Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu ajaran islam yang terpenting dalam pembentukan


hukum islam sesudah ayat Al-qur’an adalah ayat-ayat hadits. Ayat-ayat
hadits merupakan sabda-sabda nabi sebagai pembimbing bagi
masyarakat dan orang-orang yang beriman serta bukan sebagai
pengganti kehendak illahi, penyampaian firman tuhan. Selain itu hadits
juga memiliki fungsi sebagai penjelas ayat-ayat Al-qur’an sebagai mana
yang telah di jelaskan di dalam Al-qur’an surat an-nahl ayat 44

‫َِلي‬
َ‫ْك‬ ‫َا إ‬ ‫َْلن‬
‫نز‬َْ
‫َأ‬‫ِ و‬
‫بر‬ ُُّ
‫َالز‬ ‫َاتِ و‬ ‫َي‬
ِّ
‫ِن‬ ْ ‫ب‬
‫ِالب‬
ْ
‫ِم‬‫ْه‬‫َِلي‬
‫ل إ‬ ِّ
َِ
‫نز‬ ُ ‫ما‬ َ ِ‫َّاس‬
‫ِلن‬ ‫َ ل‬ ‫ِن‬ ‫َي‬
ِّ ‫ُب‬
‫لت‬ ‫ْر‬
ِ َ ‫ِك‬ِّ‫ال‬
‫ذ‬
َ‫ُو‬
‫ن‬ ‫َّر‬
‫َك‬ ‫َف‬ َ ْ
‫يت‬ ُ‫ل‬
‫هم‬ ََّ
‫ََلع‬
‫و‬
(Mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan
(mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Adz Dzikr (Al Qur’an)
kepadamu agar kamu (Muhammad) menerangkan kepada manusia apa
yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan
Di kalangan ulama hadits terdapat perbedaan istilah antara hadits
dan sunnah meskipun demikian tidak sedikit yang menyamakannya
bahwa hadits adalah ketetapan [ at-taqrir ] yng tepat untuk di jadikan
dalil sabagai hukum. Karena pentingnya kedudukan hadits maka, kajian-
kajian atas hadits semakin meningkat, sehingga upaya terhadap
penjagaan hadits secara histori telah di mulai sejak masa sahabat yang di
lakukan secara selektif demi menjaga keaslian hadits itu sendiri .

Sanad dan matan adalah dua komponen pembentuk bangunan


hadits yang menduduki posisi penting dalam khazanah penelitian hadits.
Sebab, tujuan akhir dari penelitian hadits adalah untuk memperoleh
validitas sebuah matan hadit
BAB II
PEMBAHASAN

. A. Sejarah Muncul, Perkembangan dan Urgensi


Adapun bebarapa sejarah tentang kritik hadits
1. Pada zaman rasulullah :
Kedudukan Nabi sebagai public figur, terbuka asumsi untuk
disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Loyalitas
berkadar semu bisa mewarnai sikap sebagian sahabat beliau. Demikian
pula setiap informasi mengenai tahapan pembinaan syari’ah versi hadis
(sunnah), kebijakan kepemimpinan dan pilihan sikap pribadi dalam
menjalani kehidupan, tak luput dari reaksi umat buat mengkritisinya.
Tradisi kritik atas pemberitaan hadis telah terjadi sejak pada masa
hidup nabi Muhammad saw. Motif kritik pemberitaan hadis bercorak
konfirmasi, klarifikasi dan upaya memperoleh testimoni yang target
akhirnya menguji validitas keterpercayaan berita (al-istitsiqah). Kritik
bermotif konfirmasi yakni upaya menjaga kebenaran berita.
Terbaca pada kronologi kejadian yang diriwayatkan oleh Abu
Buraidah tentang seorang pria yang tertolak pinangannya untuk
mempersunting wanita Banu Laits. Lokasi pemukiman kabilah itu
kurang lebih 1 mil dari Madinah. Ia tampil berbusana kostum dimana
potongan warna dasar dan ciri-ciri lain yang benar-benar mirip busana
keseharian Nabi. Kedatangan pria itu seperti pengakuaannya,
membawa pesan dari Nabi untuk singgah di rumah siapapun yang
dalam versi riwayat lain untuk membuat perhitungan hukum sendiri.
Ternyata pilihan rumah jatuh pada pada kediaman orang tua gadis
yang ia gagal meminangnya. Segera warga kabilah Banu Laits mengirim
kurir agar menemui Nabi dengan tujuan untuk konfirmasi atas
pengakuan sepihak pemuda tersebut. Secepat berita itu sampai pada
Nabi, beliau langsung menugasi Abu Bakar dan Umar ibn Khattab
untuk menangkap pria itu –ternyata ia seorang munafik- dan
menjatuhkan hukuman (bunuh) di tempat.
Berpijak pada gambaran-gambaran di atas, agaknya dapat
dipahami sikap yang pilih-pilih para sahabat maupun ulama dalam
mempertanyakan hadis yang merka terima, hal itu dimotivasi oleh
sikap kehati-hatian dan tanggung jawab mereka untuk menjaga
otentisitas dan orisinilitas sebuah hadis.
Model konfirmasi hadis yang demikian ini relatif sedikit. Namun
demikian, para ulama bersepakat bahwa konfirmasi hadis di era
Rasulillah ini di pandang sebagai “cikal-bakal” lahirnya ilmu kritik hadis,
yang dalam tahap berikutnya menjadi salah satu dari 93 cabang ilmu
hadis.
2. Pada zaman sahabat :
Pada perkembangan selanjutnya, pada era sahabat, tampilan
kritik hadis lebih bersifat komparatif/muqaranah. Pola perujukan
silang berintikan muqaranah atau perbandingan antar riwayat dari
sesama sahabat. Pola muqaranah antar riwayat ini kelak menyerupai
praktik i’tibar guna mendapatkan data syahid al-hadis agar asumsi
kemandirian sahabat periwayat hadis bisa dibuktikan. Syahid al-hadis
adalah periwayatan serupa isi atan hadis, mungkin ada kemiripan
struktur kalimatnya dan mungkin hanya semakna saja, oleh sahabat
lain yang dapat disejajarkan sebagai riwayat pendukung. Cara yang
dilakukan cukup meminta agar sahabat periwayat hadis berhasil
mendatangkan perorangan sahabat lain yag memberi kesaksian atas
kebenaran hadis nabawi yang ia beritakan. Langkah metodologis
tersebut terkesan seakan-akan kalangan sahabat tidak bersedia
menerima informasi hadis kecuali dibuktikan oleh kesaksian minimal
dua orang yang sama-sama menerima hadis tersebut dari Rasulillah.
Berikut contoh penerapan kaidah komparatif/muqaranah antar
riwayat. Yaitu Khalifah Abu Bakar bersikap menolak pemberitaan al-
Mughiroh ibn Syu’bah bahwa Rasulillah membagikan 1/6 (seperenam)
pusaka kepada nenek pewaris

3. Penelitian Hadis Era Tabi’in dan Atba al-Tabi’in Hingga Kodifikasi


Hadis (Abad II-III).
Pada masa ini telah terdapat para pemalsu hadis yang dengan
sengaja memanipulasi hadis dengan alasan-alasan yang bersifat
personal atau kepentingan golongan, seperti ungkapan Usman Sya’rani
bahwa pada masa ini telah muncul hadis palsu tentang kelebihan
empat khalifah, kelebihan ketua-ketua kelompok, kelebihan ketua-
ketua partai, memuliakan dan mencaci kelompok-kelompok agama
tertentu. Disamping pemalsu hadis tersebut dilakukan oleh orang
Islam, Orang-orang non muslim juga melakukan pemalsuan hadis
karena keinginan untuk meruntuhkan Islam.
Munculnya pemalsuan hadis kemudian menuntut para ulama yang
hidup pada masa tabi’in dan sesudahnya untuk lebih bersikap ekstra
ketat dalam melakukan penelitian hadis. Hal tersebut antara lain dapat
dibuktikan dengan semakin ramainya aktivitas perjalanan ilmiah ke
berbagai pelosok daerah yang bermaksud mempelajari hadis Rasulullah
Saw.
Pada masa tabi’in ini, para ulama semakin aktif dalam
merumuskan rambu-rambu yang dijadikan sebagai standar kesahihan
hadis, Hal tersebut terbukti dari lahirnya pemikiran-pemikiran tokoh kritik
hadis yang terkenal dalam memelihara kemurnian dan keaslian hadist.
Adapun rambu-rambu yang mengindikasikan adanya aktivitas
kritik hadis pada abad ke II dan ke III antara lain adalah sebagaimana
ungkapan Malik dalam kutipan Umi Sumbulah berikut:
a. Tidak meriwayatkan hadis dari orang yang selalu
memperturutkan ambisi pribadinya (hawa nafsu).
b. Tidak meriwayatkan hadis dari orang yang bodoh, yang
dengan kebodohonnya itu ia kemudian membuat kebohongan
atas nama Rasulullah.
c. Tidak meriwayatkan hadis dari seseorang yang sebenarnya
baik amal ibadahnya, namun hadis yang diriwayatkannya itu tidak
dikenal (umum)

Kritik hadits pada masa tabi’in dan setelahnya (abad ke-II dan ke-
III) telah mencakup kepada penelitian sanad dan matan hadis. Kegiatan
penelitian tersebut telah menjalar ke seluruh pelosok negeri Islam
seperti: Makkah, Yaman, Irak, Mesir, Syam, Khurasan, Bukhara, Merv,
Kufah, Naisabur dan sebagainya.
Selanjutnya berkat kegiatan kritik hadis tersebut bermunculan-lah
di berbagai negeri ini para peneliti hadis sepanjang masa. Mereka
senantiasa mengorbankan waktu hanya untuk membersihkan hadis-hadis
dari kepalsuan, kelemahan dan cacat lainnya. Setelah abad ketiga
berakhir, aktifitas penelitian hadits ini mulai terlihat lebih metodologis
dan sistematis yang ditandai dengan lahirnya karya-karya besar ulama
mengenai hadits ditinjau dari segala aspeknya. Sehingga sampai saat ini
karya-karya fenomenal itulah yang menjadi referensi utama dalam
menilai sebuah hadist.
Selanjutnya dilihat dari sisi sejarah pembukuan sistem penelitian
hadis, pada awalnya metode penelitian hadis tersebut hanya ditulis di
pinggiran buku-buku hadits seperti terdapat pada kitab Musnad,
Jawami’, Sunan dan lainnya. Ulama yang mencoba memberikan
komentar atau kritik terhadap beberapa hadits, hanya meletakkan
komentarnya di bagian akhir atau catatan kaki dalam berbagai buku induk
hadist
Kemudian cara yang pertama ini dirasakan kurang efektif dan
tidak cukup luas untuk mengupas kelemahan dan cacat yang terdapat
dalam hadis, sehingga para ulama hadits kemudian berinisiatif
menuliskan komentar-komentar mereka dalam satu kitab tersendiri,
yang memuat seluruh riwayat yang dimiliki oleh masing-masing perawi
agar penilaan atas hadits benar-benar objektif. Hal tersebut sebagaimana
yang dilakukan oleh Imam Ahmad dalam karyanya: Kitabul ‘Ilal fi
Ma’rifatil Rijal, atau Musnad al-Mu’allal karya Ya‘qub bin Syaibah.
Pada tahap selanjutnya, penulisan kitab rujukan kritik hadits
menjadi lebih sistematis lagi setelah dilakukannya pengkajian yang
terpisah antara penelitian sanad dengan penelitian matan hadis. Hal ini
digagas oleh pakar peneliti hadits seperti Ibnu Abi Hatim dalam bukunya:
al-Jarh wa Ta’dil dan’Ilal yang begitu detail dalam melacak keabsahan
hadits dari aspek matan dan perawinya.

B. Urgansi Kritik Hadits

Permasalahan krusial yang muncul dalam diskursus ini adalah


mengapa kritik sanad hadis itu dianggap penting dan para ulama ahli
hadis itu terkesan memperlakukan secara istimewa terhadap sanad
dibanding matan hadis. Sikap para ulama hadis ini beralasan bahwa kritik
matan hadis baru memiliki arti dan dapat dilakukan setelah kritik
terhadap sanad selesai dilakukan. Karena bagaimanapun juga sebuah
matan hadis tidak akan pernah dinyatakan sebagai berasal dari Rasulullah
jika tanda disertai sanad. Oleh karena itu, menurut pendapat penulis logis
jika para kritikus hadis menempuh kritik terhadap sanad terlebih dahulu
baru diikuti kemudian dengan kritik matan.

Urgensi kritik hadis ditinjau dari sisi perjalanan sejarah kritik hadis,
yaitu sebagai berikut:

No. Periode Urgensi Kritik Hadis


1. Masa Hidup Dalam tahapan ini, aktivitas kritik hadis tersebut masih
Nabi Saw. terbatas pada upaya mendatangi Rasul Saw dalam
membuktikan suatu riwayat yang disampaikan oleh sahabat
yang berasal dari beliau. Pada tahapan ini juga, kegiatan kritik
hadis tersebut sebenarnya hanyalah merupakan konfirmasi
dan suatu proses konsolidasi agar hati menjadi tenteram dan
mantap.
2. Masa 3 Abu Bakar al-Shiddiq r.a adalah pelopor dalam kritik hadis
Sahabat dan dia menempatkan metode kritik hadis pada posisi yang
Abad ke-1 penting. Dengan melakukan perbandingan diantara beberapa
Hijriyah riwayat yang ada.

3. Abad II –III 7. Kitab-kitab hadis disusun tidak hanya memuat matan saja,
Hijriyah tetapi juga memuat sanadnya, ada sanad yang sudah
diseleksi secara ketat oleh penyusunnya, dan ada yang tidak
diseleksi secara ketat. Karena yang demikian inilah kritik
sanad hadis muncul, bahkan sejalan dengan perkembangan
pengetahuan seluruh kualitas hadis yang sudah terhimpun
dalam suatu kitab masih terbuka untuk diteliti kembali.

4. Abad 15- · Memelihara khazanah keilmuan Islam.


Sekarang · Meminimalisir perbedaan pendapat dalam kawasan produk
hukum syari’at.
· Mendeteksi hadis dha’if dalam kitab-kitab Islam yang
terkadang dijadikannya sebagai dalil tuntunan amal ibadah.
· Mengembangkan metodologi penelitian hadis ke arah yang
lebih baik agar umat muslim dapat menghadapi tuduhan
orientalis terhadap otentisitas hadis secara adil.
· Membangun sikap kehati-hatian dalam memakai hadis
yang tidak dapat dipertanggung jawabkan sebagai landasan
ibadah sehari-hari atau bahkan sebagai landasan dalam
menetapkan suatu hukum.

C. Tokoh-Tokoh Kritikus Hadits


Perjalanan sejarah perkembangan kritik hadis telah diuji oleh
berbagai cobaan dari internal dan eksternal umat Islam. Namun berbagai
peristiwa yang mencoba menguji otentisitas dan orisinalitas hadis
tersebut malah menyadarkan kaum muslimin untuk menetapkan rambu-
rambu, standarisasi dan metode penelitian hadis. Dari hasil kajian
tersebut maka terlahirlah para kritikus hadis yang populer di masanya,
yang antara lain adalah sebagai berikut:
a. Kritikus Hadis Pada Masa Sahabat (abad 1 H)
Adapun para kritikus hadis yang dapat disebutkan di masa
sahabat di antaranya adalah sebagai berikut:
Abu Bakar as-Siddiq (w. 13 H=634 M), Umar bin Khattab
(w. 234 H=644 M) Ali bin Abi Thalib (w. 40 H=661 M), Abdullah Ibn
Hushain (w. 52 H), ‘Imran ibn Hushain (w. 52 H), Abu Hurairah (59
H), Abdullah ibn Amar ibn al-‘Ash (w. 65 H), Abdullah ibn ‘Umar
(w. 83 H), Abu Sa’id al-Khudzri (w. 79 H), dan Anas ibn Malik (w. 92
H)
b. Kritikus Hadis Pada Masa Tabi’in (Abad 2 H.)
Adapun tokoh penelitian hadis pada masa tabi’in (abad II)
dan pusat aktivitas mereka adalah sebagai berikut:
a. Kufah dengan tokohnya Sufyan al-Thauri (97-161 H), Walid
ibn al-Jarrah (wafat 196 H).
b. Madinah dengan tokohnya Malik ibn Anas (93-179 H).
c. Beirut dengan tokohnya al-Awza’i (88-158 H).
d. Wasith dengan tokohnya Syu’bah (83-100 H).
e. Basrah dengan tokohnya Hammad ibn Salamah (wafat 167
H), Hammad ibnu Zaid (wafat 179 H), Yahya ibn ibn Sa’id al-
Qaththan (wafat 198 H) dan Abd al-Rahman ibn Mahdi (wafat
198 H).
f. Mesir dengan tokohnya al-Laits ibn Sa’d (wafat 175 H) dan
al-Syafi’i (wafat 204 H).
g. Makkah dengan tokohnya Ibn ‘Uyainah (107-198 H).
h. Merv dengan tokohnya Abdullah ibn al-Mubarak (118-181
H)
d. Kritikus Hadis Pada Abad Ke 3 H.
Tokoh-tokoh kritikus hadis yang telah disebutkan pada abad ke II
kemudian melahirkan tokoh-tokoh peneliti penerus mereka di abad ke
III H., di antaranya adalah:
a. Baghdad dengan tokohnya Yahya ibn Ma’in (wafat 233 H), Ibn
Hambal (wafat 241 H) dan Zuhair ibn Harb (wafat 234 H)
b. Basrah dengan tokkohnya Ali ibn al-Madini (wafat 234 H) dan
Ubaid Allah ibn Umar (Wafat 235 H).
c. Wasith dengan tokohnya Abu Bakr ibn Abi Syaibah (wafat 235
H).
d. Merv dengan tokohnya Ishaq ibn Rahawaih (wafat 238 H).
Dari tokoh-tokoh kritik hadis abad ketiga ini kemudian
melahirkan ilmuwan-ilmuwan hadis sekaliber seperti:
1. Malik bin Anas (97-179 H), nama lengkapnya adalah Abu
‘Abdullah Malik bin Anas biu Malik bin Abu ‘Amir al-Asbahiy
al-Himyari al-Madaniy.
2. Asy-Syafi’i (150-204 H), nama lengkapnya adalah Abu
‘Abdullah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Syafi’i bin as-
Saibbin’Ubaid bin ‘Abdu Yaziz bin Hasyim bin ‘Abdul Mutholib
bin ‘Abdul Manaf al-Muttolib al-Qurisyiy.
3. 3.Ahmad bin Hanbal (164-241H) nama lengkapnya Abu
‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin
As’ad Asy-Syaibani al-Marwaziy dari Maru.
4. Ad-Darimi (181-255 H) nama lengkapnya adalah Abu
Muhammad ‘Abdullah bin ‘Abdur Rohman bin Fadl bin
Bahrum at-Tamimiy ad-Darimi.
5. Al-Bukhori (194-256H), nama lengkapnya, Abu ‘Abdullah
Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mugiroh al-Ja’fi,
kakeknya Majusi.
e. Kritikus Hadis Pada Abad Ke 4-7 H.
Tokoh-tokoh kritikus hadis yang terdapat pada abad ke 4, 5, 6, 7
adalah sebagai berikut:
a. At-Tobroni (260-360 H), lahir di Syam, wafat di Hamamah ad-
Dausi.
b. Al- Hakim (321-405 H), lahir di Naisabur pindah ke Iroq
c. Ibn Khuzaimah (223-313 H), lahir di Khurosan
d. Ibn Hibban (w. 354), dia orang Samarqand.
e. Ad-Daruqutni (306-385 H), dia orang Bagdad
f. At-Tohawi (238-321 H), dia orang Mesir
g. Al- Baihaqi (w. 458 H), wafat di Naisabur, belajar hadis ke Iroq
dan Hijaj.
h. An-Nawawi (631-676 H), lahir di Nawa, beliau pensyarah hadis
seperti kitab riyadus solihin.
f. Kritikus Hadis Pada Abad Ke 14 H.
 Ahmad Amin (1304-1373 H), lahir dan wafat di Kairo,
Mesir. Nama lengkapnya adalah Ahmad Amin bin al-Syikh Ibrahim
al-Thabbakh. Karya beliau di antaranya adalah Fajr al-Islam; di
antara isi karya ini telah ditanggapi oleh Mushthafa al-Siba’i dalam
sebagian isi kitab al-Sunnahnya
 Mushthafa al-Siba’i (1333-1385 H), Lahir Homs, Syria.
Nama lengkapnya ialah Mushthafa bin Husni Abu Hasan al-Siba’i.
Karya beliau di antaranya adalah al-Sunnah wa Makanatuha fa al-
Tasyri’ al-Islami, sebagai karya fundamentalnya yang telah cukup
dikenal di kalangan Muslim Indonesia. Pada tahun 1993, karya ini
telah diterjemahkan oleh Dja’far Abd. Muchith dan diterbitkan CV.
Diponegoro di bawah judul al-Hadits sebagai Sumber Hukum;
kemudian dalam bentuk terjemah ringkas, karya ini juga telah
diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia dengan judul
Sunnah dan Penerapannya dalam Penetapan Hukum Islam Sebuah
Pembelaan Kaum Sunni, dan sekaligus diberi pengantar, oleh
Nurcholish Madjid
 Adapun mengenai profil, kapasitas intelektual, guru dan
murid, kelompok sosial, dan karya-karya para tokoh kritikus hadis
ini dapat ditelusuri pada kitab yang mengkaji kritikus hadis seperti
kitab tahzib al-kamal.

D . LANGKAH- LANGKAH DALAM KEGIATAN KRITIK HADIST


Dr. Syuhudi Isma’īl dalam bukunya yang berjudul
“Metodologi penelitian Hadits Nabi” menguraikan ada beberapa
langkah yang harus ditempuh dalam melakukan suatu kritikan
terhadap sanad suatu hadits yaitu sebagai berikut :
1. Melakukan I’tibar
Menurut istilah ilmu hadits, I’tibar adalah menyertakan
sanad-sanad yang lain untuk suatu hadits tertentu yang hadits itu
pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat
saja, dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut
akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah
tidak ada untuk bagian sanad dari sanad hadits yang dimaksud.
Kegunaan I’tibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad
hadits seluruhnya dilihat dari ada atau tidak adanya pendukung
berupa periwayat yang berstatus muttabī atau syāhid. Dengan
adanya I’tibar ini maka akan diketahui apakah hadits yang diteliti
itu memiliki muttabī dan syāhid ataukah tidak.
2. Meneliti Pribadi Periwayat dan Metode Periwayatannya
Untuk meneliti hadits diperlukan sebuah acuan yaitu acuan
yang akan digunakan untuk meneliti kesahihan hadits bila hadits
yang diteliti bukanlah hadits yang mutawatir.
Kegiatan menerima riwayat hadits dalam ilmu hadits
dinamakan dengan tahammul al hadits, sedangkan kegiatan
menyampaikan riwayat hadits disebut ada’u al hadits. Lafal yang
digunakan dalam kegiatan tahammul al hadits bentuknya
bermacam-macam seperti ,‫سمعنا‬ ,‫سمعت‬
,‫عنا‬ ‫ عنو‬,‫ حدثنا‬,‫حدثني‬Sebagian dari
lambang-lambang itu ada yang disepakati dan ada juga yang tidak.
Adapun Lambang-lambang yang penggunaannya
disepakati yaitu ,‫ نولنا‬,‫ نولني‬,‫حدثني‬
‫سمعنا‬. kedua lambang yang disebutkan pertama
digunakan dalam metode periwayatan dengan as-Sama’ sebagai
metode yang menurut jumhur ulama hadits memiliki tingkat
akurasi yang tinggi, dan dua lambang berikutnya disepakati
sebagai lambang periwayatan al-munāwalah, yakni metode
periwayatan yang masih dipersoalkan tingkat akurasinya.
3. Jarh wa Ta’dil untuk mengetahui nilai pribadi perawi
Al- Jarh menurut bahasa artinya melukai, sedangkan
menurut istilah dalam ilmu hadits al-Jarh berarti terdapatnya
suatu sifat pada seorang perawi yang menyebabkan ternodanya
keadilannya, atau merusak hafalan dan kecermatannya dalam
memelihara hadis sehingga mengakibatkan riwayat yang
disampaikannya menjadi gugur, lemah atau ditolak.
At-Ta’dil artinya menurut bahasa adalah masdar dari kata
adala, yang berarti sesuatu yang menjadikan seseorang benar
atau baik, yaitu lawan dari buruk. Sedangkan menurut istilah
dalam ilmu hadits at-Ta’dil berarti orang yang tidak terlihat
(terjadi) pada dirinya sesuatu yang merusak keberagamannya dan
kepribadiannya, sehingga berita dan kesaksian yang
disampaikannya dapat diterima, apabila syarat-syarat lain yang
berkaitan dengan keduanya terpenuhi.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Tradisi kritik atas pemberitaan hadis telah terjadi sejak pada
masa hidup nabi Muhammad saw. Motif kritik pemberitaan hadis
bercorak konfirmasi. Para ulama bersepakat bahwa konfirmasi hadis di
era Rasulillah ini di pandang sebagai “cikal-bakal” lahirnya ilmu kritik
hadis, yang dalam tahap berikutnya menjadi salah satu dari 93 cabang
ilmu hadis. Pada era sahabat, tampilan kritik hadis lebih bersifat
komparatif/muqaranah. Pada era tabi’in telah terdapat para pemalsu
hadis yang dengan sengaja memanipulasi hadis dengan alasan-alasan
yang bersifat personal atau kepentingan golongan, seperti ungkapan
Usman Sya’rani bahwa pada masa ini telah muncul hadis palsu tentang
kelebihan empat khalifah.
Pentingnya kritik hadis sanad dan matan adalah untuk
menunjukkan secara jelas, bahwa Hadits Rasul Saw perlu dijaga dari
upaya-upaya yang melemahkannya dan disaring dari tercampurnya
dengan Hadits Al Maudhu’i. Ini artinya, segala matan hadits yang
beredar perlu diteliti siapa pembawanya, bagaimana silsilah sanadnya,
dan bagaimana isi kandungan haditsnya.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam kegiatan kritik sanad
hadits adalah
a. Melakukan I’tibar
b. Meneliti Pribadi Periwayat dan Metode Periwayatannya
c. Jarh wa Ta’dil untuk mengetahui nilai pribadi perawi
d. Kitab-Kitab yang diperlukan dalam Kritik Sanad
DAFTAR PUSTAKA

Abbas.Hasjim, Kritik Matan Hadis: Versi Muhaddisin dan Fuqaha.


(Yogyakarta: Teras. 2004), Cet. Ke-1
RI, Departemen Agama, Al-qur’an dan terjemahannya , (Bandung,
CV.Penerbit J-Art, 2005),
Isma’īl, Syuhudi, Kaedah Kesahehan Sanad Hadits, Telaah Kritis dan
Tinjauan dengan Pendekatan Sejarah¸(Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1995)
Isma’īl, Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (Jakarta: Bulan
Bintang, 1992),
Khon, Abdul Majid , Ulumul Hadis, Cet. ke-3 (Jakarta: Amzah, 2009)
Noorhidayati, Salamah, Kritik Teks Hadis: Analisis tentang ar-Riwayah bi
al-Ma’na dan Implikasinya bagi Kualitas Hadis. (Yogyakarta: teras, 2009), Cet. Ke-
1
Pendidikan dan Kebudayaan,Dep, Kamus Umum Bahasa Indonesia
(Jakarta: Balai Pustaka, 1988)
Rahman Fatchur, Ikhtisar mushthala’hul hadis, (Bandung: Al-Ma’arif,
1974),
Cet ke-1