Anda di halaman 1dari 9

DOSEN PEMBIMBING : DR.

TRIYANTO SAUDIN

DISUSUN OLEH : LAILIA MUFIDA (AKBID TK II)

STIKES BAHRUL ULUM LAB II BATU

2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusunan tugas ini dapat diselesaikan.

Tugas ini disusun untuk diajukan sebagai tugas mata kuliah ASUHAN NEONATUS dengan
judul “HIPOSPADI” di STIKES Bahrul Ulum Lab II Batu.

Terima kasih disampaikan kepada dr.Triyanto Saudin selaku dosen mata kuliah ASUHAN
NEONATUS yang telah membimbing dan memberikan kuliah demi lancarnya tugas ini.

Demikianlah tugas ini disusun semoga bermanfaat, agar dapat memenuhi tugas mata kuliah
ASUHAN NEONATUS

Wassalamu’alaikum wr. Wb

Batu Desember 2010


ISI

Pengertian

Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah,
bukan di ujung penis.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru
lahir. Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung
penis, yaitu pada glans penis.
B.Etiologi Hipospadia

Penyebab pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi dari hipospadia
telah dikemukakan, termasuk faktor genetik, endokrin dan faktor lingkungan. Sekitar 28&
penderita ditemukan adanya hubungan familial. Pembesaran tuberkel genitalia dan
perkembangan lanjut dari phallus dan uretra tergantung dari kadar testoteron selama proses
embryogenesis. Jika testis gagal memproduksi sejumlah testoteron atau jika sel-sel struktur
genital kekurangan reseptor androgen atau tidak terbentuknya androgen converting enzyme,
maka hal-hal inilah yang diduga menyebabkan terjadinya hipospadia. Maskulinisasi inkomplit
dari genetalia karena involusi yang prematur dari sel intersitisial testis.

C. Klasifikasi

Hipospadia dibagi menjadi beberapa tipe menurut letak orifisium uretra eksternum yaitu :

1. Tipe sederhana adalah tipe grandular, disini meatus terletak pada pangkal glands penis.
Pada kelainan ini secara klinis umumnya bersifat asimtomatik.
2. Tipe penil, meatus terletak antara glands penis dan skortum.
3. Tipe penoskrotal dan tipe perineal, kelainan cukup besar, umumnya pertumbuhan penis
akan terganggu.

D. Manifestasi klinis

1. Pancaran air kencing pada saat BAK tidak lurus, biasanya kebawah, menyebar, mengalir
melalui batang penis, sehingga anak akan jongkok pada saat BAK.
2. Pada Hipospadia grandular/ koronal anak dapat BAK dengan berdiri dengan mengangkat
penis keatas.
3. Pada Hipospadia peniscrotal/ perineal anak berkemih dengan jongkok.
4. Penis akan melengkung kebawah pada saat ereksi.
E. Patofisiologi

Fusi dari garis tengah dari lipatan uretra tidak lengkap terjadi sehingga meatus uretra
terbuka pada sisi ventral dari penis. Ada berbagai derajat kelainan letak meatus ini, dari yang
ringan yaitu sedikit pergeseran pada glans, kemudian disepanjang batang penis, hingga akhirnya
di perineum. Prepusium tidak ada pada sisi ventral dan menyerupai topi yang menutup sisi dorsal
dari glans. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai chordee, pada sisi ventral menyebabkan
kurvatura (lengkungan) ventral dari penis.

F. Derajat keparahan

1. Ditentukan oleh satu posisi meatus uretra : glands, korona, batang penis sambungan
dari batang penis dan skrotum dan perineum.
2. Lokasinya.
3. Derajat chordee.

G.Komplikasi

a. Pseudohermatroditisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis


kelamin tetapi dengan satu beberapa ciri sexsual tertentu )
b. Psikis ( malu ) karena perubahan posisi BAK.
c. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa.
Komplikasi paska operasi yang terjadi :

 Edema / pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat


bervariasi, juga terbentuknya hematom / kumpulan darah dibawah kulit, yang
biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi.
 Striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh
angulasi dari anastomosis.
 Rambut dalam uretra, yang dapat mengakibatkan infeksi saluran kencing berulang
atau pembentukan batu saat pubertas.
 Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai
parameter untuyk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini
angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10 %.
 Residual chordee/rekuren chordee, akibat dari rilis korde yang tidak sempurna,
dimana tidak melakukan ereksi artifisial saat operasi atau pembentukan skar yang
berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang.
 Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya
stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut.

H. Pemeriksaan penunjang

1. Rontgen
2. USG sistem kemih kelamin.
3. BNO-IVP
Karena biasanya pada hipospadia juga disertai dengan kelainan
kongenital ginjal.

I.Penatalaksanaan

1. Tujuan utama dari penatalaksanaan bedah hipospadia adalah merekomendasikan penis


menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga
aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal.
2. Operasi harus dilakukan sejak dini, dan sebelum operasi dilakukan bayi atau anak tidak
boleh disirkumsisi karena kulit depan penis digunakan untuk pembedahan nanti.
3. Dikenal banyak teknik operasi hipospadia yang umumnya terdiri dari beberapa tahap
yaitu :
a. Operasi Hipospadia satu tahap ( ONE STAGE URETHROPLASTY )
Adalah tekhnik operasi sederhana yang sering digunakan, terutama untuk
hipospadia tipe distal. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle.
Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat.
Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. Untuk tipe
hipospadia proksimal yang disertai dengan kelainan yang jauh lebih berat, maka
one stage urethroplasty nyaris dapat dilakukan. Tipe hipospadia proksimal
seringkali di ikuti dengan kelainan-kelainan yang berat seperti korda yang berat,
globuler glans yan bengkok kearah ventral ( bawah ) dengan dorsal; skin hood
dan propenil bifid scrotum. Intinya tipe hipospadia yang letak lubang air seninya
lebih kearah proksimal ( jauh dari tempat semestinya ) biasanya diikuti dengan
penis yang bengkok dan kelainan lain di scrotum atau sisa kulit yang sulit di tarik
pada saat dilakukan operasi pembuatan uretra ( saluran kencing ). Kelainan yang
seperti ini biasanya harus dilakukan 2 tahap.

b. Operasi Hipospadia 2 tahap


1. Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunelling dilakukan untuk
meluruskan penis supaya posisi meatus ( lubang tempat keluar kencing )
nantinya letaknya lebih proksimal ( lebih mendekati letak yang normal ),
memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis.
2. Tahap selanjutnya ( tahap kedua ) dilakukan uretroplasty ( pembuatan saluran
kencing buatan/uretra ) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik
operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai
dengan kelainan yang dialami oleh pasien.
PENUTUP

Hipospadia adalah suatu keadaan dimana lubang uretra terdapat di penis bagian bawah,
bukan di ujung penis.
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang terjadi pada 3 diantara 1.000 bayi baru lahir.

Beratnya hipospadia bervariasi, kebanyakan lubang uretra terletak di dekat ujung penis,
yaitu pada glans penis.

Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang uretra terdapat di tengah batang
penis atau pada pangkal penis, dan kadang pada skrotum (kantung zakar) atau di bawah skrotum.
Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi, yaitu suatu jaringan fibrosa yang kencang,
yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada saat ereksi.
DAFTAR PUUSTAKA

(http://photos1.blogger.com/blogger/4603/1833/1600/op.jpg).