Anda di halaman 1dari 16

“Systems-oriented theories” adalah teori legitimasi dan teori stakeholder.

Dalam systems-
based perspective, suatu entitas diasumsikan dipengaruhi oleh dan juga mempengaruhi
masyarakat. Gray, Owen dan Adams (1996) menyatakan bahwa suatu organisasi dan
masyarakat yang berorientasi ke sistem akanmemungkinkan kita melihat peran informasi
pada hubungan yang terjadi antara organisasi, negara, individu, dan grup.
Berdasarkan teori legitimasi dan stakeholder, kebijakan pengungkapan akuntansi dipandang
sebagai strategi untuk mempengaruhi hubungan organisasi dengan pihak-pihak lain. Teori
legitimasi dan stakeholder diaplikasikan untuk menjelaskan mengapa perusahaan melakukan
pengungkapan tanggung jawab sosial dalam laporan tahunannya. Teori ini juga dapat untuk
menjelaskan mengapa perusahaan memilih mengadopsi teknik akuntansi tertentu.
Teori Ekonomi Politik
Teori legitimasi dan stakeholder adalah teori yang diderivasi dari teori ekonomi
politik (Gray, Owen dan Adams,1996). Gray mendefinisikan ekonomi politik sebagai
kerangkapikir yang mengkaitkanmasalah sosial, politik dan ekonomi. Masalah ekonomi tidak
dapat dipisahkan tanpa memperhatikan masalah sosial. Dengan menggunakan ekonomi
politik seorang peneliti dapat memperhatikan isu-isu (sosial) yang lebih luas yang berdampak
pada perusahaan, dan informasi apa yang harus diungkapkan.Guthrie dan Parker (1990)
menyatakan bahwa perspektif ekonomi politik memandang pelaporan akuntansi sebagai
dokumen sosial, politik, dan ekonomi. Pelaporan akuntansi digunakan sebagai alat untuk
pembangunan, penjagaan, dan legitimasi institusi-institusi ekonomi dan politik.
Pengungkapan mempunyai kapasitas untuk menyalurkan makna-makna sosial, politik, dan
ekonomi bagi pembaca laporan yang plural.
Dalamteoriini, dikenalduapandanganyaitu:
a. PandanganKlasik
Pandanganinidikenalkanoleh Karl Max
danlebihterpusatpadakonflikkarenaadanyaketidakseimbanganakibatadanyakelas-
kelas.Dalampandanganinilaporankeuangandanpengungkapandigunakanuntukmenjagaposisi
yang menguntungkanbagipengontrolsumberdayadanmerusakpihak-pihak yang
tidakmengontrolsumberdaya.
b. PandanganBurgeois
Pandanganinidiusungoleh Gray, Houchy,danFlavers,
lebihterpusatpadainteraksikelompokdalamkemajemukan.Dalampluralistikini, menurut Lowe
dan Tinker (1977), terdapatkekuatan yang menyebarkarenabanyaknyaindividu yang
inginmenonjoldantidakadaindividu yang
secarakonsistendapatmempengaruhimasyarakat.Namun, definisiinidiungkapkanberbedaoleh
Cooper danSherer.Merekaberpendapatmasyarakatdikendalikanolehwell-defined elite
(kelompok yang inginmenjagadominasinya)
TeoriLegitimasi
Berdasarkan teori legitimasi menyatakan organisasi secara kontinyu mencari cara agar
beroperasi dalam batas norma-norma masyarakat, artinya bahwa operasi perusahaan
dipandang oleh orang lain sebagai hal yang legitimate. Norma yang ada selalu berubah,
sehingga perusahaan harus menyesuaikan. Teori legitimasi didasarkan padaide bahwa ada
kontrak sosial antara perusahaan dengan masyarakat. Masyarakat sekarang mengharapkan
perusahaan untuk....melakukan pencegahan kerusakan lingkungan, menjamin adanya
keamanan bagi konsumen, karyawan. Karenaitu, perusahaan dengan lingkungan sosial yang
jelek akan sulit meneruskan operasinya. Teori legitimasi menekankan perusahaan untuk
mempertimbangkan hak-hak publik. Kegagalan untuk memenuhi harapan sosial (kontrak
sosial) ini akan menimbulkan sangsi dari masyarakat. Ide kontrak sosial ini bukanlah barang
baru, tapi sudah lama didiskusikan oleh para filsuf seperti Thomas Hobbes, John Locke, dan
Rousseou.
Legitimasi, harapan publik dan kontrak sosial.
Teori Legitimasi bergantung pada anggapan bahwa ada "kontrak sosial" antara organisasi
yang bersangkutan dan masyarakat di mana perusahaan beroperasi. Kontrak sosial tidak
mudah didefinisikan namun konsep tersebut digunakan untuk mewakili banyak harapan
implisit dan eksplisit bahwa Masyarakat memiliki hak tentang bagaimana organisasi harus
menjalankan operasinya, dapat dikatakan bahwa secara tradisional, memaksimalkan
keuntungan dianggap sebagai ukuran optimal dari kinerja perusahaan (Abbott dan Monsen,
1979; Heard and Bolce, 1981; Patten, 1991, 1992 Ramanathan, 1976) Berdasarkan pengertian
ini, keuntungan perusahaan dipandang sebagai ukuran legitimasi organisasi yang menyeluruh
(Ramanathan, 1976). Namun, harapan masyarakat telah mengalami perubahan signifikan
dalam beberapa dekade terakhir. Heard dan Bolce (1981) mencatat perluasan advokasi
Gerakan di Amerika Serikat selama tahun 1960an dan 1970an, dan peningkatan signifikan
dalam undang-undang yang terkait dengan masalah sosial, termasuk lingkungan dan
kesehatan karyawan dan keamanan, yang diterapkan di Amerika Serikat dalam periode yang
sama. Dengan harapan sosial yang tinggi, diantisipasi bahwa perusahaan bisnis yang sukses
akan bereaksi dan memperhatikan konsekuensi sosial, lingkungan dan sosial lainnya dari
aktivitas mereka (Heard and Bolce, 1981).
Telah diperdebatkan bahwa masyarakat semakin mengharapkan bisnis untuk membuat
pengeluaran untuk memperbaiki atau mencegah kerusakan pada lingkungan , untuk
menjamin kesehatan dan keselamatan konsumen, karyawan, dan mereka yang tinggal di
masyarakat di mana produk diproduksi dan limbah dibuang (Tinker Dan tandai, 84).
Akibatnya, perusahaan dengan catatan kinerja sosial dan lingkungan yang buruk mungkin
semakin sulit mendapatkan sumber daya dan dukungan yang diperlukan untuk melanjutkan
operasi di dalam komunitas yang menghargai lingkungan yang bersih. Mungkin ini tidak
terjadi beberapa dekade yang lalu.
Diasumsikan bahwa masyarakat memungkinkan organisasi untuk melanjutkan operasinya
sejauh ia memenuhi harapan mereka. Teori Legitimasi menekankan bahwa organisasi harus
tampak mempertimbangkan hak-hak masyarakat secara luas, bukan hanya milik para
investornya. Kegagalan untuk mematuhi harapan masyarakat (yaitu, sesuai dengan ketentuan
kontrak sosial) dapat menyebabkan sanksi diberlakukan oleh masyarakat, misalnya dalam
bentuk pembatasan hukum yang dikenakan pada operasi organisasi, sumber daya terbatas
(misalnya, permodalan dan tenaga kerja) yang disediakan, dan / atau mengurangi permintaan
akan produknya (terkadang melalui boikot konsumen secara terorganisir).
Konsisten dengan teori legitimasi, organisasi tidak dianggap memiliki hak yang melekat
pada sumber daya. Legitimasi dari sudut pandang masyarakat) dan hak untuk beroperasi
berjalan beriringan. Mathews (1993, hal 26) menyatakan:
Kontrak sosial akan ada diantara perusahaan (biasanya perusahaan terbatas) dan anggota
masyarakat secara individu. Masyarakat (sebagai kumpulan individu) memberi perusahaan
kedudukan dan atribut legal mereka dan wewenang untuk memiliki dan menggunakan
sumber daya alam dan untuk mempekerjakan karyawan. Organisasi memanfaatkan sumber
daya masyarakat dan mengeluarkan barang dan jasa dan produk limbah ke lingkungan umum.
Organisasi tidak memiliki hak yang melekat pada manfaat ini, dan untuk memungkinkan
keberadaan mereka, masyarakat akan mengharapkan keuntungan melebihi biaya bagi
masyarakat.
Gagasan tentang "kontrak sosial bukanlah hal baru, yang telah dibahas oleh para filsuf
seperti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704) dan Jean-Jacques Rousseau
(1712-1778). Shocker dan Sethi (1974, Hal 67) memberikan gambaran bagus tentang konsep
kontrak sosial:
Setiap lembaga sosial dan bisnis tidak terkecuali beroperasi di masyarakat melalui kontrak
sosial, tersurat ataupun tersirat, dimana kelangsungan dan pertumbuhannya didasarkan pada:
1 penyampaian beberapa tujuan yang diinginkan secara sosial kepada masyarakat pada
umumnya, dan
2 distribusi manfaat ekonomi, sosial, atau politik kepada kelompok-kelompok yang darinya
memperoleh kekuasaannya.
Dalam masyarakat yang dinamis, baik sumber kekuatan institusional maupun kebutuhan
akan layanannya bersifat permanen. Oleh karena itu, sebuah institusi harus senantiasa
memenuhi tes legitimasi secara berulang dan relevansi dengan menunjukkan bahwa
masyarakat membutuhkan jasanya dan bahwa para pihak yang mendapat keuntungan dari
penghargaan yang telah setujui oleh masyarakat.
Seperti yang ditunjukkan di atas, dan di Deegan dan Rankin (1996, hal 54) dan Deegan
(2002, hal 293), sesuai dengan teori legitimasi jika sebuah organisasi tidak dapat
membenarkan operasi lanjutannya, maka dalam artian masyarakat dapat mencabut " Kontrak
'untuk melanjutkan operasinya.
Hukum untuk mencegah tindakan yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Mengingat
biaya cukup potensial terkait dengan operasi yang dianggap berada di luar persyaratan
'kontrak sosial', Dowling dan Pfeffer (1975) menyatakan bahwa organisasi akan melakukan
berbagai tindakan untuk memastikan bahwa operasi mereka dianggap sah. Artinya, mereka
akan berusaha untuk membangun kesesuaian antara 'nilai sosial yang terkait dengan atau
secara tersirat dari aktivitas yang mereka jalankan dan norma-norma untuk menerima
perilaku yang dapat diberlakukan dalam sistem sosial yang lebih besar dimana mereka
terlibat' (Dowling and Pfeffer, 1975, hal 122 ).
Legitimasi dan Perubahan harapan sosial
Harapan masyarakat tentang perubahan kinerja, maka boleh dibilang sebuah organisasi
perlu menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya juga berubah (atau mungkin perlu secara
eksplisit mengkomunikasikan dan membenarkan mengapa operasinya tidak berubah).
Sehubungan dengan dinamika yang terkait dengan perubahan ekspektasi di nyatakan
Lindblom (1994, hal 3) :
Legitimasi yang lebih dinamis karena publik yang relevan terus mengevaluasi keluaran,
metode, dan tujuan perusahaan melawan ekspektasi yang terus berkembang. Kesenjangan
legitimasi akan berfluktuasi tanpa ada perubahan tindakan dari pihak korporasi. Memang,
karena ekspektasi publik yang relevan mengubah korporasi harus membuat perubahan atau
kesenjangan legitimasi akan tumbuh seiring tingkat konflikyan mengalami
peningkaningkatan dan tingkat dukungan positif dan pasif yang menurun
Proses mempertahankan kesesuaian antara harapan masyarakat dan persepsi tentang
bagaimana kinerja organisasi mengarah pada apa yang dikenal sebagai legitimasi organisasi
(Dowling and Pfeffer, 1975). Diasumsikan bahwa manajer yang efektif bereaksi dengan cepat
terhadap perubahan dalam masalah dan prioritas masyarakat. Dowling dan Pfeffer
menguraikan cara-cara dimana sebuah organisasi dapat melegitimasi kegiatannya (halaman
127):.
1. Organisasi dapat menyesuaikan output, tujuan dan metode operasinya agar sesuai dengan
definisi legitimasi yang berlaku.
2. Organisasi dapat mencoba, melalui komunikasi, untuk mengubah definisi legitimasi
sosial sehingga sesuai dengan praktik, keluaran dan nilai organisasi saat ini.
3. Organisasi dapat mencoba, melalui komunikasi, untuk diidentifikasi dengan simbol, nilai
atau institusi yang memiliki basis legitimasi yang kuat.
Sesuai dengan strategi "komunikasi" Dowling dan Pfeffer, Lindblom (1994) mengusulkan
bahwa sebuah organisasi dapat menerapkan sejumlah strategi yang menganggap bahwa
legitimasinya dipertanyakan karena tindakan atau operasinya berbeda dengan harapan dan
nilai masyarakat, Lindblom (1994) mengidentifikasi empat tindakan (ada beberapa tumpang
tindih dengan Dowling dan Pfeffer) yang dapat diambil oleh organisasi untuk memperoleh,
atau mempertahankan, legitimasi dalam keadaan ini. Organisasi tersebut dapat:
a. Menginformasikantentang ‘relevansipublik’,
perubahanaktualpadakinerjadanaktivitasperusahaan yang
dapatmenunjukkandimanakinerjadanaktivitasitusejalandengannilaidanekspektasimasyarakat
b. Berusahamerubahpersepsi ‘relevansipublik’ kinerjadanaktivitas agar
sesuaidengannilaidanekspektasinamuntidakmerubahperilakuperusahaan
c. Berusahauntukmemanipulasipersepsidenganmengalihkanperhatiandarimasalah yang
menjadiperhatianterhadapisu-isuterkaitlainnya
d. Berusahalahuntukmengubahekspektasieksternalterhadapkinerjaperusahaan.
Menggunakan pelaporan Akuntansi dalam Strategi Legitimasi
Menurut Lindblom, dan Dowling dan Pfeffer, pengungkapan informasi publik di tempat-
tempat seperti laporan tahunan dapat digunakan oleh sebuah organisasi untuk menerapkan
masing-masing strategi di atas. Tentunya ini adalah perspektif yang bagi banyak peneliti
merupakan laporan pertanggung jawaban sosial telah diadopsi, seperti yang akan kita
tunjukkan segera. Misalnya, Sebuah perusahaan dapat memberikan informasi untuk melawan
atau mengimbangi berita negatif yang mungkin tersedia untuk umum, atau mungkin hanya
memberikan informasi untuk memberi tahu pihak yang berkepentingan mengenai atribut
organisasi yang sebelumnya tidak diketahui. Selain itu, organisasi dapat menarik perhatian
pada kekuatan, misalnya penghargaan lingkungan yang dimenangkan, atau inisiatif
keselamatan yang telah diterapkan sementara terkadang mengabaikan atau mengurangi
informasi mengenai implikasi negatif dari kegiatan mereka, seperti polusi atau kecelakaan di
tempat kerja.
Konsisten dengan posisi yang diambil oleh Dowling dan Pfeffer dan oleh Lindblom Hurst
(1970) mengemukakan bahwa salah satu fungsi akuntansi, dan kemudian laporan akuntansi,
adalah untuk melegitimasi keberadaan perusahaan. Pandangan semacam itu menyoroti sifat
strategis dari laporan keuangan dan pengungkapan terkait pada hal lainnya.
Pandangan Perusahaan Terhadap Pentingnya Kontrak Sosial.
Pandangan dalam teori legitimasi bahwa organisasi akan dikenakan sanksi jika tidak
beroperasi dengan cara yang sesuai dengan harapan masyarakat (yaitu, sesuai dengan kontrak
sosial) adalah pandangan yang dianut secara bebas oleh hampir seluruh manajer perusahaan
di banyak negara Eropa dan negara-negara lain. Hal ini tercermin, misalnya, dalam beberapa
pernyataan yang dibuat oleh Total SA (perusahaan minyak multinasional berbasis Perancis
yang besar) dalam laporan tanggung jawab sosial perusahaannya yang berdiri sendiri pada
tahun 2003. Dalam laporan tersebut, ketua dan chief executive Total, Desmarest, menyatakan
(Halaman 2) Thierry Desmarest
Masyarakat sipil mengharapkan perusahaan, terutama yang terbesar, untuk mengelola
dampak lingkungan dari operasi dan risiko industri mereka, untuk merencanakan dan
mengelola dampak sosial dan dampak sosial langsung dan tidak langsung mereka, di
manapun mereka berada. Jelas, perusahaan Belum memenangkan perebutan legitimasi di
mata masyarakat umum, terutama di benua Eropa. ... wajar jika kita diminta untuk
melaporkan tindakan kita dan menganggap dampak langsung dan tidak langsung dari operasi
kita.
Laporan pertanggung Jawaban Sosial Perusahaan tahun 2000 dari perusahaan farmasi
multinasional AstraZeneca PLC milik Anglo-swedia menunjukkan pernyataan berikut
(halaman4):
Tujuan keberlanjutan sosial adalah untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi
semua anggota masyarakat. Untuk membuat kontribusi kami terhadap tujuan ini, kita perlu
memahami harapan masyarakat yang terus berubah. Sasaran sosial kami dapat diidentifikasi
dengan lebih jelas dengan mempertimbangkan semua pemangku kepentingan kami -
karyawan, pelanggan, pemegang saham dan masyarakat serta dampaknya, baik positif
maupun negatif, yang dapat dilakukan oleh operasi kami terhadap mereka.
Konsisten dengan teori legitimasi, pernyataan di atas mencerminkan pandangan bahwa
organisasi harus menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat jika mereka ingin sukses.
Pandangan ini juga tercermin dalam perusahaan multinasional Nokia yang berbasis di
Finlandia Nokia 2003 Corporate Responsibility Report, di mana pernyataan eksekutif di
halaman 5 menyatakan:
Memahami apa yang diharapkan oleh pemangku kepentingan yang berbeda dari kita
sebagai perusahaan, sama pentingnya dengan memahami kebutuhan pelanggan akan produk
kami. Keterlibatan pemangku kepentingan adalah kesempatan untuk mendengarkan, dan
menerjemahkan harapan ke dalam nilai bisnis. Ini adalah kesempatan untuk mendiskusikan
tanggung jawab apa adanya dengan berbagai anggota masyarakat .... Oleh pemangku
kepentingan, kami berarti individu dan kelompok orang yang mempengaruhi atau
dipengaruhi oleh perusahaan kami. Ini termasuk, namun tidak terbatas pada, konsumen dan
operator jaringan, rekan bisnis dan pemasok, karyawan, pemegang saham dan investor,
akademisi, media, organisasi non-pemerintah (LSM), asosiasi konsumen, pemerintah dan
pihak berwenang. Tujuan kami adalah menjadikan dialog stakeholder sebagai bagian dari
bisnis sehari-hari, agar mendapat pertukaran informasi terbaik dan mendapatkan informasi
yang tepat dengan cepat kepada orang-orang yang dapat menilainya dan menggunakannya
dengan baik. Sepanjang laporan ini, kami mengidentifikasi beberapa dari berbagai pemangku
kepentingan yang kami konsultasikan dalam operasi sehari-hari bisnis kami tidak hanya
berkaitan dengan tanggung jawab perusahaan kami namun juga bagaimana kami melaporkan
kegiatan kami.
Pernyataan di atas menggambarkan bahwa pengertian yang terkandung dalam teori
legitimasi mencerminkan posisi publik yang diambil oleh eksekutif perusahaan Eropa.
Manajemen tampaknya mempertimbangkan bahwa memenuhi harapan masyarakat di mana
perusahaan beroperasi dapat melindungi atau meningkatkan keuntungan sementara kegagalan
untuk melakukannya dapat merugikan operasi dan kelangsungan hidup yang sedang
berlangsung.
Legitimasi Dan Reputasi Manajemen Risiko.
Para manajer baru mulai menggunakan konsep manajemen risiko reputasi untuk
mengartikulasikan kebutuhan perusahaan agar dilihat memenuhi harapan masyarakat. Hal ini
mengurangi masalah tanggung jawab sosial dan lingkungan terhadap masalah keuangan, di
mana reputasi perusahaan dianggap sebagai nilai yang cukup besar (jika biasanya tidak pasti)
dalam menghasilkan keuntungan di masa depan, dan kerusakan pada reputasi ini karenanya
akan mempengaruhi profitabilitas masa depan. Perspektif manajemen risiko reputasi
mengenai pengungkapan sosial dan lingkungan sukarela dalam laporan tahunan
mengasumsikan bahwa ancaman terhadap legitimasi perusahaan dapat mengakibatkan
kerusakan pada nilai reputasi perusahaan, dan risiko reputasi semacam itu perlu
diminimalkan melalui manajemen yang bersifat aktif.
Uji Empirik Terhadap Teori Legitimasi
Pada penelitian yang dilakukan oleh Hogner (1982) meneliti corporate social reporting
dalam laporan tahunan pada US Steel Corporation selama 8 tahun menunjukkan bahwa
luasnya social disclosure dari tahun ke tahun bervariasi, dan variasi tsb mungkin karena
harapan masyarakat yang juga berubah. Bagaimana cara perusahaan menentukan harapan-
harapan masyarakat? Caranya dengan meneliti melalui koran/media. Media biasanya
bisamembentuk opini harapan masyarakat. Brown dan Deegan menyatakan bahwa liputan
media terhadap isu tertentu merupakan proxy hal-hal yang menjadi perhatian masyarakat.
Media Agenda Setting Theory. Semakin tinggi liputan media berkorelasi dengan tingginya
pengungkapan dalam laporan tahunan.
Teori legitimasi sangat mirip dengan political cost hypothesis yang ada dalam positive
accounting theory. Selain ada kemiripan, ada juga perbedaanya yaitu teori legitimasi tidak
berdasarkan pada asumsi ekonomi bahwa semua tindakan didorong oleh kepentingan pribadi
(maksimisasi kesejahteraan). Juga tidak menggunakan asumsi efisiensi pasar.
Pengungkapan publik di tempat-tempat seperti laporan tahunan, laporan keberlanjutan dan situs
Web yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan setiap strategi sebelumnya. Perspektif
diadopsi oleh banyak peneliti tanggung jawab sosial pelaporan. Ikhtisar sifat strategis laporan
keuangan dan pengungkapan terkait lainnya

Empirical tests of Legitimacy Theory

- Digunakan oleh banyak peneliti meneliti praktek pelaporan sosial dan lingkungan
- Digunakan untuk mencoba untuk menjelaskan pengungkapan
- Pengungkapan merupakan bagian dari strategi portofolio dilakukan untuk membawa
legitimasi atau mempertahankan legitimasi organisasi

Examples of empirical studies

Sebuahstudiawal yang
berusahamenghubungkanteorilegitimasiuntukkebijakanpengungkapansosialperusahaandilakukanole
hHogner (1982). Studi longitudinal besarnyapelaporansosialperusahaandalamlaporantahunan US
Steel Corporation selamadelapanpuluhtahun, dimulaipadatahun 1901, data
dianalisisuntuktahunkevariasitahun.
Hognermenunjukkanbahwatingkatpengungkapansosialbervariasidaritahunketahundaniaberspekulasi
bahwavariasidapatmewakilijawabanperubahanharapanmasyarakatatasperilakuperusahaan.
Patten (1992)Menguji perubahan tingkat pengungkapan lingkungan perusahaan minyak AS di sekitar
tumpahan minyak Exxon Valdez di Alaska. Teori legitimasi menyarankan bahwa mereka akan
meningkatkan pengungkapan dalam laporan tahunan setelah tumpah. Menemukan peningkatan
keterbukaan terjadi di seluruh industri

Deegan dan Rankin (1996)Teori Legitimasi digunakanuntuk menjelaskan perubahan kebijakan


pengungkapan laporan tahunan lingkungan sekitar waktupenuntutanterbukti. Perusahaan yang
dituntut mengungkapkan informasi secara signifikan lebih lingkungan pada tahun penuntutan
daripada tahun lain. Perusahaan yang dituntut untukmengungkapkan informasi lebih dari
perusahaan tidakdituntut

Deegan dan Gordon (1996)Meneliti objektivitas praktek pengungkapan lingkungan dan tren dari
waktu ke waktu, serta apakah pengungkapan lingkungan yang berkaitan dengan masalah kelompok
lingkungan. Menemukan pengungkapan meningkat dari waktu ke waktu terkait dengan keanggotaan
kelompok lingkunganmeningkat lingkungan.Pengungkapan kebanyakan positif.Hubungan positif
antara sensitivitas lingkungan industri dan pengungkapan

Gray, Kouhy dan Lavers (1995)Studi longitudinal pengungkapan sosial dan lingkungan 1979-1991 di
Inggristerkait tren untuk Legitimasi Teori, dengan referensi khusus untuk strategi Lindblom's

Deegan, Rankin dan Voght (2000)digunakan Legitimasi Teori untuk menjelaskan bagaimana
pengungkapan sosial dalam laporan tahunan berubah sekitar waktu insiden sosial utama atau
bencana

Brown dan Deegan (1998) menekankan peran media dalam membentuk ekspektasi masyarakat dan
menunjukkan bahwa pengungkapan perusahaan menanggapi perhatian media

Carpenter dan Feroz (1992)studi pada pilihan suatu kerangka akuntansiterkait dengan keinginan
untuk meningkatkan legitimasi organisasi

ContohPengujianEmpirisdariTeoriLegitimasi

 Deegan, Rankin danVoght (2000)


menggunakanteorilegitimasiuntukmenjelaskanbagaimanpengungkapansosialadadalam
annual report di sekitarwaktuperistiwautamaataubencanaterjadi.

Hasilpenelitiankonsistendenganteorilegitimasidanmenunjukkanbahwaperusahaannampakun
tukmengubahkebijakanpengungkapanmerekadisekitarwaktuutamadihubungkandengankejadiansosia
l.Penelitiberpendapatbahwahasiltersebutmenunjukkan:

◦ sifat strategic daripengungkapansosialsukareladan

◦ manajermempertimbangkanpengungkapansosialdalamlaporantahunansbgalat yang
bergunauntukmengurangipengaruhatasperusahaanpadakejadian yang
dirasatidakmenyenangkanuntuk image perusahaan.

 Pilihandarisebuahkerangkaakuntansidianggapberhubungandengankeinginanuntukmeningkat
kanlegitimasidarisebuahorganisasi.
Carpenter danFeroz (1992)
menyatakanbahwakeputusanpemerintahAmerikauntukmengadopsi GAAP
(sebagaipenentangmetodadariakuntansiberdasarkanpadaalirankasdaripada accrual)
adalahmencobauntukmendapatkankembalilegitimasidaripraktikmanajemenkeuanganAmerika.

 Legitimasiteorimengemukakanhubunganantarapengungkapanperusahaan
(danstrategiperusahaanlainnya) denganharapankomunitas.

Pengukuranharapankomunitas? → media

Pendapat Brown danDeegan (1999) dapatdiringkassebagaiberikut:

◦ Manajemenmenggunakanlaporankeuangantahunansebagaialatuntukmelegitimasiop
erasi yang terusberlanjutdariorganisasi (dariteorilegitimasi)

◦ Perhatiankomunitaspadakinerjalingkungandarisebuahperusahaanspesifik di
dalamsebuah industry
akanjugamempengaruhipadastrategipengungkapandariperusahaanpadaindustrinya
(konsistendengan Patten, 1992 yang mengadopsiteorilegitimasi)

◦ Media dapatuntukmempengaruhipersepsikomunitastentangisusepertilingkungan
(dari agenda media teori setting)

KesimpulanhasilpenelitianSemakintinggiperhatian media,
makasignifikansemakintinggipengungkapanlingkungandalamlaporankeuangantahunan.

 Preposisilegitimasiteorihampirmiripdengan Political Cost Hypothesis dalam Positive


Accounting Theory.

 Persamaan: Legitimasiteorimendasarkanpadaisusentraldari “kontraksosial”


sebuahperusahaandenganmasyarakatdanmemprediksibahwamanajemenakanmengadopsist
rategitertentu (termasukstrategipelaporan)
dalamtawaranuntukmenyakinkanmasyarakatbahwaorganisasimengikutidengannilaimasyara
katdannorma yang ada.

 Perbedaan:

◦ Legitimasiteoritidakmendasarkanpadaasumsi economic –based


bahwasemuatindakandarikepentinganindividu
(dikaitkandenganmemaksimalkankesejahteraansendiri)
danlebihmenekankanbagaimanaperusahaanadalahbagiandarisistemsosial di
manaperusahaanberoperasi.

◦ Legitimasiteoritidakmembuatasumsiberkaitandenganefisiensipasar, sepertipasark
modal danpasaruntukmanajer.

TEORI STAKEHOLDER

 Teori stakeholder berkaitandenganduaelemenyaitu:


1. Etika (moral) ataucabang normative
(dimanajugadieptimbangkansebagaisbeuahperspektif), dan

2. Cabangpositif (manajerial)

Dari keduaelemendiatassecaraeksplisitmempertimbangkanberbagaikelompok (dari stakeholder)


yang adadalammasyarakat, bagaimanaharapandarikelompok stakeholder
tertentudapatmempunyailebih (kurang) pengaruhpadastrategiperusahaan.
halinidapatmempunyaiimplikasibagaimanaharapan stakeholder
dipertimbangkandandikelolaolehperusahaan.

 Terdapatkesamaanantarateorilegitimasidenganteori stakeholder,
makatidaktepatuntukmembeda-bedakan, membuatsatuteoririvalnya.

DIMENSI ETIKA DARI TEORI STAKEHOLDER

 Perspektif moral (dan normative) dari stakeholder teorimenyatakanbahwasemua


stakeholder mempunyaihakuntukdiperlakukansecarawajarolehsebuahorganisasi,
danbahwaisu stakeholder power tidaksecaralangsungrelevan.

 Definsihakstakehokderoleh Freedman dan Reed (1983, p.91) yaituapapunkelompok yang


dapatdiidentifikasiatauindividu yang
dapatmempengaruhipencapaiansebuahtujuanorganisasi,
ataudipengaruhiolehpencapaiandarisebuahtujuanorganisasi.

 Clarkson (1995) membagi stakeholder kedalamstakeholder utamadan stakeholder


pendukung.

 Seluruh stakeholder (primary danpendukung) mempunyaihak minimum tertentu yang


tidakdapatdilanggarataudiabaikan. Dengan kata lain perspective
etikatersebutmenyatakanbahwasemua stakeholder
jugamempunyaihakuntukdiberikaninformasitentangbagaimanaorganisasimempengaruhi
stakeholder (mungkinmelaluipolusi, beasiswakomunitas, provisikaryawan,
inisiatifkeselematan, dll) meskipun stakeholder
sendirimemilihuntuktidakmenggunkaaninformasiersebut,
danmeskipunmerekatidakdapatmempunyaipengaruhlangsungpadakelangsunganhiduporgan
isasi

 Berkaitandenganhakterhadapinformasidapatmempertimbangkanpenelitian Gray, Owen an


Adams’ (1996) perspektifdariakuntabilitas yang digunakandalam model akuntabilitas.
Akuntabilitasberhubungandengantanggungjawabatautugas:

 Tanggungjawabuntukmenjalankantindakantertentu
(ataumenahandiridarimelakukantindakantertentu), dan

 Tanggungjawabuntukmenyediakanlaporandaritindakantersebut.

CABANG MANAJERIAL TEORI STAKEHOLDER


 Stakeholder
diidentifikasidenganmengacupadasejauhmanaorganisasiyakinbahwainteraksisetiapkelompo
kperludikelolauntukkepentinganorganisasi

 Perspektifmanajerialdariteori stakeholder
bahwaorganisasidianggapsebagaibagiandarisistemsosial yang lebihluas

 Harapanberbagaikelompok stakeholder
akanberdampakpadapengungkapankebijakanoperasionalorganisasi (Teorilegitimasi)

 Usaha untukmenjelaskanketikaManajemen Perusahaan


mungkinmenghadapikeinginansebagian stakeholder

 PUSAT ORGANISASI

 Identifikasi stakeholders olehorganisasi

 Kebutuhanmemperpanjanghubungankepercayaanorganisasiuntukmengaturminator
ganisasi

 InformasiAkuntansiKeuangandanInformasiKinerjaSosialadalahelemenutamadalammanajeme
n stakeholders

 Digunakanuntukmemperolehdukunganataupersetujuan

 Pengujian Empiris Teori Stakeholder


 Memanfaatkan teori stekholder untuk menguji kemampuan dari stakeholder berdampak
pada pengunkapan CSR. Roberts (1992) menemukan bahwa pegukuran pengaruh
stakeholder dan informasi yang berhubungan membutuhkan beberapa penjelasan
mengenai tingkat dan tipe pengungkapan sosial perusahaan.
 Neu, Warsene dan Pedwll (1998) juga mnemukan dukungan untuk pandangan
bahwa fakta-fakta stakeholder group dapat menjadi lebih efektif daripada yang lainnya pada
tuntuuan pengungkapan tanggungjawab sosial. Mereka meninjau laporan tahunan dari
jumlah publisitas Perusahaan Kanada yang beroperasi dalam lingkungan industri yang
sensitive dari tahun 1982 hingga 1991. Pengukuran korelasi telah terlihat antara
meningkatnya dan meurunnya pengungkpan lingkungan dan keprihatinan dari keterangan-
keterangan stakeholder group. Hasilnya terindikasi bahwa perusahaan akan lebih responsive
pada permintaan dan perhatian dari keuangan stakeholder dan regualator pemerintah
kemudian pada perhatian lingkungan. Mereka mempertimbangkan bahwa hasil mendukung
prespektif bahwa dimana perusahaan menghadapi situasi dimana stakeholder memiliki
konflik kepetingan atau ekspektasi, perusahaan akan memilih pada informasi yang tersedia
dari sifat legitimasi dan menjadi penting untuk bertahan pada organisasi .
 Teori stakeholder dari jenis-jenis “managerial” tidak secara langsung menyediakan
persepsi mengenai informasi apa yang harus diungkapkan daripada mengindikasi
ketentuan informasi, termasuk informasi dalam sebuah laporan keuangan, dapat, jika
dipertimbangkan dengan penuh pertimbangan, menjadi berguan unruk keberlanjutan
operasi dari bisnis entitas. Tentunya jika kita menerima pandangan dari dunia, kita akan
masih tertingaal dengan kesulitan masalah menetukan siapakah yang paling penting
(pengaruhnya) dari stakeholder, dan apa prespektif mereka dari permintann informasi
tersebut .
 Seperti yang telah dicatat organisasi secara khas memiliki banyak stakeholder
dengan berbagai ekspektasi tentang bagaimana organisasi harus beroperasi. Bagaimana
pandangan ini menjadi berbeda jika mengadopsi moral / prespektif etika dari teori
stakeholder ?
 Exhibit 8.4 berhubungan pada perdagangan penyatuan skeptic dari tanggung jawab
sosial dan lingkungan tuntutan dari beberapa perusahaan Inggris. Setelah membaca exhibit
kita dapat mempertimbangkan kembali apakah Perusahaan UK atau perusahaan eropa akan
menguraikan penyatuan perdagangan menjadi kekuatan stakeholder, dan jika mereka
mempertimbangkan, kita juga dapat mempertimbangkan bagaimana atau apakah
perusahaan UK ataueropa akan membuat pengungkapan yang khusus dari informasi untuk
menghilangkan perhatian penyatuan.
 Sabagai isu-isu penutup hal tersebut harus direalisasi daripada diskusi di atas kita
memiliki pertimbangan secara terpisah moral normative / prespektif etika dari teori
stakeholder sebaik managerial prespective dari teori stakeholder. Dengan berdiskusi secara
terpisah ini mungkin dapat menerangkan bahwa manajeman mungkin menjadi secara etis
atau secara moral sadar atau semata- mata berfokus pada kelangsungan hidup organisasi,
dimana prakteknya seperti menjadi rangkian kesatuan dari kemungkinan posisi antara dua
point absolute. Secara terpisah pertimbangan mempertimbangkan dua prespektif kita
memiliki pandangan parsial, tidak seperti bahwa manager dari beberpa perusahaan akan
pada satu atau lainnya dari kesatuan rangkaian yang ekstrim. Sebagai gantinya, manager
dari perusahaan akan dapat dibantah diarahkan dengan pertimbangan etis dan performa
berdasarkan pada keputusan tidak satu ataupun lainnya.
 Sekali lagi kita mendapat pandangan bahwa teori particular (dari akuntasni) dapat
menyedikan kita dengan hanya pandangan partial, dan sebab itu terkadang berguna unutk
mempertimbangkan wawasan yang disediakan oleh prespktif teritis yang berbeda. Satu
system tambahan diorientasikan prespektif teroitis, dimana hanya memiliki awal baru-baru
ini dimulai untuk diaplikasikan pada sebuah analisi dari keputusan suka rela pelaporan
perusahaan, yaitu Teori institusional
 Teori Institusioanal (Instutional Theory)
 Teori Institusioanal telah dikembangkan dalam literatur akademik manajemen lebih spesifik,
pada teori organisasi sejak akhir 1970an, oleh peneliti seperti Mayer dan Rowan (1997);
DiMagio dan Powell (1983); Powel dan DiMagio (1991); dan Zucker (1997,1987). Semenatra
hal tersebut menjadi pengaruh yang utama dan prespektif teoritis yang kuat dalam analisis
organisasi, hal ini juga diadopsi oleh beberapa peneliti akuntansi, seperti Covaleski dan
Dirsmith (1998); Broadbent, Jacobs, dan Laughlin (2000); dan Brignall dan Modell (2000)
menggunakan teori institusional. Hal ini juga digunakan beberpa peneliti yang memeriksa
aspek audit. Secara langsung berhubungan dangan teori akuntansi keuangan, Forgatry
(1992) mengaplikasikan teroi institusional untuk menganalisis proses pengaturan satandar
akuntansi. Dillard, Rigny, Goodness (2004. Hlm 504) menyatakan bahwa teori institusional
telah diaplikasikan pada penelitian akuntansi untun mempelajari praktik akuntansi dalam
organisasi.
 Alasan kunci mengapa teori institusional relevant pada peneliti yang
menginvestigasi prektek pelaporan akuntansi secara sukarela bahwa teori institusional
menyediakan prespektif yang melengkapi diantara teori stakeholder dan teori legitimasi,
dalan memahami bagaimana organisasi mengerti dan merespon perubahan sosial dan
tekanan dan ekspektasi institusional. Faktor lainnya, teori ini menghubungkan praktik
organisasi dalam nilai masyarakat dimana organisasi beroperasi, dan kebutuhan
mempertahankan legitimasi organisaii sesuai dengan yang diungkapkan oleh Dillard, Rigsby,
Goodman (2004,hlm 507) bahwa berdasarkan penelitian akuntansi menyarankan pentingnya
dari budaya sosial dan lingkungan dalam praktek akuntansi. Kegunaan praktek akuntansi
sebagai rasionalisasi dalam perintah untuk mengurus appereance dari legitimasi dan
kemungkinan decoupling praktek rasionalisais akuntansi dari teknis akrual dan proses
administrasi.
 Teori Institusional menyedikan penjelasan bagaimana mekanisme melalui organisasi
yang mana mungkin mencari untuk menyamakan presepsi dari praktek dan karakteristik
dengan nilai sosial dan budaya menjadi terinstitutionlay dalam organisasi yang khusus,
Seperti mekanisme dapat termasuk mengemukakan dari keduanya; teori satakeholder dan
atau teroi legitimasi, tetapi dapat secara masuk akal juga meliputi tingkat yang lebih luas
dari mekanisme legitimasi. Hal ini mengapa ketiga prespektif teoritis harus dilihat seperti
saling melengkapi dari pada dibandingkan satu dengan lainnya.
 Terdapat dua dimensi utama dari teori institusional. Pertama adalah isomorphism
dan yang kedua decoupling. Keduanya dapat menjadi pokok hubungan untuk menjelaskan
praktik pelaporan perusahaan secara suka rela. Dillard, Rigsby, dan Goodman (2004)
Isomorphism direferensikan pada adatasi praktik institusional oleh sebuah organisasi.
Sebagai perusahaan sukarela melporkan oleh praktek institusional bahwa pelaporan
organisasi,proses dimana suka rela pelaporan perusahaan mengadaptasi dan merubah
bahwa organisasi melaksankan proses isomorphic.
 Proses isomorphic pertma dimana organisasi hanya akan merubah praktek
institusional mereka dikarenakan tekanan dari stakeholder pada siapa organisai bergantung.
Proses ini berkaitan dengan cabang managerial dari teori stakeholder. Perusahaan akan suka
rela melaksankan pelaporan berdasarkan pada pengaruh stakeholder dalam prektik
pelaporannya dimana didalamnya terdapat ekspektasi dan permintaan dari stakeholder yang
memiliki pengaruh pada perusahaan. Proses kedua dalam isomorphic, melibatkan organisasi
mencari untuk berusaha menyamai atau mengembangkan praktek intitusioanal dari
organisasi lain, seringkali untuk alasan keunggulan kompetitifndalam ketentuan dari
legitimasi. Seperti Unnerman dan Bennett (2004 hlm 692) menyatakan beberapa penelitian
teori institusional mengandposi kebijakan baru dan prosedur yang sama dimana diadopsi
oleh perusahaan yang memimpin dalam sector tersebut. Proses isomorphis terakhir
dijelaskan oleh DiMaggio dan Powell (1983) yaitu normative isomorphism. Hal ini
menghubungjan tekanan yang muncul dari kumpulan norma untuk mengadosi praktek
institusional yang khusus.. Dalam kasus pelaporan perusahaan, ekspetasi dari professional
bahwa akuntan akan patuh terhadap satandar akuntansi. Dalam ketentuan pengungkapan
perusahaan secara sukarela tekanan normative isomorphism dapat menimbulkan
kuranganya pengaruh formal group dari rentang both formal dan informal group , dimana
dimilki manager.(pengaruh budaya dan praktik kerja dikembangkan dalam tempat kerja
mereka).
 Selanjutnya pada decoupling mengindikasikan bahwa sementara manager mungkin
merasa kebutuhan untuk organisasi mereka untuk terlihat mengadosi praktek instituisonal
yang pasti dan mungkin proses formal intitusi bertujuan mengimplemenatsaikan praktek
tersebut, praktek actual organizational dapat menjadi sangat berbeda pada perstujuan
secara formal dan secara publik melafalkan proses dan praktek. Ini dapat dihubungkan
dengan pandangan dari teori legitimasi dimana pengungkapan sosial dan lingkungan dapat
digunakan membangun image organisasi sangat berbeda dengan apa yang sebenarnya dari
sisi performa sosial dan lingkungan.
 Kesimpulan:
 Pada bab ini menyediakan jumlah prespektif mengapa manajemen memelih untuk membuat
pengungkapan terpisah. Secara spesifik ini meninjau teori legitimasi, teori stakeholder, dan
dengan singkat muncul teori institusional – ketiga teori diklasifikasikan sebagai system yang
berorientasi teori, dilihat sebagai bagian dari system sosial yang lebih luas.
 Teori legitimasi, teori stakeholder dan teori instituisonal semuanya berhubungan pada teori
politik-ekonomi dimana ilmu ekonomi politik merupakan kerangka sosial, politik, dan
ekonomi didalamnya dimana kehidupan manusia mengambil tempat dan sosial, politik dan
ekonomi isu dipertimbangkan sebagai sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Teori ekonomi
politik dapat diklasifikasin sebagai sesuatu yang klasik. Teori Legitimasi dan Teroi stakeholder
mengadopsi prespektif Bourgeois. Teori Institusional mengadopsi Prespektif klasik ataupun
Bourgeois.
 Teori legitimasi bergantung pada gagasan kontrak sosial, dimana kontrak menyiratkan
penggambaran norma dan ekspektasi dati komunitas dimana organisasi beroperasi. Sebuah
organisasi mempertimbangkan untuk menjadi sah untuk menyampaikan bahwa hal tersbut
memnuhi syrat dari kontrak sosial. Legitimacy dan hak untuk beroperasi. Pengungkapan
akuntansi mematuhi perwkilan dimana menggambarkan satu cara dimana organisasi dapat
mengesahkan dan keberlanjutan operasi. Dimana legitimasi terancam, pengungkapan
adalah salah satu cara mengembalikkan legitimasi, dalam prakteknya. Kebijakan untuk
memlihara atau mengembaliakn legitimasi perusahaan kadang diucapkan pada syarat dari
resiko reputasi manajemen.
 Dua kategori teori stakeholder telah direview. Hal ini menjadi ethical branch (atau
normative) dan managerial branch. Etichal branch dari toeri stakeholder mendiskusikan isu-
isu yang terkumpul dengan hak pada informasi, hak dimana harus dipertemukan tanpa
memperhatikan pengaruh keterlibatan stakeholder. Mangerial branch dari teori stakeholder
memprediksikan bahwa organisasi akan cenderung umtuk memuaskan permintaan
informasi dari stakeholder yang memiliki pengaruh dalam kelangsungan hidup perusahaan.
Menambah keterangan-keterangan, stakeholder menerima informasi akan bergantung
terhadap bagaimana pengaruh mereka, dengan pengaruh seringkali mempertimbangkan
syarat dari kekurangan sunberdaya yang dikontrol oleh masing-masing stakeholder.
Pengungkapan informasi dipertimbangkan untuk menggambarkan strategi penting dalam
mengelola para stakeholder.
 Teori Institusional menyediakan pelengkap dan secara khusus melengkapi, prespektif teori
legitimasi dan teori stakeholder. Teori ini menjelaskan bahwa manajer akan menjadi subjek
untuk menekankan perubahan atau mengadosi, beberapa praktik-praktik pelaporan suka
rela perusahaan. Tekanan ini dapat menjadi memaksa, meniru-niru, atau berdasarkan norma
dan hasil gambaran institusional terkadang menjadi terlihat lebih nyata daripada aslinya.