Anda di halaman 1dari 5

Hidrolisis adalah mekanisme reaksi penguraian suatu senyawa oleh air atau asam dan basa.

Pati atau
amilum tergolong ke dalam kelompok polisakarida sehingga pati atau amilum tersebut bisa dihidrolisis
menjadi glukosa yang merupakan monosakarida. Pertama-tama amilum dihidrolisis menghasilkan
maltosa kemudian maltosa dihidrolisis menghasilkan glukosa. Pada hidrolisis ini memerukan katalisaator
untuk memepercepaat jalannya reaksi. Katalisator yang dipakai berupa enzim ptyalin (enzim amilase
hidrolitik).
Pada suhu optimum amilase dapat menjaankan fungsinya mengubah amilum menjadi maltosa. Amilum
dan dextrin yang molekulnya masih besar bereaksi dengan iodium akan memberikan warna biru, dektrin-
dekstrin antara lain eritrodeztrin yang akan memberi warna coklat kemerah-merahan. Sedangkan dextrin
yang molekulnya sudah kecil lagi (akhrodextrin) dan maltosa tidak memberi warna biru atau ungu disebut
titik akromik. Warna tersebut terbentuk disebabkan amilum yang berikatan dengan iod sehingga warna
ungu telah mengalami proses hidrolisis menjadi maltosa dan dextrin yang tidak menimbulkan warna
apabila berada dalam larutan iodium.

Uji iodin yang digunakan berfungsi sebagai indikator terhadap proses terjadinya reaksi yang ditandai
dengan adanya perubahan warna. Dari pengamatan yang dilakukan bahwa saliva yang digunakan
menunjukkan hasil positif daam uji iodin dengan terjadinya perubahan warna. Daam percobaan dilakukan
10 variasi konsentrasi saliva yang tertera dalam tabe pengamatan. Pada percobaan hidrolisis pati ini
diakukan dengan menambahkan sesuai dengan komposisi yang ada pada langkah kerja, kemudian
memanaskannya dalam penangas air dengan suhu 37 derajat C. hal tersebut dilakukan karena hampir
semua enzim mempunyai aktivasi optimal pada suhu 30-40 derajat C dan akan mengalami denaturasi pada
suhu 45 derajat C. pada umumnya semakin tinggi suhu maka laju reaksi semakin cepat karena energi
semakin besar dan melampaui energi aktivasinya. Akan tetapi enzim merupakan suatu protein sehingga
semakin tinggi suhu proses aktivasi enzim ini juga meningkat.
Pengaruh suhu yang terlau tinggi dapat mempercepat pemecahan atau kerusakan enzim, demikian juga
sebaliknya. Dengan warna yang dihasilkan pada kadar 100% berwarna biru muda, pada kadar 66,7%;
33%; 10%; 6,7%; 3,3%; 1%; 0,7%; 0,3% dan 0% berwarna biru pekat, sehingga titik akromik terletak pada
konsentrasi saliva 100%. Pada konsentrasi ini pati yang tertingga masih sedikit karena sebagian pati sudah
terhidrolisis oleh enzim. Pada konsentrasi 66,7% kebawah larutan berwarna biru semakin gelap karena
pati semakin banyak hal ini karena enzim pada saliva semakin sedikit.

Klasifikasi Hidrolisa
a) Hidrolisa fase gas
Sebagai penghidrolisa adalah air dan reaksi berjalan pada fase uap.
b) Hidrolisa fase cair
Pada hidrolisa ini, ada 4 tipe hidrolisa, yaitu :

 Hidrolisa murni

Efek dekomposisinya jarang terjadi, tidak semua bahan terhidrolisa. Efektif digunakan pada
:

 Reaksi Grigrard dimana air digunakan sebagai penghidrolisa.


 Hidrolisa bahan-bahan berupa anhidrid asam Laktan dan laktanida.
 Hidrolisa senyawa alkyl yang mempunyai komposisi kompleks.
 Hidrolisa asam berair

Pada umumnya dengan HCl dan H2SO4, dimana banyak digunakan pada industri bahan
pangan, misal :

 Hidrolisa gluten menjadi monosodium glutamate.


 Hidrolisa pati menjadi glukosa.

Sedangkan H2SO4 banyak digunakan pada hidrolisa senyawa organik dimana peranan
H2SO4 tidak dapat diganti.

 Hidrolisa dengan alkali berair

Penggunaan konsentrasi alkali yang rendah dalam proses hidrolisa diharapkan ion
H+ bertindak sebagai katalisator sedangkan pada konsentrasi tinggi diharapkan dapat
bereaksi dengan asam yang terbentuk.

 Hidrolisa dengan enzim

Senyawa dapat digunakan untuk mengubah suatu bahan menjadi bahan hidrolisa lain.
Hidrolisa ini dapat digunakan :

 Hidrolisa molase
 Beer (pati ? maltosa/glukosa) dengan enzim amylase

Aplikasi Hidrolisa Pati


- Industri makanan dan minuman menggunakan sirup glukosa hasil hidrolisis pati sebagai
pemanis
- Produk akhir hidrolisa pati adalah glukosa yang dapat dijadikan bahan baku untuk produksi
fruktosa dan sorbitol
- Banyak digunakan dalam industri obat-obatan
- Glukosa yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bioethano
sumber:http://kabupatenwonogiri.com/laboratorium-laporan-praktikum-hidrolisa-pati

Pada hidrolisis sukrosa kami melakukan uji benedict. Dimana 5 ml sukrosa kami masukan
ke dalam tabung reaksi kemudian kami menambahkan nya 5 ml HCL pekat. Setelah itu kami
mencampurkan nya ke dalam penagas air selama 30 menit. Setelah itu kami diinginkan dan kami
netralnkan dengan NaOH 2 % lalu kami uji dengan kertas lakmus dan di hasilkan larutan yang
biru kehijauan dengan pH 1 yang bersifat asam. Sukrosa adalah gula yang kita kenal baik dari tebu
maupun dari bit. Dengan hidrolisis sukrosa akan terpecah dan menghasilkan glukosa dan
fruktosa. Pada molekul sukrosa terdapat ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa, yaitu antara
atom karbon nomor 1 pada glukosa dan atom karbon nomor 2 pada fruktosa melalui atom oksigen.
Pada hidrolisis pati kami melakukan uji dengan pemanasan setelah selang beberapa menit.
Kami memasukan kedalam tabung reaksi 5 ml amilum 1%, kemudian menambahkan 2,5 ml HCL
lalu mencampurkan dengan baik, dan memanaskan dalam penagas air mendidih.Setelah 3 menit
kemudian di uji dengan iodium dengan mengambil 2 tetes larutan ditambah 2 tetes iodium dalam
porselen tetes dan dicatat warna yang terjadi.kemudian melakukan uji iodium setiap 3
menit sampai hasil berwarna kuning pucat lalu melanjutkan hidrolisis selama 5 menit lagi.Setelah
mendinginkan ambil 2 ml larutan hasil hidrolisis, lalu kami menetralkan dengan NaOH 2%.
Kemudian di uji dengan kertas lakmus dan di hasilkan hidrolisis yng mempunyai pH 13 yang
berarti larutan tersebut bersifat Basa. Hasil wananya adalah biru dongker,hitam pekat, dan biru
dongker pekat. Pati merupakan polisakarida yang terdapat pada sebagian besar tanaman, terutama
golongan mbi seperti kentang dan pada biji-bijian seperti jagung dan padi.

BAB IV
PENUTUP
6.1. Kesimpulan
 Identifikasi hidrolisis sukrosa dapat dilakukan dengan uji Benedict yaitu dengan perlakuan 5 ml
sukrosa 1% ditambah dengan 5 ml HCl pekat dan pemanasan selama 30 menit maka diperoleh
hasil larutan yerwarna biru kehijauan dengan pH 1 yang bersifat asam.
 Identifikasi hasil hidrolisis amilum (pati) dapat dilakukan dengan uji iodium dengan perlakuan 5
ml amilum 1 % ditambah 2,5 ml HCL 2 N dan dilakukan pemanasan maka diperoleh hasil hasil
hidrolisis yang bersifat basa denga pH 13 dengan warna hasil uji iodium adalah biru dongker,
hitam pekat dan biru dongker pekat.
6.2. Saran
Dalam melakukan praktikum sebaiknya para praktikan dapat bekerja sama dengan baik
antar anggota kelompoknya yang diharapkan supaya praktikum dapat dilaksanakan dengan
lancar dan tepat waktu dan juga diharapkan praktikan dapat memanfaatkan waktu yang telah
disediakan sebaik mungkin agar mendapatkan hasil praktikum yang akurat dan tepat.

DAFTAR PUSTAKA
Chairil Anwar. 1994. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi: Yogyakarta.
Kusnawidjaya, Kurnia. 1983. Biokimia. Penerbit Alumni : Bandung
Martoharsono, Soeharsono. 1975. Biokimia. Gadjah Mada University Press.: Yogyakarta
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar – Dasar Biokimia. UI-Pres: Jakarta
Cara Kerja :
1. Hidrolisa Pati

2. Analisa Glukosa dengan larutan benediict

Data Pengamatan :
Bahan Volume (mL) Konsentrasi Mr Rumus kimia Indeks bias Berat jenis
Pati 2 5% 1,639 0,938
HCl 6,9 36% 36,5 HCl 1,16
NaOH – 5N NaOH 2,1
Glukosa 2 5% 180 C6H12O6 1,660 0,996
Hasil hidrolisa 100 18% 1,673 1,006

Proses Hidrolisis
Volume larutan induk = 100 mL
Jumlah katalis HCl 25% = 6,9mL
Waktu operasi = 30 menit
Konsentrasi pati = 18%
pH larutan induk = 2
Jumlah NaOH =
pH larutan = 7

Pati atau amilum adalah karbohidrat kompleks yang di hasilkan oleh tumbuhan,dimana di dalamnya terkandung
kelebihan glukosa.Pada percobaan kali ini akan telah dilakukan Hidrolisa Pati yang akan menghasilkan
glukosa.Hidrolisis adalah mekanisme reaksi penguraian suatu senyawa oleh air atau asam dan basa.Pati atau Amilum
tergolong kedalam kelompok polisakarida sehinga pati atau amilum tersebut bisa di hidrolisis menjadi glukosa yang
merupakan monosakarida.Pertama-tama Amilum di hidrolisis menghasilkan maltose kemudian maltose di hidrolisis
menghasilkan dua satuan glukosa.Pada Hidrolisis ini memerlukan katalisator untuk mempercepat jalannya reaksi.
Katalisator yang dipakai dapat berupa enzim atau asam sebagai katalisator, karena kerjanya lebih cepat.Katalisator
yang di gunakan pada hidrolisis kali ini adalah Asam yaitu asam klorida,yang berpengaruh terhadap kecepatan reaksi
adalah konsentrasi ion H, bukan jenis asamnya.
Reaksi yang terjadi adalah :
(C6H10O5)n + n/2 H2O  n/2 C12H22O11
Amilum maltose
C12H22O11 + H2O  C6H12O6 + C6H12O6
Maltose glukosa glukosa
Selain Katalisator factor yang mempengaruhi hidrolisis pati adalah Suhu. Pengaruh suhu terhadap kecepatan reaksi
mengikuti persamaan Arhenius.makin tinggi suhu, makin cepat jalannya reaksi.Agar menghasilkan glukosa maka suhu
tetap di jaga pada 94 ᵒC selama 30 menit .Kemudian larutan yang dihasilkan didiamkan selama beberapa menit di
suhu ruang sebelum dilakukan analisa glukosa dari hasil percobaan.Sebelum analisa juga glukosa yang dihasilkan
harus di netralkan terlebih dahulu dengan NaOH.PH larutan induk adalah 7 sehingga larutan tersebut harus di
netralkan dengan larutan NaOH menjadi PH 7.
Pada analisa glukosa di lakukan pengujian dengan menambahkan larutan benedict ,untuk membandingkan glukosa
yang dihasilkan maka pati murni yang tidak di hidrolisis ikut di analisa.Pati/Amilum sedikit larut pada air ,berbentuk
koloid jika di panaskan,dalam air tidak mereduksi pereaksi fehling maupun benedict sehingga ketika campuran pati
5% dengan benedict di panaskan maka tidak terjadi perubahan warna sedangkan ketika campuran Glukosa hasil
hidolisis dengan benedict di panaskan terjadi perubahan warna dari biru menjadi merah bata.Begitupun dengan
glukosa 5% murni yang sengaja di larutkan ketika campuran di panaskan terjadi perubahan warna dari biru menjadi
merah bata.Dengan demikian Hidrolisis pati pada praktikum kali ini berhasil menghasilkan glukosa.Perkiraan
konsentrasi glukosa yang dihasilkan adalah lebih dari 3,5 % karena ketika di uji dengan benedict menghasilkan
warna merah keruh.
Pada analisa berat jenis dan Indeks bias glukosa yang di hasilkan dari hidrolisa dan glukosa 5 % ,nilai berat jenis
maupun indeks bias yang dihasilkan tidak berbeda jauh .Untuk Indeks bias glukosa 5 % yaitu 1,660 sedangkan
glukosa hasil hidrolisa adalah 1,673 .Untuk Berat jenis glukosa 5 % adalah 0,996 sedangkan glukosa hasil hidrolisa
adalh 1,006 .Perbedaan nilai indeks bias dan berat jenis yang tidak terlalu jauh tersebut menunjukan bahwa glukosa
yang dihasilkan pada percobaan kali ini konsentrasinya cukup tinggi.Jika di bandingkan dengan pati yang tidak di
hidrolisis maka nilai Indeks bias dan berat jenisnya lumayan jauh dengan pati yang telah di hidrolisis (glukosa )hasil
hidrolisa,yaitu 1,639 untuk indeks bias dan 0,938 untuk berat jenis.Dengan demikian pati yang telah di hidrolisis
tersebut telah menjadi glukosa sehingga sifat fisik ataupun kimianya sama dengan glukosa murni .