Anda di halaman 1dari 24

HUBUNGAN PELAKSANAAN TINDAKAN CUCI TANGAN

PERAWAT DENGAN KEJADIAN INFEKSI RUMAH SAKIT


DI RUMAH SAKIT SUMBER WARAS GROGOL
Zilpianus Alvadri

Program Studi Ilmu Keperawatan


Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul
Jl.Terusan Arjuna Tol Tomang, Kebon Jeruk, Jakarta 11510
Email : humasleu@dnet.id

ABSTRAK
Infeksi rumah sakit adalah infeksi yang didapatkan pasien ketika menjalani perawatan
selama di rumah sakit. Penyebaran infeksi rumah sakit di rumah sakit umumnya terjadi
melalui tiga cara yaitu melalui udara, percikan dan kontak langsung dengan pasien. Hal ini
dapat dicegah melalui perilaku cuci tangan (hand hygiene) petugas kesehatan di rumah
sakit. (.Tujuan penelitian adalah menganalisa Hubungan Pelaksanaan Tindakan Cuci
Tangan Perawat dengan Kejadian Infeksi Rumah Sakit di Rumah Sakit Sumber Waras
Grogol. Jenis penelitian mengguankan metode deskriptif analitik dengan pendekatan cross
sectional. Pengambilan sampel dengan teknik total sampling, jumlah responden 34 orang.
Variabel independen yaitu Pelaksanaan Tindakan Cuci Tangan Perawat, variabel dependen
yaitu Kejadian Infeksi Rumah Sakit. Hasil dianalisis menggunakan chi-square test dengan
taraf signifikan (α=0,05). Hasil penelitian responden yang memiliki rentang usia 20-40
tahun 25 orang (73.5%), berjenis kelamin perempuan 34 orang (100%), 20 orang memiliki
lama kerja 1-10 tahun (58.8%), 22 orang pendidikan D3 (64.7%), 27 orang sesuai prosedur
melakukan pelaksanaan 5 momen mencuci tangan (79.4%),29 orang (85.3%) pelaksanaan6
langkah cuci tangan-nya sesuai prosedur, 25 orang (73.5%) pelaksanaan cuci tangan-nya
sesuai prosedur, 25 orang (73.5%) tidak terjadiinfeksi. Kesimpulan dalam penelitian ini
terdapat hubungan bermakna antara5 moment pelaksanaan cuci tangan dengan Kejadian
Infeksi dengan nilai Pvalue= 0.007nilai odds ratio =14.375, terdapat hubungan bermakna
antara6 langkah pelaksanaan cuci tangan dengan kejadian infeksi dengan nilai Pvalue=0.012,
dan nilai odds ratio =19.200, terdapat hubungan bermakna antara pelaksanaan cuci tangan
dengan kejadian infeksidengan nilai Pvalue= 0.004, dan nilai odds ratio =14.667. Penelitian
yang dilakukan peneliti mungkin masih memiliki banyak kekurangan, diharapkan
penelitian ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan sehingga dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Kata kunci : Infeksi Rumah Sakit, Cuci Tangan, Perawat

1
PENDAHULUAN meningkatnya angka kesakitan
(morbidity) dan angka kematian
Setiap tahun ratusan juta pasien di
(mortality) di rumah sakit, sehingga
seluruh dunia terjangkit infeksi terkait
dapat menjadi masalah kesehatan baru,
perawatan kesehatan. Hal ini signifikan baik di Negara berkembang maupun di
Negara maju (WHO, 2009).
mengarah pada fisik dan psikologis dan
Presentase infeksi rumah sakit di
kadang-kadang mengakibatkan kematian
rumah sakit dunia mencapai 9% (variasi 3
pada pasien dan kerugian keuangan bagi
–21%) atau lebih 1,4 juta pasien rawat
sistem kesehatan. Lebih dari setengah
inap di rumah sakit seluruh dunia
infeksi ini dapat dicegah dengan perawat
mendapatkan infeksi rumah sakit. Suatu
benar-benar membersihkan tangan
penelitian yang dilakukan oleh WHO
mereka pada saat-saat penting dalam
menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55
perawatan pasien. Infeksi terkait
rumah sakit dari 14 negara yang berasal
perawatan kesehatan biasanya terjadi
dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara
ketika kuman yang di transfer oleh tangan
dan pasifik menunjukkan adanya infeksi
penyedia layanan kesehatan menyentuh
rumah sakit dan untuk Asia Tenggara
pasien (WHO, 2013).
sebanyak 10,0% (WHO, 2002).
Infeksi rumah sakit adalah infeksi yang
Penyebaran infeksi ini di pengaruhi
diperoleh ketika seseorang dirawat di
rumah sakit, tanpa adanya tanda-tanda oleh kepatuhan perawat terhadap
infeksi sebelumnya dan minimal terjadi
pelaksanaan dan tindakan
3×24 jam sesudah masuk
keperawatan. Kepatuhan adalah tingkat
kuman (Darmadi, 2008). Infeksi rumah
sakit dikenal pertama kali pada tahun seseorang melaksanakan suatu cara atau
1847 oleh Samwelweis dan hingga saat
berperilaku sesuai dengan apa yang
ini merupakan salah satu penyebab

2
disarankan atau dibebankan kepadanya. Menurut Susianti

Dalam hal ini kepatuhan pelaksanaan (2008), tujuan dilakukannya

prosedur berfungsi untuk selalu cuci tangan yaitu untuk:

memenuhi petunjuk atau peraturan- a. Mengangkat

peraturan dan memahami etika mikroorganisme yang ada

keperawatan di tempat perawat tersebut di tangan

bekerja. Kepatuhan merupakan modal b. Mencegah infeksi silang

dasar seseorang berperilaku (Adiwimarta, (cross infection)

Maulana & Suratman, 1999) c. Menjaga kondisi steril

d. Melindungi diri dan pasien


TINJAUAN TEORI
dari infeksi
Tujuan Cuci Tangan
e. Memberikan perasaan
Menjaga kondisi tangan tetap bersih dan
segar dan bersih.
mengangkat mikroorganisme yang ada di

tangan sehingga dapat mencegah


Kebersihan Tangan
terjadinya infeksi silang (Cross
Menurut Linda dkk.(2010),
Infection). Tindakan membersihkan menyebutkan bahwa kesehatandan
kebersihantangan secara bermakna
tangan yang bertujuan untuk
mengurangi jumlah mikroorganisme
menghilangkan kotoran, organik material,
penyebab penyakit pada kedua tangan dan
atau mikroorganisme yang menempel lengan serta meminimalisasi kontaminasi
silang (misalnya dari petugas kesehatan
pada tangan (WHO, 2009).
ke pasien). Kegagalan untuk melakukan
kebersihan dan kesehatan tangan yang
tepat dianggap sebagai sebab utama

3
infeksi nosokomial yang menular di tangan biasa adalah setiap wastafel
pelayanan kesehatan dan menyebarkan
dilengkapi dengan peralatan cuci
mokroorganisme multiresisten dan telah
tangan sesuai standar rumah sakit
di akui sebagai kontributor yang penting
terhadap timbulnya wabah. (misalnya kran air bertangkai panjang
Macam-macam Cuci Tangan
untuk mengalirkan air bersih, tempat
Cuci tangan dalam bidang medis di
sampah injak tertutup yang dilapisi
bedakan menjadi beberapa tipe, yaitu cuci
kantung sampah medis atau kantung
tangan medical (medical hand washing),
pelastik berwarna kuning untuk
cuci tangan surgical (surgical hand
sampahyang terkontaminasi atau
washing). Adapun cara untuk melakukan
terinfeksi), alat pengering seperti tisu,
cuci tangan tersebut dapat dibedakan
lap tangan (hand towel), sarung tangan
dalam beberapa teknik antara lain sebagai
(gloves), sabun cair atau cairan
berikut ini ( Perry & Potter, 2005):
pembercih tangan yang berfungsi
a. Teknik Mencuci Tangan Biasa
sebagai antiseptic, lotion tangan, serta
Membersihkan tangan dengan
di bawah wastafel terdapat alas kaki
antiseptik mencuci tangan dan air
dari bahan handuk
untuk mengurangi penyebaran bakteri
b. Teknik Mencuci Tangan Aseptik
tanpa harus merusak kulit. Antiseptik
Menurut WHO (2009), membersihkan
ini bersifat cair, tetapi biasanya kurang
tangan dengan antisepti mencuci
efektif dan bekerja lebih lambat
tangan dengan bahan antiseptic untuk
daripada menggosok tangan higienis
mengurangi penyebaran bakteri tanpa
WHO (2009). Peralatan yang
harus merusak kulit . antiseptic ini
dibutuhkan untuk untuk mencuci
bersifat cair dan cepat bereaksi, dan

4
tidak memiliki efek jika digunakan antimicrobial (non-iritasi, spectrum

secara terus menerus, khususnya bagi luas, kerja cepat), sikat scrub bedah

petugas yang berhubungan dengan dengan pembersih kuku dari plastic,

pasien yang mempunyai penyakit masker kertas dan topi atau penutup

menular atau sebelum melakukan kepala, handuk steril, pakaian di ruang

tindakan bedah aseptik dengan scrub dan pelindung mata, penutup

antiseptik dan sikat steril. Prosedur sepatu.

mencuci tangan aseptik sama dengan Membersihkan tangan dengan

persiapan dan prosedur pada cuci antiseptic mencuci tangan dan air untuk

tangan higienis atau cuci tangan biasa, mengurangi penyebaran bakteri tanpa

hanya saja bahan deterjen atau sabun harus merusak kulit. Antiseptic ini

diganti dengan antiseptic setelah bersifat cair, tetapi biasanya kurang

mencuci tangan tidak boleh menyentuh efektif dan berkerja lebih lambat

bahan yang tidak steril. daripada menggosok tangan higienis.

c. Teknik Mencuci Tangan Steril Menurut WHO (2015), cara mencuci

Teknik mencuci tangan steril adalah tangan menggunakan air dan sabun

mencuci tangan steril (suci hama), dapat dilakukan dengan 12 langkah

khususnya bila akan membantu dalam rentang waktu 40 sampai 60

tindakan pembedahan atau oprasi. detik.

Peralatan yang dibutuhkan untuk 1. Basuh tangan dengan air.

mencuci tangan steril adalah 2. Tuangkan sabun secukupnya

menyediakan bak cuci tangan dengan pada tangan.

pedal kaki atau pengontrol lutut, sabun

5
3. Gosok kedua telapak tangan dan kelembabannya cenderung

punggung tangan. menyimpan kuman )

4. Gosok selah-selah jari kedua 11. Gunakan tisue tersebut untuk

tangan. menutup kran.

5. Bersihkan ujung-ujung jari 12. Tangan sudah bersih dan siap

secara bergantian dengan cara untuk digunakan.

dikatupkan. Persiapan dalam Mencuci Tangan

6. Jari-jari tangan kiri dirapatkan Menurut WHO (2009) ada beberapa yang

sambil di gosokkan ke telapak harus diperhatikan dalam mencuci

tangan kanan, dan lakukan tangan:

sebaliknya. a. Air

7. Gosok ibu jari secara berputar Tujuan mencuci tangan secara rutin

dalam genggaman tangan kanan, dalam perawatan pasien adalah untuk

dan sebaliknya. menbersihkan kotoran dan bahan

8. Gosok kuku jari tangan kanan organik serta kontaminasi

memutar ke telapak tangan kiri, mikrobasetelah kontak dengan pasien

dan sebaliknya. atau lingkungan. Sementara air sering

9. Basuh kedua tangan dengan air disebut "pelarut universal", tidak bisa

mengalir. langsung membuang zat hidrofobik

10. Keringkan tangan dengaan seperti lemak dan minyak seringpada

menggunakan tisue baru, ( tangan kotor. Oleh karena itu cuci

handuk tidak dianjurkan karena tangan yang benar membutuhkan

penggunaan sabun atau deterjen untuk

6
melarutkan bahan lemak dan pengeringan tangan. Pengakuan fakta

pembilasan berikutnya dengan air. ini secara signifikan bisa

Untuk memastikan kebersihan tangan, meningkatkan praktik kebersihan

sabun atau deterjen harus digosok pada tangan diklinis dan kesehatan

semua permukaankedua tangan diikuti masyarakat.

dengan pembilasan menyeluruh dan c. Plain (non-antimikroba) sabun

pengeringan. Dengan air saja tidak Sabun adalah produk berbahan

cukup untuk membersihkan tangan deterjen yang berisi diesterifikasi asam

kotor; sabun ataudeterjen harus lemak dan natrium atau kalium

diterapkan menggunakan air. hidroksida. Sabun tersedia dalam

b. Pengeringan Tangan berbagai bentuk termasuk bar sabun,

Tangan basah dapat lebih mudah tisu, daun, dan cair. Terlalu sering

memperoleh dan menyebarkan membesihkan tangan menggunakan

mikroorganisme, pengeringan yang sabun mengakibatkan hilangnya lipid

tepat dari tangan merupakan bagian dan mengikuti kotoran, tanah, dan

integral mencuci tangan rutin. Kehati- berbagai zat organik dari tangan. sabun

hatian dalam mengeringkan tangan biasa memiliki minimal, jika ada

merupakan faktor penting menentukan aktivitas antimikroba, meskipun cuci

tingkat pertumbuhan bakteri yang tangan pakai sabun dapat

terkait dengan touch-contact setelah menghilangkan flora sementara.

pembersihan tangan. Perawatan juga Misalnya, mencuci tangan dengan

harus diambil untuk menghindari sabun biasa dan air selama 15 detik

kontaminasi ulang dari pencucian dan mengurangi bakteri menghitung pada

7
kulit, sedangkan mencuci selama 30 alkohol telah dievaluasi baik alkohol

detik. Dalam beberapa penelitian, individu dalam berbagai konsentrasi

mencuci tangan dengan sabun biasa (kebanyakan studi), kombinasi dari

dapat menghilangkan patogen dari dua alkohol, atau solusi alkohol

tangan petugas. Cuci Tangan Pakai mengandung sejumlah kecil

sabun biasa dapat menghasilkan heksaklorofen, senyawa amonium

peningkatan paradoks di bakteri kuaterner (QAC), povidone-iodine,

jumlah pada kulit. Karena sabun dapat triclosan atau CHG. Aktivitas

berhubungan dengan iritasi yang kulit antimikroba dari alkohol hasil dari

dan kekeringan, menambahkan kemampuan mereka mengubah sifat

humektan untuk persiapan sabun dapat proteins solusi Alkohol mengandung

mengurangi kecenderungan 60-80% alkohol yang paling efektif,

menyebabkan iritasi. dengan konsentrasi yang lebih tinggi

d. Alkohol menjadi kurang kuat.

Kebanyakan antiseptik mengandung

alkohol baik etanol, isopropanol atau Fungsi Perawat

n-propanol, atau kombinasi dari dua Fungsi adalah suatu pekerjaan yang harus
dilaksanakan sesuai dengan perannya,
produk ini. Konsentrasi diberikan
fungsi dapat berubah dari suatu keadaan
sebagai persentase volume (= ml / 100
ke keadaan yang lain. Ruang lingkup dan
ml, disingkat% v / v), persentase Berat fungsi keperawatan semangkin
berkembang dengan fokus manusia tetap
(= g / 100 g, disingkat% m / m), atau
sebagai sentral pelayanan keperawatan.
persentase Berat / volume (= g / 100
Bentuk asuhan yang menyeluruh dan
ml, disingkat% m / v). Penelitian utuh, dilandasi keyakinan tentang

8
manusia sebagai makhluk bio-psiko- a. Editing: merupakan tahap
sosial-spiritual yang unik dan utuh
penelitian yang telah
(kusanto,2007).
berkumpul baik dengan cara
METODOLOGI PENELITIAN
pengisian pada format
Desain penelitian merupakan rancangan
pengambilan data.
penelitian yang disusun sedemikian rupa
b. Coding: yaitu mengklasifikasi
sehingga peneliti dapat memperoleh
jawaban terhadap pertanyaan peneliti data yang menurut jenisnya,
(setiadi, 2007). Jenis penelitian ini
dengan menggunakan kode
merupakan penelitian kuantitatif yang
berupa angka, kemudian
merupakan jenis penelitian deskriptif
analitik dengan pendekatan “cross dimasukkan dalam lembaran
sectional” yang bertujuan untuk meneliti
tabel kerja guna
hubungan antara variabel terikat
mempermudah membacanya.
(dependen) dengan variabel bebas
(independen) dalam waktu yang c. Entry: yaitu memasukkan
bersamaan atau point time approach.
data yang sudah di editing
Pendekatan Cross Sectional study, artinya
dan coding tersebut kedalam
tiap subjek penelitian hanya diobservasi
sekali saja terhadap beberapa variabel computer dan menggunakan
dalam waktu yang bersamaan
perangkat lunak computer.
(Notoadmojo,2012).
d. Processing: setelah semua

Prosedur Pengumpulan Data lembaran observasi diisi oleh

Data yang di peroleh peneliti akan diolah peneliti, serta telah melewati

melalui beberapa tahap yaitu: Pengolahan pengkodean maka langkah

data selanjutnya adalah

memproses data agar data

9
yang sudah di-entry dapat di kuesioner kedalam paket

analisis, pemprosesan data program computer

dilakukan dengan cara meng- e. Cleaning: yaitu memastikan

entry data dari lembar apakah semua data sudah siap

dianasisis.

kriteria eksklusi sebagai berikut : penegtahuan, sikap, perilaku dan


a. Mahasiswa S1 Keperawatan kepatuhan mencuci tangan. Analisa
Tingkat III yang sedang tidak univariat ini juga akan digunakan untuk
berada di kampus saat dilakukan melihat rata – rata, mean dari variabel
penelitian. kategorik dalam penelitian ini yaitu,
b. Mahasiswa yang tidak bersedia pengetahuan, sikap, perilaku dan
mengisi atau berpartisipasi dalam kepatuhan. Analisa bivariat dalam
pengisian kuesioner. penelitian ini bertujuan untuk melihat ada
Analisa univariat dalam penelitian atau tidaknya perbedaan hubungan
ini digunakan untuk mendeskripsikan dan pengetahuan, sikap dan perilaku dengan
mempresentasekan variabel kategorik kepatuhan cuci tangan dengan
dalam penelitian ini yaitu, jenis kelamin, menggunakan uji statistik Chi Squar

10
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN

Analisa Univariat

a. Deskripsi karakteristik responden

Tabel 5.1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan

Usia di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Usia Frekuensi %

20-40 tahun 25 73.5

41-65 tahun 9 26.5

Jumlah 34 100.0

Pada Tabel 5.1. distribusi frekuensi tindakan dapat terkontrol tanpa


responden berdasarkan usia, diperoleh menggunakan emosional.
gambaran bahwa dari 34 responden di RS Usia merupakan lama hidup seseorang
Sumber Waras Jakarta Barat, 25 orang yang diukur dari lahir sampai ulang tahun
dengan rentang usia 20-40 tahun (73.5%) yang terakhir, usia juga mempengaruhi jiwa
dan 9 orang dengan rentang usia 41-61 seseorang yang menerima untuk mengolah
tahun (26.5%). Dari hasil tersebut sebagian kembali pengertian-pengertian dan
besar responden berusia 20-40 tahun. tanggapan, sehingga dapat dilihat bahwa
Dari hasil penelitian yang dilakukan di semangkin tinggi usia seseorang, maka
Rs. Sumber Waras Grogol didapatkan proses pemikirannya untuk bekerja
bahwa sebagian besar perawat yang aktif melakukan tindakan di rumah sakit lebih
bekerja berada pada rentang usia 20-40 matang. Biasanya orang muda pemikirannya
tahun, hal ini dikarenakan pada usia 20-40 radikal sedangkan orang dewasa lebih
merupakan umur yang produktif dalam moderat (Potter &Perry, 2005. hlm.716). hal
melakukan pekerjaan serta kekuatan fisik ini menunjukan bahwa rentang usia 20-40
dan kematangan dalam berfikir untuk merupakan
mengolah masalah sebelum melakukan

11
Tabel 5.2. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan

Jenis Kelamin di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Jenis Kelamin Frekuensi %


Laki-laki 0 0.0
Perempuan 34 100.0

Jumlah 34 100.0

Pada Tabel 5.2. distribusi frekuensi Jenis kelamin adalah perbedaan antara
responden berdasarkan jenis kelamin,
perempuan dan laki-laki secara biologis
diperoleh gambaran bahwa dari 34
sejak lahir. Menurut Fakih (2006)
respondendi RS Sumber Waras Jakarta
Barat, perawat berjenis kelamin laki-laki 0 mengemukakan bahwa gender merupakan
orang (0.0%) dan 34 orang berjenis kelamin
suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki
perempuan (100.0%). Dari hasil distribusi
maupun perempuan yang dikonstruksikan
tersebut maka seluruh responden dari
penelitian ini berjenis kelaminnya secara social maupun cultural.
perempuan sebanyak 34 orang (100.0%)
Hasil penelitian yang dilakukan peneliti
Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan
sejalan dengan penelitian terkait yang
perawat di Rs.Sumber Waras Grogol masih
dilakukan oleh Fauzia (2014) tentang
banyak diminati dan di dominasikan pada
pengaruh faktor individu, organisasi dan
perempuan, karena pekerjaan perawat masih
perilaku terhadap kepatuhan perawat dalam
di identikkan dengan pekerjaan lembut dan
melakukan hand hygiene. Hasil yang
peduli, serta naluri keibuan sangat dibutuhkan
diperoleh berdasarkan karakteristik
perawat karena dinilai dapat memberikan
responden menurut jenis kelamin perempuan
caring pada pasien dalam memberikan asuhan
sebanyak 61 responden (85.9%) dan laki-
keperawatan.

12
laki sebanyak 10 responden (14.1%). Jadi dibandingkan perawat berjenis kelamin laki-

perawat yang berjenis kelamin perempuan laki.

lebih dominan atau lebih banyak

Tabel 5.3. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Lama Kerja di

RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Lama Kerja Frekuensi %


1-10 tahun 20 58.8
11-20 tahun 4 11.8
21-30 tahun 10 29.4
Jumlah 34 100.0

Pada Tabel 5.3. distribusi frekuensi disebabkan karena masa kerja biasanya

responden berdasarkan lama kerja, diperoleh dikaitkan dengan waktu mulai bekerja,

gambaran bahwa dari 34 responden di RS dimana pengalaman kerja perawat juga ikut

Sumber Waras Jakarta Barat, 20 orang menentukan sikap dan kinerja seseorang

memiliki lama kerja 1-10 tahun (58.8%) dan sehingga semangkin lama masa kerja maka

4 orang memiliki lama kerja 11-20 tahun kecakapan dan sikap seseorang akan lebih

(11.8%) dan 10 orang memiliki lama kerja baik dan lebih gampang menyesuaikan diri

21-30 tahun (29.4%). Dari hasil tersebut dengan pekerjaan. Oleh karena itu lama

sebagian besar responden yang diteliti kerja dapat menentukan pengalaman

paling besar memiliki lama kerja 1-10 tahun seseorang perawat, sehingga semangkin

(58.) Hal ini menunjukan bahwa perawat di lama perawat bekerja diharapkan perawat itu

Rs.Sumber Waras Grogolpaling banyak memiliki pengalaman kerja banyak. Masa

bekerja dengan lama waktu 1-10 tahun,ini kerja yang lama menentukan pengalaman

13
yang lebih dibandingkan dengan rekan kerja enam langkah lima momen cuci

yang lain (Rivai & Mulyadi, 2010). tangan di dapatkan hasil bahwa

perawat yang memiliki lama kerja 5-

Dari hasil penelitian yang 10 tahun sebanyak 18 responden

dilakukan peneliti sejalan dengan (60.0%) lebih banyak dibandingkan

penelitian terkait yang dilakukan oleh dengan lama kerja <5 tahun sebanyak

Mathuridy (2015) tentang hubungan, 6 responden (20.0%) dan lama kerja >

umur, lama kerja, pendidikan dan 10 tahun sebanyak 6 responden

motivasi dengan kepatuhan melakukan (20.0%).

Tabel 5.4. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan

Pendidikan di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Pendidikan Frekuensi %
SPK 6 17.6
D3 22 64.7
S1 6 17.6
Jumlah 34 100.0
besar responden yang diteliti memiliki
Pada Tabel 5.4. distribusi frekuensi pendidikan D3.
responden berdasarkan pendidikan, Hal ini menunjukan bahwa perawat yang
diperoleh gambaran bahwa dari 34 memiliki jenjang pendidikan D3 lebih
respondendi RS Sumber Waras Jakarta banyak dibandingkan dengan jenjang
Barat, 6 orang yang pendidikannya SPK pendidikan yang lainnya dengan jumlah 22
(17.6%) dan 22 orang pendidikannya D3 orang perawat pendidikan D3 dari 34 orang
(64.7%) dan 6 orang memiliki pendidikan perawat, sehingga pendidikan D3 masih
S1 (17.6%). Dari hasil tersebut sebagian mendominasi di Rs.Sumber Waras Grogol,

14
dan ini menunjukan bahwa semangkin tinggi Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti
pendidikan perawat, maka semangkin besar sejalan dengan penelitian terkait yang
pula peluang untuk memanfaatkan dilakukan oleh Susanti (2014) tentang
pengetahuan dan keterampilan. Pendidikan pengetahuan dan sikap perawat pencegahan
berhubungan dengan bidang ilmu yang infeksi nosokomialdalam pelaksanaaan cuci
membawa seseorang perawat lebih tangan didapatkan hasil bahwa sebagia
memahami ilmu tersebut (Siagian dalam perawat memiliki pendidikan D3 sebesar
Kurniadi, 2013). (89%).

b. Deskripsi 5 Moment Pelaksanaan Cuci Tangan

Tabel 5.5. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan 5 Moment Pelaksanaan

Cuci Tangan Di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

5 Moment Pelaksanaan Cuci Tangan


Frekuensi %
Perawat
Tidak Sesuai Prosedur 7 20.6
Sesuai Prosedur 27 79.4
Jumlah 34 100.0

Pada Tabel 5.5. distribusi frekuensi tangan sesuai prosedur sebesar 27 orang
responden berdasarkan 5 moment dengan presentase (79.4%).
pelaksanaan cuci tangan, diperoleh Hal ini sangat mempengaruhi terhadap
gambaran bahwa dari 34 responden di RS resiko terjadinya infeksi di Rs.Sumber
Sumber Waras Jakarta Barat, 7 orang tidak Waras Grogol, karena semangkin tinggi
sesuai prosedur dalam melaksanakan 5 kesadaran perawat melaksanakan dan
momen penting mencuci tangan (20.6%) dan memperhatikan 5 momen penting cuci
27 orang sesuai prosedur melakukan tangan makan akan memperkecil terjadi nya
pelaksanaan 5 momen mencuci tangan infeksi silang dari perawat ke pasien. Poin
(79.4%). Dari hasil tersebut sebagian besar penting dalam pelaksanaan cuci tangan
responden melaksanakan 5 moment cuci dengan memperhatikan 5 momen yaitu

15
mencuci tangan sebelum menyentuh pasien, penting untuk mengurangi terjadinya infeksi
mencuci tangan sebelum melakukan nosokomial lebih luas.
prosedur pembersihan, mencuci tangan Dari hasil penelitian yang dilakukan peneliti
untuk mengurangi resiko paparan cairan
sejalan dengan penelitian terkait yang
tubuh pasien, cuci tangan setelah
dilakukan oleh Ananingsih (2013)
meninggalkan pasien, cuci tanagn setelah
meninggalkan kamar perawatan. melakukan penelitian mengenai pentingnya
Menurut Depkes (2003) dalam Wulandari
5 momen cuci tangan petugas kesehatan
Wahyu (2010), cuci tangan harus dilakukan
terhadap pasien. Hasil penelitian
dengan benar sebelum dan sesudah
melakukan tindakan perawatan meskipun menunjukan bahwa rata-rata perawat patuh
menggunakan sarung tangan dan alat
melaksanakan 5 momen cuci tangan setelah
pelindung lain untuk menghilangkan atau
dilakukan intervensi pada setiap siklus,
mengurangi mikroorganisme yang ada
ditangan. Indikasi cuci tangan harus sebesar (40.83%).
dilakukan dengan memperhatikan 5 momen

c. Deskripsi 6 Langkah Pelaksanaan Cuci Tangan

Tabel 5.6. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan 6 Langkah Pelaksanaan

Cuci Tangan di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

6 Langkah Pelaksanaan Cuci Tangan


Frekuensi %
Perawat
Tidak Sesuai Prosedur 5 14.7
Sesuai Prosedur 29 85.3
100.
Jumlah 34
0

Pada Tabel 5.6. distribusi frekuensi Sumber Waras Jakarta Barat, 5 orang
responden berdasarkan 6 langkah (14.7%) 6 langkah pelaksanaan cuci tangan-
pelaksanaan cuci tangan, diperoleh nya tidak sesuai prosedur dan 29 orang
gambaran bahwa dari 34 respondendi RS (85.3%) 6 langkah pelaksanaan cuci tangan-

16
nya sesuai prosedur. Dari hasil tersebut nosokomial dilingkungan rumah sakit Rs.
sebagian besar responden 6 langkah Sumber Waras Grogol.
pelaksanaan cuci tangan-nya sesuai Hasil penelitian yang dilakukan oleh
prosedur. peneliti sejalan dengan penelitian yang
Menurut WHO kepatuhan cuci tangan dilakukan oleh Fauzia (2014) menyatakan
harus lebih dari 50%, sehingga jika perawat bahwa dari 55 perawat 44 perawat (80%)
Rs. Sumber Waras Grogol melakukan lebih diantaranya melakukan tindakan cuci tangan
dari 85.3%tidakan mencuci tangan selama dengan sempurna, secara keseluruhan
pelaksanaan tindakan keperawatan berarti perilaku perawat dalam menjalankan
perawat berperan aktih memperkecil terjadi prosedur cuci tangan sangat baik.
infeksi, hal ini merupakan cara yang paling
efektif untuk mencegah terjadinya infeksi

d. Deskripsi Pelaksanaan Cuci Tangan

Tabel 5.7. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pelaksanaan Cuci

Tangan di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Pelaksanaan Cuci Tangan Perawat Frekuensi %


Tidak Sesuai Prosedur 9 26.5
Sesuai Prosedur 25 73.5
100.
Jumlah 34
0

Pada Tabel 5.7. distribusi frekuensi besar responden pelaksanaan cuci tangan-
responden berdasarkan pelaksanaan cuci nya sesuai prosedur.
tangan, diperoleh gambaran bahwa dari 34 Dari hasil tersebut sebagian besar
respondendi RS Sumber Waras Jakarta responden melaksanaan cuci tangan sesuai
Barat, 9 orang (26.5%) pelaksanaan cuci prosedur.Maka dalam hal ini perawat sangat
tangan-nya tidak sesuai prosedur dan 25 perperan dan berpengaruh dalam
orang (73.5%) pelaksanaan cuci tangan-nya pelaksanaan prosedur cuci tangan, dapat
sesuai prosedur. Dari hasil tersebut sebagian dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan

17
di Rs. Sumber Waras Grogol bahwa faktor yang dapat mempengaruhi perawat
sebagian besar dar 34 responden yang di dalam pelaksanaan cuci tangan yakni
teliti 25 diantarannya melaksanakan motivasi, beban kerja, lingkungan kerja
prosedur cuci tangan dengan baik dan hasil perawat, ketersedian fasilitas sarana dan
presentase lebih dari 50% yaitu sebesar prasarana yang menunjang pelaksanaan cuci
73.5%. tangan.
Menurut Fauzia (2014) dalam
penelitiannya terdapat beberapa faktor-

e. Deskripsi Kejadian Infeksi

Tabel 5.8. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Infeksi di RS

Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Kejadian Infeksi Frekuensi %


Terjadi Infeksi 9 26.5
Tidak Terjadi Infeksi 25 73.5

Jumlah 34 100.0

Pada Tabel 5.8. distribusi frekuensi diperoleh melalui pendidikan keperawatan


responden berdasarkan kejadian infeksi, (Simanjuntak, 2009). Sehingga dalam hal ini
diperoleh gambaran bahwa dari 34 perwata di Rs. Sumber Waras Grogol
responden di RS Sumber Waras Jakarta menjalankan wewenag dan kemampun yang
Barat, 9 orang (26.5%) terjadi infeksidan 25 di miliki secara nyata dan profesional
orang (73.5%) tidak terjadi infeksi. Dari sehingga dapat dilihat dari hasil penelitian
hasil tersebut sebagian besar responden yang dilakukan oleh peneliti bahwa dari 34
tidak terjadi infeksi. responden yang diteliti 25 orang perawat
Perawat merupakan mereka yang dengan presentase 73.5% berperan dalam
memiliki kemampuan dan kewenangan menekan terjadinya kejadian infeksi di Rs.
melakukan tindakan keperawatan Sumber Waras Grogol, sehingga angka
berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang kejadian infeksi masih dibawah 50% yang

18
artinya kejadian infeksi di Rs. Sumber infeksi pada saat di rumah sakit, infeksi ini
Waras masig terbilang rendah. disebut infeksi nosokomial yang diakibatkan
Pada lingkungan kesehatan, perawat karena adanya transmisi organisme pathogen
merupakan salah satu pemberi asuhan yang didapatkan pasien selama 3 X 24 jam
keperawatan yang paling rentan terkena pertama masa hospitalisasi (Napitupulu,
infeksi dan menularkan infeksi. Setiap tahun 2009).
diperkirakan dua juta pasien mengalami

1. Analisis Bivariat
Analisis bivariat bertujuan untuk melihat Analisis bivariate yang digunakan adalah uji
hubungan secara langsung antara variabel Chi- Square.
independen dengan variabel dependen.

a. Hubungan 5 Moment Pelaksanaan Cuci Tangan dengan Kejadian Infeksi

Tabel 5.9. Hubungan 5 Moment Pelaksanaan Cuci Tangan dengan Kejadian

Infeksi di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Kejadian Infeksi

Tida Jumlah
Terj
5 Moment Pelaksanaan k Terjadi P OR
adi Infeksi
Cuci Tangan Perawat Infeksi Value ( 95% CI )

n % n % n %

7 2 1 14.3
Tidak Sesuai Prosedur 5 2 7 0.007
1.4 8.6 00.0 75
1 2 8 2 1
Sesuai Prosedur 4 (2.0
4.8 3 5.2 7 00.0 (<
38-
2 2 7 3 1 0.05)
Jumlah 9 101.398)
6.5 5 3.5 4 00.0

Dari has penelitian pada Tabel 5.9. tidak sesuai prosedur, diketahui 5 orang
menyatakan bahwa dari 7 responden dilihat (71.4%) terjadi infeksi dan 2 orang (28.6%),
dari 5 moment pelaksanaan cuci tangan yang tidak terjadi infeksi. Sedangkan dari 27

19
responden dilihat dari 5 moment 14.375 artinya responden yang melakukan 5
pelaksanaan cuci tangan yang sesuai dengan momen cuci tangan yang sesuai dengan
prosedur, diketahui 4 orang (14.8%) terjadi prosedur memiliki peluang tidak terjadi
infeksi dan 23 orang (85.2%) tidak terjadi infeksi 14 kali lebih besar dibandingkan
infeksi. responden yang melakukan 5 moment cuci
Dari hasil uji statistic didapatkan nilai p- tangan tidak sesuai prosedur. Sehingga dapat
value sebesar 0.007, nilai-P ini lebih kecil disimpulkan bahwa jika perawat melakukan
dari alpha (0.05) maka Ha diterima, artinya 5 sesuai dengan 5 moment pelaksanaan cuci
moment pelaksanaan cuci tangan tangan maka pasien akan cenderung tidak
berhubungan secara signifikan dengan terjadi infeksi, dan begitu sebaliknya.
kejadian infeksi. Nilai Odds Ratio sebesar

b. Hubungan 6 Langkah Pelaksanaan Cuci Tangan dengan Kejadian Infeksi

Tabel 5.10. Hubungan 6 Langkah Pelaksanaan Cuci Tangan dengan

Kejadian Infeksi di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016 (n = 34)

Kejadian Infeksi

6 Langkah Te Tid Jumlah


P OR
Pelaksanaan Cuci Tangan rjadi ak Terjadi Value ( 95% CI )
Perawat Infeksi Infeksi

N % n % N %

d Tidak Sesuai
4
8
1
2
5
1 0. 19.20
Prosedur 0.0 0.0 00.0 012 0

a 1 2 8 2 1
Sesuai Prosedur 5
7.2 4 2.8 9 00.0 (1.753-
(< 0.05)
2 2 7 3 1 210.332)
Jumlah 9
6.5 5 3.5 4 00.0

dari hasil penelitian pada Tabel 5.10. langkah pelaksanaan cuci tangan-nya tidak
menyatakan bahwa dari 5 responden yang 6 sesuai prosedur, diketahui 4 orang (80.0%)

20
terjadi infeksi dan 1 orang (20.0%) tidak 19.200 artinya responden yang melakukan 6
terjadi infeksi. Sedangkan dari 29 responden langkah pelaksanaan cuci tangan yang
yang 6 langkah pelaksanaan cuci tangan-nya sesuai dengan prosedur memiliki peluang
sesuai prosedur, diketahui 5orang (17.2%) tidak terjadi infeksi 19 kali lebih besar
terjadi infeksi dan 24 orang (82.8%) tidak dibandingkan responden yang melakukan
terjadi infeksi. cuci tangan tetapi tidak sesuai prosedur 6
Dari uji statistic didapatkan nilai p-value langkah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
sebesar 0.012, nilai-P ini lebih kecil dari jika perawat semakin sesuai dengan
alpha (0.05) maka Ha diterima, artinya 6 prosedur 6 langkah pelaksanaan cuci tangan
langkah pelaksanaan cuci tangan maka pasien akan cenderung tidak terjadi
berhubungan secara signifikan dengan infeksi, dan begitu sebaliknya.
kejadian infeksi. Nilai Odds Ratio sebesar

c. Hubungan Pelaksanaan Cuci Tangan dengan Kejadian Infeksi

Tabel 5.11. Hubungan Pelaksanaan Cuci Tangan dengan Kejadian

Infeksi di RS Sumber Waras Jakarta Barat 2016

(n = 34)

Kejadian
Infeksi

Ti Jumlah
T
Pelaksanaan dak P OR
erjadi
Cuci Tangan Perawat Terjadi Value ( 95% CI )
Infeksi
Infeksi

N % n % n %

Tidak Sesuai 6 3 1 0. 14.6


6 3 9
Prosedur 6.7 3.3 00.0 004 67
1 2 8 2 1
Sesuai Prosedur 3
2.0 2 8.0 5 00.0 ( (2.3
2 2 7 3 1 < 0.05) 36-92.104)
Jumlah 9
6.5 5 3.5 4 00.0

21
Dari hasil penelitian pada Tabel 5.11. artinya pelaksanaan cuci tangan
menyatakan bahwa dari 9 responden yang berhubungan secara signifikan dengan
pelaksanaan cuci tangan-nya tidak sesuai kejadian infeksi. Nilai Odds Ratio sebesar
prosedur, diketahui 6 orang (66.7%) terjadi 14.667 artinya responden yang pelaksanaan
infeksi dan 3 orang (33.3%) tidak terjadi cuci tangan-nya sesuai prosedur memiliki
infeksi. Sedangkan dari 25 responden yang peluang tidak terjadi infeksi yaitu 15 kali
pelaksanaan cuci tangan-nya sesuai lebih besar dibandingkan responden yang
prosedur, diketahui 3orang (12.0%) terjadi pelaksanaan cuci tangan-nya tidak sesuai
infeksi dan 22 orang (88.8%) tidak terjadi prosedur. Sehingga dapat disimpulkan
infeksi. bahwa jika perawat semakin sesuai dengan
Dari hasil uji statistic didapatkan nilai p- prosedur pelaksanaan cuci tangan maka
value sebesar 0.004 artinya nilai-P ini lebih pasien akan cenderung tidak terjadi infeksi,
kecil dari alpha (0.05) maka Ha diterima, dan begitu sebaliknya.

PENUTUP
Setelah dilakukan pembahasan terhadap sebagian besar responden sudah
hasil penelitian sebagaimana yang telah sesuai prosedur.
dipaparkan pada bab sebelumnya, maka 3. Diperoleh gambaran 6 langkah
untuk responden di Rumah Sakit Sumber pelaksanaan cuci tangan bahwa
Waras Jakarta Barat dapat dibuat sebagian besar responden sudah
kesimpulan sebagai berikut : sesuai prosedur.
1. Diperoleh gambaran karakteristik 4. Diperoleh gambaran pelaksanaan
responden, yaitu sebagian besar cuci tangan bahwa sebagian besar
respondenusianya 20-40 tahun,lama responden sudah sesuai prosedur.
kerja-nya 1-10 tahun, pendidikan- 5. Diperoleh gambaran kejadian infeksi
nya D3, dan seluruhnya adalah bahwa sebagian besar responden
perempuan. tidak terjadi infeksi.
2. Diperoleh gambaran 5 moment 6. Terdapat hubunganantara 5 moment
pelaksanaan cuci tangan bahwa pelaksanaan cuci tangan dengan

22
kejadian infeksi di RS Sumber AlihBahasa:RenataKomalasari,
dkk.Jakarta:EGC.
Waras Jakarta Barat.
7. Terdapat hubunganantara 6 langkah
RohanidanHingawatiSetio. 2010.
pelaksanaan cuci tangan dengan PanduanPraktekKeperawatan.
kejadian infeksi di RS Sumber Yogyakarta:PT Citra AjiParama
Waras Jakarta Barat.
8. Terdapat hubungan antara Schaffer.2000. Infeksi Nosokomial dan
Praktik yang Aman.Jakarta:EGC.
pelaksanaan cuci tangan dengan
kejadian infeksi di RS Sumber
Waras Jakarta Barat. Darmadi. (2008). Infeksi Nososkomial
Problematika dan Pengendaliannya.
Jakarta: Salemba Medika.

DAFTAR PUSTAKA
Ducel, G. dkk. 2002. Prevention of
Hidayat, A. A. (2008). Metodologi
hospital-acquired infections, A practical
Penelitian Keperawatan dan Teknik
guide. 2nd edition. Department of
Analisis Data. Jakarta: Salemba
Communicable disease, Surveillance and
Medika.
Response: World Health Organization

http://intanchiechielita.blogspot.co.id/
Duerink, dkk. 2006. Preventing nosocomial
2014/12/makalah-infeksi-nosokomial-daftar-
isi.html
infections: improving compliance

http://www.pdpersi.co.id/content/news.php? with standard precautions in an


mid=5&nid=1050&catid=23
Indonesian teaching hospital.

http://paradisekeys.blogspot.co.id/2014/11/u Journal of Hospital


niversal-precautions.html
Sugiyono. 2009. Statistik Untuk Penelitian.
Bandung: CV. Alfabeta
Notoadmojo,S.2012. Metodologi Penelitian
Kesehatan. Edisirevisi. Jakarta:
Penerbit Rineka Cipta. Susiati, M. 2008. Keterampilan
Keperawatan Dasar.
Jakarta:Erlangga.
Potter, P.A, Perry, A.G. 2005. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan :Konsep,
Proses, danPraktik.Edisi 4 Volume 2

23
Ujarweni, V.W. (2014). Metodologi
untuk keperawatan. Yogyakarta: Gava
Media.

World Health Organization. 2002.


Prevention of Hospital-Acquired
Infections: A practical guide 2nd
edition

WHO 2009.Who Guidelines On Hand


Hygiene In Health Care.

24