Anda di halaman 1dari 18

EKOFISIOLOGI TANAMAN

CEKAMAN TANAMAN TERHADAP KEKERINGAN PADA


LAHAN KERING DAN ADAPTASINYA

Disusun Oleh:

PAUL LUDGERIUS RUSMAN PITA 1780911001


BETANIA EXAUDI SINAGA 1780911004
I WAYAN DIRGAYANA 1780911008

Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Ir. I Putu Gede Ardhana, M.Agr. Sc

MAGISTER AGROTEKNOLOGI
PROGRAM PASCASARJANA
UNIERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Pengertian Lahan Kering dan Potensi Lahan Kering


Lahan kering adalah lahan yang dalam keadaan alami tidak jenuh air hampir sepanjang
tahun atau tidak tergenang. Ditandai dengan rendahnya curah hujan yang berkisar antara 100-
600 mm/tahun, tidak menentu dan sangat tidak konsisten. Ciri utama dari kekeringan adalah
rendahnya persediaan antara curah hujan tahunan dan evapotranspirasi. Curah hujan yang
rendah, tidak dapat diandalkan dan terkonsentrasi selama musim hujan yang pendek, dengan
waktu yang tersisa cenderung relatif kering. Suhu tinggi selama musim hujan menyebabkan
sebagian besar curah hujan yang akan hilang dalam penguapan (IFAD 2000).
Kelengasan tanahnya hampir sepanjang tahun selalu di bawah kapasitas lapang. Fluktuasi
kelengasan tanah dipengaruhi oleh cuaca, keadaan fisiografi, dan pengelolaan. Diantara faktor
tersebut, hujan merupakan faktor penentu utama. Proses biologi dan kimia dalam tanah terjadi
dalam keadaan aerob. Pendapat lain mengatakan bahwa lahan kering adalah lahan yang pada
periode tertentu dalam tiap tahun terdapat curah hujan yang tidak mencukupi kebutuhan air
oleh tanaman. Pola penyebaran curah hujan di Indonesia terkonsentrasi pada suatu periode,
intensitas tinggi terjadi di musim penghujan dan intensitas rendah pada musim kemarau. Pada
musim kemarau tidak cukup hujan untuk pertumbuhan tanaman secara normal dan tanah
menjadi terbuka yang menjadi penyebab terjadina erosi di awal musim hujan berikutnya. Erosi
ini diperparah dengan meningkatnya kemiringan lereng dan sistem pertanaman tanpa kaidah
konservasi lahan. Akibatnya terjadi pendangkalan solum, penghanyutan lapisan yang kaya
dengan bahan organik dan merosotnya keharaan tanah.
Lahan kering mencakup sekitar 40% permukaan tanah di bumi. Lahan kering rentan
terhadap degradasi penggurunan, tanah dan kekeringan. Populasi, pertanian dan ekosistem
rentan terhadap perubahan iklim dan variabilitas (Kate et al., 2008). Lahan kering secara fisik
tidak diairi atau tidak mendapatkan pelayanan irigasi sehingga sumber air utama adalah curah
hujan dan sebagian kecil yang berasal dari air tanah atau pomponisasi (Muku, 2002). Lahan
kering tergolong sub optimal karena tanahnya kurang subur, bereaksi masam, mengandung Al,
Fe, dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Lahan masam pada
umumnya miskin bahan organik dan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg.
Pemberian bahan kapur, bahan organik, dan pemupukan N, P, dan K merupakan kunci
untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. Menurut Notohadiprawiro (2006) lahan
kering masam didominasi oleh tanah Ultisol, yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK)

1
dan kemampuan memegang atau menyimpan air yang rendah, tetapi kadar Al dan Mn tinggi.
Kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan
atas, dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik.
Pentingnya pengelolaan lahan kering dapat diartikan sebagai segala upaya untuk
memelihara dan meningkatkan kesuburan tanah pada lahan kering agar usaha pertanaian dapat
secara berkelanjutan dilaksanakan tanpa merusak kelestarian lingkungan. Sementara Muku
(2002) pada tingkat pengelolaan yang kurang memadai akan menimbulkan gangguan
keseimbangan sumber daya alam sehingga degredasi lahan akan dipercepat.

1.2 Pengertian Cekaman Kekeringan


Cekaman kekeringan merupakan istilah untuk menyatakan bahwa tanaman mengalami
kekurangan air akibat keterbatasan air dari lingkungannya yaitu media tanam (Mathius et al.,
2001). Defisit air langsung mempengaruhi pertumbuhan vegetatif tanaman. Proses ini pada sel
tanaman ditentukan oleh tegangan turgor. Hilangnya turgiditas dapat menghentikan
pertumbuhan sel (penggandaan dan pembesaran), akibatnya pertumbuhan tanaman terhambat
(Burstom, 1956 cit. Jumin, 1992).
Lakitan (1996) menyatakan bahwa air yang tersedia dalam tanah adalah selisih antara air
yang terdapat pada kapasitas lapang dan titik layu permanen. Di atas kapasitas lapang air akan
meresap ke bawah atau menggenang, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Di
bawah titik layu permanen tanaman tidak mampu lagi menyerap air karena daya adhesi air
dengan butir tanah terlalu kuat dibandingkan dengan daya serap tanaman. Cekaman kekeringan
pada tanaman disebabkan oleh kekurangan suplai air di daerah perakaran dan permintaan air
yang berlebihan oleh daun dalam kondisi laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh
akar tanaman. Serapan air oleh akar tanaman dipengaruhi oleh laju transpirasi, sistem
perakaran, dan ketersediaan air tanah (Sinaga, 2008).
Hutami et al. (1991) menyatakan penghambatan translokasi dalam jaringan tanaman
karena kekeringan menyebabkan akumulasi zat gula pada jaringan sehingga menghambat
proses fotosintesis dan menyebabkan menurunnya akumulasi bahan kering. Pada tanaman
tertentu, pada kondisi kekeringan akan menghasilkan metabolit sekunder lebih banyak
(Sastroutomo, 1990).
Kozlowski (1968) dan Kramer (1977) menyatakan bahwa cekaman air dapat
menyebabkan akar tanaman yang terbentuk sedikit, ukurannya kecil dengan daerah penyebaran
relatif sempit. Hal ini menyebabkan absorbsi air dan zat hara menurun, terganggunya
metabolisme karbohidrat, protein dan zat pengatur tumbuh yang menyebabkan tanaman

2
tumbuh kerdil dan daun yang baru terbentuk tidak berkembang sempurna. Menurut Lakitan
(2001) kekurangan air dapat menghambat laju fotosintesis, terutama karena pengaruhnya yang
menurunkan turgiditas sel penjaga, sehingga menyebabkan stomata menutup. Penutupan
stomata ini akan menghambat serapan CO2 yang dibutuhkan untuk sintesis karbohidrat.
Menurut Kramer (1977) stress air mempengaruhi pertumbuhan tanaman dengan
terjadinya modifikasi anatomi, morfologi, fisiologi dan biokimia. Stress air mengurangi
pembesaran sel, akibatnya terjadi penurunan laju pertumbuhan, pemanjangan batang, perluasan
daun dan pembukaan stomata, penebalan daun dan zat kutin, penurunan bahan kering dan rasio
akar dan batang. Kekeringan pada saat pertumbuhan vegetatif mengakibatkan tanaman menjadi
kerdil, kekeringan pada saat berbunga atau pengisian polong dapat menggagalkan panen
(Sumarno dan Harnoto, 1991).
Respon tanaman terhadap stres air sangat ditentukan oleh tingkat stres yang dialami dan
fase pertumbuhan tanaman saat mengalami cekaman. Respon tanaman yang mengalami
cekaman kekeringan mencakup perubahan di tingkat seluler dan molekuler seperti perubahan
pada pertumbuhan tanaman, volume sel menjadi lebih kecil, penurunan luas daun, daun
menjadi tebal, adanya rambut pada daun, peningkatan rasio akar tajuk, sensitivitas stomata,
penurunan laju fotosintesis, perubahan metabolisme karbon dan nitrogen, perubahan produksi
aktivitas enzim dan hormon, serta perubahan ekspresi (Sinaga, 2008).
Cekaman kekeringan terjadi jika tanaman sudah tidak mampu lagi menghisap dan
memompa air ke bagian atas tanaman yang ditandai oleh kelayuan tetap. Ketahanan tanaman
terhadap kekeringan ditunjukkan oleh kemampuannya berproduksi pada kondisi kekeringan,
yang dapat diukur sebagai penurunan hasil pada kondisi kekeringan dibanding pada kondisi
normal (Nugraheni, 2002).
Tanaman yang menderita cekaman air secara umum mempunyai ukuran yang lebih kecil
dibandingkan dengan tanaman yang tumbuh normal. Cekaman air mempengaruhi semua aspek
pertumbuhan tanaman. Dalam hal ini cekaman air mempengaruhi proses fisiologi dan biokimia
tanaman serta menyebabkan terjadinya modifikasi anatomi dan morfologi tanaman. Pengaruh
cekaman air dalam beberapa kasus berhubungan dengan pengaruhnya terhadap tekanan turgor
sel. Tekanan turgor sangat berperan dalam menentukan ukuran tanaman. Turgor berpengaruh
terhadap pembesaran dan perbanyakan sel tanaman, membuka dan menutupnya stomata,
perkembangan daun, pembentukan dan perkembangan bunga serta gerakan berbagai bagian
tanaman lainnya (Islami dan Utomo, 1995).
Faktor air dalam fisiologi tanaman merupakan faktor utama yang sangat penting.
Tanaman tidak akan dapat hidup tanpa air karena air adalah matrik dari kehidupan. Kekurangan

3
air akan mengganggu aktifitas fisiologis maupun morfologis sehingga mengakibatkan
terhentinya pertumbuhan. Defisiensi air yang terus menerus akan menyebabkan perubahan
yang irreversibel (tidak dapat balik) dan pada gilirannya tanaman akan mati (Haryati, 2003).

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Tanah Pada Lahan Kering


Berdasarkan uraian sebelumnya menunjukkan bahwa sebagian besar lahan kering
didominasi lahan kering masam (70%). Lahan kering masam seluas tersebut sebagian besar
didominasi oleh tanah ultisol dan mempunyai karakteristik (Buol et al., 2003; Buring, 1979;
Certini and Scalenghe, 2006; Faning and Faning, 1989; Tufaila et al., 2011);sebagai berikut :
1. Mempunyai pH rendah, berarti kemasaman tinggi. Hal ini menyebabkan ketersediaan
hara pada umumnya menurun,perombakan bahan organik terhambat sehingga proses
humifikasi kurang lancar, kegiatan biologi menurun, dan kemungkinan peracunan Al, Fe,
dan Mn meningkat.
2. Kejenuhan Al tinggi dan kemungkinan besar Fe dan Mn aktif juga tinggi. Unsur-unsur
ini dalam jumlah yang tinggi meracuni tanaman.
3. Lempung beraktivitas rendah dan bermuatan terubahkan. Hal ini menyebabkan tanah
mempunyai daya sanggah kimiawi lemah, berarti sifat dan perilaku kimiawi dan
fisiokimiawi tidak mantap, daya simpan hara kation rendah, yang menyebabkan efisiensi
pemupukan rendah karena hara kation mudah terlindi, dan pH sukar diperbaiki.
4. Daya semat fosfat tinggi. Hal ini menyebabkan ketersediaan fosfat tanah rendah dan
efisiensi fosfat rendah.
5. Kejenuhan basa rendah, berarti tanah miskin hara, K, Ca, Mg, dan Na. Kandungan hara
mikro juga rendah meskipun kadarnya cukup akan tetapi tidak terjangkau oleh akar
tanaman semusim.
6. Kadar organik rendah dan ini pun terlonggok dalam lapisan tanah permukaan tipis.
Dengan demikian kadar N, S, dan P juga menjadi rendah dan keberadaannya terbatas
dalam hal lapisan tanah permukaan tipis itu. Bahan organik tanah menjadi sumber utama
ketiga unsur hara tersebut mengingat bahwa lebih dari 98% N, 6095%S, dan 25-60% P
terdapat dalam senyawa organik (Schroeder, 1984). Dengan terkumpulnya bahan
organik, N, S, dan P yang sedikit itu di bagian atas tanah, berarti bahan-bahan tersebut
justru berada dalam bagian tanah yang paling rentan erosi, jadi mudah sekali hilang.
7. Daya simpan air terbatas, berarti tanah mudah mengalami kekeringan walaupun
kelembaban cuaca menurun sedikit saja. Oleh karena penyampaian zat hara dari tanah ke
akar kebanyakan berlangsung dengan air sebagai media (aliran masa, difusi), kemudahan

5
mengalami kekurangan air menyebabkan efektivitas tanah menyampaikan hara kepada
tanaman menjadi mudah berubah.
8. Jeluk efektif tanah terbatas karena telah mempunyai horison longgokan lempung yang
secara nisbih dangkal. Horison ini membatasi pasokan air yang cenderung meningkatkan
aliran limpas yang pada gilirannya memperbesar kemungkinan terjadinya erosi. Air
perkolasi yang terhambat oleh horison longgokan lempung cenderung mengumpul di atas
bidang permukaan horison yang bersangkutan yang mengakibatkan bidang tersebut licin.
Pengumpulan air perkolasi di dalam tanah yang berada di atas horison longgokan
lempung menyebabkan bobot masa tanah naik dan rentan longsor sepanjang bidang
permukaan horison longgokan lempung yang licin. Jeluk efektif yang terbatas
menyebabkan volume tanah yang dapat dijangkau akar berkurang. Ini berarti akar tidak
dapat memanfaatkan seluruh persediaan hara yang ada dalam tanah. Akar tumbuh dan
berkembang secara terbatas di lapisan tanah permukaan yang rentan kehilangan air
karena penguapan, sehingga tanaman mudah mengalami kekahatan air. Untuk tanaman
yang berkanopi tinggi dan mempunyai biomasa trubus berat, kedangkalan akar juga
menyebabkan tanaman mudah tumbang.
9. Derajat agregasi zarah-zarah debu dan lempung rendah serta kemantapan agregatnya
lemah, yang menambah kerentanan tanah terhadap erosi di lahan berlereng, dan
menyebabkan tanah rentan terhadap pemampatan oleh penggunaan alat dan mesin berat.
Struktur tanah yang kurang berkembang dan lemah tersebut tadi menyebabkan tanah
mudah membentuk kerak permukaan karena benturan tetesan air hujan. Lapisan kerak
menghambat perkecambahan biji, peresapan air infiltrasi, difusi O2 ke dalam tanah untuk
pernafasan akar dan jasad renik, dan difusi CO2 sisas pernapasan dan perombakan bahan
organik ke luar tanah.
Tanah ultisol berkendala ganda yang berkenaan dengan segala sifatnya, yaitu fisik,
fisikokimia, kimia, biologi dan morfologi. Maka untuk mengelola tanah semacam ini, yang
bertujuan meningkatkan harkatnya dari marginal menjadi berproduktivitas memadai secara
berkelanjutan, diperlukan sustu teknologi yang dapat bekerja secara serbacakup
(comprehensive). Ini berarti suatu teknologi yang dapat menyelesaikan semua persoalan
sekaligus. Teknologi yang diterapkan sekarang, yang terdiri atas komponen-komponen pupuk
buatan dengan kandungan hara konsentrasi tinggi dan cepat tersedia, kapur pertanian takaran
tinggi, pengolahan tanah intensif, intensif tanaman semusim, dan jenis unggul berpotensi hasil
panen tinggi yang lahap hara, tidak sesuai untuk tanah-tanah berkendala ganda. Hasil panen

6
tinggi tidak akan bertahan lama karena teknologi semacam itu tidak berasaskan ekologi,
sehingga tanah secara berangsur akan mengalami degradasi.
Meskipun potensi tanahnya rendah, akan tetapi karena potensi luasnya sangat besar,
lahan kering bagaimanapun juga harus dipandang sebagai suatu aset nasional yang perlu
diperhatikan dan dimanfaatkan. Perhatian dan pemanfaatannya lebih perlu lagi jika diingat
bahwa lahan bawahan yang berpotensi baik sudah semakin penuh tergunakan, tidak hanya
untuk pertanian akan tetapi juga untuk keperluan bukan pertanian.

2.2 Respon Fisiologi Terhadap Kekeringan


Cekaman kekeringan akan menurunkan pertumbuhan dan fotosintesis (Taiz dan Zeiger
1998). Penurunan fotosintesis pada kondisi kekeringan disebabkan oleh penutupan stomata dan
pengaruh metabolis. Defisit air akan menyebabkan penutupan stomata yang akan menurunkan
konsentasi CO2 seluler, sedangkan dehidrasi pada sel mesofil daun dapat menyebabkan
kerusakan organ-organ fotosintesis. Efek buruk cekaman kekeringan terhadap fotosintesis akan
dimediasi dengan tanggap terhadap: (i) sistem respirasi, transpor elektron, sintesis ATP pada
mitokondria (Atkin dan Macherel 2009); (ii) akumulasi metabolit yang diinduksi cekaman
(Zhang et al. 1999); dan (iii) ekspresi gen dan sintesis protein (Lawlor dan Tezara 2009).
Adaptasi secara langsung yang utama terhadap cekaman kekeringan adalah
mengakumulasi air untuk menunda atau terhindar (escape) dari cekaman. Berbeda halnya pada
tanaman yang toleran, umumnya mampu menghadapi cekaman air dengan mengurangi fungsi
metabolis yang dilanjutkan berfungsi kembali setelah terjadi peningkatan potensial airnya pada
sel (Bartels 2005). Tanaman lain mampu mempertahankan fungsi biologinya pada kondisi
potensial air yang rendah, walaupun dengan pertumbuhan yang terbatas (Ramanjulu dan
Bartels 2002). Strategi lain untuk mengurangi kehilangan air adalah penutupan stomata yang
dimediasi oleh sintesis ABA. Adaptasi ini berimplikasi terhadap menumpuknya gas CO2 yang
akan menurunkan laju fotosintesis (Bohnert dan Sheveleva 1998) yang akan menyebabkan
ketidakseimbangan energi, di mana aliran elektron neto terjadi terhadap oksigen menyebabkan
kenaikan konsentrasi ROS (reactive oxygen species) dan proses-proses oksidatif (Levine
1999).
Tanaman C4 dan CAM telah mengembangkan strategi dalam penangkapan CO2 untuk
pembentukan gula pada kondisi ketersediaan air yang terbatas. Metabolisme ini melibatkan
asimilasi CO2 nokturnal pada CAM serta tanaman C4 telah mengembangkan mekanisme yang
efisien dalam pengikatan CO2 oleh Rubisco. Tanaman C4 telah mengembangkan anatomi daun
khusus, di mana sel seludang pembuluhnya (bundle sheat cells) memiliki kloroplas, di samping

7
sel mesofilnya seperti tanaman C4. Sebagai pengganti fiksasi CO2 pada siklus Calvin, CO2
dikonversi ke dalam bentuk 4-karbon asam organik dengan kemampuan meregenerasi ulang
CO2 dalam kloroplas pada sel seludang pembuluhnya. Sel ini akan menggunakan CO2 untuk
pembentukan karbohidrat melalui lintasan konvensional C3. Untuk proses ini stomata buka
malam hari pada CAM yang memungkinkan tanaman CAM berlindung dari lingkungan panas,
seperti ditunjukkan dengan tingkat konsumsi air yang sangat rendah dibandingkan dengan
tanaman lain (Zhu et al. 2008). Adaptasi anatomi pada tanaman toleran kekeringan terdiri atas
jaringan spons, yang berperan sebagai reservoir air, pertumbuhan juga terhambat dan tanaman
mengurangi luas daun untuk membatasi evaporasi (Passioura 1996). Strategi yang sama
ditunjukkan dengan penggulungan daun, absisi bunga, perubahan permeabilitas kutikula (Taiz
dan Zeiger 1998). Respons fisiologi yang lain di antaranya induksi pembungaan yang
dihubungkan dengan pergerakan jarak jauh protein FT (Lin et al. 2007).

2.3 Adaptasi Tanaman Terhadap Lahan Kering


Terdapat empat mekanisme umum agar tanaman dapat beradaptasi pada cekaman
kekeringan, yaitu drought escape, dehydration avoidance, dehydration tolerance, dan drought
recovey (Fukai dan Cooper 1995). Walaupun demikian sering kali tanaman menggunakan lebih
dari satu mekanisme untuk tahan kekeringan (Mitra 2001).
a) Drought escape merupakan kemampuan tanaman untuk menyelesaikan siklus hidupnya
sebelum adanya kekeringan yang cukup serius. Mekanisme ini meliputi perkembangan
fenologi yang cepat (umur berbunga dan umur panen lebih awal), perkembangan
plastisitas (variasi dalam periode pertumbuhan bergantung defisit air), dan remobilisasi
asimilat pre-anthesis ke biji (Fukai dan Cooper 1995; Mitra 2001).
b) Dehydration avoidance merupakan kemampuan tanaman untuk memelihara potensial air
jaringan tetap tinggi meskipun pada kondisi kurang air, dengan cara memperbaiki
serapan air, menyimpannya dalam sel tanaman, dan mengurangi hilangnya air. Drought
avoidance terjadi melalui pemeliharaan turgor sel dengan cara meningkatkan kedalaman
akar, sistem perakaran yang efisien, serta meningkatkan laju dan jumlah pengangkutan
air ke tajuk dan dengan mengurangi kehilangan air melalui lapisan epidermis (seperti
stomata dan lentikular), mengurangi jerapan panas radiasi melalui penggulungan atau
pelipatan daun (leaf rolling atau folding) dan mengurangi penguapan melalui permukaan
daun (leaf area). Tanaman pada kondisi kekeringan akan bertahan hidup dengan cara
menjaga sel tetap turgor dan mengurangi kehilangan air (Fukai dan Cooper 1995; Mitra
2001). Fukai dan Cooper (1995) menjelaskan bahwa sebagian besar galur padi yang

8
mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang relatif baik selama kekeringan
adalah dengan memelihara potensial air daun tetap tinggi.
c) Dehydration tolerance merupakan kemampuan tanaman menjaga proses metabolisme
tetap berlangsung normal meskipun pada kondisi kurang air dan potensial air jaringan
rendah. Respons tanaman terhadap rendahnya potensial air jaringan menentukan tingkat
toleransi tanaman terhadap kekeringan. Mekanisme ini menjaga turgor melalui
pengaturan osmotik (osmotic adjustment, proses induksi akumulasi solute dalam sel),
meningkatkan elastisitas sel, dan mengurangi ukuran sel, serta resistensi protoplasma
(Fukai dan Cooper 1995; Mitra 2001).
d) Drought recovery merupakan mekanisme penyembuhan di mana proses metabolisme
berjalan normal kembali setelah mengalami stres kekeringan. Mekanisme ini penting
manakala stres kekeringan terjadi pada awal perkembangan tanaman. Beberapa genotipe
padi mampu menghasilkan beberapa anakan meskipun dalam kondisi kekeringan, anakan
tersebut masih tetap produktif. Recovery genotipe dari stres kekeringan terkait dengan
kemampuannya mempertahankan daun tetap hijau selama periode kering (Fukai dan
Cooper 1995).
Akan tetapi, mekanisme adaptasi tersebut memiliki beberapa kelemahan. Genotipe
genjah dengan umur pendek umumnya berdaya hasil rendah dibandingkan dengan yang
berumur panjang. Mekanisme yang menyebabkan ketahanan terhadap kekeringan melalui
pengurangan kehilangan air (misalnya dengan cara menutupnya stomata dan mengurangi luas
daun) umumnya berimplikasi pada menurunnya fiksasi karbon dioksida (CO). Osmotic
adjustment (OA) meningkatkan ketahanan terhadap kekeringan dengan pemeliharaan turgor
tanaman, tetapi peningkatan konsentrasi solut dalam sel tanaman membutuhkan energi yang
cukup banyak dikeluarkan tanaman. Konsekuensinya, adaptasi tanaman harus menunjukkan
keseimbangan antara escape, avoidance, dan tolerance dengan menjaga produktivitas yang
memadai (Mitra 2001).
Ada dua pendekatan utama yang sering digunakan untuk melihat kemampuan tanaman
dalam menghadapi cekaman kekeringan. Pendekatan pertama adalah dengan melihat
kemampuan pengambilan air secara maksimal dengan perluasan dan kedalaman sistem
perakaran. Pendekatan kedua dengan melihat kemampuan tanaman mempertahankan turgor
melalui penurunan potensial osmotik, mengingat tekanan turgor mutlak diperlukan bagi
jaringan untuk menjaga tingkat aktivitas fisiologi (Terdieu 1997).

9
2.4 Teknik Budidaya Pada Lahan Kering
1. Teknologi Pengapuran, Pemupukan dan Pemberian Bahan Organik
Nursyamsi (1996) mengemukakan bahwa teknologi utama dalam pengelolaan tanah
masam adalah (1) pengapuran, (2) pemupukan, (3) pemberian bahan organik, dan (4)
penggunaan tanaman yang toleran terhadap aluminium. Selanjutnya dikemukakan bahwa
pengapuran dan pemupukan P dapat memperbaiki sifat-sifat tanah podsolik pada lahan
alang-alang sekaligus meningkatkan produktifitasnya. Pemberian kapur 2 ton/ha pada
tanah ultisol di Sitiung A nyata meningkatkan pH tanah, sangat nyata meningkatkan Ca,
Mg, basa-basa dan kejenuhan basa tanah, nyata menurunkan C/N, K-HCl dan sangat
nyata menurunkan Aluminium dapat ditukar (Al-dd), Hidrogen dapat ditukar (H-dd) dan
tingkat kemasaman tanah.
Pemberian kapur dan pupuk hijau meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedele
(Hartatik, 1987). Selanjutnya dikemukakan bahwa pengapuran setara 1-2 kali Al-dd
dapat menurunkan kejenuhan Aluminium sampai bawah batas toleransi tanaman kedele
dan pemberian pupuk hijau dapat mengurangi jumlah kebutuhan kapur.
Safuan (2002) menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan peroduktifitas sistem
pertanian lahan kering masam di daerah tropika secara berkelanjutan dapat dilakukan
melalui: (1) pemulsaan dan pengolahan tanah, (2) penambahan bahan organik, kapur dan
pupuk NPK, (3) optimalisasi pola tanam, dan (4) konservasi tanah.
2. Teknologi Konservasi Tanah dan Air
Pengolahan tanah konservasi (conservation tillage) adalah setiap cara pengolahan
tanah yang bertujuan untuk mengurangi besarnya erosi, aliran permukaan dan, kalau
mungkin, dapat mempertahankan atau meningkatkan produksi (Sinukaban, 1990).
Selanjutnya dikemukakan bahwa untuk memenuhi kriteria tersebut pengolahan tanah
harus dapat menghasilkan permukaan tanah yang kasar sehingga simpanan depresi dan
infiltrasi meningkat, serta dapat meninggalkan sisa-sisa tanaman dan gulma pada
permukaan tanah agar dapat menahan energi butir hujan yang jatuh. Hal ini menjadi
penting pada masa pertanaman, karena pada saat tersebut intensitas hujan umumnya
sudah besar dan tidak ada tajuk tanaman yang dapat menahan energi butir hujan yang
jatuh.
Menurut Arsyad (1983), usaha-usaha pengawetan (konservasi) tanah ditujukan
untuk: (1) mencegah kerusakan tanah oleh erosi, (2) memperbaiki tanah yang rusak, (3)
dan menetapkan kelas kemampuan tanah dan tindakan-tindakan atau perlakuan agar
tanah tersebut dapat dipergunakan untuk waktu yang tidak terbatas (berkelanjutan).

10
Selanjutnya dikemukakan bahwa pengawetan air pada prinsipnya adalah penggunaan air
yang jatuh ke tanah seefisien mungkin, dan pengaturan waktu aliran sehingga tidak
terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau.
Tiap kelas penggunaan tanah memerlukan teknik pengawetan tanah tertentu.
Adapun teknik pengawetan tanah dapat dibagi dalam tiga golongan utama, yaitu (1)
metoda vegetatif, (2) metoda mekanik dan (3) metoda kimia (Arsyad, 1983). Metoda
yang lazim dipraktekkan di Indonesia umumnya adalah metoda vegetatif yang seringkali
dikombinasikan dengan metoda mekanik, misalnya penanaman penutup tanah sebagai
penguat teras atau sebagai penutupan permukaan dari hantaman butir hujan, pengolahan
tanah dan penanaman menurut kontur, sistem pertanaman lorong (Alley Cropping)
sampai kepada sistem yang paling sederhana yaitu penggunaan mulsa.
Teknik budidaya lorong sebagai salah satu teknik konservasi tanah dan air untuk
pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kering di daerah tropika basah,
namun belum diterapkan secara meluas oleh petani (Juo, Caldwell, dan Kang, 1994).
Pada budidaya lorong konvensional, tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong di
antara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang
rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal
tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari
lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui
pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.
Efektivitas budidaya lorong pada lahan pertanian berlereng miring dalam
pengendalian aliran permukaan dan erosi ditentukan oleh perkembangan tanaman pagar
serta jarak antar barisan tanaman pagar. Pada awal penerapan budidaya lorong aliran
permukaan dan erosi dapat menerobos tanaman pagar yang belum tumbuh merapat,
meskipun ditanam lebih dari satu baris tanaman. Pada kondisi demikian, tanaman pagar
kurang efektif dalam menghambat aliran permukaan dan menjaring sedimen yang
terangkut, sehingga dapat menghanyutkan pupuk dan bahan organik. Setelah tanaman
pagar berkembang, persaingan penyerapan air, unsur hara dan sinar matahari antara
tanaman pagar dengan tanaman budidaya dapat mengurangi produksi tanaman yang
dibudidayakan (Brata, 2001).
Thorne dan Thorne (1978) dalam Hafif (1992) mengemukakan terdapat lima praktek
pengelolaan lahan yang dapat mengurangi erosi yaitu: (1) vegetasi (2) sisa tanaman, (3)
pengelolaan tanah, (4) efek sisa dari rotasi tanaman, dan (5) praktek pendukung mekanik.

11
3. Teknologi Konservasi Hedgerows
Upaya memperbaiki lahan marginal dan kritis sebenarnya telah dilakukan
pemerintah sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu melalui reboisasi dan penghijauan,
tatapi upaya tersebut masih jauh dari berhasil. Demikian pula anjuran pembuatan teras
juga masih dianggap mahal dan pemborosan tenaga bagi petani (Nurhayati Hakim et al.,
1993). Kegiatan konservasi tanah akan mudah diterapkan petani jika selain efektif dalam
mengendalikan erosi, produktivitas lahan juga dapat ditingkatkan. Berbagai penelitian
menyebutkan bahwa metode vegetatif banyak direkomendasikan karena selain dapat
menekan erosi juga dapat menjamin peningkatan produktivitas lahan (Abdurrachman et
al., 1984; Sukmana dan Suwardjo, 1991).
Selama ini sebenarnya sudah cukup banyak paket teknologi usahatani konservasi
yang telah dikembangkan, namun untuk menciptakan sistem pertanian lestari secara
mandiri tidaklah cukup hanya dengan satu usaha saja. Teknologi konservasi hedgerows
adalah salah satu komponen usaha pelestarian yang harus dipadukan dengan serangkaian
kegiatan yang bersifat teknis, sosial budaya, dan kebijaksanaan. Teknologi konservasi
hedgerows secara teknis mencerminkan bentuk-bentuk pagar hidup dari tanaman legum
pohon, tanaman penguat teras, dan tanaman penutup tanah yang diatur mengikuti garis-
garis kontur (Ginting dan Sukandi, 1992; Sudaryono, 1995).
Menurut Hawkins et al (1991), usahatani dengan teknologi konservasi hedgerows
merupakan suatu praktek usahatani dengan memadukan tindakan konservasi secara sipil
teknis (mekanik) dan biologis (vegetatif) dengan pengaturan tata ruang tanaman
semusim, tanaman tahunan, tanaman legum untuk konservasi sekaligus sebagai
penghasil pupuk organik dan hijauan pakan ternak, serta rumput; dengan memperhatikan
bentuk muka dan ciri bentang lahan.
Sistem tanam pada usahatani konservasi dengan teknologi hedgerows merupakan
kombinasi antara tanaman penguat teras, tanaman penutup tanah, tanaman semusim, dan
tanaman tahunan. Tanaman semusim dan tanaman tahunan merupakan tanaman yang
biasa diusahakan petani setempat. Tanaman semusim terdiri atas tanaman serealia dan
palawija, seperti padi gogo, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi kayu.
Sedangkan tanaman tahunan diantaranya mangga, petai, nangka, melinjo, dan kelapa
(Sudaryono, 1995). Adapun jenis-jenis tanaman yang umum digunakan dalam tanaman
pagar, penguat teras dan penutup tanah, meliputi: (a) jenis leguminosa perdu maupun
pohon yang sering digunakan sebagai penguat teras dan tanaman pagar dalam sistem
pertanaman lorong, seperti: Lamtoro, Kaliandra, Flemingia, Gliriside, dan Hiris; (b) jenis

12
rumput yang sering digunakan sebagai tanaman penguat teras, yaitu meliputi jenis
rumput yang ditanam di bibir teras (biasanya rumput yang membentuk rumpun seperti
rumput gajah, setaria, dan benggala), dan jenis rumput yang ditanam di tampingan teras
(biasanya tumbuh menjalar seperti Brachiaria sp, Cynodon dactylon, Paspalum
conjugatum, Penicum repens); dan (c) tanaman penutup tanah, diantaranya Mucuna sp
dan Centrosema sp (Abdurrachman dan Prawiradiputra, 1995; Sudaryono,1995).
Teknologi konservasi hedgerow mempunyai peluang besar untuk diadopsi petani
lahan kering, karena tanaman hedgerows selain berfungsi mengendalikan aliran
permukaan dan erosi, juga memproduksi biomassa pertanian yang berguna untuk
rehabilitasi dan penyubur tanah, menghasilkan hijauan pakan ternak yang kaya nutrisi,
dan menghasilkan kayu bakar untuk keperluan rumah tangga dan industri pedesaan
(pembakaran bata merah, batu gamping, dan sebagainya).
Pola usahatani dengan teknologi hedgerows melibatkan beberapa jenis tanaman akan
menghasilkan ekosistem yang saling menguntungkan, misalnya residu atau daun yang
diambil dari hasil pangkasan tanaman pagar yang dilakukan secara periodik dapat dipakai
sebagai mulsa atau dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau bagi tanaman
semusim (Baldy and Stigter, 1997). Hasil pangkasan pupuk hijau yang dipakai sebagai
mulsa akan dapat mengurangi penguapan lengas tanah, mengendalikan gulma, dan
menstabilkan suhu tanah daerah perakaran sehingga memberi jaminan pertumbuhan akar
tanaman secara baik (Hawkins et al., 1991).
4. Teknologi Usahatani Terpadu
Menurut Abdurrachman et al., (1997), petani lahan kering tidak mungkin hidup jika
ekonomi rumah tangganya hanya tergantung kepada hasil tanaman. Oleh karena itu
menurut Abdurrachman et al., (1997) pendekatan yang tepat untuk menjawab tantangan
tersebut di atas adalah melalui pendekatan sistem usahatani yang memadukan komoditas
tanaman pangan/semusim dengan tanaman tahunan dan ternak dalam suatu model
usahatani yang serasi dengan mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya yang
dimiliki petani.
Model usahatani terpadu yang dikemukakan oleh Abdurrachman et al., (1997)
meliputi padi gogo dan palawija (tanaman pangan) yang diatur penanamannya dalam
pola tanam setahun, disesuaikan dengan pola curah hujannya seluas 1 ha, tanaman karet
seluas 1 ha dan saat penelitian dimulai sudah siap sadap serta ternak yang awalnya terdiri
atas 1 ekor sapi, 3 ekor kambing dan 11 ekor ayam buras. Dengan menerapkan model
usahatani tersebut pendapatan petani meningkat dari 1.4 juta/tahun pada tahun 1988 s/d

13
1989 menjadi 2.3 juta/tahun pada tahun 1990 s/d 1991, sedangkan pendapatan petani
yang tidak menerapkan teknologi model usaha tani tersebut berkisar antara 1,1-1,2
juta/tahun.
Dalam model usahatani ini juga terdapat interaksi komplementer antara pengusahaan
tanaman dan ternak. Tanaman pangan semusim menghasilkan sisa tanaman (biomass)
yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan tambahan, di samping rumput atau tanaman
pakan (glyricideae atau flemingia) yang sengaja ditanam juga untuk mencegah erosi,
sementara ternak memberikan tenaga dan kotoran yang dapat dijadikan pupuk untuk
menunjang produksi tanaman. Dengan demikian komoditas tanaman dan ternak ini dapat
saling mendukung sistem produksi terlanjutkan (berkelanjutan) apabila dikelola dengan
baik. Ditinjau dari kemampuannya dalam meningkatkan produksi dan pendapatan,
menurut Abdurrachman et al., (1997), modal usahatani yang melibatkan tanaman dan
ternak tersebut sangat tepat dikembangkan di lahan kering termasuk di wilayah Timur
Indonesia. Namun demikian, pemilihan jenis tanaman dan ternaknya disesuaikan dengan
kondisi ekosistem dan peluang pasar setempat.
Dengan adanya sistem usaha pertanian terpadu, maka diharapkan akan diperoleh
keuntungan, antara lain: meningkatkan populasi ternak, buah-buahan, membuka
lapangan kerja di pedesaan, keberhasilan konservasi tanah dan air, peningkatan
pendapatan/kesejahteraan petani lahan kering (Akhadiarto, 1997).
5. Seleksi Tanaman Adaptif Pada Kondisi Cekaman Lingkungan
Masalah mendasar dan tantangan berat yang harus dihadapi pada lahan kritis adalah
bagaimana mengubah lahan tersebut menjadi lahan produktif dan bagaimana
menghambat agar lahan kritis tidak semakin meluas. Karena itu berbagai teknik
rehabilitasi dan sistem budidaya yang tepat telah banyak dicobakan pada lahan kritis
tersebut.
Upaya-upaya yang selama ini dilakukan membutuhkan biaya yang cukup besar dan
memerlukan dukungan semua pihak serta perlu dukungan ahli ekofisiologi dan pemulia
tanaman untuk menghasilkan varietas tanaman pangan yang adaptif pada lahan kritis
yang memiliki karakteristik cekaman lingkungan tertentu (kesuburan rendah,
ketersediaan air terbatas/berlebih dan lain-lain). Tanaman pangan adaptif yang dimaksud
adalah tanaman yang di satu sisi mampu beradaptasi dan di sisi lain mampu berproduksi
secara optimal sehingga dapat diharapkan sebagai penyedia pangan di masa mendatang.
Pemuliaan tanaman konvensional akan tetap memegang peranan utama dalam
perbaikan varietas. Berbagai kelemahan dan keterbatasan cara ini dapat diatasi dengan

14
bantuan bioteknologi. Secara bertahap, bioteknologi akan dikembangkan untuk
mendapatkan atau memindahkan gen tertentu untuk menghasilkan varietas baru dengan
sifat-sifat yang diinginkan. Meningkatkan produktivitas melalui rekayasa genetik
merupakan suatu keuntungan tambahan dalam perbaikan sifat tanaman sehingga varietas
yang dihasilkan diharapkan dapat lebih efisien memanfaatkan hara, tahan terhadap hama
dan penyakit serta deraan lingkungan (Manwan, 1993).
Informasi mengenai sifat-sifat yang mudah teramati dapat dijadikan penduga bagi
sifat yang dituju dalam seleksi tanaman adaptif. Semakin erat hubungan antara sifat
penduga dengan sifat yan dituju, maka akan semakin memudahkan proses seleksi. Sifat-
sifat yang berperan menentukan adaptif tidaknya suatu tanaman yang ekspresinya sangat
dipengaruhi oleh lingkungan. Oleh sebab itu fenotipe yang ditemui di lapangan akan
sangat beragam. Adapun syarat-syarat seleksi tanaman adaptif terhadap lingkungan kritis
adalah tahan terhadap pH tanah rendah, toleran terhadap cekaman air, tahan terhadap
defisiensi hara terutama N dan P dan lain-lain.

15
DAFTAR PUSTAKA

Atkin OK, Macherel D. 2009. The cruscial role of plant mitochondria in orchestrating drought
tolerance. Annals of Botany. 103: 581–597.

Bistok HS, Nugraheni W, Raymond B. 2002. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan
dan Hasil Tanaman Gandum (Triticum aestivum L.) UKSW.

Buol, S.W., R.J. Southard, R.C. Graham, and P.A. Mcdaniel, 2003. Soil genesis and
classification. The Iowa State University Press.Ames.

Buring, 1979. Introduction To The Study Of Soil In Tropical, And Subtropica Regions. Edisi
Indonesia : Pengantar pengajian tanah-tanah wilayah tropika dan subtropika tahun 1991.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Certini, G. and R. Scalenghe, 2006. Soil : Basic concepts and future challenger. Cambridge
University Press.

Faning, D.S. and M.C.B. Faning, 1989. Soil morphology, genesis, and classification. John
Wiley & Sons, Inc. USA.

Fukai S, Cooper M. 1995. Development of drought resistant cultivars using physio-


morphological traits in rice. Field Crops Res. 40:67–86.

Haryati. 2008. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil


Tanamanhttp://library.usu.ac.id/download/fp/hslpertanian-haryati2.pdf. Diakses pada
tanggal 11 Desember 2017.

Hutami, S, M. Ahlan, Z. Nunung dan R.D. Hastuti. 1990. Pengaruh Cekaman Kekeringan
terhadap Pertumbuhan dan Hasil Dua Varietas Kacang Hijau (Vigna radiata L.). Seminar
Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Balittan. Bogor. 25-32 hal. Inc. New York. 824 p

Islami, T. Dan Utomo, W.H. (1995). Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. Semarang : IKIP
Semarang Press

Jumin, H.B. 1992. Ekologi Tanaman Suatu Pendekatan Fisiologi. Rajawali Press. Jakarta.

Kozlowski, T. T. 1997. “Responses of Woody Plants to Flooding and Salinity”.

Lakitan, B 1996. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

________. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Lawlor DW, Tezara W. 2009. Causes of decreased photosynthetic rate and metabolic capacity
in water-deficient leaf cells: a critical evaluation of mechanisms and integration of
processes. Annals of Botany. 103: 543–549.

Mitra J. 2001. Genetics and genetic improvement of drought resistance in crops plants. Current
Scie. 80:758–762.
Notohadiprawiro,T. 2006. Ultisol, Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Buletin Pusat Penelitian
Marihat . No. 6. 2006.
Ramanjulu S, Bartels D. 2002. Drought-and desiccation-induced modulation of gene
expression inplant. Plant Cell Environ. 25:141–151.

Sastroutomo, S.1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Sinaga. 2008. Peran Air Bagi Tanaman. http://puslit.mercubuana.ac.id/file/8Artikel


%20Sinaga.pdf. Diakses pada tanggal 11 Desember 2017 00.00

Taiz L, Zeiger E. 1998. Plant Physiology. 1st Edn. Massachusetts. London:Sinauer Association
Inc.

Tardieu F, Muller B, Reymond M, Saduk W, Simonneay TH. 2004. Controls of leaf growth
and stomatal conductance under water deficit: Combining genetic and ecophysiological
analyses. CIMMYT/Drought/Rockefeller Foundation Workshop 2004.

Thoruan-Mathius, N., Wijana, G. Guharja, E., Aswidinnoor, H., Yahya, S., dan
Subronto.(2001) Respon tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) terhadap
cekaman kekeringan.Menara Perkebunan 69 (2).p 29-45.

Tufaila, M., B.H. Sunarminto, D. Shiddieq, and A. Syukur, 2011. Characteristics of soil derived
from ultramafic rocks for extensification of oil palm in Langgikima, North Konawe,
Southeast Sulawesi. J. Agrivita 33 (1):93-102.

Zhang J, Nguyen HT, Blum A. 1999. Genetic analysis of osmotic adjusment in crop plants.
Journal of Experimental Botany. 50: 291–302.