Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN

RESIKO BUNUH DIRI

Disusun untuk Memenuhi Tugas PBL


Pada Mata Kuliah Sistem Neuro Behavior Semester Tiga
Di RSJD Dr. Amino Gondhohutomo Semarang

OLEH:

AGSTRI DWI MARSELA (G2A016088)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2017/2018
1) Pengertian

Resiko Bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yangdapat mengancam
kehidupan.Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk
mengakhiri kehidupannya. Perilaku Bunuh diri disebebkan karena stress yang tinggi dan
berkepanjangan dimana individu gagal dalam melakukan mekanisme koping yang digunakan
dalam mengatasi masalah.Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah kegagalan
untuk Beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan terisolasi dapat terjadi
karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang berarti, perasaan
marah, bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk
mengakhiri keputusasaan (Stuart,2006)
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri merupakan keputusan terakhir dari individu untuk memecahkan
masalah yang dihadapi (Captain, 2008) Menciderai diri adalah tindakan agresif yang
merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan
keputusan terakhir dari individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi (Captain,2008)
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri
kehidupan. Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi. (Budi Anna Keliant, 2000) Bunuh diri menurut Gail W.
Stuart dalam Buku Keperawatan Jiwa dinyatakan sebagai suatu aktivitas yang jika tidak
dicegah, dimana aktivitas ini dapat mengarah pada kematian (2007)
Menurut Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2007) Bunuh diri memiliki pengertian,
antara lain:
a. Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
b. Bunuh diri dilakukan dengan intensi
c. Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
d. Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif)
misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup secara
sengaja berada di rel kereta api.
2) Rentang Respon Resiko Bunuh Diri
Menurut Shives (2008) mengemukakan rentang harapan putus harapan
merupakan rentang adaptif maladaptif. Respon adaptif merupakan respon yang dapat
diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan yang secara umum berlaku,
sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan individu dalam
menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
budaya setempat. Respon maladaptif antara lain:
1. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis.
Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah akan meninggalkan masalah,
karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang bermanfaat sudah
tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta yakin
tidak ada yang membantu.
2. Kehilangan, ragu-ragu
Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis akan merasa
gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya :
Kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan
merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang semuanya dapat berakhir dengan
bunuh diri.
a) Depresi
Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan
kesedihan dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke
luar dari keadaan depresi berat.
b) Bunuh diri
Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengkahiri kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Laraia, 2005).
3) Klasifikasi Bunuh Diri
Perilaku bunuh diri terbagi menjadi tiga kategori (Stuart, 2006):
 Ancaman bunuh diri yaitu peringatan verbal atau nonverbal bahwa seseorang
tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang yang ingin bunuh diri
mungkin mengungkapkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di sekitar kita
lebih lama lagi atau mengomunikasikan secara non verbal.
 Upaya bunuh diri yaitu semua tindakan terhadap diri sendiri yang dilakukan oleh
individu yang dapat menyebabkan kematian jika tidak dicegah.
 Bunuh diri yaitu mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
diabaikan. Orang yang melakukan bunuh diri dan yang tidak bunuh diri akan
terjadi jika tidak ditemukan tepat pada waktunya.
Sementara itu, Yosep (2010) mengklasifikasikan terdapat tiga jenis bunuh diri,
meliputi:
 Bunuh diri anomik
Bunuh diri anomik adalah suatu perilaku bunuh diri yang didasari oleh faktor
lingkungan yang penuh tekanan (stressful) sehingga mendorong seseorang untuk
bunuh diri.
 Bunuh diri altruistik
Bunuh diri altruistik adalah tindakan bunuh diri yang berkaitan dengan
kehormatan seseorang ketika gagal dalam melaksanakan tugasnya.
 Bunuh diri egoistik
Bunuh diri egoistik adalah tindakan bunuh diri yang diakibatkan faktor dalam diri
seseorang seperti putus cinta atau putus harapan.
4) Faktor yang mempengaruhi
1. Faktor Mood dan Biokimiawi otak
Ghansyam pandey menemukan bahwa aktivitas enzim di dalam manusia bisa
mempengaruhi mood yang memicu keinginan mengakhiri nyawa sendiri. Pandey
mengetahui faktor tersebut setelah melakukan eksperimen terhadap otak 34
remaja yang 17 diantaranya meninggal akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa
tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah
dibanding mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri.
Hj. Rooswita mengatakan, “depresi berat menjadi penyebab utama. Depresi
timbul karena pelaku tidak kuat menanggung beban permasalahan yang menimpa.
Karena terus menerus mendapat tekanan, permasalahan kian menumpuk dan pada
puncaknya memicu keinginan bunuh diri.”
2. Faktor riwayat gangguan mental
Dalam otak kita gterdapat berbagai jaringan, termasuk pembuluh darah. Di
dalamnya juga terdapat serotonin, adrenalin, dan dopamin. Ketiga cairan dalam
otak itu bisa menjadi petunjuk dalam neurotransmiter(gelombang/gerakan dalam
otak) kejiwaan manusia. Karena itu, kita harus waspadai bila terjadi peningkatan
kadar ketiga cairan itu di dalam otak. Biasanya, bila kita lihat dari hasil otopsi
para korban kasus bunuh diri, cairan otak ini tinggi, terutama serotonin.
Apa penyebab umum yang meningkatkan kadar cairan otak itu? Sebagai contoh
adanya masalah yang membebani seseorang sehingga terjadi stress atau depresi.
Itulah yang sering membuat kadar cairan otak meningkat.
3. Faktor meniru, imitasi, dan pembelajaran
Dalam kasus bunuh diri, dikatakan ada Proses Pembelajaran. Para korban
memiliki pengalaman dari salah satu keluarganya yang pernah melakukan
percobaan bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri. Tidak hanya itu, bisa
juga terjadi pembelajaran dari pengetahuan lainnya. Proses pembelajran di sini
merupakan asupan yang masuk ke dalam memori seseorang. Memori itu bisa
menyebabkan perubahan kimia lewat pembentukan protein-protein yang erat
kaitannya dengan memori. Sering kali banyak yang idak menyadari Proses
Pembelajaran ini sebagai keadaan yang perlu diwaspadai. Bahkan, kita baru
paham kalau pasien sudah diperiksa psikiater/dokter. Kita perlu memperhatikan
bahwa orang yang pernah mencoba bunuh diri denngan cra yang halus, seperti
minum racun bisa melakukan cara lain yang lebih keras dari yang pertama bila
yang sebelumnya tidak berhasil.
4. Faktor isolasi sosial dan Human Relations
Secara umum, stress muncul karena kegagalan beradaptasi. Ini dapat terjadi di
lingkungan pekerjaan, keluarga, sekolah, pergaulan dalam masyarakat, dan
sebagainya. Demikian pula bila seseorang merasa terisolasi, kehilangan hubungan
atau terputusnya hubungan dengan orang lain yang disayangi. Padahal hubungan
interpersonal merupakan sifat alami manusia. Bahkan keputusan bunuh diri juga
bisa dilakukan karena perasaan bersalah. Suami membunuh istri, kemudian
dilanjutkan membunuh dirinya sendiri, bisa dijadikan contoh kasus.
5. Faktor hilangnya perasaan aman dan ancaman kebutuhan dasar
Penyebab bunuh diri yang lain adalah rasa tidak aman. Rasa tidak aman
merupakan penyebab terjadinyabanyak kasus bunuh diri di Jakarta dan sekitarnya
akhir-akhir ini. tidak adanya rasa aman untuk menjalankan usaha bagi warga serta
ancaman terhadap tempat tinggal mereka berpotensi kuat memunculkan gangguan
kejiwaan seseorang hingga tahap bunuh diri.
Stuart (2006) menyebutkan bahwa faktor predisposisi yang menunjang perilaku
resiko bunuh diri meliputi:

 Diagnosis psikiatri
Tiga gangguan jiwa yang membuat pasien berisiko untuk bunuh diri yaitu
gangguan alam perasaan, penyalahgunaan obat, dan skizofrenia.
 Sifat kepribadian
Tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan peningkatan resiko bunuh
diri adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
 Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang dini,
dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang berhubungan
dengan bunuh diri.
 Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor resiko
untuk perilaku resiko bunuh diri
 Faktor biokimia
Proses yang dimediasi serotonin, opiat, dan dopamine dapat menimbulkan
perilaku resiko bunuh diri.
5) Stressor pencetus (Presipitasi)
Stuart (2006) menjelaskan bahwa pencetus dapat berupa kejadian yang memalukan,
seperti masalah interpersonal, dipermalukan di depan umum, kehilangan pekerjaan,
atau ancaman pengurungan. Selain itu, mengetahui seseorang yang mencoba atau
melakukan bunuh diri atau terpengaruh media untuk bunuh diri, juga membuat
individu semakin rentan untuk melakukan perilaku bunuh diri.
6) Penilaian stressor
Upaya bunuh diri tidak mungkin diprediksikan pada setiap tindakan. Oleh karena itu,
perawat harus mengkaji faktor resiko bunuh diri pada pasien.
7) Sumber koping
Pasien dengan penyakit kronis, nyeri, atau penyakit yang mengancam kehidupan
dapat melakukan perilaku destruktif-diri. Sering kali pasien secara sadar memilih
untuk bunuh diri.
8) Mekanisme koping
Stuart (2006) mengungkapkan bahwa mekanisme pertahanan ego yang berhubungan
dengan perilaku destruktif-diri tidak langsung adalah penyangkalan, rasionalisasi,
intelektualisasi, dan regresi.
9) Tanda dan Gejala
Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebuttidak
membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana
bunuh diri tersebut adalah: keputusasaan, celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal
dan tidak berguna, alam perasaan depresi, agitasi dan gelisah, insomnia yang
menetap, penurunan BB,berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan
sosial. Adapun Ancaman bunuh diri Upaya bunuh diri petunjuk psikiatrik anatara lain:
upaya bunuh diri sebelumnya, kelainan afektif, alkoholisme dan penyalahgunaan obat,
kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja, dimensia dini/ status kekacauan
mental pada lansia. Sedangkan riwayat psikososial adalah: baru berpisah, bercerai/
kehilangan, hidup sendiri, tidak bekerja, perubahan/ kehilangan pekerjaan baru
dialami, faktor-faktor kepribadian: implisit, agresif, rasa bermusuhan, kegiatan
kognitif dan negatif, keputusasaan, harga diri rendah, batasan/ gangguan kepribadian
antisosial
Tanda dan gejala menurut Fitria (2009):
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati
c. Impulsif
d. Menunjukan perilaku yang mencurigakan
e. Mendekati orang lain dengan ancaman
f. Menyentuh orang lain dengan cara menakutkan
g. Latar belakang keluarga
10) Penatalaksanaan
Terapi obat
Pasien dalam krisis karena kematian orang terdekat atau peristiwa lain dengan
perjalanan waktu yang terbatas akan berfungsi lebih baik setelah menerima sedasi
ringan seperlunya, terutama bila sebelum itu tidurnya terganggu. Benzodiazepin
merupakan obat terpilih dan ramuan yang khas ialah Lorazepam (Ativan) 1 mg 1-3x
sehari untuk 2 minggu. Iritabilitas pasien mungkin meningkat dengan penggunaan
teratur Benzodiazepin dan iritabilitas ini merupakan satu resiko untuk bunuh diri,
maka Benzodiazepin harus digunakan secara hati-hati pada pasien yang bersikap
keras dan bermusuhan. Hanya sejumlah kecil dari medikasi itu harus disediakan, dan
pasien harus diikuti dalam beberapa hari.
Antidepresiva merupakan terapi yang pasti bagi semua pasien yang
menampilkan diri dengan gagasan bunuh diri, tetapi tidak biasanya untuk mulai
memberikan antidepresiva di UGD. Bila diberi resep, harus diadakan perjanjian untuk
pemeriksaan lanjutan, sebaiknya keesokan harinya.
Rujukan-Silang :
Putus alkohol, depresi, hospitalisasi, mutilasi-diri
11) Pohon Masalah

12) Pengkajian
Menurut Yusuf (2015 : 141-148), Pengkajian tingkah laku bunuh diri temasuk
aplikasi observasi melekat dan keterampilan mendengar untuk mendeteksi tanda
spesifik dan rencana spesifik. Perawat harus mengkaji tingkat risiko bunuh diri, faktor
predisposisi, presipitasi, mekanisme koping, dan sumber koping pasien. Beberapa
kriteria untuk menilai tingkat risiko bunuh diri sebagai berikut :
13) DIAGNOSA
1. Resiko Bunuh Diri
14) STRATEGI PELAKSANAAN

PERTEMUAN
DIAGNOSA TINDAKN
1 2 3 4 5
1. Identifikasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi
beratnya kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
masalah risiko berpikir positif berpikir berpikir latihan
bunuh diri: tentang diri positif positif peningkatan
isarat, ancaman, sendiri, beri tentang diri, tentang diri, positif diri,
percobaan (jika pujian. Kaji keluarga dan keluarga dan keluarga dan
percobaan ulang risiko lingkungan. lingkungan lingkungan.
segera rujuk) bunuh diri Beri pujian. serta Beri pujian
2. Identifikasi 2. Latih cara Kaji risiko kegiatan 2. Evaluasi
benda-benda mengendalikan bunuh diri yang dipilih. tahapan
berbahaya dan diri dari 2. Beri pujian kegiatan
mengankannya dorongan bunuh Diskusikan 2. Latih tahap mencapai
(lingkungan diri: buat daftar harapan dan kedua harapan
aman untuk aspek positif masa depan kegiatan masa depan
pasien) keluarga dan 3. mencapai 3. Latih
3. Latihan cara lingkungan, latih Diskusikan masa depan kegiatan
mengendalikan afirmasi/berpikir cara 3. Masukkan harian
diri dari aspek positif mencapai pada jadual 4. Nilai
dorongan bunuh keluarga dan harapan dan latihan kemampuan
diri: buat daftar lingkungan masa depan berpikir yang telah
RISIKO
aspek positif diri 3. Masukkan 4. Latih cara- positif mandiri
BUNUH PASIEN
sendiri, latihan pada jadual cara tentang diri, 5. Nilai
DIRI afirmasi/berpikir latihan berpikir mencapai keluarga dan apakah risiko
aspek positif positif tentang harapan dan lingkungan, bunuh diri
yang dimiliki diri, keluarga masa depan serta teratasi
4. Masukan dan lingkungan secara kegiatan
pada jadual bertahap yang dipilih
latihan berpikir (setahap untuk
positif 5 kali per demi persiapan
hari setahap) masa depan
5. Masukkan
pada jadual
latihan
berpikir
positif
tentang diri,
keluarga dan
lingkungan
dan tahapan
kegiatan
yang dipilih
1. Diskusikan 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi
masalah yg kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
dirasakan dalam keluarga dalam keluarga keluarga keluarga
merawat pasien memberikan dalam dalam dalam
2. Jelaskan pujian dan memberikan memberikan memberikan
pengertian, penghargaan pujian dan pujian, pujian,
tanda & gejala, atas penghargaan penghargaan, penghargaan,
dan proses keberhasilan pada pasien menciptakan menciptakan
terjadinya risiko dan aspek serta suasana suasana yang
bunuh diri positif pasien. menciptakan keluarga positif dan
(gunakan Beri pujian suasana yang positif membimbing
booklet) 2. Latih cara positif dalam dan kegiatan langkah-
3. Jelaskan cara memberi keluarga. awal dalam langkah
merawat risiko penghargaan Beri pujian mencapai mencapai
bunuh diri pada pasien dan 2. Bersama harapan harapan
4. Latih cara menciptakan keluarga masa depan. masa depan.
memberikan suasana positif berdiskusi Beri pujian Beri pujian
pujian hal positif dalam keluarga: dengan 2. Bersama 2. Nilai
pasien, tidak pasien keluarga kemampuan
KELUARGA memberi membicarakan tentang berdiskusi keluarga
dukungan keburukan harapan tentang merawat
pencapaian anggota masa depan langkah dan pasien
masa depan keluarga serta kegiatan 3. Nilai
5. Anjurkan 3. Anjurkan langkah- untuk kemampuan
membantu membantu langkah mencapai keluarga
pasien sesuai pasien sesuai mencapainya harapan melakukan
jadual dan jadual dan 3. Anjurkan masa depan kontrol ke
memberikan memberi pujian membantu 3. Jelaskan RSJ/PKM
pujian pasien sesuai follow up ke
jadual dan RSJ/PKM,
berikan tanda
pujian kambuh,
rujukan
4. Anjurkan
membantu
pasien sesuai
jadual dan
memberikan
pujian
DAFTAR PUSTAKA

Captain, C. (2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy, Volume 6(3).
Fitria,Nita.2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP & SP) untuk 7 Diagnosis Keperawatan Jiwa
Berat bagi Program S1 Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Keliat A. Budi, Akemat. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta: EGC.
Stuart, G. W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Yosep, I. 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama