Anda di halaman 1dari 25

TUGAS KELOMPOK

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

“UNREGULATED CORPORATE REPORTING DECISION : CONSIDERATIONS OF


SYSTEM ORIENTED THEORIES”

Disusun Oleh:

MIRA GUSTI RAMAILIS


THERESIA RATTE ALLOLINGGI
NURFADLYAH
SEPTIA DWI ANGGRAINI
SEPTI KUSUMA NINGTYAS

JOINT PROGRAM REGULER 2B ANGKATAN 29

JOINT PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.wb,

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah Swt yang mana pada pagi hari ini kita masih
diberi kesehatan dan kesempatan untuk dapat berkumpul diruangan kelas ini. Shalawat
beriringan salam tak lupa pula kita kirimkan kepada junjungan kita yakni Nabi besar Muhammad
Saw yang mana membawa umatnya dari alam kebodohan kealam berilmu pengetahuan seperti
yang kita rasakan pada saat ini. Dengan ucapan Allahumma shallialasaydina Muhammad
waalialasaydina Muhammad, mudah-mudahan kita mendapatkan syafat diyaumil masyar nanti
amin yarabbal allamin. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing Bapak
Prof.Dr.Bambang Subroto.,Ak yang telah membimbing dan memberikan pengarahan saran,
semangat, moril dalam penyelesaian makalah kelompok kami ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dan penulis dapat memperluas ilmu pengetahuan
tentang Unregulated Corporate Reporting Decisions: Considerations Of System Oriented
Theories. Dan makalah ini alhamdullilah bisa kami selesaikan tepat pada waktunya, meskipun
mendekati kesempurnaan. Kepada teman-teman nantinya kami harapkan kritik dan saran yang
dapat membangun sehingga makalah ini mendekati kesempurnaan. Sekian yang dapat kami
sampaikan lebih dan kurang kami mohon maaf.

Wassalamualaikum,Wr.wb.

Kelompok 1,

Malang, / / 2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


“Systems-oriented theories” adalah teori legitimasi dan teori stakeholder. Dalam
systems-based perspective, suatu entitas diasumsikan dipengaruhi oleh dan juga
mempengaruhi masyarakat. Gray, Owen dan Adams (1996) menyatakan bahwa suatu
organisasi dan masyarakat yang berorientasi ke sistem akanmemungkinkan kita melihat
peran informasi pada hubungan yang terjadi antara organisasi, negara, individu, dan grup.
Berdasarkan teori legitimasi dan stakeholder, kebijakan pengungkapan akuntansi
dipandang sebagai strategi untuk mempengaruhi hubungan organisasi dengan pihak-
pihak lain. Teori legitimasi dan stakeholder diaplikasikan untuk menjelaskan mengapa
perusahaan melakukan pengungkapan tanggung jawab sosial dalam laporan tahunannya.
Teori ini juga dapat untuk menjelaskan mengapa perusahaan memilih mengadopsi teknik
akuntansi tertentu.

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Apa yang dimaksud dengan Teori Ekonomi Politik
2. Apa Yang dimaksud dengan Teori Legitimasi
3. Bagaimana Legitimasi, harapan publik dan kontrak sosial.
4. Bagaimana Legitimasi dan Perubahan harapan social
5. Bagaimana Menggunakan pelaporan Akuntansi dalam Strategi Legitimasi
6. Bagaimana Pandangan Perusahaan Terhadap Pentingnya Kontrak Sosial.
7. Bagaimana Legitimasi Dan Reputasi Manajemen Risiko.
8. Bagaimana Uji Empirik Terhadap Teori Legitimasi
9. Apa yang dimaksud dengan Teori Stakeholder
10. Bagaimana Pengujian Empiris Teori Stakeholder
11. Apa yang dimaksud dengan Teori Institusioanal (Instutional Theory)
1.3. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui dengan Teori Ekonomi Politik
2. Untuk mengetahui dengan Teori Legitimasi
3. Untuk mengetahui Legitimasi, harapan publik dan kontrak sosial.
4. Untuk mengetahui Legitimasi dan Perubahan harapan social
5. Untuk mengetahui Menggunakan pelaporan Akuntansi dalam Strategi Legitimasi
6. Untuk mengetahui Pandangan Perusahaan Terhadap Pentingnya Kontrak Sosial.
7. Untuk mengetahui Legitimasi Dan Reputasi Manajemen Risiko.
8. Untuk mengetahui Uji Empirik Terhadap Teori Legitimasi
9. Untuk mengetahui dengan Teori Stakeholder
10. Untuk mengetahui Pengujian Empiris Teori Stakeholder
11. Untuk mengetahui Teori Institusioanal (Instutional Theory)
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 TEORI EKONOMI POLITIK


Teori legitimasi dan stakeholder adalah teori yang diderivasi dari teori ekonomi
politik (Gray, Owen dan Adams,1996). Gray mendefinisikan ekonomi politik sebagai
kerangkapikir yang mengkaitkanmasalah sosial, politik dan ekonomi. Masalah ekonomi
tidak dapat dipisahkan tanpa memperhatikan masalah sosial. Dengan menggunakan
ekonomi politik seorang peneliti dapat memperhatikan isu-isu (sosial) yang lebih luas
yang berdampak pada perusahaan, dan informasi apa yang harus diungkapkan.Guthrie
dan Parker (1990) menyatakan bahwa perspektif ekonomi politik memandang pelaporan
akuntansi sebagai dokumen sosial, politik, dan ekonomi. Pelaporan akuntansi digunakan
sebagai alat untuk pembangunan, penjagaan, dan legitimasi institusi-institusi ekonomi
dan politik. Pengungkapan mempunyai kapasitas untuk menyalurkan makna-makna
sosial, politik, dan ekonomi bagi pembaca laporan yang plural.
Dalam teori ini, dikenal dua pandangan yaitu:
a. Pandangan Klasik
Pandangan ini dikenalkan oleh Karl Max dan lebih terpusat pada konflik karena
adanya ketidakseimbangan akibat adanya kelas-kelas. Dalam pandangan ini laporan
keuangan dan pengungkapan digunakan untuk menjaga posisi yang menguntungkan
bagi pengontrol sumberdaya dan merusak pihak-pihak yang tidak mengontrol
sumberdaya.
b. Pandangan Burgeois
Pandangan ini diusun oleh Gray, Houchy ,dan Flavers, lebih terpusat pada interaksi
kelompok dalam kemajemukan. Dalam pluralistic ini, menurut Lowe dan Tinker
(1977), terdapat kekuatan yang menyebar karena banyaknya individu yang ingin
menonjol dan tidak ada individu yang secara konsisten dapat mempengaruhi
masyarakat. Namun, definisi ini diungkapkan berbeda oleh Cooper dan Sherer.
Mereka berpendapat masyarakat dikendalikan oleh well-defined elite (kelompok yang
ingin menjaga dominasinya).
2.2 TEORI LEGITIMASI

Berdasarkan teori legitimasi menyatakan organisasi secara kontinyu mencari cara


agar beroperasi dalam batas norma-norma masyarakat, artinya bahwa operasi perusahaan
dipandang oleh orang lain sebagai hal yang legitimate. Norma yang ada selalu berubah,
sehingga perusahaan harus menyesuaikan. Teori legitimasi didasarkan padaide bahwa ada
kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat. Masyarakat sekarang
mengharapkan perusahaan untuk....melakukan pencegahan kerusakan lingkungan,
menjamin adanya keamanan bagi konsumen, karyawan. Karenaitu, perusahaan dengan
lingkungan sosial yang jelek akan sulit meneruskan operasinya. Teori legitimasi
menekankan perusahaan untuk mempertimbangkan hak-hak publik. Kegagalan untuk
memenuhi harapan sosial (kontrak sosial) ini akan menimbulkan sangsi dari masyarakat.
Ide kontrak sosial ini bukanlah barang baru, tapi sudah lama didiskusikan oleh para filsuf
seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan Rousseou.

2.2.1 Legitimasi, harapan publik dan kontrak sosial.


Teori Legitimasi bergantung pada anggapan bahwa ada "kontrak sosial" antara
organisasi yang bersangkutan dan masyarakat di mana perusahaan beroperasi. Kontrak
sosial tidak mudah didefinisikan namun konsep tersebut digunakan untuk mewakili
banyak harapan implisit dan eksplisit bahwa Masyarakat memiliki hak tentang bagaimana
organisasi harus menjalankan operasinya, dapat dikatakan bahwa secara tradisional,
memaksimalkan keuntungan dianggap sebagai ukuran optimal dari kinerja perusahaan
(Abbott dan Monsen, 1979; Heard and Bolce, 1981; Patten, 1991, 1992 Ramanathan,
1976) Berdasarkan pengertian ini, keuntungan perusahaan dipandang sebagai ukuran
legitimasi organisasi yang menyeluruh (Ramanathan, 1976). Namun, harapan masyarakat
telah mengalami perubahan signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Heard dan Bolce
(1981) mencatat perluasan advokasi Gerakan di Amerika Serikat selama tahun 1960an
dan 1970an, dan peningkatan signifikan dalam undang-undang yang terkait dengan
masalah sosial, termasuk lingkungan dan kesehatan karyawan dan keamanan, yang
diterapkan di Amerika Serikat dalam periode yang sama. Dengan harapan sosial yang
tinggi, diantisipasi bahwa perusahaan bisnis yang sukses akan bereaksi dan
memperhatikan konsekuensi sosial, lingkungan dan sosial lainnya dari aktivitas mereka
(Heard and Bolce, 1981).
Telah diperdebatkan bahwa masyarakat semakin mengharapkan bisnis untuk
membuat pengeluaran untuk memperbaiki atau mencegah kerusakan pada lingkungan ,
untuk menjamin kesehatan dan keselamatan konsumen, karyawan, dan mereka yang
tinggal di masyarakat di mana produk diproduksi dan limbah dibuang (Tinker Dan tandai,
84). Akibatnya, perusahaan dengan catatan kinerja sosial dan lingkungan yang buruk
mungkin semakin sulit mendapatkan sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk
melanjutkan operasi di dalam komunitas yang menghargai lingkungan yang bersih.
Mungkin ini tidak terjadi beberapa dekade yang lalu.
Diasumsikan bahwa masyarakat memungkinkan organisasi untuk melanjutkan
operasinya sejauh ia memenuhi harapan mereka. Teori Legitimasi menekankan bahwa
organisasi harus tampak mempertimbangkan hak-hak masyarakat secara luas, bukan
hanya milik para investornya. Kegagalan untuk mematuhi harapan masyarakat (yaitu,
sesuai dengan ketentuan kontrak sosial) dapat menyebabkan sanksi diberlakukan oleh
masyarakat, misalnya dalam bentuk pembatasan hukum yang dikenakan pada operasi
organisasi, sumber daya terbatas (misalnya, permodalan dan tenaga kerja) yang
disediakan, dan / atau mengurangi permintaan akan produknya (terkadang melalui boikot
konsumen secara terorganisir).
Konsisten dengan teori legitimasi, organisasi tidak dianggap memiliki hak yang melekat
pada sumber daya. Legitimasi dari sudut pandang masyarakat) dan hak untuk beroperasi
berjalan beriringan. Mathews (1993, hal 26) menyatakan:
Kontrak sosial akan ada diantara perusahaan (biasanya perusahaan terbatas) dan
anggota masyarakat secara individu. Masyarakat (sebagai kumpulan individu) memberi
perusahaan kedudukan dan atribut legal mereka dan wewenang untuk memiliki dan
menggunakan sumber daya alam dan untuk mempekerjakan karyawan. Organisasi
memanfaatkan sumber daya masyarakat dan mengeluarkan barang dan jasa dan produk
limbah ke lingkungan umum. Organisasi tidak memiliki hak yang melekat pada manfaat
ini, dan untuk memungkinkan keberadaan mereka, masyarakat akan mengharapkan
keuntungan melebihi biaya bagi masyarakat.
Gagasan tentang "kontrak sosial bukanlah hal baru, yang telah dibahas oleh para filsuf
seperti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704) dan Jean-Jacques
Rousseau (1712-1778). Shocker dan Sethi (1974, Hal 67) memberikan gambaran bagus
tentang konsep kontrak sosial:
Setiap lembaga sosial dan bisnis tidak terkecuali beroperasi di masyarakat melalui
kontrak sosial, tersurat ataupun tersirat, dimana kelangsungan dan pertumbuhannya
didasarkan pada:
1. penyampaian beberapa tujuan yang diinginkan secara sosial kepada masyarakat pada
umumnya, dan
2. distribusi manfaat ekonomi, sosial, atau politik kepada kelompok-kelompok yang
darinya memperoleh kekuasaannya.
Dalam masyarakat yang dinamis, baik sumber kekuatan institusional maupun kebutuhan
akan layanannya bersifat permanen. Oleh karena itu, sebuah institusi harus senantiasa
memenuhi tes legitimasi secara berulang dan relevansi dengan menunjukkan bahwa
masyarakat membutuhkan jasanya dan bahwa para pihak yang mendapat keuntungan dari
penghargaan yang telah setujui oleh masyarakat.
Seperti yang ditunjukkan di atas, dan di Deegan dan Rankin (1996, hal 54) dan
Deegan (2002, hal 293), sesuai dengan teori legitimasi jika sebuah organisasi tidak dapat
membenarkan operasi lanjutannya, maka dalam artian masyarakat dapat mencabut "
Kontrak 'untuk melanjutkan operasinya.
Hukum untuk mencegah tindakan yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Mengingat biaya cukup potensial terkait dengan operasi yang dianggap berada di luar
persyaratan 'kontrak sosial', Dowling dan Pfeffer (1975) menyatakan bahwa organisasi
akan melakukan berbagai tindakan untuk memastikan bahwa operasi mereka dianggap
sah. Artinya, mereka akan berusaha untuk membangun kesesuaian antara 'nilai sosial
yang terkait dengan atau secara tersirat dari aktivitas yang mereka jalankan dan norma-
norma untuk menerima perilaku yang dapat diberlakukan dalam sistem sosial yang lebih
besar dimana mereka terlibat' (Dowling and Pfeffer, 1975, hal 122 ).
2.2.2 Legitimasi dan Perubahan harapan sosial
Harapan masyarakat tentang perubahan kinerja, maka boleh dibilang sebuah
organisasi perlu menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya juga berubah (atau mungkin
perlu secara eksplisit mengkomunikasikan dan membenarkan mengapa operasinya tidak
berubah). Sehubungan dengan dinamika yang terkait dengan perubahan ekspektasi di
nyatakan Lindblom (1994, hal 3) :
Legitimasi yang lebih dinamis karena publik yang relevan terus mengevaluasi
keluaran, metode, dan tujuan perusahaan melawan ekspektasi yang terus berkembang.
Kesenjangan legitimasi akan berfluktuasi tanpa ada perubahan tindakan dari pihak
korporasi. Memang, karena ekspektasi publik yang relevan mengubah korporasi harus
membuat perubahan atau kesenjangan legitimasi akan tumbuh seiring tingkat konflikyan
mengalami peningkaningkatan dan tingkat dukungan positif dan pasif yang menurun
Proses mempertahankan kesesuaian antara harapan masyarakat dan persepsi tentang
bagaimana kinerja organisasi mengarah pada apa yang dikenal sebagai legitimasi
organisasi (Dowling and Pfeffer, 1975). Diasumsikan bahwa manajer yang efektif
bereaksi dengan cepat terhadap perubahan dalam masalah dan prioritas masyarakat.
Dowling dan Pfeffer menguraikan cara-cara dimana sebuah organisasi dapat melegitimasi
kegiatannya (halaman 127):.
1. Organisasi dapat menyesuaikan output, tujuan dan metode operasinya agar
sesuai dengan definisi legitimasi yang berlaku.
2. Organisasi dapat mencoba, melalui komunikasi, untuk mengubah definisi
legitimasi sosial sehingga sesuai dengan praktik, keluaran dan nilai organisasi
saat ini.
3. Organisasi dapat mencoba, melalui komunikasi, untuk diidentifikasi dengan
simbol, nilai atau institusi yang memiliki basis legitimasi yang kuat.
Sesuai dengan strategi "komunikasi" Dowling dan Pfeffer, Lindblom (1994)
mengusulkan bahwa sebuah organisasi dapat menerapkan sejumlah strategi yang
menganggap bahwa legitimasinya dipertanyakan karena tindakan atau operasinya
berbeda dengan harapan dan nilai masyarakat, Lindblom (1994) mengidentifikasi empat
tindakan (ada beberapa tumpang tindih dengan Dowling dan Pfeffer) yang dapat diambil
oleh organisasi untuk memperoleh, atau mempertahankan, legitimasi dalam keadaan ini.
Organisasi tersebut dapat:
a. Menginformasikan tentang ‘relevansi publik’, perubahan aktua pada kinerja dan
aktivitas perusahaan yang dapat menunjukkan dimana kinerja dan aktivitas itu sejalan
dengan nilai dan ekspektasi masyarakat.
b. Berusaha merubah persepsi ‘relevansi publik’ kinerja dan aktivitas agar sesuai dengan
nilai dan ekspektasi namun tidak merubah perilaku perusahaan
c. Berusaha untuk memanipulasi persepsi dengan mengalihkan perhatian dari masalah
yang menjadi perhatian terhadap isu-isu terkait lainnya
d. Berusahalah untuk mengubah ekspektasi eksternal terhadap kinerja perusahaan.

2.2.3 Menggunakan pelaporan Akuntansi dalam Strategi Legitimasi


Menurut Lindblom, dan Dowling dan Pfeffer, pengungkapan informasi publik di
tempat-tempat seperti laporan tahunan dapat digunakan oleh sebuah organisasi untuk
menerapkan masing-masing strategi di atas. Tentunya ini adalah perspektif yang bagi
banyak peneliti merupakan laporan pertanggung jawaban sosial telah diadopsi, seperti
yang akan kita tunjukkan segera. Misalnya, Sebuah perusahaan dapat memberikan
informasi untuk melawan atau mengimbangi berita negatif yang mungkin tersedia untuk
umum, atau mungkin hanya memberikan informasi untuk memberi tahu pihak yang
berkepentingan mengenai atribut organisasi yang sebelumnya tidak diketahui. Selain itu,
organisasi dapat menarik perhatian pada kekuatan, misalnya penghargaan lingkungan
yang dimenangkan, atau inisiatif keselamatan yang telah diterapkan sementara terkadang
mengabaikan atau mengurangi informasi mengenai implikasi negatif dari kegiatan
mereka, seperti polusi atau kecelakaan di tempat kerja.
Konsisten dengan posisi yang diambil oleh Dowling dan Pfeffer dan oleh
Lindblom Hurst (1970) mengemukakan bahwa salah satu fungsi akuntansi, dan kemudian
laporan akuntansi, adalah untuk melegitimasi keberadaan perusahaan. Pandangan
semacam itu menyoroti sifat strategis dari laporan keuangan dan pengungkapan terkait
pada hal lainnya.
2.2.4 Pandangan Perusahaan Terhadap Pentingnya Kontrak Sosial.
Pandangan dalam teori legitimasi bahwa organisasi akan dikenakan sanksi jika
tidak beroperasi dengan cara yang sesuai dengan harapan masyarakat (yaitu, sesuai
dengan kontrak sosial) adalah pandangan yang dianut secara bebas oleh hampir seluruh
manajer perusahaan di banyak negara Eropa dan negara-negara lain. Hal ini tercermin,
misalnya, dalam beberapa pernyataan yang dibuat oleh Total SA (perusahaan minyak
multinasional berbasis Perancis yang besar) dalam laporan tanggung jawab sosial
perusahaannya yang berdiri sendiri pada tahun 2003. Dalam laporan tersebut, ketua dan
chief executive Total, Desmarest, menyatakan (Halaman 2) Thierry Desmarest.
Masyarakat sipil mengharapkan perusahaan, terutama yang terbesar, untuk
mengelola dampak lingkungan dari operasi dan risiko industri mereka, untuk
merencanakan dan mengelola dampak sosial dan dampak sosial langsung dan tidak
langsung mereka, di manapun mereka berada. Jelas, perusahaan Belum memenangkan
perebutan legitimasi di mata masyarakat umum, terutama di benua Eropa. ... wajar jika
kita diminta untuk melaporkan tindakan kita dan menganggap dampak langsung dan
tidak langsung dari operasi kita.
Laporan pertanggung Jawaban Sosial Perusahaan tahun 2000 dari perusahaan
farmasi multinasional AstraZeneca PLC milik Anglo-swedia menunjukkan pernyataan
berikut (halaman4):
Tujuan keberlanjutan sosial adalah untuk memberikan kualitas hidup yang lebih
baik bagi semua anggota masyarakat. Untuk membuat kontribusi kami terhadap tujuan
ini, kita perlu memahami harapan masyarakat yang terus berubah. Sasaran sosial kami
dapat diidentifikasi dengan lebih jelas dengan mempertimbangkan semua pemangku
kepentingan kami - karyawan, pelanggan, pemegang saham dan masyarakat serta
dampaknya, baik positif maupun negatif, yang dapat dilakukan oleh operasi kami
terhadap mereka.
Konsisten dengan teori legitimasi, pernyataan di atas mencerminkan pandangan
bahwa organisasi harus menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat jika mereka ingin
sukses. Pandangan ini juga tercermin dalam perusahaan multinasional Nokia yang
berbasis di Finlandia Nokia 2003 Corporate Responsibility Report, di mana pernyataan
eksekutif di halaman 5 menyatakan:
Memahami apa yang diharapkan oleh pemangku kepentingan yang berbeda dari
kita sebagai perusahaan, sama pentingnya dengan memahami kebutuhan pelanggan akan
produk kami. Keterlibatan pemangku kepentingan adalah kesempatan untuk
mendengarkan, dan menerjemahkan harapan ke dalam nilai bisnis. Ini adalah kesempatan
untuk mendiskusikan tanggung jawab apa adanya dengan berbagai anggota masyarakat
.... Oleh pemangku kepentingan, kami berarti individu dan kelompok orang yang
mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perusahaan kami. Ini termasuk, namun tidak
terbatas pada, konsumen dan operator jaringan, rekan bisnis dan pemasok, karyawan,
pemegang saham dan investor, akademisi, media, organisasi non-pemerintah (LSM),
asosiasi konsumen, pemerintah dan pihak berwenang. Tujuan kami adalah menjadikan
dialog stakeholder sebagai bagian dari bisnis sehari-hari, agar mendapat pertukaran
informasi terbaik dan mendapatkan informasi yang tepat dengan cepat kepada orang-
orang yang dapat menilainya dan menggunakannya dengan baik. Sepanjang laporan ini,
kami mengidentifikasi beberapa dari berbagai pemangku kepentingan yang kami
konsultasikan dalam operasi sehari-hari bisnis kami tidak hanya berkaitan dengan
tanggung jawab perusahaan kami namun juga bagaimana kami melaporkan kegiatan
kami.
Pernyataan di atas menggambarkan bahwa pengertian yang terkandung dalam
teori legitimasi mencerminkan posisi publik yang diambil oleh eksekutif perusahaan
Eropa. Manajemen tampaknya mempertimbangkan bahwa memenuhi harapan
masyarakat di mana perusahaan beroperasi dapat melindungi atau meningkatkan
keuntungan sementara kegagalan untuk melakukannya dapat merugikan operasi dan
kelangsungan hidup yang sedang berlangsung.

2.2.5 Legitimasi Dan Reputasi Manajemen Risiko.


Para manajer baru mulai menggunakan konsep manajemen risiko reputasi untuk
mengartikulasikan kebutuhan perusahaan agar dilihat memenuhi harapan masyarakat. Hal
ini mengurangi masalah tanggung jawab sosial dan lingkungan terhadap masalah
keuangan, di mana reputasi perusahaan dianggap sebagai nilai yang cukup besar (jika
biasanya tidak pasti) dalam menghasilkan keuntungan di masa depan, dan kerusakan pada
reputasi ini karenanya akan mempengaruhi profitabilitas masa depan. Perspektif
manajemen risiko reputasi mengenai pengungkapan sosial dan lingkungan sukarela
dalam laporan tahunan mengasumsikan bahwa ancaman terhadap legitimasi perusahaan
dapat mengakibatkan kerusakan pada nilai reputasi perusahaan, dan risiko reputasi
semacam itu perlu diminimalkan melalui manajemen yang bersifat aktif.

2.2.6 Uji Empirik Terhadap Teori Legitimasi


Pada penelitian yang dilakukan oleh Hogner (1982) meneliti corporate social
reporting dalam laporan tahunan pada US Steel Corporation selama 8 tahun menunjukkan
bahwa luasnya social disclosure dari tahun ke tahun bervariasi, dan variasi tsb mungkin
karena harapan masyarakat yang juga berubah. Bagaimana cara perusahaan menentukan
harapan-harapan masyarakat? Caranya dengan meneliti melalui koran/media. Media
biasanya bisamembentuk opini harapan masyarakat.
Patten (1992) memusatkan perhatian pada perubahan tingkat pengungkapan
lingkungan yang dilakukan oleh perusahaan minyak Amerika Utara, selain hanya Exxon
Oil Company, sebelum dan sesudah tumpahan minyak utama Exxon Valdez di Alaska
pada tahun 1989. Dia berpendapat bahwa jika minyak Alaska tumpahan mengakibatkan
ancaman terhadap legitimasi seluruh industri perminyakan, dan tidak hanya untuk Exxon,
maka teori legitimasi akan menunjukkan bahwa perusahaan yang beroperasi di dalam
industri itu akan merespons dengan meningkatkan jumlah pengungkapan lingkungan
dalam laporan tahunan mereka. Hasil Patten menunjukkan bahwa ada peningkatan
pengungkapan lingkungan oleh perusahaan minyak untuk periode pasca 1989. konsisten
dengan perspektif legitimasi. Reaksi pengungkapan ini terjadi pada acroos industri, meski
kejadian itu sendiri berhubungan langsung dengan satu perusahaan minyak.
Deegan dan Rankin (1996) menggunakan teori legitimasi untuk mencoba
menjelaskan perubahan sistematis dalam laporan tahunan kebijakan pengungkapan
lingkungan perusahaan sekitar saat terbukti otoritas perlindungan lingkungan (EPA)
untuk pelanggaran berbagai undang-undang perlindungan lingkungan selama periode
1990 sampai 1993 (setiap penuntutan oleh lembaga ini dilaporkan dalam laporan tahunan
EPA yang tersedia untuk umum). Dari laporan tahunan sampel terakhir dari 20
perusahaan, yang diadili sebanyak 78 kali, ditinjau disesuaikan dengan industri dan
ukuran terhadap laporan tahunan kelompok kontrol dari 20 perusahaan yang belum
dituntut.
Dari 20 perusahaan yang dituntut, 18 memberikan informasi lingkungan dalam
laporan tahunan mereka, namun pengungkapannya sebagian besar positif dan kualitatif.
Hanya dua organisasi yang menyebutkan penyiksaan tersebut. Deegan dan Rankin
menemukan bahwa perusahaan yang dituntut mengungkapkan secara signifikan lebih
banyak informasi lingkungan (sifat yang menguntungkan) pada tahun penuntutan
daripada tahun-tahun lainnya dalam periode sampel. Konsisten dengan pandangan bahwa
perusahaan meningkatkan pengungkapan untuk mengimbangi dampak penuntutan EPA,
perusahaan yang dituntut EPA juga mengungkapkan lebih banyak informasi lingkungan,
dibandingkan dengan perusahaan yang tidak diadili. Penulis menyimpulkan bahwa
pengungkapan publik terhadap prakarsa lingkungan yang terbukti berdampak pada
kebijakan pengungkapan perusahaan yang terlibat.
Dengan hasil Patten (1992) dan Deegan dan Rankin (1996), kita dapat
mempertimbangkan Exhibit 8.2, yang mendokumentasikan kekhawatiran tentang sikap
perusahaan farmasi terhadap keamanan produk. Baca pameran dan kemudian
pertimbangkan bagaimana teori legitimasi dapat digunakan untuk memprediksi
bagaimana perusahaan di industri tersebut dapat bereaksi terhadap publisitas semacam
itu. Menurut Anda, apakah perusahaan di industri farmasi dianggap telah melanggar
"kontrak sosial" mereka, dan jika demikian, apakah menurut Anda itu mungkin
menggunakan laporan tahunan mereka untuk memulihkan legitimasi mereka?
Dalam penelitian lain, Deegan dan Gordon (1996) meninjau laporan tahunan
pengungkapan lingkungan yang dilakukan oleh sampel perusahaan dari tahun 1980
sampai 1991. Mereka menyelidiki objektivitas praktik pengungkapan lingkungan
perusahaan dan kecenderungan pengungkapan lingkungan terkait dengan kekhawatiran
yang dipegang oleh kelompok lingkungan hidup mengenai hal-hal tertentu. industri
kinerja lingkungan. Hasil yang diperoleh oleh studi Deegan dan Gordon (1996)
menunjukkan, di antara temuan lainnya, bahwa selama periode yang dicakup oleh
penelitian ini:
 Peningkatan pengungkapan lingkungan perusahaan dari waktu ke waktu berhubungan
positif dengan peningkatan tingkat keanggotaan hroup lingkungan
 Pengungkapan lingkungan perusahaan sangat menyanjung diri sendiri dan
 Ada korelasi positif antara sensitivitas lingkungan industri dimana perusahaan milik
dan tingkat lingkungan perusahaan.
Teori legitimasi sangat mirip dengan political cost hypothesis yang ada dalam
positive accounting theory. Selain ada kemiripan, ada juga perbedaanya yaitu teori
legitimasi tidak berdasarkan pada asumsi ekonomi bahwa semua tindakan didorong oleh
kepentingan pribadi (maksimisasi kesejahteraan). Juga tidak menggunakan asumsi
efisiensi pasar.

Pengungkapan publik di tempat-tempat seperti laporan tahunan, laporan


keberlanjutan dan situs Web yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan setiap
strategi sebelumnya. Perspektif diadopsi oleh banyak peneliti tanggung jawab sosial
pelaporan. Ikhtisar sifat strategis laporan keuangan dan pengungkapan terkait lainnya

2.2.7 Contoh Pengujian Empiris dari Teori Legitimasi


1. Deegan, Rankin dan Voght (2000) menggunakan teori legitimasi untuk menjelaskan
bagaimana pengungkapan social ada dalam annual report di sekitar waktu peristiwa
utama atau bencana terjadi.
Hasil penelitian konsisten dengan teori legitimasi dan menunjukkan bahwa
perusahaan Nampak untuk mengubah kebijakan pengungkapan mereka disekitar waktu
utama dihubungkan dengan kejadian sosial. Peneliti berpendapat bahwa hasil tersebut
menunjukkan:
- sifat strategic dari pengungkapan social suka relavan
- manajer mempertimbangkan pengungkapan social dalam laporan tahunan sebagai alat
yang berguna untuk mengurangi pengaruh atas perusahaan pada kejadian yang dirasa
tidak menyenangkan untuk image perusahaan.
2. Pilihan dari sebuah kerangka akuntansi dianggap berhubungan dengan keinginan
untuk meningkatkan legitimasi dari sebuah organisasi.
Carpenter dan Feroz (1992) menyatakan bahwa keputusan pemerintah Amerika
untuk mengadopsi GAAP (sebagai penentang metoda dari akuntansi berdasarkan pada
aliran kas dari pada accrual) adalah mencoba untuk mendapatkan kembali legitimasi dari
praktik manajemen keuangan Amerika.
3. Legitimasi teori mengemukakan hubungan antara pengungkapan perusahaan (dan
strategi perusahaan lainnya) dengan harapan komunitas.
Pengukuran harapan komunitas? → media
Pendapat Brown dan Deegan (1999) dapat diringkas sebagai berikut:
- Manajemen menggunakan laporan keuangan tahunan sebagai alat untuk melegitimasi
operasi yang terus berlanjut dari organisasi (dari teori legitimasi)
- Perhatian komunitas pada kinerja lingkungan dari sebuah perusahaan spesifik di
dalam sebuah industry akan juga mempengaruhi pada strategi pengungkapan dari
perusahaan pada industrinya (konsisten dengan Patten, 1992 yang mengadopsi teori
legitimasi).
- Media dapat untuk mempengaruhi persepsi komunitas tentang isu seperti lingkungan
(dari agenda media teori setting)
Kesimpulan hasil penelitian Semakin tinggi perhatian media, maka signifikan
semakin tinggi pengungkapan lingkungan dalam laporan keuangan tahunan.
- Preposisi legitimasi teori hamper mirip dengan Political Cost Hypothesis dalam
Positive Accounting Theory.
- Persamaan: Legitimasi teori mendasarkan pada isu sentral dari “kontraksosial”
sebuah perusahaan dengan masyarakat dan memprediksi bahwa manajemen akan
mengadopsi strategi tertentu (termasuk strategi pelaporan) dalam tawaran untuk
menyakinkan masyarakat bahwa organisasi mengikuti dengan nilai masyarakat dan
norma yang ada.
- Perbedaan: Legitimasi teori tidak mendasarkan pada asumsi economic –based bahwa
semua tindakan dari kepentingan individu (dikaitkan dengan memaksimalkan
kesejahteraan sendiri) dan lebih menekankan bagaimana perusahaan adalah bagian
dari system sosial di mana perusahaan beroperasi.
- Legitimasi teori tidak membuat asumsi berkaitan dengan efisiensi pasar, seperti pasar
modal dan pasar untuk manajer.

2.3 TEORI STAKEHOLDER

Teori Stakeholder mempunyai 2 cabang yaitu cabang yang ethical (moral/noramtif)


dan cabang positif (managerial) :
1. Teori Stakeholder Ethical
Teori ini menyatakan bahwa semua stakeholder mempunyai hak untuk
diperlakukan secara fair oleh perusahaan. Siapa pun stakeholder harus diperlakukan
dengan baik. Stakeholder mempunyai hak instrisik yang tidak boleh dilanggar (seperti
gaji yang wajar). Definisi stakeholder (Freeman & Reed): grup atau individu yang
dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan. Clarkson
membagi stakeholder menjadi 2 yaitu stakeholder primer dan sekunder. Stakeholder
primer adalah pihak yang mempunyai kontribusi nyata terhadap perusahaan, tanpa
pihak ini perusahaan tidak akan bisa hidup. Sedang stakeholder sekunder adalah
pihak yang tidak akan mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan secara
langsung. Menurut Clarkson stakeholder primer harus diperhatikan oleh manajemen
agar perusahaan bisa hidup. Namun pernyataan ini ditentang oleh teori stakeholder
cabang etika yang beragumentasi bahwa semua stakeholder mempunyai hak yang
sama untuk diperhatikan oleh manajemen
Semua stakeholder mempunyai hak untuk mendapatkan informasi mengenai
bagaimana dampak perusahaan bagi mereka. Berkaitan dengan hak informasi, Gray
menyarankan menggunakan perspektif model akuntabilitas. Akuntabilitas adalah
kewajiban untuk menyediakan laporan atas tindakan mereka sebagai wujud
tanggungjawabnya. Akuntabilitas meliputi 2 kewajiban: 1) kewajiban/tanggungjawab
melakukan tindakan tertentu, 2) tanggungjawab menyediakan laporan akibat tindakan
tersebut. Dengan model akuntabilitas tersebut, maka pelaporan dianggap dipicu oleh
tanggungjawab, bukan dipicu karena permintaan.

2. Teori Stakeholder Managerial


Teori ini lebih terpusat pada organisasi (organization-centered). Perusahaan harus
mengidentifikasi perhatian para stakeholder. Semakin penting stakeholder bagi
perusahaan, semakin banyak usaha yang harus dikeluarkan untuk mengelola
hubungannya dengan stakeholder ini. Informasi adalah elemen penting yang dapat
dipakai oleh perusahaan untuk mengelola (memanipulasi) stakeholder agar supaya
terus mendapatkan dukungan. Perusahaan tidak akan memperhatikan semua
kepentingan stakeholder secara sama, tapi hanya kepada yang sangat powerfull saja.
Power stakeholder (kreditor, pemilik, dll) dipandang sebagai fungsi tingkat kontrol
stakeholder terhadap sumber daya perusahaan. Semakin tinggi tingkat kontrol
stakeholder terhadap sumber daya perusahaan, maka semakin tinggi perhatian
perusahaan terhadap stakeholder ini. Perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang
dapat memuaskan permintaan berbagai stakeholder. Ullman (1985) menyatakan
bahwa “... posisi kita adalah bahwa perusahaan bertahan pada tingkat bahwa mereka
efektif. Keefektifan mereka berasal dari permintaan manajemen, secara khusus
permintaan dari kepentingan kelompok yang mana organisasi itu bergantung.
Freeman (1984) mendiskusikan dinamika atas pengaruh stakeholder pada
keputusan perusahaan. Peran utama manajemen perusahaan adalah untuk menilai
kepentingan yang mempertemukan permintaan stakeholder untuk mencapai tujuan
strategis dari perusahaan. Lebih jauh, sebagaimana Friedman dan Miles (2002) juga
menekankan, ekspektasi dan kekuatan relativitas dari bermacam –macam kelompok
stakeholder dapat berubah sepanjang waktu. Organisasi karena itu harus
mengadaptasi secara kontinyu terhadap operasi dan pengungkapan strategis mereka.
Roberts (1992) menyatakan bahwa peran utama dari manajemen perusahaan adalah
untuk menilai kepentingan yang mempertemukan permintaan stakeholder untuk
mencapai tujuan strategis dari perusahaan. Jika level kekuatan stakeholder meningkat,
kepentingan yang mempertemukan permintaan stakeholder juga meningkat.
Beberapa permintaan ini mungkin berhubungan pada provisi informasi tentang
aktivitas organisasi. Berdasarkan sejumlah penulis, sebagai contoh Ullman (1985)
dan Friedman dan Miles (2002), lebih besar kepentingan organisasi dari dukungan
stakeholder masing-masing, lebih besar probabilitas bahwa ekspektasi stakeholder
tertentu akan digabungkan dalam operasi organisasi. Dari perspektif ini, berbagai
aktivitas akan diambil alih oleh organisasi, termasuk pelaporan publik, akan secara
langsung berhubungan pada ekspektasi kelompok stakeholder tertentu. Lebih jauh,
organisasi akan mempunyai insentif untuk mengungkapkan informasi tentang
berbagai program mereka dan inisiatif untuk kelompok stakeholder masing-masing
untuk mengindikasikan dengan jelas bahwa mereka menyesuaikan diri dengan
ekspektasi stakeholder itu. Unerman dan Bennett (2004) adalah diantara yang lain
yang berpendapat bahwa sebagaimana ekspektasi dan relativitas kekuatan dapat
berubah sepanjang waktu, organisasi harus secara kontinyu mengadaptasikan operasi
dan perilaku pelaporan .
Dalam perspektif manajerial dari teori stakeholder, informasi (termasuk informasi
akuntansi keuangan dan informasi tentang kinerja sosial organisasi) adalah elemen
utama yang dapat digunakan organisasi untuk mengatur (atau memanipulasi)
stakeholder untuk memberikan keuntungan pada persetujuan dan dukungan
mereka,atau untuk mengalihkan oposisi dan ketidaksetujuan mereka (Gray et
al,1996). Hal ini konsisten dengan strategi legitimasi yang disarankan oleh Lindblom
(1994), sebagaimana didiskusikan di bagian awal bab ini. Dalam hubungan
pengungkapan sosial perusahaan, Roberts (1992) menyatakan bahwa aktivitas
tanggung jawab sosial berguna dalam hubungan kepuasan pengembangan dan
pengelolaan dengan pemegang saham, kreditor, dan badan-badan politik.
Mengembangkan reputasi perusahaan menjadi tanggung jawab sosial melalui kinerja
dan pengungkapan aktivitas tanggungjawab sosial sebagai bagian strategi untuk
mengatur hubungan stakeholder.

Pengujian Empiris Teori Stakeholder

Memanfaatkan teori stekholder untuk menguji kemampuan dari stakeholder


berdampak pada pengunkapan CSR. Roberts (1992) menemukan bahwa pegukuran
pengaruh stakeholder dan informasi yang berhubungan membutuhkan beberapa
penjelasan mengenai tingkat dan tipe pengungkapan sosial perusahaan.

Neu, Warsene dan Pedwll (1998) juga menemukan dukungan untuk pandangan
bahwa fakta-fakta stakeholder group dapat menjadi lebih efektif daripada yang lainnya
pada tuntuuan pengungkapan tanggungjawab sosial. Mereka meninjau laporan tahunan
dari jumlah publisitas Perusahaan Kanada yang beroperasi dalam lingkungan industri
yang sensitive dari tahun 1982 hingga 1991. Pengukuran korelasi telah terlihat antara
meningkatnya dan meurunnya pengungkpan lingkungan dan keprihatinan dari
keterangan-keterangan stakeholder group. Hasilnya terindikasi bahwa perusahaan akan
lebih responsive pada permintaan dan perhatian dari keuangan stakeholder dan regualator
pemerintah kemudian pada perhatian lingkungan. Mereka mempertimbangkan bahwa
hasil mendukung prespektif bahwa dimana perusahaan menghadapi situasi dimana
stakeholder memiliki konflik kepetingan atau ekspektasi, perusahaan akan memilih pada
informasi yang tersedia dari sifat legitimasi dan menjadi penting untuk bertahan pada
organisasi .

Teori stakeholder dari jenis-jenis “managerial” tidak secara langsung menyediakan


persepsi mengenai informasi apa yang harus diungkapkan daripada mengindikasi
ketentuan informasi, termasuk informasi dalam sebuah laporan keuangan, dapat, jika
dipertimbangkan dengan penuh pertimbangan, menjadi berguan unruk keberlanjutan
operasi dari bisnis entitas. Tentunya jika kita menerima pandangan dari dunia, kita akan
masih tertingaal dengan kesulitan masalah menetukan siapakah yang paling penting
(pengaruhnya) dari stakeholder, dan apa prespektif mereka dari permintann informasi
tersebut .

Seperti yang telah dicatat organisasi secara khas memiliki banyak stakeholder
dengan berbagai ekspektasi tentang bagaimana organisasi harus beroperasi. Bagaimana
pandangan ini menjadi berbeda jika mengadopsi moral / prespektif etika dari teori
stakeholder ?

Exhibit 8.4 berhubungan pada perdagangan penyatuan skeptic dari tanggung


jawab sosial dan lingkungan tuntutan dari beberapa perusahaan Inggris. Setelah membaca
exhibit kita dapat mempertimbangkan kembali apakah Perusahaan UK atau perusahaan
eropa akan menguraikan penyatuan perdagangan menjadi kekuatan stakeholder, dan jika
mereka mempertimbangkan, kita juga dapat mempertimbangkan bagaimana atau apakah
perusahaan UK ataueropa akan membuat pengungkapan yang khusus dari informasi
untuk menghilangkan perhatian penyatuan.

Sebagai isu-isu penutup hal tersebut harus direalisasi daripada diskusi di atas kita
memiliki pertimbangan secara terpisah moral normative / prespektif etika dari teori
stakeholder sebaik managerial prespective dari teori stakeholder. Dengan berdiskusi
secara terpisah ini mungkin dapat menerangkan bahwa manajeman mungkin menjadi
secara etis atau secara moral sadar atau semata- mata berfokus pada kelangsungan hidup
organisasi, dimana prakteknya seperti menjadi rangkian kesatuan dari kemungkinan
posisi antara dua point absolute. Secara terpisah pertimbangan mempertimbangkan dua
prespektif kita memiliki pandangan parsial, tidak seperti bahwa manager dari beberpa
perusahaan akan pada satu atau lainnya dari kesatuan rangkaian yang ekstrim. Sebagai
gantinya, manager dari perusahaan akan dapat dibantah diarahkan dengan pertimbangan
etis dan performa berdasarkan pada keputusan tidak satu ataupun lainnya.

Sekali lagi kita mendapat pandangan bahwa teori particular (dari akuntasni) dapat
menyedikan kita dengan hanya pandangan partial, dan sebab itu terkadang berguna
unutk mempertimbangkan wawasan yang disediakan oleh prespktif teritis yang berbeda.
Satu system tambahan diorientasikan prespektif teroitis, dimana hanya memiliki awal
baru-baru ini dimulai untuk diaplikasikan pada sebuah analisi dari keputusan suka rela
pelaporan perusahaan, yaitu Teori institusional

2.4 TEORI INSTITUSIOANAL (INSTUTIONAL THEORY)

Teori Institusioanal telah dikembangkan dalam literatur akademik manajemen lebih


spesifik, pada teori organisasi sejak akhir 1970an, oleh peneliti seperti Mayer dan Rowan (1997);
DiMagio dan Powell (1983); Powel dan DiMagio (1991); dan Zucker (1997,1987). Semenatra
hal tersebut menjadi pengaruh yang utama dan prespektif teoritis yang kuat dalam analisis
organisasi, hal ini juga diadopsi oleh beberapa peneliti akuntansi, seperti Covaleski dan
Dirsmith (1998); Broadbent, Jacobs, dan Laughlin (2000); dan Brignall dan Modell (2000)
menggunakan teori institusional. Hal ini juga digunakan beberpa peneliti yang memeriksa aspek
audit. Secara langsung berhubungan dangan teori akuntansi keuangan, Forgatry (1992)
mengaplikasikan teroi institusional untuk menganalisis proses pengaturan satandar akuntansi.
Dillard, Rigny, Goodness (2004. Hlm 504) menyatakan bahwa teori institusional telah
diaplikasikan pada penelitian akuntansi untun mempelajari praktik akuntansi dalam organisasi.
Alasan kunci mengapa teori institusional relevant pada peneliti yang menginvestigasi
prektek pelaporan akuntansi secara sukarela bahwa teori institusional menyediakan prespektif
yang melengkapi diantara teori stakeholder dan teori legitimasi, dalan memahami bagaimana
organisasi mengerti dan merespon perubahan sosial dan tekanan dan ekspektasi institusional.
Faktor lainnya, teori ini menghubungkan praktik organisasi dalam nilai masyarakat dimana
organisasi beroperasi, dan kebutuhan mempertahankan legitimasi organisaii sesuai dengan yang
diungkapkan oleh Dillard, Rigsby, Goodman (2004,hlm 507) bahwa berdasarkan penelitian
akuntansi menyarankan pentingnya dari budaya sosial dan lingkungan dalam praktek akuntansi.
Kegunaan praktek akuntansi sebagai rasionalisasi dalam perintah untuk mengurus appereance
dari legitimasi dan kemungkinan decoupling praktek rasionalisais akuntansi dari teknis akrual
dan proses administrasi.
Teori Institusional menyedikan penjelasan bagaimana mekanisme melalui organisasi
yang mana mungkin mencari untuk menyamakan presepsi dari praktek dan karakteristik dengan
nilai sosial dan budaya menjadi terinstitutionlay dalam organisasi yang khusus, Seperti
mekanisme dapat termasuk mengemukakan dari keduanya; teori satakeholder dan atau teroi
legitimasi, tetapi dapat secara masuk akal juga meliputi tingkat yang lebih luas dari mekanisme
legitimasi. Hal ini mengapa ketiga prespektif teoritis harus dilihat seperti saling melengkapi dari
pada dibandingkan satu dengan lainnya.
Terdapat dua dimensi utama dari teori institusional. Pertama adalah isomorphism dan
yang kedua decoupling. Keduanya dapat menjadi pokok hubungan untuk menjelaskan praktik
pelaporan perusahaan secara suka rela. Dillard, Rigsby, dan Goodman (2004) Isomorphism
direferensikan pada adatasi praktik institusional oleh sebuah organisasi. Sebagai perusahaan
sukarela melporkan oleh praktek institusional bahwa pelaporan organisasi,proses dimana suka
rela pelaporan perusahaan mengadaptasi dan merubah bahwa organisasi melaksankan proses
isomorphic.
Proses isomorphic pertma dimana organisasi hanya akan merubah praktek institusional
mereka dikarenakan tekanan dari stakeholder pada siapa organisai bergantung. Proses ini
berkaitan dengan cabang managerial dari teori stakeholder. Perusahaan akan suka rela
melaksankan pelaporan berdasarkan pada pengaruh stakeholder dalam prektik pelaporannya
dimana didalamnya terdapat ekspektasi dan permintaan dari stakeholder yang memiliki pengaruh
pada perusahaan. Proses kedua dalam isomorphic, melibatkan organisasi mencari untuk
berusaha menyamai atau mengembangkan praktek intitusioanal dari organisasi lain, seringkali
untuk alasan keunggulan kompetitifndalam ketentuan dari legitimasi. Seperti Unnerman dan
Bennett (2004 hlm 692) menyatakan beberapa penelitian teori institusional mengandposi
kebijakan baru dan prosedur yang sama dimana diadopsi oleh perusahaan yang memimpin
dalam sector tersebut. Proses isomorphis terakhir dijelaskan oleh DiMaggio dan Powell (1983)
yaitu normative isomorphism. Hal ini menghubungjan tekanan yang muncul dari kumpulan
norma untuk mengadosi praktek institusional yang khusus.. Dalam kasus pelaporan perusahaan,
ekspetasi dari professional bahwa akuntan akan patuh terhadap satandar akuntansi. Dalam
ketentuan pengungkapan perusahaan secara sukarela tekanan normative isomorphism dapat
menimbulkan kuranganya pengaruh formal group dari rentang both formal dan informal group ,
dimana dimilki manager.(pengaruh budaya dan praktik kerja dikembangkan dalam tempat kerja
mereka).
Selanjutnya pada decoupling mengindikasikan bahwa sementara manager mungkin
merasa kebutuhan untuk organisasi mereka untuk terlihat mengadosi praktek instituisonal yang
pasti dan mungkin proses formal intitusi bertujuan mengimplemenatsaikan praktek tersebut,
praktek actual organizational dapat menjadi sangat berbeda pada perstujuan secara formal dan
secara publik melafalkan proses dan praktek. Ini dapat dihubungkan dengan pandangan dari
teori legitimasi dimana pengungkapan sosial dan lingkungan dapat digunakan membangun image
organisasi sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya dari sisi performa sosial dan lingkungan.
KESIMPULAN

Pada bab ini menyediakan jumlah prespektif mengapa manajemen memelih untuk
membuat pengungkapan terpisah. Secara spesifik ini meninjau teori legitimasi, teori
stakeholder, dan dengan singkat muncul teori institusional – ketiga teori diklasifikasikan
sebagai system yang berorientasi teori, dilihat sebagai bagian dari system sosial yang
lebih luas.
Teori legitimasi, teori stakeholder dan teori instituisonal semuanya berhubungan
pada teori politik-ekonomi dimana ilmu ekonomi politik merupakan kerangka sosial,
politik, dan ekonomi didalamnya dimana kehidupan manusia mengambil tempat dan
sosial, politik dan ekonomi isu dipertimbangkan sebagai sesuatu yang tidak dapat
dipisahkan. Teori ekonomi politik dapat diklasifikasin sebagai sesuatu yang klasik. Teori
Legitimasi dan Teroi stakeholder mengadopsi prespektif Bourgeois. Teori Institusional
mengadopsi Prespektif klasik ataupun Bourgeois.
Teori legitimasi bergantung pada gagasan kontrak sosial, dimana kontrak
menyiratkan penggambaran norma dan ekspektasi dati komunitas dimana organisasi
beroperasi. Sebuah organisasi mempertimbangkan untuk menjadi sah untuk
menyampaikan bahwa hal tersbut memnuhi syrat dari kontrak sosial. Legitimacy dan hak
untuk beroperasi. Pengungkapan akuntansi mematuhi perwkilan dimana menggambarkan
satu cara dimana organisasi dapat mengesahkan dan keberlanjutan operasi. Dimana
legitimasi terancam, pengungkapan adalah salah satu cara mengembalikkan legitimasi,
dalam prakteknya. Kebijakan untuk memlihara atau mengembaliakn legitimasi
perusahaan kadang diucapkan pada syarat dari resiko reputasi manajemen.
Dua kategori teori stakeholder telah direview. Hal ini menjadi ethical branch (atau
normative) dan managerial branch. Etichal branch dari toeri stakeholder mendiskusikan
isu-isu yang terkumpul dengan hak pada informasi, hak dimana harus dipertemukan tanpa
memperhatikan pengaruh keterlibatan stakeholder. Mangerial branch dari teori
stakeholder memprediksikan bahwa organisasi akan cenderung umtuk memuaskan
permintaan informasi dari stakeholder yang memiliki pengaruh dalam kelangsungan
hidup perusahaan. Menambah keterangan-keterangan, stakeholder menerima informasi
akan bergantung terhadap bagaimana pengaruh mereka, dengan pengaruh seringkali
mempertimbangkan syarat dari kekurangan sunberdaya yang dikontrol oleh masing-
masing stakeholder. Pengungkapan informasi dipertimbangkan untuk menggambarkan
strategi penting dalam mengelola para stakeholder.
Teori Institusional menyediakan pelengkap dan secara khusus melengkapi,
prespektif teori legitimasi dan teori stakeholder. Teori ini menjelaskan bahwa manajer
akan menjadi subjek untuk menekankan perubahan atau mengadosi, beberapa praktik-
praktik pelaporan suka rela perusahaan. Tekanan ini dapat menjadi memaksa, meniru-
niru, atau berdasarkan norma dan hasil gambaran institusional terkadang menjadi terlihat
lebih nyata daripada aslinya.