Anda di halaman 1dari 11

JOB SAFETY ANALYSIS

(LABORATORIUM ORGANIK)

NAMA: MEGA PUTRI ARUMDHANI (1730155)


KELAS/PRODI: 1F/PLI

POLITEKNIK AKA BOGOR


2017/2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
saya panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah Lingkungan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Job Safety Analysis Laboratorium Organik) di
Politeknik AKA Bogor.
Tak lupa sayapun mengucapkan terima kasih pada ibu Ratna selaku Dosen
Praktek mata kuliah Pengetahuan Bahan Kimia Politeknik AKA yang telah memberikan
tugas ini serta membimbing saya dalam penyelesainnya.
Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam laporan ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan laporan yang telah saya buat di masa yang akan datang.
Saya sangat berharap laporan ini dapat berguna dengan saran yang membangun.
Semoga laporan sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.

Bogor, 22 Desember 2017

Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kecelakaan adalah hal yang selalu dapat terjadi saat melakukan


suatu kegiatan, terutama kegiatan yang dilakukan di Laboratorium Organik.
Secara umum, potensi bahaya lingkungan kerja dapat berasal atau
bersumber dari berbagai faktor, antara lain:

1) faktor teknis, yaitu potensi bahaya yang berasal atau terdapat pada
peralatan kerja yang digunakan atau dari pekerjaan itu sendiri.
2) faktor lingkungan, yaitu potensi bahaya yang berasal dari atau berada
di dalam lingkungan, yang bisa bersumber dari proses produksi termasuk
bahan baku, baik produk antara maupun hasil akhir.
3)faktor manusia, merupakan potensi bahaya yang cukup besar terutama
apabila manusia yang melakukan pekerjaan tersebut tidak berada dalam
kondisi kesehatan yang prima baik fisik maupun psikis.

Dari uraian permasalahan tersebut maka diperlukan suatu analisa


untuk menentukan langkah-langkah apa saja yang perlu diambil untuk
penentuan alternatif yang optimal didalam pencegahan kecelakaan kerja
dengan menggunakan Job Safety Analysis (JSA). JSA dipilih sebagai
metode yang akan digunakan karena metode ini menganalisis
tingkat/potensi bahaya pada setiap prosedur kerja dan dapat memberikan
rekomendasi perbaikan atau cara pencegahan bahaya pada pekerjaan.
1.2 Tujuan

1. Mencari penyebab potensial dari kecelakaan yang terjadi.


2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang berpotensi tidak aman dan tidak sehat.
3. Mencari alternatif solusi pencegahan kecelakaan kerja.
4. Mengusulkan perbaikan prosedur kerja agar dapat menekan tingkat
kecelakaan kerja yang terjadi sampai sekecil mungkin pada perusahaan
dengan menggunakan metode Job Safety Analysis.

1.3 Manfaat

Pelaksanaan dari job safety analysis (JSA) mempunyai beberapa


manfaat dan keuntungan sebagai berikut:

1. Memberikan penjelasan yang sama kepada setiap pekerja tentang


apa yang harus dilakukan untuk mengerjakan pekerjaan dengan efisien
dan aman.
2. Suatu alat pelatihan (training tools) yang efektif dan efisien untuk para
pekerja baru.
3. Point utama yang dapat dimasukkan dalam daftar keselamatan,
pengarahan sebelum memulai pekerjaan, observasi keselamatan, dan
sebagai topic pada rapat keselamatan kerja.
4. Membantu dalam penulisan tata cara atau prosedur keselamatan
kerja untuk jenis pekerjaan yang baru maupun pekerjaan yang
mendapatkan modifikasi.
5. Sebgai alat (tools) pembantu yang efektif untuk mengendalikan
potensi bahya kecelakaan kerja pada pekerjaan yang dilakukan tidak
sesuai dan rutin.

1.4 Pembatasan
Dalam menyelesaikan masalah penelitian, dilakukan pembatasan masalah
yang dilakukan agar tujuan pembahasan lebih terarah dan menghindari
penyimpangan dari maksud yang sebenarnya. Adapun batasan-batasan
masalah yang digunakan adalah :

1. Penganalisaan terhadap kecelakaan kerja dilakukan hanya pada bagian


yang memiliki tingkat/frekuensi kecelakaan kerja yang paling tinggi saja.
2. Penelitian dilakukan dengan melihat penyebab potensial dari
kecelakaan yang terjadi berdasarkan tempat terjadinya kecelakaan.
BAB II
PEMBAHASAN

Langkah pertama manajemen risiko kesehatan di tempat kerja adalah


identifikasi bahaya kesehatan. Pada tahap ini dilakukan identifikasi faktor-faktor
risiko kesehatan yang dapat tergolong fisik, kimia, biologi, ergonomik, maupun
psikologi yang terpajan pada pekerja. Untuk dapat menemukan faktor risiko ini
diperlukan pengamatan terhadap proses kegiatan produksi, bahan baku yang
digunakan, bahan atau barang yang dihasilkan termasuk hasil samping proses
produksi, serta limbah yang terbentuk proses produksi. Pada kasus terkait dengan
bahan kimia, maka diperlukan: pemilikan material safety data sheets (MSDS)
untuk setiap bahan kimia yang digunakan, pengelompokan bahan kimia menurut
jenis bahan aktif yang terkandung, mengidentifikasi bahan pelarut yang
digunakan, dan bahan inert yang menyertai, termasuk efek toksiknya.
Ketika ditemukan dua atau lebih faktor risiko secara simultan, sangat
mungkin berinteraksi dan menjadi lebih berbahaya atau mungkin juga menjadi
kurang berbahaya. Sebagai contoh, lingkungan kerja yang bising dan secara
bersamaan terdapat pajanan/ paparan toluen, maka ketulian akibat bising akan
lebih mudah terjadi. Proses
penilaian pajanan merupakan bentuk evaluasi kualitatif dan kuantitatif terhadap
pola pajanan/ paparan kelompok pekerja yang bekerja di tempat dan pekerjaan
tertentu dengan jenis pajanan risiko kesehatan yang sama. Kelompok itu dikenal
juga dengan similar exposure group (kelompok pekerja dengan pajanan yang
sama). N Penilaian pajanan harus memenuhi tingkat akurasi yang adekuat dengan
tidak hanya mengukur konsentrasi atau intensitas pajanan, tetapi juga faktor lain.
Pengukuran dan pemantauan konsentrasi dan intensitas secara kuantitatif
saja tidak cukup, karena pengaruhnya terhadap kesehatan dipengaruhi oleh faktor
lain itu. Faktor tersebut perlu dipertimbangkan untuk menilai potensial faktor risiko
(bahaya/hazards) yang dapat menjadi nyata dalam situasi tertentu.
Risiko adalah probabilitas suatu bahaya menjadi nyata, yang ditentukan
oleh frekuensi dan durasi pajanan, aktivitas kerja, serta upaya yang telah
dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian tingkat pajanan. Termasuk yang
perlu diperhatikan juga adalah perilaku bekerja, higiene perorangan, serta
kebiasaan selama bekerja yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Hirarki Pengendalian Risiko merupakan suatu urutan-urutan dalam
pencegahan dan pengendalian risiko yang mungkin timbul yang terdiri dari
beberapa tingkatan secara berurutan. Salah satunya dengan membuat rencana
pengendalian antara lain :
a. Eliminasi(Elimination)
Eliminasi merupakan suatu pengendalian risiko yang bersifat permanen dan harus
dicoba untuk diterapkan sebagai pilihan prioritas utama. Eliminasi dapat dicapai
dengan memindahkan obyek kerja atau sistem kerja yang berhubungan dengan
tempat kerja yang tidak dapat diterima oleh ketentuan, peraturan atau standar
baku K3 atau kadarnya melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang diperkenankan.
Cara pengendalian yang baik dilakukan adalah dengan eliminasi karena potensi
bahaya dapat ditiadakan.

b. Substitusi (Substitution)
Cara pengendalian substitusi adalah dengan menggantikan bahan-bahan dan
peralatan yang lebih berbahaya dengan bahan-bahan dan peralatan yang kurang
berbahaya atau yang lebih aman.

c. Rekayasa Teknik (Engineering Control)


Pengendalian rekayasa teknik termasuk merubah struktur obyek kerja untuk
mencegah seseorang terpapar potensi bahaya.

d.Isolasi (Isolation)
Cara pengendalian yang dilakukan dengan memisahkan seseorang
dari obyek kerja.

e.Pengendalian Administrasi (Admistration Control)


Pengendalian yang dilakukan adalah dengan menyediakan suatu sistem kerja
yang dapat mengurangi kemungkinan seseorang terpapar potensi bahaya yang
tergantung dari perilaku pekerjanya dan memerlukan pengawasan yang teratur
untuk dipatuhinya pengendalian administrasi ini.

f. Alat Pelindung Diri (Administration Control)


Alat pelindung diri yang digunakan untuk membatasi antara terpaparnya tubuh
dengan potensi bahaya yang diterima oleh tubuh

Pada laboratorium organik yang akan melakukan suatu uji diperlukan


beberapa persiapan, mulai dari bahan dan alat-alat yang akan dipakai. Peralatan
yang dipakai memungkinkan adanya potensi bahaya dan juga resiko yang
ditimbulkan dari peralatan tersebut. Bahaya yang mungkin terjadi diantaranya,
pecahnya alat-alat saat proses menyiapkan alat, sehingga pecahan kaca dari alat-
alat yang terjatuh mengenai tangan sehingga menyebabkan luka pada praktikan.
Penanggulangan yang dilakukan adalah dengan menjaga kondisi tangan dan alat-
alat yang akan digunakan selalu kering dan menyediakan kotak P3K.
Penggunaan bahan-bahan organik yang berbahaya juga memiliki potensi
bahaya yang tinggi, seperti pengguanaan benzene yang bersifat karsinogenik,
fenol yang bersifat toksik, asam asetat yang bersifat korosif dan bahan-bahan
organik lainnya yang berbahaya apabila tertelan, terhirup, atau terpapar.
Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah menggunakan APD yang tepat,
dan bekerja sesuai dengan SOP, dan harus mengetahui bahaya bahan yang
tertelan, terhirup, atau terkena permukaan kulit agar kita dapat melakukan
pertolongan pertama saat hal ini terjadi, menyiapkan kotak P3K dan juga nomor
telpon gawat darurat yang dapat dihubungi, menyediakan fasilitas shower dan eye
shower didalam lab.
Bahan-bahan organik yang bersifat mudah terbakar seperti benzene, etanol,
aseton, dsb, bisa menyebabkan kebakaran dalam laboratorium,
penanggulangannya yaitu dengan menyimpan bahan sesuai dengan MSDS,
menjauhkan bahan-bahan dari sumber api dan panas, menyediakan APAR dalam
laboratorium dan bekerja sesuai instruksi.
Penggunaan Hotplate saat tangan kontak dengan hotplate panas dapat
menimbulkan luka bakar ringan, penanggulangan yang dapat dilakukan yaitu
berhati-hati dan mengikuti instruksi penggunaan hotplate serta APD dengan
menyiapkan salep.

Kemudian penggunaan bunsen saat melakukan destilasi yang


menimbulkan bahaya terjatuh atau mungkin terjadi kebocoran gas, resiko dari
bahaya tersebut dapat menimbulkan kebakaran. Penanggulangan yang dilakukan
yaitu mengikuti intruksi cara penggunaan Bunsen dan menyediakan APAR di
tempat pengujian.

Resiko-resiko bahaya di dalam laboratorium organik juga dapat direduksi


dengan menerapkan 5R dalam kehidupan sehari-hari, 5R adalah:
1. Ringkas
Prinsip ringkas adalah memisahkan segala sesuatu yang diperlukan dan
menyingkirkan yang tidak diperlukan dari tempat kerja. Mengetahui benda
mana yang tidak digunakan, mana yang akan disimpan, serta bagaimana cara
menyimpannya supaya dapat mudah diakses terbukti sangat berguna bagi
laboran/praktikan.

2. Rapi
Prinsip rapi adalah menyimpan barang sesuai dengan tempatnya. Kerapian
adalah hal mengenai sebagaimana cepat kita meletakkan barang dan
mendapatkannya kembali pada saat diperlukan dengan mudah. Perusahaan
tidak boleh asal-asalan dalam memutuskan dimana benda-benda harus
diletakkan untuk mempercepat waktu dalam memperoleh barang tersebut.
3. Resik
Prinsip resik adalah membersihkan tempat/ lingkungan kerja, mesin/ peralatan,
dan barang-barang agar tidak terdapat debu, kotoran dan bau. Kebersihan
harus dilaksanakan dan dibiasakan oleh setiap orang mulai dari pimpinan
hingga pelaksana/ operator yang ada.

4. Rawat
Prinsip rawat adalah merawat/melakukan perawatan agar tiga proses tahapan
yang dicapai dapat dipertahankan. Perawatan disini dilakukan kepada bahan
maupun alat-alat yang ada di laboratorium.

5. Rajin
Prinsip rajin adalah terciptanya kebiasaan pribadi karyawan untuk menjaga
dan meningkatkan apa yang sudah dicapai. Rajin di tempat kerja berarti
pengembangan kebiasaan positif di tempat kerja. Apa yang sudah baik harus
selalu dalam keadaan prima setiap saat. Prinsip rajin di tempat kerja adalah
“lakukan apa yang harus dilakukan dan jangan melakukan apa yang tidak
boleh dilakukan”.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan utama
dari program keselamatan dan kesehatan kerja adalah memberikan perlindungan
kepada pekerja dari bahaya kesehatan dan keselamatan yang berhubungan
dengan lingkungan kerja. Upaya tersebut bisa dilakukan dengan mengelola risiko
yang teridentifikasi di lingkungan kerja.

3.2 Saran

Untuk pengendalian bahaya yang ditimbulkan dari alat, bahan serta


lingkungan kerja diperlukan SOP dan IK (Instruksi Kerja) yang baik dan benar.
DAFTAR PUSTAKA

Asri.2014.Makalah Perencanaan Pengelolaan Laboratorium Manajemen Laboratorium. (Online


http://asrie02.blogspot.co.id/2014/03/manajemen-laboratorium.html, (diakses pada
tanggal 25 Februari 2016)
Budiono S. Manajemen Risiko dalam Hiperkes dan Keselamatan Kerja. Bunga Rampai Hiperkes
dan Keselamatan. Semarang, 2005.

Sukarso. 2005. Pengertian Dan Fungsi Laboratorium. (Online http://wanmustafa.


wordpress.com/2011/06/12/pengertian-dan-fungsi-laboratorium/, (diakses pada tanggal 25
Februari 2016)