Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN

HARGA DIRI RENDAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas PBL


Pada Mata Kuliah Sistem Neuro Behavior Semester Tiga
Di RSJD Dr. Amino Gondhohutomo Semarang

OLEH:

AGSTRI DWI MARSELA (G2A016088)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2017/2018
1) Pengertian

Harga diri rendah adalah penilaian negatif seseorang terhadap diri dan
kemampuan, yang di ekspresikan secara langsung maupun tidak langsung (Schult &
Videbeck, 1998) Gangguan harga diri rendah keadaan dimana individu mengalami
atau beresiko mengalami evaluasi diri negatif terntang kemampuan atau
diri(Carpenito 1997)
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan
diri yang negatif, dapat secara langsung atau tidak langsung diekspresikan
(Townsend, 1998). Dapat di simpulkan bahwa harga diri rendah merupakan perasaan
over negatif terhadap diri sendiri, hilangnya kepercayaan diri dan gagal mencapai
tujuan yang di ekspresikan secara langsung maupun secara tidak langsung melalui
tingkat kecemasan yang sedang sampai berat.
2) Proses Terjadinya Masalah

Gangguan harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap
diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai
keinginan. (Budi Ana Keliat, 1999). Gangguan harga diri atau harga diri rendah
dapat terjadi secara :
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misal harus operasi, kecelakaan,
dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja dll. Pada klien yang dirawat
dapat terjadi
harga diri rendah karena privacy yang kurang diperhatikan : pemeriksaan fisik yang
sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pemasangan kateter, pemeriksaan
perianal, dll), harapan akan struktur, bentuk dan ffungsi tubuh yang tidak tercapai
karena dirawat/sakit/penyakit, perlakuan petugas yang tidak menghargai.
2. Kronik, yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsungn lama.
Yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum sakit/
dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan dirawat
akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini mengakibatkan
respons yang maladaptive. Kondisi ini dapat ditemukan pada klien gangguan fisik
yang kronis atau pada klien gangguan jiwa. Dalam tinjauan life span history klien,
penyebab HDR adalah kegagalan tumbuh kembang, misalnya sering disalahkan,
kurang dihargai, tidak diberi kesempatan dan tidak diterima dalam kelompok
(Yosep, 2007).
Tanda dan gejala
- Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap
penyakit
- Rasa bersalah terhadap diri sendiri
- Merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu
- Gangguan hubungan sosial seperti menarik diri
- Percaya diri kurang
3) Penyebab
Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang
tua ang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung
jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik.
Stressor pencetus munkin ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal,
seperti : trauma fisik maupun psikis, ketegangan peran, transisi peran situasi dengan
bertambah atau berkurangnya anggota keluargamelalui kelahiran atau kematian,
serta transisi peran sehat sakit sebagai transisi dari keadaan sehat dan keadaan sakit.
4) Tanda dan gejala Menurut Carpenito, L.J (1998 : 352); Keliat, B.A
(1994 : 20)
1. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan
terhadap penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak
setelah mendapat terapi sinar pada kanker
2. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya
segera ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri.
3. Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya
orang bodoh dan tidak tahu apa-apa
4. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu
dengan orang lain, lebih suka sendiri.
5. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang
memilih alternatif tindakan.
6. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram,
mungkin klien ingin mengakhiri kehidupan.
5) Akibat Harga Diri Rendah
Akibat Harga diri rendah dapat membuat klien menjdai tidak mau maupun tidak
mampu bergaul dengan orang lain dan terjadinya isolasi sosial : menarik diri. Isolasi
sosial menarik diri adalah gangguan kepribadian yang tidak fleksibel pada tingkah
laku yang maladaptive, mengganggu fungsi seseorang dalam hubungan sosial
(DEPKES RI, 1998)
Tanda dan gejala :
1. Data Subyektif :
a. Mengungkapkan untuk memulai hubungan / pembicaraan
b. Mengungkapkan perasaan malu untuk berhubungan dengan orang lain
c. Mengungkapkan kekhawatiran terhadap penolakan oleh orang lain
2. Data Obyektif :
a. Kurang spontan ketika diajak bicara
b. Apatis
c. Ekspresi wajah kosong
d. Menurun atau tidak adanya komunikasi verbal
e. Bicara dengan suara pelan dan tidak ada kontak mata saat berbicara
(Budi Anna Keliat, 2001)
6) Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk pertahanan koping jangka pendek atau jangka panjang
serta penggunaan mekanisme. Pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam
menghadapi persepsi diri sendiri yang menyakitkan.
Pertahanan jangka pendek meliputi :
1. Aktivitas yang memberikan kesempatan lari sementara dari krisis misalnya :
menonton konser musik, menonton televisi secara obsesif.
2. Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara, Misalnyaikut
dalam klub sosial ,agama, kelompok, gerakan.
3. Aktivitas yang sementara menguatkan atau meningkatkan perasan diri yang
tidak menentu, misalnya : olah raga yang kompetitif, prestasi akademis,
kontes untuk mendapatkan popularitas.
4. Aktivitas yang merupakan upaya jangka pendek untuk membuat identitas di
luar dari hidup yang tidak bermakna saat ini, misal: penyalah gunaan obat.
Pertahanan jangka panjang mencakup :
1. Penutupan identitas –adopsi identitas prematur yang di inginkan oleh orang
terdekat tanpa memperhatikan keinginan , aspirasi, atu petensi diri individu
7) Penatalaksanaan
1. Farmakologi
a. Obat anti psikosis: Penotizin
b. Obat anti depresi: Amitripilin
c. Obat Anti ansietas: Diasepam, bromozepam, clobozam
d. Obat anti insomnia: Phneobarbital
2. Terapi modalitas
a. Terapi keluarga
Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi
masalah klien dengan memberikan perhatian
 BHSP
 Jangan memancing emosi klien
 Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan
keluarga
 Berikan kesempatan klien mengemukaan pendapat
 Dengarkan, bantu dan anjurkan pasien untuk mengemukakan
masalah yang dialaminya
b. Terapi kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, keterampilan sosial,
atau aktivitas lain dengan berdiskusi dan bermain untuk
mengembalikan keadaan klien karena masalah sebagian orang
merupakan persaan dan tingkah laku pada orang lain.
3. Terapi musik
Dengan musik klien terhibur,rileks dan bermain untuk mengebalikan
kesadaran klien
8) Pohon Masalah
9) Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji
1. Masalah keperawatan
a. Isolasi sosial : menarik diri
b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
c. Berduka disfungsional
2. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan harga diri Rendah
a.Data Subyektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
b. Data Obyektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.
10) Diagnosa Keperawatan
1. Harga diri rendah
2. Isolasi sosial : menarik diri
11) Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa 1. Harga Diri Rendah
TINDA PERTEMUAN
DIAGNOSA
KAN 1 2 3 4 5
1. Identifikasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi
kemampuan kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
melakukan kegiatan pertama yang pertama dan pertama, latihan dan
dan aspek positif telah dilatih dan kedua yang kedua, dan berikan
pasien (buat daftar berikan pujian telah dilatih dan ketiga yang pujian.
kegiatan) 2. Bantu pasien berikan pujian telah dilatih 2. Latih
2. Bantu pasien memilih 2. Bantu pasien dan berikan kegiatan
menilai kegiatan kegiatan kedua memilih pujian dilanjutkan
yang dapat yang akan kegiatan ketiga 2. Bantu sampai tak
P dilakukan saat ini dilatih yang akan pasien terhingga
A (pilih dari daftar 3. Latih dilatih memilih 3. Nilai
HARGA kegiatan) : buat kegiatan kedua 3. Latih kegiatan kemampua
S
DIRI daftar kegiatan yang kedua (alat dan kegiatan ketiga keempat yang n yang
I dapat dilakukan saat cara) (alat dan cara) akan dilatih telah
RENDAH
E ini 4. Masukkan 4. Masukkan 3. Latih mandiri
N 3. Bantu pasien pada jadual pada jadual kegiatan 4. Nilai
memilih salah satu kegiatan untuk kegiatan untuk keempat (alat apakah
kegiatan yang dapat latihan: dua latihan: tiga dan cara) harga diri
dilakukan saat ini kegiatan kegiatan, 4. Masukkan pasien
untuk dilatih masing2 dua masing-masing pada jadual meningkat
4. Latih kegiatan kali per hari dua kali per hari kegiatan untuk
yang dipilih (alat latihan: empat
dan cara kegiatan
melakukannya) masing-
5. Masukan pada masing dua
jadual kegiatan kali per hari
untuk latihan dua
kali per hari

1. Diskusikan 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi 1. Evaluasi


masalah yg kegiatan kegiatan kegiatan kegiatan
dirasakan dalam keluarga dalam keluarga dalam keluarga keluarga
merawat pasien membimbing membimbing dalam dalam
2. Jelaskan pasien pasien membimbing membimbi
pengertian, tanda & melaksanakan melaksanakan pasien ng pasien
gejala, dan proses kegiatan kegiatan melaksanakan melakukan
terjadinya harga diri pertama yang pertama dan kegiatan kegiatan
rendah (gunakan dipilih dan kedua yang pertama, yang
booklet) dilatih pasien. telah dilatih. kedua dan dipilih oleh
3. Diskusikan Beri pujian Beri pujian ketiga. Beri pasien.
kemampuan atau 2. Bersama 2. Bersama pujian Beri pujian
K
aspek positif pasien keluarga melatih keluarga melatih 2. Bersama 2. Nilai
E yang pernah dimiliki pasien dalam pasien keluarga kemampua
L sebelum dan setelah melakukan melakukan melatih pasien n keluarga
U sakit kegiatan kedua kegiatan ketiga melakukan mmbimbin
A 4. Jelaskan cara yang dipilih yang dipilih kegiatan g pasien
R merawat harga diri pasien 3. Anjurkan keempat yang 3. Nilai
rendah terutama 3. Anjurkan membantu dipilih kemampua
G
memberikan pujian membantu pasien sesuai 3. Jelaskan n keluarga
A semua hal yang pasien sesuai jadual dan follow up ke melakukan
positif pada pasien jadual dan berikan pujian RSJ/PKM, kontrol ke
5. Latih keluarga memberi pujian tanda kambuh, RSJ/PKM
memberi tanggung rujukan
jawab kegiatan 4. Anjurkan
pertama yang dipilih membantu
pasien: bimbing dan pasien sesuai
beri pujian jadual dan
6. Anjurkan memberikan
membantu pasien pujian
sesuai jadual dan
memberikan pujian

Diagnosa 2: Menarik diri


Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik dengan cara :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan:
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya.
2.2 Beri kesempatan kepada klien untukmengungkapkan perasaan penyebab
menarik diri atau mau bergaul
2.3 Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta
penyebab yang muncul
2.4 Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi halusinasi
( tidur, marah, menyibukkan diri dll)
3.2 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan dengan
orang lain
a. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan tentang
keuntungan berhubungan dengan prang lain
b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan orang lain
c. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
3.3 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan orang
lain
a. beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan dengan
orang lain
b. diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan dengan
orang lain
c. beri reinforcement positif terhadap kemampuanmengungkapkan perasaan
tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain

4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial


Tindakan:
4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain
melalui tahap :
▪K–P
▪ K – P – P lain
▪ K – P – P lain – K lain
▪ K – Kel/Klp/Masy
4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai.
4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang lain
Tindakan:
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan
orang lain
5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan
orang lain.
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klienmengungkapkan perasaan
manfaat berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan:
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
▪ Salam, perkenalan diri
▪ Jelaskan tujuan
▪ Buat kontrak
▪ Eksplorasi perasaan klien
6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
▪ Perilaku menarik diri
▪ Penyebab perilaku menarik diri
▪ Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
▪ Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain.
6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien
minimal satu kali seminggu
6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh
keluarga
DAFTAR PUSTAKA

Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia :


Lipincott-Raven Publisher. 1998
Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998
Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1.
Bandung:RSJP Bandung. 2000

Anda mungkin juga menyukai