Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN ANALISIS INSTRUMEN

“ POLARIMETRI “

OLEH:

SUCY WULANDARY
1320075

KELOMPOK 1V B -1 :
NANDA LUTFI INSANI
ELA ELWANTO BRUTU

PROGRAM STUDI : KIMIA ANALISIS

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI
PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN INDUSTRI
POLITEKNIK ATI PADANG
2013
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Polarimetry adalah pengukuran dan interpretasi dari polarisasi gelombang


transversal, gelombang elektromagnetik terutama, seperti gelombang radio atau
cahaya. Biasanya polarimetry dilakukan pada gelombang elektromagnetik yang
telah melakukan perjalanan melalui atau telah tercermin, dibiaskan, atau difraksi
oleh beberapa materi untuk mengkarakterisasi obyek itu.

Menurut Wikipedia (2010), jenis-jenis polarimeter yaitu :


1.Manual. Polarimeter pertama kembali pada tahun 1830-an, yang dibutuhkan
pengguna secara fisik memutar analyzer, dan detektor itu mata pengguna menilai
saat yang paling bersinar cahaya melalui. Sudut ditandai pada skala yang
mengelilingi analyzer tersebut. Desain dasar masih digunakan dalam polarimeter
sederhana.
2.Semi-otomatis. Membutuhkan deteksi visual tetapi push menggunakan-
tombol untuk memutar analisa dan menawarkan tampilan digital
3.Sepenuhnya otomatis. Polarimeter yang paling modern yang sepenuhnya
otomatis, dan hanya memerlukan user untuk menekan tombol dan menunggu
pembacaan digital.
Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan ke dalam suatu zat optis aktif seperti gula,
maka cahaya itu akan dibelokkan. Kalau cahaya tersebut dilewatkan ke dalam air
murni kita melihat cahaya tersebut diteruskan, artinya air tidak dapat memutar
bidang cahaya terpolarisasi. Zat optis aktif ditandai oleh adanya atom karbon tak
setangkap (asimetri-tak simetri) atau kiral di dalam senyawa organik. Besarnya
sudut perputaran cahaya terpolarisasi dapat diukur denganpolarimeter dan
harganya dipengaruhi oleh konsentrasi zat optis aktif. Hubungan antara
konsentrasi dan besar sudut putar dirumuskan sebagai
Dengan merupakan perputaran (rotasi) jenis pada suhu (T) dan panjang
gelombang () tertentu, α menyatakan panjang larutan yang dilewati cahaya, dan
c menyatakan konsentrasi. Dari rumusan ini kita peroleh jenis dan jumlah zat
optis aktif (Sumarna, 1990).
Rotasi spesifik didefinisikan sebagai , dimana α adalah sudut pada bidang
cahaya terpolarisasi dirotasi oleh larutan dengan konsentrasi c gram zat terlarut
per mL larutan. Pada suatu bejana dengan panjang d desimeter. Panjang
gelombang yang umumnya dispesifikkan adalah 590 nm, berupa garis spectrum
natrium. Beberapa nlai rotasi spesifik untuk beberapa senyawa optis aktif terlihat
pada tabel:
Senyawa Senyawa
d-Glukosa +52,7 Sukrosa +66,5
d-Fruktosa -92,4 Asam tartarat +14,1
(semua senyawa
Maltosa +130,4
ukur dalam air)
(Khopkar, 2007).
Beberapa zat mempunyai kemampuan memutar bidang polarisasi cahaya.
Zat-zat yang mempunyai kemampuan memutar bidang polarisasi ialah zat-zat
yang demikian disebut zat optis aktif (Tim Dosen Kimia Analitik, 2010).
Molekul yang mempunyai atom C asimetris atau atom C kiral yang dapat
memutar bidang polarisasi ke kanan diberi tanda d aau + dan ke kiri diberi tanda l
atau -. Mengetahui d dan l atau + dan – adalah melalui percobaan menggunakan
alat polarimeter (Matsjeh, 1983).

Daya putaran optis adalah kemampuan suatu zat untuk memutar bidang getar sinar
terpolarisir. Sinar terpolarisir merupakan suatu sinar yang mempunyai satu arah bidang getar dan
arahtersebut tegak lurus terhadap arah rambatannya. Senyawa optis aktif adalah senyawa yang
dapat memutar bidang getar sinar terpolarisir.

Zat yang optis ditandai dengan adanya atom karbon asimetris atau atom C kiral
dalamsenyawa organik, contoh : kuarsa ( SiO2) dan fruktosa.Polarimeter dapat digunakan untuk
; menganalisa zat yang optisaktif, mengukur kadar gula, dan penentuan antibiotik dan enzim.
Terdapat beberapa syarat senyawa yang dapat dianalisis dengan polarimetri,
adalah;memiliki struktur bidang kristal tertentu (dijumpai pada zat padat); memilikistruktur
molekul tertentu atau biasanya dijumpai pada zat cair. Struktur molekul adalah struktur yang
asimetris, seperti pada glukosa.

1.2 Tujuan Pecobaan

 Menentukan konsentrasi larutan optik aktif dengan menggunakan polarimeter

 Menenutukan sudut putar jenis larutan optik aktif dengan menggunakan polarimeter
 Menentukan konsentrasi dari larutan sampel gula (Cx)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Polarimeter adalah instrument ilmiah yang digunakan untuk mengukur sudut


rotasi yang disebabkan oleh melewati cahaya terpolarisasi melalui optic aktif
substansi. Beberapa zat kimia optic aktif, dan terpolarisasi (alias searah) cahaya
akan memutar baik ke kiri (berlawanan arah jarum jam) atau ke kanan (searah
jarum jam) ketika melawati zat ini.

Jumlah dimana cahaya diputardikenal sebagai sudut rotasi.

Bila cahaya polikromatik dilewatkan pada prisma Nicol akan diperoleh suatu
cahaya monokromatik dan cahaya ini disebut cahaya terpolarisasi. Suatu isomer
optis aktif dapat berinteraksi dengan cahaya terpolarisasi dan memutar bidang
cahaya terpolarisasi dengan suatu sudut yang dilambangkan dengan α dan disebut
rotasi optik.Alat yang digunakan untuk mengukur besaran α adalah polarimeter.
Isomer optis merupakan senyawa-senyawa dengan rumus molekul sama tetapi
tatanan atom-atomnya dalam ruang berbeda. Isomer-isomer optis dapat
mengalami reaksi yang sama, mempunyai sifat fisika yang mirip, perbedaan
isomer-isomer tersebut terletak pada interaksinya dengan bidang cahaya
terpolarisasi. Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada larutan isomer optis, maka
isomer aktif ini akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah tertentu.
Isomer optis mengandung atom karbon asimetris (atom karbon yang mengikat
empat atom/gugus yang berbeda) dalam strukturnya.

Molekul dengan satu atom karbon asimetris merupakan molekul kiral (tidak
simetris), molekul demikian dapat memutar bidang cahaya
terpolarisasi.Molekul/senyawa tersebut dinamakan senyawa/isomer optis
aktif.Molekul dengan dua atau lebih atom karbon asimetris, tidak selalu
membentuk molekul kiral.
Dengandemikian mungkin saja terdapat molekul yang mempunyai atom-atom
karbon asimetris tetapi tidak optis aktif.Contoh isomer dengan satu atom karbon
asimetris adalah asam laktat.

OH

H3C C* COOH

Atom C dengan tanda * adalah atom karbon asimetris, atom karbon tersebut
mengikat empat atom/gugus yang berbeda (H, CH3, OH, dan COOH).

Skema dari alat polarimeter dapat dilihat pada gambar berikut.

Cahaya dari lampu sumber, terpolarisasi setelah melewati prisma Nicol


pertama yang disebut polarisator. Cahaya terpolarisasi kemudian melewati
senyawa optis aktif yang akan memutar bidang cahaya terpolarisasi dengan arah
tertentu. Prisma Nicol ke dua yang disebut analisator akan membuat cahaya dapat
melalui celah secara maksimum.

Cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium lamp (lampu


natrium) dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna kuning.
Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak
sekali. Bila dihayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang
datar. Bidang getar yang banyak ini secara mekanik dapat dipisahkan menjadi dua
bidang getar yang saling tegak lurus.

Rotasi optis yang diamati/diukur dari suatu larutan bergantung kepada jumlah
senyawa dalam tabung sampel, panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya,
temperatur pengukuran, dan panjang gelombang cahaya yang digunakan.Untuk
mengukur rotasi optik, diperlukan suatu besaran yang disebut rotasi spesifik yang
diartikan suatu rotasi optik yang terjadi bila cahaya terpolarisasi melewati larutan
dengan konsentrasi 1 gram per mililiter sepanjang 1 desimeter. Rotasi spesifik
dapat dihitung dengan menggunakan persamaan:
𝑎
[α]tλ =
𝑐.𝑙

Ket :

a = sudut putaran optik (yang teramati)

c = konsentrasi larutan gram/mL larutan

l = panjang jalan/larutan yang dilalui cahaya dalam desimeter

λ=panjang gelombang cahaya (bila menggunakan lampu natrium


dilambangkan dengan “D“)

t = temperatur (oC).

Menurut Kolthoff, I.M., (1958), polarimeter adalah alat untuk mengukur besarnya
putaran berkas cahaya terpolarisasi oleh suatu zat optis aktif. Zat yang bersifat optis aktif adalah
zat yang memiliki struktur transparan dan tidak simetris sehingga mampu memutar bidang
polarisasi radiasi. Materi yang bersifat optisaktif contohnya adalah kuarsa, gula, dan sebagainya.
Pemutaran dapat berupa dextrorotatory (+) bila arahnya sesuai dengan arah putar jarum jam
ataupun levo-rotatory bila arahnya berlawanan dengan jarum jam.
Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya putaran
optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat dalam larutan. Jadi
polaimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk mempolarisasi cahaya oleh suatu
senyawa optis aktif.

Senyawa optis aktif adalah senyawa yang dapat memutar bidang polarisasi,sedangkan
yang dimaksud dengan polarisasi adalah pembatasan arah getaran (vibrasi) dalam sinar atau
radiasi elektromagnetik yang lain. Untuk mengetahui besarnya polarisasi cahaya oleh suatu
senyawa optis aktif, maka besarnya perputaran itu bergantung pada beberapa faktor yakni:

 struktur molekul
 temperatur
 panjang gelombang
 molekul pada jalan cahaya
 jenis zat
 ketebalan
 konsentrasi dan juga pelarut.

Polarisasi bidang dilakukan dengan melewatkan cahaya biasa menembus sepasang kristal
kalsit atau menembus suatu lensa polarisasi. Jika cahaya terpolarisasi-bidang dilewatkan suatu
larutan yang mengandung suatu enantiomer tunggal maka bidang polarisasi itu diputar kekanan
atau kekiri. Perputaran cahaya terpolarisasi-bidan gini disebut rotasi optis. Suatu senyawa yang
memutar bidang polarisasi suatu senyawater polarisasi-bidang dikatakan bersifat aktif optis.
Karena inilah maka enantimer-enantiomer kadang-kadang disebut isomer optis.

Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut, sinar yang datang
dari sumbercahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma
terpolarisasi (polarizer),kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan. Dan
akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua(analizer).

Polarizer tidak dapat diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di


putar sesuai keinginan. Bila polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang
polarisasinya juga tega lurus),maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui
medium diantara prisma polarisasi.
Pristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifat optis aktif
ditempatkan pada sel dan ditempatkandiantara prisma terpolarisasi maka sinar
akan ditransmisikan. Putaran optik adalah sudut yangdilalui analizer ketika
diputar dari posisi silang ke posisi baru yang intensitasnya semakinberkurang
hingga nol. Untuk menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu
digunakanapa yang disebut “setengah bayangan” (bayangan redup).

Menurut Scribd (2010), prinsip kerja polarimeter adalah sebagai berikut :


1. Sinar monokromtis dari sumber cahaya (lampu natrium) akan melewati
lensa kolimator sehingga berkas sinar yang dihasilkan akan disejajarkan arah
rambatnya.
2. Dari lensa terus ke polarisator untuk mendapatkan berkas cahaya yang
terpolarisasi
3. Cahaya terpolarisasi ini akan terus ke prisma ½ nicol untuk mendapatkan
bayangan gelap dan terang, kemudian melewati larutan senyawa optik aktif yang
berada dalam tabung polarimeter.
Bila cahaya terpolarisasi dilewatkan ke dalam suatu zat optis aktif seperti
gula, maka cahaya itu akan dibelokkan. Kalau cahaya tersebut dilewatkan ke
dalam air murni kita melihat cahaya tersebut diteruskan, artinya air tidak dapat
memutar bidang cahaya terpolarisasi. Zat optis aktif ditandai oleh adanya atom
karbon tak setangkap (asimetri-tak simetri) atau kiral di dalam senyawa organik.
Besarnya sudut perputaran cahaya terpolarisasi dapat diukur denganpolarimeter
dan harganya dipengaruhi oleh konsentrasi zat optis aktif. Hubungan antara
konsentrasi dan besar sudut putar dirumuskan sebagai
Dengan merupakan perputaran (rotasi) jenis pada suhu (T) dan panjang
gelombang () tertentu, α menyatakan panjang larutan yang dilewati cahaya, dan
c menyatakan konsentrasi. Dari rumusan ini kita peroleh jenis dan jumlah zat
optis aktif (Sumarna, 1990).
BAB III

PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A.Alat

 Polarimeter

 Buret schelbach 50 mL , Standar dan klem

 Labu ukur 250 mL , Labu semprot, Gelas piala 250 mL,


B.Bahan

 Larutan sukrosa 25%


 Aquades

C.Cara kerja

 Pembuatan Larutan Standar


a. Diambil larutan induk sukrosa 25%, kemudian dimasukkan ke dalam
buret schelbach 50 mL.
b. Setelah itu dibuat larutan standar dengan konsentrasi 0, 2%, 4%, 8%,
12% dan 20% dengan mengencerkan larutan sukrosa 25% di dalam
labu ukur 50 mL, setelah itu ditambahkan aquades dan dipaskan sampai
tanda tera. Lalu dihomogenkan.
c. Kemudian diukur sudut putaran optis larutan standar dengan
menggunakan Polarimeter.

 Pengukuran dengan Polarimeter


a. Hubungkan alat dengan sumber arus listrik dan ON kan alat, tekan
tombol pada bahagian belakang pada posisi “DEG” dan dibiarkan
stabil.
b. Buka tutup polarimeter, tempatkan pada posisi vertical, isi penuh
dengan aquades, usahakan seminimal mungkin adanya udara yang
terperangkap. Tempatkan posisi tabung pada bagian tengah alat
polarimeter (jika ada gelembung kecil, tempetkan dia pada bagian yang
tabung yang besar) lalu tutup. Lakukan pengamatan pada jenis okuler,
atur seperlunya agar pengamatan didapat cukup tajam.
c. Jika pengamatan indicator menunjukkan Gelap-Terang, tekan tombol
“R dan TEMP” secara bersamaan sampai zero set menyala, atau jika
pengamatan indicator menunjukkan Terang-Gelap, tekan tombol “L
dan TEMP” secara bersamaan sampai zero set menyala. Pengamatan
pada bahagian indicator didapat (baur-baur) merata. Tekan tombol
ZERO SET indicator alat akan menunjukkan 0.00 .
d. Diukur larutan standar 0, 2%, 4%, 8%, 12% dan 20% yang telah dibuat
tadi. Jika pengamatan indicator menunjukkan Gelap-Terang, maka
tekan tombol “R” sampai didapat baur-baur (untuk zat yang dextro
rotary) atau pengamatan indicator menunjukkan Terang-Gelap, maka
tekan tombol “L” sampai didapat baur-baur (untuk zat yang leuvo
rotary).
e. Pada saat didapatkan baur-baur dicatat nilai sudut putaran optisnya.
Pengamatan dilakukan dua kali, namun dari arah datang yang berbeda.
Kedua nilai yang didapat dirata-ratakan.
f. Setelah larutan standar diukur maka ganti dengan larutan sampel yang
telah disediakan, lakukan hal yang sama dan dapatkan nilai putaran
optisnya.
g. Dibuat kurva kalibrasi standar, dan gunakan kurva ini untuk
menentukan kadar Cx (sampel) ataupun dengan menentukan persamaan
regresi linear pengukuran polarimetris.
BAB IV

HASIL DAN PERHITUNGAN

a) Pembuatan Larutan Standar

Larutan induk sukrosa adalah 25%

(V x C)pekat = (V x C)encer

 Untuk 2%
25 𝑚𝐿 𝑥 2 %
𝑉= = 2 𝑚𝐿
25 %
 Untuk 4%
25 𝑚𝐿 𝑥 4 %
𝑉= = 4 𝑚𝐿
25 %
 Untuk 8%
25 𝑚𝐿 𝑥 8 %
𝑉= = 8 𝑚𝐿
25 %

 Untuk 12%
25 𝑥 12 %
𝑉= = 12 𝑚𝐿
25 %

 Untuk 20%
25 𝑚𝐿 𝑥 20 %
𝑉= = 20 𝑚𝐿
25 %

b) Pengukuran Deret Standar


c)
(𝒂𝟏)+ (𝒂𝟐)
Rumus : a = 𝟐
 2%
a1 = 64,0 dan a2 = 39,0
(64,0) + (39,0)
𝑎= = 66,2
2
 4%
a1 = 120,8 dan a2 = 68,4
(120,8) + (68,4)
𝑎= = 119,35
2
 8%
a1 = 138,4 dan a2 = 145,1
(138,4) + (145,1)
𝑎= = 141,75
2
 12%
a1 = 142,4 dan a2 = 150,2
(142,4) + (150,2)
𝑎= = 145,3
2
 20%
a1 = 154,8 dan a2 = 160,8
(154,8) + (160,8)
𝑎= = 157,8
2

Membuat kurva Kalibrasi Standar :

konsentrasi sudut perputaran


0 31,25
2 66,2
4 119,35
8 141,75
12 145,3
20 157,8

d) Pengukuran Larutan Sampel

Untuk Cx : a1 = 140,2 dan a2 = 148,1


(140,2) + (148,1)
𝑎= = 144,15
2
kurva kalibrasi sukrosa
y = 5,704x + 66,53
200
R² = 0,838
180
160

ilai putaran optis


140
120
100
Series1
80
60 Linear (Series1)
40
20
0
0 5 10 15 20 25
konsentrasi

X Y ( x-x) ( x-x) ((y - y) ( y-y ) ( x-x ) (y-y )


-
0 31,25 -7,6667 58,77828 79,025 6244,9506 605,86096
2 66,2 -5,6667 32,11148 - 1942,6056 249,7598
44,075
4 119,35 -3,6667 13,44468 9,075 82,3556 -33,275
8 141,75 0,3333 0,11108 31,475 990,6756 10,4906
12 145,3 4,3333 18,7774 35,025 1226,7506 151,7738
20 157,8 12,3333 152,11028 47,525 2258,6256 586,14008
x = 7,6667 y =110,275 275,3332 12745,964 1570,75024

y = a + bx

110,275 = a + 5,704903 ( 7,6666667 )

110,275 = a + 43,737589

a = 110,275- 43,73758

= 66,537411

Persamaan reqrensi :

y = a + bx

y = 66,53711 + 5,704903 x

y = 5,704903 x + 66,53711
1570,75024
𝑟=
√(275,332)(12745,9636)
1570,75024
= 1873,33578

= 0,838477

1570,75024
𝑏=
275,3332

= 5,704906

Y = 66,53711 + 5,704903 x

= 66,53711 + 5,704903 x (0)

= 66,53711

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (2)

= 66,53711 + 11,409806

= 77,946916

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (4)

= 66,53711 + 22,819612

= 89,356722

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (8)

= 66,53711 + 45,639224
= 112,176334

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (4)

= 66,53711 + 22,819612

= 89,356722

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (8)

= 66,53711 + 45,639224

= 112,176334

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (12)

= 66,53711 + 68,458836

= 134,995946

Y = 66,53711 + 5,7049903 x

= 66,53711 + 5,704903 (20)

= 66,53711 + 114,09806

= 180,63517

untuk Cx → 144,15

y = 5,7049x + 66,537

144,15 = 5,7049x + 66,537


5,7049x = 144,15 – 66,537

X = 77,613

5,7049

X = 13,6046%

jadi % Cx yang didapatkan adalah 13,6046%


BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada percobaan mengukur sudut putaran optis dari larutan sukrosa maka
dapat diketahui nilai sudut putaran optis dari senyawa optis aktif ini adalah
13,85002 % besaran ini didapatkan dari pengukuran gelap-terang ke baur-baur
(a1) dan dari terang-gelap ke baur-baur (a2).

Dari percobaan yang dilakukan dan melihat kurva kalibrasi standar maka
dapat diketahui bahwa konsentrasi dan jenis larutan akan mempengaruhi sudut
putar. Semakin tinggi konsentrasi maka sudut putar dari senyawa optis aktif atau
larutan sukrosa akan semakin tinggi pula, namun pengukuran yang didapatkan
tidak begitu linear itu berarti bahwa pengukuran yang dilakukan kurang teliti.

Dan konsentrasi larutan sampel yang didapatkan dari Cx =144,15 adalah13,6046


%.
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

1. KESIMPULAN

Setelah dilakukan praktikum pengukuran senyawa optis aktif yakni pada


larutan sukrosa dengan metode polarimetri, maka didapatkan konsentrasi larutan
sukrosa tersebut adalah 13,6046 %.

2. SARAN

Dalam melakukan pengamatan mahasiswa harus benar-benar teliti dalam


melihat baur-bau,gelap-terang dan terang-gelapnya.Apabila terjadi sedikit
kesalahan maka hasil yang didapatkan akan jauh dari hasil yang diingiinkan.
DAFTAR PUSTAKA

Khopkar, S.M. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-PRESS

Tim Dosen Kimia Analisis Instrumen. 2008. Penuntun Praktikum Kimia Analisis
Instrumen. Makassar: Laboratorium Kimia FMIPA UNM.

WWW.scribd.com/polarimetri/05/2015/17:03

Zemansky, Sears. 1994. Fisika untuk Universitas 3 Optika. Jakarta: Bina cipta.