Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM

ENERGI TERBARUKAN

PENGERINGAN DENGAN SISTEM PENGERING ENERGI SURYA


TIPE KABINET

Oleh:
Alif Violeta Efrilla
NIM A1C015015

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengering tenaga surya (solar dryer) adalah cara pengeringan dengan

memanfaatkan energi matahari menggunakan kolektor sebagai penyerap panas

yang menjadikan penggunaan energi matahari yang lebih maksimal .

Pengeringan adalah proses pengurangan kadar air yang relatif kecil secara

terus-menerus pada suatu bahan. Sistem pengering tenaga surya terdiri dari dua

bagian utama yaitu kolektor surya dan ruang pengering

Kolektor matahari merupakan sebuah alat yang mampu menyerap sinar

radiasi matahari, sehingga dapat memanaskan udara yang ada di dalam ruang

kolektor tersebut. Panas di dalam ruang kolektor dapat digunakan untuk berbagai

keperluan salah satunya adalah untuk pengeringan di dalam bidang pertanian dan

lainya. Penyerapan energi radiasi surya memerlukan peralatan khusus yang terdiri

dari dua macam yaitu pengumpul pelat datar dan pengumpul konsentrator.

Berdasarkan dari media pembawa energi panas, kolektor dibagi menjadi kolektor

fluida (air dan minyak) dan kolektor udara.

Metode pengeringan dengan energi matahari secara umum terbagi atas dua,

yaitu pengeringan sinar matahari (direct sun drying), dimana produk yang akan

dikeringkan langsung dijemur di bawah sinar matahari. Dan metode pengeringan

surya (solar drying), dimana produk yang akan dikeringkan diletakkan di dalam

suatu alat pengering.


Untuk melakukan pengeringan pada suatu bahan maka perlu diberikan

panas untuk menguapkan air ke udara. Untuk mempercepat pengeringan dengan

energi matahari maka perlu dilakukan pembuatan alat pengering dengan model

tertentu. Desain ruang pengering surya adalah bagian paling penting dari sistem

pengeringan, karena aliran udara melalui ruang juga tergantung pada desain yang

berpengaruh terhadap arah aliran udara pada ruang pengering.

Energi matahari merupakan sumber energi yang tidak terbatas. Penggunaan

sumber panas matahari semakin lama dipastikan terus meningkat hal ini

dikarenakan semakin langka dan semakin meningkatnya biaya jenis energi tak

terbarukan.

Proses pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung

dalam bahan pangan, menurunkan aktifitas air dalam bahan pangan tersebut dan

menghambat aktifitas mikroba didalamnya sehingga dapat meningkatkan

keawetan produk, serta untuk tujuan ekonomi tertentu seperti mengurangi bobot,

meningkatkan cita rasa produk, maupun yang lain

B. Tujuan

1. Mengetahui pemanfaatan energi surya

2. Mengetahui bagian-bagian dan cara kerja pengering energi surya tipe kabinet.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Energi merupakan sumber tenaga untuk melakukan usaha atau suatu

aktivitas untuk menggerakkan suatu benda, oleh karena itu tidak ada aktivitas di

alam raya ini bergerak tanpa sumber energi. Energi matahari merupakan salah

satu sumber energi yang mempunyai jumlah yang tidak terbatas sehingga

merupakan sumber cadangan energi terbesar dibumi. Oleh sebab itu, energi

matahari selalu mendapat perhatian untuk diteliti dan dikembangkan dalam

berbagai tujuan (Yani, 2009).

Pengering surya memanfaatkan energi matahari sebagai energi utama dalam

proses pengeringan dengan bantuan kolektor surya. Ada tiga klasifikasi utama

pengering surya (Imre., 2006) yaitu :

1. Solar Natural Dryer, adalah pengering surya dengan alami tanpa menggunakan

bantuan peralatan luar untuk mengalirkan fluida kerja, yang termasuk dalam

kelompok ini adalah tipe kabinet, tipe tenda, tipe rumah kaca, dan tipe pengering

cerobong, seperti ditunjukan gambar 2.1.

2. Semiartifical Solar Dryer, adalah pengering surya dengan konveksi paksa,

memanfaatkan bantuan peralatan luar untuk mengalirkan fluida kerja, salah satu

yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah Room Dryer.

3. Solar-Assisted Artificial Dryer, adalah pengering surya yang memanfaatkan

lebih dari satu sumber energi matahari. Sumber energi lain hanya bersifat sebagai

energi pembantu.r
Salah satu pemanfaatan dari energi radiasi matahari yang umum digunakan

adalah sebagai alat pengering surya. Sistem pengering tenaga surya tipe kabinet

adalah suatu sistem pengering yang sesuai digunakan untuk mengeringkan hasil

pertanian seperti biji kopi, pisang, dan singkong. Sistem pengeringan ini lebih

menguntungkan dibandingkan dengan cara konvensional karena bahan akan

terhindar dari kotoran luar, debu, tiupan angin kencang, dan hujan Alat pengering

surya terbagi dari beberapa jenis tergantung pada model spesifikasi tipe

rancangannya. Salah satu model rancangan adalah tipe kabinet berpenutup miring

yang merupakan salah satu contoh pemanfaatan energi surya yang dapat

diperbaharui (Thamrim, I. 2011).

Alat pengering surya ini bersifat ramah lingkungan, karena tidak

membutuhkan peralatan seperti listrik, generator ataupun bahan bakar lainnya

maupun biomassa. Alat pengering surya tipe kabinet merupakan alat yang hanya

mengandalkan pasokan seluruh sumber energinya dari matahari, karena wilayah

Indonesia memiliki potensi energi matahari yang cukup besar sebagai negara

tropis. Alat pengering ini terdiri dari dua bagian yaitu kolektor surya dan ruang

pengering. Ruangan pengering ini dihubungkan dengan kolektor pelat datar yang

berfungsi sebagi pengubah energi surya menjadi bentuk energi termal yang

terkumpul didalam ruangan pengering. Udara panas yang relatif ringan dibanding

udara di ruang pengering mengalir ke ruang pengering untuk menguapkan air

pada bahan. Udara pada ruang pengering mengalir ke bagian atas ruang pengering

dan keluar melalui celah ventilasi udara Pada proses pembuatan dan pengujian
alat pengering surya tipe kabinet berpenutup miring menggunakan kaca

transparan.
III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Pengering energi surya tipe kabinet

2. Termometer raksa dan termometer inframerah

3. Termometer bola basah dan bola kering

4. Pyranometer

5. Multimeter

6. Nampan

7. Gula semut

8. Timbangan

9. Oven

10. Cawan

B. Prosedur Kerja

Praktikum ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu :

1. Tahap persiapan

Alat pengering diletakkan di bawah sinar matahari langsung mulai pukul

08.00 sampai pukul 16.00 dan nampan diisi dengan produk yang dikeringkan

berupa gula semut sebanyak 1 kg.

2. Pelaksanaan Pengamatan

Mengukur intensitas radiasi surya, suhu kolektor, suhu udara di inlet, suhu

udara di outlet, suhu udara di dalam ruang pengering, suhu udara di luar alat

pengering. Pengukuran secara berkala setiap 15 menit selama 240 menit.


Kemudian dilakukan pengukuran kadar air basis basah sebelum dan sesudah

pengeringan, dan massa akhir produk setelah dikeringkan.

3. perhitungan

Perhitungan yang dilakukan yaitu iradiasi surya.

Tabel 1. Tabel pengamatan hasil praktikum


Waktu Suhu RH Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Suhu Irradiasi Irradiasi cuaca

lingkungan lingkungan kolektor udara udara udara bahan nampan pyranometer surya
o o
C % C inlet outlet dalam (mV) (W/m2)
o o 0
BK BB C C C
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Tabel Pengamatan Praktikum Shif 1 (Kelompok 1, 3, 5, 7, 9)


Wak Suhu RH Suhu Suhu Suhu Suhu Ipm I Cuaca
tu Lingkungan Ling Kole udar udar udar (mv) (W/M
ºC kun ktor a a a ^2)
gan ºC inlet outle dala
% ºC t ºC m ºC

BK BB
0 2,80 2,75 92 36,1 27,5 30 32 2,7 385,7 Berawan
15 29 28,5 92 40,2 28 31 31 4,1 585,7 Cerah
berawan
30 29 28 92 39,4 29 32 32,5 10 1428,6 Berawan
45 29,5 27,5 92 38,7 29 32 33 3,8 542,9 Berawan
60 29 28 92 29 28,5 2,1 300 Berawan
75 29 28,5 92 32,5 29 28 32,5 1,7 243,9 Mendun
g
90 29 28,5 92 33,4 31,5 28 32,5 2,1 300 Berawan
105 29 28 92 29,4 30 28 31,5 1,5 214,3 Berawan
120 28 27,5 92 33,5 29,5 28 35 4,5 642,9 Berawan

Tabel 2. Tabel pengamatan suhu bahan dan suhu nampan


Suhu bahan Suhu nampan

1 2 3 1 2 3
37,3 34,3 35,8 32,5 36,0 33,9
40,4 35,2 39,9 35,1 35,3 37,9
46,3 36,1 45,9 42,9 40,5 44,8
41,0 37,1 42 41,7 37,4 39,8
35 35,9 36,3 35 35,9 36,3
32,4 32,2 33,5 31,9 31,7 30,8
35,3 34,4 35,1 33,3 34,3 34,9
32,8 31,9 33,1 31,2 30,1 32,6
37,2 37,3 37,6 34,1 34,9 35,8
35,1 36,5 34,2 35,1 36,5 34,2

Perhitungan Iradiasi Surya Shift 1 (Kelompok 1,3,5,7,9) :

Rumus Iradiasi Surya:


1000
I= 𝑥 lpm
7

Keterangan :

I = Iradiasi surya (W/m2).

Lpm =Iradiasi surya pyranometer (mV).

1. Pada waktu ke 0
1000
I= 𝑥 lpm
7

1000
I= 𝑥 2,7
7

I = 385,7 W/m2.

2. Pada waktu ke 15
1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 4,1
7

I = 585,7 W/m2.

3. Pada waktu ke 30
1000
I = x Ipm
7
1000
I = x 10
7

I = 1428,6 W/m2.

4. Pada waktu ke 45
1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 3,8
7

I = 542,9 W/m2.

5. Pada waktu ke 60
1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 2,1
7

I = 300 W/m2.

6. Pada Waktu ke 75
1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 1,7
7

I = 242,86 W/m2.

7. Pada waktu ke 90
1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 2,1
7

I = 300 W/m2.

8. Pada waktu ke 105


1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 1,5
7
I = 214,3 W/m2.

9. Pada waktu ke 120


1000
I = x Ipm
7

1000
I = x 4,5
7

I = 642,9 W/m2.

10. Pada waktu ke 135


1000
I = x Ipm
7

1000
I = x
7

I = W/m2.

11. Pada waktu ke 150


1000
I = x Ipm
7

1000
I = x
7

I = W/m2.

Perhitungan kadar air (Kelompok 1)

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


Rumus : Kadar Air = x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙

1. Kelompok 1

Berat cawan = 4,0453

Berat bahan awal = 4,6299

Berat bahan akhir + cawan = 8,4011

Berat bahan akhir = 8,4011 - 4,0453 = 4,,3558

𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


Ka = x 100%
𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙
4,6299−4,3558
Ka = x 100%
4,6299

Ka = 0,06 x 100 %

Ka = 6 %

Tabel 3. Tabel Pengamatan Praktikum Shift 2 (Kelompok 2, 4, 6, 8)


Waktu Suhu RH Suhu Suh Suhu Suh Ipm I Cuaca
Lingkung Ling Kole u udara u (mv) (W/M
an ºC kun ktor udar outlet udar ^2)
gan ºC a ºC a
% inlet dala
ºC m ºC
BK BB
0 29 28 92 42,9 28,1 31 33 4,7 671,4 berawan
3
15 30 28 85 30,3 28 28 31 1,4 200 mendun
g
30 31 29 93 31,1 29 29 31 1,2 171,4 mendun
3 g
45 28 27 92 27,8 28 28 30 0,8 114,2 mendun
9 g

Tabel 4. Tabel pengamatan suhu bahan dan suhu nampan


Suhu bahan Suhu nampan

1 2 3 1 2 3
41,5 38,8 42,4 35,8 37,8 42,3
32,7 32,6 32,1 31,3 31,1 31,5
32,6 33 32,9 29 30 29,7
29,6 29 28,7 27 27 26,8
Alat-alat yang digunakan pada praktikum acara 1 adalah sebagai berikut :

1. Pengering energi surya tipe kabinet

Gambar 1. Pengering energi surya tipe kabinet.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari pengering energi surya tipe kabinet adalah untuk mengeringkan

suatu bahan dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai energi untuk

mengeringkan bahan, dimana radiasi surya di serap oleh kolektor.

2. Termometer Inframerah

Gambar 2. Termometer Inframerah.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)
Fungsi dari termometer inframerah adalah untuk mendeteksi temperature

secara optik selama objek diamati, radiasi energi sinar inframerah diukur dan di

sajikan sebagai suhu.

3. Pyranometer

Gambar 3. Pyranometer.
(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari pyranometer adalah untuk mengukur radiasi matahari yang jatuh

pada permukaan horizontal dalam watt per meter persegi. Dibantu dengan adanya

multimeter yang berfungsi untuk mengatur arus atau tegangan.

4. Multimeter

Gambar 4. Multimeter.
(Sumber Dokumentasi Pribadi)
Fungsi multimeter adalah untuk mengukur tegangan arus listrik dan

hambatan dalam satu unit.

5. Termometer Bola Basah dan Bola Kering

Gambar 5. Termometer Bola Basah dan Bola Kering.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari termometer bola basah dan bola kering adalah untuk mengukur

suhu atau temperature dari suatu tempat dilingkungan tertentu.

6. Termometer Raksa

Gambar 6. Termometer Raksa.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari termometer raksa adalah untuk mengukur suhu (temperature)

ataupun perubahan suhu pada manusia dan hewan.


7. Timbangan Analitik

Gambar 7. Timbangan Analitik.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari timbangan atau neraca analitik adalah alat laboratorium yang

digunakan untuk menimbang sejumlah bahan dalam ukuran miligram (sangat

kecil bobotnya), dan dapat membantu peneliti dalam mendapatkan sejumlah kecil

takaran bahan kimia.

8. Timbangan Digital

Gambar 8. Timbangan Digital


(Sumber Dokumentasi Pribadi)
Fungsi dari timbangan digital adalah alat laboratorium yang digunakan
untuk menimbang bahan yang akan digunakan dan untuk membantu mengukur
berat dengan cara kalkulasi secara otomatis.

9. Desikator

Gambar 9. Desikator
(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari desikator adalah untuk mendinginkan bahan atau alat gelas

setelah dipanaskan dan akan ditimbang dan mengeringkan bahan atau menyimpan

zat atau bahan yang akan dilindungi terhadap pengaruh kelembapan udara.

10. Nampan

Gambar 10. Nampan


(Sumber Dokumentasi Pribadi)
Fungsi dari nampan adalah digunakan untuk tempat bahan yang akan

dikeringkan atau sebagai wadah gula semut yang akan dikeringkan.

11. Oven

Gambar 10. Oven.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)
Fungsi dari oven adalah sebuah peralatan berupa ruang termal terisolasi

yang digunakan untuk pemanasan, pemanggangan (baking), atau pengeringan

suatu bahan.

12. Cawan

Gambar 12. Cawan.


(Sumber Dokumentasi Pribadi)
Fungsi dari cawan adalah digunakan untuk mereaksikan zat dalam suhu

tinggi, mengabukan kertas saring, menguraikan endapan dalam gravimetrik

sehingga menjadi bentuk stabil.

13. Photovoltaic

Gambar 13. Photovoltaic


(Sumber Dokumentasi Pribadi)

Fungsi dari Photovoltaic adalah sebuah alat yang tersusun dari material

semikonduktor yang dapat mengubah sinar matahari menjadi tenaga listrik secara

langsung.
B. Pembahasan

Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai mencapai

kadar air tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan produk akibat

aktivitas biologi dan kimia. Pengeringan pada dasarnya merupakan proses

perpindahan energy yang digunakan untuk menguapkan air yang berada dalam

bahan, sehingga mencapai kadar air tertentu agar kerusakan bahan pangan dapat

diperlambat. Kelembapan udara pengering harus memenuhi syarat yaitu sebesar

55 – 60% (Pinem, 2004).

Menurut Hasibun (2005) bahwa bahasa pengeringan merupakan

penghidratan, yang berarti menghilangkan air dari suatu bahan. Proses

pengeringan atau penghidratan berlaku apabila bahan yang dikeringkan

kehilangan sebahagian atau keseluruhan air yang dikandungnya. Proses utama

yang terjadi pacta proses pengeringan adalah penguapan. Penguapan terjadi

apabila air yang dikandung oleh suatu bahan teruap, yaitu apabila panas diberikan

kepada bahan tersebut. Panas ini dapat diberikan melalui berbagai sumber, seperti

kayu api, minyak dan gas, arang baru ataupun tenaga surya.

Ditambahkan penjelasan menurut Juliana dan Somnaikubun (2008),

pengeringan adalah suatu metode untuk mengeluarkan atau menghilangkan

sebagian besar air dari suatu bahan melalui penerapan energi panas. Pengeringan

dapat dilakukan dengan memanfaatkan energi surya (pengeringan alami) dan

dapat juga dilakukan dengan menggunakan peraiatan khusus yang digerakkan

dengan tenaga listrik Proses pengeringan bahan pangan dipengaruhi oleh luas

permukaan bahan pangan, suhu pengeringan, aliran udara, tekanan uap air dan
sumber energi yang digunakan serta jenis bahan yang akan dikeringkan. Nilai gizi

makanan yang kering akan lebih rendah jika dibandingkan dengan makanan yang

segar. Pengeringan akan menyebabkan tejadinya perubahan warna, tekstur dan

aroma bahan pangan. Pada umunmya bahan pangan yang diikeringkan akan

mengalami pencoklatan (browning) yang disebabkan oleh reaksi-reaksi non-

enzimatik. Pengeringan menyebabkan kadar air bahan pangan menjadi rendah

yang juga akan menyebabkan zat-zat yang terdapat pada bahan pangan seperti

protein, lemak, karbohidrat dan mineral akan lebih terkonsentrasi. Vitamin -

vitamin yang terdapat dalam bahan pangan yang dikeringkan akan mengalami

penurunan mutu, hal ini disebabkan karena ada berberapa vitamin yang tidak

tahan terhadap suhu tinggi. Proses pengeringan yang berlangsung pada suhu yang

sangat tinggi akan menyebabkan terjadinya case hardening, yaitu bagian

permukaan bahan pangan sudah kering sekali bahkan mengeras sedangkan bagian

dalamnya masih basah.

Pengeringan dengan sinar matahari merupakan jenis pengeringan tertua, dan

hingga saat ini termasuk cara pengeringan yang populer di kalangan petani

terutama di daerah tropis. Teknik pengeringan dilakukan secara langsung maupun

tidak langsung (dikeringanginkan), dengan rak-rak maupun lantai semen atau

tanah serta penampung bahan lainnya.

Keuntungan dan kerugian pengeringan dengan sinar matahari :

1. Keuntungan pengeringan dengan sinar matahari :

a) enersi panas murah dan berlimpah

b) tidak memerlukan peralatan yng mahal


c) tenaga kerja tidak perlu mempunyai keahlian tertentu

2. Kerugian pengeringan dengan sinar matahari :

a) tergantung dari cuaca

b) jumlah panas matahari tidak tetap

c) kenaikan suhu tidak dapat diatur, sehingga waktu penjemuran tidak

dapat ditentukan dengan tepat.

d) kebersihan sukar untuk diawasi

Pengeringan dengan pemanas buatan

Pengeringan dengan pemanas buatan mempunyai beberapa tipe alat dimana

pindah panas berlangsung secara konduksi atau konveksi, meskipun beberapa

dapat pula dengan cara radiasi. Alat pengering dengan pindah panas secara

konveksi pada umumnya menggunakan udara panas yang dialirkan, sehingga

enersi panas merata ke seluruh bahan. Alat pengering dengan pindah panas secara

konduksi pada umumnya menggunakan permukaan padat sebagai penghantar

panasnya.

Keuntungan dan kerugian pengeringan buatan :

1. Keuntungan pengeringan buatan :

a) suhu dan aliran udara dapat diatur

b) waktu pengeringan dapat ditentukan dengan tepat

c) kebersihan dapat diawasi

2. Kerugian pengeringan buatan :

a) memerlukan panas selain sinar matahari berupa bahan bakar, sehingga

biaya pengeringan menjadi mahal


b) memerlukan peralatan yang relatif mahal harganya

c) memerlukan tenaga kerja dengan keahlian tertentu

Pemanfaatan pengeringan Dalam Kehidupan Sehari-Hari:

1. Menguapkan air (penjemuran pakaian, pengeringan pakaian/ikan

asin/bahan makanan, proses pembuatan garam)

2. Mengeringkan bahan makanan, kayu bakar dan proses pembuatan garam.

3. Mengurangi risiko kerusakan karena kegiatan mikroba. Mikroba

memerlukan air untuk pertumbuhannya. Bila kadar air bahan berkurang,

maka aktivitas mikroba dihambat atau dimatikan.

4. Menghemat ruang penyimpanan atau pengangkutan. Umumnya bahan

pangan mengandung air dalam jumlah yang tinggi, maka hilangnya air

akan sangat mengurangi berat dan volume bahan tersebut.

5. Untuk mendapatkan produk yang lebih sesuai dengn penggunaannya.

Misalnya kopi instant.

6. Untuk mempertahankan nutrien yang berguna yang terkandung dalam

bahan pangan, misalnya mineral, vitamin, dsb.

Prinsip kerja pengering energi surya adalah sinar matahari memanasi kolektor

yang menyebabkan suhu di dalam ruang kolektor meningkat. Udara panas di

dalam ruang kolektor kemudian akan mengalir ke ruang pengering kemudian akan

mengeringkan bahan-bahan yang ada di dalamnya. Untuk pengering tenaga surya

sederhana, ruang kolektor menjadi satu dengan kotak pengering, sedangkan

pengering tenaga surya yang lebih kompleks, kotak kolektor ditempatkan terpisah

dengan ruangan pengering.


Rumus Iradiasi Surya:

I = (1000/7) x Ipm

Keterangan :

I = Iradiasi surya (W/m2)

Ipm = Iradiasi surya pyranometer (mV)

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 golongan, yaitu:

1. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering.

a. Suhu

Semakin besar perbedaan suhu antara medium pemanas dengan bahan

pangan makin cepat pemindahan panas ke dalam bahan dan makin cepat

pula penghilangan air dari bahan. Air yang keluar dari bahan yang

dikeringkan akan menjenuhkan udara sehingga kemampuannya untuk

menyingkirkan air berkurang. Jadi dengan semakin tinggi suhu

pengeringan maka proses pengeringan akan semakin cepat. Akan tetapi

bila tidak sesuai dengan bahan yang dikeringkan, akibatnya akan terjadi

suatu peristiwa yang disebut "Case Hardening", yaitu suatu keadaan

dimana bagian luar bahan sudah kering sedangkan bagian dalamnya

masih basah.

b. Kecepatan volumetrik aliran udara pengering

Makin tinggi kecepatan udara, makin banyak penghilangan uap air dari

permukaan bahan sehinngga dapat mencegah terjadinya udara jenuh di

permukaan bahan. Udara yang bergerak dan mempunyai gerakan yang

tinggi selain dapat mengambil uap air juga akan menghilangkan uap air
tersebut dari permukaan bahan pangan, sehingga akan mencegah

terjadinya atmosfir jenuh yang akan memperlambat penghilangan air.

Apabila aliran udara disekitar tempat pengeringan berjalan dengan baik,

proses pengeringan akan semakin cepat, yaitu semakin mudah dan

semakin cepat uap air terbawa dan teruapkan.

c. Kelembaban udara.

Makin lembab udara maka Makin lama kering sedangkan Makin kering

udara maka makin cepat pengeringan. Karena udara kering dapat

mengabsobsi dan menahan uap air Setiap bahan mempunyai

keseimbangan kelembaban nisbi masing-masing. kelembaban pada suhu

tertentu dimana bahan tidak akan kehilangan air (pindah) ke atmosfir

atau tidak akan mengambil uap air dari atmosfir (Supriyono, 2003).

2. Faktor yang berhubungan dengan sifat bahan.

a. Ukuran bahan

Makin luas permukaan bahan makin cepat bahan menjadi kering Air

menguap melalui permukaan bahan, sedangkan air yang ada di bagian

tengah akan merembes ke bagian permukaan dan kemudian menguap.

Untuk mempercepat pengeringan umumnya bahan pangan yang akan

dikeringkan dipotong-potong atau di iris-iris terlebih dulu. Hal ini terjadi

karena:

(1) pemotongan atau pengirisan tersebut akan memperluas permukaan

bahan dan permukaan yang luas dapat berhubungan dengan medium

pemanasan sehingga air mudah keluar,


(2) potongan-potongan kecil atau lapisan yang tipis mengurangi jarak

dimana panas harus bergerak sampai ke pusat bahan pangan. Potongan

kecil juga akan mengurangi jarak melalui massa air dari pusat bahan

yang harus keluar ke permukaan bahan dan kemudian keluar dari bahan

tersebut

b. Kadar air awal

c. Tekanan parsial dalam bahan.

Bahan pangan yang dihasilkan dari produk-produk pertanian pada umumnya

mengandung kadar air. Kadar air tersebut apabila masih tersimpan dan tidak

dihilangkan, maka akan dapat mempengaruhi kondisi fisik bahan pangan.

Contohnya, akan terjadi pembusukan dan penurunan kualitas akibat masih adanya

kadar air yang terkandung dalam bahan tersebut. Pembusukan terjadi akibat dari

penyerapan enzim yang terdapat dalam bahan pangan oleh jasad renik yang

tumbuh dan berkembang biak dengan bantuan media kadar air dalam bahan

pangan tersebut

Pada praktikum energi terbarukan tentang pengering tenaga surya tipe

kabinet ini mendapatkan hasil yang tidak berbeda nyata dari pengamatan 3 bahan

pada jam 8- 11 siang. Cuaca yang tengah terjadi berawan hingga hasil yang di

dapatkan tidaklah maksimal dan laju pengeringanpun tidak konstan. Seperti pada

tabel dan grafik berikut ini:

Tabel 1. Tabel Pengamatan Praktikum Shif 1 (Kelompok 1, 3, 5, 7, 9)


Wak Suhu RH Suhu Suhu Suhu Suhu Ipm I Cuaca
tu Lingkungan Ling Kole udar udar udar (mv) (W/M
ºC kun ktor a a a ^2)
gan ºC inlet outle dala
% ºC t ºC m ºC

BK BB
0 2,80 2,75 92 36,1 27,5 30 32 2,7 385,7 Berawan
15 29 28,5 92 40,2 28 31 31 4,1 585,7 Cerah
berawan
30 29 28 92 39,4 29 32 32,5 10 1428,6 Berawan
45 29,5 27,5 92 38,7 29 32 33 3,8 542,9 Berawan
60 29 28 92 29 28,5 2,1 300 Berawan
75 29 28,5 92 32,5 29 28 32,5 1,7 243,9 Mendun
g
90 29 28,5 92 33,4 31,5 28 32,5 2,1 300 Berawan
105 29 28 92 29,4 30 28 31,5 1,5 214,3 Berawan
120 28 27,5 92 33,5 29,5 28 35 4,5 642,9 Berawan

Tabel 2. Tabel pengamatan suhu bahan dan suhu nampan


Suhu bahan Suhu nampan

1 2 3 1 2 3
37,3 34,3 35,8 32,5 36,0 33,9
40,4 35,2 39,9 35,1 35,3 37,9
46,3 36,1 45,9 42,9 40,5 44,8
41,0 37,1 42 41,7 37,4 39,8
35 35,9 36,3 35 35,9 36,3
32,4 32,2 33,5 31,9 31,7 30,8
35,3 34,4 35,1 33,3 34,3 34,9
32,8 31,9 33,1 31,2 30,1 32,6
37,2 37,3 37,6 34,1 34,9 35,8
35,1 36,5 34,2 35,1 36,5 34,2
50
45
40
35
30 suhu bahan 1
25
suhu bahan 2
20
15 suhu bahan 3
10
5
0
0 15 30 45 60 75 90 105 120 135

Gambar 14. Grafik laju pengeringan hasil praktikum berdasarkan suhu


bahan

Tabel 3. Tabel Pengamatan Praktikum Shift 2 (Kelompok 2, 4, 6, 8)


Waktu Suhu RH Suhu Suh Suhu Suh Ipm I Cuaca
Lingkung Ling Kole u udara u (mv) (W/M
an ºC kun ktor udar outlet udar ^2)
gan ºC a ºC a
% inlet dala
ºC m ºC
BK BB
0 29 28 92 42,9 28,1 31 33 4,7 671,4 berawan
3
15 30 28 85 30,3 28 28 31 1,4 200 mendun
g
30 31 29 93 31,1 29 29 31 1,2 171,4 mendun
3 g
45 28 27 92 27,8 28 28 30 0,8 114,2 mendun
9 g

Tabel 4. Tabel pengamatan suhu bahan dan suhu nampan


Suhu bahan Suhu nampan

1 2 3 1 2 3
41,5 38,8 42,4 35,8 37,8 42,3
32,7 32,6 32,1 31,3 31,1 31,5
32,6 33 32,9 29 30 29,7
29,6 29 28,7 27 27 26,8

45

40

35

30

25 suhu bahan 4

20 suhu bahan 5

15 suhu bahan 6

10

0
0 15 30 45

Gambar 15. Grafik laju pengeringan berdasarkan suhu bahan shift 2

Sedangkan pada hasil praktikum siang hari pada pukul 13.00- 14.40 juga dalam

cuaca yang belum berubah yaitu mendung berawan. Sehingga hasil pengamatan

pada shift 2 juga mendapatkan hasil yang tidak berbeda nyata dari hasil

pengamatan shift pertama seperti yang ada pada tabel dan grafik berikut

Keuntungan dari alat pengering tenaga surya tipe kabinet sebagai berikut :

a. Laju pengeringan lebih cepat

b. Ruangan yang tertutup, sehingga produk yang dihasilkan relatif lebih

bersih

c. Apabila terjadi hujan, produk yang di keringkan tidak perlu di pindahkan

atau diangkat
d. Ruangan yang tertutrup dan panas, sehingga produk terjamin mutunya

karena terhindar dari hinggapan lalat dan debu

Kerugian dari alat pengering tenaga surya tipe kabinet sebagai berikut:

a. Memerlukan energi matahari yang cukup dalam pengoperasian

pengeringan

b. Tidak dapat digunakan ketika cuaca tidak mendukung

Kendala-kendala yang dihadapi saat praktikum berlangsung adalah:

1. Cuaca yang berawan sehingga proses pengeringan tidak berjalan maksimal

2. Dalam penimbangan gula semut tidak akurat sehingga perhitungan juga

terkendala
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pengeringan merupakan proses penurunan kadar air bahan sampai

mencapai kadar air tertentu sehingga dapat memperlambat laju kerusakan

produk akibat aktivitas biologi dan kimia.

2. Prinsip kerja pengering energi surya adalah sinar matahari memanasi

kolektor yang menyebabkan suhu di dalam ruang kolektor meningkat.

Udara panas di dalam ruang kolektor kemudian akan mengalir ke ruang

pengering kemudian akan mengeringkan bahan-bahan yang ada di

dalamnya. Untuk pengering tenaga surya sederhana, ruang kolektor

menjadi satu dengan kotak pengering, sedangkan pengering tenaga surya

yang lebih kompleks, kotak kolektor ditempatkan terpisah dengan ruangan

pengering.

B. Saran

Sebaiknya pada saat praktikum menggunakan tenaga surya lebih

memperhatikan faktor cuaca untuk mendapatkan hasil yang baik dan maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Hasibun Rosdaneli, 2005. Proses Pengeringan. Program Studi Teknik Kimia


Fakultas Teknik Sumatra Utara

Imre, Laszlo. 2006. Solar Drying in Industrial Drying. Taylor & Francais Group
LLC. Perancis.

Juliana, Somnaikubun, G.B.A. 2008 Pengaruh Suhu Pengeringan Terhadap Mutu


Tepung Siput Laut (Littoraria scabra)

Pinem, 2004. Rancang Bangun Alat Pengeringan Ikan Teri Kapasitas 12kg/jam.
Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin. Politeknik Negeri Malang. Jurnal
Teknik SIMETRIKA Vol.3. No.3. 249-253

Thamrin, I. 2011. Rancang Bangun Alat Pengering Ubi Kayu Tipe Rak Dengan
Memanfaatkan Energi Surya. Jurnal Teknik Mesin Universitas Sriwijaya.
Vol. 2, No 3:50-54.

Yani, E. 2009. Penghitung Efisiensi Kolektor Surya Pada Pengering Surya Tipe
Aktif Tidak Langsung Pada Laboratorium Surya ITB. Jurnal Teknik Mesin
Universitas Andalas. Vol. 2, No 31:20-25.
LAMPIRAN-LAMPIRAN