Anda di halaman 1dari 29

Identifikasi Kasus Kematian Suami-Isteri

dengan Ilmu Kedokteran Forensik


Linez M Sapulette

102014103

Kelompok F4

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510

Skenario
Suatu hari anda didatangi penyidik dan diminta untuk membantu mereka dalam memeriksa
suatu tempat kejadian perkara (TKP).Penurut penyidik, TKP adalah sebuah rumah yang
cukup besar milik seorang pengusaha perkayuan yang terlihat sukses.Tadi psgi si pengusaha
dan isterinya ditemukan meninggak dunia di dalam kamarnya yang terkunci di
dalam.Anaknya yang pertama kali mencurigai hal itu (pukul 08.00) karena si ayah yang
biasanya bangun untuk lari pagi, hari ini belum keluar dari kamarnya.Ia bersama pak RT
melaporkannya kepada polisi. Penyidik telah membuka kamr tersebut dan menemukan kedua
orang tua tersebut tiduran di tempat tidurnya dalam keadaan mati.Tidak ada tanda-tanda
perkelahian di ruang tersebut, segalanya masih tertata rapi sebagimana biasa, tutur
anaknya.Dari pengamayan sementara tidak ditemukan luka-luka pada kedua mayat dan tidak
ada barang yang hilang. Salah seorang penyidik ditelpon oleh petugas asuransi bahwa ia telah
dihubungi oleh anak si pengusaha barkaitan dengan kemungkinan asuransi jiwa pengusaha
tersebut.
Aspek Hukum.1

 Pasal 39 KUHAP
Yang dapat dikenakan penyitaan adalah:
a. Benda atau tagihan tersangka atau terdakwa yang seluruh atau sebagian diduga
diperoleh dari tindak pidana atau sebagai hasil dari tindak pidana.

1
b. Benda yang telah dipergunakan secara langsung untuki melakukan tindak pidana
untuk mempersiapkkannya.
c. Benda yang dipergunakan untuk menghalangi penyidikan tindak pidana.
d. Benda khusus dibuat atau diperuntukan melakukan tindak pidana.
e. Benda lain yang mempunyai hubungan langsung dengan tindak pidana yang
dilakukan.

 Pasal 133 KUHAP


1. Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak
pisdana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya.
2. Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara
tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau
pemeriksaan mayat atau pemeriksaan bedah mayat.
3. Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit
harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut
dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilakukan dengan diberi cap jabatan
yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.
 Pasal 134 KUHAP
1. dalam hal sangat diperlukan dimana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak
mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada
keluarga korban.
2. Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang
maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut.
3. Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak
yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan kektentuan
sebagimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini.
 Pasal 179 KUHAP
1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2. Semua ketentuan tersebut diatas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah

2
atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya
menurut pengetahuan dalam bidang keahlianya.
Penangkapan dan Penahanan
 Pasal 17 KUHAP
Perintah penangkapan dilakukan terhadap seseorang yang diduga keras melakukan tindak
pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup.

 Pasal 19 KUHAP
1. Penangkapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 17, dapat dilakukan untuk paling
lama satu hari.
2. Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan kecuali dalam
hal ia telah dipanggil .
Prosedur Medikolegal.1

 Pasal 183 KUHAP

Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan sekurang-
kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana
benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannya.

 Pasal 184 KUHAP


1. Alat bukti yang sah ialah
a. keterangan saksi
b. keterangan ahli
c. surat
d. petunjuk
e. keterangan terdakwa.
2. Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
 Pasal 185 KUHAP
1. Keterangan saksi sebagai alat bukti ialah apa yang saksi nyatakan di sidang
pengadilan.
2. Keterangan seorang saksi saja tidak cukup untuk membuktikan bahwa terdakwa
bersalah terhadap perbuatan yang didakwakan kepadanya.
3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak berlaku apabila disertai
dengan suatu alat bukti yang sah lainnya.

3
4. Keterangan beberapa saksi yang berdiri sendiri-sendiri tentang suatu kejadian atau
keadaan dapat digunakan sebagai suatu alat bukti yang sah apabila keterangan saksi
itu ada .hubungannya satu dengan yang lain sedemikian rupa, sehingga dapat
membenarkan adanya suatu kejadian atau keadaan tertentu.
5. Baik pendapat maupun rekaan, yang diperoleh dari hasil pemikiran saja, bukan
merupakan keterangan saksi.
6. Dalam menilai kebenaran keterangan seorang saksi, hakim harus dengan sungguh-
sungguh memperhatikan.
a. persesuaian antara keterangan saksi satu dengan yang lain.
b. persesuaian antara keterangan saksi dengan alat bukti lain.
c. alasan yang mungkin dipergunakan oleh saksi untuk memberi keterangan yang
tertentu.
d. cara hidup dan kesusilaan saksi serta segala sesuatu yang pada umumnya
dapat mempengaruhi dapat tidaknya keterangan itu dipercaya.
7. Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain
tidak merupakan alat bukti namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan
dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang
lain.
 Pasal 186 KUHAP

Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.

Penjelasan: Keterangan ahli ini dapat juga sudah diberikan pada waktu pemeriksaan oleh
penyidik atau penuntut umum yang dituangkan dalam suatu bentuk laporan dan dibuat
dengan mengingat sumpah di waktu ia menerima jabatan atau pekerjaan.

 Pasal 187 KUHAP

Surat sebagaimana tersebut pada Pasal 184 ayat (1) huruf c, dibuat atas sumpah jabatan
atau dikuatkan dengan sumpah, adalah:

a. berita acara dan surat lain dalam bentuk resmi yang dibuat oleh pejabat umum yang
berwenang atau yang dibuat di hadapannya, yang memuat keterangan tentang
kejadian atau keadaan yang didengar, dilihat atau yang dialaminya sendiri, disertai
dengan alasan yang jelas dan tegas tentang keterangannya itu.

4
b. surat yang dibuat menurut ketentuan peraturan perundang-undangan atau surat yang
dibuat oleh pejabat mengenal hal yang termasuk dalam tata laksana yang menjadi
tanggung jawabnya dan yang diperuntukkan bagi pembuktian sesuatu hal atau sesuatu
keadaan.
c. surat keterangan dari seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya
mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dan padanya.
d. surat lain yang hanya dapat berlaku jika ada hubungannya dengan isi dari alat
pembuktian yang lain.
 Pasal 65 KUHAP

Tersangka atau terdakwa berhak untuk mengusahakan diri mengajukan saksi dan atau
seseorang yang memiliki keahlian khusus guna memberikan keterangan yang
menguntungkan bagi dirinya.

 Pasal 66 KUHAP

Tersangka atau terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian.

 Pasal 180 KUHAP


1. Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di sidang
pengadilan, hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat pula minta agar
diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2. Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3. Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).
4. Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh
instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang
mempunyai wewenang untuk itu.

Mediko legal.2
- Peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tugas, kewajiban, dan tata cara
dalam melaksanakan profesi kedokteran.
- Masalah bioetika
Prosedur mediko legal

5
- Penemuan
- Pelaporan
- Penyelidikan
- Penyidikan
- Pemberkasan Perkara
- Penuntutan
- Persidangan
- Putusan Pengadilan
Keterangan dari prosedur medikolegal adalah:
1. Penemuan dan Pelaporan
o Dilakukan oleh warga masyarakat yang melihat, mengetahui, atau mengalami suatu
kejadian yang diduga merupaka suatu tindakan pidana.
o Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib, dalam hal ini kepolisian RI.
2. Penyelidikan
o Dilakukan oleh penyidik
o Penyelidik adalah setiap pejabat polisi negara RI (pasal 4 KUHAP)
o Menindak-lanjuti suatu pelaporan, untuk mengetahui apakah benar ada kejadian
seperti yang dilaporkan.
3. Penyidikan
o Dilakukan oleh penyidik
o Penyidik adalah (pasal 6 KUHAP)
- Pejabat polisi negara RI
- Pejabat pegawai negri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-
undang.
o Tindak lanjut setelah diketahui benar-benar telah terjadi suatu kejadian.
- Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli
- Dalam hal mengenai kejadian mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat
meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan secara kedokteran forensik.
4. Pemberkasan Perkara
o Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil
pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter.
o Hasil berkas perkara ini diteruskan ke penuntut umum.
5. Penuntutan

6
Dilakukan oleh penuntut umum disidang pengadilan setelah berkas perkara lengkap
diajukan ke pengadilan
6. Persidangan
o Pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim
o Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa, para saksi dan para ahli, disini dokter
dapat dihadirkan di persidangan pengadilan untuk bertindak selaku saksi ahli atau
selaku dokter pemeriksa.
7. Putusan Pengadilan
Vonis ditentukan oleh hakim dengan ketentuan :
o Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana dan
bahwa terdakwa telah bersalah melakukan tindak pidana tersebut
o Keyakinan hakim harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah.
Identifikasi Korban
Pemeriksaan Luar Jenasah.2,3
1. Label mayat
Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol
kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat
warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk
identifikasi di kamar jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayaari bungkus mayat. Catat
tali pengikatnya bila ada.
2. Pakaian
Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di
bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar,
warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu,
monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian
bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.
3. Perhiasan
Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran
nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.
4. Mencatat benda di samping mayat misalnya tas ataupun bungkusan.
5. Mencatat perubahan tanatologi.
6. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna kulit,
status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding
perut.
7
7. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus, meliputi
rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada tubuh.
8. Pemeriksaan rambut
Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Rambut kepala
harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara memotong dan mencabut sampai
ke akarnya, paling sedikit dari enam lokasi kulit kepala yang berbeda. Potongan rambut
ini disimpan dalam kantungan yang telah ditandai sesuai tempat pengambilannya.
9. Pemeriksaan mata
Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan,
kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh darah
yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya
kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa
mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan.
10. Pemeriksaan daun telinga dan hidung
Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.
11. Pemeriksaan mulut dan rongga mulut
Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan lengkap,
termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan, dan
sebagainya.
12. Pemeriksaan leher
Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh
darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh.
13. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan.
Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya.
Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan
lain-lain.
14. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis,
edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.
15. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada tubuh
harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran, dll.
Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua tepi ditautkan. Lokalisasi luka
dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara lain : garis tengah melalui tulang
dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui kedua puting susu,
dan garis mendatar melalui pusat.
8
16. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.
Pemeriksaan Dalam
1. Darah berwarna lebih gelap dan encer
2. Busa halus di dalam saluran napas
3. Pembendungan sirkulasi pada saluran organ
4. Petekie
5. Edema paru
Pemeriksaan Penunjang
- Sediaan histopatolgi organ
- Pemeriksaan toksikologi
- Isi lambung dan isi usus
- Darah, hepar, ginjal, otak
- Urine, empedu.

Pemeriksaan TKP

Pemeriksaan di TKP penting untuk membantu penentuan penyebab kematian dan


menentukan cara kematian.Pemeriksaan harus ditujukan untuk menjelaskan apakah mungkin
orang itu mati akibat keracunan ,misalnya dengan memeriksa obat,apakah ada sisa obat atau
pembungkusnya.Bila terdapat muntahan,apakah berbau fosfor (bau bawang putih) bagaimana
sifat muntahan, dan warna muntahan.Dilihat apakah terdapat gelas atau alat minum lain, atau
ada surat perpisahan/peninggalan jika merupakan kasus bunuh diri.2

Selanjutnya,dilakukan pengumpulan barang bukti.Kumpulkan obat-obatan dan


pembungkusnya.Muntahan harus diambil dengan kertas saring dan disimpan dalam toples
periksa adanya etiket dari apotik dan jangan lupa untuk memeriksa tempat sampah.Pada
pemeriksaan luar,yang harus dilakukan adalah mengenalpasti bau sekeliling,melakukan
penekanan dada mayat dan menentukan apakah ada bau-bau yang tidak biasa keluar dari
hidung atau mulut.Terus dilihat dan dicatat pakaian, lebam mayat,adanya kelainan di tempat
masuknya racun,perubahan kulit, kuku, rambut dan sklera.2

Toksikologi

Pengelompokan racun berdasarkan:

- Sumber racun
- Tempat dimana racun berada

9
- Racun yang digunakan dalam pertanian
- Racun yang terdapat di makanan
- Racun yang beredar di kalangan medis
- Mekanisme kerja

Berbagai sumber keracunan seperti:

- Keracuan karbon monoksida


- Keracunan sianida
- Keracuan opiat

Bidang Tanatologis

Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan
perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.
Ada tiga manfaat tanatologi ini, antara lain untuk dapat menetapkan hidup atau matinya
korban, memperkirakan lama kematian korban, dan menentukan wajar atau tidak wajarnya
kematian korban. Menetapkan apakah korban masih hidup atau telah mati dapat kita ketahui
dari masih adanya tanda kehidupan dan tanda-tanda kematian.Dalam tanatologi dikenal
beberapa istilah tentang mati, yaitu mati somatis (mati klinis), mati suri, mati seluler, mati
serebral, dan mati otak (mati batang otak).2

 Mati somatis (mati klinis) terjadi akibat terhentinya fungsi ke tiga sistem penunjang
kehidupan, yaitu susunan saraf pusat, sistem kardiovaskular, dan sistem pernapasan,
yang menetap. Secara klinis tidak ditemukan refleks-refleks, EEG mendatar, nadi
tidak teraba, denyut jantung tidak terdengar, tidak ada gerak pernapasan, dan suara
nafas tidak terdengar pada auskultasi.2
 Mati suri adalah terhentinya ketiga sistem penunjang kehidupan yang ditentukan
dengan alat kedokteran sederhana. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat
dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. Mati suri sering ditemukan
pada kasus keracunan obat tidur, tersengat aliran listrik, dan tenggelam.2
 Mati seluler (mati molekuler) adalah kematian organ atau jaringan tubuh beberapa
saat setelah kematian somatis. Daya tahan hidup masing-masing organ atau jaringan

10
berbeda-beda, sehingga terjadinya kematian seluler pada tiap organ atau jaringan
tidak bersamaan.2
 Mati serebral adalah kerusakan kedua hemisfer otak yang irriversible kecuali batang
otak dan serebelum, sedangkan kedua sistem lainnya yaitu sistem pernapasan dan
kardiovaskuler masih berfungsi dengan bantuan alat.2
 Mati otak (mati batang otak) adalah bila terjadi kerusakan seluruh isi neuronal
intrakranial yang irreversible termasuk batang otak dan serebelum. Dengan
diketahuinya mati otak (mati batang otak) maka dapat dikatakan seseorang secara
keseluruhan tidak dapat dinyatakan hidup lagi, sehingga alat bantu dapat dihentikan.2
Kematian adalah suatu proses yang dapat dikenal secara klinis pada seseorang berupa
tanda kematian, yaitu perubahan yang terjadi pada tubuh mayat. Perubahan tersebut dapat
timbul dini pada saat meninggal atau beberapa menit kemudian, misalnya kerja jantung
dan peredaran darah berhenti, pernapasan berhenti, refleks cahaya dan refleks kornea
mata hilang, kulit pucat dan relaksasi otot. Setelah beberapa waktu timbul perubahan
pascamati yang jelas yang memungkinkan diagnosis kematian lebih pasti. Tanda-tanda
tersebut dikenal sebagai tanda pasti kematian berupa lebam mayat (hipostasis atau
lividitas pasca-mati), kaku mayat (rigor mortis), penurunan suhu tubuh, pembusukan,
mumifikasi dan adiposera.2,3

Tanda kematian yang tidak pasti adalah: (1) pernafasan berhenti, dinilai selama lebih dari
10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi); (2) Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit,
nadi karotis tidak teraba; (3) Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat
dipercaya, karena mungkin terjadi spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan; (4)
Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dan otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda.
Kelemasan otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan
pendataran daerah-daerah yang tartekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat
yang terlentang; (5) Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah
kematian. Segmen-segmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.2

Untuk melihat tanda pasti kematian seseorang, maka akan dapat ditemukan lebam mayat,
kaku mayat, penurunan suhu tubuh, pembusukan, adiposera, dan mummifikasi.

 Lebam mayat (livor mortis), setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati
tempat terbawah akibat gaya gravitasi, mengisi vena dan venula, membentuk bercak

11
darah berwarna ungu (livide) pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh
yang tertekan alas keras. Darah tetap cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang
berasal dari endotel pembuluih darah. Lebam mayat biasanya mulai tampak pada 20-
30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah dan menjadi lengkap dan
menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu itu, lebam mayat masih hilang (memucat)
pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah.Memucatnya lebam
mayat akan lebih cepat dan lebih sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi
tubuh tersebut dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi walaupun
setelah 24jam, darah masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat
mengalir dan membentuk lebam mayat di tempat terendah yang baru. Kadang
dijumpai bercak perdarahan berwarna biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh
darah. Menetapnya lebam disebabkan oleh bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah
cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain itu kekauan otot-otot dinding
pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.Mengingat pada lebam mayat
darah terdapat didalam pembuluh darah, maka keadaan ini digunakan untuk
membedakannya dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasi). Bila pada daerah
tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah darah
akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan resapan darah tidak
menghilang.2,4
 Kaku mayat (rigor mortis), kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan
karena metabolisme tingkat seluler masih berjalan berupa pemecahan cadangan
glikogen otot yang menghasikan energi. Energi ini digunakan untuk mengubah ADP
menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut aktin dan miosin tetap lentur.
Bia cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak terbentuk lagi, aktin dan
miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.2
Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak
kira-kira 2 jam setelah mati kilnis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke
arah dalam (sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar
kraniokaudal. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan
selama 12 jam dan kemudian menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat
umumnya tidak disertai pemendekan serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku
mayat otot berada dalam posisi teregang, maka saat kaku mayat terbentuk akan terjadi
pemendekan otot.Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah
aktivtas fisik sebelum mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-
12
otot keci dan suhu lingkungan tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk
menunjukkan tanda pasti kematian dan memperkirakan saat kematian.2,3,4

 Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke
benda yang lebih dingin, melalul cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.
Grafik penurunan suhu tubuh ini hampir berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf
S. Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban
udara, bentuk tubuh, posisi tubuh, pakaian. Selain itu suhu saat mati perlu diketahul
untuk perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat
pada suhu keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah,
tubuh yang kurus, posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada
umumnya orang tua serta anak kecil.2
 Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolysis dan kerja
bakteri. Autolisis adalah pelunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam
keadaan steril. Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel
pascamati dan hanya dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.2
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk
ke jaringan.Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut bertumbuh.Sebagian
besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii.
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada
perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan
bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh
terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan
menyebar ke seluruh perut dan dada, dan bau busukpun mulai tercium. Pembuluh
darah bawah kulit akan tampak seperti melebar dan berwarna hijau
kehitaman.Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi
cairan kemerahan berbau busuk.Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku
mudah terlepas, wajah menggembung dan berwarna ungu kehijauan, kelopak mata
membengkak, pipi tembem, bibir tebal, lidah membengkak dan sering terjulur
diantara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda dengan wajah asli korban, sehingga
tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga.2.3,4

 Adiposera (lilin mayat) adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak
atau berminyak, berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati.

13
Dulu disebut sebagai saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena
menunjukkan sifat-sifat diantara lemak dan lilin.Adiposera dapat terbentuk di sebaran
lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak superfisial yang pertama kali terkena.
Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di pipi, payudara atau bokong,
bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh berubah menjadi
adiposera.2,5
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan. Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah
kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, sedangkan yang menghambat adalah air
yang mengalir yang membuang elektrolit.Udara yang dingin menghambat
pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan mempercepat. Invasi bakteri
endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat pembentukannya.2,3

 Mumifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan
pembusukan. Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput
dan tidam membusuk karena kuman tidak berkembang pada lingkungan yang kering.
Mumifikasi terjadi bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik,
tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-14 minggu). Mumifikasi jarang
dijumpai pada cuaca yang normal.2,5
Asuransi Jiwa.6

Jenis asuransi yang menyediakan pengalihrugian fiansial atas bencana yang bisa terjadi pada
manusia, baik langsung seperti kematian atau cacat maupun tidak langsung seperti biaya
pengobatan atau kehilangan penghasilan.

1. Asuransi Jiwa Meninggal atau Ketidakmampuan Tetap


Dalam hal Meninggal atau ketidakmampuan Tetap, santunan sebesar Saldo Hutang
Anda.
2. Asuransi Ketidakmampuan Sementara
Dalam hal ketidakmampuan sementara, santunan sebesar pembayaran minimum
bulanan (minimum payment) anda pada hari ke-31 anda dirawat di RS, pembayaran
dilakukan setiap bulan terus menerus sampai maksimum 12 bulan.

14
Manfaat-manfaat berikut ini dibayarkan jika memenuhi ketentuan ketentuan dan syarat-
syarat.

1. Manfaat Meninggal

Dalam hal meninggal , maka penanggung akan membayarkan saldo terhutang kartu
kredit pada tanggal meninggal tertanggung sampai dengan nilai maksimum yang telah
ditentukan. Sakit yang dipertanggungkan di bawah program asuransi ini adalah sakit
yang diderita oleh tertanggung setelah tertanggung dipertanggungkan di bawah
program asuransi ini untuk masa paling sedikitnya 30 hari setelah tanggal berlakunya
asuransi.

2. Manfaat Ketidakmampuan Sementara


Jika tertanggung tidak dapat melakukan pekerjaan apapun yang sesuai dengan
pendidikan dan pengalamannya sedikitnya 30 hari berturut-turut karena sakit atau
kecelakaan dan dirawat di rumah sakit, maka pada hari ke-31 .Perusahaan akan
membayar tagihan minimum bulanan yang telah jatuh tempo untuk kartu kredit yang
dipertanggungkan. Pembayaran akan dilakukan setiap bulan terus menerus sampai
maksimum 12 bulan atau hingga nilai maksimum yang telah ditentukan, selama
tertanggung masih dalam kondisi ketidakmampuan sementara.
3. Manfaat Ketidakmampuan Tetap.
Penanggung akan membayarkan saldo terhutang kartu kredit sampai dengan nilai
maksimum yang telah ditentukan.

Keracunan Karbon Monoksida7

a.Defenisi

15
Karbon monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan
akibat pembakaran tidak sempurna bahan bakar berbasis karbon. Akumulasi karbon
monoksida juga dapat disebabkan karena instalasi peralatan yang tidak tepat atau akibat
ventilasi yang buruk. Gas ini dikenal sebagai ‘silent killer’ karena tidak berbau sehingga
mustahil dideteksi oleh indera. Dosis kecil karbon monoksida menyebabkan keluhan ringan
seperti mual dan pusing, sedangkan dosis besar menyebabkan kerusakan otak dan bahkan
kematian.

b.Sumber dan Penyebab

Karbon monoksida terbentuk akibat pembakaran bahan bakar tertentu (mis: solar, batubara,
bensin, gas alam) yang tidak sempurna disebabkan oleh kurangnya oksigen. Sumber utama
karbon monoksida adalah gas buang kendaraan bermotor, asap dari kebakaran, dan asap dari
mesin.Selain itu, gas ini juga muncul dari peralatan memasak yang rusak, pengering pakaian
gas, pemanas, atau tungku kayu bakar. Kurangnya ventilasi akan menambah peningkatan
konsentrasi karbon monoksida di sebuah ruangan.

c.Gejala Keracunan Karbon Monoksida

Hemoglobin yang merupakan pigmen merah dalam sel darah merah bertugas membawa
oksigen ke berbagai jaringan tubuh. Saat seseorang menghisap karbon monoksida, alih-alih
oksigen, hemoglobin justru mengikat karbon monoksida dan mengalirkannya ke seluruh
tubuh. Hemoglobin yang berikatan dengan karbon monoksida lantas membentuk senyawa
yang disebut carboxyhemoglobin. Ini adalah senyawa yang diyakini menjadi penyebab utama
keracunan karbon monoksida.

Hemoglobin yang justru berikatan dengan karbon monoksida membuat tubuh perlahan-
lahan kekurangan oksigen. Segala macam proses kimia pada jaringan tubuh yang kekurangan
oksigen akan terhambat. Hal ini menciptakan kondisi yang dikenal sebagai cedera hipoksia
pada jaringan. Keracunan karbon monoksida dapat dideteksi dengan gejala-gejala sebagai
berikut:

 Sakit kepala
 Pusing
 Mual
 Nyeri dada

16
 Sesak napas
 Muntah
 Nyeri perut
 Kantuk
 Pingsan
 Kejang

Pengobatan

Individu yang mengalami keracunan karbon monoksida harus pindah dari daerah tersebut
ke tempat dengan cukup pasokan udara segar. Jika seseorang berhenti bernapas, CPR
(cardiopulmonary resuscitation) mungkin harus diberikan. Setiap orang harus dites apakah
benar mengalami keracunan karbon monoksida untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Penanganan akan meliputi:

1. Memberikan oksigen dosis tinggi menggunakan masker wajah dari tabung oksigen.
Oksigen kadar tinggi akan membantu karbon monoksida untuk memisahkan diri dari
hemoglobin.

2. Ketika seseorang menghirup karbon monoksida dosis tinggi dan menderita keracunan
berat, dosis oksigen yang lebih tinggi harus diberikan menggunakan ruang hiperbarik. Terapi
oksigen hiperbarik ditujukan untuk mempercepat proses penguraian ikatan
carboxyhemoglobin. Oksigen hiperbarik juga akan langsung menyediakan oksigen ke seluruh
jaringan tubuh. Seperti terlihat diatas, pemberian oksigen merupakan satu-satunya metode
untuk meringankan keracunan karbon monoksida.

Keracunan Sianida(CN)8

Sianida (CN) dikenal sebagai senyawa racun dan mengganggu kesehatan serta mengurangi
bioavailabilitas nutrien di dalam tubuh.. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan
oksigen sehingga yang paling terpengaruh adalah jantung dan otak. Kadar sianida yang tinggi
dalam darah dapat menyebabkan efek yang berbahaya, seperti jari tangan dan kaki lemah,
susah berjalan, pandangan yang buram, ketulian, dan gangguan pada kelenjar gondok.

17
Kelompok CN dapat ditemukan dalam banyak senyawa, bisa dalam bentuk gas, padat
ataupun cair, bisa dalam bentuk garam, senyawa kovalen, molekular, beberapa ionik, dan
ada juga yang berbentuk polimerik. Sianida terdapat pada ketela pohon dan kacang koro.
Sianida juga sering dijumpai pada daun salam, cherry, ubi, dan keluarga kacang–kacangan
lainnya seperti kacang almond. Selain dari makanan, sianida juga dapat berasal dari rokok,
bahan kimia yang digunakan pada proses pertambangan dan sumber lainnya, seperti pada sisa
pembakaran produk sintesis yang mengandung karbon dan nitrogen misalnya plastik yang
akan melepaskan sianida. Pada perokok pasif dapat ditemukan sianida sekitar 0.06 μg/ml
dalam darahnya, sementara pada perokok aktif ditemukan sekitar 0.17 μg/ml sianida dalam
darahnya.

Jika sianida yang masuk ke dalam tubuh masih dalam jumlah yang kecil maka sianida akan
diubah menjadi tiosianat yang lebih aman dan diekskresikan melalui urin. Selain itu, sianida
akan berikatan dengan vitamin B12. Tetapi bila jumlah sianida yang masuk ke dalam tubuh
dalam dosis yang besar, tubuh tidak akan mampu untuk mengubah sianida menjadi tiosianat
maupun mengikatnya dengan vitamin B12

Masuknya sianida ke dalam tubuh tidak hanya melewati saluran pencernaan tetapi dapat juga
melalui saluran pernafasan, kulit dan mata. Masuknya sianida ke dalam tubuh tidak hanya
melewati saluran pencernaan tetapi dapat juga melalui saluran pernafasan, kulit dan mata.
Senyawa sianida yang dapat menyebabkan keracunan tidak hanya sianida secara langsung
tetapi dapat pula dalam bentuk asam dan garamnya, seperti asam hidrosianik sekitar 2,500–
5,000 mg.min/m3 dan sianogen klorida sekitar 11,000 mg.min/m3

Hidrogen sianida sangat mudah diabsorpsi oleh paru. Gejala keracunan dapat timbul dalam
hitungan detik sampai menit. Jika gas hidrogen sianida terhirup sebanyak 50 ml (pada 1.85
mmol/L) dapat berakibat fatal dalam waktu yang singkat.

Racun sianida dalam kasus pembunuhan biasanya dioleskan pada pinggir gelas, dalam air
minum, botol minum atau disuntikkan ke dalam batu es. Yang perlu dicermati, kontaminasi
sianida tidak hanya terjadi saat zat tersebut masuk lewat mulut. Kebanyakan kasus keracunan
malah terjadi saat gas atau butiran serbuknya terhirup lewat udara. Serbuk sianida ini juga
berbahaya jika menempel pada kulit karena akan segera larut oleh keringat kemudian dapat
terserap masuk ke dalam tubuh melalui kulit.

18
Bahan kimia beracun didefinisikan sebagai bahan kimia yang dalam jumlah kecil
menimbulkan keracunan pada manusia atau mahluk hidup lainnya. Umumnya zat-zat toksik
masuk lewat pernapasan atau kulit, kemudian beredar ke seluruh tubuh atau ke organ-organ
tertentu. Bahan kimia tersebut dapat langsung mengganggu organ-organ tubuh tertentu,
seperti paru-paru, hati, dan lain-lain. Untuk menentukan klasifikasi racun berdasarkan tingkat
daya racunnya ditentukan dengan besarnya LD50 (Lethal Dose 50). LD50 adalah besarnya
dosis racun yang diberikan kepada binatang percobaan yang mengakibatkan ½ (50%) dari
binatang tersebut mati.

Takaran atau dosis sianida:

 Dosis letal dari sianida adalah : asam hidrosianik sekitar 2,500–5,000 mg.min/m3, dan
untuk sianogen klorida sekitar 11,000 mg.min/m3.
 Terpapar hidrogen sianida meskipun dalam tingkat rendah (150-200 ppm) dapat
berakibat fatal. Tingkat udara yang diperkirakan dapat membahyakan hidup atau
kesehatan adalah 50 ppm. Batasan HCN yang direkomendasikan pada daerah kerja
adalah 4.7 ppm (5 mg/m3 untuk garam sianida). HCN juga dapat diabsorpsi melalui
kulit.
 Ingesti pada orang dewasa sebanyak 200 mg sodium atau potassium sianida dapat
berakibat fatal. Larutan dari garam sianida dapat diabsorpsi melalui kulit.

Manifestasi Gejala

 Akibat racun sianida tergantung pada jumlah paparan dan cara masuk tubuh, lewat
pernapasan atau pencernaan. Racun ini menghambat sel tubuh mendapatkan oksigen
sehingga yang paling terpengaruh adalah jantung dan otak. Paparan dalam jumlah
kecil mengakibatkan napas cepat, gelisah, pusing, lemah, sakit kepala, mual dan
muntah serta detak jantung meningkat. Paparan dalam jumlah besar menyebabkan
kejang, tekanan darah rendah, detak jantung melambat, kehilangan kesadaran,
gangguan paru serta gagal napas hingga korban meninggal.
 Gejala yang paling cepat muncul setelah keracunan sianida adalah iritasi pada lidah
dan membran mukus serta suara desir darah yang tidak teratur.
 Gejala yang ditimbulkan oleh zat kimia sianida ini bermacam-macam, mulai dari rasa
nyeri pada kepala, mual muntah, sesak nafas, dada berdebar, selalu berkeringat
sampai korban tidak sadar dan apabila tidak segera ditangani dengan baik akan

19
mengakibatkan kematian, tetapi gejala dan tanda awal yang terjadi setelah menghirup
HCN atau menelan garam sianida adalah kecemasan, sakit kepala, mual, bingung,
vertigo, danhypernoea, yang diikuti dengan dyspnea, sianosis (kebiruan), hipotensi,
bradikardi, dan sinus atau aritmea AV nodus.
 Tanda terakhir dari toksisitas sianida meliputi hipotensi, aritmia kompleks, gagal
jantung, udem pada paru-paru dan kematian.
 Tanda orang mengalami keracunan Sianida dapat kita ketahui dengan mencium
aromanya yang seperti “bitter almond”-nya. Namun tidak semua manusia bisa
mengetahui aroma dari racun ini. Kemungkinan hanya 20% manusia yang dapat
mengetahui aromanya.

Senyawa Beracun Sianida

Hidrogen sianida merupakan senyawa racun yang dapat mengganggu kesehatan serta
mengurangi bioavailabilitas nutrien di dalam tubuh. Sianida sering dijumpai di dalam kacang
almond (Nio, 1989). Sianida yang berasal dari alam (amigdalin dan glikosida sinogenik
lainnya) dapat ditemukan dalam biji aprikot, singkong, dan banyak tanaman lainnya,
beberapa diantaranya dapat berguna, tergantung pada keperluan ethnobotanikal. Acetonitrile,
sebuah komponen pada perekat besi, dapat menyebabkan kematian pada anak-anak.
Keracunan hidrogen sianida dapat menyebabkan kematian, dan pemaparan secara sengaja
dari sianida (termasuk garam sianida) dapat menjadi alat untuk melakukan pembunuhan
ataupun bunuh diri.

Masuknya Senyawa Sianida ke Tubuh

1. Melalui mulut karena tertelan (ingesti). Sebagian keracunan terjadi melalui jalur ini
anak-anak sering menelan racun secara tidak sengaja dan orang dewasa terkadang
bunuh diri dengan menelan racun. Saat racun tertelan dan mulai mencapai lambung,
racun dapat melewati dinding usus dan masuk kedalam pembuluh darah, semakin
lama racun tinggal di dalam usus maka jumlah yang masuk ke pembuluh darah juga
semakin besar dan keracunan yan terjadi semakin parah.
2. Melalui paru-paru karena terhirup melalui mulut atau hidung (inhalasi). Racun yang
berbentuk gas, uap, debu, asap atau spray dapat terhirup melalui mulut dan hidung
dan masuk ke paru-paru. Hanya partikel-partikel yang sangat kecil yang dapat

20
melewati paru-paru. Partikel-partikel yang lebih besar akan tertahan dimulut,
tenggorokan dan hidung dan mungkin dapat tertelan.
3. Melalui kulit yang terkena cairan atau spray. Orang yang bekerja dengan zatzat kimia
seperti pestisida dapat teracuni jika zat kimia tersemprot atau terciprat ke kulit mereka
atau jika pakaian yang mereka pakai terkena pestisida. Kulit merupakan barier yang
melindungi tubuh dari racun, meskipun beberapa racun dapat masuk melalui kulit.

Mekanisme Gangguan

Sianida bereaksi melalui hubungan dengan atom besi ferri dari sitokrom oksidase sehingga
mencegah pengambilan oksigen untuk pernafasan sel. Sianida tidak dapat disatukan langsung
dengan hemoglobin, tapi dapat disatukan oleh intermediary compound methemoglobin.
Apabila methemoglobin tidak dapat mengangkut cukup oksigen maka molekul hemoglobin
menjadi tidak berfungsi. Produksi methemoglobinemia lebih dari 50% dapat berpotensi fatal.
Methemoglobinemia yang berlebih dapat dibalikkan dengan metilen biru, terapi yang
digunakan pada methemoglobinemia, dapat menyebabkan terlepasnya kembali ion sianida
mengakibatkan keracunan sianida. Sianida bergabung dengan methemoglobin membentuk
sianmethemoglobin. Sianmethemoglobin berwarna merah cerah, berlawanan dengan
methemoglobin yang berwarna coklat.

Sianida merupakan inhibitor nonspesifik enzim, meliputi asam suksinat dehidrogenase,


superoksida dismutase, karbonat anhidrase, sitokrom oksidase, dan lain sebagainya. Oksidase
merupakan enzim yang berperan mengkatalisis Hidrogen yang ada dalam substrat dengan
hasil berupa H2O dan H2O2. Enzim ini berfungsi sebagai akseptor ion Hidrogen, banyak
terdapat dalam mioglobin, hemoglobin, dan sitokrom lain.

Enzim dehidrogenase berperan sebagai pemindah ion Hidrogen dari substrat satu ke substrat
berikutnya dalam reaksi redoks couple. Contoh lainnyanya ialah penggunaan enzim
dehidrogenase dalam pemindahan electron di membrane dalam mitokondria, siklus Kreb, dan
glikolisis fase anaerob. Enzim ini tidak menggunakan Oksigen sebagai akseptor ion
Hidrogen.

Sianida memiliki afinitas tinggi terhadap ion besi pada sitokrom oksidase, metalloenzim
respirasi oksidatif akhir pada mitokondria. Fungsinya dalam rantai transport elektron dalam
mitokondria, mengubah produk katabolisme glukosa menjadi ATP. Enzim ini merupakan

21
katalis utama yang berperan pada penggunaan oksigen di jaringan. Sianida menyebabkan
hipoksida seluler dengan menghambat sitokrom oksidase pada bagan sitokrom a3 dari rantai
transport elektron. Ion hidrogen yang secara normal akan bergabung dengan oksigen pada
ujung rantai tidak lagi tergabung (incorporated). Hasilnya, selain persediaan oksigen kurang,
oksigen tidak bisa digunakan, dan molekul ATP tidak lagi dibentuk. Ion hidrogen
incorporated terakumulasi sehingga menyebabkan acidemia (Meredith, 1993). Berikut skema
pengmabilan elektron, misalnya hidrogen (electron robbing) dan kerusakan oleh radikal
bebasnya.

Sianida dapat menyebabkan sesak pada bagian dada, mekanismenya yaitu berikatan dengan
sitokrom oksidase, dan kemudian memblok penggunaan oksigen secara aerob. Sianida yang
tidak berikatan akan didetoksifikasi melalui metabolisme menjadi tiosianat yang merupakan
senyawa yang lebih nontoksik yang akan diekskresikan melalui urin. Hiperlaktamia terjadi
pada keracunan sianida karena kegagalan metabolisme energi aerob. Selama kondisi aerob,
ketika rantai transport elektron berfungsi, laktat diubah menjadi piruvat oleh laktat
dehidrogenase mitokondria. Fungsi utama mitokondria adalah memproduksi energi kimia
dalam bentuk molekul ATP yang akan dipergunakan sel-sel tubuh.

Bila komponen kunci rantai respirasi dalam mitokondria hilang atau rusak maka akan terjadi
proses berkelanjutan yang tidak terkendali. Beberapa sindrom mitokondrial dapat disebabkan
oleh berbagai perubahan tingkat molekuler yang dapat berupa mutasi dan delesi dari DNA
mitokondria.

Pada proses ini, laktat menyumbangkan gugus hidrogen yang akan mereduksi nikotinamid
adenin dinukleotida (NAD) menjadi NADH. Piruvat kemudian masuk dalam siklus asam
trikarboksilat dengan menghasilkan ATP. Ketika sitokrom a3dalam rantai transport elektron
dihambat oleh sianida, terdapat kekurangan relatif NAD dan dominasi NADH, menunjukkan
reaksi balik, sebagai contoh : piruvat dirubah menjadi laktat.

Gejala-gejala Keracunan

Ketika kita kontak dengan racun, maka kita disebut terpejani racun. Efek dari suatu
pemejanan, sebagian tergantung pada berapa lama kontak dan berapa banyak racun yang
masuk dalam tubuh, sebagian lagi tergantug pada berapa banyak racun dalam tubuh yang

22
dapat dikeluarkan. Selama waktu tertentu pemejanan dapat terjadi hanya sekali atau beberapa
kali.

Setelah terpejan sianida, gejala yang paling cepat muncul adalah iritasi pada lidah dan
membran mukus serta suara desir darah yang tidak teratur. Gejala dan tanda awal yang terjadi
setelah menghirup HCN atau menelan garam sianida adalah kecemasan, sakit kepala, mual,
bingung, vertigo, danhypernoea, yang diikuti dengan dyspnoea, sianosis, hipotensi,
bradikardi, dan sinus atau aritmea AV nodus (Meredith, 1993). Onset yang terjadi secara tiba-
tiba dari efek toksik yang pendek setelah pemaparan sianida merupakan tanda awal dari
keracunan sianida. Symptomnya termasuk sakit kepala, mual, dyspnea, dan
kebingungan. Syncope, koma, respirasi agonal, dan gangguan kardiovaskular terjadi dengan
cepat setelah pemaparan yang berat.

Dalam keracunan stadium kedua, tampak kecemasan berlebihan, koma, dan terjadi konvulsi,
kejang, nafas tersengal-sengal, kolaps kardiovaskular, kulit menjadi dingin, berkeringat, dan
lembab. Nadi menjadi lemah dan lebih cepat. Tanda terakhr dari toksisitas sianida meliputi
hipotensi, aritmia kompleks, gagal jantung, udem pada paru-paru dan kematian.

Warna merah terang pada kulit atau tidak terjadinya sianosis, jarang terjadi dalam keracunan
sianida. Secara teoritis tanda ini dapat dijelaskan dengan adanya kandungan yang tinggi dari
oksihemoglobin, dalam venus return, tetapi dalam keracunan berat, gagal jantung dapat
dicegah. Kadang-kadang sianosis dapat dikenali apabila pasien memiliki bintik merah muda
terang.

Efek Sianida Bagi Tubuh

Sebenarnya asam sianida yang kadang disebut asam biru. Walaupun sianida dapat mengikat
dan menginaktifkan beberapa enzim, tetapi yang mengakibatkan timbulnya kematian atau
timbulnya histotoxic anoxia adalah karena sianida mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom
oksidase sehingga akan mengakibatkan terhentinya metabolisme sel secara aerobik. Sebagai
akibatnya hanya dalam waktu beberapa menit akan mengganggu transmisi neuronal, tetapi
kematian yang disebabkan oleh sianida jarang ditemukan pada orang-orang yang bekerja
dalam laboratorium kimia yang memiliki akses dengan potassium atau sodium sianida. Dosis
minimum yang dapat menyebabkan kematian berkisar 200 mg dari potasium atau sodum
sianida. Gas hidrogen sianida adalah berada dalam keadaan fatal secara berkala pada

23
keadaaan konsentrasi atmosfer 270 ppm. Sianida secara normal ditemukan dalam tekanan
darah yang rendah, yaitu 0,016 mg/L bagi yang tidak merokok dan 0,041 mg/L bagi perokok.
Tes darah untuk memeriksa kadar sianida harus dilakukan sesegera mungkin ketika tingkat
sianida meningkat atau menurun tergantung pada metode reserpasi dan atau penyimpanan
dan waktu pengumpulannya

Sisa pembakaran produk sintesis yang mengandung karbon dan nitrogen seperti plastik akan
melepaskan sianida. Rokok juga mengandung sianida, pada perokok pasif dapat ditemukan
sekitar 0.06µg/mL sianida dalam darahnya, sementara pada perokok aktif ditemukan sekitar
0.17 µg/mL sianida dalam darahnya. Hidrogen sianida sangat mudah diabsorbsi oleh paru,
gejala keracunan dapat timbul dalam hitungan detik sampai menit. Ambang batas minimal
hydrogen sianida di udara adalah 2-10 ppm, tetapi angka ini belum dapat memastikan
konsentrasi sianida yang berbahaya bagi orang disekitarnya. Selain itu, gangguan dari saraf-
saraf sensoris pernafasan juga sangat terganggu.

Dampak Gangguan Pada Organ Tubuh

1. Mata. Paparan hidrogen sianida dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Muncul
segera setelah paparan atau paling lambat 30 sampai 60 menit. Kebanyakan kasus disebabkan
kecelakaan pada saat bekerja sehingga cairan sianida kontak dengan kulit dan meninggalkan
luka bakar.

2. Saluran pencernaan. Tertelan dari hidrogen sianida sangat fatal. Karena sianida sangat
mudah masuk ke dalam saluran pencernaan. Tidak perlu melakukan atau merangsang korban
untuk muntah, karena sianida sangat cepat berdifusi dengan jaringan dalam saluran
pencernaan.

Sifat Efek Racun

Pada dasarnya hanya terdapat dua jenis sifat efek toksik zat beracun, yakni terbalikkan atau
tak terbalkkan. Ciri khas dari wujud efek toksik yang terbalikkan yaitu :

 bila kadar racun yang ada pada tempat aksi atau reseptor tertentu telah habis, maka
reseptor tersebut akan kembali ke kedudukan semula
 efek toksik yang ditimbulkan akan cepat kembali normal

24
 ketoksikan racun bergantung pada takaran serta kecepatan absorpsi, distribusi, dan
eliminasi racunnya.

Ciri khas dari wujud efek toksik yang tak terbalikkan yaitu :

 kerusakan yang terjadi sifatnya menetap


 pemejanan berikutnya dengan racun akan menimbulkan kerusakan yang sifatnya sama
sehingga memungkinkan terjadinya penumpukan efek toksik
 pemejanan dengan takaran yang sangat kecil dalam jangka panjang akan
menimbulkan efek toksik yang seefektif dengan yang ditimbulkan oleh pemejanan
racun dengan takaran besar dalam jangka pendek

Penanganan :

 Panggil ambulans dan dokter segera


 Ungsikan pasien ke udara bersih (kalau sianida yang terhirup berupa gas);
 Jika denyut jantung nggak ada, lakukan cardiac massage atau menekan dada kuat2
dan berulang (kayak yg di film2);
 Jangan memberikan napas pada korban dari mulut ke mulut atau hidung ke hidung.
Dikhawatirkan si penolong akan ikut terkena racunnya.
 Jika sianida tertelan sedangkan korban masih sadar, usahakan korban muntah;
 Baringkan pasien dan jaga suhu tubuhnya agar tetap hangat;
 Lepas pakaian yang terkena sianida, cuci dengan sabun area yang terkontaminasi,
kemudian basuh dengan air berulang-ulang;
 Bila tim kesehatan telah datang, langkah paling awal beri pasien masker oksigen
100%.
 Beri antidotum. Antidotum yang dapat digunakan pada keracunan sianida adalah
natrium nitrit dan juga natrium tiosulfat tetapi selama ini berapa besar dosis efektifnya
dan bagaimana cara penggunaannya belum diketahui dengan pasti.

Antidotum Sianida

Diklasifikasikan menjadi 3 kelompok utama sesuai dengan mekanisme aksi utamanya, yaitu :
detoksifikasi dengan sulfur untuk membentuk ion tiosianat yang lebih tidak toksik,
pembentukan methemoglobin dan kombinasi langsung.

25
Contoh Visum et Repertum

Bagian Ilmu Kedokteran Forensik

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Terusan Arjuna No.6 Jakarta 11510

26
Nomor : 4567-SK III/3456/2-12 Jakarta, 14 November 2017

Lamp : Satu sampul tersegel---------------------------------------------------------------------------

Perihal: Hasil Pemeriksaan Pembedahan atas jenazah----------------------------

Projustitia

Visum Et Repertum

Yang bertanda tangan di bawah ini dr X, dokter ahli kedokteran forensik pada Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta,
menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Barat No.
Pol: B/678/VR/XII/12/Serse tertanggal 4 Januari 2016, maka pada tanggal empat januari dua
ribu enambelas, pukul sembilan Waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di ruang bedah
jenazah Bagian Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana telah
melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah:

Nama : ------------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin : ------------------------------------------------------------------------------------

Umur : ------------------------------------------------------------------------------------

Kebangsaan : ------------------------------------------------------------------------------------

Agama : ------------------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan :-------------------------------------------------------------------------------------

Alamat : ------------------------------------------------------------------------------------

Hasil Pemeriksaan

I. Pemeriksaan Luar

1. Korban ditemukan mati di tempat tidur

2. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban

27
II. Pemeriksaan dalam (bedah jenazah)

1. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan atau dan lain sebagainya

Kesimpulan

Pada mayat suami-isteri tersebut tidak ditemukan tanfda-tanda kematian yang tidak wajar.
Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-
baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP….

Dokter yang memeriksa

-----------------------------
Daftar Pustaka
1. Safitry O. Kompilasi peraturan perundang-undangan terkait praktik kedokteran. Jakarta:
Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2014.
2. Budianto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Winardi T, Mun’im A, Sidhi, et al. Ilmu
kedokteran forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Indonesia; 1997.
3. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Teknik autopsi forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2000.
4. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Ilmu Kedokteran Forensik. 2nd Ed.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 1997.
5. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan ilmu kedokteran forensic dalam proses
penyidikan. Jakarta: Sagung Seto; 2008.
6. Asuransi jiwa. Catatan kampus Unhalu. Diunduh dari:
http://hukumasuiransi.blogspot.com/, 14 Desember 2017
7. Amazine.co.Penyebab,gejala dan pengobatan keracunan karbon moniksida,
https://www.amazine.co/18658/penyebab-gejala-pengobatan-keracunan-karbon-
monoksida/ , diakses pada 14 Desember 2017
8. Utama, Harry Wahyudhy, 2006, Keracunan
Sianida,http://klikharry.wordpress.com/about/, diakses pada 14 Desember 2017

28
29