Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dunia telah memasuki era globalisasi dimana tingkat persaingan semakin

meningkat. Untuk itu diperlukan sumber daya manusia yang tangguh untuk dapat eksis

dalam kancah persaingan global. Pendidikan berperan penting dalam membentuk sumber

daya manusia yang berkualitas. Hal tersebut sejalan dengan tujuan Pendidikan Nasional

yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia

seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,

berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang

demokratis dan bertanggung jawab (UU No. 20 Bab II Pasal 3 Tahun 2003). Hasil dari

pendidikan ini diharapkan dapat mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu

kehidupan dan martabat manusia Indonesia.

Pendidikan merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam kehidupan

manusia, dimana melalui pendidikan dapat membentuk sumber daya manusia yang

berkualitas baik dari segi spiritual, intelegensi dan kemampuan (skill). Pembangunan

sumber daya manusia yang dilaksanakan di Negara maju dimulai dengan pengembangan

anak sejak usia dini. Di Jepang, pendidikan merupakan prioritas utama, dimana orang tua

membuat perencanan pada pendidikan bagi anak, sejak dini. Pelajar di sana

menghabiskan waktunya untuk belajar (Sanjaya, 2010). Sedangkan di Finlandia, negara

dengan sistem pendidikan paling baik di jajaran negara maju, memiliki kondisi yang

bertolak belakang. Di sana anak mulai sekolah pada usia 7 tahun dan pendidikan

diciptakan dalam suasana santai dengan jam sekolah yang relative pendek jika
dibandingkan dengan negara maju lainnya. Walaupun begitu negara ini dapat mencapai

kualitas pendidikan yang baik. Hal ini dicapai melalui peran optimal guru di sekolah serta

orang tua yang mengajarkan anaknya membaca sejak dini di rumah (Pandji, 2010).

Sedangkan pendidikan di Perancis mendapatkan perhatian besar dari pemerintah, ini

ditunjukkan oleh pengalokasian dana cukup besar untuk pengembangan pendidikan yaitu

sebesar 20 persen dari anggaran belanja negaranya.

Di Indonesia, pendidikan juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Hal ini

ditunjukkan dengan adanya program wajib belajar sembilan tahun, yang memberikan

kesempatan belajar bagi seluruh warga negara Indonesia mengenyam pendidikan dasar

(SD dan SMP) sebagaimana dituangkan dalam PP No. 47 Tahun 2008. Guna mendukung

program tersebut pemerintah memberikan alokasi dana cukup besar dalam anggaran

pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk bidang pendidikan. Menurut data APBN

(2010) pemerintah mengalokasikan dana pendidikan sebesar 20 persen dan meningkat

menjadi 20.2 persen pada tahun 2011.

Kualitas dari hasil belajar tersebut ditentukan oleh beberapa aspek, salah satunya

adalah daya tangkap siswa dalam menerima pelajaran di dalam kelas. Setiap siswa

memiliki daya tangkap yang berbeda. Akan tetapi perbedaan dalam cara menangkap

materi di dalam kelas ini menyebabkan masalah tersendiri dalam proses belajar mengajar

di sekolah. Terutama bagi siswa yang memiliki kecepatan menangkap materi diatas rata-

rata teman sebayanya. Keadaan tersebut menunjukkan bahwa siswa yang memiliki

kemampuan cerdas istimewa membutuhkan penanganan yang khusus untuk menyalurkan

kemampuannya tersebut agar dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat dari pada

siswa pada umumnya. Usaha di dalam memenuhi kebutuhan anak cerdas istimewa
diselenggarakan program pendidikan yang khusus, yaitu kelas akselerasi. Kelas

akselerasi dan regular memiliki kurikulum yang berbeda. Siswa akselerasi mempunyai

tuntutan berkemampuan lebih dari siswa reguler dapat pula menimbulkan stres pada diri

siswa tersebut. Penelitian Scholichah (2005) menjelaskan bahwa siswa kelas akselerasi

mengalami perasaan kaget, jenuh, takut gagal, dan takut tidak bisa membahagiakan kedua

orang tua mereka. Hal ini disebabkan karena siswa kelas akselerasi sudah terbiasa

mendapatkan nilai baik dan menjadi juara, sehingga ketika mereka tidak menjadi juara

dan tidak menjadi seseorang yang menonjol di lingkungan belajar yang lebih tinggi

mereka mengalami tekanan (Fadillah, 2004).

Masa remaja (adolescence) adalah suatu fase tumbuh kembang yang dinamis

dalam kehidupan seorang individu, dimulai ketika anak berada pada rentang usia 10-19

tahun (WHO, 2004). Pada masa ini terjadi percepatan perkembangan fisik, mental,

emosional yang terjadi pada remaja membuat mereka sering dilanda permasalahan

(Santrock, 2003). Tuntunan atau tekanan disekolah merupakan salah satu sumber stress

(stressor) pada remaja, Hal ini didukung oleh Denise E. Larue & Judith W.Herman dalam

penelitian mereka yang berjudul Adolescent Stress Through the Eyes of High-Risk Teens

(2008) bahwa stressor utama terjadi pada remaja dilingkungan sekolah.

Remaja yang berada pada tingkat pendidikan SMA biasanya menghabiskan

waktunya dengan kegiatan aktivitas disekolah, hal ini menyebabkan merekan rentan

mengalami stress disekolah terlebih lagi pada siswa akselerasi (Ramadhani. 2010). Istilah

Akselerasi menunjuk pada pelayanan yang diberikan (Service Delivery) dan kurikulum

yang disampaikan (Curriculum Delivery) (Colangelo, 1991).


Semiawan (2000) diacu dalam Gunarsa (2006) mengatakan bahwa terdapat dua

pengertian akselerasi, yang pertama adalah akselerasi sebagai model pembelajaran dan

yang kedua akselerasi sebagai suatu kurikulum atau disebut sebagai program akselerasi.

Dengan kata lain, akselerasi juga dikatakan sebagai suatu proses memulai tingkat

pendidikan pada usia yang lebih muda dari yang biasanya. Program ini diperuntukkan

untuk anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa di setiap jenjang

sekolah. Program ini dilakukan dengan mempercepat waktu sekolah melalui pengurangan

waktu selama satu tahun dari biasanya.

Siswa yang seharusnya menyelesaikan studi SMA (Sekolah Menengah Pertama)

dalam waktu 3 tahun dapat diselesaikan dalam waktu 2 tahun (Hawadi, 2004). Dari

penjelasan diatas, dapat dipahami bahwa akselerasi adalah program layanan belajar yang

diperuntukan bagi mereka yang memiliki kemampuan tinggi supaya dapat menyelesaikan

studi sesuai kecepatan dam kemampuan (Ardiansyah, 2011).

Siswa yang berada dikelas akselerasi dipilih melalui proses seleksi yang dimulai

dari tes bidang akademik, tes IQ, wawancara dan tes kesehatan. Serangkaian tes tersebut

diharapkan mampu menyaring siswa berbakat sehingga program akselerasi dapat menjadi

wadah untuk siswa yang berkemampuan istimewa, namun hal tersebut tidak menjamin

kelancaran program akselerasi. Menurut beberapa penelitian, siswa akselerasi justru

mengalami stress, bahkan ada siswa yang harus pindah ke kelas reguler karena tidak bias

mengikuti proses percepatan belajar (Ramadhani, 2010). Faktor stress pada siswa

akselerasi adalah tuntutan pekerjaan melalui beban kerja yang terlalu banyak dan berat,

keharusan menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu terbatas, dan tugas yang

menuntut banyak pikiran dan tenaga (Gunarsa, 2004).


Emosi dan juga berbagai reaksi yang ditimbulkannya (fisik dan psikologis) akan

menimbulkan ketidaknyamanan dan hal ini akan memotivasi individu yang mengalami

stres untuk melakukan sesuatu yang dapat menghilangkannya. Koping atau kemampuan

untuk mengatasi masalah merupakan suatu proses yang digunakan oleh individu untuk

menangani tuntutan yang dapat menimbulkan stres. Upaya koping biasanya dilakukan

dengan mengenali dan menyadari sumber-sumber stres atau stresor. Tujuannya adalah

agar sikap-sikap negatif seperti memberontak terhadap keadaan, apatis, dan mudah marah

dapat dihindari karena sikap-sikap tersebut akan menimbulkan masalah baru (Handayani

2000).

Koping itu sendiri memiliki dua bentuk utama. Individu dapat lebih fokus pada

masalah atau situasi spesifik yang terjadi sambil mencoba menemukan cara untuk

mengubah atau menghindarinya di kemudian hari. Hal ini disebut dengan strategi

terfokus masalah. Individu juga dapat berfokus untuk menghilangkan emosi yang

berhubungan dengan situasi stres, walaupun situasi sendiri tidak dapat diubah. Menurut

Lazarus dan Folkman (1984), proses yang kedua ini dinamakan strategi terfokus emosi.

Kedua jenis koping ini mencakup beberapa hal, seperti perencanaan dan

pengorganisasian waktu, pengembangan rasa humor, pencarian lingkungan yang

memberikan kenyamanan, dan juga pengembangan tingkah laku positif.

Strategi koping stres merupakan suatu perubahan kognitif dan perilaku secara

konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang

melelahkan atau melebihi sumber individu (Lazarus & Folkman, 1984). Menurut Lazarus

dan Folkman (1984) secara umum strategi koping dibagi menjadi dua macam. Strategi

koping berfokus pada masalah, dan strategi koping berfokus pada emosi. Strategi koping
yang berfokus pada masalah, dimana individu secara aktif mencari penyelesaian dari

masalah untuk menghilangkan kondisi atau situasi yang menimbulkan stres. Yang

termasuk strategi koping berfokus pada masalah yaitu: planful problem solving dimana

individu melakukan usaha tertentu untuk mengubah keadaan dengan diikuti pendekatan

analitis; confrontative coping dimana individu bereaksi untuk mengubah keadaan dengan

resiko yang harus diambil; seeking social support dimana individu mencari dukungan

dari pihak luar baik berupa informasi, bantuan nyata, maupun dukungan emosional.

Program percepatan dikelas akselerasi membuat siswa menjadi stress sehingga

diperlukan strategi koping untuk mengatasi stres tersebut.Hasil penelitian dkk (2012)

mengatakan bahwa sebagian besar siswa akselerasi mengalami stres secara fisik maupun

psikologis dan mereka yang mengalami stres cenderung menggunakan koping yang

berfokus pada emosi.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk nelakukan penelitian untuk

mengetahui apakah ada hubungan tingkat stres dengan strategi koping yang digunakan

oleh siswa-siswi akslerasi di SMA X.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas, dapat dirumusan kan

masalah dari penelitian ini adalah : Hubungan tingkat stress dengan strategi koping yang

digunakan siswa-siswi akselerasi di SMA X.


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui

Hubungan tingkat stress dengan strategi koping yang digunakan siswa-siswi akselerasi

SMA X.

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui tingkat stres pada siswa-siswi akselrasi SMA X

b. Mengetahui Strategi koping yang digunakan siswa-siswi akselerasi di SMA X

c. Mengerahui hubungan antara tingkat stress dengan strategi koping yang digunakan

siswa-siswi akselerasi SMA X.

D. Manfaat Penelitian

1. Teoritis

a. Bagi Peneliti

Untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan dalam melakukan

penelitian mengenai tingkat stres, strategi koping yang digunakan dan mengetahui

hubungan antara keduanya.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai informasi atau bahan bagi peserta didik dalam mengembangkan ilmu

pengetahuan, mengenai kesehatan mental khususnya usia remaja.


2. Praktis

a. Bagi tempat penelitian

Penelitian ini dapat dijadikan sebagai saran atau masukan dan bahan

pertimbangan mengenai hubungan tingkat stres dengan startegi koping siswa-

siswi akselerasi sehingga tempat penelitian sapat melaksanakan startegi koping

yang tepat untuk menguragi dampak stres.

b. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti selanjutnya dan

dapat dijadikan sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut agar penelitian

selanjutnya lebih matang dan akurat.

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah Hubungan tingkat stress dengan strategi

koping yang digunakan siswa-siswi akselerasi . Penelitian ini dilakukan pada siswa siswi

akselerasi. Penelitian ini dilakukan dari bulan januari-juni 2018. Tempat penelitian ini

dilakukan di SMA Negeri X. Jenis penelitian merupakan penelitian asosiatif dengan

pendekatan kuantitatif, menggunakan desain cross sectional. Metode pengumpulan data

menggunakan instrument berupa kuesioner yang dikembangkan peneliti berdasarkan teoti

Taylor (1991) dan Lazarus & Folkman (1984).