Anda di halaman 1dari 28

8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Eksploitasi Anak

2.1.1 Definisi Eksploitasi Anak

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990), eksploitasi adalah

pemanfaatan untuk keuntungan sendiri, penghisapan, pemerasan atas diri orang

lain yang merupakan tindakan tidak terpuji. Menurut Undang-Undang Nomor

23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seseorang yang belum

berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Adapun yang dimaksud eksploitasi anak oleh orang tua atau pihak lainnya,

yaitu menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut

serta melakukan eksploitasi ekonomi atau seksual terhadap anak (Pasal 66 ayat

3 Undang-Undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak). Dengan demikian,

jelaslah bahwa eksploitasi anak adalah tindakan yang telah merampas hak-hak

anak, dan tindakan yang tidak terpuji. Selain itu, ekploitasi anak juga dapat

berdampak gangguan fisik maupun psikologi anak, dan gangguan ini juga

dapat berdampak panjang pada masa depan anak yang kurang dapat

membedakan antara yang benar dan yang salah karena rendahnya tingkat

pendidikan anak yang di eksploitasi.

2.1.2 Bentuk Ekspoitasi Anak

Bentuk eksploitasi menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 :


9

1. Eksploitasi fisik

Eksploitasi fisik adalah penyalahgunaan tenaga anak untuk

diperkerjakan demi keuntungan orang tuanya atau orang lain seperti

menyuruh anak bekerja dan menjuruskan anak pada pekerjaan-

pekerjaaan yang seharusnya belum dijalaninya. Dalam hal in anak

dipaksa bekerja menggunakan segenap tenaganya dan juga

mengancam jiwanya. Tekanan fisik yang berat dapat menghambat

perawakan atau fisik anak-anak hingga 30% karena mereka

mengeluarkan cadangan stamina yang harus bertahan hingga dewasa.

Oleh sebab itu, anak-anak sering mengalami cedera fisik yang bisa di

akibatkan oleh pukulan, cambukan, luka bakar, lecet dan goresan, atau

memar dengan berbagai tingkat penyembuhan, fraktur, luka pada

mulut, bibir, rahang, dan mata.

2. Eksploitasi sosial

Eksploitasi sosial adalah segala sesuatu yang dapat menyebabkan

terhambatnya perkembangan emosional anak. Hal ini dapat berupa

kata-kata yang mengancam atau menakut-nakuti anak, penghinaan

anak, penolakan anak, menarik diri atau menghindari anak, tidak

memperdulikan perasaan anak, perilaku negatif pada anak,

mengeluarkan kata-kata yang tidak baik untuk perkembangan emosi

anak, memberikan hukuman yang ekstrim pada anak seperti

memasukkan anak pada kamar gelap, mengurung anak dikamar

mandi, dan mengikat anak. Mereka harus melayani tekanan batin

karena mengalami rayuan-rayuan seksual.


10

3. Eksploitasi seksual

Eksploitasi seksual adalah keterlibatan anak dalam kegiatan

seksual yang tidak dipahami. Eksploitasi seksual dapat berupa

perlakuan tidak senonoh dari orang lain, kegiatan yang menjurus pada

pornografi, perkataan-perkataan porno, membuat anak malu,

menelanjangi anak, prostitusi anak, menggunakan anak untuk produk

pornografi dan melibatkan anak dalam bisnis prostitusi. Eksploitasi

seksual dapat menularkan penyakit HIV/AIDS atau penyakit seksual

lainnya kepada anak-anak biasanya dijual untuk pertama kalinya saat

masih perawan. Bukan hanya itu, Ayom dalam (Nachrowi, 2004) juga

menyebutkan anak-anak pelacur rentan terhadap penggunaan obat-

obatan terlarang, sedangkan Bellamy dalam (Nachrowi, 2004)

menyebutkan dampak secara umum, yaitu merusak fisik dan

psikososial.

2.1.3 Dampak Eksploitasi Anak

Tabel 2.1 Dampak Eksploitasi Anak

Aspek Permasalahan yang Dihadapi


Pendidikan Sebagian besar putus sekolah karena waktunya habis dijalan.
Intimidasi Menjadi sasaran tindak kekerasan anak jalanan yang lebih
dewasa, kelompok lain, petugas dan razia.
Penyalahgunaan obat dan Ngelem, minuman keras, pil KB, dan sejenisnya.
zat adiktif
Kesehatan Rentan penyakit kulit, PMS, gonorhea, paru-paru.
Tempat tinggal Umumnya disembarang tempat, digubuk-gubuk, atau
dipemukiman kumuh.
Keselamatan Tertabrak, pengaruh sampah.
Hubungan dengan Umumnya renggang, dan bahkan sama sekali tidak
keluarga berhubungan.
Makanan Makan seadanya, kadang mengais dari tempat sampah,
kadang beli.
Sumber Hadi Utomo, dalam Bagong, 2011
11

2.1.4 Faktor Penyebab Timbulnya Eksploitasi Anak

Berikut adalah beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya

eksploitasi anak, berdasarkan penelitian dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak

Indonesia) :

1. Ekonomi

Faktor ekonomi merupakan pangkal utama dalam peningkatan jumlah

pekerja anak. Harga bahan pokok yang semakin mahal, tingkat kebutuhan

yang tinggi serta pengeluaran yang bertambah menuntut anak terjun untuk

membantu mencukupi kebutuhan dasarnya. Sebagian kasus pekerja anak

ini terjadi pada keluarga menengah kebawah.

2. Lingkungan

Keadaan di lingkungan sekitar juga merupakan faktor pendorong

terjadinya kegiatan eksploitasi terhadap anak karena pengaruh lingkungan

psikologi sosial-budaya terhadap tumbuh kembang anak-anak.

3. Pendidikan

Orang dengan pendidikan yang terbatas, memiliki lebih sedikit

keahlian/skill dan kesempatan kerja dan mereka lebih mudah di eksploitasi

karena mereka berimigrasi mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan

keahlian. Kurangnya pengetahuan mengenai bahaya ekspoitasi anak dan

tidak mengetahui cara-cara yang dipakai untuk menipu atau menjebak

mereka dalam pekerjaan yang disewenang-wenangkan atau pererjaan yang

mirip perbudakan.
12

4. Budaya

Terjadinya eksploitasi anak juga di dorong dengan adanya perilaku

manusia yang saat ini sudah menjadi budaya seperti pernikahan dini dan

hutang. Faktor tersebut juga memberikan kontribusi cukup besar terhadap

terjadinya praktik eksploitasi anak.

5. Lemahnya Penegakan dan Perlindungan Hukum

Penegakan dan perlindungan hukum di Indonesia terhadap anak masih

sangat lemah. Akhibatnya, pelaku kasus ekploitasi anak seperti tak kapok

dan muncul dengan berbagai modus operandi.

Perbaikan ekonomi dan penegakan hukum harus dilakukan bersamaan

untuk menyelamatkan anak Indonesia.

2.2 Kenakalan Remaja

2.2.1 Definisi Kenakalan Remaja

M.Gold dan J.Petronio mendefinisikan kenakalan remaja adalah tindakan

oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang

diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui

oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman (Sarwono S. W., 2007). Menurut

Santrock, kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku, yang

tidak dapat diterima secara sosial sampai tindakan kriminal. Kemudian Mussen

juga mengungkapkan bahwa kenalakan remaja adalah perilaku yang melanggar

hukum atau kejahatan yang biasanya dilakukan oleh remaja yang berusia 16-18

tahun, jika perbuatan ini dilakukan oleh orang dewasa maka akan mendapat

sanksi hukum. Pada dasarnya kenakalan remaja menunjuk pada satu bentuk

perilaku remaja yang tidak sesuai dengan norma-norma yang hidup di dalam
13

masyarakatnya (Budiarti, 2010).

Dalam Bakolak Inpres No : 6/1997 buku pedoman 8, dikatakan bahwa

kenakalan remaja adalah kelainan tingkah laku/tindak remaja yang bersifat anti

sosial, melanggar norma sosial, agama serta ketentuan hukum yang berlaku di

masyarakat (Budiarti, 2010). Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos RI No.

23/HUK/1996) menyebutkan anak nakal adalah anak yang berperilaku

menyimpang dari norma sosial, moral, dan agama, merugikan keselamatan

dirinya, mengganggu dan meresahkan ketentraman dan ketertiban masyarakat

serta kehidupan keluarga dan atau masyarakat.

2.2.2 Bentuk Kenakalan Remaja

Sebagai perilaku yang jahat, kriminal, dan melanggar norma sosial dan

hukum, perilaku kenakalan remaja terdiri dari berbagai dari berbagai bentuk

perilaku. Seperti yang dikemukakan oleh (Suwarniyati, 1985) menurut

bentuknya, kenakalan remaja terbagi dalam tiga tiga tingkatan yaitu :

1. Kenakalan remaja biasa, seperi suka berkelahi, suka keluyuran, membolos

sekolah, pergi dari rumah tanpa pamit.

2. Kenakalan remaja yang menjurus pada pelanggaran dan kejahatan seperti

mengendarai mobil tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa ijin.

3. Kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika, hubungan seks diluar

nikah, pergaulan bebas, pemerkosaan dan lain-lain.Kategori ini yang

dijadikan ukuran kenakalan remaja dalam penelitian.

Menurut Jensen (Sarwono S. W., 2012) kenakalan remaja dibagi kedalam

empat jenis yaitu :


14

1. Kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain, seperti

perkelahian, perkosaan, perampokan, pembunuhan dan lain-lain.

2. Kenakalan yang menimbulkan korban materi, seperti perusakan,

pencurian, pencopetan, pemerasan dan lain-lain.

3. Kenakalan sosial yang tidak menimbulkan kerugian di pihak orang lain,

seperti pelacuran, penyalahgunaan obat. Di Indonesia mungkin dapat juga

dimasukkan hubungan seks sebelum menikah dalam jenis ini.

4. Kenakalan yang melawan status, misalnya mengingkari status anak

sebagai pelajar dengan cara membolos, mengingkari status orang tua

dengan cara pergi dari rumah atau membantah perintahnya dan

sebagainya. Pada usia mereka, perilaku-perilaku mereka memang belum

melanggar hukum dalam arti yang sesungguhnya karena yang dilanggar

adalah status-status dalam lingkungan primer (keluarga) dan sekunder

(sekolah). Akan tetapi bila kelak remaja ini dewasa, pelanggaran status ini

dapat dilakukan terhadap atasannya di kantor atau petugas hukum di dalam

masyarakat. Karena itulah pelanggaran status ini oleh Jensen digolongkan

juga sebagai kenakalan dan bukan sekedar perilaku menyimpang.

Dari segi hukum kenakalan remaja menurut Singgih D. Gunarso dalam

(Budiarti, 2010) digolongkan dalam dua kelompok yang berkaitan dengan

norma-norma hukum yaitu :

1. Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diatur dalam

undang-undang sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai

pelanggaran hukum.
15

2. Kenakalan yang berisifat melanggar hukum dengan penyelesaian sesuai

dengan undang-undang dan hukum yang berlaku sama dengan perbuatan

melanggar hukum bila dilakukan orang dewasa.

Menurut (Puspita, 2005) tingkatan kenakalan dibagi menjadi 2 bagian

yaitu :

1. Tingkatan kenakalan remaja umum, seperti pulang sekolah larut

malam, mengganggu teman, berbohong, dan lain-lain.

2. Tingkat kenakalan remaja kriminal, seperti terlibat pelacuran,

membawa benda yang membahayakan, minum-minuman keras dan

lain-lain.

2.2.3 Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Berbicara faktor-terjadinya kenakalan remaja sangat luas dan beragam,

sehingga tidak ada satu kesatuan pendapat. Ada yang melihat dari sudut

pandang psikologi, kriminologi, dan ilmu pendidikan.

1. Aspek psikologi

Raema Andreyana, 1991 dalam (Kartini), menguraikan faktor-faktor yang

mendukung terjadinya delinkuensi remaja, yang penulis simpulkan sebagai

berikut:

a. Faktor keluarga, khususnya orang tua. Dalam hal ini orang tua yang

kurang memahami arti mendidik anak, dan yang begitu sibuk bekerja.

Pendapat senada dikemukakan Mustafit Amna dalam (Budiarti, 2010)

yang mengatakan faktor keluarga penyebab kenakalan anak adalah


16

perhatian dan penghayatan dan pengalaman orang tua atau keluarga

terhadap agama.

b. Hubungan suami istri yang kurang harmonis.

c. Faktor lingkungan.

d. Faktor sekolah, termasuk di dalamnya guru, pelajaran, tugas-tugas

sekolah dan lain-lain yang berhubung dengan sekolah.

2. Aspek kriminologi

W.A. Bonger dalam bukunya Inleiding tot de Criminologie (Penerjemah

R. A. Koesnoen) , antara lain mengemukakan bahwa kenakalan remaja

sudah merupakan bagian yang besar dalam kejahatan. Kebanyakan

penjahat yang sudah dewasa umumnya sudah sejak mudanya menjadi

penjahat, sudah merosot kesusilaannya sejak kecil barang siapa

menyelidiki sebab-sebab kenakalan remaja dapat mencari tindakan-

tindakan pencegahan kenakalan remaja itu sendiri, yang kemudian akan

berpengaruh baik pula terhadap pencegahan kejahatan orang dewasa.

Salah seorang ahli kriminologi di Indonesia Soejono Dirdjosiswo (1985),

pada intinya membagi sebab musabab kenakalan remaja terdiri dari : (1)

sebab intern yang terdapat dalam diri si anak; (2) sebab ekstern yang

terdapat diluar sisi si anak.

3. Aspek ilmu pendidikan

M. Arifin (2004) mengamati masalah remaja, menganggap bahwa keadaan

dan lingkungan sekitar remaja puber yang bersifat negatif akan lebih

mudah mempengaruhi tingkah laku yang negatif pula. Sebaliknya keadaan

lingkungan sekitar yang bersifat positif akan mengandung nilai-nilai


17

kontruktif yang akan memberikan pengaruh positif pula. Oleh karena

situasi perkembangan jiwa remaja yang labil demikian itu, maka

cenderung untuk melakukan penyimpangan yang dirasakan sebagai suatu

proses terhadap situasi dan kondisi masyarakat yang kurang akomodatif

terhadap angan-angan dan gejolak jiwanya.

Menurut Turner dan Helms 1987 dalam Prihatiningsih, 2012, penyebab

terjadinya kenakalan remaja antara lain adalah :

1. Kondisi keluarga yang berantakan (Broken Home)

Kondisi keluarga yang berantakan merupakan cerminan adanya ketidak-

harmonisan antara individu (suami-istri, atau orang tua anak) dalam

lembaga rumah tangga. Hubungan suami yang tidak sejalan atau seirama

ditandai dengan pertengkaran, percecokan, maupun konflik terus menerus.

Selama pertengkaran, anak-anak akan melihat, mengamati, dan memahami

tidak adanya kedamaian dan ketentraman antara kedua orang tua mereka.

Akibatnya mereka melarikan diri untuk mencari kasih sayang dan

perhatian dari pihak lain.

2. Kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua

Kebutuhan hidup seorang anak tidak hanya bersifat materi saja, tetapi

lebih dari itu. Dia juga memerlukan kebutuhan psikologis untuk

perkembangan kepribadiaanya. Memasuki zaman industrialisasi ini,

banyak keluarga modern suami-istri bekerja diluar rumah hanya untuk

mengejar kebutuhan materi yang berkecukupan, makin lama

kecenderungan tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua diserahkan

kepada pembantu.
18

3. Status sosial ekonomi orang tua rendah

Kehidupan ekonomi kurang mapan, berarti semua kebutuhan keluarga

tidak dapat terpenuhi dengan baik, termasuk keperluan pendidikan,

kesehatan, dan rekreasi anak-anak.

4. Penerapan kondisi keluarga yang tidak tepat

Sebagian dari orang tua beranggapan bahwa penerapan disiplin terhadap

anak-anak berarti harus dilakukan secara tegas, keras tidak kenal

kompromi serta tidak mengenal belas kasihan kepada anak. Ketika anak

sering memperoleh perlakuan kasar dan keras dari orang tua, mereka

cenderung melakukan tindakan-tindakan negatif, sebagai pelarian maupun

protes terhadap orang tuanya.

2.2.4 Akibat dari kenakalan remaja

Menurut Haryono (2011), dampak atau akibat dari kenakalan remaja

antara lain :

1. Kenakalan remaja dalam keluarga

Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif,

di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi

putra-putri mereka dengan melarang hal-hal tertentu. Namun, bagi

sebagian remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang

buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak

dengan banyak cara. Tidak menghormati, berbicara kasar pada orang tua,

atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja

dalam keluarga.
19

2. Kenakalan dalam pergaulan

Dampak kenakalan yang paling nampak adalah dalam pergaulan,. Sampai

saat ini, masih banyak para remaja terjebak dalam pergaulan yang tidak

baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas.

Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah,

dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal negatif yang

menawarkan kenyamanan semua. Akibat pergaulan bebas inilah remaja

bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat.

3. Kenakalan pada pendidikan

Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun

tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok

yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk

diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam pendidikan misalnya,

membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas, dll.

4. Dampak kenalan remaja pasti akan berimbas pada anak tersebut. Bila tidak

segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang berkepribadian

buruk.

5. Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tersebut pastinya akan

dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya

akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.

6. Akibat dari dikucilkan ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa

mengalami gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan bukan berarti gila,

tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisasi, mereka sangat sedih

atau malah membenci orang disekitarnya.


20

7. Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus

menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak

remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari

tentang beban keluarganya.

8. Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja

yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila seorang temaja yang

kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan ia tidak

akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan

tidak sempat memperbaikinya.

9. Kriminalitas bisa menjadi satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak

hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk

melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk

mendapat barang yang berharga.

2.3 Anak Jalanan

2.3.1 Definisi Anak Jalanan

Anak jalanan termasuk dalam kategori anak terlantar. Menurut Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, “Anak terlantar

adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik,

mental, spiritual, maupun sosial”. Pada realitas sehari-hari, kejahatan dan

eksploitasi seksual terhadap anak sering terjadi. Anak-anak jalanan merupakan

kelompok yang paling rentan menjadi korban. Anak-anak yang seharusnya

berada di lingkungan belajar, bermain dan berkembang justru mereka harus

mengarungi kehidupan yang keras dan penuh berbagai bentuk eksploitasi.

Menurut Suyanto (2003), “Anak jalanan adalah anak-anak yang tersisih,


21

marjinal, dan teralienasi dari perlakuan kasih sayang karena kebanyakan dalam

usia yang relatif dini sudah harus berhadapan dengan lingkungan kota yang

keras dan bahkan sangat tidak bersahabat”.

Anak jalanan yang menghabiskan sebagian waktunya untuk mencari

nafkah atau berkeliaran dijalanan dan tempat-tempat umum lainnya,

merupakan definisi yang dirumuskan dalam Lokakarya Kemiskinan dan Anak

Jalanan yang diselenggarakan Departemen Sosial pada tanggal 25 dan 26

Oktober 1995. Definisi tersebut kemudian dikembangkan oleh Ferry Yohanes

pada seminar tentang Pemberdayaan Anak Jalanan yang dilaksanakan Sekolah

Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung pada bulan Oktober 1996, yang

menyebutkan bahwa anak jalanan adalah anak yang menghabiskan waktunya

dijalanan, baik untuk bekerja maupun tidak, yang terdiri dari anak-anak yang

mempunyai hubungan dengan keluarga atau terputus hubungannya dengan

keluarga, dan anak yang mandiri sejak kecil karena kehilangan orang

tua/keluarga (Huraerah, 2006).

Berdasarkan hasil kajian dilapangan , secara garis besar anak jalanan

dibedakan ke dalam tiga kelompok menurut Surbakti dkk dalam (Suyanto,

Masalah Sosial Anak, 2010)

1. Children on the street (Anak jalanan yang bekerja di jalanan), yakni

anak-anak yang mempunyai kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di

jalan, namun masih mempunyai hubungan kuat dengan orang tua

mereka. Fungi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu

memperkuat panyangga ekonomi keluarganya karena beban atau


22

tekanan kemiskinan yang mesti ditanggung, tidak dapat diselesaikan

sendiri oleh kedua orang tua nya.

2. Children of the street (Anak jalanan yang hidup dijalanan), yakni anak-

anak yang berpartisipasi penuh dijalanan, baik secara sosial maupun

ekonomi. Beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan

dengan orang tuanya, tetapi frekuensi pertemuan mereka tidak

menentu. Banyak diantara mereka adalah anak-anak yang karena suatu

sebab lari atau pergi dari rumah. Berbagai penelitian menunjukkan

bahwa anak-anak pada kategori ini sangat rawan terhadap perlakuan

salah, baik secara sosial-emosional, fisik maupun seksual.

3. Children from families of the street atau children in street, yakni anak-

anak yang berasal dari ketegori ini adalah penampangan kehidupan

jalanan sejak anak masih bayi bahkan sejak masih dalam kandungan.

Di Indonesia, kategori ini dengan mudah ditemui diberbagai kolong

jembatan, rumah-rumah liar sepanjang rel kereta api, dan sebagainya

walau secara kuantitatif jumlahnya belum diketahui secara pasti.

2.3.2 Karakteristik Anak Jalanan

Menurut penelitian Departemen Sosial dan UNDP di Jakarta dan

Surabaya (BKSN, 2002), anak jalanan dikelompokkan dalam empat kategori :

1. Anak jalanan yang hidup dijalanan, dengan kriteria :

a) Putus hubungan dengan atau lama tidak bertemu dengan orang tuanya.

b) 8-10 jam berada di jalanan untuk bekerja (mengamen, mengemin,

memulung) dan sisanya menggelandang / tidur.

c) Tidak lagi sekolah.


23

d) Rata-rata berusia di bawah 14 tahun.

2. Anak jalanan yang bekerja, dengan kriteria :

a) Berhubungan tidak teratur dengan orang tuanya.

b) 8-16 jam berada dijalanan.

c) Mengontrak kamar sendiri bersam teman, ikut orang tua / saudara

umumnya didaerah kumuh.

d) Tidak lagi sekolah.

e) Pekerjaan : penjual koran, pengasong, pencuci bus, pemulung,

penyemir sepatu.

f) Rata-rata berusia dibawah 16 tahun.

3. Anak yang rentan menjadi anak jalanan, dengan kriteria :

a) Bertemu teratur setiap hari / tinggal dan tidur dengan keluarganya.

b) 4-5 jam bekerja di jalanan.

c) Masih bersekolah.

d) Pekerjaan : penjual koran, penyemir sepatu, pengamen, dll.

e) Usia rata-rata dibawah 14 tahun.

4. Anak jalanan berusia diatas 16 tahun, dengan kriteria :

a) Tidak lagi berhubungan / berhubungan tidak teratur dengan orang

tuanya.

b) 8-24 jam bekerja di jalanan.

c) Tidur di jalanan atau di rumah orang tua.

d) Sudah tamat SD atau SLTP, tapi sudah tiak bersekolah lagi.

e) Pekerjaan : calo, mencuci bis, menyemir, dll.


24

2.3.3 Faktor-faktor pendorong menjadi anak jalanan

Menurut Suryana dalam (Hairani, 2006) menyebutkan bahwa faktor

yang mendorong anak untuk turun ke jalan terbagi menjadi dalam tiga

tingkatan, sebagai berikut :

1. Tingkat Mikro (Immediate causes)

Adalah faktor yang berhubungan dengan anak dan keluarga. Sebab-sebab

yang bisa di identifikasikan dari anak adalah lari dari rumah (sebagai contoh

anak selalu hidup dengan orang tua yang terbiasa dengan menggunakan

kekerasan seperti, menampar, memukul, menganiyaya, karena kesalahan

kecil) jika sudah melampaui batas toleransi anak, maka anak cenderung

memilih keluar dari rumah dan hidup di jalanan, di suruh bekerja dengan

kondisi masih sekolah atau di suruh putus sekolah dalam rangka bertualang,

bermain-main atau diajak teman. Sebab-sebab yang berasal dari keluarga

adalah terlantar, ketidakmampuan orang tua menyediakan kebutuhan dasar,

kondisi psikologis seperti di tolak orang tua, salah perawatan dari orang tua

sehingga mengalami kekerasan dirumah (child abuse) kesulitan berhubungan

dengan keluarga karena terpisah dari orang tua. Permasalahan atau sebab-

sebab yang timbul baik dari anak maupun keluarga ini saling terkait satu sama

lain.

Depsos (2002) menjelaskan pula bahwa pada tingkat mikro sebab yang

bisa diidentifikasi dari anak dan keluarga yang berkaitan tetapi juga berdiri

sendiri, yakni:

1. Lari dari keluarga, disuruh bekerja baik karena masih sekolah atau sudah

putus, berpetualangan, bermain-main atau diajak teman.


25

2. Sebab dari keluarga adalah terlantar, ketidakmampuan orang tua

menyediakan kebutuhan dasar, ditolak orang tua, salah perawatan atau

kekerasan di rumah, kesulitan berhubungan dengan keluarga atau tetangga,

terpisah dengan orang tua, sikap-sikap yang salah terhadap anak,

keterbatasan merawat anak yang mengakibatkan anak menghadapi

masalah fisik, psikologis dan sosial. Hal ini dipengaruhi pula oleh

meningkatnya masalah keluarga yang disebabkan oleh kemiskinan

pengangguran, perceraian, kawin muda, maupun kekerasan dalam

keluarga.

3. Melemahnya keluarga besar, dimana keluarga besar tidak mampu lagi

membantu terhadap keluarga-keluarga inti, hal ini diakibatkan oleh

pergeseran nilai, kondisi ekonomi, dan kebijakan pembangunan

pemerintah.

4. Kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak, dimana orang tua

sudah tidak mampu lagi memahami kondisi serta harapan anak-anak, telah

menyebabkan anak-anak mencari kebebasan.

Selain itu, (Shalahudin, 2000) menyebutkan pula faktor-faktor yang

disebabkan oleh keluarga yakni sebagai berikut:

1. Keluarga miskin

Hampir seluruh anak jalanan berasal dari keluarga miskin. Sebagian besar

dari mereka berasal dari perkampungan-perkampungan urban yang tidak

jarang menduduki lahan-lahan milik negara dengan membangun rumah-

rumah petak yang sempit yang sewaktu-waktu dapat digusur. Anak jalanan

yang berasal dari luar kota, sebagian besar berasal dari desa-desa miskin.
26

Kemiskinan merupakan faktor dominan yang medorong anak-anak

menjadi anak jalanan. Anak dari keluarga miskin, karena kondisi

kemiskinan kerap kali kurang terlindungi sehingga menghadapi risiko

yang lebih besar untuk menjadi anak jalanan.

2. Perceraian dan kehilangan orang tua

Perceraian dan kehilangan orang tua menjadi salah satu faktor risiko yang

mendorong anak-anak pergi ke jalanan. Perceraian atau perpisahan orang

tua yang kemudian menikah lagi atau memiliki teman hidup baru tanpa

ikatan pernikahan sering kali membuat anak menjadi frustasi. Rasa frustasi

ini akan semakin bertambah ketika anak dititipkan ke salah satu anggota

keluarga orang tua mereka atau tatkala anak yang biasanya lebih memilih

tinggal bersama ibunya merasa tidak mendapatkan perhatian, justru

menghadapi perlakuan buruk ayah tiri atau pacar ibunya.

3. Kekerasan keluarga

Kekerasan keluarga merupakan faktor risiko yang paling banyak dihadapi

oleh anak-anak sehingga mereka memutuskan untuk keluar dari rumah dan

hidup di jalanan. Berbagai faktor risiko lainnya yang berkaitan dengan

hubungan antara anak dengan keluarga, tidak lepas dari persoalan

kekerasan. Seperti kasus eksploitasi ekonomi terhadap anak yang dipaksa

menyerahkan sejumlah uang tertentu setiap harinya, akan menghadapi

risiko menjadi korban kekerasan apabila tidak memenuhi target tersebut.

Kekerasan dalam keluarga tidak hanya bersifat fisik saja, melainkan juga

bersifat mental dan seksual.


27

4. Keterbatasan ruang dalam rumah

Keterbatasan ruang dalam rumah bisa menimbulkan risiko anak-anak

turun ke jalan. Biasanya ini dialami oleh anak-anak yang berada di

beberapa perkampungan urban yang menduduki lahan milik negara.

Banyak dijumpai adanya rumah-rumah petak yang didirikan secara tidak

permanen dan sering kali menggunakan barang-barang bekas seadanya

dengan ruang yang sangat sempit, kadang hanya berukuran 3 X 4 meter

saja. Dengan bentuk dan bangunan yang tidak layak disebut rumah itu,

kenyataannya dihuni oleh banyak orang. Misalkan saja sebuah keluarga,

termasuk hubungan suami istri berlangsung dalam ruangan yang terbatas

itu, tentunya hal itu akan berpengaruh buruk terhadap anak-anak, biasanya

yang berumur lebih dari 5 tahun memilih atau dibiarkan oleh orang tuanya

untuk tidur di luar rumah, seperti di tempat ibadah (mushola atau masjid)

yang ada di kampung tersebut, pos ronda, atau ruang-ruang publik yang

berdekatan dengan kampung mereka.

5. Eksploitasi ekonomi

Anak-anak yang turun ke jalan karena didorong oleh orang tua atau

keluarganya sendiri atau biasanya bersifat eksploratif. Anak ditempatkan

sebagai sosok yang terlibat dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.

Eksploitasi ekonomi oleh orang tua mulai marak terjadi ketika pada masa

krisis, dimana anak-anak yang masih aktif bersekolah didorong oleh orang

tuanya mencari uang dan ditargetkan memberikan sejumlah uang yang

ditentukan oleh orang tua mereka.


28

6. Keluarga homeless

Seorang anak menjadi anak jalanan bisa pula disebabkan karena

terlahirkan dari sebuah keluarga yang hidup di jalanan tanpa memiliki

tempat tinggal tetap.

2. Tingkat Meso ( Underlying Cause)

Adalah faktor agar berhubungan dengan struktur masyarakat (struktur

disini dianggap sebagai kelas masyarakat, dimana masyarakat itu ada yang

miskin dan kaya. Bagi kelompok keluarga miskin anak akan di ikut sertakan

dalam menambah penghasilan keluarga). Sebab-sebab yang dapat di

identifikasikan ialah pada komunitas masyarakat miskin, anak-anak adalah

aset untuk membantu meningkatkan ekonomi keluarga, oleh karena itu anak-

anak di ajarkan untuk bekerja pada masyarakat lain pergi ke kota untuk

bekerja adalah sudah menjadi kebiasaan masyarakat dewasa dan anak-anak

(berurbanisasi).

Menurut Depsos (2002) pada tingkat meso (masyarakat), sebab yang

dapat diidentifikasi meliputi:

1. Pada masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu

peningkatan pendapatan keluarga, anak-anak diajarkan bekerja yang

menyebabkan drop out dari sekolah.

2. Pada masyarakat lain, urbanisasi menjadi menjadi kebiasaan dan anak-

anak mengikuti kebiasaan itu.

3. Penolakan masyarakat dan anggapan anak jalanan sebagai calon kriminal.


29

Selain itu, (Shalahudin, 2000) juga memaparkan faktor lingkungan

munculnya anak jalanan yang bisa dikategorikan dalam faktor pada tingkat

messo yakni sebagai berikut :

a) Ikut-ikutan teman

Ikut-ikutan teman berdasarkan pengalaman pendampingan dari studi

yang ada menjadi salah satu faktor risiko yang membuat anak turun ke

jalanan. Teman di sini bisa berarti teman-teman di lingkungan sekitar

tempat tinggal anak atau teman-teman di sekolahnya yang telah lebih

dahulu melakukan aktivitas atau kegiatan di jalanan. Keterpengaruhan

akan sangat cepat apabila sebagian besar teman-temannya sudah berada

di jalanan. Awalnya mereka mungkin hanya menonton saja ketika diajak

untuk mengikuti temannya. Secara perlahan, anak mulai ditawari atau

terdorong untuk ikut terlibat dalam kegiatan di jalanan ketika mengetahui

teman-temannnya bisa menghasilkan uang. Keterpengaruhan dari teman

akan semakin tinggi apabila pihak keluarga dan komunitas sekitar tidak

memiliki kepedulian terhadap keberadaan anak-anak di jalanan. Sehingga

ketika anak mereka turun ke jalanan, tidak ada upaya untuk

mencegahnya.

b) Bermasalah dengan tetangga atau komunitas anak yang turun ke jalan

karena memiliki masalah dengan tetangga atau komunitasnya, biasanya

berawal dari tindakan anak yang melakukan tindakan kriminal seperti

melakukan pencurian.

c) Ketidakpedulian atau toleransi lingkungan terhadap keberadaan anak

jalanan Ketidakpedulian komunitas di sekitar tempat tinggal anak atau


30

adanya toleransi dari mereka terhadap keberadaan anak-anak di jalanan

menjadi situasi yang sangat mendukung bertambahnya anak-anak untuk

turut ke jalan. Biasanya ini terjadi pada komunitas-komunitas masyarakat

miskin yang sebagian besar warganya bekerja di jalanan terutama sebagai

pengemis.

3. Tingkat Makro (Basic Cause)

Adalah faktor yang berhubungan dengan struktur masyarakat (struktur ini

di anggap memiliki status sebab akibat yang sangat menentukan, dalam hal ini

sebab banyak waktu di jalanan, akibatnya akan banyak uang). Sebab yang

dapat diidentifikasikan secara ekonomi adalah membutuhkan modal dalam

keahlian besar. Untuk memperoleh uang yang lebih banyak mereka harus lama

bekerja di jalanan dan meninggalkan bangku sekolah (Siregar, 2006).

Depsos (2002) menjelaskan bahwa pada tingkat makro (struktur

masyarakat), sebab yang dapat diidentifikasi adalah:

1. Ekonomi, adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal yang tidak

terlalu membutuhkan modal keahlian, mereka harus lama di jalanan dan

meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa dan kota yang

mendorong urbanisasi. Migrasi dari desa ke kota mencari kerja, yang

diakibatkan kesenjangan pembangunan desakota, kemudahan transportasi

dan ajakan kerabat, membuat banyak keluarga dari desa pindah ke kota

dan sebagian dari mereka terlantar, hal ini mengakibatkan anak-anak

mereka terlempar ke jalanan.

2. Penggusuran dan pengusiran keluarga miskin dari tanah/rumah mereka

dengan alasan “demi pembangunan”, mereka semakin tidak berdaya


31

dengan kebijakan ekonomi makro pemerintah yang lebih memguntungkan

segelintir orang.

3. Pendidikan, adalah biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru yang

diskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokratis yang

mengalahkan kesempatan belajar. Meningkatnya angka anak putus sekolah

karena alasan ekonomi, telah mendorong sebagian anak untuk menjadi

pencari kerja dan jalanan mereka jadikan salah satu tempat untuk

mendapatkan uang.

4. Belum beragamnya unsur-unsur pemerintah memandang anak jalanan

antara sebagai kelompok yang memerlukan perawatan (pendekatan

kesejahteraan) dam pendekatan yang menganggap anak jalanan sebagai

trouble maker atau pembuat masalah (security approach / pendekatan

keamanan).

5. Adanya kesenjangan sistem jaring pengamanan sosial sehingga jaring

pengamanan sosial tidak ada ketika keluarga dan anak menghadapi

kesulitan.

6. Pembangunan telah mengorbankan ruang bermain bagi anak (lapangan,

taman, dan lahan-lahan kosong). Dampaknya sangat terasa pada daerah-

daerah kumuh perkotaan, dimana anak-anak menjadikan jalanan sebagai

ajang bermain dan bekerja.

Selain itu, dari paparan (Shalahudin, 2000) tentang faktor-faktor yang

menyebabkan anak turun ke jalan, beberapa yang merupakan foktor pada

tingkat makro yaitu:


32

1. Dampak program

Niat baik tidaklah selalu menghasilkan hal baik. Program-program anak

jalanan yang dilangsungkan oleh berbagai pihak tentunya tidak

dimaksudkan untuk mempertahankan anak-anak jalanan melainkan

dimaksud sebagai upaya untuk memberikan perlindungan, kesempatan

mendapatkan hak-haknya dan yang terpenting adalah untuk mengeluarkan

anak-anak jalanan dari dunia jalanan yang dinilai sangat tidak layak untuk

diarungi oleh mereka. Salah satu faktor yang dapat dikatakan sebagai

faktor penarik bagi anak untuk pergi ke jalanan adalah adanya program

untuk anak jalanan. Hal ini sangat mengejutkan dan kiranya dapat menjadi

bahan evaluasi dan refleksi yang hasilnya dapat digunakan untuk

mendesain program secara lebih berhati-hati di dalam memproyeksikan

dampak terhadap anak-anak.

2. Korban bencana

Bencana alam seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi dan sebagainya

ataupun bencana yang terjadi karena disebabkan oleh suatu akibat dari

kebijakan pembangunan seperti penggusuran perkampungan miskin

ataupun bencana yang ditimbulkan dari adanya konflik bersenjata antar

kelompok masyarakat, negara dengan kelompok masyarakat, atau antar

negara yang kesemuanya menyebabkan komunitas tersebut harus pindah

dari tempat tinggal asalnya dan menjadi pengungsi. Situasi di dalam

pengungsian yang terbatas dengan fasilitas dan persediaan bahan pangan

menyebabkan anak-anak melakukan kegiatan di jalanan seperti menjadi

pengemis.
33

3. Korban penculikan

Korban penculikan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak-

anak berada di jalanan. Kasus penculikan yang menimpa anak-anak untuk

dijadikan sebagai anak jalanan hampir terjadi setiap tahun. Tampaknya

kasus ini luput dari perhatian mengingat jumlah kasusnya memang tidak

besar.

Dari banyak uraian yang berasal dari berbagai sumber di atas dapat

diketahui bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan anak-anak pada

akhirnya bisa turun ke jalan dan menjadikan jalanan sebagai pusat aktivitas

mereka baik faktor pada tingkat mikro, messo, maupun makro. Permasalahan

yang mereka hadapi begitu kompleks, baik dari segi keluarga, lingkungan

sekitar, masyarakat, hingga kebijakan-kebijakan makro.

2.4 Hubungan antara Eksploitasi Anak dengan Kenakalan Remaja pada


Anak Jalanan
Anak jalanan merupakan salah satu bagian dari anak terlantar. Anak

jalanan adalah contoh dari anak-anak yang terlantar, baik dari pengasuhan

maupun pendidikannya. Keberadaan dan berkembangnya anak jalanan merupakan

persoalan yang perlu mendapat perhatian. Anak jalanan adalah anak yang

menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-

hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan tempat-

tempat umum lainnya (Departemen Sosial RI, 2005). Masalah anak jalanan masih

merupakan masalah kesejarteraan sosial yang serius dan perlu mendapat

perhatian. Hal ini mengingat bahwa anak-anak yang hidup di jalan sangatlah

rentan terhadap situasi buruk, perlakuan yang salah dan eksploitasi baik itu secara
34

fisik maupun mental. Hal ini akan sangat mengganggu perkembangan anak secara

mental, fisik, sosial, maupun kognitif, serta anak tidak mendapatkan hak dalam

memperoleh pendidikan dan penghidupan yang layak. Kondisi yang tidak

kondusif di jalanan dengan berbagai permasalahan yang dihadapi anak akan

berpengaruh pula pada kehidupan anak di masa mendatang.

Departemen Sosial RI, menjelaskan bahwa anak jalanan adalah anak yang

berusia antara 5 sampai 18 tahun dan menghabiskan banyak waktu untuk

melakukan aktivitas di jalanan atau tempat-tempat umum. Dari ciri-ciri rentang

usia anak jalanan tersebut, di kategorikan anak jalanan menjadi 2, yakni anak

jalanan yang berusia anak-anak (5 – 11 tahun) dan anak jalanan yang berusia

remaja (12 – 18 tahun). Kategori ini menunjukkan bahwa anak jalanan menurut

usianya, juga mengalami tahap tumbuh kembang menuju kedewasaan yang

penting untuk diperhatikan, yakni masa remaja. Masa remaja merupakan masa

yang penting untuk diperhatikan, karena di sinilah seseorang mengalami proses

pencarian jati diri.

Anak jalanan yang masih berusia remaja sangatlah rawan untuk

mendapatkan pengaruh yang tidak baik dari kehidupan jalanan yang keras.

Mereka akan lebih berpotensi untuk melakukan kenakalan-kenakalan remaja,

yakni melakukan perbuatan dalam bentuk penyelewengan atau penyimpangan

tingkah laku yang dilakukan oleh remaja, berupa pelanggaran hukum menurut

undang-undang hukum pidana, norma agama maupun norma sosial yang berlaku

di dalam masyarakat. Kenakalan-kenakalan yang banyak dilakukan oleh anak

jalanan remaja seperti mencuri, mencopet, minum-minuman keras, perjudian,

kekerasan fisik, eksploitasi seksual, pecandu narkotika, penjarah toko atau


35

menjadi pelacur. Padahal idealnya masa ini adalah suatu periode kehidupan

dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara

efisien mencapai puncaknya. Hal ini adalah karena selama periode remaja ini,

proses pertumbuhan otak mencapai kesempurnaan. (Pamungkas, 2015)