Anda di halaman 1dari 3

STRATEGI MEMBANGUN KOMPETENSI FUNGSI RESKRIM POLRIDALAM RANGKA MENINGKATKAN

KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

I.PENDAHULUAN.

1.Latar Belakang.Tujuan Renstra Polri 2005-2009 adalah membangun kepercayaan (

trust

) darimasyarakat dengan menjadikan Polri sebagai organisasi yang peduli dan kredibel

.Seiringdengan berakhirnya tahun 2009 sebagai tahun terakhir penentuan pencapaian


Renstradimaksud, Polri akan melaksanakan tahapan “Membangun Polri sebagai Penegak
Hukumterdepan didukung komponen masyarakat dan aparat penegak hukum”

yang harusdidukung dengan segala daya dan upaya oleh seluruh tingkat kesatuan mulai dari
MabesPolri sampai dengan tingkat Polsek sebagai ujung tombak operasional.Fungsi Reskrim sebagai
salah satu unsur pelayanan Polri di bidang penegakan hukummemiliki beban yang cukup berat
dalam mewujudkan sasaran Renstra tersebut karenadihadapkan pada keterbatasan sumber daya
pada fungsi Reskrim dan realitas dukungan pemerintah terhadap pemenuhan kesejahteraan
personel yang relatif belum memadaisehingga masih memungkinkan terjadinya penyimpangan
seiring dengan pelaksanaankegiatan penyelidikan dan penyidikan. Menurut catatan Komisi
Kepolisian Nasional

(Kompolnas)

, sepanjang tahun 2008, pengaduan masyarakat paling banyak berdasar satuanfungsi Polri jatuh
pada fungsi Reskrim yaitu berjumlah 296 pengaduan. Dari lima hal yangdiawasi oleh Kompolnas
selaku lembaga independen yang mengawasi kinerja Polri, yaitu penyalahgunaan wewenang,
diskriminasi, pelayanan buruk, diskresi yang keliru dankorupsi, jumlah terbanyak pengaduan
masyarakat terhadap Polri tersebut terfokus pada duahal, yaitu mengenai penyalahgunaan
wewenang dan pelayanan yang buruk

.Belum lagidata yang dimiliki oleh Ombudsman RI bahwa sepanjang tahun 2008, telah terjadi
pengaduan masyarakat yang tidak puas terhadap kinerja Polri yang mencapai prosentasesebanyak
30,73 % dari jumlah keseluruhan 1.244 pengaduan masyarakat terhadap kinerjainstansi pemerintah

. Namun demikian, publik, baik nasional maupun internasional,memiliki apresiasi tersendiri terhadap
Polri atas keberhasilannya mengungkap “kasus-kasus besar” seperti pengungkapan kasus-kasus
terorisme (Bom Bali 1 dan 2, Bom KedubesAustralia, Bom Hotel J.W. Marriot 1 dan 2, dan lain-lain),
kasus produksi narkoba (pabrik narkoba Cikande, Banyuwangi, Surabaya dan lain-lain), dan lain-lain.

1
Peraturan Kapolri No. Pol. : 9 tahun 2007 tanggal 26 April 2007 tentang Rencana Strategis Polri
Tahun 2005-2009 (Perubahan).

Surat Edaran Kapolri Nomor : SE / 1 / I / 2008 tanggal 18 Januari 2008 tentang Pedoman
Perencanaan Kapolri Tahun 2009.

Diakses dari situs : http://www.surya.co.id/2009/01/21/kompolnas-reskrim-masih-banyak-


dikeluhkan.html

,tanggal 23 Oktober 2009.

Diakses dari situs : http://www.ombudsman.go.id/index.php/berita/items/catatan-ombudsman-


polisi-paling-banyak-dilaporkan.html

,tanggal 23Oktober 2009.

Dengan berbagai kekurangan yang ada, sementara kinerja fungsi Reskrim tetapdituntut untuk
memberikan hasil yang prima dalam melayani publik terkait dengan bidang penegakan hukum, maka
melalui

paper

ini, penulis mencoba melakukan analisa terhadapfaktor-faktor sumber daya manajemen

pada fungsi Reskrim meliputi unsur orang

(men),

anggaran

(money),

peralatan

(material),

teknik dan taktik

(method)

serta pengguna jasa pelayanan fungsi Reskrim


(market)

beserta fungsi manajemennya

yang meliputi unsur perencanaan

(planning)

, pengorganisasian

(organizing)

, pelaksanaan

(actuating)

dan pengendalian

(controlling)

. Tujuan dari analisa dimaksud adalah mengidentifikasi kondisiriil fungsi Reskrim saat ini sehingga
diketahui faktor-faktor yang menghambat optimalisasikinerja fungsi Reskrim. Hasil dari identifikasi
tersebut selanjutnya akan digunakan sebagailandasan dalam menyusun suatu strategi guna
membangun kompetensi fungsi Reskrimsecara optimal dalam rangka meningkatkan kualitas
pelayanan publik.2.Permasalahan.Berdasarkan uraian diatas, yang menjadi permasalahan dalam
pembahasan NKP iniadalah : “Bagaiman