Anda di halaman 1dari 92

PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI SEKTOR PETERNAKAN

DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

SKRIPSI
FAHMI ISMAIL

PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN

FAHMI ISMAIL. D34104082. 2008. Peranan dan Dampak Investasi Sektor


Peternakan dalam Perekonomian Indonesia. Skripsi. Program Studi Sosial
Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing utama : Ir. Dewi Ulfah Wardani, MS.


Pembimbing anggota : Ir. Dwi Joko Setyono, MS.

Sektor peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian yang menjadi


prioritas utama untuk dikembangkan dalam program Revitalisasi Pertanian,
Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) karena dinilai memiliki potensi yang baik. Salah
satu cara untuk mengembangkan potensi sektor peternakan di Indonesia adalah
dengan mengakselerasi peningkatan produksi dan nilai tambah usaha peternakan
melalui investasi.
Tujuan penelitian ini adalah: 1) menganalisis besarnya peranan sektor
peternakan terhadap perekonomian Indonesia dalam pembentukan struktur
permintaan dan penawaran, konsumsi, investasi, ekspor dan impor, nilai tambah dan
output sektoral, 2) menganalisis besarnya keterkaitan ke depan dan ke belakang
sektor peternakan dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia, 3) menganalisis posisi
sektor peternakan dalam penetapan sektor prioritas berdasarkan empat kelompok
sektor, dan 4) menganalisis besarnya dampak investasi karena program RPPK yang
ditimbulkan oleh sektor peternakan terhadap pembentukan nilai output, nilai tambah,
pendapatan, dan kesempatan kerja dalam perekonomian Indonesia.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2007 sampai Februari 2008.
Data yang digunakan adalah data sekunder berupa tabel Input-Output tahun 2005
klasifikasi 66 sektor dalam bentuk Tabel Transaksi Domestik Atas Dasar Harga
Produsen, kemudian diagregasi menjadi 18 sektor yang berkaitan dengan sektor
peternakan lalu diolah menggunakan software PyIO dan Microsoft Excell.
Berdasarkan hasil analisis tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 tentang
peranan dan dampak investasi sektor peternakan dalam perekonomian Indonesia
dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) peranan sektor peternakan yang terdiri dari
(ternak potong, ternak perah, ternak lainnya, pemotongan hewan dan ternak unggas)
secara total dalam perekonomian Indonesia adalah relatif kecil. Peranan sektor
peternakan yang terbesar adalah dalam struktur konsumsi rumah tangga, yaitu
sebesar 3,42 persen. Peranan sektor peternakan yang kecil adalah dalam struktur
investasi, yaitu investasi negatif sebesar Rp 2,04 triliun dan pada struktur ekspor dan
impor, yaitu mengalami defisit perdagangan Internasional sebesar Rp 1,74 triliun.
Sektor peternakan meskipun peranannya relatif kecil tetapi mempunyai rasio antar
upah dan surplus usaha (U/S) cukup bagus, yaitu pada ternak lainnya (0,90) dan
peternakan unggas (0,80), 2) sektor ternak potong memiliki nilai keterkaitan ke
depan terbesar dan belakang terkecil (langsung dan tidak langsung), pemotongan
hewan memiliki nilai keterkitan ke belakang terbesar, ternak lainnya memiliki nilai
keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang (langsung) terkecil, 3) hasil
penetapan sektor prioritas berdasarkan empat kelompok sektor, maka pemotongan
hewan dan peternakan unggas termasuk dalam kelompok sektor prioritas ke dua,
sedangkan ternak potong, ternak perah dan ternak lainnya termasuk kelompok sektor
prioritas terakhir/keempat, 4) Investasi sebesar Rp 51,3 triliun dalam program RPPK,
akan menambah output total diseluruh sektor perekonomian sebesar Rp 80,57 triliun
atau 1,42 persen, nilai tambah bruto sebesar Rp 48,39 triliun atau 1,68 persen,
pendapatan sebesar Rp 15,19 triiun atau 1,72 persen, dan mengurangi jumlah
pengangguran sebanyak 2,72 juta orang atau 22,87 persen.
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa saran,
yaitu: 1) untuk penelitian selanjutnya diharapkan adanya penelitian mengenai faktor-
faktor yang mempengaruhi kecilnya peranan sektor peternakan dalam perekonomian
Indonesia terutama dari sisi mikro, 2) investasi yang kecil pada sektor peternakan
terutama pada komponen pembentukan modal tetap harus segera diatasi karena akan
menyebabkan pengurasan populasi ternak, 3) sektor peternakan mempunyai rasio
upah dan gaji dengan surplus usaha (U/S) yang cukup bagus yaitu: pada ternak
lainnya dan ternak unggas, sehingga untuk penelitian lebih lanjut dapat melakukan
penelitian yang lebih aplikatif mengenai hubungan antara upah dan gaji dengan
surplus usaha yang berguna sebagai pertimbangan dalam dunia investasi.

Kata-kata kunci: sektor peternakan, revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan


(RPPK), investasi
ABSTRACT

The Role and Impact of Investment Livestock Sector in Indonesia’s Economy


Ismail, F., D.U. Wardani, and D.J. Setyono
The aims of this research were: 1) to analyze the role of livestock sector in
Indonesia’s economy in terms of demand and supply, consumption, investment,
export and import, value added, and sectoral output structure, 2) to analyze forward
and backward linkage livestock sector with the others sector, 3) to analyze position
of livestock sectors in determining sector priority based on four category sector, and
4) to analyze the impact of livestock sector investment cause Revitalization of
Agriculture, Fishery, and Forestry (RAFF) program in terms of output, value added,
income, and employment opportunity. This research was carried out from August,
2007–February, 2008. The data used for this research are the 66 sector classification
for the Indonesian Input-Output table 2005 from Badan Pusat Statistik (BPS) Jakarta.
The data were analyzed by PyIO and Microsoft Excell. Result of this research were:
1) the role of livestock sector in Indonesia’s economy is low. The biggest role is in
terms of household consumption (3,42%), 2) the livestock sector have the largest
value of direct as long as direct and undirect forward linkage is beef-cattle sector,
whereas the livestock sector have the largest value of direct as long as direct and
undirect backward linkage is slaughtering animal sector, 3) slaughtering animal and
poultry husbandry sector belonging to second priority sector category, whereas beef-
cattle, dairy-cattle, and other’s livestock sector belonging to fourth priority sector
category, and 4) the impact of livestock sector investment cause RAFF program is
increasing total output 1,42 percent, total value added 1,68 percent, income 1,72
percent, and decreasing total employment 22,87 percent.

Keywords: livestock sector, revitalization of Agriculture, fishery, and forestry


(RAFF), investment
PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI SEKTOR PETERNAKAN
DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

FAHMI ISMAIL
D34104082

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk


memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI SOSIAL EKONOMI PETERNAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PERANAN DAN DAMPAK INVESTASI SEKTOR PETERNAKAN
DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA

Oleh
FAHMI ISMAIL
D34104082

Skripsi ini telah disetujui dan disidangkan di hadapan


Komisi Ujian Lisan pada tanggal
14 April 2008

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

Ir. Dewi Ulfah Wardhani, MS Ir. Dwi Joko Setyono, MS


NIP. 131 878 941 NIP. 131 849 391

Dekan Fakultas Peternakan


Institut Pertanian Bogor

Dr. Ir. Luki Abdullah, M. Sc.,Agr


NIP. 131 955 531
RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Fahmi Ismail lahir di Sukabumi, 29 April 1986. Penulis


merupakan anak kedua dari pasangan Ujang Sutandi dan Ade Sumarni. Pendidikan
yang ditempuh penulis dari tahun 1993–1998 di Sekolah Dasar Negeri Cisaat Gadis,
Sukabumi. Penulis kemudian melanjutkan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Negeri 1 Cisaat, Sukabumi pada tahun 1998 –2001. Selanjutnya penulis melanjutkan
studinya di Sekolah Menengah Umum Negeri 3 Sukabumi pada tahun 2001–2004.
Penulis diterima sebagai mahasiswa pada Departemen Sosial Ekonomi
Industri Peternakan, Fakultas peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2004
melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Tahun 2005, penulis
masuk minat Ekonomi dan Perencanaan. Penulis pernah mendapatkan penghargaan
sebagi finalis dalam The Meat Livestock Australia (MLA) Project Proposal
Competition ”Read Meat Feel Good” tahun 2006. Selama mengikuti pendidikan,
penulis aktif dalam kegiatan organisasi Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi
Industri Peternakan di Departemen Ilmu dan Keprofesian (Ilprof) pada tahun 2005 –
2006 dan di Departemen Informasi dan Teknologi (IT) pada tahun 2006-2007.
Penulis juga aktif dalam beberapa kepanitiaan seperti kepanitiaan Pelatihan Desain
Grafis pada tahun 2005, Bulan Bakti Peternakan pada tahun 2005, LCT SEIP
(Lomba Cepat Tepat Sosial Ekonomi Industri Peternakan) pada tahun 2005,
Koordinator Kesekretariatan LCT SEIP (Lomba Cepat Tepat Sosial Ekonomi
Industri Peternakan) pada tahun 2006, Ketua panitia Pelatihan SPSS 13 tahun 2007,
Seip goes to Bali pada tahun 2007, Seminar Kredit UMKM tahun 2007.
KATA PENGANTAR

Bismillaahirrahmanirrahiim,
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat
dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelasaikan skripsi ini. Skripsi yang
berjudul Peranan dan Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam
Perekonomian Indonesia, merupakan salah satu syarat untuk gelar Sarjana
Peternakan pada Program Studi Sosial Ekonomi Peternakan, Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor.
Sektor peternakan merupakan salah satu sektor yang sangat berperan vital
dalam perekonomian nasional karena sektor ini berkaitan erat dengan kebutuhan
dasar manusia, yaitu kebutuhan manusia akan protein hewani. Perencanaan
pembangunan sektor peternakan membutuhkan analisis data-data awal, tetapi
ketersediaan data-data awal tersebut sangatlah terbatas didapat dari sektor peternakan
sehingga dengan penelitian ini diharapkan ketersedian data-data awal tersebut dapat
terpenuhi.
Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan semua pihak. Untuk itu,
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu dalam penyusunan proposal, pelaksanan survei, penelitian dan
penulisan skripsi. Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, karena itu
penulis mengharapkan saran dan masukan yang membangun untuk perbaikan skripsi
ini di masa yang akan datang. Penulis berharap mudah-mudahan skripsi ini dapat
bermanfaat. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Amin.

Bogor, April 2008

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ........................................................................................... i
ABSTRACT .............................................................................................. ii
RIWAYAT HIDUP .................................................................................. v
KATA PENGANTAR .............................................................................. vi
DAFTAR ISI ............................................................................................ vii
DAFTAR TABEL .................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................ xi
PENDAHULUAN ................................................................................... 1
Latar Belakang............................................................................................ 1
Rumusan Masalah....................................................................................... 2
Tujuan Penelitian ........................................................................................ 3
Kegunaan Penelitian ................................................................................... 3
KERANGKA PEMIKIRAN .................................................................... 4
TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 7
Sektor Peternakan dalam Pembangunan ..................................................... 7
Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Peternakan (RPPK) ........................ 8
Tabel Input-Output ..................................................................................... 10
Pengertian Tabel Input-Output ................................................................... 10
Struktur Tabel Input-Output ....................................................................... 13
Analisis Input-Output ................................................................................. 17
Analisis Keterkaitan .................................................................................... 17
Analisis Dampak Penyebaran ..................................................................... 17
METODE PENELITIAN ......................................................................... 19
Waktu Penelitian ........................................................................................ 19
Data dan Instrumentasi ................................................................................ 19
Metode Analisis .......................................................................................... 19
Analisis Keterkaitan ................................................................................... 20
Analisis Dampak Penyebaran .................................................................... 22
Analisis Penetapan Sektor Prioritas ........................................................... 23
Analisis Dampak Investasi ......................................................................... 24
Definisi Istilah ............................................................................................ 24
GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN EKONOMI
PETERNAKAN DI INDONESIA ......................................................... 27
Periode Penjajahan ...................................................................................... 27
Periode Awal Kemerdekaan ....................................................................... 28
Periode Pelita I-IV ..................................................................................... 29
Periode Pelita V-VI...................................................................................... 32
Periode Pasca Pelita (2000-2005) ............................................................... 34
HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................. 35
Peranan Sektor Peternakan terhadap Struktur Perekonomian Indonesia..... 35
Struktur Permintaan dan Penawaran ................................................. 35
Struktur Konsumsi Rumah Tangga ................................................... 36
Struktur Investasi .............................................................................. 38
Struktur Ekspor dan Impor ............................................................... 40
Struktur Nilai Tambah Bruto ............................................................ 42
Struktur Output Sektoral ................................................................... 46
Analisis Keterkaitan ................................................................................... 47
Keterkaitan ke Depan ........................................................................ 47
Keterkaitan ke Belakang ................................................................... 50
Analisis Penetapan Sektor Prioritas ........................................................... 52
Koefisien Penyebaran ....................................................................... 53
Kepekaan Penyebaran ....................................................................... 54
Penetapan Sektor Prioritas ................................................................ 54
Investasi Sektor Peternakan dalam Program RPPK .................................. 56
Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Perekonomian
Indonesia............................................................................................. 58
Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Nilai Output.............. 58
Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Nilai Tambah............ 60
Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Pendapatan ............... 61
Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Penyerapan Tenaga
Kerja ............................................................................................... 62
KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................. 64
UCAPAN TERIMAKASIH ..................................................................... 66
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 67
LAMPIRAN ............................................................................................... 69
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman
1. Ilustrasi Tabel Input-Output............................................................. 14
2. Kriteria Penentuan Peringkat Prioritas Sektor Kunci ...................... 23
3. Populasi dan Pertumbuhan Ternak di Indonesia Tahun 1970-
1975 ................................................................................................. 29
4. Produksi dan Pertumbuhan Komoditi Peternakan Tahun 1970-
2005 ................................................................................................. 30
5. Konsumsi Perkapita Komoditi Peternakan Tahun 1970-2005 ........ 30
6. Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1971-2000 Atas Dasar
Harga Konstan Tahun 1993 (Rp Milyar)........................................ 31
7. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1971-
2000 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 1993 (%/tahun) ................ 31
8. Struktur Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-Sektor
Perekonomian Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah) .................. 35
9. Struktur Konsumsi Rumah Tangga dan Konsumsi Pemerintah
Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2005 (Triliun
Rupiah)............................................................................................ 37
10. Struktur Investasi Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun
2005 (Triliun Rupiah) ...................................................................... 39
11. Struktur Ekspor dan Impor Sektor-Sektor Perekonomian
Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah) .......................................... 40
12. Struktur Nilai Tambah Bruto Sektor-Sektor Perekonomian
Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah) .......................................... 45
13. Peringkat Output Domestik Sektor-Sektor Perekonomian
Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah) ......................................... 46
14. Keterkaitan ke Depan dan ke Belakang Sektor-Sektor
Perekonomian di Indonesia Tahun 2005 (Persen) ........................... 48
15. Keterkaitan Ke Depan Langsung Serta Langsung dan Tidak
Langsung Sektor Peternakan dalam Perekonomian Indonesia
Tahun 2005 ...................................................................................... 49
16. Keterkaitan Ke Belakang Langsung Serta Langsung dan Tidak
Langsung Sektor peternakan dalam Perekonomian Indonesia
Tahun 2005 ...................................................................................... 51
17. Indeks Pengembangan Peringkat Prioritas Sektor Kunci Sektor-
Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2005 .................................. 55
18. Perkiraan Proporsi Kebutuhan Investasi Tiga Komoditas
Peternakan Unggulan Tahun 2005-2010 (Triliun Rupiah) .............. 58
19. Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Program RPPK
terhadap Pembentukan Output di Indonesia (Triliun Rupiah)......... 59
20. Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Program RPPK
terhadap Pembentukan Nilai Tambah di Indonesia (Triliun
Rupiah)............................................................................................. 60
21. Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Program RPPK
terhadap Pembentukan Pendapatan di Indonesia (Triliun Rupiah) . 61
22. Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Program RPPK
terhadap Penyerapan Tenaga Kerja di Indonesia (Orang) ............... 63
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman
1. Agregasi 17 Sektor Tabel Input-Ouput Indonesia Tahun 2005....... 70
2. Klasifikasi 20 Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005... 72
3. Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005 Klasifikasi 20 Sektor... 73
4. Matrik Koefisien Teknis Klasifikasi 20 Sektor ............................... 75
5. Matrik Kebalikan Leontief Terbuka Klasifikasi 20 Sektor ............. 77
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia yang dikaruniai
Tuhan dengan kekayaan alam yang berlimpah berupa alam yang subur dan kaya akan
daratan seluas 2 juta km2 dan laut seluas 5,8 juta km2 yang terbentang sepanjang
8.000 km di khatulistiwa. Indonesia berpotensi menjadi produsen bahan pangan di
dunia karena memiliki kondisi alam yang subur dan agroklimat yang baik.
Sebagai negara agraris, maka pertanian harus menjadi prioritas utama dalam
perekonomian nasional. Hal ini sesuai dengan program Revitalisasi Pertanian,
Perikanan dan Kehutanan (RPPK), yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005. Program ini dilatarbelakangi oleh fakta
empiris, bahwa sektor pertanian masih tetap berperan vital dalam mewujudkan tujuan
nasional untuk memajukan kesejahteraan umum, namun vitalitas kinerjanya kini
cenderung mengalami degradasi sehingga timbul kesadaran untuk menempatkan
kembali arti penting pertanian dalam perekonomian nasional.
Melalui program RPPK sektor pertanian beserta sub-subsektornya harus
menjadi prioritas utama untuk dikembangkan terutama yang memiliki potensi. Sektor
peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian yang memiliki potensi untuk
dikembangkan.
Sektor peternakan di Indonesia mempunyai potensi yang sangat baik untuk
dikembangkan. Ditinjau dari kekayaan sumberdaya alam dan daya dukung ekosistem
yang sangat besar, Indonesia sangat berpotensi untuk dapat menghasilkan produk dan
jasa peternakan secara meluas seperti bahan pangan dan pakan, farmasi, bioenergi,
kosmetika, agrowisata, estetika, dan sebagainya.
Pengembangan potensi sektor peternakan di Indonesia salah satunya dengan
cara mengakselerasi peningkatan produksi dan nilai tambah usaha peternakan. Faktor
kunci untuk dapat mengakselerasi sektor peternakan adalah peningkatan dan
perluasan kapasitas produksi yang bisa diwujudkan melalui investasi. Pada intinya,
investasi adalah modal yang digunakan untuk meningkatkan atau memfasilitasi
peningkatan kapasitas produksi.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu suatu penelitian yang
mendalam mengenai besarnya peranan dan dampak investasi sektor peternakan
dalam perekonomian Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
bahan informasi untuk pengembangan sektor peternakan di Indonesia.

Rumusan Masalah
Mengingat sektor peternakan merupakan salah satu sektor ekonomi yang
berpotensi dan memiliki prospek yang baik, maka pemerintahan Indonesia yang
dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam program RPPK
menjadikan sektor peternakan sebagai salah satu sektor ekonomi yang menjadi
prioritas untuk dikembangkan. Sektor ini juga diharapkan dapat memajukan sektor
peternakan itu sendiri maupun sektor-sektor lainnya dan pada akhirnya dapat
berperan lebih besar lagi dalam perekonomian nasional.
Perencanaan pembangunan sektor peternakan memerlukan analisis data-data
awal. Ketersediaan data-data awal tersebut sangatlah terbatas sehingga dalam
penelitian ini diharapkan dapat diperoleh data-data awal mengenai peranan sektor
peternakan diantara sektor-sektor lainnya dalam perekonomian nasional. Beberapa
masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah:
1. Berapa besar peranan sektor peternakan terhadap perekonomian Indonesia dalam
pembentukan struktur permintaan dan penawaran, konsumsi, investasi, ekspor dan
impor, nilai tambah dan output sektoral?
2. Berapa besar keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang sektor peternakan
dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia?
3. Dimanakah posisi sektor peternakan dalam penetapan sektor prioritas berdasarkan
empat kelompok sektor?
4. Berapa besar dampak investasi karena program RPPK yang ditimbulkan oleh
sektor peternakan terhadap pembentukan output, nilai tambah, pendapatan, dan
kesempatan kerja dalam perekonomian Indonesia?

Tujuan
1. Menganalisis besarnya peranan sektor peternakan terhadap perekonomian
Indonesia dalam pembentukan struktur permintaan dan penawaran, konsumsi,
investasi, ekspor dan impor, nilai tambah dan output sektoral.
2. Menganalisis besarnya keterkaitan ke depan dan keterkaitan ke belakang sektor
peternakan dengan sektor-sektor lainnya di Indonesia.
3. Menganalisis posisi sektor peternakan dalam penetapan sektor prioritas
berdasarkan empat kelompok sektor.
4. Menganalisis besarnya dampak investasi karena program RPPK yang ditimbulkan
oleh sektor peternakan terhadap pembentukan output, nilai tambah, pendapatan,
dan kesempatan kerja dalam perekonomian Indonesia.

Kegunaan Penelitian
1. Diharapkan bagi penulis untuk menambah pengetahuan tentang peranan dan
dampak investasi sektor peternakan dalam perekonomian Indonesia.
2. Diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam merencanakan arah
pembangunan sektor peternakan di Indonesia.
3. Sebagai acuan atau rujukan untuk penelitian selanjutnya.
KERANGKA PEMIKIRAN

Perekonomian nasional Indonesia yang didasarkan pada pendekatan sektoral,


terdiri dari bermacam-macam sektor. Struktur perekonomian Indonesia pada tabel
Input-Output diklasifikasikan menjadi 175 sektor, 66 sektor, dan yang terkecil
sembilan sektor. Dalam penelitian ini untuk mengetahui peranan sektor peternakan
dalam perekonomian Indonesia, dapat dianalisis dengan menggunakan tabel Input-
Output tahun 2005 klasifikasi 66 sektor, yang kemudian diagregasi menjadi 20 sektor
dengan mempertimbangkan sektor yang sejenis dan sektor yang akan diteliti lebih
lanjut, khususnya bagi sektor yang memiliki keterkaitan dengan sektor peternakan.
Sektor-sektor yang terdapat dalam tabel Input-Ouput Indonesia tahun 2005
klasifikasi 20 sektor secara umum terdiri dari sektor pertanian lainnya (sektor
tanaman pangan, perkebunan, perikanan, dan kehutanan), sektor–sektor lainnya
(seperti: sektor industri dan jasa), dan sektor peternakan yang menjadi fokus
penelitian (Lampiran 1).
Berdasarkan kegiatan budidaya peternakan, maka sektor peternakan dalam
tabel Input-Output tahun 2005 klasifikasi 20 sektor dibagi atas lima sektor, yaitu: 1)
sektor ternak dan hasil-hasilnya kecuali susu segar yang diperjelas menjadi sektor
ternak potong, 2) sektor susu segar yang diperjelas menjadi sektor ternak perah, 3)
sektor unggas dan hasil-hasilnya yang diperjelas menjadi sektor ternak unggas, 4)
sektor pemotongan hewan, dan 5) sektor hasil pemeliharaan hewan lainnya yang
diperjelas menjadi sektor ternak lainnya.
Hasil dari analisis dengan menggunakan tabel Input-Output, akan didapatkan
seberapa besar peranan sektor peternakan dalam struktur perekonomian Indonesia
dan pengaruhnya terhadap sektor-sektor lain melalui analisis keterkaitan dan analisis
dampak penyebaran. Melalui analisis dampak penyebaran, dapat diketahui juga
posisi sektor peternakan dalam penetapan sektor prioritas berdasarkan empat
kelompok sektor.
Peranan sektor peternakan dalam perekonomian nasional perlu ditingkatkan
melalui investasi, salah satunya investasi dalam program RPPK. Investasi sektor
peternakan dalam program RPPK dengan menggunakan analisis Input-Output.
Analisis ini dapat melihat seberapa besar dampak pada peningkatan produktivitas
yang berimplikasi pada peningkatan produksi output, nilai tambah, pendapatan, dan
kesempatan kerja pada sektor peternakan itu sendiri maupun kepada sektor-sektor
perekonomian lainnya.
Berdasarkan hasil yang didapat dari analisis Input-Output tersebut, maka
dapat diketahui peranan dan dampak investasi sektor peternakan dalam
perekonomian Indonesia. Kerangka pemikiran penelitian ini dapat dilihat pada
Gambar 1.
Perekonomian Nasional

Sektor Pertanian Sektor-Sektor


Lainnya Sektor Peternakan Lainnya

Ternak Ternak Ternak Pemotongan Ternak


Potong Perah Lainnya Hewan Unggas

Analisis Input-Output
(Tabel Input-Output Tahun 2005, Klasifikasi 66 Sektor
dengan Agregasi 20 Sektor)
- Output, nilai tambah, pendapatan, tenaga kerja
- Analisis keterkaitan
- Analisis dampak penyebaran (analisis penetapan sektor
Prioritas)

Investasi Sektor
Peternakan dalam
Program RPPK

Peranan dan Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Perekonomian Indonesia

Gambar 1. Alur Kerangka Pemikiran Penilitian


Keterangan:
= metode analisis

= fokus penelitian

= ruang lingkup analisis Input-Output


TINJAUAN PUSTAKA

Sektor Peternakan dalam Pembangunan


Ternak adalah hewan yang dipelihara manusia dengan sengaja untuk
mendapatkan hasil dari tubuhnya (Nasoetion, 2004). Peternakan adalah subsektor
pertanian yang kegiatannya meliputi kegiatan pemeliharaan/pembibitan,
pengembangbiakan, dan pemungutan hasil tenak (Badan Pusat Statistik, 2003).
Agribisnis berbasis peternakan (sektor peternakan) mempunyai keunggulan
dibandingkan dengan sektor lainnya. Menurut Saragih (2001) keunggulannya adalah
1) kegiatan peternakan, khususnya subsistem budidaya, relatif bersifat tidak
bergantung pada ketersediaan lahan dan tidak terlalu menuntut kualitas tenaga kerja
yang tinggi, 2) kegiatan budidaya peternakan memiliki kelenturan bisnis dan
teknologi yang luas dan luwes. Kelenturan bisnis yang luas yang dimaksud adalah
bahwa ternak yang dipelihara dapat dijual pada umur berapa saja dan pasarnya telah
tersedia, 3) produk yang dihasilkan oleh agribisnis berbasis peternakan merupakan
produk yang memiliki nilai elastisitas terhadap perubahan pendapatan yang tinggi,
artinya konsumsi akan meningkat bila pendapatan meningkat, 4) sifat permintaan
produk peternakan yang memiliki nilai elastisitas permintaan terhadap perubahan
pendapatan yang tinggi dan kegiatan peternakan yang dilihat sebagai suatu sistem
agribisnis, akan mampu menciptakan kesempatan kerja, kesempatan berusaha dan
peningkatan pendapatan, mulai pada agribisnis hulu, budidaya, agribisnis hilir dan
peningkatan jasa terkait seperti transportasi, perbankan, dan lain-lain, dan 5)
memiliki pangsa pasar yang luas di kawasan nasional (seperti DKI Jakarta) bahkan di
kawasan Internasional (seperti: ASEAN, Asia Timur, Timur Tengah, Afrika, dan
kawasan lainnya).
Menurut Saragih (2001) salah satu subsektor pertanian (peternakan) yang
paling berprestasi dalam pembangunan nasional adalah sektor peternakan unggas dan
hampir tidak ada subsektor pertanian lainnya yang hampir menyamai prestasinya.
Hal ini terjadi pada awal tahun 1960-an, sektor peternakan unggas skala usahanya
masih bersifat budidaya skala keluarga (backyard poultry farming), tetapi hanya
dalam tempo kurang dari 25 tahun mampu melakukan pendalaman struktur ke
industri yang lebih hulu maupun ke industri hilirnya. Menurut hasil penelitian Ikhsan
(2005) yang mengadakan penelitian mengenai peranan sektor peternakan unggas dan
dampak flu burung terhadap perekonomian di Indonesia pada tahun 2000,
menjelaskan bahwa peran sektor peternakan unggas jika dilihat dari struktur
permintaan output dan permintaan akhir masih rendah. Hal ini terjadi karena sektor
peternakan unggas hanya berkontribusi sebesar 1,32 persen dari keselurahan sektor-
sektor perekonomian di Indonesia, tetapi jika dilihat dari nilai multiplier, sektor
peternakan unggas memiliki peranan yang cukup baik dalam peningkatan output,
pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja.
Peranan sektor pertanian (termasuk di dalamnya sektor peternakan) dalam
pembangunan ekonomi menurut Mardianto (2001) adalah: 1) penyedia kebutuhan
pangan masyarakat atau penduduk suatu negara, 2) penghasil devisa yang cukup
besar bagi sebagian besar negara berkembang, 3) sebagai pendorong tumbuhnya
sektor industri melalui keterkaitan permintaan yang semakin meningkat, dan 4)
memperbaiki kesejahteraan masyarakat pedesaan. Menurut Sudaryanto et al., (2002)
sektor peternakan memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia dalam
bentuk kontribusi GDP (Gross Domestic Product), penyumbang kesempatan kerja,
sumber pendapatan, perolehan devisa, dan sumber pangan hewani bagi penduduk.
Saragih (2001) mengatakan sesuai dengan tujuan peternakan pada Pelita VI maka
peranan sektor peternakan harus diarahkan untuk meningkatkan pendapatan petani
peternak, mendorong diversifikasi pangan, perbaikan mutu gizi masyarakat, dan
mengembangkan ekspor.

Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK)


Kabinet Indonesia bersatu telah menetapkan program pembangunannya
dengan menggunakan strategi tiga jalur (triple track strategy) yang berazas pro-
gowth, pro-employment, dan pro-poor. Operasionalisasi konsep strategi tiga jalur
tersebut dirancang melalui: 1) peningkatan pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 persen
per tahun melalui percepatan investasi dan ekspor, 2) pembenahan sektor riil untuk
mampu menyerap tambahan angkatan kerja dan menciptakan lapangan kerja baru,
dan 3) revitalisasi sektor pertanian dan perdesaan untuk berkontribusi pada
pengentasan kemiskinan (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2005).
RPPK pada awalnya hanya akan digunakan istilah “revitalisasi pertanian”
dengan pemahaman akan “pertanian dalam arti luas” yang juga mencakup perikanan
dan kehutanan. Namun guna mengakomodasi kondisi aktual pengelolaan
pembangunan yang kenyataannya memang menggunakan pendekatan sektoral,
dimana sektor perikanan dan sektor kehutanan berbeda dengan sektor pertanian maka
digunakan istilah Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Dengan
menggunakan istilah tersebut maka RPPK mencakup pertanian dalam arti luas,
termasuk peternakan, perkebunan, hortikultura, dan tanaman pangan. Perikanan,
termasuk perikanan tangkap dan budidaya. Kehutanan, termasuk kayu dan non kayu.
RPPK juga mencakup semua kegiatan hulu-hilir: lahan, air, bibit, pembiayaan, alat
dan mesin budidaya, industri, distribusi, eceran, dan sebagainya; serta semua pelaku,
seperti petani, peternak, nelayan, pekebun, petambak, pembudi-daya ikan, petani
hutan, pengusaha dan perusahaan agribisnis, BUMN, koperasi, perbankan,
universitas, asosiasi dan sebagainya (Krisnamurthi, 2006).
RPPK merupakan pernyataan politik pemerintah yang dicanangkan oleh
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa
Barat yang dilatarbelakangi oleh fakta empiris bahwa sektor pertanian masih tetap
berperan vital dalam mewujudkan tujuan nasional untuk memajukan kesejahteraan
umum, namun vitalitas kinerjanya kini cenderung mengalami degradasi sehingga
perlu direvitalisasi secara sungguh-sungguh sehingga muncul kesadaran mengenai
pentingnya pertanian bagi kehidupan seluruh rakyat dan bangsa Indonesia.
Kesadaran bahwa Indonesia justru akan menjadi negara besar jika mampu
mendayagunakan pertaniannya (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,
2005).
RPPK dapat diartikan sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti
penting pertanian, perikanan dan kehutanan secara proposional dan kontekstual.
RPPK juga diartikan untuk menyegarkan kembali “vitalitas’’ pertanian, perikanan,
dan kehutanan, memberdayakan kemampuannya, dan meningkatkan kinerjanya
dalam pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain. Kedua arti
”revitalisasi” tersebut bersifat saling mempengaruhi, saling tergantung, dan harus
dapat dikembangkan secara seimbang.
Dalam rangka menempatkan kembali arti penting pertanian, perikanan, dan
kehutanan secara proposional dan kontekstual, maka ditawarkan tiga aspek
revitalisasi yaitu:
1. Revitalisasi Ideologis dan Politis
RPPK harus dimulai dengan kesadaran ideologis bahwa demi kemanusiaan,
keadilan, dan kerakyatan, serta kedaulatan maka pertanian, perikanan, dan
kehutanan harus dipentingkan. Hal ini sekaligus juga menegaskan bahwa
pertanian, perikanan, dan kehutanan memang bukan hanya komoditi atau produk
yang harus tunduk pada mekanisme pasar. Oleh karenanya, sesuatu yang obyektif
dan logis apabila pertanian, perikanan, dan kehutanan memiliki posisi politik yang
kuat.
2. Revitalisasi Output dan Outcome
Dalam agribisnis terminologi produk yang dipergunakan telah bergeser
menjadi lebih berorientasi pada pandangan konsumen. Pengkategorian output
pertanian, perikanan, dan kehutanan telah berubah menjadi: 1) pangan dan pakan,
2) biofarmaka, 3) bioenergi, 4) serat, dan 5) wisata dan estetika.
3. Revitalisasi Ekonomi
Pandangan pertanian, perikanan dan kehutanan dalam perekonomian yang
ditempatkan dalam posisi “melayani” industri harus dirubah kepada posisi semula
yaitu hubungan pertanian, perikanan, dan kehutanan dengan industri bersifat
saling terkait dan saling ketergantungan. Demikian juga dengan pandangan dalam
perekonomian Indonesia, dimana kemajuan terjadi jika ada transformasi dari
pertanian menuju industri dan jasa perlu dikoreksi agar tidak diartikan
meninggalkan pertanian, tetapi justru membangun keterkaitan pertanian-industri-
jasa yang lebih sinergis.
Ketiga bentuk revitalisasi tersebut telah memberikan argumentasi yang sangat
tegas mengenai peran pertanian, perikanan, dan kehutanan yang penting, strategis,
dan terhormat (Krisnamurthi, 2006).

Tabel Input-Output

Pengertian Tabel Input-Output


Input-Output adalah suatu model yang dapat digunakan untuk melihat
hubungan antar sektor dengan sektor lain, dalam perekonomian model Input-Output
ini pertama kali ditemukan oleh Francois Quesnay pendiri mahzab Physiochart pada
abad 18 dalam teori distribusinya yang disebut Tableu Economique (Budiharsono,
2001). Model ini pertama kali dikembangkan oleh Wasilly Leontief pada tahun
1930-an, idenya sangat sederhana namun mampu menjadi salah satu alat analisis
yang ampuh dalam melihat hubungan antar sektor dalam suatu perekonomian
(Nazzara, 2005). Konsep dasar yang dikembangkan oleh Leontief adalah: 1) struktur
perekonomian tersusun dari berbagai sektor yang satu sama lain berinteraksi melalui
transaksi jual beli, 2) output suatu sektor dijual kepada sektor-sektor lainnya dan
untuk memenuhi permintaan akhir, 3) input suatu sektor dibeli dari sektor-sektor
lainnya, rumah tangga (dalam bentuk jasa tenaga kerja), dan pemerintah (misalnya
pembayaran pajak tidak langsung, penyusutan, surplus usaha, serta impor), 4)
hubungan input dengan output bersyarat linier, 5) dalam satu kurun waktu analisis
(biasanya satu tahun) total input sama dengan total output, dan 6) suatu sektor terdiri
dari satu atau beberapa perusahaan dan output tersebut diproduksikan oleh satu
teknologi.
Model Input-Output memiliki beberapa kegunaan, diantaranya: 1) dapat
mengestimasi ketergantungan struktural antara berbagai sektor yang menyusun
perekonomian suatu wilayah secara konsisten, 2) mampu meramalkan dampak
langsung ataupun tidak langsung dari kegiatan ekonomi yang direncanakan, dan 3)
mampu secara konsisten meramalkan kecenderungan pertumbuhan perekonomian
sekurang-kurangnya untuk kurun waktu 3 sampai 5 tahun (Budiharsono, 2001).
Pengertian tabel Input-Output adalah uraian statistik dalam bentuk matriks
yang menggambarkan transaksi barang dan jasa antar berbagai sektor ekonomi dalam
waktu tertentu. Isian sepanjang baris Tabel Input-Output menunjukkan
pengalokasian output yang dihasilkan oleh suatu sektor untuk memenuhi permintaan
antara dan permintaan akhir. Disamping itu, isian sepanjang kolom menunjukkan
komposisi penciptaan nilai tambah sektoral dan struktur input yang digunakan oleh
masing-masing sektor (Badan Pusat Statistik, 2000).
Tabel Input-Output Indonesia dibuat oleh BPS dan pertama kali diterbitkan
tahun 1976 untuk tabel Input-Output 1971. Tabel Input-Output lainnya yang telah
dihasilkan adalah tabel Input-Output untuk tahun 1975, 1980, 1985, 1990, 2000,
2003, dan 2005. Kerangka dasar yang digunakan pada setiap tabel Input-Output
diusahakan untuk konsisten satu sama lain. Akibat perkembangan jenis dan mutu
data yang digunakan, maka penyusunan tabel Input-Output pun pada prakteknya
mengalami berbagai pengembangan dan penyempurnaan, khususnya dalam hal
klasifikasi, metode penyusunan, dan cara penyajian (Badan Pusat Statistik, 2005).
Angka-angka dalam tabel Input-Output dapat digunakan untuk berbagai
tujuan yang berhubungan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembangunan nasional. Sebagai suatu metode kuantitatif tabel Input-Output
memberikan gambaran menyeluruh tentang: 1) struktur perekonomian negara atau
wilayah tertentu yang mencakup output, input dan nilai tambah masing-masing
sektor, 2) struktur input antara, yaitu transaksi penggunaan barang dan jasa antar
sektor produksi, 3) struktur penyediaan barang dan jasa baik berupa impor atau yang
berasal dari provinsi lain, dan 4) struktur permintaan barang dan jasa, baik
permintaan oleh berbagai sektor produksi maupun permintaan untuk konsumsi,
investasi, dan ekspor (Pesoth, 2001).
Beberapa tahun belakangan ini, model Input-Output telah dikembangkan
untuk keperluasan yang lebih luas dalam analisis ekonomi. Beberapa kegunaan dari
analisis input-output antara lain: 1) untuk memperkirakan dampak permintaan akhir
terhadap output, nilai tambah, impor, penerimaan pajak dan penyerapan tenaga kerja
di berbagai sektor produksi, 2) untuk melihat komposisi penyediaan dan penggunaan
barang dan jasa terutama dalam analisis terhadap kebutuhan impor dan kemungkinan
subsitusinya, 3) untuk analisis perubahan harga, yaitu dengan melihat pengaruh
secara langsung dan tidak langsung dari perubahan harga input terhadap output, 4)
untuk mengetahui sektor-sektor yang pengaruhnya paling dominan terhadap
pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor yang peka terhadap pertumbuhan ekonomi,
dan 5) untuk menggambarkan perekonomian suatu wilayah dan mengidentifikasikan
karakteristik struktural suatu perekonomian wilayah.
Menurut Badan Pusat Statistik (2005), dalam menyusun tabel Input-Output
sangat penting dilakukan asumsi-asumsi untuk menunjang transaksi yang ada dalam
tabel Input-Output tersebut, asumsi-asumsi tersebut antara lain:
1. Keseragaman (Homogenitas)
Setiap sektor ekonomi hanya memproduksi satu jenis barang dan jasa dengan
susunan input tunggal dan tidak ada subsitusi otomatis antar input.
2. Kesebandingan (Proportionality)
Suatu prinsip atau asumsi dimana hubungan antar input atau output pada
setiap sektor produksi merupakan fungsi linier, artinya kenaikan dan penurunan
output suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan dan penurunan input yang
digunakan oleh sektor itu dan dalam keadaan constan return to scale.
3. Penjumlahan (Additivitas)
Efek total dari kegiatan produksi berbagai sektor merupakan penjumlahan
dari efek masing-masing kegiatan termasuk ekonomi eksternal dan disekonomi
sepanjang efek tersebut strategis.
Akibat adanya asumsi-asumsi tersebut maka model Input-Output memiliki
bebrapa keterbatasan, agar tidak menimbulkan kekeliruan dalam interpetasi hasil
analisisnya. Keterbatasan-keterbatasan tersebut meliputi:
1. Koefisien input atau koefisien teknis diasumsikan tetap (konstan) selama periode
analisis atau proyeksi. Karena koefisien teknis dianggap konstan, maka teknologi
yang digunakan oleh sektor-sektor ekonomi dalam proses produksi juga dianggap
konstan. Akibatnya perubahan kuantitas dan harga input akan selalu sebanding
dengan perubahan kuantitas harga output. Hal ini menyebabkan harus dilakukan
penyesuaian terhadap koefisien agar tidak timbul bias terhadap hasil produksi.
2. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam penyusunan tabel Input-Output
dengan menggunakan metode survey.
3. Semakin banyak agregasi yang dilakukan terhadap sektor-sektor yang ada akan
menyebabkan pula kecenderungan pelanggaran terhadap asumsi homogenitas dan
akan banyak informasi ekonomi yang terperinci tidak terungkap dalam
analisisnya.

Struktur Tabel Input-Output


Format dari Tabel Input-Output biasanya berupa matrik “n x n” yang dibagi
menjadi empat bagian dan tiap bagian mendeskripsikan status hubungan tertentu
(Nazzara, 2005). Hubungan antar sektor perekonomian dapat disajikan dalam sebuah
tabel. Dalam tabel tersebut, sektor produksi (sektor asal) disajikan di sebelah kiri dan
sektor tujuan disajikan di sebelah atas tabel. Input-input yang diperlukan oleh
masing-masing sektor disajikan searah kolom, sedangkan searah baris menunjukkan
output-output yang diproduksi oleh masing-masing sektor.
Tabel Input-Output menurut Nazzara (2005), dapat menunjukkan transaksi
antar komponen dari suatu perekonomian, dimana sebagai ilustrasi terdapat dua
sektor produksi dengan empat komponen permintaan akhir, yaitu konsumsi rumah
tangga (C), investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan ekspor luar negeri (E); dua
faktor produksi, yaitu tenaga kerja (L) dan kapital dengan balas jasa sewa (N).
Sektor-sektor produksi maupun pengguna jasa akhir juga dapat membeli barang dari
luar negeri dalam bentuk impor (M). Secara lengkap tabel tersebut dapat dilihat
sebagai berikut:

Tabel 1. Ilustrasi Tabel Input-Output


Sektor Produksi Permintaan Akhir Total Output
1 2 C I G E (X)
Sektor 1 Z11 Z12 C1 I1 G1 E1 X1
Produksi 2 Z21 Z22 C2 I2 G2 E2 X2
Nilai L L1 L2 L
Tambah N N1 N2 N
Impor M M1 M2 M
Total Input (X) X1 X2 C I G E X
Sumber : Miller and Blair (1985)

Dalam konteks input antara, terjadi arus perpindahan barang antar sektor
yaitu dari sektor i ke sektor j dan perpindahan intrasektor yaitu perpindahan yang
terjadi di dalam sektor itu sendiri. Tabel 1 menunjukkan bahwa terjadinya arus
perpindahan barang dari sektor i ke sektor j, dimana i=j. Nilai uang arus barang dan
jasa dari sektor i ke sektor j diberi notasi zij, total output sektor i dinotasikan dengan
Xi, dan total permintaan akhir sektor i dinotasikan Yi. Dengan demikian
persamaannya dapat dituliskan sebagai berikut:
Xi = zi1 + zi2 +… + zin + Yi (1)
Persamaan (1) menunjukkan distribusi output ke sektor i. Output sektor i
tersebut didistribusikan ke sektor-sektor produksi yang lain, dan dialokasikan ke
pemakai akhir. Pemakai akhir tersebut adalah pelaku-pelaku ekonomi di dalam
perekonomian yang secara agregat bisa diklasifikasikan ke dalam rumah tangga,
perusahaan, pemerintah, dan pihak luar negeri. Permintaan akhir rumah tangga
adalah konsumsi rumah tangga (Ci), permintaan akhir perusahaan adalah investasi
(Ii), permintaan akhir pemerintah adalah pengeluaran pemerintah (Gi), dan
permintaan akhir luar negeri adalah ekspor (Ei). Pada persamaan (1) terlihat bahwa
terdapat n sektor yang sama seperti persamaan untuk seluruh perekonomian, yaitu:
X1 = z11 + z12 + z13 + … + z1n + Y1
X2 = z21 + z22 + z23 + … + z2n + Y2 (2)

Xn = zn1 + zn2 + zn3 + … + znn + Yn


Kurung kurawal di depan persamaan (2) menunjukkan bahwa keseluruhan n
persamaan tersebut merupakan suatu sistem persamaan.
Selain dari sudut pandang distribusi output, sisi inputpun perlu diperhatikan.
Berarti suatu sektor tidak dilihat menurut baris tetapi kolom. Dengan mengurutkan
input antara yang digunakan oleh sektor 1, lazim dituliskan dalam suatu vektor
kolom berikut:
z11
z21
z31
zn1
Koefisien z11 mencerminkan jumlah input antara yang diperlukan oleh sektor
1 yang berasal dari sektor 1 itu sendiri. Begitu pula, z21 adalah jumlah input antara
bagi sektor 1 yang berasal dari sektor 2. Dengan begitu, vektor kolom 1
menunjukkan struktur input antara sektor 1 tersebut.
Input yang dibutuhkan dalam proses produksi sektor i tidak hanya input
antara. Sektor produksi juga memerlukan input lain yang disebut input primer. Input
primer adalah faktor produksi seperti faktor produksi tenaga kerja dengan balas jasa
upah dan gaji (L) dan faktor produksi kapital dengan balas jasa sewa atau bunga
modal (N). Balas jasa faktor-faktor produksi inilah yang disebut sebagai nilai tambah
dari proses produksi.
Faktor-faktor produksi yang ada di dalam perekonomian tersebut juga tidak
semuanya terpakai di sektor-sektor produksi. Ada pula faktor-faktor produksi yang
dipakai sebagai permintaan akhir dari rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan
luar negeri.
Selain input antara yang dibeli dari sektor–sektor lain di dalam
perekonomian, dan input primer yang berupa faktor-faktor produksi, proses produksi
sektor tertentu juga dapat membeli inputnya dari luar negeri (M), dalam bentuk
impor.
Sesuai dengan definisi tabel Input-Output, total input harus sama dengan total
output dan berdasarkan sifatnya yang linier, maka dapat dituliskan sebagai berikut:
X1 + X2 + L + N + M = X
= X1 + X2 + C + I + G + E (3)
persamaan (3) adalah identitas dari pendapatan nasional, yang ditunjukkan oleh
persamaan sebelah kiri, dimana pendapatan nasional sebagai penjumlahan dari balas
jasa faktor-faktor produksi dalam perekonomian. Dalam perekonomian ini, hanya
ada dua faktor produksi, yaitu tenaga kerja dan kapital, yang balas jasanya adalah
upah atau gaji (L) dan bunga modal (N). Persamaan (4) bagian kanan menunjukkan
bahwa, pendapatan nasional sebagai penjumlahan dari pengeluaran yang dilakukan
oleh pelaku ekonomi dalam perekonomian tersebut. Dua persamaan di atas yang
menghasilkan nilai X yang sama, dapat dijabarkan sebagai berikut dengan
menghilangkan X1 dan X2, sehingga menjadi:
L + N + M = C + I + G + E atau L + N = C + I + G + (E- M) (4)
Persamaan (4) pada analisis Input-Output memegang peranan penting yaitu
sebagai dasar analisis ekonomi mengenai keadaan perekonomian suatu wilayah.
Secara umum matrik dalam tabel Input-Output dapat dibagi menjadi empat kuadran
yaitu kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV, dengan masing-masing
penjelasan dan arti kuadran tersebut sebagai berikut:
1. Kuadran I (Intermediate Demand Quadrant)
Kuadran I disebut juga sebagai kuadran permintaan antara, setiap sel pada
kuadran ini merupakan transaksi barang atau jasa yang digunakan dalam proses
produksi. Kuadran ini memberikan informasi mengenai sifat saling ketergantungan
antar sektor produksi dalam suatu perekonomian. Kuadran I dalam analisis Input-
Output memiliki peranan yang sangat penting, karena kuadran inilah yang
menunjukkan keterkaitan antar sektor ekonomi dalam melakukan proses
produksinya.
2. Kuadran II (Final Demand Quadrant)
Menunjukkan penjualan barang atau jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor
perekonomian untuk memenuhi permintaan akhir. Permintaan akhir adalah output
suatu sektor yang digunakan langsung oleh rumah tangga, pemerintah, pembentukan
modal tetap, perubahan stok, dan ekspor.
3. Kuadran III (Primary Inputs Quadrant)
Menunjukkan pembelian yang dihasilkan di luar sistem produksi oleh sektor-
sektor dalam kuadran antara. Kuadran ini umumnya terdiri dari penyusutan, pajak
tidak langsung, upah dan gaji, surplus usaha, dan nilai tambah lainnya. Jumlah
keseluruhan nilai tambah ini akan menghasilkan produk domestik bruto yang
dihasilkan wilayah tersebut.
4. Kuadran IV (Primary Inputs – Final Demand Quadrant)
Menunjukkan input primer yang diserap oleh permintaan akhir artinya adanya
transaksi langsung antar kuadran input primer dengan permintaan akhir tanpa melalui
sistem produksi atau kuadran antara.

Analisis Input-Output

Analisis Keterkaitan
Menurut Pesoth (2001), analisis keterkaitan sangat diperlukan dalam
perencanaan pembangunan. Melalui analisis keterkaitan ini, pengaruh peningkatan
suatu sektor akan terlihat pada sektor-sektor yang menyediakan bahan baku sebagai
inputnya (keterkaitan ke belakang) dan juga pengaruhnya terhadap sektor lain yang
menggunakan output yang dihasilkannya sebagai input mereka (keterkaitan ke
depan).
Keterkaitan ke belakang (backward linkage) terjadi jika peningkatan sektor
tertentu akan mendorong peningkatan output sektor-sektor lainnya. Keterkaitan ini
bersumber dari mekanisme penggunaan input produksi. Keterkaitan ke depan
(forward linkage) menghitung total output yang tercipta akibat meningkatnya output
suatu sektor industri melalui mekanisme distribusi output dalam perekonomian
(Ikhsan, 2005).

Analisis Dampak Penyebaran


Analisis dampak penyebaran berguna untuk mengetahui distribusi manfaat
pengembangan suatu sektor terhadap sektor lainnya melalui mekanisme transaksi
pasar output dan input (Badan Pusat Statistik, 2000). Analisis dampak penyebaran
dianalisis berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran.
1. Koefisien Penyebaran
Konsep ini berguna untuk mengetahui distribusi manfaat dari pengembangan
suatu sektor terhadap perkembangan sektor-sektor lainnya melalui mekanisme
transaksi pasar input. Konsep ini juga sering diartikan sebagai kemampuan suatu
sektor untuk meningkatkan pertumbuhan sektor hulunya.
2. Kepekaan Penyebaran
Konsep ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat kepekaan suatu sektor
terhadap sektor-sektor lainnya melalui mekanisme pasar output. Konsep ini sering
juga diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan
produksi sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor ini.
METODE PENELITIAN

Waktu Penelitian
Penelitian mengenai peranan dan dampak investasi sektor peternakan dalam
perekonomian Indonesia dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan Februari
tahun 2008 meliputi penyusunan proposal, pengumpulan data, pengolahan data,
analisis data dan penulisan laporan dalam bentuk skripsi.

Data dan Instrumentasi


Jenis data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa tabel
Input-Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 66 sektor dari Badan Pusat Statistik
dan data-data penunjang lainnya. Data-data tersebut diolah dengan menggunakan
software PyIO dan Microsoft Excel.

Metode Analisis
Metode yang digunakan untuk menganalisis peranan dan dampak investasi
sektor peternakan dalam perekonomian Indonesia adalah dengan menganalisis tabel
Input-Ouput. Dari tabel Input-Output dapat dianalisis seberapa besar peranan sektor
peternakan dalam pembentukan struktur permintaan dan penawaran, konsumsi,
investasi, ekspor dan impor, nilai tambah, dan output sektoral.
Pengaruh sektor peternakan dengan sektor-sektor lain dapat dianalisis
berdasarkan analisis keterkaitan dan dampak penyebaran. Hasil dari analisis dampak
penyebaran juga dapat mengetahui sektor-sektor prioritas untuk dikembangkan.
Dampak investasi sektor peternakan terhadap pembentukan nilai output,
pendapatan, kesempatan kerja, dan nilai tambah dapat dianalisis berdasarkan matrik
permintaan akhir, sebagaimana ditunjukkan oleh persamaan (1) dibawah ini:
X1 = z11 + z12 + z13 + ... + z1n + Y1
X2 = z21 + z22 + z23 + ... + z2n + Y1
. . . . . . .
. . . . . . .
Xn = zn1 + zn2 + zn3 + ... + znn + Yn.............................................................................(1)
jika diketahui matriks koefisien input:
zij
aij = .....................................................................................................................(2)
Xj

dan jika persamaan (2) didistribusikan ke persamaan (1) maka didapat persamaan (3)
sebagai berikut:
a11 L a12 L a1i L a1n X1 Y1
X2 Y2
A = a21 L a22 L a2i L a2 n =
an1 L an 2 L ani L ann Xn Yn
dimana I merupakan matriks identitas berukuran n x n, sehingga dari notasi matriks
tersebut dapat dituliskan dalam persamaan sebagai berikut:
(I-A) X = Y.................................................................................................................(4)
Jika terdapat perubahan dalam permintaan akhir, maka akan terjadi perubahan pola
pendapatan nasional, menjadi:
X = (I-A)-1 Y .............................................................................................................(5)
dimana (I-A)-1 sering dikenal dengan nama matriks kebalikan Leontief (Leontief
inverse matrix).
keterangan:
I = matriks identitas yang elemennya memuat angka satu pada diagonalnya dan nol
pada selainnya.
Y = jumlah output
(I-A) = matriks Leontief
(I-A)-1 = matriks kebalikan Leontief Terbuka

Persamaan (5) menunjukkan bahwa output setiap sektor memiliki hubungan


fungsional terhadap permintaan akhir, dengan (I-A)-1 sebagai koefisien antaranya.
Matriks kebalikan ini mempunyai peranan penting sebagai alat analisis ekonomi
karena menunjukkan adanya saling keterkaitan antara tingkat permintaan akhir
terhadap tingkat produksi. Dengan memasukkan berbagai nilai Y, maka nilai X dapat
ditentukan.

Analisis Keterkaitan
1. Keterkaitan Langsung ke Depan (KD)
Menunjukkan akibat suatu sektor terhadap sektor-sektor yang menggunakan
sebagian output sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan permintaan
total. Keterkaitan tipe ini dirumuskan sebagai berikut:
n
Kdi = ∑a
j =1
ij

keterangan:
Kdi = keterkaitan langsung ke depan sektor
aij = unsur matriks koefisien teknis
n = jumlah sektor
2. Keterkaitan Langsung ke Belakang (KB)
Menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang
menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung per unit kenaikan
permintaan total. Keterkaitan tipe ini dirumuskan sebagai berikut:
n
KBi = ∑a
i =1
ij

keterangan:
KBi = keterkaitan langsung ke belakang sektor i
aij = unsur matriks koefisien teknis
n = jumlah sektor
3. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Depan (KDLT)
Menunjukkan akibat suatu sektor tertentu terhadap sektor-sektor yang
menggunakan sebagian output sektor tersebut secara langsung maupun tidak
langsung per unit kenaikan permintaan total. Keterkaitan tipe ini dirumuskan
sebagai berikut:
n
KDLTi = ∑q
j =1
ij

keterangan:
KDLTi = keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan sektor i
qij = unsur matriks kebalikan Leontief model terbuka
n = jumlah sektor
4. Keterkaitan Langsung dan Tidak Langsung ke Belakang (KBLT)
Menunjukkan akibat suatu sektor yang diteliti terhadap sektor-sektor yang
menyediakan input antara bagi sektor tersebut secara langsung maupun tidak
langsung per unit kenaikan permintaan total. Rumus untuk mencari keterkaitan
langsung dan tidak langsung ke belakang adalah sebagai berikut :
n
KBLTi = ∑ qij
i =1

keterangan:
KBLTi= keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang sektor i
qij = unsur matriks kebalikan Leontief model terbuka
qij = unsur matriks kebalikan Leontief model terbuka
n = jumlah sektor

Analisis Dampak Penyebaran


Indeks keterkaitan langsung dan tidak langsung baik ke depan maupun ke
belakang seperti yang diuraikan sebelumnya, belum memadai dipakai sebagai
landasan pemilihan sektor kunci. Indikator-indikator tersebut tidak dapat
diperbandingkan antar sektor karena peranan permintaan akhir setiap sektor tidak
sama. Oleh karena itu setiap indeks tersebut haruslah dinormalkan dengan cara
membandingkan rata-rata dampak yang ditimbulkan oleh sektor tersebut dengan rata-
rata dampak seluruh sektor. Analisis ini disebut dengan dampak penyebaran, yang
terbagi dua, yaitu:
1. Koefisisen Penyebaran/Daya Penyebaran ke Belakang/Daya Menarik (Bd)
Koefisien penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke belakang.
Analisa ini menunjukkan koefisien kaitan yang memberikan gambaran tentang
pengaruh yang ditimbulkan oleh satu unit permintaan akhir untuk semua sektor di
dalam sistem perekonomian. Koefisien penyebaran merupakan keterkaitan
langsung dan tidak langsung ke belakang yang dinormalkan dengan jumlah sektor
dan seluruh koefisien matriks kebalikan Leontief. Secara matematis dapat ditulis
dalam bentuk rumus sebagai berikut :
n
n∑ qij
j =1
Bdj = n n

∑∑ q
i =1 j =1
ij

keterangan:
Bdj = koefisien penyebaran sektor j
qij = unsur matriks kebalikan Leontief
n = jumlah sektor
2. Kepekaan Penyebaran /Daya Penyebaran ke Depan/Daya mendorong (Fd)
Kepekaan penyebaran disebut juga indeks daya penyebaran ke depan.
Kepekaan penyebaran ini memberikan gambaran tentang pengaruh yang timbul
oleh satu unit permintaan akhir terhadap semua sektor di dalam perekonomian.
Kepekaan penyebaran merupakan keterkaitan langsung dan tidak langsung ke
depan yang dinormalkan dengan jumlah sektor dan jumlah seluruh koefisien
matriks kebalikan Leontief. Rumus yang digunakan untuk mencari nilai kepekaan
penyebaran adalah:
n
n∑ qij
j =1
Fdi = n n

∑∑ q
i =1 j =1
ij

keterangan:
Fdi = koefisien penyebaran sektor i
qij = unsur matriks kebalikan Leontief
n = jumlah sektor
Apabila nilai indeks Bd dari sektor i > 1, hal ini menunjukkan bahwa sektor
tersebut memperoleh pengaruh dari sektor lainnya yang juga tinggi (peka terhadap
sektor lain). Apabila indeks Fd dari sektor j > 1, berarti pengaruh sektor tersebut
terhadap sektor lainnya atau terhadap perekonomian secara keseluruhan juga tinggi.

Analisis Penetapan Sektor Prioritas


Penetapan sektor-sektor prioritas dalam perekonomian Indonesia dapat
ditentukan berdasarkan pada tinggi rendahnya nilai kepekaan dan koefisien
penyebarannya (analisis dampak penyebaran) yang didasarkan pada peringkat yang
dimilikinya (BPS, 2000). Kriteria penentuan sektor kunci dapat menggunakan Tabel
2 berikut ini.

Tabel 2. Kriteria Penentuan Peringkat Prioritas Sektor Kunci


Koefisien Penyebaran Kepekaan Penyebaran Prioritas
Tinggi Tinggi I
Tinggi Rendah II
Rendah Tinggi III
Rendah Rendah IV
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2000
Analisis Dampak Investasi
Rumus yang digunakan untuk menghitung dampak investasi sektor
peternakan terhadap perekonomian Indonesia (BPS, 2000) sebagai berikut:
1. Dampak terhadap pembentukan output (Xfid)
Xfid = (I-A)-1 (Fid)
2. Dampak terhadap kesempatan kerja (Lik)
Lik = e (I-A)-1 (Fid)
3. Dampak terhadap pembentukan nilai tambah bruto (Vfid)
Vfid = V (I-A)-1 (Fid)
4. Dampak terhadap pendapatan (I)

I=
∑ Px 1
V fid
∑Vx 1

keterangan:
(I-A)-1 = matriks kebalikan Leontief terbuka
E = matriks koefisien tenaga kerja sektor i pada matriks koefisien teknis
V = matriks koefisien nilai tambah sektor i pada matriks koifisien teknis
Fid = nilai investasi sektor peternakan
Pxi = nilai Upah dan Gaji Sektor i pada Matriks Transaksi Domestik
Vxi = nilai Tambah Bruto Sektor i pada Matriks Transaksi Domestik
Penelitian ini akan dilakukan penambahan alokasi investasi pada komponen
pembentukan modal tetap bruto yang merupakan komponen dari struktur investasi
dalam tabel Input-Output. Dampak dari penambahan investasi tersebut akan
memberikan gambaran mengenai dampak investasi sektor peternakan, terutama
terhadap pembentukan nilai output, pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan nilai
tambah bruto. Nilai investasi menggunakan data nilai investasi dari Balitbang
Pertanian, yang dibutuhkan untuk mengembangkan tiga komoditi peternakan
unggulan dalam program RPPK tahun 2005. Komoditi tersebut atara lain: 1)
komoditi unggas sebesar Rp 24,5 triliun, 2) komoditi kambing-domba sebesar Rp 2,8
triliun, dan 3) komoditi sapi sebesar Rp 24 triliun.

Daftar Istilah

1. Output: output dalam pengertian Tabel Input-Output adalah output domestik,


yaitu nilai dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi di
wilayah dalam negeri (domestik), tanpa membedakan asal usul pelaku
produksinya. Dalam hal ini pelaku produksi dapat berupa perusahaan dan
perorangan dari dalam negeri atau perusahaan dan perorangan asing. Bagi unit
usaha yang produksinya berupa barang, maka output merupakan hasil perkalian
kuantitas produksi barang yang bersangkutan dengan harga produsen per unit
barang tersebut. Sedangkan bagi unit usaha yang bergerak di bidang jasa, maka
output merupakan nilai peneriamaan dari jasa yang diberikan ke pihak lain.
2. Transaksi antara: transaksi yang terjadi antara sektor yang berperan sebagai
konsumen dan produsen. Sektor yang berperan sebagai produsen atau sektor
produksi merupakan sektor pada masing-masing baris, sedangkan sektor sebagai
konsumen ditunjukkan oleh sektor pada masing-masing kolom. Transaksi yang
dicakup dalam transaksi antara hanya transaksi barang dan jasa yang terjadi
dalam hubungannya dengan proses produksi. Isian sepanjang baris pada transaksi
antara memperlihatkan alokasi output suatu sektor dalam memenuhi kebutuhan
input sektor-sektor lain untuk keperluan produksi dan disebut sebagai permintaan
antara. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan input barang dan jasa
yang digunakan dalam proses produksi suatu sektor dan disebut juga sebagai
input antara.
3. Permintaan akhir dan impor: permintaan atas barang dan jasa untuk keprluan
konsumsi, bukan untuk proses produksi. Permintaan akhir terdiri dari
pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah,
pembentukan modal tetap bruto, perubahan stok dan ekspor.
4. Pengeluaran konsumsi rumah tangga: pengeluaran yang dilakukan rumah tangga
untuk semua pembelian barang dan jasa dikurangi dengan penjualan netto barang
bekas. Barang dan jasa dalam hal ini mencakup barang tahan lama dan barang
tidak tahan lama kecuali pembelian rumah tempat tinggal. Pengeluaran konsumsi
rumah tangga mencakup yang dilakukan di dalam dan luar negeri. Untuk
menjaga konsistensi data, maka konsumsi penduduk suatu negara yang dilakukan
di luar negeri diperlakukan sebagai impor, sebaliknya konsumsi oleh penduduk
asing di wilayah negara tersebut diperlakuakn sebagai ekspor.
5. Pengeluaran konsumsi pemerintah: pengeluaran pemerintah yang mencakup
semua pengeluaran barang dan jasa untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan
administrasi pemerintahan dan pertahanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah
pusat maupun oleh pemerintah daerah.
6. Pembentukan modal tetap: pembentukan modal yang meliputi pengadaan,
pembuatan atau pembelian barang-barang modal baru baik dari dalam maupun
impor, termasuk barang modal bekas dari luar daerah.
7. Perubahan stok: selisih antara nilai stok barang pada akhir tahun dengan nilai
stok barang pada awal tahun. Perubahan stok dapat digolongkan menjadi : (1)
perubahan stok barang jadi dan setengah jadi yang disimpan oleh produsen,
termasuk perubahan jumlah ternak dan unggas serta barang-barang strategis yang
merupakan cadangan nasional, (2) perubahan stok barang mentah dan bahan baku
yang belum digunakan oleh produsen, (3) perubahan stok perdagangan, yang
tersiri dari barang-barang dagangan yang belum terjual.
8. Ekspor dan impor barang dan jasa: transaksi barang dan jasa antara penduduk
suatu negara/daerah dengan penduduk negara/daerah lain. Transaksi tersebut
terdiri dari asuransi dan berbagai jasa lainnya.
9. Input primer: balas jasa atas pemakaian faktor-faktor produksi yang terdiri dari
tenaga kerja, tanah, modal dan kewiraswastaan. Input primer disebut juga nilai
tambah bruto dan merupakan selisih antara output dengan input antara.
10. Upah dan gaji: semua balas jasa dalam benti uang maupun barang dan jasa
kepada tenaga kerja yang ikut dalam kegiatan produksi selain pekerja keluarga
yang tidak dibayar.
11. Surplus usaha: balas jasa atas kewiraswastaan dan pendapatan atas pemilikan
modal. Surplus usaha antara lain terdiri dari keuntungan sebelum dipotong pajak
penghasilan, bunga atas modal, sewa tanah dan pendapatan atas kepemilikan
lainnya. Besarnya nilai surplus usaha adalah sama sengan nilai tambah bruto
dikurangi dengan upah/gaji, penyusutan dan pajak tak langsung netto.
12.Penyusutan: penyusutan barang-barang modal tetap yang digunakan dalam proses
produksi. Penyusutan merupakan nilai pengganti terhadap penurunan nilai barang
modal yang digunakan dalam proses produksi.
13. Pajak tak langsung netto: selisih antara pajak tak langsung dengan subsidi. Pajak
tak langsung mencakup pajak impor, pajak ekspor, bea masuk, pajak
pertambahan nilai, cukai dan sebagainya.
14. Subsidi: bantuan yang diberikan pemerintah kepada produsen. Subsidi pada
dasarnya adalah tambahan pendapatan bagi produsen. Poleh karena itu subsidi
disebut juga sebgai pajak tak langsung negatif.
GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN SEKTOR PETERNAKAN
DI INDONESIA

Peternakan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari


kehidupan perekonomian masyarakat Indonesia dari zaman dahulu hingga zaman
sekarang. Hal tersebut diungkapkan secara tertulis pada tahun 1842 oleh Schelegal
dan Ruller (dikutip oleh J. Merkens) bahwa ternak (kerbau) selamanya merupakan
sektor terpenting bagi penduduk pribumi di pulau-pulau bagian barat Indonesia,
dimana beras merupakan makanan pokok mereka dan ternak merupakan indikator
kekayaan “Rojokoyo” bagi petani.
Pengembangan peternakan dalam perekonomian Indonesia terbagi ke dalam
lima periode. Periode-periode tersebut adalah sebagai berikut:

Periode Penjajahan

Periode Penjajahan Belanda


Berdasarkan catatan sejarah pengembangan peternakan ketika masa
penjajahan Belanda (tahun 1599-1942) karena beberapa sebab diantaranya:
1. Adanya tuntutan perekonomian negara.
Pemerintah Hindia-Belanda dalam mencukupi kebutuhan warga Belanda baik
yang ada di Indonesia maupun di Belanda, banyak membangun pabrik-pabrik
untuk mengolah hasil pertanian. Salah satu pabrik yang banyak berdiri adalah
pabrik-pabrik gula. Pabrik gula banyak memerlukan ternak yang digunakan
sebagai tenaga kerja untuk mesin pemeras tebu.
2. Kebutuhan konsumsi akan produk peternakan yang meningkat.
Masuknya warga asing ke Indonesia (penjajah) menyebabkan masuk pula
budaya asing ke Indonesia seperti budaya konsumsi. Budaya konsumsi warga
asing yang menyadari pentingnya mengkonsumsi produk peternakan
menyebabkan tingkat konsumsi akan produk peternakan meningkat dan
menyebabkan peternakan di Indonesia harus dikembangkan dengan baik.
3. Sebagai alat transportasi dan komunikasi.
Luasnya jajahan belanda di Indonesia membuat pemerintah Hindia-Belanda
membutuhkan alat transportasi dan komunikasi. Alat transportasi dan komunikasi
yang paling banyak dikembangkan adalah ternak kuda, selain untuk alat
transportasi dan komunikasi kuda juga digunakan sebagai alat militer.
Meningkatnya permintaan akan produk-produk peternakan saat itu tidak bisa
dicukupi oleh peternakan di Indonesia sehingga pemerintah Hindia-Belanda
melakukan kebijakan impor yang berakibat munculnya wabah penyakit peternakan
baru di Indonesia. Untuk mengatasi hal ini maka pada tahun 1841 dibentuk semacam
Dinas Kehewanan di daerah-daerah dan pada tahun 1905 dibentuk Jawatan
Kesehatan Pusat. Hal ini mempermudah belanda melakukan survey kemiskinan di
Jawa dan Madura, dimana hasilnya dilakukan untuk mengimpor ternak kembali
dengan tindakan pencegahan masuknya penyakit seperti dulu melalui penerbitan
Ordonansi yang mengatur campur tangan pemerintah pada urusan peternakan dan
kesehatan hewan (Ordonansi No.432, 1912). Pada tahun 1935 di Bogor didirikan
Sekolah Dokter Hewan yang pertama.

Periode Penjajahan Jepang


Pengembangan dan pembinaan peternakan pada masa penjajahan Jepang
hampir tidak pernah dilakukan bahkan terjadi pemotongan hewan ternak yang
berlebihan untuk keperluan konsumsi untuk menghadapi perang dunia ke II,
akibatnya terjadi penurunan populasi berbagai jenis ternak sampai dengan 25 persen
dan sistem peraturan yang telah dibuat oleh Belanda tidak berlaku lagi bahkan
menurut catatan sejarah tidak ada peraturan bidang peternakan dan kesehatan hewan
yang pernah dikeluarkan pada masa tersebut.

Periode Awal Kemerdekaan


Pada masa kemerdekaan tepatnya pada pra Pelita (1947-1969) terdapat dua
konsep pembangunan peternakan, yaitu: Rencana Kasimo (2 November 1947) dan
Pembangunan Semesta Berencana (1961-1969) yang intinya pembangunan
peternakan diarahkan kepada tercukupinya kebutuhan masyarakat akan bahan
makanan dan program menggalakan minum susu di kalangan masyarakat di berbagai
daerah dengan slogan “4 sehat 5 sempurna”.
Rencana Kasimo memprioritaskan peningkatan bahan pangan rakyat,
termasuk komoditi peternakan dengan proyeksi adanya kenaikan populasi sapi
sebesar 4 persen, kerbau 2 persen, kambing 5 persen dan babi 10 persen. Pada
rencana kasimo juga dibangun taman ternak di berbagai daerah dalam rangka
program RKI (Rencana Kemakmuran Indonesia) sebagai sumber pembibitan ternak
di Indonesia.
Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana (RPNSB)
memprioritaskan pada penyediaan bahan pangan termasuk juga pada penyediaan
protein nabati dan protein hewani (peternakan ayam). Rencana Kasimo dan Rencana
Pembangunan Nasional Semesta Berencana (RPNSB) berjalan gagal karena kondisi
perekonomian pada saat itu tidak memungkinkan. Pada tahun 1967 lahir UU No.6
tentang Pokok-Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, dan pada tahun yang sama
pula dilakukan Survei Inventarisasi Hewan (SIN) Nasional.

Periode Pelita I-IV (1969-1988)


Perkembangan sektor peternakan pada Pelita I-IV (1969-1988) cukup
menggembirakan, terlihat dari data-data mengenai pengembangan populasi, produksi
dan konsumsi berbagai komoditi peternakan dan proyek-proyek pemerintah mulai
intensif berjalan, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Tabel 3. Populasi dan Pertumbuhan Ternak di Indonesia Tahun 1970-2005


Babi Sapi perah Sapi potong Ayam Ras Ayam ras
Tahun (ekor) (ekor) (ekor) Petelur (ekor) pedaging (ekor)
1970 3.169.000 59.000 6.137.000 706.000 t.a.d.
1975 2.707.000 90.000 6.242.000 3.903.000 t.a.d.
1980 3.155.000 103.000 6.440.000 22.940.000 t.a.d.
1985 5.700.375 175.638 9.318.000 31.874.064 13.017.600
1990 7.135.643 293.878 10.410.000 37.228.434 34.463.215
1995 7.720.156 341.334 11.534.000 59.393.587 593.368.316
1997 8.232.839 334.371 11.939.000 70.622.271 641.373.816
1998 7.797.558 321.992 11.634.000 38.861.311 354.003.503
2000 5.356.834 354.253 11.008.000 69.366.006 530.874.055
2001 5.866.837 368.490 11.138.000 66.927.833 t.a.d.
2005* 6.801.000 361.000 10.569.000 84.790.000 811.189.000
Pertumbuhan
(%/tahun)
1970-1975 -3,1 8,81 0,34 40,77 t.a.d.
1975-1980 3,11 2,74 0,63 42,51 t.a.d.
1980-1985 12,56 11,26 7,67 6,8 t.a.d.
1985-1990 4,59 10,84 2,24 3,15 21,5
1990-1997 2,06 1,86 1,98 9,58 51,84
1997-2001 -8,12 2,46 -1,72 -1,33 -6,11
Rata-rata
pertumbuhan 2,12 5,35 -16,98 15,37 16,47
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
t.a.d = tidak ada data
Tabel 4. Produksi dan Pertumbuhan Komoditi Peternakan Tahun 1970-2005
Telur Susu Daging sapi Daging babi Daging ayam
Tahun
(ton) (ton) (ton) (ton) (ton)
1970 58.600 29.270 t.a.d. t.a.d. t.a.d.
1975 112.200 51.110 t.a.d. t.a.d. t.a.d.
1980 262.600 78.380 t.a.d. t.a.d. t.a.d.
1985 369.900 191.930 227.400 132.700 114.460
1990 484.000 345.600 259.220 123.810 261.360
1995 736.060 433.442 311.970 177.820 551.745
1997 765.033 423.665 353.652 146.781 515.298
1998 529.827 375.382 342.598 134.794 285.010
2000 783.317 495.647 339.941 162.398 515.003
2001 793.796 505.023 338.636 174.422 516.286
2005 1.051.532 535.962 358.704 173.669 955.756
Pertumbuhan (%/tahun)
1970-1975 13,87 11,79 t.a.d. t.a.d. t.a.d.
1975-1980 18,54 8,93 t.a.d. t.a.d. t.a.d.
1980-1985 7,09 19,62 t.a.d. t.a.d. t.a.d.
1985-1990 5,52 12,48 2,65 -1,38 17,96
1990-1997 8,75 4,63 3,77 7,51 16,12
1997-2001 0,78 -0,46 2,54 -3,76 -1,36
Rata-Rata Pertumbuhan 8,83 8,35 2,60 0,57 12,34
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
t.a.d = tidak ada data

Tabel 5. Konsumsi Perkapita Komoditi Peternakan Tahun 1970-2005


Tahun Telur Daging Sapi Daging Ayam Daging Babi Susu
(kg/Kap/tahun) (kg/Kap/tahun) (kg/Kap/tahun) (kg/Kap/tahun) (kg/Kap/tahun)
1970 0,50 1,70 0,50 0,58 t.a.d
1975 0,70 1,90 0,70 0,33 4,10
1980 1,40 1,70 1,20 0,58 4,20
1985 1,80 1,70 1,90 0,56 4,30
1990 2,10 1,70 2,80 0,47 4,40
1995 3,00 1,90 4,40 0,63 4,40
1997 3,00 2,10 4,40 0,50 4,50
1998 2,00 1,90 3,00 0,46 4,50
2000 3,10 2,00 3,90 0,77 4,50
Pertumbuhan
(%/tahun)
1970-1975 6,96 2,25 6,96 -10,47 t.a.d
1975-1980 14,87 -2,20 11,38 11,85 0,35
1980-1985 5,15 0,00 9,63 -0,85 0,35
1985-1990 3,13 0,00 8,06 -3,59 0,35
1990-1997 5,23 3,06 6,67 1,08 0,25
1997-2000 1,10 -1,61 -3,94 9,72 0,24
Rata-
RataPertumbuhan 6,14 0,21 6,94 1,00 0,30
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
t.a.d = tidak ada data
Tabel 6. Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1971-2000 Atas Dasar
Harga Konstan 1993 (Rp Milyar)
No Sektor 1971 1981 1991 1997 1999 2000
1 Pertanian 30.534 41.067 54.839 64.149 64.985 66.209
(38,47) (21,58) (19,26) (15,00) (17,13) (16,64)
Tanaman pangan 14.715 22.952 30.145 33.048 34.012 34.534
(18,54) (12,06) (10,59) (7,73) (8,97) (8,68)
Perkebunan 3.381 4.869 8.131 10.772 10.702 10.722
(4,26) (2,56) (2,86) (2,52) (2,82) (2,69)
Peternakan 2.566 3.524 5.442 7.422 6.837 7.061
(3,23) (1,85) (1,91) (1,74) (1,80) (1,77)
Kehutanan 7.939 6.911 6.307 6.346 6.288 6.389
(10,00) (3,63) (2,22) (1,48) (1,66) (1,61)
Perikanan 1.934 2.811 4.815 6.561 7.146 7.503
(2,44) (1,48) (1,69) (1,53) (1,88) (1,89)
2 Industri 16.972 43.218 86.393 141.207 127.164 132.764
(21,39) (22,70) (30,34) 33,03 (33,52) (33,36)
3 Jasa 31.856 106.058 143.498 222.167 187.204 199.017
(40,14) (55,72) (50,40) (51,97) (49,35) (50,01)
Total 79.363 190.343 284.731 427.523 379.353 397.990
(100,00) (100,00) (100,00) (100,00) (100,00) (100,00)
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah
( ) = persentase

Tabel 7. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia Tahun 1971-2000


Atas Dasar Harga Konstan 1993 (%/tahun)
No Sektor 1971-1981 1981-1991 1991-1997 1997-2000
1 Pertanian 3,01 2,93 2,65 1,06
Tanaman pangan 4,55 2,76 1,54 1,48
Perkebunan 3,71 5,26 4,8 -0,15
Peternakan 3,23 4,44 5,31 -1,65
Kehutanan -1,38 -0,91 0,1 0,23
Perikanan 3,81 5,53 5,29 4,57
2 Industri 9,8 7,17 8,53 -2,03
3 Jasa 12,78 3,07 7,56 -3,6
Rata-rata 9,14 4,11 7,01 -2,36
Sumber: CAS dalam Swastika et al (2005), data diolah

Populasi, komoditi, dan tingkat konsumsi ternak selama periode 1970-1985


mengalami pertumbuhan cukup tajam. Berdasarkan Tabel 3, populasi dari yang
paling cepat tumbuh adalah populasi ayam petelur yaitu rata-rata pertumbuhannya
mencapai 30,03 persen/tahun, populasi sapi perah mencapai 7,6 persen/tahun,
populasi babi mencapai 4,19 persen/tahun dan populasi sapi potong mencapai 2,88
persen/tahun. Berdasarkan Tabel 4, komoditi peternakan mengalami peningkatan
yang cukup tajam pula, seperti produksi susu pada tahun 1970 mencapai 58.600 ton
tetapi hanya dalam kurun waktu 15 tahun meningkat menjadi 369.900 ton atau
pertumbuhan pertahunnya mencapai 13,45 persen/tahun. Tingkat konsumsi perkapita
komoditi peternakan (Tabel 5) mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan,
pertumbuhan rata-rata pertahun yang tertinggi terdapat pada komoditi daging ayam
yaitu meningkat 9,33 persen/tahun dan telur yaitu 8,93 persen/tahun.
Meningkatnya populasi, produksi, konsumsi dan mulai berjalannya proyek
pemerintah membuat PDB sektor peternakan (Tabel 6) meningkat dari tahun 1971
sebesar Rp 2.566 milyar menjadi Rp 3.524 milyar pada tahun 1981 atau
pertumbuhannya meningkat sebesar 3,23 persen/tahun (Tabel 7).

Periode Pelita V-VI (1989-1999)


Pada Pelita V-VI (1989-1999) pendekatan yang dilakukan untuk
mengembangkan sektor peternakan dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu
pendekatan teknis, terpadu, dan agribisnis. Disamping itu juga pengembangan
sumberdaya ternak difokuskan kepada ternak potong Perusahaan Inti Rakyat (PIR),
ternak perah, dan ternak unggas.
Pengembangan sektor peternakan dengan lebih terencana pada periode 1990-
1997 atau sebelum krisis ekonomi pada awalnya berdampak bagus. Hal itu terlihat
dengan laju pertumbuhan populasi ternak yang cukup besar yaitu pada populasi babi
2.06 persen/tahun, sapi perah 1,86 persen/tahun, sapi potong 1,98 persen/tahun, ayam
petelur 9,58 persen/tahun, dan yang paling luar biasa adalah ayam broiler karena
pada tahun 1990 populasinya mencapai 34.463.215 tetapi hanya dalam kurun waktu
tujuh meningkat menjadi 5.933.68.316 ekor atau pertumbuhan mencapai 51,84
persen/tahun (Tabel 3). Berdasarkan Tabel 4, komoditi peternakan yang mengalami
pertumbuhan dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah daging ayam (16,12
persen/tahun), telur (8,75 persen/tahun), daging babi (7,51 persen/tahun), susu (4,63
persen/tahun), dan daging sapi (3,77 persen/tahun). Berdasarkan Tabel 5, laju
konsumsi perkapita peternakan mengalami peningkatan pula. Laju konsumsi dari
yang terbesar sampai yang terkecil adalah daging ayam (6,67 persen/tahun), telur
(5,23 persen/tahun), daging sapi (3,06 persen/tahun), daging babi (1,08), dan susu
(0,25 persen/tahun).
Strategi pengembangan sektor peternakan yang dibuat pemerintah berjalan
sukses, indikatornya selain pada peningkatan populasi, komoditi dan tingkat
konsumsi ternak, juga pada PDB sektor peternakan meningkat dari Rp 5.442 miliyar
pada tahun 1991 menjadi Rp 7.442 miliyar pada tahun 1997 (Tabel 6) atau
petumbuhannya 5,31 persen/tahun (Tabel 7). Jika dibandingkan dengan subsektor
pertanian lainnya walaupun jumlah PDBnya bukan yang terbesar, pertumbuhan
sektor peternakan pertahunnya merupakan yang tertinggi dan ini merupakan yang
pertamakalinya. Hal ini menunjukkan pada periode 1990-1997 sektor peternakan
Indonesia mengalami masa-masa keemasan dan untuk mengulang prestasi ini perlu
kerja keras dari berbagai pihak terutama insan peternakan.
Selama periode 1997-2000 atau setelah krisis ekonomi di Asia Tengggara
termasuk Indonesia, sektor perekonomian Indonesia mengalami kemunduran
termasuk pula sektor peternakan. Sektor peternakan pada periode ini mengalami
masa-masa suram karena terjadi penurunan populasi, komoditi, dan konsumsi ternak.
Berdasarkan Tabel 3, hampir semua populasi ternak mengalami penurunan sangat
tajam kecuali pada sapi perah, populasi yang menurun adalah populasi babi (13,35
persen/tahun), ayam broiler (6,11 persen/tahun), sapi potong (2,67 persen/tahun), dan
ayam petelur (0,66 persen/tahun). Berdasarkan Tabel 4, jumlah komoditi peternakan
mengalami penurunan pula, penurunan yang paling besar terjadi pada komoditi
daging ayam yaitu pada tahun 1997 mencapai 515.003 ton dan pada tahun 1998
menjadi 285.010 ton atau menurun 44,66 persen dari jumlah komoditi daging ayam
tahun 1997. Hal yang menggembirakan pada peternakan unggas karena hanya dalam
waktu dua tahun (tahun 2000) jumlah komoditinya kembali meningkat tajam yaitu
mencapai 515.003 ton. Laju konsumsi perkapita pada periode tahun 1997-2000
sebagaimana populasi dan jumlah komoditi mengalami penurunan pula, penurunan
yang paling tajam terjadi pada laju konsumsi daging ayam yaitu sebesar 3,94
persen/tahun (Tabel 5).
Seiring dengan penurunan tingkat populasi, komoditi, dan konsumsi ternak,
maka PDB sektor peternakan (Tabel 6) mengalami penurunan pula, dari Rp 7.442
milyar pada tahun 1997 menjadi Rp 7.061 milyar pada tahun 2000 atau
petumbuhannya mengalami penurunan sebesar 1,65 persen/tahun (Tabel 7). Jika
dibandingkan dengan subsektor pertanian lainnya, laju pertumbuhan sektor
peternakan merupakan yang terendah bahkan mengalami penurunan. Hal ini
menunjukkan pada periode 1997-2000 sektor peternakan Indonesia mengalami masa-
masa suram setelah mengalami masa-masa keemasan.

Periode Pasca Pelita (2000-2005)


Pada pasca Pelita (2000-2005) pengembangan peternakan dijabarkan dalam
Rencana Strategis Ditjen Bina Produksi Peternakan 2000-2004. Dimana adanya
reorientasi pembangunan peternakan yang dulunya sentralistik menjadi
desentralistik, intruktif menjadi partisipatif, pengembangan produksi menjadi
pemberdayaan peternak, dan peternakan diarahkan kepada privatisasi pelayanan
peternakan dan terdapat dua program utama, yaitu: 1) Program Pengembangan
Agribisnis Peternakan (PPAP), yaitu penangan komoditi ternak komersial melalui
pola Bantuan Pinjaman Langsung Tunai (BPLM) dan 2) Program Ketahanan Pangan
(PKP), yaitu penanganan produksi peternakan melalui pengendalian penyakit
menular, pengembangan pembibitan, penyediaan semen dan vaksin.
Pada tahun 2005 dengan dilatabelakangi dari Revitalisasi Pertanian,
Perikanan, dan Kehutanan yang merupakan salah satu dari Triple Track Strategy
Kabinet Indonesia Bersatu yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
dalam rangka pengurangan kemiskinan dan pengangguran, serta peningkatan daya
saing ekonomi nasional maka peternakan yang merupakan bagian dari pertanian
mempunyai tugas yang cukup berat, yaitu harus tercukupinya kebutuhan protein
hewani (daging) masyarakat Indonesia pada tahun 2010.
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BPPT) merekomendasikan
17 komoditi unggulan yang terdapat dalam sektor pertanian, tiga diantaranya terdapat
dalam subsektor peternakan yaitu komoditi sapi, kambing-domba (kado), dan unggas
agar mendapat prioritas dalam pembangunan. Sehingga diharapkan pada tahun 2010
Indonesia dapat melakukan swasembada daging guna memenuhi permintaan daging
nasional.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Peranan Sektor Peternakan terhadap Struktur Perekonomian Indonesia


Analisis terhadap Tabel Input-Output dapat menggambarkan struktur
perekonomian Indonesia. Penjelasan mengenai gambaran struktur perekonomian
tersebut meliputi beberapa aspek, yaitu: struktur permintaan dan penawaran,
konsumsi, investasi, ekspor dan impor, nilai tambah bruto, serta output sektoral.

Struktur Permintaan dan Penawaran

Tabel 8. Struktur Permintaan Antara dan Permintaan Akhir Sektor-Sektor


Perekonomian Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Permintaan Permintaan Jumlah
No Sektor % % %
Antara Akhir Permintaan
1 Tanaman pangan 138,71 6,18 97,29 2,83 236,00 4,15
2 Perkebunan 70,27 3,13 16,44 0,48 86,71 1,52
3 Ternak Potong 15,02 0,67 4,11 0,12 19,13 0,34
4 Ternak Perah 0,84 0,04 0,96 0,03 1,80 0,03
5 Ternak Lainnya 0,04 0,00 0,42 0,01 0,46 0,01
6 Pemotongan Hewan 15,49 0,69 23,71 0,69 39,19 0,69
7 Ternak Unggas 23,06 1,03 23,85 0,69 46,91 0,82
8 Kehutanan 22,27 0,99 4,83 0,14 27,10 0,48
9 Perikanan 25,25 1,13 47,51 1,38 72,76 1,28
10 Pertambangan dan Penggalian 189,85 8,46 197,40 5,73 387,25 6,81
11 Industri Hasil Ternak 10,51 0,47 16,71 0,49 27,22 0,48
12 Industri Makanan, Minuman 134,42 5,99 331,17 9,62 465,59 8,19
dan Tembakau
13 Industri Pakan 25,56 1,14 2,32 0,07 27,88 0,49
14 Industri Lainnya 711,03 31,68 857,22 24,89 1.568,26 27,57
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 61,34 2,73 27,55 0,80 88,89 1,56
16 Bangunan 49,46 2,20 528,98 15,36 578,44 10,17
17 Perdagangan 215,52 9,60 292,33 8,49 507,85 8,93
18 Restoran dan Hotel 38,03 1,69 185,05 5,37 223,08 3,92
19 Transportasi dan Komunikasi 170,41 7,59 228,02 6,62 398,43 7,00
20 Jasa Lainnya 327,29 14,58 558,01 16,20 885,30 15,56
Jumlah 2.244,38 100,00 3.443,89 100,00 5.688,27 100,00
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Berdasarkan hasil analisis Input-Output (Tabel 8) diketahui, total permintaan


barang dan jasa Indonesia tahun 2005 sebesar Rp 5.688,27 triliun yang terdiri dari
permintaan antara sebesar Rp 2.244,38 triliun atau 39,46 persen dari total permintaan
dan permintaan akhir sebesar Rp 3.443,89 triliun atau 60,54 persen dari total
permintaan. Dengan menggunakan asumsi keseimbangan antara permintaan dan
penawaran maka total penawaran sama dengan nilai permintaannya yaitu sebesar Rp
5.688,27 triliun.
Total permintaan sektor peternakan pada tahun 2005 jika dibandingkan
dengan subsektor pertanian lainnya menempati peringkat kedua terbesar, yaitu
sebesar Rp 107,50 triliun atau 20,28 persen dari total permintaan sektor pertanian.
Sedangkan peringkat pertama ditempati oleh sektor tanaman pangan, yaitu sebesar
Rp 236,00 triliun atau 44,52 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sektor peternakan
menjadi salah satu sektor yang berpotensi untuk dikembangkan, terutama dalam
rangka meningkatkan permintaan dan penawaran sektor pertanian di masa
mendatang.
Sektor peternakan yang memiliki jumlah permintaan antara dari yang
tertinggi sampai terendah adalah ternak unggas (42,35%), pemotongan hewan
(28,44%), ternak potong (27,59%), ternak perah (1,54%), dan ternak lainnya (0,08%)
dari total permintaan sektor peternakan, sedangkan sektor peternakan yang memiliki
jumlah permintaan akhir dari yang tertinggi sampai terendah adalah ternak unggas
(44,97%), pemotongan hewan (44,69%), ternak potong (7,75%), ternak perah
(1,82%), dan ternak lainnya (0,78%) dari total permintaan sektor peternakan. Jika
dibandingkan antara jumlah permintaan antara dengan jumlah permintaan akhirnya
maka hampir semua subsektor peternakan memiliki jumlah permintaan akhir yang
lebih besar daripada jumlah permintaan antaranya. Hal ini menunjukkan bahwa
output sektor peternakan relatif lebih banyak digunakan untuk keperluan konsumsi,
bukan untuk proses produksi, kecuali sektor ternak potong yang memiliki jumlah
permintaan antara lebih besar daripada permintaan akhir, karena output sektor ternak
potong lebih banyak digunakan untuk proses produksi di sektor lain daripada untuk
konsumsi, terutama untuk proses produksi bagi sektor pemotongan hewan dan
tanaman pangan.

Struktur Konsumsi Rumah Tangga


Pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah pengeluaran yang dilakukan oleh
rumah tangga yang terdiri dari pengeluaraan untuk pembelian barang dan jasa
dikurangi dengan penjualan netto barang bekas. Pengeluaran konsumsi rumah tangga
juga mencakup pengeluaran yang dilakukan lembaga atau badan swasta yang tidak
mencari untung (nirlaba). Konsumsi rumah tangga Indonesia pada tahun 2005 (Tabel
9) mencapai Rp 1.602,94 triliun. Sektor yang paling banyak digunakan untuk
keperluan rumah tangga adalah sektor jasa lainnya (seperti pada jasa lembaga
keuangan dan jasa sosial kemasyarakatan) sebesar 17,89%, industri lainnya (seperti
pada industri mesin dan industri alat pengangkutan) sebesar 17,65%, dan industri
makanan, minuman dan tembakau (16,80 %).
Tabel 9. Struktur Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah Sektor-Sektor
Perekonomian Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Konsumsi Konsumsi
No Sektor % %
Rumah Tangga Pemerintah
1 Tanaman pangan 97,57 6,09 0 0,00
2 Perkebunan 5,25 0,33 0 0,00
3 Ternak Potong 3,98 0,25 0 0,00
4 Ternak Perah 0,96 0,06 0 0,00
5 Ternak Lainnya 0,43 0,03 0 0,00
6 Pemotongan Hewan 23,65 1,48 0 0,00
7 Ternak Unggas 25,76 1,61 0 0,00
8 Kehutanan 2,33 0,15 0 0,00
9 Perikanan 44,81 2,80 0 0,00
10 Pertambangan dan Penggalian 0,01 0,00 0 0,00
11 Industri Hasil Ternak 14,77 0,92 0 0,00
12 Industri Makanan, Minuman 269,30 16,80 0 0,00
dan Tembakau
13 Industri Pakan 0,24 0,01 0 0,00
14 Industri Lainnya 282,86 17,65 0 0,00
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 27,55 1,72 0 0,00
16 Bangunan 0,00 0,00 0 0,00
17 Perdagangan 194,33 12,12 0 0,00
18 Restoran dan Hotel 160,68 10,02 0 0,00
19 Transportasi dan Komunikasi 161,72 10,09 0 0,00
20 Jasa Lainnya 286,72 17,89 220,87 100,00
Jumlah 1.602,94 100,00 220,87 100,00
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Sektor-sektor perekonomian Indonesia yang memiliki jumlah konsumsi


sangat rendah adalah sektor bangunan, pertambangan dan penggalian, dan industri
pakan. Sektor bangunan jumlah konsumsi rumah tangganya bernilai nol, karena
setiap pengeluaran rumah tangga terhadap pembelian rumah tempat tinggal
(bangunan) tidak dihitung dalam struktur konsumsi rumah tangga tetapi dihitung
dalam struktur pembentukan modal tetap. Sektor pertambangan dan penggalian dan
industri pakan jumlah konsumsi rumah tangganya sangat kecil, dikarenakan output
kedua sektor ini lebih diperuntukkan bagi proses produksi di sektor lain, khususnya
bagi sektor industri pakan outputnya banyak digunakan sebagai input untuk proses
produksi di sektor peternakan.
Konsumsi rumah tangga sektor peternakan pada tahun 2005 sebesar Rp 54,79
triliun yang terdistribusi kepada ternak unggas (47,02%), pemotongan hewan
(43,18%), ternak potong (7,26%), ternak perah (1,76%), dan ternak lainnya (0,76%).
Tingginya konsumsi rumah tangga terhadap sektor ternak unggas dibandingkan
dengan keempat subsektor peternakan lainnya diakibatkan karena permintaan akan
output dari sektor ini (telur dan daging unggas) lebih tinggi dibandingkan dengan
permintaan output dari keempat subsektor peternakan lainnya (susu segar, daging
sapi, daging kambing, dan lain-lain).

Struktur Investasi
Investasi dalam tabel Input-Output adalah penjumlahan dari pembentukan
modal tetap dan perubahan stok. Pembentukan modal tetap adalah biaya yang
dikeluarkan untuk pengadaan atau pembuatan barang baru, yang berasal dari dalam
negeri dan impor, sedangkan perubahan stok adalah nilai stok barang pada akhir
periode penghitungan dikurangi dengan nilai stok pada awal periode.
Total investasi Indonesia pada tahun 2005 (Tabel 10) sebesar Rp 643,45
triliun yang terdiri dari pembentukan modal tetap sebesar Rp 619,38 triliun dan
perubahan stok sebesar Rp 24,07 triliun. Sektor peternakan memiliki nilai investasi
yang negatif, yaitu sebesar Rp 2,04 triliun. Nilai investasi negatif pada sektor
peternakan diakibatkan tambahan modal pada komponen pembentukan modal tetap
sektor peternakan sebesar Rp 0,21 triliun tidak sebanding dengan pengurangan modal
sebesar Rp 2,25 triliun pada komponen perubahan stoknya.
Sektor peternakan yang memiliki nilai investasi yang negatif adalah ternak
unggas (Rp 1,91 triliun), ternak potong (Rp 0,14 triliun), ternak lainnya (Rp 0,031
triliun), sedangkan sektor peternakan yang memiliki nilai investasi yang positif
adalah pada pemotongan hewan (Rp 0,038 triliun), Investasi pada subsektor
peternakan yang negatif disebabkan oleh dua faktor, antara lain: pertama karena tidak
adanya pembentukan modal tetap pada sub-subsektor peternakan (kecuali sektor
ternak potong) yang diperlukan untuk membeli alat-alat yang menunjang usaha
peternakan (seperti alat angkut, kandang, dan mesin-mesin) dan pembelian ternak
produktif yang dipelihara khusus untuk keperluan pembiakan, pemerahan susu,
pengambilan bulu, pemakaian tenaga namun tidak termasuk ternak yang akan
dipotong; kedua disebabkan karena terjadinya pengurangan stok yang cukup besar
(kecuali sektor pemotongan hewan). Khusus pada sektor ternak unggas terjadi
pengurangan stok jumlah ternak unggas yang sangat besar, salah satunya disebabkan
oleh virus flu burung yang membunuh 1,1 juta unggas di Indonesia pada tahun 2005
(Gmikro, 2006).
Tabel 10. Struktur Investasi Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun
2005 (Triliun Rupiah)
Perubahan Pembentukan
No Sektor Investasi
Stok Modal Tetap
1 Tanaman pangan (0,9573) 0,0036 (0,9537)
2 Perkebunan (0,3040) 1,0608 0,7568
3 Ternak Potong (0,3529) 0,2150 (0,1379)
4 Ternak Perah 0 0 0
5 Ternak Lainnya (0,0316) 0 (0,0316)
6 Pemotongan Hewan 0,0379 0 0,0379
7 Ternak Unggas (1,9087) 0 (1,9087)
8 Kehutanan 0,2936 0 0,2936
9 Perikanan (1,0957) 0 (1,0957)
10 Pertambangan dan Penggalian 4,8665 0,8137 5,6802
11 Industri Hasil Ternak (0,5671) 0,0002 (0,5669)
12 Industri Makanan, Minuman dan tembakau (7,2016) 0 (7,2016)
13 Industri Pakan 1,9159 0 1,9159
14 Industri Lainnya 26,9041 52,6217 79,5258
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 0 0 0
16 Bangunan 0 528,9813 528,9813
17 Perdagangan 1,8493 19,5477 21,3970
18 Restoran dan Hotel 0 0 0
19 Transportasi dan Komunikasi 0,6183 6,3969 7,0152
20 Jasa Lainnya 0 9,7375 9,7375
Jumlah 24,0667 619,3784 643,4451
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
( ) =defisit/negatif
Dilihat secara umum nilai investasi pada sektor peternakan dan sektor yang
terkait secara langsung dengan sektor peternakan seperti sektor industri hasil ternak
dan industri pakan adalah sangat kecil bahkan ada yang bernilai negatif. Hal tersebut
sangat mengkhawatirkan, karena akan menghambat perkembangan sektor peternakan
di masa yang akan datang, sehingga pemerintah harus mengambil langkah proaktif
seperti mengalokasikan dana investasi dari sektor lain ataupun juga memperbaiki
iklim investasi pada sektor peternakan.

Struktur Ekspor dan Impor


Ekspor dan impor adalah transaksi ekonomi yang terjadi antara penduduk
suatu negara dengan penduduk negara lainnya. Penduduk yang dimaksud mencakup
perorangan, perusahaan, badan pemerintah (baik pusat maupun daerah) dan berbagai
lembaga lainnya di suatu negara.
Tabel 11. Struktur Ekspor dan Impor Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia
Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Selisih
No Sektor Ekspor % Impor %
X-M
1 Tanaman pangan 0,6729 0,07 4,5958 0,81 (3,9229)
2 Perkebunan 10,4305 1,07 1,3744 0,24 9,0561
3 Ternak Potong 0,2701 0,03 0,0390 0,01 0,2311
4 Ternak Perah 0 0,00 0,0042 0,00 (0,0042)
5 Ternak Lainnya 0,0171 0,00 0,0005 0,00 0,0166
6 Pemotongan Hewan 0,0147 0,00 0,0051 0,00 0,0096
7 Ternak Unggas 0,0004 0,00 1,9957 0,35 (1,9953)
8 Kehutanan 2,2042 0,23 0,4473 0,08 1,7569
9 Perikanan 3,7945 0,39 1,0023 0,18 2,7921
10 Pertambangan dan Penggalian 191,7075 19,63 13,9170 2,45 177,7905
11 Industri Hasil Ternak 2,5072 0,26 1,1299 0,20 1,3773
12 Industri Makanan, Minuman 69,0729 7,07 20,7875 3,67 48,2854
dan Tembakau
13 Industri Pakan 0,1703 0,02 1,5905 0,28 (1,4202)
14 Industri Lainnya 494,8391 50,67 316,1019 55,75 178,7372
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 0 0,00 7,2655 1,28 (7,2655)
16 Bangunan 0 0,00 69,0069 12,17 (69,0069)
17 Perdagangan 76,6029 7,84 19,8399 3,50 56,7630
18 Restoran dan Hotel 24,3627 2,49 2,9938 0,53 21,3689
19 Transportasi dan Komunikasi 59,2852 6,07 44,2045 7,80 15,0807
20 Jasa Lainnya 40,6863 4,17 60,7012 10,71 (20,0148)
Jumlah 976,6384 100,00 567,0030 100,00 409,6354
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
( ) =defisit/negatif

Berdasarkan Tabel 11, pada tahun 2005 total ekspor output Indonesia sebesar
Rp 976,64 triliun dan total impor bahan bakunya sebesar Rp 567,00 triliun sehingga
terjadi surplus transaksi perdagangan sebesar Rp 409,64 triliun. Sektor yang paling
tinggi jumlah ekspor, impor dan selisih ekspor-impornya adalah sektor industri
lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor industri lainnya seperti industri
pengilangan minyak bumi dan industri hasil hutan sangat mendominasi dalam
perdagangan Internasional Indonesia.
Sektor peternakan yang mengalami surplus perdagangan dari yang terbesar
sampai terkecil adalah ternak potong (Rp 0,23 triliun), ternak lainnya (Rp 0,016
triliun), dan pemotongan hewan (Rp 0,0096 triliun). Surplus perdagangan yang
sangat besar pada ternak potong salah satunya disebabkan permintaan dari luar
negeri seperti Arab Saudi, Malaysia, dan Brunei akan output dari sektor ini terutama
pada komoditi kambing dan domba sangat tinggi. Bahkan guna mencukupi pasar Idul
Adha saja, setiap tahun Arab Saudi memerlukan 2,5 juta ekor kambing dan domba
dari Indonesia. Sementara itu, Malaysia dan Brunei Darussalam memerlukan 200
ribu ekor kambing dan domba tetapi permintaan dari ketiga Negara tersebut belum
bisa terpenuhi semuanya, sehingga kedepannya sektor ternak potong Indonesia
berpeluang besar untuk meningkatkan volume ekspornya (Balitbang Pertanian,
2005). Hal tersebut menegaskan, jika ternak potong dikembangkan dengan serius,
maka bukan tidak mungkin ternak potong akan menjadi sektor penyumbang devisa
terbesar bagi Indonesia.
Sektor peternakan yang mengalami defisit perdagangan adalah ternak unggas
(Rp 1,995 triliun) dan ternak perah (Rp 0,004 triliun). Sektor yang terkait erat dengan
sektor peternakan (terutama sektor ternak unggas) yang mengalami defisit
perdagangan cukup besar adalah sektor industri pakan (Rp 1,42 triliun). Sektor
ternak unggas mengalami defisit perdagangan cukup besar, antara lain disebabkan
ketergantungan terhadap parent stock dan mesin-mesin untuk pembibitan dari luar
negeri. Sektor industri pakan mengalami defisit perdagangan disebabkan oleh
tingginya ketergantungan sektor ini pada komoditas jagung sebesar 11,23 persen dari
luar negeri (Poultry Indonesia, 2008). Hal ini mengindikasikan bahwa sektor ternak
unggas sangat rentan sekali terhadap perubahan output atau input dari luar negeri
terutama yang berhubungan langsung dengan bahan baku utama bagi proses produksi
pada sektor ini. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan mengembangkan
sektor industri pakan yang berbasis pada bahan baku lokal dan pengembangan riset
dan teknologi di bidang pembibitan unggas.
Struktur Nilai Tambah Bruto
Nilai tambah bruto sering disebut juga sebagai input primer, balas jasa faktor
produksi atau produk domestik bruto. Nilai tambah bruto adalah input atau biaya
yang timbul sebagai akibat dari pemakaian faktor produksi dalam suatu kegiatan
ekonomi. Faktor produksi antara lain terdiri dari tenaga kerja, tanah, modal, dan
kewiraswastaan. Wujud dari nilai tambah bruto adalah upah dan gaji, surplus usaha,
penyusutan barang modal, dan pajak tak langsung netto.
Berdasarkan Tabel 12, pada tahun 2005 total nilai tambah bruto Indonesia Rp
2.876,89 triliun. Dari kelima komponen nilai tambah bruto, komponen yang
memberikan kontribusi dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah komponen
surplus usaha sebesar Rp 1.656,81 triliun, upah dan gaji sebesar Rp 882,18 triliun,
penyusutan sebesar Rp 291,61 triliun, pajak tak langsung sebesar Rp 112,21 triliun,
dan subsidi sebesar Rp 65,93 triliun
Sektor peternakan yang memberikan kontribusi terhadap nilai tambah bruto
Indonesia dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah ternak unggas (0,95%),
pemotongan hewan (0,56%), ternak potong (0,52%), ternak perah (0,04%), dan
ternak lainnya (0,01%). Kelima subsektor peternakan di atas mempunyai kontribusi
terhadap nilai tambah bruto di bawah 1 persen. Hal ini mencerminkan bahwa kelima
subsektor ini mempunyai peranan yang sangat rendah terhadap nilai tambah bruto
Indonesia.

Upah dan Gaji


Upah dan gaji adalah balas jasa yang diberikan kepada tenaga kerja yang
terlibat dalam kegiatan produksi. Balas jasa tersebut mencakup semua jenis balas
jasa, baik yang berupa uang maupun barang.
Berdasarkan Tabel 12, total komponen upah dan gaji di Indonesia mencapai
Rp 882,18 triliun atau sebesar 30,66 persen dari total nilai tambah bruto. Sektor yang
paling berperan dalam pembentukan komponen upah dan gaji adalah sektor jasa
lainnya (seperti pada jasa pemerintahan dan jasa sosial kemasyarakatan) sebesar Rp
246,85 triliun dan industri lainnya (seperti pada industri pengilangan minyak bumi)
sebesar Rp 177,83 triliun. Jika nilai keduanya digabungkan, maka nilainya mencapai
hampir 50 persen dari total nilai upah dan gaji di Indonesia. Hal ini mengindikasikan
peranan kedua sektor ini masih cukup dominan dalam menyediakan kesempatan
kerja atau upah yang diterima pekerja pada kedua sektor ini lebih tinggi
dibandingkan dengan sektor lain.
Sektor peternakan yang paling berkontribusi terhadap komponen upah dan
gaji adalah ternak unggas (Rp 11,87 triliun). Hal ini membuktikan bahwa sektor
ternak unggas lebih mampu berperan dalam menyediakan kesempatan kerja atau
upah yang diterima pekerja di sektor ternak unggas lebih tinggi dibandingkan dengan
subsektor peternakan lainnya.

Surplus Usaha
Surplus usaha adalah balas jasa atas kewiraswastaan dan pendapatan atas
kepemilikan modal. Berdasarkan Tabel 12, total surplus usaha dalam perekonomian
Indonesia tahun 2005 sebesar Rp 1.656,81 triliun atau sebesar 57,59 persen dari total
nilai tambah bruto.
Sektor peternakan yang paling berkontribusi terhadap surplus usaha adalah
ternak unggas (Rp 13,97 triliun). Hal ini membuktikan bahwa pada ternak unggas,
balas jasa yang diterima penanam modal ternak unggas lebih besar dibandingkan
dengan subsektor peternakan lainnya, sehingga ternak unggas lebih cepat
berkembang karena lebih banyak pemodal dan tenaga kerja yang berusaha atau
bekerja di sektor ini dibandingkan dengan subsektor peternakan lainnya.

Rasio Upah Gaji (U) dengan Surplus Usaha (S)


Rasio upah gaji dengan surplus usaha (U/S) adalah perbandingan antara rasio
upah gaji dengan surplus usaha. Nilai rasio tersebut menunjukkan perbandingan
antara besarnya upah dan gaji yang diterima tenaga kerja dengan pendapatan yang
diterima pemilik modal. Nilai rasio upah dan gaji dengan surplus usaha dikatakan
baik, jika nilai rasionya mendekati keseimbangan (satu) yang berarti bahwa proporsi
penerimaan upah dan gaji bagi pekerja dan surplus usaha bagi pemilik modal
berimbang.
Berdasarkan hasil analisis rasio upah dan gaji dengan surplus usaha (Tabel
12) diperoleh bahwa rata-rata nilai rasio U/S sektor-sektor ekonomi di Indonesia
adalah 0,53. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi kesenjangan yang cukup besar
dalam hal keadilan distribusi pendapatan antara pemilik modal dengan tenaga kerja.
Sektor yang memiliki rasio terbaik adalah sektor transportasi dan komunikasi (0,94),
sedangkan sektor yang memiliki rasio terburuk adalah sektor tanaman pangan (0,22).
Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena sektor tanaman pangan merupakan sektor
yang menyediakan kebutuhan primer utama bagi masyarakat Indonesia ternyata
memiliki rasio terburuk sehingga apabila dibiarkan, tenaga kerja di sektor ini (petani)
akan beralih ke sektor lain dan pada akhirnya Indonesia terancam krisis pangan.
Sektor peternakan yang memiliki rasio U/S terbaik adalah ternak lainnya
(0,90) dan ternak unggas (0,80), bahkan jika dibandingkan dengan sektor-sektor
ekonomi lainnya kedua sektor ini masih termasuk kategori terbaik bersamaan dengan
sektor transportasi dan komunikasi (0,94), jasa lainnya (1,11) dan industri hasil
ternak (0,91). Hal tersebut menunjukkan bahwa kelima sektor ini memiliki distribusi
pendapatan antara pekerja dan pemilik modal yang baik (berimbang).
Tabel 12. Struktur Nilai Tambah Bruto Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Upah & Surplus U/S Penyusutan Pajak Tak Subsidi Pajak Tak Nilai Tambah Bruto
No Sektor
Gaji Usaha Langsung Langsung Netto Jumlah %
1 Tanaman pangan 32,91 152,34 0,22 2,00 2,54 -0,15 2,39 189,63 6,59
2 Perkebunan 19,42 37,39 0,52 2,47 0,99 0 0,99 60,28 2,10
3 Ternak Potong 3,65 10,51 0,35 0,42 0,25 0 0,25 14,83 0,52
4 Ternak Perah 0,38 0,75 0,51 0,07 0,02 0 0,02 1,23 0,04
5 Ternak Lainnya 0,11 0,12 0,90 0,07 0 0 0,00 0,30 0,01
6 Pemotongan Hewan 4,63 10,99 0,42 0,06 0,50 0 0,50 16,17 0,56
7 Ternak Unggas 11,89 13,99 0,85 0,92 0,53 0 0,53 27,32 0,95
8 Kehutanan 4,77 15,69 0,30 1,14 0,95 0 0,95 22,55 0,78
9 Perikanan 11,62 45,50 0,26 1,64 0,72 0 0,72 59,48 2,07
10 Pertambangan dan Penggalian 43,67 243,52 0,18 16,86 13,13 0 13,13 317,17 11,02
11 Industri Hasil Ternak 3,61 3,98 0,91 0,37 0,19 0 0,19 8,14 0,28
12 Industri Makanan, Minuman 39,35 81,23 0,48 10,40 32,93 0 32,93 163,91 5,70
dan Tembakau
13 Industri Pakan 1,93 4,83 0,40 2,55 0,40 0 0,40 9,72 0,34
14 Industri Lainnya 177,84 377,66 0,47 77,60 20,58 -55,94 -35,36 597,74 20,78
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 8,69 13,50 0,64 12,07 1,50 -8,85 -7,35 26,91 0,94
16 Bangunan 76,88 103,77 0,74 18,72 7,48 0 7,48 206,86 7,19
17 Perdagangan 94,17 200,46 0,47 25,09 12,27 0 12,27 331,99 11,54
18 Restoran dan Hotel 35,69 49,61 0,72 11,35 4,54 0 4,54 101,20 3,52
19 Transportasi dan Komunikasi 64,15 67,93 0,94 59,78 3,40 -0,85 2,56 194,42 6,76
20 Jasa Lainnya 246,85 223,02 1,11 48,05 9,28 -0,14 9,14 527,05 18,32
Jumlah 882,18 1.656,81 0,53 291,61 112,21 -65,93 46,29 2.876,89 100,00
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
5
4
Struktur Output Sektoral
Output adalah nilai dari seluruh produk yang dihasilkan oleh sektor-sektor
produksi dengan memanfaatkan faktor produksi yang tersedia di suatu wilayah dalam
suatu periode waktu tanpa memperhatikan asal-usul pelaku produksinya. Output
sektoral yang dimaksud dalam analisis Input-Output adalah output domestik. Output
domestik merupakan hasil pengurangan antara total output dengan komponen
impornya.

Tabel 13. Peringkat Output Domestik Sektor-Sektor Perekonomian Indonesia


Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Output
Urutan No Sektor %
Domestik
1 14 Industri Lainnya 541,12 18,81
2 20 Jasa Lainnya 497,31 17,29
3 16 Bangunan 459,97 15,99
4 12 Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 310,38 10,79
5 17 Perdagangan 272,49 9,47
6 19 Transportasi dan Komunikasi 183,82 6,39
7 10 Pertambangan dan Penggalian 183,48 6,38
8 18 Restoran dan Hotel 182,05 6,33
9 1 Tanaman pangan 92,70 3,22
10 9 Perikanan 46,51 1,62
11 6 Pemotongan Hewan 23,70 0,82
12 7 Ternak Unggas 21,86 0,76
13 15 Listrik, Gas dan Air Bersih 20,29 0,71
14 11 Industri Hasil Ternak 15,58 0,54
15 2 Perkebunan 15,06 0,52
16 8 Kehutanan 4,38 0,15
17 3 Ternak Potong 4,07 0,14
18 4 Ternak Perah 0,96 0,03
19 13 Industri Pakan 0,73 0,03
20 5 Ternak Lainnya 0,41 0,01
Jumlah 2.876,89 100,00
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Berdasarkan Tabel 13, total output domestik Indonesia pada tahun 2005
sebesar Rp 2.876,89 triliun. Sektor yang paling berkontribusi terhadap output
domesik adalah sektor industri lainnya, kemudian diikuti oleh sektor jasa lainnya dan
sektor bangunan.
Sektor peternakan menempati urutan sepuluh besar yaitu berkontribusi total
sebesar 1,76 persen terhadap total output domestik. Sektor peternakan yang masuk
urutan yang cukup bagus adalah pemotongan hewan (urutan 11) dan ternak unggas
(urutan 12), sedangkan sektor peternakan yang masuk urutan akhir adalah ternak
potong (urutan 17), ternak perah (urutan 18) dan ternak lainnya (urutan 20). Apabila
dilihat dari segi outputnya, maka sepuluh sektor terbesar dalam kontribusi terhadap
output domestik bisa menjadi leading sectors di Indonesia, yang perlu mendapat
perhatian dalam rangka pengembangan perekonomian baik nasional maupun daerah.

Analisis Keterkaitan
Analisis keterkaitan terdiri dari keterkaitan ke depan (forward linkage) dan
keterkaitan ke belakang (backward linkage). Keterkaitan ke depan dan keterkaitan
kebelakang terdiri dari keterkaitan langsung yang didapat dari matrik koefisien teknis
dan keterkaitan langsung dan tidak langsung yang didapat dari matrik kebalikan
Leontief terbuka, dimana dalam matrik kebalikan terbuka rumah tangga dianggap
sebagai exogenous dari model. Semakin besar nilai keterkaitan dari suatu sektor
maka semakin penting peranan sektor tersebut.

Keterkaitan ke Depan
Keterkaitan ke depan menunjukkan pengaruh peningkatan suatu sektor akan
terlihat pada sektor lain yang menggunakan output yang dihasilkannya sebagai input
mereka. Berdasarkan Tabel 14, sektor yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke
depan yang terbesar adalah sektor industri pakan, kemudian diikuti oleh sektor
kehutanan dan sektor perkebunan. Nilai keterkaitan langsung kedepan sektor industri
pakan yaitu sebesar 91,66 persen, artinya perubahan atau kenaikan terhadap
permintaan akhir sebesar 100 persen akan meningkatkan output di sektor-sektor
lainnya sebesar 91,66 persen yang dialokasikan secara langsung ke sektor-sektor
lainnya termasuk sektor industri pakan itu sendiri. Industri pakan memiliki nilai
keterkaitan langsung ke depan yang terbesar dibandingkan sektor-sektor lain
dikarenakan outputnya banyak digunakan oleh sektor-sektor lain terutama oleh
sektor peternakan seperti ternak potong, ternak perah dan ternak unggas. Hal ini
mengindikasikan bahwa sektor industri pakan merupakan sektor yang memegang
peranan penting dalam perekonomian Indonesia terutama untuk peranannya terhadap
sektor peternakan beserta subsektor-subsektornya.
Tabel 14. Keterkaitan ke Depan dan ke Belakang Sektor-Sektor Perekonomian
di Indonesia Tahun 2005 (Persen)
Keterkaitan Ke Depan Keterkaitan Ke Belakang
No Sektor Langsung & Langsung &
Langsung Tidak Langsung Tidak
Langsung Langsung
1 Tanaman pangan 58,77 248,43 24,45 125,75
2 Perkebunan 81,04 134,61 10,18 145,78
3 Ternak Potong 78,52 140,75 9,51 139,05
4 Ternak Perah 46,56 102,86 0,95 153,70
5 Ternak Lainnya 9,50 100,06 0,20 150,81
6 Pemotongan Hewan 39,51 117,96 79,78 188,09
7 Ternak Unggas 49,15 128,38 49,20 168,74
8 Kehutanan 82,17 106,77 2,00 123,59
9 Perikanan 34,70 114,44 16,16 127,34
10 Pertambangan dan Penggalian 49,03 166,97 11,38 120,77
11 Industri Hasil Ternak 38,62 112,23 57,03 216,78
12 Industri Makanan, Minuman 28,87 204,30 139,41 192,43
dan Tembakau
13 Industri Pakan 91,66 191,84 10,51 192,21
14 Industri Lainnya 45,34 355,53 205,90 164,86
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 69,00 139,97 21,13 199,99
16 Bangunan 8,55 124,49 71,15 181,97
17 Perdagangan 42,44 233,07 34,16 150,61
18 Restoran dan Hotel 17,05 113,36 100,29 190,31
19 Transportasi dan Komunikasi 42,77 181,94 27,85 165,52
20 Jasa Lainnya 36,97 235,50 78,99 155,15
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Sektor peternakan yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke depan dari


yang terbesar sampai yang terkecil adalah ternak potong (78,52 %), ternak unggas
(49,15 %), ternak perah (46,56 %), pemotongan hewan (39,51 %) dan ternak lainnya
(9,50 %). Nilai keterkaitan langsung ke depan sektor ternak potong yang lebih besar
dibandingkan dengan keempat sektor peternakan lainnya menunjukkan bahwa peran
dari sektor ternak potong tersebut dalam menyediakan output yang dihasilkannya
untuk digunakan sebagai input oleh sektor-sektor lain dalam proses produksi maupun
digunakan untuk permintaan akhir lebih besar dibandingkan keempat sektor
peternakan lainnya.
Analisis keterkaitan langsung ke depan sektor peternakan terhadap masing-
masing sektor pada Tabel 15, memperlihatkan bahwa sektor peternakan memiliki
kemampuan untuk mendorong pertumbuhan pemotongan hewan, industri hasil
ternak, restoran dan hotel beserta tanaman pangan. Khusus untuk ternak potong
mempunyai keterkaitan ke depan langsung yang tinggi terhadap sektor tanaman
pangan karena output sektor ternak potong banyak digunakan untuk input bagi
sektor tanaman pangan untuk keperluan pupuk hewani juga untuk membajak sawah
(tenaga kerja).

Tabel 15. Keterkaitan Ke Depan Langsung Serta Langsung dan Tidak


Langsung Sektor Peternakan dalam Perekonomian Indonesia
Tahun 2005 (Persen)
Keterkaitan Ke Depan Keterkaitan Ke Depan
No Sektor Peringkat Langsung Langsung & Tidak langsung
Sektor Nilai Sektor Nilai
1 Ternak Potong 1 Pemotongan Hewan 65,82 Ternak Potong 100,08
2 Tanaman pangan 11,40 Pemotongan Hewan 32,25
3 Perkebunan 0,68 Industri Hasil Ternak 4,11

2 Ternak Perah 1 Industri Hasil Ternak 37,05 Ternak Perah 100,04


2 Restoran dan Hotel 4,84 Industri Hasil Ternak 2,70
3 Jasa Lainnya 3,40 Restoran dan Hotel 0,05

3 Ternak Lainnya 1 Restoran dan Hotel 4,42 Ternak Lainnya 100,04


2 Industri Lainnya 3,25 Restoran dan Hotel 0,01
3 Transportasi dan 1,48 Industri Hasil Ternak 0,00
Komunikasi

4 Pemotongan 1 Restoran dan Hotel 28,18 Pemotongan Hewan 100,26


Hewan 2 Industri Hasil Ternak 7,17 Industri Hasil Ternak 11,45
3 Jasa Lainnya 3,24 Restoran dan Hotel 5,05

5 Ternak Unggas 1 Restoran dan Hotel 31,00 Ternak Unggas 100,07


2 Pemotongan Hewan 12,85 Pemotongan Hewan 15,47
3 Jasa Lainnya 2,22 Restoran dan Hotel 7,41
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Nilai keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan semua sektor


perekonomian di Indonesia pada Tabel 14 memiliki nilai lebih dari satu, Hal ini
disebabkan disamping keterkaitan pada tahap pertama (keterkaitan langsung), pada
keterkaitan langsung dan tidak langsung ini sudah diperhitungkan keterkaitan pada
tahap kedua dan seterusnya yang disebabkan oleh keterkaitan pada tahap pertama
tadi,
Berdasarkan Tabel 14, sektor yang memiliki keterkaitan langsung dan tidak
langsung ke depan terbesar adalah sektor industri lainnya (355,53 persen), sektor
pertanian (248,43 persen) dan sektor jasa lainnya (235,50 persen), Nilai-nilai tersebut
menunjukkan bahwa setiap terjadi perubahan atau peningkatan permintaan akhir
sebesar 100 persen pada sektor tersebut, secara langsung dan tidak langsung output
disektor tersebut akan meningkat sebesar nilai perentase keterkaitannya yang
dialokasikan secara langsung dan tidak langsung ke sektor-sektor lainnya termasuk
sektor itu sendiri,
Sektor peternakan yang memiliki nilai keterkaitan langsung dan tidak
langsung dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah ternak potong yaitu
(140,75%), ternak unggas (128,38%), pemotongan hewan (117,96%), ternak perah
(102,86%) dan terkecil adalah tenak lainnya (100,06%), Nilai-nilai tersebut
menunjukkan seberapa jauh sektor tersebut mampu mendorong perkembangan
sektor-sektor lain melalui penyediaan output yang digunakan sebagai bahan baku
untuk meningkatkan produksi sektor-sektor lain maupun sektor itu sendiri sebesar
nilai keterkaitannya,
Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke depan subsektor-subsektor
peternakan dengan sektor-sektor ekonomi lainnya pada Tabel 15, memperlihatkan
bahwa sektor peternakan selain mampu mendorong pertumbuhan sektornya sendiri
juga mampu mendorong pertumbuhan kepada sektor hotel dan restoran dan industri
hasil ternak,

Keterkaitan ke Belakang
Keterkaitan ke belakang menunjukkan pengaruh peningkatan suatu sektor
akan terlihat pada sektor-sektor lain yang menyediakan bahan baku sebagai input
sektor tersebut, Berdasarkan Tabel 14, dapat dilihat bahwa sektor yang mempunyai
nilai keterkaitan langsung ke belakang terbesar adalah sektor industri lainnya
(205,90%), kemudian diikuti oleh sektor industri makanan, minuman dan tembakau
(139,41%), dan sektor restoran dan hotel (100,29%), artinya perubahan atau
kenaikan terhadap permintaan akhir sebesar 100 persen pada ketiga sektor tersebut
maka ketiga sektor tersebut akan meningkatkan penggunaan input dari sektor-sektor
lainnya termasuk sektor itu sendiri sebesar nilai keterkaitannya, Nilai keterkaitan
langsung ke belakang ke tiga sektor tersebut yang relatif besar menunjukkan ketiga
sektor ini merupakan sektor penghubung untuk menjembatani atau untuk
merangsang pertumbuhan sektor-sektor ekonomi lainnya terutama untuk sektor
restoran dan hotel yang apabila berkembang dengan baik maka sektor peternakan
yang menjadi penyuplai bahan bakunya juga akan ikut berkembang,
Sektor peternakan yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang yang
cukup besar adalah pemotongan hewan (79,78%) dan ternak unggas (49,20%),
sedangkan sektor peternakan yang memiliki nilai keterkaitan langsung ke belakang
yang kecil adalah ternak lainnya (0,20%), ternak perah (0,95%) dan ternak potong
(9,51%), Nilai keterkaitan langsung ke belakang pemotongan hewan yang lebih besar
dibandingkan dengan keempat sektor peternakan lainnya menunjukkan bahwa sektor
pemotongan hewan mempunyai peranan yang tinggi dalam merangsang
pertumbuhan output sektor peternakan, terutama dari sektor ternak potong dan ternak
unggas,

Tabel 16, Keterkaitan Ke Belakang Langsung Serta Langsung dan Tidak


Langsung Sektor Peternakan dalam Perekonomian Indonesia
Tahun 2005 (Persen)
Keterkaitan Ke Belakang Keterkaitan Ke Belakang
No Sektor Peringkat Langsung Langsung & Tidak langsung
Sektor Nilai Sektor Nilai
1 Ternak Potong 1 Industri Pakan 8,92 Ternak Potong 100,08
2 Tanaman pangan 0,17 Industri Pakan 13,88
3 Perdagangan 0,12 Tanaman pangan 6,44

2 Ternak Perah 1 Industri Pakan 0,79 Ternak Perah 100,04


2 Tanaman pangan 0,04 Industri Pakan 13,13
3 Ternak Perah 0,04 Tanaman pangan 9,36

3 Ternak Lainnya 1 Industri Pakan 0,10 Ternak Lainnya 100,04


2 Tanaman pangan 0,04 Tanaman pangan 24,34
3 Ternak Lainnya 0,04 Industri Pakan 7,11

4 Pemotongan 1 Ternak Potong 32,25 Pemotongan Hewan 100,26


Hewan 2 Ternak unggas 15,47 Ternak Potong 32,25
3 Perdagangan 11,26 Ternak unggas 15,47

5 Ternak Unggas 1 Industri Pakan 48,25 Ternak Unggas 100,07


2 Perdagangan 0,53 Industri Pakan 30,55
3 Transportasi dan 0,18 Perdagangan 9,71
Komunikasi
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
Analisis keterkaitan langsung ke belakang sektor peternakan terhadap
masing-masing sektor pada Tabel 16, memperlihatkan bahwa ternak potong, ternak
perah, ternak lainnya dan ternak unggas masing-masing memiliki nilai keterkaitan ke
belakang secara langsung terbesar terhadap sektor industri pakan dan tanaman
pangan, Hal ini disebabkan karena dalam suatu usaha peternakan komponen pakan
baik pakan alami (dari tanaman pangan) maupun pakan olahan (dari industri pakan)
merupakan biaya input terbesar yang harus dikeluarkan sehingga keempat sektor
tersebut masih sangat tergantung kepada industri pakan dan pertanian, Pemotongan
hewan memilki nilai keterkaitan ke belakang secara langsung terbesar terhadap
ternak potong dan ternak unggas (sektor yang menghasilkan daging ),
Berdasarkan Tabel 14, sektor yang memiliki keterkaitan langsung dan tidak
langsung ke belakang terbesar adalah industri hasil ternak (216,78%), listrik, gas dan
air bersih (199,99%), industri makanan, minuman dan tembakau (192,43%) dan
industri pakan (192,21%), Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap terjadi
perubahan atau peningkatan permintaan akhir sebesar 100 persen pada sektor
tersebut, maka sektor tersebut membutuhkan input untuk proses produksi dari sektor-
sektor perekonomian lainnya termasuk dari sektor itu sendiri,
Sektor peternakan yang memiliki nilai keterkaitan ke belakang secara
langsung dan tidak langsung dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah
pemotongan hewan (188,09%), ternak unggas (168,74%), ternak perah (153,70%),
ternak lainnya (150,81%) dan terkecil adalah sektor tenak potong sebesar 139,05
persen, Nilai-nilai tersebut menunjukkan seberapa jauh sektor tersebut mampu
mendorong atau berpengaruh dalam merangsang pertumbuhan sektor-sektor hulunya,
Keterkaitan langsung dan tidak langsung ke belakang subsektor-subsektor
peternakan dengan sektor-sektor ekonomi lainnya pada Tabel 15, memperlihatkan
bahwa sektor peternakan selain mampu mendorong pertumbuhan sektornya sendiri
juga mampu mendorong pertumbuhan terbesar kepada industri pakan, tanaman
pangan, dan perdagangan,

Analisis Penetapan Sektor Prioritas


Untuk menetapkan sektor prioritas, maka bisa dilihat dari nilai dampak
penyebarannya, Melalui dampak penyebaran maka bisa diketahui distribusi manfaat
suatu sektor dalam mendorong pertumbuhan sektor hulu atau hilir baik melalui
mekanisme transaksi pasar output dan pasar input, Dampak penyebaran dianalisis
berdasarkan koefisien penyebaran dan kepekaan penyebaran,

Tabel 17, Koefisien dan Kepekaan Penyebaran Sektor-Sektor Perekonomian


di Indonesia Tahun 2005
No Sektor Koefisien Penyebaran Kepekaan Penyebaran
1 Tanaman pangan 0,77 1,53
2 Perkebunan 0,90 0,83
3 Ternak Potong 0,85 0,87
4 Ternak Perah 0,94 0,63
5 Ternak Lainnya 0,93 0,62
6 Pemotongan Hewan 1,16 0,73
7 Ternak unggas 1,04 0,79
8 Kehutanan 0,76 0,66
9 Perikanan 0,78 0,70
10 Pertambangan dan Penggalian 0,74 1,03
11 Industri Hasil Ternak 1,33 0,69
12 Industri Makanan, Minuman 1,18 1,26
dan Tembakau
13 Industri Pakan 1,18 1,18
14 Industri Lainnya 1,01 2,19
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 1,23 0,86
16 Bangunan 1,12 0,77
17 Perdagangan 0,93 1,43
18 Restoran dan Hotel 1,17 0,70
19 Transportasi dan Komunikasi 1,02 1,12
20 Jasa Lainnya 0,95 1,45
Rata-rata 1,00 1,00
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Koefisien Penyebaran
Koefisien penyebaran menunjukkan distribusi manfaat dari pengembangan
suatu sektor terhadap pengembangan sektor-sektor lainnya melalui mekanisme
transaksi pasar input, Koefisien penyebaran sering diartikan sebagai kemampuan
suatu sektor untuk meningkatkan pertumbuhan industri hulunya, Koefisien
penyebaran diperoleh dari nilai keterkaitan output langsung dan tidak langsung ke
belakang yang dibobot dengan jumlah sektor kemudian dibagi dengan total
keterkaitan langsung dan tidak langsung semua sektor dengan rumah tangga sebagai
eksogenus dalam model, Koefisien penyebaran ini disebut juga dengan daya
penyebaran ke belakang,
Berdasarkan Tabel 17, sektor industri hasil ternak memiliki nilai koefisien
penyebaran terbesar sebesar 1,33, Nilai koefisien yang lebih besar dari satu untuk
sektor industri hasil ternak menunjukkan tinginya daya kepekaan sektor tersebut
dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia, Hal ini karena sektor industri hasil ternak
mampu menarik output dari sektor hulunya terutama dari sektor peternakan yang
menyediakan bahan baku utama untuk proses produksi pada sektor industri hasil
ternak dan jika terjadi kelangkaan input dari sektor peternakan maka sektor yang
pertama peka adalah sektor industri hasil ternak,
Sektor peternakan yang memiliki nilai koefisien penyebaran lebih dari satu
adalah pemotongan hewan (1,16) dan ternak unggas (1,04), sementara untuk ternak
potong, ternak perah dan ternak lainnya nilai kepekaan penyebarannya kurang dari
satu, Hal ini menunjukkan bahwa ternak unggas dan pemotongan hewan lebih
mampu medorong pertumbuhan output sektor hulunya dibandingkan dengan ternak
potong, ternak perah dan ternak lainnya,
Kepekaan Penyebaran
Kepekaan penyebaran menunjukkan tingkat kepekaan suatu sektor terhadap
sektor-sektor lainnya melalui mekanisme pasar output, Kepekaan penyebaran sering
diartikan sebagai kemampuan suatu sektor untuk mendorong pertumbuhan produksi
sektor-sektor lain yang memakai input dari sektor ini, Kepekaan penyebaran disebut
juga sebagai indeks daya penyebaran ke depan yang diperoleh dari keterkaitan
langsung dan tidak langsung ke depan yang dibobot dengan jumlah sektor yang ada,
kemudian dibagi dengan total keterkaitan langsung dan tidak langsung dari semua
sektor,
Berdasarkan Tabel 17, sektor yang memiliki nilai kepekaan penyebaran
terbesar adalah sektor industri lainnya (seperti industri pengilangan minyak bumi)
yaitu sebesar 2,19, Nilai koefisien yang lebih besar dari satu untuk sektor industri
lainnya menunjukkan kemampuan sektor industri lainnya untuk mendorong
pertumbuhan di sektor hilirnya seperti untuk sektor transportasi dan komunikasi dan
sektor listrik, gas dan air bersih ,
Semua subsektor peternakan memiliki nilai kepekaan penyebaran kurang
dari satu, Hal ini menunjukkan bahwa sektor peternakan kurang memiliki
kemampuan yang kuat untuk mendorong pertumbuhan produksi sektor-sektor
lainnya yang menggunakan input dari sektor peternakan,

Penetapan Sektor Prioritas


Analisis penetapan sektor peternakan prioritas dalam perekonomian
Indonesia didasarkan tinggi rendahnya nilai kepekaan dan koefisien penyebarannya
(analisis dampak penyebaran) dan lebih menitikberatkan kemampuan suatu sektor
untuk menarik ataupun mendorong pertumbuhan output sektor hulu maupun hilirnya,
Tabel 18, Indeks Pengembangan Peringkat Prioritas Sektor Kunci Sektor
Sektor Perekonomian Indonesia Tahun 2005
No Sektor Koefisien Penyebaran Kepekaan Penyebaran Prioritas
1 Tanaman pangan Rendah Tinggi III
2 Perkebunan Rendah Rendah IV
3 Ternak Potong Rendah Rendah IV
4 Ternak Perah Rendah Rendah IV
5 Ternak Lainnya Rendah Rendah IV
6 Pemotongan Hewan Tinggi Rendah II
7 Ternak unggas Tinggi Rendah II
8 Kehutanan Rendah Rendah IV
9 Perikanan Rendah Rendah IV
10 Pertambangan dan Penggalian Rendah Tinggi III
11 Industri Hasil Ternak Tinggi Rendah II
12 Industri Makanan, Minuman Tinggi Tinggi I
dan Tembakau
13 Industri Pakan Tinggi Tinggi I
14 Industri Lainnya Tinggi Tinggi I
15 Listrik, Gas dan Air Bersih Tinggi Rendah II
16 Bangunan Tinggi Rendah II
17 Perdagangan Rendah Tinggi III
18 Restoran dan Hotel Tinggi Rendah II
19 Transportasi dan Komunikasi Tinggi Tinggi I
20 Jasa Lainnya Rendah Tinggi III
Sumber : Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)

Berdasarkan Tabel 18, maka dapat diperoleh gambaran indeks prioritas untuk
setiap jenis sektor perekonomian di Indonesia, Sektor yang termasuk kategori
prioritas pertama yaitu sektor industri makanan minuman dan tembakau, sektor
industri pakan, sektor industri lainnya dan sektor transportasi dan komunikasi,
Prioritas peringkat kedua adalah sektor pemotongan hewan, sektor ternak
unggas, sektor industri hasil ternak, sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan
dan sektor restoran dan hotel, Sektor yang berada pada prioritas ketiga adalah sektor
tanaman pangan, sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan dan
sektor jasa lainnya, Sektor yang berada pada prioritas keempat adalah sektor
perkebunan, sektor ternak potong, sektor ternak lainnya, setor perikanan dan sektor
kehutanan,
Berdasarkan analisis penetapan sektor prioritas diatas maka untuk
mengembangkan sektor peternakan agar pertumbuhan produksinya optimal maka
sektor yang pertama dikembangkan adalah sektor industri pakan (hulunya),
kemudian dilanjutkan dengan pengembangan pada industri hasil ternak, pemotongan
hewan dan ternak unggas dan terakhir baru dikembangkan ternak potong, ternak
perah dan ternak lainnya,

Investasi Sektor Peternakan dalam Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan


dan Kehutanan (RPPK)
Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) yang telah
dicanangkan oleh Presiden RI tanggal 11 Juni 2005 di Jatiluhur, Jawa Barat
mengamanatkan bangsa ini perlu membangun ketahahanan pangan yang mantap
dengan memfokuskan pada peningkatan kapasitas produksi nasional untuk
komoditas yang mempunyai keunggulan strategis, Berdasarkan hasil identifikasi dari
Balitbang pertanian dengan menggunakan metode “pohon industri”, menunjukkan
bahwa terdapat 17 komoditas unggulan yang sangat staregis dan cerah untuk
dikembangkan di Indonesia, Komoditas unggulan tersebut meliputi: tanaman pangan
(padi/beras, jagung, kedelai), hortikultura (pisang, jeruk, bawang merah, anggrek),
tanaman perkebunan (kelapa sawit, karet, tebu/gula, kakao, tanaman obat, kelapa,
dan cengkeh), dan peternakan (unggas, kambing/domba, dan sapi).
Berdasarkan uraian di atas, maka terdapat tiga komoditas peternakan yang
termasuk unggulan dalam membangun ketahanan pangan terutama untuk mencukupi
kebutuhan masyarakat akan komoditi daging, Komoditas tersebut antara lain:
1. Komoditas Unggas
Komoditas unggas (lebih dari 90% adalah kontribusi dari ayam ras)
menduduki komoditas pertama untuk konsumsi daging di Indonesia yakni
sebesar 56 persen, Meskipun demikian, sampai dengan akhir tahun 2004,
konsumsi daging ayam ras dan telur di Indonesia juga masih rendah dibandingkan
dengan beberapa Negara ASEAN lainnya, Kenyataan bahwa telah terjadi
pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan, urbanisasi, perubahan gaya
hidup, serta peningkatan kesadaran akan gizi seimbang dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa, memicu terjadinya lonjakan permintaan produk daging ayam
dan telur setiap tahun,
2. Komoditas Sapi
Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam
mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, serta merupakan komoditas ekonomi yang
mempunyai nilai sangat strategis, Untuk memenuhi kebutuhan daging di
Indonesia saat ini berasal dari: 1) unggas (broiler, petelur jantan, ayam kampung
dan itik), 2) sapi (sapi potong, sapi perah dan kerbau), 3) babi, serta 4) kambing
dan domba (kado), Dari keempat jenis daging tersebut, hanya konsumsi daging
sapi (<2 kg/kapita/tahun) yang masih belum dapat dipenuhi dari pasokan dalam
negeri, karena laju peningkatan permintaan tidak dapat diimbangi oleh
pertambahan populasi,
3. Komoditas Kambing dan Domba (Kado)
Kambing dan domba mempunyai peran yang sangat strategis bagi kehidupan
masyarakat pedesaan dan berkembang di hampir seluruh wilayah Indonesia, Kado
mampu berkembang dan bertahan di semua zona agro-ekologi dan hampir tidak
terpisahkan dari sistem usahatani, Pemasaran produk kado sebagian besar untuk
memenuhi kebutuhan warung sate kambing, dan hanya sebagian kecil dipasarkan
untuk keperluan konsumsi rumah tangga, Namun hasil ikutannya berupa kulit
sangat penting bagi industri kulit skala besar maupun rumah tangga, Fungsi dan
peran terpenting lainnya dari ternak ini adalah untuk kepentingan dalam sistem
usahatani, serta sosial budaya seperti: qurban dan akikah, seni ketangkasan
domba, dan penghasil susu,
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ketiga komoditi
tersebut sangatlah strategis dan prospektif untuk menarik investor baik investor
swasta pemerintah, ataupun publik, Balitbang Pertanian (2005), memperkirakan dana
investasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan ketiga komoditas tersebut selama
lima tahun ke depan agar bisa menjadi penggerak pertumbuhan sektor pertanian dan
pedesaan adalah sebesar Rp 51,30 trilun, Perincian dari dana investasi tersebut,
terdapat dalam tabel berikut ini:

Tabel 19, Perkiraan Proporsi Kebutuhan Investasi Tiga Komoditas


Peternakan Unggulan Tahun 2005-2010
Perkiraan Kebutuhan Investasi (Rp Triliun)
Peternakan
Publik Pemerintah Swasta Total
Unggas 8,00 2,45 14,05 24,50
Sapi 13,50 2,50 8,00 24,00
Kambing dan Domba 1,75 0,65 0,40 2,80
Total 23,250 5,600 22,45 51,30
Sumber: Balitbang Pertanian (2005)
Berdasarkan data dari BKPM, perkembangan realisasi investasi sektor
peternakan dari awal Januari 2005- akhir Agustus 2007 baru terealisasi sebesar Rp
1,27 triliun dengan rincian dari PMDN sebesar Rp 0,37 triliun dan dari PMA sebesar
90,1 juta USD atau Rp 0,90 triliun dengan asumsi 1 USD=Rp 10,000,00, Jadi untuk
mencapai taget dari Balitbang Pertanian terhadap kebutuhan investasi sektor
peternakan masih sangat jauh, karena baru mencapai 2,48 persen dari investasi yang
diharapkan, Untuk meningkatkan investasi sesuai yang diharapkan maka pemerintah
harus berusaha keras agar bisa tercapai karena tinggal 3 tahun lagi,

Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Perekonomian Indonesia


Berdasarkan data investasi sektor peternakan dalam program RPPK dari
Balitbang pertanian, maka dalam penelitian ini untuk menganalisis dampak investasi
sektor peternakan terhadap perekonomian Indonesia karena program RPPK terutama
terhadap penambahan nilai output, nilai tambah, pendapatan, dan penyerapan tenaga
kerja dengan menggunakan analisis Input-Output terdapat investasi pada komponen
pembentukan modal tetap bruto sebesar Rp 13,4 triliun di sektor ternak potong, Rp
13,4 triliun di sektor ternak perah, dan Rp 24,5 triliun di sektor ternak unggas
(cateris paribus), Dampak dari investasi di sektor peternakan ini dapat dilihat secara
langsung (sektor yang diinvestasi) maupun dampak tidak langsung bagi sektor-sektor
perekonomian lainnya,

Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Nilai Output


Berdasarkan Tabel 20, dapat diketahui bahwa investasi sektor peternakan
dalam program RPPK sebesar Rp 51,3 triliun, akan menambah output diseluruh
sektor perekonomian sebesar Rp 80,57 triliun, Dari jumlah tersebut, dampak
langsungnya sebesar Rp 51,41 triliun atau 63,80 persen (yang terdiri dari sektor
ternak unggas sebesar Rp 24,55 triliun, ternak potong sebesar Rp 13,45 triliun, dan
ternak perah sebesar Rp 13,41 triliun) dan sebesar Rp 29,16 triliun atau 36,20 persen
merupakan dampak tidak langsungnya,
Tabel 20, Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Revitalisasi Pertanian,
Perikanan dan Peternakan (RPPK) terhadap Pembentukan Output,
di Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Penambahan
No Sektor Output 2005 Output Output 2010
Nilai % Nilai % Nilai %
1 Tanaman pangan 236,00 2,83 4,38 5,44 240,38 4,17
2 Perkebunan 86,71 0,48 0,39 0,48 87,10 1,51
3 Ternak Potong 19,13 0,12 13,45 16,69 32,58 0,56
4 Ternak Perah 1,80 0,03 13,41 16,64 15,21 0,26
5 Ternak Lainnya 0,46 0,01 *67 0,00 0,46 0,01
6 Pemotongan Hewan 39,19 0,69 0,01 0,02 39,21 0,68
7 Ternak unggas 46,91 0,69 24,55 30,48 71,47 1,24
8 Kehutanan 27,10 0,14 0,03 0,04 27,13 0,47
9 Perikanan 72,76 1,38 0,12 0,15 72,88 1,26
10 Pertambangan dan Penggalian 387,25 5,73 0,36 0,45 387,61 6,72
11 Industri Hasil Ternak 27,22 0,49 0,02 0,02 27,23 0,47
12 Industri Makanan, Minuman 465,59 9,62 2,23 2,77 467,83 8,11
dan Tembakau
13 Industri Pakan 27,88 0,07 11,11 13,78 38,99 0,68
14 Industri Lainnya 1568,26 24,89 2,12 2,63 1570,37 27,22
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 88,89 0,80 0,43 0,54 89,33 1,55
16 Bangunan 578,44 15,36 0,24 0,30 578,68 10,03
17 Perdagangan 507,85 8,49 4,20 5,21 512,05 8,88
18 Restoran dan Hotel 223,08 5,37 0,13 0,16 223,21 3,87
19 Transportasi dan Komunikasi 398,43 6,62 1,77 2,20 400,20 6,94
20 Jasa Lainnya 885,30 16,20 1,62 2,01 886,92 15,37
Jumlah 5,688,27 100,00 80,57 100,00 5,768,85 100,00
Sumber: Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
*= dalam juta rupiah

Output sektor peternakan pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 158,92 triliun
atau meningkat 47,83 persen dari total output tahun 2005 sehingga kontribusinya
terhadap total output Indonesia meningkat dari 3,06 persen pada tahun 2005 menjadi
4,49 persen pada tahun 2010, Sektor di luar sektor peternakan yang paling terdorong
adalah sektor industri pakan (meningkat Rp 11,10 triliun) dan tanaman pangan
(meningkat Rp 4,38 triliun), disamping itu sektor peternakan juga mendorong
peningkatan output disektor perkebunan (Rp 0,39 triliun), perikanan (Rp 0,12
triliun) dan kehutanan (Rp 0,03 triliun), Hal ini membuktikan bahwa sektor
peternakan merupakan sektor yang cukup berperan dalam mendukung kesuksesan
program RPPK karena selain bisa meningkatkan ouput di sektor peternakan (baik
sektor hulu dan hilirnya) juga meningkatkan output di sektor lain terutama di sektor
pertanian,

Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Nilai Tambah


Berdasarkan Tabel 21, dapat diketahui bahwa investasi sektor peternakan
dalam RPPK akan menghasilkan nilai tambah diseluruh sektor perekonomian sebesar
Rp 48,39 triliun, Dari jumlah tersebut, dampak langsungnya sebesar Rp 33,85 triliun
atau 69,96 persen (yang terdiri dari ternak unggas sebesar Rp 14,30 triliun, sektor
ternak potong sebesar Rp 10,42 triliun, dan ternak perah sebesar Rp 9,13 triliun) dan
Rp 14,54 triliun atau 30,04 persen merupakan dampak tidak langsungnya,

Tabel 21, Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Revitalisasi Pertanian,


Perikanan dan Peternakan (RPPK) terhadap Pembentukan Nilai
Tambah di Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Nilai Tambah Penambahan Nilai Tambah
No Sektor 2005 Nilai Tambah 2010
Nilai % Nilai % Nilai %
1 Tanaman pangan 189,63 6,59 3,52 7,27 193,15 6,60
2 Perkebunan 60,28 2,10 0,27 0,56 60,55 2,07
3 Ternak Potong 14,83 0,52 10,42 21,53 25,25 0,86
4 Ternak Perah 1,23 0,04 9,13 18,87 10,36 0,35
5 Ternak Lainnya 0,30 0,01 *44 0,00 0,30 0,01
6 Pemotongan Hewan 16,17 0,56 0,01 0,01 16,17 0,55
7 Ternak unggas 27,32 0,95 14,30 29,55 41,63 1,42
8 Kehutanan 22,55 0,78 0,03 0,06 22,57 0,77
9 Perikanan 59,48 2,07 0,10 0,20 59,58 2,04
10 Pertambangan dan Penggalian 317,17 11,02 0,30 0,61 317,47 10,85
11 Industri Hasil Ternak 8,14 0,28 *4.667 0,01 8,15 0,28
12 Industri Makanan, Minuman 163,91 5,70 0,79 1,63 164,69 5,63
dan Tembakau 0,00
13 Industri Pakan 9,72 0,34 3,87 8,00 13,60 0,46
14 Industri Lainnya 597,74 20,78 0,81 1,67 598,55 20,46
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 26,91 0,94 0,13 0,27 27,04 0,92
16 Bangunan 206,86 7,19 0,09 0,18 206,95 7,07
17 Perdagangan 331,99 11,54 2,74 5,67 334,73 11,44
18 Restoran dan Hotel 101,20 3,52 0,06 0,12 101,26 3,46
19 Transportasi dan Komunikasi 194,42 6,76 0,87 1,79 195,29 6,68
20 Jasa Lainnya 527,05 18,32 0,96 1,99 528,01 18,05
Jumlah 2,876,89 100,00 48,39 100 2,925,28 100,00
Sumber: Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
*= dalam juta rupiah
Nilai tambah sektor peternakan pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 93,70
triliun atau meningkat 56,58 persen dari total output tahun 2005, Sektor di luar sektor
peternakan yang paling besar terdorong adalah sektor industri pakan dan tanaman
pangan sedangkan sektor yang paling kecil terdorong adalah sektor ternak lainnya,
Hal ini disebabkan karena nilai keterkaitan ternak potong, ternak perah dan ternak
unggas terhadap ternak lainnya sangat kecil,

Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap pendapatan

Tabel 22, Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Revitalisasi Pertanian,


Perikanan dan Peternakan (RPPK) terhadap Pembentukan
Pendapatan di Indonesia Tahun 2005 (Triliun Rupiah)
Penambahan
No Sektor Pendapatan 2005 Pendapatan Pendapatan 2010
Nilai % Nilai % Nilai %
1 Tanaman pangan 32,91 3,73 0,61 4,02 33,52 3,73
2 Perkebunan 19,42 2,20 0,09 0,57 19,50 2,17
3 Ternak Potong 3,65 0,41 2,56 16,86 6,21 0,69
4 Ternak Perah 0,38 0,04 2,83 18,65 3,21 0,36
5 Ternak Lainnya 0,11 0,01 *16 0,00 0,11 0,01
6 Pemotongan Hewan 4,63 0,52 *1.626 0,01 4,63 0,52
7 Ternak unggas 11,89 1,35 6,22 40,95 18,11 2,02
8 Kehutanan 4,77 0,54 0,01 0,04 4,77 0,53
9 Perikanan 11,62 1,32 0,02 0,12 11,64 1,30
10 Pertambangan dan Penggalian 43,67 4,95 0,04 0,27 43,71 4,87
11 Industri Hasil Ternak 3,61 0,41 *2.073 0,01 3,61 0,40
12 Industri Makanan, Minuman 39,35 4,46 0,19 1,24 39,54 4,41
dan Tembakau
13 Industri Pakan 1,93 0,22 0,77 5,07 2,70 0,30
14 Industri Lainnya 177,84 20,16 0,24 1,58 178,08 19,84
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 8,69 0,98 0,04 0,28 8,73 0,97
16 Bangunan 76,88 8,71 0,03 0,21 76,91 8,57
17 Perdagangan 94,17 10,67 0,78 5,12 94,95 10,58
18 Restoran dan Hotel 35,69 4,05 0,02 0,14 35,71 3,98
19 Transportasi dan Komunikasi 64,15 7,27 0,29 1,88 64,44 7,18
20 Jasa Lainnya 246,85 27,98 0,45 2,97 247,30 27,56
Jumlah 882,18 100,00 15,19 100,00 897,38 100,00
Sumber: Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
*= dalam juta rupiah

Berdasarkan Tabel 22, dapat diketahui bahwa investasi sektor peternakan


dalam RPPK akan menghasilkan pendapatan diseluruh sektor perekonomian sebesar
Rp 48,39 triliun, Dari jumlah tersebut, dampak langsungnya sebesar Rp 11,62 triliun
atau 76,46 persen, merupakan pendapatan yang dapat diterima oleh tenaga kerja di
ketiga sektor tersebut (sesuai dengan proporsinya) dan Rp 3,58 triliun juta atau 23,54
persen, merupakan dampak tidak langsungnya yang merupakan pendapatan yang
diterima oleh sektor perekonomian lainnya,
Total pendapatan tenaga kerja sektor peternakan Indonesia pada tahun 2010
adalah sebesar Rp 32,27 triliun atau meningkat 52,34 persen dari total pendapatan
tahun 2005, Sektor di luar sektor peternakan yang paling besar terdorong adalah
sektor industri pakan dan tanaman pangan sedangkan sektor yang paling kecil
terdorong adalah sektor ternak lainnya, Meningkatnya pendapatan petani-peternak
akibat investasi diharapkan dapat memperbaiki rasio U/S sektor tanaman pangan
sehingga lebih banyak tenaga kerja yang bekerja di sektor ini dan pada akhirnya akan
meningkatkan ketahanan pangan nasional,

Dampak Investasi Sektor Peternakan terhadap Penyerapan Tenaga Kerja


Berdasarkan Tabel 23, jika jumlah pengangguran pada tahun 2005 sebanyak
11,899,266 orang (BPS, 2006) maka dengan investasi sektor peternakan dalam
RPPK akan mengurangi jumlah pengangguran menjadi 9,177,986 orang atau
berkurang 22,87 persen, Hal tersebut membuktikan bahwa dengan berinvestasi di
sektor ini cukup efektif untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia,
Dampak langsung investasi sektor peternakan adalah sebesar 1,603,623 orang
atau 58,93 persen (yang terdiri dari sektor ternak potong sebesar 396,711 orang,
sektor ternak perah sebesar 395,488 orang dan ternak unggas sebesar 811,423 orang)
yang merupakan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap di ketiga sektor tersebut
(sesuai dengan proporsinya) dan 1,117,657 orang atau 41,07 persen merupakan
dampak tidak langsungnya yang merupakan jumlah tenaga kerja yang dapat diserap
oleh sektor perekonomian lainnya,
Investasi di sektor peternakan selain meningkatkan pendapatan petani-
peternak juga meningkatkan jumlah tenaga kerja di sektor tanaman pangan yang
besar, Hal ini membuktikan bahwa sektor peternakan merupakan sektor yang sangat
strategis dalam mendukung program RPPK.
Tabel 23, Dampak Investasi Sektor Peternakan dalam Revitalisasi Pertanian,
Perikanan dan Peternakan (RPPK) terhadap Penyerapan Tenaga
Kerja Pendapatan di Indonesia Tahun 2005 (Orang)
Tenaga Keja Penambahan Tenaga Kerja
No Sektor 2005 Tenaga Kerja 2010
Nilai % Nilai % Nilai %
1 Tanaman pangan 30,884,678 32,87 573,347 21,07 31,458,024 32,54
2 Perkebunan 5,087,679 2,20 22,823 0,84 5,110,502 5,29
3 Ternak Potong 564,467 0,41 396,711 14,58 961,178 0,99
4 Ternak Perah 53,166 0,04 395,488 14,53 448,655 0,46
5 Ternak Lainnya 13,543 0,01 2 0,00 13,545 0,01
6 Pemotongan Hewan 1,156,321 0,52 406 0,01 1,156,727 1,20
7 Ternak unggas 1,550,280 1,35 811,423 29,82 2,361,703 2,44
8 Kehutanan 647,651 0,54 798 0,03 648,448 0,67
9 Perikanan 1,351,992 1,32 2,176 0,08 1,354,169 1,40
10 Pertambangan dan Penggalian 904,194 4,95 844 0,03 905,038 0,94
11 Industri Hasil Ternak 1,437,554 0,41 826 0,03 1,438,380 1,49
12 Industri Makanan, Minuman 2,593,189 4,46 12,444 0,46 2,605,633 2,70
dan Tembakau
13 Industri Pakan 790,794 0,22 314,989 11,58 1,105,783 1,14
14 Industri Lainnya 7,131,448 20,16 9,627 0,35 7,141,075 7,39
15 Listrik, Gas dan Air Bersih 194,642 0,98 947 0,03 195,589 0,20
16 Bangunan 4,565,454 8,71 1,884 0,07 4,567,338 4,72
17 Perdagangan 15,609,673 10,67 129,017 4,74 15,738,690 16,28
18 Restoran dan Hotel 2,299,474 4,05 1,367 0,05 2,300,840 2,38
19 Transportasi dan Komunikasi 5,652,841 7,27 25,173 0,93 5,678,014 5,87
20 Jasa Lainnya 11,469,348 27,98 20,988 0,77 11,490,336 11,88
Jumlah 93,958,387 100,00 2,721,280 100,00 96,679,667 100,00
Sumber: Tabel Input-Output Indonesia 2005, klasifikasi 20 sektor (diolah)
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 tentang
peranan dan dampak investasi sektor peternakan dalam perekonomian Indonesia
tahun 2005, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Peranan sektor peternakan (yang terdiri dari ternak potong, ternak perah, ternak
lainnya, pemotongan hewan, dan ternak unggas) secara total dalam
perekonomian Indonesia adalah relatif kecil. Peranan sektor peternakan yang
terbesar adalah dalam struktur konsumsi rumah tangga, yaitu sebesar 3,42
persen. Peranan sektor peternakan yang kecil adalah dalam struktur investasi,
yaitu investasi negatif sebesar Rp 2,04 triliun dan ekspor-impor, yaitu
mengalami defisit perdagangan Internasional sebesar Rp 1,74 triliun. Sektor
peternakan meskipun peranannya cukup kecil tetapi mempunyai rasio upah dan
gaji dengan surplus usaha (U/S) yang cukup bagus, yaitu pada ternak lainnya
(0,90) dan ternak unggas (0,80).
2. Sektor ternak potong memiliki nilai keterkaitan ke depan terbesar dan ke
belakang terkecil (langsung dan tidak langsung), pemotongan hewan memiliki
nilai keterkitan ke belakang terbesar, ternak lainnya memiliki nilai keterkaitan ke
depan dan keterkaitan ke belakang (langsung) terkecil.
3. Hasil penetapan sektor prioritas berdasarkan empat kelompok sektor, maka
pemotongan hewan dan ternak unggas termasuk dalam kelompok sektor prioritas
ke dua, sedangkan ternak potong, ternak perah dan ternak lainnya termasuk
kelompok sektor prioritas terakhir/keempat.
4. Penambahan alokasi investasi sebesar Rp 51,3 triliun dalam program RPPK pada
sektor peternakan, akan menambah output total di seluruh sektor perekonomian
sebesar 1,42 persen, nilai tambah bruto sebesar 1,68 persen, pendapatan sebesar
1,72 persen, dan mengurangi jumlah pengangguran sebesar 22,87 persen.
Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan beberapa saran,
yaitu:
1. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan adanya penelitian mengenai faktor-
faktor yang mempengaruhi kecilnya peranan sektor peternakan dalam
perekonomian Indonesia terutama dari sisi mikro.
2. Investasi yang kecil pada sektor peternakan terutama pada komponen
pembentukan modal tetap harus segera diatasi karena akan menyebabkan
pengurasan populasi ternak.
3. Sektor peternakan mempunyai rasio upah dan gaji dengan surplus usaha (U/S)
yang cukup bagus yaitu: pada ternak lainnya dan ternak unggas, sehingga untuk
penelitian lebih lanjut, dapat melakukan penelitian yang lebih aplikatif mengenai
hubungan antara upah dan gaji dengan surplus usaha yang berguna sebagai
pertimbangan dalam dunia investasi.
UCAPAN TERIMA KASIH

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas karunia
dan cinta-Nya penulis diberikan kemudahan dan kelancaran dalam pembuatan skripsi
ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah pada junjungan Nabi besar
Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Ir.
Dewi Ulfah Wardhani, MS dan Bapak Ir. Dwi Joko Setyono, MS sebagai dosen
pembimbing skripsi yang telah meluangkan banyak waktunya untuk membimbing
dan mengarahkan mulai dari penyusunan proposal hingga terselesainya penulisan
skripsi ini. Kepada pembahas seminar hasil penelitian Dr. Ir. Sri Mulatsih, M.Agr.Sc
dan kepada penguji sidang hasil penelitian Ir. Burhanudin, MM dan Ir. Widya
Hermana, MSi yang telah memberikan masukan dalam penulisan skripsi ini.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Nenek,
Ibu, Bapak, dan keluarga atas iringan doa, kasih sayang, pengorbanan, serta
kesabaran dalam memotivasi dan menemani penulis.
Penulis sampaikan banyak terima kasih kepada dosen-dosen SEIP, dosen-
dosen Fapet, dan staf tata usaha SEIP yang telah memberikan dukungan, doa, dan
masukan dalam penulisan skripsi ini.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Budi Cahyono, S.Si
selaku pihak dari Badan Pusat Statistik yang banyak membantu saya dalam
mendapatkan data Input-Output terbaru. Kepada sahabat-sahabat penulis di Al-
Bujang (Sandi, Didik, Zico, Jemi, Doni, Yoga, Vian, Toni, Heri, Eko, Anas,
Haryanto, Yudha, Gonggo, Galuh, Rofiq, Fajar, dan Anasya Bennington) atas
bantuan, doa, dan kebersamaan yang tidak pernah dilupakan oleh penulis. Terima
kasih untuk tim konsumsi (Lisa Lopez, Evoy, dan Vj), anak-anak WL, seipersz
angkatan 41 dan 40 serta angkatan 39.
Akhir kata penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua
teman-teman maupun pihak yang mungkin belum disebutkan di atas yang telah
berkontribusi banyak terhadap kelancaran pembuatan skripsi ini.
Bogor, April 2008

Penulis
DAFTAR PUSTAKA

Badan Koordinasi Penanaman Modal. 2007. Perkembangan Realisasi Investasi PMA


Menurut Sektor, 2002-31 Agustus 2007. BKPM. Jakarta.

Badan Koordinasi Penanaman Modal. 2007. Perkembangan Realisasi Investasi


PMDN Menurut Sektor, 2002-31 Agustus 2007. BKPM. Jakarta.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2005. Prospek dan Arah


Pengembangan Agribisnis: Rangkuman Kebutuhan Investasi. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta

Badan Pusat Statistik. 2000. Kerangka Teori dan Analisis Tabel Input-Output
Indonesia. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Potensi Desa Provinsi Sumatera Utara 2003.
Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2005. Tabel Input-Output Indonesia 2005. Badan Pusat
Statistik. Volume Pertama. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2006. Beberapa Indikator Penting Sosial-Ekonomi Indonesia.


Edisi Juli 2006. Badan Pusat Statistik. Jakarta.

Budiharsono, S. 2001. Teknis Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan lautan.


Cetakan Pertama. PT Pradnya Paramita. Jakarta.

Gmikro. 2008. Flu Burung Telah Tertular di 161 Kabupaten. http://www.gizi.net. [2


Maret 2007].

Ikhsan, B. 2004. Dampak investasi sektor pertanian terhadap perekonomian Jawa


Tengah. Skripsi. Jurusan Ilmu-Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas
Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Krisnamurthi, B. 2006. Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Sutanto, Jusuf.


Revitalisasi Pertanian : Sebuah Konsekuensi Sejarah dan Tuntutan Masa
Depan. PT Kompas Media Nusantara. Jakarta.

Miller, R.E. and Peter D.B. 1987. Input-Output Analysis Foundations and Extension.
University of Pennsylvania. New Jersey.

Nazzara, S. 2005. Analisis Input-Output. Lembaga Penerbit Ekonomi Universitas


Indonesia. Edisi Kedua. Jakarta.

Nasoetion, A.H. 2004. Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Edisi Ketigabelas. PT


Pustaka Litera Nusantara. Bogor.
Pesoth, W.F. 2001. Keterkaitan faktor lingkungan dengan aktivitas perekonomian
dalam pembangunan dimasa otonomi daerah. Desertasi. Program Pasca
Sarjana. IPB. Bogor.

Poultry Indonesia. 2008. Jaga Eksistensi Perunggasan. http://www.poultry.com. [2


Maret 2007].

Saragih, B. 2001. Agribisnis Bebasis Peternakan: Kumpulan Pemikiran. Pambudy,


R., T. Sipayung., Burhanuddin., F.B.M. Dabukke. Unit for Social and
Ecocomic Studies and Evaluation (USESE) Foundation dan Pusat Studi
Pembangunan IPB. Pustaka Wirausaha Muda. Terbitan Kedua. Bogor.

Sudaryanto, T., Rusastra I.W., Soedjana, T.D. 2002. Dampak Krisis Ekonomi dan
Prospek Industri Peternakan di Indonesia. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pertanian.

Swastika, D.K.S, Manikmas, M.O.A., Sayaka, B., Kariyasa, Ketut. 2005. The Status
and Prospect of Feed Crops in Indonesia. Working Paper Series.
”UNESCAP-CAPSA: Centre for Alleviatiaon of Poultry through Secondary
Crop’s Development in Asia and the Pacific”.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Agregasi 17 Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005
No. Agregasi Sektor Tabel Input-Output Tahun 2005 No. Agregasi Sektor dalam Penelititan
1 P adi 1 Tanaman pangan
2 Tanaman kacang-kacangan 2 Tanaman pangan
3 Jagung 3 Tanaman pangan
4 Tanaman umbi-umbian 4 Tanaman pangan
5 Sayur-sayuran dan buah-buahan 5 Tanaman pangan
6 Tanaman bahan makanan lainnya 6 Tanaman pangan
7 Karet 7 Perkebunan
8 Tebu 8 Perkebunan
9 Kelapa 9 Perkebunan
10 Kelapa sawit 10 Perkebunan
11 Tembakau 11 Perkebunan
12 Kopi 12 Perkebunan
13 Teh 13 Perkebunan
14 Cengkeh 14 Perkebunan
15 Hasil tanaman serat 15 Perkebunan
16 Tanaman perkebunan lainnya 16 Perkebunan
17 Tanaman lainnya 17 Tanaman pangan
18 Peternakan* 18 -
19 Pemotongan hewan 19 Pemotongan hewan
20 Unggas dan hasil-hasilnya 20 Ternak unggas
21 K ayu 21 Kehutanan
22 Hasil hutan lainnya 22 Kehutanan
23 Perikanan 23 Perikanan
24 Penambangan batu bara dan bijih logam 24 Pertambangan dan penggalian
25 Penambangan minyak, gas dan panas bumi 25 Pertambangan dan penggalian
26 Penambangan dan penggalian lainnya 26 Pertambangan dan penggalian
27 Industri pengolahan dan pengawetan makanan** 27 -
28 Industri minyak dan lemak 28 Industri makanan, minuman dan
tembakau
29 Industri penggilingan padi 29 Industri makanan, minuman dan
tembakau
30 Industri tepung, segala jenis 30 Industri makanan, minuman dan
tembakau
31 Industri gula 31 Industri makanan, minuman dan
tembakau
32 Industri makanan lainnya*** 32 -
33 Industri minuman 33 Industri makanan, minuman dan
tembakau
34 Industri rokok 34 Industri makanan, minuman dan
tembakau
35 Industri pemintalan 35 Industri lainnya
36 Industri tekstil, pakaian dan kulit**** 36 -
37 Industri bambu, kayu dan rotan 37 Industri lainnya
38 Industri kertas, barang dari kertas dan karton 38 Industri lainnya
39 Industri pupuk dan pestisida 39 Industri lainnya
40 Industri kimia 40 Industri lainnya
41 Pengilangan minyak bumi 41 Industri lainnya
42 Industri barang karet dan plastik 42 Industri lainnya
43 Industri barang-barang dari mineral bukan logam 43 Industri lainnya
44 Industri semen 44 Industri lainnya
45 Industri dasar besi dan baja 45 Industri lainnya
46 Industri logam dasar bukan besi 46 Industri lainnya
47 Industri barang dari logam 47 Industri lainnya
48 Industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik 48 Industri lainnya
49 Industri alat pengangkutan dan perbaikannya 49 Industri lainnya
50 Industri barang lain yang belum digolongkan 50 Industri lainnya
dimanapun
51 Listrik, gas dan air bersih 51 Listrik, gas dan air bersih
52 Bangunan 52 Bangunan
53 Pedagangan 53 Pedagangan
54 Restoran dan hotel 54 Restoran dan hotel
55 Angkutan kereta api 55 Transportasi dan komunikasi
56 Angkutan darat 56 Transportasi dan komunikasi
57 Angkutan air 57 Transportasi dan komunikasi
58 Angkutan udara 58 Transportasi dan komunikasi
59 Jasa penunjang angkutan 59 Transportasi dan komunikasi
60 Komunikasi 60 Transportasi dan komunikasi
61 Lembaga keuangan 61 Jasa lainnya
62 Usaha bangunan dan jasa perusahaan 62 Jasa lainnya
63 Pemerintahan umum dan pertahanan 63 Jasa lainnya
64 Jasa sosial kemasyarakatan 64 Jasa lainnya
65 Jasa lainnya 65 Jasa lainnya
66 Kegiatan yang tak jelas batasannya 66 Jasa lainnya
180 180 Jumlah permintaan antara
190 190 Jumlah input antara
200 200 Impor
201 201 Upah dan gaji
202 202 Surplus usaha
203 203 Penyusutan
204 204 Pajak tak langsung
205 205 Subsidi
209 209 Nilai tambah bruto
210 210 Jumlah input
301 301 Pengeluaran konsumsi rumah tangga
302 302 Pengeluaran konsumsi pemerintah
303 303 Pembentukan modal tetap
304 304 Perubahan stok
305 305 Ekspor barang dagangan
306 306 Ekspor jasa
309 309 Jumlah permintaan akhir
310 310 Jumlah Output

Kerangan :
* , **, *** dan **** Sektor tersebut dipecah lagi menjadi sektor-sektor baru berdasarkan data
(persentase teknologi) dari tabel Input-Output 2000 yang tercantum dalam tabel di bawah ini:

Ket Pemecahan Sektor berdasarkan tabel Input- No. Agregasi Sektor dalam Penelititan
Output 2000
* 1. Ternak dan hasil-hasilnya kecuali susu segar 1 Ternak potong
2. Susu segar 2 Ternak perah
3. Hasil pemeliharaan lainnya 3 Ternak lainnya

** 1. Industri pengolahan dan pengawetan daging 1 Industri hasil ternak


2. Industri makanan dan minuman terbuat dari 2 Industri hasil ternak
susu
3. Industri pengolahan makanan dan awetan 3 Industri makanan, minuman dan
tembakau
*** 1. Industri pakan 1 Industri pakan
2. Industri makanan lainnya 2 Industri makanan, minuman dan
tembakau
**** 1. Industri pengawetan, penyamakan dan 1 Industri hasil ternak
barang-barang dari kulit
2. Industri tekstil dan pakaian 2 Industri lainnya

Lampiran 2. Klasifkasi 20 Sektor Tabel Input-Output Indonesia Tahun 2005


Kode 20 Sektor Keterangan 20 Sektor
1 Tanaman pangan
2 Perkebunan
3 Ternak potong
4 Ternak perah
5 Ternak lainnya
6 Pemotongan hewan
7 Ternak unggas
8 Kehutanan
9 Perikanan
10 Pertambangan dan penggalian
11 Industri hasil ternak
12 Industri makanan dan minuman
13 Industri pakan ternak
14 Industri lainnya
15 Listrik, gas dan air bersih
16 Bangunan
17 Perdagangan
18 Hotel dan restoran
19 Transportasi dan komunikasi
20 Jasa lainnya
Lampiran 3. Tabel Input-Output Indonesia Transaksi Domestik Atas Harga Produsen 20 Sektor Tahun 2005

Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
1 18.251.558 705.632 407.049 84.090 92.216 0 242.010 507.308 227.875 0 1.322.424 90.609.595 6.381.946 489.836 0
2 15.290 5.956.497 92.539 8.540 0 0 0 0 0 0 206.963 39.186.612 30.879 23.340.897 0
3 2.181.452 129.187 1.785 0 0 12.593.684 0 0 0 0 80.586 3.667 1 14.144 0
4 0 0 0 642 0 0 0 0 0 0 667.672 17.857 0 372 0
5 0 0 0 0 174 0 0 0 0 0 624 834 0 14.903 0
6 0 0 217 0 0 92.241 0 0 0 0 2.810.443 173.483 5.139 62.723 0
7 701.008 35.203 10.193 2.243 4.938 6.027.615 3.386 0 12.244 0 49.125 568.306 1.343 55.235 0
8 17.386 32.496 5.694 800 0 0 0 356.355 36.646 48.839 49.360 349.682 1.142 11.868.512 15
9 1.927 456 0 0 0 0 0 0 2.394.467 0 2.489 16.623.021 71.748 181.956 0
10 11 0 114 117 0 0 0 0 0 27.370.257 3.933 190.399 249.865 117.907.407 12.560.484
11 0 0 0 0 0 181 0 0 0 22.284 2.428.233 521.357 1.198 6.166.939 1.022
12 6.794 30.634 128.262 36.804 8.965 310 59.590 0 150.632 0 4.287.948 73.659.570 3.597.154 2.860.832 0
13 370.080 0 2.486.682 220.717 28.763 0 13.453.532 0 3.218.002 0 0 0 1.643.623 0 0
14 10.958.677 8.156.405 38.199 34.638 1.683 210.147 293.654 1.111.887 2.367.816 11.412.459 1.633.679 9.808.651 413.844 300.424.836 20.906.954
15 20.442 17.579 17.219 20.073 590 31.351 73.330 23.880 96.079 277.152 406.024 1.134.778 39.583 22.572.322 13.503.992
16 977.894 2.706.798 12.399 5.597 44 481 2.841 443.744 192.545 4.013.352 21.042 171.780 112 2.253.239 847.949
17 3.081.873 1.548.137 629.170 106.363 16.414 3.010.864 2.678.358 354.446 2.313.300 2.558.322 2.100.293 24.743.359 2.801.977 67.102.643 3.146.511
18 151.624 80.629 300 1.025 575 5.021 1.229 21.954 128.813 385.875 156.689 998.386 25.345 7.004.904 76.007
19 1.966.182 1.076.415 221.404 34.840 3.221 845.400 726.296 516.645 733.686 3.663.094 568.147 9.430.629 970.334 41.265.252 1.063.819
20 3.071.392 4.583.679 217.235 13.720 621 204.333 59.318 771.241 402.187 6.413.125 1.149.879 12.705.825 330.777 50.830.241 2.610.472
190 41.773.590 25.059.747 4.268.461 570.209 158.204 23.021.628 17.593.544 4.107.460 12.274.292 56.164.759 17.945.553 280.897.791 16.566.010 654.417.193 54.717.225
200 4.595.844 1.374.386 39.019 4.249 461 5.112 1.995.678 447.272 1.002.322 13.916.956 1.129.900 20.787.490 1.590.508 316.101.890 7.265.528
201 32.905.095 19.415.229 3.645.466 380.893 111.233 4.627.723 11.886.538 4.767.167 11.616.810 43.670.526 3.609.215 39.346.950 1.933.351 177.835.488 8.688.614
202 152.339.415 37.394.224 10.513.567 752.888 123.758 10.986.294 13.986.453 15.693.429 45.504.372 243.517.067 3.980.314 81.228.723 4.834.229 377.659.572 13.504.337
203 1.997.998 2.473.420 417.630 70.060 65.387 56.304 919.636 1.135.364 1.642.607 16.855.751 368.025 10.400.756 2.554.508 77.601.771 12.065.215
204 2.536.041 993.297 248.953 23.815 0 497.433 531.945 949.237 720.755 13.126.269 186.173 32.930.512 402.145 20.584.565 1.503.184
205 -147.751 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 -55.943.204 -8.850.600
209 189.630.798 60.276.170 14.825.616 1.227.656 300.378 16.167.754 27.324.572 22.545.197 59.484.544 317.169.613 8.143.727 163.906.941 9.724.233 597.738.192 26.910.750
210 236.000.232 86.710.303 19.133.096 1.802.114 459.043 39.194.494 46.913.794 27.099.929 72.761.158 387.251.328 27.219.180 465.592.222 27.880.751 1.568.257.275 88.893.503
TK 30.884.678 5.087.679 564.467 53.166 13.543 1.156.321 1.550.280 647.651 1.351.992 904.194 1.437.554 2.593.189 790.794 7.131.448 194.642
Lanjutan
Sektor 16 17 18 19 20 180 301 302 303 304 305 306 309 310
1 0 49.057 11.560.593 32.201 7.743.276 138.706.666 97.574.369 0 3.609 -957.346 672.934 0 97.293.566 236.000.232
2 0 5.900 993.343 2.637 430.891 70.270.988 5.252.051 0 1.060.775 -304.013 10.430.502 0 16.439.315 86.710.303
3 0 0 0 0 19.494 15.024.000 3.976.893 0 215.008 -352.882 270.077 0 4.109.096 19.133.096
4 0 0 87.276 3.947 61.212 838.978 963.136 0 0 0 0 0 963.136 1.802.114
5 0 0 20.269 6.788 0 43.592 429.968 0 0 -31.577 17.060 0 415.451 459.043
6 0 0 11.045.149 26.807 1.271.394 15.487.596 23.654.328 0 0 37.867 14.703 0 23.706.898 39.194.494
7 0 0 14.542.336 6.883 1.039.551 23.059.609 25.762.456 0 0 -1.908.688 417 0 23.854.185 46.913.794
8 9.254.685 7.032 75.454 3.818 159.890 22.267.806 2.334.341 0 0 293.612 2.204.170 0 4.832.123 27.099.929
9 0 0 5.129.746 16.465 828.014 25.250.289 44.812.143 0 0 -1.095.735 3.794.461 0 47.510.869 72.761.158
10 30.855.804 9.416 3.921 25.368 673.697 189.850.793 12.823 0 813.676 4.866.538 191.707.498 0 197.400.535 387.251.328
11 143 180.875 688.535 32.301 469.677 10.512.745 14.766.099 0 168 -567.050 2.507.218 0 16.706.435 27.219.180
12 0 219.864 40.872.634 1.651.781 6.851.311 134.423.085 269.297.839 0 0 -7.201.571 69.072.869 0 331.169.137 465.592.222
13 0 0 0 0 4.134.434 25.555.833 238.736 0 0 1.915.895 170.287 0 2.324.918 27.880.751
14 171.184.001 27.960.400 4.059.332 54.224.923 85.832.327 711.034.512 282.857.897 0 52.621.718 26.904.067 494.433.442 405.639 857.222.763 1.568.257.275
15 248.125 9.803.993 1.008.627 4.010.109 8.035.589 61.340.837 27.552.642 0 0 0 24 0 27.552.666 88.893.503
16 589.417 9.165.092 107.275 6.377.923 21.570.950 49.460.474 0 0 528.981.337 0 0 0 528.981.337 57.8441.811
17 44.322.195 4.355.065 19.658.016 9.864.170 21.131.241 215.522.717 194.331.578 0 19.547.731 1.849.308 76.602.876 0 292.331.493 507.854.210
18 4.859.710 6.379.353 429.086 3.374.446 13.953.087 38.034.058 160.683.671 0 0 0 0 24.362.700 185.046.371 223.080.429
19 15.738.350 30.561.379 5.264.316 28.702.675 27.053.146 170.405.230 161.719.899 0 6.396.893 618.298 20.445.295 38.839.898 228.020.283 398.425.513
20 25.520.281 67.329.438 3.342.564 51.435.255 96.298.290 327.289.873 286.721.419 220.868.779 9.737.498 0 12.233 40.674.098 558.014.027 885.303.900
190 302.572.711 156.026.864 118.888.472 159.798.497 297.557.471 2.244.379.681 1.602.942.288 220.868.779 619.378.413 24.066.723 872.356.066 104.282.335 3.443.894.604 5.688.274.285
200 69.006.907 19.839.922 2.993.822 44.204.535 60.701.165 567.002.966 182.640.993 4.111.760 73.682.617 12.693.158 0 0 273.128.528 840.131.494
201 76.881.831 94.167.143 35.692.391 64.154.069 246.846.195 882.181.927
202 103.773.711 200.461.940 49.611.584 67.930.872 223.018.036 1.656.814.785
203 18.722.142 25.087.421 11.350.587 59.778.492 48.045.220 291.608.294
204 7.484.509 12.270.920 4.543.573 3.404.448 9.275.147 112.212.921
205 0 0 0 -845.400 -139.334 -65.926.289
209 206.862.193 331.987.424 101.198.135 194.422.481 527.045.264 2.876.891.638
210 578.441.811 507.854.210 223.080.429 398.425.513 885.303.900 5.688.274.285
TK 4.565.454 15.609.673 2.299.474 5.652.841 11.469.348 39.596.790
Lampiran 4. Matrik Koefisien Teknis Klasifikasi 20 Sektor
Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 0.077337 0.002990 0.001725 0.000356 0.000391 0.000000 0.001025 0.002150 0.000966 0.000000 0.005603 0.383939 0.027042
2 0.000176 0.068694 0.001067 0.000098 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.002387 0.451926 0.000356
3 0.114015 0.006752 0.000093 0.000000 0.000000 0.658215 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.004212 0.000192 0.000000
4 0.000000 0.000000 0.000000 0.000356 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.370494 0.009909 0.000000
5 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000379 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.001359 0.001817 0.000000
6 0.000000 0.000000 0.000006 0.000000 0.000000 0.002353 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.071705 0.004426 0.000131
7 0.014942 0.000750 0.000217 0.000048 0.000105 0.128483 0.000072 0.000000 0.000261 0.000000 0.001047 0.012114 0.000029
8 0.000642 0.001199 0.000210 0.000030 0.000000 0.000000 0.000000 0.013150 0.001352 0.001802 0.001821 0.012903 0.000042
9 0.000026 0.000006 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.032909 0.000000 0.000034 0.228460 0.000986
10 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.070678 0.000010 0.000492 0.000645
11 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000007 0.000000 0.000000 0.000000 0.000819 0.089210 0.019154 0.000044
12 0.000015 0.000066 0.000275 0.000079 0.000019 0.000001 0.000128 0.000000 0.000324 0.000000 0.009210 0.158206 0.007726
13 0.013274 0.000000 0.089190 0.007916 0.001032 0.000000 0.482538 0.000000 0.115420 0.000000 0.000000 0.000000 0.058952
14 0.006988 0.005201 0.000024 0.000022 0.000001 0.000134 0.000187 0.000709 0.001510 0.007277 0.001042 0.006254 0.000264
15 0.000230 0.000198 0.000194 0.000226 0.000007 0.000353 0.000825 0.000269 0.001081 0.003118 0.004568 0.012766 0.000445
16 0.001691 0.004679 0.000021 0.000010 0.000000 0.000001 0.000005 0.000767 0.000333 0.006938 0.000036 0.000297 0.000000
17 0.006068 0.003048 0.001239 0.000209 0.000032 0.005929 0.005274 0.000698 0.004555 0.005038 0.004136 0.048721 0.005517
18 0.000680 0.000361 0.000001 0.000005 0.000003 0.000023 0.000006 0.000098 0.000577 0.001730 0.000702 0.004475 0.000114
19 0.004935 0.002702 0.000556 0.000087 0.000008 0.002122 0.001823 0.001297 0.001841 0.009194 0.001426 0.023670 0.002435
20 0.003469 0.005178 0.000245 0.000015 0.000001 0.000231 0.000067 0.000871 0.000454 0.007244 0.001299 0.014352 0.000374
Lanjutan
Sektor 14 15 16 17 18 19 20
1 0.002076 0.000000 0.000000 0.000208 0.048986 0.000136 0.032810
2 0.269183 0.000000 0.000000 0.000068 0.011456 0.000030 0.004969
3 0.000739 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.001019
4 0.000206 0.000000 0.000000 0.000000 0.048430 0.002190 0.033967
5 0.032465 0.000000 0.000000 0.000000 0.044155 0.014787 0.000000
6 0.001600 0.000000 0.000000 0.000000 0.281804 0.000684 0.032438
7 0.001177 0.000000 0.000000 0.000000 0.309980 0.000147 0.022159
8 0.437954 0.000001 0.341502 0.000259 0.002784 0.000141 0.005900
9 0.002501 0.000000 0.000000 0.000000 0.070501 0.000226 0.011380
10 0.304473 0.032435 0.079679 0.000024 0.000010 0.000066 0.001740
11 0.226566 0.000038 0.000005 0.006645 0.025296 0.001187 0.017255
12 0.006145 0.000000 0.000000 0.000472 0.087786 0.003548 0.014715
13 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.000000 0.148290
14 0.191566 0.013331 0.109156 0.017829 0.002588 0.034577 0.054731
15 0.253925 0.151912 0.002791 0.110289 0.011346 0.045111 0.090396
16 0.003895 0.001466 0.001019 0.015844 0.000185 0.011026 0.037291
17 0.132130 0.006196 0.087273 0.008575 0.038708 0.019423 0.041609
18 0.031401 0.000341 0.021785 0.028597 0.001923 0.015127 0.062547
19 0.103571 0.002670 0.039501 0.076705 0.013213 0.072040 0.067900
20 0.057416 0.002949 0.028827 0.076052 0.003776 0.058099 0.108774
Lampiran 5. Matriks Leontief Terbuka Klasifikasi 20 Sektor
Sektor 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
1 1.0859 0.0115 0.0644 0.0936 0.2434 0.0356 0.0924 0.0216 0.0185 0.0007 0.1114 0.2547 0.3003
2 0.0015 1.0766 0.0085 0.0104 0.0038 0.0041 0.0056 0.0013 0.0020 0.0009 0.0310 0.1092 0.0175
3 0.0101 0.0018 1.0008 0.0010 0.0023 0.3225 0.0010 0.0003 0.0003 0.0001 0.0411 0.0029 0.0030
4 0.0000 0.0000 0.0000 1.0004 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0270 0.0001 0.0000
5 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 1.0004 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000
6 0.0002 0.0004 0.0002 0.0003 0.0002 1.0026 0.0003 0.0002 0.0002 0.0002 0.1145 0.0010 0.0007
7 0.0034 0.0009 0.0010 0.0019 0.0118 0.1547 1.0007 0.0003 0.0005 0.0002 0.0211 0.0029 0.0017
8 0.0007 0.0022 0.0006 0.0011 0.0004 0.0005 0.0005 1.0142 0.0011 0.0007 0.0035 0.0018 0.0009
9 0.0002 0.0003 0.0016 0.0022 0.0016 0.0010 0.0027 0.0002 1.0347 0.0001 0.0084 0.0442 0.0091
10 0.0066 0.0158 0.0041 0.0091 0.0042 0.0050 0.0075 0.0075 0.0059 1.0813 0.0166 0.0095 0.0180
11 0.0003 0.0008 0.0002 0.0004 0.0002 0.0003 0.0003 0.0004 0.0003 0.0003 1.0990 0.0019 0.0007
12 0.0017 0.0029 0.0302 0.0458 0.0352 0.0183 0.0496 0.0014 0.0112 0.0010 0.2132 1.1915 0.1655
13 0.0044 0.0010 0.1388 0.1313 0.0711 0.0920 0.3055 0.0004 0.0489 0.0002 0.0167 0.0041 1.0648
14 0.0727 0.1582 0.0244 0.0581 0.0330 0.0366 0.0413 0.0723 0.0559 0.0515 0.1408 0.0874 0.0749
15 0.0023 0.0049 0.0036 0.0172 0.0040 0.0059 0.0062 0.0036 0.0041 0.0025 0.0276 0.0082 0.0079
16 0.0060 0.0371 0.0034 0.0071 0.0031 0.0043 0.0040 0.0188 0.0046 0.0125 0.0087 0.0091 0.0069
17 0.0203 0.0330 0.0530 0.0828 0.0523 0.1126 0.0971 0.0206 0.0433 0.0118 0.1265 0.0796 0.1291
18 0.0019 0.0040 0.0017 0.0031 0.0029 0.0029 0.0028 0.0025 0.0032 0.0021 0.0113 0.0058 0.0050
19 0.0147 0.0254 0.0244 0.0366 0.0187 0.0441 0.0390 0.0267 0.0189 0.0147 0.0521 0.0411 0.0597
20 0.0246 0.0810 0.0297 0.0346 0.0195 0.0378 0.0309 0.0436 0.0196 0.0267 0.0973 0.0692 0.0564
Lanjutan
Sektor 14 15 16 17 18 19 20
1 0.0038 0.0022 0.0038 0.0047 0.1127 0.0055 0.0176
2 0.0211 0.0065 0.0071 0.0028 0.0265 0.0048 0.0049
3 0.0005 0.0002 0.0004 0.0004 0.0173 0.0004 0.0011
4 0.0001 0.0001 0.0001 0.0000 0.0005 0.0001 0.0001
5 0.0000 0.0000 0.0000 0.0000 0.0001 0.0000 0.0000
6 0.0011 0.0006 0.0010 0.0012 0.0505 0.0012 0.0028
7 0.0009 0.0006 0.0012 0.0015 0.0741 0.0014 0.0032
8 0.0100 0.0033 0.0195 0.0014 0.0012 0.0022 0.0020
9 0.0007 0.0004 0.0007 0.0008 0.0324 0.0010 0.0023
10 0.1074 0.2126 0.0925 0.0158 0.0083 0.0229 0.0189
11 0.0056 0.0018 0.0019 0.0011 0.0041 0.0013 0.0015
12 0.0066 0.0033 0.0055 0.0069 0.2252 0.0110 0.0169
13 0.0007 0.0006 0.0009 0.0014 0.0270 0.0014 0.0070
14 1.2747 0.3809 0.4053 0.1228 0.0707 0.2258 0.1682
15 0.0246 1.1886 0.0116 0.0284 0.0116 0.0200 0.0169
16 0.0075 0.0179 1.0082 0.0247 0.0067 0.0237 0.0304
17 0.0623 0.0655 0.1023 1.0255 0.1230 0.0465 0.0435
18 0.0082 0.0054 0.0136 0.0171 1.0059 0.0140 0.0202
19 0.0451 0.0360 0.0529 0.0777 0.0483 1.0950 0.0482
20 0.0676 0.0736 0.0913 0.1716 0.0572 0.1771 1.1457