Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi
kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat
dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin turun. Kegiatan industri,
domestik, dan kegiatan yang lain berdampak negatif terhadap sumber daya air,
menyebabkan penurunan kualitas air. Kondisi ini menimbulkan gangguan,
kerusakan, dan bahaya bagi semua makhluk hidup yang bergantung pada sumber
daya air. Oleh karena itu, pengolahan sumber daya air sangat penting agar
dimanfaatkan secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan. Salah
satu langkah pengelolaan yang dilakukan adalah pemantauan dan interprestasi
data kualitas air, mencakup kualitas fisika, kimia, dan biologi.
1.2 TUJUAN
1.1.1 Mengetahui penyebab terjadinnya pencemaran air
1.1.2 Mengetahui adanya perubahan fisik, kimia maupun biologin dari limbah
domestik
1.1.3 Membandingkan nilai air selokan sebagai limbah domestic dari hasil
pengujian dengan baku mutu sesuai dengan peruntukannya berdasarkan
beberapa parameter uji, menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Air dan Pengendalian Pencemaran Air
1.3 MANFAAT PRAKTIKUM
Manfaat dari praktikum ini adalah kita dapat mengetahui tingkat kualitas air
selokan di daerah sekitar Politeknik AKA Bogor. Kita juga dapat memahami
langkah-langah untuk mengukur kualitas air di suatu perairan sehingga juga dapat
dilakukan pada area lainnya.

1
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 PENCEMARAN AIR

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001


tentang “Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air“ Bab I Pasal
1 ayat (11), definisi pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan
manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Komponen pencemar air
akan menentukan besarnya indikator pencemar air. Pembuangan limbah industri,
rumah tangga dan kegiatan masyarakat lainnya yang tidak mengindahkan
kelestarian dan daya dukung lingkungan akan sangat berpotensi terjadinya
pencemaran air.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997
Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Bab I Pasal 1 ayat (16) yang
dimaksud dengan limbah adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan. Limbah bahan
berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang
mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau
konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung,
dapat mencemarkan dan atau merusakkan lingkungan hidup, dan atau dapat
membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lain. Adapun komponen limbah menurut Sunu (2001)
dikelompokan sebagai berikut:
a. Limbah zat kimia
Limbah zat kimia dapat berupa insektisida, bahan pembersih, larutan penyamak
kulit, dan zat warna kimia. Insektisida mempunyai dampak negatif terhadap
lingkungan, karena bahan insektisida di dalam air sulit untuk dipecah oleh
mikroorganisme, kalau pun dapat akan berlangsung lama. Zat kimia yang
berfungsi sebagai pembersih seperti sampo, deterjen berpotensi menimbulkan
pencemaran air karena kandungan bahan antiseptik akan mengganggu kehidupan
mikroorganisme air, menaikan pH air, dan tidak dapat didegradasi oleh

2
mikroorganisme. Kandungan zat warna kimia di dalam air akan mempengaruhi
pH air dan kandungan oksigen. Hampir semua zat warna kimia bersifat racun,
bahkan jika masuk ke dalam tubuh manusia akan ikut merangsang tumbuhnya
kanker.
b. Limbah padat
Lingkup limbah padat yang dimaksud yaitu limbah hasil proses IPAL berupa
endapan (sludge). Endapan (sludge) tersebut merupakan hasil dari proses filter
press. Sludge dapat dikategorikan tidak berbahaya, dapat juga dikategorikan
sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun.
c. Limbah bahan makanan
Limbah bahan makanan pada dasarnya bersifat organik yang sering menimbulkan
bau busuk dan dapat didegradasi oleh mikroorganisme. Pada umumnya limbah
bahan makanan banyak mengandung mikroorganisme. Salah satunya adalah
bakteri patogen yang merupakan penyebab timbulnya berbagai macam penyakit
pada manusia.
d. Limbah bahan organik
Limbah bahan organik biasanya dapat membusuk atau terdegradasi oleh
mikroorganisme. Oleh karena itu, jika limbah industri yang mengeluarkan sisa
bahan organik terbuang langsung ke air akan menambah populasi mikroorganisme
di dalam air. Jika lingkungan perairan sudah terdapat cukup banyak
mikroorganisme di dalamnya, tidak tertutup kemungkinan berkembangnya bakteri
patogen.
e. Limbah anorganik
Limbah anorganik biasanya tidak dapat membusuk dan sulit terdegradsi oleh
mikroorganisme. Limbah anorganik pada umumnya berasal dari industri yang
menggunakan unsur-unsur logam seperti arsen, kadmium, timbal, krom, kalsium,
nikel, magnesium, air raksa dan lain-lain. Jika limbah anorganik langsung dibuang
ke badan perairan, akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air.
Air limbah domestik fasilitas lepas pantai (off-shore) adalah air limbah yang
dibuang dari bak cuci piring, kamar mandi, tempat cuci pakaian, safety shower,
tempat cuci tangan, tempat-tempat cuci dapur yang berada di fasilitas lepas pantai
(off-shore).

3
2.2 PARAMETER KUALITAS LINGKUNGAN
Pelaksanan penilaian terhadap kualitas air, yaitu membandingkan nilai
ukuran/parameter limbah cair dengan parameter kunci baku mutu menurut
Peraturan Daerah Peraturan Daerah Propinsi Jawa Tengah Nomor 10 tahun 2004.
Beberapa parameter fisika, kimia dan biologi yang akan diukur dalam penelitian
ini adalah sebagai berikut :
a. Suhu
Pada umumnya limbah cair tekstil mempunyai suhu tinggi karena dalam proses
produksinya banyak mengunakan suhu tinggi antara 30-1000C. Suhu yang tinggi
berpengaruh terhadap jumlah oksigen terlarut dalam air, reaksi-reaksi kimia,
kecepatan reaksi yang kemudian akan mempengaruhi kehidupan biotik dalam air.
Menurut Mahida (1986), pengukuran suhu sangat berguna untuk melihat
kecenderungn aktivitas kimiawi dan biologis, tekanan uap, tegangan permukaan
dan nilai-nilai penjenuhan dari benda-benda padat dan gas.
b. Total Suspended Solid (TSS)
Analisis zat-zat padat tersuspensi sangat penting bagi penentuan komponen-
komponen air secara lengkap. Analisis tersebut juga digunakan untuk perencanaan
serta pengawasan proses-proses pengolahan dalam bidang air minum maupun
dalam bidang air buangan. Hal itu dilakukan dengan tujuan dalam penentuan
parameter mutu air, desain pra sedimentasi, flokulasi, filtrasi pada pengolahan air
minum, desain pengendapan primer pada pengolahan air buangan, sedimentasi
pada air sungai, drainase dan lain-lain (Alaerts dan Santika, 1987).
c. Total Dissolved Solid (TDS)
Zat padat terlarut merupakan zat padat yang lolos filter pada analisis zat padat
tersuspensi, sehingga analisis zat padat terlarut merupakan kelanjutan analisis zat
padat tersuspensi (Alaerts dan Santika, 1987). Menurut Kristanto (2002), zat padat
terlarut merupakan padatan-padatan yang mempunyai ukuran lebih kecil
dibandingkan padatan tersuspensi. Padatan ini terdiri atas senyawa-senyawa
organik dan anorganik yang larut dalam air, mineral dan garam-garamnya. Zat
padat terlarut total mencerminkan jumlah kepekatan padatan dalam suatu sampel
air.
d. DO (Dissolved oxygen)

4
DO (Dissolved oxygen) DO adalah kadar oksigen terlarut dalam air. Penurunan
DO dapat diakibatkan oleh pencemaran air yang mengandung bahan organik
sehingga menyebabkan organisme air terganggu. Semakin kecil nilai DO dalam
air, tingkat pencemarannya semakin tinggi. DO penting dan berkaitan dengan
sistem saluran pembuangan maupun pengolahan limbah.
e. Biologycal Oxygen Demand (BOD)
Biologycal Oxygen Demand (BOD) merupakan jumlah oksigen yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi bahan organik yang terdapat di dalam air secara sempurna
dengan menggunakan ukuran proses biokimia yang terjadi di dalam air limbah
(Daryanto, 1995). BOD tidak menunjukkan jumlah bahan organik yang
sebenarnya, tetapi hanya mengukur secara relatif jumlah O2 yang digunakan
untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan tersebut. Jika konsumsi O2 tinggi yang
ditunjukkan dengan semakin kecilnya O2 terlarut, maka berarti kandungan
bahanbahan buangan yang membutuhkan O2 tinggi (Fardiaz, 1992). Konsumsi O2
dapat diketahui dengan mengoksidasi air pada suhu 200C (selama 5 hari) dan nilai
BOD yang menunjukkan jumlah O2 yang dikonsumsi dapat diketahui dengan
menghitung selisih konsentrasi O2 terlarut sebelum dan sesudah inkubasi. BOD
merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat polusi suatu perairan dalam
kaitan dengan adanya daya dukung perairan tersebut terhadap bentuk kehidupan
air (Sugiharto, 1987)
f. COD (Chemical Oxygen Demand)
Chemical Oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia adalah jumlah
oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam 1
liter sampel air. Pengoksidasi K2CrO4 digunakan sebagai sumber oksigen. Nilai
COD menunjukkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk menguraikan
kandungan bahan organik dalam air secara kimiawi, khususnya bagi senyawa
organik yang tidak dapat teruraikan karena proses biologis, sehingga dibutuhkan
bantuan pereaksi oksidasi (Alaerts dan Santika, 1984).
g. puisance negatif de H (pH)
Konsenterasi ion hidrogen menyatakan intensitas keasaman/tingkat alkalinitas dari
suatu cairan encer dan mewakili konsentrasi hidrogen ionnya. Dalam air murni
yang tidak bersifat asam atau mengandung alkali, jumlah ion-ion hidrogen sama

5
dengan jumlah ion hidroxyl. Jika terdapat kelebihan ion hidrogen, maka air akan
menjadi asam, sedang kekurangan ion hidrogen menyebabkan air akan menjadi
basa. Sehingga konsentrasi ion hidrogen berfungsi sebagai petunjuk mengenai
reaksi air (Mahida, 1986). Pada dasarnya limbah tekstil bersifat basa. Hal ini
disebabkan digunakanya berbagai jenis kemikalia yang bersifat basa dalam proses
produksi pembuatan tekstil, seperti soda. Apabila instalasi pengolahan limbah di
dalam pabrik tidak berfungsi optimal, maka bahan-bahan alkali tersebut akan
keluar. Pada kasus tanpa pengolahan limbah sama sekali, pH dapat mencapai nilai
12 (Wiryanto, 1997).
h. Kekeruhan
Air dikatakan keruh apabila air tersebut mengandung begitu banyak partikel
bahan yang tersuspensi sehingga memberikan warna/rupa yang berlumpur dan
kotor. Bahan-bahan yang menyebabkan kekeruhan ini meliputi tanah liat, lumpur,
bahan-bahan organik yang tersebar dari partikel-partikel kecil yang tersuspensi.
Kekeruhan pada air merupakan satu hal yang harus dipertimbangkan dalam
penyediaan air bagi umum, mengingat bahwa kekeruhan tersebut akan
mengurangi segi estetika, menyulitkan dalam usaha penyaringan, dan akan
mengurangi efektivitas usaha desinfeksi. Tingkat kekeruhan air dapat diketahui
melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode Turbidimeter.
i. Daya Hantar Listrik ( DHL)
Kemampuan air sebagai penghantar listrik dipengaruhi oleh jumlah ion atau
garam yang terlarut di dalam air. Semakin banyak garam yang terlarut semakin
tinggi daya hantar listrik yang terjadi. DHL merupakan pengukuran tidak
langsung terhadap konsentrasi garam yang dapat digunakan untuk menentukan
secara umum kesesuaian air untuk budidaya tanaman dan untuk memonitor
konsentrasi larutan hara. Pengukuran DHL dapat digunakan untuk
mempertahankan target konsentrasi hara di zona perakaran yang merupakan alat
untuk menentukan pemberian larutan hara kepada tanaman. Satuan pengukuran
DHL adalah millimhos per centimeter(mmhos/cm), millisiemens per
centimeter(mS/cm) atau micro-siemens per centimeter (Susila dan Poerwanto,
2013).

Klasifikasi Air Irigasi Berdasarkan Daya Hantar Listrik (DHL)

6
DHL
Kelas Air Keterangan
(µmhos/cm)

I 0 - 250 Sangat Baik

II > 250 - 750 Baik

III > 750 - 2000 Agak Baik

IV > 2000 - 3000 Kurang Baik

V > 3000 Kurang Sesuai

Sumber: Colorado State University dalam Fitriyah (2012)

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 mutu air didefinisikan


sebagai suatu kondisi kualitas air yang diukur dan atau diuji berdasarkan peraturan
perundangan yang berlaku. Peringkat kualitas dalam menilai kelayakan air untuk
dimanfaatkan bagi peruntukkannya ditentukan dalam bentuk kelas. Dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 Bab II Pasal 8 ayat (1) klasifikasi
mutu air ditetapkan menjadi 4 kelas yaitu :
Kelas satu, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum,
dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air sama dengan kegunaan
tersebut. Kelas dua, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk
sarana/prasarana rekreasi, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk
mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mensyaratkan mutu air
sama dengan kegunaan tersebut. Kelas tiga, air yang peruntukkannya dapat
digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi
pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mensyaratkan mutu air sama dengan
kegunaan tersebut. Kelas empat, air yang peruntukkannya dapat digunakan untuk
mengairi pertanaman, dan atau peruntukkan lain yang mensyaratkan mutu air
sama dengan kegunaan tersebut.

7
BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 WAKTU dan TEMPAT


Percobaan ini dilakukan di laboratorium lingkungan Politeknik AKA Bogor.
Percobaan ini dilakukan pada hari Rabu, tanggal 25 november 2015.
3.2 BAHAN dan ALAT
Bahan : Sampel air selokan
Alat : 1. Turbidimeter
2. DO meter
3. Multi Parameter

3.3 CARA KERJA


a. Turbidimeter
1) Bilas tabung kecil penampung air sampel yang akan di ukur
menggunkan Turbidimeter
2) Pilih salah satu air standard sebagai standard perbandingan dengan air
yang akan kita analisis (air sampel)
3) Ukur standard air yang akan kita pakai
4) Hasil ukur kekeruhan standard yang kita pakai yaitu 19.2 NTU, Lalu
kita tambahkan 0,8 NTU agar menjadi 20,0 NTU.
5) Cocokkan dengan air yanFRg akan kita analisis(air sampel)
6) Hasil dari pengukuran kekeruhan air yang di analisis(air sampel) kita
tambahkan dengan 0.8 NTU (2x)
b. DO meter
1. Elektrodanya di bilas setiap ingin mengukur sampel
2. Bilas erlenmeyer hingga tidak ada kotoran
3. Masukkan sampel ke tabung erlenmeyer
4. Celupkan elektrodanya ke dalam erlenmeyer yang berisi sampel
5. Tunggu pengukuran DO pada DO meter hingga angkanya stabil
6. Lihat hasil pengukuran DO sampel yang sudah stabil pada Do meter
(2x)

8
c. Multi Parameter
1) Bilas ketiga alat yang akan di gunakan yaitu pHmeter &
Temperature,DHL,TDS.
2) Bilas gelas piala 250 mL
3) Masukkan sampel air yang akan di ukur
4) Lalu masukkan Multi Parameter ke gelas piala
5) Tekan ON/OF  Tekan measure  Tunggu hingga tulisan MEAS
pada layar pengukuran hilang  Itulah angka yang akan di ambil
untuk sample (2x)

9
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL PRAKTIKUM

Tabel 1

Parameter
Sampel Temperatur DHL TDS DO Kekeruhan
pH
(oC) (𝜇𝑆/𝑐𝑚) (mg/L) (ppm) (NTU)
Ulangan 1 28,0 6,116 276 138,1 2,96 5,41
Ulangan 2 27,8 6,151 274 137,0 3,28 4,97
Rata-rata 27,9 6,134 275 137,6 3,12 5,19

4.2 PEMBAHASAN

Sampel air selokan yang telah diukur sesuai metode praktikum akan
dibandingkan dengan baku mutu air kelas IV berdasarkan PP No. 82 tahun 2001
karena air selokan termasuk ke limbah domestik.

a. Temperatur

Tabel 2

Sampel Temperatur (OC)


Ulangan 1 28,0
Ulangan 2 27,8
Rata-Rata 27,9
Pada table di atas menunjukkan suhu air selokan rata-rata 27,9oC berarti masih
sesuai dengan baku mutu kualitas badan air penerima menurut kriteria mutu air
kelas IV PP Nomor 82 Tahun 2001 yaitu suhu udara ± 50C. Suhu udara pada
ruangan laboratorium lingkungan Politeknik AKA Bogor yaitu 27,30C, jadi range
temperaturnya 22,30C-32,30C.

10
b. pH

Tabel 3

Sampel pH
Ulangan 1 6,116
Ulangan 2 6,151
Rata-Rata 6,134
Pada table 3 di atas menunjukkan besarnya nilai pH air selokan rata-rata 6,134
berarti masih sesuai dengan baku mutu kualitas badan air penerima yang menurut
kriteria mutu air kelas IV PP Nomor 82 Tahun 2001 berkisar antara 5-9. Kondisi
air dengan pH tersebut hampir mencapai baku mutu.
c. DHL
Tabel 4

Sampel DHL (𝜇𝑆/𝑐𝑚)


Ulangan 1 276
Ulangan 2 274
Rata-Rata 275
Nilai DHL pada suatu perairan erat kaitannya dengan kandungan TDS pada
perairan. Hal ini bisa dilihat dari kandungan TDS sebesar 137 mg/L dengan nilai
DHL 275 µS/cm. Penelitian Desiandi dkk (2010) menyatakan hal yang serupa
bahwa semakin tinggi kadar TDS maka semakin tinggi pula nilai DHL pada
perairan tersebut. Menurut Effendi (2003), TDS biasanya disebabkan oleh bahan
anorganik yang berupa ion-ion yang biasa ditemukan di perairan dimana jumlah
ion atau garam yang terlarut dalam air akan sangat mempengaruhi kemampuan air
sebagai penghantar listrik. Oleh karena itu, semakin banyaknya ion pada suatu
perairan maka nilai DHL akan semakin besar pada perairan tersebut.

d. TDS

Tabel 5

Sampel TDS (mg/L)


Ulangan 1 138,1

11
Ulangan 2 137,0
Rata-Rata 137,6
Hasil pengukuran TDS air selokan rata-rata 137,6 mg/L. Berdasarkan kriteria
mutu air kelas IV PP Nomor 82 Tahun 2001 kadar TDS maksimum 2000 mg/L,
maka kadar TDS selokan masih sesuai dengan baku mutu badan air penerima.
TDS biasanya terdiri atas zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Unsur
anorganik seperti kalsium, magnesium, sodium, bikarbonat, klorida, sulfat.
Kandungan unsur tersebut biasanya akan menimbulkan kesadahan air (Slamet,
2004). Air dengan kadar TDS tinggi akan menyebabkan terjadinya kerak dalam
pipa, heater, boiler, alat-alat rumah tangga. Selain itu menyebabkan rasa air makin
tidak enak seperti rasa logam (Wardana, 1999).

e. DO

Tabel 6

Sampel DO (ppm)
Ulangan 1 2,96
Ulangan 2 3,28
Rata-Rata 3,12
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan oksigen terlarut (DO) di semua
ulangan sampel air selokan sangat rendah. Kandungan pengambilan sampel masih
memenuhi baku mutu peruntukan sungai Kelas IV yaitu sebesar 0 mg/L, akan
tetapi sebenarnya kisaran nilai tersebut tergolong sangat rendah karena telah jauh
melebihi baku mutu peruntukan sungai Kelas III yaitu sebesar 3 mg/L. Kualitas
air untuk parameter oksigen terlarut (DO) selama penelitian dapat dikatakan
masih buruk, meskipun mengalami peningkatan tetapi masih jauh dari baik. Ikan
dan organisme akuatik lainnya membutuhkan oksigen terlarut dalam jumlah
cukup untuk proses respirasi, yaitu tidak kurang dari 5 mg/L. Jika kurang dari itu
akan menyebabkan pengaruh gangguan pertumbuhan bahkan kematian bagi ikan
(Swingle dalam Boyd, 1981).

12
f. Kekeruhan

Tabel 7

Sampel Kekeruhan (NTU)


Ulangan 1 5,41
Ulangan 2 4,97
Rata-Rata 5,19

13
BAB V

KESIMPULAN

Pada praktikum yang dilakukan mendapatkan hasil yang teridentifikasi untuk


nilai temperatur 27,9oC, pH 6,134, DHL 275𝜇𝑆/𝑐𝑚, TDS 137,6 mg/L , DO 3,12
ppm, dan kekeruhan 5,19 NTU. Semua parameter dari air selokan yaitu
merupakan limbah domestik yang diukur dalam keadaan sesuai baku mutu kelas
IV PP No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Dan Pengendalian
Pencemaran Air.

14
DAFTAR PUSTAKA

Jatmiko, Agus. 2007. HUBUNGAN KUALITAS AIR SELOKAN NGENDEN


DESA GUMPANG KARTASURA SUKOHARJO DENGAN AIR
SUMUR PENDUDUK SEKITAR. Surakarta
Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Dan
Pengendalian Pencemaran Air.
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 04 Tahun 2007 Tentang
Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Minyak Dan Gas
Serta Panas Bumi
http://litbang.patikab.go.id/index.php/jurnal/247-faktor-faktor-yang-berhubungan-
dengan-persalinan-sectio-caesarea-di-kabupaten-pati-studi-pada-rsud-raa-
soewondo-dan-rumah-sakit-islam-pati/210-kualitas-air-irigasi-ditinjau-
dari-parameter-dhl-tds-ph-pada-lahan-sawah-desa-bulumanis-kidul
kecamatan-margoyoso (tanggal akses 3 November 2015, 11.44 WIB)
Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan Biosistem Vol. 1 No. 2, Juni 2013, 85-92
Lampiran Hasil Pengamatan

15