Anda di halaman 1dari 26

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CHF

1. DEFINISI
Gagal jantung Kongsetif adalah ketidakmampuan jantung untuk
memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi
jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau
disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Smeltzer & Bare, 2001).
Kegagalan jantung kongestif adalah suatu kegagalan pemompaan (di mana
cardiac output tidak mencukupi kebutuhan metabolik tubuh), hal ini mungkin
terjadi sebagai akibat akhir dari gangguan jantung, pembuluh darah atau
kapasitas oksigen yang terbawa dalam darah yang mengakibatkan jantung
tidak dapat mencukupi kebutuhan oksigen pada erbagai organ (Ni Luh Gede
Yasmin, 1993).
Gagal jantung kongestif atau congestive heart failure (CHF) adalah
kondisi dimana fungsi jantung sebagai pompa untuk mengantarkan darah yang
kaya oksigen ke tubuh tidak cukup untuk memenuhi keperluan-keperluan
tubuh.
Jadi gagal jantung kongestif merupakan suatu kegagalan jantung dalam
memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

2. ANATOMI FISIOLOGI JANTUNG

Gambar 01. Anatomi jantung


Sumber : PPT materi KMB I Ns. Setia Budi S.Kep M.Kes
a. Kerja Fungsi jantung
Adalah mengatur distribusi darah ke seluruh bagian tubuh. Bentuk
jantung menyerupai jantung pisang, besarnya kurang lebih sebesar kepalan
tangan pemiliknya. Bagian atasnya tumpul (pangkal jantung) dan disebut
juga basis kordis. Di sebelah bawah agak runcing yang disebut apeks kordis.

b. Letak dan lapisan jantung


Di dalam rongga dada sebelah depan (kavum mediastinum anterior),
sebelah kiri bawah dari pertengahan rongga dada, diatas diafragma, dan
pangkalnya terdapat di belakang kiri antara kosta V dan VI dua jari di
bawah papilla mamae. Pada tempat ini teraba adanya denyutan jantung yang
disebut iktus kordis. Ukurannya kurang lebih sebesar genggaman tangan
kanan dan beratnya kira-kira 250-300 gram.

Gambar 02. Lapisan otot jantung


Sumber : PPT materi KMB I Ns. Setia Budi S.Kep M.Kes
Lapisan jantung itu sendiri terdiri dari Perikardium, Miokardium, dan
Endokardium. Berikut ini penjelasan ketiga lapisan jantung yaitu :
1. Perikardium (Epikardium)
Epi berarti “di atas”, cardia berarti “jantung”, yang mana bagian ini
adalah suatu membran tipis di bagian luar yang membungkus jantung.
Terdiri dari dua lapisan :
a) Perikarduim fibrosum (viseral), merupakan bagian kantong yang
membatasi pergerakan jantung terikat di bawah sentrum tendinium
diafragma, bersatu dengan pembuluh darah besar merekat pada
sternum melalui ligamentum sternoperikardial.
b) Perikarduim serosum (parietal), dibagi menjadi dua bagian, yaitu
Perikardium parietalis membatasi perikarduim fibrosum sering
disebut epikardium, dan Perikarduim fiseral yang mengandung
sedikit cairan yang berfungsi sebagai pelumas untuk
mempermudah pergerakan jantung.
2. Miokardium
Myo berarti "otot", merupakan lapisan tengah yang terdiri dari otot
jantung, membentuk sebagian besar dinding jantung. Serat-serat otot ini
tersusun secara spiral dan melingkari jantung. Lapisan otot ini yang akan
menerima darah dari arteri koroner.
3. Endokardium
Endo berarti "di dalam", adalah lapisan tipis endothelium, suatu jaringan
epitel unik yang melapisi bagian dalam seluruh sistem sirkulasi peredaran
darah.

c. Ruang-Ruang Jantung
Berbicara mengenai anatomi jantung maka organ jantung terdiri atas 4
ruang, yaitu 2 ruang yang berdinding tipis disebut dengan atrium
(serambi), dan 2 ruang yang berdinding tebal yang disebut dengan
ventrikel (bilik). Atrium dan ventrikel jantung ini masing-masing akan
dipisahkan oleh sebuah katup, sedangkan sisi kanan dan kiri jantung
akan dipisahkan oleh sebuah sekat yang dinamakan dengan septum.
Septum atau sekat ini adalah suatu partisi otot kontinue yang mencegah
percampuran darah dari kedua sisi jantung.
Gambar 03. Ruang-Ruang Jantung
Sumber : http://www.newsfarras.com/2014/11/Kerja-Fungsi-Anatomi-Fisiologi-
Jantung.html

Jantung terdiri dari beberapa ruang jantung yaitu atrium dan ventrikel yang
masing-masing dari ruang jantung tersebut dibagi menjadi dua yaitu atrium
kanan kiri, serta ventrikel kiri dan kanan.

Atrium
Berikut fungsi dari masing-masing atrium jantung tersebut yaitu :
1. Atrium kanan berfungsi sebagai penampungan (reservoir) darah yang
rendah oksigen dari seluruh tubuh. Darah tersebut mengalir melalui vena
kava superior, vena kava inferior, serta sinus koronarius yang berasal dari
jantung sendiri. Kemudian darah dipompakan ke ventrikel kanan dan
selanjutnya ke paru. Atrium kanan menerima darah de-oksigen dari tubuh
melalui vena kava superior (kepala dan tubuh bagian atas) dan inferior
vena kava (kaki dan dada lebih rendah). Simpul sinoatrial mengirimkan
impuls yang menyebabkan jaringan otot jantung dari atrium berkontraksi
dengan cara yang terkoordinasi seperti gelombang. Katup trikuspid yang
memisahkan atrium kanan dari ventrikel kanan, akan terbuka untuk
membiarkan darah de-oksigen dikumpulkan di atrium kanan mengalir ke
ventrikel kanan
2. Atrium kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru melalui 4
buah vena pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri dan
selanjutnya ke seluruh tubuh melalui aorta. Atrium kiri menerima darah
beroksigen dari paru-paru melalui vena paru-paru. Sebagai kontraksi
dipicu oleh node sinoatrial kemajuan melalui atrium, darah melewati katup
mitral ke ventrikel kiri
Ventrikel
Berikut adalah fungsi ventrikel yaitu :
1. Ventrikel kanan menerima darah dari atrium kanan dan dipompakan ke
paru-paru melalui arteri pulmonalis. Ventrikel kanan menerima darah de-
oksigen sebagai kontrak atrium kanan. Katup paru menuju ke arteri paru
tertutup, memungkinkan untuk mengisi ventrikel dengan darah. Setelah
ventrikel penuh, mereka kontrak. Sebagai kontrak ventrikel kanan,
menutup katup trikuspid dan katup paru terbuka. Penutupan katup
trikuspid mencegah darah dari dukungan ke atrium kanan dan pembukaan
katup paru memungkinkan darah mengalir ke arteri pulmonalis menuju
paru-paru.
2. Ventrikel kiri menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan ke seluruh
tubuh melalui aorta. Ventrikel kiri menerima darah yang mengandung
oksigen sebagai kontrak atrium kiri. Darah melewati katup mitral ke
ventrikel kiri. Katup aorta menuju aorta tertutup, memungkinkan untuk
mengisi ventrikel dengan darah. Setelah ventrikel penuh, dan berkontraksi.
Sebagai kontrak ventrikel kiri, menutup katup mitral dan katup aorta
terbuka. Penutupan katup mitral mencegah darah dari dukungan ke atrium
kiri dan pembukaan katup aorta memungkinkan darah mengalir ke aorta
dan mengalir ke seluruh tubuh.
d. Siklus Jantung Dan Sistem Peredaran Darah Jantung
Siklus jantung termasuk dalam bagian dari fisiologi jantung itu sendiri.
Jantung ketika bekerja secara berselang-seling berkontraksi untuk
mengosongkan isi jantung dan juga berelaksasi dalam rangka mengisi darah
kembali. Siklus jantung terdiri atas periode sistol (kontraksi dan
pengosongan isi) dan juga periode diastol (relaksasi dan pengisian jantung).
Atrium dan ventrikel mengalami siklus sistol dan diastol terpisah. Kontraksi
terjadi akibat penyebaran eksitasi (mekanisme listrik jantung) ke seluruh
jantung. Sedangkan relaksasi timbul setelah repolarisasi atau tahapan
relaksasi dari otot jantung.

e. Peredaran Darah Jantung.


Peredaran jantung itu terdiri dari peredaran darah besar dan juga peredaran
darah kecil. Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh)
masuk ke atrium kanan melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava.
Darah yang masuk ke atrium kanan berasal dari jaringan tubuh, telah
diambil O2-nya dan ditambahi dengan CO2. Darah yang miskin akan
oksigen tersebut mengalir dari atrium kanan melalui katup ke ventrikel
kanan, yang memompanya keluar melalui arteri pulmonalis ke paru. Dengan
demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang miskin oksigen ke
sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO2-nya dan
menyerap O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena
pulmonalis. Darah kaya oksigen yang kembali ke atrium kiri ini kemudian
mengalir ke dalam ventrikel kiri, bilik pompa yang memompa atau
mendorong darah ke semus sistim tubuh kecuali paru. Jadi, sisi kiri jantung
memompa darah yang kaya akan O2 ke dalam sirkulasi sistemik. Arteri
besar yang membawa darah menjauhi ventrikel kiri adalah aorta. Aorta
bercabang menjadi arteri besar dan mendarahi berbagai jaringan tubuh.
Gambar 04. Katup jantung
Sumber : http://www.newsfarras.com/2014/11/Kerja-Fungsi-Anatomi-Fisiologi-
Jantung.html

f. Katup-Katup Jantung
1. Katup Trikuspidalis :Katup trikuspidalis berada diantara atrium kanan dan
ventrikel kanan. Bila katup ini terbuka, maka darah akan mengalir dari
atrium kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid berfungsi mencegah
kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup pada
saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid terdiri dari
3 daun katup.
2. Katup Pulmonal : Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan mengalir
dari dalam ventrikel kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis
bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang akan berhubungan
dengan jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal trunkus pulmonalis
terdapat katup pulmonalis yang terdiri dari 3 daun katup yang terbuka bila
ventrikel kanan berkontraksi dan menutup bila ventrikel kanan relaksasi,
sehingga memungkinkan darah mengalir dari ventrikel kanan menuju arteri
pulmonalis.
3. Katup Bikuspid (Bikuspidalis) : Katup bikuspid atau katup mitral
mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri. Seperti katup
trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel. Katup
bikuspid terdiri dari dua daun katup.
4. Katup Aorta. Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang terdapat pada
pangkal aorta. Katup ini akan membuka pada saat ventrikel kiri berkontraksi
sehingga darah akan mengalir keseluruh tubuh. Sebaliknya katup akan
menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi, sehingga mencegah darah masuk
kembali kedalam ventrikel kiri.
f. fisiologi jantung
terdiri dari :
1.Sistem pengaturan jantung.
2.Sistem kelistrikan jantung.
3.Siklus jantung.
4.Bunyi jantung.
5.Curah jantung

3. ETIOLOGI
 Kelainan otot jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung,
disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari
penyebab kelainan fungsi otot jantung mencakup ateroslerosis koroner,
hipertensi arterial dan penyakit degeneratif atau inflamasi
 Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena
terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis
(akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium (kematian sel
jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan dan
penyakit miokardium degeneratif berhubungan dengan gagal jantung
karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung
menyebabkan kontraktilitas menurun.
 Hipertensi Sistemik atau pulmunal (peningkatan after load) meningkatkan
beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut
otot jantung.
 Peradangan dan penyakit myocardium degeneratif, berhubungan dengan
gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung,
menyebabkan kontraktilitas menurun.
 Penyakit jantung lain, terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang
sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme
biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung
(stenosis katub semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah
(tamponade, pericardium, perikarditif konstriktif atau stenosis AV),
peningkatan mendadak after load
 Faktor sistemik
Terdapat sejumlah besar factor yang berperan dalam perkembangan dan
beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (missal : demam,
tirotoksikosis). Hipoksia dan anemi juga dapat menurunkan suplai oksigen
ke jantung. Asidosis respiratorik atau metabolic dan abnormalita
elektronik dapat menurunkan kontraktilitas jantung.
Grade gagal jantung menurut New York Heart Association, terbagi dalam 4
kelainan fungsional :
I. Timbul sesak pada aktifitas fisik berat
II. Timbul sesak pada aktifitas fisik sedang
III. Timbul sesak pada aktifitas fisik ringan
IV. Timbul sesak pada aktifitas fisik sangat ringan / istirahat

4. PATOFISIOLOGI
Mekanisme yang mendasari gagal jantung meliputi gangguan kemampuan
kontraktilitas jantung yang menyebabkan curah jantung lebih rendah dari normal.
Dapat dijelaskan dengan persamaan CO = HR x SV di mana curah jantung (CO:
Cardiac output) adalah fungsi frekuensi jantung (HR: Heart Rate) x Volume
Sekuncup (SV: Stroke Volume).
Frekuensi jantung adalah fungsi dari sistem saraf otonom. Bila curah
jantung berkurang, sistem saraf simpatis akan mempercepat frekuensi jantung
untuk mempertahankan curah jantung. Bila mekanisme kompensasi ini gagal
untuk mempertahankan perfusi jaringan yang memadai, maka volume sekuncup
jantunglah yang harus menyesuaikan diri untuk mempertahankan curah jantung.
Volume sekuncup adalah jumlah darah yang dipompa pada setiap kontraksi,
yang tergantung pada 3 faktor, yaitu: (1) Preload (yaitu sinonim dengan Hukum
Starling pada jantung yang menyatakan bahwa jumlah darah yang mengisi jantung
berbanding langsung dengan tekanan yang ditimbulkan oleh panjangnya regangan
serabut jantung); (2) Kontraktilitas (mengacu pada perubahan kekuatan kontraksi
yang terjadi pada tingkat sel dan berhubungan dengan perubahan panjang serabut
jantung dan kadar kalsium); (3) Afterload (mengacu pada besarnya tekanan
ventrikel yang harus dihasilkan untuk memompa darah melawan perbedaan
tekanan yang ditimbulkan oleh tekanan arteriole).
Jika terjadi gagal jantung, tubuh mengalami beberapa adaptasi yang terjadi
baik pada jantung dan secara sistemik. Jika volume sekuncup kedua ventrikel
berkurang akibat penekanan kontraktilitas atau afterload yang sangat meningkat,
maka volume dan tekanan pada akhir diastolik di dalam kedua ruang jantung akan
meningkat. Hal ini akan meningkatkan panjang serabut miokardium pada akhir
diastolik dan menyebabkan waktu sistolik menjadi singkat. Jika kondisi ini
berlangsung lama, maka akan terjadi dilatasi ventrikel. Cardiac output pada saat
istirahat masih bisa berfungsi dengan baik tapi peningkatan tekanan diastolik yang
berlangsung lama (kronik) akan dijalarkan ke kedua atrium, sirkulasi pulmoner
dan sirkulasi sitemik. Akhirnya tekanan kapiler akan meningkat yang akan
menyebabkan transudasi cairan dan timbul edema paru atau edema sistemik.
Penurunan cardiac output, terutama jika berkaitan dengan penurunan
tekanan arterial atau penurunan perfusi ginjal, akan mengaktivasi beberapa sistem
saraf dan humoral. Peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis akan memacu
kontraksi miokardium, frekuensi denyut jantung dan vena; yang akan
meningkatkan volume darah sentral yang selanjutnya meningkatkan preload.
Meskipun adaptasi-adaptasi ini dirancang untuk meningkatkan cardiac output,
adaptasi itu sendiri dapat mengganggu tubuh. Oleh karena itu, takikardi dan
peningkatan kontraktilitas miokardium dapat memacu terjadinya iskemia pada
pasien dengan penyakit arteri koroner sebelumnya dan peningkatan preload dapat
memperburuk kongesti pulmoner.
Aktivasi sitem saraf simpatis juga akan meningkatkan resistensi perifer.
Adaptasi ini dirancang untuk mempertahankan perfusi ke organ-organ vital, tetapi
jika aktivasi ini sangat meningkat malah akan menurunkan aliran ke ginjal dan
jaringan. Salah satu efek penting penurunan cardiac output adalah penurunan
aliran darah ginjal dan penurunan kecepatan filtrasi glomerolus, yang akan
menimbulkan retensi sodium dan cairan. Sitem rennin-angiotensin-aldosteron juga
akan teraktivasi, menimbulkan peningkatan resistensi vaskuler perifer selanjutnya
dan penigkatan afterload ventrikel kiri sebagaimana retensi sodium dan cairan.
Gagal jantung berhubungan dengan peningkatan kadar arginin vasopresin
dalam sirkulasi, yang juga bersifat vasokontriktor dan penghambat ekskresi
cairan. Pada gagal jantung terjadi peningkatan peptida natriuretik atrial akibat
peningkatan tekanan atrium, yang menunjukan bahwa disini terjadi resistensi
terhadap efek natriuretik dan vasodilator.

Gambar perbedaan jantung normal dengan CHF


5. PATHWAY

6. TANDA dan GEJALA


Tanda dominan :
Meningkatnya volume intravaskuler
Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat akibat
penurunan curah jantung. Manifestasi kongesti berbeda tergantung pada
kegagalan ventrikel mana yang terjadi.
Gagal Jantung Kiri :
Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tak
mampu memompa darah yang dating dari paru. Manifestasi klinis yang
terjadi yaitu :
1. Dispnea, Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli
dan mengganggu pertukaran gas. Dapat terjadi ortopnoe. Beberapa
pasien dapat mengalami ortopnoe pada malam hari yang dinamakan
Paroksimal Nokturnal Dispnea (PND)
2. Batuk
3. Mudah lelah, Terjadi karena curah jantung yang kurang
yang menghambat jaringan dan sirkulasi normal dan oksigen serta
menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme. Juga terjadi
4. karena meningkatnya energi yang digunakan untuk
bernafas dan insomnia yang terjadi karena distress pernafasan dan batuk
5. Kegelisahan atau kecemasan, Terjadi karena akibat
gangguan oksigenasi jaringan, stress akibat kesakitan bernafas dan
pengetahuan bahwa jantung tidak berfungsi dengan baik
Gagal jantung Kanan :
6. Kongestif jaringan perifer dan visceral
7. Oedema ekstremitas bawah (oedema dependen), biasanya
oedema pitting, penambahan BB.
8. Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas
abdomen terjadi akibat pembesaran vena hepar
9. Anoreksia dan mual, terjadi akibat pembesaran vena dan
statis vena dalam rongga abdomen
10. Nokturia
11. Kelemahan

7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Foto torax dapat mengungkapkan adanya pembesaran jantung, oedema
atau efusi pleura yang menegaskan diagnosa CHF
b. EKG dapat mengungkapkan adanya tachicardi, hipertrofi bilik jantung
dan iskemi (jika disebabkan AMI), Ekokardiogram
c. Pemeriksaan Lab meliputi : Elektrolit serum yang mengungkapkan
kadar natrium yang rendah sehingga hasil hemodelusi darah dari adanya
kelebihan retensi air, K, Na, Cl, Ureum, gula darah
8. PENATALAKSANAAN
Terapi Non Farmakologis
1. Istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung
2. Oksigenasi
3. Dukungan diit : pembatasan natrium untuk mencegah, mengontrol atau
menghilangkan oedema.
Terapi Farmakologis :
a. Glikosida jantung
Digitalis, meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan
memperlambat frekuensi jantung.
b. Efek yang dihasillkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan
vena dan volume darah dan peningkatan diurisi dan mengurangi
oedema.
a. Terapi diuretic, diberikan untuk memacu ekskresi natrium dan air
melalui ginjal. Penggunaan harus hati-hati karena efek samping
hiponatremia dan hipokalemia
b. Terapi vasodilator, obat-obat fasoaktif digunakan untuk mengurangi
impadasi tekanan terhadap penyemburan darah oleh ventrikel. Obat ini
memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas vena
sehingga tekanan pengisian ventrikel kiri dapat diturunkan.
9. ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
1) Pengkajian Primer
a. Airway :
batuk dengan atau tanpa sputum, penggunaan bantuan otot
pernafasan, oksigen, dll
b. Breathing :
Dispnea saat aktifitas, tidur sambil duduk atau dengan
beberapa bantal
c. Circulation :
Riwayat HT IM akut, GJK sebelumnya, penyakit katub
jantung, anemia, syok dll. Tekanan darah, nadi, frekuensi
jantung, irama jantung, nadi apical, bunyi jantung S3, gallop,
nadi perifer berkurang, perubahan dalam denyutan nadi
juguralis, warna kulit, kebiruan punggung, kuku pucat atau
sianosis, hepar ada pembesaran, bunyi nafas krakles atau
ronchi, oedema
2) Pengkajian Sekunder
a. Aktifitas/istirahat
Keletihan, insomnia, nyeri dada dengan aktifitas, gelisah,
dispnea saat istirahat atau aktifitas, perubahan status mental,
tanda vital berubah saat beraktifitas.
b. Integritas ego :
Ansietas, stress, marah, takut dan mudah tersinggung
c. Eliminasi
Gejala penurunan berkemih, urin berwarna pekat, berkemih
pada malam hari, diare / konstipasi
d. Makanana/cairan
Kehilangan nafsu makan, mual, muntah, penambahan BB
signifikan. Pembengkakan ekstremitas bawah, diit tinggi
garam penggunaan diuretic distensi abdomen, oedema umum,
dll
e. Hygiene :
Keletihan selama aktifitas perawatan diri, penampilan kurang.
f. Neurosensori
Kelemahan, pusing, lethargi, perubahan perilaku dan mudah
tersinggung.
g. Nyeri/kenyamanan
Nyeri dada akut- kronik, nyeri abdomen, sakit pada otot,
gelisah
h. Interaksi social : penurunan aktifitas yang biasa dilakukan

b. Diagnosa Keperawatan

1. Penurunan kardiak output b.d. perubahan kontraktilitas


2. Intoleransi aktifitas b.d. ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan
O2
3. Pola nafas tidak efektif b.d. kelemahan
4. Kelebihan volume cairan b.d. kelemahan mekanisme regulasi
5. Risiko infeksi b.d. prosedur invasive, penurunan imunitas tubuh
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intak
nutrisi inadekuat, faktor biologis
7. Kurang pengetahuan tentang penyakit gagal jantung b.d. kurangnya
sumber informasi.
8. Sindrom deficit self care b.d kelemahan, penyakitnya
INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa NOC NIC


1 Penurunan cardiac Setelah dilakukan askep … jam Klien Cardiac care: akut
output b.d perubahan menunjukkan respon pompa jantung efektif a. Kaji v/s, bunyi, fkekuensi, dan irama jantung.
kontraktilitas dg b. Kaji keadaan kulit (pucat, cianois)
Kriteria Hasil: c. Pantau seri EKG 12 lead
 menunjukkan V/S dbn (TD, nadi, ritme d. Catat urine output
normal, nadi perifer kuat) e. Posiskan pasien supinasi dg elevasi 30 derajat dan
 melakukan aktivitas tanpa dipsnea dan elevasi kaki
nyeri f. Berikan oksigen.
 edema ekstremitas berkurang g. Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk istirahat
 perfusi perifer adekuat Monitoring vital sign
h. Pantau TD, denyut nadi dan respirasi
Monitoring neurologikal
i. Kaji perubahan pola sensori
j. Catat adanya letargi dan cemas
Manajemen lingkungan
k. Cptakan lingkungan ruangan yang nyaman
l. Batasi pengunjung
2 Intoleransi aktivitas B.d Setelah dilakukan askep .... jam Klien dapat Terapi aktivitas :
ketidakseimbangan menunjukkan toleransi terhadap aktivitas a. Kaji kemampuan ps melakukan aktivitas
suplai & kebutuhan O2 dgn KH: b. Jelaskan pada ps manfaat aktivitas bertahap
 Klien mampu aktivitas minimal c. Evaluasi dan motivasi keinginan ps u/ meningktkan
 Kemampuan aktivitas meningkat secara aktivitas
bertahap d. Tetap sertakan oksigen saat aktivitas.
 Tidak ada keluhan sesak nafas dan lelah Monitoring V/S
selama dan setelah aktivits minimal e. Pantau V/S ps sebelum, selama, dan setelah
 v/s dbn selama dan setelah aktivitas aktivitas selama 3-5 menit.
Energi manajemen
f. Rencanakan aktivitas saat ps mempunyai energi
cukup u/ melakukannya.
g. Bantu klien untuk istirahat setelah aktivitas.
Manajemen nutrisi
h. Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan
sumber-sumber energi
Emosional support
i. Berikan reinfortcemen positip bila ps mengalami
kemajuan
3 Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan Akep …. jam, pola nafas Respiratory monitoring:
b.d. kelemahan pasien menjadi efektif dg a. Monitor rata-rata irama, kedalaman dan usaha untuk
Criteria hasil: bernafas.
 menunjukkan pola nafas yang efektif tanpab. Catat gerakan dada, lihat kesimetrisan, penggunaan
adanya sesak nafas, sesak nafas berkurang otot Bantu dan retraksi dinding dada.
 v/s dbn c. Monitor suara nafas
d. Monitor kelemahan otot diafragma
e. Catat omset, karakteristik dan durasi batuk
f. Catat hail foto rontgen

4 Kelebihan volume cairan Setelah dilakukan askep ... jam pasien akan Fluit manajemen:
b.d. gangguan menunjukkan keseimbangan cairan dan a. Kaji lokasi edem dan luas edem
mekanisme regulasi elektrolit dengan b. Atur posisi elevasi 30-45 derajat
Kriteria hasil: c. Kaji distensi leher (JVP)
 V/S dbn d. Monitor balance cairan
 Tidak menunjukkan peningkatan JVP
 Tidak terjadi dyspnu, bunyi nafas bersih,Fluid monitoring
RR; 16-20 X/mnt e. Ukur balance cairan / 24 jam atau / shif jaga
 Balance cairan adekuat f. Ukur V/S sesuai indikasi
 Bebas dari edema g. Timbang BB jika memungkinkan
h. Awasi ketat pemberian cairan
i. Observasi turgor kulit (kelembaban kulit, mukosa,
adanya kehausan)
j. Monitor serum albumin dan protein total
k. Monitor warna, kualitas dan BJ urine
5 Risiko infeksi b/d Setelah dilakukan askep ….. jam tidak Konrol infeksi :
imunitas tubuh menurun, terdapat faktor risiko infeksi pada kliena. Bersihkan
prosedur invasive, edem dibuktikan dengan status imune klien lingkungan setelah dipakai pasien lain.
adekuat, b. Batasi
mendeteksi risiko dan mengontrol risiko, v/s pengunjung bila perlu.
dbn. Al dbn. c. Intruksika
n kepada keluarga untuk mencuci tangan saat
kontak dan sesudahnya.
d. Gunakan
sabun anti miroba untuk mencuci tangan.
e. Lakukan
cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan
keperawatan.
f. Gunakan
baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
g. Pertahanka
n lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat.
h. Lakukan
dresing infus setiap hari.
i. Tingkatkan
intake nutrisi.
j. berikan
antibiotik sesuai program.

Proteksi terhadap infeksi


k. Monitor
tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
l. Monitor
hitung granulosit dan WBC.
m. Monitor
kerentanan terhadap infeksi.
n. Pertahanka
n teknik aseptik untuk setiap tindakan.
o. Inspeksi
kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase.
p. Dorong
masukan nutrisi dan cairan yang adekuat.
q. Dorong
istirahat yang cukup.
r. Monitor
perubahan tingkat energi.
s. Dorong
peningkatan mobilitas dan latihan.
t. Instruksika
n klien untuk minum antibiotik sesuai program.
u. Ajarkan
keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi.
v. Laporkan
kecurigaan infeksi

6 Kurang pengetahuan Setelah dilakukan askep ..... jam, Teaching : Dissease Process
tentang penyakit dan pengetahuan klien meningkat. Dg KH: a. Kaji tingk
perawatan nya b/d Klien / keluarga mampu menjelaskan at pengetahuan klien dan keluarga tentang proses
kurang terpapar terhadap kembali apa yang telah dijelaskan. penyakit
informasi, terbatasnya Klien dan keluarga kooperatif dan mau b. Jelaskan
kognitif kerja sama saat dilakukan tindakan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala
serta penyebab yang mungkin
c. Sediakan
informasi tentang kondisi klien
d. Siapkan
keluarga atau orang-orang yang berarti dengan
informasi tentang perkembangan klien
e. Sediakan
informasi tentang diagnosa klien
f. Diskusikan
perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan
untuk mencegah komplikasi di masa yang akan
datang dan atau kontrol proses penyakit
g. Diskusikan
tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan
h. Jelaskan
alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi
i. Dorong
klien untuk menggali pilihan-pilihan atau
memperoleh alternatif pilihan
j. Gambarka
n komplikasi yang mungkin terjadi
k. Anjurkan
klien untuk mencegah efek samping dari penyakit
l. Gali
sumber-sumber atau dukungan yang ada
m. Anjurkan
klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang
muncul pada petugas kesehatan
n. kolaborasi
dg tim yang lain.
7 Sindrom defisit Self care Setelah dilakukan asuhan keperawatan …. Bantuan perawatan diri
b.d kelemahan, jam kebutuhan ps sehari hari terpenuhi a. Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan
penyakitnya dengan criteria hasil : diri
 Pasien dapat melakukan aktivitas sehari- b. Monitor kebutuhan akan personal hygiene,
hari makan, moblisasi secara minimal, berpakaian, toileting dan makan
kebersihan, toileting dan berpakaian bertahap c. Beri bantuan sampai klien mempunyai kemapuan
 Kebersihan diri pasien terpenuhi untuk merawat diri
d. Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya.
e. Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-
hari sesuai kemampuannya
f. Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
g. Evaluasi kemampuan klien dalam memenuhi
kebutuhan sehari-hari.
2.  Berikan reinforcement atas usaha yang
dilakukan dalam melakukan perawatan diri sehari
hari.
3. Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tahap pelaksanaan dari intervensi yang sudah di tentukan sebelumnya. Setelah melakukan intervensi
keperawatan, tahap selanjutnya adalah mencatat intervensi yang telah dilakukan dan evaluasi respon klien (Deswani, 2009).
Adapun pelaksanaan tindakan keperawatan secara umum pada klien dengan gagal jantung kongestif :
1. Pemberian oksigen.
2. Pembatasan aktivitas dan istirahat yang adekuat.
3. Penurunan volume cairan tubuh.
4. Pembatasan garam dan natrium.
5. Pemberian digitalis, vasodilator dan diuretik.
6. Pencegahan komplikasi.
7. Pemberian informasi.

4. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang disengaja dan
terus-menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya (Lismidar, dkk., 2005).
Hasil yang diharapkan pada proses perawatan klien dengan gagal jantung.
1. Terpenuhinya aktivitas sehari-hari.
2. Menunjukkan peningkatan curah jantung,
a. Tanda-tanda vital kembali normal.
b. Terhindar dari resiko penurunan perfusi jaringan.
c. Tidak terjadi kelebihan volume cairan.
d. Tidak sesak.
e. Edema ekstremitas tidak terjadi.
3. Menunjukkan penurunan kecemasan.
4. Memahami penyakit dan tujuan perawatannya,
a. Mematuhi semua aturan medis.
b. Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan tanda-tanda dari komplikasi.
c. Menjelaskan proses terjadinya gagal jantung.
d. Menjelaskan alasan terjadinya pencegahan komplikasi.
e. Mematuhi program perawatan diri.
f. Menunjukkan pemahaman mengenai terapi farmakologi.
g. Kebiasaan sehari-hari mencerminkan penyesuaian gaya hidup.
DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn C, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk


perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3 Jakarta:
EGC, 1999
Hudak, Gallo, Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik, Edisi IV, Jakarta, EGC:
1997
Price, Sylvia, Patofisiologi: Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit, Edisi 4,
Jakarta: EGC, 1999
Smeltzer, Bare, Buku Ajar keperawatan Medical Bedah, Bruner & Suddart, Edisi
8, Jakarta, EGC, 2001
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN CORONARY HEART FAILURE
(CHF)
DI RUANG CEMPAKA 2 RSUD DR ADNAAN WD PAYAKUMBUH

Oleh :
DEDI HARDIANSYAH
1714901355

CI KLINIK CI AKADEMIK

( ) ( )

PROGRAM PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PERINTIS PADANG
2017 / 2018