Anda di halaman 1dari 10

1 Kromatografi

Kromatografi adalah cara pemisahan zat khasiat dan zat lain yang ada dalam sediaan dengan
jalan penyarian berfraksi, penyerapan, atau penukaran ionpada zat berpori, menggunakan cairan atau
gas yang mengalir (2).
Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari substansinya menjadi komponen-
komponennya. Seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip yang sama (3).
Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa padatan atau cairan yang didukung pada
padatan) dan fase gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa
komponen-komponen dari campuran bersama-sama. Komponen-komponen yang berbeda akan bergerak
pada laju yang berbeda pula (3). Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan campuran berdasarkan
perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponen-
komponennya akan dipisahkan antara dua buah fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan
komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang
mudah tertahan pada fase diam akan tertimggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase
gerak akan bergerak lebih cepat (4).

2 Kromatografi Kolom
Kromatrografi kolom menunjukkan adanya prinsip yang sama yang digunakan dalam
kromatografi lapis tipis yang dapat diterapkan pada skala besar untuk pemisahan campuran.
Kromatografi kolom seringkali digunakan untuk pemurnian senyawa di laboratorium (5).
Gambar 1. Alat Kromatografi Kolom
Berbagai ukuran kolom dapat digunakan, dimana hal utama yang dipertimbangkan adalah
kapasitas yang memadai untuk menerima sampel-sampel tanpa melalui fasa diamnya. Merupakan aturan
praktis yang umum bahwa panjang kolom harus sekurang-kurangnya 10 kali ukuran diameternya. Jika
kita mempunyai kolom dengan panjang 20 cm, dan diameternya 1 atau 2 cm. Bahan pengemasnya suatu

adsorben seperti alumina atau resin penukar ion, dimasukkan dalam bentuk suspensi kedalam porsi fasa
bergerak dan dibiarkan diam didalam hamparan basah dengan sedikit cairan (6).
Kolom untuk analisis farmasi umumnya digunakan kolom isi dan sebaiknya hanya isi kolom yang
mempengaruhi gerak relatif zat terlarut melalui sistem. Kolom terbuat dari kaca, kecuali jika dinyatakan
lain. Kolom dengan beragam ukuran dapat digunakan, tetapi umumnya antara 0,6 m hingga 1,8 m serta
diameter dalam 2 mm hingga 4 mm. sebagai fase cair dapat digunakan beraneka ragam senyawa kimia,
seperti poly etilen glikol, ester dan amida berbobot molekul tinggi, hidro karbon, gom, dan cairan silicon
(5).
Kolom harus dikondisikan dengan jalan mengoperasikan sampai keadaan stabil pada suhu yang
lebih tinggi dari suhu yang digunakan seperti yang tertera pada masing-masing monografi. Suatu uji yang
sesuai terhadap sifat inert penyangga, yang perlu untuk fase cair dengan polaritas yang rendah, ada
kalanya suatu kolom dapat dikondisikan dengan menyuntikkan ulang senyawa yang dikromatografi.
Kromatografi kolom digunakan untuk memisahkan suatu campuran senyawa. Kolom yang terbuat
dari gelas diisi dengan fase diam berupa serbuk penyerap (seperti selulosa, silika gel, poliamida). Fase
diam dialiri (dielusi) dengan fase gerak berupa pelarut.
Kromatografi kolom terdiri dari 2 fase yaitu (7):
1. Fase Diam
Fase stationer dalam kromatografi kolom adalah zat padat (adsorben). Fase diam yang paling umum
digunakan adalah silica gel yang diikuti alumina. Fungsi dari fase diam adalah untuk menahan
sampel bergerak di sepanjang kolom.
2. Fase Gerak
Fase gerak yang digunakan dalam kromatografi kolom berupa campuran pelarut atau pelarut murni
(eluent). Fungsi fase gerak adalah mengalirkan analit (sampel) untuk bergerak di sepanjang fase
diam sampai akhirnya terelusi.
Ukuran penyerap untuk kolom biasanya lebih besar daripada untuk KLT. Kemasan kolom biasanya
63-250 µm, untuk kolom yang dijalankandengan gaya tarik bumi, kolom yang dijalankan dengan
tekanan, apakah menggunakan udara ataupompa, biasanya mengandung partikel 40-63 µm atau lebih
halus (8).
Kromatografi kolom merupakan metode kromatografi klasik yang masih banyak digunakan.
Kromatografi kolom digunakan untuk memisahkan senyawa-senyawa dalam jumlah yang banyak
berdasarkan adsorpsi dan partisi. Kemasan adsorben yang sering digunakan adalah silika gel G-60,
kieselgur, Al2O3, dan Diaion. Cara pembuatannya ada dua macam : (7)
a. Cara kering yaitu silika gel dimasukkan ke dalam kolom yang telah diberi kapas kemudian
ditambahkan cairan pengelusi.
b. Cara basah yaitu silika gel terlebih dahulu disuspensikan dengan cairan pengelusi yang akan
digunakan kemudian dimasukkan ke dalam kolom melalui dinding kolom secara kontinyu sedikit demi
sedikit hingga masuk semua, sambil kran kolom dibuka. Eluen dialirkan hingga silika gel mapat,
setelah silika gel mapat eluen dibiarkan mengalir sampai batas adsorben kemudian kran ditutup dan
sampel dimasukkan yang terebih dahulu dilarutkan dalam eluen sampai diperoleh kelarutan yang
spesifik. Kemudian sampel dipipet dan dimasukkan ke dalam kolom melalui dinding kolom sedikit
demi sedikit hingga masuk semua, dan kran dibuka dan diatur tetesannya, serta cairan pengelusi
ditambahkan. Tetesan yang keluar ditampung sebagai fraksi-fraksi.
Pada kromatografi kolom ukuran silika 1:100 karena berdasarkan penelitian/pengalaman itu
merupakan perbandingan yang paling tepat untuk panjang kolom dalam menghasilkan pemisahan
senyawa yang baik, mengingat pemisahan dipengaruhi oleh panjang dan diameter kolom, semakin
panjang kolom semakin baik untuk melakukan pemisahan. Pada kromatografi cair vakum digunakan 1:10
karena kapasitas dari gelas masir tidak mencukupi jika menggunakan perbandingan 1:100, jadi biasanya
menggunakan perbandingan 1:10, intinya pemisahan dipengaruhi oleh panjang dan diameter dari silika,
semakin panjang dan lebar diameternya, maka pemisahan akan semakin baik.(12)
Kromatografi kolom dari larutan dibutuhkan tabung pemisah tertentu yang diisi dengan bahan
sorpsi dan juga pelarut pengembangyang berbeda. Tabung pemisah yang diisi dengan bahan sorpsi
disebutkolom pemisah. Tergantung dari masalah bahan pemisahan dapatdigunakan tabung filter dengan
gelas berpori yang pada ujung bawahmenyempit (tabung Allihn) atau tabung gelas, yang pada ujung
bawahmenyempit dan dilengkapi dengan kran. Tabung bola jarang digunkan.Perbandingan panjang
tabung terhadap diameter pada umumnya adalah40:1. Harga 20 berlaku sebagai batas bawah (9).
Pengisisan tabung pemisah dengan adsorben, yang juga disebut kemasan kolom, harus dilakukan
secara hati-hati, harus rata. Aluminiumoksida atau silika gel dapat diisikan kering ke dalam tabung
pemisah. Agarpengisian rata, tabung setelah diisi divibrasi, diketok-ketok atau dijatuhkanlemah pada
pelat kayu. Adsorben lainnya harus diisikan sebagai suspensi,terutama jika zat ini menggelembung
dengan pelarut pengembang. Yang umum dilakukan adalah, adsorben dibuat seperti bubur dengan
pelarutelusi, kemudian dimasukkan ke dalam tabung pemisah. Sebagai bahan sorpsi digunakan bahan
yang sama dengan kromatografi lapis titpi yaitu silika gel, aluminium oksida, poliamida, selulosa,
selanjutnya juga arang aktif dan gula tepung. Tergantung dari cara pengembangan dapatdibedakan
kromatografi elusi, kromatografi garis depan dan kromatografipendesakan (9).
Kolom kromatografi berkerja berdasarkan skala yang lebih besar menggunakan material
terpadatkan pada sebuah kolom gelas vertical (10).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemisahan dengan kromatografi kolom adalah fase diam yang
digunakan, kepolaran pelarut (fase diam), ukuran kolom (diamter dan panjang kolom), kecepatan alir
elusi membantu mengatasi permasalahan dalam dunia bioteknologi, farmasi, klinik dan kehidupan
manusia secara umum (10).
Sebagian besar prinsip pemisahan kromatografi kolom didasarkan pada afinitas kepolaran analit
dengan fase diam, sedangkan fase gerak selalu memiliki kepolaran yang berbeda dengan fase diam.
Pada sebagian besar kromatografi kolom menggunakan fase diam yang bersifat polar dengan fase gerak
yang non-polar dengan begitu waktu retensi akan menjadi lebih singkat. Semakin cepat pergerakan fase
gerak akan meminimalkan waktu yang diperlukan untuk bergerak di sepanjang kolom. Laju aliran kolom
dapat ditingkatkan dengan memperluas aliran eluent di dalam kolom dengan mengisi fase diam pada
bagian bawah atau dikurangi dengan mengontrol keran. Laju aliran yang lebih baik dapat dicapai dengan
menggunakan pompa atau dengan menggunakan gas dengan kompresi (misalnya udara,nitrogen, argon)
untuk mendorong pelarut melalui kolom. Kolomnya (tabung gelas) diisi dengan bahan seperti alumina,
silika gel atau pati yang dicampur dengan adsorben, dan pastanya diisikan kedalam kolom. Larutan
sampel kemudian diisikan kedalam kolom dari atas sehingga sampel diasorbsi oleh adsorben. Kemudian
pelarut (fasa mobil; pembawa) ditambahkan tetes demi tetes dari atas kolom. Partisi zat terlarut
berlangsung di pelarut yang turun ke bawah (fasa mobil) dan pelarut yang teradsorbsi oleh adsorben
(fasa stationer). Selama perjalanan turun, zat terlarut akan mengalami proses adsorpsi dan partisi
berulang-ulang. Laju penurunan berbeda untuk masing-masing zat terlarut dan bergantung pada
koefisien partisi masing-masing zat terlarut. Akhirnya, zat terlarut akan terpisahkan membentuk beberapa
lapisan. Akhirnya, masing-masing lapisan dielusi dengan pelarut yang cocok untuk memberikan
spesimen murninya. Nilai R didefinisikan untuk tiap zat terlarut dengan persamaan berikut.
R = (jarak yang ditempuh zat terlarut)/(jarak yang ditempuh pelarut/fasa mobil) (11).
Kromatografi kolom karena memiliki aliran konstan solusi eluted melewati detektor dalam berbagai
konsentrasi, detektor harus plot konsentrasi dari sampel eluted selama perjalanan waktu. Plot
konsentrasi sampel terhadap waktu disebut kromatogram. Resolusi mengungkapkan tingkat pemisahan
antara komponen-komponen dari campuran. Semakin tinggi resolusi kromatogram, semakin baik tingkat
pemisahan sampel kolom memberi (12).
Faktor-faktor yang digunakan untuk evaluasi kinerja kolom yaitu (12):
1. Efisiensi Kolom Kromatografi
Salah satu karakteristik sistem kromatografi yang paling sederhana adalah efisiensi atau jumlah
lempeng teoritis (N). Ukuran efisiensi kolom adalah jumlah lempeng (plate number, N) yang
didasarkan pada konsep lempeng teoritis pada distilasi.
2. Resolusi (Daya Pisah)
Kolom yang lebih efisien akan mempunyai resolusi yang baik. Tingkat pemisahan komponen dalam
suatu campuran dengan metode kromatografi direfleksikan dalam kromatogram yang dihasilkan.
Untuk hasil pemisahan yang baik, puncak-puncak dalam kromatogram harus terpisah secara
sempurna dari puncak lainnya dengan sedikit tumpang (overlapping) atau tidak ada tumpang tindih
sama sekali. Resolusi komponen-komponen dalam kromatografi tergantung pada waktu retensi relatif
pada sistem kromatografi tertentu dan tergantung pada lebar puncak.
3. Faktor Asimetri (Faktor Pengekoran)
Suatu situasi yang menunjukkan kinerja kromatografi yang kurang baik adalah ketika ditemukan
suatu puncak yang mengalami pengekoran (tailing) sehingga menyebabkan puncak tidak setangkup
atau tidak simetri. Jika puncak yang akan dikuantifikasi adalah asimetri (tidak setangkup), maka
suatu perhitungan asimetris merupakan cara yang berguna untuk mengontrol atau mengkarakterisasi
sistem kromatografi.
Dalam bidang bioteknologi, kromatografi mempunyai peranan yang sangat besar. Misalnya dalam
penentuan, baik kualitatif maupun kuantitatif, senyawa dalam protein. Protein sering dipilih karena ia
sering menjadi obyek molekul yang harus di-purified (dimurnikan) terutama untuk keperluan dalam bio-
farmasi. Kromatografi juga bisa diaplikasikan dalam pemisahan molekul-molekul penting seperti asam
nukleat, karbohidrat, lemak, vitamin dan molekul penting lainnya.
Dengan data-data yang didapatkan dengan menggunakan kromatografi ini, selanjutnya sebuah
produk obat-obatan dapat ditingkatkan mutunya, dapat dipakai sebagai data awal untuk menghasilkan
jenis obat baru, atau dapat pula dipakai untuk mengontrol kondisi obat tersebut sehingga bisa bertahan
lama.
Dalam bidang klinik, teknik ini sangat bermanfaat terutama dalam menginvestigasi fluida badan
seperti air liur. Dari air liur seorang pasien, dokter dapat mengetahui jenis penyakit yang sedang diderita
pasien tersebut. Seorang perokok dapat diketahui apakah dia termasuk perokok berat atau ringan hanya
dengan mengetahui konsentrasi CN- (sianida) dari sampel air liurnya. Demikian halnya air kencing, darah
dan fluida badan lainnya bisa memberikan data yang akurat dan cepat sehingga keberadaan suatu
penyakit dalam tubuh manusia dapat dideteksi secara dini dan cepat.
Sekarang ini, deteksi senyawa oksalat dalam air kencing menjadi sangat penting terutama bagi
pasien kidney stones (batu ginjal). Banyak metode analisis seperti spektrofotometri, manganometri, atau
lainnya, akan tetapi semuanya membutuhkan kerja ekstra dan waktu yang cukup lama untuk
mendapatkan hasil analisis dibandingkan dengan teknik kromatografi. Dengan alasan-alasan inilah,
kromatografi kemudian menjadi pilihan utama dalam.
Pada metode kromatografi kolom mempunyai keuntungan dan kerugian, yaitu (14):
Keuntungan:
1. Dapat digunakan untuk analisis dan aplikasi preparatif
2. Digunakan untuk menentukan jumlah komponen campuran
3. Digunakan untuk memisahkan dan purifikasi substansi
Kerugian:
1. Untuk mempersiapkan kolom dibutuhkan kemampuan teknik dan manual
2. Metode ini sangat membutuhkan waktu yang lama.

Kromatografi Kolom Isap :


1. Suction Colomn
Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak, berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom
diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi
komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. (12)
2. Rapid-Sigel
Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang sedikit berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom
diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi
komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. . (12)
3. Press Colomn
Kromatografi kolom sederhana di mana fase gerak bergerak dengan cepat karena penggunaan
tekanan positif dari tabung nitrogren. Udara yang ditekan mengandung O2 dan uap air yang dapat
menyebabkan peruraian produk dari ekstrak dan berubah saat pemisahan kromatografi. . (12)
3 Kromatografi Kolom Vakum
Kromatografi kolom vakum merupakan kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada
kondisi vakum, fase gerak digerakkan dengan kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung
cepat. Kolom kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan
maksimum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan
dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi. Walaupun KCV memerlukan jumlah sampel yang
lebih banyak dari pada kromatografi lapis tipis (KLT), KCV tetap ekonomis dalam sisi biaya (9).

Gambar 2. Alat Kromatografi Vakum Cair


Kromatografi cair-vakum merupakan kromatografi kolom yang dikemas kering biasanya dengan
penyerap mutu kromatografi lapis tipis10-4 µg pada kondisi vakum, fase gerak digerakkan dengan
kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung cepat. Kolom kromatografi dikemas kering dalam
keadaan vakum agar diperoleh kerapatan maksimum. Setelah diperoleh kemasan yang maksimum,
kemudian vakum dihentikan dan pelarut yang kepolarannya rendah dituangkan kedalam permukaan
penjerap lalu divakum lagi, kolom dihisap sampai keringdan kolom sekarang siap dipakai (9).
Fraksi Pelarut Komposisi Volume (ml)
1 Heksana 100 100
2 Heksana-etil asetat 50:50 100
3 Etil asetat 100 100
4 Etil asetat-metanol 75:25 100
5 Etil asetat-metanol 50:50 100
6 Etil asetat-metanol 25:75 100
7 Metanol 100 100
Tabel 1. Urutan pelarut yang digunakan dalam Kromatografi Cair Vakum
Salah satu cara pemisahan adalah kromatografi cair vakum, kromatografi cair vakum adalah
kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum. Alat yang digunakan terdiri dari
corong G-3,sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum sertawadah penampung
fraksi. Corong G-3 diisi adsorben sampai setinggi 2,5 cm, kemudian diketuk-ketuk dengan batang
pengaduk bersalut dilarutkan dalam pelarut organik yang cocok, kemudian ke dalam larutan ekstrak
tersebut ditambahkan adsorben dengan bobot sama dengan bobot ekstrak. Campuran ini digenis sampai
homogen, dikeringkan dandimasukkan ke dalam corong G-3 kemudian diratakan. Permukaan
lapisanadsorben ditutup dengan kertas saring. Elusi diawali dengan pelarut nonpolar dilarutkan dengan
kombinasi pelarut dengan polaritas meningkat.Jumlah pelarut yang digunakan setiap kali elusi adalah
sebagai berikut:untuk bobot ekstrak sampai lima gram diperlukan 25 ml pelarut, untuk 10-30 g ekstrak
diperlukan 50 ml pelarut. Dalam hal ini diameter corong dipilihsedemikian rupa sehingga lapisan ekstrak
dipermukaan kolom setipismungkin dan rata. Masing-masing pelarut dituangkan ke permukaankolom
kemudian dihisapkan pompa vakum. Masing-masing ekstrakditampung dalam wadah terpisah sehingga
menghasilkan sejumlah fraksi (10).
Kromatografi cair vakum dapat digunakan untuk fraksinasi dan memurnikan fraksi. Metode KCV
digunakan karena lebih efektif dan efisiendalam pemisahan dibandingkan kromatografi kolom
gravitasi.Kromatografi cair vakum (KCV) pertama kali diperkenalkan oleh parailmuwan dari Australia
untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk separasi menggunakan kolom kromatografi
klasik. Pada dasarnya metode ini adalah kromatografi lapis tipis preparatif yang berbentuk kolom.Aliran
fase gerak dalam metode ini diaktifkan dengan bantuan kondisi vakum. Kromatografi cair vakum pada
awalnya digunakan untuk separasisenyawaan steroid dan produk-produk natural dari laut. Kromatografi
cairvakum terdiri dari suatu corong Buchner yang memiliki kaca masir. CorongBuchner ini diiisi dengan
fase diam yang tingkat kehalusannya sepertiyang umumnya dipakai dalam kromatografi lapis tipis (70-
230 mesh) (11).
Corong Buchner yang berisi fase diam ini digunakan dalam kondisi vakum/bertekanan, yang
berakibat pada kemampuan yang dihasilkan oleh kromatografi cair vakum akan sama dengan
kromatografi gravitasi namun diperlukan waktu yang lebih singkat. Cara asli
yangdiperkenalkan oleh Coll menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek sedangkan
target menggunakan kolom yang lebih panjang untuk meningkatkan daya pisah (11).
Kromatografi Vakum Cair mempunyai keuntungan yang utama dibandingkan kolom konvensional
yaitu (12):
1. Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil disbanding dengan kolom konvensional karena
pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10-100μl/menit).
2. Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan
spektrometer massa.
3. Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat karenanya jenis kolom ini sangat
bermanfaat jika jumlah sampel terbatas missal sampel klinis.
Adapun kerugian dari KCV (Kromatografi Vakum Cair) yaitu (12):
1. Membutuhkan waktu yang cukup lama
2. Sampel yang dapat digunakan terbatas
DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia
Edisi III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
2. Ibnu Gholib Gandjar. Abdul Rahman. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
3. Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB: Bandung.
4. J. B. Harbone. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. Penerbit
ITB: Bandung.
5. K. Hostettmann, M. Hostettmann, A. Marston. 1995. Cara Kromatografi Preparatif. Penerbit ITB:
Bandung.
6. Skoog DA, West DM, Holler FJ. 1996. Fundamentals of Analytical Chemistry. 7th edition. New York:
Saunders College Publishing. Hal. 17-25.
7. Alam, Gemini, dkk. 2011. Penuntun Pratikum Senyawa Bioaktif. Fakultas Farmasi Universitas
Hasanuddin : Makassar
8. Kisman .Dr. Sastro ,ddk .1994. Analisis FarmasiCet. 2 , Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
9. Johnson, Edward. 1991.Dasar Kromatografi Cair Penerbit ITB. Bandung
10. Soediro. I., dkk. 1986. Kromatografi Cepat Sebagai Cara Fraksinasi Ekstrak Tanaman.
Acta Pharmaceutica Indonesia
11. Adriana, Renalitha Devri. 2009. Skripsi : Aktivitas Antiplasmodium Fraksi Non Polar Ekstrak Etanol
Rimpang Temu Mangga. Universitas Muhammadiah Fakultas FarmasI. Surakarta
12. Meronda, G.Rahmah. 2008. Kromatografi, Makalah. FFUH. Dikutip dari Kromatografi Makalah
journal. Makassar
13. Anonim. 2007. Kromatografi Kolom . (Online) http://www.chem-is-try.org. Diakses tanggal 14
November 2011
14. Roy J. Gritter, James M. Bobbit, Arthur E. S., 1991. Pengantar Kromatografi. Penerbit ITB. Bandung.
15. Hostettmann, K and C. Terreaux. 2000. Medium-Pressure Liquid Chromatography. University of
Lausanne, Lausanne, Switzerland: Academic Press.
LAMPIRAN

Skema Kerja
A. Kromatografi CairVakum
Penyiapan Ekstrak
Ekstrak ditimbang

Ekstrak herba Eupatorium Oderatum dikeringkan dengan penambahan silika


Sedikit demi sedikit

Digerus hingga kering

Sisa silika disimpan

Ekstrak siap digunakan

Proses Partisi
Disiapkan gelas masir dan erlenmeyer

Dirangkai alat vakum

Dimasukkan silica halus


mampatkan
Dimasukkan ekstrak kering

Dimasukkan kertas saring

Dimasukkan perbandingan eluen

Dinyalakan pompa vakum


Ditampung dimangkok

Diuapkan

B. Kromatografi Kolom
Penyiapan Bubur Silika
Ditimbang silika kasar dan ekstrak

Diperoleh bobot silika kasar 100x dari ekstrak

Dibagi menjadi 2 bagian

Bagian pertama dimasukkan di cawan porselen


Bagian kedua untuk penyiapan sampel

Dibasahkan dengan pelarut hexan

Diaduk-aduk hingga terbasahi semuanya

Diamkan beberapa saat (sekali-sekali diaduk)

Silika siap digunakan

Penyiapan Ekstrak
Ekstrak ditimbang

Ekstrakdikeringkan dengan penambahan sisa silika tadi


Sedikit demi sedikit

Digerus hingga kering


Sisa silika disimpan

Ekstrak siap digunakan

Proses Partisi
Dirangkai alat kolom

Dimasukkan kapas pada buret kolom

Dimasukkan bubur silika


mampatkan
Dimasukkan ekstrak kering

Dimasukkan kertas saring

Dimasukkan perbandingan eluen

Ditampung di vial

Diuapkan