Anda di halaman 1dari 47

SATUAN ACARA PENYULUHAN

“ISPA”

DEPARTEMEN PEDIATRIC

Untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Departemen Pediatric

OLEH

KELOMPOK 21

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017
PENDIDIKAN KESEHATAN
INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA)
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Bidang study : Keperawatan Pediatric


Topik : ISPA
Sasaran : Keluarga pasien poli KIA Puskesmas Kendalsari, Malang
Tempat :
Hari/tanggal : jum’at, 15 desember 2017
Waktu : Pukul 10.00 WIB s/d Selesai

A. Latar Belakang
ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun
bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus,
maupun riketsia, tanpa atau disertai radang parenkim paru (Alsagaf,
2009). ISPA salah satu penyebab utama kematian pada anak di bawah 5
tahun tetapi diagnosis sulit ditegakkan. World Health Organization
(WHO) memperkirakan insidensi ISPA di negara berkembang dengan
angka kejadian ISPA pada balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup
adalah 15%-20% pertahun pada 13 juta anak balita di dunia golongan
usia balita. Pada tahun 2000, 1,9 juta (95%) anak – anak di seluruh
dunia meninggal karena ISPA, 70 % dari Afrika dan Asia Tenggara
(WHO, 2002). Gejala ISPA sangat banyak ditemukan pada kelompok
masyarakat di dunia, karena penyebab ISPA merupakan salah satu hal
yang sangat akrab di masyarakat. ISPA merupakan infeksi akut yang
disebabkan oleh virus meliputi infeksi akut saluran pernapasan bagian
atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian bawah.
ISPA menjadi perhatian bagi anak-anak (termasuk balita) baik di negara
berkembang maupun di negara maju karena ini berkaitan dengan sistem
kekebalan tubuh. Anak- anak dan balita akan sangat rentan terinfeksi
penyebab ISPA karena sistem tubuh yang masih rendah, itulah yang
menyebabkan angka prevalensi dan gejala ISPA sangat tinggi bagi
anak-anak dan balita (Riskerdas, 2007). Prevalensi ISPA tahun 2007 di
Indonesia adalah 25,5% (rentang: 17,5% - 41,4%) dengan 16 provinsi di
antaranya mempunyai prevalensi di atas angka nasional. Kasus ISPA
pada umumnya terdeteksi berdasarkan gejala penyakit. Setiap anak
diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA setiap tahunnya.
Angka ISPA tertinggi pada balita (>35%), sedangkan terendah pada
kelompok umur 15 - 24 tahun. Prevalensi cenderung meningkat lagi
sesuai dengan meningkatnya umur. antara laki-laki dan perempuan
relatif sama, dan sedikit lebih tinggi di pedesaan. ISPA cenderung lebih
tinggi pada kelompok dengan pendidikan dan tingkat pengeluaran per
kapita lebih rendah (Riskerdas, 2007). Kematian akibat ISPA (Infeksi
Saluran Pernafasan Akut) di Indonesia pada akhir tahun 2000 sebanyak
lima kasus di antara 1.000 bayi/balita. Berarti, akibat ISPA, sebanyak
150.000 bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban per bulan
atau 416 kasus sehari atau 17 anak per jam atau seorang bayi/balita tiap
lima menit (WHO, 2007). Di Indonesia, prevalensi nasional ISPA 25%
(16 Provinsi di atas angka rasional), angka kesakitan (morbiditas)
pneumonia pada bayi 2,2%, balita 3%, sedangkan angka kematian
(mortalitas) pada bayi 23,8% dan balita 15,5% (Riskerdas, 2007).
Program pemberantasan ISPA secara khusus telah dimulai sejak tahun
1984, dengan tujuan berupaya untuk menurunkan angka kesakitan dan
kematian khususnya pada bayi dan anak balita yang disebabkan oleh
ISPA, namun kelihatannya angka kesakitan dan kematian tersebut masih
tetap tinggi (Rasmaliah, 2004).
B. TUJUAN UMUM
Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan, diharapkan
pengetahuan keluarga pasien poli KIA puskesmas kendalsari meningkat

C. TUJUAN KHUSUS
Setelah mendapatkan pelatihan tentang penyuluhan kesehatan
selama 1 hari diharapkan keluarga pasien poli KIA puskesmas kendalsari:
1. Memahami Konsep penyakit ISPA
2. Memahami proses penularan penyakit ISPA
3. Memahami penatalaksanaan penyakit ISPA
4. Memahami komplikasi penyakit ISPA
5. Memahami Pencegahan penyakit ISPA
6. Memahami hubungan antara ISPA dengan nutrisi
7. Memahami hubungan antara ISPA dengan lingkungan
8. Memahami hubungan antara ISPA dengan imunisasi

D. MATERI (terlampir)

E. METODE
1. Ceramah
2.Diskusi/Tanya jawab

E. MEDIA
1. Leaflet

F. KEGIATAN PELATIHAN
No. WAKTU KEGIATAN PELATIHAN KEGIATAN
PESERTA
1. 5 menit Pembukaan :
 Membuka kegiatan dengan mengucapkan  Menjawab salam
salam.
 Memperkenalkan diri.  Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari penyuluhan.  Memperhatikan
 Menyebutkan materi yang akan diberikan.  Memperhatikan
2. 30menit Pelaksanaan :
 Menjelaskan konsep penyakit ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan proses penularan penyakit  Memperhatikan
ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan penatalaksanaan penyakit  Memperhatikan
ISPA
 Menjelaskan komplikasi penyakit ISPA

3 30 menit Pelaksanaan :  Memperhatikan


 Menjelaskan Pencegahan penyakit ISPA  Memperhatikan
 Menjelaskan hubungan antara ISPA  Memperhatikan
dengan nutrisi Memperhatikan
 Menjelaskan hubungan antara ISPA
dengan lingkungan
 Menjelaskan hubungan antara ISPA
dengan imunisasi
4 8 menit Evaluasi :
 Memberikan kesempatan kepada kader  Menjawab
untuk bertanya. pertanyaan
 Menanyakan kepada kader tentang materi
yang telah diberikan.
 Memberikan reinforcement positif kepada
kader yang dapat menjawab pertanyaan.
5 2 menit Terminasi :
 Mengucapkan terimakasih atas peran serta  Mendengarkan
peserta.
 Mengucapkan salam penutup  Menjawab salam

G. KRITERIA EVALUASI
1. Kriteria Evaluasi Struktur
a. Pelaksana pelatihan mencari literature tentang materi yang akan
disampaikan
b. Penyuluh membuat satuan acara penyuluhan,diharapkan telah
mempersiapkan terkait materi, modul, media, alat bantu, serta
sarana-prasarana yang digunakan untuk penyuluhan kesehatan
dengan matang

2. Kriteria Evaluasi Proses


a. Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai rencana
b. Diharapkan suasana penyuluhan konduksif dan tidak ada peserta
yang meninggalkan acara penyuluhan saat dilakukan penyuluhan
c. Diharapkan warga antusias terhadap materi penyuluhan
d. Diharapkan warga memberikan respon atau umpan balik berupa
pertanyaan-pertanyaan
3. Kriteria Evaluasi Hasil
a. Kehadiran warga 50%
b. Warga mendapat nilai post test dengan minimal nilai 50 sebanyak
60 %
LAMPIRAN MATERI PENYULUHAN

BAB I
KONSEP DASAR ISPA

1.1 Pengertian ISPA


Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran
pernapasan atas atau bawah, biasanya menular dan disebabkan oleh
bakteri maupun virus (Depkes RI, 2011).
 Infeksi adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh
manusia dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.
Bakteri dapat berkembang biak melalui aliran darah, kelenjar getah
bening hingga bertempat pada otak yang dapat memunculkan tanda dan
gejala yang berbeda-beda.
 Saluran pernapasan adalah organ mulai dari hidung hingga paru-paru
termasuk rongga telinga.
 Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai dengan 14 hari.
Badan kesehatan dunia menyatakan bahwa 1 dari 3 penyebab mortalitas
(kematian) pada anak di bawah usia lima tahun adalah ISPA, terbanyak
adalah ISPA dengan pneumonia (radang selaput paru-paru). Di
Indonesia, ISPA adalah pembunuh utama bayi dan balita. Ironisnya
banyak masyarakat yang belum tahu tentang pneumonia. Sekadar
diketahui, pneumonia pada anak tersering disebabkan oleh bakteri
dengan nama Streptococcus pneumonia dan Haemofilus influenza.

Klasifikasi ISPA :
2.1 Klasifikasi menurut Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA)
mengklasifikasi ISPA sebagai berikut:
a. Pneumonia berat : ditandai oleh adanya tarikan dinding dada kedalam
b. Pneumonia: ditandai oleh adanya napas cepat.
c. Bukan pneumonia: ditandai oleh batuk pilek, bisa disertai demam, tanpa
tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat. Rinofaringitis,
faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.
Berdasarkan hasil pemeriksaan dapat dibuat suatu klasifikasi
penyakit ISPA. Klasifikasi ini dibedakan untuk golongan umur dibawah 2
bulan dan untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun.

Untuk golongan umur kurang 2 bulan ada 2 klasifikasi penyakit yaitu :


a. Pneumonia berat : ditandai dengan batas napas cepat untuk golongan
umur kurang 2 bulan yaitu 60 kali per menit atau lebih.
b. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tanda tarikan
kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.
Untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun ada tiga klasifikasi
penyakityaitu :
a. Pneumonia berat: bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan dinding
dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada saat
diperiksa anak harus dalam keadaan tenang tidak menangis atau
meronta).
b. Pneumonia: bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah untuk usia
2 -12 bulan adalah 50 kali per menit atau lebih dan untuk usia 1-4 tahun
adalah 40 kali per menit atau lebih.
c. Bukan pneumonia: batuk pilek biasa, bila tidak ditemukan tarikan dinding
dada bagian bawah dan tidak ada napas cepat (Lembang, 2003).
2. Klasifikasi berdasarkan lokasi anatomik
a. ISPA bagian atas adalah infeksi akut menyerang hidung sampai
epiglotis, misalnya:
1) Tonsilitis, penyakit ini ditandai rasa sakit pada saat menelan diikuti
dengan demam dan kelemahan tubuh, dapat disebabkan oleh virus dan
bakteri.
2) Common cold adalah infeksi primer di nasofaring dan hidung yang
sering dijumpai pada balita yang disertai demam tinggi.
3) Sinusitis akut merupakan radang pada sinus, beringus, sakit kepala,
demam, malaise dan nausea.
4) Pharingitis yaitu peradangan pada mukosa pharing dengan gejala
demam disertai menggigil, rasa sakit pada tenggorokan, sakit kepala,
sakit saat menelan dan lain-lain.
b. ISPA bagian bawah adalah infeksi saluran pernapasan dari epiglotis
sampai alveoli paru,misalnya:
1) Bronchitis akut adalah demam yang disertai batuk-batuk, sesak napas,
dahaknya sulit keluar karena menjadi lengket, ditemukan adanya suara
kasar pada paru dan suara ”ngik-ngik” seperti peluit saat didengarkan
dengan stetoskop.
2) Pneumonia adalah radang paru-paru yang ditandai dengan demam,
penderita pucat, batuk-batuk dan pernapasan menjadi cepat.
3) Bronkopneumonia adalah peradangan paru-paru yang ditandai dengan
demam, sesak napas, batuk dengan dahak yang kuning kehijauan dan
biasanya berupa serangan yang datangnya secara tiba-tiba.
4) Tubercolosis paru adalah penyakit yang disebabkan bakteri M.
tuberculosis, gejalanya batuk biasanya disertai darah, panas, nyeri dada,
kurus akibat kurang nafsu makan.
3. Klasifikasi berdasarkan derajat keparahan penyakit
a. ISPA ringan, penatalaksaan cukup dengan tindakan penunjang tanpa
pengobatan anti biotik. Tanda dan gejalanya: batuk, pilek, sesak dengan
ataupun tanpa napas, keluarnya cairan dari telinga yang lebih dari 2
minggu tanpa rasa sakit di telinga.
b. ISPA sedang, penatalaksanaannya memerlukan pengobatan antibiotik,
tetapi tidak perlu dirawat. Tanda dan gejalanya: pernapasan cepat (lebih
dari 50 kali permenit), napas menciut-ciut dan panas.
c. ISPA berat, kasus ISPA yang perlu pananganan langsung oleh tenaga
medis atau tenaga kesehatan. Tanda dan gejalanya: penarikan dada ke
dalam pada saat penarikan napas, pernasan ngorok, tak mau makan,
kulit kebiru-biruan, dehidrasi, kesadaran menurun.

2.1 Penyebab ISPA


1. Adenovirus
Adenovirus merupakan virus yang tidak memiliki selubung dengan
diameter 70 hingga 80 nanometer. Virus ini memiliki jenis lebih dari lima
puluh dan menyebabkan infeksi saluran pernafasan bagian atas, infeksi
kandung kemih dan ginjal, hingga infeksi selaput bola mata. Selain itu,
pasien memiliki daya tahan tubuh yang sedang hingga rendah, biasanya
rentan terhadap komplikasi adenovirus.
2. Rhinovirus
Rhinovirus merupakan virus yang memiliki RNA dan merupakan bagian
dari Picornaviridae famili. Virus ini memiliki jenis yang banyak hingga 99
jenis dalam famili tersebut. Masalah pilek merupakan gangguan yang
juga bisa diakibatkan oleh Rhinovirus. Faktanya, 30% hingga 80% pada
semua kasus rhinovirus, virus inilah yang sering dan banyak ditemukan
pada penderita pilek. Namun pada anak-anak, pilek ini bisa berubah
menjadi ISPA yang serius jika sistem kekebalan tubuhnya lemah.
3. Coronavirus
Coronavirus merupakan virus yang bisa menyebabkan penyakit ISPA.
Virus ini ditemukan pada manusia pertama kali tahun 1960-an. Bukan
hanya manusia, hewan pun juga bisa terinfeksi oleh virus ini. Pada
manusia, siapapun bisa terserang virus ini. Namun, anak-anaklah yang
paling rentan terinfeksi. Penyebaran virus ini bisa terjadi melalui udara
pada penderita batuk dan bersin, serta melalui kontak langsung dengan
menyentuh atau berjabat tangan yang kemudian bisa terkontaminasi jika
menyentuh mulut, hidung, ataupun mata kita sendiri.
4. Pneumokokus
Pneumokokus merupakan bakteri yang sering mengancam anak-anak.
Ciri khas dari bakteri ini adalah kapsul polisakarida yang selalu
menyelubunginya. Bakteri ini datang dengan mudah melalui percikan air
ludah. Kalau sudah begini, bakteri bisa masuk ke paru-paru hingga
menyebabkan radang paru. Pada penelitian di Bandung, sebanyak 2000
anak yang mengalami radang paru menunjukkan 65% diantaranya
mengandung pneumokokus pada tenggorokannya. Bakteri ini merupakan
jenis bakteri yang sangat menular dan pengobatannya juga sulit. Cara
yang terbaik untuk mencegah bakteri ini adalah dengan memberikan
vaksin yang sangat efektif untuk mengurangi jumlah pembawa bakteri.
5. Streptokokus
Streptokokus adalah salah satu genus pada bakteri nonmotil dan
mengandung sel gram positif. Nama lain dari virus ini adalah Step Throat.
Bentuknya bulat, bisa berpasangan ataupun membentuk rantai. Sampai
saat ini, sudah sekitar 20 jenis bakteri Streptokokus yang ditemukan.
Infeksi Streptokokus bisa menyerang siapa termasuk anak-anak, orang
dewasa hingga lansia. Bakteri ini merupakan bakteri yang bisa
menyebabkan ISPA karena bakteri ini sering menimbulkan meningitis,
pneumonia, radang tenggorokan, radang paru-paru dan endokarditis.
6. Respiratory Syncytial Virus
Respiratory syncytial merupakan virus yang bisa mengakibatkan
seseorang terserang gejala bersin-bersin, batuk, hidung berair hingga
demam. Hal ini bisa terjadi karena virus ini menginfeksi paru-paru dan
saluran pernafasan. Virus ini bisa menginfeksi semua kalangan dari orang
dewasa hingga anak-anak. Namun, anak-anaklah yang paling rentan
terhadap virus ini sebab anak-anak merupakan masa untuk proses
pembentukan kekebalan tubuh. Dengan sifatnya yang menular, virus ini
bisa saja membutuhkan perawatan yang lebih serius sebab bisa
mengakibatkan komplikasi seperti pneumonia dan bronkiotis, serta
munculnya masalah pernafasan berat yang berujung pada kematian.
7. Virus Influenza
Virus Influenza merupakan virus yang sangat menular terutama jika
seseorang sedang mengalami batuk atau bersin. Virus ini juga
merupakan virus penyebab terjadinya influenza atau yang dikenal dengan
penyakit flu yang biasanya merupakan gejala dari penyakit ISPA. Dengan
tiga tipe yang dimiliki, virus ini mampu menyerang manusia hingga hewan
sekalipun. Bahkan pada alam, virus ini biasa ditemukan pada unggas liar.
8. Debu dan Asap
Selain karena serangan mikroorganisme, penyakit ISPA juga bisa terjadi
karena terkena debu dan asap. Debu atau asap yang halus dan tidak
terlihat, dapat masuk ke lapisan mukosa hingga terdorong menuju faring
karena tidak dapat disaring oleh rambut yang ada pada hidung.Umumnya
udara yang tercemar bisa menyebabkan pergerakan silia hidung lambat,
kaku, hingga dapat berhenti. Akibatnya, saluran pernafasan teriritasi
karena tidak dapat membersihkannya dari bahan yang tercemar. Saluran
pernafasan juga bisa mengalami penyempitan dan sel pembunuh bakteri
bisa rusak pada saluran pernafasan jika produksi lendir terus meningkat.
Kalau hal ini sudah terjadi, seseorang akan sulit bernafas hingga bakteri
tidak bisa dikeluarkan, benda asing tertarik masuk ke saluran pernafasan
dan terjadilah infeksi saluran pernafasan.
2.1 Faktor risiko ISPA
a. Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah
untuk menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap
segar. Hal ini berarti keseimbangan O2 yang diperlukan oleh
penghuni rumah tersebut tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan
menyebabkan O2 (oksigen) didalam rumah yang berarti kadar CO2
(karbondioksida) yang bersifat racun bagi penghuninya menjadi
meningkat. Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan
kelembaban udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses
penguapan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan
merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri, patogen (bakteri-
bakteri penyebab penyakit).
 Baik ( 10% dari luas lantai)
 Tidak baik (10% dari luas lantai)
b. Kepadatan Penghuni
meliputi jumlah penghuni dalam rumah dengan ukuran luasanrumah.
Dengan kategori :
 Baik :2 orang
 Tidak baik :2 orang
c. Penerangan Alami (Intensitas Cahaya)
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan
tidak terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam
ruangan rumah, terutama cahaya matahari di samping kurang
nyaman, juga merupakan media atau tempat yang baik untuk hidup
dan berkembangnya bibit-bibit penyakit. Sebaliknya terlalu banyak
cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau, dam akhirnya
dapat merusakan mata.
Merupakan penerangan rumah secara alami oleh sinar matahari untuk
mengurangi kelembaban dan membunuh bakteri penyebab ISPA.
Dengan kategori :
 Baik (60-120 Lux)
 Tidak baik (<60 Lux atau <120 Lux)
d. Suhu
Suhu dalam ruangan untuk menjaga tidak terlalu banyakkehilangan
panas atau sebaliknya tubuh tidak sampai kepanasan.
Dengan kategori :
 Baik : (18-30°C)
 Tidak baik ( <18 atau >30°C)
e. Kelembaban
Merupakan kandungan uap air yang dapat dipengaruhi olehsirkulasi
udara dalam rumah dengan kategori :
 Baik : (40-70%)
 Tidak baik : (< 40% atau > 70%)
f. Lantai
Merupakan salah satu bahan bangunan rumah untuk
melengkapisebuah rumah. Dengan kategori :
 Baik : kedap air dan tidak lembab (keramik dan ubin)
 Tidak baik : menghasilkan debu dan lembab (semen dantanah)
g. Dinding
Merupakan salah satu bahan bangunan untuk mendirikan
sebuahrumah. Dengan kategori :
 Baik : Permanen atau tembok
 Tidak baik : semi permanen, bumbu dan kayu atau papan
h. Atap
Merupakan salah satu bagian fungsi rumah untuk melindungimasuknya
debu ke dalam rumah. Dengan kategori :
 Baik : Genteng dan menggunakan langit-langit
 Tidak baik : asbes atau seng dan tidak menggunakan langitlangit
i. Sumber air bersih
Sumber air yang berasal dari sumber mata air yang
yangterlindung/sumur pompa/sumur gali/PDAM/sumber air bersih
yangmemenuhi syarat kesehatan.
j. Tempat pembuangan sampah
Bak tempat pembuangan sampah, cara pengelolaan sampah.
k. Saluran pembuangan air limbah
Saluran untuk mengalirkan air limbah melalui saluran ke
sebuahlubang/sumur resapan yang memenuhi syarat kesehatan.
l. Polutan
Partikel yang tidak murni dan mencemari udara yang berada didalam
ruangan atau di luar ruangan.
m. Faktor Polusi
Adapun penyebab dari faktor polusi terdiri dari 2 aspek yaitu (Lamsidi,
2003) :
1) Cerobong asap
Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau
pabrik-pabrik industri yang dibuat menjulang tinggi ke atas
(vertikal). Cerobong tersebut dibuat agar asap bisa keluar ke
atas terbawa oleh angin. Cerobong asap sebaiknya dibuat
horizontal tidak lagi vertikal, sebab gas (asap) yang dibuang
melalui cerobong horizontal dan dialirkan ke bak air akan mudah
larut. Setelah larut debu halus dan asap mudah dipisahkan,
sementara air yang asam bisa dinetralkan oleh media Treated
Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa menyerap racun dan
logam berat. Langkah tersebut dilakukan supaya tidak akan ada
lagi pencemaran udara, apalagi hujan asam. Cerobong asap
juga bisa berasal dari polusi rumah tangga, polusi rumah tangga
dapat dihasilkan oleh bahan bakar untuk memasak, bahan bakar
untuk memasak yang paling banyak menyebabkan asap adalah
bahan bakar kayu atau sejenisnya seperti arang.
2) Kebiasaan merokok masyarakat
Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan
sekitar 4.000 bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida,
nitrogen oksida, hidrogen cianida, ammonia, acrolein, acetilen,
benzol dehide, urethane, methanol, conmarin, 4-ethyl cathecol,
ortcresorperylinedan lainnya, sehingga di bahan kimia tersebut
akan beresiko terserang ISPA.

2.1 Tanda dan Gejala ISPA


 Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau
lebih gejala-gejala sebagai berikut :
- Batuk
- Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan
suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis)
- Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
- Panas atau demam, suhu badan lebih dari 37oC
 Gejala dari ISPA Sedang
Seseorang dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :
- Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu : untuk
kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas 60 kali per
menit atau lebih dan kelompok umur 2 bulan - <5 tahun : frekuensi
nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 – <12 bulan dan 40 kali per
menit atau lebih pada umur 12 bulan – <5 tahun.
- Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer)
- Tenggorokan berwarna merah
- Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak
campak
- Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga
- Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur)
 Gejala dari ISPA Berat
- Seseorang dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejal-
gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih
gejala-gejala sebagai berikut :
- Bibir atau kulit membiru
- Anak tidak sadar atau kesadaran menurun
- Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
- Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas
- Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba
- Tenggorokan berwarna merah

Tanda dan gejala ISPA sesuai berdasarkan klasifikasinya:


Kelompok Klasifikasi Tanda penyerta selain batuk dan atau
Umur sukar bernapas
Pneumonia Tarikan dinding dada bagian bawah
2 bulan - <5 berat ke dalam
tahun (chest indrawing)
Pneumonia Napas cepat sesuai golongan umur
- 2 bulan-<1 tahun : 50 kali atau
lebih/menit
- 1-< 5 tahun : 40 kali atau lebih/menit
Bukan Tidak ada napas cepat dan tidak ada
Pneumonia tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam
< 2 bulan Pneumonia Napas cepat > 60 kali atau lebih per
berat menit atau
Tarikan kuat dinding dada bagian
bawah ke dalam
Bukan Tidak ada napas cepat dan tidak ada
Pneumonia tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam

2.1 Proses terjadinya ISPA


Penyakit ISPA disebabkan oleh virus dan bakteri yang disebarkan melalui
saluran pernafasan yang kemudian dihirup dan masuk ke dalam tubuh,
sehingga menyebabkan respon pertahanan tubuh bergerak yang
kemudian masuk dan menempel pada saluran pernafasan yang
menyebabkan reaksi pertahanan tubuh menurun dan dapat menginfeksi
saluran pernafasan yang mengakibatkan sekresi dahak/lendirmeningkat
dan mengakibatkan saluran nafas tersumbat dan mengakibatkan sesak
nafas dan batuk. Ketika saluran pernafasan telah terinfeksi oleh virus
dan bakteri yang kemudian terjadi reaksi peradangan yang
mengakibatkan aliran darah meningkat pada daerah yang terjadi reaksi
peradangan khususnya pada tenggorokan yang mengakibatkan nyeri
terutama saat menelan makanan. Reaksi peradangan berikutnya
adalah peningkatan suhu tubuh yang mengakibatkan peningkatan
kebutuhan cairan yang kemudian mengalami dehidrasi. Selain itu, reaksi
perandangan yang terjadi berikutnya adalah pembengkakan khususnya
pada tonsil yang mengakibatkan kesulitan dalam menelan yang
menyebabkan asupan nutrisi dan cairan tidak tercukupi. Tanda
peradangan yang terakhir adalah perubahan fungsi yakni adanya
kerusakan lapisan dinding saluran pernafasan sehingga meningkatkan
membuat dahak menjadi banyak dan merangsang terjadinya batuk.
Dampak infeksi bakteri pun bisa menyerang saluran nafas bawah,
sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran
pernafasan atas, setelah terjadinya infeksi bakteri, dapat menginfeksi
paru-paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Sylvia, 2005)
BAB II
PROSES PENULARAN , PENANGANAN ISPA,
KOMPLIKASI DAN CARA PENCEGAHAN ISPA

2.1 Cara Penularan Penyakit ISPA


Faktor penting yang mempengaruhi ISPA adalah pencemaran udara.
Adanya pencemaran udara di lingkungan rumah akan merusak mekanisme
pertahanan paru-paru sehingga mempermudah timbulnya gangguan
pernapasan. Tingginya tingkat pencemaran udara menyebabkan ISPA memiliki
angka yang paling banyak diderita oleh masyarakat dibandingkan penyakit
lainnya. Selain faktor tersebut, peningkatan penyebaran penyakit ISPA juga
dikarenakan oleh perubahan iklim serta rendahnya kesadaran perilaku hidup
bersih dan sehat dalam masyarakat.
Bibit penyakit ISPA berupa kuman (virus, bakteri, dan jamur) ditularkan
melalui udara. Virus dan bakteri yang berada di udara akan masuk ke dalam
tubuh melalui saluran pernafasan dan menimbulkan infeksi. Penularan ISPA
terjadi melalui droplet (percikan air liur) yang keluar saat penderita bersin,
batuk, udara pernapasan yang mengandung kuman (virus, bakteri, jamur) yang
terhirup oleh orang sehat. Penularan juga dapat terjadi melalui kontak dan
kontaminasi tangan oleh air liur, darah , sekret/sputum/dahak saluran
pernapasan, hidung, dan mulut penderita. Saat seseorang yang menderita /
terjangkit virus ini bersin atau batuk maka virus yang berada dalam percikan
air liur atau dahak ini akan ikut keluar dan dapat menularkan kepada orang
sehat yang tidak sengaja menghirupnya.
Ada pun perajalanan penularan virus ini sebagai berikut:
1. Seseorang yang menderita ISPA batuk atu bersin kemudian udara yang
dikeluarkan saat bersin terhirup oleh orang yang sehat atau bisa jadi saat
penderita membersihkan ingus dengan tangan kemudian setelah itu
tangannya bersalaman dengan orang yang sehat kemudian orang yang sehat
memegang hidung atau mulut.
2. Akhirnya virus atau bakteri masuk lewat saluran pernafasan orang yang sehat
3. Virus atau bakteri masuk dan menetap di dalam tubuh manusia ini
menyebabkan infeksi atau peradangan pada saluran pernafasan yang
ditandai oleh demam, nyeri telan, batuk, pilek dan pernafasan terasa berat.
4. Didalam tubuh manusia, bakteri ini mengadakan pembelahan dan
berkembangbiak dengan jumlah yang banyak, kemudian masuk ke dalam
darah sampai ke otak, apabila bakteri ini sudah masuk dan menyebar
kedalam peredaran darah (bersifat sistemik) dan masuk ke otak, maka dapat
menyebabkan kematian.
5. Pada ISPA yang disebabkan oleh virus biasanya tidak langsung menunjukkan
gejala. Virus berinkubasi selama 2 sampai 8 hari dimana pada masa
inkubasi ini seseorang yang terjangkit virus ini belum menunjukkan tanda dan
gejala. Saat dimana seseorang mengalami penurunan daya tahan tubuh,
penurunan status gizi, stress maka virus ini baru menunjukkan tanda dan
gejala seperti: pilek, sakit tenggorokkan, batuk, peranafasan terasa berat.
Proses terjadinya penyakit ISPA disebabkan oleh adanya interaksi
antara faktor penyebab penyakit (virus, bakteri, jamur), manusia sebagai
pejamu (host) dan faktor lingkungan yang mendukung. Ketiga faktor ini
dikenal sebagai trias penyebab penyakit.

a. Faktor Penyebab penyakit


Berat ringannya penyakit yang dialami sangat ditentukan oleh sifat-sifat
dari kuman/ mikroorganisme sebagai penyebab penyakit. Infeksi Saluran
Pernafasan Akut dapat disebabkan oleh karena infeksi virus, bakteri, maupun
jamur.
 Penyebab bakteri diantaranya : Haemophilus influenza,Staphylococcus,
Legionella, Streptococcus pneumonia, Pseudomonas. Bakteri seperti
Haemophilus influenza masuk kedalam tubuh melalui udara yang dihirup,
kemudian menetap didalam tubuh. Didalam tubuh manusia, bakteri ini
mengadakan pembelahan dan berkembangbiak dengan jumlah yang
banyak, kemudian masuk ke dalam darah sampai ke otak, apabila bakteri
ini sudah masuk dan menyebar kedalam peredaran darah (bersifat
sistemik) dan masuk ke otak, maka dapat menyebabkan kematian.
 Hampir setengah dari infeksi ini disebabkan oleh virus yakni virus
influenza, parainfluenza, adeno virus, respiratory sincytial virus (RSV) dan
rhino virus. Aktifitas virus seperti respiratory sincytial virus (RSV) sangat
dipengaruhi oleh iklim dimana virus ini cenderung meningkat terutama pada
saat musim hujan dan dengan suhu lingkungan dingin serta kelembaban
yang tinggi. Virus ini dapat bertahan hidup pada permukaan benda yang
keras hingga selama 6 jam, dan pada kulit selama 20 menit. Oleh karena
itu kebiasaan untuk melakukan cuci tangan dengan menggunakan sabun
sangat penting untuk mencegah terjadinya penularan virus ini.

b. Faktor Host (pejamu)


1. Umur
Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadinya ISPA.
Oleh sebab itu kejadian ISPA pada bayi dan anak balita akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan orang dewasa. Kejadian ISPA pada bayi dan balita
akan memberikan gambaran klinik yang lebih berat dan jelek, hal ini
disebabkan karena ISPA pada bayi dan anak balita umumnya merupakan
kejadian infeksi pertama serta belum terbentuknya secara optimal proses
kekebalan secara alamiah. Sedangkan orang dewasa sudah banyak terjadi
kekebalan alamiah yang lebih optimal akibat pengalaman infeksi yang terjadi
sebelumnya.
2. Status Gizi
Salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi anak adalah makanan
dan penyakit infeksi yang mungkin diderita oleh anak. Anak yang mendapat
makanan baik tetapi sering diserang penyakit infeksi dapat berpengaruh
terhadap status gizinya. Begitu juga sebaliknya anak yang makanannya tidak
cukup baik, daya tahan tubuhnya pasti lemah dan akhirnya mempengaruhi
status gizinya. Gizi kurang menghambat reaksi imunologis dan berhubungan
dengan tingginya prevalensi dan beratnya penyakit infeksi
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting
untuk terjadinya penyakit infeksi. Dalam keadaan gizi yang baik, tubuh
mempunyai cukup kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap infeksi.
Jika keadaan gizi menjadi buruk maka reaksi kekebalan tubuh akan menurun
yang berarti kemampuan tubuh mempertahankan diri terhadap serangan
infeksi menjadi turun. Oleh karena itu, setiap bentuk gangguan gizi sekalipun
dengan gejala defisiensi yang ringan merupakan pertanda awal dari
terganggunya kekebalan tubuh terhadap penyakit infeksi.
ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak-anak. Daya
tahan tubuh anak sangat berbeda dengan orang dewasa karena sistem
pertahanan tubuhnya belum kuat. Apabila di dalam satu rumah ada anggota
keluarga terkena pilek, anak-anak akan lebih mudah tertular. Dengan kondisi
anak yang masih lemah, proses penyebaran penyakit menjadi lebih cepat.
3. Status Imunisasi
Imunisasi merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kekebalan
tubuh agar terhindar dari infeksi. Imunisasi yang lengkap terdiri dari vaksin
polio, vaksin campak, vaksin BCG, vaksin DPT, dan vaksin Toxoid Difteri.
Imunisasi yang tidak lengkap dapat menjadi salah satu faktor risiko terjadinya
penyakit ISPA karena tubuh balita menjadi lebih rentan

c. Faktor Lingkungan
1. Kepadatan Hunian Ruang Tidur
Berdasarkan KepMenkes RI No.829 tahun 1999 tentang
kesehatan perumahan menetapkan bahwa luas ruang tidur minimal 8 m2
dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang
tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun. Bangunan yang sempit dan
tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai dampak
kurangnya oksigen didalam ruangan sehingga daya tahan penghuninya
menurun, kemudian cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti
ISPA.
Kepadatan di dalam kamar terutama kamar balita yang tidak
sesuai dengan standar akan meningkatkan suhu ruangan yang
disebabkan oleh pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan
kelembaban akibat uap air dari pernapasan tersebut. Dengan demikian,
semakin banyak jumlah penghuni ruangan tidur maka semakin cepat
udara ruangan mengalami pencemaran gas atau bakteri. Dengan
banyaknya penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan menurun dan
diikuti oleh peningkatan CO2 ruangan dan dampak peningkatan CO2
ruangan adalah penurunan kualitas udara dalam ruangan.
2. Penggunaan Anti Nyamuk Bakar
Penggunaan anti nyamuk sebagai alat untuk menghindari gigitan
nyamuk dapat menyebabkan gangguan saluran pernafasan karena
menghasilkan asap dan bau tidak sedap. Adanya pencemaran udara di
lingkungan rumah akan merusak mekanisme pertahanan paru-paru
sehingga mempermudah timbulnya gangguan pernafasan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa anak yang tinggal didalam rumah yang menggunakan
anti nyamuk bakar memiliki faktor resiko terjadinya ISPA yang lebih tinggi
dibandingkan dengan anak yang tinggal di dalam rumah yang tidak
menggunakan anti nyamuk bakar .
3. Bahan Bakar Untuk Memasak
ISPA merupakan penyakit yang paling banyak di derita anak-anak.
Salah satu penyebab ISPA adalah pencemaran kualitas udara di dalam
ruangan seperti penggunaan kayu bakar untuk memasak di dalam
rumah.Hal ini dikarenakan asap hasil pembakaran kayu bakar
mengandung zat-zat yang berbahaya untuk kesehatan apabila dihirup
setiap hari.
4. Keberadaan Perokok
Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok
pasif. Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya
merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic
Aromatic Hidrocarbons (PAHs) dan lain-lain. Balita yang tinggal dirumah
yang anggota keluarganya mempunyai kebiasaan merokok dalam rumah
berpeluang menderita ISPA sebesar 2 kali lipat lebih banyak dibanding
dengan balita yang anggota keluarganya tidak merokok didalam rumah.

Perilaku di Masyarakat yang Meningkatkan Resiko Terjadinya Penularan


ISPA
1. Kebiasaan membersihkan ingus anak dengan kain gendongan
2. Tidak menutup mulut dan hidung anak saat batuk atau bersin
3. Tidak mencuci tangan setelah membersihkan ingus anak
4. Membuang ingus anak sembarangan
5. Membiarkan anak yang sakit dan anak yang sehat tidur berdekatan

2.2 Penatalaksanaan ISPA


Penatalaksanaan penyakit ISPA menurut DEPKES RI (2006)dilakukan
berdasarkan klasifikasi penyakitnyayaitu sebagai berikut :
a. ISPA ringan atau Bukan Pneumonia
Anak yang menunjukkan gejala ISPA ringan maka dapat dilakukan perawatan di
rumah terlebih dahulu yaitu dengan :
 Mengatasi demam
Demam diatasi dengan memberikan obat penurun panas apabila suhu anak
lebih 380 C. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6 jam selama 2 hari. Cara
pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan dosisnya, kemudian
diminum. Memberikan kompres, dengan menggunakan kain bersih,
celupkan pada air biasa (tidak perlu air es). Apabila dalam 2 hari kondisi
anak tidak terdapat perubahan, maka segera bawa anak ke fasilitas
kesehatan terdekat seperti : puskesmas, bidan atau dokter.
 Mengatasi batuk
Jika anak telah berusia lebih dari 1 tahun bisa diberikan 1/2 sendok teh
jeruk nipis ditambah ½ sendok teh kecap manis atau madu dimunimkan
pada anak 3-4 kali/hari diminumkan selama 2-3 hari jika batuknya tidak
kunjung sembuh harus segera dibawa ke dokter atau puskesmas
terdekat
b. ISPA sedang atau pneumonia
Anak dengan pneumonia maka harus segera diperiksakan ke pelayanan
kesehatan untuk mendapatkan terapi obat. Terapi yang diberikan pada
penyakit ini biasanya pemberian obat antibiotik kotrimoksasol peroral.
Bila penderita tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata
dengan pemberian kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat
dipakai obat antibiotic pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin
prokain. Pemberian antibiotic dapat mempercepat penyembuhan
dibandingkan hanya dengan pemberian obat-obatan simptomatik. Selain
itu dengan pemberian antibiotik banyak mencegah terjadinya infeksi
lanjutan. Pada penyakit ISPA yang sudah berlanjut dengan gejala dahak
dan ingus yang berwarna hijau,pemberian antibiotik merupakan
keharusan karena dengan gejala tersebut membuktikan sudah ada
bakteri yang terlibat
c. ISPA berat atau pneumonia berat
Harus segera dirawat di rumah sakit atau puskesmas karena perlu
mendapatkan perawatan khusus seperti oksigen dan infus.

 Perawatan dirumah
Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat merawat anak yang menderita ISPA.
 Prinsip 5 Benar Pemberian Obat
Pada saat memberikan obat di rumah ibu harus mengathui prinsip 5 benar
obat yaitu:
1. Benar obat
Pastikan obat yang diberikan adalah benar obat yang diresepkan oleh
dokter/bidan dengan melihat nama obat dengan resep yang diberikan
apakah sudah sesuai atau tidak
2. Benar dosis
Pastikan obat yang diberikan sesuai dengan dosis obat seharusnya
misalnya parasetamol 500 gram (1 tablet) diberikan 3 kali sehari.
3. Benar pasien
Pastikan obat yang diberikan adalah obat milik pasien, jangan sampai
tertukar dengan obat milik orang lain
4. Benar rute
Pastikan ibu harus tahu mana obat yang diberikan dengan diminum
atau mana obat yang diberikan misalnya lewat uap atau obatnya harus
dihisap.
5. Benar waktu
Pastikan ibu dalam memberikan obat sesuai dengan jadwal pemberian
obat
 Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulang- ulang
yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah.
 Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih
banyak dari biasanya terutama air putih hangat. Ini akan
membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan
menambah parah sakit yang diderita. Untuk anak dibawah 6 bulan tetap
berikan ASI dan berikan lebih sering
 Lain-lain
Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal
dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam. Jika pilek,
bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap. Apabila selama perawatan
dirumah keadaan anak memburuk maka dianjurkan untuk
membawa kedokter atau petugas kesehatan. Untuk penderita
yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas usahakan
agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar selama 5
hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan antibiotik,
usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali ke petugas
kesehatan untuk pemeriksaan ulang

2.3. Obat-obatan yang sering digunakan untuk ISPA


Berdasarkan diagnosis, pada pasien yang terdiagnosis sebagai ISPA diberikan
beberapa obat sebagai berikut :

1. Antibiotik
a) Kotrimoxsazol
Pemberian antibiotik jenis kotrimoxsazol pada kasus ISPA termasuk sering
digunakan, yakni sebesar 91,7%. Berikut kerja obat beserta efek sampingnya :
 Sediaan
1. Cotrimoxazole Kaplet Forte
2. Cotrimoxazole Tablet
3. Cotrimoxazole syrup.
 Indikasi
1. Infeksi saluran kemih dan kelamin yang disebabkan oleh bakteri seperti :
E. coli. Klebsiella sp, Enterobacter sp, Morganella morganii, Proteus
mirabilis, Proteus vulgaris.
2. Otitis media akut (Radang telinga akut) yang disebabkan Streptococcus
pneumoniae, Haemophilus influenzae.
3. Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bronchitis kronis yang
disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.
4. Enteritis yang disebabkan Shigella flexneri, Shigella sonnei.
5. Pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii.
6. Diare yang disebabkan oleh E. coli.
 Kontraindikasi
1. Penderita dengan gangguan fungsi hati yang parah, kerusakan ginjal,
wanita hamil, wanita menyusui, bayi prematur atau bayi berusia dibawah
2 bulan.
2. Penderita anemia.
3. Penderita yang alergi terhadap trimetoprim dan obat-obat golongan
sulfonamida.

 Cara Kerja obat


Cotrimoxazole adalah antibiotik yang merupakan kombinasi
Sulfamethoxazole dan Trimethoprim dengan perbandingan 5 : 1.
Kombinasi tersebut mempunyai aktivitas pembunuh bakteri (bakterisid)
yang besar karena menghambat pertumbuhan bakteri. Cotrimoxazole
mempunyai aktivitas luas dan efektif terhadap bakteri gram-positif dan
gram-negatif, misalnya Streptococci, Staphylococci, Pneumococci,
Neisseria, Bordetella. Klebsiella, Shigella dan Vibrio cholerae.
Cotrimoxazole juga efektif terhadap bakteri yang resisten terhadap
antibakteri lain seperti H. influenzae, E. coli. P. mirabilis, P. vulgaris dan
berbagai strain Staphylococcus.

 Peringatan
1. Wanita yang berencana hamil atau sedang hamil sebaiknya menghindari
konsumsi kotrimoksazol. Sedangkan ibu menyusui dianjurkan untuk
berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat ini.
2. Sangat penting bagi penderita untuk menghabiskan kotrimoksazol
sesuai resep dokter, jangan sesekali menyisakan obat karena dapat
menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotic tersebut
3. Harap berhati-hati bagi manula dan yang menderita gangguan hati yang
parah, sakit kuning, porfiria, gangguan ginjal yang parah, asma,
malnutrisi, kekurangan asam folat, serta penurunan trombosit.
4. Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.
 Efek samping
1. Efek samping jarang terjadi pada umumnya ringan, seperti reaksi alergi,
ruam kulit, sakit kepala dan gangguan pencernaan misalnya mual,
muntah dan diare.
2. Penurunan sel darah putih, anemia, dan penurunan kadar trombosit
darah (keping darah).
3. Walaupun sifatnya jarang dapat terjadi reaksi alergi yang fatal pada kulit
atau darah seperti sindrom Steven Johnson (reaksi alergi berat yang
dapat menimbulkan kematian).
b) Amoxicilin
Amoxicillin adalah salah satu jenis antibiotik penisilin yang digunakan untuk
mengatasi berbagai jenis bakteri. Misalnya, amoxicillin digunakan untuk
mengobati infeksi pada saluran pernapasan, saluran kemih, dan telinga
 Cara Kerja Obat
Amoksisilin adalah turunan jenis antibiotik yang dalam suasana asam
lambung. Amoksisilin diserap dengan cepat dan baik pada saluran
pencernaan makanan, tidak tergantung adanya makanan. Amoksisilin
terutama dikeluarkan lewat air kencing (urin) yang tidak memberikan
perubahan baik warna maupun bau. Ekskresi dihambat saat pemberian
bersamaan dengan Probenesid, sehingga memperpanjang efek terapi.
Amoksisilin aktif terhadap organisme gram-positif dan gram-negatif.
 Peringatan
1. Hati-hati memberikan amoksisilin pada penderita dengan fungsi hati dan
ginjal yang rusak terutama pada pemakaian obat dalam jangka waktu
panjang.
2. Sangat penting bagi penderita untuk menghabiskan amoksisilin sesuai
resep dokter walaupun kondisi pasien membaik sebelum obat habis,
jangan sesekali menyisakan obat karena dapat menyebabkan bakteri
menjadi kebal terhadap antibiotic tersebut
3. Hentikan pemakaian amoksisilin jika terjadi super infeksi yang biasanya
terjadi pada saluran pencernaan (umumnya disebabkan Enterobacter,
Pseudomonas, S.aureus Candida)
4. Antibiotik golongan penicillin termasuk amoxicillin telah diketahui ikut
keluar bersama air susu ibu (ASI). Oleh karena itu, jika amoxicillin
digunakan untuk ibu menyusui, perlu dikonsultasikan dengan dokter.
Untuk menghindari efek sensitivitas amoxicillin terhadap bayi,
penggunaan antibiotik ini harus dilakukan dengan jarak yang cukup
dengan saat menyusui.
 Indikasi
1. Mengobati infeksi yang disebabkan oleh kuman yang peka terhadap
amoksisilin seperti otitis media akut, faringitis yang disebabkan
streptococcus, pneumonia, infeksi kulit, infeksi saluran kemih, infeksi
Salmonella, Lyme disease, dan infeksi klamidia.
2. Amoksisilin juga digunakan untuk mencegah endokarditis yang
disebabkan bakteri pada orang-orang berisiko tinggi saat perawatan gigi,
untuk mencegah infeksi oleh Streptococcuspneumoniae dan infeksi
bakteri lainnya.

 Kontraindikasi
Obat ini dilarang keras digunakan pada pasien yang memiliki riwayat
hipersensitif (alergi) pada amoksisilin (Amoxicillin) dan antibiotik
betalaktam lainnya seperti penisillinum dan cephalosporin.
 Efek samping
1. Mual, muntah, dan ruam
2. Kadang-kadang diare juga dapat terjadi.
3. Efek samping yang jarang seperti perubahan mental, sakit kepala ringan,
insomnia, kebingungan, kecemasan, kepekaan terhadap cahaya dan
suara, dan berpikir tidak jelas.
4. Perawatan medis harus segera diberikan jika tanda-tanda pertama dari
efek samping muncul karena jika seseorang mengalami reaksi alergi
terhadap obat ini, dapat mengalami shock anafilaktik yang bisa berakibat
fatal.
2. Penurun demam
a. Paracetamol
 Cara Kerja Obat
Obat Parasetamol memiliki nama lain acetaminophen (baca: asetaminofen) obat
ini termasuk sebagai analgesik (antinyeri) dan antipiretik (penurun panas).
Mekanisme kerja paracetamol yaitu sebagai inhibitor prostaglandin yang
lemah. Jadi mekanisme kerjanya dengan menghalangi produksi prostaglandin,
yang merupakan bahan kimia yang terlibat dalam transmisi pesan rasa sakit ke
otak. Dengan mengurangi produksi prostaglandin, parasetamol membantu
meredakan rasa sakit, seperti sakit kepala, sakit/nyeri pada anggota tubuh
lainnya dan demam atau panas. Paracetamol dapat kita peroleh dan dijual
bebas tanpa harus menggunakan resep dokterMisalnya saja Panadol, Pamol,
Oskadon, Nufadol, Etagesik, dan masih banyak lagi.
Jenis-jenis sediaannya juga bervariasi, yaitu:
1. Tablet
2. Kaplet
3. Kapsul
4. Tablet larut (dilarutkan dalam air, kemudian diminum)
5. Suspensi oral (SIRUP)
6. Supositoria (yang dimasukkan ke dalam anus)
 Indikasi

Indikasi utama paracetamol yaitu digunakan sebagai obat penurun panas


(analgesik) dan dapat digunakan sebagi obat penghilang rasa sakit dari
segala jenis seperti sakit kepala, sakit gigi, nyeri pasca operasi, nyeri
sehubungan dengan pilek, nyeri otot pasca-trauma, dll. Sakit kepala
migrain, dismenore dan nyeri sendi juga dapat diringankan dengan obat
parasetamol ini. Pada pasien kanker, parasetamol digunakan untuk
mengatasi nyeri ringan atau dapat diberikan dalam kombinasi dengan
opioid (misalnya kodein). Parasetamol diberikan apabila anak demam
mencapai suhu > 380C baru diberikan parasetamol. Jarak pemberian
parasatemol ialah setiap 6 jam sekali untuk menghindari efek keracunan
obat. Pemberian parasetamol bisa dihentikan apabila pasien sudah tidak
demam.
 Dosis
Dewasa : 325-650 mg setiap 4-6 jam atau 3-4 x 1000 mg, tidak melebihi
4g/hari
Anak usia < 12 tahun : 10-15mg/kg diberikan setiap 4 - 6jam, max 2,6
g/hari
Anak >12 th: seperti dosis dewasa.

 Kontraindikasi
Obat parasetamol tidak boleh digunakan pada orang dengan kondisi
sebagai berikut:
1. Alergi parasetamol atau acetaminophen
2. Gangguan fungsi hati dan penyakit hati
3. Gangguan Fungsi Ginjal Serius
4. Shock Overdosis Acetaminophen
5. Gizi Buruk
 Peringatan
Paracetamol untuk ibu hamil diyakini aman, asalkan digunakan dalam
waktu yang singkat. Penggunaannya pun harus dengan indikasi atau
kebutuhan yang tepat. Hal ini diperkuat dengan data epidemiologis pada
penggunaan acetaminophen oral pada wanita hamil tidak menunjukkan
peningkatan risiko cacat bawaan pada bayi. Penelitian reproduksi hewan
belum dilakukan dengan acetaminophen, dan tidak diketahui apakah
parasetamol IV (infus) dapat menyebabkan kerusakan janin bila
diberikan kepada ibu hamil. Obat parasetamol diekskresikan ke dalam
air susu ibu dalam konsentrasi kecil. Salah satu kasus ruam telah
dilaporkan pada bayi menyusui. Paracetamol dianggap aman untuk ibu
menyusui oleh American Academy of Pediatrics. Satu studi kecil telah
melaporkan bahwa setelah ibu minum acetaminophen 1000 mg, bayi
menyusu akan menerima kurang dari 1,85% dari dosis yang ibu minum.

 Efek samping
1. Ruam atau pembengkakan – ini bisa menjadi tanda dari reaksi alergi
2. Hipotensi (tekanan darah rendah) ketika diberikan di rumah sakit dengan
infus. Kerusakan hati dan ginjal, ketika diambil pada dosis lebih tinggi dari
yang direkomendasikan (overdosis)
3. Mual, sakit perut, dan kehilangan nafsu makan
4. Air seni berwarna gelap, tinja berwarna tanah liat
5. Jaundice (menguningnya kulit atau mata).

2.4 Komplikasi
Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease, yang sembuh
sendiri 5 sampai 6 hari, jika tidak terjadi invasi kuman lain. Tetapi
penyakit ISPA yang tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan yang
baik dapat menimbulkan komplikasi seperti:
 Penutupan tuba eustachi (Gangguan pendengaran)
Kuman penyebab otitis media (penurunan fungsi pendengaran/tuli) yang
tersering adalah bakteri piogenik (menimbulkan nanah), seperti
Streptococcus hemoliticus, Staphylococcus aureus, Pneumococcus
dan Haemophilus influenzae. Telinga tengah biasanya steril. Kuman
yang terdapat di rongga hidung, rongga mulut dan saluran
pernapasan atas dapat masuk ke telinga tengah apabila mekanisme
pencegahan masuknya kuman oleh silia (bulu halus) dinding tuba
Eustachius mengalami suatu gangguan. Gangguan tesebut dapat
terjadi oleh karena adanya pembengkakan pada dinding saluran tuba
Eustachius akibat infeksi atau reaksi alergi yang menyebabkan
timbulnya sumbatan pada tuba Eustachius, mengakibatkan kuman
yang masuk ke dalam tuba Eustachius menjadi terperangkap,
kemudian berkembang biak dan menyebabkan infeksi telinga tengah
dengan cairan yang bernanah. Oleh karena itu apabila seorang anak
sering menderita ISPA, maka akan semakin besar kemungkinan anak
tersebut untuk menderita OMA, disamping oleh karena sistem
kekebalan tubuh anak yang belum berkembang secara sempurna.
Pada bayi terjadinya OMA dapat dipermudah oleh karena bentuk tuba
eustachius yang pendek, lebar, dan letaknya agak horizontal, yang
menyebabkan kuman menjadi lebih mudah untuk masuk ke telinga
tengah.
 Laringitis
Laringitis pada orang dewasa hanya penyakit ringan saja, tetapi pada
anak berbeda karena disertai batuk keras, suara serak sampai afoni
(tidak dapat mengeluarkan suara), sesak nafas dan stridor (suara
nafas yang kasar yang terdengar sangat keras). Hal ini disebabkan
oleh edema laring dan sekitar pita suara karena rima glotis lebih kecil
dibandingkan orang dewasa, daerah ini mengandung lebih banyak
pembuluh darah atau getah bening, ikatan mukosa dengan jaringan di
bawahnya masih lebih longgar.
 Empiema
Empiema adalah suatu keadaan dimana di dalam rongga pleura terdapat
nanah(pus) sebagai akibat dari infeksi bakteri akut, akibat traumatik
dari luar atau akibat komplikasi penyakit paru akibat pertahanan tubuh
yang semakin menurun maka dahak yang seharusnya dikeluarkan
tidak dapat dikeluarkan oleh tubuh sehingga tetap berada di paru-
paru. Karena terlalu lama di dalam paru sehingga akan mengalami
proses pembusukan dan berubah menjadi nanah (pus) yang akan
menyebabkan gangguan pengembangan paru, dimana paru-paru
akan mengalami perlengketan dan tidak mampu berkembang secara
maksimal.
 Meningitis
Neisseria meningitidesyaitu bakteri ini muncul akibat adanya ISPA
(Infeksi Saluran Pernafasan Atas) yang masuk melalui peredaran
darah.
 Sepsis
Bila infeksi bakteri terus berlanjut dapat terjadi penyebaran infeksi
melalui darah (sepsis) ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan
kematian.

2.5 Pencegahan ISPA


Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain:
a. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah kita
atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA.
Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna,
banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang
cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena
dengan tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin
meningkat, sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan
masuk ke tubuh kita.
1. Bayi harus disusui sampai usia dua tahun karena ASI adalah
makanan yang paling baik untuk bayi.
2. Beri bayi makanan padat sesuai dengan umurnya.
3. Pada bayi dan anak, makanan harus mengandung gizi cukup yaitu
mengandung cukup protein (zat putih telur), karbohidrat, lemak,
vitamin dan mineral.
4. Makanan yang bergizi tidak berarti makanan yang mahal. Protein
misalnya dapat di peroleh dari tempe dan tahu, karbohidrat dari nasi
atau jagung, lemak dari kelapa atau minyak sedangkan vitamin dan
mineral dari sayuran,dan buah-buahan.
5. Bayi dan balita hendaknya secara teratur ditimbang untuk mengetahui
apakah beratnya sesuai dengan umurnya dan perlu diperiksa apakah
ada penyakit yang menghambat pertumbuhan. Dinkes DKI (2005)
b. Imunisasi
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak
maupun orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan
tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang
disebabkan oleh virus / bakteri. Imunisasi DPT salah satunya
dimaksudkan untuk mencegah penyakit Pertusis yang salah satu
gejalanya adalah infeksi saluran nafas (Gloria Cyber Ministries, 2001).

c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan


Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik
akan mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam
rumah, sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut
yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik
dapat memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar
dan sehat bagi manusia.
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan modal utama bagi
pencegahan penyakit ISPA, sebaliknya perilaku yang tidak
mencerminkan hidup sehat akan menimbulkan berbagai penyakit.
Perilaku ini dapat dilakukan melalui upaya memperhatikan rumah sehat,
desa sehat dan lingkungan sehat (Suyudi, 2002).

d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA


Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/
bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini
melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit
ini biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk
aerosol (anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk
aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang
dikeluarkan dari tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang
kedua duet (campuran antara bibit penyakit).

e. Pengobatan Segera
Apabila anak sudah positif terserang ISPA, sebaiknya orang tua
tidak memberikan makanan yang dapat merangsang rasa sakit pada
tenggorokan, misalnya minuman dingin, makanan yang mengandung
vetsin atau rasa gurih, bahan pewarna, pengawet dan makanan yang
terlalu manis. Anak yang terserang ISPA, harus segera dibawa ke dokter
(PD PERSI, 2002)

Pencegahan Penyakit ISPA


 Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention)
Ditujukan pada orang sehat dengan usaha peningkatan derajat kesehatan (health
promotion) dan pencegahan khusus (spesific protection) terhadap penyakit
tertentu.Termasuk disini adalah :
a. Penyuluhan, dilakukan oleh tenaga kesehatan dimana kegiatan ini
diharapkan dapat mengubah sikap dan perilaku masyarakat terhadap hal-
hal yang dapat meningkatkan faktor resiko penyakit ISPA. Kegiatan
penyuluhan ini dapat berup penyuluhan penyakit ISPA, penyuluhan ASI
Eksklusif, penyuluhan imunisasi, penyuluhan gizi seimbang pada ibu dan
anak, penyuluhan kesehatan lingkungan, penyuluhan bahaya rokok.
b. Imunisasi, yang merupakan strategi spesifik untuk dapat mengurangi angka
kesakitan ISPA
c. Usaha di bidang gizi yaitu untuk mengurangi mal nutrisi.
d. Program KIA yang menangani kesehatan ibu dan bayi berat badan lahir
rendah.
e. Program Penyehatan Lingkungan Pemukiman (PLP) yang menangani
masalah polusi di dalam maupun di luar rumah.
 Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)
Dalam penanggulangan ISPA dilakukan dengan upaya pengobatan dan
diagnosis sedini mungkin. Dalam pelaksanaan program P2 ISPA, seorang
balita keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan pneumonia
apabila ditandai dengan batuk, serak, pilek, panas atau demam (suhu tubuh
lebih dari 370C), maka dianjurkan untuk segera diberi pengobatan. Upaya
pengobatan yang dilakukan terhadap klasifikasi ISPaA atau bukan pneumonia
adalah tanpa pemberian obat antibiotik dan diiberikan perawatan di rumah.
Adapun beberapa hal yang perlu dilakukan ibu untuk mengatasi anaknya yang
menderita ISPA adalah :
a. Mengatasi panas (demam)
Untuk balita, demam diatasi dengan memberikan parasetamol atau dengan
kompres dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu
air es).
b. Pemberian makanan dan minuman Memberikan makanan yang cukup
tinggi gizi sedikitsedikit tetapi sering., memberi ASI lebih sering. Usahakan
memberikan cairan (air putih, air buah) lebih banyak dari biasanya.

 Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)


Tingkat pencegahan ini ditujukan kepada balita yang bukan pneumonia
agar tidak menjadi lebih parah (pneumonia) dan mengakibatkan kecacatan
(pneumonia berat) dan berakhir dengan kematian. Upaya yang dapat
dilakukan pada pencegahan Penyakit bukan pneumonia pada bayi dan balita
yaitu perhatikan apabila timbul gejala pneumonia seperti nafas menjadi sesak,
anak tidak mampu minum dan sakit menjadi bertambah parah, agar tidak
bertambah parah bawalah anak kembali pada petugas kesehatan dan
pemberian perawatan yang spesifik di rumah dengan memperhatikan asupan
gizi dan lebih sering memberikan ASI.
BAB III
PENCEGAHAN ISPA PADA LINGKUNGAN RUMAH TANGGA

3.1. Hubungan Nutrisi dengan ISPA


Gizi merupakan unsur yang penting dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi,
mengingat zat gizi berfungsi menghasilkan energi, membangun dan memilihara
jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan dalam tubuh. Selain itu gizi
berhubungan dengan perkembangan otak, kemampuan belajar dan
produktivitas kerja (Waryana, 2010).Status gizi balita merupakan hal penting
yang harus diketahui oleh setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam
tumbuh kembang di usia balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi
pada masa emas ini akan berpengaruh pada kualitas tumbuh kembang anak
(Marimbi, 2010). Masa balita menjadi lebih penting lagi karena merupakan
masa yang kritis dalam upaya menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas. Setiap tahun kurang lebih 11 juta balita diseluruh dunia meningal
karena penyakit-penyakit infeksi yang salah satunya adalah infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) (Hadi, 2005).
Selain itu, asupan makanan yang sangat berpengaruh pada keadaan status
gizi juga berperan untuk mengurangi kerentanan terhadap kejadian infeksi.
Status gizi yang baik, diperoleh dari asupan zat gizi yang baik pulasehingga
dapat digunakan untuk pertumbuhan, perkembangan dan meningkatkan daya
tahan tubuh. (Sjahmien M, 2000). Gizi yang baik dapat memungkinkan individu
tersebut untuk mendapatkan tumbuh kembang yang optimal (Rodrigues
dkk.,2011).
Protein merupakan zat gizi yang sangat diperlukan bagi pembentukan enzim
yang berperan dalan metabolisme tubuh, termasuk sitem imun. Salah satu
asam amino yang berperan dalam sistem imun adalah asam amino treonin
yang memiliki kemampuan untuk mencegah masuknya virus dan bakteri
terutama pada saluran nafas dan paru-paru. Pada penderita yang mengalami
kekurangan asam amino treonin akan mengalami kemunduran sistem
kekebalan tubuh. Kekurangan protein yang terjadi dapat menurunkan sistem
imun yang pada akhirnya akan menyebabkan tubuh lebih mudah terpapar
penyakit infeksi. Selain itu, kekurangan protein umumnya dapat juga
berpengaruh terhadap metabolisme vitamin dan mineral yang berperan sebagai
anti oksidan tidak dapat berperan secara maksimal, akibatnya baik flora normal
maupun bakteri dari luar dapat dengan mudah berkembang, sehingga
menyebabkan timbulnya gejala penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan
akut (ISPA) (Andarini dkk, 2005).
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang pentinguntuk
terjadinya ISPA. Banyak penelitian yang menunjukkan adanyahubungan status
gizi dengan kejadian ISPA, sehingga balita yang mengalamigizi buruk rentan
mengalami infeksi saluran nafas.Balita dengan gizi buruk akan lebih mudah
terserang ISPA dibanding balita dengan gizi baik karena faktor daya tahan
tubuh yang kuat. Dalamkeadaan gizi yang baik, tubuh memiliki cukup kekuatan
dalammempertahankan tubuh dari infeksi. Pada keadaan gizi yang buruk,
reaksikekebalan tubuh akan menurun sehingga kemampuan dalam
mempertahankandiri dari infeksi akan menurun juga.
3.4 Hubungan ASI dengan ISPA
Di Indonesia, meningkatnya angka kesakitan dan kematian bayi disebabkan
karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman masyarakat khususnya ibu-ibu
tentang pentingnya pemberian ASI. Penggunaan ASI di Indonesia masih perlu
ditingkatkan dan dilestarikan. Dalam “pelestarian penggunaan ASI” yang
terutama perlu ditingkatkan adalah pemberian ASI eksklusif, yaitu pemberian
ASI segera (kurang lebih 30 menit setelah bayi dilahirkan) sampai bayi berumur
6 bulan dan memberikan kolostrum (cairan kuning dan kental pertama yang
mendahului ASI) pada bayi (Depkes RI, 2004). ASI eksklusif adalah pemberian
hanya ASI saja tanpa makanan dan minuman lain. Pemberian ASI eksklusif
dianjurkan sampai enam bulan pertama kehidupan bayi (Depkes RI, 2005). ASI
eksklusif lebih tepat disebut pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya
memberi ASI pada bayi (tidak mendapat tambahan cairan lain, seperti susu
formula, jeruk, madu, air teh, air putih, juga tanpa tambahan makanan padat,
seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi ataupun tim) (Makay et
al, 2009).
Air susu ibu merupakan makanan utama bagi bayi yang sangat dibutuhkan
olehnya. Tidak ada makanan lainnya yang mampu menyaingi kandungan
gizinya. Air susu ibu mengandung protein, lemak, gula, dan kalsium dengan
kadar yang tepat. Dalam air susu ibu juga terdapat zat-zat yang disebut
antibodi, yang dapat melindungi bayi dari serangan penyakit selama ibu
menyusuinya, dan beberapa waktu sesudah itu. Bayi yang senantiasa
mengkonsumsi air susu ibu jarang mengalami infeksi saluran pernafasan
bagian atas pada tahun pertama kelahiran, jika dibandingkan dengan bayi yang
tidak mengkonsumsinya. Pertumbuhan dan perkembangan bayi pun
berlangsung dengan baik berkat air susu ibu. Selain itu, air susu ibu juga bisa
membantu perkembangan tulang rahang dan otot-otot pengunyah (Prasetyono,
2012).
Pedoman internasional yang menganjurkan pemberian ASI eksklusif selama 6
bulan pertama didasarkan pada bukti ilmiah tentang manfaat ASI bagi daya
tahan hidup bayi, pertumbuhan, dan perkembangannya. ASI memberikan
semua energi dan gizi (nutrisi) yang dibutuhkan oleh bayi selama 6 bulan
pertama setelah kelahirannya. Pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi
tingkat kematian bayi yang dikarenakan berbagai penyakit yang menimpanya,
seperti diare dan radang paru-paru serta mempercepat pemulihan bila sakit
dan membantu menjarangkan kelahiran (Prasetyono, 2012).
Menurut Hendarto dan Pringgadini (2009) tumbuh kembang dan daya tahan
tubuh bayi lebih baik jika mengonsumsi ASI. Vitamin A dan zinc, yang ada pada
kolostrum ASI berfungsi untuk kekebalan tubuh bayi. ASI tidak hanya
mengandung vitamin A dalam jumlah tinggi, namun juga bahan bakunya yaitu
beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan tumbuh kembang dan daya
tahan tubuh bayi lebih baik jika mengonsumsi ASI. Mineral zinc dalam ASI
dibutuhkan oleh bayi karena merupakan mineral yang banyak membantu
berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Kandungan zinc di dalam tubuh
yang rendah akan menyebabkan sistem imun tubuh terganggu sehingga tubuh
tidak bisa mengenali dan memerangi penyakit infeksi tertentu (Depkes RI,
2001; Tatar, 2008).
Sedangkan Bronchus-Associated Lymphocyte Tissue (BALT) merupakan
antibodi saluran pernapasan, dan IgA sekretori di dalam ASI merupakan
antibakterial dan antivirus terhadap bakteri maupun virus yang dapat
menginfeksi saluran pernapasan. ASI mengandung zat kekebalan terhadap
infeksi diantaranya protein, laktoferin, imunoglobin dan antibody. Pemberian
ASI eksklusif memberikan protektif melalui antibodi SigA yang dapat melindungi
bayi dari kuman Haemophilus Influenza yang terdapat pada mulut dan hidung,
serta menurunkan risiko terkena infeksi (Hanson, 2006). ASI memberikan
proteksi melawan penyakit enterik dan lainnya. Colostrum atau foremilk, dan
ASI mengandung elemen yang memproteksi bayi dari penyakit saluran
respirasi dan gatrointestinal. (Story et al, 2008).
3.3 Hubungan MP-ASI dengan ISPA
Bertambahnya usia bayi mengakibatkan bertambah pula kebutuhan gizinya.
Ketika bayi memasuki usia enam bulan ke atas, beberapa elemen nutrisi
seperti karbohidrat, protein dan beberapa vitamin serta mineral yang
terkandung dalam ASI atau susu formula tidak lagi mencukupi, oleh sebab itu
setelah usia enam bulan bayi perlu mulai diberi MP ASI agar kebutuhan gizi
bayi atau anak terpenuhi. Pemberian MP ASI yang tepat diharapkan tidak
hanya dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, namun juga merangsang
keterampilan makan dan merangsang rasa percaya diri pada bayi (Depkes RI,
2007). Pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia enam bulan,
akan memberikan perlindungan besar pada bayi dari berbagai macam
penyakit. Hal ini disebabkan sistem imun pada bayi yang berusia kurang dari
enam bulan belum sempurna, sehingga pemberian MP ASI dini (kurang dari
enam bulan) sama saja dengan membuka pintu gerbang masuknya berbagai
jenis kuman penyakit. Belum lagi jika tidak disajikan secara higienis. Hasil Riset
Kesehatan Dasar (Rikesdas) tahun 2008, menunjukkan bahwa bayi yang
mendapatkan MP ASI sebelum berusia enam bulan, lebih banyak terserang
diare, sembelit, dan ISPA dibandingkan bayi yang hanya mendapat ASI
eksklusif dan mendapatkan MP ASI dengan tepat waktu (usia pemberian MP
ASI setelah enam bulan) (Depkes RI, 2007).
Pemberian makanan tambahan pada usia dini terutama makanan padat justru
menyebabkan banyak infeksi, kenaikan berat badan, alergi pada salah satu zat
gizi yang terdapat dalam makanan. Pemberian cairan tambahan meningkatkan
resiko terkena penyakit karena pemberian cairan dan makanan padat menjadi
sarana masuknya bakteri pathogen (Fika, 2009). Hasil penelitian sesuai
dengan pendapat dari Depkes RI yang mengatakan bahwa, MP-ASI dini
merupakan faktor risiko dan dapat meningkatkan angka kesakitan pada bayi
(Wiwoho, 2005). Pemberian makanan pendamping ASI yang tepat diberikan
pada saat anak usia setelah enam bulan. Hal ini dikarenakan sistem
pencernaan pada anak usia setelah enam bulan sudah dapat menerima
asupan makanan dengan baik. Anak yang diberi MP ASI pada saat usia kurang
dari enam bulan, akan mempunyai resiko untuk terpapar ISPA (Depkes RI,
2007).
3.4 Hubungan Imunisasi dengan ISPA
Imunisasi adalah pemberian kekebalan tubuh terhadap suatupenyakit dengan
memasukkan sesuatu ke dalam tubuh agar tubuhtahan terhadap penyakit yang
sedang mewabah atau berbahayabagi seseorang. Imunisasi berasal dari kata
imun yang berarti kebalatau resisten. Imunisasi terhadap suatu penyakit hanya
akanmemberikan kekebalan atau resistensi pada penyakit itu saja,sehingga
untuk terhindar dari penyakit lain diperlukan imunisasilainnya.Imunisasi
biasanya lebih fokus diberikan kepada anak-anakkarena sistem kekebalan
tubuh mereka masih belum sebaik orangdewasa, sehingga rentan terhadap
serangan penyakit berbahaya.
Imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harusdilakukan secara
bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakityang sangat membahayakan
kesehatan dan hidup anak. Tujuan dari diberikannya suatu imunitas dari
imunisasiadalah untuk mengurangi angka penderita suatu penyakit yangsangat
membahayakan kesehatan bahkan bisa menyebabkankematian pada
penderitanya. Beberapa penyakit yang dapatdihindari dengan imunisasi yaitu
seperti hepatitis B, campak, polio,difteri, tetanus, batuk rejan, gondongan, cacar
air, TBC, dan lainsebagainya.Infeksi SPA adalah salah satu jenis penyakit yang
dapatdicegah dengan imunisasi, penyakit yang tergolong ISPA yangdapat
dicegah dengan imunisasi adalah difteri, batuk rejan dancampak.
Pemberian imunisasi lengkap sebelum anak mencapai usia 1 tahun, anak akan
terlindung dari beberapa penyebab yang paling utama dari infeksi pernafasan
termasuk batuk rejan, difteri, tuberkulosa dan campak. Penderita difteri,
pertusis apabila tidak mendapat pertolongan yang memadai akan berakibat
fatal. Dengan pemberian imunisasi berarti mencegah kematian pneumonia
yang diakibatkan oleh komplikasi penyakit campak dan Pertusis (Kemenkes RI,
2007). Menurut penelitian yang dilakukan Tupasi (2005) menyebutkan bahwa
ketidakpatuhan imunisasi berhubungan dengan peningkatan penderita
pneumonia. Penelitian lain yang dilakukan oleh Sievert pada tahun 2003
menyebutkan bahwa imunisasi yang lengkap dapat memberikan peranan yang
cukup berarti mencegah kejadian pneumonia.
Penelitian Sutrisna (1993) membuktikan bahwa anak yang belum diimunisasi
campak beresiko menderita ISPA yang bisa berkomplikasi menjadi pneumonia.
Menurut Markum (2000) Imunisasi DPT dapat mencegah terjadinya penyakit
difteri dan pertusis yang juga termasuk ISPA. Program pengembangan
imunisasi (PPI) yang meliputi imunisasi DPT dan campak yang telah
dilaksanakan pemerintah selama ini dapat menurunkan proporsi kematian
balita akibat pneumonia(Said, 2004). Imunisasi merupakan salah satu cara
pencegahan penyakit infeksi serius yang paling efektif biayanya (Nelson, 2000).
Penelitian Savitha et al (2007) imunisasi dapat melindungi bayi terhadap
kejadian ISPA. Bayi yang mendapat imunisasi mempunyai resiko ISPA lebih
rendah dibanding dengan bayi yang tidak diimunisasi. Balita tanpa imunisasi
DPT dan campak 2,7 kali lebih beresiko terkena pneumoniadibandingkan balita
yang di imunisasi DPT dan campak (Agni Hotram, 2005).
3.5. Hubungan Lingkungan dengan ISPA
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia selain sandang dan
pangan, sehingga rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara
produktif. Konstruksi rumah dan lingkungan rumah yang tidak memenuhi syarat
kesehatan merupakan faktor risiko sebagai sumber penularan berbagai
penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan. Berdasarkan Survei
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dilaksanakan tahun 1995 penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) yang merupakan penyebab kematian
terbanyak kedua erat kaitannya dengan kondisi sanitasi perumahan yang tidak
sehat (Soedjajadi Keman, 2005:39).
Luas ventilasi merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat menjadi
faktor risiko penyakit ISPA mempunyai fungsi yang sangat penting yaitu
sebagai sarana untuk menjamin kualitas dan kecukupan sirkulasi udara yang
keluar dan masuk dalam ruangan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan
RI No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang peraturan rumah sehat menetapkan
bahwa luas ventilasi alamiah yang permanen minimal adalah 10% dari luas
lantai. Ventilasi yang memenuhi syarat dapat menghasilkan udara yang
nyaman dengan temperatur 220 C dan kelembaban 50-70% (Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah, 2005:4).
Menurut Lily P. (dalam Soedjajadi Keman) kualitas udara dalam ruangan yang
baik didefinisikan sebagai udara yang bebas dari bahan pencemar penyebab
iritasi, ketidaknyamanan atau terganggunya kesehatan penghuni. Temperatur
dan kelembaban udara dalam ruangan juga dapat mempengaruhi kenyamanan
dan kesehatan bagi penghuninya (Soedjajadi Keman, 2005:33). Imunitas balita
yang masih tentan terhadap penyakit akan mudah terserang penyakit yang
berhubungan dengan saluran pernapasan terutama ISPA jika kelembaban
udara dalam kamar yang tidak memenuhi syarat yaitu berkisar antara 40%-
70%. Sehingga sangat dianjurkan menambah ventilasi alami sebagai sarana
pertukaran udara dan diharapkan dapat mengurangi kelembaban udara yang
terlalu tinggi.
Penerangan seluruh ruangan dapat berasal dari pencahayaan alam dan
ataubuatan baik secara langsung maupun tidak langsung. Cahaya selain
menghasilkanpenerangan juga menghasilkan CO2 dan dapat membunuh
kuman patogen. Panasyang dihasilkan oleh suatu sumber cahaya baik cahaya
alamiah maupun buatanakan mempengaruhi suhu udara didalam rumah.
Sugaharto (1997) dalam Irianto(2006), menyebutkan bahwa besarnya panas
yang dipancarkan oleh masing-masingsumber panas berbeda-beda, untuk
memperoleh cahaya yang cukup padawaktu siang diperlukan luas jendela kaca
minimum 20% dari luas lantai. Bila tataletak kurang leluasa dapat dipasang
genteng kaca, dan pada kamar tidur sebaiknyadiletakkan dibagian timur
supaya sinar ultra violet yang ada pada sinar mataharimemungkinkan masuk
untuk membunuh kuman.
Dapur mempunyai fungsi sebagai tempat mengolah makanan yang
dalamkegiatannya akan selalu berhubungan dengan panas, asap, dan debu.
Penataan ruangan dalam rumah harus memperhatikan letak posisidapur
karena jika letak dapur berdekatan dengan ruang istirahat anak/ kamar
anakakan mempengaruhi kesehatan anak. Hal ini sesuai dengan penelitian
Citra (2012)yang menyatakaan bahwa balita yang tinggal didalam rumah
dengan letak dapurmenyatu/berada didalam rumah mempunyai resiko
menderita pneumonia 5,2 kalidibandingkan dengan balita dengan letak dapur
terpisah. dan diperburuk dengan ventilasi yang tidak baik akan menyebabkan
terjadinya gangguan saluran pernafasan dan gangguan penglihatan
(Lindawaty, 2003).
Lantai merupakan media yang sangat baik bagi perkembang biakan
bakteri.Lantai yang baik adalah lantai yang dalam kondisi kering dan tidak
lembab dan haruskedap air sehingga mudah dibersihkan. Jadi lantai
seharusnya sudah diplester bahkanlebih baik lagi jika sudah di beri
ubin/keramik. Menurut Ditjen PPM dan PL, 2002rumah yang mempunyai lantai
yang terbuat dari tanah cenderung menimbulkanlembab, dan pada musim
panas lantai menjadi kering sehingga dapat menimbulkandebu yang berbahaya
bagi penghuni rumah. Rumah sehat memiliki lantai yangterbuat dari marmer,
ubin, keramik, sudah diplester semen (Keputusan MenteriKesehatan RI Nomor
1077/MENKES/PER/V/2011). Sehingga indikator lantai rumahyang tidak sehat
mempunyai lantai yang berjenis lainya. Hasil uji statistik padapenelitian
Lindawaty, 2010 menunjukkan bahwa jenis lantai yang tidak memenuhisyarat
beresiko 2,15 kali lebih besar bagi balita terkena ISPA dibanding dengan
balitayang jenis lantainya memenuhi syarat.
Dinding berfungsi sebagai pelindung rumah yang terbuat dari berbagai
bahanseperti bambu, triplek, batu bata, dan dari berbagai bahan tersebut yang
paling baikyaitu yang terbuat dari batu bata atau tembok. Dinding yang terbuat
dari tembokbersifat permanen, tidak mudah terbakar dan kedap air. Rumah
yang menggunakandinding berlapis kayu, bambu akan menyebabkan udara
masuk lebih mudah yangmembawa debu-debu ke dalam rumah sehingga
dapat membahayakan penghunirumah bila terhirup terus-menerus terutama
balita. Balita yang jenis dindingnya masihterbuat dari bahan yang tidak
permanen seperti triplek, bambu, batu bata beresiko1,51 kali lebih besar bagi
balita terkena ISPA ( Lindawaty, 2010).
Tingkat kepadatan tempat tinggal yang tinggi dapat menyebabkan tingginya
tingkat pencemaran lingkungan. Sehingga angka kesakitan semakin
meningkat.Kepadatan hunian adalah perbandingan antara luas rumah dengan
jumlahindividu yang menempati. Di Indonesia biasanya kebutuhan minimal
orang/luaslantai adalah sebesar 6 m2 (Gunawan, 1979).Menurut Kepmenkes
No. 829/Menkes/SK/VII/1999, luas kamar tidurminimal 8 m2 dan dianjurkan
tidak untuk lebih dari 2 orang. Ketentuan tersebut juga berlaku juga terhadap
kondomonium, rumah susun (rusun), rumah toko (ruko), rumah kantor (rukan)
pada zona pemukiman. Dalam buku PengawasanPenyehatan Lingkungan
Pemukiman menerangkan bahwa volume ruang untukanak-anak umur <5
tahun diberi kebebasan menggunakan volume ruang 4,5 m3dan orang dengan
usia diatas 5 tahun adalah 9 m3, luas lantai minimum 3,5 m2untuk setiap orang.
Ukuran yang dipakai dalam Survei Kesehatan Nasional 2001adalah luas lantai
hunian per orang minimal 8 m2. (Badan Litbang Depkes, 2002).Kepadatan
hunian rumah akan meningkatkan suhu ruangan yangdisebabkan oleh
pengeluaran panas badan yang akan meningkatkan kelembaban akibat uap air
dari pernafasan tersebut (Yusuf, 2005). Bangunan yangsempit dan tidak sesuai
dengan jumlah penghuninya akan mempunyai dampakkurangnya oksigen
dalam ruangan sehingga daya tahan tubuh penghuninyamenurun, kemudian
cepat timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA.
Penggunaan jenis bahan bakar yang digunakan bisa mempengaruhi kondisi
udara di suatu rumah. Pada umumnya bahan bakar yang biasa dipakai
dimasyarakat untukkegiatan masak sehari-hari adalah minyak tanah, kayu, gas
dan listrik. Dalamlaporan Riskesdas 2010 dinyatakan, berdasarkan tempat
tinggal, penggunaanbahan bakar untuk memasak jenis listrik, gas dan minyak
tanah di perkotaan(82,7%), sedangkan di perdesaan lebih banyak penggunaan
bahan bakar untukmemasak jenis arang, kayu bakar dan lainnya (64,2%).
Penggunaan bahan bakarkayu dan minyak tanah bakar dapat mengganggu
kesehatan manusia, karena darihasil pembakaran tersebut mengandung
partikulat (PM10, PM2,5), sulfur oksida,nitrogen oksida, karbon monoksida,
fluorida, aldehida dan senyawa hidrocarbon(Kusnoputranto, 2000).Kondisi
ventilasi dapur yang tidak memenuhi syarat akan memperburukkeadaan,
dimana kandungan partikulat dan kandungan bahan kimia yangdihasilkan dari
proses pembakaran terakumulasi di ruangan, hal ini dapat mejadikan prediktor
kejadian ISPA.
Penggunaan obat anti nyamuk sudah menjadi kebiasaan digunakan padamalam
dan siang hari dikota maupun di desa. Disamping fungsinya untukmengusir
bahkan membasmi nyamuk ternyata obat anti nyamuk dapat menjadisumber
pencemaran udara dalam rumah. obat anti nyamuk bakar menghasilkanasap
dan racun, jenis elektrikpun tetap menghasilkan racun.Penggunanaan obat
nyamuk dengan cara dibakar atau dengan listrik akanmengurangi proporsi
kandungan oksigen dalam ruangan karena racun dan asap yang dihasilkan.
Obat anti nyamuk mengandung bahan S2 (sebutan dari bahanberbahaya
Octochloroprophyl eter) dapat mengeluarkan Bischlorometyl eter(BCME) dan
propopxur yang walaupun dalam konsentrasi rendah dapatmenyebabkan
batuk, iritasi hidung, tenggorokan bengkak dan perdarahan (BadanPOM, 2000).
Penggunaan tembakau terus menjadi penyebab utama kematian global.
Rokoktelah Membunuh hampir 6 juta orang dan sebagai penyebab miliaran
dolarketerpurukan ekonomi di seluruh dunia setiap tahunnya. Sebagian besar
kematianterjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dan
perbedaan inidiperkirakan akan memperluas lebih lanjut selama beberapa
dekade berikutnya.Jika kecenderungan ini terus berlanjut, pada tahun 2030
tembakau akanmembunuh lebih dari 8 juta orang di seluruh dunia setiap tahun
(WHO Report OnThe Global Tobacco Epidemic, 2011).
Keberadaan hewan ternak atau peliharaan dilingkungan rumahmemungkinkan
tersebarnya spora mikroorganisme yang berasal dari permukaanatau bulu-bulu
hewan dan kotoran hewan tersebut mencemari udara dalam rumah.Penelitian
Fitria (2006) menyatakan bahwa walaupun secara statistik tidakmenunjukan
hubungan yang bermakna antara memelihara hewan/ternak dengantotal koloni
mikroorganisme udara, akan tetapi terbukti koloni mikroorganismeudara dalam
rumah yang memelihara hewan, lebih tinggi daripada dalam rumahyang tidak
memelihara hewan.
DAFTAR PUSTAKA

Andarini, S., Asmika., dan Noviana A., Hubungan antara status gizi dan tingkat
konsumsi energi, protein, dengan frekuensi kejadian infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) pada balita diwilayah kerja puskesmas
gondanglegi, kecematan gondang legi kabupaten malang.
http://elibrary.ub.ac.id/. Tesis.
Citra, Putri. 2012. Hubungan Lingkungan Dalam Rumah Dengan Kejadian
ISPAPada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Atang Jungket
Kecamatan BiesKabupaten Aceh Tengah Tahun 2012.Skripsi.FKM
UI.Depok.
Depkes RI. 2004. Program Nasional Bagi Anak Indonesia Kelompok Kesehatan.
http://www.lin.go.id. 5 Mei 2004.
DepKes RI. 2005. Kebijakan Departemen Kesehatan Tentang Peningkatan
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Pekerja Wanita. Departemen Kesehatan.
Jakarta
Depkes RI. 2007. Buku Pedoman Pemberian Makanan Pendamping ASI.
Jakarta: Ditjen Bina Kesehatan Masyarakat dan Direktorat Bina Gizi
Masyarakat.
Depkes RI. 2007.Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat. Direktorat
JenderalPengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta.
Depkes RI. 2011.Kualitas Udara dalam Rumah terhadap ISPA pada
Balita.Jakarta:Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan.
Depkes RI, 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar.Riskesdas Indonesia
tahun2007.
Fitria, L.. 2003. Analisi Terhadap PM10 dan TPC Mikroorganisme Udara
dalamRumah dalam Hubungannya dengan Gangguan Pernafasan pada
Bayidan Balita (Studi di Kelurahan Cisalak Kota Depok Tahun 2003).
Tesis.Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Program Pasca
Sarjana Universitas Indonesia.
Hadi, H., 2005. Beban Ganda Masalah Gizi Dan Implikasi Nya Terhadap
Kebijakan Pembanguan Kesehatan Nasional. Dalam Pidato Pengukuhan
Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gdjah Mada
Yogyakarta
Hanson, L.A. (2006). Breastfeeding and protection against infection, Scan J
Nutr.50, pp 32-34 [4 Februari 2010].
Hendarto, A. & Pringgadini, K., 2009. Nilai Nutrisi Air Susu Ibu. Ikatan Dokter
Anak Indonesia.http://www.idai.or.id/asi.asp Dikutip tgl 13.10.2009
Irianto, Bambang. 2006.Hubungan Faktor Lingkungan Rumah dan Karakteristik
Balitadengan Kejadian ISPA pada Balita di Kecamatan Lemahwunguk
KotaCirebon Tahun 2006. Tesis. Program Studi Ilmu Kesehatan
MasyarakatProgram Pasca Sarjana Universitas Indonesia.
Kemenkes RI. 2011. Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit
danPenyehatan Lingkungan Tahun 2010-2014. Direktorat
JenderalPengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Jakarta.
Kusnoputranto, H., Susanna, D.. 2000, Kesehatan Lingkungan.
FakultasKesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Jakarta.
Lindawaty, 2010. Partikulat(PM 10 Udara Rumah Tinggal Yang
MemepengaruhiKejadian ISPA pada Balita(Penelitian diKecamatan
MampangPrapatan,Jakarta Selatan tahun2009-2010).Tesis Fakultas
KesehatanMasyarakat Universitas Indonesia.Depok.
Notoatmodjo,S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:PT.Rineka Cipta.
Makay, B. and Ünsal, E. 2009. Does Breast-Feeding Affect Severity of Familial
Mediterranean Fever. Clin Rheumatol, 28:1389 –1393.
Marimbi, H., 2010. Tumbuh Kembang Status Gizi, dan Imunisasi Dasar Pada
Balita. Nuha medika, Yogyakarta.
Tatar, E. 2008. Manfaat Zink Untuk Kesehatan Si
Kecil.http://my.opera.com/tarndang/blog/index.dml/tag/manfaat%20zinc d
ikutip tgl 21.10.2009
W. Fonseca, B. R. Kirkwood, C. G. Victora, S. R. Fuchs, J. A. Flores, and C.
Misago., 1996. Risk factors for childhood pneumonia among the urban
poor in Fortaleza, Brazil: a case--control stud. Bull World Health Organ.
74(2): 199–208. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2486894/.
WHO. 2011.WHO Report on The Global Tobacco Epidemic 2011. WHO.