Anda di halaman 1dari 6

[ LAPORAN KASUS ]

Multigravida Hamil 35 Minggu dengan Asma pada Kehamilan


Desti Wulan Handayani, Rodiani
Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung

Abstrak
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemen seluler.
Inflamasi kronis dapat menyebabkan hiperresponsif saluran napas yang dapat menimbulkan gejala episodik
berulang berupa mengi, sesak nafas, dada terasa berat, dan batuk terutama pada malam hari atau dini hari yang
umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan. Wanita usia 31 tahun datang ke Unit Gawat
Darurat Rumah Sakit Abdul Moeloek Provinsi Lampung dengan keluhan sesak napas yang timbul jika cuaca
dingin dan debu, bertambah berat pada malam hari dan saat berbaring terlentang. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan suara napas vesikuler dengan ekspirasi memanjang yang disertai suara mengi. Pada pemeriksaan
obstetri dan USG abdomen ditemukan bahwa pasien sedang dalam keadaan hamil janin tunggal hidup dengan
usia kehamilan sesuai dengan 35 minggu 3 hari. Pasien didiagnosis dengan G1P1A0 hamil 35 minggu dengan
asthma bronkiale janin tunggal hidup presentasi kepala dan terapi direncanakan secara konservatif, dengan
memberikan O2 2-3 L/menit, IVFD RL 20 tpm, inj. dexamethason 5 mg/12 jam, salbutamol nebulizer /8 jam,
membatasi aktivitas/tirah baring, dan melakukan observasi tanda vital ibu, denyut jantung janin, tanda-tanda
inpartu. Pasien dirawat selama tiga hari dan diperbolehkan pulang setelah gejala asma menghilang dan
mendapatkan edukasi. [J Agromed Unila 2016. 3(1):1-6]

Kata kunci: asma, kehamilan sesak napas,

Multigravida 35 Weeks of Pregnancy with Asthma


Abstract
Asthma is a chronic inflammatory disorder of the airways in which many cells and cellular elements play a role.
The chronic inflammation causes an associated increase in airway hyperresponsiveness that leads to recurrent
episodes of wheezing, shortness of breath, chest tightness, and coughing, particularly at night or in the early
morning which are reversible with or without treatment. A woman, 31 years old, came to Emergecy Room of
Rumah Sakit Abdul Moeleok Provinsi Lampung with chief complaints of shortness of breath that arise if the
weather is cold and dusty, getting worse at night and when lying supine. Physical examination found vesicular
breath sounds with elongated expiratory accompanied by wheezing sound. Obstetrics and abdominal ultrasound
examination found that the patient is in a state of pregnancy with a single fetus live, with the gestational age of 35
weeks and 3 days. Patient was diagnosed with G1P1A0 35 weeks pregnancy with asthma bronchial, single fetus
living, presentation head and the therapy was planned conservatively by providing O2 2-3 L/min, IVFD RL 20
gtt/min, inj. dexamethasone 5 mg/12 hours, salbutamol nebulizer /8 hours, limiting the activity/bedrest, and
observing vital signs of maternal, fetal heart rate, and inpartu signs. The patient was treated for three days and
allowed to go home after asthma symptoms disappear and get education. [J Agromed Unila 2016. 3(1):1-6]

Keywords: Asthma, Pregnancy, shortness of breath

Korespondensi: Desti Wulan Handayani | Jl. P. Legundi, Gg. Mawar 55 Bandar Lampung | HP. 081539925788
e-mail: dezy_kren@yahoo.com

Pendahuluan merupakan penyakit sepuluh besar


Asma merupakan penyakit inflamasi penyebab kesakitan dan kematian, hal itu
kronis saluran napas yang melibatkan tergambar dari data studi survei kesehatan
banyak sel dan elemen seluler yang rumah tangga (SKRT) di berbagai propinsi
mengakibatkan terjadinya hiperresponsif Indonesia. Data SKRT tahun 2000
jalan napas yang dapat menimbulkan menunjukkan asma, bronkitis kronik, dan
gejala episodik berulang berupa mengi, emfisema merupakan penyebab kesakitan
sesak nafas, dada berat, dan batuk ke-5 di Indonesia. Data SKRT tahun 2002
terutama pada malam dan atau dini hari menunjukkan asma, bronkitis kronik, dan
yang bersifat reversibel baik dengan atau emfisema sebagai penyebab kematian ke-
tanpa pengobatan.1 4 di Indonesia dengan nilai sebesar 5,6%.
Prevalensi asma dipengaruhi oleh Pada tahun 2005 prevalensi asma di
banyak status atopi, faktor keturunan, serta Indonesia adalah sebesar 2,1%, dan tahun
faktor lingkungan. Di Indonesia asma
Handayani dan Rodiani | Multigravida Hamil 35 Minggu dengan Asma pada Kehamilan

2007 prevalensi meningkat menjadi dan Gluck (2006)7 melaporkan bahwa


5,2%.2.3 sekitar sepertiga kasus mengalami
Insidensi asma dalam kehamilan perberatan penyakit, sepertiga kasus
adalah sekitar 0,5-1% dari seluruh lainnya mengalami menifestasi klinis yang
kehamilan, serangan asma biasanya timbul lebih ringan dibanding sebelum kehamilan,
pada usia kehamilan 24 hingga 36 minggu, dan sepertiga terakhir tidak mengalami
jarang pada akhir kehamilan. Di Indonesia perubahan manifestasi klinis asma
prevalensi asma dalam kehamilan adalah sebelum dan sesudah kehamilan.
sekitar 3,7-4%. Hal tersebut membuat Eksaserbasi serangan asma tampaknya
asma menjadi salah satu permasalahan juga sering terjadi pada trimester III atau
yang biasa ditemukan dalam kehamilan.4 pada saat persalinan, hal ini menimbulkan
Selama kehamilan ada banyak pendapat ada pengaruh perubahan pada
perubahan pada tubuh ibu mulai dari faktor hormonal, yaitu terjadinya penurunan
perubahan anatomis pada rongga dada progesteron dan peningkatan
7
yang disebabkan oleh pembesaran uterus prostaglandin.
yang menggeser diafragma ke atas hingga
sejauh 4 cm, perubahan fisiologis pada Kasus
paru yang mengalami penurunan secara Wanita, usia 31 tahun, datang
progresif kapasitas residu fungsional dengan keluhan sesak napas yang
sekitar 10-12% yang diakibatkan oleh bertambah berat sejak 1 hari sebelum
perubahan anatomi rongga dada dan masuk rumah sakit. Sesak napas
perubahan pada hormonal yaitu dirasakan hilang timbul sejak 3 bulan yang
peningkatan kadar estrogen dan lalu, sesak tidak dipengaruhi oleh aktivitas,
progesteron yang dapat mengakibatkan sesak timbul jika cuaca dingin dan debu,
saluran napas atas dan mukosa jalan sesak bertambah berat pada malam hari
napas menjadi hiperemis, edema, dan dan pada saat berbaring terlentang,
hipersekesi, hormon juga akan sehingga mengganggu tidur.
berkompetisi dan mencegah translokasi Pasien menyatakan saat ini sedang
nuklear glukokortikoid, menyebabkan hamil anak kedua dengan usia kehamilan
perlawanan efek fisiologis steroid endogen kurang bulan, tidak pernah keguguran
dan eksogen.5 sebelumnya dan gerakan anak masih
Perubahan tersebut dapat dirasakan. Hari pertama haid terakhir
menyebabkan penurunan oksigenasi adalah pada tanggal 03/05/2014 dan
maternal, sementara kehamilan itu sendiri taksiran persalinan diperkirakan pada
akan meningkatkan 20% konsumsi oksigen tanggal 10/02/2015.
serta 15% laju metabolik, hal ini Riwayat penyakit asma diakui pasien
menyebabkan terjadinya sejak kecil dan riwayat penyakit kronik lain
ketidakseimbangan ventilasi-perfusi. disangkal pasien. Ayah pasien mempunyai
Kebutuhan ekstra ini dapat diperoleh riwayat penyakit asma yang serupa dengan
melalui peningkatan 40-50% resting minute pasien.
ventilation, yang berasal terutama dari Haid pertama kali dialami pasien
peningkatan volume tidal, dan sejak umur 14 tahun, siklus haid selama 28
hiperventilasi menyebabkan peningkatan hari setiap kali haid, dengan lama haid
tekanan oksigen arteri (PaO2) serta sekitar 6 hari, banyak darah 2-3 kali ganti
penurunan tekanan karbondioksida arteri pembalut, bewarna merah, berbau normal,
(PaCO2), dengan kompensasi penurunan dan kadang-kadang dismenore.
konsentrasi bikarbonat serum sampai 18- Pasien menikah satu kali, pada usia
22 mmol/l. Alkalosis respiratorik ringan (pH 22 tahun, selama 12 tahun. Mempunyai
7,44) seringkali ditemukan dalam satu orang anak yang lahir pada tahun
kehamilan. Oleh karenanya sesak napas 2008 secara pervaginam dibantu dokter
sering dijumpai selama kehamilan.5.6 dengan penyulit asma pada saat kehamilan.
Faktor pencetus timbulnya asma Jenis kelamin anak perempuan, berat
pada ibu hamil antara lain zat-zat alergi, badan 2.500 gram dan lahir dengan
infeksi saluran nafas, pengaruh udara dan keadaan sehat. Pasien pernah memakai
faktor psikis. Dispnoe simtomatik yang alat kontrasepsi dalam rahim selama 5
terjadi pada saat kehamilan, bisa memberi tahun yaitu pada tahun 2008-2013. Hamil
kesan memperberat keadaan asma. Gluck ini merupakan hamil anak kedua dan

J Agromed Unila | Volume 3 | Nomor 1 | Februari 2014 | 2


Handayani dan Rodiani | Multigravida Hamil 35 Minggu dengan Asma pada Kehamilan

selama hamil telah diperiksa oleh bidan


sebanyak 5 kali kunjungan. Pembahasan
Pada pemeriksaan fisik pasien Berdasarkan anamnesis pasien
didapatkan keadaan umum sedang, datang dengan keluhan sesak napas yang
kesadaran compos mentis, tekanan darah timbul jika cuaca dingin dan debu,
110/70 mmHg, frekuensi nadi 96 x/m, bertambah berat pada malam hari dan saat
frekuensi napas 28 x/m, suhu 36,7oC, berbaring terlentang, pasien juga diketahui
status gizi baik, status generalis kepala, mempunyai riwayat penyakit asma di
leher, dan ekstrimitas dalam batas normal. dalam keluargannya, dan pada
Status neurologis maupun pemeriksaan pemeriksaan fisik paru ditemukan suara
laboratorium juga dalam batas normal. napas vesikuler dengan ekspirasi
Pada pemeriksaan thoraks pasien memanjang yang disertai suara wheezing.
didapatkan inspeksi gerakan dinding dada Hal tersebut sesuai dengan gambaran
simetris dan tidak ada retraksi, fremitus klinis asma yaitu adanya gejala episodik
vokal simetris pada paru kiri dan kanan, berulang berupa mengi, sesak nafas, dada
perkusi sonor di semua lapang paru, terasa berat, dan batuk-batuk terutama
auskultasi suara napas vesikuler dengan pada malam hari dan atau dini hari.
ekspirasi memanjang yang disertai suara Pada pemeriksaan obstetri dan USG
wheezing, tidak terdapat suara ronkhi, dan abdomen ditemukan bahwa pasien sedang
bunyi jantung I dan II normal tanpa disertai dalam keadaan hamil janin tunggal hidup
suara murmur. dengan usia kehamilan sesuai dengan 35
Pada pemeriksaan obstetri luar minggu 3 hari. Pada saat hamil terjadi
pasien, didapatkan tinggi fundus uteri ½ perubahan anatomi, fisiologi, dan hormonal
umbilicus-procesus xyphoideus (28 cm), sehingga secara alamiah ibu yang sedang
bagian teratas terkesan bokong janin, janin hamil dapat mengalami sesak.
dalam letak memanjang, kesan punggung Gluck (2006)7 melaporkan penderita
janin disebelah kanan, bagian terbawah asma yang berat cenderung mengalami
terkesan kepala janin, diperkirakan bagian perburukan gejala dibanding penderita
kepala janin belum masuk pintu atas asma ringan. Jika gejala memburuk,
panggul. His 1x/10’/30’’, denyut jantung biasanya terjadi pada trimester kedua dan
janin 145 x/menit, dan taksiran berat janin ketiga, dengan puncak pada bulan keenam.
diperkirakan 2.325 gram. Pada Umumnya, peningkatan asma juga terjadi
pemeriksaan dalam secara inspekulo pada 4 minggu terakhir kehamilan. Selama
didapatkan portio tampak livide, posisi persalinan dan melahirkan, hanya
posterior, ostium uteri externum tertutup, sepertiga penderita asma yang memiliki
dengan pembukaan kuncup, dan tidak gejala, sedangkan penderita asma yang
terdapat fluor, fluxus, erosi, laserasi parah lebih mungkin mengalami
maupun polip. eksaserbasi.7
Pemeriksaan USG abdomen Mekanisme yang mungkin
menunjukkan janin tunggal hidup dengan berkontribusi terhadap perubahan pada
presentasi kepala, biometri sesuai dengan asma selama kehamilan memang masih
kehamilan 35 minggu 3 hari, cairan belum dipahami dengan baik, peningkatan
ketuban cukup dan plasenta terletak di pada kadar hormon ibu, perubahan respon
fundus bagian depan. β2-adrenoreseptor dan paparan terhadap
Pasien didiagnosis dengan G1P1A0 antigen dari jenis kelamin janin mungkin
hamil 35 minggu dengan asthma bronkiale terlibat (Gambar.1).8
janin tunggal hidup presentasi kepala. Murphy (2005)8 tidak menemukan
Terapi direncanakan secara konservatif, data apapun yang mendukung pernyataan
dengan memberi O2 2-3 L/menit, IVFD RL jenis kelamin janin terlibat dalam
20 tpm, inj. dexamethason 5 mg/12 jam, perburukan asma. Sehingga mekanisme
salbutamol nebulizer/8 jam, membatasi yang dapat menyebabkan perubahan pada
aktivitas/istirahat baring, melakukan asma selama kehamilan dengan adanya
observasi tanda vital ibu, denyut jantung jenis kelamin janin laki-laki atau
janin, dan tanda-tanda inpartu. Pasien perempuan memerlukan penyelidikan lebih
dirawat selama tiga hari dan dibolehkan lanjut.8
pulang setelah gejala asma menghilang
dan mendapatkan edukasi.

J Agromed Unila | Volume 3 | Nomor 1 | Februari 2014 | 3


Handayani dan Rodiani | Multigravida Hamil 35 Minggu dengan Asma pada Kehamilan

Faktor Host Faktor Pencetus (Lingkungan)


● Genetik asma ● Alergen
● Alergi (atopi) ● Lingkungan kerja
● Hiperreaktivitas ● Asap rokok
bronkhus ● Polusi udara
● Jenis kelamin ● Infeksi pernapasan
● Ras ● Stress
● sosioekonomi

ASMA KEHAMILAN

Mekanisme yang Mempengaruhi


● Maternal hormon (kortisol,
estradiol, progesteron)
● Respon B2-adrenoreseptor
● Jenis kelamin janin
● Perubahan fungsi sistem imun

Memburuk Tidak Pengaruh Membaik

Gambar 1. Algoritma Asma Kehamilan.8

Selama kehamilan langkah


Asma, terutama dengan tingkat penanganan yang dapat dilakukan yaitu
keparahan berat, dapat mempengaruhi melakukan penyesuaian terapi untuk
hasil kehamilan secara bermakna. mengatasi gejala, memantau kadar obat
Sebagian besar penelitian menunjukkan dalam darah karena selama hamil terjadi
bahwa ibu hamil yang menderita asma hemodilusi pada plasma sehingga obat
berat atau tidak terkontrol secara statistik memerlukan dosis yang lebih tinggi.
berhubungan erat dengan kejadian Melakukan pengobatan untuk mencegah
komplikasi terhadap ibu yaitu preeklampsia, serangan dan penanganan dini bila terjadi
hipertensi kehamilan, hiperemesis serangan, sebaiknya diberikan secara
gravidarum, perdarahan pervaginam dan inhalasi untuk menghindari efek sistemik
induksi kehamilan, dan komplikasi pada janin, serta melakukan pemeriksaan
terhadapa janin yaitu lahir prematur, berat fungsi paru ibu dan konsultasi anestesi
badan lahir rendah, hipoksia neonatus, dan untuk persiapan persalinan.10
kematian perinatal. Oleh karenanya asma Pada saat persalinan perlu dilakukan
yang dapat terkontrol dengan baik akan pemeriksaan FEV1, PEFR pada saat
memberikan hasil yang lebih baik.9 Di masuk rumah sakit dan diulangi kembali
dalam buku Obstetri William dijelaskan ada bila timbul gejala, memberian oksigen
beberapa langkah penanganan asma pada secara adekuat, memberikan kortikosteroid
kehamilan yang dapat dilakukan dimulai sistemik (hidrokortison 100 mg i.v. setiap 8
dari sebelum kehamilan yaitu melakukan jam) sebelum persalinan dan terapi
konseling tentang pengaruh kehamilan dan maintenance selama persalinan,
asma serta pengobatan, melakukan menggunakan anestesi regional pada
penyesuaian terapi untuk mendapatkan persalinan operatif untuk menghindari
optimalisasi dari fungsi respirasi, rangsangan pada intubasi trakea. Untuk
menghindari faktor pencetus alergen, dan penanganan hemoragi pascapersalinan
melakukan perujukan dini pada sebaiknya menggunakan uterotonika atau
10
pemeriksaan antenatal.

J Agromed Unila | Volume 3 | Nomor 1 | Februari 2014 | 4


Handayani dan Rodiani | Multigravida Hamil 35 Minggu dengan Asma pada Kehamilan

PGE2 karena penggunaan PGE dapat level 5-12 mcg/ml). Untuk Asma persisten
merangsang bronkospasme.10 berat terapi pilihan adalah kortikosteroid
Pada saat pasca persalinan terapi inhalasi dosis tinggi ditambah β2-agonis
maintenance sudah dapat diberikan, inhalasi kerja lama Salmeterol dan
fisioterapi dapat dilakukan untuk membantu kortikosteroid oral bila diperlukan, sebagai
pengeluaran mucus dari dalam paru, terapi alternatif dapat menggunakan
latihan pernapasan juga dapat dilakukan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi ditambah
untuk mencegah atau meminimalisasi Teofilin (serum level 5-12 mcg/ml dan
atelektasis, dan pemberian ASI tidak steroid oral bila diperlukan.11
merupakan kontraindikasi meskipun ibu Pada penatalaksanaan jangka
mendapat antiasma termasuk prednison.10 panjang terdapat 2 hal yang penting
Pada saat terjadi serangan akut diperhatikan dokter yang terdiri dari (1)
asma penanganan secara aktif dapat tindak lanjut (follow-up) teratur dan (2)
dilakukan dengan melakukan hidrasi rujuk ke ahli paru untuk konsultasi atau
secara intravena, memberikan masker penanganan lanjut bila diperlukan. Kontrol
oksigen, melakukan pemeriksaan gas sebaiknya dilakukan secara teratur dan
darah, melakukan pengukuran FEV1, PEFR, terjadwal, dengan interval berkisar 1-6
pulse oximetry, fetal monitoring. bulan bergantung kepada keadaan asma.
Penanganan lini pertama adalah dengan Hal ini dilakukan untuk meyakinkan bahwa
menggunakan β-adrenergic agonis (sub- asma tetap dalam kondisi terkontrol dan
kutan, oral, inhalasi) dengan loading dose pengupayaan penurunan terapi dapat
4-6 mg per kgBB kemudian dilanjutkan dilakukan hingga seminimal mungkin.2
dengan dosis 0,8-1 mg/kgBB/jam sampai Rujuk kasus ke ahli paru sebaiknya
tercapai kadar terapeutik plasma yaitu dilakukan pada beberapa keadaan berikut
sebesar 10–20 µg/ml, dan metil- ini yaitu (1) tidak ada respons dengan
prednisolon 40-60 mg i.v. tiap 6 jam. Untuk pengobatan; (2) pada serangan yang
asma berat yang tidak berespons terhadap mengancam jiwa; (3) tanda dan gejala
terapi dalam 30–60 menit dimasukkan tidak jelas (atipik), atau masalah dalam
dalam kategori status asmatikus dan diagnosis banding, atau terdapat
penanganan secara aktif di ICU dengan komplikasi atau penyakit penyerta
intubasi dini, serta ventilasi mekanik.11 (komorbid); seperti sinusitis, polip hidung,
Dalam melakukan perencanaan dan aspergilosis (ABPA), rinitis berat, disfungsi
pengobatan jangka panjang penyakit asma pita suara, refluks gastro-esofagus; (4)
kelompok kerja American College of dibutuhkan pemeriksaan/uji lainnya di luar
Obstetricians and Gynecologists pada pemeriksaan standar, seperti uji kulit (uji
tahun 2008 merekomendasikan prinsip alergi), pemeriksaan faal paru lengkap, uji
serta pendekatan pada terapi farmakologi provokasi bronkus, uji latih CET
asma pada kehamilan dan laktasi. Pada (Cardiopulmonary Exercise Test),
pengobatan asma intermiten terapi pilihan pemeriksaan bronkoskopi dan
2
adalah β2-agonis inhalasi kerja cepat sebagainya.
Salbutamol/Albuterol. Untuk pengobatan Asma berisiko menimbulkan
asma persisten ringan terapi pilihan adalah komplikasi pada janin yaitu kelahiran
steroid inhalasi dosis rendah yaitu prematur. Dalam menghadapi kasus
budesonid, dan sebagai terapi alternatif ancaman persalinan prematur ada 3
dapat dipakai kromolin, leukotrien reseptor penatalaksanaan yang mungkin dilakukan,
anatogonis, dan teofilin (serum level 5-12 yaitu konservatif dengan mempertahankan
mcg/ml). Untuk asma persisten sedang kehamilan sehingga janin dapat lahir se-
terapi pilihan adalah steroid inhalasi dosis aterm mungkin, menunda persalinan
rendah ditambah β2-agonis inhalasi kerja selama 2-3 hari untuk memberikan
lama salmeterol, kortikosteroid inhalasi akselerasi pematangan pada paru janin,
dosis menengah, atau kortikosteroid atau membiarkan terjadi persalinan.
inhalasi dosis menengah ditambah β2- Apabila tidak terdapat kontraindikasi
agonis inhalasi kerja lama Salmeterol, dan terhadap ibu maupun janin dan indeks
sebagai terapi alternatif dapat tokolitik <8 maka sebaiknya kehamilan
menggunakan kortikosteroid inhalasi dosis dapat dipertahakan hingga se-aterm
rendah atau menegah ditambah leukotrien mungkin, dengan memberikan obat tokolitik
reseptor anatogonis atau teofilin (serum untuk mengurangi kontraksi uterus.

J Agromed Unila | Volume 3 | Nomor 1 | Februari 2014 | 5


Handayani dan Rodiani | Multigravida Hamil 35 Minggu dengan Asma pada Kehamilan

Salbutamol merupakan obat β2-agonis kesehatan dasar nasional. Jakarta:


yang memiliki efek antiasma disertai efek Kemenkes RI; 2007.
tokolitik.12 4. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom
Akselerasi pematangan paru janin SL, et all. Pulmonary Disorders. Dalam
juga dapat diberikan karena risiko Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom
persalinan prematur yang meningkat. SL, Hauth JC, Gilstrap LC, Wenstrom
Deksametason selain sebagai obat asma KD, editor. Williams obstetrics. Edisi
juga dapat digunakan sebagai obat ke-22. New York: McGraw-Hill; 2007.
akselerasi pematangan paru karena 5. Nelson-Piercy C. Asthma in pregnancy.
efeknya yang meningkatkan produksi dalam: Knox AJ, editor. Respiratory
surfaktan.12 diseases in pregnancy-1. Thorax. 2001;
56:325-28.
Simpulan
6. American College of Allergy Asthma
Asma merupakan penyakit inflamasi
and Immunology. When Pregnancy is
kronis saluran nafas yang mengakibatkan Complicated by Allergies and Asthma.
hiperresponsif jalan nafas, menimbulkan
Illionis: Pregnancy Committee of the
gejala episodik berulang berupa mengi, American College of Allergy Asthma
sesak nafas, dada terasa berat dan batuk
and Immunology; 2002.
terutama pada malam/dini hari. Pada saat
hamil terjadi perubahan pada anatomis, 7. Gluck JC, Gluck PA. The effect of
fisiologis, dan hormonal wanita yang dapat pregnancy on the course of asthma.
menyebabkan wanita mengalami sesak Immunol Allergy Clin North Am. 2006:
napas secara alami, sehingga eksaserbasi 26(1):63-80.
serangan asma yang terjadi pada ibu 8. Murphy VE, Gibson PG, Smith R,
dengan riwayat asma selama kehamilan Clifton VL. Asthma during pregnancy:
akan menjadi lebih berat. Pengaruh asma mechanisms and treatment
pada dapat kehamilan bervariasi pada tiap implications. Eur Respir. 2005; 25:731-
individu, bahkan untuk kehamilan berbeda 50.
dari individu yang sama. Frekuensi dan 9. Namazy JA, Schatz M. Pregnancy and
beratnya serangan asma dapat asthma: recent developements
menimbulkan komplikasi terhadap ibu dan [internet]. New York: WebMD LLC.;
janin, oleh karenanya mengontrol asma 2005 [disitasi tanggal 15 Maret 2015].
selama kehamilan penting bagi Tersedia dari
kesejahteraan janin. Ibu hamil harus http://www.medscape.com/viewarticle/
mengerti cara mengurangi paparan agar 496583
dapat mengendalikan faktor-faktor 10. Cunningham FG. Asma dalam
pencetus asma dan harus mampu kehamilan. Dalam: Cunningham FG,
mengenali dan mengobati tanda-tanda Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC,
asma yang memburuk agar dapat Gilstrap LC, Wenstrom KD, editor.
mencegah hipoksia ibu dan janin. Secara Obstetri wiilliams volume II. Edisi ke-21.
umum asma yang terkendali tidak akan Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
memiliki efek yang berarti pada wanita ECG; 2005
yang hamil, melahirkan atau menyusui. 11. American College of Obstetricians and
Gynecologists. Asthma in pregnancy.
Daftar Pustaka Washington DC: ACOG; 2008.
1. Global Initiative for Asthma (GINA). 12. Creasy RK, Resnik R, Iams JD.
The global strategy for asthma Maternal-fetal medicine. Edisi ke-5. St.
management and prevention [internet]. Louis: Saunders; 2004.
USA: GINA; 2015 [disitasi tanggal 10
Maret 2015]. Tersedia dari:
http://www.ginasthma.org/
2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.
Konsensus pedoman diagnosis &
penatalaksanaan asma di Indonesia.
Jakarta: PDPI; 2003
3. Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Laporan hasil riset

J Agromed Unila | Volume 3 | Nomor 1 | Februari 2014 | 6