Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Teori

Ada dua jenis praktikum yang dilalukan pada praktikum kali ini sehingga pada latar
belakang teori makalah kali ini akan dibahas mengenai teori-teori dari kedua jenis praktikum
tersebut. Adapun latar belakang teorinya adalah sebagai berikut :

1.1.1 Kesegaran Jasmani


Kepentingan pemeriksaan kesanggupan badan atau fisik fitness sangat luas. Segi ilmu
faal adalah kesanggupan untu melakukan kerja. Yang di ambil sebagai parameter adalah hal-
hal yang berhubungan dengan kerja otot dan fungsi organisnya. Tes ini dapat dilakukan
dengan kerja berat sampai lelah/kerja submaksimal dalam standar latihan.
Kerja luar seseorang terutama tergantung berat badan, kenyamanan suhu udara,
kelembaban udara, waktu, kadar haemoglobin darah, lama latihan dan tes dilakukan beberapa
lama setelah makan.
Banyak sekali cara untuk melakukan tes kesanggupan badan yang dilakukan oleh
beberapa peneliti. Dan dalam praktikum ini menggunakan salah satu dari tes-tes tersebut yaitu
tes kesegaran jasmani “Harvard Step Up Test” atau percobaan naik turun bangku. Harvard
step up test dikembangkan oleh Brouha dkk. (1943) di Harvad University Fatique Laboratory
selama perang dunia kedua.
Sebagai parameter pada test ini adalah waktu lamanya kerja dan frekuensi nadi, dengan
memakai kedua parameter tersebut dapat dibuat indeks kesegaran jasmani yang dibedakan
antara yang “kurang fit” sampai dengan yang “sangat fit”.
Pada test ini orang yang diperiksa disuruh naik turun bangku setinggi 48,24 cm / 19 inci
untuk laki-laki dan 43,16 cm / 17 inci untuk wanita dengan frekuensi metronom 120x/menit (1
langkah setiap 2 detik) selama maksimal 5 menit atau sampai seseorang tersebut lelah dan
tidak sanggup meneruskan tes.

3
Segera setelah test selesai orang disuruh duduk dan denyut nadi dihitung. Jumlah denyut
nadi dapat diketahui dengan menghitung denyut arteria radialis, suara detak jantung atau
dengan bantuan EKG.
Dengan pemeriksaan EKG sebelum tes, dapat diketahui kemungkinan ada
kontraindikasi dilakukn tes ini. Dari rekaman EKG segera setelah latihan dapat diketahui
adanya kelainan koroner latent (latent coronary heart disease).

1.1.2 Elektrokardiografi
Cairan tubuh merupkan penghantar listrik yang baik (konduktor volume). Menurut
hipotesa dari Einthoven, jantung dapat dianggap sebagai sumber listrik dan perubahan
potensial yang terjadi dapat dicatat dari permukaan tubuh. Gambar hasil pencatatan potensial
listrik selama 1 siklus jantung disebut Elektrokardiogram (EKG).

Dari EKG dapat diketahui berbagai macam keadaan dari jantung, misalnya :
1. Apakah irama jantung normal atau tidak. Dan apabila tidak, kelainan irama tersebut
disebabkan oleh kelainan apa
2. Apakah hantaran impuls normal atau ada hambatan. Apabila ada, dapat diketahui
dimana letak hambatan dan sampai seberapa jauh hambatan tersebut. Apakah hambatan
sebagian (partial block) atau hambatan total (total block).
3. Dapat pula diketahui keadaan otot jantung, umpama adanya iskemia lokal maupun
menyeluruh dari otot jantung atau adanya baji mati jantung (heart infarction)
4. Pengaruh perubahan susunan elektrolit maupun obat dapat dipelajari.

Pada pemeriksaan EKG yang sederhana dapat digolongkan menjadi 2 pencatatan


(sadapan), yaitu : Sadapan Ekstremitas dan Sadapan Precordial. Pembagian sadapan ini dari
beberapa sumber memang ada yang berbeda dimana beberapa sumber ada yang membagi
sadapan ini menjadi 3 yaitu : Sadapan Unipolar, Bipolar dan Augmented Unipolar. Namun
dalam hal ini kami menggolongkan sadapan tersebut menjadi 2 saja tetapi intinya tetap sama
dengan sadapan-sadapan yang dijelaskan dari sumber-sumber lain. Hal ini kami lakukan guna
mempermudah dalam menggunakan dan mempraktikkan EKG dalam praktikum ini. Alat yang
digunakan dalam praktikum kali ini adalah Elektrograf dari Fukuda.
4
1.1.2.1 Sandapan Ekstremitas
Sandapan bipolar standar (I, II, dan III) atau kita kenal sebagai sandapan ekstremitas
merupakan sandapan asli yang dipilih oleh Einthoven untuk merekam potensial listrik pada
bidang frontal. Hipotesa Einthoven yang dianut dalam sandapan ini adalah sebagai berikut :
1. Aktivitas listrik dari jantung merupakan sumber listrik dan terletak di tengah tubuh
2. Tubuh dianggap sebagai suatu bola dengan cairan tubuh dan organ yang mempunyai
tahanan sama
3. Lengan kiri, lengan kanan, kaki kiri terletak sama jauh dari jantung dan dari satu sama
lainnya
4. Jantung dan ekstremitas terletak dalam satu bidang frontal
Elektroda-elektroda diletakkan pada lengan kiri ( LA = Left Arm), lengan kanan (RA =
Right Arm), dan tungkai kiri (LL = Left Leg). Sifat kontak dengan kulit harus dibuat dengan
melumuri kulit dengan gel elektroda. Sadapan LA, RS, dan LL kemudian dilekatkan pada
elektroda masing-masing. Dengan memutar tombol pilihan pada alat perekam pada 1, 2, dan
3, akan terekam sadapan standar ( I, II, dan III).
Alat elektrokardiografi juga mempunyai elektroda, tungkai kanan (RL = Right Leg), dan
sadapan yang bertindak sebagai “arde” (ground) dan tidak mempunyai peranan dalam
pembentukan EKG.
Sandapan (Lead) ektremitas menyatakan selisih potensial listrik antara 2 tempat tertentu.
 Sandapan I (L1) = Selisih potensial antara lengan kiri dan lengan kanan (LA-RA)
 Sandapan II (L2) = Selisih potensial antara tungkai kiri dan lengan kanan (LL-RA)
 Sandapan III (L3) = Selisih potensial antara tungkai kiri dan lengan kiri (LL-LA)

5
Lead 1 (L1) : mencatat perbedaan potensial antara lengan kiri dan lengan kanan.
Dengan catatan elektrode negatif (-) terletak di lengan kanan. Sedangkan elektrode positif (+)
terletak di lengan kiri.
Lead 2 (L2) : mencatat perbedaan potensial antara kaki kiri dan lengan kanan.
Dengan catatan elektrode negatif (-) terletak di lengan kanan dan elektrode positif (+) terletak
di kaki kiri.
Lead 3 (L3) : mencatat perbedaan potensial antara kaki kiri dan lengan kiri. Dengan
catatan elektrode negatif (-) terletak di lengan kiri dan elektrode positif (+) terletak di kaki
kiri.

Sandapan Ekstremitas Tambahan

Sandapan aVR, aVL, dan aVF merupakan sadapan ekstremitas tambahan, yang
diperoleh dari elektrode yang sama sebagai sandapan I, II, dan III. Namun, ketiga sandapan itu
memandang jantung dari sudut (atau vektor) yang berbeda karena elektrode negatif untuk
sandapan itu merupakan modifikasi terminal sentral Wilson, yang diperoleh dengan
menambahkan sandapan I, II, dan III bersama dan memasangnya ke terminal negatif mesin
EKG. Hal ini membidik elektrode negatif dan memungkinkan elektrode positif untuk menjadi
"elektrode penjelajah" atau sandapan unipolar. Hal ini mungkin karena Hukum Einthoven
6
menyatakan bahwa I + (-II) + III = 0. Persamaan itu juga bisa ditulis I + III = II. Ditulis
dengan cara ini (daripada I + II + III = 0) karena Einthoven membalik polaritas sadapan II di
segitiga Einthoven, mungkin karena ia suka melihat kompleks QRS tegak lurus. Terminal
sentral Wilson meratakan jalan untuk perkembangan sandapan ekstremitas tambahan aVR,
aVL, aVF dan sandapan prekordial V1, V2, V3, V4, V5, dan V6.
Sandapan aVR atau "vektor tambahan kanan" memiliki elektrode positif (putih) di
lengan kanan. Elektrode negatif merupakan gabungan elektrode lengan kiri (hitam) dan
elektrode kaki kiri (merah), yang "menambah" kekuatan sinyal elektrode positif di lengan
kanan.
Sandapan aVL atau "vektor tambahan kiri" mempunyai elektrode positif (hitam) di
lengan kiri. Elektrode negatif adalah gabungan elektrode lengan kanan (putih) dan elektrode
kaki kiri (merah), yang "menambah" kekuatan sinyal elektrode positif di lengan kiri.
Sandapan aVF atau "vektor tambahan kaki" mempunyai elektrode positif (merah) di
kaki kiri. Elektrode negatif adalah gabungan elektrode lengan kanan (putih) dan elektrode
lengan kiri (hitam), yang "menambah" sinyal elektrode positif di kaki kiri.
Sadapan ekstremitas tambahan aVR, aVL, dan aVF diperkuat dengan cara ini karena
sinyal itu terlalu kecil untuk berguna karena elektrode negatifnya adalah terminal sentral
Wilson. Bersama dengan sadapan I, II, dan III, sadapan ekstremitas tambahan aVR, aVL, dan
aVF membentuk dasar sistem rujukan heksaksial, yang digunakan untuk menghitung sumbu
kelistrikan jantung di bidang frontal.

7
1.1.2.2 Sadapan Precordial

Penempatan sadapan prekordial yang benar.

Sandapan prekordial V1 (merah), V2 (kuning), V3 (hijau), V4 (coklat), V5 (hitam),


dan V6 (ungu) ditempatkan secara langsung di dada. Karena terletak dekat jantung, 6 sadapan
itu tak memerlukan augmentasi. Terminal sentral Wilson digunakan untuk elektrode negatif,

8
dan sandapan-sandapan tersebut dianggap unipolar. Sandapan prekordial memandang aktivitas
jantung di bidang horizontal. Sumbu kelistrikan jantung di bidang horizontal disebut sebagai
sumbu Z.
Sadapan V1, V2, dan V3 disebut sebagai sadapan prekordial kanan sedangkan V4, V5,
dan V6 disebut sebagai sadapan prekordial kiri.
 Sandapan V1 : elektrode precordial diletakkan pada ruang Intercostal (ICS) IV
sebelah kanan sternum
 Sandapan V2 : elektrode precordial diletakkan pada ruang Intercostal (ICS) IV
sebelah kiri sternum
 Sandapan V3 : elektroda precordial diletakkan diantara sadapan V2 dan sadapan V4
 Sandapan V4 : elektrode precordial diletakkan pada ruang Intercostal (ICS) V pada
garis medioclavicular
 Sandapan V5 : elektrode precordial diletakkan di left anterior axillary line setinggi V4
 Sandapan V6 : elektrode precordial diletakkan di left mid axillary line setinggi V4

Kadang bila diperlukan , dilakukan pencatatan untuk dada bagian kanan. Lokalisasi identik
dengan bagian kiri sedangkan simbol yang dipakai ditambah dengan R, umpama V1R, V2R,
dan seterusnya

Yang harus diperhatikan dalam melaksanakan perekaman EKG antara lain :


1. EKG sebaiknya direkam pada pasien yang berbaring di tempat tidur yang nyaman atau
pada meja yang cukup lebar untuk menyokong seluruh tubuh. Pasien harus istirahat total
untuk memastikan memperoleh gambar yang memuaskan. Hal ini paling baik dengan
menjelaskan tindakan terlebih dahulu kepada pasien yang takut untuk menghilangkan
ansietas. Gerakan atau kedutan otot oleh pasien dapat merubah rekaman.
2. Kontak yang baik harus terjadi antara kulit dan elektroda. Kontak yang jelek dapat
mengakibatkan rekaman suboptimal.
3. Alat elektrokardiografi harus distandarisasi dengan cermat sehingga 1 milivolt (mV) akan
menimbulkan defleksi 1 cm. Standarisasi yang salah akan menimbulkan kompleks voltase
yang tidak akurat, yang dapat menimbulkan kesalahan penilaian.
4. Pasien dan alat harus di arde dengan baik untuk menghindari gangguan arus bolak-balik.
9
5. Setiap peralatan elektronik yang kontak dengan pasien, misalnya pompa infus intravena
yang diatur secara elektrik dapat menimbulkan artefak pada EKG.

Irama Normal Pada EKG


Rekaman EKG biasanya dibuat pada kertas yang berjalan dengan kecepatan
standard 25mm/ detik dan dengan potensial 1mV/cm atau 0,1 mV/mm.
Gambaran EKG normal menunjukkan bentuk dasar sebagai berikut :

1. Gelombang P : Gelombang ini pada umumnya berukuran kecil dan merupakan


hasil depolarisasi atrium kanan dan kiri.
2. Segmen PR : Segmen ini merupakan garis iso-elektrik yang menghubungkan
antara gelombang P dengan Kompleks QRS
3. Kompleks QRS : Kompleks QRS merupakan suatu kelompok gelombang yang
merupakan hasil depolarisasi ventrikel kanan dan kiri.
Kompleks QRS pada umumnya terdiri dari gelombagn Q yang
merupakan gelombang defleksi negatif pertama, gelombang R
yang merupakan gelombang defleksi positif pertama, dan
gelombang S yang merupakan gelombang defleksi negatif
pertama setelah gelombang R.

10
4. Segmen ST : Segmen ini merupakan garis iso-elektrik yang menghubungkan
kompleks QRS dengan gelombang T
5. Gelombang T : Gelombang T merupakan pontesial repolarisasi dari ventrikel
kiri dan kanan
6. PR Interval : mulai awal munculnya gelombang P hingga awal munculnya
gelombang QRS kompleks
7. QT Interval : mulai awal munculnya gelombang QRS kompleks hingga akhir
dari gelombang T

Anatomi EKG

Gelombang P : Hasil depolarisasi atrium kanan-kiri, ukuran kecil


PR Interval : Jarak dari awal gel P s/d awal komplek QRS
PR Segmen : Garis isoelektrik yang menghubungkan gelombang P dan kompleks
QRS
QT Interval : Jarak dari awal QRS kompleks s/d akhir gel T
Kompleks QRS : Hasil depolarisasi ventrikel kanan dan kiri

 Gel Q : Defleksi negatif yang pertama


 Gel R : Defleksi positif yang pertama
 Gel S : Defleksi negatif setelah gelombang R

ST Segmen : garis isoelektrik yang menghubungkan kompleks QRS dan


gelombang T
Gelombang T : Gelombang repolarisasi ventrikel kanan dan kiri
Gelombang U : Asal gelombang tidak jelas, ukuran kecil, tidak selalu muncul, bila
ada harus positif (negatif bila ischemia)

 Sumbu X menunjukan fungsi waktu


 Pada EKG standart, kecepatan perekaman = 25mm/dt (dalam 1 detik kertas berjalan
sepanjang 25 mm)
 Jadi 1mm= 1/25” = 0,04”

11
 Dalam 1 menit direkam = 60x25 mm= 1500 mm
 Selain kecepatan 25 mm/detik, kecepatan bisa diubah menjadi 50 mm/detik

MENGHITUNG HEART RATE

1500 1500
HEART RATE  atau
RR Int PP Int
 Sumbu Y menunjukan tingginya voltage
 Pada EKG standard 1 mV = 10 mm, (1 mm=0,1 mV)
 Standard voltage bisa diubah 0,5 mV = 10 mm atau 2 mV

KRITERIA NORMAL GELOMBANG-GELOMBANG EKG

GELOMBANG P

 Menunjukan depolarisasi atrium , berasal dari sinus


 Lebar < 0,11”
 Tinggi < 2,5 mm
 Positif kecuali di aVR, V1 (bifasik/negatif), jelas terlihat di V1 dan L II, sumbu pada
bidang frontal
 Berubah bila ada pembesaran atrium kanan/kiri atau gangguan irama di atrium

PR INTERVAL

 Menunjukan waktu hantaran Atrio-Ventrikuler


 Diukur dari permulaan gel P → permulaan gel Q
 Harga normal : 0,12”- 0,20” (3-5 mm)
 Memendek < 0,12” → WPW,LGL- syndrome
 Memanjang > 0,20 → AV block

QRS KOMPLEKS
12
 Gambaran depolarisasi ventrikel
 Harga normal : 0,06”- 0,10” (dihitung dari awal Q s/d akhir S)
 QRS kompleks yang lebar ( >0,10” ) → patologis, misalnya :
 RBBB= Right Bundle Branch Block
 LBBB= Left Bundle Branch Block

GELOMBANG Q

 Gel negatif I, normal dalamnya < ¼ tinggi gel R


 Q patologis, bila > ¼ R ( >5mm ) : → menunjuka nekrosis / infark myocard

GELOMBANG R

 Defleksi positif I, puncak tinggi terutama Lead I, II, III


 Ketentuan tinggi gel R : LI, LII, LIII < 20 mm, aVF < 20 mm, aVL < 14 mm, dan V5,
V6 < 26 mm
 VI,V2 = R kecil, makin meninggi ke arah V5,V6

Gelombang R Patologis :

 R tinggi → Hypertrophi ventrikel


 R rendah → voltage rendah
 Tidak ada R → seluruh tebal myocard mengalami infark (nekrosis)

QT INTERVAL

 Menunjukan lamanya sistole


 Tergantung heart rate (ada tabel)
 Nadi 60 → QT < 0,43”
 Nadi 80 → QT < 0,38”
 Nadi 100 → 0,35”

13
 Normal tidak lebih dari 0,42” (HR makin cepat → QT makin pendek)

ST SEGMEN

 Menunjukan sejelasnya depolarisasi ventrikel s/d mulainya fase repolarisasi (mulai


akhir S s/d permulaan T)
 Merupakan garis lurus = isoelektrik
 Normal 0,1 mV → boleh 1 mm di atas / di bawah garis isoelektris
 Keadaan patologis/abnormal :
 ST elevasi → tanda Acute Myocard Infark
 ST depresi → tanda iskemia otot jantung

GELOMBANG T

 Gelombang repolarisasi Ventrikel


 Positif Di I, II, aVL, aVF, V3, V4, V5, V6
 Boleh negatif di V1 (V2 pada orang tua)
 Lead III : bisa positif / negatif / bifasik
 Tinggi T : min > 1/7 tinggi R, maximal < 2/3 tinggi R ( dilihat di V3-V6)

Gelombang T Abnormal :

 T tinggi : > 2/3 tinggi R di V3-V6 → HYPERKALEMIA


 T datar, isoelektrik, negatif → INSUFFISIENSI KORONER

SUMBU JANTUNG BIDANG FRONTAL


Menentukan sumbu QRS kompleks pada bidang frontal :
1. Pilih (minimal) 2 sadapan yang saling tegak lurus, misal LI dan aVF
2. Tentukan jumlah aljabar dari defleksi pada masing-masing sadapan
3. Gambarkan sebagai vektor pada masing-masing sumbu dari kedua vektor tersebut
4. Buat resultan yang akan menggambarkan sumbu QRS kompleks
14
0 = pusat jantung aVR = -1500

I = garis datar 00 aVL = -300

II = + 600 aVF = +900

III = + 1200

15
 NORMAL : -300 s/d +900

 Deviasi sumbu kiri (Left Axis Deviation/LAD) : -300 s/d -900

 Deviasi sumbu kanan (Right Axis Deviation/RAD) : +900 s/d -1800

 Sumbu superior : +1800 s/d -900

SUMBU JANTUNG BIDANG HORIZONTAL


Menentukan sumbu QRS kompleks pada bidang horizontal :
1. Cari sadapan yang defleksi nya nol (tinggi R = tinggi S), pada sadapan precordial
2. Vektor QRS tegak lurus padanya (perkiraan kasar)
Zona Transisi → NORMAL ada di V3 atau V4
 V1-V2 : gelombang R kecil, gelombang S dalam dan lebar (R/S < 1) →
menggambarkan keadaan ventrikel kanan
 V3-V4 : R = S (R/S = 1) → transitional zone → menggambarkan septum
interventrikularis
 V5-V6 : gelombang Q kecil, gelombang R tinggi, gel. S kecil, (R/S > 1) →
menggambarkan keadaan ventrikel kiri.

 Bila daerah transisi berpindah ke V1-V2 → sumbu QRS mengalami rotasi berlawanan
jarum jam (Counter Clock Wise Rotation) dilihat dari arah tungkai.

 Bila daerah transisi berpindah ke V5-V6 → sumbu QRS mengalami rotasi searah
jarum jam (Clock Wise Rotation) dilihat dari arah tungkai.

16
 Berikut ini adalah contoh hasil EKG normal pada setiap sadapan, baik sadapan
ekstremitas maupun sadapan precordial.

1.2 Permasalahan
Permasalahannya adalah bahwa penelitian yang dilakukan sejauhi ini masih pada
pemfilteran sinyal dan menampilkan sinyal EKG, padahal masih dibutuhkan pemrosesan lebih
lanjut untuk memperoleh hasil akhir. Sehingga belum bisa digunakan secara langsung oleh
para dokter untuk membantu proses diagnose pasien.
Untuk itu dengan adanya deteksi sinyal QRS complex diharapkan dapat mengenali
sinyal QRS sehingga diperoleh nilai RR-interval dan QRS duration, dimana parameter
tersebut digunakan untuk mendiagnosa jantung pasien. Sehingga mampu digunakan untuk
menjawab permasalahan yang ada.

1.3 Tujuan Praktikum


1. Mampu mengoperasikan elektrokardiografi
2. Mampu membaca elektrokardiogram
3. Mampu menghitung tingkat kesegaran jasmani dengan cara sederhana

17
BAB II
METODE KERJA

2.1 Alat Dan Tata Kerja Tes Kesegaran Jasmani


Alat – Alat :
- Bangku datar dengan tinggi :
19 inci atau 48,24 cm untuk laki-laki
17 inci atau 43,16 cm untuk perempuan
- Stopwatch
- Metronom (diatur agar frekuensi 120 kali ketukan per menit)

Tata Kerja :
Semua mahasiswa sebaiknya melakukan tes ini untuk mengetahui indeks tes kesegaran
jasmani masing-masing. Tentukan dulu frekuensi nadi istirahatnya.
1. Orang coba berdiri menghadap bangku (yang tingginya berbeda untuk laki-laki dan
perempuan). Pasanglah metronom dengan frekuensi 120 kali per menit.
2. Suruhlah orang coba naik turun bangku, selalu dimulai dengan kaki yang sama. Setiap
langkah kaki harus sesuai irama detik metronom. Lakukan tindakan tersebut 2-3 kali
sebelum percobaan sesungguhnya dimulai. Pada saat percobaan dimulai, pemeriksa harus
menekan tombol stopwatch untuk menentukan waktu lamanya percobaan berlangsung.

Cara lambat : Di bawah 55 = KURANG


55-64 = SEDANG
65-69 = CUKUP
80-90 = BAIK
Diatas 90 = BAIK SEKALI

Cara cepat : Dibawah 50 = KURANG


50-80 = SEDANG
Diatas 80 = BAIK

18
CATATAN
Untuk orang coba yang tidak mampu melakukan tes selama 5 menit maka hasilnya
harus dihubungkan dengan koreksi dari Clarke.
Dianjurkan diperhitungkan dengan rumus : CARTER AND WINSMAN

D 100
I.K.B   0,22300  D 
5,5  p

D : Duration (waktu)
P : Pulse (nadi) dari 1 menit – 1,5 menit
Penilaian hasil sama dengan IKB cara cepat.

Kelemahan tes ini adalah tidak memperhitungkan adanya perbedaan biomekanik


dalam tiap individu yang dapat memengaruhi hasil tes, misalnya : orang tinggi akan lebih
diuntungkan karena energi yang digunakan untuk melangkah naik ke bangku lebih sedikit
dibanding orang yang lebih pendek, demikian juga perbedaan berat badan dapat
mempengaruhi hasil tes yang didapat.

3. Pemeriksan menekan tombol stopwatch lagi segera setelah waktu 5 menit berakhir, atau
segera setlah orang coba merasa tidak kuat lagi untuk meneruskan percobaannya.
Surhlah segera orang coba duduk dan hitung denyut nadi segera setelah percobaan
berhenti (selama 10 detik dan kalikan enam).
4. Hitunglah jumlah nadi pemulihan selama 30 detik, tiga kali berturut-turut yaitu dari :
a. Satu menit sampai satu setengah menit dari saat percobaan berhenti.
b. Dua menit sampai dua setengah menit dari saat percobaan berhenti.
c. Tiga menit sampai tiga setengah menit dari saat percobaan berhenti.
5. Perhitungan serta penilaian indeks kesanggupan badan :

19
Cara lambat :

Lama tes (sekon)  100


I .K .B 
2  jumlah ketiga harga nadi pemulihan

Cara cepat :

Lama tes (sekon)  100


I .K .B 
5,5  harga nadi 30" pertama (nadi 1 - 1,5 menit segera setelah latihan)

I.K.B = Indeks Kesanggupan Badan

2.2 Alat Dan Tata Kerja Praktikum Elektrokardiografi


Alat – Alat :

- Elektrokardiografi
- Gel Elektrode / Ultrasonik
- Kapas dan Alkohol (sebagai pembersih daerah sadapan)

Tata Kerja :

1. Persiapan alat elektro kardiografi dari Fukuda model FJC-7110


Pada alat ini ada dua tombol unntuk power. Sebelum percobaan di mulai, tombol harus dalam
keadaan off. Pada alat Fukuda, didapatkan tombol pengukur pilihan sadapan, digunakan
untuk semua sandapan tersebut di atas dengan memutar pengatur sadapan sesuai dengan
pencatat yang akan di kerjakan.
Standarisasi dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan pencatatan EKG . Hubungkan kabel
penghubung dengan EKG dan arus listrik umum (PLN). Pasang kabel arde (grounding)
dan jepitan pada kran logam.

2. Persiapan Orang Coba


a) Orang coba diharuskan berbaring di atas meja atau kasur periksa dengan tenang.
Aktifitas otot lainnya akan menyebabkan gangguan pada EKG. (Baju dan kaos dilepas
serta peralatan logam lain yang bisa menggangu hasil pencatatan)
20
b) Bersihkan dengan kapas alkohol bagian ventral dari kedua lengan bawah di dekat
pergelangan tangan dan bagian antero lateral / medial dari kedua tungkai bawah di
dekat pergelangan kaki. Berilah sedikit pasta / gel elektrode di berbagai tempat
tersebut dan pasanglah elektrodenya .
c) Hubungkan kabel yang berasal dari elektrokardiografi dengan masing-masing
elektrodenya yaitu kabel : RA ,LA ,RF dan LF, masing-masing dengan electrode di
lengan kanan , lengan kiri ,tungkai kanan dan tungkai kiri. Hubungkan juga dengan
elektrode pada dinding rongga dada sesuai dengan petunjuk tersebut diatas , pencatatan
siap dimulai .
d) Kedua tombol power pada EKG di letakkan pada kedudukan ON. Jarum penulis akan
bergerak kebawah , nantikan sampai jarum tersebut kembali ke tengah atau berhenti.
Apabila berhentinya tidak di tengah, aturlah jarum penulis dengan penggerak jarum
penulis supaya terletak ditengah. Kerjakan standarisasi dengan menjalankan kertas,
tombol pengatur sandapan pada posisi C dan menekan tombol kepekaan sehingga
tergambar besarnya voltage pada kerta EKG . Telah diatur, perangsangan dengan
tombol standarisasi sebesar 1 mV. Pencatatan yang sesungguhnya siap dimulai.
e) Putarlah pencatat sandapan berturut-turut mulai dari 1-2-3 dan seterusnya sampai ke C.
f) Setiap kembali ke hantaran selanjutnya, beristirahatlah beberapa detik agar penulis
kembali ke garis dasar. Setiap kali pencatatan, dikerjakan paling sedikit 3 siklus
jantung, kecuali pada L2 dimana paling sedikit harus di kerjakan 6 siklus jantung.

Sebelum menginterpretasikan EKG perlu diketahui bahwa :


 Pada absis dibaca skala waktu yaitu : 0,04 detik/mm atau 0,2 detik/5 mm, apabila
kecepatan kertas 25 mm/detik
 Pada ordinat dibaca skala voltage yaitu 0,1 mV/mm atau 1 mV/cm (tergantung letak
tombol kepekaan)

21
BAB III
HASIL PRAKTIKUM

3.1 Hasil Tes Kesegaran Jasmani

 Percobaan Orang I
Nama : Tn. Christianto Wisman
Umur : 18 tahun
Pukul : 08.30
Tanggal : 05 April 2013
 Nadi
Nadi istirahat = 74 x/menit
Nadi segera = 144 x/menit
Nadi Pemulihan
 1 – 1,5 menit = 68 x 2 = 136x/menit
 2 – 2,5 menit = 65 x 2 =130x/menit
 3 – 3,5 menit = 60 x 2 = 120x/menit
 Durasi = 1 menit 53 detik → 113 detik

Hasil Perhitungan:
Karena durasi waktu < 5 menit, maka digunakan Rumus Carter dan Winsman
D = duration, p = pulse (nadi) dari 1 menit – 1,5 menit
D  100
I .K .B   0,22 300  D 
5,5  p
113  100
  0,22 300  113
5,5  136
 15,11  41,14
 56,25
Sesuai dengan ketentuan di bagian teori maka tingkat kesegaran jasmani Tn.
Christianto Wisman tergolong dalam tingkatan “Sedang” (nilai I.K.B 50 – 80)

22
 Percobaan Orang II :
Nama : Nn. Yuwinda Paramitha
Umur : 18 tahun
Pukul : 08.30
Tanggal : 05 April 2013
 Nadi
Nadi istirahat = 96 x/menit
Nadi segera = 162 x/menit
Nadi Pemulihan
 1 – 1,5 menit = 67 x 2 = 134x/menit
 2 – 2,5 menit = 64 x 2 = 128x/menit
 3 – 3,5 menit = 60 x 2 = 120x/menit
 Durasi = 34 detik

Hasil Perhitungan:
Karena durasi waktu < 5 menit, maka digunakan Rumus Carter dan Winsman
D = duration, p = pulse (nadi) dari 1 menit – 1,5 menit
D  100
I .K .B   0,22 300  D 
5,5  p
34  100
  0,22 300  34 
5,5  134
 4,61  58,52
 63,13
Sesuai dengan ketentuan di bagian teori maka tingkat kesegaran jasmani Nn. Yuwinda
Paramitha tergolong dalam tingkatan “Sedang” (nilai I.K.B 50 – 80)

Tabel Tes Kesegaran Jasmani

23
Denyut Nadi Hasil
Lama C&
No. Nama 1 - 1,5 2 - 2,5 3 - 3,5
Tes Istirahat Segera W
menit menit menit
Score
Tn.
1 menit 74 x/ 144 136 x/ 130 120
1. Christianto 56,25
53 detik menit x/menit menit x/menit x/menit
Wisman
Nn. Yuwinda 96 x/ 162 x/ 134 x/ 128 x/ 120 x/
2. 34 detik 63,13
Paramitha menit menit menit menit menit

3.2 Hasil Praktikum Elektrokardiografi


Gambar EKG Sadapan Ekstremitas (LI, LII, dan LIII)

PADA LEADS II : (WAKTU)

25  21  21  23  22
1. RR Interval rata-rata =  22,4 mm  0,896 detik
5
24
444454
2. PR Interval rata-rata =  4,16 mm  0,166 detik
6

2 2 233 2
3. PR Segmen rata-rata =  2,33 mm  0,093 detik
6

10  11  9  10  10  9
4. QT Interval rata-rata =  9.83 mm  0,39 detik
6

111111
5. ST Segmen rata-rata =  1 mm  0,04 detik
6

2  2  2  2 11
6. QRS Kompleks rata-rata =  1,66 mm  0,066 detik
6

BESAR VOLTAGE :
Sadapan Ekstremitas (LI, LII, LIII)
QRS
P Q R S T Kompleks

1 mm -1 mm 6 mm -1 mm 3 mm 4 mm
LEAD I
0,1 mV -0,1 mV 0,6 mV -0,1 mV 0,3 mV 0,4 mV

2 mm 0 mm 12 mm -1mm 4 mm 11 mm
LEAD II
0,2 mV 0 mV 1,2 mV -0,1 mV 0,4 mV 1,1 mV

LEAD 1 mm 0 mm 21 mm 0 mm 1 mm 21 mm

III 0,1 mV 0 mV 2,1 mV 0 mV 0,1 mV 2,1 mV

Gambar EKG Sadapan Ekstremitas Tambahan (aVR, aVL, dan aVF)

25
Sadapan Ekstremitas Tambahan (aVR, aVL, dan aVF)

P Q R S T QRS Kompleks

-1 mm 0,5 mm -17 mm 0 mm -3 mm -16,5 mm


aVR
0,1 mV 0,05 mV -1,7 mV 0 mV 0,3 mV -1,65 mV

-1 mm 0 mm -8 mm 0 mm 1 mm -8 mm
aVL
0,1 mV 0 mV 0,8 mV 0 mV 0,1 mV -0,8 mV

1 mm 1 mm 25 mm 0 mm 2 mm 26 mm
aVF
0,1 mV 0,1 mV 2,5 mV 0 mV 0,2 mV 2,6 mV

26
Gambar EKG Sadapan Precordial (V1 – V6)
 Sadapan Precordial V1 – V2

 Sadapan Precordial V3 – V4

27
 Sadapan Precordial V5 – V6

28
Sadapan Precordial (V1, V2, V3, V4, V5, V6)

P Q R S T QRS Kompleks

1 mm 0 mm 5 mm -14 mm -2,5 mm -9 mm
V1
0,1 mV 0 mV 0,5 mV -1,4 mV -0,25 mV -0,9 mV

1 mm 0 mm 9,5 mm -22 mm 6 mm -12,5 mm


V2
0,1 mV 0 mV 0,95 mV -2,2 mV 0,6 mV -12,5 mV

1 mm 0 mm 14 mm -9 mm 11 mm 5 mm
V3
0,1 mV 0 mV 1,4 mV -0,9 mV 1,1 mV 0,5 mV

1 mm 0 mm 28 mm -4 mm 12 mm 24 mm
V4
0,1 mV 0 mV 2,8 mV -0,4 mV 1,2 mV 2,4 mV

1 mm 0,5 mm 13 mm -2 mm 7 mm 11,5 mm
V5
0,1 mV 0,05 mV 1,3 mV -0,2 mV 0,7 mV 1,15 mV

1 mm 1 mm 10 mm -2 mm 4 mm 9 mm
V6
0,1 mV 0,1 mV 1 mV -0,2 mV 0,4 mV 0,9 mV

CATATAN :
1. Kecepatan kertas = 25 mm/detik
2. Pada absis dibaca “Skala Waktu”, yaitu 0,04 detik/mm = 0,2 detik/5mm
3. Pada ordinat dibaca “Skala Voltage”, yaitu 0,1 mV/mm = 1 mV/cm

29
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Diskusi Hasil Tes Kesegaran Jasmani


Berikut ini beberapa pertanyaan serta jawabannya tentang beberapa hal mengenai
praktikum kesegaran jasmani yang kami laksanakan.

1. Adakah perbedaan di dalam penilaian Indeks Kesanggupan Badan (I.K.B) antara “cara
lambat” dengan “cara cepat” ?
Jawaban :
Karena dalam praktikum ini kedua orang coba tidak mampu melakukan latihan fisik selama
5 menit seperti yang disyaratkan agar bisa menggunakan rumus perhitungan “cara cepat”
atau “cara lambat” sehingga digunakan rumus koreksi perhitungan “Carter and Winsman”
dimana hasil penilaian Indeks Kesanggupan Badan (I.K.B) sama dengan kriteria penilaian
I.K.B “cara cepat”.
Jadi dalam praktikum kali ini kami tidak bisa membandingkan ada tidaknya perbedaan di
dalam penilaian I.K.B antara “cara cepat” dengan “cara lambat”.

2. Berapa orang di dalam kelompok saudara yang mempunyai Indeks Kesanggupan


Badan(I.K.B) termasuk baik sekali/ baik/ sedang/ cukup/ kurang/ kurang sekali ?
Jawaban :
Dikarenakan keterbatasan waktu dalam praktikum kali ini maka dalam melakukan
praktikum ini kami hanya menggunakan 2 anggota kami sebagai orang coba dan hasilnya
pun kedua orang tadi atau anggota kami tersebut sama-sama mempunyai I.K.B dengan
kriteria “sedang”.

30
4.2 Diskusi Hasil Praktikum Elektrokardiografi

1. Hitunglah frekuensi jantung (Heart Rate) dengan menggunakan RR Interval.


Tentukan iramanya normal atau tidak !
Jawaban :
Hasil frekuensi jantung dengan menggunakan RR interval rata-rata:
Heart Rate = 1500 = 1500 = 69,4 → pembulatan 69 (Normal)
RR int 21,6
Hasil dari frekuensi jantung (HR) adalah 69 dimana hasil ini masih berada dalam
batas normal karena normal dari Heart Rate (HR) adalah 60-100 x/mnt.

2. Dari hantaran II hitunglah lamanya :


a. P-R interval : awal gelombang P sampai awal QRS kompleks.
b. QRS kompleks : awal timbulnya gel. Q atau R sampai akhir gelombang S
c. Q-T interval : awal gelombang Q sampai akhir gelombang T
Apakah terdapat kelainan ?
Jawaban :
a. P-R interval : 3,33 mm → 0,133 detik
b. QRS kompleks : 1,92 mm → 0,077 detik
c. Q-T interval : 9,25 mm → 0,37 detik
Sesuai dengan penjelasan yang ada di BAB I Pendahuluan dalam latar
belakang teori maka nilai-nilai pada hantaran II tersebut masih dalam batas
normal dan tidak ada kelainan sama sekali.

3. Hitunglah besar voltage puncak-puncak P, Q, R, S, dan T pada hantaran I, II, dan


III. Apakah terdapat kelainan ?. Lakukan juga pada sadapan precordial.
Jawaban :
Hasil perhitungan dapat dilihat pada bab sebelumnya (BAB III Hasil
Praktikum). Dimana setelah dianalisis dari hasil tersebut didapatkan bahwa tidak
ada kelainan pada gelombang P, QRS Kompleks, dan T baik pada sadapan

31
ekstremitas (Lead I-III) maupun pada sadapan precordial (V1-V6) dan semuanya
sesuai dengan kriteria normal masing-masing sadapan yang telah diuraikan pada
BAB I Pendahuluan dalam latar belakang teori.
4. Buktikan kebenaran persamaan Einthoven pada QRS kompleks : II = I + III
Jawaban :
Nilai QRS Kompleks LI = 3 mm → 0,3 mV
Nilai QRS Kompleks LII = 16 mm → 1,6 mV
Nilai QRS Kompleks LIII = 13 mm → 1,3 mV
Jadi LI + LIII = LII → 3 mm + 13 mm = 16 mm
→ 0,3 mV + 1,3 mV = 1,6 mV
Maka teori Einthoven dalam praktikum kami dapat dibuktikan dan nilainya pun
sesuai dengan teori Einthoven tersebut dimana LI + LIII = LII.

5. Tentukan axis dari QRS kompleks (posisi jantung pada bidang frontal) !
Jawaban :

Dengan menggunakan sadapan yang saling tegak lurus yaitu


aVF dan LI maka dapat diperoleh perhitungan sebagai berikut

QRS Kompleks LI : QRS Kompleks aVF :

Q = 0 mm Q = -1 mm

R = 3 mm R = 18 mm

S = 0 mm S = -2 mm

Nilai = 3 mm Nilai = 15 mm

32
6. Lihatlah gambar pada precordial leads (posisi jantung pada bidang horizontal),
apakah ada Counter Clock Wise Rotation (CCW) / Clock Wise Rotation (CW)
Jawaban :
Setelah melihat hasil EKG dan menganalisisnya sesuai dengan teori yang ada
pada BAB I Pendahuluan latar belakang teori, kami tidak menemukan adanya
Counter Clock Wise Rotation ataupun Clock Wise Rotation. Dalam arti lain tidak
ada kelainan dan bisa dikatakan masih normal. Ini dibuktikan dengan melihat
gambar hasil EKG pada sadapan precordial V1-V6 dan menganalisisnya kemudian
diperoleh bahwa zona transisi dari EKG tersebut berada pada V3, sehingga ini
menunjukkan bahwa masih dalam batas normal serta tidak ada kelainan.

7. Bagaimana konklusi elektrokardiogram dalam praktikum Anda ? apakah ada


kelainan ataukah masih dalam batas normal ?
Jawaban :
Setelah melihat dan menganalisis dari hasil EKG yang telah dicatat serta dari
hasil praktikum ini menunjukkan bahwa kondisi elektrokardiogram dalam
praktikum kami tidak terdapat kelainan dan masih dalam batas normal.
Ini dapat dilihat dari beberapa hasil diskusi yang menunjukkan bahwa kondisi
elektrokardiogram pada praktikum ini semuanya masih dalam batas normal serta
tidak ditemukannya kelainan-kelainan pada jantung orang coba tersebut.

33
DAFTAR PUSTAKA

Ganong, W.F.2008.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 22.EGC: Jakarta


Guyton, Arthur C. MD dan Hall.2007.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran
edisi 11.EGC: Jakarta
Hampton, John R. 2006. Dasar-Dasar EKG. Jakarta: EGC.
Ward, J. and Robert Clarke.2009.At a Glance Fisiologi.EMS: Jakarta

34