Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PENYULUHAN

GAGAL JANTUNG DI RUANG CAMELIA RSUD DR. SOETOMO


SURABAYA

DisusunOleh:

Hidayat Arifin, S. Kep. 131623143077


Mentari DwI Aldila, S. Kep. 131623143079
Lailatul Isnaini, S. Kep. 131623143075
Fauzan Rifa’i, S. Kep. 131623143076
Disen Fajar, S. Kep. 131623143078

Pembimbing Pendidikan
Erna Dwi Wahyuni, S.Kep., Ns., M.Kep

Pembimbing Klinik
Binafsih,S.ST

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2017
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok Bahasan : Gagal Jantung
Sasaran : Keluarga Pasien Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo
Tempat : Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo
Waktu : 35 menit
Hari/Tanggal : Jum’at, 12 Mei 2017

1. ANALISA SITUASI
1.1Audiens/ Peserta Penyuluhan
1) Keluarga Pasien Ruang Camelia RSUD DR. Soetomo
2) Jumlah sekitar 35 orang.
3) Pendidikan bervariasi, tidak sekolah hingga perguruan tinggi.
4) Keluarga dapat membaca
5) Minat dan perhatian sasaran dalam menerima materi penyuluhan yang
disampaikan.
6) Interaksi sasaran baik.
1.2 Penyuluh
1) Mahasiswa Profesi Fakultas Keperawaatan Universitas Airlangga
2) Mampu mengkomunikasikan dan menyuluhkan penjelasan tentang
perawatan gagal jantung.

2. TUJUAN INSTRUKSIONAL
2.1 Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan audiens mampu memahami
tentang gagal jantung
2.2 Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan, diharapkan audiens mampu:
1) Mengetahui pengertian gagal jantung
2) Penyebab gagal jantung
3) Tanda dan gejala gagal jantung
4) Klasifikasi gagal jantung
5) Faktor risiko gagal jantung
6) Penatalaksanaan Manajemen lipid
3. METODE
Ceramah dan tanya jawab

4. SETTING TEMPAT
A

C C
Keterangan gambar :
A : Penyaji
D C C B : Observer
C : audience/peserta
D : Fasilitator
C C

5. MEDIA
1. Power Point
2. Leafleat

6. KEGIATAN PENYULUHAN
Media &
Kegiatan
Tahap Kegiatan Penyuluh Alat Waktu
Keluarga
Penyuluhan
Pembukaan 1. Membuka Menjawab salam 2 menit
penyuluhan dengan
mengucapkan salam
2. Menjelaskan tujuan Memperhatikan
instruksional
umum/ khusus
3. Menjelaskan secara Memperhatikan
singkat gagal
jantung
Penyajian Menjelaskan Mendengarkan Leaflet & 20
tentang: dan Power point menit
1. Menjelaskan memperhatikan
pengertian gagal
jantung
2. Menjelaskan
penyebab gagal
jantung
3. Menjelaskan tanda
dan gejala gagal
jantung
4. Menjelaskan
klasifikasi gagal
jantung
5. Menjelaskan
penatalaksanaan
gagal jantung
Pertanyaan 1. Memberi Bertanya 10
kesempatan pada menit
keluarga untuk
bertanya gagal
jantung
Penutup 1. Menyimpulkan Mendengarkan dan 3 menit
materi yang telah memperhatikan
diberikan gagal
jantung

6. MATERI
Terlampir

6. KRITERIA EVALUASI
1) Evaluasi Struktur
(1) Rencana kegiatan dan penyajian materi penyuluhan dipersiapkan dari
sebelum kegiatan
(2) Kesiapan SAP
(3) Kesiapan media
2) Evaluasi Proses
(1) Keluarga mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara
benar
(2) waktu sesuai dengan rencana
3) Evaluasi Hasil
(1) Mampu menjawab pertanyaan tentang gagal jantung
(2) Keluarga mengetahui tentang tujuan penyakit gagal jantung
(3) Keluarga mengetahui tentang pencegahan gagal jantung
DAFTAR PUSTAKA

Corwin EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. hal 708-718.
Dipiro JT, Talbert R, Yee LG, Matzke RG, Wells
BG,PoseyLM. 2005.Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. Sixth
Edition. USA: The McGraw-Hill Companies.2081-2096.
Gogor Meisadona, Anne Dina Soebroto, Riwanti Estiasari. 2015. Diagnosis dan
Tatalaksana Meningitis Bakterialis. CDK-224/ vol. 42 no. 1, 14-19
Lumbantobing, SM. Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI; 2012. p. 17.
Mardjano M, Sidharta P. Neurologi Klinik Dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2009. p.g
416
LAMPIRAN MATERI

1. Pengertian Gagal Jantung

Gagal Jantung didefenisikan sebagai ketidakmampuan jantung

memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke

jaringan tubuh. Sering disebut juga dengan Congestive Heart Failure

(CHF) karena umumnya pasien mengalami kongesti pulmonal dan perifer

(Smeltzer et al., 2010).

Menurut Crawford (2009) gagal Jantung adalah sindrom klinis yang

kompleks yang dikarakteristikkan sebagai disfungsi ventrikel kanan,

ventrikel kiri atau keduanya, yang menyebabkan perubahan pengaturan

neuruhormonal. Sindrom ini biasanya diikuti dengan intoleransi aktivitas,

retensi cairan dan upaya untuk bernafas normal. Umumnya terjadi pada

penyakit jantung stadium akhir setelah miokard dan sirkulasi perifer

mengalami kekurangan cadangan oksigen dan nutrisi serta sebagai akibat

mekanisme kompensasi.

2. Penyebab Gagal Jantung

Gagal Jantung disebabkan oleh disfungsi miokardial dimana

jantung tidak mampu untuk mensuplai darah yang cukup untuk

mempertahankan kebutuhan metabolik jaringan perifer dan organ tubuh

lainnya. Gangguan fungsi miokard terjadi akibat dari miokard infark acut

(MCI), Prolonged Cardiovaskular Stress (hipertensi dan penyakit katup),

toksin (ketergantungan alkohol) atau infeksi (Crawford,2009).

Menurut Lilly, 2011; Black & Hawks, 2009 didalam Yuliana, 2012.

Penyebab Gagal jantung dapat dibedakan dalam tiga kelompok yang terdiri
dari: (1) kerusakan kontraktilitas ventrikel, (2) peningkatan afterload,

dan (3) kerusakan relaksasi dan pengisian ventrikel (kerusakan pengisian

diastolik). Kerusakan kontraktilitas dapat disebabkan coronary arteri

disease (miokard infark dan miokard iskemia), chronic volume overload

(mitral dan aortic regurgitasi) dan cardiomyopathies. Peningkatan

afterload terjadi karena stenosis aorta, mitral regurgitasi, hipervolemia,

defek septum ventrikel, defek septum atrium, paten duktus arteriosus dan

tidak terkontrolnya hipertensi berat. Sedangkan kerusakan pengisian

diastolik pada ventrikel disebabkan karena hipertrofi ventrikel kiri,

restrictive cardiomyopathy, fibrosi miokard, transient myocardial ischemia,

dan kontriksi perikardial.

Etiologi Gagal Jantung menurut Brunner & Suddarth, (2002)

adalah kelainan otot jantung yang dapat menyebabkan menurunnya

kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi

otot jantung mencakup aterosklerosis koroner, hipertensi arterial, dan

penyakit otot degeneratif atau inflamasi.

3. Tanda dan gejala

Adapun tanda dan gejala yang ditemui pada pasien gagal jantung

berdasarkan tipe gagal jantung itu sendiri, terdiri dari: (Lilly, 2011;

Ignatavisius & Workman, 2010 dalam Yuliana 2012). Gagal Jantung

kiri, dengan tanda dan gejala berupa:

a. Penurunan cardiac output: kelelahan, oliguri, angina, konfusi dan

gelisah, takikardi dan palpitasi, pucat, nadi perifer melemah,

akral dingin.
b. Kongesti pulmonal: batuk yang bertambah buruk saat malam

hari (paroxysmal noctural dyspnea), dispnea, krakels, takipnea

dan orthopnea.

Gagal Jantung kanan, manifestasi klinisnya adalah kongesti sistemik

yaitu berupa: distensi vena jugularis, pembesaran hati dan lien, anoreksia

dan nausea, edema menetap, distensi abdomen, bengkak pada tangan dan

jari, poliuri, peningkatan berat badan, peningkatan tekanan darah atau

penurunan tekanan darah karena kegagalan pompa jantung

Manifestasi klinis Gagal Jantung Menurut Hayes., dkk (2008).

Yaitu: Demam, Hipertensi, Nocturia, Dypsnea, Paroxysmal atau dypsnea

noctural, Batuk, Orthopnea, Hypoxemia, Pernafasan Cheyne-Stokes,

Anorexia, Mual, Kelelahan, Kelemahan, Cemas, Bingung, Sakit

kepala dan Insomnia.

4. Klasifikasi Gagal Jantung

The New York Heart Association (NYHA) telah mengklasifikasikan

batasan fungsional Gagal Jantung sebagai berikut:

Tabel Klasifikasi Gagal Jantung

Klasifikasi berdasarkan kelainan Klasifikasi


berdasarkan kapsitas struktural jantung
fungsional (NYHA)
Stadium A Kelas I
Memiliki risiko tinggi untuk Tidak terdapat batasan dalam
berkembang menjadi gagal melakukan aktifitas fisik.
jantung. Tidak terdapat Aktifitas fisik sehari-hari tidak
gangguan struktural atau menimbulkan kelelahan,
fungsional jantung, tidak palpitasi atau sesak nafas
terdapat tanda atau gejala
Stadium B Kelas II
Telah terbentuk penyakit Terdapat batasan aktifitas
struktur jantung yang ringan. Tidak terdapat keluhan
berhubungan dengan saat istrahat, namun aktifitas
perkembangan gagal jantung, fisik sehari-hari menimbulkan
tidak terdapat tanda atau gejala kelelahan, palpitasi atau sesak
nafas
Stadium C Kelas III
Gagal jantung yang simtomatik Terdapat batasan aktifitas
berhubungan dengan penyakit bermakna. Tidak terdapat
struktural jantung yang keluhan saat istrahat, tetapi
mendasari aktfitas fisik ringan
menyebabkan kelelahan,
palpitasi atau sesak
Stadium D Kelas IV
Penyakit jantung struktural Tidak dapat melakukan
lanjut serta gejala gagal jantung aktifitasfisik tanpa keluhan.
yang sangat bermakna saat Terdapat gejala saat istrahat.
istrahat walaupun sudah Keluhan meningkat saat
mendapat terapi medis melakukan aktifitas
maksimal (refrakter)

Sumber: Modifikasi dari Kabo & Karim, 2008

5. Faktor Risiko
a) Usia
Prevalensi gagal jantung terus meningkat seiring pertambahan usia.
Di negara-negara Eropa, 1 dari 5 individu di atas 40 tahun menderita
gagal jantung.
b) Jenis kelamin
Jumlah penderita gagal jantung pada laki-laki lebih besar (60%)
dibandingkan pada wanita berusia kurang dari 65 tahun, sedangkan
setelah usia 65 tahun, jumlahnya relatif sama.
c) Riwayat kencing manis
Beberapa mekanisme yang ditimbulkan oleh seseorang dengan
penyakit kencing manis yaitu meningkatnya vasodilatasi yang
berkaitan dengan pembesaran ventrikel kiri serta aterosklerosis
pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan kontraksi otot
jantung karena kecilnya lumen pembuluh darah.
d) Riwayat hipertensi
Hipertensi juga merupakan sesuatu keadaan dimana komplikasi
yang dapat terjadi adalah gagal jantung. Terjadi peningkatan beban
akhir (regangan dnding ventrikel selama sistol) karena pada
hipertensi terjadi vasokonstriksi arteri yang menyebabkan aliran
darah ke jantung meningkat dan banyak darah yang harus dipompa
oleh jantung.
e) Merokok
Merokok dapat meningkatkan radikalbebas dalam tubuh yang akan
memicu kerusakan endotel pembuluh darah terutama di jantung.
Hal ini akan memperberat kerja jantung.

6. Penatalaksanaan nonfarmakologi

a) Manajemen perawatan mandiri


Manajemen perawatan mandiri mempunyai peran dalam keberhasilan
pengobatan gagal jantung dan dapat memberi dampak bermakna
perbaikan gejala gagal jantung, kapasitas fungsional, kualitas hidup,
morbiditas dan prognosis. Manajemen perawatan mandiri dapat
didefnisikan sebagai tindakan-tindakan yang bertujuan untuk
menjaga stabilitas fisik, menghindari perilaku yang dapat
memperburuk kondisi dan mendeteksi gejala awal perburukan gagal
jantung.
b) Ketaatan pasien berobat
Ketaatan pasien berobat menurunkan morbiditas, mortalitas dan
kualitas hidup pasien. Berdasarkan literatur, hanya 20 - 60% pasien
yang taat pada terapi farmakologi maupun non-farmakologi
c) Pemantauan berat badan mandiri
Pasien harus memantau berat badan rutin setap hari, jika terdapat
kenaikan berat badan > 2 kg dalam 3 hari, pasien harus menaikan dosis
diuretik atas pertmbangan dokter (kelas rekomendasi I).
d) Asupan cairan
Restriksi cairan 1,5 - 2 Liter/hari dipertimbangkan terutama pada pasien
dengan gejala berat yang disertai iponatremia. Restriksi cairan rutin
pada semua pasien dengan gejala ringan sampai sedang tidak
memberikan keuntungan klinis (kelas rekomendasi II).
e) Pengurangan berat badan
Pengurangan berat badan pasien obesitas (IMT > 30 kg/m2) dengan
gagaln jantung dipertimbangkan untuk mencegah perburukan gagal
jantung,mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup (kelas
rekomendasi II)
f) Kehilangan berat badan tanpa rencana
Malnutrisi klinis atau subklinis umum dijumpai pada gagal jantung
berat.Kaheksia jantung (cardiac cachexia) merupakan prediktor
penurunan angka kelangsungan hidup.Jika selama 6 bulan terakhir
berat badan > 6 %
dari berat badan stabil sebelumnya tanpa disertai retensi cairan, pasien
didefinisikan sebagai kaheksia. Status nutrisi pasien harus dihitung
dengan hati-hati (kelas rekomendasi I)
g) Latihan fisik
Latihan fisik direkomendasikan kepada semua pasien gagal jantung
kronik stabil. Program latihan fisik memberikan efek yang sama baik
dikerjakan di rumah sakit atau di rumah (kelas rekomendasi I)

7. Managemen Lipid

Terapi Farmakologi penanganan gagal jantung


8. Pemeriksaan penunjang
a) Elektrokardiogram (EKG)
Pemeriksaan elektrokardiogram harus dikerjakan pada semua pasien
diduga gagal jantung.Abnormalitas EKG sering dijumpai pada gagal
jantung. Abnormalitas EKG memiliki nilai prediktif yang kecil
dalam mendiagnosis gagal jantung, jika EKG normal, diagnosis
gagal jantung khususnya dengan disfungsi sistolik sangat kecil (<
10%).
b) Foto Toraks
Merupakan komponen penting dalam diagnosis gagal jantung.
Rontgen toraks dapat mendeteksi kardiomegali, kongesti paru, efusi
pleura dan dapat mendeteksi penyakit atau infeksi paru yang
menyebabkan atau memperberat sesak.

c) Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium rutin pada pasien diduga gagal jantung
adalah darah perifer lengkap (hemo-globin, leukosit, trombosit),
elektrolit, kreatinin, laju filtrasi glomerulus (GFR), glukosa, tes
fungsi hati dan urinalisis. Fungsi ginjal menurun sering dijumpai
terutama pada pasien dengan terapi menggunakan diuretik dan/atau
ACEI (Angiotensin Converting Enzime Inhibitor), ARB
(Angiotensin Receptor Blocker), atau antagonis aldosterone.
d) Ekokardiograf
Istilah ekokardiograf digunakan untuk semua teknik pencitraan
ultrasoundjantung termasuk pulsed and continuous wave Doppler,
colour Doppler dan tissue Doppler imaging (TDI). Konfirmasi
diagnosis gagal jantung dan/atau disfungsi jantung dengan
pemeriksaan ekokardiografi adalah keharusan dan dilakukan
secepatnya pada pasien dengan dugaan gagal jantung. Pengukuran
fungsi ventrikel untuk membedakan antara pasien disfungsi sistolik
dengan pasien dengan fungsi sistolik normal adalah fraksi ejeksi
ventrikel kiri (normal > 45 - 50%).
1.8 Algoritma gagal jantung

Gambar 2.1 algoritma pasien gagal jantung berdasarkan Guidline


AHA 2015
LEMBAR OBSERVASI

Topik : Gagal jantung


Tempat : Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo
Hari/Tanggal : Jum’at, 12 Mei 2017
Jam Kegiatan

Surabaya, 12 Mei 2017


Observer

( ................................ )
LEMBAR PERTANYAAN

Topik : Gagal Jantung


Tempat : Ruang Camelia RSUD Dr. Soetomo
Hari/Tanggal : Jum’at, 12 Mei 2017
Nama Pertanyaan

Surabaya, 12 Mei 2017


Ketua

( ................................ )
DAFTAR HADIR
PESERTA PENYULUHAN

Nama Alamat Tanda tangan

Surabaya, 12 Mei 2017


Ketua

( ................................ )