Anda di halaman 1dari 7

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak jalanan sangat rentan dengan kekerasan, pelecehan seksual

(pemerkosaan dan sodomi), karena mereka memang tinggal di lingkungan yang

keras. Ragam kehidupan yang mereka saksikan tak lain adalah menghadapi

kekerasan dan ketidakadilan, sehingga sulit untuk mengerti bahwa Tuhan pun

menyayangi mereka, karena kehidupan mereka selalu berada pada posisi yang

sulit (Ilyas, 2006). Selain itu masalah lingkungan merupakan salah satu faktor

yang dapat membangun atau sebaliknya merusak kepribadian manusia terlebih

terhadap anak-anak. Sebabnya pada saatnya mereka belum memiliki bentuk dan

pola pemikiran tertentu, serta tidak rnemiliki kemampuan untuk rnembedakan

baik dan buruk, benar dan salah. Anak-anak cenderung memperhatikan dan

mempraktekkan apa-apa yang dilihat dan didengarnya, karena itu besar

kemungkinan anak- anak melakukan perbuatan yang dapat rnenirnbulkan

kerugian besar bagi kehidupannya (Qaimi, 2003)

Persoalan anak jalanan menjadi laten, krusial, bahkan kini sepertinya sulit

dicarikan pemecahan yang akurat. Masalah tersebut terkait dengan akar masalah

kemiskinan. Menurut survey Biro Pusat Statistik (BPS) Maret 2016 jumlah

penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan dibawah

garis kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,01 juta orang (10,86 persen),

berkurang sebesar 0,50 juta orang dibanding dengan kondisi September 2015

yang sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen). Data di Kementerian Sosial ada 4,1

juta anak terlantar, diantaranya 5.900 anak yang jadi korban perdagangan
2

manusia, 3.600 anak bermasalah dengan hukum, 1,2 juta balita terlantar dan

34.000 anak jalanan.

Sesungguhnya ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak

terjerumus dalam kehidupan di jalanan, seperti kesulitan keuangan keluarga atau

tekanan kemiskinan, ketidakharmonisan rumah tangga orang tua, dan masalah

khusus menyangkut hubungan anak dengan orangtua. Kombinasi dari faktor-

faktor ini seringkali memaksa anak-anak mengambil inisiatif mencari nafkah atau

hidup mandiri dijalanan. Kadangkala pengaruh teman atau kerabat juga ikut

menentukan keputusan untuk hidup dijalanan. Pada batas-batas tertentu, memang

tekanan kemiskinan merupakan kondisi yang mendorong anak-anak hidup

dijalanan. Namun, bukan berarti kemiskinan merupakan satu-satunya faktor

determinan yang menyebabkan anak lari dari rumah dan terpaksa hidup dijalanan.

Kebanyakan anak bekerja dijalanan bukanlah atas kemauan sendiri, melainkan

sekitar 60% diantaranya karena dipaksa oleh orangtuanya (Bagong, 2002).

Berdasarkan data di Dinas Sosial Kota Kediri tahun 2016 di temukan ada

peningkatan jumlah anak jalanan di Kota Kediri. Menurut Grafik Rekapitulasi

Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan Potensi Sumber

Kesejahteraan Sosial (PSKS) pada tahun 2013 didapatkan jumlah anak balita

terlantar, anak terlantar, anak yang menjadi korban tindakan terlaksana atau

diperlakukan salah, anak nakal, dan anak jalanan sebanyak 81 Jiwa. Pada tahun

2016 ada peningkatan jumlah anak jalanan dua kali lipat dari jumlah di tahun

2013, yaitu sejumlah 124 Jiwa. Anak jalanan yang berada di Kota Kediri

merupakan anak jalanan yang berdomisili asli Kota Kediri, dan tempat anak

jalanan berkumpul pun berpindah-pindah, yaitu di Jalan A.Yani, Jalan Super


3

Semar, dan juga di Alun-alun Kota Kediri.

Kepala Bidang Pengembangan Kapasitas Satpol PP Surabaya menuturkan,

mulai Januari hingga 22 November 2016, total kenakalan remaja yang dijumpai

tim Satpol PP sebanyak 793 kasus. Rinciannya, 597 laki-laki dan 196 perempuan.

Angka ini mengalami peningkatan jika dibanding tahun lalu sebanyak 675 kasus.

(Angka Kenakalan Remaja Meningkat, Satpol PP Gencar Lakukan Razia, 2016)

Fenomena yang terjadi saat ini adalah masih banyak anak jalanan yang

melakukan tindak pidana, penganiyaan, pemerkosaan, pelecehan seksual dan lain

sebagainya. Di Indonesia, kenakalan anak telah menjadi perhatian dan

pembahasan yang sangat serius. Pada hakikatnya terjadinya kenakalan anak

jalanan ini merupakan pencerminan, pantulan dari keadaan masyarakat secara

keseluruhan. Baik buruknya masyarakat suatu bangsa di kemudian hari

sepenuhnya tergantung dari baik buruknya generasi muda di masa kini. (Romli,

1998).

Menurut pasal 34 ayat 1 UUD 1945, “ Fakir miskin dan anak-anak

terlantar itu dipelihara oleh negara”. Artinya pemerintah mempunyai tanggung

jawab terhadap pemeliharaan dan pembinaan anak-anak terlantar, termasuk anak

jalanan. Hak asasi anak terlantar dan anak jalanan, pada hakekatnya sama dengan

hak asasi anak- anak yang lain seperti halnya tercantum dalam UU No. 39 tahun

1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan Keputusan Presiden RI No. 36 Tahun 1990

tentang Pengesahan Convention on the Right of the Child (Konvensi tentang hak-

hak Anak).
4

Kenakalan anak jalanan bukan hanya merupakan gangguan terhadap

keamanan dan ketertiban masyarakat semata-mata, akan tetapi juga merupakan

bahaya yang dapat mengancam masa depan masyarakat suatu bangsa. Anak yang

menunjukkan tingkah laku menyimpang dari norma-norma masyarakat (UU No. 4

Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak). Langkah-langkah positif tersebut

memerlukan partisipasi banyak pihak agar manfaat maksimal dapat dicapai.

Upaya preventif dan upaya-upaya lain yang relevan perlu keikutsertaan

masyarakat agar penyebarluasan tersebut dapat mencapai sebagian terbesar

anggota masyarakat, khususnya anak. Tugas pembinaan dan pembentukan kondisi

dalam lingkungan keluarga yang berdampak positif bagi perkembangan mental

anak sebagian besar menjadi tanggung jawab kedua orang tua. Kondisi intern

keluarga yang negatif atau tidak harmonis akan merusak perkembangan mental

anak, terutama broken home dan quasi broken home dalam segala bentuk dan

jenisnya menghambat pertumbuhan mental anak. Keadaan ini sama sekali tidak

memberi jaminan sehatnya perkembangan dan pertumbuhan mental anak.

Pembentukan kondisi yang baik dalam kehidupan intern keluarga perlu

diwujudkan sedini mungkin (Sudarsono, 2004).

Berdasarkan fenomena sebagaimana yang diuraikan di atas masalah-

masalah yang terjadi di dalam lingkup anak jalanan yang banyak melakukan

penyimpangan , peneliti terdorong untuk melakukan penelitian tentang hubungan

antara eksploitasi anak dengan kenakalan remaja pada anak jalanan di Kota Kediri

mengingat mereka adalah anak-anak masa depan bangsa.


5

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada penelitian ini adalah “ Adakah hubungan antara

eksploitasi anak dengan kenakalan remaja pada anak jalanan di Kota Kediri tahun

2017 ? ”.

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui hubungan antara eksploitasi anak dengan


kenakalan remaja pada anak jalanan di kota Kediri tahun 2017.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mengidentifikasi eksploitasi anak pada anak jalanan di kota Kediri

Tahun 2017.

2. Mengidentifikasi kenakalan remaja pada anak jalanan di kota Kediri

Tahun 2017.

3. Menganalisis hubungan antara eksploitasi anak dengan kenakalan anak

pada anak jalanan di kota Kediri Tahun 2017.

1.4 Manfaat penelitian

1.4.1 Manfaat teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi secara

umum dan jelas kepada masyarakat mengenai anak-anak jalanan dengan

kejadian kenakalan remaja, serta diharapkan dapat memberikan kontribusi

atau masukan bagi ilmu pengetahuan.


6

1.4.2 Manfaat praktis

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan

peneliti dalam memahami eksploitasi anak dengan kenakalan remaja

pada anak jalanan.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi

institusi pendidikan dan dapat dijadikan data dasar dalam penelitian

lebih lanjut tentang hubungan antara eksploitasi anak dengan

kenakalan remaja pada anak jalanan.

3. Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang

jelas serta memberikan masukan bagi anak jalanan pada umumnya,

dan khususnya untuk anak jalanan agar dapat menghindari hal-hal

yang dapat menjerumuskan anak melakukan suatu penyimpangan

terutama penyimpangan yang dapat merugikan kesehatan.

4. Bagi Profesi Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan dalam

mengoptimalkan fungsi perawat dalam membantu anak jalanan untuk

menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial untuk

membangun hubungan interpersonal yang baik dan untuk

meningkatkan perkembangan seseorang.


7

5. Bagi Peneliti selanjutnya

Diharapkan dengan penelitian ini dapat digunakan sebagai

pedoman dalam penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan

eksploitasi anak jalanan pada umumnya, serta pada khususnya

diharapkan peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian tentang

faktor-faktor eksploitasi anak jalanan dengan kejadian kenakalan

remaja.