Anda di halaman 1dari 16

SINTESIS, KARAKTERISASI, AKTIVITAS ANTIBAKTERI, DAN

AKTIVITAS KATALITIK NANOPOLIMER DIDUKUNG KOMPLEKS


CU(II) UNTUK FORMAMIDASI ASAM ARILBORONAT PADA KONDISI
AEROB

Disusun oleh:
Atika Nabilah (1506735010)

Tugas Makalah Cluster II Kelas B


Periode 2017/2018

UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2017
ii

Abstrak

Makalah ini berisi laporan sintesis dan penggunaan nanopolimer yang didukung
kompleks tembaga (II) sebagai katalis terpisah untuk formamidasi asam arilboronat
dalam kondisi aerobik. Katalis dikarakterisasi dengan menggunakan spektroskopi
XRD, SEM, EDS, TGA-DTG dan FT-IR. Metode ini memiliki kelebihan hasil (yield)
yang tinggi, eliminasi katalis homogen, metodologi yang sederhana dan pengerjaan
yang mudah. Efisiensi katalis tetap tidak berubah bahkan setelah beberapa siklus
berulang. Katalis yang disintesis lebih beracun terhadap bakteri Gram positif daripada
bakteri Gram negatif.
iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang atas rahmat-
Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Penulisan makalah ini
dilakukan dalam rangka menyelesaikan tugas mata kuliah Cluster II mengenai
nanopolimer yaitu nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II) tiotetrazol 2.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Yoki Yulizar M.Sc selaku
pengajar mata kuliah Cluster II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran
untuk membagikan ilmunya kepada kami semua. Penulis juga berterima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu terselesaikannya makalah ini, yang tidak dapat penulis
sebutkan satu-satu di sini.
Akhir kata penulis berharap agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan
untuk segala kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Depok, 22 Desember 2017

Penulis
iv

DAFTAR ISI

Abstrak ..........................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR .................................................................................................iii
DAFTAR ISI................................................................................................................iv
BAB I ............................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ................................................................................................. 2
BAB II........................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................... 3
2.1 Nanopartikel ........................................................................................................ 3
2.1.1 Sifat Fisik ..................................................................................................... 3
2.2 Nanopartikel Nanopolimer .................................................................................. 3
2.2.1 Nanopolimer................................................................................................. 3
2.2.2 Karakterisasi................................................................................................. 4
BAB III ......................................................................................................................... 5
METODE PENELITIAN.............................................................................................. 5
3.1 Preparasi Nanopolystyrene-Kompleks Cu(II)tiotetrazol 2.................................. 5
3.2 Prosedur Formamidasi Asam Arilboronat........................................................... 5
3.3 Prosedur Studi Antibakteri .................................................................................. 6
3.4 Karakterisasi ........................................................................................................ 6
BAB IV ......................................................................................................................... 7
PEMBAHASAN ........................................................................................................... 7
4.1 Karakterisasi ........................................................................................................ 7
4.2 Aktivitas katalitik PS–ttet–Cu(II)(2) untuk Formamidasi Asam Arilboronat..... 9
4.3 Studi Antibakteri ................................................................................................. 9
4.4 Kemampuan Didaur Ulang................................................................................ 10
BAB V......................................................................................................................... 11
v

PENUTUP................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 11
1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kemampuan untuk membentuk formamida yang efisien saat ini merupakan
area aktif dalam sintesis organik karena prevalensi motif struktural ini dalam
segudang produk penting bioaktif dan senyawa yang menarik secara farmasi. Di
antara berbagai strategi yang dikembangkan sampai saat ini, reaksi coupling Chan-
Lam yang dikatalisis tembaga telah terbukti menjadi salah satu rute sintetis yang
paling mudah untuk sintesis formamida. Kopling Chan-Lam memungkinkan
pembentukan ikatan karbon-heteroatom aril melalui kopling oksidatif asam
arilboronat, stannanes atau siloksan dengan senyawa mengandung N-H atau O-H
di udara. Reaksi diinduksi oleh jumlah stoikiometri tembaga (II) atau jumlah
katalitik katalis tembaga yang dioksoksidasi oleh oksigen atmosfir.
Baru-baru ini, katalis Cu yang lebih murah telah menemukan banyak minat
untuk pembentukan ikatan C-N. Namun, reaksi yang dikatalisasi oleh Cu
tradisional juga memerlukan penggunaan jumlah stoikiometri katalis tembaga
homogen, penggunaan ligan beracun, kondisi reaksi keras, basa kuat dan
penggunaan pelarut polar beracun. Akibatnya, kekurangan ini membatasi aplikasi
skala besar mereka di industri. Oleh karena itu, diperlukan untuk mengembangkan
metode yang lebih mudah dan mudah untuk formamidasi asam arilboronat
menggunakan katalis heterogen dalam kondisi aerobik.
Pada penelitian yang dilakukan, ditemukan sebuah protokol baru untuk
persiapan nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II) thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II)
(2)] dan aplikasi antimikroba dan katalitik sebagai katalis heterogen baru dan
stabil untuk formamidasi asam arilboronat di bawah kondisi aerobik pada suhu
60oC. PS-ttet-Cu (II) telah menjadi katalis yang dapat diandalkan, karena dapat
dibuat dari bahan yang murah dan mudah didapat. Akseptabilitas lingkungan,
kelayakan ekonomi, dan kemudahan didaur ulang PS-ttet-Cu (II) adalah
keuntungan dari katalis baru ini.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, rumusan masalah pada
makalah ini adalah:
1. Bagaimana karakterisasi nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II) thinotetrazol
[PS-ttet-Cu (II) (2)] hasil sintesis?
2. Bagaimana sifat katalitik nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II)
thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)] hasil sintesis untuk formamidasi asam
arilboronat?
2

3. Bagaimana sifat antibakteri nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II)


thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)] hasil sintesis?
4. Bagaimana kemampuan didaur ulang nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II)
thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)] hasil sintesis?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan dalam makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui karakterisasi nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II)
thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)].
2. Untuk mengetahui sifat katalitik nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II)
thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)] untuk formamidasi asam arilboronat.
3. Untuk mengetahui sifat antibakteri nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II)
thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)].
4. Untuk mengetahui kemampuan didaur ulang nanopolistiren-didukung kompleks
Cu(II) thinotetrazol [PS-ttet-Cu (II) (2)].
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Nanopartikel

Nanopartikel adalah partikel mikroskopis dengan dimensi kurang dari 100 nm.
Sifat material nanopartikel seringkali berbeda dari sifat material bulkinya karena
persentase atom pada permukaan material menjadi signifikan. Pada materi yang
ukurannya lebih besar dari 1 mikrometer, persentase atom pada permukaan sangat
kecil relatif terhadap jumlah atom bahan. Nanopartikel menunjukkan sejumlah sifat
khusus relatif terhadap materi yang lebih besar.

Dua faktor yang memengaruhi perubahan sifat ketika suatu materi diperkecil
ukurannya menjadi nano adalah perbandingan luas permukaan dengan volume, dan
ukuran partikel. Peningkatan rasio luas permukaan terhadap volume, yang terjadi
ketika ukuran partikel mengecil, menimbulkan peningkatan dominansi dari
perilaku atom-atom pada permukaan daripada atom-atom pada bagian dalam
partikel. Hal ini memengaruhi sifat partikel ketika bereaksi dengan partikel lain.
Karena permukaan nanopartikel lebih luas, interaksi dengan partikel lain dalam
campuran lebih banyak dan meningkatkankekuatan, ketahanan panas, dan sifat-
sifat lainnya.

2.1.1 Sifat Fisik


Ada tiga sifat fisik utama dalam nanopartikel, dan ketiganya saling
berhubungan, yaitu mobilisasi yang tinggi dalam keadaan bebasnya,
permukaan spesifik yang sangat luas, dan memiliki efek kuantum.

2.2 Nanopartikel Nanopolimer

2.2.1 Nanopolimer
Pada awal abad ke-21, peningkatan penggunaan polimer berbasis non-
minyak bumi yang berasal dari sumber alami mendorong pengembangan
polimer nanokomposit "all-natural".

Polimer nanocomposit terdiri atas polimer atau kopolimer yang


memiliki nanopartikel atau nanofiller yang terdispersi ke dalam matriks
polimer. Bentuknya dapat berbeda-berbeda (mis., Platelet, serat, spheroids),
tetapi setidaknya satu dimensi harus berada pada kisaran 1-50 nm. PNC ini
4

termasuk dalam kategori sistem multi-fase (MPS, yaitu campuran, komposit,


dan busa) yang mengonsumsi hampir 95%

2.2.2 Karakterisasi
Teknik untuk mendeteksi dan mengkarakterisasi nanopartikel terbagi
menjadi dua kategori; secara langsung dan secara tidak langsung. Teknik
langsung yaitu menggunakan transmission electron microscopy (TEM),
scanning electron microscopy (SEM), and atomic force microscopy (AFM).
Teknik-teknik ini dapat menggambarkan nanopartikel, mengukur ukurannya
secara langsung, dan membeikan informasi bentuk, tetapi terbatas pada
beberapa partikel dalam satu waktu. Jadi teknik ini cukup efektif dalam
memberikan infomasi dasar mengenai nanopartikel.

Teknik tidak langsung menggunakan sinar-X atau sinar neutron dan


memberikan informasi dengan menganalisis secara matematis radiasi yang
dipantulkan atau didifraksikan oleh nanopartikel. Teknik-teknik yang
berkaitan dengan nanosains yaitu small-angle X-ray scattering (SAXS) dan
small-angle neutron scattering (SANS), dengan analog GISAXS dan
GISANS, dimana GI adalah “grazing incidence” dan X-ray atau
reflektometer neutron (XR/NR). Keuntungan dari teknik ini adalah dapat
menganalisis sampel secara terus menerus dan dalam jumlah nanopartikel
yang sangat luas dan seringnya tidak membutuhkan preparasi sampel tertentu.
5

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Preparasi Nanopolystyrene-Kompleks Cu(II)tiotetrazol 2


Sebanyak 2.0 gram polistiren klorometil (1.25 mmol g-1 Cl) dicampurkan
dengan 50 mL DMF dalam labu bulat 250 mL dan diaduk dengan stirrer.
Kemudian 1- fenil-1H-tetrazol-5-tiol sebanyak 5.0 mmol dan K2CO3 sebanyak 5.0
mmol ditambahkan ke dalam polimer dan campuran dipanaskan selama 24 jam
pada suhu 100oC. Polimer-ligan difiltrasi dan dicuci dengan DMF, lalu
dikeringkan dengan vakum selama 12 jam. Polimer-ligan tetrazol sebanyak 1 g
ditambahkan ke dalam 50 mL etanol. Selanjutnya CuCl2.2H2O ditambahkan ke
dalam suspensi dengan pengadukan yang konstan kemudian direfluks selama 24
jam. Setelah campuran didinginkan pada suhu ruang, kristal hijau muda yang
terpisah difiltrasi, dicuci dengan etanol, dan dikeringkan dalam vakum
menghasilkan PS–ttet–Cu(II)2.

Gambar 1. Reaksi sintesis Nanopolystyrene-Kompleks Cu(II)tiotetrazol 2


(Nasrollahzadeh, Mahmoud, et al., 2014)

3.2 Prosedur Formamidasi Asam Arilboronat


Campuran asam arilboronat (1.0 mmol), NH2CHO (2.5 mmol), basa (1.3
mmol) dan PS–ttet–Cu(II) (0.05 g) diaduk dengan stirrer pada suhu 60oC. Setelah
reaksi selesai (dimonitor dengan TLC), campuran didinginkan pada suhu ruang
kemudian ke dalamnya ditambahkan etil asetat dan air, lalu lapisan organik yang
terbentuk dipisahkan. Selanjutnya lapisan air diekstraksi kembali dengan etil asetat
sebanyak tiga kali. Lapisan organik yang terbentuk dicampur dengan lapisan
organik pertama. Selanjutnya lapisan organik dicuci dengan air, dikeringkan
dengan MgSO4, difiltrasi, dan diuapkan di bawah tekanan yang rendah. Residunya
dimurnikan dengan kolom kromatografi.
6

3.3 Prosedur Studi Antibakteri


Metode yang digunakan adalah metode standard well diffusion. Spesies bakteri
yang digunakan adalah E.Coli (ATCC 25922) sebagai model bakteri gram positif
dan S.Aureus (ATCC 25923) sebagai model bakteri gram negatif. Mula-mula
semua sampel dan peralatan gelas disterilisasi menggunakan autoclav pada suhu
120oC selama 10 menit. Medium yang digunakan adalah Mueller-Hinton agar
(MHA) dan untuk preparasi inokulum digunakan larutan garam yang sudah
disterilisasi. Setiap senyawa dibuat dalam satu set konsentrasi (100, 200, 300, 400
dan 500 ppm). Untuk setiap konsentrasi digunakan cawan petri terpisah dengan
bakteri preinokulasi. Empat sampai lima koloni dari tiap bakteri yang diuji diambil
menggunakan loop inokulasi yang sudah disterilkan, lalu diinokulasikan ke dalam
tabung berisi larutan garam steril sebanyak 5 mL. Tabung inokulasi kemudian
diinkubasi pada suhu 35-37oC selama 10 menit dan dicocokkan dengan standar
turbiditas 0.5 McFarland nephelometer. Bakteri dikultur di atas permukaan MHA
mengunakan dikultur menggunakan kapas yang direndam dalam suspensi bakteri
yang disiapkan. Setiap cawan terdapat 5 cup dan ke dalam setiap cup dimasukkan
25 mL senyawa yang diuji. Setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 35-37oC,
zona inhibisi pada tingkat yang berbeda diukur dalam millimeter (mm) dan dicatat
dalam rata-rata standar deviasi dari tiga kali pengulangan uji.

3.4 Karakterisasi
Katalis dikarakterisasi menggunakan spektroskopi XRD, SEM, EDS,
TGA-DTG dan FT-IR.
7

BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Karakterisasi
Kehadiran ligan 1-fenil-1H-tetrazol-5-tiol pada polistirena klorometil dan
pembentukan PS-ttet-Cu(II)2 dikonfirmasi dengan spektrum FT-IR. Spektrum FT-
IR dari 1fenil-1H-tetrazol-5-tiol dan polistiren klorometil dibandingkan dengan
polimer yang didukung ligan thiotetrazol dan katalis nanopolimer didukung [PS-
ttet-Cu(II)] untuk mengonfirmasi koordinasi tembaga dengan ligan 1-fenil-1H-
tetrazol-5-tiol. Puncak C-Cl yang tajam (karena gugus CH2Cl) pada polimer pada
698 cm-1 dan puncak yang tinggi pada 1274 cm-1 sesuai dengan vibrasi goyang
(wagging) H-C-Cl dalam polimer awal mulai menghilang setelah pengenalan ligan
tiotetrazol pada polimer. Vibrasi regang (stretch) ikatan rangkap dua N=N muncul
pada 1449 cm-1 dan 1403 cm-1 untuk polistiren-ligan tetrazol dan kompleks
tetrazol-Cu. Sinyal memiliki rentang mulai dari 3000- 2800 cm-1 mengidentifikasi
peregangan ikatan metilen. Tetesan tersebut menimbulkan sebuah pita pada 1652
cm-1 karena getaran peregangan ikatan rangkap C=N, yang bergeser menjadi 1598
cm-1 pada tetesan polistirene-ligan, menunjukkan bahwa atom nitrogen pada
tiotetrazol berkoordinasi dengan tembaga. Hal ini menunjukkan bahwa ligan
bertindak sebagai agen pengkelat yang dikoordinasikan melalui atom 'N'.
Fasa produk dianalisis menggunakan pengukuran XRD dan pola difraksi
PS–ttet–Cu(II)2. Polistirene menghasilkan puncak yang lebar pada daerah sekitar
2ɵ=19.0o dan 22.7o. Puncak difraksi pada 38.2o dan 46.5o menunjukkan adanya
Cu.
Analisis SEM PS–ttet–Cu(II)2 menunjukkan bahwa tetesan polistiren
murni memiliki permukaan yang datar dan halus, sedangkan yang ditempeli
kompleks menunjukkan lapisan pertama yang kasar. Keberadaan Cu memberikan
perubahan, yang terlihat dari ukuran partikel dan tekstur permukaan.
8

Gambar 2. Gambar SEM dari PS–ttet–Cu(II)2


(Nasrollahzadeh, Mahmoud, et al., 2014)

Komposisi kimia katalis ditentukan menggunakan spektroskopi EDS.


Keberadaan logam dikonfirmasi oleh EDS. Hasilnya menunjukkan konsentrasi
karbon, Cu, dan oksigen berturut-turut adalah 79.8%, 4.57% dan 11.89%. jumlah
oksigen yang berlebih disebabkan absorpsi fisik terhadap oksigen di lingkungan
selama preparasi sampel untuk uji SEM.
Kestabilan termal diuji menggunakan TGA-DTG pada laju pemanasan
10 C/menit pada rentang temperatur 30-800oC. Kompleks stabil sampai suhu
o

200oC dan terdekomposisi pada suhu diatasnya. Polimer-Cu terdekomposisi pada


300oC.

Gambar 3. Grafik TGA-DTG dari PS–ttet–Cu(II)2


(Nasrollahzadeh, Mahmoud, et al., 2014)
9

4.2 Aktivitas katalitik PS–ttet–Cu(II)(2) untuk Formamidasi Asam Arilboronat


NH2CHO dan asam fenilboronat digunakan sebagai model substrat. Pelarut
yang digunakan untuk pengujian adalah air, toluena, MeCN, MeOH dan CH2Cl2.
Selama pengontrolan terlihat bahwa reaksi tidak berjalan pada keadaan tanpa
katalis. Penambahan katalis meningkatkan laju formamidasi asam arilboronat
dengan signifikan dan menghasilkan yield yang tinggi. Keberadaan basa
memberikan efek yang besar pada yield produk. Basa yang diuji adalah K2CO3,
Et3N, Na2CO3, dan NaOAc. K2CO3 memberikan yield N-fenil formamida
tertinggi. Waktu reaksi berkurang dan yield meningkat di bawah kondisi termal.
Dari eksperimen diperoleh jumlah optimum katalis adalah 0.05 g.

Gambar 4. Reaksi Umum Pembentukan Formamida


(Nasrollahzadeh, Mahmoud, et al., 2014)

4.3 Studi Antibakteri


Aktivitas antibakteri in vitro diuji terhadap dua spesies bakteri, yaitu
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi standar.
Hasilnya menunjukkan bahwa PS–ttet–Cu(II)(2) memiliki sifat antibakteri yang
lebih baik terhadap bakteri gram positif (Staphylococcus aureus) daripada bakteri
gram negatif (Escherichia coli). PS–ttet–Cu (II) juga diperkirakan dapat
melakukan penetrasi ke dalam bakteri.

Gambar 5. Zona Inhibisi PS–ttet–Cu(II)(2) terhadap Bakteri Patogen


(Nasrollahzadeh, Mahmoud, et al., 2014)
10

4.4 Kemampuan Didaur Ulang


Dilakukan uji pemulihan dan penggunaan kembali terhadap katalis PS–
ttet–Cu(II)(2) dengan mengaplikasikannya dalam kopling C–N dari NH2CHO
dengan asam fenilboronat. Aktivitas katalitik tidak menurun secara signifikan
setelah siklus katalitik. Hal ini menunjukkan stabilitas dan kedaur-ulangan yang
tinggi.

Gambar 5. Siklus Uji Kemampuan Penggunaan Kembali Katalis


(Nasrollahzadeh, Mahmoud, et al., 2014)
11

BAB V
PENUTUP

Nanopolistiren-didukung kompleks Cu(II) tiotetrazol [PS–ttet–Cu(II)(2)]


sebagai katalis yang efisien, mudah didaur ulang, dan dapat digunakan kembali dapat
disintesis dengan prosedur yang efisien dan sederhana. Katalis dikarakterisasi
menggunakan SEM, XRD, EDS, TGA-DTG dan FT-IR. Katalis ini menunjukkan
aktivitas katalitik yang tinggi dalam mempromosikan formamidasi dari asam
arilboronat untuk menghasilkan formamida dalam jumlah yang tinggi. Keuntungan
dari metode ini adalah dihasilkannya yield yang tinggi, eliminasi katalis homogen,
metodologi yang sederhana, dan pengerjaan yang mudah. Faktor penting lainnya
adalah kestabilan dan kemampuan didaur-ulang di bawah kondisi reaksi yang
digunakan. hasilnya menunjukkan katalis amobil sedikit lebih aktif daripada analog
homogennya. Katalis heterogen ini menunjukkan tidak ada kehilangan aktivitas yang
signifikan pada uji kemampuan daur ulang. Pusat aktif melepaskan diri dari kompleks
pendukung sehingga dapat digunakan kembali tanpa kehilangan aktivitas yang berarti,
menunjukkan bahwa prosedur penambahan dukungan efektif. PS–ttet–Cu(II)
menunjukkan aktivitas bakterisidal yang efektif terhadap E. Coli dan S. Aureus.

DAFTAR PUSTAKA

M. Nasrollahzadeh, A. Zahraei, A. Ehsani, M. Khalaj. 2014. Synthesis,


characterization, antibacterial and catalytic activity of a nanopolymer supported
copper(II) complex as a highly active and recyclable catalyst for the
formamidation of arylboronic acids under aerobic conditions. RSC Advances.
2014, 4, 20351-20357
http://remotelib.ui.ac.id:2180/en/content/articlepdf/2014/ra/c4ra02052a?page=s
earch
https://application.wiley-vch.de/books/sample/3527331972_c01.pdf diakses 22
Desember 2017 pukul 14:00 WIB
http://www.understandingnano.com/nanoparticles.html diakses 22 Desember 2017
pukul 14:00 WIB
https://www.britannica.com/science/nanoparticle diakses 22 Desember 2017 pukul
14:00 WIB