Anda di halaman 1dari 5

Email Gigi (Enamel)

Menjelang awal minggu ke-6, lapisan epitel mulai tumbuh ke dalam, mula-mula pada
prominentia mandibularis kemudian pada prominentia maxillaris, yaitu sulcus lablogingivalis yang
terpisah dari rahang bawah melalui tonjolan bibir. Pada bagian dalam lipatan ini, terbentuk lamina epitel
yang kontinu (lamina dentalis) yaitu tempat terbentuknya tunas 20 gigi (dental bud) yang kecil dan
berbentuk peluru. Tunas gigi merupakan bakal dari gigi susu. Lamina dentalis akan menghilang, namun
sebelumnya masih membentuk tunas kecil yang berfungsi sebagai tambahan, yaitu bakal gigi permanen.
Tunas gigi ektodermal membesar dan berada di bawah pengaruh induksi ektomesenkim sehingga
terbentuk struktur berbentuk lonceng (papilla dentis). Struktur ini terdiri atas epitel email bagian luar
dan dalam serta retikulum email yang mengisi struktur lonceng tersebut. Keseluruhan struktur tersebut
dinamakan organ email, yang bertanggung jawab dalam pembentukan email dan mahkota gigi. Email
dilapisi oleh sacculus dentis, yaitu penebalan mesenkim disekitarnya.
Sel-sel mesenkim terbentuk di bawah bagian dalam epitel email menjadi barisan sel epitel yang
disebut odontoblas. Mula-mula odontoblas mulai menyerap material yang belum mengalami kalsifikasi
dan mirip tulang (pretedin). Melalui stimulasi, sel-sel bagian dalam epitel email yang terletak
berhadapan mulai membalikkan susunan polarnya dan tersusun seperti pagar (palisade) sehingga
terletak apikal dan mengedapkan material yang keras pada silinder berbentuk kristal bersisi enam dan
saling berdekatan. Silinder yang disebut prisma email ini berada hampir tanpa adanya zat antara antar-
sel yang berdekatan satu sama lain dan tumbuh memanjang melalui proses aposisi dari luar. Oleh karena
itu, sel yang membentuk email terus menjauh dari perbatasan email-dentin sehingga retikulum email
dan epitel email menjadi penopang mahkota yang membesar yang lambat laun saling menekan dan gigi
akan menerobos keluar dan yang tertinggal hanyalah permukaan kulit email (cuticula dentalis).
Epitel Sensorik
Sistem Penghidu
Organ sensorik fungsional yang dominan untuk prosencephalon pada manusia adalah mata.
Namun, pada hewan menyusui purba seperti opossum yaitu sistem penciuman. Opossum merupakan
hewan rodentia yang berkantung. Pada hewan ini sistem penciuman menempati hampir setengah bagian
otak besar. Penciuman berasal dari mukosa hidung yang terbentuk suatu lobus otak yang terpisah yaitu
bulbus olfactorius.
Melalui pembesaran neocortex sistem indra penciuman pada manusia bergeser ke basal dan ke
bagian dalam serta memainkan peranan yang lebih kecil bagi fungsi otak. Korteks limbik merupakan
suatu struktur lengukung yang mengarah pada dalam himisfer, akan terlepas dan mengebangkan
hubungan baru dengan neocortex dan organ sensorik lainnya.
Perpindahan sistem penciuman pada manusia terutama berhubungan dengan organ penglihatan
yang berpindah dari lateral ke medial pada daerah muka sehingga organ penglihatan memperoleh ruang
persepsi baru dan menjadi organ indra yang dominan dengan pusat korteks yang menempati sejumlah
besar bagian neocortex.
Bagian dari fungsi penghidu yang terlibat adalah neuroepitel olfaktorius, bulbus olfaktorius dan
korteks olfaktorius.
A. Neuroepitel olfaktorius
Neuroepitel olfaktorius terdapat di atap rongga hidung, yaitu di konka superior, septum bagian
superior, konka media bagian superior atau di dasar lempeng kribriformis. Neuroepitel olfaktorius
merupakan epitel kolumnar berlapis semu yang berwarna kecoklatan, warna ini disebabkan pigmen
granul coklat pada sitoplasma kompleks golgi.

(Gambar 1) Regio neuroepitel olfaktorius


Sel di neuroepitel olfaktorius ini terdiri dari sel pendukung yang merupakan reseptor
olfaktorius. Terdapat 10-20 juta sel reseptor olfaktorius. Pada ujung dari masing-masing dendrit
terdapat olfactoryrod dan diujungnya terdapat silia. Silia ini menonjol pada permukaan mukus. Sel lain
yang terdapat dineuroepitel olfaktorius ini adalah sel penunjang atau sel sustentakuler. Sel ini berfungsi
sebagai pembatas antara sel reseptor, mengatur komposisi ion lokal mukus dan melindungi epitel
olfaktorius darikerusakan akibat benda asing. Mukus dihasilkan oleh kelenjar Bowman’s yang terdapat
pada bagian basal sel olfaktoris.
(Gambar 2) Membran mukus dari neuroepitelolfaktorius
B. Bulbus olfaktorius
Bulbus olfaktorius berada di dasar fossa anterior dari lobus frontal. Bundel akson saraf
penghidu (fila) berjalan dari rongga hidung dari lempeng kribriformis diteruskan ke bulbus olfaktorius.
Dalam masing-masing fila terdapat 50 sampai 200 akson reseptor penghidu pada usia muda, dan jumlah
akan berkurang dengan bertambahnya usia. Akson dari sel reseptor yang masuk akan bersinap dengan
dendrit dari neuron kedua dalam gromerulus.

(Gambar 4) Perjalanan impuls di bulbus olfaktorius


C. Korteks olfaktorius
Terdapat 3 komponen korteks olfaktorius, yaitu pada korteks frontal merupakan pusat persepsi
terhadap penghidu. Pada area hipotalamus dan amygdala merupakan pusat emosional terhadap odoran,
dan area enthorinal merupakan pusat memori dari odoran.
(Gambar 5) Korteks olfaktorius
Saraf yang berperan dalam sistem penghidu adalah nervus olfaktorius (N I). Filamen saraf
mengandung jutaan akson dari jutaan sel-sel reseptor. Satu jenis odoran mempunyai satu reseptor
tertentu, dengan adanya nervus olfaktoriusita bisa mencium odoran seperti strawberi, apel dan
bermacam odoran lain. Saraf lain yang terdapat di hidung adalah saraf omatosensori trigeminus (N V).
Letak saraf ini tersebar diseluruh mukosa hidung dan kerjanya dipengaruhi rangsangan kimia maupun
nonkimia. Kerja saraf trigeminus tidak sebagai indera penghidu tapi menyebabkan seseorang dapat
merasakan stimuliritasi, rasa terbakar, rasa dingin, rasa geli dan dapat mendeteksi bau yang tajam dari
amoniak atau beberapa jenis asam. Ada anggapan bahwa nervus olfaktorius dan nervus trigeminus
berinteraksi secara fisiologis.
Referensi: Huriyati, Effy., Tuti Nelvia. 2014. Gangguan Fungsi Penghidu dan Pemeriksaannya. Jurnal
Kesehatan Andalas. 3(1): 1-7.

Sistem penglihatan
Bakal mata sudah terbentuk pada otak dean dengan neural tube yang belum tertutup dan
terbentuk suatu alur (sulcus opticus) yang menjorok ke dalam, kemudian tumbuh ke depan sebagai
gelembung kecil setelah terjadinya penutupan neural tube. Ketika mencapai ektoderm, gelembung mata
mulai melekuk seperti cawan. Di ektoderm hampir tidak ada terjadi induksi perkembangan placoda
lentis. Gelembung mata sangat memengaruhi ukuran dan bentuk lensa yang berkembang. Placoda lentis
menelungkup pada gelembung mata yang terpisah dari ektoderm dan terletak di dalam optic cup.
Pada optic cup, lapisan dalam akan menjadi retina dan lapisan luar menjadi epitel pigmen retina.
Di depan, kedua lapisan membentuk kedua lapisan epitel corpuciliare dan iris, serta m.dilatator pupillae
di daerah iris.
Retina merupakan bagian korteks otak yang terdorong ke depan dan berdiferensisasi dengan
cara yang serupa yaitu melalui penyebaran sel-sel dari zona matriks ventrikel yang banyak bermitosis
dan melalui pembentukan lapisan. Oleh karena itu proses invaginasi ke optic cup jadi terbalik dari luar
ke dalam (inversi mata hewan vertebrae), fotoreseptor akan terletak di luar dan sel-sel penghantar
implus saraf tersusun menjadi dua lapisan yang lebih besar di dalam yaitu di bagian dalam optic cup.
Dengan demikian, mirip dengan gelembung telencephalon, timbul masalah proses perkembangan
serabut-serabut proyeksi pada bakal nervus opticus.
Tepi selubung optic cup membatasi pupil. Lapisan jaringan ikat optic cup membentuk stroma
iris dan m.sphincter pupillae di depan, corpus ciliare dengan m.ciliaris di bagian belakng dan akirnya,
koroid.
Pada minggu ke-7, terbentuk dua lipatan kulit yaitu kelopak mata yang sudah melekat satu sama
lain pada minggu ke-8, seperti pada altricial animal. Mula-mula pada bulan ke-7 atau ke-8 perlekatan
menghilang sehingga manusia dilahirkan dengan mata terbuka, meskipun berdasarkan sudut pandang
perkembangan belum memiliki kemampuan untuk hidup mandiri.
Pada kebanyakan mamalia, mata terletak jauh di lateral, namun kemudian berpindah ke depan
pad aregio muka. Jumlah serabut optik yang tidak bersilangan dan menyebabkan pertambahan besar
daerah muka binokuler. Oleh sebab itu, manusia mencapai pengalaman ruang yang unik dalam berbagai
sudut pandang dan bersama dengan perkembangan yang pesat pada korteks serebri, sebagai individu
dapat menjaga jarak dari lingkungan.