melakukan hal tersebut.
b. Kondisi peserta didik
Kondisi fisik dan kondisi psikologias peserta didik dangat
mempengaruhi faktor motivasi belajar, sehingga guru harus lebih
cermat melihat kondisi fisik dan psikologis peserta didik.
c. Kondisi lingkungan
Kondisi lingkungan merupakan berbagai unsur yang datang dari luar diri
peserta didik. Unsur-unsur tersebut dapat berasal dari lingkungan,
keluarga, sekolah, maupun sosial, baik yang menghambat atau
mendorong.
d. Upaya guru memotivasi peserta didik
Upaya yang dimaksud adalah bagaimana guru mempersiapkan strategi
dalam memotivasi peserta didik agar mampu mengoptimalkan seluruh
potensi yang ada dalam diri peserta didik
e. Unsur-unsur dinamis dalam belajar
Unsur-unsur dinamis dalam belajar adalah unsur-unsur yang
keberadaannya dalam proses belajar cenderung tidak stabil, kadang-
kadang kuat, kadang-kadang lemah, bahkan hilang sama sekali,
khususnya kondisi-kondisi yang sifatnya kondisional.

Penyebab hilangnya motivasi belajar siswa yang terlihat di kelas X


Otomotif pada awal kegiatan mengajar, metode yang digunakan adalah

6
metode ceramah dan tugas sehingga siswa menganggap remah materi
pembelajaran bahasa Indonesia. Akibatnya, siswa lebih memilih melakukan
aktivitas lain yang menganggu kekondusifan pembelajaran bahasa
Indonesia dalam kelas.

Penyebab lain yang menyebabkan siswa kurang tertarik dengan


materi adalah kurangnya perhatian siswa terhadap proses pembelajaran.
Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang
memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa
tidak mengerti akan bahan yang akan diberikan guru (Djamarah & Zain,
2010: 161). Selain itu, materi pelajaran bahasa Indonesia menurut siswa
membosankan karena terlalu monoton dan menuntut siswa untuk terus
membaca dan menulis.

2. Masalah kedua yang dihadapi dalam pembelajaran bahasa Indonesia di


kelas X Otomotif yaitu keterbatasan penggunaan model dan media
pembelajaran.
Model pembelajaran bisa diartikan sebagai prosedur sistematis
dimana kita mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar, atau suatu pendekatan yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran
(Munawaroh: 2014). Model pembelajaran dapat dipahami sebagai
kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dan
terencana dalam mengorganisasikan proses pembelajaran peserta didik
sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif (Karwati &
Priansa, 2014: 264). Tetapi penggunaan model pembelajaran yang kurang
variatif menjadikan siswa bosan dan memilih melakukan aktivitas lainnya
ketimbang mendengarkan guru menyampaikan materi. Pada suatu kondisi
tertentu anak didik merasa bosan dengan metode ceramah, disebabkan
mereka harus dengan setia mendengarkan penjelasan guru tentang suatu
masalah (2010: 158).
Metode pembelajaran yang digunakan kebanyakan adalah metode
ceramah sehingga siswa bosan dengan pelajaran bahasa Indonesia. Metode

7
belajar yang digunakan tersebut kurang melibatkan keaktifan siswa di kelas.
Siswa hanya duduk mendengarkan guru dan mengerjakan tugas. Siswa
kurang mengomunikasikan hasil pekerjaannya sehingga tugas hanya dinilai.
Hal ini menyebabkan siswa hanya berpikir untuk mendengarkan dan
mengerjakan tugas tanpa ada keinginan untuk ikut aktif dalam kelas.

3. Masalah ketiga dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu pengelolaan


kelas yang sulit dilakukan.
Pengelolaan kelas adalah salah satu tugas yang tidak pernah
ditinggalkan oleh guru. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan
lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan
pengajaran secara efektif dan efisien (2010: 174). Manajemen kelas adalah
usaha sadar untuk merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan,
serta melaksanakan pengawasan atau supervisi terhadap program dan
kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat
berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga segala potensi
peseta didik mampu dioptimalkan (Karwati & Priansa, 2014: 6).
Menurut Rudolf Dreikurs dan Pearl Cassel dalam Rohani (2010:
145) masalah pengelolan kelas dibagi menjadi empat, yaitu:
a. Tingkah laku yang ingin mendapatkan perhatian orang lain
(attention getting behaviors). Misalnya membadut di kelas (aktif),
atau dengan berbuat serta lamban sehingga perlu mendapatkan
pertolongan ekstra (pasif).
b. Tingkah laku yang ingin menunjukkan kekuatan (power seeking
behavoirs). Misalnya selalu mendebat atau kehilangan kendali
emosional –marah, menangis (aktif), atau selalu “lupa” pada aturan-
aturan penting di kelas.
c. Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking
behaviours), misalnya menyakiti orang lain seperti mengatai,
memukul, mengigit, dan sebagainya (kelompok ini tampaknya
kebanyakan dalam bentuk aktif/pasif)

8
d. Peragaan ketidakmampuan, yaitu dalam bentuk sama sekali
menolak untuk mencoba melakukan apa pun karena yakin bahwa
hanya kegagalan yang menjadi bagiannya.

Pengelolaan kelas masih menjadi masalah yang sering terjadi di


kelas X Otomotif. Ketika penyampaian materi banyak siswa yang memilih
untuk berbicara dengan temannya bahkan tidur. Keadaan kelas yang seperti
ini selain menjadikan siswanya malas mengikuti pelajaran, juga membuat
siswa tidak memahami materi yang disampaikan secara mendalam.
Akibatnya, ketika penugasan diskusi kelompok, siswa berulang kali
meminta dijelaskan instruksi tugas dan beberapa siswa bahkan menanyakan
pertanyaan yang sama.

B. Upaya penyelesaian masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran


1. Masalah pertama yaitu siswa kehilangan motivasi belajar sehingga materi
pembelajaran bahasa Indonesia dianggap kurang menarik oleh siswa.
Motivasi belajar berasal dari kata latin ímovere´yang berarti
dorongan, daya penggerak atau kekuatan yang menyebabkan suatu tindakan
atau perbuatan (Karwati, 2014: 165). Menurut Karwati dan Priansa motivasi
merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang
menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan
belajar serta memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan
pembelajaran yang dikehendaki oleh peserta didik dapat tercapai (2014:
157).
Tantangan terberat seorang guru adalah untuk mempertahankan
motivasi belajar siswa terhadap bahasa Indonesia. Banyak siswa yang
merasa bosan terhadap materi bahasa Indonesia karena selalu menuntut
siswa untuk membaca dan menulis. Untuk membangkitkan motivasi siswa,
guru harus memahami terlebih dahulu fungsi motivasi belajar itu sebagai
proses sebagai berikut :
a. Memberi semangat dan mengaktifkan peseta didik supaya tetap
berminat dan siaga

9
b. Memusatkan perhatian peserta didik pada tugas-tugas tertentu yang
berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar
c. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil
jangka panjang (Rohani, 2010: 13).
Guru juga harus memahami terlebih dahulu karakter dan tingkat
motivasi belajar siswa. Setiap siswa dalam satu kelas memiliki perbedaan
motivasi belajar. Apalagi kelas yang memiliki lebih banyak siswa. Bagi
anak yang selalu didorong oleh orang tuanya untuk belajar giat, maka motif
berprestasi anak akan meningkat. Sebaliknya orang tua yang tak pernah
sukses, malas, dan sibuk ada kemungkinan anak akan kendor motif
berprestasinya (Wilis, 2013: 72).
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam
kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya.
Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka/nilai yang
baik. Sehingga siswa biasanya yang dikerjakan adalah nilai ulangan atau
nilai-nilai pada raport angkanya baik-baik. Angka yang baik ini merupakan
motivasi belajar yang kuat. Namun harus diingat oleh guru bahwa
pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang
sejati, hasil belajar yang bermakna.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi, tetapi tidaklah selalu
demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan
menarik bagi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk suatu
pekerjaan tersebut.
3. Saingan/kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk
mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun
persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Memang
unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau

10
perdagangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk meingkatkan
kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya
tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan
mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang
cukup penting. Seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk
mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya. Penyelesaian
tugas dengan baik adalah simbol kebanggaan dan harga diri.. Para siswa
akan belajar dengan keras bisa karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa menjadi giat belajar kalu mengetahui akan ada ulangan.
Oleh karna itu, memberi ulangan ini juga merupakan sarana motivasi.
Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering karena bisa
membosankan dan bersifat rutinitas. Dalam hal ini guru juga harus terbuka,
maksudnya kalau akan ulangan harus diberitahukan kepada sisanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan,
akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa
grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk
terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses menyelesaikan tugas dengan baik,
perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk yang positif dan sekaligus
merupakan motivasi yang baik.
8. Hukuman
Hukuman sebagai yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat
dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami
prinsip-prinsip pemberian hukuman (Sardiman, 2014: 93).

11
Dari kedelapan bentuk dan cara tersebut, yang efektif digunakan
dalam pembelajaran khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas X
Otomotif adalah memberi nilai , mengetahui hasil, pujian, serta hukuman.
Dengan diiming-imingi akan memberi nilai apabila mereka selesai mencatat
ataupun mengerjakan soal, maka siswa akan lebih bersemangat dalam
menulis dan mengerjakan. Tidak ada siswa yang melakukan aktifitas lain
selain menulis dan mengerjakan dan mereka mengerjakannya dengan
tenang tanpa mengganggu satu sama lainnya.
Selain itu, setiap siswa selesai mengerjakan selalu diberikan kata-
kata pujian dan motivasi. Hal ini berfungsi untuk meningkatkan motivasi
mereka dalam mengerjakan dan juga menghilangkan rasa penat dan lelah
mereka setelah membaca, menulis, dan mengerjakan catatan maupun tugas
yang diberikan oleh guru. Pujian juga diperlukan agar siswa terus
bersemangat dan tidak mengeluh ketika diberi tugas yang lain.
Hukuman juga merupakan cara yang efektif untuk diterapkan dalam
proses pembelajaran. Hukuman yang diberikan haruslah memberi efek jera
bagi mereka yang tidak mau mengerjakan atau menulis tugas yang diberikan
oleh guru. Contoh hukuman yang diberikan seperti menulis lebih dari satu
kali, bisa dua kali bahkan lebih tergantung tepat atau tidaknya mereka
mengumpulkan tugas.
Dengan ketiga cara tersebut, sudah terbukti mampu meningkatkan
motivasi belajar siswa, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di
kelas X Otomotif. Dibuktikan dengan 95% siswa mengerjakan dengan tepat
waktu dan jawaban yang ditulis juga 85% benar. Catatan merekapun tampak
rapi dan jelas.

2. Keterbatasan penggunaan model dan media pembelajaran.


Selama awal mengajar terbimbing di kelas, model dan media yang
digunakan adalah model dan media pembelajaran yang konvensional seperti
ceramah dan penugasan. Untuk mengatasi masalah ini, diharuskan

12
menggunakan model pembelajaran yang inovatif dan beragam. Dalam
menentukan model pembelajaran yang cocok untuk kelas, guru harus
memperhatikan aspek yang berkaitan dengan orientasi pembelajaran berupa
hasil yang menjadi tujuan pembelajaran yang harus dicapai, isi/materi yang
akan disampaikan kepada siswa sesuai dengan indikator dan tujuan
pembelajaran, dan proses di mana guru menitikberatkan kepada proses
pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.
Model pembelajaran yang digunakan dalam materi Teks Eksposisi
dan Teks Anekdot yang sesuai adalah Cooperative Learning atau
pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif melatih siswa untuk
saling berbagi pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggungjawab, dll.
Pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara
berkelompok untuk bekerja sama saling membantu, mengkonstruksi
konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri.
Penerapannya dengan guru membagi siswa menjadi beberapa
kelompok dimana satu kelompok berisi 2-3 orang. Setelah itu siswa diberi
teks eksposisi yang acak dan kemudian disusun serta dianalisis struktur serta
unsur kebahasaannya. Dengan demikian, siswa akan lebih aktif dan lebih
bersemangat serta hasil yang diperolehpun tidak mengecewakan. Jadi siswa
tidak hanya mendengarkan guru ceramah, melainkan juga siswa aktif dalam
proses pembelajaran.
Selain mengubah model pembelajaran konvensional menjadi
inovatif, media pembelajaran yang digunakan juga perlu diubah. Bahasa
Indonesia selama ini dianggap jarang menggunakan media pembelajaran.
Hal ini karena materi bahasa Indonesia kebanyakan membaca dan menulis.
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dan merangsang terjadinya proses belajar pada si
pembelajar (siswa) (Aqib, 2013: 50).
Media pembelajaran yang membantu penyampaian materi dan
mengonkretkan pemahaman siswa adalah dengan power point. Penggunaan
power point membuat siswa terfokuskan perhatiannya ke layar yang

13
menampilkan materi. Selain itu, siswa juga ditugasi untuk mencatat apa
yang tertulis di power point agar nantinya siswa tidak lupa akan materi yang
disampaikan oleh guru. Dengan bantuan media power point, guru dan siswa
sama-sama diuntungkan. Guru tidak perlu banyak ceramah dan siswa tidak
bosan mendengar ceramah dari guru.
Media lain yang digunakan adalah berupa video. Video yang
diberikanpun tidak asal-asalan melainkan sesuai dengan materi pembahasan
yaitu teks anekdot. Video yang diberikan berupa video-video anekdot.
Media video dapat dikatakan cukup efektif. Hal ini dikarenakan siswa
menjadi tenang dan fokus memperhatikan video. Siswapun juga lebih
antusias ketika dijanjikan akan diputarkan video. Setelah diputarkan video
siswa lebih bersemangat dalam menerima pelajaran selanjutnya.
3. Pengelolaan kelas yang sulit dilakukan menjadi masalah yang sering terjadi
dalam pembelajaran bahasa Indonesia.
Manajemen kelas yang efektif perlu memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
a. Kelas merupakan sistem yang diorganisasi untuk tujuan tertentu,
yang dilengkapi dengan tugas-tugas dan dipimpin serta diarahkan
oleh guru.
b. Guru merupakan tutor dan teladan bagi semua peserta didik yang
ada di kelas, bukan hanya satu peserta didik pada waktu tertentu.
c. Kelompok belajar yang ada di kelas mempunyai perilaku tertentu
yang kadang berbeda dengan perilaku kelompok maupun individu
lainnya di dalam kelas. Oleh karena itu, maka kelompok-kelompok
yang ada di kelas perlu mendapatkan perhatian.
d. Kelompok belajar yang ada di kelas memberikan pengaruh terhadap
individu yang menjadi anggotanya. Pengaruh baik dapat
dikembangkan, namun pengaruh buruk perlu dibendung oleh guru
dengan cara memberikan bimbingan.
e. Dalam belajar dan pembelajaran, praktik guru cenderung terpusat
pada hubungan guru dan peserta didik. Keterampilan guru yang

14
semakin meningkat dalam mengelola individu dalam kelompok
belajar akan makin meningkatkan kepuasan individu yang ada di
kelas.
f. Struktur kelompok belajar, pola komunikasi belajar yang terbentuk,
dan kesatuan kelompok belajar ditentukan oleh keterampilan
manajerial guru dalam mengelola kelompok belajar yang ada di
kelas.
g. Struktur kelompok belajar, pola komunikasi kelompok belajar yang
terbentuk, dan kesatuan kelompok belajar ditentukan oleh
keterampilan guru sebagai simbol pemersatu di kelas (Karwati &
Priansa, 2014: 35).
Manajemen kelas merupakan kegiatan atau tindakan guru dalam
rangka penciptaan kelas yang kondusif dan efektif bagi berlangsungnya
proses belajar mengajar antara guru dengan peserta didik. Di dalam kelas
bahasa Indonesia, guru memiliki wewenang untuk memberi hukuman
kepada siswa yang menganggu kekondusifan kelas ataupun memberi pujian
kepada siswa yang berlaku kondusif selama pembelajaran.
Hukuman yang diberikan kepada siswa yang menganggu proses
belajar mengajar dapat dengan berbagai cara. Seperti :
1. Apabila siswa tidak mau mencatat dan menggangu teman
lainnya yang niat mencatat, diberi hukuman menulis sebanyak
2x atau lebih.
2. Apabila siswa tidak mau mendengarkan ketika temannya
membaca diberi hukuman suruh melanjutkan membaca di depan
kelas.
3. Apabila siswa tidak mau mengerjakan tugas, maka guru
menghampiri siswa tersebut dan menanyakan kenapa siswa
tidak mau mengerjakan. Jika sudah diingatkan hingga 2x dan
tidak ada perubahan maka siswa mengerjakan tugas sebanyak
2x.

15
4. Apabila siswa ribut disaat guru menjelaskan, maka hukuman
yang diberikan adalah siswa tersebut maju ke depan dan
kemudian disuruh berbicara mengenai hal apa saja.

Tak hanya bagi siswa yang tidak kondusif, siswa yang kondusif juga
mendapat perlakuan lebih. Seperti memberikan nilai yang sepantasnya,
memberikan kata-kata motivasi, dan memberikan doa-doa yang menambah
semangat mereka seperti semoga diterima di perusahaan yang diingkan,
semoga diterima di universitas yang diinginakan, semoga jodohnya baik,
dan lain sebagainya.

Ada kalanya ketika siswa mulai bosan dengan pelajaran yang


diberikan, maka siswa diajak untuk belajar di luar ruangan kelas. Seperti
perpustakaan, serambi masjid, atau di sekitar sekolah yang dapat menunjang
keberhasilan ketercapaian kompetensi.

16
BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Secara garis besar terdapat tiga masalah yang ditemui selama
kegiatan magang kependidikan III khususnya dalam proses pembelajaran
Bahasa Indonesia di SMK BHINNEKA KARYA SURAKARTA. Pertama,
materi pada pelajaran bahasa Indonesia dianggap kurang menarik oleh siswa
sehingga menyebabkan siswa kehilangan motivasi belajar. Keuda,
keterbatasan penggunaan model dan media pembelajaran oleh guru, dan
Ketiga, pengelolaan kelas yang kurang baik. Masalah-masalah tersebut juga
telah diikuti dengan upaya-upaya penyelesaian seperti yang telah
dipaparkan di atas.

B. SARAN
Laporan kritis ini berisi mengenai masalah pembelajaran yang
terjadi di SMK Bhinneka Karya Surakarta dan solusi untuk menyelesaikan
masalah tersebut. Penulis berharap laporan kritis ini dapat membantu pihak
sekolah dalam perbaikan pembelajaran maupun sarana dan prasarana dalam
sekolah. Penulis juga berharap laporan kritis ini dapat digunakan sebagai
bahan rujukan dalam penulisan laporan kritis serupa. Penting untuk
mengetahui masalah yang ada dalam sekolah. Tetapi alangkah lebih baiknya
sebagai calon guru, tidak hanya mengkritik masalah-masalah tersebut, tetapi
juga ikut berpikir kritis untuk memperbaiki dan menemukan solusi yang
bisa digunakan untuk memperbaiki masalah yang ada dalam sekolah. Selain
itu, peningkatan kerja sama antara UNS dengan sekolah mitra dalam hal ini
SMK BHINNEKA KARYA SURAKARTA amat penting dalam kerangka
pengembangan pendidikan yang lebih baik ke depan.

17