Anda di halaman 1dari 8

Pastor Paroki RD.

Robertus Eeng Gunawan,


Pastor Vikaris RD. Yustinus Joned Saputra
&
Dewan Pastoral Paroki & Dewan Keuangan Paroki
HARI RAYA NATAL Nomor: 05 Th. XXI Senin, 25 Desember 2017

mengucapkan

Kepada seluruh umat


Paroki St. Thomas Kelapa Dua Depok

SINTER KLAS DAN SANTA KLAUS


Sekarang orang-orang Katolik Indonesia (khususnya di perkotaan)
merayakan Sinter Klas, tetapi samakah dengan tokoh Sinter Klas yang
dirayakan oleh generasi sebelum tahun 1970an? Dari mana datangnya
perayaan ini? Adakah kaitannya dengan Hari Raya Natal, perayaan dan
pesta kelahiran Tuhan Yesus?

Sinter Klas
Kita mengenal Sinter Klas dari orang-orang Belanda yang dahulu
halaman 1

menjajah kita. Berbeda dengan Santa Klaus yang sekarang ini begitu laku
gegap gempita, Sinter Klas dirayakan pada tgl 6 Desember. Nama Sinter
Klas ini berasal dari Santo Nikolaus, seorang uskup abad-abad pertama
Masehi di Turki. Tokoh ini dilukiskan sebagai seorang yang bermurah hati,
khususnya suka memberi hadiah-hadiah kepada anak-anak yang berperilaku
baik. Waktu Perang Salib, para serdadu Perang Salib dari Italia merampas
kuburan Santo Nikolaus ini, dan kerangka yang penting-penting beserta harta
perhiasan dibawa ke Italia dan mereka membangun sebuah katedral besar di
Bari untuk menghormati Santo Nikolaus ini. Tulang belulang kerangka
tubuhnya dimakamkan di dalamnya. Katedral megah ini masih ada sampai
sekarang. Kelompok Perang Salib yang lain mengambil sisa-sisa kerangka
yang ditinggalkan kelompok pertama itu dan membawanya ke Italia. Mereka
pun mendirikan sebuah gereja besar di dekat Venetia untuk menghormatinya.
Sinter Klas yang dirayakan di Belanda (dan Jerman) dan kemudian masuk ke
Indonesia ini, digambarkan sebagai seorang tua berkumis lebat dan
berjenggot panjang yang sudah berwarna putih. Sosok tubuhnya pun gendut,
tapi murah senyum dan tawa dan menyapa anak-anak dengan seruan “Ho ho
hoooo!”.
Diceriterakan kepada anak-anak, bahwa Sinter Klas ini mencatat
tingkah laku semua anak-anak sepanjang tahun. Anak-anak yang baik akan
memperoleh hadiah yang diinginkan dan diminta kepada Sinter Klas ini, tetapi
anak-anak yang berperilaku tidak baik, belum tentu mendapatkan hadiah,
atau hanya memperoleh hadiah kecil-kecil saja. Hadiah-hadiah ini akan
diberikan pada tanggal 5 malam oleh pembantu Sinter Klas yang bernama Pit
Hitam (Zwarte Piet). Karena rumah-rumah di Belanda itu tertutup rapat, tidak
ada lubang sama sekali, maka Pit Hitam ini masuk ke dalam rumah melalui
cerobong asap (semua rumah Belanda waktu itu mempunyai cerobong asap
untuk mengalirkan asap dari tungku pemanas yang memanaskan ruang
duduk rumah itu). Hadiah-hadiah dari Sinter Klas itu akan dimasukkan ke
dalam kaus kaki anak-anak itu. Karena itu, pada tanggal 5 Desember sore
hari anak-anak menggantungkan kaus kaki sebesar mungkin supaya Pit
Hitam bisa memasukkan hadiah yang bagus-bagus dan besar. Pada malam
itu anak-anak harus tidur pada waktunya, yakni jam 7 malam dan tidak boleh
bangun lagi, supaya Pit Hitam dapat memasukkan semua hadiah yang bagus
-bagus dari Sinter Klas. Kalau ada yang bangun, Pit Hitam akan lari, karena
takut dituduh pencuri, dan tidak sempat memasukkan hadiah-hadiah yang
dibawanya.
Karena anak-anak sudah pergi tidur dan tidak akan kembali lagi, maka
ibu mereka dengan leluasa dapat memasukkan hadiah-hadiah yang diminta
itu ke dalam kaus kaki masing-masing anak yang digantungkan dekat tungku
pemanas kamar itu.

REDAKSI■Penanggung Jawab: DPP Paroki St. Thomas - Komsos ■Penasihat: RD. Yustinus
Joned S ■Koordinator: K.Tatik ■ Pelaksana: Sekretariat Paroki ■Sirkulasi/Iklan: Pieter Fernandez -
0218715526 ■Email : warta@thomas.keuskupanbogor.or.id.
halaman 2

Tim Warta menerima sumbangan tulisan berita/non berita dengan maksimum panjang tulisan 2000 karakter
termasuk spasi dikirim via email paling lambat hari Rabu. Tim Warta berhak mengedit tulisan atau tidak
menerbitkan jika mengandung SARA atau bertentangan dengan Etika, Moral, Hukum dan HAM.
Pada tanggal 6 Desember pagi hari, anak-anak tidak boleh bangun
sendiri dan pergi mengambil hadiah. Mereka harus menunggu dibangunkan
oleh orang tuanya. Berdoa terlebih dahulu, bersyukur kepada Tuhan. Baru
kemudian bersama-sama menuju ke ruang duduk dan dengan tenang
mengambil kaos kaki yang sudah berisi hadiah-hadiah itu. Di dalamnya ada
surat kecil dari Sinter Klas yang berisi nasihat-nasihat, teguran, dan lain-lain.
Sebenarnya yang menulis surat ini juga ibu dan ayahnya sendiri. Dengan
penuh perhatian anak-anak itu mendengarkan apa yang ditulis oleh Sinter
Klas itu. Ibu dan ayahnya pastilah menekankan berbagai hal, supaya anak itu
memahami dan menaatinya. Demikianlah sebenarnya cara pengajaran moral,
budi pekerti, dan perilaku kepada anak-anak itu.
Di Belanda, kedatangan Sinter Klas ini (waktu saya berada di sana
pada tahun 1972-1977) merupakan peristiwa nasional, bahkan pernah
disiarkan langsung oleh TV Belanda. Sinter Klas beserta Pit Hitam dan teman
-temannya naik kapal kuno masuk ke pelabuhan Amsterdam, disambut
dengan upacara meriah bagaikan menyambut kedatangan seorang raja.
Dengan mata yang terbuka lebar, mulut ternganga, hati berdegup penuh
pengharapan, anak-anak melihat sosok Sinter Klas, dan khususnya Pit Hitam
yang membawa kantung besar sekali di punggungnya, berisi hadiah-hadiah
untuk “saya”.
Menjelang tanggal 6 Desember semua toko-toko, apalagi yang besar,
di Belanda memajang segala sesuatu yang berhubungan dengan Sinter Klas
dalam jendela etalasenya. Tanggal 7 pagi semuanya sudah berubah total.
Semua etalase sudah memamerkan segala sesuatu yang ada kaitannya
dengan Perayaan Natal.
Karena itu dalam perayaan Natal, apalagi sesudahnya, tidak disinggung
sama sekali nama Sinter Klas, apalagi sosoknya. Karena memang tidak ada
kaitannya.

Santa Klaus
Perayaan Santa Klaus ini berasal dari Amerika Serikat dan melanda ke
seantero dunia. Di Indonesia kita rasakan setelah perayaan atau pesta Sinter
Klas (ala Belanda) itu nyaris mati. Generasi akhir abad 20 tidak mengenal
pesta Sinter Klas dan Pit Hitam 6 Desember itu. Paling-paling hanya pernah
mendengar dari generasi sebelumnya nama Sinter Klas dan Pit Hitam. Kapan
dan bagaimana dirayakan juga tidak diketahui lagi.
Melalui jalur bisnis, didukung dengan alat komunikasi yang semakin
canggih, Santa Klaus pun memasuki atmosfir Indonesia. Segala-galanya
merupakan fotokopi saja dari apa yang terjadi di negara asalnya: Amerika
Serikat, yakni: muncul bersamaan dengan Hari Natal, dengan kendaraan
salju yang ditarik oleh empat (atau lebih) ekor rusa bertanduk. Bahkan kereta
beserta rusa dan Santa Klaus disertai Pit Hitam itu melesat melunjuri salju,
bahkan bagaikan terbang ke atas. Dengan sendirinya diiringi dengan
halaman 3

dentangan bel-bel besar yang bergantungan pada leher dan kereta itu
sendiri. Lagu “Jingle bells” melukiskan lewatnya Santa Klaus ini, melesat
cepat di atas hamparan salju, disertai dengan dentangan bel.
Sosok tubuh dan pakaian Santa Klaus ini pun persis sama dengan
tokoh Sinter Klas asal Belanda itu. Karena itu, di Indonesia orang-orang tanpa
ragu sedikit pun menyebut tokoh ini dengan nama Belanda: Sinter Klas.
Padahal keduanya sama sekali berbeda.
Dari mana asal usul Santa Klaus ini? Diceriterakan (dalam dongeng)
bahwa tempat tinggalnya ada di kutub utara. Pada Hari Natal datang ke
Amerika Serikat (kemudian disebarkan ke seluruh dunia!) untuk memberikan
hadiah-hadiah kepada anak-anak khususnya. Sama dengan Sinter Klas,
Santa Klaus ini juga mencatat kelakuan anak-anak sepanjang tahun.
Jadi, para pembaca yang budiman, Santa Klaus (atau Sinter Klas bagi orang
Indonesia) yang dirayakan besar-besaran di kalangan bisnis Indonesia ini
sama sekali tidak ada kaitannya dengan Natal sebagai pesta dan hari raya
Kelahiran Yesus Kristus.
Adegan-adegan dan dekor latar belakang yang ditampilkan juga persis
seperti yang terjadi di Amerika Serikat, lengkap dengan saljunya. Karena itu
sebenarnya fenomena Santa Klaus ini tidak sesuai dengan alam Indonesia.
Mana ada salju di Indonesia!? Tetapi karena gegap gempita dan meriah dan
semuanya itu dijejalkan ke benak masyarakat Indonesia melalui semua jalur
komunikasi, hasilnya orang Indonesia pun tanpa sadar menirunya dan
menganggap gejala Santa Klaus (Sinter Klas) ini berkatian erat dengan hari
Natal sebagai Kelahiran Yesus Kristus. Sesuatu yang salah besar. Bahkan
ada yang menyamakan Natal itu dengan kedatangan Santa Klaus (Sinter
Klas), lengkap dengan saljunya. Persis seperti di Amerika Serikat.
Lihat saja di arena Mal-mal, pasti ada Sinter Klas dengan kereta yang ditarik
kijang-kijang melesat, bahkan ke arah langit. Megah, meriah, mewah, dan
tentu menarik banyak orang, sangat serasi sebagai latar belakang narsis:
selfie, wefie.

Kandang, pohon Natal dan Sinter Klas


Tradisi Gereja Katolik yang sudah berlangsung minimal delapan abad
(berasal dari St. Fransiskus Asisi) dalam merayakan Hari Kelahiran Yesus
Kristus adalah Kandang Natal, yang menampilkan adegan kelahiran Yesus
Kristus pada malam hari di kandang hewan di pinggiran Bethlehem.
Orang-orang Protestan tidak mempunyai tradisi Kandang Natal, tetapi
mereka mempunyai tradisi Pohon Natal yang juga berasal dari Eropa lewat
Belanda. Dahulu, sampai tahun 1970an, pada Hari Natal orang dapat dengan
pasti tahu keluarga ini Katolik atau Protestan. Kalau ada Kandang Natal, pasti
Katolik. Kalau ada pohon Natal ya pasti Protestan. Sekarang hal ini semakin
rancu, karena ornamen pohon Natal ini semakin merasuki alam hidup orang
Katolik. Bagaimana tidak, membuat Kandang Natal itu tidak mudah, perlu
banyak patung yang beraneka ragam. Harus dibangun kandang dan
sebagainya. Sedangkan Pohon Natal lebih mudah. Apalagi tersedia pohon
Natal dari plastik. Ornamen dan pernik-pernik lain pun semakin tersedia dan
halaman 4

nampak indah-indah.
Tetapi apakah makna dari Pohon Natal itu dalam hubungannya dengan
Natal Kelahiran Yesus Kristus? Nyaris tidak ada. Mengapa?
Aslinya Pohon Natal itu dibuat sungguh dari pohon satu-satunya yang
berdaun selama musim dingin pada 25 Desember itu: pohon pinus atau
cemara. Semua pohon di Eropa yang lain tidak berdaun, pada gugur semua.
Karena itu Pohon Natal yang dibuat dari pohon cemara itu melambangkan
Kristus yang kuat dan kokoh di tengah badai kehidupan. Tetapi untuk orang
Indonesia, perlambangan semacam ini kan jauh sekali jangkauannya. Nyaris
semua pohon di Indonesia tidak pernah ada yang daunnya gugur sampai
habis. Lalu apa hebatnya pohon cemara? Lambang itu pun mati. Apalagi
kalau pohon itu dibuat dari plastik! Semakin omong kosong. Seorang teman
yang beragama lain pernah bertanya kepada saya “Mengapa orang Kristen
Indonesia tidak menggantinya dengan pohon beringin? Lebih kokoh dan
megah daripada pohon cemara!”
Lihat lagi apa yang ada di bawah pohon itu. Terdapat kardus-kardus,
atau kotak-kotak hadiah tertata rapi, warna warni. Sungguh-sungguh hadiah?
Tidak juga, karena hanya kosong, bohong-bohongan, lambang saja.
Sehingga apa yang dinamakan Pohon Natal itu, memang kelihatan indah,
penuh pernak-pernik, dengan lampu kelap-kelip.... Tetapi tidak melambang-
kan apa pun dalam rangka Hari Raya Natal. Kalau pohon itu sendiri juga
dibuat dari plastik, maka kekosongan makna itu lengkap sudah.
Karena itu, kalau sampai dalam sebuah gereja Katolik sampai ada
hiasan pohon Natal tanpa Kandang Natal, maka penghayatan Natal sudah
sangat hambar, hanya menunjukkan ketidaktahuan Panitia (beserta
Pastornya!) akan makna Natal, Kandang Natal dan Pohon Natal. Sangat
menyedihkan. Saya menjadi semakin jengah, kalau melihat pohon itu masih
ditambahi dengan tebaran kapas putih-putih yang, katanya, gambaran salju.
Perayaan Natal Indonesia kok ada salju! Di Betlehem juga tidak ada salju!
Kalau sampai Sinter Klas juga masuk ke dalam gereja, maka suasana aneh
bin ajaib lah yang sudah terjadi!

Lagu-lagu “Natal”
Lagu berbahasa Inggris yang sangat terkenal dalam suasana Natal
adalah Jingle Bells. Artinya: Lonceng, atau bel yang berdentangan. Bukan
lonceng gereja, tetapi lonceng atau bel pada kereta Santa Klaus. Pernah di
dalam gereja St. Paulus, Depok sekelompok koor sedang latihan
mempersiapkan diri untuk Natal dan mereka sedang berlatih lagu Jingle Bells.
Saya tidak bisa menahan diri untuk masuk dan bertanya, untuk dinyanyikan
kapan lagu ini? Dirigen menjawab “Penutup Ekaristi Malam Natal, Romo.
Boleh ‘kan?” Lalu saya terangkan lagu apa Jingle Bells itu, yang adalah lagu
untuk melukiskan kedatangan Sinter Klas Amerika itu melaju di atas salju,
ditarik rusa (kuda juga boleh!) dengan bel dan lonceng yang berdentangan.
Sinter Klas itu tokoh fiksi yang katanya tinggal di Kutub Utara, dan datang ke
Amerika untuk memberi hadiah kepada anak-anak. Kebetulan itu terjadi
bersamaan dengan perayaan Natal. Jadi tidak ada kaitannya dengan
halaman 5

kelahiran Yesus Kristus. Suasananya pun tidak sesuai dengan Indonesia,


termasuk Depok ini! Jadi tidak boleh dinyanyikan sebagai lagu keagamaan,
apalagi dalam Misa (kendati sebagai lagu Penutup). Lagunya memang enak
dan ceria. Kalau dinyanyikan di lapangan dengan jingkrak-jingkrak ya boleh-
boleh saja. Tapi kalau dinyanyikan dalam kaitannya merayakan Natal
Kelahiran Yesus (misalnya dalam Natal di keluarga, lingkungan dsb), tentu
saja tidak bisa.
Lagu kedua yang sangat terkenal adalah I Am Dreaming of A White
Christmas. Natal di Amerika tempat asal usul lagu ini, biasanya dalam
keadaan alam yang bersalju. Segala sesuatu menjadi putih tertutup salju,
karena itu muncul istilah White Christmas. Mengapa kok bermimpi akan
White Christmas?
Lagu ini dinyanyikan pertama kali oleh Bing Crosby pada 25 Des 1941
di Kraft Music Hall. Lagu yang melankolis ini melukiskan impian seorang yang
merayakan Hari Natalnya jauh dari Amerika, di tempat tidak ada salju.
Dibarengi dengan rasa rindu pada sanak keluarga (Hari Natal adalah hari
pertemuan para anggota keluarga), maka lengkaplah sudah ”penderitaan
hati” rasa rindu ini. Adegan terkenal, katanya, sewaktu Bing Crosby diundang
ke salah satu kapal perang Amerika di tengah Lautan Pasifik dalam Perang
Dunia II. Meledaklah kerinduan hati para serdadu pada keluarga di rumah,
yang sudah berbulan-bulan ditinggalkan, dan sedang merayakan Natal dalam
alam penuh salju.... Tak seorang pun mampu menahan tangisnya....
Sekali lagi, I Am Dreaming of A White Christmas, pun tidak ada
kaitannya dengan kelahiran Yesus Kristus. Indah, tapi bukan lagu Natal
dalam arti merayakan kelahiran Yesus Kristus. Kita boleh saja
menyanyikannya dengan leluasa, asalkan tidak dalam perayaan keagamaan,
apalagi Ekaristi.

Penutup
Pohon Natal nan indah, Sinter Klas yang bawa hadiah, Jingle Bells yang
semarak gembira ria, I Am Dreaming.... yang menyentuh hati, tentu saja tidak
dilarang dipergunakan. Boleh-boleh saja. Juga bagi orang Katolik. Tetapi
harus diketahui maknanya: sekadar sebagai hiasan kesemarakan lahiriah.
Sekedar ornamen yang membuat suasana ceria.
Tetapi bukan ungkapan penghayatan
keagamaan, apalagi mengungkapkan rahasia
kelahiran Yesus Kristus. Kedudukannya setara
dengan nikmatnya masakan opor ayam yang
dimasak pada perayaan Hari Raya Natal.

Depok, 14 Desember 2017


Alfons S. Suhardi, OFM
halaman 6
Hari/tanggal Pukul Keterangan
Ibadat kreatif anak di Aula
1. Dihimbau kepada anak-anak yang akan mengikuti
Senin, 25 Des perayaan Natal harap membawa peralatan sendiri
09.00
untuk menghias kartu Natal
2. Membawa kado Natal untuk Bayi Yesus yang nantinya
akan diserahkan ke Panti Asuhan.
Senin, 01 Jan 08.00 Misa Hari Raya Santa Perawan Maria & Tahun Baru 2018

Sabtu, 06 Jan 09.00 Misa Natal Lansia dilanjutkan ramah tamah di Aula

Minggu, 07 Jan 20.00 Penghitungan amplop AAP (Wil. IX, Panitia, Bend. DPP)

Hari/Tanggal Pkl. Koor Pemandu Umat BUNGA

SABTU, 30/12 18.00 REALINO W4 WILAYAH 2

MINGGU,31/12 06.00 THERESIA W7 WILAYAH 3 THERESIA

MINGGU, 31/12 08.00 SUSTER PRR WILAYAH 1


W7
MINGGU,31/12 18.00 DIRIGEN UMAT OMK W5

PERWAKILAN YAYASAN MARDI YUANA


PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU
TAHUN PELAJARAN 2018/2019
Jalan Cempaka No. 5, Telp./ Fax 021-7761065—DEPOK 16431
===================================
Informasi selengkapnya dapat menghubungi unit :

PG/TK Mardi Yuana : 021. 77203791 (08 Jan—20 Jan )


SD Mardi Yuana : 021. 7520091 (08 Jan—20 Jan )
halaman 7

SMP Mardi Yuana : 021. 7761066 (08 Jan—13 April)


SMA Mardi Yuana : 021. 7522036 (08 Jan—28 April)
Baptis Anak Bulan JANUARI 2018
BAPTIS ¨ Minggu II : 07 Januari 2018 , WAJIB Rekoleksi orangtua & Wali baptis
BAYI
pukul 10.00 di ruangan Aula Atas
¨ Minggu III : 14 Januari 2018 , Baptisan Bayi pukul 10.00 di Gereja

LEGIO Bagi umat paroki St. Thomas yang akan bergabung bersama Legio Maria dalam
tugas kerasulan. Rapat setiap hari Kamis pukul 17.00 & Sabtu pukul 10.00
MARIA
di Aula atas CP : Bapak Yos Beda (0896 1101 3188)

KEP Panitia KEP angkatan X telah membuka pendaftaran baru dan membuka
stand penjualan mantila di depan aula. Pendaftaran setiap hari Minggu
setelah misa. Cp Pak Taru : 0812 9403 7955
KPP di Paroki St.Thomas Kelapa Dua
KPP Pendaftaran
- Jumat, 23 Februari pukul 19.30
di sekretariat Paroki
- Sabtu, 24 Februari pukul 08.00—17.00
- Minggu, 25 Februari pukul 10.00—17.00
Hari Perkawinan Sedunia 2018 Keuskupan Bogor akan dilaksanakan hari
SKK
Minggu, 11 Februari pukul 10.00 di gereja Maria Bunda Segala Bangsa
Kota Wisata. Perayaan Ekaristi akan dipersembahkan oleh Mgr. Paskalis
Bruno Syukur OFM. Info lengkap ke seksi kerasulan keluarga paroki
(Pak Taru : 0812 9403 7955)

Rahasia kebahagiaan ialah belajar hidup dengan segala keterbatasan kita, entah itu
keterbatasan fisik, keuangan, ataupun lingkungan.
Yang penting bukanlah Anda memiliki kemampuan kecil atau besar, memiliki satu
atau sepuluh bakat. Yang penting adalah apa yang Anda lakukan dengan
kemampuan dan bakat Anda itu. (Inspiration for Living)

PENGUMUMAN PERKAWINAN
#1

· Adrian Herbudi Pamungkas dari lingkungan St. Aloysius dengan Astri Prawitasari
dari Tlogosari Kulon Peturungan Semarang
#2

· Vilensius Adityan Iguh Sasmito dari Lingkungan St. Gregorius Agung dengan Rachel
Maharani Dian Cempaka dari Paroki St. Keluarga Kudus Atmodirono Semarang.
#3
halaman 8

·
Bagi umat yang mengetahui adanya halangan atas rencana perkawinan tersebut,
WAJIB memberitahukan kepada Pastor Paroki.