Anda di halaman 1dari 18

PORTOFOLIO

SEORANG PEREMPUAN USIA 50 TAHUN DENGAN ASMA


BRONCHIALE EKSASERBASI AKUT SERANGAN SEDANG

Disusun oleh :
dr. Dipdha Arum Sangora
Pendamping :
dr. Hanif Furqon

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RUMAH SAKIT ISLAM KENDAL
2016
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini tanggal...................................................telah dipresentasikan


portofolio oleh :

Nama Presenter : dr. Dipdha Arum Sangora

Judul / Topik : Seorang Perempuan Usia 50 Tahun Dengan Asma


Bronchiale Eksaserbasi Akut Serangan Sedang
Nama Pendamping : dr. Hanif Furqon

Wahana : Rumah Sakit Islam Kendal

No. Nama Peserta Tanda Tangan

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

dr. Hanif Furqon

2
Topik : Penatalaksanaan asma bronchiale eksaserbasi akut serangan sedang
Tanggal (Kasus) : 11 Juli 2016 Presenter : dr. Dipdha Arum Sangora

Tanggal Presentasi : Oktober 2016 Pendamping : dr. Hanif Furqon


Tempat Presentasi : Aula Rumah Sakit Islam Kendal
Objektif presentasi : - Penyegaran
- Keilmuan

Deskripsi :
Keluhan Umum : Sesak Nafas
RPS :
Pasien datang ke IGD RSI Kendal dengan keluhan utama sesak napas disertai bunyi “ngiik” sejak 3 hari
yang lalu. Sesak napas sering kambuh sejak 1 bulan yang lalu. Sesak napas terasa lebih berat pada dini
hari, sering timbul saat cuaca dingin, dan saat membersihkan rumah. Selama ini pasien merasa sesak
kambuh 2-3 kali selama seminggu. Pasien mengeluhkan sesak bertambah berat sejak 2 bulan yang lalu.
Saat sesak napas kambuh, pasien masih dapat berbicara tetapi terputus-putus tidak dapat
mengucapkan kalimat dengan lengkap, jika pasien dalam posisi tidur sesak makin bertambah berat
sehingga pasien lebih nyaman posisi duduk dengan sedikit membungkuk.
Selain sesak napas, pasien juga mengeluhkan batuk berdahak. BAK dan BAB pasien normal seperti
biasa.
RPD :
Asma (+), serangan terakhir yaitu 3 hari yang lalu, di uap (nebulisasi) di IGD RSI Kendal, kemudian
pulang dengan membawa obat dari dokter.

Tujuan : Manajemen Kasus


Bahan Bahasan : Kasus di ruang IGD RSI Kendal
Cara Pembahasan : Presentasi dan Diskusi

Data Pasien Nama : Ny. S No. RM : 00096xxx

Usia : 50 tahun Jenis Kelamin : Perempuan


Datang ke IGD RSI Kendal pada tanggal 11 Juli 2016

3
Data utama untuk diskusi
Gambaran klinis Sesak Nafas
Riwayat - Salbutamol 3 x 4mg - Cetirizine 2 x 10mg
Pengobatan - Ambroxol 3 x 30mg - MetylPrednisolone 2 x 4mg

Riwayat Kesehatan Serangan asma terakhir 3 hari yang lalu, kambuh 2-3 kali dalam seminggu

Riwayat Keluarga Ibu Menderita Asma

Riwayat Pekerjaan Ibu rumah tangga


Riwayat SosEk Biaya hidup ditanggung oleh suami, biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS
Kesehatan. Kesan ekonomi : Cukup.
Status Present :
Keadaan Umum : tampak sesak napas, masih dapat mengucap kata
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 120/70mmHg
Nadi : 104x/menit, reguler.
Respirasi : 36x/menit
Suhu : 36,6 C
SpO2 : 95 %

Status Generalis
Kelainan mukosa kulit / subkutan yang menyeluruh :
- Eritema makulopapuler (-)
- Pucat (-)
- Sianosis (-)
- Ikterus (-)
- Perdarahan (-)
- Oedema (-)
- Turgor cukup
- Lemak bawah kulit cukup
- Pembesaran KGB (-)

4
KEPALA
Bentuk : Bulat, simetris
Wajah : Asimetri (-), Parese n.VII (-/-)
Mata : Konjungtiva palpebra anemis (-/-), mata cekung (-/-),
sklera ikterik (-/-), refleks pupil +/+ Ø 3mm/3mm
Hidung : Septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-/-)
Mulut : bibir kering (-), bibir sianosis (-), tonsil T1-T1 tenang
faring tidak hiperemis
LEHER
Bentuk : Simetris
Trakhea : Di tengah
KGB : Pembesaran (-)
JVP : Meningkat (-)
THORAK : bentuk simetris, retraksi intercostal (-), retraksi
suprasternal (+), retraksi substernal (-)
COR : I : iktus cordis tidak tampak
Pa : iktus cordis teraba di SIC V 2 cm dari linea midclavicula
sinistra
Pe : konfigurasi jantung dalam batas normal
A : bunyi jantung I-II reguler, bising (-), gallop (-)
PULMO : I : gerak napas simetris saat statis dan dinamis
Pa : stem fremitus kanan = kiri
Pe : sonor seluruh lapangan paru
A : Suara Dasar Vesikuler (+/+), Suara rhonki (-/-), suara
wheezing (+/+)
ABDOMEN: I: Datar
A : bising usus (+) normal
Pe : timpani di seluruh lapang abdomen (+)
Pa : Nyeri tekan (-), hepar/lien tak teraba pembesaran

5
EXTREMITAS : superior inferior
Oedema : -/- -/-
Sianosis : -/- -/-
Akral dingin : -/- -/-
Kekuatan : 5/5/5 5/5/5

6
Diagnosis Asma Bronkiale Eksaserbasi Akut Serangan Sedang

Terapi Non Medikamentosa

Penghindaran alergen

Medikamentosa

- Oksigen Nasal 3 lpm


- Nebulisasi combivent 1 flash
20 menit ↓ masih sesak (wheezing +/+) berkurang
Ulang nebulisasi combivent 1 flash
20 menit ↓ masih sesak (wheezing +/+) berkurang
Rawat Inap
- Oksigen nasal 3 lpm
- Infus RL + drip aminofilin 1 amp  20 tpm (1 phlabot), dilanjut infus RL
20 tpm
- Injeksi metylprednisolone 2 x 62.5 mg iv

PO :

- Ambroxol 3 x 30 mg
- Salbutamol 3 x 4 mg
- Tremenza 3 x 1 tab

Daftar Pustaka 1. PDPI. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia.


Jakarta : PDPI; 2006.
2. PERMENKES RI. Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan
Pelayanan Kesehatan Perorangan
3. PERMENKES RI. Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer
4. PERMENKES RI. Nomor 71 Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan
pada Jaminan Kesehatan Nasional
Hasil Pembelajaran 1. Diagnosis dan klasifikasi Asma eksaserbasi akut
2. Manajemen terapi asma eksaserbasi akut

7
TINJAUAN PUSTAKA

A. Latar Belakang
Asma adalah penyakit saluran napas kronik yang penting dan
merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara
di seluruh dunia. Asma dapat bersifat ringan dan tidak mengganggu
aktivitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan mengganggu aktivitas
bahkan kegiatan harian. Produktivitas menurun akibat mangkir kerja atau
sekolah, dan dapat menimbulkan disability (kecacatan), sehingga
menambah penurunan produktivitas serta menurunkan kualitas hidup.
Kemajuan ilmu dan teknologi di belahan dunia ini tidak sepenuhnya
diikuti dengan kemajuan penatalaksanaan asma, hal itu tampak dari data
berbagai negara yang menunjukkan peningkatan kunjungan ke darurat
gawat, rawat inap, kesakitan dan bahkan kematian karena asma.

B. Definisi
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang
melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan
peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik
berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk
terutama malam dan atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan
obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat
reversibel dengan atau tanpa pengobatan.

C. Epidemiologi
Angka kejadian asma bervariasi di berbagai negara,tetapi terlihat
kecenderungannya bahwa jumlah penderita semakin meningkat meskipun
belakangan ini obat-obatan asma banyak dikembangkan. Laporan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam World Health Report 2000
menyebutkan, lima penyakit paru utama merupakan 17,4% dari seluruh
penyebab kematian di seluruh dunia, masing-masing terdiri dari penyakit

8
infeksi paru 7,2%, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) 4,8%,
Tuberkulosis 3,0%, kanker thakhea/bronkus/paru 2,1%, asma 0,3%.
Saat ini prevalensi asma masih menunjukkan angka yang tinggi.
Berdasarkan data dari WHO (2002) dan GINA (2011), diseluruh dunia
diperkirakan terdapat 300 juta orang menderita asma dan tahun 2025
diperkirakan jumlah pasien asma mencapai 400 juta. Jumlah ini bisa saja
lebih besar mengingat asma merupakan penyakit yang underdiagnosed.
Buruknya kualitas udara dan berubahnya pola hidup masyarakat
diperkirakan menjadi penyebab meningkatnya penderita asma. Sedangkan
untuk nasional prevalensi asma terlihat pada grafik berikut ini :

9
D. Faktor Resiko
Risiko berkembangnya asma merupakan interaksi antara faktor
pejamu (host factor) dan faktor lingkungan. Faktor pejamu disini termasuk
predisposisi genetik yang mempengaruhi untuk berkembangnya asma,
yaitu genetik asma, alergik (atopi) , hipereaktivitas bronkus, jenis kelamin
dan ras. Faktor lingkungan mempengaruhi individu dengan
kecenderungan/ predisposisi asma untuk berkembang menjadi asma,
menyebabkan terjadinya eksaserbasi dan atau menyebabkan gejala-gejala
asma menetap. Termasuk dalam faktor lingkungan yaitu alergen,
sensitisasi lingkungan kerja, asap rokok, polusi udara, infeksi pernapasan
(virus), diet, status sosioekonomi dan besarnya keluarga. Interaksi faktor
genetik/ pejamu dengan lingkungan dipikirkan melalui kemungkinan :
pajanan lingkungan hanya meningkatkan risiko asma pada
individu dengan genetik asma,
baik lingkungan maupun genetik masing-masing
meningkatkan risiko penyakit asma.

10
E. Klasifikasi
a. Klasifikasi derajat berat asma (sebelum pengobatan)

11
b. Klasifikasi derajat berat asma pada penderita selama pengobatan

F. Penatalaksanaan

12
Kriteria asma yang dirujuk dari FKTP ke FKRTL
a. Rujukan rutin
Rujukan rutin merupakan evaluasi medis secara berkala.
Rujukan ini lebih bersifat konsultasi kepada dokter spesialis paru atau
penyakit dalam, dan pemeriksaan penunjang dengan tujuan menilai
fungsi paru dan mengklasifikasikan tingkat keparahan asma.

13
Jenis pemeriksaan yang diperlukan pada saat rujukan rutin dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.

b. Rujukan urgent
Asma yang dirujuk ke FKRTL melalui rujukan urgent adalah
asma persisten sedang dan berat yang tidak terkontrol dan asma pada
ibu hamil. Sedangkan asma persisten dengan komorbid yang tidak
terkontrol dirujuk sesuai dengan komorbidnya. Kriteria rujukan urgent
asma dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

c. Rujukan emergency
Rujukan emergency diberikan pada penderita asma akut berat
dan asma mengancam jiwa yang memerlukan perawatan intensif di
FKRTL, guna mendapatkan penatalaksanaan yang memadai sehingga
mampu menurunkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi.

14
Kriteria rujukan emergency asma dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.

Prinsip pengelolaan asma di FKRTL


a. Rujukan rutin
Penderita asma intermiten dan persisten ringan setiap tahunnya
minimal 1 kali membutuhkan rujukan rutin ke FKRTL untuk menjalani
evaluasi medis secara rutin dalam rangka deteksi dini penyulit. Rujukan ini
hanya bersifat konsultasi. Pengelolaan rujukan rutin asma di FKRTL dapat
dilihat pada tabel di bawah ini.

15
b. Rujukan urgent
Pengelolaan rujukan urgent asma di FKRTL dapat dilihat pada tabel
berikut

c. Rujukan emergency
Pengelolaan rujukan emergency asma di FKRTL dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.

Kriteria asma yang dirujuk balik dari FKRTL ke FKTP


a. Rujukan rutin
Kriteria rujuk balik dari FKRTL ke FKTP pada rujukan rutin asma
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

16
b. Rujukan urgent
Kriteria rujuk balik dari FKRTL ke FKTP pada rujukan urgent asma
dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

c. Rujukan emergency
Kriteria rujuk balik dari FKRTL ke FKTP pada rujukan emergency
asma dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. PDPI. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma di Indonesia.


Jakarta : PDPI; 2006.
2. PERMENKES RI. Nomor 001 Tahun 2012 Tentang Sistem Rujukan
Pelayanan Kesehatan Perorangan.
3. PERMENKES RI. Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Panduan Praktik Klinis
Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer.
4. PERMENKES RI. Nomor 71 Tahun 2013 Tentang Pelayanan Kesehatan
pada Jaminan Kesehatan Nasional.

18